Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

AUDITING II

Audit atas Aset Tetap

Disusun Oleh :

Sriwulan (150810301007)
Safira Damayanti (150810301026)
Sherly Mardita Pratami Negara (150810301038)

Kelas D

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS JEMBER

TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah Swt, yang telah memberikan kesehatan,
kekuatan, dan kesempatan bagi kami sehingga kami dapat menyusun makalah yang berjudul
Audit atas Aset Tetap. Serta kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Wasito yang telah
membimbing kami dari awal penyusunan sampai terselesaikannya makalah ini. Dan tak lupa
kami ucapkan terima kasih juga kepada teman-teman serta seluruh pihak yang terlibat dalam
pembuatan makalah ini.
Makalah ini berisi tentang penjelasan mengenai pengertian aset tetap, sifat dari aset
tetap, contoh aset tetap, tujuan pemerikasaan aset tetap, prosedur pemeriksaan aset tetap, serta
perbedaan pengujian substantif aset tetap dengan aset lancar.
Kami menyadari masih banyak kekurangan pada makalah ini, dan kami harap kepada
dosen pembimbing dan kepada pembaca sekalian dapat memberikan kritik dan saran yang
sifatnya konstruktif, sehingga dapat menjadi pelajaran bagi kami, dan semoga dapat
diperbaiki pada kesempatan yang lain dan dalam makalah yang lain pula.
Semoga makalah ini berguna untuk menambah wawasan serta pengetahuan bagi para
pembaca dan kami selaku penyusun makalah ini mohon maaf apabila ada kesalahan dalam
penulisan makalah ini. Selanjutnya semoga kami bisa menyusun makalah di waktu lain
dengan lebih sempurna.

Jember, September 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................................... .. ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... .. 1
1.1. LATAR BELAKANG ............................................................................................ .. 1
1.2. RUMUSAN MASALAH ........................................................................................ .. 2
1.3. TUJUAN PENULISAN .......................................................................................... .. 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................... .. 4
2.1. DEFINISI AUDITING ........................................................................................... .. 4
2.2. JENIS AUDIT ......................................................................................................... .. 4
2.3. ASET TETAP ......................................................................................................... .. 6
2.4. KARAKTERISTIK ASET TETAP ........................................................................ .. 6
2.5. KLASIFIKASI ASET TETAP................................................................................ .. 7
2.6. AUDIT ATAS ASET TETAP ................................................................................ .. 8
2.7. PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO ASET TETAP ............................... .. 8
2.8. TUJUAN PEMERIKSAAN ASET TETAP ........................................................... ..13
2.9. PROSEDUR PEMERIKSAAN ASET TETAP ...................................................... ..14
BAB III PENUTUP ............................................................................................................. ..17
3.1. KESIMPULAN ....................................................................................................... ..17
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... ..19

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Dalam suatu perusahaan kekayaan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam
kelangsungan hidup perusahaan. Hal ini dikarenakan berjalannya kegiatan perusahaan sangat
berhubungan erat dengan kepemilikan kekayaan perusahaan. Disisi lain kepemilikan kekayaan
perusahaan harus di kelola dan ungkapkan dengan benar sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum agar informasi yang diberikan nantinya tidak menyesatkan bagi pemakai Laporan
Keuangan.
Audit merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menilai kewajaran atas akun
yang terdapat pada laporan keuangan dari kesalahan mencatat maupun kesalahan dalam
mengalokasikan biaya, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Audit dapat dilakukan oleh
pihak intern maupun oleh pihak ekstern.
Dalam pemeriksaan akuntansi baik yang dilakukan oleh auditor intern ataupun oleh auditor
ekstern, harus diketahui terlebih dahulu tentang tujuan perusahaan dalam melaksanakan
Pemeriksaan. Pemeriksaan yang dilakukan karena diketahui sebelumnya adanya ketidakberesan
atau biasa disebut dengan tujuan khusus, maka pemeriksaan harus dilakukan dengan sedetail
mungkin dan sampel yang digunakan adalah 100% atau semua kegiatan yang berkaitan dengan
masalah tersebut harus di periksa. Agar diketahui ketidakberesan yang terjadi karena apa dan berapa
nilai kesalahannya, serta siapa pihak yang terkait yang melakukan kesalahan (disengaja atau tidak).
Berbeda dengan pemeriksaan yang tujuannya adalah umum dimana perusahaan hanya
menginginkan penilaian terhadap pihak auditor, untuk menyatakan wajar atau tidak terhadap
pelaksanaan kegiatan akuntansi yang sudah dilaksanakan oleh perusahaan. Dengan demikian untuk
pemeriksaan umum ini auditor tidak harus melakukan pemeriksaan dengan 100% bukti transaksi,
tetapi dapat dengan menggunakan sampel bukti yang sebelumnya dilakukan penilaian sistem
pengendalian intern, materialitas perusahaan dan risiko perusahaan.
Aset Tetap sebagai salah satu akun yang mempunyai nilai material, maka adanya
kesalahan pencatatan, perhitungan, penyajian dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda oleh
pemakai Laporan Keuangan. Hal ini sangat merugikan baik oleh perusahaan sendiri maupun oleh
pihak ekstern yaitu seperti kreditor, investor, pemegang saham, publik. Untuk itu diperlukan audit
untuk menghindari kesalahan dalam pelaporan keuangan. Agar audit dapat memberikan laporan
yang memberikan risiko kecil maka perlu dibuat teknik audit yang baik sesuai dengan kondisi

1
perusahaan. Demikian pula diperlukan orang yang kompeten dan independen dalam melaksanakan
audit tersebut. Dari masalah tersebut maka muncul pertanyaan tentang bagaimana teknik audit aset
tetap dilakukan agar terhindar dari kesalahan dalam pelaporan keuangan .

Aset tetap biasanya merupakan bagian investasi yang cukup besar dalam jumlah
keseluruhan aset perusahaan. Besarnya investasi yang ditanamkan dalam aset tetap menjadikan aset
tetap itu perlu mendapatkan perhatian yang serius. Tidak hanya pada penggunaan dan operasinya
saja tetapi juga dalam akuntansinya yang biasanya mencakup perolehan aset tetap, penghentian atau
pelepasan aset tetap, serta penyajian dan pengungkapannya dalam laporan keuangan.

Oleh karena itu, perlunya untuk mengetahui serta memahami secara rinci tentang aset tetap
baik aset tetap berwujud maupun tidak berwujud. Dengan cara demikian kita mampu
mengaplikasikan apa saja yang terdapat di dalam aset tetap sebuah perusahaan. Namun untuk
mendapatkan rincian yang baik terhadap aset tetap, diperlukan pengendalian terhadap aset berupa
pengujian substantif.

1.2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan dari penulisan makalah ini sebagai
berikut:

a. Apakah yang dimaksud dengan auditing?


b. Apa sajakah jenis-jenis dari audit?
c. Apakah yang dimaksud dengan aset tetap?
d. Bagaimanakah karakteristik dari aset tetap?
e. Bagaimanakah klasifikasi dari aset tetap?
f. Bagaimanakah audit atas aset tetap?
g. Bagaimanakah pengujian substantif atas saldo aset tetap?
h. Apakah tujuan pemeriksaan audit aset tetap?
i. Bagaimanakah prosedur pemeriksaan aset tetap?

1.3. TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut :

2
a. Untuk dapat mengetahui yang dimaksud dengan auditing.
b. Untuk dapat mengetahui jenis-jenis dari audit.
c. Untuk dapat mengetahui yang dimaksud dengan aset tetap.
d. Untuk dapat mengetahui karakteristik dari aset tetap.
e. Untuk dapat mengetahui klasifikasi dari aset tetap.
f. Untuk dapat mengetahui audit atas aset tetap.
g. Untuk dapat mengetahui pengujian substantif atas saldo aset tetap.
h. Untuk dapat mengetahui tujuan pemeriksaan audit aset tetap.
i. Untuk dapat mengetahui prosedur pemeriksaan aset tetap.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. DEFINISI AUDITING


Whittington, O. Ray dan Kurt Panny (2012:4) mendefinisikan auditing sebagai: In a
financial statement audit, the auditors undertake to gather evidence and provide a high level of
assurance that the financial statements follow generally accepted accounting principles, or some
other appropriate basis of accounting. An audit involves searching and verifying the accounting
records and examining other evidence supporting the financial statements. By gathering
information about the company and its environment, including internal control; inspection
documents; observing assets; making inquiries within and outside the company; and performing
other auditing procedures, the auditors will gather the evidence necessary to issue and audit report.
That audit report states that it is the auditors opinion that the financial statements, follow
generally accepted accounting principles.

Arens, Elder, Beasley yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf (2011 : 24) menyatakan
bahwa: Auditing adalah pengumpulan serta evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan
dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi dan kriteria yang telah ditetapkan. Auditing
harus dilaksanakan oleh orang yang kompeten dan independen.

Sukrisno Agoes (2012 : 4) menyatakan bahwa: Auditing adalah suatu pemeriksaan yang
dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan
yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti
pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan
keuangan tersebut.

Dari beberapa definisi yang telah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa auditing
adalah proses secara sistematis yang dilakukan oleh orang berkompeten dan independen dengan
mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti dan bertujuan memberikan pendapat mengenai
kewajaran laporan keuangan.

2.2. JENIS AUDIT

4
Pengauditan dapat dibagi dalam beberapa jenis. Pembagian ini dimaksudkan untuk
menentukan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai dengan adanya pengauditan tersebut.

Menurut (Sukrisno Agoes, 2012), ditinjau dari luasnya pemeriksaan, maka jenis-jenis audit
dapat dibedakan atas:

o Pemeriksaan Umum (General Audit)

Yaitu suatu pemeriksaan umum atas laporan keuangan yang dilakukan oleh
Kantor Akuntan Publik (KAP) yang independen dengan maksud untuk memberikan
opini mengenai kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.

o Pemeriksaan Khusus (Special Audit)

Yaitu suatu pemeriksaan terbatas (sesuai dengan permintaan klien) yang


dilakukan oleh KAP Independen, dan pada akhir pemeriksaannya auditor tidak perlu
memberikan pendapat terhadap kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.

Pendapat yang diberikan terbatas pada pos atau masalah tertentu yang diperiksa,
karena prosedur audit yang dilakukan juga terbatas.

Ditinjau dari jenis pemeriksaan, audit dapat dibedakan atas:

o Audit Operasional (Management Audit)

Yaitu suatu pemeriksaan terhadap kegiatan operasi suatu perusahaan, termasuk


kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional yang telah ditetapkan oleh manajemen
dengan maksud untuk mengetahui apakah kegiatan operasi telah dilakukan secara
efektif, efisien dan ekonomis.

o Pemeriksaan Ketaatan (Complience Audit)

Yaitu suatu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan


telah mentaati peraturan-peraturan dan kebijakan- kebijakan yang berlaku, baik yang
ditetapkan oleh pihak intern perusahaan (Manajemen, Dewan Komisaris) maupun pihak
eksternal (Pemerintah, Bapepam LK, Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak).

o Pemeriksaan Intern (Internal Audit)

5
Yaitu pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan yang
mencakup laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan yang bersangkutan serta
ketaatan terhadap kebijakan manajemen yang telah ditentukan.

o Audit Komputer (Computer Audit)

Yaitu pemeriksaan yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP)


terhadap perusahaan yang melakukan proses data akuntansi dengan menggunakan
sistem Electronic Data Processing (EDP).

2.3. ASET TETAP

Aset tetap merupakan aktiva perusahaan yang tidak dimaksudkan untuk dijual belikan
melainkan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan yang umurnya lebih dari satu tahun, dan
merupakan pengeluaran perusahaan dalam jumlah yang besar.

Aset tetap disebut juga Property, Plant and Equipment.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (PSAK No. 16, Paragraf 5 IAI, 2012): Aset
tetap adalah asset berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih
dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan
normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Masa manfaat adalah
periode suatu aktiva diharapkan digunakan oleh perusahaan atau jumlah produksi atau unit serupa
yang diharapkan diperoleh dari aktiva oleh perusahaan.

2.4. KARAKTERISTIK ASET TETAP

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (PSAK No. 16 IAI, 2012): Aset tetap dimiliki
untuk digunakan dalam:

1 Produksi atau penyediaan barang dan jasa


2 Direntalkan kepada pihak lain
3 Tujuan Administratif
4 Mempunyai wujud fisik
5 Mempunyai jangka waktu kegunaan (umur) relatif permanen (lebih dari satu tahun
periode akuntansi)

6
Beberapa sifat atau ciri aset tetap adalah:

1 Tujuan dari sifat pembeliannya bukan untuk dijual kembali atau diperjualbelikan
sebagai barang dagangan, tetapi untuk dipergunakan dalam kegiatan operasi
perusahaan.
2 Mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
3 Jumlahnya cukup material.

2.5. KLASIFIKASI ASET TETAP

Aset Tetap Berwujud (Fixed Tangible Assets)

Aset tetap berwujud meliputi semua barang yang dimiliki perusahaan dengan tujuan untuk
dipakai secara aktif dalam operasi perusahaan, dan mempunyai masa kegunaan relatif permanen.
Aset tetap berwujud yang mempunyai masa kegunaan yang terbatas harus di depresiasi selama
masa kegunaannya, dan disajikan dalam neraca sebesar nilai bukunya. Yang termasuk dalam
golongan aset ini adalah bangunan, mesin, dan alat-alat pabrik, mebel dan alat-alat kantor
kendaraan dan alat-alat transportasi, alat kerja bengkel, aset sumber alam. Sedangkan aset tetap
berwujud yang mempunyai masa kegunaan tidak terbatas, disajikan di dalam neraca sebesar harga
perolehan.

Aset Tetap Tidak Berwujud (Fixed Intangible Assets)

Aset tetap tidak berwujud meliputi hak-hak preferensi (istimewa) yang dijamin oleh
undang-undang, kontrak, perjanjian-perjanjian dan mempunyai masa manfaat dalam waktu relatif
permanen. Aset tetap tidak berwujud diakui sebesar harga perolehan kemudian pada periode
selanjutnya dilaporkan sebesar nilai tercatatnya. Dalam menentukan besaran harga perolehan
tergantung oleh bagaimana cara perolehan aset tidak berwujudnya. Apabila diperoleh dengan
membeli atau transaksi yang menggunakan kas atau setara kas lainnya maka harga perolehan aset
tidak berwujudnya sebesar uang yang dikeluarkan. Apabila diperoleh dengan pertukaran dengan
aset lain, maka harga perolehan aset tidak berwujudnya sebesar harga kekinian dari aset yang
ditukar. Yang termasuk dalam golongan aset ini meliputi hak paten, hak cipta (copy right),
franchise, goodwill, pre-operating expenses (biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum perusahaan
berproduksi secara komersial, termasuk biaya pendirian).

7
2.6. AUDIT ATAS ASET TETAP

Untuk sebagian besar entitas, aset tetap menunjukkan jumlah yang material dalam laporan
keuangan. Ketika mengaudit klien lama, fokus hanya pada aktivitas tahun berjalan karena aset
yang didapat di tahun-tahun terdahulu telah menjadi subjek dari prosedur audit pada waktu
perolehan.

Menurut Alvin. A. Arens (2011; 192) audit atas aset tetap sebagai berikut:

o Telaah atas Peralatan Akun Terkait

Pencatatan akuntansi utama dalam akun peralatan manufaktur dan akun aset
tetap lainnya umumnya merupakan berkas utama aset tetap. Berkas utama meliputi
catatan terperinci atas setiap bagian peralatan dan jenis properti lainnya. Setiap
pencatatan dalam berkas tersebut mencakup deskripsi aset, tanggal akuisisi, biaya
perolehan, depresiasi tahun berjalan, dan akumulasi depresiasi untuk properti.

Total seluruh pencatatan dalam berkas utama sama dengan saldo buku besar untuk
akun terkait. Berkas utama juga berisi informasi tentang properti yang diakuisisi dan
dijual selama tahun berjalan.

Auditor melakukan verifikasi atas peralatan manufaktur secara berbeda dengan


akun aset lancar karena tiga alasan berikut, yaitu:

Biasanya terdapat akuisisi peralatan dalam jumlah sedikit pada periode


berjalan.
Nilai akuisisi biasanya material.
Peralatan biasanya disimpan dan dicatat dalam pencatatan akuntansi selama
beberapa tahun.

Oleh karena perbedaan tersebut, maka audit peralatan manufaktur menekankan


pada verifikasi atas akuisisi periode berjalan, dibandingkan pada saldo akun lanjutan
dari periode sebelumnya.

2.7. PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO ASET TETAP

Menurut Alvin. A. Arens (2011; 193), dalam audit peralatan manufaktur dan akun terkait,
pengujian akan dimudahkan jika dipisah menjadi beberapa kategori:

8
o Melakukan prosedur analitis

Jenis prosedur analitis bergantung pada sifat pelaksanaan bisnis klien. Tabel
dibawah ini mengilustrasikan prosedur analitis yang biasa dilakukan untuk peralatan
manufaktur.

Prosedur Analitis Salah Saji yang Mungkin Terjadi


Membandingkan rasio beban depresiasi
Salah saji pada beban depresiasi
dibagi biaya peralatan manufaktur kotor
dan akumulasi depresiasi
dengan tahun- tahun sebelumnya
Membandingkan akumulasi depresiasi
Salah saji pada akumulasi
dengan biaya peralatan manufaktur kotor
depresiasi
dengan tahun- tahun sebelumnya
Membandingkan beban perbaikan
dan pemeliharaan bulanan atau tahunan,
Jumlah beban yang seharusnya
beban persediaan, beban peralatan kecil,
dikapitalisasi
dan akun sejenis dengan tahun-tahun
sebelumnya
Membandingkan beban
manufaktur kotor dibagi dengan Perlengkapan yang tidak terpakai atau
beberapa jumlah produksi dengan tahun- dibuang, tetapi belum dihapusbukukan.
tahun sebelumnya
Sumber : Arens, 2011: 194

o Melakukan verifikasi akuisisi tahun berjalan

Perusahaan harus mencatat penambahan pembelian aset tahun berjalan dengan


benar karena aset tetap memiliki dampak jangka panjang pada laporan keuangan.
Kesalahan dalam mengapitalisasi aset atau mencatat akuisisi dengan jumlah yang tidak
benar akan berdampak pada neraca hingga perusahaan menghentikan penggunaan aset
tersebut. Laporan laba/rugi juga dipengaruhi sampai aset selesai didepresiasi.

Auditor menggunakan tujuh dari delapan tujuan audit-terkait saldo sebagai


kerangka dan referensi atas pengujian perincian saldo, yaitu : keberadaan, kelengkapan,
akurasi, klasifikasi, pisah batas, kecocokan perincian, dan hak dan kewajiban.
Keberadaan, kelengkapan, akurasi, dan klasifikasi biasanya merupakan tujuan utama
dari audit ini.

Pengujian audit aktual dan jumlah sampel sangat bergantung pada salah saji yang
dapat diterima, resiko bawaan, dan penilaian risiko pengendalian. Salah saji yang dapat
diterima merupakan hal penting untuk melakukan verifikasi atas penambahan aset tahun

9
berjalan karena transaksi ini bervariasi dari jumlah yang tidak material dalam beberapa
tahun sampai jumlah yang sangat besar untuk akuisisi lainnya.

Dalam pengujian penambahan aset, auditor harus memahami GAAP untuk


memastikan bahwa klien memenuhi persyaratan standar akuntansi. Auditor juga
perlu mengetahui kebijakan kapitalisasi yang diterapkan klien untuk menentukan
apakah akuisisi sudah diterapkan secara konsisten dengan tahun sebelumnya.
Auditor juga perlu melakukan verifikasi atas klasifikasi catatan transaksi. Klien
biasanya memasukkan transaksi yang seharusnya dicatat sebagai aset ke dalam beban
perbaikan dan pemeliharaan, beban sewa guna usaha, persediaan, alat-alat kecil, dan
akun sejenis. Salah saji dapat disebabkan karena kurangnya pemahaman atas GAAP
atau keinginan klien untuk menghindari pajak penghasilan. Jika auditor menyimpulkan
bahwa kemungkinan terjadinya salah saji ini besar, maka mereka perlu mengambil
sampel dengan nilai nominal lebih besar.

o Melakukan verifikasi penghentian aset tahun berjalan

Transaksi yang mencakup penghentian peralatan manufaktur biasanya mengalami


salah saji bila pengendalian internal perusahaan lemah dalam menjalankan metode
formal untuk menginformasikan manajemen untuk transaksi penjualan, tukar-tambah,
pembatalan, atau pencurian mesin dan peralatan. Jika klien tidak mencatat penghentian
aset, maka harga perolehan dari peralatan tersebut tentunya akan lebih saji sampai tak
terhingga, dan nilai buku bersih akan lebih saji hingga aset benar-benar habis
didepresiasi. Metode formal untuk menelusuri penghentian aset dan provisi atas
otorisasi penjualan atau metode penghentian aset lainnya dapat mengurangi resiko
salah saji. Selain itu, perlu ada verifikasi internal yang memadai dalam pencatatan
penghentian aset tetap untuk memastikan bahwa aset benar-benar telah dihapusbukukan
dari pencatatan akuntansi.

Tujuan utama auditor dalam verifikasi penjualan, tukar- tambah, atau


penghentian aset tetap adalah mendapatkan bukti memadai bahwa seluruh penghentian
dicatat dalam jumlah yang benar. Dimulai dari verifikasi penghentian, yaitu dengan
memeriksa skedul klien atas pencatatan penghentian. Skedul ini memasukkan tanggal
penghentian penggunaan aset, nama orang atau perusahaan yang membeli aset
tersebut, harga penjualan, harga perolehan, tanggal akuisisi, dan akumulasi
depresiasi.

10
Prosedur berikut ini biasa digunakan dalam melakukan verifikasi
penghentian:

o Menelaah apakah terdapat akuisisi aset baru yang menggantikan aset lama

o Menganalisis laba dan rugi penghentian aset dan pendapatan lain-lain

sebagai penerimaan kas dari penghentian aset

o Menelaah modifikasi pabrik dan perubahan dalam lini produk, pajak properti,

atau asuransi yang merupakan indikasi penghapusan aset.

o Melakukan tanya jawab dengan manajemen dan personel bagian produksi

tentang kemungkinan penghentian aset.

o Melakukan verifikasi saldo akhir pada akun aset

Terdapat dua tujuan auditor saat melakukan audit peralatan manufaktur,


yaitu menentukan bahwa:

Seluruh perlengkapan yang dicatat secara fisik ada pada tanggal neraca
(keberadaan)
Seluruh perlengkapan yang dimiliki sudah dicatat (kelengkapan)

Auditor pertama kali harus mempertimbangkan sifat pengendalian internal atas


peralatan manufaktur. Idealnya, auditor dapat menentukan apakah pengendalian cukup
memadai agar mereka dapat mengandalkan saldo yang tercatat dari tahun sebelumnya.

Langkah audit yang pertama berfokus pada tujuan kecocokan perincian: peralatan
manufaktur, sebagaimana terdapat dalam berkas utama, telah sesuai dengan buku besar.
Pemeriksaan juga dilakukan terhadap hasil cetak berkas utama yang menunjukkan
total saldo buku besar. Auditor dapat memilih menggunakan peranti lunak audit untuk
menjumlahkan berkas utama versi elektronik ataupun menjumlahkan beberapa halaman
secara manual. Setelah menilai resiko pengendalian untuk tujuan keberadaan, auditor
memutuskan apakah perlu melakukan verifikasi keberadaan masing-masing bagian
peralatan manufaktur dalam berkas utama.

Penyajian dan pengungkapan yang memadai untuk peralatan manufaktur dalam


laporan keuangan harus di evaluasi dengan hati- hati untuk memastikan apakah sudah
mengikuti GAAP. Peralatan manufaktur harus memasukkan biaya kotor dan harus

11
dipisahkan dari aset tetap lainnya. Aset sewa guna usaha harus diungkapkan secara
terpisah, dan pihak yang memiliki aset harus dicantumkan dalam penjelasan tambahan
(footnote disclosure). Auditor harus melakukan pengujian memadai untuk melakukan
verifikasi terhadap keseluruhan empat tujuan penyajian dan pengungkapan.

o Melakukan verifikasi beban depresiasi

Beban depresiasi adalah satu dari sedikit akun beban yang tidak diverifikasi
sebagai bagian dari pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi.
Jumlah tercatat ditentukan dari alokasi internal, bukan dari transaksi pertukaran dengan
pihak luar. Tujuan audit-terkait saldo yang paling penting untuk beban
depresiasi adalah akurasi. Auditor berfokus pada penentuan apakah klien telah
mengikuti kebijakan depresiasi yang konsisten dari periode ke periode, dan apakah
perhitungan klien sudah benar. Dalam menentukan hal tersebut, auditor harus
mempertimbangkan empat hal, yaitu:

Umur ekonomis untuk akuisisi di masa sekarang


Metode depresiasi
Estimasi nilai sisa
Kebijakan mendepresiasi aset selama tahun akuisisi dan penghentian

Dalam menentukan kewajaran umur ekonomis aset yang baru diakuisisi, auditor

harus mempertimbangkan umur fisik aset, umur ekonomis yang diharapkan

(ditetapkan dengan tingkat keusangan aset atau kebijakan normal perusahaan dalam

penggantian aset) dan kebijakan yang diterapkan perusahaan dalam tukar-tambah

peralatan.

Metode yang berguna untuk mengaudit depresiasi adalah pengujian prosedur

analitis atas kewajaran yang dibuat dengan mengalikan aset tetap yang kurang

didepresiasi dengan tingkat depresiasi untuk tahun tersebut. Dalam melakukan

penghitungan tersebut, auditor harus membuat penyesuaian untuk penambahan dan

penghentian di tahun berjalan, aset dengan umur ekonomis yang berbeda, dan aset

dengan metode depresiasi yang berbeda. Jika perhitungan mendekati total yang

dibuat klien dan jika penilaian resiko pengendalian atas beban depresiasi rendah,
12
maka pengujian perincian depresiasi dapat dihapuskan.

o Melakukan verifikasi saldo akhir dalam akumulasi depresiasi

Debet atas akumulasi depresiasi secara normal diuji sebagai bagian dari audit
penghentian aset dan kreditnya diverifikasi sebagai bagian dari beban depresiasi. Jika
auditor menelusuri transaksi tertentu ke catatan akumulasi depresiasi dalam berkas
utama aset sebagai bagian dari pengujian ini, maka perlu dilakukan pengujian tambahan
atas saldo akhir akumulasi depresiasi.

Dua tujuan yang biasanya ditekankan dalam audit saldo akhir dalam akumulasi
depresiasi adalah:

Akumulasi depresiasi yang dinyatakan dalam berkas utama aset sesuai dengan
dalam buku besar. Tujuan ini dapat dipenuhi dengan pengujian penjumlahan
akumulasi depresiasi dalam berkas utama aset dan menelusuri totalnya ke buku
besar.
Akumulasi depresiasi dalam berkas utama adalah akurat

Dalam beberapa kasus, umur peralatan manufaktur dapat dikurangi secara


signifikan karena pengurangan permintaan pelanggan terhadap produk, penurunan
fisik yang tidak diharapkan, modifikasi operasi, atau perubahan lainnya. Oleh karena
kemungkinan ini, maka auditor harus mengevaluasi kecukupan cadangan akumulasi
depresiasi setiap tahun untuk memastikan bahwa nilai buku bersih tidak melebihi nilai
realisasi aset.

2.8. TUJUAN PEMERIKSAAN ASET TETAP

Menurut Sukrisno Agoes (2012: 271), pemeriksaan atas aset tetap mempunyai tujuan
sebagai berikut :

1 Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas aset tetap
2 Untuk memeriksa apakah aset tetap yang tercantum di laporan posisi keuangan
(neraca) betul-betul ada, masih digunakan dan dimiliki oleh perusahaan.
3 Untuk memeriksa apakah penambahan aset tetap dalam tahun berjalan (periode yang
diperiksa) betul-betul merupakan suatu Capital Expenditure, di otorisasi oleh pejabat
perusahaan yang berwenang, didukung oleh bukti-bukti yang lengkap dan dicatat
dengan benar.
13
4 Untuk memeriksa apakah disposal (penarikan) aset tetap sudah dicatat dengan benar di
buku perusahaan dan telah di otorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang.
5 Untuk memeriksa apakah pembebanan penyusutan dalam tahun (periode) yang
diperiksa dilakukan dengan cara yang sesuai dengan SAK, konsisten, dan apakah
perhitungannya telah dilakukan dengan benar (secara akurat)
6 Untuk memeriksa apakah ada aset tetap yang dijadikan sebagai jaminan.
7 Untuk memeriksa apakah penyajian aset tetap dalam laporan keuangan, sesuai dengan
standar akuntansi keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS).

2.9. PROSEDUR PEMERIKSAAN ASET TETAP

Di banyak perusahaan, terutama perusahaan industri, aset tetap merupakan jumlah yang
sangat besar dari total aset perusahaan. Namun demikian waktu yang digunakan oleh akuntan
publik untuk memeriksa aset tetap biasanya lebih sedikit dibandingkan waktu yang digunakan untuk
memeriksa perkiraan lainnya seperti piutang, persediaan, dan lain-lain. Beberapa penyebabnya
antara lain:

a. Harga perolehan per unit dari aset tetap biasanya relatif besar dan jumlah
transaksinya dalam setahun biasanya sedikit.
b. Mutasi aset tetap (penambahan dan pengurangan) biasanya jauh lebih sedikit di
bandingkan mutasi piutang dan persediaan
c. Dalam memeriksa aset tetap, prosedur cut-off bukan merupakan hal yang penting seperti
pemeriksaan atas cut-off transactions dalam pemeriksaan pembelian dan penjualan
persediaan.

Prosedur audit yang akan disebutkan berikut ini berlaku untuk repeat engangements
(penugasan berulang) sehingga dititikberatkan pada pemeriksaan transaksi tahun berjalan (periode
yang diperiksa). Untuk audit pertama kali bisa dibedakan sebagai berikut:

a. Jika tahun sebelumnya perusahaan sudah di audit oleh kantor akuntan lain, saldo awal
aset tetap bisa dicocokkan dengan laporan akuntan terdahulu dan kertas kerja
pemeriksaan akuntan tersebut.
b. Jika tahun-tahun sebelumnya perusahaan belum pernah di audit, akuntan publik harus
memeriksa mutasi penambahan dan pengurangan aset tetap sejak awal berdirinya
perusahaan, untuk mengetahui apakah pencatatan yang dilakukan perusahaan untuk
penambahan dan pengurangan aset tetap, serta metode dan perhitungan penyusutan aset
14
tetap dilakukan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/
IFRS). Tentu saja pemeriksaan mutasi tahun-tahun sebelumnya dilakukan secara test
basis dengan mengutamakan jumlah yang material.

Prosedur audit atas aset tetap menurut Sukrisno Agoes (2012: 273) adalah sebagai berikut:

1 Pelajari dan evaluasi internal control atas aset tetap


2 Minta kepada klien Top Schedule serta Supporting Schedule aset tetap, yang
berisikan: Saldo awal, penambahan serta pengurangan-pengurangannya dan saldo
akhir, baik untuk harga perolehan maupun akumulasi penyusutannya.
3 Periksa footing dan cross footingnya dan cocokkan totalnya dengan General Ledger
atau Sub-Ledger, saldo awal dengan working paper tahun lalu.
4 Vouch penambahan serta pengurangan dari aset tetap tersebut. Untuk penambahan
kita lihat approvalnya dan kelengkapan supporting documentnya. Untuk
pengurangan kita lihat otorisasinya dan jurnalnya apakah sudah dicatat dengan betul,
misalnya bila ada keuntungan atau kerugian atas penjualan aset tetap tersebut. Selain
itu periksa juga penerimaan hasil penjualan aset tetap tersebut.
5 Periksa fisik dari aset tetap tersebut (dengan cara test basis) dan periksa
kondisi dan nomor kode dari aset tetap
6 Periksa bukti pemilikan aset tetap. Untuk tanah, gedung, periksa sertifikat tanah dan
IMB (Izin Mendirikan Bangunan) serta SPIB (Surat Izin Penempatan Bangunan).
Untuk mobil, motor, periksa BPKB, STNK-nya.
7 Pelajari dan periksa apakah Capitalization Policy dan Depreciation Policy yang
dijalankan konsisten dengan tahun sebelumnya.
8 Buat analisis tentang perkiraan Repair & Maintenance sehingga kita dapat
mengetahui apakah ada pengeluaran yang seharussnya masuk dalam kelompok
Capital Expenditures tetapi dicatat sebagai Revenue Expenditures.
9 Periksa apakah aset tetap tersebut sudah diasuransikan dan apakah Insurance
Coveragenya cukup atau tidak.
10 Tes perhitungan penyusutan, cross reference angka penyusutan dengan biaya
penyusutan diperkirakan laba rugi dan periksa alokasi/distribusi biaya penyusutan.
11 Periksa notulen rapat, perjanjian kredit, jawaban konfirmasi dari bank. Untuk
memeriksa apakah ada aset tetap yang dijadikan sebagai jaminan atau tidak. Bila
ada, maka hal ini perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
12 Periksa apakah ada Commitment yang dibuat oleh perusahaan untuk membeli atau
menjual aset tetap.
15
13 Untuk Construction in Progress, kita periksa penambahannya dan apakah ada
Construction in Progress yang harus di transfer ke aset tetap
14 Jika ada aset tetap yang diperoleh melalui leasing periksa lease agreement dan
periksa apakah accounting treatmentnya sudah sesuai dengan standar akuntansi
leasing.
15 Periksa atau tanyakan apakah ada aset tetap yang dijadikan agunan kredit di bank
16 Periksa penyajiannya dalam laporan keuangan, apakah sesuai dengan standar
akuntansi keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS).

16
BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Aktiva Tetap merupakan aset suatu perusahaan yang berwujud, yang digunakan untuk
kegiatan operasional perusahaan dalam jangka waktu lebih dari satu periode.

Dari sudut substansi, aktiva tetap dapat dibagi menjadi:

o Tangible Assets atau aktiva berwujud seperti lahan, mesin, gedung, dan peralatan.
o Intangible Assets atau aktiva yang tidak berwujud seperti Goodwill, hak paten,
hak cipta, dan lain-lain.

Dari sudut disusutkan atau tidak dapat disusutkan, dapat dibagi menjadi :

o Depreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang dapat disusutkan seperti bangunan,
peralatan, mesin, inventaris, dan lain-lain.
o Undepreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang tidak disusutkan seperti tanah.

Berdasarkan jenis dapat dibagi menjadi:

o Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan operasi, misalnya sebagai
lapangan, halaman, tempat parkir dan lain sebagainya.
o Bangunan, baik bangunan kantor, toko maupun bangunan untuk pabrik;
o Mesin;
o Inventaris;
o Kendaraan dan perlengkapan atau alat-alat lainnya.

Tujuan pengujian substantif terhadap saldo aktiva tetap:

o Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang berkaitan dengan


aktiva tetap
o Membuktikan kebenaran aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang berkaitan
dengan aktiva tetap yang dicantumkan dineraca.
o Membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan di neraca.
o Membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan dineraca.
o Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap dineraca.
17
Prosedur audit atas aktiva tetap, diantaranya yaitu:

o Prosedur audit awal


o Pengujian analitik
o Pengujian terhadap transaksi rinci
o Pengujian terhadap saldo akun rinci
o Verifikasi penyajian dan pengungkap.

18
DAFTAR PUSTAKA

Sukrisno Agoes. 2012.Auditing, edisi 4 buku 1, Penerbit Selemba Empat.

19