Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kanker Tiroid adalah sutu keganasan pada tiroid yang memiliki 4 tipe
yaitu: papiler, folikuler, anaplastik dan meduler. Kanker tiroid jarang
menyebabkan pembesaran kelenjar, lebih sering menyebabkan pertumbuhan
kecil (nodul) dalam kelenjar.Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak,
biasanya kanker tiroid bisa disembuhkan.
Nodul tiroid sangat sering ditemukan, dengan incidence rate setiap
tahunnya berkisar antara 4-8%. Menurut data WHO 2004, karsinoma tiroid
jarang terjadidilaporkan hanya 1,5% dari keganasan seluruh tubuh. Karsinoma
tiroid biasanyamerupakan keganasan sistem endokrin. Dijumpai secara primer
pada usia dewasamuda dan pertengahan, dengan sekitar 122.000 kasus baru
per tahun di seluruhdunia (WHO,2004).
Radiasi merupakan salah satu faktor etiologi kanker tiroid. Banyak
kasus kanker pada anak-anak sebelumnya mendapat radiasi pada kepala dan
leher karena penyakit lain. Biasanya efek radiasi timbul setelah 5-25 tahun,
tetapi rata-rata 9-10 tahun.Stimulasi TSH yang lama juga merupakan salah
satu faktor etiologi kanker tiroid.Faktor resiko lainnya adalah adanya riwayat
keluarga yang menderita kanker tiroid dan gondok menahun.
Peran perawat terhadap kanker tiroid ini sangat penting, yaitu untuk
memberikan informasi sebelum jalannya oprasi dan memberikan perawatan
setelah dilaksanakan operasi demi mempercepat penyembuhan pasien.
Setalah melihat tentang keganasan dan patofisiologi dari kanker tiroid
maka penulis tertarik untuk membahas mengenai kangker tiroid tersebut.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Meningkatkan pemahaman dan pengetahuanasuhan keperawatan
carsinoma tiroid.
2. Tujuan khusus
a. Mahasisa/i mampu memahami konsep dasar carsinoma Thyroid
b. Mahasiswa/i mampu menerapkan asuhan keperawatan dalam setiap
tindakan keperawatan.

C. Ruang Lingkup Penulisan


Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif yang
menggambarkan secara umum asuhan keperawatan pada klien dengan
karsinoma tyroid

D. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif yang
menggambarkan masalah tentang tentang asuhan keperwatan pada klien
dengan karinoma tyroid.

E. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah ini terdiri dari empat bab, yaitu:
Bab 1 : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan,
ruang lingkup penulisan, metode penulisan dan sistematika
penulisan
Bab 2 : landasan teoritis yang terdiri dari anatomi fisiologi, etiologi,
patofisiologi, jenis dan klasifikasi, komplikasi, pemeriksaan
diagnostik dan penatalaksanaan medis
Bab 3 : Asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa
keperawatan dan rencana keperawatan
Bab 4 : Aplikasi EBN
Bab 5 : Pembahasan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Kanker kelenjar tiroid adalah suatu neoplasma pada kelenjar tiroid
yang bersifat ganas. Kanker tiroid sebenarnya merupakan kasus yang cukup
jarang terjadi karena kebanyakan dari masalah di kelenjar tiroid bersifat jinak.
Namun kanker tiroid merupakan kanker dengan jumlah nomor satu di antara
kanker pada sistem metabolik-endokrin. Di samping itu, prevalensi karsinoma
tiroid saat ini meningkat secara linier dengan bertambahnya usia, pajanan
terhadap sinar pengion dan adanya defisiensi iodium (Suyatno & Pasaribu,
2010)
Prevalensi keganasan pada nodul tiroid multipel maupun nodul tunggal
tidak jauh berbeda. Gharib dalam laporannya mendapatkan prevalensi 4,1 %
dan 4,7 % masing-masing untuk nodul tunggal dan nodul multi. 6 Pada orang
Asia khususnya Asia Tenggara insidensinya juga meningkat. Karsinoma tiroid
9
papiler merupakan jenis histopatologi terbanyak. Data menunjukkan kanker
tiroid termasuk dalam 10 besar kanker terbanyak di Indonesia dan merupakan
10
penyebab kelima kanker pada wanita. Angka kematian (mortality rate)
karsinoma tiroid cukup rendah berkisar 0,4 % - 0,5 %.7
B. Anatomi Fisiologi
1. Anatomi
Kelenjar tiroid adalah kelenjar kecil berbentuk kupu-kupu, terletak
di leher tepatnya di bawah adams apple atau jakun, yaitu antara fasia koli
media dan fasia prevertebralis dengan banyak pembuluh darah. Kelenjar
ini terdiri dari dua lobus yang berada setinggi tulang vertebra servikal
kelima sampai torakalis perama, serta bergabung di tengahnya melalui
bagian kecil kelenjar, yaitu isthmus. Berat kelenjar ini sekitar 20 gram,
dipengaruhi oleh berat badan dan masukan iodium. Pada perempuan,
kelenjar tiroid membesar saat menstruasi dan kehamilan. 11

Gambar 1. Anatomi Kelenjar Tiroid. 12

Kelenjar tiroid terdiri dari dua tipe sel, yaitu sel principal
(folikuler tiroid) yang bertanggung jawab terhadap formasi dari koloid
dan sel parafolikuler (sel-C) yang menghasilkan hormon kalsitonin
yang bertanggung jawab terhadap homeostasis kalsium. 11
Kelenjar tiroid dilapisi oleh fasia viseralis yang membagi
lapisan tengah dari fasia servikal bagian dalam dan melekat secara
halus pada tulang laryngeal. Ligamentum suspensorium anterior
dimulai dari bagian superior-medial dari kelenjar tiroid yang melekat
pada krikoid dan kartilago tiroid. (Brunicardi, 2007).
Bagian postero-medial dari kelenjar melekat pada samping
kartilago krikoid, cincin trakea pertama dan kedua oleh ligamentum
suspensorium posterior (ligamentum Berry). Melalui cara ini, nervus
laryngeal rekuren biasanya menuju laring melalui ligamentum Berry
atau antara ligamen utama dengan sisi lateralnya. (Brunicardi, 2007).
Lapisan-lapisan demikian bertanggung jawab pada pergerakan
kelenjar tiroid dan struktur yang berhubungan dengan proses menelan.
Pada tiap gerakan menelan, selalu diikuti dengan gerakan terangkatnya
kelenjar ke arah kranial. Ciri khas ini digunakan dalam pemeriksaan
fisis untuk menentukan apakah suatu benjolah di leher berhubungan
dengan kelenjar tiroid atau tidak (Tjindarbumi & Mangunkusumo, 2002)
2. Fisiologi
Tiroid terdiri dari folikel, umumnya sferis, yang dilapisi epitel
kolumnar sampai kuboid rendah dan berisi koloid yang banyak
mengandung tiroglobulin. Kelenjar ini termasuk bagian tubuh yang
sensitif dan dapat bereaksi terhadap berbagai rangsang.
Fungsi tiroid dipengaruhi oleh
hipofisis. Jika TSH dikeluarkan hipofisis
anterior, maka sel epitel folikel tiroid
akan meminositosis koloid sehingga
mengubah tiroglobulin menjadi tiroksin
(T4) dan triiodotironin (T3) dalam
jumlah yang lebih sedikit. Tiroksin dan
triiodotironin disimpan dalam folikel
tiroid sebagai tiroglobulin yang dalam
kondisi fisiologis tidak termasuk dalam
sirkulasi darah.
Kemudian T4 dan T3 dibebaskan ke
dalam sirkulasi sistemik dan berikatan
dengan protein plasma secara reversibel
untuk dibawa ke jaringan
perifer. T3 dan T4 yang bebas akan berinteraksi dengan reseptor intrasel
dan akhirnya mengakibatkan metabolisme karbohidrat dan lemak
meningkat. Selain itu akan merangsang sintesis protein pada berbagai tipe
sel. Akibat akhir proses ini adalah meningkatkan laju metabolik dasar.
Kelenjar tiroid juga mengandung sel parafolikel yang menghasilkan
hormon kalsitonin. Kalsitonin adalah polipeptia yang mengatur
metabolism kalsium, dapat meningkatkan penyerapan kalsium di tulang
serta menghambat resorpsi tulang oleh osteoklas. (Brunicardi, 2007).

C. Etiologi
Seperti penyakit kanker lainnya, belum diketahui penyebab jelas
kanker tiroid. Akan tetapi, terdapat beberapa faktor yang diketahui
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid, baik secara difus maupun
nodular : 7
1. Kekurangan intake iodium
2. Diskarsionegenesis yang merupakan faktor genetic
3. Penyakit autoimun
4. Penyinaran sinar pengion

Secara klinis, khusus untuk karsinoma tiroid, berbagai hipotesis muncul


tentang etiologi karsinoma tiroid, yang menggambarkan bahwa sebenarnya
etiologi yang pasti belum diketahui, seperti berbagai keganasan yang lain
yang juga yang belum diketahui penyebabnya. (Brunicardi, 2007).

Gambar 4. Penyebab Nodul Tiroid.

Terdapat beberapa faktor risiko yang dianggap memiliki risiko


terhadap terjadinya keganasan tiroid yaitu :
a. Usia
Secara umum, kanker tiroid terjadi pada usia antara 20 hingga 60
tahun. Faktor risiko ini berkaitan dengan jenis histopatologi yang
ditemukan. Pada anak berusia kurang dari 20 tahun dengan nodul
tiroid, risiko keganasan didapatkan 2x lipat lebih besar daripada
kelompok dewasa.
b. Jenis Kelamin
Perbandingan terjadinya karsinoma tiroid pada perempuan dan laki-laki
ialah 3:1
c. Ras
d. Genetik
e. Riwayat penyakit dalam keluarga
f. Diet
Masyarakat yang tinggal pada daerah endemik goiter memiliki risiko
karsinoma tiroid lebih tinggi, khususnya pada jenis papiler dan
folikuler.
g. Riwayat radiasi

D. Patofisiologi
Walaupun terdapat berbagai macam faktor risiko pada keganasan
tiroid, mekanisme pasti proses onkogenesis tiroid dan hubungan antara
gambaran nodul tiroid pada ultrasonografi serta karakteristik biologisnya
masih belum diketahui.
Karsinoma tiroid biasanya menangkap iodium radio aktif
dibandingkan dengan kelenjar tiroid normal yang terdapat di
sekelilingnya. Oleh karena itu, bila dilakukan scintiscan, nodula akan
tampak sebagai suatu daerah dengan pengambilan yang kurang, suatu lesi
dingin. Teknik diagnostik lain yang dapat digunakan untuk diagnosis
banding nodula tiroid adalah ekografi tiroid. Teknik ini memungkinkan
membedakan dengan cermat antara massa padat dan massa kistik.
Karsinoma tiroid biasanya padat, sedangkan massa kistik biasanya
merupakan kista jinak.
Karsinoma tiroid harus dicurigai berdasarkan tanda klinis jika hanya
ada satu nodula yang teraba, keras, tidak dapat digerakkan pada dasarnya,
dan berhubungan dengan limfadenopati satelit.
Secara umum telah disepakati bahwa kanker tiroid secara klinis
dapat dibedakan menjadi suatu kelompok besar neoplasma berdeferensiasi
baik dengan kecepatan pertumbuhan yang lambat dan kemungkinan
penyembuhan tinggi, dan suatu kelompok kecil tumor anaplastik dengan
kemungkinan fatal. Terdapat empat jenis kanker tiroid menurut sifat
morfologik dan biologiknya : papilaris, folikularis, medularis, dan
anaplastik.
1. Karsinoma papiler
Kelenjar tiroid biasanya berbentuk nodul keras, tunggal,
dingin pada scan isotop, dan padat pada ultrasonografi tiroid, yang
sangat berbeda dengan bagian-bagian kelenjar lainnya. Pada goiter
multinodular, kanker berupa nodul dominan lebih besar, lebih keras
dan jelas dari bagian sekelilingnya. Kira-kira 10% karsinoma papiler,
terutama pada anak-anak, disertai pembesaran kelenjar getah bening
leher, tapi pemeriksaan teliti biasanya akan mengungkapkan nodul
dingin pada tiroid. Jarang, akan perdarahan, nekrosis dan
pembentukan kista pada nodul ganas tetapi pada ultrasonografi tiroid,
akan terdapat echo interna yang berbatas jelas yang berguna untuk lesi
ganas semi kistik dari kista murni yang tidak ganas. Akhirnya,
karsinoma papiler dapat ditemukan tanpa sengaja sebagai suatu fakus
kanker mikroskopik di tengah-tengah kelenjar yang diangkat untuk
alasan-alasan lain seperti misalnya : penyakit graves atau goiter
multinodular.
Secara mikroskopis, tumor terdiri dari lapisan tunggal sel-sel
tiroid teratur pada vascular stalk, dengan penonjolan papil ke dalam
ruang mikroskopis seperti kista. Inti sel besar dan pucat sering
mengandung badan inklusi intra nukleus yang jelas san seperti kaca.
Kira-kira 40% karsinoma papiler membentuk bulatan klasifikasi yang
berlapis, sering pada ujung dari tonjolan papil disebut psammoma
body, ini biasanya diagnostik untuk karsinoma papiler. Kanker ini
biasanya meluas dengan metastasis dalam kelenjar dan dengan invasi
kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening lokal. Pada pasien tua,
mereka bisa jadi lebih agresif dan menginvasi secara lokal kedalam
otot dan trakea. Pada stadium lebih lanjut, mereka dapat menyebar ke
paru. Kematian biasanya disebabkan penyakit lokal, dengan invasi
kedalam pada leher, lebih jarang kematian bisa disebabka metastasis
paru yang luas. Pada beberapa penderita tua, suatu karsinoma papiler
yang tumbuh lambat akan mulai tumbuh cepat dan berubah menjadi
karsinoma anaplastik. Perubahan anaplastik lanjut ini adalah penyebab
kematian lain dari karsinoma papiler, banyak karsinoma papiler yang
mensekresi tiroglobulin, yang dapat digunakan sebagai tanda rekurensi
atau metastasis kanker.
2. Karsinoma folikular
Ditandai oleh tetap adanya folikel-folikel kecil walaupun
pembentukan koloid buruk. Memang karsinoma folikular bisa tidak
dapat dibedakan dari adenoma folikular kecuali dengan invasi kapsul
atau invasi vaskular. Tumor ini sedikit lebih agresif daripada
karsinoma papilar dan menyebar baik dengan invasi lokal kelenjar
getah bening atau dengan invasi pembuluh darah disertai metastasis
jauh ke tulang atau paru. Secara mikroskopis, sel-sel ini berbentuk
kuboid dengan inti besar yang teratur sekeliling folikel yang sering kali
mengandung koloid. Tumor-tumor ini sering tetap mempunyai
kemampuan untuk mengkonsentrasi iodium radioaktif untuk
membentuk tiroglubulin dan jarang, untuk mensintesis T3 dan T4.
Jadi, kanker tiroid yang berfungsi yang jarang ini hampir selalu
merupakan karsinoma folikular. Karakteristik ini membuat tumor-
tumor ini lebih ada kemungkinan untuk memberi hasil baik terhadap
pengobatan iodin radioaktif . Pada penderita yang tidak diobati,
kematian disebabkan karena perluasan lokal atau karena metastasis
jauh mengikuti aliran darah dengan keterlibatan yang luas dari tulang,
paru, dan visera.
Suatu varian karsinoma folikular adalah karsinoma sel
Hurthle yang ditandai dengan sel-sel sendiri-sendiri yang besar
dengan sitoplasma yang berwarna merah muda berisi mitokondria.
Mereka bersikap lebih seperti karsinoma papilar kecuali mereka jarang
ada ambilan radioiodin. Karsinoma campuran papilar dan folikular
lebih seperti karsinoma papilar. Sekresi tiroglobulin yang dihasilkan
oleh karsinoma folikular dapat digunakan untuk mengikuti perjalanan
penyakit.
3. Karsinoma medular
Adalah penyakit dari sel C (sel parafolikular) yang berasal dari
badan brankial utama dan mampu mensekresi kalsitonin, histaminase,
prostaglandin, serotonir, dan peptida-peptida lain. Secara
mikoroskopis, tumor terdiri dari lapisan-lapisan sel-sel yang
dipisahkan oleh substansi yang terwarnai dengan merah. Amiloid
terdiri dari rantai kalsitonin yang tersusun dalam pola fibril atau
berlawanan dengan bentuk-bentuk lain amiloid, yang bisa mempunyai
rantai ringan imunoglobulin atau protein-protein lain yang dideposit
dengan suatu pola fibri.
Karsinoma medular lebih agresif daripada karsinoma papilar
atau folikular tetapi tidak seagresif kanker tiroid undifferentiated. Ini
meluas secara lokal ke kelenjar getah bening dan ke dalam otot
sekeliling dan trakea. Bisa invasi limfatik dan pembuluh darah dan
metastasisi ke paru-paru dan visera.kalsitonin dan antigen
karsinoembrionik (CEA = Carsinoembryonic antigen) yang disekresi
oleh tumor adalah tanda klinis yang membantu diagnosisdan follow-
up. Kira-kira sepertiga karsinoma medular adalah familial, melibatkan
kelenjar multipel (Multiple Endocrin neoplasia tipe II = MEN II,
sindroma sipple). MEN II ditandai dengan dengan karsinoma medular,
feokromositoma, dan neuroma multipel pada lidah, bibir, dan usus.
Kira-kira sepertiga dalah kasus keganasan semata. Jika karsinoma
medular di diagnosis dengan biopsi aspirasi jarum halus atau saat
pembedahan, maka penting kiranya pasien diperiksa untuk kelainan
endokrin lain yang di jumpai pada MEN II dan anggota diperiksa
untuk adanya karsinoma medular dan juga MEN II. Pengukuran
kalsitonin serum setelah stimulasi pentagastrin atau infus kalsium
dapat digunakan untuk skrining karsinoma medular. Pentagastrin
diberikan per intravena dalam bentuk bolus 0,5g/kg, dan contoh
darah vena diambil pada menit 1, 3, 5, dan 10. Peningkatan abnormal
kalsitonin serum pada menit ke 3 atau 5 adalah indikatif adanya
keganasan. Gen untuk MEN Iia telah dilokalisasi pada kromosom 10,
dan sekarang memungkinkan menggunakan pemeriksaan DNA
polimorfik dan polimorfisme panjang fragmen terbatas untuk
identifikasi karier gen sindroma ini. Jadi anggota keluarga yang
membawa gen ini dapat diidentifikasi dan diperiksa sebagai orang
berisiko tinggi untuk timbulnya sindroma ini.
4. Karsinoma anaplastik,
Tumor kelenjar tiroid undifferentiated termasuk karsinoma sel kecil,
sel raksasa, dan sel kumparan. Biasanya terjadi pada pasien-pasien tua
dengan riwayat goiter yang lama dimana kelenjar tiba-tiba dalam
waktu beberapa minggu atau bulan mulai membesar dan menghasilkan
gejala-gejala penekanan, disfagia atau kelumpuhan pita suara,
kematian akibat perluasan lokal yang biasanya terjadi dalam 6-36
bulan. Tumor-tumor ini sangat resisten terhadap pengobatan. (Jurnal,
Oktahermoniza, 2013)
E. Pathway

Radiasi, genetik & TSH

Karsinoma / adeno karsinoma

bermetstase Limfe leher

hemtogen

Paru2, tulang, otak , hati Pertumbuhan cepat

benjolan Penyusutan ke jaringan


sekitar

Kesulitan menelan Kesulitan bernafas, berbicara dll.

Gangguan nutrisi b.d


Kebersihan jalan nafas
ketidakmampuan b.d denganobstruksi
menelan makanan trachea akibat desakan
massa tumor

Pre oprasi Post Oprasi


- Ansietas b.d faktor kurng pengetahun - Kebersihan jalan nafas tidak efektif b.d
mengenai proses oprasi obstruksi akibat adanya edema pada tempat
- Perubahan proses keluarga b.d ketakutan pembedahan
berkaitan dengan diagnosis kanker yg baru saja - Nyeri b.d tiroidektomi
diterima - Resiko tinggi terhadap komplikasi b.d
tiroidektomi
Adenokarsinoma papiler biasanya bersifat multisentrik dan 50%
penderita dengan ada sarang ganas dilobus homolateral dan lobus
kontralateral. Metastasis mula-mula ke kelenjar limfe regional, dan
akhirnya terjadi metastasis hematogen. Umumnya adenokarsinoma
follikuler bersifat unifokal, dengan metastasis juga ke kelenjar limfe leher,
tetapi kurang sering dan kurang banyak, namun lebih sering metastasisnya
secara hematogen. Adenokarsinoma meduller berasal dari sel C sehingga
kadang mengeluarkan kalsitonin (sel APUD). Pada tahap dini terjadi
metastasis ke kelenjar limfe regional. Adenokarsinoma anaplastik yang
jarang ditemukan, merupakan tumor yang tumbuh agresif, bertumbuh
cepat dan mengakibatkan penyusupan kejaringan sekitarnya terutama
trakea sehingga terjadi stenosis yang menyebabkan kesulitan bernafas.
Tahap dini terjadi penyebaran hematogen. Dan penyembuhan jarang
tercapai. Penyusupan karsinoma tiroid dapat ditemukan di trakea, faring,
esophagus, N.rekurens, pembuluh darah karotis, struktur lain dalam darah
dan kulit. Sedangkan metastasis hematogen ditemukan terutama di paru,
tulang, otak dan hati (Barbara,1996).

Tanda dan Gejala


Dalam buku Barbara (1996) dijelaskan tanda dan gejala carsinom
thyroid ialah :
a. Sebuah benjolan, atau bintil di leher depan (mungkin cepat tumbuh
atau keras) di dekat jakun. Nodul tunggal adalah tanda-tanda yang
paling umum kanker tiroid.
b. Sakit di tenggorokan atau leher yang dapat memperpanjang ke telinga.
c. Serak atau kesulitan berbicara dengan suara normal.
d. Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di leher. Mereka dapat
ditemukan selama pemeriksaan fisik.
e. Kesulitan dalam menelan atau bernapas atau sakit di tenggorokan atau
leher saat menelan. Ini terjadi ketika mendorong tumor kerongkongan
Anda.
f. Batuk terus-menerus, tanpa dingin atau penyakit lain.

F. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium yang membedakan tumor jinak dan
ganas tiroid belum ada yang khusus, kecuali kanker meduler, yaitu
pemeriksaan kalsitonon dalam serum. Pemeriksaan T3 dan T4 kadang-
kadang diperlukan karena pada karsinoma tiroid dapat terjadi
tiroktositosis walaupun jarang. Human Tiroglobulin (HTG) Tera dapat
dipergunakan sebagai tumor marker dan kanker tiroid diferensiasi
baik. Walaupun pemeriksaan ini tidak khas untuk kanker tiroid, namun
peninggian HTG ini setelah tiroidektomi total merupakan indikator
tumor residif atau tumbuh kembali (barsano). Kadar kalsitonin dalam
serum dapat ditentukan untuk diagnosis karsinoma meduler.
2. Radiologis
a) Foto X-Ray
Pemeriksaan X-Ray jaringan lunak di leher kadang-kadang
diperlukan untuk melihat obstruksi trakhea karena penekanan
tumor dan melihat kalsifikasi pada massa tumor. Pada karsinoma
papiler dengan badan-badan psamoma dapat terlihat kalsifikasi
halus yang disertai kalsifikasi stipled, sedangkan pada karsinoma
meduler kalsifikasi lebih jelas di massa tumor. Kadang-kadang
kalsifikasi juga terlihat pada metastasis karsinoma pada kelenjar
getah bening. Pemeriksaan X-Ray juga dipergunnakan untuk
survey metastasis pada pary dan tulang. Apabila ada keluhan
disfagia, maka foto barium meal perlu untuk melihat adanya
infiltrasi tumor pada esophagus
b) Ultrasound
Ultrasound diperlukan untuk tumor solid dan kistik. Cara
ini aman dan tepat, namun cara ini cenderung terdesak oleh
adanya tehnik biopsy aspirasi yaitu tehnik yang lebih sederhna dan
murah
c) Computerized Tomografi
CT-Scan dipergunakan untuk melihat perluasan tumor,
namun tidak dapat membedakan secara pasti antara tumor ganas
atau jinak untuk kasus tumor tiroid.
d) Scintisgrafi
Dengan menggunakan radio isotropic dapat dibedakan hot
nodule dan cold nodule. Daerah cold nodule dicurigai tumor ganas.
Teknik ini dipergunakan juga sebagai penuntun bagi biopsy
aspirasi untuk memperoleh specimen yang adekuat.
3. Biopsi Aspirasi
Pada dekade ini biopsy aspirasi jarum halus banyak
dipergunakan sebagai prosedur diagnostik pendahuluan dari berbagai
tumor terutama pada tumor tiroid. Teknik dan peralatan sangat
sederhana , biaya murah dan akurasi diagnostiknya tinggi. Dengan
mempergunakan jarum tabung 10 ml, dan jarum no.22 23 serta alat
pemegang, sediaan aspirator tumor diambil untuk pemeriksaan
sitologi. Berdasarkan arsitektur sitologi dapat diidentifikasi karsinoma
papiler, karsinoma folikuler, karsinoma anaplastik dan karsinoma
medule.

G. Penatalaksanaan medis
a. Therapi Radiasi
Pada adenokarsinoma papiler tanpa penyebaran ke kelenjar
leher sebaiknya dilakukan istmolobektomi. Bila terdapat pembesaran
kelenjar limf leher, kemungkinan besar telah terjadi penyebaran
melalui saluran limf di dalam kelenjar sehingga perlu dilakukan
tiroidektomi total disertai diseksi kelenjar leher pada sisi yang sama.
b. Tiroidectomi
Tiroidektomi adalah prosedur pembedahan di mana semua atau
sebagian dari kelenjar tiroid akan dihapus. Kelenjar tiroid terletak di
anterior bagian dari leher tepat di bawah kulit dan di depan jakun.
Tiroid adalah salah satu kelenjar endokrin tubuh, yang berarti bahwa
mengeluarkan produk-produknya di dalam tubuh, ke dalam darah atau
getah bening. tiroid menghasilkan beberapa hormon yang memiliki
dua fungsi utama: mereka meningkatkan sintesis protein di sebagian
besar jaringan tubuh, dan mereka meningkatkan tingkat
konsumsi oksigen tubuh.

H. Peran perawat
Peran perawat adalah dalam penatalaksanaan Pre-Operatif, Intra
Operatif dan Post Operasi:
a. Penatalaksanaan Pre Operasi yang perlu dipersiapkan adalah sebagai
berikut:
1) Inform Concern (Surat persetujuan operasi) yang telah
ditandatangani oleh penderita atau penanggung jawab penderita
2) Keadaan umum meliputi semua system tubuh terutama system
respiratori dan cardiovasculer
3) Hasil pemeriksaan / data penunjang serta hasil biopsy jaringan jika
ada
4) Persiapan mental dengan suport mental dan pendidikan kesehatan
tentang jalannya operasi oleh perawat dan support mental oleh
rohaniawan
5) Konsul Anestesi untuk kesiapan pembiusan
6) Sampaikan hal-hal yang mungkin terjadi nanti setelah dilakukan
tindakan pembedahan terutama jika dilakukan tiroidectomi total
berhubungan dengan minum suplemen hormone tiroid seumur
hidup.
7) Ajarkan pasien teknik relaksasi untuk mengurangi nyeri
8) Ajarkan pasien batuk efektif untuk mengeluarkan secret setelah
operasi
9) Ajarkan pasien tentang mobilisasi dini pasca oeprasi

b. Penatalaksanaan Intra Operasi


Peran perawat hanya membantu kelancaran jalannya operasi
karena tanggung jawab sepenuhnya dipegang oleh Dokter Operator
dan Dokter Anesthesi.
c. Penatalaksanaan Post Operasi (di ruang sadar)
1) Observasi tanda-tanda vital pasien (GCS) dan jaga tetap stabil
2) Observasi adanya perdarahan serta komplikasi post operasi
3) Dekatkan peralatan Emergency Kit atau paling tidak mudah
dijangkau apabila sewaktu-waktu dibutuhkan atau terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan
4) Sesegera mungkin beritahu penderita jika operasi telah selesai
dilakukan setelah penderita sadar dari pembiusan untuk lebih
menenangkan penderita
5) Lakukan perawatan lanjutan setelah pasien pindah ke ruang
perawatan umum

I. Konsep Keperawatan
1. Pola kegiatan sehari hari
2. Aktivitas atau istirahat
Gejala : Aneroksia, gaduh dan gelisah, kesulitan menelan,
insomnia, kelemahan berat, gangguan koordinasi
Tanda : massa pada tiroid
3. Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, Perbesaran jantung, disritmia dan hipotensi, nadi
turun, kelemahan fisik
Tanda : peningkatan tekanan darah dengan tekanan nada yang berat.
Takikardia saat istirahat, syok (krisis tirotoksikosis)
J. Eliminasi
Gejala : Urine dalam jumlah banyak, diare.
K. Integritas / Ego
Gejala : cemas, Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial
yang berhubungan dengan kondisi.
Tanda : Ansietas peka rangsang
L. Makanan / Cairan
Gejala : Mual dan muntah, suhu meningkat diatas 37,4C.Pembesaran
tiroid, edema non-pitting terutama di daerah pretibial, diare atau
sembelit.
Tanda : pembesaran thyroid.
M. Neurosensori
Gejala : Pusing atau pening, kelemahan, gangguan status mental dan
perilaku, seperti : bingung, disorientasi, gelisah, peka rangsang, hiperaktif
refleks tendon dalam
Tanda : koma (tahap lanjut),
N. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-
hati.
O. Pernapasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, Suara parau dan kadang
sampai tak dapat mengeluarkan suara
Tanda : Sesak napas, suara serak.
P. Keamanan
Gejala : Kulit kering , ulkus kulit
Tanda : lesi atau ulserasi, menurunnya kekuatan otot pernapasan.
Q. Seksualitas
Gejala : adanya riwayat monopouse dini
Tanda : Hilangnya tanda tanda seks sekunder
J. Diagnosa keperawatan
1. Intoleransi aktifitas b/d kelelahan, penurunan proses kognitif
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d lambatnya
metabolisme tubuh
3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi akibat
adanya perdarahan atau edema pada tempat pembedahan, kerusakan saraf
laringeal atau luka pada kelenjar paratiroid.
4. Nyeri berhubungan dengan edema pascaoperasi.
5. Gangguan komunikasi berhubungan dengan cedera pita suara.
6. Defisiensi pengetahuan b/d kurang informasi tentang program untuk
pengobatan untuk terapi
7. Ansietas b/d faktor fisiologis: status hipermetabolik.

Intervensi keperawatan

No Diagnosa Noc Nic

1 Intoleransi Setelah di lakukan Activity therapy


aktifitas b/d tindakan keperawatan Kolaborasikan dengan
kelelahan, selama..24 jam klien tenaga rehabilitasi medik
penurunan menunjukan aktivitas dalam merencanakan
proses kognitif sehari-haari dengan program terapi yang tepat
baik Bantu klien untuk
Kriteria Hasil: mengidentivikasi
a. Berpartisipasi aktivitas yang mampu di
dalam aktivitas fisik lakukan
tanpa di sertai Bantu untuk memilih
peningkatan aktivitas konsisten
TD,ND, dan RR yyyang sesuai dengan
b. Mampu melakukan kemampuan fisik,
aktivitas sehari-hari psikologi dan sosia
(ADLS) Secara Bantu untuk
mandiri mengidentifikasi dan
c. TTV normal mendapatkan sumber
d. Energi psikomotor yang di perlukan untuk
e. Level kelemaha aktivitas yang di inginkan
f. Mampu berpindah: Bantu untuk
dengan atau tanpa mendapatkan alat
bantuan alat bantuan aktivitas seperti
g. Status kursi roda dan krek
kardiopulmunari Bantu untuk
adekuat mengidentivikasi
h. Sirkulasi status baik aktivitas yang di sukai
i. Status respirasi : Bantu pasien atau
pertukaran gas dan keluarga untuk
ventilasi adekuat mengidentivikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif
beraktifitas
Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
Monitor respon fisik,
emosi, sosial dan spritual
2 Ketidak Setelah di lakukan Nutrition Management
seimbangan tindakan keperawatan Kaji adanya alergi makan
nutrisi kurang selama..24 jam klien Kolaborasi dengan ahli
dari kebutuhan menunjukan gizi untuk menetukan
tubuh b/d peningkatan berat jumlah kalori dan nutrisi
lambatnya badan yang di butuhkan pasien
metabolisme Kriteria Hasil : Anjurkan pasien untuk
tubuh a. Adanya meningkatkan protein
peningkatan berat vitamin C
badan sesuai Berikan substansi gula
dengan tujuan Yakinkan diet yang di
b. Berat badan ideal makan mengandung
sesuai dengan tinggi tinggi serat untuk
badan mencegah konstipasi
c. Mampu Berikan makanan yang
mengidentifikasikan terpilih ( sudah di
kebutuhan nutrisi konsultasikan dengan ahli
d. Tidak adatanda- gizi )
tanda malnutrisi Ajarkan pasien
e. Menunjukan bagaimana membuat
peningkatan fungsi catatan makanan harian
pengecapan dan Monitor jumlah nutrisi
menelan dan kandungan kalori
f. Tidak terjadi Berikan informasi
penurunan berat
tentang kebutuhan nutrisi
badan yang berarti
Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan
nutrisi yang di butuhkan
Nutrition Monitoring
BB pasien dalam batas
normal
Monitor adanya
penurunan berat badan
Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa di
lakukan
Monitor interaksi anak
atau orang tua selama
makan
Monitor lingkungan
selam makan
Jadwalkan pengobatan
dan tindakan tidak selama
jam makan
Monitor turgor kulit
monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
Monitor mual dan
muntah
Monitor pertumbuhan
dan perkembangan
Monitor pucat,
kemerahan dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet
3 Bersihan jalan Setelah dilakukan Airway Suction
nafas tidak tindakan keperawatan Monitor tanda-tanda
efektif selama ... x 24 jam, respiratori distres,
berhubungan klien mempertahankan sianosis, takipnea dan
dengan kepatenan jalan nafas nafas yang berbunyi.
obstruksi akibat dengan Periksa balutan leher
adanya Kriteria hasil setiap jam pada periode
perdarahan atau a. Mengeluarkan/mem awal post op, kemudian
edema pada bersihkan sekret tiap 4 jam.
tempat dan bebas aspirasi. Monitor frekuensi dan
pembedahan, b. Menunjukkan jumlah drainase serta
kerusakan saraf perilaku untuk kekuatan balutan.
laringeal atau memperbaiki/memt Periksa sensasi klien
luka pada ertahankan jalan karena keketatan
kelenjar nafas bersih dalam disekeliling tempat insisi.
paratiroid. tingkat Pertahankan klien dalam
kemampuan/situasi posisi semi fowler
dengan diberi kantung es
(ice bag) untuk
mengurangi bengkak.
Anjurkan klien untuk
berbicara setiap 2 jam
tanpa merubah nada atau
keparauan suara.
4 Nyeri setelah dilakukan Pain Management
berhubungan tindakan keperawatan Lakukan penkajian nyeri
dengan edema selama ... x 24 jam secara konprehensif
pascaoperasi. klien menunjukkan termasuk lokasi,
Nyeri berkurang/hilang karakteristik, durasi,
dengan frekuensi, kualitas dan
Kriteria Hasil: faktor presipitasi.
a. Tidak ada rintihan, Observasi reaksi
ekspresi wajah nonverbal dari
rileks, ketidaknyamanan.
b. Melaporkan nyeri Kaji kultur yang
dapat mempengaruhi respon
berkurang/hilang. nyeri
Evaluasi pengalaman
nyeri masa lampau.
Analgesic Administration
Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari analgesik
ketika pemberian lebih
dari satu.
Tentukan
pilihananalgesik
tergantung tipe dan
beratnya nyeri.

5 Hambatan Setelah dilakukan Communication


komunikasi tindakan keperawatan Enhancement
berhubungan ..24 jam klien Antisipasi kebutuhan
dengan cedera menunjukkan sebaik mungkin, kunjungi
pita suara. berkomunikasi dengan pasien secara teratur.
baik dengan Gunakan penerjemah jika
Kriteria hasil : diperlukan
a. Mampu Dorong pasien untuk
menciptakan berbicara secara perlahan
metode komunikasi Pertahankan lingkungan
dimana kebutuhan yang tenang
dapat dipahami. Anjurkan untuk tidak
b. Gerakan berbicara terus menerus.
terkoordinasi : Kolaborasikan dengan
mampu dokter obat obat yang
menkoordinasi diperlukan untuk
gerakan dalam meringankan rasa nyeri
menggunakan
isyarat.

6 Defisiensi Setelah di lakukan Teaching : disease proses


pengetahuan b/d tindakan keperawatan Berikan penilaian tentang
kurang selama..24 jam klien tingkat pengetahuan
informasi menunjukan pasien tentang proses
tentang program peningkatan penyakit yang spesifik
untuk pengetahuan Jelaskan patofisiologi
pengobatan Kriteria Hasil dari penyakit dan
untuk terapi a. Pasien dan keluarga bagaimana hal ini
menyatakan berhubungan dengan
pemahaman tentang anatomi dan fisiologi ,
penyakit, kondisi, dengan cara yang tepat
prognosis dan Gambarkan tanda dan
program gejala yang biasa muncul
pengobatan pada penyakit, dengan
b. Pasien dan cara yang tepat
keluarga mampu Gambarkan proses
melaksanakan penyakit , dengan cara
prosedur yang di yang tepat
jelaskan secara Identivikasi kemungkinan
benar penyebab, dengan cara
c. Pasien dan keluarga yang tepat
mampu Sediakan informasi pada
menjelaskan pasien tentang kondisi,
kembali apa yang di dengan cara yang tepat
jelaskan perawat / Hindari jaminan yang
tim kesehatan
kosong
lainnya
Diskusikan pilihan terapi
atau penanganan
Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara yang
tepat atau diindikasikan
7 Ansietas b/d Setelah di lakukan Anxiety Reducation (
faktor tindakan keperawatan penurunan kecemasan )
fisiologis: status selama..24 jam klien Gunakan pendekatan
hipermetabolik menunjukan sikap yang menenangkan
kontrol emosi Nyatanya dengan jelas
Kriteria Hasil : harapan terhadap pelaku
a. Klien mampu pasien
mengidentifikasi Jelaskan semua prosedur
dan dan apa yang di rasakan
mengungkapkan selama prosedur
gejala cemas Pahami prespektif pasien
b. Mengidentifikasi, terhadap situasi stress
mengungkapkan Temani pasien untuk
dan menunjukan memberikan keamanan
teknik untuk dan mengurangi takut
mengontrol cemas Dorong keluarga untuk
c. Vital sign dalam menemani anak
batas normal Lakukan back / neck rub
d. Postur tubuh,
Dengarkan dengan penuh
ekspresi wajah,
perhatian
bahasa tubuh dan
Identifikasi tingkat
tingkat aktivitas
kecemasan
menunjukan
Bantu pasien mengenal
berkurangnya
situasi yang
kecemasan
menimbulkan kecemasan
Dorong pasien untuk
mengungkapkan
perasaan, ketakutan,
persepsi
Instruksikan pasien
menggunakan teknik
relaksasi
Berikan obat untuk
mengurangi kecemasan
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN FOKUS
1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
Nama mahasiswa : Bayu Permana
NIM : G3A016263
Tempat praktek : Ruang Rajawali IIA RSUP Dr.Kariadi Semarang
Tanggal pengkajian: 12/10/ 2017
IDENTITAS
1. Identitas pasien
Nama : Ny. T
Umur : 56 th
Pendidikan terakhir : SMP
Agama : Islam
Suku : Jawa
Status perkawinan : Kawin
Pekerjaan : IRT
Diagnosa medik : CA Tyroid

2. Identitas penanggung jawab


Nama : Ny N
Umur : 28 th
Jenis kelamin : Perempuan
Agama :Islam
Suku : Jawa
Hubungan dg pasien : Anak
STATUS KESEHATAN
1. Status kesehatan saat ini
a. Keluahan Utama
Klien mengatakan nyeri di luka post operasi. Klien mengatakan
suara juga masih serak dan nafsu makan kurang karena mual
b. Alasan Masuk dan Kesehatan Sekarang
Klien mengatakan dibawa masuk ke RS kariadi karena rujukan dari
RS Sunan Kalijaga. Klien di RS Sunan Kalijaga dioperasi karena
ada tumor di leher kanan dan kiri. Kemudian klien dioperasi untuk
mengangkat tumor di leher kiri dan dibiopsi dan hasilnya klien di
diagnosa kanker tiroid ganas dan klien dirujuk ke RS Kariadi
Semarang pada tanggal 2-10-2017
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengatakan sudah 3 tahun menderita sakit yang diderita
klien saat ini. Klien selama 3 tahun berobat ke Puskesmas dan ke
RSI Sultan Agung Semarang. Di RSI Sultan Agung Semarang
klien didiagnosa menderita tumor tiroid jinak. Kemudian klien
periksa sendiri pada bulan agustus 2017 di RS dan klien didiagnosa
kanker tiroid ganas. Klien kemudian masuk ke RS Sunan Kalijaga
dan operasi untuk mengangkat kanker di leher kiri klien dan
kemudian klien dirujuk ke RS Kariadi Semarang
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan di keluarganya ada yang menderita tekanan
darah tinggi dan penyakit asma
B. PENGKAJIAN POLA FUNGSI DAN PEMERIKSAAN FISIK
1. Persepsi dan pemiliharaan kesehatan
a. Persepsi pasien tentang kesehatan diri
Jika pasien mulai merasakan badannya tidak sehat maka pasien
akan memeriksakannya ke yankes terdekat (puskesmas) atau
RSUD yang dekat dengan tempat tinggal
b. Pengetahuan dan persepsi pasien tentang penyakit dan
perawatannya
Pasien jika sakit akan selalu memeriksakan ke puskesmas, dokter
keluarga, ataupun rumah saki terdekat, karena klien mengatakan
jika kondisi sakit itu adalah kondisi yang tidak nyaman. Klien
mengetahui tentang penyakit yang dideritanya.
c. Upaya yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatannya
1) Kebiasaan diit yang adekuat, diit yang tidak sehat?
Dirumah pasien makan secara umum 3x sehari, tidak
melakukan diit ketat, pasien makan dengan menu yang tersedia
setiap hari.
2) Pemeriksaan kesehatan
Jika sakit pasien segera memeriksakan kesehatannya ke yankes
terdekat
3) Kemampuan pasien untuk mengontrol kesehatan
a). Yang dilakukan bila sakit
Pasien memeriksakan segera tentang masalah kesehatannya
b). Kemana pasien biasa berobat bila sakit
Yankes terdekat seperti dokter keluarga, puskesmas &
RSUD terdekat
c). Kebiasaan hidup
Pasien sering mengkonsumsi jamu-jamunan tradisional
seperti kunir asem, kunyit putih,klien tidak pernah merokok
dan tidak pernah minum alcohol.
d). Faktor sosial ekonomi
Pasien memiliki asuransi kesehatan berupa BJPS

2. Nutrisi, cairan dan metabolik


a. Gejala (subjektif)
1). Diit biasa (tipe): lunak jumlah makan per hari: 3x sehari
2). Pola diit : diit sudah ditentukan dari rumah sakit, pasien nafsu
makan kurang baik, klien mengatakan hanya mneghabiskan
setengah porsi makan dari rumah sakit
3). Nafsu makan pasien kurang baik, klien mengeluh mual
4). Tidak muntah,
6). Pasein tidak memiliki alergi makanan
7). Tidak ada masalah dalam menelan atau mengunyah
8). Pasien tidak demam suhu dalam batas normal
9). Pasien banyak minum air putih 1500-2000cc

b. Tanda (objektif)
1). Suhu dalam batas normal 36,8 derajat Celsius
2). Berat badan 45 kg, tinggi badan 150 cm, turgor kulit normal
3). Tidak terdapat bengkak di ekstremitas, bengkakk pada wajah
sebelah kanan
4). Integritas kulit perut dalam batas normal
5). Tidak ada Distensi vena jugularis
6). Tidak ada Hernia
7). Tidak ada Bau mulut/Halitosis
8).Kondisi mulut gigi/gusi/mukosa dalam batas normal
3. Pernapasan, aktifitas dan latihan
a. Gejala
Klien tidak mengalami gangguan pernafasan
b. Tanda
Pernafasan 12/10/17 yaitu 22x/menit, napas dalam keadaan normal
, tidak ada nafas cuping hidung, klien tidak tampak menggunakan
otot bantu napas, ada batuk, bunyi napas auskultasi terdengar pada
lapang paru, klien tidak terpasang alat bantu pernafasan tidak
terdapat sianosis, perkusi focal fremitus teraba.
4. Aktifitas (termasuk kebersihan diri) dan latihan
a. Gejala
Kegiatan kebutuhan sehari-hari dalam pekerjaan pasien dapat
beraktivitas secara mandiri. Saat ini pasien keadaan umum lemah,
aktivitas klien dibantu oleh keluarga.
b. Tanda
Status mental pasien baik, klien tidak menarik diri, namun klien
saat di rumah sakit melakukan aktivitas dengan dibantu oleh
keluarga.
5. Istirahat
a. Gejala
Kebiasaan tidur klien siang dan malam lama tidur 5-7 jam untuk
siang dan malam, pasien saat ini setalah selama dirawat dirumah
sakit tidak
b. Tanda
Pasien tampak keadaan umum lemah dan menahan sakit di leher
bekas operasi
6. Sirkulasi
a. Gejala
Pasien tidak mempunyai riwayat hipertesi, kesemutan di
ekstermitas.
b. Tanda
Tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi : 95 x/menit, bunyi jantung
reguler, bj 1 dan bj 2 terdengar, ektremitas suhu 36,8c, tidak ada
tanda anemia, konjungtiva tidak anemis, tidak tampak pucat, sclera
tidak ikterik, tidak terdapat sianosis.

7. Eliminasi
a. Gejala
Klien mengatakan tidak terdapat masalah pada saat buang air kecil
(BAK) , klien tidak memakai pempers, dan buang air besar (BAB)
tidak lancar klien BAB kurang lebih selama di rawat dirumah sakit
hanya bab 3x saja.
b. Tanda
Abdomen datar dan tidak teraba keras, bising usus 5-30 x/menit,
bunyi timpani, tidak ada bunyi tambahan abdomen yang lain,
palpasi ada nyeri tekan bagian abdomen, klien tidak terpasang
kateter, warna BAK kuning bening, bau khas urine, tidak terpasang
colostomy, urostomy, ileustomy.
8. Neurosensori dan kognitif
a. Gejala
Klien mengatakan saat ini merasakan nyeri leher bekas operasi.
Hasil pengkajian nyeri yang didapatka :
P : Nyeri adanya bekas operasi
Q : Tertusuk
R : Nyeri pada bagian leher bekas operasi
S : Skala nyeri 4
T : Keluhan terasa kadang-kadang
Tanda
Tidak terjadi kejang, tidak terjadi penurunan pengelihatan, tidak
ada penurunan pendengaran. Stasus mental kesadaran composmetis
dengan skala GCS: 15
E: 4 M: 6 V: 5, pasien tidak menggunakan alat bantu
pengelihatan/pendengaran, pasien juga tidak kehilangan memori
ingatannya, mata bereaksi ketika dirangsang cahaya, penampilan
umum pasien lemah
9. Keamanan
a. Gejala
Klien tidak terdapat alergi obat, tidak alergi makanan, faktor
lingkungan baik, pendengaran dan pengelihatan pasien dalam batas
normal, klien pernah mengalami kecelakaan dan mengalami fraktur
di clavikula
b. Tanda
Suhu tubuh 36,8 C, intergritas kulit baik, tidak ada jaringan parut,
tidak terlihat sesak, klien beraktivitas dibantu keluarga.
10. Seksual dan reproduksi
a. Gejala
Pasien mengatakan tidak melakukan hubungan seksual selama
pasien sakit, klien mengatakan selama ini sudah tidak memikirkan
tentang hal tersebut dan berfokus pada kesembuhannya..
b. Tanda
Klien mngatakan tidak ada keluhan
11. Persepsi diri, konsep diri dan mekanisme koping
a. Gejala
Pasien jika menghadapi masalah selalu akan meminta pendapat
kepada keluarga terutama dengan suami dan anak terus melanjutan
ke tindak lanjut untuk menyelesaikan masalah yang dialaminya,
keluarga langsung membawa ke RS guna ditanganni tindak lanjut
untuk kesembuhannya . Pasien sama sekali tidak merasa putus asa
dan bersemangat untuk sembuh, walaupun sudah dinyatakan
terkena kanker tiroid.
b. Tanda
Status emosi klien baik, dapat menjalin komunikasi baik dengan
perawat, pasien, ataupun keluarga pasien.
12. Interaksi sosial
a. Gejala
Orang yang terdekat adalah anak suami dan anaknya , jika pasien
tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri pasien meminta
tolong kepada suaminya guna memberikan solusi apa yang harus
dilakukannya, tidak ada kesulitan dalam keluarga pasien, dengan
tetangga pun pasien tidak ada permasalahan.
b. Tanda
Klien ketika berbicara agak pelan dan suara agak serak, klien tidak
menggunakan alat bantu bicara dan klien tidak menarik diri
13. Pola nilai kepercayaan dan spiritual
a. Gejala
Sumber kekuatan bagi pasien adalah keluarga yang selalu
disampingnya saat sakit di RS, pasien selama sakit ini tidak dapat
beribadah secara teratur, hanya beribadah diatas tempat tidur,
pasien yakin bahwa sakitnya akan segera sembuh dan dapat
beraktifitas kembali.
b. Tanda
Pasien tidak menarik diri, tidak mudah marah bahkan pasien
ramah, tidak mudah tersinggung, mudah diajak interaksi, pasien
tidak menolak pengobatan.
14. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium
Hasil
Nilai rujukan
03/10 2017 12-10-2017
Hematologi
paket
Hemoglobin 11,6 g/dL 11,7 12,00- 15,00
Hematocrit 34% 36,6 35 47
Eritrosit 4,04 x 10^6/uL 4,45 4,4 5,9
MCH 27,2 pg 26,3 27,00 32,00
MCV 66,3 Fl 82,2 76 96
MCHC 31,6 g/dl 32 29,00 36,00
Leukosit 5,46 10^3/uL 16,3 3,6 11
Trombosit 253 10^3/Ul 335 150 400
RDW 13,3 % 14,6 11,60 14, 80
MPV 7,56 fL 10,7 4,00 11,00
Kimia Klinik
Glukosa sewaktu 59 80-160
Albumin 3,7 3,4-5,0
Ureum 21 15-39
Kreatinin 1,22 0,60-1,30
Elektrolit
Natrium 142 136-145
Kalium 4,2 3,5-5,1
Chlorida 101 98-107
Imunoserologi
TSHs 1,9 0,51-4,94
Free T4 14,33 10,6-19,4

15. Terapi
a. Infus RL 20 tpm
b. Inj Ceftrizxone 2 gr/24 jam
c. Inj Cefazolam 1 gr/prosedur (IV)
d. Inj Ranitidin 50 mg/12 jam
e. Inj Tramadol 100 mg/8 jam
f. Inj Ketorolac 30 mg/8 jam
g. Ca. Glukonas 1 gr/8 jam
h. Ca CO3 50 mg/8 jam (PO)
i. Calsimel 0,25 mg/24 jam (PO)
C. ANALISA SINTESA
No Data Fokus Problem Etiologi
1 Ds: Nyeri akut Prosedur Bedah
Klien mengatakan nyeri di leher
bekas operasi
Do :
Klien tampak tidak nyaman, tetapi
klien masih dapat berkomunikasi
dengan baik
Pengkajian nyeri didapatkan :
P : adanya luka op Ca Tiroid
Q : tertusuk- tusuk
R : di bagian leher
S : skala nyeri 4
T : kadang-kadang
TTV : TD 120/80 mmHg, RR
22x/menit, Nadi 95x/menit
Klien tampak meringis menahan
sakit

Ds: Resiko Infeksi Proses


Do : penyembuhan luka
Terdapat luka post op pada post operasi
leher pasien yang tertutup
balutan
Pasien terpasang drain di leher
Terpasang infuse RL dikanan
kanan
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur bedah
2. Resiko infeksi berhubungan dengan proses penyembuhan luka

FOKUS INTERVENSI/RASIONAL

No. NOC NIC


Dx
1. Setelah dilakukan tindakan a. Pantau tanda-tanda vital
keperawatan selama 3x24 jam b. Lakukan pengkajian nyeri
pasien mengatakan bahwa rasa sakit c. Control lingkungan yang dapat
telah terkontrol / hilang. mempengaruhi nyeri
Kriteria hasil: d. Tingkatkan istirahat
Nyeri berkurang bahkan hilang e. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
Pasien tampak rileks dan relaksasi genggam jari
Skala nyeri dalam batas normal f. Kolaborasi untuk pemberian analgetik.

2. Setelah dilakukan tindakan a. Monitor TTV


keperawatan 3x24 jam klien b. Lakukan perawatan luka
menunjukkan berkomunikasi c. Dorong masukan cairan dan nutrisi
dengan baik dengan d. Monitor tanda dan gejala infeksi
Kriteria hasil : e. Ajarkan cara menghindari infeksi
TTV dalam rentang normal f. Kolaborasi pemberian antibiotik
Leukosit dalam batas normal
Infeksi berulang tidak terjadi
Implementasi

No Dx Tgl/jam Tindakan keperawatan Respon pasien Paraf


1,2 12-10-2017 Melakukan perawatan luka S:
08.00 Klien mengatakan lebih nyaman
setelah dirawat
O:
Luka tampak bersih, tidak ada
tanda-tanda infeksi

12.45 WIB Memantau TTV, KU klien, dan nyeri S :


klien, Klien mengatakan masih nyeri di
luka operasi
O:
Keadan klien baik, tampak lemah
Pengkajian nyeri didapatkan :
P : adanya luka post op Ca Tiroid
Q : tertusuk- tusuk
R : di bagian leher
S : skala nyeri 4
T : kadang-kadang
TTV : TD 120/80 mmHg, RR
22x/menit, Nadi 95x/menit
Klien berbicara secara perlahan

1,2 12.50 WIB Mengajarkan teknik genggam jari S:


dan nafas dalam untuk mengurangi Klien mengatakan mengerti dan
nyeri, mendorong pasien untuk bisa melakukan seperti yang
istirahat diajarkan
O:
Klien kooperatif selama terapi
Klien mampu mempraktekkan
terapi yang diajarkan

1,2 13-10-2017 Memantau TTV, KU, skala nyeri, S:


menganjurkan untuk meningkatkan Klien mengatakan masih nyeri di
asupan nutrisi luka post operasi
O:
Keadan klien baik, tampak lemah
Pengkajian nyeri didapatkan :
P : adanya Ca Tiroid
Q : tertusuk- tusuk
R : di bagian leher
S : skala nyeri 3
T : kadang-kadang
TTV : TD 130/80 mmHg, RR
22x/menit, Nadi 84x/menit

1,2 Berkolaborasi dalam pemberian obat S:


Klien mengatakan akan meminum
obat yang sudah diberikan
O:
Obat sudah diberikan

1 Menanyakan kembali teknik S:


genggam jari dan nafas dalam untuk Klien mengatakan masih
mengurangi nyeri mempraktekkan terapi yang
diajarkan ketika nyeri datang
O:
Ekspresi wajah klien tampak rileks
1,2 14-10-2017 Melakukan pengkajian nyeri S:
16.30 WIB Klien mengatakan nyeri berkurang
O:
P : Nyeri luka operasi
Q: Seperti ditusuk-tusuk,
R : Leher bekas operasi
S : Skala 2,
T : Hilang timbul

1,2 16.35 Mengukur TTV, menganjurkan untuk S:


meningkatkan asupan nutrisi Klien mengatakan akan makan
yang banyak dan sesuai diet
O:
TTV : TD 120/70 mmHg, RR
22x/menit, Nadi 80x/menit
Evaluasi

No.
Waktu Evaluasi Paraf
Dx
1 12-10-2017 S:
Klien mengatakan masih nyeri di luka post operasi,
klien mengatakan akan mempraktekkan terapi yang
sudah diajarkan

O:
Keadan klien baik, tampak lemah
Pengkajian nyeri didapatkan :
P : adanya Ca Tiroid
Q : tertusuk- tusuk
R : di bagian leher
S : skala nyeri 4
T : kadang-kadang
TTV : TD 120/80 mmHg, RR 22x/menit, Nadi
95x/menit
Klien mampu mempraktekkan terapi yang diajarkan

A:
Masalah belum teratasi

P:
Lanjutkan intervensi 1,2,3,4,5,6
No.
Waktu Evaluasi Paraf
Dx
2 12-10-2017 S:
Klien mengatakan lebih nyaman setelah dirawat
O:
Terdapat luka psot operasi dileher yang tertutup
balutan, terpasang drain, terpasang infus
TTV : TD 120/80 mmHg, RR 22x/menit, Nadi
95x/menit
A:
Masalah belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi 2,3,4,5,
No.
Waktu Evaluasi Paraf
Dx
1 13-10-2017 S:
Klien mengatakan masih nyeri di luka post operasi
O:
Keadan klien baik, tampak lemah
Pengkajian nyeri didapatkan :
P : adanya Ca Tiroid
Q : tertusuk- tusuk
R : di bagian leher
S : skala nyeri 3
T : kadang-kadang
TTV : TD 130/80 mmHg, RR 22x/menit, Nadi
84x/menit
A:
Masalah belum teratasi

P:
Lanjutkan intervensi 1,2,3,4

2 S:
Klien mengatakan akan minum obat yg sudah
diberikan
O:
Klien berbicara secara perlahan
Obat sudah diberikan
TTV : TD 130/80 mmHg, RR 22x/menit, Nadi
84x/menit
A:
Masalah belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi 2,3,4,5,6

1 14-10-2017 S:
Klien mengatakan nyeri berkurang
O:
P : Nyeri luka operasi
Q: Seperti ditusuk-tusuk,
R : Leher bekas operasi
S : Skala 2,
T : Hilang timbul
TTV : TD 120/70 mmHg, RR 22x/menit, Nadi
80x/menit
A: Masalah teratasi
P : Pasien boleh pulang

2 S:
Klien mengatakan akan makan yang banyak dan
sesuai diet
O:
TTV : TD 120/70 mmHg, RR 22x/menit, Nadi
80x/menit

A:
Masalah teratasi sebagian

P:
Hentikan intervensi, Pasien BLPL
BAB IV
APLIKASI JURNAL EVIDENCE BASED NURSING RISET

A. Identitas pasien
Nama : Ny. T
Umur : 56 th
Pendidikan terakhir : SMP
Agama : Islam
Suku : Jawa
Status perkawinan : Kawin
Pekerjaan : IRT
Diagnosa medic : CA Tyroid
B. Data fokus pasien
Pengunkapan nyeri secara verbal
Tampak menghela nafas
Wajah kurang relax

C. Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan Evidence based


nursing riset
Nyeri akut berhubungan dengan proses efek pengobatan kanker tirod

D. Evidence based nursing practice yang diterapkan kepada pasien


Relaksasi genggam jari terhadap pennurunan kecemasan berpacu pada
jurnal PENGARUH TEKNIK RELAKSASI GENGGAM JARI
TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN
POST OPERASI LAPARATOMI (Jurnal terlampir).
E. Analisa sintesa justifikasi
Luka post operasi

Stimulus Nyeri

Keluarnya mediator nyeri yang akan mestimulasi transmisi impuls

Nyeri

Mengaplikasikan terapi genggam jari

Impuls

Stimulus korteks serebri dihambat

Nyeri berkurang/hilang

F. Landasan teori terkait penerapan Evidence based nursing practice


Relaksasi genggam jari adalah sebuah teknik relaksasi yang sangat
sederhana dan mudah dilakukan oleh siapapun yang berhubungan dengan jari
tangan serta aliran energi di dalam tubuh kita. Teknik genggam jari disebut juga
finger hold (Liana,2008).
Terapi genggam jari akan menghasilkan impuls yang dikirim
melalui serabut saraf aferen nonnosiseptor. Serabut saraf nonnosiseptor
mengakibatkan pintu gerbang tertutup sehingga stimulus nyeri
terhambat dan berkurang. Teori two gate control menyatakan bahwa
terdapat satu pintu gerbang lagi di thalamus yang mengatur impuls nyeri
dari nervus trigeminus. Dengan adanya relaksasi, maka impuls nyeri dari
nervus trigeminus akan dihambat dan mengakibatkan tertutupnya pintu
gerbang di thalamus. Tertutupnya pintu gerbang di thalamus
mengakibatkan stimulasi yang menuju korteks serebri terhambat sehingga
intensitas nyeri berkurang untuk kedua kalinya.
BAB V
PEMBAHASAN

A. Justifikasi Pemilihan Tindakan Berdasarkan Evidence Based Nursing


1. Pengertian
Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan
dalam hal keusakan sedemikian rupa.
2. Batasan Karakteristik
Perilaku Fisiologis
Perubahan selera makan Transduksi
Perubahan TD Transmisi
Perubahan frekuensi jantung Modulasi
Perubahan frekuensi pernafasan persepsi
Laporan isyarat Simpatik
Perilaku distraksi Pupil mata membesar
Mengekspresikan perilaku Ludah berkurang
Gangguan tidur Nafas cepat
Denyut jantung makin cepat
Stimulasi gula darah
Sekresi adrenalin
Pelambatan pencernaan
Relaksasi kandung kemih
Aktivitas genital terhambat
Parasimpatik
Pupil mata menyempit
Stimulasi kelenjar ludah
Nafas melambat
Nadi melambat
Denyut jantung melambat
Stimulasi kelenjar empedu
Stimulasi saluran pencernaan
Kontraksi kandung kemih
Stimulasi alat kelamin

Bila :
Skor O : tidak ada kecemasan
Skor 1-3 : Kecemasan ringan
Skor 4-7 : Kecemasan sedang
Skor 8-10 : Kecemasan berat
Penulis memilih tindakan relaksasi genggam jari sebagai intervensi
keperawatan dalam menurunkan nyeri. Pemilihan tindakan tersebut juga
berdasarkan riset yang teruji sebagaimana telaah artikel terkait dibawah ini :
1. Judul penelitian :
Pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhaddap penurunan intensitas
nyeri pada pasien post operasi
2. Peneliti :
Iin Pinandita, Ery Purwanti, Bambang Utoyo
3. Waktu penelitian :
Waktu penelitian yaitu pasien yang post operasi tahun 2011 di PKU
Muhammadiyah Gombong
4. Metode penelitian :
Karakteristik populasi yang menjadi sasaran penelitian adalah pasien post
operasi di RS PKU Gombong, sedangkan sampel yang diambil sebanyak
34 orang pasien yang terbagi menajadi dua kelompok, antara lain:
kelompok eksperimen 17 orang dan kelompok control 17 orang. Teknik
sampling dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling. Waktu
penelitian yaitu pasien yang post operasi pada bulan Januari-April 2012.
5. Hasil penelitian :
Hasil penelitian membuktikan ada perbedaan yang signifikan pada rata-
rata kecemasan pasien post-operasi antara pasien yang diberi terapi
genggam jari pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p <0,005),
artinya ada perbedaan yang signifikan rata-rata nyeri pasien post-operasi
antara pasien yang diberi relaksasi genggam jari dengan pasien yang tidak
diberi relaksasi genggam jari.

B. Mekanisme Penerapan Evidence Based Nursing Kasus


Penerapan evidence based dilakukan pada Tanggal 12-10-2017
kepada Ny. T sebagai pasien. Sebelum melakukan EBN penulis melakukan
observasi dan pemeriksaan pasien. Pemeriksaan tersebut meliputi :TTV dan
pengetahuan pasien tentang manajemen nyeri.
Selanjutnya, adalah penerapan EBN. Berikut merupakan prosedur
EBN yang penulis terapkan kepada Ny. T :
1. Genggam tiap jari mulai dari ibu jari selama 2-5 menit. Anda bisa
memulai dengan tangan yang manapun.
2. Tarik nafas dalam-dalam (ketika menarik nafas, hiruplah bersama rasa
harmonis, damai, nyaman, dan kesembuhan).
3. Hembuskan nafas secara perlahan dan lepaskan dengan teratur (ketika
menghembuskan nafas, hembuskanlah secara perlahan sambil melepaskan
semua perasaan-perasaan negatif dan masalah-masalah yang mengganggu
pikiran dan bayangkan emosi yang mengganggu tersebut keluar dari
pikiran kita).
4. Rasakan getaran atau rasa sakit keluar dari setiap ujung jari-jari tangan.
a. Sekarang pikirkan perasaan-perasaan yang nyaman dan damai,
sehingga anda hanya fokus pada perasaan yang nyaman dan damai
saja.
b. Lakukan cara diatas beberapa kali pada jari tangan yang lainnya

C. Hasil yang Dicapai


Hasil yang dicapai dari penerapan evidence based nursing practice
selama 2 hari kepadaNy. T dengan relaksasi genggam jari menunjukkan
penurunan intensitas nyeri yang ditandaidengan :
1. Ujung jari : hangat
2. RR : 22x/menit
3. Detak jantung : 84x/menit
4. Keringat : keringat tidak muncul
5. Intensitas nyeri : intensitas nyeri berkurang
6. Nafsu makan : bertambah.
D. Kelebihandan Kekurangan atau Hambatan yang Ditemui Saat
Penerapan EBNP
1. Kelebihan :
a. Merupakan metode yang sangat praktis
b. Tidak meggunakan alat bantu kesehatan
c. Prosedur tindakan mudah dipahami
2. kekurangan :
a. Jurnal belum mencantumkan cara melakukan terapi relaksasi
genggam jari sehingga penulis harus mencari sendiri cara melakukan
terapi dari jurnal yang lain
3. Hambatan :
Pada saat dilakukan aplikasi tidak ada hambatan, pasien maupun keluarga sangat
kooperatif
DAFTAR PUSTAKA

Brunner &suddart., 2001, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.

Brunicardi FC, et al. Thyroid. In: Schwartzs Principles of Surgery. 8 th Edition.


USA: McGraw-Hill Companies, 2007.

Liana, E. (2008). Teknik Relaksasi: Genggam Jari untuk Keseimbangan Emosi.


http://www.pembelajar.com/tek nik relaksasi-genggam-jari untuk
keseimbangan emosi. Diakses 11 Januari
2016http://repository.unand.ac.id/17 872/1/YUSRIZAL. pdf Diakses 11
Januari 2016

Suyatno, Pasaribu ET. Kanker kelenjar tiroid. In: Bedah Onkologi:


Diagnostik dan Terapi. Jakarta: CV Sagung Seto, 2010.p.1-34.

Smeltzer, Suzanna C dan Bare, Brenda G. 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah, Edisi 8, Vol.1, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Tjindarbumi D, Mangunkusumo R. Cancer in Indonesia, present and future. Jpn J


Clin Oncol.2002;33:17-21.

WHO, 2004