Anda di halaman 1dari 10

HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI TERAPEUTIK

OLEH KELOMPOK II

ANGGOTA :

1. NAFIATUL AMRAH
2. NASRUL FUAD
3. NI KETUT IKA MUSTIKA SUARNAYA
4. NI LUH FEBRI PRADYANTAYANI
5. NI LUH SANTINI
6. NIA USNIAH
7. NILA KURNIA SAFITRI
8. NILA NURLAILI
9. NUR RAHMIATUN
10.NUR ZEN APRIANTI

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM

PRODI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S.1


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Hambatan dalam
komunikasi terapeutikini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Hambatan dalam komunikasi terapeutik, Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah
kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan
makalah ini di waktu yang akan datang.

Mataram, oktober 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii

DAFTAR ISI....................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang Masalah ......................................................................................... 4


1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................... 4
1.3 Tujuan ..................................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................... 5

2.1 Pengertian komunikasi ........................................................................................... 5


2.2 Fungsi komunikasi terapeutik ................................................................................. 5
2.3 Hambatan dalam komunikasi terapeutik ................................................................. 6
2.4 Cara mengatasi hambatan komunikasi ................................................................... 8

BAB III PENUTUP ........................................................................................................... 9

A. Kesimpulan ............................................................................................................. 9
B. Saran ....................................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 10
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Komunikasi dalam bidang keperawatan merupakan proses untuk menciptakan hubungan


antara perawat dan klien, dengan tujuan untuk mengenal kebutuhan klien dan menentukan
rencana tindakan serta kerjasama dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
Komunikasi dalam bidang keperawatan ini lebih dikenal dan populer disebut dengan
komunikasi terapeutik. Istilah komunikasi terapeutik digunakan untuk dijadikan pembeda
dengan komunikasi jenis lainnya, selain itu komunikasi ini lebih mengarah pada tujuan
untuk penyembuhan klien.

Komunikasi terapeutik adalah merupakan hubungan interpersonal antara perawat dan


klien, dalam hal ini perawat dan klien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam
rangka memperbaiki pengalaman emosional klien (Stuart, 1998) atau proses dimana perawat
menggunakan pendekatan terencana dalam mempelajari klien (Potter Perry, 2000)

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimanakah pengertian komukasi terapeutik dalam keperawatan
b. Bagaimanakah fungsi komunikasi terapeutik
c. Bagaimanakah masalah masalah dalam komunikasi terapeutik
d. Bagaimanakah cara mengatasi masalah dalam komunikasi terapeutik

1.3 Tujuan
Agar mahasiswa dapat lebih memahami masalah komunikasi terapeutik dalam keperawatan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN KOMUNIKASI

Komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang berarti bersama. Sedangkan
menurut kamus, definisi komunikasi dapat meliputi ungkapan-ungkapan seperti berbagai
informasi atau pengetahuan, memberi gagasan atau bertukar pikiran, informasi, atau yang
sejenisnya dengan tulisan atau ucapan.

Komunikasi merupakan proses belajar seumur hidup bagi perawat. Perawat terus
berhubungan dengan klien dan keluarganya sejak kelahiran sampai kematian. Oleh karna
itu, dibutuhkan pembentukan komunikasi terapeutik. Perawat berkomunikasi dengan orang
lain yang mengalami tekanan, yaitu: klien, keluarga, dan teman sejawat ( Potter dan Perry,
2010 ).
Komter (komunikasi terapeutik) merupakan komunikasi yang direncanakan secar sadar,
tujuan dan kegiatannya difokuskan untuk menyembuhkan klien. Komter merupakan media
untuk saling memberi dan menerima antar perawat dengan klien. Komter berlangsung
secara verbal dan non verbal. Dalam komter ada tujuan spesifik, batas waktu, berfokus pada
klien dalam memenuhi kebutuhan klien, ditetapkan bersama, timbal balik, berorientasi pada
masa sekarang, saling berbagi perasaan (Wahyu Purwaningsih dan Ina Karlina, 2010:11-12)
Komunikasi Terapeurik ialah pengalaman interaktif bersama antara perawat dan pasien
dalam komunikasi yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh pasien
(Mahmud Machfoedz, 2009:104)
Stuart G.W (1998) menyatakan bahwa komunikasi terapeutik merupakan hubungan
interpersonal antara perawat dan klien, dalam hubungan ini perawat dan klien memperoleh
pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien.
Sedangkan S.Sundeen (1990) menyatakan bahwa hubungan terapeutik adalah hubungan
kerjasama yang ditandai tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman dalam
membina hubungan intim yang terapeutik.
2.2 FUNGSI KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Fungsi komunikasi terapeutik menganjurkan kerjasama antara perawat dan klien.
Perawat berusaha mengidentifikasi dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang
dilakukan dalam perawatan (Purwanto, 1994). Proses komunikasi yang baik dapat
memberikan pengertian tingkah laku klien dan membantu klien dalam rangka mengatasi
persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan. Sedangkan pada tahap preventif, fungsi
komunikasi terapeutik adalah mencegah adanya tindakan yang negatif terhadap pertahanan
diri klien.

2.3 HAMBATAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK


Adapun hambatan-hambatan komunikasi terapeutik dalam hal kemajuan hubungan
perawat-klien terdiri dari tiga jenis utama : resisten, tranferens, dan kontertransferens
(Hamid, 1998). Ini timbul dari berbagai alasan dan mungkin terjadi dalam bentuk yang
berbeda, tetapi semuanya menghambat komunikasi terapeutik perawat. Perawat harus juga
mengatasinya. Oleh karena itu hambatan ini menimbulkan perasaan tegang baik bagi
perawat maupun bagi klien.

Hambatan transferens merupakan respon tak sadar berupa perasaan atau perilaku
terhadap perawat yang sebetulnya berawal dari berhubungan dengan orang-orang tertentu
yang bermakna baginya pada waktu dia masih kecil (Stuart dan Sundeen , 1995)
Reaksi transference membahayakan untuk proses terapeutik hanya bila hal ini
diabaikan dan tidak ditelaah oleh perawat. Ada dua jenis utama reaksi transference yaitu
reksi bermusuhan dan tergantung.
Contoh reaksi transference bermusuhan (Intan, 2005) :
Bungkus (15 tahun) adalah klien yanag dirawat dirumah sakit karena demam berdarah.
Tanpa sebab yang jelas klien ini marah-marah kepada perawat Gengki. Setelah dikaji,
ternyata Gengki ini mirip pacar si Bungkus yang pernah menyakiti hatinya. Hal ini
dikarenakan klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya
terkait dengan tokoh kehidupan yang lalu.
Contoh reaksi transference tergantung ( Intan, 2005) :
Seorang klien, Sinchan (18 tahun), dirawat oleh perawat bidadari. Perawat itu mempunyai
wajah dan suara mirip Ibu klien, sehingga dalam setiap tindakan keperawatan yang harus
dilakukan selalu meminta perawat bidadari yang melakukannya.

2.4 CARA MENGATASI HAMBATAN KOMUNIKASI


Untuk mengatasi hambatan teurapeutik, perawat harus siap mengungkapkan
perasaan emosional yang sangat kuat dalam konteks hubungan perawat -pasien. Awalnya ,
perawat harus mempunyai pengetahuan tentang hambatan teurapeutik dan mengenali prilaku
yang menunjukkan adanya hambatan tersebut. Kemudian perawat dapat mengklarifikasi dan
mengungkapkan perasaan serta isi agar lebih berfokus secara objektif pada apa yang sedang
terjadi.

Latar belakang prilaku dikaji, baik pasien (untuk reaksi resistens dan transferensa) atau
perawat (untuk reaksi kontertransferens dan pelanggaran batasan) bertanggung jawab
terhadap hambatan teurapeutik dan dampak negatifnya pada proses teurapeutik. Terakhir,
tujuan hubungan, kebutuhan, dan masalah pasien ditinjau kembali. Hal ini dapat membantu
perawat untuk membina kembali kerja sama teurapeutik yang sesuai dengan proses
hubungan perawat-pasien.sama teurapeutik yang sesuai dengan proses hubungan perawat-
ipasien.

Adapun beberapa cara untuk mengatasi hambatan komunikasi yaitu :


1. Pedekatan terpusat pada penerima
Peduli kepada penerima pesan berarti bahwa akan mengambil langkah atau yang
dapat dilakukan agar pesan yang disampaikan dapat dimengerti danbermakna bagi
penerima. Berempati dan bersikap peka pada perasaan penerima adala cara terbaik
untuk mengatsi hambatan komunikasi. Karen perbedaan emosi dan persepsi akan
menimbulkan ganguan. Dalam penerimaan pesan, bila seseorang menyadari perasaan
orang lain maka akan mampu memlilih kata-kata netral memahami pandangan mereka
dan mungkin akan berempati dengan posisi mereka dengan mencoba memandang
situasi lewat kacamata mereka.
Dalm kenyataan pendektan yang berpusat pada penerima lebih dari sekedar
pendekatan untuk komunikasi bisnis sebenarnya ini adalah pendekatan modern pada
bsnis dan kehidupn secara umum.

2. Komunikasi dengan situasi terbuka


Iklim komunikasi organisasi merupakan cerminan dari budaya organisasi :
campuran nilai, tradisi da kebiasaan yang mengakomodasi atmosfir atau karakternya.
Beberapa peusahaan cenderung menyambut aliran omuniksi keatas. Tetapi dalam
komunikasi dengan situasi terbuka, akan mendrong keterusterngan dan kejujuran serta
kebebasan untuk mengakui kesalhan atau untuk tidak stuju dengan atasan dan keebasan
menyatakn pendapat.

3. Melakukan komunikasi dengan etis


Etika adalah prinsip-prinsip yang menjadi acuan bagi seseorang atau sekelompok
orang untuk bersikap dan berperilaku. Orang yang tidak etis biasanya egois dan tidak
peduli salah atau benar, menghalalkan segala cara unuk mencapai hasil akhir. Orang yang
etis pada umumnya adapat dipercaya, adil dan tidak memihak, menghargai hak oranglain
dan memperhatikan dampak tindakan mereka pada masyarakat.
Etika memainkan peran penting dalam komunikasi. Bahasa itu sendiri terdiri dari
kata-kata yang membawa nilai . jadi hanya dengan mengataknsesuatu denga cara tertentu,
Mempengruhi bagaimana orang-orang lain memandang dan membentuk harapan dan tingkah
laku yang berbeda pula. Komunikasi etis termasuk komunikasi yang relefan, benar dalam
segla segi dn tidak memperdayakan dengan cara apapun

4. Pesan yang efektif dan efisien

Pesan yang efektif dan efisin akan memeperlancar proses komunikasi, sehingga
dapat mengatasi hambatan komunikasi. Ciri-ciri pesan yangefektif dan efisien antara
lain, padat dan tidak mempunyai pengertian yang mendua atau membingungkan.
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Komter (komunikasi terapeutik) merupakan komunikasi yang direncanakan secara


sadar, tujuan dan kegiatannya difokuskan untuk menyembuhkan klien. Komter merupakan
media untuk saling memberi dan menerima antar perawat dengan klien. Komter berlangsung
secara verbal dan non verbal. Dalam komter ada tujuan spesifik, batas waktu, berfokus pada
klien dalam memenuhi kebutuhan klien, ditetapkan bersama, timbal balik, berorientasi pada
masa sekarang, saling berbagi perasaan (Wahyu Purwaningsih dan Ina Karlina, 2010:11-12)
Adapun hambatan-hambatan komunikasi terapeutik dalam hal kemajuan hubungan
perawat-klien terdiri dari tiga jenis utama : resisten, tranferens, dan kontertransferens
(Hamid, 1998). Ini timbul dari berbagai alasan dan mungkin terjadi dalam bentuk yang
berbeda, tetapi semuanya menghambat komunikasi terapeutik perawat.

3.2 SARAN
Untuk dapat melakukan pendekatan yang efektif terhadap klien perawat hendaknya
mengetahui strategi yang tepat dalam menggunakan komunikasai terapeutik. Perawat harus
menciptakan sebuah perencanaan dan struktur yang baik dalam pelaksanaan komunikasi
terapeutik. Dalam melakukan komunikasa dengan klien perawat harus menghargai keunikan
setiap klien.
DAFTAR PUSTAKA

Fanna, Achmad dan Trikaloka H.putri (2013) Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta : Merkid Press
Nasir, abdul dkk (2009) Komunikasi dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medikahttp://healthyusandart.blogspot.com/2013/01/hambatan-dalam-komunikasi-terapeutik.html