Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PERAWATAN

MOTOR LISTRIK

Dosen Pembimbing: Harita Nurwahyu Chamidy., LRSC., MT.

Kelompok / Kelas : 2 / 2C- D3 Teknik Kimia


Nama : 1. Arief Arisyarvi NIM. 151411069
2. Arisya Julviana NIM. 151411070
3.Dhiya Tsuraya S. . NIM. 151411072

Tanggal Praktikum : 29 Mei 2017


Tanggal Pengumpulan Laporan : 5 Juni 2017

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
TAHUN 2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Motor listrik adalah suatu peralatan dasar yang dipergunakan dalam suatu unit alat
pendukung proses di industry. Peralatan pendukung proses yang penting diketahui
menggunakan motor listrik antara lain: pompa, kompresor, blower/fan, motor pengaduk, dan
lain-lain. Penggunaannya yang luas merupakan hal yang harus diketahui oleh mahasiswa,
agar dalam keseharian penerapan motor listrik di industry dapat tepat dalam memahami
permasalahan.

1.2 Tujuan
Setelah melakukan percobaan, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Mengetahui cara kerja dan fungsi motor listrik
2. Dapat menguraikan dan merangkaikan suatu unit motor listrik
3. Mengetahui bagian-bagian motor listrik
4. Mengetahui metoda perawatan motor listrik
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian
Motor listrik merupakan sebuah perangkat elektromagnetis yang mengubah energi listrik
menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini bisa digunakan untuk menggerakkan sebuah sistem kerja
lainnya, misalnya memutar impeller pompa, fan atau blower, menggerakan kompresor, mengangkat
bahan, dan lain lain. Motor listrik digunakan di rumah dan juga di industri. Motor listrik kadangkala
disebut kuda kerja nya industri sebab diperkirakan bahwa motor-motor menggunakan sekitar 70%
beban listrik total di industri dan merupakan kekuatan penggerak yang utama dari sebuah mesin di
industri. (Siswanto, 2012)

Gambar 1. Motor listrik satu fasa (Robith, 2015)

Prinsip motor listrik adalah proses pembangkitan medan magnet bolak-balik dalam suatu
rotor dan stator. Rotor adalah bagian yang dapat bergerak dan stator adalah bagian yang tetap.
Pengaruh medan magnet tersebut dapat menyebabkan rotor berputar. Dengan prinsip diatas dikenal
tiga jenis motor listrik, yaitu : motor arus searah, motor arus bolak-balik, dan motor tiga fasa.
(Moehady)
Motor listrik arus searah frekuensi putarannya diatur dengan menggunakan tahanan.
Pengaturannya dapat dilakukan secara sinambung, muli dari frekuensi nol sampai dengan maksimum.
Frekuensi putaran yang tinggi misalnya 750 rpm, 1000 rpm, 1500 rpm, dan 3000 rpm. Motor jenis ini
digunakan bila motor tiga fasa tidak memenuhi pengaturan ptaran yang tidak diinginkan, karena
motor jenis ini mahal dan biaya perawatannya tinggi. Motor satu fasa merupakan penggerak berdaya
kecil, misalnya untuk penggerak alat pengendali dan alat laboratorium yang bertegangan 220 volt
kadang dipakai pula sinkron pada saklar. (Moehady)

2.2 Konstruksi Motor Induksi Satu Fasa


Gambar 2. Bagian motor induksi satu fasa (Irvine, 2006)

No. Description Qty No. Description Qty


1 ODE Ball Bearing 1 11 External Snap Ring* 1
2 Centrifugal Mechanism 1 12 Outside Fan* 1
3 Shaft / Rotor Assembly 1 13 Thru-Bolt 1
4 Bearing Cap 1 14 Wave Washer 1
5 DE Ball Bearing 1 15 Terminal Box Assembly 1
6 Capacitor Cover 1 16 Lead Seal 1
7 Start Capacitor 1 17 Frame / Stator Assembly 1
8 Stationary Switch 1 18 DE Bracket 1
9 ODE Bracket 1 19 Slinger 1
10 Fan Cover* 1
Tabel 1. Keterangan bagian motor

Terdapat 2 bagian penting pada motor induksi 1 fasa, yaitu: rotor dan stator. Rotor
merupakan bagian yang berputar dari motor dan stator merupakan bagian yang diam dari
motor. Rotor umumnya berbentuk silinder dan bergerigi sedangkan stator berbentuk silinder
yang melingkari seluruh badan rotor. Stator harus dilengkapi dengan kutub-kutub magnet
dimana kutub utara dan selatan pada stator harus sama dan dipasang melingkari rotor sebagai
suplai medan magnet dan kumparan stator untuk menginduksi kutub sehingga menciptakan
medan magnet. Stator umumnya dilengkapi dengan stator winding yang bertujuan membantu
putaran rotor, dimana stator winding dilengkapi dengan konduktor berupa kumparan. Selain
itu, stator juga dilapisi dengan lamina berbahan dasar silikon dan besi yang bertujuan untuk
mengurangi tegangan yang terinduksi pada sumbu stator dan mengurangi dampak kerugian
akibat munculnya arus eddy (eddy current) pada stator. Rotor umumnya dibuat dari
alumunium dan dibuat bergerigi untuk menciptakan celah yang akan diisi konduktor berupa
kumparan. Selain itu, rotor juga dilapisi dengan lamina untuk menambah kinerja dari rotor
yang digunakan. (www.learnengineering.org)
Masing-masing komponen dipasang pada besi yang ditunjukkan seperti pada gambar
berikut:

Gambar 3. Konstruksi Motor Induksi 1 Fasa (www.learnengineering.org)

2.3 Prinsip Kerja Motor Induksi 1 Fasa


Misalkan kita memiliki sebuah motor induksi 1 fasa dimana motor ini disuplai oleh
sebuah sumber AC 1 fasa. Ketika sumber AC diberikan pada stator winding dari motor, maka
arus dapat mengalir pada stator winding. Fluks yang dihasilkan oleh sumber AC pada stator
winding tersebut disebut sebagai fluks utama. Karena munculnya fluks utama ini maka fluks
medan magnet dapat dihasilkan oleh stator.
Gambar 4. Dampak adanya arus pada stator (http://www.learnengineering.org)

Misalkan lagi rotor dari motor tersebut sudah diputar sedikit. Karena rotor berputar
maka dapat dikatakan bahwa konduktor pada rotor akan bergerak melewati stator winding.
Karena konduktor pada rotor bergerak relatif terhadap fluks pada stator winding, akibatnya
muncul tegangan ggl (gaya gerak listrik) pada konduktor rotor sesuai dengan hukum faraday.
Anggap lagi motor terhubung dengan beban yang akan dioperasikan. Karena motor
terhubung dengan beban maka arus dapat mengalir pada kumparan rotor akibat adanya
tegangan ggl pada rotor dan terhubungnya rotor dengan beban. Arus yang mengalir pada
rotor ini disebut arus rotor. Arus rotor ini juga menghasilkan fluks yang dinamakan fluks
rotor. Interaksi antara kedua fluks inilah yang menyebabkan rotor didalam motor dapat
berputar sendiri. Perlu diingat bahwa pada kondisi awal diasumsikan rotor sudah diberi gaya
luar untuk menggerakkan konduktor pada rotor, karena jika tidak maka rotor akan diam
terhadap fluks pada kumparan stator sehingga tidak terjadi tegangan ggl pada kumparan
rotor, sesuai dengan hukum faraday.
Gambar 5. Putaran pada rotor akibat fluks (http://www.learnengineering.org)

2.4 Jenis-Jenis Motor Induksi Satu Fasa


Motor induksi satu fasa ini memiliki 4 jenis berdasarkan bagaimana motor ini diaktifkan
sendiri (self-starting).
1. Motor Induksi Split-Phase
Motor Jenis ini menggunakan kapasitor di salah satu stator windingnya, dimana
besarnya kapasitas dari kapasitor sebisa mungkin dibuat kecil. Misalkan kita memiliki
sumber arus 2 fasa dan sumber ini disambungkan pada motor jenis ini, maka arus
yang mengalir pada salah satu winding akan membesar dan mengalami pergeseran
fase. Akibat 2 hal tersebut, motor akan dapat berputar karena perbedaan fluks dari
masing-masing winding. Torsi yang dihasilkan umumnya dapat mencapai kecepatan
maksimum dari motornya. Motor jenis ini sering dipakai pada beban 200W. Peletakan
kapasitor sangat berpengaruh pada rangkaian ini karena dapat mengubah aras fluks
yang dihasilkan dan sebagai akibatnya mengubah arah putaran rotor.

Gambar 6. Rangkaian Ekivalen Split-Phase (www.allaboutcircuits.com)


2. Motor Induksi Capasitor-Start
Motor jenis ini kurang lebih sama dengan motor induksi tipe split-phase.
Perbedaannya ialah adanya switch yang dipasang antara salah satu stator winding dan
kapasitor. Kondisi dari switch akan menjadi close saat motor mulai berputar dan
menjadi open ketika motor mulai mencapai kecepatan yang diinginkan. Umumnya
belitan pada winding yang diserikan dengan kapasitor dibuat lebih banyak untuk
mencegah panas berlebihan pada winding tersebut. Motor jenis ini dipakai pada alat
elektronik yang memakan daya tinggi seperti AC.

Gambar 7.Rangkaian Ekivalen Capacitor-Start (www.allaboutcircuits.com)

3. Motor Induksi Capacitor-Run


Perbedaan motor tipe ini dengan motor sebelumnya ialah adanya kapasitor yang besar
yang di-paralel dengan switch dan kapasitor lainnya (yang kecil). Umumnya motor
induksi tipe ini bekerja pada torsi yang lebih tinggi sama seperti motor sebelumnya,
hanya saja arus yang mengaliri motor cukup kecil.

Gambar 8. Rangkaian Ekivalen Capacitor Run (www.allaboutcircuits.com)

4. Motor Induksi Shaded Pole


Motor ini memiliki nama Shaded Pole karena 1/3 dari kutub pada stator ditutup
dengan tembaga untuk menghasilkan perbedaan sudut fluks yang lebih besar. Akibat
perbedaan ini, rotor pada motor dapat berputar dengan mudah. Kedua winding pada
motor tipe ini tersambung paralel secara langsung (tanpa ada komponen lain), namun
pada salah satu winding diberikan coil tap untuk mengatur kecepatan motor. Motor
tipe ini memiliki torsi starting yang sangat rendah sehingga sering digunakan pada
alat-alat elektronik disekitar kita, seperti kipas angin.

Gambar 9. Rangkaian Motor Induksi Shaded Pole (www.allaboutcircuits.com)


BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


1. Motor listrik satu fasa
2. Kunci pas
3. Kunci L
4. Obeng
5. Lap pembersih

3.2 Cara Kerja

Mengambil motor listrik melalui teknisi dan mengambil peralatan untuk membongkar
sesuai keperluan. Bawa ke ruang pilot plant untuk pengerjaan.

Mendownload manual motor Single Phase Motor O & M Manual 032106 - Sterling
Electric

Mencatat data Nameplate

Mengikuti petunjuk untuk perawatan dengan membongkar motor listrik. Lakukan


pembersihan dan pelumasan sesuai petunjuk manual (bila perlu). Ambil fotonya.

Mengidentifikasi dan mencatat kondisi motor listrik, ambil foto untuk setiap
identifikasi

Melakukan perawatan dengan memperbaiki kekurangan dan kerusakan yang


teridentifikasi sesuai petunjuk. Jika tidak mampu untuk dilakukan perbaikan atau
melengkapi kekurangan, tulis di bagian hasil pada tabel yang dibuat

Merangkai kembali motor listrik yang telah di bongkar.

Membersihkan kembali ruang kerja dan mengembalikan motor listrik beserta


peralatan yang dipinjam ke teknisi.
3.3 Start Up dan Trouble Shooting

3.3.1 Start Up

Mengeringkan lilitan-lilitan motor jika motor disimpan pada lokasi yang


lembab. Dalam pengeringan, HINDARI suhu 1940F (900C).

Putuskan sambungan muatan dan hidupkan motor. Cek arah dari putaran.
Konsultasikan diagram koneksi dengan pelat nama motor untuk mengganti
arah rotasi pada bi-directional motor.

Menyambungkan muatan motor. Motor harus dihidupkan dengan cepat dan


jalankan perlahan. Jika tidak, matikan langsung energi. Cek kembali
sambungan termasuk semua koneksi sebelum memulai ulang. Operasikan
dibawah muatan selama satu jam. Amati apakah terjadi kebisingan yang
tidak biasa atau pemanasan yang meningkat dan cek operasi aliran terhadap
data pelat nama.

Jika getaran berlebih terdeteksi, cek pada perbaikan baut yang hilang,
struktur penunjang motor yang terlalu lentur, atau transmisi getaran dari
permesinan yang berbatasan. Cek ulang kesejajaran katrol antara motor dan
peralatan kemudi.

Catatan : Mutu elektrik mulai motor kapasitas satu fase menggunakan


mekanisme saklar mekanik sentrifugal untuk menjalankan dan mematikan lilitan awal
muali. Mekanisme saklar mungkin terdengar jalan ketika motor dimatikan dan tangkai
berputar kebawah. Ini merupakan pertimbangan operasi normal.
3.3.2 Trouble Shooting
Gejala yang
No. Penyebab Penanggulangan
Mungkin Terjadi
Motor tidak dapat a.Tidak tersambung a.Sambungkan dengan benar dari
dijalankan dengan benar diagram motor
b.Sambungan energi a. Gunakan koreksi sumber energi
tidak terpasang dengan yang benar
benar c. Benarkan kondisi sirkuit terbuka
c. Sekring keluar, hilang d. Benarkan kondisi sirkuit terbuka
atau koneksi terbuka e. Cek dan koreksi :
d. Kontrol sirkuit 1. Tangkai bengkok
terbuka 2. Rumah rusak
1.
e. Putarkan bagian- 3. Penghubung rusak
bagian dari motor yang 4. Terhempas atau baling-
mungkin terhempas baling rusak
secara mekanis 5. Benda-benda asing dalam
f. Mesin kendali motor
mungkin terhempas f. Benarkan saat kondisi terhempas
g. Tidak ada sumber g. Cek daya listrik pada motor dan
daya kembalikan ke sumber daya
h. Kapasitor cacat h. Kapasitor diganti
Motor dihidupkan, a. Sama seperti 1-a, b, c Mengurangi muatan untuk
tetapi kecepatan di atas membawa aliran sesuai batas.
2.
tidak naik b. Kelebihan muatan Gunakan sekering yang tepat dan
pertahan muatan berlebih

Motor listrik yang Sama seperti 1-a, b, c di


3.
bising atas
Motor berjalan a. Sama seperti 1-a, b, c b. Menurunkan muatan
panas. Melebihi di atas c. Hilangkan gangguan
peringkat b. Kelebihan muatan d. Menurunkan nilai saat
c. Ventilasi yang tidak dihidupkan atau pembalikan dan
terpasang selamatkan bagian motor yang
4. d. Memulai dan berhenti baik untuk tugas ini
secara berkala e. Mengecek dan memperbaiki
e. Daya listrik yang sumber daya
tidak seimbang atau
sumber daya yang tidak
seimbang secara berkala
Motor bising secara a. Katrol atau gigi a. Benarkan yang tidak rata
mekanis jentera yang tidak rata b.Temukan bagian yang tidak
b. Tidak seimbang simbang, lalu seiumbangkan.
secara mekanis dari c. Gunakan pelumasan yang benar,
bagian-bagian yang dan gantikan bagian-bagian yang
berputar sesuai
c. Kurangnya atau d. Membersihkan dan gantikan
salahnya pelumasan sambungan
d. Material asing yang e. Membuang kondisi kelebihan
5.
dilumasi muatan. Gantikan bagian-bagian
e. Kelebihan yang rusak.
f. Goncangan muatan f. Memperbaiki penyebab dan
g. Bongkar sebagai mengganti bagian-bagian rusak
tindakan pengeras dari g. Mengisolasi motor dari dasar
kebisingan normal h.Gantikan sambungan, poros
h. Menyeret rotor karena (tangkai) atau siku-siku selama
pemakaian sambungan, dibutuhkan
poros atau siku-siku
Kerusakan a. Sama seperti 5-a, b, c, a. Mengganti sambungan dan
Sambungan d, e di atas mengikuti (5-a,b,c,d,e di atas)
b. Masuknya air atau b. Mengganti sambungan dan
6.
benda asing ke dalam perlindungan terhadap masuknya
sambungan rumah benda asing (air, debu, dll).
Gunakan penyangga motor

Pola-Pola Tipikal Pemanasan


No. Penyebab Terjadi karena Penampilan
Gulungan yang a. Lembab, berkimia, a. Hitam atau gulungan terbakar
pendek material asing dalam dengan sama baik.
1. motor, kerusakan b. Hitam atau gulungan terbakar
b. Kegagalan saklar dengan sama baik. Terbakar karena
bergerak kontak sakelar yang bergerak.

100% Kepanasan a. Kelebihan muatan a. Terbakar dengan kata lain


b. Stalled keseluruhan
c. Ventilasi yang tidak b. Terbakar dengan kata lain
tersambung keseluruhan
d. Pembalikan secara c. Terbakar dengan kata lain
2.
bertahap atau memulai keseluruhan
e. Daya yang tidak d. Terbakar dengan kata lain
sesuai keseluruhan
e. Terbakar dengan kata lain
keseluruhan
Lainnya a. Koneksi yang tidak a. Terbakar tidak tetap yang
pantas berkelompok atau titik terbakar
b. Pentanahan b. Kerusakan yang buruk pada titik
3.
terbakar
3.4 Perawatan

Inspeksi : Periksa jarak waktu regular motor. Jaga motor tetap bersih dan
ventilasi terbuka dengan baik dari segala gangguan.

Pelumasan : Pelumasan awal hubungan ganda tertutup dan melindungi


hubungan telah terlumasi untuk dihidupkan dan tidak perlu di lumasi ulang.
Sebuah hubungan memungkinkan dilakukan pergantian jika dibutuhkan.
Ukuran penghubung telah dicatatkan di pelat nama. Lihatlah tabel untuk
untuk standar ukuran penghubung untuk 56C dan 140T motor.

3.5 Keselamatan Kerja


1. Menggunakan kunci pembuka baut/sekrrup yang sesuai ukurannya
2. Menyimpan bagian-bagian alat yang terurai pada tempat yang terlindung agar tidak
hilang atau tercecer
3. Menggunakan alat kerja bangku untuk membuka baut/sekrup yang sulit atau sudah
menyatu
4. Pastikan sumber listrik telah putus atau mati sebelum memulai perawatan atau
pemindahan komponen-komponen. Kunci sumber listrik dan labeli untuk
menghindarkan penggunaan energi yang tidak terduga.
5. Sistem yang tersambung dengan bagian-bagian berputar harus terbebas dari
kecepatan kritis, bertorsi atau getaran lainnya, tidak peduli imbasnya. Respon untuk
sistem ini, dianlisis oleh pembeli.
6. Jalankan tes unit untuk menguji operasi. Jika yang diuji adalah bentuk asli, unit
tersebut menjadi bagian saat produksi.
BAB III
DATA PERCOBAAN
BAB IV
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

4.1 Pembahasan
Nama : Arief Arisyarvi
NIM : 151411069

Nama : Arisya Julviana


NIM : 151411070

Sebagai seorang teknik, kami dituntut bukan hanya handal dalam mengoperasikan alat
di industri namun juga dituntut untuk ahli dari segi perawatan alat di industri tersebut.
Perawatan/ pemeliharaan pada alat dilakukan dengan tujuan agar performa dari alat tetap
maksimal dan menghasilkan produk yang sesuai dan optimal. Pada praktikum kali ini
dilakukan perawatan pada peralatan industri yang sudah tidak awam digunakan di industri
yaitu alat penukar panas jenis Plate Heat Exchanger. Praktikum ini dilakukan dengan tujuan
untuk memahami fungsi alat penukar kalor jenis plate heat exchanger, memahami
mekanisme operasi alat penukar kalor jenis plate heat exchanger, mengetahui komponen-
komponen utama alat penukar kalor jenis plate heat exchanger., serta mengetahui cara
menggunakan dan merawat alat penukar kalor jenis plate heat exchanger.

Plate Heat Exchanger merupakan suatu alat yang berfungsi sebagai media terjadinya
pertukaran panas antara fluida bersuhu tinggi dengan fluida bersuhu rendah. Palte Heat
Exchanger tersusun atas lempengan-lempengan logam yang bergelombang. Penukar panas
jenis PHE ini banyak dimanfaatkan pada berbagai macam industri mulai dari industri
makanan, minuman, hingga industri minyak. Pada praktikum kali ini, dilakukan
pembongkaran dan identifikasi kerusakan-kerusakan yang terjadi pada plate heat exchanger.

Pada saat identifikasi kerusakan alat, terdapat 5 kerusakan pada alat yang sangat
krusial. Kerusakan yang terdapat pada alat tersebut diantaranya bagian saluran pipa yang
tidak terhubung pada flanges serta hilangnya sekrup dan juga kondisi flanges yang kurang
baik. Lalu banyaknya baut, mur serta penyangga besi pada alat yang hilang dan berkarat.
Kemudian kondisi plate dan gasket yang kotor, bagian penutup frame yang kotor dan
berkarat, dan juga konstruksi penyangga alat yang kotor dan berkarat.
Frame merupakan bagian terluar dari alat PHE. Frame ini berfungsi untuk membantu
menekan plate agar tidak terdapat celah antar pelat yang dapat menyebabkan kebocoran.
Kondisi frame pada alat PHE cukup kotor dan berkarat, hal ini disebabkan karena alat
tersebut sudah cukup tua, sehingga bagian cat pada frame ini terkelupas yang menyebabkan
korosi. Kerusakan pada penutup frame ini dapat diperbaiki dengan cara melapisi kembali
permukaan frame dengan cat besi. Pengecetan kembali permukaan frame ini pun dilakukan
dengan harapan dapat memperlambat proses terjadinya korosi pada frame. Namun, apabila
kondisi frame pada alat sudah cukup parah maka dapat dilakukan penggantian frame pada
alat PHE. Kemudian dianjurkan pula pengecekan keadaan frame secara berkala demi
terhindar dari kerusakan dan usahaka setelah alat digunakan segera bersihkan kembali alat
tersebut. Kemudian banyaknya pengotor yang terdapat pada plate pun penting untuk
diperhatikan, karena hal ini dapat menghambat proses perpindahan panas yang menyebabkan
menurunnya produk yang dihasilkan.

Ketersediaan alat lainnya pun dan menunjang berlangsungnya proses secara optimal.
Pada praktikum kali ini ditemukan bahwa tidak tersedianya alat penunjang seperti pompa
dan alat pemanas air. Pompa berfungsi untuk memompa cairan agar dapat masuk kedalam
saluran inlet dan dapat dilakukan proses perpindahan panas pada alat PHE. Sedangkan fungsi
dari alat pemanas cairan adalah untuk memanaskan cairan yang akan digunakan sebagai
fluida pada saat praktikum Pada praktikum ini praktikan tidak dapat mengecek bagaimana
alat dapat dapat beroperasi, hal ini dikarenakan tidak tersedianya alat penunjang tersebut serta
tidak terpasangnya saluran pipa inlet maupun outlet. Agar dapat dioperasikan, maka solusi
yang tepat adalah menyediakan alat penunjang tersebut untuk dapat mengetahui bagaimana
performa dari alat penukar panas jenis pelat ini.

Selain itu masih banyak masalah yang sering ditemukan pada PHE, diantaranya yaitu
pengotor. Pengotor yang berupa kerak atau sering disebut fouling merupakan pengotor yang
berupa lapisan yang melekat pada permukaan alat penukar kalor yang dapat menghambat
perpindahan panas. Lapisan fouling dapat berasal dari partikel-partikel yang terbawa oleh
aliran fluida. Pembentukan lapisan kerak pun dapat meningkat apabila sifat adesif yang
cukup kuat. Adapun cara mengatasi terdapatnya pengotor dapat dilakukan dengan cara
memilih fluida yang akan dimasukkan kedalam alat penuka kalor, serta melakukan
pembersihan secara berkala untuk membuang kotoran-kotoran yang ada di dalam selubung
atau tabung alat penukar kalor.
Kemudian masalah yang sering ditemukan berikutnya dalah rusaknya gasket yang
dapat menyebabkan kebocoran. Kerusakan gasket ini dapat dilihat dari kelenturan suatu
gasket. Pada umumnya bahan pembuat gasket ini adalah Ethylene Propylene. Adapun cara
mengatasi terjadinya kebocoran pada gasket yaitu dengan cara mengganti gasket dengan yang
baru, dan penyusunan plate secara benar dan perlahan lahan.

Dari hasil pengecekan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kondisi plate
heat exchanger ini masih dalam kondisi yang baik dalam menjalankan sebuah proses kimia.
Namun diperlukan penyediaan komponen-komponen penunjang dan perlu dilakukan
perawatan dan perbaikan rutin demi menunjang berjalannya suatu proses.

Nama : Dhiya Tsuraya Salsabil


NIM : 151411072

4.2 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dan berdasarkan tujuan percobaan dapat diambil
kesimpulan bahwa :
1. Plate Heat Exchanger merupakan alat perpindahan panas yang berbentuk frame yang
diberi plate sebagai sekat-sekat.
2. Perawatan PHE pada umumnya dengan cara mematikan alat setelah selesai
percobaan, mengeluarakan semua cairan yang bersisa, serta membersihkan tiap
komponen dengan bahan kimia yang tidak merusak pelat
3. Dari hasil pengecekan dapat disimpulkan kondisi plate heat exchanger ini masih
dalam kondisi yang baik dalam menjalankan sebuah proses kimia. Namun tetap perlu
dilakukan perawatan dan perbaikan rutin untuk mengatasi penyusutan kondisi alat.
4. Inspeksi dan pengecekan kebersihan plate wajib dilakukan secara rutin agar kualitas
transfer panas dapat terjaga pada kondisi yang optimal dan mencegah adanya
kebocoran diantara saluran plate.
DAFTAR PUSTAKA

Irvine dkk. 2006. Installation And Maintenance Manual. Sterling Electric

Moehady, Bintang Iwhan. Motor Listrik. Bandung : Politeknik Negeri Bandung.

Siswanto. 2012. Perawatan Motor Listrik Pada Mesin Penggerak Sistem Crane Di PT
Krakatau Bandar Samudera. Semarang : Universitas Dipenogoro

AC Motors. Textbook Vol. II - Alternating Current (AC)


[https://www.allaboutcircuits.com/textbook/ diakses pada 4 Juni 2017]

Working of Single Phase Induction Motors [http://www.learnengineering.org/2013/08/single-


phase-induction-motor.html diakses pada 4 Juni 2017]