Anda di halaman 1dari 3

Warna jagung yang indah ini bukan hasil modifikasi foto gan.

Jenis jagung ini bernama Glass Gem Corn .


Jagung yang dapat dikonsumsi ini dibudidayakan selama tahunan oleh pakar jagung Carl Barnes. Bapak
berusia 80-an tahun ini menetap di Oklahoma, Amerika Serikat.

Biji jagung memang biasanya berwarna kuning. Namun sebuah perusahaan benih di Amerika Serikat telah melempar ke
pasar jagung yang bijinya berwarna-warni. Ini adalah Glass Gem Corn (Jagung Gem Kaca), salah satu varietas jagung
yang dihasilkan Seeds Trusts, salah satu perusahaan benih terbesar di Amerika. Mungkin tak banyak yang bisa
mempercayai adanya jagung bewarna pelangi ini. Tapi dengan sedikit permainan genetika, perusahaan ini dapat
menghasilkan beragam warna selain warna kuning pada umumnya.

Unik dan menarik, karena warna bijinya beragam seperti pelangi, dari kuning emas, biru, merah, putih, bahkan hijau.
Mengupas kulit buah jagung ini seperti membuka bungkusan kado yang berisi hadiah indah warna-warni
Yang tidak kalah menarik, jagung ini juga bisa dimakan dan kandungan nutrisinya tidak berbeda dengan jagung biasanya
gan.

Awalnya perusahaan ini mendapat bibit Glass gem corn ini dari Greg Schoen, seorang penjual benih yang mendapatkan
benih jagung tersebut dari Carl Barnes seorang pria Oklahoma yang juga seorang ahli tanaman jagung. Ketika
mengembangkan tanaman ini di kebunnya, Schoen kaget karena ternyata jagung yang ditanam bisa tumbuh dan
menghasilkan jagung sama seperti yang ditanam Carl Barnes.

Melihat keunikan jagung ini, Seeds Trustis kemudian menanam benih jagung ini di lahan yang lebih luas. Pada awal
penanaman, tidak ada sesuatu yang berbeda yang dilakukan perusahaan ini. Namun beberapa kali perusahaan ini mencoba
menanam bibit jagung dengan gen warna yang berbeda, sehingga akhirnya Glass Gem Corn bisa berwarna seperti
sekarang ini. Keberhasilan ini diharapkan bisa menyebar keseluruh dunia, dan bisa menjadi inspirasi untuk melahirkan
berbagai varietas tanaman baru yang unik dan bermanfaat bagi manusia.
Posted by Alif pratama at 22:40 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Tidak seperti jagung pada umumnya, biji jagung ini punya banyak warna. Jagung yang diberi nama Glass
Gem corn atau jagung manik-manik kaca ini dibudidayakan oleh Carl Barnes, seorang petani yang
tinggal di Oklahoma.

Berkat bakat luar biasa Carl dalam upaya pembibitan jagung ini selama bertahun-tahun, jagung berbiji
warna-warni ini pun berhasil dibudidayakan. Ketika usianya semakin menua, dia kemudian membagi
rahasianya kepada temannya Greg Schoen. Pada tahun 2010, Greg memutuskan untuk pindah dari kota
tempat tinggalnya. Untuk melindungi koleksi benihnya, Greg memutuskan untuk menyimpan benihnya
pada Trust Seeds, sebuah perusahaan benih berskala kecil di Arizona, yang memastikan koleksi
spektakulernya tidak hilang saat dia pindah.

Karena merasa sangat penasaran dengan benih bernama Glass Gem itu, Bill McDorman, pemilik Trust
Seeds pada saat itu, memutuskan untuk menanam beberapa bibit tersebut di kebunnya sendiri. Dia pun
sangat kagum pada apa yang telah dipanennya.

Organisasi itu kini menjual bibit Glass Germ melalui website resmi mereka dengan harga USD 7,95 (Rp
91.552) per paket. Bibit jagung ini pun laris manis di pasaran. Jagung ini dapat digunakan untuk
membuat tepung atau popcorn, meskipun sangat tidak dianjurkan untuk memakannya langsung setelah
direbus.

Ada juga beras organik berwarna. Ada yang berasnya berwarna coklat, merah, berwarna pink dan putih. Beras-beras
premium itu telah diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa.

Adalah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik Tasikmalaya Jawa Barat yang memproduksi beras organik
berwarna-warni itu. Syaeful Bahri (50) Ketua Kelompok Gapoktan Simpatik mengatakan petani yang tergabung dalam
Gapoktan Simpatik bisa memproduksi beras organik sebanyak 6 ton/ bulan.
Harganya cukup menggiurkan. Harga beras organik produksi Gapoktan Simpatik Tasikmalaya di pasar AS 33 dolar/ 5 kg,
ungkap Syaeful. Di dalam negeri, harga beras organik tersebut tak setinggi di pasaran ekspor. Harganya Rp 10 ribu/kg.
Konsumen beras organik pun lumayan banyak, antara lain di Jakarta, Bandung, dan Yoyakarta.
Wajar bila harga beras organik lebih mahal, karena teknik budidayanya tergolong rumit dibanding teknik konvensional.
Selain itu, biaya pengolahan berasnya pun cukup mahal. Untuk satu ton beras organik berwarna, biaya untuk
pemisahannya saja mencapai Rp 24 juta. Karena pemisahan beras berwarna dan yang berwarna putih dilakukan secara
manual, dipilah satu per satu, tambahnya.
Plastik pembungkusnya bukan asal plastik, melainkan dipesan khusus. Harganya Rp 2.500/ lembar plastik. Pembeliannya
juga ada batas minimal pesan yakni minimal 5 kuintal. Dengan plastik khusus ini maka kemasan beras/ 5 kg bisa difakum
(dihilangkan udaranya) sehingga bisa tahan lebih lama ketika disimpan.
Memang serba berbiaya mahal. Terlebih lagi biaya sertifikasi beras organiknya. Gapoktan Simpatik Tasikmalaya Jawa
Barat ini mendapatkan sertifikat dari Sucofindo dan Institue for Marketecology (IMO) dari Negara Swiss. Dari 5700 ha
sawah padi yang ada di Tasikmalaya, hanya sekitar 360 ha yang mendapatkan sertifikat organik dari IMO. Total biaya
untuk mendapatkan sertifikat ini mencapai Rp 0,5 miliar.
Warna-warni Alami
Ada empat jenis beras organik berwarna yang diproduksi Gapoktan Simpatik, yakni brown rice (beras coklat), Red Rice
(beras merah), Pink Rice (beras pink) dan beras putih. Beras coklat dihasilkan dari gabah varietas Sintanur yang tidak
diproses pemutihan. Warna yang membalut biji beras dibiarkan sehingga warnanya kecoklatan.
Sedangkan pink rice diperoleh dari gabah varietas Ciherang. Gabah tersebut digiling, sekamnya dibuang, namun warna
kulit arinya tidak dibuang, jadilah berasnya berwana pink. Untuk beras merah diperoleh dari varietas Aik Sibundong.
Sedangkan beras putih digiling dua kali. Giling pertama untuk membuat sekamnya dan yang kedua untuk pemutihan.
Gapoktan ini melibatkan 2.300 KK petani tersebar di 7 kecamatan, 28 kelompok tani di lahan seluas 360 ha. Hama
tanaman tidak begitu masalah bagi mereka, karena ada pestisida nabati. Rata-rata produksi 7 ton/ha. Lahan yang sudah
mendapatkan sertifikat 360 ha lahan organik, potensinya 5.700 ha.
Suwarna (65) petani padi organik yang tergabung dalam kelompok tani Saluyuh, Tanjungsari, Sukaresik, Tasikmalaya
mengatakan punya lahan sawah 1.000 m2 ditanami padi varietas Ciherang mulai tahun 2006. Hasilnya dapat 11,5 kuintal
gabah kering giling GKG. Karena belum mendapatkan sertifikat gabahnya laku Rp 300 ribu/kuintal. Jualnya ke bandar,
tambahnya. Suwarna ingin agar sawahnya juga mendapatkan sertifikasi padi organik.
Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim, M mengatakan baru sekitar 10 persen dari petani di Tasikmalaya yang telah
membudidayakan padi organik. Kendalanya menerapkan teknologi ini kata Tatang lebih banyak diperlukan tenaga untuk
menyiang, biasanya hanya 2 kali menyiang, dengan teknologi ini penyiangan dilakukan hingga 7 kali.
Bayu mengatakan petani tidak perlu dipaksa untuk menerapkan teknologi ini. Dia ingin petani dengan kesadaran sendiri
untuk menerapkan teknologi ini. Kalau mereka tahu bahwa bertanam padi organik ini lebih hemat saprodi dan harganya
lebih mahal maka mereka akan melakukannya dengan kesadaran, tutur Bayu. ***
Boks

Puncak Panen dan Proses Pemasaran

Puncak panen tanaman padi organik di Kabupaten Tasikmalaya umumnya pada bulan Maret, April dan Juli.

Meski demikian menurut Ketua Gapoktan Simpatik Syaeful Bahri (50) pada bulan-bulan lain tetap ada panen dengan
produktivitas rata-rata : 70,5 kuintal/ha Gabah Kering Panen (GKP).
Pengelolaan usaha tani padi organik yang dilakukan Gapoktan SIMPATIK menghasilkan produksi yang lebih baik secara
kuantitas dan kualitas dengan total produksi 1.798 ton setiap panen dari total lahan yang diusahakan. Selain produksi
yang meningkat diperoleh juga perbaikan ekosistem sehingga diharapkan bisa menjamin keberlanjutan usaha tani.
Program Sertifikasi Lahan Padi Organik pun dilakukan. Melalui program ini diharapkan para petani dapat termotivasi untuk
meningkatkan produktivitas menjadi lebih tinggi dengan kualitas standar ekspor sehingga mereka mendapatkan nilai
tambah.
Dibentuk juga Internal Control System (ICS) di Gapoktan SIMPATIK Kab. Tasikmalaya. Juga ada program pendampingan
yang didukung oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Tasikmalaya. Langkah inilah yang bisa menjamin dan menjaga
kualitas beras.
Alur produksi pemasaran padi organik dari Gapoktan Simpatik yakni: pertama pemanenan dilakukan petani dengan
disaksikan oleh Petugas Internal Control system : (ICS). Kedua, hasil panen dikumpulkan dalam bentuk Gabah Kering
Panen (GKP) atau Gabah Kering Giling (GKG) oleh pengurus kelompok tani di gudang kelompok tani yang terletak di
pinggir jalan yang bisa dilalui kendaraan roda 4.
Ketiga, kelompok tani menjual kepada Internal Control System (ICS) di lokasi gudang kelompok. Keempat, pengangkutan
dari gudang Kelompok Tani ke tempat penampungan dilakukan oleh Internal Control system (ICS). Kelima, pengeringan
oleh internal Control system (ICS) bagi yang menjual Gabah Kering Panen.
Keenam, proses penggilingan, penyortiran, pengemasan dan pelabelan oleh Gapoktan SIMPATIK Kab. Tasikmalaya.
Ketujuh, Stuffing / pengemasan ke dalam kontainer oleh Gapoktan SIMPATIK Kab. Tasikmalaya. Kedelapan, pengangkutan
(handling transportation) dari gudang Gapoktan SIMPATIK Kab. Tasikmalaya oleh pihak MITRA. Kesembilan, proses
selanjutnya pengiriman hingga ke importir (shipping) oleh pihak MITRA. ***

Istilah senyawa fenolik meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari tumbuhan,
yang mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua
gugus hidroksil. Senyawa fenolik cenderung mudah larut dalam air karena umumnya
mereka sering kali berikatan dengan gula sebagai glikosida. Semua senyawa fenolik
berupa senyawa aromatik, sehingga semua menunjukkan serapan kuat di daerah
spektrum UV. Karena itu, cara spektrometri penting, terutama untuk identifikasi
senyawa fenolik.
Senyawa Flavonoid
Flavonoid merupakan kelompok senyawa fenolik terbesar yang terdapat pada tanaman. Flavonoid merupakan
salah satu produk metabolisme sekunder yang penyebarannya terbatas, yaitu pada tumbuhan dan
mikroorganisme.
Senyawa flavonoid terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk akar, daun, kayu, kulit, tepung sari,
bunga, buah, dan biji. Adanya Flavonoid pada hewan seperti kelenjar bau berang-berang, propolis (sekresi
lebah) dan dalam sayap kupu-kupu, dianggap berasal dari tumbuhan yang menjadi makanannya dan tidak
mengalami biosintesis dalam tubuh hewan tersebut. Banyaknya senyawa flavonoid di alam bukan disebabkan
oleh banyaknya variasi struktur, akan tetapi disebabkan oleh tingkat hidroksilasi, alkoksilasi, atau glikosilasi
dari struktur flavonoid tersebut