Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Pelayanan kefarmasian berdasarkan Kepmenkes RI Nomor
1027/MENKES/SK/IX/2004 pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat
ke pasien yang mengacu kepada Pharmaceutical Care. Kegiatan pelayanan
kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai
komoditi menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup dari pasien (Kepmenkes RI No.
1027/MENKES/SK/IX/2004). Menurut PP RI Nomor 51 Tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian, pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung
dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi
dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan
pasien (PP RI No 51 Tahun 2009).
Apotek merupakan salah satu media pelayanan kesehatan dalam
membantu mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat. Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan
secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan
penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atau
masyarakat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin
Apotek pasal 1 ayat (a), Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan
pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi, perbekalan kesehatan
lainnya kepada masyarakat. Salah satu realisasi pembangunan dibidang farmasi
oleh pemerintah dan swasta adalah dengan menyediakan sarana pelayanan
kesehatan salah satunya apotek (Permenkes RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002).
Jadi, apotek adalah suatu bisnis eceran/retail yang komoditinya terdiri atas :
perbekalan farmasi (obat dan bahan obat) dan perbekalan kesehatan (alat

1
kesehatan). Sebagai perantara apotek dapat mendistribusikan perbekalan farmasi
dan perbekalan kesehatan dari supplier kepada konsumen, memiliki beberapa
fungsi kegiatan yaitu : pembelian, gudang, pelayanan dan penjualan, keuangan
dan pembukuan, sehingga dapat dikelola dengan baik. Apotek bukanlah suatu
badan usaha yang semata mata hanya mengejar keuntungan saja tetapi apotek
mempunyai fungsi sosial yang menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan
perbekalan farmasi yang bermutu baik dan terjamin keabsahannya.
Apotek dibentuk dan didirikan untuk memperluas akses obat murah dan
terjamin kepada masyarakat. Apotek bertujuan untuk menertibkan peredaran obat-
obat palsu dan illegal, serta memberikan kesempatan pada para apoteker untuk
memberikan pelayanan kefarmasian. Dalam upaya usaha untuk memajukan
kesejahteraan umum yang berarti mewujudkan suatu tingkat kehidupan secara
optimal, yang memenuhi kebutuhan manusia termasuk kesehatan, maka pendirian
apotek ini dapat menyebarkan obat secara merata sehingga dapat memudahkan
masyarakat untuk mendapatkan obat yang bermutu dengan harga terjangkau.
Apotek dipimpin oleh seorang Apoteker Pengelola Apotek (APA) yang
telah diberi ijin mengelola apotek. Dalam mengelola apotek, Apoteker dibantu
oleh beberapa Asisten Apoteker (AA) (Anonim, 2004 dalam Satubi dkk, 2007).
Demikian Apoteker Pengelola Apotek (APA) dalam menjalankan profesi
apotekernya di apotek tidak hanya pandai sebagai penanggung jawab, melainkan
juga dapat mengelola apotek sesuai dengan prinsip-prinsip bisnis tanpa
memberikan keuntungan kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan / stake
holder semata melainkan juga memiliki fungsi sosial di masyarakat.
II. Tujuan
Bedasarkan latar belakang di atas maka tujuan makalah ini adalah :
a. Mengetahui alur, skema pendirian dan perizinan apotek bedasarkan
Kepmenkes
b. Mengetahui syarat, cara pendirian dan perizinan apotek yang baik.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Apotek
A. Pengertian Apotek
Apotek adalah tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian
dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada
masyarakat (Kepmenkes RI No. 1027/MENKES/SK/IX/2004)
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh apoteker (PP RI No 51 Tahun 2009)
Apotek merupakan salah satu media pelayanan kesehatan dalam
membantu mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat. Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan
secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan
penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan
atau masyarakat.

B. Tugas dan Fungsi Apotek


Berdasarkan PP No 51 Tahun 2009, tugas dan fungsi apotek yaitu :
1. Tempat pengabdian tenaga kefarmasian yaitu Apoteker dan Tenaga
Teknis Kefarmasian
2. Sarana yang digunakan untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian oleh
tenaga kefarmasian
3. Sarana yang digunakan untuk memproduksi dan distribusi sediaan farmasi
antara lain obat, bahan baku obat, obat tradisional, dan kosmetika.
4. Sarana pembuatan dan pengendalian mutu Sediaan Farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat,
pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi
obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional

3
C. Persyaratan Apotek
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MENKES/PER/X/1993
pasal 6 :
1. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerjasama
dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap
dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan
lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain
2. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan
pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi
3. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya diluar
sediaan farmasi

D. Pendirian Apotek
Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No.1332/Menkes/SK/X/2002 pasal 4:
1. Izin Apotek diberikan oleh Menteri;
2. Menteri melimpahkan wewenang pemberian izin Apotek kepada Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota;
3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan
pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin
apotik sekali setahun kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada
Kepala Dinas Kesehatan Propinsi;
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemohon agar dapat memperoleh surat
izin pendirian apotek
Surat Permohonan Izin usaha pendirian Apotek
Surat Perjanjian Akta Notaris Apoteker dengan PSA (Pemilik Sarana
Apoteker)
Surat Pernyataan Apoteker tidak Terlibat UU Kefarmasian bermaterai
6000
Surat Penugasan
Surat Sumpah
Ijazah Apoteker

4
Surat Penyataan Apoteker Tidak Bekerja di Apotek Lain Bermaterai
6000
Fotocopy KTP Pemohon
Ijazah Asisten Apoteker
Surat Penugasan Asisten Apoteker
Surat Pernyataan Asisten Apoteker bekerja Full Time di Apotek
tersebut bermaterai 6000
Surat Pernyataan Asisten Apoteker Tidak Bekerja di Apotek lain
bermaterai 6000
KTP Asisten Apoteker
SITU( Surat Izin Tempat Usaha )
Daftar Ketenagaan
Pas Photo Ukuran 4 x 6 sebanyak 3 lembar
E. Perizinan Apotek
1. Tata Cara Pengurusan Izin Apotek
Tata cara mengurus izin Apotek berdasarkan Kepmenkes
No.1332/Menkes/SK/X/2002 yaitu :
a) Yang berwenang member izin SIA : Kadinkes Kabupaten/Kota
Surat Izin Apotek atau SIA adalah Surat izin yang diberikan oleh
Menteri kepada Apoteker atau Apoteker bekerjasama dengan pemilik
sarana untuk menyelenggarakan Apotekdi suatu tempat tertentu.
b) Yang berhak memperoleh izin : Apoteker
Apoteker adalah Sarjana Farmasi yang telah lulus dan telah
mengucapkan sumpah jabatan apoteker, mereka yang berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan
pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai Apoteker.

2. Mekanisme Pengajuan Pendirian Apotek

a) Mengajukan berkas permohonan di loket pelayanan


b) Pemeriksaan berkas (lengkap)
c) Survey ke lapangan (apabila perlu)

5
d) Penetapan SKRD
e) Proses Izin
f) Pembayaran di Kasir
g) Penyerahan Izin Pendirian Apotek.

3.Ketentuan Pemberian Izin Apotek


Ketentuan pemberian izin apotek adalah sebagai berikut (Kepmenkes
No.1332/Menkes/SK/X/2002) :
a) Permohonan Izin Apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota
b) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam)
hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis
kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat
terhadap kesiapan Apotek untuk melakukan kegiatan;
c) Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POMselambat-
lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis
dariKepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil
pemeriksaan setempat
d) Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan (3)
tidakdilaksanakan, Apoteker Pemohon dapat membuat surat pernyataan
siapmelakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat
e) Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan
hasilpemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (3), atau pernyataan
dimaksud ayat (4)Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat
mengeluarkan Surat IzinApotek
f) Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau
KepalaBalai POM dimaksud ayat (3) masih belum memenuhi syarat
Kepala DinasKesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 (dua
belas) hari kerjamengeluarkan Surat Penundaan

6
g) Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6),
Apotekerdiberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum
dipenuhi selambat-lambatnyadalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak
tanggal Surat Penundaan.

4. Prosedur dan Administrasi Pemberian Izin Apotek


Prosedur dan administrasi pemberian izin apotek (Hartono, Rudi. 2008: 16-
17) :
Apoteker mengajukan surat permohonan SIA kepada Kepala Dinas
Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten/Kota setempat, dengan lampiran :
a) Fotokopi SP (Surat Penugasan) / Surat Izin Kerja Apoteker
b) Fotokopi denah bangunan dan keterangan kondisi bangunan
c) Surat keterangan status bangunan (hak milik atau sewa)
d) Daftar tenaga kesehatan (Asisten Apoteker)
e) Daftar alat perlengkapan Apotek (Alat pengolahan/peracikan, alat
perlengkapan farmasi/lemari, dan buku-buku standard)
f) Surat pernyataan tidak bekerja di perusahaan farmasi lain atau tidak
menjadi APA di Apotek lain
g) Surat izin atasan (untuk pegawai negeri dan ABRI)
h) Akte perjanjian kerja sama dengan Pemilik Sarana Apotek (PSA)

7
i) Surat keterangan PSA tidak terlibat pelanggaran peraturan perundang-
undangan di bidang obat
j) Apotek kemudian akan diberikan Surat Izin Apotek (SIA) yang merupakan
izin untuk penyelenggaraan apotik di suatu tempat tertentu
Izin Apotek berlaku untuk seterusnya selama apotik yang bersangkutan
masih aktif melakukan kegiatan dan Apoteker Pengelola Apotek dapat
melaksanakan pekerjaannya dan masih memenuhi persyaratan. Untuk
memperoleh izin apotek tidak dipungut biaya dalam bentuk apapun (Peraturan
Menteri Kesehatan No. 922/MENKES/PER/X/1993 pasal 2).

5. Pencabutan Surat Izin Apotek


Apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugasnya
lebih dari 2 (dua) tahun secara terus menerus, Surat Izin Apotek atas nama
Apoteker bersangkutan dicabut (Keputusan Menteri Kesehatan
No.1332/Menkes/SK/X/2002 pasal 19 ayat 5).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.1332/Menkes/SK/X/2002
pasal 25 ayat 1, yaitu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mencabut
surat izin apotek apabila:
a) Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan yang dimaksud pasal 5 dan
atau;
b) Apoteker tidak memenuhi kewajiban dimaksud dalam Pasal 12(1) Apoteker
berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan Sediaan Farmasi
yang bermutu baik dan yang keabsahannya terjamin; (2) Sediaan Farmasi
yang karena sesuatu hal tidak dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan,
harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain
yang ditetapkan oleh Menteri) dan Pasal 15 ayat (2) (apoteker tidak
diizinkan untuk menganti obat generic yang ditulis didalam resep dengan
obat paten) dan atau;
c) Apoteker Pengelola Apotek terkena ketentuan dimaksud dalam pasal 19
ayat(5) dan atau;

8
d) Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-
undangan,sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 (Pelanggaran terhadap
Undang-undang obat keras Nomor. St. 1937 No. 541, Undangundang No.
23 tahun 1992 tentang Kesehatan, Undang-undang No. 5 tahun 1997 tentang
Psikotropika, Undang-undang No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika, serta
ketentuan peraturan perundang-undangan lain yang berlaku) dan atau;
e) Surat Izin Kerja Apoteker Pengelola Apotek dicabut dan atau;
f) Pemilik sarana Apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran Perundang-
undangandi bidang obat, dan atau;
g) Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan dimaksud dalam pasal 6.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebelum melakukan pencabutan
sebagaimana dimaksud ayat (1) berkoordinasi dengan Kepala Balai POM
setempat.
6. Berikut Syarat-syarat Pengajuan Izin Apotek dengan Berbagai Kondisi:
A. Perpanjangan Izin Apotek
a) Surat Permohonan Perpanjangan Izin Apotek yang ditujukan kepada
Kepala Dinas Kesehatan
b) SIA lama (asli)
c) Foto copy Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA).
d) Foto copy Kartu Tanda Penduduk.
e) Rekomendasi organisasi profesi (PermenkesNo.922/MENKES/PER/X/1993)
B. Pergantian Apoteker
a) Surat permohonan izin Apotek karena pergantian APA yang dituju
kepada kepala Dinas Kesehatan
b) Foto copy SIPA Apoteker Baru/ Pengganti
c) Foto copy Kartu Tanda Penduduk Apoteker pengganti.
d) Berita Acara serah terima obat dari apoteker lama kepada apoteker baru
e) Surat Pernyataan dari Apoteker Pengelola Apotek pengganti bahwa tidak
bekerja tetap pada perusahaan farmasi lain dan tidak menjadi apoteker
pengelola apotek di apotek lain
f) Asli dan foto copy surat izin atasan bagi pemohon PNS , ABRI.

9
g) Akte Perjanjian Kerja Sama APA dengan PSA.
h) Rekomendasi dari organisasi profesi.
i) SIA lama asli (PermenkesNo.922/MENKES/PER/X/1993).
C.Pergantian Pemilik
a) Surat Permohonan Izin Apotek karena Pergantian PSA kepada Kepala
Dinas Kesehatan
b) Surat yang menyatakan status bangunan dalam bentuk Akte Hak Milik/
Sewa/Kontrak.
c) Akte perjanjian kerja sama APA dan PSA
d) Surat pernyataan PSA tidak terlibat pelanggaran peraturan perundang-
undangan bidang obat (bermaterai)
e) Menyerahkan SIA lama asli.
D. Apotek Pindah Lokasi

a) Data Apoteker Pendamping (untuk apotek yang belum punya Aping)


b) Data Ketenagaan terakhir
c) Foto Copy Izin Gangguan (HO)
d) Foto Copy KTP Pemohon / Pemilik
e) Foto Copy KTP pemegang kuasa (jika dikuasakan)
f) Foto Copy Surat Izin Apotek lama
g) Foto Copy Surat Penugasan / Surat Izin Kerja Apoteker
h) Hasil pemeriksaan kualitas air dari Laboratorium Dinas Kesehatan
i) Salinan/Foto Copy Denah Bangunan dan Peta lokasi
j) Surat Permohonan
k) Surat Permohonan Surat Izin Apotek karena pindah lokasi
l) Surat kuasa bermaterai Rp 6.000,- atau Surat Tugas bila tidak bisa
mengurus sendiri
m) Surat pernyataan APA/Aping tidak bekerja tetap pada perusahaan farmasi
lain dan tidak menjadi APA di apotek lain (bermaterai Rp 6.000,-)
n) Surat yang menyatakan status bangunan dalam bentuk akte hak
milik/sewa/kontrak

10
xx: Semua berkas syarat di atas dibuat rangkap 2 (dua) :xx

Prosedur untuk mendapatkan perizinan:


Pemohon mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan
dengan dilampiri persyaratan yang telah ditentukan dan mengisi formulir
yang telah disediakan.
E. Apotek Ganti Nama
a). Data Ketenagaan terakhir
b). Foto Copy Izin Gangguan (HO)
c). Foto Copy KTP Pemohon / Pemilik
d). Foto Copy KTP pemegang kuasa (jika dikuasakan)
e). Foto Copy Surat Izin Apotek lama
f). Foto Copy Surat Penugasan / Surat Izin Kerja Apoteker Pendamping
g). Foto Copy Surat Penugasan / Surat Izin Kerja Apoteker Pengelola Apotek
h). Hasil pemeriksaan kualitas air dari Laboratorium Dinas Kesehatan Kab. Sleman
i). Surat Permohonan
j). Surat Permohonan Surat Izin Apotek karena pergantian Nama
k). Surat kuasa bermaterai Rp 6.000,- atau Surat Tugas bila tidak bisa mengurus
sendiri
l). Surat pernyataan APA/Aping tidak bekerja tetap pada perusahaan farmasi lain
dan tidak menjadi APA di apotek lain (bermaterai Rp 6.000,-)
xx: Semua berkas syarat di atas dibuat rangkap 2 (dua) :xx
Prosedur untuk mendapatkan perizinan:
Pemohon mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan dengan
dilampiri persyaratan yang telah ditentukan dan mengisi formulir yang telah
disediakan.
II. Apoteker
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan Apoteker (PP 51 Tahun 2009). Apoteker
Penanggung Jawab dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/atau Tenaga
Teknis Kefarmasian. Apoteker dapat mendirikan apotek dengan modal sendiri
dan/atau modal dari pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan. Dalam

11
hal Apoteker yang mendirikan Apotek bekerja sama dengan pemilik modal maka
pekerjaan kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh Apoteker yang
bersangkutan. Apoteker yang menjalankan Pekerjaan Kefarmasian harus memiliki
sertifikat kompetensi profesi(PP 51 Tahun 2009).
A. Persyaratan Apoteker Pengelola Apotek
Untuk menjadi Apoteker Pengelola Apotek harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut (Keputusan Menteri Kesehatan No.1332/Menkes/SK/X/2002
pasal 5) :
1. Ijazahnya telah terdaftar pada Departemen Kesehatan
2. Telah mengucapkan sumpah/janji sebagai apoteker
3. Memiliki Surat Izin Kerja dari Menteri
4. Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan
tugasnya sebagai apoteker
5. Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan tidak menjadi Apoteker
Pengelola Apotek di apotek lain.

12
BAB III

KESIMPULAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan hal-hal yang telah dimuat pada bab pembahasan, maka dapat
disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

Tata cara mengurus izin Apotek berdasarkan Kepmenkes


No.1332/Menkes/SK/X/2002 yaitu :
a. Yang berwenang member izin SIA : Kadinkes Kabupaten/Kota
Surat Izin Apotek atau SIA adalah Surat izin yang diberikan oleh Menteri
kepada Apoteker atau Apoteker bekerjasama dengan pemilik sarana untuk
menyelenggarakan Apotekdi suatu tempat tertentu.
b. Yang berhak memperoleh izin : Apoteker
Apoteker adalah Sarjana Farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan
sumpah jabatan apoteker, mereka yang berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia
sebagai Apoteker.

Pendirian Apotek Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan


No.1332/Menkes/SK/X/2002 pasal 4:
1. Izin Apotek diberikan oleh Menteri;
2. Menteri melimpahkan wewenang pemberian izin Apotek kepada Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota;
3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan
pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotik
sekali setahun kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala
Dinas Kesehatan Propinsi;

13
DAFTAR PUSTAKA

Hartono, Rudi. 2008. Laporan Praktek Kerja Profesi Farmasi Komunitas/Apotek.


Medan : Fak Farmasi USU
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata cara Pemberian
Izin Apotik.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek
Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan
dan Tata cara Pemberian Izin Apotik.
Satubi, Nova Hasani Furdiyanti dan Maya Rahmawati, 2007. Evaluasi kinerja suatu
apotek X di Yogyakarta dengan pendekatan Balanced Scorecard,
Majalah Farmasi Indonesia, 18(2), 71 80, 2007. Fakultas Farmasi
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

14