Anda di halaman 1dari 33

BAB III

DASAR TEORI

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 37 pasal 1 Tahun 2010 tentang


Bendungan, bahwa Bendungan adalah bangunan yang berupa urukan tanah, urukan
batu, beton, dan/atau pasangan batu yang dibangun untuk menahan dan
menampung air, untuk menahan dan menampung limbah tambang (tailing), atau
menampung lumpur sehingga terbentuk waduk.
Pembangunan bendungan untuk pengelolaan sumber daya air ditujukan
untuk penyediaan air baku bagi rumah tangga, perkotaan, industri, penyediaan air
irigasi, pengendalian banjir, penyediaan daya air untuk pembangkit listrik tenaga
air, dan untuk keperluan lainnya misalnya pengisian kembali air tanah daerah
sekitar waduk, konservasi air, konservasi daerah sekitar waduk, serta untuk
prasarana perhubungan, perikanan, dan pariwisata. Sedangkan pembangunan
bendungan untuk penampungan limbah tambang (tailing) atau penampungan
lumpur ditujukan untuk penyediaan waduk guna penampungan limbah yaitu limbah
tambang (tailing) atau untuk penampungan lumpur yang mengalir.
Bendungan mempunyai risiko tinggi berupa kemungkinan terjadinya
kegagalan bendungan yaitu keruntuhan sebagian atau seluruh bendungan.
Keruntuhan bendungan dapat disebabkan oleh kegagalan struktur antara lain terjadi
longsor, kegagalan hidraulik yang mengakibatkan terjadinya peluapan air,
kegagalan operasi, dan terjadinya rembesan yang dapat mengganggu kestabilan
bendungan.

3.1. Klasifikasi Bendungan


Bendungan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori/tipe yang
berbeda, tergantung pada tujuan klasifikasi. Bendungan diklasifikasikan menurut
penggunaannya, desain hidroliknya, atau bahan yang dikonstruksinya (USBR,
1987).

18
3.1.1. Tipe bendungan berdasarkan penggunaan
Berdasarkan penggunaannya bendungan dibagi menjadi 3 tipe (Soedibyo,
2003), yaitu :
1. Bendungan untuk membentuk waduk (storage dams), adalah bendungan yang
dibangun untuk membentuk waduk yang berguna untuk menyimpan air pada
waktu kelebihan dan dapat dipakai pada waktu diperlukan;
2. Bendungan penangkap atau pembelok air (diversion dams), bendungan dibangun
agar permukaan air tinggi sehingga dapat mengalir masuk ke dalam saluran air
atau terowongan. Banyak dipakai untuk irigasi, PLTA, penyediaan air industri;
3. Bendungan untuk memperlambat jalannya air (detension dams), adalah bendungan
yang dibangun untuk memperlambat jalannya air sehingga dapat mencegah banjir
besar. Untuk menyimpan air sementara dan dialirkan dalam saluran air bagian
hilir. Untuk menyimpan air selama mungkin agar dapat meresap di daerah
sekitarnya.

3.1.2. Tipe bendungan berdasarkan jalannya air (desain hidroliknya)


1. Bendungan untuk dilewati air (overflow dams) adalah bendungan yang
dibangun untuk dilimpasi air, misalnya bangunan pelimpah (spillway);
2. Bendungan untuk menahan air (non overflow dams) adalah bendungan yang sama
sekali tidak boleh dilimpasi air.

3.1.3. Tipe bendungan berdasarkan bahan konstruksinya


Tipe bendungan berdasarkan bahan konstruksinya ada tiga tipe (Soedibyo,
2003), yaitu :
1. Bendungan urukan (fill dams, embankment dams) adalah bendungan yang
dibangun dari hasil penggalian bahan tanpa bahan tambahan lain yang bersifat
campuran secara kimia.
2. Bendungan beton (concrete dams) adalah bendungan yang dibuat dengan
konstruksi beton dengan tulang maupun tidak.
3. Bendungan lainnya, misalnya bendungan kayu (timber dams), bendungan besi
(steel dams), bendungan pasangan bata (bricks dams), dan bendungan pasangan
batu (masonry dams).

19
3.2. Bendungan Urukan
Suatu bendungan yang dibangun dengan cara menimbun bahan-bahan
seperti : batu (kerakal, kerikil, pasir) (tabel 3.1) dan tanah pada komposisi tertentu
dengan fungsi sebagai penahan atau pengangkat permukaan air yang terdapat di
dalam waduk di hulunya disebut bendungan tipe urukan atau bendungan urukan
(S.Sosrodarsono, 1977).
Menurut International Commission on Large Dams (ICOLD) dalam
Soedibyo (2003), Bendungan urukan adalah bendungan yang dibangun dari hasil
penggalian bahan (material) tanpa bahan tambahan lain yang bersifat campuran
secara kimia.

Tabel 3.1
Skala Wentworth untuk ukuran butir (Boggs, 2006)
Ukuran Butir (mm) Nama Butir
> 256 Boulder / Bongkah
64 256 Cobble / Berangkal
4 64 Pebble / Kerakal
24 Granule / Kerikil
1/16 2 (0,0625 2) Sand / Pasir
1/256 1/16 0,004 0,0625 Silt / Lanau
< 1/256 (< 0,004) Clay / Lempung

3.2.1. Tipe-Tipe Bendungan Urukan


Didasarkan pada ukuran butiran dari bahan timbunan yang digunakan,
secara umum dapat dibedakan 2 tipe bendungan urukan (S. Sosrodarsono, 1977),
yaitu:
Bendungan urukan batu (rock fill dam), sering disebut dengan istilah
bendungan batu.
Bendungan urukan tanah (earth fill dam), sering disebut dengan istilah
bendungan tanah.

Selain kedua jenis tersebut, terdapat pula bendungan urukan campuran


(Gambar 3.1), yaitu terdiri dari timbunan batu dan tanah.

20
Gambar 3.1
Gambaran Bendungan Urukan Campuran (Soedibyo, 2003)

Ditinjau dari penempatan serta susunan bahan/material yang membentuk


tubuh bendungan untuk dapat memenuhi fungsinya dengan baik, maka bendungan
urukan dapat digolongkan dalam tiga tipe utama (S. Sosrodarsono, 1977), yaitu:
1. Bendungan urukan homogen (bendungan homogen)
Bendungan urukan digolongkan tipe homogen, apabila bahan yang
membentuk tubuh bendungan terdiri dari tanah yang hampir sejenis dan
gradasinya (susunan ukuran butirannya) hampir seragam. Tubuh bendungan
secara keseluruhannya berfungsi ganda, yaitu sebagai bangunan penyangga
dan sekaligus sebagai penahan rembesan air.
Bendungan ini masih dapat dibagi menjadi 2 tipe (Soedibyo, 2003), yaitu :
a) Bendungan urukan tanah (earthfill dams), adalah bendungan urukan yang
lebih dari setengah volumenya terdiri atas tanah atau tanah liat (Gambar
3.1).

Gambar 3.1
Bendungan urukan tanah dengan saluran drainase horizontal (Soedibyo, 2003)

b) Bendungan urukan pasir dan kerikil (gravel pebble fill dams), adalah
bendungan urukan yang lebih dari setengah volumenya terdiri atas pasir
dan kerikil dengan lapisan kedap air yang terdapat di dalam tubuh
bendungan (Gambar 3.2).

21
Gambar 3.2
Bendungan urukan pasir dan kerikil dengan lapisan kedap air tegak (Soedibyo,
2003)

2. Bendungan urukan zonal (bendungan zonal)


Bendungan urukan digolongkan tipe zonal, apabila timbunan yang
membentuk tubuh bendungan terdiri dari batuan dengan gradasi (susunan
ukuran butiran) yang berbeda-beda dalam urutan-urutan pelapisan tertentu
(Gambar 3.3).
Pada bendungan ini sebagai penyangga utama dibebankan pada timbunan
yang lolos air (zona lolos air), sedang penahan rembesan dibebankan pada
timbunan yang kedap air (zona kedap air).

Gambar 3.3
Gambaran bendungan zonal (Soedibyo, 2003)

3. Bendungan urukan bersekat (bendungan sekat)


Bendungan urukan digolongkan dalam tipe sekat (facing) apabila di lereng
hulu tubuh bendungan dilapisi dengan sekat tidak lolos air (dengan kekedapan
yang tinggi) seperti lembaran baja tahan karat, beton aspal, lembaran beton
bertulang, hamparan plastik, susunan beton blok, dan lain-lain (Gambar 3.4).

22
Gambar 3.4
Gambaran bendungan sekat (S. Sosrodarsono, 1977)

3.2.2. Karakteristik Bendungan Urukan


Dibandingkan dengan jenis-jenis lainnya, maka bendungan urukan
mempunyai keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut:
1. Pembangunannya dapat dilakukan hampir pada semua kondisi geologi dan
geografi yang dijumpai
2. Bahan untuk tubuh bendungan dapat digunakan batuan yang terdapat di sekitar
calon bendungan.
Bendungan urukan memiliki kelemahan yang cukup berarti, yaitu tidak
mampu menahan limpasan di atas mercunya (puncak), dimana limpasan-limpasan
yang terjadi dapat menyebabkan longsor pada lereng hilir yang dapat
mengakibatkan jebolnya bendungan tersebut.
Beberapa karakteristik utama dari bendungan urukan, adalah sebagai
berikut (S. Sosrodarsono, 1977):
1. Bendungan urukan mempunyai alas yang luas, sehingga beban yang harus
didukung oleh pondasi bendungan persatuan unit luas biasanya kecil. Beban
utama yang harus didukung pondasi terdiri dari berat tubuh bendungan dan
tekanan hidrostatis dari air dalam waduk. Karena hal tersebut, maka bendungan
urukan dapat dibangun di atas alur sungai yang tersusun dari batuan sedimen
dengan kemampuan daya dukung yang rendah.
2. Bendungan urukan selalu dapat dibangun dengan menggunakan bahan batuan
yang terdapat di sekitar calon bendungan. Bendungan urukan dibandingkan
dengan jenis bendungan beton, yang memerlukan bahan-bahan pabrikan
seperti semen dalam jumlah besar dengan harga yang tinggi dan didatangkan

23
dari tempat yang jauh, maka bendungan urukan dalam hal ini menunjukkan
tendensi yang positif.
3. Dalam pembangunannya, bendungan urukan dapat dilakukan secara mekanis
(mechanized) dan karena banyaknya tipe-tipe peralatan yang diproduksi, maka
dapat dipilih peralatan yang cocok, sesuai dengan sifat-sifat bahan yang akan
digunakan serta kondisi pelaksanaan di lapangan.
4. Akan tetapi karena tubuh bendungan terdiri dari timbunan tanah atau timbunan
batu yang berkomposisi lepas, maka bahaya jebolnya bendungan umumnya
disebabkan oleh hal-hal berikut:
a) Longsor yang terjadi baik pada lereng hulu, maupun lereng hilir tubuh
bendungan.
b) Terjadinya sufosi (erosi dalam atau piping) oleh gaya-gaya yang timbul
dalam aliran filtrasi yang terjadi dalam tubuh bendungan.
c) Suatu konstruksi yang kaku tidak diinginkan di dalam tubuh bendungan,
karena konstruksi tersebut tidak dapat mengikuti gerakan konsolidasi dari
tubuh bendungan tersebut.
d) Proses pelaksanaan pembangunannya biasanya sangat peka terhadap
pengaruh iklim. Lebih-lebih pada bendungan tanah, dimana kelembapan
optimum tertentu perlu dipertahankan terutama pada saat pelaksanaan
penimbunan dan pemadatannya.

3.2.3. Bagian-bagian Utama Bendungan Urukan


Dibandingkan dengan tipe bendungan yang lain, bagian atas
bendungan/mercu bendungan pada bendungan urukan tidak boleh dilalui oleh air
sebab akan merusak bendungan itu sendiri. Bagian-bagian utama bendungan
urukan:
1. Tubuh bendungan, pada bendungan urukan berupa timbunan tanah atau batu
yang terdiri dari zona kedap dan lolos air (Gambar 3.5).
2. Waduk, merupakan tempat penampungan air sungai (Gambar 3.5).
3. Pelimpah (spillway), berfungsi untuk melimpahkan air yang berlebihan,
melebihi kapasitas waduk (Gambar 3.6).

24
Gambar 3.5
Gambaran Waduk dan Tubuh Bendungan

Gambar 3.6
Spillway Bendungan Santong 3

3.3. Definisi Tanah dan Batuan


Dalam menganalisis kestabilan lereng, titik awal yang harus diperhatikan
terlebih dahulu adalah material pembentuk lereng yakni tanah atau batuan.Tanah
adalah akumulasi partikel mineral yang tidak mempunyai atau lemah ikatan antar
partikelnya, yang terbentuk karena pelapukan dari batuan. Diantara partikel-
partikel tanah terdapat ruang kosong yang disebut pori-pori (void space) yang berisi
air dan/atau udara (Craig, 1989). Sedangkan menurut Bieniawski (1973) tanah
merupakan suatu material bentukan alam yang mempunyai kuat tekan uniaksial
kurang dari 1 Mpa, sedangkan batuan lebih dari 1 MPa. Pada Gambar 3.7 terdapat
berbagai klasifikasi berdasarkan nilai kuat tekan uniaksial untuk menentukan suatu
material disebut sebagai tanah atau batuan.

25
Gambar 3.7
Variasi Klasifikasi Kekuatan untuk Intact Rock (Z.T.Bienawski, 1989)

3.4. Mekanisme dasar terjadinya longsor


Pengertian sudut gesek dalam dan kohesi akan dijelaskan pada Gambar 3.8.
Gambar tersebut menjelaskan secara sederhana mengenai sampel batuan yang
terdapat diskontinu dan kemudian bekerja tegangan geser dan tegangan normal,
sehingga akan menyebabkan batuan tersebut mengalami pergeseran pada bidang
diskontinu.

Gambar 3.8
Hubungan antara Tegangan Normal dengan Tegangan Geser (Wyllie & Mah,
2004)

26
Pada Gambar 3.8 hubungan secara linier antara tegangan normal dengan
tegangan geser membentuk sudut sebesar terhadap horizontal, sudut inilah yang
dinamakan sudut gesek dalam. Apabila tegangan normal dibuat nol dan kemudian
batuan diberikan tegangan geser sampai batuan mulai bergeser, maka harga
tegangan geser yang dibutuhkan pada saat akan mulai bergeser adalah merupakan
besar nilai kohesi () dari batuan tersebut. Hubungan tegangan normal () dengan
tegangan geser () dapat dinyatakan sebagai berikut :

= c + tan................................................................................................[3.1]

3.4.1. Longsor Akibat Beban Gravitasi


Dalam memahami mekanisme terjadinya longsor suatu lereng dapat dilihat
ilustrasi pada Gambar 3.9. yang menggambarkan lereng dengan bidang diskontinu
yang membentuk blok luncuran pada lereng.

Gambar 3.9
Gambaran Lereng dan Gaya yang Bekerja Terhadapnya (Wyllie & Mah, 2004)

Untuk memudahkan dalam memahaminya maka digambarkan menjadi


suatu blok yang berada pada bidang miring (lihat Gambar 3.10), bidang miring
mewakili bidang gelincir dari lereng tersebut. Gambar 3.10 memperlihatkan gaya-
gaya yang bekerja pada suatu blok yang berada pada suatu bidang miring. Massa
dari blok seberat W yang berada dalam keadaan setimbang di atas suatu bidang
yang membentuk sudut p terhadap horizontal. Gaya berat yang mempunyai arah
vertikal dapat diuraikan pada arah sejajar dan tegak lurus bidang miring. Komponen

27
gaya berat yang sejajar bidang miring dan yang cenderung menyebabkan benda
menggelincir adalah W sin p .

Gambar 3.10
Komponen Gaya pada Suatu Benda Diatas Bidang Miring (Wyllie & Mah, 2004)

Komponen gaya yang tegak lurus bidang dan merupakan gaya yang
menahan benda untuk menggelincirkan adalah W cos p atau gaya normal. Gaya
yang menahan Balok adalah gaya normal, sehingga tegangan normal dapat
diberikan sebagai berikut :
N Wcos p
= A = ................................................................................................... [3.2]
A

Keterangan :
N = gaya normal (kN)
A = luas dasar blok (2 )
p = kemiringan bidang ( )
W = gaya berat balok (kN)
Tegangan normal tersebut dimasukan kedalam persamaan 3.1, sehingga
menghasilkan:
W cos p tan
=+ ........................................................................................[3.3]

Adapun gaya geser ( R ) yang bekerja untuk menahan geseran pada dasar blok
dinotasikan sebagai (R = A ), sehingga :
W cos p tan
R = (c + )A
A

= c A + W cos p tan ............................................................................. [3.4]

28
Pada kondisi kesetimbangan gaya penggerak yang bekerja pada suatu bidang akan
sama dengan gaya yang menahan, sehingga dapat dinyatakan dalam persamaan :
W sin p = c A + W cos p tan ................................................................ [3.5]
Bila nilai kohesi (c) = 0, kondisi kesetimbangan dapat dinyatakan :
sin p
= tan
cos p
p = ............................................................................................................ [3.6]

3.4.2 Pengaruh Tekanan Air pada Kuat Geser


Pengaruh tekanan air pada kuat geser dapat dianalogikan seperti yang
diterangkan oleh gambar 3.11 :

Gambar 3.11
Gaya-Gaya pada Bejana Bidang Diatas Bidang Miring (Hoek & Bray, 1981)

Pengaruh keberadaan air pada massa batuan terhadap kestabilan lereng


dapat diandaikan sebuah kaleng yang terisi air pada suatu bidang basah dengan
sudut kemiringan sebesar p .
Sebuah bejana yang disikan air dan diletakan di atas bidang miring seperti
yang terlihat pada gambar (3.11). Susunan gaya yang bekerja di sini sama dengan
yang bekerja pada sebuah benda di atas bidang miring seperti diterangkan
sebelumnya. Untuk penyerdehanaan kohesi antara dasar bejana dan bidang miring
diasumsikan nol.
Menurut persamaan 3.6, p = , bejana dan isinya akan mulai tergelincir
pada saat p = . Dasar bejana saat kini dilubangi sehingga air dapat masuk ke
celah antara dasar bejana dan bidang miring memberikan tekanan air sebesar u atau
gaya angkat sebesar U = u.A, dengan A = Luas dasar bejana.

29
Gaya normal W cos 2 sekarang dikurangi oleh gaya angkat U, dan
besarnya gaya yang menahan gelinciran adalah:
R = ( W cos p U) tan ............................................................................. [3.8]
Apabila diandaikan berat per unit volume dari kaleng ditambah air
dinotasikan sebagai sementara berat per unit volume air adalah maka =
dan = , dengan h dan hw adalah seperti pada Gambar 3.11. Pada
Gambar 3.11 akan terlihat bahwa hw = h cos 2 dan menjadi:

w W cos p .A
U=

U = (w ) W cos p ................................................................................... [3.9]

Kemudian substitusikan persamaan [3.9] ke persamaan [3.8] maka akan


diperoleh persamaan gaya geser ( R ) adalah sebagai berikut :
= (W cos p (w ) . W cos p ) tan
= W cos p (1 w ) tan ................................................................. [3.10]
Pada kondisi kesetimbangan batas pada persamaan [3.7] menjadi:
W sin p = W cos p (1 w ) tan
tan p = (1 w ) tan ........................................................................ [3.11]

3.4.3. Pengaruh Tekanan Air Pada Retakan Tarik


Kehadiran air tanah pada tubuh lereng biasanya menjadi masalah bagi
kestabilan lereng. Perhatikan suatu kasus dari blok pada keadaan setimbang yang
terletak pada bidang miring, hal ini dianggap bahwa blok terpisah oleh suatu retakan
yang terisi oleh air (Lihat Gambar 3.12)

Gambar 3.12

30
Pengaruh Tekanan Air pada Rekahan Suatu Blok (Hoek & Bray, 1981)

Tekanan air pada retakan tarik bertambah secara linier dengan kedalaman
dan gaya total V, karena bekerjanya tekanan air ini pada muka samping dari blok
yang bekerja turun terhadap bidang miring. Hasil distribusi tekanan air dalam
bentuk gaya angkat U mengurangi gaya normal yang bekerja tegak lurus
permukaan tersebut.
Kondisi kesetimbangan batas terhadap blok yang terkena gaya air V dan U,
sebagai tambahan dari beratnya sendiri, ditentukan oleh :
W sin p + V = c A (W cos p U) tan ................................................... [3.12]
Dari persamaan tersebut terlihat bahwa kehadiran air pada lereng cenderung
menyebabkan gaya penggerak bertambah dan gaya penahan berkurang. Oleh
karena itu, gaya U dan V menyebabkan berkurangnya kestabilan lereng.

3.4.4. Pengaruh Getaran Pada Lereng


Pengaruh gaya dari getaran getaran yang berasal dari sumber sumber
yang berada di dekat lereng juga dapat mempengaruhi kestabilan lereng. Getaran
ini misalnya ditimbulkan oleh aktivitas alat berat, gempa bumi, lalu lintas
kendaraan di sekitar lereng, serta aktivitas peledakan. Gaya yang ditimbulkan dari
getaran ini disebut gaya seismik dan dinyatakan dalam nilai koefisien seismik.
Terdapat dua nilai koefisien seismik, yaitu nilai kh sebagai nilai koefisien seismik
arah horizontal dan kv sebagai arah vertikal (lihat Gambar 3.13). Besar pengaruh
gaya seismik horizontal yaitu sebesar kh.W dan gaya seismik vertikal sebesar kv.W
dengan W sebagai berat dari massa yang berpotensi untuk menggelincir. Gaya
seismik yang mempengaruhi keruntuhan massa batuan biasa diasumsikan hanya
pada arah horizontal saja, sehingga kv = 0. Jika kv = 0, maka arah vertikal tidak
terdapat pengaruh gaya seismik sedangkan arah horizontal terkena pengaruh gaya
seismik. Pengaruh gaya seismik terhadap lereng pada arah horizontal dapat dilihat
pada Gambar 3.14.

31
Gambar 3.13
Model Lereng dengan Pengaruh Gempa (Kramer, 1996)

Gambar 3.14
Komponen Gaya pada Suatu Benda diatas Bidang Miring dengan Pengaruh
Seismik
Gaya seismik horizontal yang bekerja berlawanan arah terhadap gaya
normal akan memperkecil tegangan normal yang bekerja pada bidang luncur,
sehingga gaya penahan pada persamaan [3.4] menjadi:
R = cA + (Wcos khWsin) tan ............................................................ ... [3.13]
Gaya seismik horizontal yang bekerja searah dengan gaya yang
menggerakkan batuan menyebabkan gaya penggerak menjadi semakin besar. Pada
kondisi setimbang, maka dengan adanya pengaruh gaya seismik persamaan [3.5]
tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut:
Wsin + khWcos = cA + (Wcos khWsin) tan ................................... [3.14]
Dari persamaan tersebut terlihat bahwa pengaruh gaya seismik pada lereng
cenderung menyebabkan gaya penggerak bertambah dan gaya penahan berkurang.

32
Oleh karena itu, gaya seismik menjadi salah satu parameter yang menyebabkan
berkurangnya kestabilan lereng.

3.5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kestabilan Lereng


Faktor faktor yang yang perlu diperhatikan dalam menganalisis kestabilan
suatu lereng adalah sebagai berikut:
3.5.1. Sifat Fisik dan Mekanik Tanah
Kekuatan massa tanah yang sangat berperan dalam analisis kestabilan
lereng terdiri atas sifat fisik dan mekanik tanah tersebut. Adapun sifat fisik dan
mekanik tanah yang diperlukan dalam melakukan analisa kestabilan lereng adalah
sebagai berikut:
a. Bobot isi ()
Bobot isi adalah berat dari tanah per unit volume (Braja, 2006). Bobot isi
digunakan untuk mengitung beban yang berada pada permukaan bidang longsor.
Bobot isi menunjukkan kerapatan suatu benda, sehingga semakin besar nilai nilai
bobot isinya maka semakin padat benda tersebut.
b. Kuat geser tanah
Kuat geser tanah merupakan perlawanan internal per unit area ketika tanah
dapat menahan keruntuhan dan pergeseran di sepanjang bidang di dalamnya
(Braja, 2006). Parameter kuat geser tanah dapat diperoleh dari pengujian
laboratorium, salah satunya yaitu pengujian kuat geser langsung.
Pada uji kuat geser langsung, masing masing contoh dikenakan gaya
normal tertentu yang diaplikasikan tegak lurus terhadap permukaan bidang geser
dan gaya geser atau horizontal dikenakan untuk menggeser contoh. Hubungan
antara tegangan normal terhadap tegangan geser di-plot sehingga diperoleh kurva
seperti pada Gambar 3.15 berikut ini:

33
Gambar 3.15
Grafik Hubungan Tegangan Normal Tegangan Geser (Wylley & Mah,2004)

Hasil pengujian kuat geser langsung seperti pada Gambar 3.15 dapat
menentukan parameter parameter kekuatan tanah seperti kohesi (c) dan sudut
gesek dalam (Pengertian dari kohesi (c) dan sudut gesek dalam () adalah :
a) Kohesi
Kohesi (c) adalah sifat dari butiran mineral yang memungkinkan
butiran tersebut saling menempel untuk menahan dari gaya yang
memisahkan butiran tersebut (Kliche, 1999). Kohesi (c) juga dapat
didefinisikan sebagai kuat tarik menarik antara partikel dalam tanah yang
dinyatakan dalam satuan berat persatuan luas. Menurut Gambar 3.15 kohesi
adalah nilai tegangan geser saat nilai tegangan normalnya nol.
b) Sudut Gesek Dalam
Menurut Gambar 3.15 pengertian dari sudut gesek dalam ( adalah
sudut yang dibentuk dari hubungan tegangan normal dengan tegangan geser
material tanah. Sudut gesek dalam juga merupakan sudut rekahan yang
terbentuk jika suatu material dikenakan tegangan yang melebihi tegangan
gesernya.

3.5.2. Iklim
Kuat geser tanah (terutama lempung) pada permukaan berubah dari waktu
ke waktu bergantung pada iklim. Beberapa jenis tanah mengembang saat musim
hujan, dan menyusut pada musim kemarau. Pada musim hujan kuat geser tanah
menjadi sangat rendah dibandingkan dengan musim kemarau. Oleh karena itu, kuat
geser tanah yang dipakai dalam analisis kestabilan lereng harus didasarkan pada
kuat geser tanah di musim hujan, atau kuat geser pada saat tanah jenuh air.

3.5.3. Beban Hidrostatis


Secara skematis gaya-gaya yang bekerja pada bendungan urukan dapat
dilihat pada Gambar 3.16. Pada perhitungan stabilitas tubuh bendungan dengan
metode irisan (slice method), biasanya beban hidrostatis yang bekerja pada lereng
hulu bendungan dapat digambarkan dalam 3 (tiga) cara pembebanan, seperti yang
tertera pada Gambar 3.17.

34
Gambar 3.16
Skema Pembebanan Tekanan Hidrostatis pada Bidang Luncur (S. Sosrodarsono,
1977)

Gambar 3.17
Beberapa Skema Pembebanan Tekanan Hidrostatis pada Bidang Luncur (S.
Sosrodarsono, 1977)

Pemilihan cara pembebanan yang paling cocok untuk suatu perhitungan,


harus disesuaikan dengan pola semua gaya-gaya yang bekerja pada tubuh
bendungan, yang akan diikut sertakan dalam perhitungan.

3.5.4. Pengaruh Air Tanah


Adanya air tanah akan berpengaruh terhadap kestabilan lereng. Air akan
mengisi pori-pori dalam tanah sehingga bobot isi tanah akan bertambah besar. Hal
ini menyebabkan penambahan beban lereng. Air tanah juga menyebabkan
penambahan gaya dorong untuk terjadi longsor. Semakin panjang jarak muka air
tanah terhadap acuan datum yang ditentukan maka tekanan yang diberikan kepada
lereng semakin besar (Gambar 3.18).

35
Gambar 3.18
Dimensi Aliran Air Dalam Lereng (Wyllie & Mah, 2004)

3.5.5. Pengaruh Getaran (Seismik)


Getaran ditimbulkan oleh lalu lintas kendaraan, peledakan, dan gempa
bumi. Besarnya nilai faktor seismik dapat disimulasikan secara efektif dari gempa
bumi yang terjadi. Rekomendasi nilai faktor seismik dapat mengacu pada (SNI
1726-2002) yang menggambarkan percepatan puncak batuan dasar (Peak Ground
Acceleration/PGA) berdasarkan wilayah (lihat Gambar 3.19).

Gambar 3.19

36
Peta Zonasi Gempa Indonesia (SNI 1726-2002)

Hynes-Griffin dan Arley G. Frankin dalam US Army Corps of Engineers


(1984), untuk besarnya nilai koefisien seismik (k) yang digunakan dalam analisis
kestabilan lereng adalah setengah dari percepatan puncak batuan dasar (Peak
Ground Acceleration/PGA).

3.6. Faktor Keamanan Lereng Bendungan


Runtuhnya suatu bendungan urukan, biasanya dimulai dengan terjadinya
suatu gejala longsor baik pada lereng hulu, maupun lereng hilir bendungan tersebut,
yang disebabkan kurang memadainya stabilitas kedua lereng tersebut, karena dalam
pembangunan suatu bendungan urukan, stabilitas lereng-lerengnya merupakan
kunci dari stabilitas tubuh bendungan secara keseluruhan (S. Sosrodarsono, 1977).
Menurut Pangular (1985) dalam Haska (2012) analisis kestabilan bendungan tipe
urukan memiliki cara yang sama dengan analisis kestabilan lereng.
Persamaan kestabilan blok pada bidang miring telah dituliskan untuk kondisi
kesetimbangan batas, artinya gaya penggerak dan gaya penahan longsor dalam
keadaan setimbang. Untuk kondisi lain dapat dinyatakan dengan suatu indeks yang
disebut dengan faktor keamanan. Faktor keamanan (FK) adalah perbandingan total
gaya penahan longsor dengan total gaya penggerak longsor.
Memperhatikan blok yang mengalami gaya dari air dan pengaruh getaran
maka persamaan dari faktor keamanan dapat ditulis dengan:

Gaya Penahan
FK =
Gaya Penggerak
c A+(W cos -U-khWsin) tan
FK= ............................................................. [3.15]
Wsin +V +khWcos

Pemahaman tentang peran faktor keamanan (FK) sangat penting dalam


analisis kestabilan lereng yang rasional. Salah satu fungsi faktor keamanan adalah
memperhitungkan ketidakpastian. Ketidakpastian yang dimaksud adalah tentang
keandalan parameter yang masuk ke dalam analisis, seperti parameter kekuatan,
distribusi tekanan pori, dan lapisan batuan/tanah. Secara umum, semakin rendah
kualitas penyelidikan pada lokasi penelitian, semakin tinggi faktor keamanan yang
diinginkan.

37
Faktor keamanan harus memperhitungkan tidak hanya ketidakpastian
parameter desain tetapi juga konsekuensi yang diakibatkan dari longsor, dimana
konsekuensi yang diakibatkan kecil, maka faktor keamanan yang lebih rendah dapat
diterima.
Menurut Lee W. Abramson dkk (2002) untuk desain lereng, faktor
keamanan (nonseismic) yang dibutuhkan biasanya berkisar 1,25 sampai 1,5. Faktor
yang lebih tinggi dibutuhkan jika ada resiko lebih besar atas kehilangan nyawa atau
adanya ketidakpastian terhadap parameter desain. Demikian juga, faktor keamanan
yang lebih rendah mungkin digunakan jika seorang insinyur percaya pada akurasi
data masukan dan konstruksi yang dilakukan mendapat pengawasan secara ketat.
Ketetapan kondisi dan kombinasi beban serta faktor keamanan minimum
yang dipersyaratkan oleh direktorat sumber daya air untuk stabilitas kontruksi
bendungan dapat dilihat pada tabel 3.2.

Tabel 3.2
Kondisi dan Kombinasi Beban serta Faktor Keamanan Minimum (Direktorat
sumber daya air, 2003)

38
3.7. Metode Kesetimbangan Batas
Menurut Kliche (1999) metode kesetimbangan batas memiliki arti semua
titik berada di ambang longsor. Pada titik tersebut, gaya penggerak sama dengan
gaya penahan, dan faktor keamanan adalah satu. Ketika gaya penahan longsor lebih
besar dari gaya pendorong, faktor keamanan adalah lebih besar dari satu dan lereng
akan stabil, ketika gaya penahan lebih kecil dari gaya pendorong maka lereng akan
menjadi tidak stabil. Pada longsor busur, model yang umum digunakan adalah
metode irisan.

39
3.7.1. Metode Irisan
Dalam metode irisan, massa tanah di atas permukaan gelincir dibagi
menjadi beberapa irisan vertical. Metode irisan mengasumsikan permukaan
gelincirnya melingkar. Metode irisan mempertimbangkan kesetimbangan momen
di sekitar pusat lingkaran untuk keseluruhan irisan.
Mengacu pada permukaan lereng dan permukaan gelincir melingkar yang
ditunjukan Gambar 3.20, momen penggerak dapat dinyatakan sebagai
= a ....[3.16]

Gambar 3.20
Permukaan Gelincir Melingkar dan Irisan (Duncan, 2014)
Wi adalah berat irisan dan ai adalah jarak horizontal antara pusat lingkaran dan garis
tengah irisan atau disebut lengan momen.
Lengan momen, ai, di persamaan [3.16] dapat dinyatakan dalam bentuk jari-
jari lingkaran (radius) dari kemiringan dasar masing-masing irisan. Kemiringan
permukaan dasar irisan diangkap lurus, meskipun dasar irisannya melengkung
(Gambar 6.7), dengan berkurangnya akurasi dapat diabaikan.
Kemiringan dasar irisan dinyatakan oleh sudut, . Sudut yang dibentuk dari
jari-jari lingkaran ke garis tengah irisan sama dengan sudut kemiringan dasar irisan,
. Dengan demikian, lengan momen (ai) dapat dinyatakan oleh;
a = sin .... [3.17]
Momen penggerak menjadi;
= sin .... [3.18]

40
Jari-jari di persamaan [3.18] dipindahkan keluar karena jari-jarinya konstan
untuk sebuah lingkaran.
Momen penahan diberikan oleh tegangan geser () pada dasar masing-
masing irisan. Tegangan normal () pada dasar setiap irisan bertindak melalui pusat
lingkaran, dengan demikian tidak menghasilkan momen. Total momen penahan
untuk semua irisan adalah
= = .... [3.19]
Si adalah gaya geser pada dasar irisan. Gaya geser adalah hasil kali dari tegangan
geser ( ) dan luas dasar irisan ( ), persamaan [3.19] menjadi;
= ....... [3.20]
Tegangan geser dapat dinyatakan dalam hal kekuatan geser dan faktor keamanan
dengan persamaan;

=

= ......... [3.21]

si adalah kekuatan tanah di dasar irisan i. Merumuskan momen penahan


[persamaan 3.21] dan momen penggerak [persamaan 3.18] menjadi persamaan
untuk faktor keamanan :

= ........... [3.22]
sin

= ................ [3.23]
sin

Untuk tegangan total, kekuatan geser dinyatakan oleh


= + tan .............. [3.24]
Subtitusikan persamaan [3.24] ke persamaan [3.23], menjadi
(+ tan )
= sin
....................... [3.25]

Sudut gesek dalam () sama dengan nol, persamaan [3.25] menjadi



= .................... [3.26]
sin

Sudut gesek dalam () tidak sama dengan nol, persamaan [3.26]


mensyaratkan bahwa tegangan normal pada dasar irisan diketahui. Masalah
penentuan tegangan normal secara statis memerlukan asumsi tambahan untuk
menghitung faktor keamanan. Metode Bishop yang Disederhanakan yang

41
dijelaskan berikut ini membuat asumsi untuk mendapatkan tegangan normal pada
dasar irisan dan faktor keamanan.

3.7.2. Penyelesaian Penyederhanaan Menurut Bishop


Dalam metode Bishop yang Disederhanakan, gaya di sisi irisan diasumsikan
horizontal (tidak ada tekanan geser antar irisan). Gaya dijumlahkan dalam arah
vertikal untuk memenuhi kesetimbangan dalam arah ini dan untuk mendapatkan
persamaan tegangan normal pada dasar masing-masing irisan. Berdasarkan irisan
yang ditunjukan pada Gambar 3.21, penyelesaian gaya pada arah vertikal
ditunjukan oleh persamaan berikut ini ;
cos + sin = 0 ........... [3.27]
Gaya dianggap positif saat bertindak ke atas. Gaya geser (S) pada persamaan
[3.27] terkait dengan tegangan geser adalah
= .............. [3.28]
atau dalam hal kekuatan geser dan faktor keamanan, menjadi

= ................. [3.29]

Untuk kekuatan geser yang dinyatakan dalam hal tegangan efektif dengan
persamaan kekuatan Mohr-Coulomb, yaitu :
1
= [ + ( ) tan ] .............. [3.30]

Menggabungkan persamaan [3.27] dan [3.30], didapatkan persamaan untuk


gaya normal (N), adalah :
(1/)( tan ) sin
= ................... [3.31]
cos +(sin tan )/

Tegangan normal yang efektif pada dasar irisan, adalah :



= ................................................. [3.32]

Menggabungkan persamaan [3.31] dan [3.32] dan memasukkannya ke


dalam persamaan kesetimbangan momen pusat lingkaran untuk tegangan efektif
( + tan )
= sin

menjadi,
cos +( cos ) tan
[ ]
cos +(sin tan )/
= sin
.................................. [3.33]

42
Persamaan [3.33] adalah persamaan untuk faktor keamanan untuk metode Bishop
yang Disederhanakan.
Persamaan [3.33] diturunkan dengan kekuatan geser yang dinyatakan dalam
bentuk tegangan efektif. Persamaan untuk faktor keamanan dalam hal tegangan
total untuk metode Bishop yang Disederhanakan adalah :
cos + tan
[ ]
cos +(sin tan )/
= sin
................................................. [3.34]

Gambar 3.21
Dimensi Irisan dan Gaya-Gaya yang Bekerja pada Irisan (Duncan, 2014)

3.7.3. Penetuan Bidang Luncur Kritis


Pada Gambar 3.22 dan 3.23 dapat digunakan untuk estimasi pusat dari
lingkaran dengan faktor keamanan terendah. Pada bidang luncur yang diasumsikan
pada analisa pertama mungkin tidak memberikan faktor keamanan terendah, dan
pengulangan dari analisis dibutuhkan dengan variasi dari posisi untuk menemukan
bidang dari faktor keamanan terendah.

43
Gambar 3.22
Lokasi dari Bidang luncur Kritis dan Rekahan Tarik Kritis untuk Lereng Kering
(Wyllie & Mah, 2004)

Gambar 3.23
Lokasi dari Bidang Luncur Kritis dan Rekahan Tarik Kritis untuk Lereng dengan
Kehadiran Air Tanah (Wyllie & Mah, 2004)

44
3.8. Instumentasi Bendungan Urukan
Instrumentasi bendungan digunakan untuk memantau sifat-sifat, perubahan
dan gerakan dari bendungan agar apabila terjadi hal- hal yang tidak diinginkan
dapat dicegah sedini mungkin sehingga keamanan bendungan dapat dipertahankan.
Hal ini perlu dipantau terus menerus dari awal pembangunan sampai dengan umur
beroperasinya bendungan, apakah angka-angka yang diambil pada waktu
perencanaan sudah sesuai ataukah perlu diadakan penyesuaian-penyesuaian
sebagai hasil pemantauan selama pelaksanaan konstruksinya. Sebagai contoh, di
dalam perencanaan sebuah bendungan urugan batu setinggi 100 m, penurunan yang
diperkenankan adalah 1,50 m maka di dalam pelaksanaan menjadi bendungan
menjadi (100 + 1,50 ) m = 101,50 m. Ternyata setelah pelaksanaan konstruksi
hampir selesai berdasar hasil pemantauan selama pelaksanaan, penurunan yang
diperkirakan lebih besar, misalnya 2,50 m, karena hal ini diketahui sebelum
selesainya pelaksanaan konstruksi maka tinggi bendungannya harus ditambah
bukan 101,50 m tetapi 102,50 m. apabila tidak diadakan pemantauan sebelumnya
dan tinggi bendungan dibuat 101,50 m maka setelah beberapa waktu tinggi
bendungan akan kurang dari 100 m yang dengan sendirinya cukup berbahaya
terhadap kemungkinan terjadinya limpahan di atas puncak bendungan
(overtopping).
Alat yang sering digunakan adalah : titik tetap, piezometer, pengukur
tegangan total, pengukur penurunan bendungan, inklinometer dan seismograf.

3.8.1. Titik tetap (surface monument).


Digunakan untuk memantau perubahan tinggi (penurunan) dan gerakan
tanah di permukaan bendungan dengan alat waterpas. Titik tetap dipasang di
beberapa tempat di lereng dan puncak bendungan. Tinggi dan posisi dari titik-titik
ini diukur dengan teliti dari beberapa titik tetap (bench marks) yang sudah dipasang
sejak awal dari tahap penelitian, penyelidikan dan perencanaan. Dengan
membandingkan elevasi pengukuran baru deangan elevasi tetap awal, dapat dicari
penurunannya.

3.8.2. Piezometer (pengukur tegangan air pori, pore pressure gauges).


Digunakan untuk memantau tegangan air pori dan gaya tekan ke atas yang
bekerja pada bendungan. Ada 2 (dua) tipe yang sering dipakai yaitu :

45
1. Pneumatic Piezometer.
Digunakan dalam lokasi yang sempit, dekat abutmen dan alat ini dapat
menyesuaikan diri secara cepat apabila ada perubahan tekanan pori. Biasanya
dipasang di beberapa tempat yaitu pada : pondasi bendungan, abutmen, lapisan
kedap air, lapisan filter, dan lapisan batu penyagga.
2. Hydraulic piezometer.
Digunakan untuk mengukur tekanan positif dan negatif. Biasanya dipasang
dibeberapa tempat yaitu : di lapisan kedap air dan lapisan batu penyangga.
Kedua jenis piezometer ini terdiri atas piezometer tip dan pipa dari nylon
(nylon tubes) atau bahan lainnya. Ada 2 pipa, yaitu pipa pemasukan (supply
tube) dan pipa kembali (return tube) yang masing-masing dihubungkan dengan
alat pembacaan (read out) di gedung instrumentasi (instrumentation house).
Instrumentasi dengan pneumatic, artinya isi dari pipa adalah gas atau udara,
yang sering dipakai adalah gas nitrogen. Sedang instrumentasi dengan
hydraulic artinya isi dari pipa cairan (fluid), yang sering dipakai adalah air.
Agar air betul-betuk tidak mengandung gelembung udara digunakan alat yang
disebut de airing aquipment. Gambar perbedaan pemasangan pneumatic
piezometer dan hydraulic piezometer dapat dilihat pada Gambar 2.24.

Gambar 2.24
skema pemasangan piezometer (Soedibyo, 2003).

3.8.3. Pengukur tegangan total (total pressure cells, hydraulic pressure cells).
Digunakan untuk memantau tegangan total tanah, yaitu tegangan air pori
(pore water pressure yang diukur dengan piezometer) ditambah dengan tegangan
efektif (effektive pressure).

46
Tegangan total = tegangan air pori + tegangan efektif.
Dengan mengukur tegangan total dan tegangan air pori dapat diukur
tegangan efektifnya. Karena tegangan efektif mempengaruhi gaya geser tanah dan
sifat kepadatannya (compressibility) maka dengan sendirinya sangat penting untuk
perhitungan konstruksi stabilitas bendungan. Alatnya terdiri atas tabung dari pelat
tipis yang di isi dengan cairan, biasanya dipakai air raksa dihubungkan dengan
tabung yang berisi diafragma dan 2 pipa nilon seperti pada piezometer. Pada
keadaan normal sekat halus akan tertutup karena ada keseimbangan antara tekanan
di dalam dan di luar tabung. Pada waktu pengukuran, cairan dialirkan sampai dapat
membuka diafragma sehingga terjadi aliran kembali (return) kealat pembacaan
yang biasanya diletakkan di dalam gedung instrumentasi. Biasanya untuk satu
tempat dipasang lebih dari 1 alat misalnya horizontal, tegak, dan miring agar
pembacaanya lebih teliti.

Gambar 3.25
Skema Pengukur Tegangan Total

3.8.4. Pengukuran penurunan bendungan (settlement cells)


Digunakan untuk memantau penurunan tegak (settlement) dari bendungan.
Biasanya dipasang dibeberapa tempat, yaitu dilapisan kedap air dan lapisan filter.
Alatnya terdiri dari tabung silinder yang dibuat dari PVC, stainless steel atau
kuningan dan disebut cells dan pipa nilon yang dihubungkan dengan alat
pembacaan.
Biasanya untuk satu tempat dipasang satu set alat instrumentasi yang
disebut rosette yang terdiri dari:

47
Satu pneumatic piezometer
Tiga pengukur tegangan, pengukur tegangan total (horizontal, tegak dan
miring) dan
Satu pengukur penurunan tegak bendungan.

3.8.5. Inklinometer (inclinometer).


Digunakan untuk memantau gerakan horizontal dan penurunan tegak dari
bendungan. Biasanya dipasang di 2 atau 3 tempat, yaitu di lapispa lian kedap air,
lapisan urugan batu dan lapisan filter. Alat terdiri atas pipa lingkaran yang
mempunyai 4 alur untuk menurunkan alat lain yang disebut torpedo/probe dan pipa
yang dihubungkan dengan alat pembacaan. Adapun untuk memantau gerakan
penurunan tegak digunakan pelat magnit yang dipasang disetiap sambungan pipa
(setiap 3 meter).

Gambar 3.26
Pipa Lubang Pengukuran dan Instrumen inclinometer
Cara pemasangan inklinometer ada 2, yaitu
1. Miring (inclined inclinometer).
Di beberapa tempat diletakkan settlement magnet yang digunakan untuk
mengukur tinggi tempat dari permukaan urukan. Apabila torpedo diturunkan dan
tepat pada magnet akan terdengar bunyi.

48
2. Tegak (vertical inclinometer).
Hampir sama dengan inclined inclinometer, hanya meletakkanya yang
berbeda, yaitu berdiri tegak (vertical). Biasanya hasil pengukuran dengan settlement
cells hampir sama dengan inklinometer.

Menurut Peter Stacey, dkk. (2010), Inklinometer digunakan untuk


mengukur perpindahan lateral bawah permukaan dari diskontinuitas di dalam tanah
atau batu, seperti yang berpotongan dalam lubang bor. Terdapat 2 jenis
inclinometer, salah satunya melibatkan probe portabel yang diturunkan ke casing
berlekuk yang terpasang di lubang bor dan mengukur deformasi di sepanjang
lubang. Unit-unit ini bisa beroperasi dalam lubang miring sebesar 50 dari vertikal.
Jenis inklinometer lainnya terdiri dari satu atau lebih probe yang tertinggal pada
lubang bor dan merekam perpindahan lateral ke sensor jarak jauh.
1. Portable inclinometer probes
Jenis inclinometer yang paling umum digunakan dalam pemantauan lereng
terbuka adalah inklinometer probe, yang harus dimasukkan ke dalam lubang setiap
kali satu set pembacaan diperlukan (Gambar 3.27). Probe bergerak sepanjang alur
panduan dalam tabung aluminium atau plastik yang dimasukkan ke dalam lubang
bor. Probe inclinometers umumnya beroperasi pada lubang yang cenderung sampai
30 sampai vertikal; Versi horisontal juga tersedia. Mereka dapat mendeteksi
pergerakan diferensial 0,5-1,0 mm per lubang 10 m.

Gambar 3.27
Probe Portabel Inklinometer

2. Inklinometer di Tempat (In-place inclinometers)


Perubahan real-time pada kemiringan atau kelengkungan lubang bor dapat
diukur dengan sistem inklinometer di tempat. Ini biasanya diturunkan ke dalam
lubang pada casing berlekuk, beberapa unit dapat dipasang di casing yang sama

49
untuk memberikan perpindahan relatif pada bagian lubang. Bacaan
diinterpretasikan dalam bentuk perpindahan yang tegak lurus terhadap sumbu
lubang bor.

3.8.6. Seismograf
Digunakan untuk memantau terjadinya gempa bumi yang sangat besar
pengaruhnya terhadap perhitungan stabilitas konstruksi bendungan.

3.8.7. Pengukur debit (discharge measuring weir)


Digunakan untuk mengukur debit air rembesan dan dipasang disebelah hilir
bendungan.

50