Anda di halaman 1dari 28

Makalah Pleno Blok 21

Neoplasma Kelenjar Parotis

Kelompok : E6

Nama Anggota:

Meilan Tahir Refra 102010026


Julian welly 102010031
Mellyana Fransiska Tamirin 102010079
Riana Angelina 102010177
Mikhael San 102010212
Fransiska Ayu Kristanty 102010313
Limanto Putranata 102010316
Tiara Sari Irianti 102011418

Fakultas Kedokteran

Universitas Kristen Krida Wacana

2012
Tinjauan Pustaka

Neoplasma Kelenjar Parotis

Kelompok E6

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara no. 6 Jakarta Barat 11470

No. Telp. 021-56942061. Email : Mikhael.san@hotmail.com

Pendahuluan

Neoplasia atau tumor adalah pembentukan jaringan baru yang abnormal dan tidak dapat
terkontrol oleh tubuh. Ada dua tipe neoplasia, yaitu neoplasia jinak (benign) dan neoplasia
ganas (malignant). Banyak faktor penyebab yang dapat meransang terjadinya tumor. Tumor
bisa mengenai seluruh organ tubuh termasuk pada tumor kelenjar saliva. Pada tumor kelenjar
saliva bisa bersifat tumor jinak dan tumor ganas. Sebagian besar tumor kelenjar saliva adalah
jinak. Adapun tumor jinak yang sering ditemukan antara lain adalah adenoma pleomorfik
yang merupakan tumor kelenjar liur yang paling sering terjadi. Selain itu, tumor jinak lain
yang mungkin terjadi adalah: kistadenoma papiler limfomatosa atau dikenal juga dengan
nama tumor Warthin yang sering terjadi pada orang tua. Sedangkan untuk karsinoma ganas
yang dapat timbul pada kelenjar liur mayor, pada kelenjar parotis yang paling umum adalah
karsinoma mukoepidermoid. Karsinoma lain yang dapat terdapat di kelenjar liur mayor adalah
karsinoma sel asinar, adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa dan tumor malignan
campuran, walalupun beberapa karsinoma dari jaringan lain dapat saja timbul di kelenjar liur
mayor.

Untuk itulah, makalah ini dibuat agar pembaca lebih memahami mengenai penyebab, gejala,
patosiologi, penatalaksanaan, komplikasi serta hal lainnya tentang penyakit kanker parotis.

1
I. Anamnesis

Presentasi yang paling umum adalah adanya massa di daerah pipi posterior tanparasa sakit dan tanpa gejala >
80% pasien. Sekitar 30% dari pasien mengeluhkan rasasakit yang terkait dengan massa, meskipun keganasan
kelenjar parotis sebagian besartidak sakit. Kemungkinan besar rasa sakit menunjukkan adanya invasi
perineural yang memungkinkan adanya keganasan pada pasien dengan massa parotis.Dari pasien dengan
tumor ganas parotis, 70-20% terdapat adanya kelemahan atau kelumpuhan saraf wajah, yang hampir tidak
pernah menyertai lesi jinak dan menunjukkan prognosis buruk. Sekitar 80% dari pasien dengan kelumpuhan
saraf wajahtelah terjadi metastasis nodul pada saat diagnosis. Pasien-pasien ini memiliki kelangsungan hidup
rata-rata 2,7 tahun dan selama 10 tahun sebesar 14-26%.Aspek penting yang lain dari anamnesis meliputi lama
waktu timbulnya massa,riwayat lesi kulit sebelumnya atau eksisi lesi parotis. Pertumbuhan massa yang
relatif lambat cenderung jinak. Riwayat adanya karsinoma sel skuamosa, melanoma ganas,atau
histiocytoma bersifat ganas menunjukkan metastasis intraglandular atau metastasis ke kelenjar getah bening
parotis. Kemungkinan besar tumor parotis yang kambuh menunjukkan reseksi awal yang tidak
memadai.Sebuah laporan adanya sakit pada telinga mungkin menunjukkan perluasan tumor ke dalam saluran
pendengaran. Adanya keluhan mati rasa sering menunjukkan invasi saraf pada cabang kedua atau ketiga dari
saraf trigeminal.1

Pada anamnesis perlu ditanyakan :

A. Identitas pasien.1-3
B. Keluhan utama : pada skenario, pasien 60 tahun terdapat benjolan dibawah telinga kanan
hingga telinga terangkat
C. Keluhan tambahan : pada skenario, pasien mengeluh mata kanannya juga tidak dapat
menutup sempurna dan terdapat pembesaran kelenjar getah bening dan supraclavicular.
D. Riwayat penyakit sekarang :
1. Waktu dan lamanya keluhan berlangsung.
2. Sifat dan beratnya serangan (masih dapat ditahan atau tidak).
3. Lokasi dan penyebarannya (dapat menyebutkan tempat sakit atau menyebar).
4. Hubungan dengan waktu (kapan saja terjadinya).
5. Hubungannya dengan aktivitas (keluhan dirasakan setelah melakukan aktivitas apa
saja). 1-3
6. Keluhan-keluhan yang menyertai serangan
7. Apakah keluhan baru pertama kali atau sudah berulang kali.

2
8. Faktor resiko dan pencetus serangan, termasuk faktor-faktor yang memperberat atau
meringankan serangan. 1
9. Paparan radiasi ionizing pada masa kanak-kanak berhubungan dengan meningkatnya
insiden penyakit tiroid termasuk kanker
10. Apakah ada saudara sedarah, atau teman dekat yang menderita keluhan yang sama.
11. Perkembangan penyakit, kemungkinan telah terjadi komplikasi atau gejala sisa
12. Upaya yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya, jenis-jenis obat yang telah
diminum oleh pasien; juga tindakan medik lain yang berhubungan dengan penyakit
yang saat ini diderita. 1
13. Untuk melengkapi anamnesis sesuai dengan keluhan muncul benjolan, perlu
ditanyakan letak benjolan, bagaimana benjolan mulai diperhatikan (timbul tiba-tiba,
nyeri, gatal, berdarah, perubahan pigmentasi, dan sebagainya), membesar atau tidak,
menimbulkan gejala local atau tidak, dan apakah ada gejala lain yang timbul
bersamaan dengan munculnya benjolan. Perlu ditanyakan juga apakah pasien memiliki
benjolan lain pada tubuhnya. 1-3
E. Riwayat penyakit dahulu : bertujuan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan
adanya hubungan antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakit sekarang.1
F. Riwayat kesehatan keluarga. 1
G. Riwayat penyakit menahun keluarga. 1

Hasil anamnesis yang didapat dari skenario 10 : laki-laki (60), terdapat benjolan di bawah
telinga kanan yang semakin membesar sejak enam bulan lalu hingga telinganya terangkat.
Mata kanan tidak bisa menutup sempurna sejak satu bulan lalu.

II. Pemeriksaan Fisik

Status general, pemeriksaan umum dari kepala sampai kaki, tentukan :

A. Penampilan (Karnofski / WHO)


B. Keadaan umum. Adakah anemia, kepala, toraks, abdomen, ekstremitas,vertebra, pelvis.
C. Apakah ada tanda dan gejala ke arah metastase jauh (paru, tulang tengkorak, dan lain-
lain).
D. Tanda-tanda vital

3
Pemeriksaan fisik pada kepala dan leher

A. Inspeksi:

Amati posisi kepala. Apakah kepala dapat ditegakkan apakah ada bagian muka yang simetris
atau besar kepala proporsional terhadap bagian tubuh lain. Pemeriksaan kulit kepala terhadap
adanya lesi, perabaan massa jika terdapat massa periksa ukuran, konsistensi, dan simetrinya.
Amati mata terhadap kemungkinan proptosis (menonjolnya bola mata). Proptosis dapat
disebabkan oleh fungsi tiroid atau oleh massa dalam orbita. Pada pemeriksaan leher terhadap
kemungkinan asimetri. Minta pasien menjulurkan leher. Cari adanya luka parut, asimetri, atau
massa. Tiroid normalnya hampir tidak tampak. Minta pasien untuk menelan sambil
mengamati gerak naik tiroid. Pembesaran tiroid secara difus seringkali menyebabkan
pembesaran leher secara merata. Lihat apakah ada benjolan pada leher, apakah ada
multinodular, apakah ada bendungan vena superfisial, bendungan vena di leher penting untuk
dinilai karena mungkin berhubungan dengan goiter

Pemeriksaan leher didasarkan pada susunan anatomi topografis dengan memperhatikan titik
orientasi tertentu, leher dibatasi di kranial oleh tepi rahang bawah, di kaudal oleh kedua tulang
selangka dan tepi kranial sternum, di lateral oleh pinggir depat otot trapezius kiri dan kanan.
Kedua otot sternocleidomastoideus selalu jelas terlihat, dan pada garis tengah dari kranial ke
kaudal terdapat tulang hioid, serta rawan tiroid, krikoid, dan trakea. Palpasi dapat dilakukan
pada penderita dalam sikap duduk atau berbaring.

1. Pada sikap duduk dapat dilakukan pemeriksaan dari belakang penderita maupun dari
depan.

2. Pemeriksaan kelenjar submandibular (termasuk kelenjar liur), tangan di atas kepala


mempertahankan fleksi ringan

3. Kelenjar supraklavikular

4. Kelenjar jugular dalam atas dan submandibular

5. Kelenjar jugular dalam dari atas ke bawah

4
Umumnya regangan otot pita leher (otot sternohioideus dan otot sternotiroideus) mengganggu
palpasi sehingga pemeriksaan leher harus dilakukan dengan kepala dalam sikap fleksi ringan.
Pada sikap berbaring sebaiknya digunakan bantal tipis dibawah kepala. Segitiga yang dibatasi
oleh tulang hioid dan batas bawah rahang mengandung kelenjar limf dan kelenjar liur
submandibular. Di dalam simpai kelenjar submandibular, terdapat beberapa kelenjar limf.
Oleh karena itu pembesaran kelenjar limf akibat radang atau tumor sukar dibedakan dengan
pembesaran kelenjar liur sendiri.

B. Palpasi:

1. Nodus Limfatikus

Palpasi nodus limfatikus. Pemeriksa menggunakan permukaan ventral jari telunjuk dan jari
tengah untuk selanjutnya menggerakkan kulit di atas jaringan yang ada dibawahnya pada
setiap daerah. Pasien harus berada dalam keadaan rileks dengan leher sedikit difleksikan
kearah depan dan jika diperlukan, agak difleksikan ke arah sisi yang hendak diperiksa.
Biasanya anda dapat memeriksa kedua sisi leher dalam satu pemeriksaan. Namun, untuk
memeriksa nodus limfatikus submental, pemeriksa perlu menggunakan kedua tangannya
karena satu tangan akan melakukan tindakan palpasi sementara tangan lainnya akan menahan
puncak kepala pasien, untuk membantu pemeriksaan ini.

Nodus limfatikus diraba secara berurutan dimulai dari preaurikular yang berada di depan
telinga, aurikular posterior yang berada di superfisial prosesus mastoideus, oksipital yang
berada pada basis kranii di posterior, tonsilar pada angulus mandibula, submandibular pada
titik tengah haris yang menghubungkan angulus mandibula dengan ujung mandibula,
submental pada garis tengah beberapa sentimeter di belakang ujung mandibula, servikal
superfisal di superfisial muskulus sternomastoideus, servikal posterior di sepanjang tepi
anterior muskulus trapezius, rangkaian servikal profunda yang terletak dalam pada daerah
sternomastoideus, dan yang terakhir adalah supraklavikular yang terletak dalam pada sudut
yang dibentuk oleh tulang klavikula dan muskulus sternomastoideus.

Nodus limfatikus submandibular biasanya berukuran lebih kecil dan lebih licin dibandingkan
dengan kelenjar ludah submandibular yang berbenjol-benjol. Nodus limfatikus rangkaian
servikal profunda sering kali tidak teraba saat pemeriksaan. Pembesaran nodus

5
supraklavikular, terutama pada sisi kiri mengesankan kemungkinan metastasis dari toraks atau
keganasan abdomen.

Yang perlu diperhatikan adalah ukuran nodus limfatikus, bentuk, batas (diskrit atau menyatu),
mobilitas, konsistensi, dan setiap nyeri tekan yang ditemukan. Limfonodi yang nyeri memberi
kesan adanya peradangan, limfonodi yang teraba keras atau terfiksir memberi kesan adanya
keganasan. Limfadenopati difus meningkatkan kecurigaan adanya infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV) atau Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).

Nodus limfatikus yang membesar atau terasa nyeri ketika disentuh , jika tidak dapat diketahui
penyebabnya, memerlukan pemeriksaan ulang daerah yang menjadi asal cairan limfe ke
dalam kelenjar tersebut dan pemeriksaan yang seksama terhadap nodus limfatikus di bagian
tubuh yang lain untuk dapat membedakan antara limfadenopati regional dan generalisata.

2. Kelenjar Tiroid

Terdapat dua cara palpasi kelenjar tiroid. Cara anterior yang dilakukan dengan pasien dan
pemeriksa duduk berhadapan. Dengan memfleksi leher pasien atau memutar dagu sedikit ke
kanan, pemeriksa dapat merelaksasi muskulus sternokleidomastoideus pada sisi itu, sehingga
memudahkan pemeriksaan. Tangan kanan pemeriksa menggeser laring ke kanan dan selama
menelan lobus tiroid kanan yang tergeser dipalpasi dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri.
Setelah memeriksa lobus kanan, laring digeser ke kiri dan lobus kiri dievaluasi melalui cara
serupa dengan tangan sebelah. Kemudian pemeriksa harus berdiri di belakang pasien untuk
meraba tiroid melalui cara posterior. Pada cara posterior ini, pemeriksa meletakkan kedua
tangannya pada leher pasien, yang posisi lehernya sedikit ekstensi.

Pemeriksa memakai tangan kirinya mendorong trakea ke kanan. Pasien diminta menelan
sementara tangan kanan pemeriksa meraba tulang rawan tiroid. Saat pasien menelan, tangan
kanan pemeriksa meraba kelenjar tiroid berlatar belakang muskulus sternokleidomastoideus.
Pasien diminta sekali lagi untuk menelan saat trakea terdorong ke kiri, dan pemeriksa meraba
kelenjar tiroid berlatar belakang muskulus sternokleidomastoideus kiri dengan tangan kiri.
Konsistensi harus dinilai. Kelenjar tiroid normal mempunyai konsistensi mirip jaringan otot.
Keadaan padat keras terdapat pada kanker atau luka parut. Lunak atau mirip spons, sering
dijumpai pada goiter toksika. Nyeri tekan pada kelenjar tiroid terdapat pada infeksi akut atau

6
perdarahan ke dalam kelenjar. Jika terjadi pembesara, harus dilakukan auskultasi. Bagian
corong stetoskop diletakkan dia tas lobus tiroid untuk mendengar adanya bruit.

Hasil pemeriksaan fisik yang didapat dari skenario 10:

1. Teraba benjolan berdiameter kurang lebih 10 cm

2. Nyeri tekan (+), konsistensi keras, melekat pada jaringan sekitar.

3. Pada palpasi daerah leher dan supraclavicular teraba adanya pembesaran kelenjar
getah bening.

III. Pemeriksaan Penunjang

A. Pemeriksaan Radiologis (Atas Indikasi)


1. X foto polos
a. X foto madibula AP/Eisler, dikerjakan bila tumor melekat tulang
b. Sialografi. Tekhnik ini memerlukan suntikan bahan kontras yang larut dalam air atauminyak
langsung keduktus submandibula atau parotis. Setelah pemakaian anastesitopical pada daerah
duktus, tekanan yang lembut dilakukan pada kelenjar, dan muaraduktus yang kecil diidentifikasi
oleh adanya aliran air liur. Muara duktus dilebarkandengan menggunakan sonde lakrimal.
Kateter ukuran 18, mirip dengan jenis yangdigunakan untuk pemberian cairan intravena, atau
pipa polietilen secara lembutdimasukkan sekitar 2 cm kedalam duktus.. Kateter dipastikan pada
sudut mulut. Tekhnik ini sama untuk kelenjar parotis dan submandibula. Bagaimanapun
kanulasi duktuskelenjar submandibula, memebutuhkan kesabaran dari pada pelebaran duktus
parotis.Film biasa sinar X diperoleh untuk meyakinkan bahwa tidak terdapat substansiradioopak,
seperti batu dalam kelenjar. Antara 1,5 dan 2 ml media kontras disuntikansecara lembut melalui
kateter kedalam kelenjar sampai penderita merasakan adanyatekanan tetapi tidak melewati tititk
ketika penderita mengeluh nyeri. Dilakukan fotolateral, lateral oblik, oblik, dan anteriposterior.
Ketika kateter diangkat penderita dapatdiberikan sedikit sari buah lemon. Dalam 5 sampai 10
menit pengambilan foto ulang.Normal jika seluruh media kontras dikeluarkan dalam waktu itu.
Persistensi mediakontras dalam kelenjar 24 jam setelah test ini pasti abnormalTerdapat
keuntungan dan kerugian dari bahan kontras yang dapat larutdalam air dan lemak. Sekarang ini
Pantopaque dan Lipidol merupakan bahan kontrasyang paling popular.Sialografi lebih berguna

7
pada gangguan gangguan kronis kelenjarparotis seperti sialadenitis rekuren, sindrom sjorgen,
atau obstruksi duktus sepertistriktur. sialografi tidak berguna untuk membedakan massa jinak
dari massa keganasan.Sialografi merupakan kontra indikasi terdapatnya peradangan akut
kelenjar yang baru terjadi.
c. X foto toraks, untuk mencari metastase jauh
2. Imaging
a. CT scan/ MRI, pada tumor yang mobilitas terbatas, untuk mengetahui luas ekstensi
tumor lokoregional. CT scan perlu dibuat pada tumor parotis lobus profundus
untuk mengetahui perluasan ke orofaring.5
b. Sidikan Tc seluruh tubuh, pada tumor ganas untuk deteksi metastase jauh.
B. Pemeriksaan Laboratorium. Pemeriksaan laboratorium rutin, seperti: darah, urine,
SGOT/SPT, alkali fosfatase, BUN/kreatinin, globulin, albumin, serum elektrolit, faal
hemostasis, untuk menilai keadaan umum dan persiapan operasi.
C. Pemeriksaan Patologi

FNA. Belum merupakan pemeriksaan baku. Pemeriksaan ini harus ditunjang oleh ahli
sitopatologi handal yang khusus menekuni pemeriksaan kelenjar liur.

Pemeriksaan histopatologis: merupakan salah satu cara pemeriksaan patologi anatomi yang
dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis pasti suatu lesi, khususnya yang dicurigai
sebagai suatu keganasan. Pemeriksaan patologi ini juga bermanfaat tidak hanya untuk
menegakkan diagnosis dan rencana perawatan, tetapi juga untuk menentukan prognosis.5,6

Cara pengambilan bahan klinis didapat lewat jaringan biopsi. Biopsi dilakukan dengan
mengambil sebagian atau seluruh jaringan lesi untuk dilakukan pemeriksaan secara
mikroskopis dengan mengamati perubahan yang terjadi pada sel. Biopsi harus representatif,
baik secara klinis maupun mikroskopis, misalnya memilih daerah tumor yang tidak ada
nekrosis dan tidak ada infeksi sekunder.4

Biopsi eksisional,

1. Pada tumor parotis yang operabel dilakukan parotidektomi superfisial.

2. Pada tumor submandibula yang operabel dilakukan eksisi submandibula.

8
3. Pada tumor sublingual dan kelenjar liur minor yang operabel dilakukan eksisi luas (
minimal 1 cm dari batas tumor)

Cara potong beku, banyak digunakan untuk tindakan operasi cepat. Jaringan segar atau yang
telah difiksasi setelah dibekukan dengan CO2, dipotong dengan mikrotom atau kriostat.
Selanjutnya sediaan dapat diperiksa dalam waktu beberapa menit. Ketepatan diagnosis
berkisar 50-95%. Kekurangan cara ini adalah tidak dapat memberikan gambaran hal yang
kecil seperti pada sediaan parafin. Namun manfaat cara ini adalah dapat menentukan
keganasan dengan cepat dan dapat menentukan batas sayatan apakah sudah bebas dari tumor.4

IV. Diagnosis

Neoplasma kelenjar Parotis

Kelenjar Saliva

Pada manusia terdapat 4 kelenjar saliva, yang berguna untuk membantu pencernaan makanan
di rongga mulut. Tiga kelenjar mayor dan kelenjar minor.

A. Kelenjar parotis. Kelenjar ini berbentuk seperti piramida dan terletak di fossa
retromandibulare (antara os. Mandibular dengan m. sternocledoimastoideus). Berbatasan
dengan arcus zygomaticus dan meatus acusticus eksternus di bagian atas. Dibagian bawah
berbatasan dengan angulus mandibula dan m. digastricus. Bagian depan berbatasan
dengan m. pterygoideus dan ramus mandibula. Meatus akustikus eksternus, processus
mastoideus, dan m. sternocledoimastoideus menjadi batas belakang dari kelenjar
parotis.ke arah medial, kelenjar ini akan berbatasan dengan m. styloideus dan m.
styloglosus. Di bagian dalam dari kelenjar ini terdapat n. Facialis (N VII), v. Facialis
posterior, dan a. carotis externa. Saluran keluarnya merupaka duktus parotideus (stenoni)
yang sejajar dengan arcus zygomaticus yang kemudian akan menuju ke m. buccinator dan
keluar di vestibulum oris setinggi gigi molar ke-2 atas. Kelenjar ini diliputi oleh fascies
yang tebal.
B. Kelenjar submandibularis. Kelenjar ini dibedakan menjadi bagian yang dangkal dan
dalam. Untuk bagian dangkal terletak di m. mylohyoideus. Sedangkan bagian dalamnya
terletak diantara mandibula bagian lateral dan m. hyoglosus. Saluran keluarnya disebut

9
duktus submandibularis Whartoni yang berada di belakang gigi seri rahang bawah
bersama dengan muara kelenjar saliva lain.
C. Kelenjar sublingualis. Kelenjar ini berbentuk memanjang dan terketaj di dasar rongga
mulut dekat dengan frenulum linguae. Saluran keluarnya bermacam-macam, ada yang
menuju ke duktus submandibularis, ada juga yang bermuara di plica sublingualis.
D. Kelenjar bukal. Kelenjar ini merupakan kelenjar saliva minor yang berada di lapisan
mukosa pipi.6-10

Saliva sendiri dihasilkan untuk

1. Memulai pencernaan karbohidrat dengan enzim amilase


2. Membasahi makanan agar mudah ditelan
3. Memiliki efek antimikroba
4. Mengandung molokul pelarut untuk memudahkan papil pengecap mendeteksi rasa
5. Membantu dalam proses berbicara dengan mempermudah gerakan bibir dan lidah
6. Menjaga higientias mulut
7. Menetralkan asam dari makanan yang masuk ke mulut dengan bikarbonat.11,12

Tumor jinak yang sering ditemukan adalah tumor campur (plemorphic adenoma /mixed
tumor). Sifat-sifat tumor antara lain benjolan di sekitar liang telinga tanpa rasa sakit. Benjolan
tumbuh lambat. Bila cukup besar, daun telinga terlihat terangkat bila dibandingkan dengan
daun telinga normal di kontralateral. Benjolan konsistensi padat, berbatas tegas, gangguan
saraf fasialis tidak ditemukan. Secara gross anatomi : tumor berkapsul, berwarna putih dan
padat. Secara patologi : tumor tidak berkapsul asli, mengesankan berasal dari campuran
adenoma dan jaringan miksomatosa. Dan gambaran ini diberikan nama pleomorphic adenoma
(tumor campur). Tumor campur mudah residif bila pengangkatan inadekuat.

Tumor ganas parotis atau kelenjar ludah lainnya pada tingkat permulaan tidak mudah
dibedakan dari benjolan yang bersifat benigna. Kadang-kadang hasil keganasan ini hanya
dapat diketahui pada saat pemeriksaan potong beku atau pemeriksaan paraffin. Beberapa
tanda-tanda yang mencurigakan akan keganasan parotis antara lain tumor keras dan berbatas
tidak tegas, parase/ paralise nervus fasialis, tumor yang ulseratif, tumor yang tumbuh cepat,
tumor dengan pembesaran kelenjar getah bening regional, dan tumor parotis dengan
gambaran metastase di paru-paru

10
A. Epidemiologi

Neoplasma pada kelenjar saliva memiliki jumlah kejadian yang cukup sering pada kasus
kanker mulut. Neoplasma kelenjar saliva memiliki angka kejadian tersering setelah squamous
cell carcinoma. Kelenjar saliva minor lebih jarang menjadi tumor dibanding kelenjar parotis.
Di Eropa kanker kelenjar saliva memiliki angka kejadian 1,2 dari 100.000 orang. Di Inggris
setiap tahunnya terdapat 600 kasus.

Kelenjar liur major yang paling sering terkena ialah glandula parotis yaitu 70-80% dan 80%
dari tumor ini adalah adenoma pleomorphic jinak (benign pleomorphic adenomas).

Sedangkan kelenjar liur minor yang paling sering terkena terletak pada palatum. Kurang lebih
20-25% dari tumor parotis, 35-40% dari tumor submandibula, 50% pari tumor palatum, dan
95-100% dari tumor glandula sublingual adalah ganas. Insiden tumor kelenjar liur meningkat
sesuai dengan umur, kurang dari 2% mengenai penderita usia < 16 tahun.

Pleomorphic adenoma lebih sering diderita pasien usia rata rata 40 tahun, perempuan lebih
banak daripada laki-laki. Warthin tumor lebih sering diderita oleh laki-laki, 10% terjadi
bilateral, sering pada kutub bawah parotis.6,9,10,13-15

B. Etiologi

Penyebab pasti tumor kelenjar liur belum diketahui secara pasti, namun dicurigai adanya
keterlibatan faktor genetic, bahan-bahan kimia, factor imunologis, dan efek radiasi.

1. Idiopatik. Idiopatik adalah jenis yang paling sering dijumpai. Siklus ulserasi yang
sangat nyeri dan penyembuhan spontan dapat terjadi beberapa kali dalam setahun.
Infeksi virus, defisiensi nutrisi, dan stress emosional adalah factor etiologik yang
umum.
2. Genetik. Resiko kanker / tumor yang paling besar diketahui ketika ada kerabat utama
dari pasien dengan kanker / tumor diturunkan dominan autososom. Onkogen
merupakan segmen DNA yang menyebabkan sel meningkatkan atau menurunkan
produk-produk penting yang berkaitan dengan pertumbuhan dan diferensiasi sel,
akibatnya sel memperlihatkan pertumbuhan dan penyebaran yang tidak terkendali
semua sifat-sifat kanker. Fragmen fragmen genetic ini dapat merupakan bagian dari

11
virus virus tumor. Kelainan genetic monosomi dan polisomi sedang diteliti sebagai
faktor timbulnya tumor kelenjar liur.
3. Bahan-bahan kimia. Obat-obatan hormonal. Kaitan hormon hormon dengan
perkembangan kanker tertentu telah terbukti. Hormon bukanlah karsinogen, tetapi
dapat mempengaruhi karsigogesis Hormon dapat mengendalikan atau menambah
pertumbuhan tumor.
4. Faktor imunologis. Kegagalan mekanisme imun dapat mampredisposisikan seseorang
untuk mendapatkan kanker tertentu.Sel sel yang mempengaruhi perubahan (bermutasi)
berbeda secara antigenis dari sel sel yang normal dan harus dikenal oleh system imun
tubuh yang kemudian memusnahannya.Dua puncak insiden yang tinggi untuk tumbuh
nya tumor pada masa kanak kanak dan lanjut usia, yaitu dua periode ketika system
imun sedang lemah.
5. Radiasi. Penyinaran (iradiasi) pada bagian kepala, terapi penyinaran untuk tiroid,
melakukan tindakan radiologi berulang-ulang untuk menegakan diagnosis masalah
mulut dan gigi, serta paparan dari radioaktif seperti akibat bom atom, ledakan reaktor
nuklir, dll bisa menjadi penyebab munculnya neoplasma pada kelenjar saliva. 6,9,10,13-15
C. Patofisiologi

1. Teori multiseluler: teori ini menyatakan bahwa tumor kelenjar liur berasal dari
diferensiasi sel-sel matur dari unit-unit kelenjar liur. Seperti tumor asinus berasal dari
sel-sel asinar, onkotik tumor berasal dari sel-sel duktus striated, mixed tumor berasal
darisel-sel duktus interkalated dan mioepitelial, squamous dan mukoepidermoid
karsinoma berasal dari sel-sel duktus ekskretori.

2. Teori biseluler: teori ini menerangkan bahwa sel basal dari glandula ekskretorius dan
duktus interkalated bertindak sebagai stem sel. Stem sel dari duktus interkalated dapat
menimbulkan terjadinya karsinoma acinous, karsinoma adenoid kistik, mixed tumor,
onkotik tumor dan Warthin's tumor. sedangkan stem sel dari duktus ekskretorius
menimbulkan terbentuknya skuamous dan mukoepidermoid karsinoma.

Kelenjar ludah yang matur mempunyai beberapa komponen yaitu daerah asinus, duktus
interkalated, duktus striated dan duktus ekskretori. Struktur asinus dilapisi oleh duktus
interkalated yang mengeluarkan saliva ke duktus striated dan akhirnya disekresikan oleh
duktus ekskretori. Beberapa peneliti berpendapat bahwa tumor kelenjar ludah berasal dari sel
pada saluran kelenjar ludah, sedangkan yang lain berpendapat bahwa sel interkalated dan sel
12
asinar memiliki kemampuan untuk terjadinya suatu tumor. Adanya sel myoepitel dalam
komposisi dan pertumbuhan sejumlah epitel pada tumor kelenjar ludah lebih meyakinkan
pendapat ini. Walaupun sel-sel ini bukan merupakan pertimbangan sebagai sel utama bagi
asal-usul suatu tumor kelenjar ludah, kecuali pada myoepitelioma yang berperan terjadinya
tumor pada pleomorfik adenoma, adenokistik karsinoma dll berasal dari duktus interkalated.

Sel cadangan (reserve cell) duktus interkalated merupakan sumber regenerasi dari jaringan
asiner dan bagian paling ujung dari sistem duktus diperkirakan menjadi progenitor setiap
tumor kelenjar ludah. Telah disepakati bahwa sel luminal dan basal pada setiap tingkatan dari
sistem duktus, dan juga sel asiner mampu membentuk DNA dan mitosis, sehingga berpotensi
untuk terjadinya suatu tumor kelenjar ludah.

D. Klasifikasi tumor kelenjar saliva berdasarkan pada WHO tahun 2005,


1. Epitelial tumor
a. Tumor epitel malignan
1) Acinic cel carsinoma. Jarang muncul tetapi sifatnya sulit diprediksikan. Secara
histologi hanya tampak pola tunggal dengan sel yang mirip sel serosa, dengan
granul basofilik pada sitoplasmanya, dan sering dalam pengaturan asinar. Sering
ada bentuk seperti lubang-lubang yang tercecer akbat sekresi yang terperangkap,
kadang bisa memiliki bentuk seperti renda. Tumor ini bisa infasif dan metastasis.
Pada malignan akan terlihat nukleus pleomorphic dan hiperkromatisme.
2) Mucoepidermoid casinoma. Secara histologi, keganasan ini terdiri dari 2 sel, sel
pengsekresi mukus yang tampak besar dan pucat yang dikelilingi oleh sel
epidermoid (squamous). Bila sel mukoid ini lebih dominan maka bentuk tumor
akan menjadi kista, sedangkan bila epidermoid yang lebih dominan, sel akan
berbentuk solid dan lebih agresif. Tidak memiliki bentukan kapsul yang
sempurna dan pertumbuhannya lambat. Tumor ini bisa infasif dan kadang
metastasis. Jarang terlihat malignan secara mikroskopik tetapi akan terlihat
malignan pada metastasis.
3) Adenoid cystic carsinoma. Memiliki pola grup-grup bulat yang terdiri dari sel-sel
berbercak gelap dengan satu ukuran yang mengelilingi ruang kecil kosong yang
multiple. Pertumbuhannya lambat tapi cenderung berbentuk infiltrat di sepanjang
selubung saraf. Jika mencapai kanal pada tulang, gambaran radiologi akan

13
terlihat jelas. Metastasis umumnya muncul belakangan. Prognosis kurang baik
bila tidak ditangani segera.
4) Polymorphous low-grade adenocarsinoma. Muncul di kelenjar saliva minor di
palatum. Memiliki ciri sel seperti tumor jinak (sel dengan bercakan pucat) di
lobular, papilar, dan kista papilaris, dapat membentuk konfigurasi cribiform atau
trabecular. Bersifat infasif, menyebar di sepanjang pembungkus saraf, serta
jarang metastasis.
5) Epithelial myopepithelial carsinoma. Tumor pada kelenjar saliva mayor. Terdiri
dari duktus atau trabekula dari lesi yang terlihat jinak (sel dengan bercakan
gelap) dengan lapisan luar adalah clear cell.
6) Clear cell carsinoma NOS. Terdiri dari clear cell dan tidak ada tumor lain, berada
di kelenjar intraoral minor terutama di palatum, keganasan tingkat rendah dan
prognosisnya baik.
7) Basal cell adenocarsinoma. Berbentuk seperti basal cell adenoma tetapi dalam
bentuk infiltrat, bisa rekuren lokal tetapi jarang metastase ke jaringan lain.
8) Sebaceous carsinoma. Sangat jarang muncul, biasanya terjadi di kelenjar patotis
pada orang tua, dan bersifat high grade.
9) Sebaceous lymphadenocarsinoma. Angka kejadiannya sangat-sangat jarang dan
merupakan keganasan tingkat rendah.
10) Cystadenocarsinoma. Keganasan tingkat rendah pada kelenjar parotis dan
kelenjar saliva minor, bisa mengalami rekurensi lokal dan bisa metastasis.
11) Low-grade cribriform cystadenocarsinoma. Sangat jarang terjadi dan menyerupai
kegenasan pada duktus payudara, biasanya terjadi di kelenjar parotis dan pada
orang tua.
12) Mucinous adenocarcinoma. Sangat jarang, high grade malignancy pada orang
tua, biasa terjadi di palatum dan sublingual.
13) Oncocytic carsinoma. high grade carsinoma, biasanya di parotis dan sedikit di
submandibular.
14) Salivary duct carcinoma. Mirip dengan karsinoma pada mamae, metastasis
dengan cepat, prognosisnya buruk, sering mengenai parotis tapi bisa juga
menganai kelenjar lain.
15) Adenocarcinoma NOS. Memiliki penampakan yang bervariasi. Terkadang
berbentuk seperti duktus yang tipikal, atau berbentuk kista papilar. Kadang

14
berdeferensiasi dengan buruk, sehingga tumor-tumor kelenjar saliva yang tidak
teridentifikasi biasanya dimasukan ke kategori ini.
16) Myoepithelial carcinoma. Variasi dari myoepithelioma, merupakan bentuk high
grade dengan rekurensi dan sering metastasis, bisa terjadi di semua kelenjar
saliva tetapi paling sering di parotis.
17) Carcinoma ex pleomorphic adenoma. Merupakan tumor jinak yang berubah
menjadi ganas. Dimana terjadi pertumbuhan cepat yang tiba-tiba dengan rasa
nyeri dan kelumpuhan daerah wajah. Secara histologi akan terlihat pleomorphic
adenoma yang memiliki perangkat carcinoma. Biasanya muncul setelah kanker
jinak bertahun-tahun atau akibat eksisi yang kurang adekuat.
18) Carcinosarcoma. Noplasma yang sangat malignan, yang terdiri dari semua pola
malignan dan sarcoma biasanya chondrosarcoma atau osteosarcoma. Angka
keselamatannya sangat rendah.
19) Metastasising pleomorphic carcinoma. Sangat jarang, merupakan pleomorphic
adenoma yang metastase ke tulang, paru, dan nodul limfatikus. Muncul di
parotis, submandibula, dan kelenjar di palatum.
20) Squamous cell carcinoma. Jarang terjadi dan menyerupai karsinoma squamous
pada mukosa. Metastasis ke parotis sering salah diagnosis dengan tumor primer
pada kelenjar saliva, sering terjadi pada parotis dan submandibula dengan rentang
usia yang lebar.
21) Small cell carcinoma-large cell carcinoma. Neuroendokrin karsinoma yang
sangat jarang, metastasis ke parotis sering salah diagnosis dengan tumor primer
kelenjar saliva.
22) Lymphoepithelial carcinoma. Umum terjdi di Jepang, China, dan Ras Inuit.
Berhubungan dengan infeksi Epstein barr virus, sering mengenai parotis atau
submandibular dengan rentang usia yang lebar dan respon baik dengan
radioterapi.
23) Sialoblastoma. Lesi kelas tinggi sangat jarang terjadi, sering muncul pada usia 2
tahun karena bersifat kongenital, high grade tapi memiliki respon baik dengan
tindakan eksisi.
b. Tumor epitel benign (jinak-adenoma)
1) Pleomorphic adenoma (mixed tomours). Sering mengenai kelenjar parotis
(75%), dan jarang mengenai kelenjar saliva minor intraoral. Tumor ini biasanya

15
muncul dari duktus epitelium atau sel mioepitel. Tumor ini memiliki struktur
kapsul yang tidak komplit, memiliki duktus-duktus, ada helai-helai sek epitel
dengan bercak-bercak gelap, ada metaplasia squamous dan fokus keratin, ada
jaringan fibrous dan elastin, jaringan myxoid, bisa muncul kalsifikasi dari
kartilago dan pembentukan tulang sejati (jarang). Tumor ini yang memiliki
dominansi jaringan myxoid dapat meledak saat operasi dan bila tidak ditangani
dengan halus bisa terjadi rekurensi. Sel myoepitel sendiri tidak bisa
diidentifikasi dengan mikrokop cahaya dan dapat terlihat gelap dan bersudut,
berbentuk spindle, atau menyerupai sel plasma. Tetapi berdasarkan
imunohistokimia sel-sel myoepitel ini memiliki bercak ganda dengan epitelial
marker (cytokeratin) dan mesenkimal marker khususnya protein S-100,
vimentin, dan actin. Pertumbuhan dari pleomorphic adenoma cukup lambat dan
membutuhkan beberapa tahun untuk mencapai diameter 2,5 cm. Bentuknya
elastis, dan sering berbentuk pembengkakan-pembengkakan yang berlobus. Bila
tumor berada di bawah mukosa akan tampak kebiru-biruan. Pembengkakan
biasanya terfikasi bila di bawah mukosa, tetapi dapat bergerak bila di jaringan
yang lebih dalam. Bila dibiarkan tumor ini bisa menjadi besar dan bisa menuju
ke keganasan (2-10%).
2) Myoepithelioma. Mirip dengan pleomorphic adenoma tetapi tidak memiliki
variasi penampakan histologikal, terbentuk dari lembar epitel cel dari berbagai
bentuk.
3) Basal cell adenoma. Lesi-lesi jarang di kelenjar parotis yang terdiri dari
lembar-lembar sel-sel gelap, beberapa tipe memiliki lesi-lesi multiple di
kelenjar yang sama atau lebih dari satu kelenjar.
4) Warthins tumour (Adenolymphoma). Warthins tumor sering muncul di
kelenjar parotis. 9% dari tumor di kelenjar parotis adalah tumor ini. Tumor ini
sering mengenai laki-laki. Ciri-ciri selnya adalah sel eusinofilik berbentuk
kolom, tinggi, yang menghasilkan bentuk lipatan-lipatan padat yang menutupi
jaringan limfoid, dan memiliki banyak center germinal. Strukur ini membentuk
ruang kista. Tumor ini bersifat jinak, dan berespon baik dengan enakulasi, tetapi
terkadang bisa juga bersifat multiple.
5) Oncocytoma. Merupakan tumor jinak yang jarang terjadi, hanya mengenai
kelenjar parotis dan pada usia tua. Terdiri dari sel eusinofilik besar yang

16
memiliki nukelus kecil yang padat (oncocytes) yang secara khas tersusun di
kabel padat. Oncocytosis merupakan suatu istilah untuk penggantian atau
perubahan sel asinar pada parotis oleh sel yang mirip tetapi tidak mengalami
kehilangan arsitektur lobuler normal. Hal ini sangat berhubungan dengan usia
dan menimbulkan pembengkakan lunak pada kelenjar.
6) Canalicular adenoma. Mirip dengan basal cell adenoma tetapi dengan
karateristik histologikal, biasanya pada bibir atas dan kelenjar bukal dari orang
tua.
7) Sebaceous adenoma. Lesi sangat jarang, dengan rentang usia lebar, lembar-
lembar squamous epithelium dengan deferensiasi sebasius.
8) Lymphadenoma (sebaceous dan non-sebaceous). Lesi-lesi sangat jarang di
parotis dan orang tua.
9) Ductal papillomas, inverted, intraductal, and sialadenoma papilliferum.
Terbentuk di muara dari duktus kelenjar saliva minor dengan rentang usia lebar.
10) Cystadenoma. Lesi jarang di beberapa duktus yang seperti kista, muncul di
semua kelenjar saliva pada usia pertengahan dan orang tua.
2. Tumor jaringan lunak

Haemangioma. Muncul sejak lahir dan terlihat pada usia 1 tahun. Dimana kelenjar saliva
akan tergantikan dengan jaringan angioma. Akan tampak pembengkakan dan kebiru-biruan.

3. Lymphoma
1) Hodgkin lymphoma
2) Diffuse large B-cell lymphoma
3) Extraodal marginal B-cell lymphoma
4. Tumor sekunder. 6,9,10,13-15
E. Klasifikasi Derajat Tumor Ganas Kelenjar Saliva
1. Derajat Rendah. Karsinoma epidermoid derajat rendah,Adenokarsinoma derajat
rendah,Karsinoma sel skuamosa derajat rendah,Karsinoma sel asinus,Adenokarsinoma polimorf
derajat rendah,Karsinoma sel basal
2. Derajat Sedang. Karsinoma epidermoid derajat sedang,Adenokarsinoma derajat
sedang,Karsinoma sel skuamosa derajat sedang,Karsinoma kista adenoid,Karsinoma epitel-
mioepitel,Karsinoma onkokistik, Karsinoma mioepitel,Karsinoma pada adenoma
pleomorfik,Karsinoma kelenjar duktus

17
3. Derajat tinggi. Karsinoma epidermoid derajat tinggi,Adenokarsinoma derajat tinggi,Karsinoma
sel skuamosa derajat tinggi,Karsinosarkoma,Karsinoma tidak berdifferensiasi.
F. Manifestasi Klinis

Faktor predominan dari tumor pada kelenjar saliva adalah usia dewasa. Bisa memunculkan
gejala di palatum, pipi, dan bibir. Pada stadium awal gejala dari tumor jinak dan ganas sulit
dibedakan. Tetapi pada stadium selanjutnya terdapat berbagai perbedaan,

Tabel 1 Perbedaan Gejala Klinis Tumor Jinak dan Ganas (Parotis).

Benign Malignant

Tumbuhnya lambat Terkadang tumbuh cepat dan menimbulkan rasa sakit

Konsistensi lunak, Terkadang memiliki konsistensi yang keras dan berbatas tidak tegas
kenyal, padat, dan
berbatas tegas

85% terjadi di kelenjar 45% terjadi di kelenjar saliva minor


parotis

Tidak menimbulkan Ulserasi dan bisa menyerbu tulang


ulcerasi

Tidak memunculkan Dapat menimbulkan kelumpuhan saraf kranial (malignant pada


tanda-tanda neurologis kelenjar tumor dapat menimbulkan kelumpuhan wajah, pada
adenoid cystic carcinoma dapat menimbulkan berbagai lesi di saraf
cranial terutama lingual, facial, dan hypoglossal)

Tidak ada pembesaran Ada pembesaran kelenjar getah bening


kelenjar getah bening

Tidak ada gambaran Bisa muncul gambaran metastase ke patu.


metastase ke patu

18
Pada Pleomorphic adenoma (angka kejadian tersering), tumor pada kelenjar parotis akan
menyebabkan terangkatnya cuping telinga serta tumor ini bila dibiarkan bisa bertumbuh besar
sekali. Gross anatomi : tumor berkapsul, berwarna putih dan padat. Patologi : tumor tidak
berkapsul asli, mengesankan berasal dari campuran adenoma dan jaringan miksomatosa. Dan
gambaran ini diberikan nama pleomorphic adenoma (tumor campur).

Bila tumor mengenai nervus facialis atau nervus ini mengalami cidera saat dilakukan tindakan
bedah dapat muncul gejala mata yang tidak dapat menutup akibat cidera di cabang nervus
facialis yang menuju ke m. orbikularis okuli. Sedangkan cedera cabang bagian mulut dapat
meninmbulkan kelumpuhan sudut mulut sehingga liur terus keluar dari sudut mulut. Kadang
bisa ditemukan penyulit fistel liur atau Sindrom Frey (kemerahan dan berkeringat pada daerah
parotis akibat perangsangan saliva). Tumor ini dianggap menjadi ganas sudah menyusup ke
nervus facialis dan menimbulkan paralisis serta ada metastase ke kelenjar getah bening leher
(pembengkakan kelenjar getah bening) dan paru. 6,9,10,13-15

G. Pengambilan Diagnosis

Bila ditemukan benjolan/ massa di kelenjar parotis (unilateral),

1. Dapat diberikan terapi antibiotik secara adekuat bila terdapat tanda-tanda peradangan
selama 10 hari untuk menyingkirkan kemungkinan pembesaran kelenjar akibat infeksi.
2. Bila tidak ada tanda perbaikan dan ditemukan
a. Ada kelumpuhan wajah, nyeri, dan tanda-tanda lain keganasan. Hal ini bisa
disebabkan oleh neoplasma malignan pada kelenjar saliva. Bisa dilakukan aspirasi
dengan fine niddle untuk diagnosis yang spesifik lakukan juga CT/ MRI untuk
menentukan posisi lesi, kemudian lakukan persiapan untuk melakukan eksisi.
b. Tidak ada gejala dan tidak ada tanda keganasan,
1) Padat dan ada kemungkinan tumor kelenjar saliva jinak atau ganas. Bisa
dilakukan aspirasi dengan fine niddle untuk diagnosis yang spesifik lakukan juga
CT/ MRI untuk menentukan posisi lesi, kemudian lakukan persiapan untuk
melakukan eksisi.
2) Pembengkakan kistik, pertimbangkan terjadinya Warthins tumor, kista
bercabang, atau penyakit kista kelenjar ludah pada HIV. Bila tidak ditemukan
bukti penyakit diatas dari USG, sialogram, dan technetium scan, curiga terjadinya
neoplasma. Langkah selanjutnya adalah aspirasi dengan fine niddle untuk

19
diagnosis yang spesifik lakukan juga CT/ MRI untuk menentukan posisi lesi,
kemudian lakukan persiapan untuk melakukan eksisi.
c. Sangat sakit dan ada tanda-tanda inflamasi, serta tidak ada tanda-tanda keganasan
pertimbangkan terjadinya infeksi asending (karena kalkulus) atau infark pada tumor
Warthin. Bila tidak ditemukan bukti penyakit diatas dari USG, sialogram, dan
technetium scan, curiga terjadinya neoplasma. Langkah selanjutnya adalah aspirasi
dengan fine niddle untuk diagnosis yang spesifik lakukan juga CT/ MRI untuk
menentukan posisi lesi, kemudian lakukan persiapan untuk melakukan eksisi. 6,9,10,13-
15

Untuk diagnosis tumor Warthin dapat dilakukan pemeriksaan sidikan 99Tc yang akan
memberikan gambaran bercak panas sehingga tidak perlu dilakukan pemeriksaan
histopatologis untuk menegakan diagnosis.

Bila tidak bisa dilakukan aspirasi fine niddle untuk pemeriksaan histopatologis. Spesimen
dapat diambil dengan biopsi secara lobektomi superficial.

H. Penatalaksanaan
1. Bedah

Pada saat pengangkatan tumor secara superficialis, segera lakukan pengiriman sample biopsi
untuk patologi anatomi (frozen section). Ataupun hasil PA sudah didapat sebelum tindakan
menggunakan fine niddle aspiration.

Bila hasilnya adalah tumor jinak yang terbatas di kelenjar dan tidak melibatkan nervus facialis
bisa dilakukan parotidektomi superficial atau parotidectomy pada lobus yang lebih dalam
dengan menyisakan nervus facialis. Lobektomi dilakukan dengan batas yang tegas. Bila lobus
profunda juga terlibat maka dapat dilakukan parotidektomi total.

Bila hasilnya malignan dianjurkan untuk melakukan parotidektomi total dengan menyisakan
nervus dan prosesnya berlangsung sedikit demi sedikit. Bila ada keterlibatan pada ramus
nervus atau keseluruhan nervus, keseluruhan nervus bisa diindikasikan untuk diangkat
keseluruhannya. Kemudian bisa dilakukan cangkok saraf untuk mencegah timbulnya sakuele
(kelumpuhan nervus facialis).

20
Bila ada perluasaan di balik kelenjar dan metastase ke kelenjar getah bening leher dapat
dilakukan eksesi (hingga batas dan metastase) melalui diseksi pada bagian leher jika
memungkinkan. Tindakan ini baru bisa dilakukan bila sudah ada konfirmasi dari
histopatologi. Diseksi leher elektif dan profilaktif tidak perlu dilakukan seperti pada
keganasan kepala dan leher yang lain. Dan bisa dilakukan redioterapi setelah dilakukan
operasi. Gerbang radiasi termasuk tempat pembedahan, foramen ovale, basis kranii, dan leher
ipsilateral. Kemoterapi neoadjuvan atau adjuvan juga bisa digunakan. 6,9,10,13-15

2. Radiasi

Meskipun terapi primer tumor ganas kelenjar liur adalah dengan pembedahan, namun terapi
radiasi juga dianjurkan karena memiliki efek menguntungkan jika digabungkan dengan
pembedahan yaitu meningkatkan hasil terapi. Selain itu juga berperan sebagai terapi primer
untuk tumor yang sudah tidak dapat direseksi. Ada tiga keadaan dimana terapi radiasi
merupakan indikasi, yaitu untuk tumor-tumor yang sudah tidak dapat direseksi, untuk tumor-
tumor yang kambuh pasca bedah, dan tumor derajat tinggi yang dikhawatirkan kambuh pada
tepi daerah operasi. Terapi radiasi juga merupakan indikasi untuk keganasan derajat rendah.
Radiasi telah terbukti dapat memberantas secara permanen tumor-tumor yang tidak dapat lagi
dilakukan pembedahan dan tumor yang kambuh setelah pembedahan.

3. Kemoterapi

Secara umum, tumor kelenjar liur berespon buruk terhadap kemoterapi, dan kemoterapi
adjuvant saat ini diindikasikan hanya untuk paliatif. Doxorubicin dan agen berbasis platinum
yang paling sering digunakan untuk menginduksi apoptosis dibandingkan dengan obat
Doxorubicin yang berbasis untuk menangkap sel tumor. Agen berbasis platinum, dalam
kombinasi dengan mitoxantrone atau vinoreline, juga efektif dalam mengendalikan keganasan
kelenjar liur yang berulang. Suatu bentuk baru dari fluoropyrimidine 5-fluorouracil disebut
meningkatkan aktivitas melawan sel-sel ganas dan memiliki lebih sedikit efek samping
gastrointestinal yang telah terbukti ampuh melawan kanker ganas kelenjar saliva, selain itu
mempotensiasi efek radioterapi dengan aktivitas apoptosis yang meningkat.

4. Penatalaksanaan non medis

Tumor parotis juga dapat diobati dengan obat tradisional atau disembuhkan dengan meminum
rebusan daun sirsak. Kanker merupakan penyakit yang mematikan dan pengobatan nya
21
melewati kemoterapi. Pengobatan-pengobatan kimia walaupun berhasil membunuh kanker,
tetapi tidak menutup kemungkinan, sel-sel akan tumbuh kembali dan menyebar. Daun sirsak
baru diketahui memiliki khasiat sebagai pembunuh kanker, walaupun sebenarnya khasiat ini
sudah ditemukan dari beberapa tahun silam. Menurut hasil riset Dr. Jerry McLaughlin dari
Universitas Purdue, Amerika Seikat, daun sirsak mengandung senyawa acetoginis yang terdiri
dari annomuricin F yang bersifat sitotoksik atau membunuh kanker. Untuk pengobatan, daun
sirsak selain di konsumsi tunggal, akan lebih baik bila di konsumsi berbarengan dengan
herbal jenis lainnya seperti sambiloto, temu putih atau temu mangga. Perpaduan beberapa
jenis herbal akan bersifat sinergis dan saling mendukung untuk mempercepat proses
penyembuhan penyakit.6,9,13

Contoh penatalaksanaan pada beberapa bentuk neoplasma kelenjar saliva,

1. Tumor Jinak
a. Pleomorphic adenoma. Dapat dilakukan eksisi luas. Prosedur pembedahannya
sulit karena berpotensi rekuren, pengangkatan kelenjar parotis (tempat umum
terjadinya tumor ini), dan terdapat nervus facialis di kelenjar parotis. Tumor ini
sangat sering rekuren terutama pada tempat bekas insisi yang dibuka saat operasi,
atau eksisi yang kurang baik. Rekurensi akan lebih menyulitkan pada eksisi
selanjutnya karena bersifat multifokal dan sulit untuk dieradikasi. Pencegahan
rekurensi hanya bisa dilakukan dengan pengangkatan kelenjar yang memiliki
kontak dengan tumor.
b. Warthins tumor. Dapat dilakukan enakulasi atau parotidektomi superficial.
2. Tumor Ganas
a. Mucoepidermoid casinoma. Eksisi luas dan bisa muncul rekurensi.
b. Adenoid cystic carsinoma. Dilakukan eksisi luas secepat mungkin (stadium dini)
dan dikombinasi dengan radioterapi. Dan disesksi leher ipsilateral
I. Komplikasi

Selain penyulit umum (pendarahan, infeksi, dan sebagainya) ada beberapa komplikasi yang
dapat terjadi yaitu :

1. Komplikasi pasca parotidektomi terdiri dari :


a. Fistel liur. Ludah yang tidak kering dari luka operasi. Hal ini disebabkan masih
banyaknya bagian kelenjar yang mengeluarkan ludah kea rah luka atau duktus.

22
Stensonnya tersumbat. Balut tekan dapat membantu penyemb uhan. Kadang-
kadang radiasi diperlukan untuk mempercepat fibrosis sehingga luka menutup.
Fistel liur yang tidak smebuh-sembuh sebaiknya dieksplorasi.
b. Syndrome Frey. Penderita mengalami berkeringat di daerah operasi sewaktu
makan. Hal ini disebabkan gangguan persyarafan kulit karena regenerasi yang
salah dari cabang saraf auriculotemporalis yang terpotong. Keluhan biasanya tidak
mengganggu banyak. Dengan penjelasan, penderita dapat menerima kelainan ini.
c. Parase/ paralise saraf fasialis. Manipulasi saraf fasialis meskipun tanpa memutus
saraf, dapat mengakibatkan parese saraf fasialis yang sifatnya temporer. Parese ini
dapat mengakibatkan keratitis, karena mata sulit tertutup dengan baik. Pemotongan
cabang saraf mengakibatkan paralise otot yang bersangkutan. Grafting saraf dapat
membantu untuk memulihkan persyarafan wajah. Hasilnya tidak selalu
memuaskan.10
2. Komplikasi akibat radiasi

Komplikasi radiasi meliputi mukositis akut, trismus, dan fibrosis, osteoradionekrosis, dan
penurunan penglihatan.

J. Prognosis

Prognosis tumor parotis ganas tergantung dari stadium dan ukuran tumor pada saat
ditemukan, ada atau tidak ada paralisis saraf facialis, dan menunjukkan adanya metastasis
servikal. Dan lagi, jenis spesifik dari tumor adalah penting untuk memastikan harapan hidup
dan diperlukan dalam prosedur operasi yang luas. Keluhan awal dari nyeri yang telah
diperlihatkan dalam beberapa penelitian sebagai tanda prognosis yang buruk.

Diagnosis dini dan pengobatan tumor tersebut sering terhalang oleh faktor-faktor seperti:

1. Sebagian besar kasus yang ada selang waktu sekitar 6-12 bulan antara onset gejala
klinis dan presentasi.

2. Adenoide kistik metastasis karsinoma tetap diam untuk waktu yang lama.

3. Invasi mikro tulang yang secara klinis dan radiologis mengakibatkan tidak terdeteksi
bahkan rekuren lokal setelah operasi.

23
4. Invividual sel sitologi dari aspirasi dapat kadang-kadang muncul mirip jinak bernoda
Papanicolau. Ciri khas lain dari kasus ini adalah bahwa hal itu menunjukkan
fulminating cepat kursus dalam jangka waktu hanya satu setengah tahun.

K. Pencegahan

Pencegahan dilakukan dengan menjaga pola hidup yang sehat serta menghindari bahan-bahan
radikal bebas serta mengurangi penggunaan radiasi dalam pemeriksaan penunjang, dll yang
merupakan kemungkinan etiologi terjadinya tumor pada parotis atau kelenjar saliva.

Diagnosis Banding

1. Parotitis. Peradangan muncul dalam bentuk pembesaran kelenjar difus dan nyeri
tekan, nyeri juga bisa muncul saat makan dan ingin makan. Biasanya infeksi muncul
akibat adanya sumbatan pada duktus atau infeksi retrograd oleh bakteri mulut.
Parotitis bakterial akut biasa terjadi pada pasien tua yang habis menjalani operasi
(setelah dua minggu kedua post operasi) dengan dehidrasi, higiene mulut kurang baik,
pemasangan pipa lambung sehingga pasien tidak mengunyah yang mengakibatkan
produksi air liur berkurang dan membuat higiene mulut menurun. Biasanya akibat
Staphylococcus aureus. Rehidrasi, mengunyah permen karet agar produksi saliva
meningkat sehingga meningkatkan higientitas mulut, dan terapi antibiotik akan
memberikan hasil yang baik. Selain bakteri, virus campak, koksakie, echovirus juga
bisa menjadi penyebab. Penyakit lain seperti TBC, aktinomikosis juga bisa
menimbulkan reaksi peradangan. Kelainan sistemik seperti sarkoidosis, sindroma
sjogren dan sirosis hepatis juga bisa menimbulkan pembesaran kelenjar saliva.

Parotitis akut bisa berkembang menjadi parotitis purulenta. Dan bisa juga berkembang
menjadi parotitis kronik. Parotitis endemik merupakan penyakit infeksi akibat virus
paramikso yang disertai dengan orkitis. Dan biasanya bersifat unilateral.6,10,14

2. Kelainan autoimun. Kelainan autoimun bisa menyerang semua kelenjar air liur
mayor. Ditandai dengan pembengkakan kelenjar serta penurunan sekresi saliva. Mulut
menjadi xerostomia dan disfagia. Bisa disertai dengan pengurangan sekresi air mata

24
keratokonjungtivitis sika (Mikulicz sindrom), bila disertai dengan artritis reuma
disebut Sjorgen sindrom.6,10,14
3. Sialadenosis. Merupakan pembesaran kelenjar parotis yang bukan akibat inflamasi
maupun akibat tumor. Penyebabnya bisa bermacam-macam mulai dari alkoholisme,
DM, penyakit endokrin lain, kehamilan, obat-obatan simpatomimetik, bulimia, dan
ideopatik. Secara histologi akan terlihat hipertrofi dari acini serosa dan oedem di
jaringan penghubung interstsial.14
4. Ca tiroid. Ca tiroid adalah kanker yang terjadi pada organ tiroid. Sel yang sering
terkena adalah sel jenis papil yang menyebabkan terjadinya adenokarsinoma papilaris
dan sel folicle yang menyebabkan adenokarsinoma folikularis. Kanker tiroid terjadi
pada sel-sel kelenjar tiroid (organ berbentuk mirip kupu-kupu terletak di pangkal
leher), yang berfungsi memproduksi hormon untuk mengatur kecepatan jantung
berdetak, tekanan darah, suhu tubuh dan berat badan. Penyebab ca tiroid belum
diketahui secara jelas, namun ada faktoryang meningkatkan resiko ca tiroid yaitu
terkena radiasi yang level tinggi, catatan pribadi atau keluarga dengan goitter
(pembesaran kelenjar tiroid), dan genetik (keturunan). Tanda dan gejala penyakit ini
adalah benjolan yang dapat dirasakan di bawah kulit bagian leher, perubahan suara,
termasuk suara serak, sulit menelan, nyeri di leher atau tenggorokan, dan
pembengkakan node limpa di leher.

5. Karsinoma nasofaring. Banyak didapatkan di afrika utara, cina selatan, dan asia
tenggara termasuk indonesia. Angka kejadian karsinoma mencapai lebih dari separuh
semua kejadian karsinoma di daerah kepala dan leher. Insidens yang tinggi ini
dihubungkan dengan kebiasaan makan, lingkungan, virus epstein barr dan genetik.
Penderita sering datang dengan keluhan juling bila melirik ke kanan dan bengkak
leher di sebelah kanan sejak dua bulan, tidak nyeri, tidak ada keluhan lain. Pada
pemeriksaan terdapat massa kelenjar limf N3 dan paralisis N VI kanan. Biopsi
nasofaring dapat memastikan diagnosis karsinoma nasofaring dengan penyebaran ke
kelenjar limf (N3) dan penyusupan ke dasar tengkorang (petrosfenoidal).

25
Penutup

Kesimpulan

Kanker atau tumor ganas pada kelenjar parotis memiliki gejala khusus yang banyak
menyerang pada nervus facialis sehingga penderita tersebut akan sulit menutup mata karena
cabang dari nervus facialis yang mempersarafi musculus orbicularis okuli terganggu sehingga
pasien yang datang dengan keluhan ada benjolan di bawah di telinga kanannya, menyebar
hingga telinga kanan terangkat dan pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan,
pembesaran kelenjar getah bening dapat disimpulkan kemungkinan pasien menderita penyakit
kanker parotis, namun perlu pemeriksaan penunjang lebih lanjut untuk memastikan penyakit
yang diderita pasien tersebut.

26
Daftar Pustaka

1. Concus, Adriane P. Malignant Diseases of the Salivary Glands. In : Lalwani, Anil K. ed.Current Diagnosis
& Treatment in Otolaryngology Head & Neck Surgery. United States :McGraw-Hill Companies;
2004.p.325-3364.
2. Oh, Young S, Eisele, David W. Salivary Gland Neoplasms. In : Bailey, Byron J. eds. Head& Neck
Surgery Otolaryngology 4thed volume 2. New York : Lippincott Williams &Wilkins; 2004.p.1515-
15325.
3. Adams, George L. Gangguan-gangguan Kelenjar Liur. In : Adams, George L. eds. BoiesBuku Ajar
Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : EGC; 1997.p.305-318

4. Sudiono J. Pemeriksaan patologi untuk diagnosis neoplasma mulut. In: Juwono L.


Pemeriksaan histopatologis. Jakarta: EGC; 2008.p.57-8

5. Smith, Richard V. ed. Salivary Gland Tumors. Merck. [serial online]. 2008 July. [cited 2010Nov 18] :
[screens] 1/1. Available from : URL:http://www.merck.com
6. Sjamsuhidajat, Dejong. Buku Ajar Ilmu Bedah. In:Sjamsuhidajat R, KarnahidhardjaW,
Prasetyono TOH, Rudiman R, editors. Kelenjar liur. 3rd ed. Jakarta: EGC; 2008.p.467-9.
7. Wong W W. Buku ajar traktus digestivus. Edisi 2. Jakarta: Bagian Anatomi FK UKRIDA,
2010. h. 41-43.
8. Faiz O. At a glance anatomi. Jakarta: Erlangga, 2008.h. 145.
9. Schwartz. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah. Edisi 6. Jakarta: EGC, 2000.h. 256-9.
10. Reksoprodjo S. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Jakarta: Bagian ilmu bedah FKUI, 2010.h.
384-8.
11. Sherwood L. Fisiologi manusia. Jakarta: EGC, 2001.h. 547.
12. Hutapea A M. keajaiban-keajaiban dalam tubuh manusia. Jakarta: Gramedia, 2005.h.152-
4.
13. Sabiston D C. Buku ajar bedah. Jakarta: EGC, 2012.h. 342-343.
14. Cawson R A. Oral pathology and oral medicine. Edisi 8. UK, Elsevier, 2008.h.294-313.
15. Robbins. Dasar patologis penyakit. Jakarta: EGC, 2009.h.465-466.

27