Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pelayanan umum oleh Lembaga Administrasi Negara (1998) diartikan
sebagai segala bentuk kegiatan pelayan umum yang dilaksanakan oleh
instansi Pemerintah di Pusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha
Milik Negara/Daerah dalam bentuk penyediaan barang atau jasa, baik
dalam rangka kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Upaya peningkatan kinerja organisasi pemerintah merupakan suatu
kewajiban yang harus dilakukan secara terus menerus dan
berkesinambungan guna dapat mewujudkan kualitas pelayanan publik,
yang dimaksudkan untuk melestarikan kepercayaan masyarakat kepada
pemerintahnya.
Dalam prakteknya, sering terdapat pandangan bahwa birokrasi
pemerintah atau setiap berhubungan dengan birokrasi pemerintah untuk
mendapatkan suatu pelayanan menunjukkan gejala yang mengecewakan
dan tidak memuaskan.
Pembenahan pelayanan publik dalam upaya mempercepat dan
optimalisasi perwujudan good governance aspek pelayanan publik
merupakan titik stratejik untuk membangun prinsip-prinsip good
governance.
Administrasi kependudukan merupakan salah satu upaya
penyelenggaraan pelayanan publik kepada masyarakat dalam bidang
kependudukan, hal ini seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, yang ditindaklanjuti
dengan Peraturan Presiden, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri agar
melaksanakan kebijakan administrasi kependudukan sesuai dengan
amanat dari Undang-Undang tersebut berupa penerapan KTP elektronik
atau e-KTP yang diharapkan dapat berlaku secara nasional maupun
internasional. Dalam pelaksanaan kebijakan tersebut, instansi pelaksana
yang memiliki kewenangan sebagai control center pelayanan di bidang
administrasi kependudukan adalah Kementrian Dalam Negeri. Penerapan

1
e-government di Indonesia diatur oleh adanya Instruksi Presiden No.
3/2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional pengembangan e-
government.
Untuk mewujudkan implementasi kebijakan administrasi
kependudukan KTP elektronik tentu dibutuhkan biaya yang besar dan
berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atas dasar
permintaan Menteri Dalam Negeri saat itu Gamawan Fauzi yang mengubah
sumber dana dari pembiayaan asing menjadi APBN. Biaya yang
dianggarkan untuk proyek ini mencapai enam triliun rupiah.
Tercapainya program pemerintah ini sangat membutuhkan kinerja
yang baik dari masing-masing pihak yang terlibat dalam proyek tersebut.
Selain itu dibutuhkan pula pengawasan penggunaan anggaran sehingga
anggaran digunakan sesuai dengan peruntukannya tanpa merugikan
keuangan negara. Dalam hal ini, Badan Pemeriksan Keuangan (BPK)
memiliki tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara mencakup pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan
pemeriksaan dengan tujuan tertentu.
Pelaksanaan mega proyek KTP elektronik tidak terlepas dari praktik-
praktik korupsi yang melibatkan anggota DPR, menteri, pejabat daerah, dan
elit politik lainnya. Hasil audit BPKP menetapkan bahwa kisaran kerugian
negara dalam proyek ini mencapai dua triliun rupiah. Hal ini tetap saja
terjadi walaupun KPK sudah memperingati Menteri Dalam Negeri untuk
berhati-hati dalam menjalankan mega proyek tersebut.
Berdasarkan proses hukum yang sedang berjalan dalam penanganan
proyek KTP elektronik yang menyebabkan kerugian keuangan negara
kedua setelah BLBI, kelompok kami mengangkat topik ini untuk dibahas
dalam makalah ini karena banyak fakta persidangan yang ditemukan
seiring dengan bergulirnya proses hukum kasus KTP elektronik.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini antara lain:
1) Bagaimana kronologi kasus KTP elektronik?
2) Siapa saja pihak yang terlibat dalam kasus KTP elektronik?

2
3) Apa saja fakta persidangan yang terungkap dalam kasus KTP
elektronik?

3
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Sejarah Akuntansi Forensik


Akuntansi forensik dahulu digunakan untuk keperluan pembagian
warisan atau mengungkap motif pembunuhan. Bermula dari penerapan
akuntansi dalam persoalan hukum, maka istilah yang dipakai adalah
akuntansi (dan bukan audit) forensik. Perkembangan sampai dengan saat
ini pun kadar akuntansi masih kelihatan, misalnya dalam perhitungan ganti
rugi baik dalam pengertian sengketa maupun kerugian akibat kasus
korupsi.
Selain itu skandal-skandal keuangan semacam, Enron dan
WorldCom menyebabkan jatuhnya kepercayaan investor atas profesi
akuntan sehingga memunculkan akuntansi forensik sebagai sebuah
metode untuk mendeteksi dan menanggulangi penipuan. Dalam
perkembangannya kemudian akuntansi forensik terbentuk dari
penggabungan antara akuntan dan sistem hukum. Pengacara
menggunakan akuntansi forensik untuk menemukan bukti dalam kasus
korupsi yang tidak dapat mereka peroleh. Di Amerika, seorang auditor
forensik (orang yang berprofesi di bidang akuntansi forensik) atau
pemeriksa fraud bersertifikasi (Certified Fraud Examiners/CFE) tergabung
dalam Association of Certified Fraud Examiners (ACFE).

2.2 Pengertian Akuntansi Forensik

Forensik, jika kita mendengar istilah ini, maka asumsi awal kita
adalah ahli patologi yang memeriksa jenazah untuk menentukan penyebab
dan waktu kematian. Tidak salah, karena memang dalam ilmu kedokteran,
forensik berarti ilmu bedah yang berkaitan dengan penentuan identitas
mayat. Istilah akuntansi forensik merupakan terjemahan dari Forensic
Accounting. Akuntansi forensik adalah ilmu yang relatif baru. Bidang
akuntansi yang satu ini mungkin jarang sekali kita dengar. Bahkan
mahasiswa jurusan akuntansi saja belum tentu mengerti sepenuhnya apa

4
itu akuntansi forensik. Ada beberapa macam pengertian akuntansi forensik,
antara lain sebagai berikut:
a. Menurut Larry Crumbley secara sederhana dapat dikatakan bahwa
akuntansi forensik adalah akuntansi pemeriksaan yang akurat untuk
tujuan hukum.
b. Menurut Jack Bologna, akuntansi forensik dapat diartikan sebagai
akuntansi yang berkenaan dengan pengadilan atau berkenaan
dengan penerapan pengetahuan ilmiah akuntansi pada masalah
hukum.
c. Sedangkan menurut Theodorus M Tuanakotta akuntansi forensik
adalah penerapan sistem akuntansi dalam bidang hukum terutama
pada permasalahan kecurangan atau fraud.
Maka dapat disimpulkan bahwa Akuntansi forensik adalah
penggunaan keahlian akuntansi yang dipadukan dengan kemampuan
investigatif untuk memecahkan suatu masalah/sengketa keuangan atau
dugaan fraud.
Akuntansi forensik pada dasarnya adalah perpaduan antara bidang
akuntansi dan bidang hukum. Kedua disiplin ilmu tersebut saling isi
mengisi satu sama lain. Oleh karena itulah akuntasi forensik bisa diartikan
sebagai penggunaaan ilmu akuntansi untuk kepentingan hukum.
Akuntansi forensik ini bertujuan untuk menerjemahkan transaksi keuangan
yang kompleks dari data, angka ke dalam bentuk yang dapat dimengerti
secara umum serta memahami apa yang ada di balik laporan keuangan.
Hal ini tentu saja dimaksudkan agar segala sesuatu dapat dilakukan
pendeteksian sejak dini sehingga bisa segera diketahui ada yang tidak
beres dalam data-data keuangan yang disajikan.
Beberapa akuntan forensik menyebut monitor seperti itu sebagai
Red Flags (sinyal kecurangan). Dengan kata lain, Angka-angka tersebut
mungkin dapat membuktikan kecurangan tertentu yang disembunyikan
atau disamarkan, atau bahkan ditutup-tutupi.
Ada beberapa perbedaan antara Akuntansi Umum dan Akuntansi
Forensik, yaitu:
NO UNSUR AKUNTANSI AKUNTANSI

5
UMUM FORENSIK
1 Waktu Reguler Non Reguler
Laporan Keuangan
2 Lingkup Spesifik
secara umum
Membuktikan
3 Tujuan Memberikan Opini
kecurangan
4 Teknik Akuntansi Akuntansi & Hukum
Standar Audit
Standar Audit
5 Audit Akuntansi dan Hukum
Akuntansi
Positif

2.3 Praktek Akuntansi Forensik di Indonesia


Akuntansi Forensik merupakan cabang akuntansi yang relatif baru
yang secara umum dapat dipahami sebagai subset disiplin akuntansi
dalam pemeriksaan keuangan. Disiplin ini sangat dibutuhkan khususnya
terkait dengan tindakan-tindakan fraud bidang keuangan yang dilakukan
secara samar dan canggih baik di perusahaan maupun di lembaga
keuangan dan perbankan.
Istilah Akuntansi Forensik pertama sekali diciptakan seorang rekan
di firma akunting di New York yang bernama Maurice E. Peloubet Pada
tahun 1946. Akuntansi Forensik terbentuk dari banyak kolaborasi antara
akuntansi dan sistem hukum. Pengacara menggunakan akuntansi forensik
untuk menemukan bukti dalam kasus kerah putih yang tidak dapat mereka
peroleh. Bukti ini akan membantu memenangkan banyak kasus.
Akuntansi forensik sebenarnya telah dipraktekkan di Indonesia.
Praktek ini tumbuh pesat, tak lama setelah terjadi krisis keuangan tahun
1977. Akuntansi forensik dilaksanakan oleh berbagai lembaga seperti
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK),
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Bank Dunia
(untuk proyek-proyek pinjamannya), dan kantor-kantor akuntan publik
(KAP) di Indonesia.

6
Istilah akuntansi forensik di Indonesia baru terlihat suksesnya setelah
keberhasilan PricewaterhouseCoopers (PwC) dalam membongkar kasus
Bank Bali. PwC dengan software khususnya mampu menunjukkan arus
dana yang rumit berbentuk seperi diagram cahaya yang mencuat dari
matahari (Sunburst). Kemudian PwC meringkasnya menjadi arus dana
dari orang-orang tertentu. Metode yang digunakan dalam audit tersebut
adalah Follow The Money atau mengikuti aliran uang hasil korupsi Bank
Bali dan In Depth Interview atau interview secara mendalam yang
kemudian mengarahkan kepada para pejabat dan pengusaha yang terlibat
dalam kasus ini tersebut.
Masih pada tahun yang sama, Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan (PPATK) mampu memecahkan kasus BNI, yang
membuktikan kepada pengadilan bahwa Adrian Waworuntu terlibat dalam
penggelapan L/C BNI senilai Rp 1.3 Triliun, dengan menggunakan Metode
Follow The Money yang mirip dengan metode PwC yang digunakan dalam
kasus Bank Bali. Padahal sebelum keterangan para ahli PPATK, Adrian
Waworuntu selalu berhasil meyakinkan bahwa dirinya sama sekali tidak
terlibat. Keberhasilan-keberhasilan di atas semakin membuat akuntansi
forensik berkembang pesat.

2.3.1 FOSA dan COSA


Akuntansi Forensik secara sistem terbagi dua tipe yaitu:
a. FOSA atau Fraud Oriented system audit, adalah akuntansi
forensik yang menangani masalahmasalah fraud dalam 2 fokus kajian
yaitu Pengambilan asset secara illegal berupa Skimming (Penjarahan),
Lapping (Pencurian) Kitting (Penggelapan dana), serta Kecurangan
laporan keuangan berupa salah saji material dan data keuangan palsu.
Dengan demikian untuk mengidentifikasi fraud secara umum, digunakan
FOSA.
b. COSA atau Corruption Oriented system audit adalah akuntansi
forensik yang menangani masalah fraud dalam fokus kajian yaitu korupsi.
Jadi COSA digunakan untuk identifikasi fraud secara spesifik yaitu
korupsi.

7
2.3.2 Standar Akuntansi Forensik.
Adapun standar akuntansi Forensik ada empat macam yaitu :
a. Independensi. Akuntan forensik harus independen dalam
melaksanakan tugasnya, bertangggung jawab dan objektif atau tidak
memihak dalam melaksanakan telaahan akuntansi forensiknya.
b. Kemahiran Profesional. Akuntansi forensik harus dilaksanakan
dengan kemahiran dan kehati-hatian professional.
c. Lingkup Penugasan. Akuntan harus memahami tugasnya dengan baik,
mengkajinya dengan teliti dan melaporkannya dalam kontrak.
d. Pelaksanaan Tugas Telaahan. Akuntan harus memahami
permasalahan dengan baik, seperti rumusan masalah, perencanaan
dan pengumpulan bukti dan evaluasinya, sampai pada tahap
komunikasi hasil penugasan berupa laporan akhir yang berisi fakta dan
kesimpulan.

2.3.3 Teknik-Teknik Pemeriksaan fraud dalam Akuntansi Forensik.


Secara umum ada sembilan teknik pemeriksaan akuntansi forensik yang
biasa digunakan untuk mengungkap adanya tindak kecurangan atau
Fraud, yaitu:
1. Penggunaan teknik-teknik pemeriksaan laporan keuangan.
Pemeriksaan ini berfungsi untuk menilai kewajaran penyajian laporan
keuangan. Ada tujuh langkah pemeriksaan laporan keuangan ini,
yaitu:
a. Memeriksa Fisik dan Mengamati.
Memeriksa fisik lazimnya diartikan sebagai penghitungan uang
tunai, surat berharga, persediaan asset, dan barang berwujud
lainnya. Sedangkan mengamati adalah menggunakan alat indera
untuk mengetahui atau memahami sesuatu tentang lingkungan
keuangan.
b. Meminta Informasi dan Konfirmasi
Meminta informasi kepada perusahaan baik secara lisan maupun
tertulis. Ini harus diperkuat atau dikolaborasikan dengan informasi
dari sumber lain. Tujuannya adalah untuk menegaskan kebenaran

8
atau ketidakbenaran informasi. Ini umumnya untuk memastikan
saldo utang-piutang.
c. Memeriksa Dokumen.
Dokumen harus diperiksa guna memperoleh pemahaman tentang
nilai bukti potensial kasus. Dokumen mempunyai definisi yang
luas, termasuk informasi keuangan yang diolah dan disimpan
secara elektronis (digital).
d. Review Analitikal
Review analitikal dapat disajikan melalui beberapa teknik, yaitu:
1) Membandingkan anggaran dengan realisasi
2) Analisis vertikal dan horizontal. Ini merupakan teknik analisis
laporan keuangan. Analisis vertikal adalah Analisis Common-
Size yaitu teknik analisis untuk mengetahui proporsi dari
setiap komponen dalam laporan keuangan terhadap besaran
totalnya dalam satuan persen. Selain itu ada pula analisis
Rasio yang merupakan teknik analisis laporan keuangan yang
digambarkan dalam bentuk rasio keuangan. Analisis
horizontal adalah teknik analisis Cross-Section. Analisis
Cross-Section juga sering disebut dengan analisis komparasi
atau analisis perbandingan. Selain analisis Cross-Section,
terdapat pula Analisis Sumber dan Penggunaan Dana, yang
dapat diartikan sebagai Analisis yang bertujuan untuk melihat
aliran kas (cashflow) dan setara kas) pada periode tertentu.
3) Analisis Trend. Merupakan teknik analisis laporan keuangan
yang menggambarkan kecendrungan perubahan suatu pos
laporan keuangan selama beberapa periode. Analisis trend
dapat memberikan informasi tingkat pertumbuhan masing-
masing pos laporan keuangan dari tahun ke tahun dan
gambaran apakah kinerja bank naik, turun atau konstan.
4) Membandingkan data keuangan atau komparasi. Dalam hal ini
teknik yang digunakan adalah membandingkan angka-angka
keuangan dengan standar tertentu, yaitu perusahaan atau
industri sejenis. Ada beberapa cara mendefinisikan istilah
sejenis antara lain, (1) kesamaan jasa dan produk, (2)

9
kesamaan sisi permintaan, serta (3) kesamaan atribut
keuangan.
5) Analisis Time Series. Merupakan teknik analisis laporan
keuangan dengan cara membandingkan data historis
keuangan dalam beberapa periode tertentu. Analisis Time
Series mempunyai empat pola pergerakan yaitu, trend, siklus,
musiman, dan ketidakteraturan atau random.
e. Pemanfaatan Teknik Perpajakan. Teknik perpajakan biasa
digunakan dalam pemeriksaan kejahatan terorganisisr dan
penyeludupan pajak penghasilan. Teknik ini juga dapat diterapkan
terhadap data kekayaan pejabat Negara. Ada dua macam teknik
pemeriksaan perpajakan yaitu Net Worth Method dan Expenditure
Method51 Net Worth Method adalah metode yang digunakan untuk
menelusuri penghasilan yang belumdilaporkan oleh wajib pajak.
Sedangkan Expenditure Method adalah metode yang digunakan
untuk memeriksa wajib pajak yang tidak mengumpulkan harta
benda, tapi mempunyai pengeluaran-pengeluaran besar (mewah).
f. Penelusuran jejak-jejak arus uang. Penelusuran jejak-jejak arus
uang ini lebih dikenal dengan istilah follow the money. Follow the
money secara harfiah berarti mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkan
dalam suatu arus uang atau arus dana. Dana bisa mengalir secara
bertahap dan berjenjang, tapi akhirnya akan berhenti di satu atau
beberapa tempat. Tempat perhentian terakhir inilah yang menjadi
petunjuk kuat yang akan membawa kepada para pelaku Fraud.
g. Penerapan teknik analisis hukum. Dalam hal ini akuntan forensik
harus mempunyai pemahaman tentang hukum pembuktian sesuai
dengan masalah yang dihadapi, seperti tindak pidana umum, tindak
pidana khusus, serta pencucian uang. Melalui analisis ini, akuntan
forensik akan dapat mengumpulkan bukti dan barang bukti guna
mendukung dugaan adanya perbuatan melawan hukum yang
dilakukan para pelaku Fraud atau kecurangan.
h. Pemanfaatan teknik audit investigatif dalam pengadaan barang.
Pemeriksaan pengadaan barang ini merupakan suatu upaya untuk

10
memastikan bahwa dana publik dibelanjakan dengan baik guna
meningkatkan efektivitas operasional serta sesuai peruntukkannya.
i. Penggunaan computer forensic. Ada dua pokok utama dalam
computer forensic. Pertama, segi-segi teknis yang berkenaan
dengan teknologi (komputer, internet dan jaringan) dan alat-alat
(Windows, Unix, serta Disk drive imaging). Kedua, adalah segi-segi
teknis hukum seperti penggeledahan dan penyitaan barang bukti.
j. Penggunaan teknik interogasi. Teknik interogasi ini dilakukan
secara persuasif. Akuntan biasanya menggunakan taktik membuat
penyataan dan bukan mengajukan pertanyaan. Tujuannya tidak
lain adalah untuk mengetahui detil lengkap tentang kejadian yang
sebenarnya.
k. Penggunaan Undercover Operations. Undercover Operations
adalah suatu kegiatan yang berupaya mengembangkan barang
bukti secara langsung dari pelaku kecurangan dengan
menggunakan samaran (disguise) dan tipuan (deceit).
l. Pemanfaatan whistleblower. Whistleblower diterjemahkan secara
harfiah dengan istilah peniup peluit. Maknanya adalah orang yang
mengetahui adanya bahaya atau ancaman dan berusaha menarik
perhatian dengan meniup peluitnya. Meniup peluit di sini digunakan
dengan kiasan yang artinya adalah membuka aib dan
membocorkan rahasia. Atau dalam istilah lain adalah pelapor
pelanggaran.

2.3.4 Garis besar proses Pemeriksaan Investigatif


Garis besar dalam proses pemeriksaan investigatif memiliki tahap-tahap
sebagai berikut:
a) Tahap Pra Perencanaan Audit Investigatif. Tujuan untuk meyakini
layak tidaknya suatu informasi/pengaduan yang diterima dapat
ditindak lanjuti dengan audit investigatif. Pada proses ini pemeriksa
melakukan:
pengumpulan informasi tambahan
penyusunan fakta & proses kejadian
penetapan dan penghitungan tentative kerugian keuangan

11
penetapan tentative penyimpangan
penyusunan hipotesa awal
b) Tahap Perencanaan Audit Investigatif. Tujuan untuk meminimalkan
tingkat resiko kegagalan dalam melakukan audit investigatif serta
memberikan arah agar pelaksanaan audit investigatif efisien dan
efektif. Pada proses ini dilakukan:
pengujian hipotesa awal
identifikasi bukti-bukti
menentukan tempat/sumber bukti
analisa hubungan bukti dengan pihak terkait
penyusunan program pemeriksaan investigative
c) Tahap Pelaksanaan Audit Investigatif. Pada tahapan ini dilakukan:
pengumpulan bukti-bukti
pengujian fisik
konfirmasi
observasi
analisa dan pengujian dokumen
interview
penyempurnaan hipotesa
review kertas kerja
d) Tahap Evaluasi Bukti. Pelaksanaan pengumpulan dan evaluasi bukti
difokuskan pada upaya pengujian hipotesa untuk mengungkapkan:
fakta-fakta dan proses kejadian
Sebab dan dampak penyimpangan
Pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab atas kergian
keuangan negara
Bukti-bukti yang mendukung
e) Tahap Pelaporan dan Tindak Lanjut. Fase terakhir, dengan isi laporan
hasil pemeriksaan investigatif kurang lebih memuat:
unsur-unsur melawan hukum
fakta dan proses kejadian
sebab-sebab terjadinya tindakan melawan hukum
bentuk kerja sama pihak-pihak yang terkait dalam penyimpangan

12
BAB III
KASUS

3.1 Overview Kasus E-KTP

Kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP dinilai sebagai


kasus yang masif dan sangat terstruktur. Diduga, proyek itu direncanakan
untuk dapat dikorupsi. Proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP)
elektronik atau yang biasa disebut e-KTP dimulai Kementerian Dalam
Negeri sebagai pelaksana, pada tahun 2011-2012. Anggaran untuk
proyek ini mencapai Rp5,9 triliun. Dari nilai proyek Rp5,9 triliun, KPK
menyebut dana yang dikorupsi mencapai Rp2,3 triliun. Kasus ini
melibatkan 280 orang saksi dan dua orang tersangka.
Demi meluluskan jalannya korupsi triliunan ini, aturan seakan tak
bernilai lagi bagi mereka. Dari dakwaan dua mantan pejabat Kemendagri
Irman dan Sugiharto, setidaknya terdapat beberapa pelanggaran aturan
yang diduga dilakukan oleh para pelaku korupsi e-KTP. Antara lain
pelanggaran etika, pelanggaran prosedur pelelangan proyek, pelanggaran
BPK, dan tentunya pelanggaran tindak pidana korupsi yang bertujuan
memperkaya diri sendiri.
a) Pelanggaran Kode Etik
Sejak awal proyek pengadaan e-KTP sudah terasa kental dengan
nuansa korupsi. Kasus yang diduga melibatkan banyak nama-nama
penting di pemerintahan ini mulai terendus korupsi sejak Februari
2010 silam.
Sekitar awal bulan Februari 2010, setelah mengikuti rapat
pembahasan anggaran Kementerian Dalam Negeri, Irman dimintai
sejumlah uang oleh Burhanudin Napitupulu yang merupakan ketua
Komisi II DPR RI agar usulan Kemendagri dapat segera disetujui oleh
DPR. Untuk mendanai pemberian uang kepada anggota DPR, Irman
dan Burhanudin sepakat bahwa sumber uang berasal dari pengusaha
Andi Narogong yang sudah terbiasa menajdi rekanan di Kemendagri.
Sekitar bulan Juli-Agustus 2010, Andi Narogong membuat
kesepakatan dengan Setya Novanto, Anas Urbaningrum, dan
13
Muhammad Nazaruddin tentang rencana penggunaan anggaran
proyek e-KTP yang bernilai kurang lebih Rp 5,9 triliun.
Pembagian dana proyek tersebut direncanakan akan dibagi menjadi
dua, yaitu sebesar 51% akan digunakan untuk pembiayaan proyek.
Sedangkan sisanya sebesar 49% akan dibagikan kepada beberapa
pejabat di Kemendagri, Anggota Komisi II DPR RI, Setya Novanto,
Anas Urbaningrum, dan rekanan bisnis. Pemberian uang tidak hanya
diberikan kepada individu saja. Sekitar bulan Februari 2011, untuk
memperlancar kepentingan anggaran, Andi Narogong berjanji akan
memberikan uang sejumlah Rp 520 miliar kepada Partai golkar, Partai
Demokrat, PDI Perjuangan dan beberapa partai lainnya.
Semua perencanaan dan pemberian uang ini tentunya sangat tidak
sejalan dengan yang telah diatur dalam Pasal 3, Pasal 5 ayat (4) (6)
UU No. 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih
dari korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Dalam pasal tersebut dikatakan,
bahwa semua penyelenggara negara harus didasarkan pada asas
keterbukaan, profesionalitas, proporsionalitas dan akuntabilitas.
Selain itu, para anggota Dewan yang diduga menerima dan
memberikan uang juga sangat berseberangan dengan Pasal 3 ayat 5
di Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1
Thaun 2015 Tentang Kode Etik Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia. Dikatakan dalam aturan tersebut: Anggota dilarang
meminta dan menerima pemberian atau hadiah selain dari apa yang
berhak diterimanya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
b) Pelanggaran Penetapan Harga HPS.
Berdasarkan dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) KPK untuk
terdakwa mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman dan mantan
Direktur PIAK Kemendagri Sugiharto, pada tanggal 11 Februari 2011,
Sugiharto menentapkan Harga Perkiraan Sendiri dan Analisis harga
Satuan per Keping e-KTP. Namun pada penetapan tersebut,
Sugiharto tidak mendahuluinya dengan data harga pasar setempat
yang diperoleh berdasarkan survei menjelang dilaksanakannya
pengadaan. HPS versi Sugiharto hanya berdasar pada price list yang

14
disusun oleh FX Garmaya Sabarling, Tri Sampurno, dan Berman
Jandry S. Hutasoit yang telah dinaikkan harganya (mark up) dan tidak
memperhatikan diskon terhadap barang-barang tertentu. Hal ini
diduga sangat bertentangan dengan Peraturan Presiden No.54 Tahun
2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintahan. Peraturan itu
menjelaskan bahwa penyusunan HPS harus didasarkan pada data
harga pasar setempat, yang diperoleh berdasarkan hasil survei
menjelang dilaksanakannya Pengadaan, dengan mempertimbangkan
berbagai informasi.
c) Pelanggaran Proses Pelelangan.
Jauh hari sebelum terjadinya pelelangan untuk proyek pengadaan e-
KTP, pelanggaran terhadap proses ini sudah dilakukan. Pada bulan
Mei 2010, di ruang kerja Komisi II DPR RI, Sugiharto melakukan
pertemuan dengan Gamawan Fauzi, Diah Anggraini, Chairuman
Harahap, Ganjar Pranowo, Taufik Effendi, Teguh Juwarno, Ignatius
Mulyono, Mustoko Weni, Arif Wibowo, M. Nazaruddin, dan Andi
Narogong.
Pada kesempatan terebut, Mustoko Weni menyampaikan bahwa
Andi Nurogong-lah yang akan mengerjakan proyek e-KTP karena
sudah terbiasa mengerjakan proyek di Kemendagri dan sudah
familiar dengan Komisi II DPR. Selain itu, Weni menjelaskan bahwa
Andi berkomitmen akan memberikan sejumlah fee kepada anggota
DPR dan beberapa pejabat Kemendagri. Barulah pada tanggal 8
April 2011, panitia pengadaan menerima delapan dokumen
penawaran dari Konsorsium Berca Link JST, Konsorsium Lintas
Peruri Solusi, Konsorsium PNRI, Konsorsium Mukarabi Sejahtera,
Konsorsium Mega Global Jaya Grafica Cipta, Konsorsium PT
Telkom, Konsorsium PT Astra Graphia dan Konsorsium Transtel
Universal.
Sampai dengan batas akhir waktu evaluasi pemasukan penawaran,
Konsorsium PNRI dan Astra Graphia tidak dapat melampirkan
sertifikat ISO 9001 dan ISO 14001. Namun demikian, hal tersebut
bukanlah halangan bagi mereka karena panitia pengadaan tetap
memasukan nama mereka di delapan konsorsius yang lulus.

15
Untuk memperlancar penetapan pemenang lelang, Andi Narogong
akhirnya memberikan uang kepada Gamawan Fauzi melalui
saudaranya Azmin Aulia sejumlah USD 2,5 juta. Akhirnya pada
tanggal 21 Juni 2011 Gamawan Fauzi menetapkan Konsorsium
PNRI sebagai pemenang lelang.
Atas pengumuman itu, PT Lintas Bumi Lestari dan PT Telkom
Indonesia mengajukan sanggahan yang intinya keberatan dengan
penetapan pemenang. Kemudian pada 28 Juni 2011, Drajat Wisnu
Setyawan mengirimkan surat kepada dua perusahaan tersebut
bahwa proses dan penetapan hasil lelang sudah sesuai dengan
prosedur. Sebenarnya PT Lintas Bumi Lestari dan PT Telkom
Indonesia masih berhak mengajukan sanggahan banding hingga 5
Juli 2011. Namun dengan mengesampingkan itu semua, pada 30
Juni 2011 Sugiharto menunjuk Konsorsium PNRI selaku pelaksana
pekerjaan proyek ke-KTP.
Berdasarkan Pasal 5 dan Pasal 82 ayat 4 pada Peraturan Presiden
no.54 tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintahan,
jika terjadi sanggahan banding maka proses pelelangan atau seleksi
harus dihentikan. Selain itu, dalam proses pengadaan barang/jasa
pemerintahan harus berdasarkan prinsip keterbukaan, transparan,
adil, efisien dan bersaing.
d) Pelanggaran Lembaga BPK dan Lembaga Lainnya
Sebenarnya kasus korupsi proyek e-KTP dapat dihentikan sedini
mungkin andai saja lembaga-lembaga yang memiliki kewenangan
berkontribusi untuk mengusut dan mencegah terjadinya korupsi.
Namun, semua itu seakan hanya impian semata kala lembaga
seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) malah ikut terjerat kasus
ini. Pada dasarnya, siapa pun yang sejak awal mengetahui adanya
dugaan korupsi seharusnya melapor kepada KPK. Seperti yang
tertera dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Secara jelas menyebut
segala unsur pidana wajib dilaporkan.Selain itu, BPK juga bisa
memanfaatkan konsep whistleblower untuk melaporkan adanya
dugaan tindak pidana korupsi. Berdasarkan UU No 30 Tahun 2002

16
tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, seorang
whistleblower bisa melaporkan indikasi tindak pidana korupsi yang
terjadi di dalam organisasi tempat dia bekerja dan memiliki akses
informasi yang memadai atas terjadinya indikasi tindak pidana
korupsi tersebut. Berdasarkan dakwaan untuk Irman dan Sugiharto,
selain memberikan uang kepada Komisi II DPR, Sugiharto pun
memberikan sejumlah uang kepada staf Kementerian Dalam Negeri,
Kementerian Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan dan Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Salah satu
penerima uang tersebut adalah Wulung selaku Auditor pada BPK
yang memeriksa pengelolaan keuangan Ditjen Dukcapil sejumlah Rp
80 juta. Uang tersebut diberikan agar BPK memberikan status Wajar
Tanpa Pengecualian (WTP) bagi laporan audit keuangan Ditjen
Dukcapil. Setelah pemberian uang tersebut BPK memberikan opini
Wajar Tanpa Pengecualian terhadap pengelolaan keuangan pada
Ditjen Dukcapil tahun 2010 demikian isi dakwaan.
Tentunya dengan tindakan seperti ini sangat menyalahi peraturan
yang berlaku di Indonesia. Khusunya dalam Perarturan Presiden
No.24 tahun 2010 Tetang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Eselon I
Kementerian Negara Pasal 81 dan 82 huruf f. Di situ telah
ditegaskan bahwa Direktorat Jenderal Kependudukan dan
Pencatatan Sipil mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan
kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pendaftaran penduduk,
pencatatan sipil, dan pengelolaan informasi administrasi
kependudukan, serta fasilitasi dan penyerasian kebijakan
perencanaan kuantitas, kualitas dan mobilitas penduduk di daerah.
Dalam uraian terjadinya tindak pidana korupsi, JPU menyebutkan
sejak proyek e-KTP dalam tahap pembahasan hingga proses
pengadaan. Dalam hal ini Jaksa KPK membagi dalam tiga tahap:
1. Pada tahapan pembahasan anggaran, sebelum anggaran formal. Kita
temukan adanya indikasi-indikasi pertemuan sejumlah pihak untuk
membicarakan proyek e-KTP.
2. Praktek ijon. Setelah pembahasan Tim Kecil di tahap awal, pada
tahap kedua ini melibatkan banyak pihak, antara lain anggota Komisi II

17
DPR dan panitia anggaran dan tentunya pelaksana proyek,
kementerian dalam negeri.
3. Tahap terakhir adalah pengadaan. Pada Juni 2011, Kemendagri
mengumumkan konsorsium PT PNRI sebagai pemenang tender
pengadaan dengan harga Rp5,9 triliun. Konsorsium ini terdiri dari
Perum PNRI, PT Sucofindo (Persero), PT Sandhipala Arthapura, PT
Len Industri (Persero), PT Quadra Solution. Mereka menang setelah
mengalahkan PT Astra Graphia yang menawarkan harga Rp6 triliun.
Setidaknya ada beberapa kejanggalan yang terjadi dalam proses
pengadaan:
1. Setelah tender ditutup, spesifikasi alat yang akan digunakan dalam
proses pembuatan e-KTP, yaitu signature pad, diubah. Tindakan itu
jelas melanggar Pasal 79 ayat 2 Peraturan Presiden No. 54 tahun
2010 yang melarang post-biddingtindakan mengubah, menambah,
mengganti, dan/atau mengurangi dokumen pengadaan dan/atau
dokumen penawaran setelah batas akhir pemasukan penawaran.
2. Gamawan Fauzi yang saat itu menjabat Menteri Dalam Negeri,
menandatangani kontrak pengadaan e-KTP saat proses lelang berada
pada masa sanggah sehingga tidak memberi kesempatan kepada dua
peserta lelang, Konsorsium Telkom dan Konsorsium Lintas Bumi
Lestari. LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/jasa
Pemerintah) menyarankan penandatanganan kontrak ditunda setelah
masa sanggah banding selesai. Sebab, sesuai pasal 82 Peraturan
Presiden 54 tahun 2010 sanggahan banding menghentikan proses
lelang. Tapi saran LKPP ini tidak diindahkan.
3. Irman, eks Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri
(terdakwa I) mengarahkan eks Direktur Pengelolaan Informasi
Administrasi Kependudukan (PIAK) Ditjen Kependudukan dan
Pencatatan Sipil Kemendagri Sugiharto untuk membuat spesifikasi
teknis yang mengarah ke produk tertentu dengan secara langsung
menyebut merek. Di antaranya untuk pengadaan AFIS (Automated
Fingerprint Indentification System) menggunakan produk merek L-1
Identity Solution sebagaimana yang ditawarkan oleh Johanes Marliem,
untuk pengadaan printer menggunakan merek Fargo HDP 5000 dan

18
untuk pengadaan hardware menggunakan produk merek Hewlett
Packard (HP) sebagaimana yang ditawarkan oleh Berman Jandry S
Hutasoit dan untuk pengadaan software menggunakan
produk database merek Oracle sebagaimana yang ditawarkan oleh
Tunggul Baskoro.
4. Konsorsium PNRI tidak memenuhi kontrak. Selain pelaksanaan lelang
yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan,
konsorsium PNRI tidak melaksanakan kewajibannya yang telah diatur
dalam kontrak. Berdasarkan kontrak, konsorsium PNRI berkewajiban
memproduksi, personalisasi, dan distribusi blangko KTP
berbasis chip sebanyak 172.015.400 keping dengan perincian tahun
2011 sebanyak 67.015.400 keping dan tahun 2012 sebanyak
105.000.000 keping. Konsorsium PNRI juga berkewajiban
mengadakan peralatan data center, hardware, sistem AFIS, software,
layanan keahlian pendukungan kegiatan, serta bimbingan teknis untuk
operator dan pendampingan teknis. Faktanya, telah terjadi
penyimpangan. Jaksa KPK menyebut anggota konsorsium PNRI
mensubkontrakkan sebagian pekerjaan tanpa persetujuan tertulis dari
Sugiharto sebagaimana yang diatur. Paket pekerjaan pengadaan
blangko e-KTP elektronik yang seharusnya dilaksanakan oleh Perum
PNRI disubkontrakkan kepada PT PURA Barutama, PT Trisakti
Mustika Grafika, PT Ceria Riau Mandiri dan PT Mecosuprin Grafia, PT
Sinegri Anugrah Mustrika, serta PT Global Priam Media. Paket
pekerjaan pengadaan blangko e-KTP yang dilaksanakan PT
Sandipala Artha Putra disubkontrakkan kepada PT Trisakti Mustika
Grafika, PT Pura Barutama, dan PT Betawi Mas Cemerlang.
5. Konsorsium PNRI tidak memenuhi target e-KTP. Sampai akhir masa
pelaksanaan pekerjaan e-KTP pada 31 Desember 2013, konsorsium
PNRI hanya dapat melakukan pengadaan blangko KTP elektronik
sebanyak 122.109.759 keping. Jumlah tersebut masih di bawah target
pekerjaan sebagaimana ditentukan dalam kontrak awal, yakni
konsorsium PNRI wajib melakukan pengadaan personalisasi dan
distribusi blangko e-KTP sebanyak 172.015.400.

19
6. Harga e-KTP membengkak. Konsorsium PNRI menerima pembayaran
pengadaan e-KTP sejak 21 Oktober 2011 sampai 30 Desember 2013
sebesar Rp 4.917.780.473.609 setelah dipotong pajak. Adapun harga
wajar atau harga riil pelaksanaan proyek penerapan KTP berbasis NIK
secara nasional (KTP elektronik) 2011-2013 sejumlah Rp
2.552.408.324.859.
7. Atas perbuatannya dalam kasus korupsi e-KTP itu, Irman dan
Sugiharto melangar Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Dalam bentuk garis waktu dapat disimpulkan kasus e-ktp sebagai berikut:

Tanggal Keterangan
28 Januari 2010 Kementeriana Dalam Negeri mengajukan anggaran
sebesar Rp 6.9 triliun untuk menyelesaikan Sistem
Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) untuk tahun
2010-2011.
29 Januari 2010 Proyek SIAK dinilai rawan penyimpangan. KPK dua kali
menyurati Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, agar
hati-hati dalam melaksanakan proyek.
Februari 2010 Gedung DPR, Jakarta.
Irman dan Burhanudin Napitupulu (anggota DPR) bertemu
di ruang kerja Ketua Komisi II DPR membahas pemberian
uang oleh Andi Narogong (pengusaha) kepada sejumlah
anggota Komisi II. Pemberian itu bertujuan agar DPR
menyetujui usulan Kemendagri perihal anggaran proyek e-
KTP.
Hotel Gran Melia, Jakarta.
Irman, Sugiharto, Andi Narogong, dan Diah Anggriani
(Sekjen Kemendagri) melakukan pertemuan dengan Setya
Novanto (Ketua Fraksi Golkar DPR). Pada pertemuan itu,
Setya menyatakan dukungannya dalam pembahasan
anggaran proyek e-KTP di DPR.
Juni-Desember Ruko Fatmawati
2010 Beberapa kali pertemuan digelar di Ruko milik Andi
Narogong. Pertemuan Tim Fatmawati ini membahas
pembentukan beberapa konsorsium untuk ikut dalam
tender proyek e-KTP. Bahkan pada sejumlah pertemuan
juga membahas pengaturan untuk memenangkan tender
hingga mendaftar penggelembungan harga sejumlah
barang yang akan dibeli terkait proyek. Pengaturan ini juga
melibatkan pihak panitia lelang yang berasal dari
Kemendagri.

20
Juli-Agustus 2010Gedung DPR, Jakarta.
DPR mulai melakukan pembahasan R-APBN Tahun
Anggaran 2011 yang di antaranya termasuk anggaran
untuk proyek e-KTP. Terkait hal tersebut, Andi Narogong
beberapa kali bertemu Setya Novanto, Anas Urbaningrum
(Ketua Fraksi Demokrat DPR), dan Muhammad
Nazaruddin (Bendum Demokrat), yang dinilai sebagai
representasi Partai Golkar dan Partai Demokrat untuk
mendorong Komisi II menyetujui anggaran.
Akhirnya dicapai kesepakatan anggaran proyek sebesar
Rp 5,9 triliun dengan 49 persen di antaranya atau sebesar
Rp 2,5 triliun (setelah dipotong pajak) akan dibagi-bagi ke
sejumlah orang, termasuk DPR.
September- Gedung DPR, Jakarta.
Oktober 2010 Andi Narogong memberikan uang kepada sejumlah
anggota DPR di ruang kerja Mustoko Weni (Golkar). Total
uang yang diberikan Andi sebesar 3.450.000 dolar AS
kepada sembilan orang anggota DPR, di antaranya Anas
Urbaningrum, Ganjar Pranowo (PDIP), Teguh Juwarno
(PAN), hingga Agun Gunandjar Sudarsa (Golkar).
September- Gedung DPR, Jakarta.
Oktober 2010 Bagi-bagi uang kembali dilakukan Andi, namun kali ini di
ruangan Setya Novanto dan Mustoko Weni. Uang sebesar
3.300.000 dolar AS kepada para pimpinan Banggar, yakni
Melchias Marcus Mekeng (Golkar), Mirwan Amir
(Demokrat), Olly Dondokambey (PDIP), dan Tamsil
Linrung (PKS).
Andi pun memberikan uang sebesar 500.000 dolar AS
kepada Arif Wibowo untuk dibagikan kepada seluruh
anggota Komisi II. Rinciannya, Ketua mendapat 30.000
dolar AS, tiga Wakil Ketua masing-masing mendapat
20.000 dolar AS, sembilan Ketua Kelompok Fraksi masing-
masing mendapat 15.000 dolar AS, serta 37 anggota
masing-masing mendapat 10.000 dolar AS.
Oktober 2010 Restoran Peacock, Hotel Sultan, Jakarta.
Pertemuan dilakukan antara Irman, Sugiharto, Diah
Anggriani, Andi Narogong, Husni Fahmi (pegawai
Kemendagri), Chairuman Harahap (Golkar), dan Johannes
Marliem (swasta). Pada pertemuan itu, Chairuman sebagai
Ketua Komisi II diminta segera menyetujui anggaran
proyek sebesar Rp 5.952.083.009.000 secara multiyears.
22 November 2010 Gedung DPR.
Rapat Kerja antara Komisi II dan Kemendagri akhirnya
menyepakati anggaran proyek e-KTP untuk tahun 2011
sebesar Rp 2.468.020.000 yang bersumber dari APBN
tahun anggaran 2011.
Desember 2010 Rumah Dinas Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam
Negeri.
Andi Narogong memberikan uang sejumlah 1.000.000
dolar AS kepada Diah Anggraini sebagai kompensasi telah

21
membantu pembahasan anggaran hingga akhirnya
disetujui DPR.
Februari 2011 Kementerian Dalam Negeri.
Andi Narogong menemui Sugiharto di ruang kerjanya. Andi
mengatakan akan memberikan uang sebesar Rp
520.000.000.000 untuk memperlancar urusan
penganggaran proyek. Uang akan diberikan kepada Partai
Golkar Rp 150 miliar, Partai Demokrat Rp 150 miliar, PDI
Perjuangan Rp 80 miliar, Marzuki Alie (Demokrat) Rp 20
miliar, Chairuman Harahap Rp 20 miliar, serta pada
sejumlah partai lain sejumlah Rp 80 miliar. Rincian uang
tersebut atas persetujuan Irman.
4 Februari 2011 Pengadaan e-KTP dimulai.
17 Februari 2011 Direktur Jendral Anggaran mengurumkan surat kepada
Kemendagri unruk melaksanakan kontrak tahun jamak
penyediaan Jaringan Kominikasi dalam rangka penerbitan
NIK dan penerapan KTP-el dengan anggaran Rp 5.9 triliun
dengan rincian Rp 2.29 triliun untuk tahun 2011 dan Rp
3.66 triliun untuk tahun 2012.
21 Juni 2011 Gamawan Fauzi (Mendagri) menetapkan konsorsium PNRI
sebagai pemenang tender proyek e-KTP. Pemenangan
tender sudah diatur sejak awal. Konsorsium PNRI tetap
dimenangkan meskipun sejumlah syarat belum dipenuhi.
Juni 2011 Penetapan pemenang lelang digugat, namun Sugiharto
tetap menunjuk konsorsium PNRI sebagai pemenang
lelang.
Maret 2012 Konsorsium PNRI belum dapat menyelesaikan pengadaan
blangko e-KTP sebanyak 65.340.367 keping dengan nilai
Rp 1.045.445.868.749. Namun tidak diberikan teguran
maupun sanksi kepada konsorsium, bahkan dibuat laporan
seolah-olah pekerjaan sudah sesuai target sebagaimana
kontrak. Sehingga pembayaran kepada pihak PNRI tetap
bisa dilakukan.
Gamawan meminta penambahan anggaran dalam APBN-
P tahun 2012. Anggota DPR Markus Nari (Golkar) lantas
meminta uang Rp 5 miliar kepada Irman guna
memperlancar pembahasan anggaran itu. Namun usai
diberikan uang Rp 4 miliar, DPR tidak memasukan
penambahan anggaran itu.
22 April 2012 KPK menelusuri dugaan keterlibatan sejumlah anggota
DPR dalam kasus e-KTP. Dugaan ini diungkapkan mantan
Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad
Nazaruddin. KPK menetapkan Pejabat pembuat pembuat
Komitmen di Direktorat Jendral Kependudukan dan
Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Sugiharto
sebagai tersangka.
Agustus 2012 Anggaran kemudian masuk ke dalam APBN Tahun
Anggaran 2013. Atas hal tersebut, Miryam Haryani
(Hanura) meminta uang Rp 5 miliar untuk diberikan kepada
pimpinan dan anggota Komisi II, di antaranya Chairuman

22
Harahap, Ganjar Pranowo, dan Teguh Jurwano.
November- Bagi bagi uang juga dilakukan Andi Narogong kepada staf
Desember 2012 Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan,
Badan Pemeriksa Keuangan, Sekretariat Komisi II DPR,
dan Bappenas terkait pengusulan dan pembahasan
anggaran proyek e-KTP.
Desember 2012 DPR menyetujui APBN tahun 2013 yang di dalamnya turut
memuat anggaran untuk proyek e-KTP sebesar
Rp.1.492.624.798.000.
2013 KPK membuka penyelidikan kasus e-KTP.
22 April 2014 KPK menetapkan kasus ini naik ke tahap penyidikan
dengan menetapkan Sugiharto sebagai tersangka.
24 April 2014 KPK menemukan sejumlah bukti kejanggalan dalam
proyek pengadaan paket penerapan e-KTP.
25 April 2014 Selain dugaan penggelumbungan dana proyek pengadaan
paket penerapan e-KTP, KPK juga menemukan dugaan
penyelewengan proses tender.
11 Mei 2016 BPKP mengeluarkan hasil laporan bahwa kerugian
keuangan negara akibat kasus ini sebesar Rp
2.314.904.234.275,39.
30 September KPK menetapkan Irman sebagai tersangka.
2016
9 Maret 2017 Irman dan Sugiharto mulai menjalani proses persidangan.

3.2 Hak Angket DPR


Usulan atas hak angket terhadap KPK bermula ketika dalam rapat kerja
Komisi III dengan KPK, KPK menolak permintaan untuk memutar rekaman BAP
tersangka pemberi keterangan palsu e-KTP, Miryam S. Haryani. Miryam
mengatakan dia mencabut BAP karena ada tekanan dari DPR dan menyebut
enam anggota Komisi III menekannya saat dia bersaksi di sidang kasus korupsi
e-KTP.
Digulirkannya hak angket DPR yang bertujuan meminta Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka rekaman pemeriksaan mantan
Anggota Komisi II DPR Miryam S Haryani, dinilai bisa menghambat penuntasan
kasus dugaan korupsi yang sedang ditangani KPK. Jika BAP atau rekaman, ke
luar duluan (dibanding di pengadilan), maka tersangka bisa kabur, atau saksi
yang bisa jadi tersangka kabur, orang yang terancam bisa mengancam saksi,
membunuh, bisa terjadi kekacauan dalam proses hukum.
KPK menghormati peran pengawasan DPR tapi tetap tidak bersedia
memutar rekaman BAP, dan jika bukti-bukti yang kami pegang diminta oleh

23
DPR, baik lewat rapat dengar pendapat atau hak angket atau mekanisme lain,
itu berisiko menghambat penanganan perkara. KPK berharap agar hak angket
tidak disalahgunakan atau digunakan hanya untuk kepentingan beberapa orang
saja, atau kepentingan lain.

3.3 Pembahasan

1. Fakta 1: Dua tersangka yakni Sugiharto dan Irman dijerat oleh KPK
dengan Pasal 2 atau 3 UU Tipikor juncto Pasal 55 KUHAP. (Kompas)
Kutipan Pasal 3 Setiap orang yang DAPAT merugikan keuangan
negara atau perekonomian negara.
2. Fakta 2: Pada April 2015, KPK meminta Badan Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan (BPKP) untuk segera menyelesaikan proses audit
jumlah kerugian negara akibat dugaan korupsi proyek e-KTP di
Kementerian Dalam Negeri. (Kompas) Dan kemudian BPKP menemukan
adanya kerugian negara sebesar Rp 2,3 triliun (Kompas) Untuk
memperkuat bukti penyidikan, KPK meminta keterangan enam auditor
BPKP pada 23 Januari 2017. (Sumber)
3. Fakta 3: Mahkamah Konstitusi menghilangkan frasa DAPAT dalam
Pasal 2(1) dan Pasal 3 UU Tipikor melalui putusan MK Nomor 25/PUU-
XIV/2016 pada 26 Januari2017. (Kompas). Artinya dakwaan atau
tuntutan yang menggunakan Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor harus
terpenuhi unsur kerugian negara yang nyata agar terpenuhinya delik.
Dan rumusan kerugian negara tergantung dari hasil audit pemeriksa
keuangan.
4. Fakta 4: Pada tanggal 9 Desember 2016, Mahkamah Agung
mengeluarkan Surat Edaran (SEMA) Nomor 4 Tahun2016 tentang
Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung
Tahun 2016 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan.
Pada Bagian A, angka 6 pada SEMA 4/2016 disebutkan bahwa instansi
yang memiliki kewenangan untuk menyatakan ada tidaknya kerugian
negara berada pada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang memiliki
kewenangan konstitusional. Badan audit lain, seperti BPKP (Badan

24
Pengawas Keuangan dan Pembangunan) hanya berwenang mengaudit
dan memeriksa pengelolaan keuangan negara.
Adapun dalam kasus e-KTP, kerugian negara dihitung oleh BPKP dan
ditegaskan bahwa ini menyangkut delik formil bukan matriil. Jaksa KPK akan
mendakwa Sugiharto dan Irman yang melakukan tindakan melawan hukum
hingga timbulnya kerugian negara. Unsur kerugian negara, dibuktikan
dengan hasil pemeriksaan keuangan BPKP. Jika majelis hakim berpegang
pada SEMA 4/2016, unsur kerugian negara belum terpenuhi karena yang
membuktikan bukan BPK sebagai badan yang berwenang. Bila demikian,
sidang gugur dan tidak dapat dilanjutkan. Hingga akhirnya, KPK mengajukan
perkara ini kembali dengan membawa pembuktian hasil pemeriksaan BPK.
Hasil audit korupsi mega proyek e-KTP, yang diaudit oleh BPKP adalah tidak
sah secara hukum dan hasil audit itu tidak konstitusional tetapi
inkonstitusional, dikarenakan BPKP tidak memiliki kewenangan untuk
menyatakan ada atau tidaknya kerugian negara akibat korupsi, karena BPKP
berbeda dengan BPK. BPKP juga tidak juga memiliki kewenangan melalukan
audit sebagaimana BPK.
Berdasarkan tinjauan kasus yang berkaitan dengan e-KTP dimana
pelaku melibatkan pejabat Kemendagri dan sederatan pejabat penting dan
pengusaha dalam negeri, maka jika lihat dari Akuntansi Forensik, BPK
sebagai lembaga negara yang memiliki kewenangan untuk mengaudit
keuangan negara. Jadi jelas bahwa akuntansi forensik adalah penggunaan
keahlian di bidang audit dan akuntansi yang dipadu dengan kemampuan
investigatif untuk memecahkan suatu masalah sengketa keuangan atau
dugaan fraud yang pada akhirnya diputuskan oleh pengadilan.

25
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
E-KTP card atau kartu identitas elektronik adalah dokumen yang berisi
demografi sistem keamanan/kontrol baik dari administrasi atau teknologi
informasi dengan database berdasarkan populasi nasional. Dimana ini sdah
diatur dalam kebijakan pemerintah tentang penerapan KTP berbasis NIK
(Nomor Induk Kependudukan) telah sesuai dengan pasal 6 Perpres No.26
Tahun 2009 tentang Penerapan KTP berbasis Nomor Induk Kependudukan
Secara Nasional Jo Perpres No. 35 Tahun 2010 tentang perubahan atas
Perpres No. 26 Tahun2009 bertujuan untuk terbangunnya penyimpanan
database kependudukan yang akurat ditingkat Kab/Kota, Provinsi dan Pusat
dengan menggunakan rekaman elektronik berupa biodata, tanda tangan, pas
foto, dan sidik jari tangan penduduk yang bersangkutan yang dapat berfungsi
sebagai identitas jati diri seseorang yang berlaku Nasional sehingga tidak perlu
lagi membuat KTP lokal untuk pengurusan izin, pembukaan rekening Bank, dan
sebagainya serta mencegah terjadinya terorisme di Indonesia. Namun,
kebijakan ini masih memiliki kekurangan disisi sampingnya yaitu kurangnya
sosialisasi pemerintah kepada daerah-daerah terpencil sehingga menyebabkan
tidak meratanya informasi serta terlaksananya kebijakan e-KTP ini. Yang
dimana kebijakan ini pula tidak memenuhi target pemerintah jika dilihat dari UU
RI No.23 Tahun 2006 dan PERPRES RI No. 26 Tahun 2009 untuk akhir tahun
2011.
Oleh karena itu, kebijakan e-KTP ini masih perlu dibenahi dari sistem maupun
pelaksanaanya agar masyarakat Indonesia juga dapat menjalankannya dengan
baik sertatercapainya tujuan yang telah dibuat pemerintah yaitu tercapainya
Indonesia yang suksesmengikuti perkembangan zaman dengan kebijakannya.

4.2 Saran
Mulailah mengingatkan diri sendiri dan lingkungan sekitar terlebih dahulu. Kritis
dalam menyikapi permasalahan dalam negeri ini, jangan sampai karena
kurangnya kritis dari warga negara kita ini khususnya bagi pemuda membuat
negara kita semakin krisis.

26
DAFTAR PUSTAKA
Tuanakotta, M.Theodorus. Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif,
Jakarta: Salemba Empat, 2010.

https://seword.com/politik/dakwaan-mega-korupsi-e-ktp-kpk-menang-telak-
kuasa-hukum-memalukan-begini-penjelasan-hukumnya/
https://diantrilestari.wordpress.com/2010/05/23/audit-investigasi/
http://halimmubaroq.blogspot.co.id/2013/02/audit-investigatif.html
http://keuanganlsm.com/audit-investigasi-special-audit/
http://informasijadwalpelatihan.com/tag/konsep-dasar-audit-investigatif/
http://meandmybubble.blogspot.co.id/2015/10/audit-investigatif.html
https://kumparan.com/aditiarizkinugraha/bedah-dakwaan-e-ktp-aturan-ditabrak-
etika-dibuang-demi-uang

27