Anda di halaman 1dari 10

1.

Jakarta - KPK melakukan perampasan aset milik mantan Bendahara Umum Partai
Demokrat, Muhammad Nazaruddin sepanjang November ini. Ada 3 lokasi milik
Nazaruddin yang telah dieksekusi KPK terkait kasus pencucian uang Rp 550 miliar.

"Sepertinya sampai bulan ini baru itu saja (3 lokasi penyitaan)," kata Plh Kabiro Humas KPK
Yuyuk Andriati saat dikonfirmasi, Rabu (30/11/2016).

"Nanti pas tanggal 1 Desember akan dilaporkan aset-aset yang sudah dieksekusi," sambung
Yuyuk menambahkan.

Tiga lokasi ruko yang telah dieksekusi tersebut yaitu:

1. Ruko di Grand Wijaya, Jakarta Selatan

2. Ruko di Jalan Abdullah Syafei, Jakarta Selatan

3. Ruko di Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan

Daftar harta rampasan tersebut merupakan bagian dari hukuman pidana pencucian uang M
Nazaruddin yang mencapai Rp 550 miliar, harta rampasan terbesar sepanjang KPK berdiri.

2. Kasus Cuci Uang Rp 550 Miliar, 3 Ruko Nazaruddin Dirampas di November 2016

Lokasi ruko pertama yaitu berada di Grand Wijaya Center, Jakarta Selatan. Kompleks ruko itu
berjarak sekitar 2 kilometer dari Blok M dan hanya sepelemparan batu dari Polres Jakarta
Selatan. Dua ruko yang beralamat di Jalan Dharmawangsa Raya yaitu nomor C 15-16. Dulunya,
ruko tiga lantai itu dijadikan kantor perusahaan yang bergerak di bidang alat kesehatan.
Perusahaan tersebut menjadi pemenang tender rekayasa dari sejumlah proyek pemerintah, di
mana Nazaruddin berada di balik proses tender itu.

KPK telah memasang sebuah papan bertuliskan 'BARANG RAMPASAN NEGARA' di area
parkir ruko tersebut. Eksekusi itu dilakukan pada Senin, 28 November lalu.

Kemudian lokasi lainnya yaitu di Jalan Warung Buncit nomor 21, Kelurahan Kalibata,
Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Terdapat sebuah gedung perkantoran yang luasnya sekitar
700 meter. Sehari-hari gedung itu digunakan sebagai kantor perusahaan swasta. Tampak di
bagian atas gedung tertulis 'Gedung Mustika' berwarna merah. Bangunan itu telah disita pada
Selasa, 22 November 2016.
Saat ini Nazaruddin tengah menjalani pidana penjara untuk 7 tahun ke depan karena kasus
korupsi proyek Wisma atlet Hambalang. Hukuman Nazaruddin kemudian ditambah 6 tahun
penjara untuk kasus pencucian uang. Harta Nazaruddin sekitar Rp 550 miliar dirampas untuk
negara. Sehingga hukuman total Nazaruddin ialah 13 tahun penjara.

Kasus Cuci Uang Rp 550 Miliar, 3 Ruko Nazaruddin Dirampas di November 2016

Vonis ini dijatuhkan karena Nazaruddin terbukti melakukan TPPU (tindak pidana pencucian
uang). Penyitaan aset oleh KPK ini adalah yang terbesar dalam sejarah untuk memiskinkan
koruptor. Ada pun beberapa aset Nazar yang disita pada waktu itu adalah:

1. Saham di berbagai perusahaan bernilai ratusan miliar rupiah.

2. Rumah di Jalan Pejaten Barat seluas 127 meter persegi.

3. Tanah dan bangunan kantor di Warung Buncit, Jakarta Selatan.

4. Rumah di komplek LAN, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

5. Tanah dan bangunan di Bekasi.

6. Perkebunan di Riau senilai Rp 90 miliar.

7. Mobil Vellfire.

8. Ruko di Riau.

9. Puluhan rekening bank yang berisi uang ratusan miliar rupiah.

Sedangkan aset yang gagal dirampas dan harus dikembalikan ke Nazar berupa lahan kelapa
sawit, apartemen Rasuna, asuransi AXA, rekening Bank Mandiri, jam tangan dan rumah di Alam
Sutera.

2. Sri Mulyani Atur Strategi Lawan Pencucian Uang Teroris

Yuliyanna Fauzi , CNN Indonesia | Senin, 03/07/2017 17:33 WIB

Bagikan :

Sri Mulyani Atur Strategi Lawan Pencucian Uang Teroris Hal itu dilakukan untuk memenuhi
hasil evaluasi bersama (Mutual Evaluation Review/MER) dalam satuan tugas internasional,
Financial Action Task Force (FATF). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bakal segera berkoordinasi
lebih jauh dengan beberapa Kementerian/Lembaga (K/L) demi memerangi gerakan pencucian
uang dan pendanaan terorisme.

Hal itu dilakukan untuk memenuhi hasil evaluasi bersama (Mutual Evaluation Review/MER)
dalam satuan tugas internasional, Financial Action Task Force (FATF).

Beberapa K/L tersebut, sambung Sri Mulyani, yaitu Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan (PPATK), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Kementerian
Luar Negeri (Kemenlu).

"Indonesia harus memanfaatkan secara baik dan kami akan kerja sama dengan PPTAK, BI, OJK,
kami sendiri, dengan Kemenlu, untuk mengawal proses itu," ujar Sri Mulyani di kantornya,
Senin (3/7).

Namun, mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu belum menjelaskan lebih lanjut mengenai
mekanisme kerja sama yang dimaksud dan target penyelesaian MER tersebut. Ia hanya bilang,
hal ini akan diselesaikan pemerintah sesegera mungkin.

Sebab, Indonesia, menurut Sri Mulyani, telah mendapat kesempatan baik untuk ikut serta dalam
FATF. Bahkan, restu dari petinggi FATF terbilang cepat diberikan kepada Indonesia.

Selain itu, Indonesia juga sudah mendapatkan dukungan dari China, Jerman, dan Australia,
sehingga akan dimanfaatkan semaksimal mungkin agar Indonesia dapat segera aktif dalam
FATF.

"Di awal, tiga negara mendukung dan kemudian hampir didukung semua anggota dari FATF. Ini
hasil yang begitu penting karena biasanya kalau untuk masuk keanggotaan, proses kita harus
menunggu 2-4 tahun, bahkan sebelum sekarang, biasanya tidak diterima," jelas Sri Mulyani.

Sebelumnya, Presiden FATF Juan Manuel Vega-Serrano memutuskan segera memproses


keanggotaan Indonesia dalam satgas tersebut.

Keputusan itu didukung secara bulat oleh 37 anggota FATF, di antaranya Amerika Serikat,
Inggris, Singapura, dan Malaysia. Adapun hal tersebut diputuskan dalam Sidang Pleno FATF
yang digelar pada Jumat (23/6) di Valencia, Spanyol.

FATF merupakan satuan tugas yang dibentuk negara-negara anggota Organization for Economic
Co-operation and Development (OECD) untuk memerangi kejahatan pencucian uang di tingkat
internasional.
3. Penilaian Risiko Indonesia terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015

Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) merupakan ancaman serius bagi suatu bangsa
(extraordinary crime). Di tengah derasnya kemajuan teknologi informasi dan dorongan era
globalisasi saat ini, TPPU berkembang semakin kompleks, melintasi batas-batas yurisdiksi, dan
menggunakan modus yang semakin variatif, memanfaatkan lembaga di luar sistem keuangan,
bahkan telah merambah ke berbagai sektor ekonomi. Untuk mengantisipasi hal itu, Financial
Action Task Force (FATF) on Money Laundering telah menyusun 40 FATF Recommendations
2012 sebagai standar internasional rezim APUPPT. Rekomendasi No. 1 FATF Tahun 2012
mengharuskan setiap negara untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi risiko
tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme atas negara tersebut,
mengambil tindakan, serta memutuskan otoritas yang akan mengkoordinasikan kegiatan
penilaian atas risiko dan pendayagunaan sumber daya yang bertujuan untuk memastikan bahwa
risiko yang ada telah dimitigasi dengan efektif. Sebagai bentuk konkret komitmen Indonesia
terhadap implementasi Rekomendasi FATF terkait penilaian risiko, PPATK bersama stakeholder
APUPPT yang tergabung dalam Inter-Agency Working Group NRA Indonesia, sejak September
2013 hingga Kuartal III Tahun 2015, telah melaksanakan penilaian risiko Indonesia terhadap
Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dalam bentuk kegiatan
National Risk Assessment (NRA). Proses NRA yang mencakup identifikasi, penilaian, serta
pemahaman terhadap risiko TPPU menjadi bagian yang esensial dalam implementasi rezim
AML baik terkait dengan ancaman, kerentanan, dan dampak dari aspek hukum, regulasi,
penegakan hukum, maupun aspek lainnya, untuk memitigasi risiko Indonesia terhadap TPPU.
Secara umum, NRA sangat membantu dalam memberikan rekomendasi dalam penyempurnaan
regulasi dan ketentuan terkait TPPU, baik pada tingkat mikro (internal Pihak Pelapor/Instansi),
maupun makro berupa strategi nasional. Dengan tersusunnya strategi nasional yang efektif dan
efisien yang berdasarkan pendekatan berbasis risiko ini (risk-based approach), diharapkan dapat
melindungi Indonesia dari risiko TPPU yang tipologinya semakin berkembang dan semakin
kompleks.

4. Kasus Korupsi e-KTP, Ahli Pencucian Uang: Terapkan TPPU

Andi Saputra - detikNews

Share 0Tweet Share 013 komentar

Kasus Korupsi e-KTP, Ahli Pencucian Uang: Terapkan TPPU

Jakarta - Korupsi proyek e-KTP ditaksir merugikan uang rakyat mencapai Rp 2,4 triliun. Namun
anehnya, hingga hari ini belum ada aset yang disita dan KPK belum menyiapkan pasal pencucian
uang. Padahal, pasal pencucian uang efektif untuk mengusut aliran uang korupsi.
"Penyebutan banyak pihak dalam surat dakwaan jaksa KPK dalam sidang e-KTP memicu
polemik dan kegaduhan. Butuh pembuktian lebih dalam dan tidak sekedar penyebutan nama
dalam surat dakwaan," kata ahli pencucian uang, Yenti Garnasih, kepada wartawan, Jumat
(24/3/2017).

Pengalaman Yenti memberi keterangan ahli di penyidikan dan pengadilan, dakwaan setebal itu
tidak lazim. Di mana dakwaan sebanyak 150-an lembar dengan berkas mencapai 5 meter
tebalnya.

5. Kasus Korupsi e-KTP, Ahli Pencucian Uang: Terapkan TPPUMoney Changer Rawan
Jadi Pencucian Uang Bisnis Narkoba

Elisa Valenta Sari , CNN Indonesia | Senin, 30/01/2017 20:08 WIB


Bagikan :
Badan Narkotika Nasional (BNN) melansir, sejumlah pemain besar dalam perdagangan narkoba
lintas negara kerap menggunakan jasa money changer. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aktivitas sistem pembayaran di kegiatan usaha penukaran valuta
asing (KUPVA) bukan bank atau yang dikenal dengan istilah money changer disinyalir rawan
dimanfaatkan untuk tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Badan Narkotika Nasional (BNN) melansir, sejumlah pemain besar dalam perdagangan narkoba
lintas negara kerap menggunakan jasa money changer sebagai pusat untuk mengumpulkan uang
para bandar sebelum digunakan kembali untuk transaksi jual beli narkoba.

Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Rokhmad Sunanto
mengungkapkan, para bandar narkoba kerap menggunakan modus mendirikan money changer
dengan menggunakan rekening individu/pribadi.

Padahal hal tersebut telah dilarang oleh Bank Indonesia. Biasanya, para pelaku akan
menggunakan money changer ilegal sebagai perantara untuk transaksi narkotika antar sesama
bandar.

"Biasanya bandar itu tidak langsung menukar uang lalu membelikan (narkoba), untuk
mengelabui makanya terjadi TPPU. Mereka yang menukarkan, orang lain yang membeli," ujar
Rokhmad dalam konferensi pers di Bank Indonesia, Senin (30/1).

Berdasarkan hasil penyelidikan BNN, saat ini diketahui ada enam money changer yang diduga
terlibat dalam aktivitas TPPU, dengan rincian tiga telah memegang izin, sementara sisanya tidak
berizin.

Terungkap, dari salah satu money changer tersebut, BNN pernah menemukan transaksi
pencucian uang senilai Rp3,6 triliun dari salah satu money changer di Jakarta oleh jaringan
pengedar narkotika.
"Tapi yang paling besar itu pernah ada kira-kira di Kupva di Jakarta sekitar Rp3,6 triliun, itu
dibawa ke luar negeri semua. Yang berhasil kita sita sekitar Rp94 miliar dari aset keseluruhan
jaringannya," ujarnya.

Rokhmad menjelaskan, penggunaan money changer dalam transaksi narkoba akan memudahkan
pelaku bertransaksi lintas negara. BNN telah melacak ada 11 negara yang selama ini menjadi
tempat pelarian uang hasil pencucian melalui money changer, di antara adalah Taiwan, Hong
Kong, China dan Jepang.

"Kupva itu dijadikan penampungan dari transaksi narkotika, lalu dikirim ke luar negeri, melalui
bank. Makanya OJK dan BI harus tahu," ujarnya.

Berdasarkan data BNN, aktivitas kejahatan narkotika selalu menjadi pangsa pasar dengan nilai
ekonomisnya yang tinggi. Rokhmad menyebut, negara harus menelan kerugian hingga Rp63
triliun per tahun akibat transaksi narkotika.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK) Dian Ediana Rae mengatakan, modus pemanfaatan money changer oleh para pelaku
tindak pidana harus mendapat perhatian sejumlah pihak terkait.

Tak hanya untuk transaksi narkotika, PPATK menyebut, keberadaan money changer juga kerap
dimanfaatkan untuk transaksi kegiatan ilegal lainnya seperti perdagangan manusia hingga
korupsi.

"Kalau secara persentase, keterlibatan Kupva terhadap total tindak pencucian uang itu kecil, tapi
jumlah uangnya itu signifikan. Ini warning luar biasa besar bagi kita bahwa lembaga seperti
Kupva ini kerap dimanfaatkan untuk aktivitas ilegal," ujar Dian.

Tindakan Tegas

Selaku regulator di sistem pembayaran, Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan kewajiban
perizinan money changer bukan bank. Dengan tujuan, BI bisa melakukan pengawasan yang lebih
baik sebagaimana fungsinya.

PILIHAN REDAKSI
Perampok Bersenjata Api Satroni Penukaran Uang di Kebon Jeruk
BI Relaksasi Ketentuan Money Changer di Wilayah Perbatasan
BI Endus 612 Money Changer Ilegal Beroperasi di Indonesia

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Enny V Panggabean


mengatakan, bank sentral memberikan masa transisi bagi money changer ilegal untuk segera
menguru izinnya.
Apabila masih terdapat KUPVA BB yang tidak berizin hingga 7 April 2017, Bank Indonesia
(BI) akan merekomendasikan penghentian kegiatan usaha atau pencabutan izin usaha.

Bank Indonesia mencatat, rata-rata transaksi Kupva bukan bank pada tahun 2016 tercatat
Rp257,4 triliun. Nominal ini naik daripada tahun 2015 yang nilainya mencapai Rp253 triliun.

"Surat dakwaan yang berlebihan bisa mengurangi keamanan substansi perkara," ujar mantan
anggota Pansel KPK itu.

Di sisi lain, Yenti meminta KPK berani menerapkan pasal pencucian uang kepada para terdakwa.
Sebab, pasal pencucian uang efektif menelusuri ke mana larinya uang bancakan triliunan rupiah
itu.

"Jika memang betul ada aliran dana sementara belum ada tindakan atau upaya paksa, seperti
penyitaan dan pembekuan rekening, ini juga berbahaya. Orang-orang tersebut bisa melarikan diri
dan hartanya sulit dilacak. Kalau KPK punya bukti kuat terkait aliran dana bancakan, maka harus
menggunakan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) agar kerugian negara senilai Rp 2,3 triliun
bisa dilacak," pungkas pengajar Universitas Trisakti, Jakarta itu.

6. Money Changer Rawan Jadi Pencucian Uang Bisnis Narkoba

Elisa Valenta Sari , CNN Indonesia | Senin, 30/01/2017 20:08 WIB

Bagikan :

Money Changer Rawan Jadi Pencucian Uang Bisnis Narkoba Badan Narkotika Nasional (BNN)
melansir, sejumlah pemain besar dalam perdagangan narkoba lintas negara kerap menggunakan
jasa money changer. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)

Jakarta, CNN Indonesia -- Aktivitas sistem pembayaran di kegiatan usaha penukaran valuta
asing (KUPVA) bukan bank atau yang dikenal dengan istilah money changer disinyalir rawan
dimanfaatkan untuk tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Badan Narkotika Nasional (BNN) melansir, sejumlah pemain besar dalam perdagangan narkoba
lintas negara kerap menggunakan jasa money changer sebagai pusat untuk mengumpulkan uang
para bandar sebelum digunakan kembali untuk transaksi jual beli narkoba.

Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Rokhmad Sunanto
mengungkapkan, para bandar narkoba kerap menggunakan modus mendirikan money changer
dengan menggunakan rekening individu/pribadi.
Padahal hal tersebut telah dilarang oleh Bank Indonesia. Biasanya, para pelaku akan
menggunakan money changer ilegal sebagai perantara untuk transaksi narkotika antar sesama
bandar.

"Biasanya bandar itu tidak langsung menukar uang lalu membelikan (narkoba), untuk
mengelabui makanya terjadi TPPU. Mereka yang menukarkan, orang lain yang membeli," ujar
Rokhmad dalam konferensi pers di Bank Indonesia, Senin (30/1).

Berdasarkan hasil penyelidikan BNN, saat ini diketahui ada enam money changer yang diduga
terlibat dalam aktivitas TPPU, dengan rincian tiga telah memegang izin, sementara sisanya tidak
berizin.

Terungkap, dari salah satu money changer tersebut, BNN pernah menemukan transaksi
pencucian uang senilai Rp3,6 triliun dari salah satu money changer di Jakarta oleh jaringan
pengedar narkotika.

"Tapi yang paling besar itu pernah ada kira-kira di Kupva di Jakarta sekitar Rp3,6 triliun, itu
dibawa ke luar negeri semua. Yang berhasil kita sita sekitar Rp94 miliar dari aset keseluruhan
jaringannya," ujarnya.

Rokhmad menjelaskan, penggunaan money changer dalam transaksi narkoba akan memudahkan
pelaku bertransaksi lintas negara. BNN telah melacak ada 11 negara yang selama ini menjadi
tempat pelarian uang hasil pencucian melalui money changer, di antara adalah Taiwan, Hong
Kong, China dan Jepang.

"Kupva itu dijadikan penampungan dari transaksi narkotika, lalu dikirim ke luar negeri, melalui
bank. Makanya OJK dan BI harus tahu," ujarnya.

Berdasarkan data BNN, aktivitas kejahatan narkotika selalu menjadi pangsa pasar dengan nilai
ekonomisnya yang tinggi. Rokhmad menyebut, negara harus menelan kerugian hingga Rp63
triliun per tahun akibat transaksi narkotika.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK) Dian Ediana Rae mengatakan, modus pemanfaatan money changer oleh para pelaku
tindak pidana harus mendapat perhatian sejumlah pihak terkait.

Tak hanya untuk transaksi narkotika, PPATK menyebut, keberadaan money changer juga kerap
dimanfaatkan untuk transaksi kegiatan ilegal lainnya seperti perdagangan manusia hingga
korupsi.
"Kalau secara persentase, keterlibatan Kupva terhadap total tindak pencucian uang itu kecil, tapi
jumlah uangnya itu signifikan. Ini warning luar biasa besar bagi kita bahwa lembaga seperti
Kupva ini kerap dimanfaatkan untuk aktivitas ilegal," ujar Dian.

Tindakan Tegas

Selaku regulator di sistem pembayaran, Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan kewajiban
perizinan money changer bukan bank. Dengan tujuan, BI bisa melakukan pengawasan yang lebih
baik sebagaimana fungsinya.

PILIHAN REDAKSI

Perampok Bersenjata Api Satroni Penukaran Uang di Kebon Jeruk

BI Relaksasi Ketentuan Money Changer di Wilayah Perbatasan

BI Endus 612 Money Changer Ilegal Beroperasi di Indonesia

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Enny V Panggabean


mengatakan, bank sentral memberikan masa transisi bagi money changer ilegal untuk segera
mengurus izinnya.

Apabila masih terdapat KUPVA BB yang tidak berizin hingga 7 April 2017, Bank Indonesia
(BI) akan merekomendasikan penghentian kegiatan usaha atau pencabutan izin usaha.

Bank Indonesia mencatat, rata-rata transaksi Kupva bukan bank pada tahun 2016 tercatat
Rp257,4 triliun. Nominal ini naik daripada tahun 2015 yang nilainya mencapai Rp253 triliun.
7.Korea Selatan Datangi BNPT untuk Dalami Penanganan Terorisme

Penulis admin - 22 November, 2017026

Berbagi di Facebook Tweet di Twitter

Jakarta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dinilai telah berhasil dalam
menanggulangi dan memerangi terorisme. Hal tersebut menjadikan negara lain tertarik untuk
belajar dan bertukar informasi terkait penanggulangan terorisme ke Indonesia.

Pada Senin (20/11/2017) siang, Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT, Irjen Pol. Drs.
Hamidin menerima kunjungan dari Terrorism Information Integration Center, Counterterrorism
Analysis Bureau, Korea Selatan, yang berada di bawah kewenangan Kantor Perdana Menteri
Korea Selatan. Kunjungan ini dipimpin oleh Park Soo Gil, selaku Wakil Kepala Terrorism
Information Integration Center, Counterterrorism Analysis Bureau, yang ingin mengetahui dan
belajar seputar penanganan terorisme dari BNPT.

Menurutnya, BNPT memiliki sejarah panjang dalam penanganan terorisme. Selain itu, BNPT
memiliki program deradikalisasi dan kontra radikalisasi yang tidak dimiliki oleh badan
penanggulangan terorisme di negara lain, sehingga belajar dari BNPT merupakan hal yang tepat.

Menanggapi hal tersebut, Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT bersedia untuk
bertukar pengalaman terutama dari sisi teknis mengenai bagaimana melakukan penanggulangan
terorisme di Indonesia.

Tak hanya itu, Korea Selatan juga menawarkan bantuan berupa informasi kepada BNPT
mengingat Korea Selatan pernah sukses dalam menyelenggarakan kegiatan besar tingkat
internasional.

Mereka membagikan informasi bagaimana melakukan pengamanan untuk beberapa event besar
di Korea, seperti menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Piala Dunia 2002. Mengingat
Indonesia akan menjadi tuan rumah untuk kegiatan Asean Games 2018, maka hal tersebut akan
sangat bermanfaat untuk kita. BNPT berterima kasih kepada Korea Selatan atas keinginan,
kesediaan, dan tawaran baik yang mereka berikan. Tutup Hamidin.