Anda di halaman 1dari 152

BAB 1

BIOLOGI SEL DAN GENETIKA

Capaian Pembelajaran (Learning Outcomes)


1. Memahami konsep biologi sel dan genetika sebagai salah satu dasar ilmu
keperawatan
2. Menerapkan konsep biologi sel dan genetika sebagai suatu pendekatan dalam
menyelesaikan masalah keperawatan

BAGIAN 1
BIOLOGI SEL
Manusia adalah organisme biologis. Oleh karena itu manusia membutuhkan dukungan fisik
berupa air untuk proses metabolisme, makanan untuk memecah energy di tubuh, oksigen
untuk menyediakan sumber energy dan memecah energi dari makanan, untuk bernafas, dan
panas untuk reaksi kimia serta tekanan untuk membantu pernafasan (Graaff and Rhees,
2001). Unit terkecil kehidupan adalah sel. Sel merupakan penopang kehidupan. Kebutuhan
fisiologis norlam tubuh seperti bernafas, makan, istirahat, cairan hingga keamanan dan
keselamatan merupakan salah satu prioritas kebutuhan dasar manusia dalam aspek
keperawatan. Kebutuhan tersebut dipenuhi dan disempurnakan oleh aktivitas seluler di
dalam tubuh (Craven, Hirnle, Jensen, 2013).
Unsur pembangun kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya adalah:
1. Sel
2. Enzim
3. Energi

Sel merupakan unit fundamental kehidupan pada berbagai organisme. Sel merupakan pusat
media yang menghasilkan energi untuk proses metabolisme. Sel dapat bermutasi/ mutan
dengan mengubah kode genetik DNA (Graaff&Rhees,2001). Kumpulan sel akan membentuk
Jaringan. Sedangkan Organ dibentuk oleh berbagai jaringan yang terintegrasi menjadi
fungsi khusus. Misalnya Organ jantung, organ ginjal. Sebuah Sistem adalah suatu organisasi
dari dua atau lebih organ dan berkaitan dengan peran jaringan sebagai unit untuk membentuk
fungsi atau mengatur fungsi tubuh.

STRUKTUR ANATOMI SEL

Sel terdiri atas beberapa bagian seperti yang tampak pada gambar 1.1 di bawah ini:

1
Struktur Sel
Terdiri Atas:
1. MEM
BRA
N
SEL (PLASMA)
Sel prokariotik mupun eukariotik diikat oleh membrane sel. Membrane ini bersifat
semi-permeabel yaitu Membran dinamis berfungsi melindungi sel dan mengontrol
apa saja yg masuk dan keluar sel. Memiliki Fluid Mosaic Model yang tersusun atas
lapisan lapisan bilayer fofolipid dengan molekul protein tersebar di dalamnya.

Aira, alcohol, dan gas dengan mudah melewati membrane ini namun ion-ion, protein
berukuran besar, dan karbohidrat tidak dapat masuk.
Fungsi dari membrane sel/ membrane plasma adalah :
Pembatas sel
Penanda sel sebagai identitas sel
Berperan dalam transportasi sel
Protein pengenal sel yg mampu mengidentifikasi sel lain.

Substansi dapat melewati membrane sel melalui proses berikut ini:


Tabel 1.1
Difusi Gerakan pasif berbagai substansi dari suatu area tinggi
konsentrasi ke area rendah konsentrasi

Osmosis Difusi pasif air melewati membrane semipermeable

2
Transportasi terfasilitasi Dilengkapi dan diselesaikan oleh protein di dalam membrane
yang memudahkan aliran molekul-molekul tertentu yang sulit
lewat.

Transport aktif Proses menggunakan energy (ATP) untuk memompa molekul


menyebrangi membrane melawan gradient konsentrasi.

Endositosis, fagositosis, Proses yang membawa material ke dalam sel. Membrane sel
pinositosis meliputi substansi asing. Membrane meliputi droplet droplet kecil
dari air.

Eksositosis Dilepasnya molekul dari sel.

2. MEMBRAN PROTEIN
Beberapa membran protein memiliki karbohidrat yg melekat padanya, membentuk
glikoprotein sebagai penanda (identification markers). Beberapa membran protein adalah
reseptor yg bereaksi pada reaksi spesifik seperti transduksi
3. SITOPLASMA
Cairan gel bagian dari protoplasma yg terbungkus membran sel namun tidak
memiliki nukleus. Sitoplasma terdiri atas air dan substansi larut termasuk oksigen,
karbondioksida, limbah seluler (urea), glukosa, ion, protein, dan ATP. Sebagian besar
reaksi metabolisme terjadi di sitoplasma.
4. RIBOSOM
Ribosom merupakan pabrik protein sel. Tiap unit ribosom terdiri atas rRNA.
Fungsinya adalah sebagai tempat Sintesis Protein. Ribosom bertanggung jawab pada
proses translasi, membangun protein yang diarahkan oleh mRNA yang disinteis oleh
dnA dalam nucleus. Protein yg dikeluarkan dari Retikulum endoplasma belum
matang, sehingga membutuhkan proses di Komplek golgi

(Gambar 4. Ribosom)

5. KROMOSOM
Kromosom berisi DNA. Pada sel
eukariota, kromosom berlokasi di
dalam nukelus. Setiap spesies
memiliki sejumlah nyata kromosom.

Selanjutnya struktur sel memiliki struktur sub-seluler yang dikenal dalam kelompok
organel, yaitu:
6. APPARATUS GOLGI
Fungsinya adalah sebagai modifikasi, pengemasan dan trasnpor protein. Bagian ini
mendekatkan enzim pencernaan kepada membrane untuk membentuk lisosom.
7. RETIKULUM ENDOPLASMA (ER)

3
Jaringan membran paralel, berlanjut pada membran nuklear.
Retikulum Endoplasma memiliki dua tipe:
a. Rough Endoplasmic Reticulum (RER)
ER bertahtahkan dengan ribosom
Fungsinya adalah tempat sintesis protein dan transportasi intraseluler dari molekul.

(Gambar 3. Rough Endoplasmic Reticulum (RER))

b. Smooth Endoplasmic Reticulum (SER)


tipe ini memiliki ribosom yang sedikit. Berfungsi pada sintesis lemak/ lipid dan
kolesterol serta tempat penyimpanan kalsium.
8. Nukleus, yang memuat materi genetic (chromosom) dan nucleolus. Nukleus lah
yang menyimpan materi genetic dan mengontrol seluruh aktivitas seluler.
9. Nucleolus. Massa RNA berlokasi di dalam nucleolus, pusat pengatur ribosom dan
produk lainnya bersama RNA.
10. Mitokondria
Memproduksi ATP melalui siklus Krebs dan fosforilasi oksidatif.
11. Lisosom
Vesikel berisi dengan enzim yang memecah komponen seluler ataupun memakan
partikel.
12. Secretory vesicles
13. Microtubules dan mikrofilamen
Jaringan ikat protein yang panjang befungsi dalam pendukung dan pergerakan sel
14. Centriole
Berbentuk seperti batang berjumlah dua yang tersusun dari mikrotubula berlokasi
dekat nukelus yang terlibat dalam gerakan kromosom selama aktivitas mikrotubula.

BAGIAN 2
BIOLOGI GENETIK

4
Semua makhluk hidup pasti memiliki gen. gen adalah seperangkat instruksi yang
membuat substansi perbedaan pada berbagai produk organisme. Gen mengendalikan jenis
dan kerja protein, enzim, dan hormone (Ignatavicius &Workman, 2010).
Deoxyribonucleic acid (DNA) dan Ribonucleic acid (RNA) terdiri dari nucleotides.
Nucleotide sendiri memiliki 3 bagian: grup fosfat, gula pentose dan sebuah sifat berbasis
nitrogen. Gula pentosa selalu diproses/ disintesis dalam ribosom didalam unit RNA dan
deoksiribo di DNA. Fosfat tetap konstan dari satu nukleotida ke nukleotida berikutnya,
namun dasar basis di DNA dapat berupa Adenine (A), Tymine (T), Guanin (G) ataupun
Cytosine (C)/ dalam bahasa Indonesia Sitosin (lambang S). Pada RNA nucleotide T diganti
dengan Uracil (U). Nukleotid tersebut bergabung bersama menjadi makromolekul DNA dan
RNA.

Replikasi, Transkripsi, dan Translasi


Replikasi berarti proses dimana DNA membuat salinan identic dari dirinya sebelum
memisahkan diri. Transkripsi berarti proses membuat mRNA (messanger RNA) dari
template DNA. Kemudian mRNA meninggalkan nukleus dan bergabung dengan dengan
ribosom di sitoplasma untuk mensintesis protein melalui proses Translasi.
Suatu kejadian mutasi sel merupakan kesalahan yang tidak dapat diperbaiki dalam proses
replikasi. Beberapa mutasi terjadi secara spontan namun banyak diinduksi oleh berbagai
varian penyebab yang disebut substansi mutagen. Sebagian besar mutasi berbahaya, sebagain
bersifat letal, namun lainnya dapat bermanfaat.
Pada proses replikasi oleh DNA dikenal dengan mitosis sel. Mitosis merupakan pola
siklus normal sel yang hidup. Fase mitosis terbagi atas:
1. Fase G1. Fase dimana sel bersiap untuk membelah melalui pengambilan nutrient,
energy dan pertumbuhan ekstra membrane.
2. Fase S. terjadi penggandaan sintesis DNA untuk pembelahan sel dari satu menjadi
dua. Enzim-enzim terlibat pada proses ini
3. Fase G2, sel membuat protein penting yang akan digunakan saat membelah
4. Fase M, aktual mitosis, terjadi penggandaan sel. Pada fase ini terdapat banyak DNA
dalam masing-masing sel.

Struktur Gen dan Fungsi


Gen merupakan segmen spesifik dari DNA yang mengandung kode untuk spesifik
protein. Pada umumnya satu gen mengkode satu protein, hal itu merupakan fungsi terkecil
dari DNA. DNA, kromosom, dan gen adalah sama-sama merupakan subtansi dasar, mereka
berbdeda pada struktur. DNA yang berada dalam nucleus merupakan kromosom. Masing-
masing kromosom memiliki banyak gen. Seperangkat gen yang lengkap pada manusia
disebut genome (Ignatavicius &Workman, 2010). Tujuan gen adalah mengkode untuk
protein spesifik yang digunakan oleh tubuh, contohnya kerja hormone insulin dalam tubuh
yang mengatur metabolisme gula.

5
Manusia memiliki 23 pasang kromosom-46 kormosom individu. Autosomal
kromosom manusia berjumlah 22 pasang (nomor 1-22) yang tidak mengkode jenis kelamin
individu. Autosomal kromosom mengkode struktur tubuh dan pengaturan protein untuk
fungsional tubuh. Kromosom kelamin (sex chromosome) adalah sepasang kromosom yang
mengandung penentu jenis kelamin. Secara umum pria memiliki kromosom X dan Y,
sedangkan wanita memiliki sepasang kromosom X atau dengan kata lain memiliki XX.
Kromosom Y memiliki kurang dari 100 gen dan membawa sifat jenis kelamin pria.
Karakteristik genetik dapat dilihat secara fenotype maupun genotype. Fenotipe lebih
pada karakteristik yang terlihat, misalnya pada individu dengan alel golongan darah AO,
maka golongan darah yang teridentifikasi adalah golongan A. Ini disebut sifat fenotipe.
Sedangkan genotype adalah sifat bawaan genetic yang mana alel yang sesungguhnya adalah
untuk sifat tersebut. Misalnya golongan darah A bisa terdiri atas genotype AO atau OO.
Mutasi adalah perubahan DNA yang berlangsung melalui satu generasi ke genrasi
berikutnya dan hal itu diturunkan. Bukan berrti secara umum, secara singkat mutasi ini
berlangsung pada sel antar generasi ke genrasi berikutnya sehingga dapat berefek pada
jaringan tertentu tidak pada keseluruhan keluarga.
Beberapa contoh mutasi genetic yang menyebabkan kecacatan, penurunan kualitas hidup,
atau risiko tertentu adalah:
Autosomal dominan
- Diabetes Melitus
- Melanoma familial
- Kanker payudara
- Kanker ovarian
- Marfan syndrome
Autosomal resesive
- Albino
- Cystic fibrosis
- Penyakit sickle cell (anemia sickle cell)
Sex-linked recessive
- Hemofilia
- Glucose-6-phospate dehydrogenase deficiency
Complex disorder/ familial clustering
- Alzheimer
- Hipertensi
- Schizophrenia
- Parkinson
- Bipolar disorder
Lainnya: Syndrome down, Syndrome klinefelter (seorang pria kelebihan 1
kromosom X), Syndrome Turner (seorang wanita kekurangan 1 kromosom X)

Contoh Pertanyaan:
bagian sel berikut yang berperan dalam transportasi protein adalah:
a. Ribosom

6
b. Retikulum endoplasma
c. Mitokondria
d. Apparatus golgi
e. Nucleotide
Jawaban (D)

Pada komponen basa nitrogen berikut, yang manakah ditemukan secara ekslusif di RNA?
a. Thymine
b. Guanine
c. Adenine
d. Uracil
e. Sitosin
Jawaban (D)

Daftar Pustaka:
Graaff, K. & Rhees, R. 2001. Human Anatomy & Physiology. Based on Schaums Outline of
Theory and Problems of Human Anatomy and Physiology. McGraw Hill Company.
ISBN 0-07-140606-9.
Ignatavicius and Workman. 2010. Medical Surgical Nursing: Patient-Centered
Collaboration Care. 6th edition. Missouri: Elsevier. ISBN 978-1-4160-4903-6
Craven, R., Hirnle, C., Jensen,S. 2013. Fudamental of Nursing Human Health and Function.
Seventh Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer. Lippincott Williams &Wilkins.
ISBN 978-1-60547-728-2

BAB 2
BIOLISTRIK DAN KIMIA SELULER

Capaian Pembelajaran (Learning Outcomes)


1. Memahami konsep biolistrik dan kimia seluler sebagai salah satu dasar ilmu
keperawatan
2. Menerapkan prinsip-prinsip fisika biolistrik sebagai suatu pendekatan dalam
menyelesaikan masalah keperawatan

SUB BAGIAN:
Atom
Molekul dan Ikatan Kimia
Organik dan Komponen Anorganik
Substansi Asam Basa

ATOM

7
Seluruh zat hidup dan zat non hidup dalam bumi ini terdiri atas elemen kimia. Sembilan
puluh enam persen (96%) tubuh manusia tersusun atas kimia karbon (C), Nitrogen (N),
Oksigen (O), dan Hidrogen (H). Kalsium (Ca 2+), Posfor (P), Potassium/ Kalium (K) dan
sulfur membangun 3% tubuh. Komponen sisanya adalah (1%) terdiri atas sejumlah kecil zat
besi/ Iron (Fe), Chlorine (Cl), Iodine (I), Sodium/ Natrium (Na), Magnesium (Mg), Copper
(Cu), Mangan (Mn), Cobalt, Chromium (Cr), Florine (F), Molybdenum (Mo), Silicon (Si),
dan Tin (Sn).

Sebuah atom merupakan unit terkecil pada elemen yang terikat pada ikatan kimia. Tiap
elemen murni dalam makhluk hidup dan non hidup terbentuk dari hanya satu jenis atom.
Sebuah atom terbentuk dari 3 jenis partikel dasar:
(1) Proton: menangkap +1, massa 1
(2) Neutron: tidak ada perubahan elektrik, massa 1.
(3) Electron: melepaskan -1, massa sangat kecil.

MOLEKUL DAN IKATAN KIMIA


Suatu molekul merupakan kombinasi dari dua atau lebih atom, masuk dalam ikatan kimia.
Salah satu contoh molekul yang merupakan komponen vital bagi kehidupan adalah air
dengan komponen atom 1 oksigen dan 2 hidrogen (H2O). Molekul membutuhkan untuk
berkumpul bersama dalam ikatan. Ikatan Kimia sendiri terbentuk saat atom atom
mendapatkan electron atau melepaskannya untuk selanjutnya menjadi perubahan positif atau
negative.
Tipe dari ikatan kimia adalah: ikatan ionic, ikatan kovalen, dan ikatan hydrogen.
Sedangkan reaksi kimia terjadi saat bentuk molekul terpisah atau mengatur ulang komponen
atom mereka.

Saat 2 atau lebih substansi berkombinasi tanpa membentuk ikatan satu sama lain maka
disebut Campuran. Solusi (solution) adalah campuran dimana seluruh kobinasi substrat
terdistribusi homogeny. Dalam suaru campuran terdiri atas zat terlarut (solute) dan zat
pelarut (solvent). Misalnya larutan gula dan larutan garam.

Salah satu sifat solusi/ campuran adalah asam (acid) dan basa (alkali). Sifat ini diukur
dengan parameter pH pada larutan campuran tersebut. Derajat keasaman dilambangkan
dengan H+ (ion hydrogen) dan basa dilambangkan dengan OH - (ion hidroksid). Dalam air
murni jumlah ion H+ dan OH- adalah seimbang atau netral dengan nilai pH 7. Suatu kondisi
asam adalah ketika pH tubuh manusia < 7 dan kondisi basa adalah ketika air mendapat
tambahan jumlah konsentrasi OH- sehingga menggeser pH menjadi lebih dari 7-14.

Tubuh manusia memiliki nilai pH normal 7.35 7.45.


Tubuh manusia memiliki suatu sistem pengaturan derajat keasaman yang disebut buffer.
Suatu sistem buffer adalah kombinasi asam lemah dengan garamnya dalam larutan campuran

8
yang berefek pada stabilisasi pH campuran tersebut. Maksudnya,dengan sistem buffer
tersebut maka ketika suatu larutan campuran ditambahkan asam kuat maupun basa kuat
maka tidak akan bergeser pH nya. Jika asam yang ditambahkan maka akan dinetralkan oleh
garam dari asam lemah, dan jika basa yang bertambah pada larutan campuran maka akan
dinetralkan oleh asam lemah itu sendiri. Terdapat 3 sistem buffer yang penting dalam tubuh
manusia yaitu: Buffer bikarbonat ditemukan dalam darah dan cairan ekstra seluler, buffer
fosfat ditemukan dalam ginjal dan cairan intraseluler, dan buffer protein ditemukan pada
semua jaringan.

ORGANIK DAN KOMPONEN ANORGANIK


Komponen organic pasti memiliki atom karbon (C) kecuali CO dan CO 2 mereka adalah
komponen anorganik. Beberapa komponen anorganik namun penting bagi tubuh manusia
adalah air, oksigen, karbondioksia, garam, asam, basa dan elektrolit seperti K +, Na+, Ca2+,
dan Cl-.
Elektrolit tersebut penting dalam fungsi transmisi impuls saraf di otak, menjaga cairan
tubuh, dan berfungsi pada aktivitas enzimatik dan hormonal.
Karbohidrat Tersusun dari karbon, oksigen, dan hydrogen.
Lipid Tersusun dari asam lemak dan gliserol
Protein Tersusun dari asam amino
Asam nukleat Tersusun dari nukleotida yang teridri dari fosfat,
gula, dan basa nitrogen.

Contoh Pertanyaan:
Manakah dari hal berikut ini yang merupakan pernyataan yang salah:
a. Asam meningkatkan konsentrasi ion hydrogen dalam campuran.
b. Asam berlaku sebagai pendonor proton
c. Asam memiliki hidroksida (OH-) yang lebih tinggi dibanding ion hidrogen
d. Asam memiliki pH yang rendah.
Jawaban (C)

Daftar Pustaka:
Graaff, K. & Rhees, R. 2001. Human Anatomy & Physiology. Based on Schaums Outline of
Theory and Problems of Human Anatomy and Physiology. McGraw Hill Company.
ISBN 0-07-140606-9.

9
BAB 3
BIOKIMIA

Capaian Pembelajaran (Learing Outcomes):


1. Menerapkan prinsip-prinsip biokimia sebagai suatu pendekatan dalam
menyelesaikan masalah keperawatan
2. Menganalisis masalah keperawatan dengan menggunakan prinsip-prinsip konsep
biokimia sebagai bagian pendekatan holistik keperawatan

A. SUB BAGIAN MAKRO NUTRIENT


1. Karbohidrat
Rumusan umum : Cn (H2O)n terdiri dari komponen karbon dan hidrat sehingga
dikenal sebagai karbohidrat.
Klasifikasi : karbohidrat dibagi menjadi
1. Monosakarida (gula tunggal)
2. Disakarida (dua monosakarida)
3. Oligosakarida (3 10 monosakarida)
4. Polisakarida (lebih dari 10 monosakarida)
MONOSAKARIDA :
Struktural terdapat dua derivate, masing-masing :
1. ALDOSA, yaitu derivate polihidroksi aldehida
2. KETOSA, yaitu derivate polihidroksi keton
Aldose yang paling sederhana yaitu aldotriosa (gliseral-dehida) dan ketosa yang paling
sederhana adalah ketotriosa (dihidroksiaseton)
HC=O CH2OH
H C OH C=O
CH2OH CH2OH
Gliseraldehida Dihidroksiaseton
Table : Monosakarida yang penting
Aldosa Ketosa
Triosa Gliseraldehida Dihidroksiaseton
Tetrosa Treosa
Eritrosa
Pentosa Ribose/Deoksiribosa Xilulosa
Arabinose Ribulosa
Xilosa
Liksosa
Heksosa Glukosa Fruktosa
Galaktosa/Fukosa
Mannosa

DISAKARIDA
Disakarida yang penting adalah :

10
1. Maltose. , D-glukopiranosil (1-4)-, D-glukopiranosida
2. Laktosa. , D-galaktopiranosil (1-4)-, D-galaktopiranosida
3. Sukrosa. , D-fruktotofuranosil (2-1)-, D-fruktofuranosida
4. Trehalosa. , D-glukopiranosil (1-1)-, D-glukopiranosida
5. Sellobiosa. , D-glukopiranosil (1-4)-, D-glukopiranosida
POLISAKARIDA
Polisakarida yang terpenting adalah :
1. Pati (Amilum, stratch)
Suatu glukosans molekulnya terdiri dari 2 komponen :
- Amilosa, berbentuk heliks tanpa cabang, 15-20%, memiliki ikatan (1-4)-
glukosida
- Amilopektin, memiliki rantai bercabang, 80-85%, rantai lurus memiliki ikatan
(1-4)-glukosida sedangkan pada percabangannya merupakan ikatan (1-6)-
glukosida.
2. Glikogen
Suatu glukosan
Struktur molekul bercabang dengan ikatan (1-4)-glukosida pada rantai lurusnya dan ikatan
(1-6)-glukosida pada percabangannya.
3. Inulin
Suatu fruktosan
Di klinik dipergunakan untuk tes laju infiltrasi glomerulus ginjal.
4. Dekstrin
Suatu senyawa antara pada hidrolisis amilum
5. Sellulosa
Suatu glukosan dengan rantai , D-glukopiranosida. Tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim
salyran pencernaan manusia.

HEMISELLULOSA
Istilah ini telah lama dipergunakan untuk pentosans, galaktans, mannans, dan sejenisnya.

GLIKOSAMINOGLIKAN
Suatu polisakarida kompleks, dimana unit-unitnya bukan merupakan suatu
monosakarida tertentu, melainkan dua derivate monosakarida yaitu asam uronat dan gula
amina.
Glikosaminoglikan meurpakan bahan dasar (Ground Substance) jaringan ikat tubuh.
1. Asam hialuronat
Unitnya terdiri dari asam -glukuronat dan N-asetil-glukosamine. Asam hialuronat dapat
dijumpai antara lain di persendian tubuh.

11
2. Heparin
Unitnya terdiri dari glukosamin sulfat dan asam glukuronat sulfat. Heparin di klinik
dipergunakan sepagai antikoagulasia (pencegahan darah menggumpal).

3. Kondroitin-4-sulfat dan Kondroitin-6-sulfat


Keduanya dijumpai dalam tulang rawan dan tulang.

DERAJAT KEMANISAN GULA


Sebagai pembanding derajat kemanisan sukrosa = 100
Gula Derajat Kemanisan
Laktosa 16,0
Galaktosa 32,1
Maltose 32,5
Glukosa 74,3
Sukrosa 100,0
Invert sugar* 127,4
Invert sugar** 130,0
Fruktosa 173,0
*Dibuat oleh kerja invertase terhadap sukrosa
**Campuran sama banyak glukosa dan fruktosa

2. LIPID (LEMAK)
Klasifikasi
Menurut Bloor, lipid diklasifikasi sebagai
1. Lipid sederhana
Yaitu ester asam lemak dengan alcohol berupa gliserol membentuk triasilgliserol atau
alcohol monohidrat yang lebih tinggi membentuk lilin.

12
2. Lipid gabungan
Yaitu selain ester asam lemak dengan alcohol masih terdapat komponen lainnya seperti
fosfat (fosfolipid); karbohidrat (glikolipid); lain-lainnya yaitu sulfat (sulfolipid); amino
(aminolipid) dan protein (lipoprotein).
3. Produk lipid
Yaitu komponen produk hidrolisis kedua golongan lipid tersebut di atas.
ASAM LEMAK
Terdapat dua macam asam lemak yaitu :
1. Asam lemak jenuh (CnH2n + 1COOH)
2. Asam lemak tidak jenuh (CnH2n-1 COOH; CnH2n-3 COOH; dst. Berturut-turut satu,
dua ikatan rangkap dst.)
Ad.1. Asam-asam lemak termasuk asam lemak jenuh (CnH2n + 1COOH)
n= 1 asam asetat n= 2 asam propionate
3 asam butirat 5 asam
kaproat 7 asam kaprilat 9
asam kaprat 11 asam laurat
13 asam miristat 15 asam palmitat
17 asam stearat 19 asam arakhidrat
21 asam behenat 23 asam lignosenat
Ad.2. asam lemak termasuk asam lemak tidak jenuh dengan rumus empiris
CnH2n - 1COOH 18:1;9 asam oleat
CnH2n - 3COOH 18:2;9,12 asam linoleat
CnH2n - 5COOH 18:3:9,12,15 asam linolenat
CnH2n - 7COOH 20:4;5,8,11,14 asam
arakhidonat

FOSFOLIPID
Dibedakan antara :
1. Derivat Asam Fosfatidat GAMBAR
Termasuk dalam kelompok ini adalah :
a. Lesitin (fosfatidil kolin)
b. Sefalin (fosfatidil etanolamin)
c. Fosfatidil serin
d. Fosfatidil inositol
2. Kelompok lainnya
Yaitu derivate berupa monosilfosfatidat
STEROL
Sterol adalah suatu komolek alcohol monohidroksi yang dijumpai baik di dalam jaringan
tanaman maupun jaringan hewan.

KOLESTEROL
3 OH 5 , 6-Kolesten
Tidak dijumpai dalam jaringan tanaman, hanya dalam jaringan hewan.

13
Organ-organ yang banyak mengandung kolesterol adalah corpus luteum dan kortes
adrenal. Jaringan saraf juga banyak mengandung kolesterol. Mayoritas komponen batu
empedu merupakan kolesterol.
Mikroskopik : tampak sebagai Kristal tak berwarna berbentuk segi empat di bagian salah
satu sudutnya bergerigi.

Tes berwarna kolesterol (tes kwalitatif) di Laboratorium dapat dilakukan tes Liebermann-
Burchard atau tes Salkowski
Pemisahan kolesterol bebas dari kolesterol ester dapat diberikan digitonin, di mana
kolesterol bebas akan membentuk kolesterol-kolesterol digitonida yang tidak larut dalam
petroleum ether; sedangkan kolesterol ester, larut.
Bilangan persabunan (saponifilation number) dan bilangan jodium (iodine number),
serta Wax.
Bilangan persabunan adalah banyaknya (mg) KOH yang diperlukan untuk menetralisir asam
lemak dalam 1 rg lemak. (Bil.persabunan dipergunakan untuk mengetahui panjangnya rantai
asam lemak dalam molekul lemak tersebut).
Bilangan jodium adalah banyaknya (mg) kodium yang diadopsi oleh 100 gm lemak
(bilangan jodium dipergunakan untuk kemurnian lemak)
WAX (malam) adalah ester asam lemak dengan alcohol tertenu (bukan gliserol atau sterol),
dan tidak dicerna dalam saluran pencernaan.

3. PROTEIN
Klasifikasi
1. Protein sederhana
Yaitu polipeptida terdiri dari asam-asam amino yang dirangkaikan oleh ikatan peptida.
2. Protein yang terkonjugasi dengan senyawa non-protein
Misalnya : Nuleoprotein di mana nonproteinnya merupakan asam terkonjugasi dengan
mineral; glikoprotein terkonjugasi dengan karbohidrat.
3. Senyawa keturunannya yaitu hasil pemecahan kedua kelompok/kelas tersebut
diatas.
Struktur protein
Struktur molekul protein berupa :
1. Struktur primer
2. Struktur sekunder
3. Struktur tertier
4. Struktur kwartener
Struktur primer molekul protein dihubungkan dengan urutan asam amino di dalam rantai
polipeptida / mol pritein.
Struktur sekunder dan tertier dihubungkan dengan konformasi rantai polipeptida.
Konformasi dihubungkan dengan posisi relative dalam ruang masing-masing atom dari
molekul. Rotasi bebas sekitar ikatan tunggal yang menghubungkan atom karbon lebih
memungkinkan terjadi bila dibandingkan dengan ikatan rangkap. Sedangkan ikatan dalam

14
rantai polipeptida memiliki sifat ikatan polipeptida menjadi struktur pilin yang spesifik yang
diikat oleh ikatan disulfide dan ikatan hydrogen disebut sebagai struktur sekunder protein.
Susunan dan hubungan rantai protein yang membelit menjadi lapisan atau serabut yang
spesifik disebut struktur tertier protein. Struktur tertier dipertahankan oleh ikatan yang lemah
seperti ikatan hydrogen atau tenaga van der Waals.
Banyak protein mneunjukkan organisasi tingkat keempat, dimana terjadi penggabungan
beberapa unit monomer beberapa unit monomer masing-masing dengan struktur primer,
sekunder dan tertier yang sesuai.
Sifat-sifat umum protein
1. Bila dibakar berbau rambut terbakar.
2. Diendapkan oleh garam-garam logam berat, misalnya air raksa, timah putih dan
timah hitam. Hal ini terjadi bila PHnya lebih alkali dari pada plnya., dimana
logam berat tersebut terikat pada gugus karboksilnya membentuk proteinat logam
berat.reaksi protein dengan logam berat ini dipakai sebagai dasar pertolongan
pertama pada keracunan logam berat dengan cara melakukan pemberian protein
susu atau telur mentah kepada korban yang belum lama meminum racun tersebut.
3. Asam-asam tertentu dapat mengendapkan protein oleh karena protein
mengandung gugus NH2. Asam-asam semacam ini seringkali dinamakan
sebagai alkaloid; misalnya: asam trikloroasetat, asam fosfotungstat, asam
fosfomolibdat, asam perklorat, asam sulfosalisilat.
4. Protein, terutama asam amino yang dikandungnya menghasilkan beberapa reaksi
warna, di antaranya :
a. Reaksi santoprotein, reaksi ini berdasarkan reaksi nitrai inti benzene asam
amino aromatic seperti fenilalanin, tirosin, triptofan.
b. Reaksi Millon, reaksi ini berdasarkan inti fenol bereaksi dengan ragnesia
Millon, seperti asam amino tirosin, memberikan warna merah.
c. Reaksi sakaguchi, reaksi ini berdasarkan adanya gugus guanidine dengan
reagnesia sakaguchi, seperti asam amino arginine, memberikan warna
merah.
d. Reaksi biuret, reaksi ini berdasarkan dua atau lebih ikatan peptide dengan
reagnesia biuret memberikan warna leembayung. Berarti semua protein
menghasilkan warna lembayung.
Denaturasi Protein
Denaturasi protein hanya mengalami perubahan sifat fisiknya dan tidak mengalami
perubahan kimianya dan tidak sampai terjadi proses hidrolisis. Penyebab denaturasi protein
antara lain detergen dan cahaya. Misalnya katarak pada lensa mata manula disebabkan
denaturasi globulin lensa tersebut oleh pengaruh cahaya.
Perkiraan banyak protein dalam makanan

15
Secara praktis dipergunakan dasar dimana umumnya protein mengandung 16% nitrogen.
Dengan menganalisa jumlah nitrogen menggunakan metode KJELDAL, maka diperoleh :
NX6,25=Prosentase Protein
ASAM AMINO
Klasifikasi asam-asam amino dilihat dari aspek-aspek tertentu :
1. Struktur kimianya
Yaitu : A.asam-asam amino bersifat asam, misalnya aspartate
B.asam-asam amino bersifat netral, misalnya alamin
C.asam-asam amino bersifat basa, misalnya lisin
2. Kepentingan gizi
Yaitu : A.asam-asam amino esensial, misalnya fenilalanin
B.asam-asam amino semiesensial, misalnya arginine
C.asam-asam amino nonesensial, misalnya tirosin
3. Jalur metabolism yang ditempuhnya
Yaitu : A.glikogenik mutlak, misalnya alanine
B.glikoketogenik, misalnya triptofan
C. ketogenik mutlak, misalnya leusi
4. ASAM NUKLEAT

Dikenal pula sebagai polinukleotida


NUKLEOTIDA
Komponen pembentukan mokeul nukleotida adalah :
1. Basa-Nitrogen
Derivate purin, seperti : Adenin dan Guanin
Derivate pirimidin seperti : sitosin, timin, dan urasil
2. Pentosa
Dalam molekul RNA (ribonucleic acid) berupa Ribosa, sedangkan dalam molekul DNA
(Deoksiribonucleic acid) berupa deoksi-Ribosa.
3. Asam fosfat (H3PO4)

B. SUB BAGIAN METABOLISME ZAT MAKRONUTRIENT


1. METABOLISME KARBOHIDRAT
Karbohidrat merupakan satu diantara nutrient utama bagi manusia. Di dalam tubuh
manusia dijumpai beberapa jalur oksidasi karbohidrat, misalnya :
1. Glikolisis anerob. Sering dikenal pula sebagai jalur Embden Meyerhof. Jalur
oksidasi ini berlangsung tanpa adanya oksigen.
2. Glikolisis aerob. Sering dikenal pula sebagai siklus Kreb (siklus TCA =
Trikarbonsilat; siklus asam sitrat) jalur ini berlangsung dengan adanya oksigen.
Reaksi kedua jalur tersebut dihubungkan oleh asetil-SKoA yaitu satu produk reaksi
oksidasi dekarboksilasi dan glikogenolisis.
3. Jalur glikogenesis dan glikogenolisis
4. Jalur asam glukuronat
5. Jalur HMP-shunt(hexose mono phospohate shunt)
6. Jalur gluconeogenesis
Dan tidak kurang pentingnya adalah jalur oksidasi spesifik bagi monosakarida tertentu.

16
Jalur glikolisis anerob
Dikenal pula sebagai jalur Embden-Mayerhof dan berlangsung di sitosol sel jaringan
tubuh.
Untuk mudah mengingatnta jalur EM dibagi menjadi dua kelompok deretan reaksi :
2. Kelompok deretan reaksi Heksosa dengan kelengkapannya yang terkait bertitik tolak
pada reaksi perubahan glukosa menjadi glukosa-6P dan berakhir pada reaksi
pembentukan fruktosa-1,6-bisfosfat dari fruktosa-6P.
3. Kelompok reaksi triosa dengan kelengkapannya yang terkait bertitik tolak pada
pembentukan 1 molekul Gliseraldehida 3P dan 1 molekul dihdroksiaseton P yang
berasal dari pemecahan molekul fruktosa-1,6-bisfosfat, dan berakhir pada
pembentukan asam laktat dari asam piruvat.
Jalur dekarboksilasi Oksidatif Piruvat
Reaksi ini dikartalisis oleh enzim komplek Piruvat DH-ase yang melibatkan
koenzim TPP (Thiamin Pyro Phosphate); L(S)2; KoASH; FAD; dan NAD.
Diawali reaksi dekarboksilasi piruvat yang menghasilkan CO 2 dan radikal
hidroksietil dalam bentuk molekul TPP-hidrosietil.
Berikutnya, gugus hidroksietil dari molekul TPP-hidroksietil dioksidasi menjadi
asetil, dan selanjutnya gugus asetil dari molekul TPP-asetil ditransfer ke koenzim L(S) 2
membentuk asetil-lipoamida.
Berikutnya, gugus asetil dari molekuk asetil-lipoamida ditransfer ke Koenzim A
membentuk asetat aktif (asetil-SKoA) disertai L- (SH)2.
Produk L- (SH)2 tersebut mentransfer elektronnya ke FAD menghasilkan FADH2 dan
terbentuk L(S)2, yang dipakai kembali pada reaksi oksidatif dekarbiksilasi asam piruvat
berikutnya. Selanjutnya FADH2 mentransfer elektronnya ke NAD + menghasilkan NADH+H+
dan FAD+ dibebaskan untuk dipakai kembali seperti L(S)2.
Akhirnya NADH memasuki RP menghasilkan 3 molekul ATP. Berarti dekarboksilasi
oksidatif satu molekul asam piruvat menghasilkan 1 molekul asetil-SKoA + 3 molekul ATP.

17
Siklus asam sitrat
Dikenal pula sebagai siklus trikarboksilat atau siklus krebs.
Diawali oleh reaksi kondensasi asetil-SKoA dengan oksaloasetat yang dikatalisis
oleh enzim sitrat sintase. Reaksinya bersifat reversible dan menghasilkan asam nitrat.
Berikutnya, asam sitrat diubah menjadi isositrat yang dikatalisis oleh enzim
akonitase. Reaksinya bersifat reversible. Selanjutnya isositrat dehydrogenase dengan KoDH-
ase NAD+. Reaksinya bersifat reversible dan produk NADHnya memasuki RP mnghasilkan
3 molekul ATP.
Berikutnya alfa-ketoglutarat diubah menjadi suksinil-SKoA yang dikatalisis oleh
komplek enzim alfa-ketoglutarat dehidgogenase dengan KoDH-ase NAD +. Reaksinya
bersifat reversible. Selain NAD + reaksi inipun menghasilkan KoASH. Produk NADH
memasuki RP sehinnga dihasilkan 3 molekul ATP.
Suksinil-SKoA adalah satu substrat berenergi tinggi, sehingga apabila dia
membebaskan KoASHnya yang dikatalisis oleh enzim suksinat tiokinase akan dihasilkan 1
molekul GTP (sinonim dengan ATP). Reaksinya bersifat reversible.
Selanjutnya suksinat berubah menjadi fumarat yang dikatalisis oleh enzim suksinat
dehydrogenase dengan Ko-DH-ase FAD. Produk FADH2 memasuki RP sehingga dihasilkan
2 molekul ATP. Reaksinya bersifat reversible.
Kemudian fumarat diubah menjadi malat yang dikatalisis oleh enzim fumarase.
Reaksinya bersifat reversible tanpa menghasilkan molekul ATP. Akhirnya malat diubah
menjadi oksaloasetat yang dikatalisis oleh enzim malat dehydrogenase dengan Ko-DH-ase
NAD+ , dan produk NADH memasuki RP sehingga menghasilkan 3 molekul ATP. Reaksinya

18
bersifat rversibel dan oksaloasetat yang terbentuk dipakai lagi untuk mengawali siklus asam
sitrat berikutnya.

Glikogenesis dan glikogenolisis


Glikogenesi dan
glikogenolisis erat hubungannya dengan
kestabilan kadar gula darah dalam tubuh seseorang. Glukosa 6P merupakan senyawa
intermediate jalur EM yang menjadi titik temu antara jalur EM dengan jalur glikogenesis dan
jalur glikogenolisis.

Glikogenesis
Awal reaksi sama dengan jalur EM yaitu reaksi pembentukan glukosa 6P dari
glukosa yang dikatalisis oleh enzim heksoskinase atau enzim glukokinase, dan reaksinya
berifat irreversible.
Selanjutnya gugus fisfat C6 dimutasi intramolekuler ke 1 molekul glukosa
menghasilkan glukosa 1P. rekasi tersebut dikatalisis oleh enzim fosfoglukomutase yang
bersifat irreversible.
Berikutnya, glukosa 1P dengan dikatalisis oleh enzim UDPG pirofisforilase yang
bersifat irreversible menghasilkan UDPG (Uridin Di Phosphat Glukosa) yang dikenal pula
sebagai glukosa aktif.
Kemudian, dengan dikatalis oleh enzim glikogen sintase, atom karbon-1 molekul
glukosa dari molekul UDPG membentuk ikatan glukosidat dengan atom karbon-4 residu
glukosa terminal dari moleul glikogen primer (yang sudah tersedia sebelumnya); ini
merupakan reaksi awal dari reaksi pembentukan molekul glikogen seutuhya. Apabila rantai
glukosida tersebut telah mencapai panjang rantai yang minimal terdiri dari 11 residu ing
enzyme (amilo-1,401,6 transglukosidase). Cabang yang baru ini memperpanjang rantai
glukosida seperti cara yang pertama tadi; dan cabang baru inipun mengalami percabangan

19
baru lagi apabila panjang rantai telah mencapai minimal yang terdiri dari 11 residu glukosa.
Ini berlangsung terus menerus sampai pada akhirnya pohon molekul glikogen terbentuk
secara tuntas.

Glikogenolisis
Jalur glikogenolisis bukan merupakan jalur balik glikogenesis yang disebabkan kerja
enzim yang bersifat reversible melainkan masing-masing mempunyai jalur sendiri dengan
macam enzim yang berbeda.
Pemecahan ikatan glukosida-1,4- yang dimulai dari bagian terminal setiap rantai
cabang yang mengarah ke pangkal percabangan rantai samoai dicapai 4 residu glukosa
tersisa dari titik percabangan rantai. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim fosforilase spesifik dan
dihasilkan glukosa.
Unit trisakarida dari residu 4 molekul glukosa yang tersisa tadi dipindahkan ke rantai
cabang lainnya. Reaksi tersebut dikatalisis oleh enzim glukan transferase; akibatnya titik
cabang -1,6- menjadi terbuka.
Selanjutnya titi cabang -1,6- glukosida yang terbuka ini dihidrolisis oleh
debranching enzyme yang bersifat spesifik, yang berupa enzim amilp -1,6-glukosidase.
Selanjutnya gugus fosfat pada atom C-1 dari molekul glukosa-1P dimutasi
intamolekuler membentuk glukosa-6P. reaksi tersebut dikatalisis oleh enzim
fosfoglukomutase yang bersifat ireversibel.

Enzim adenilat siklase mempengaruhi Glikogenesis dan glikogenolisis secara tidak


langsung adenilat siklase hanya mengkatalisis pembentukan AMP-siklis dari ATP yang
bersifat merangsang fosforilase dan menekan glikogen sintase.

20
HMP-shunt (Hexose Mono Phosphate shunt = jalur glukonat)
HMP-shunt berlangsung di dalam sitosol sel jaringan tertentu, misalnya hati,
kelenjar susu dalam laktasi, dan jaringan lemak.
Keperluan utama dari HMP-shunt adalah menghasilkan pentose, misalnya yang
digunakan untuk pembentukan DNA dan RNA. Produk tambahan lainnya dari HMP-shunt
yaitu NADPH, yang bermanfaat bagi biosistesi asam lemak. Gliseraldehid-3P dan fruktosa-
6P, kedua senyawa intermediate tersebut merupakan penghubung (titik temu) antara jalur
glikolisis anerob Embden-Mayerhof dengan HMP-shunt karena keduanya selain sebagai
senyawa intermediate di jalur EM.

Jalur glukuronat
Terdiri dari sederetan reaksi yang terkait dalam pembentukan glukuronat yang
berasal dari glukosa di jaringan tubuh.
Di dalam tubuh glukuronat mempunyai arti penting, misalnya glukuronat sebagai
senyawa konjugat pada reaksi detoksikasi beberapa macam metabolit atau obat-obatan yang
berlangsung di dalam hati, glukuronat sebagai senyawa konjugat dengan bilirubin pada
transportasi bilirubin (pigmen empedu) di dalam sirkulasi darah.
Pada hewan termasuk golongan non primate, jalur glukuronat juga merupakan jalur
biosintesin asam askorbat (vitamin C); tetapi pada golongan hewan primate, termasuk
manusiaa, tidak mengandung enzim yang mengkatalisis reaksi perubahan gulonolakton
menjadi 2-keto-L-glunolakton, sehingga baik hewan golongan primate maupun manusia
keduanya tidak dapat mensintesis vitamin C dalam tubuhnya. Berarti vitamin C harus
diberikan dalam makanan untuk manusia dan hewan golongan primate.
Deretan reaksi pembentukan glukuronat yang berasal dari glukosa sampai dihasilkan
UDP glukosa berlangsung sejalan dengan deretan reaksi yang dijumpai di jalur glikogenesis.
Selanjutnya UDP glukosa membentuk UDP glukuronat melalui reaksi yang
dikatalisis oleh enzim UDP glukosa dehydrogenase dengan Ko-Dh-ase-NAD + yang
menghasilkan NADH+. Reaksinya bersifat reversible.
Xylulosa 5P adalah senyawa intermediate yang dijumpai baik di jalur glukuronat
maupun di jalur HMP-shunt. Berarti jalur glukuronat memasuki jalur EM secara tidak
langsung yaitu dengan perantaraan xylulosa 5P masuk ke jalur HMP-shunt lebih terdahulu
untuk kemudian dengan perantaraan gliserald 3P dan fruktosa 6P masuk ke jalur Embden-
Meyerhof.
Dari awal sampai dihasilkan xylulosa 5P di jalur HMP-shunt dihasilkan NADPH,
sedangkan dijalur glukuronat digunakan NADPH.

Metabolism fruktosa
Heksokinase mengkatalisis reaksi perubahan fruktosa menjadi fruktosa 6P. jalur ini
bukan jalur oksidasi fruktosa yang utama di dalam tubuh. Fruktosa 6P juga merupakan salah
satu senyawa intermediate di jalur glukolisis anerob Embden-Meyerhof.

21
Di hati, ginjal dan usus dijumpai enzim yang bersifat spesifik untuk fruktosa, yang
dikenal sebagai enzim fruktokinase, yang aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh keadaan puasa,
atau hormone insuli, dan peroduknya berupa fruktosa 1P. jalur ini merupakan jalur utama
untuk oksidasi fruktosa di dalam tubuh. Jadi enzim fruktokinase brbeda dengan glukokinase;
yaitu enzim yang terakhir dipengaruhi oleh keadaan puasa atau hormone insulin sedangkan
yang pertama tidak.
Selanjutnya fruktosa 1P dapat mempengaruhi dua jalur oksidasi :
1. Fruktosa 1P diubah menjadi fruktosa 1,61-bisfosfat yang dikatalisis oleh enzim 1-
fosfofruktokinase denngan ATP sebagai sumber gugus fosfat yang terikat pada
atom karbon 6 fruktosa- 1,6-bisfosfat merupakan senyawa intermediate terakhir
yang berupa heksisa di jalur glikolisis anerob Embden-Meyerhof.
2. Fruktosa 1P dipecah menjadi dihdroksi-asetonfosfat dan gliseraldehida yang
dikatalisis oleh enzim aldolase. Dihidroksi aseton P adalah salah satu senyawa
intermediate di jalur glikolisis anerob Embden-Meyerhof, sedangkan gliseraldehida
memasuki jalur glikolisis anerob Embden-Meyerhof melalui pembentukan :
a. Gliseraldehida 3P yang dikatalisis oleh enzim triosa kinase dnegan ATP
sebagai sumber gugus fosfat yang terikat pada atom karbon 3. Jalur ini
merupakan jalur utama mentab gliseraldehida.
b. D-gliserat yang dikatalisis oleh enzim aldehid dehydrogenase dengan Ko-
DH-ase NAD+. Selanjutnya D-gliserat membentuk 2-fosfogliserat yang
dikatalisis oleh enzim gliserat kinase dengan ATP sebagai sumbr gugus
fosfat yang terikat pada atom karbon 2; tetapi gliserat kinase inaktif pada
manusia.
Fruktosa bias juga mengambil jalur metabolism yang lainnya yaotu melalui
pembentukan senyawa D-sorbitol yang dikatalisis oleh enzim sorbitol dehydrogenase dengan
Ko-DH-ase NAD+. Selanjutnya sorbitol diubah menjadi glukosa melalui reaksi yang
dikatalisis oleh enzim aldose reduktase dengan Ko-DH-ase NADP +. Akhirnya, fruktosa
dioksidasi melalui jalur glikolisis anerob Embden-Meyerhof.

Metabolisme galaktosa
Galaktosa yang terdapat di dalam makanan diserap di mukosa intestine dan
selanjutnya diubah menjadi glukosa di dalam hati.
Jaringan tubuh dapat membentuk galaktosa untuk berbagai macam keperluan
bersifat spesifik, misalnya membentuk laktosa yaitu komponen dehidrat arang dari ASI;
glikolipid tertentu; mukoprotein tertentu misalnya yang dijumpai sebagai komponen jaringan
tertentu.
Perubahan galaktosa menjadi galaktosa 1P melalui satu reaksi yang dikatalisis oleh
enzim galaktokinase dengan ATP sebagai sumber gugus fosfat yang diikat pada atom karbon
1 dari molekul galaktosa 1P. reaksi ini mengawali perubahan galaktosa menjadi glukosa.

22
Selanjutnya, gugus UDP dari molekul UDP glukosa ditransfer ke ,olekul Galaktosa
1P melalui reaksi yang dikatalisis oleh enzim galaktosa 1P uridil transferase yang
menghasilkan UDP galaktosa dan glukosa 1P. apabila UDP galaktosa diubah menjadi UDP
glukosa melalui reaksi yang dikatalisis oleh enzim UDP galaktosa 4 epimerase.
Selanjutnya produk UDP glukosa pertama kali menempuh jalur glikogenesis dan
kemudian kembali melalui jalur glikogenesis untuk menghasilkan glukosa 1P.
Kemudian glukosa 1P melalui reaksi yang dikatalisis oleh enzim fosfoglukomutase
diubah menjadi glukosa 6P. di jaringan hati glukosa 6P diubah menjadi glukosa melalui
reaksi yang dikatalisis oleh enzim glukosa-6-fosfatase.
Pada masa laktasi, pembentukan laktosa komponen ASI, UDP galaktosa bereaksi
dengan glukosa dan reaksi tersebut dikatalisis oleh enzim laktosa sintetase dengan disertai
pembebasan UDP.

Metabolism gula-amin (heksosamin)


Gula-amin mempunyai arti penting untuk struktur jaringan terutama sebagai unit
glikosaminogilakan (mukopolisakarida) dalam molekul glikoprotein dan muko-protein.

Perubahan glukosa menjadi gula-amin, mempunyai kesamaan dua tahap reaksi yang
pertama dengan dua tahap reaksi yang pertama dari glikolisis anerob EM yaitu sampai
dihasilkan molekul fruktosa 6P; selanjutnya fruktosa 6P membentuk glukosamin 6P melalui
reaksi aminasi dengan glutamin sebagai senyawa donor gugus aminnya.
Selanjutnya glukosamin 6P dapat menempuh beberapa jalur metabolism
pembentukan glua amin lainnya yang dijumpai dalam molekul mukosakarida yang menjadi
komponen molekul mukoprotein atau glikoprotein tertentu yang dijumpai di jaringan tubuh,
misalnya berupa asam hialuronat pada persendian, heparin yang diproduksi oleh sel mast dan
digunakan sebagai antikoagulans; kondroitin pada tulang rawan.

Jalur gluconeogenesis

23
Gluconeogenesis adalah reaksi pembentukan glukosa yang berasal dari senyawa-
senyawa non karbohidrat misalnya asam-asam amino, senyawa-senyawa intermediate yang
dijumpai di jalur-jalur metabolism.
Terutama, gluconeogenesis berlangsung pada keadaan tubuh yang sedang
mengalami kekurangan glukosa untuk memenuhi energy yang diperlukan oleh tubuh.
Pada jalur glikolisis anaerob, yang berlangsung di sitosol, terdapat satu kendala yang
sangat tidak mungkin untuk membalikkan reaksi glikolisis anerob secara langsung dari laktat
membentuk kembali glukosa; karena enzim piruvat-kinase, yang mengkatalisis perubahan
PEP menjadi keto-piruvat, bersifat irreversible dan tidak dijumpai enzim lain yang
membalikkan secara langsung rekasi yang dikatalisisnya itu. Tetapi hal ini dapat diatasi
dengan cara di mana asam piruvat dari sitosol memasuko mitokondria lebih dahulu.
Selanjutnya di dalam mitokondira, asam piruvat membentuk oksaloasetat yang dikatalisis
oleh enzim piruvat karboksilase.
Kemudian oksaloasetat yang dihasilkan tadi membentuk malat yang dikatalisis oleh
enzim malat dehydrogen.ase dengan Ko-DH-ase NADH.
Selanjutnya malat keluar menembus mitokondria ke dalam sitosol, dan di dalam
sitosol, malat membentuk oksaloasetat kembali dikatalisis oleh enzim malat DH-ase dengan
Ko-DH-ase NAD+.
Akhirnya, di sitosol oksaloasetat membentuk fosfoenolpurivat yang dikatalisis oleh
enzim fosfoenolpurivat karbiksikinase dengan GTP, sebahai sumber guguus fosfat yang
terikat dalam molekul PEP. Dengan demikian untuk selanjutnya jalur glikolisis anerob EM
dapat dikembalikan sampai terbentuknya glukosa yang diperlukan. Tetapi hal ini tidak
berlaku untuk glukoneogenesis dalam otot, karena setelah terbentuknya glukosa 6P dari
reaksi balik glikolisis anerob EM, glukosa 6P tidak dapat membentuk glukosa, karena otot
tidak mengandung enzim glukosa-6-fosfatase, yang mengkatalisis perubahan glukosa 6P
menjadi glukosa. Akibatnya, bila produk asam laktat di otot akan diubah menjadi glukosa,
harus ditransfer lebih dulu ke hati, baru kemudian di hati terjadi pembentukan glukosa dari
asam laktat melalui jalur gluconeogenesis tadi. Perujalanan laktat dari otot melalui sirkulasi
darah menuju ke hati untuk membentuk glukosa dikenal sebagai siklus asam laktat (siklis
cori).
Pengaturan metabolism karbohidrat
Pengaturan metabolism karbohidrat dilakukan melaui dua system :
1. System pada tingkat selluler enzimatik
2. System yang mengkaitkan factor yang berpengaruh pada kadar gula dalam darah.
Ad.1 Pengaturan metabolism karbohidrat tingkat selluler dan enzimatik.
Adanya perubahan nutrient maupun perubahan keseimbangan hormonal di dalam
tubuh hewan dapat dilihat dari adanya perubahan kadar metabolit di dalam darah.

24
Adanya perubahan kadar substrat di dalam darah, secara langsung maupun tidak
langsung dapat digunakan untuk menyatakan adanya perubahan metabolism yang
berlangsung di dalam jaringan tubuh.
Fluktuasi kadar substrat di dalam darah dapat disebabkan oleh adanya perubahan
dalam jumlah nutrient yang digunakan, peningkatan kecepatan sekresi hormone yang terkait
di jalur metabolism substrat, yang kerjanya mempengaruhi aktivitas enzim utama yang
berperan dinjalur metabolism substrat yang bersangkutan.
Terdapat tiga macam mekanisme pengaturan aktivitas enzim pada metabolism
karbohidrat, yaitu berupa :
a. Perubaha sintesis enzim
b. Perubahan enzim non aktif menjadi aktif
c. Efek allosteric
Ad.2 gula darah berasal dari :
a. Makanan sehari-hari
b. Senyawa glukogenik
c. Glikogen hati dan otot

25
2. METABOLISME LEMAK
Lemak merupakan nutrient utama yang ke dua yang dibahas terutama mengenai
aspek metabolism atau pngolahannya di dalam tubuh manusia.

26
Lemak yang mempunyai arti penting dalam tubuh mamalia adalah trasilgliserol,
fosfolipid, steroid serta metabolitnya dari masing-masing lemak tersebut.
Lemak didalam tubuh selalu mengalami pergantian yang lama dengan yang baru,
dengan kata lain lemak tubuh dalam keadaan yang dinamis.
Sebenarnya banyak diantara karbohidrat yang terdapat di dalam makanan manusia
mengalami perubahan lebih dahulu ke dalam lemak sebelum mereka dioksidasi sebagai
penghasil energy di dalam tubuh.
Lemak sebagai bentuk simpanan energy yang utama di dalam tubuh adalah triasil-
gliserol. Hal ini memberikan beberapa keuntungan bila dilihat pada aspek :
1. Nilai kalorinya. Triasilgliserol mempunyai nilai kalori yang tinggi.
2. Kadar air yang dikandungnya. Triasilgliserol mempunyai kadar air yang kecil,
sehingga lebih tahan lama bila disimpan di dalam tubuh.
3. Jumlah air oksidasinya. Bila triasilgliserol dioksidasi, komponen asam lemaknya
menghasilkan air-oksidasi dalam jumlah yang banyak. Hal ini menguntungkan
terutama bagi hewan yang bertemopat tinggal dalam udara yang kering.
Bagaimanapun lemak sangat diperlukan keberadaannya dalam makanan, sebab
lemak selain merupakan sumber asam lemak esensial juga diperlukan sebagai pelarut
golongan vitamin yang larut dalam lemak.
Oksidasi-beta asam lemak
Oksidasi asam lemak melalui cara oksidasi-beta dihasilkan molekul asetil SKoA
sebagai produk pemecahan rantai yang terletak diantara atom karbon alfa dan beta.
Diawali dengan reaksi pengaktifan asam lemak oleh enzim asil SKoA sintetase
(tiokinase). Enzim ini ditemukan baik di dalam maupun di luar mitokondria dan dijumpai
lebih dari satu macam, di antaranya :
1. Enzim asil SKoA sintetase yang memerlukan ATP sebagai sumber energy yang
diperlukannya. Reaksi ini selain KoASH, memerlukan juga ATP sebagai sumber
energy. Energy diperoleh dari hasil pemecahan ATP menjadi AMP + PPi. Reaksi ini
menghasilkan asil-SKoA (asil aktif).
2. Enzim asil-SKoA sintetase yang memerlukan GTP sebagai sumber energy yang
diperlukannya. Reaksi ini selain KoASH memerlukan juga GTP sebagai sumber
energy. Energy diperoleh dari pemecahan GTP menjadi GDP+P1. Rekasi ini
menghasilkan asil-SKoA
Tersebar di banyak jaringan tubuh, terutama otot, dijumpai senyawa karnitin atau B-
hidroksi-gammatrimetilammonium-butirat. Sneyawa tersebut merangsang oksidasi asam
lemak rantai panjang di mitokondria. Oksidasi tersebtu di mana asil-SKoA bereaksi dengan
karnitin menghasilkan asil karnitin-KoASH. Reaksinya dikatalisis oleh enzim karnitin asil
transferase.
Dengan demikian asil karnitin dapat menembus membrane dan masuk ke dalam
mitokondria, serta berhubungan langsung dengan system oksidasi-beta.

27
Dengan demikian asil SKoA siap untuk melakukan oksidasi-beta. Oksidasi beta
dikatalisis oleh kumpulan enzim oksidase asam lemak. Kumpulan enzim oksidase tersebut
dijumpai di dalam bagian matriks mitokondria yang letaknya berdekatan dengan rantai
pernafasan yang di jumpai pada membrane dalam mitokondria.

Oksidasi asam lemak tidak jenuh


Asam lemak tidak jenuh dalam keadaan yang aktif dioksidasi- dibawah pengaruh
sejumlah enzim oksidasi-beta yang bekerja pada oksidasi asam lemak jenuh sampai ke tahap
dimana dihasilkannya senyawa 3-sis-asil-SKoA atau 2-sis-asil-SKoA; berturut-turut
dihasilkan oleh asam lemak tidak jenuh dengan jumlah atom karbon ganjil atau genap yang
terletak diantara ikatan rangkap dengan gugus karboksil molekul asam lemak tidak jenuh
tadi.
Molekul asetil SKoA memasuki jalur oksidasi erob siklus asam nitrat sehingga dihasilkan
karbon dioksida, air dan sejumlah molekul ATP atau energy.
Catatan : in vivo, destuksi asam lemak tidak jenuh dengan ikatan tidak jenuh lebih dari satu
molekul ;ipid dalam mebran sel dapat membentuk suatu radikal bebas lipid sebelum
dibentuknya peroksida lipid. Antitoksidan BHT dan tokoferol-alfa dapat menghambat
pembentukan peroksida lipid dalam mebran mikroson.
Biosintesis asam lemak jenuh
Seperti pada glikogenesis dan glikoneolisis, biosintesis dan biokatalisis asam lemak
bukanlah merupakan reaksi kebalikan yang satu dari yang lainnya, melainkan empunyai jalur
sendiri.
Pembentukan asam lemak di mitokondria, jelas hanya merupakan perpanjangan
rantai dari molekul asam lemak yang sudah ada; sedangkan pembentukan asam lemak yang
berasal dari molekil asetil SKoA dijumpai di dalam ekstra mitokondria.
Catatan : selain di dalam mitokondria, system perpanjangan rantai asam lemak di jumpai
pula di mikrosom hati.
Biosintesis asam lemak jenuh di ekstra-mitokondria
Biosintesi ini berlangsung di dalam sitosol sel beberapa jaringan tubuh, misalnya
hati, ginjal, otak, paru-paru, kelenjar mammae, jaringan adipose. Biosintesis ini
mengaitkankodehidrogenase NADPH, kofaktor MN2+, bikarbinat HCO3- sebagai sumber CO2
dan ATP. Asetil SKoA sebagai substratnya dan palmitat bebas sebagai produk akhirnya.
Bikarbonat HCO3- bertindak sebagai sumber CO 2pada reaksi awal, yang berupa
reaksi karboksilasi asetil SKoA yang membentuk malonil-SKoA. Reaksi ini dikatalisis oleh
enzim asetil SKoA karboksilase yang mengaitkan ATP dan biotin, masing-masing berfungsi
sebagai sumber energy dan kokarboksilase.
Dijumpai dua jenis enzim sintase asam lemak yang berbedan di dalam sitosol sel :
1. Dijumpai pada bakteri, tumbuh-tumbuhan dan makhluk yang lebih rendah.
Molekul enzim sintase mempunyai dua komponen yaitu berupa radikal dan
ACP (Acyl Carrier Protein) dan kedua komponen tersebut terpisah.

28
2. Dijumpai pada ragi, burung dan mammalia. Kedua kompponen molekul
enzim sintase, seperti tersebut pada butir 1 merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan dimana ACP merupakan bagian molekul multienzim.
Molekul multienzim mempunyai dua gugus SH yaitu :
a. Gugus-SH molekul sistein dari residu molekul multienzim, yang
dinamakan sebagai gugus SH perifer.
b. Gugus-SH molekul pantetein dari residu molekul multienzim, yang
dinamakan sebagai guguss SH sentral

System perpanjangan rantai asam lemak di mikrosom


Mikrosom dapat dikatakan merupakan tempat utama untuk memperpanjang rantai
dari molekul asam lemak berantai panjang yang telah tersedia. Jalur ini mengubah senyawa
asil-SKoA menjadi asil SKoA dalam arti gugus S mempunyai jumlah atom karbon adalah
malonil SKoA yang mengkaitkan reduktan NADPH dan dihasilkan senyawa intermediate
tioester SKoA.
Gugus asil S, yang bertindak sebagai molekul penggalak dalam perpanjangan rantai
ini, adalah asam lemak jenuh yang memiliki jumah atom karbon 10 atau lebih. Hal yang
serupa pula untuk perpanjangan rantai asam lemak tidak jenuh.

Metabolism asam lemak tidak jenuh


Asam lemak tidak jenuh yang memiliki rantai panjang serta mempunyai arti penting
pada mammalia adalah :
1. Asam-asam lemak non esensial
a. Asam lemak palmitoleat (16:1)
2. Asam lemak esensial
c. Asam linoleat (18:2)
d. Asam linoleat (18:3)
e. Asam arachidonat
Asam-asam lemak polienoat dengan panjang rantai memiliki C-20, C-22, dan C-24
disintesis dari asam linoleat dan asam linoleat melalui jalur rekasi perpanjangan rantai.
Sintesis asam lemak yang memiliki ikatan rangkap tunggal
Lemak nabati, sebagian besar merupakan lemak dengan asam lemak tidak jenuh,
sehingga simpanan lemak di dalam tubuh hewan pemakan lemak nabati berupa kemak lunak.
Ttapi pada hewan memamah biak, yang ususnya mengandung mikroorganisme yang
berkemampuan untuk melakukan penjenuhan rantai yang tak jenuh, walaupun intake
makanannya berupa lemak nabati, namun lemak simpanannya berupa lemak padat..
Hati, merupakan organ utama dalam proses interkonversi asam lemak tak jenuh yang
non-essensial dengan asam lemak jenuh; karena reticulum endoplasma sel hati mengandung
satu sitem enzim untuk keperlua itu pembentukan oleil SKoA yang ebrasal dari stearil SKoA
melalui reaksi yang mengaitkan oksogen, NADPH dan system enzim monoksigenase, enzim
hidroksilase. System monooksigenase bekerja spesifik untuk memasukkan ikatan rangkap

29
pada posisi 9 dari rantai molekul asam lemak jenuh, misalnya: rantai molekul asam palmitat
dan asam stearate.

Sintesis asam lemak yang memiliki banyak ikatan rangkap


Umumnya, tambahan ikatan rangkap pada rantai molekul asam lemak yang
mengandung ikatan rangkap tunggal, ternyata menghasilkan letak ikatan yang satu dengan
yang lainnya hanya dipisahkan oleh gugus metilen, kecuali pada bakteri.
Asam lemak esensial kadarnya tinggi dalam berbagai macam minyak dari tanaman,
tetapi kadarnya rendah dalam minyak dari binatang.
Asam lemak esensial, selain diperlukan untuk kepentingan pembentukan
prostaglandin dan lekotrien, namun masih diperlukan untuk kepentingan lainnya di dalam
tubuh. Asam lemak esensial dalam molekul fosfolipid menempati posisi-2.
Catatan : didalam jaringan tubuh, adanya asam lemak tidak jenuh dengan isomer trans
mengalami metabolism lebih menyerupai metabolism asam lemak jenuh; sedangkan asam
lemak yang memiliki banyak ikatan rangkap (polyunsat.F.A), isomer trans nya tidak
merupakan asam lemak yang esensial bahkan keberadaannya akan memperberat keadaan
defisiensi asam lemak esensial.
Arakhidonat dan beberapa asam lemak C-20 lainnya yang mengandung ikatan rangkap yang
satu dengan yang lainnya diselingi oleh gugus metilen di sepanjang rantainya menghasilkan
senyawa eikosanoat yang aktif fisiologik dan farmakologik. Senyawa eikosanoat tersebut
dikenal sebagai prostaglandin (PG), tromboksan (Tx), dan lekotrien (LI).
Prostaglandin merupakan senyawa biologic aktif yang poten. Dalam terapi telah digunakan
antara lain untuk induksi persalinan pada masa akhir kehamilan. Prostaglandin bersifat
meningkatkan cAMP di banyak organ, seperti platelet, tiroid, korpus luteum, adenohipofisa,
paru-paru; tetapi bersifat menurunkan cAMP pada jaringan adiposa. Di jaringan tubuh
mamalia, prostaglandin dimetabolisme secara cepat karena jaringan tubuh mamalia
mengandung banyak enzim 15-OH-prostaglandin dehydrogenase.

Biosintesis triasilgliserol dan fosfolipid


Deretan reaksi yang berkaitan erat dengan biosintesis triasilgliserol, bukanlah
meruoakan kebalikan dari deretan rekasi yang berkaitan erat dengan katabolismenya.
Deretan reaksi biosintesis triasilgliserol diawali oleh reaksi pengaktifan terhadap
gliserol maupun asam lemak.
Reaksi pengaktifan terhadap gliserol
Berlangsung di jaringan yang mengandung aktivitas enzim gliserokinase yang cukup
tinggi misalnya hati, ginjal, kelenjar mammae dalam masa laktasi, mukosa usus.
Enzim gliserokinase mengkatalisis reaksi perubahan gliserol ke dalam gliserol-3P
(gliserol aktif).

30
Tetapi di jaringan yang enzim gliserolkinasenya kurang atau sama sekali tidak aktif,
misalnya di otot dan jaringan adipose, sebagian besar gliserol-3P harus disintesis dari
senyawa intermediate dari jalur Embden-Meyerhof yang berupa dihidroksi aseton fosfat.
Pembentukan gliserol 3P melalui reaksi ini memerlukan aktivitas enzim gliserol 3P
dehydrogenase dengan Ko.DH-ase NADH sebagau pereduksi.
Reaksi pengaktifan terhadap asam-asam lemak
Pengaktifan asam lemak berlangsung melalui reaksi yang dikatalisis oleh enzim
tiokinase serta mengkaitkan KoASH dan ATP sehingga dihasilkan asil SKoA+AMP+PPi.
Catatan :
- Dihidroksiaseton P mengesterifikasi 1 molekul asam lemak aktif. Reaksi ini
dikatalisis oleh enzim dihidroksiaseton P asil transferase dann menghasilkan
senyawa 1-asil-dihidroksiaseton-P.
- Selanjutnya 1-asil-dihidroksiaseton-P direduksi oleh NADPH dan menghasilkan
senyawa lisofosfatidat (1-asilgliserol-3P). reaksi ini dikatalisis oleh enzim 1-asil-
dihidroksi aseton-P reduktase.
- Reaksi esterifikase berikutnya berlangsung antara molekul ke 2 dari asil SKoA
dengan senyawa lisofosfatidat tadi menghasilkan sentawa fosfatidat. Reaksi ini
dikatalisis oleh enzim 1-asilgliserol-3O asil transferase.

- Berikutnya, molekul 1,2-diasilgliserol-P dapat menempuh dua jalur reaksi


berupa :
1. Reaksi pembentukan senyawa 1,2-diasilgliserol dan
2. Reaksi pembentukan senyawa CDP-diasilgliserol
Reaksi pembentukan senyawa 1,2 diasilgliserol
Reaksi ini berupa reaksi pelepasan gugus fosfat dari molekul 1,2-diasilgliserol-P.
reaksi ini dikatalisis oleh enzim fosfatidat fosfohidrolase.
Senyawa 1,2 dihidrogliserol dapat dihasilkan pula dari senyawa 2-monoasil gliserol
melakukan esterifikasi dengan asil SKoA yang dikatalisis oleh enzim mamoasilgliserol
asiltransferase.
Reaksi pembentukan senyawa CDP-diasilgliserol
Reaksi senyawa CTP dngan 1,2 diasilgliserol P yang dikatalisis oleh enzim CTP-
fosfatidat sitidil transferase membentuk senyawa CDP-diasilgliserol. Selanjutnya senyawa

31
CDP-diasilgliserol menempuh dua jalur reaksi berikutnya berupa jalur reaksi pembentukan
senyawa :
1. Fosfatidil inositol dan
2. Kardiolipin
a. Jalur pembentukan senyawa fosfatidil inositol
Senyawa inositol bereaksi dengan CDP-diasilgliserol menghasilkan fosfatidil-
inositol. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim CDP-diasilgliserol-inositol transferase.

Jalur pembentukan senyawa triasilgliserol


Reaksi ini hanya merupakan reaksi esterfikasi dari 1 molekul asil-SkoA ke dalam
molekul 1,2-disilgliserol. Reaksinya dikatalisis oleh enzim diasil gliserol asli transferase dan
terbentuk 1 molekul triasilgliserol.
Jalur pembentukan senyawa fosfolipid
Pembentukan senyawa fosfatidil-kolin dan senyawa fosfatidil etanolamin, berturut-
turut berlangsung melalui reaksi antara senyawa 1,2-disilgliserol dengan CDP-kolin dan
CDP-etanolamin. Reaksinya berturut turut dikatalisis oleh enzim fosfo-kolin- transferase
ataupun fosfo-etano-lamintransferase.
Fosfatidil serin dibentuk dari salah satu senyawa fosfolipid tersebut
Catatan : senyawa CDP-kolin maupun senyawa CDP-etanolamin yang dibentuk berturut-
turut dari kolin ataupun dari etanolamin melalui dua tahap reaksi :
Tahap 1 : kolin ataupun etanolamin , berturut-turut di ubah menjadi fosfo-kolin ataupun fosfo
etanolamin dan reaksinya berturut-turut dikatalisis oleh enzim kolin kinase ataupun oleh
enzim etanolamin-kinase yang keduanya mengikatkan ATP sebagai sumber fosfat.
Tahap 2 : senyawa fosfo-kolin maupun senyawa fosfo-etanolamin yang dibentuk pada tahap
reaksi 1,selanjutnya berturut-turut diubah menjadi CDP-kolin ataupun CDP-etanolamin.
Reaksinya berturut-turut dikatalisi oleh enzim fosfo-kolin sitidil transferase ataupun oleh
enzim CDP-etanolamin-sitidil transferase yang keduanya mengkaitkan senyawa CTP.

Sintesa senyawa plasmalogen

32
Senyawa dihidroksiaseton-P merupakan prekrusor dari komponen gliserol dari moll
plasmalogen.
Deretan reaksi pada sintesis senyawa plasmalogen diawali oleh reaksi antara
dihidroksiaseton-P dengan asil-SkoA yang dikatalisis oleh enzim asil transferase dan
dihasilkan senyawa 1-alkil-dihidroksiaseton-P.

Jaringanadiposa dan mobilisasi lemak


Didalam jaringan adiposa simpanan triasilgliserol bersifat dinamis berarti secara terus
menerus akan mengalami reaksi hidrolosis dan reesterifikasi. Reaksi reesterifikasi bukan
merupakan reaksi-balik dari reaksi hidrolisis melainkan mempunyai jalur sendiri. Keduanya
yang menentukan besarnya pool asam lemak bebas yang dijumpai didalam jaringan adiposa.
Selain itu pool asam lemak bebs tersebut berhubunganrat pula dengan kadar asam lemak
bebas yang dijumpai didalam plasma darah, bahkan sampaikejaringan yang letaknya lebih
jauh lagi, terutama hati dan otot. Gliserol-3p senyawa pembentukan triasilgliserol, terutama
berasal dari glukos karna enxim gliserokinase aktivitasnya rendah dijaringan adiposa.
Akibatnya dijaringan adiposa,gliserol , produk hidrolisis triasilgliserol yang dikatalisis oleh
enzim hormone sensitiv lipase (mobilizing enzym) bergerak keluar dari jaringan adiposa
untuk memasuki plasma darah dan didistribusikan kejaringan tubuh yang lain yang memiliki
aktivitas enxim gliserokinas yang tinggi, misalnya hati dan ginjal. Didalam jaringan tubuh
yang memiliki aktivitas enzim gliserokinase yang tinggi, molekul triasilgliserol dibentuk
melalui reaksi esterfikasi asil SkoA dengan gliserol-3P. Karna senyawa gliserol-3P tersebut
dapat dihasilkan dari gliserol tadi. Dengan dmikian , pada akhirnya terjadi juga siklus
berkelanjutan antara reaksi lipolisis dan lipogenesis di jaringan adiposa, jadi dalam jaringan
adiposa , glukosa digunakan untuk pembentukan :
1. gliserol-3P selanjutnya untuk mebentuk triasilgliserol
2. energi (melalui glikolisis anerob Embden Meyerhof dan glikolisis erob siklus asam sitrat)
3. NADPH melalui jalur HMP shunt, yang diperlukan unuk sintesis asam lemak
4. asetil-SkoA melalui jaringan oksidasi glikolisis anerob yang diteruskan dengan reaksi
oksidatif dekarboksilasi asam piruvat. Asetil-SKOA ini digunakan untuk pembentukan asam
lemak dan triasilgliserol

Pengaruh hormon terhadap metaboolisme lemak dijaringan adipose


Pembebasan asam lemak , sebagai produk lipolysis triasilglliserol dijaringan
adipose, kedalam sirrkulasi darah untuk didistribusi ke jaringan tubuh lainya ternyata
pembebasan asam lemak ini dipengaruhi oleh beberapa macam hormon trtentu,
antaralianya : insulin,epinfrin,norepinefrin,glukogen,ACTH (adrenocorticotropic hormone ),
TSH (tirotropic hormone , tiroid stimulating hormone), GH (growth hormone) , vasopressin.

Pengaruh hormone insulin

33
Didalam jaringan adipose, kerja utaa insulin adaah menghambat aktivitas hormon
sensitive lipase. Berarti mengrangi lipolysis triasilgliserol dengan kata lain mengurangi
jumlah asam lemak bebas dan gliseroll yang dijumpai di jaringan adipose.
Jaringan adipose sangat sensitive terhadap hormon insulin bila dibandingkn dengan
jaringan tubuh lainya.

Pengaruh hormon lainya


Hormon lainya berkerja mempercepat pembesaran asam lemak dari jaringan adipose
ke sirkulasi darah, yang berarti bersifat meningkatkan kadar asam lemak bebas yag terdapat
didalam plasma darah, yang berasal dari produk lipolysis trasilgliserol didalam jaringan
adiposa.
Dasar kerjanya adalah hormon tersebut meningkatkan aktivasi enzim denilat siklase,
dengan kata lain meningkatkan produksi senyawa cAMP. Sedangkan cAMP bersifat
mengaktifkan enzim protein kinase, yaitu enzim yang mengkaitkan hormone senstivitas
liapase, yang berarti pula meningkatkan lipolysis.
Metabolism lipoprotein
Terdapat 5 macam lipoprotein didalam plasma darah, yang mempunyai peranan
penting dalam transportasi dan metabolism lemak,lipoprotein plasma darah tersebut :
1. Khilomikron
2. VLDL (very low density lipoprotein)
3. LDL (low density lipoprotein)
4. HDL (high density lipoprotein )
5. F.F.A (free fatty acid)

catatan : -khilomikron, adalah lemak yang diangkut dari mukosa intasetin.


-VLDL (pre--lipoprotein) adalah triasilgliserol yag diangkut dari hati.
-LDL,(-lipoprotein). Menunjukan stadium akhir dari kata-bolisme VLDL dan mungkin pula
dari khilomikron.
-HDL, (alfa-lipoprotein). Terlibat dalam metabolism VLDL,khilomikron, dan kolestrol.
-asam lemak bebas , umumnya tidak diklasfikasikan ke dalam kelompok lipoprotein di
dalam plasma, di dalam darah dijumpai pula bentuk senyawa ikatan antara asam lemak
berantai panjang dengan albumin serum.

Asam lemak bebas (F.F.A = Free Fatty Acid)


Asam lemak bebas (asam lemak nonester) dijumpai dalam plasma darah sebagai
produk lipolysis triasilgliserol dijaringan adipposa dan sebagai produk aktivasi enzim
lipoprotein lipase, yang dijumpai di bagian endotel pembuluh darah, selama terjadinya
pengambilan gliserol oleh jaringan dari sirkulsi darah.
Asam lemak bebas yang berkaitan dengan albumin plasma darah adalah asam lemak
yang berantai panjang,misalnya : asam palmitate,yang datang dari jaringan adipose.
Dalam keadaan yang cukup makan (kenyang) asam lemak bebas dalam plasma darah
kadarnya rendah, dan sebaliknya pada waktu lapar (puasa) , asam lemak bebas dalam plasma

34
darah kadarnya tinggi. trun over rate). Asam lemak bebas yang dijumpai dijaringan tubuh
berkaitan langsung dengan kadar asam lemak bebas yang dijumpai didalam plasma darah.
Jadi : kecepatan produksi asam lemak bebas di dalam jaringan adipose beersifat
mngendalikan kadar asam lemak bebas yang ada didalam plasma dan menentukan pula
uptake (pengambilan) asam lemak bebas tersebut oleh jaringan lainya dalam tubuh.
Catatan : sitosol di banyak sel jaringan mengandung protein pengikat asam lemak yang
dinamakan protein Z. perananya adalah mentransport asam lemak berantai panjang dibagian
dalam sel (intraseluler). Perananya sama dengan peranan albumin plasma darah yang
mentransport asam lemak berantai panjang dibagian luar sel (ekstraseluler).

Khilomikron dan VLDL


Lipoprotein mengandung satu atau lebih dari satu molekul protein (polipeptida) yang
dinamakan sebagai apoprotein. Apoprotein dikenal berdasarkan nomenklatur ABC, yang
dapat dijumpai di dalam molekul lipoprotein. Didalam molekul khilomikron dan VDL
dijumpai apo-B, apo-B merupakan apo-utama dalam LDL. Apo-B khilomikron (b-48) lebih
kecil dari pada apo-B LDL atau VLDL (B-100) yang mempunyai komposisi asam amino
yang berada. B-48 disintesis didalam usus dan B-100 didalam hati. Apo C-1 , C-ll dan C-lll
adalah polipeptida yang lebih kecil yang ditemukan dalam khilomikron, VLDL (juga HDL),
dan apo-C mudah dipindahkan diantara VLDL dan khilomikron disatu pihak dan HDL
dipihak lainya.
Apo-B mengandung karbohidrat sekitar 5% yang berupa mannose,galaktosa,
fukosa,glukosa,glukosamin dan asam silat, akhir-akhir ini masih ditemukan apoprotein jenis
lain disampingnya apoprotein A, B dan C tadi yang dijumpai didalam molekul lipoprotein.
Didalam pembulu limpa disekitar usus dijumpai khilomikron dan VLDL yang
komposisi apoproteinya mirip dengan komposisi apoprotein dari khilomikron. Paling
banyak VLDL yang berasal dari hati berfungsi sebagai pengangkut triasilgliserol dari hati ke
jaringan ekstrahepatik. Dijumpai banyak persamaan antara pembentukan khilomikron oleh
sel usus dengan pembentukan VLDL oleh sel parenchyme hati. Apoprotein B penting
artinya untuk pembentukan khilomikron dan VLDL.
Waktu paruh dari khilomikron yang terdapat pada hewan yang mempunyai ukuran
kecil lebih cepat dibandingkan dengan hewan yang mempunyai ukuran lebih besar, misalnya
: manusia, walaupun demikian, hewan dengan ukuran lebih besar termasuk manusia tidak
akan lebih lama dari 1 jam.
Partikel yang berukuran lebih besar dikatabolisme lebih cepat dibandingkan dengan
partikel yang berukuran lebih kecil.
Inkorporasi enzim lipoprotein lipase dibagian andotel dinding kapiler pembuluh
darah , dengan asam lemak triasilgliserol lipoprotein mempunyai kolerasi yang bermakna
dengan kemampuan yang dimiliki oleh setiap jaringan tubuh. Enzim lipoprotein lipase diikat
oleh rantai proteoglikan dari heparin sulfat yang merupakan komponen endotel dinding

35
kapilee darah. Hidrolisis berlangsung sementara lipoprotein melekat pada enzim lipoprotein
lipase yang ada dibagian endotel tadi. Triasil gliserol dihidrolisis secara bertahap yaitu mula-
mula menjadi diasilgliserol, kemudian menjadi monoasilgliserol,dan pada akhirnya menjadi
asam lemak bebas dan gliserol. Sebagian dari asam lemak bebas tadi dilepaskan kembali
dalam sirkulasi darah dan diikat oleh albumin plasma, tetapi sebagian laiya diangkut
kejaringan masih dalam bentuk bebas. Lipoprotein lipase jantung memiliki Km yang tinggi,
(kira-kira 10 kali lipat).
Ketika kadar triasilglisrol berkurang dalam darah berkurang, seperti yang terjadi
pada masa peralihan dari keadaan makan ke keadaan lapar (starved) didapat kan enzim
lipoprotein lipase jantung tetap jenuh dengan substart sedangkan satu rasi enzim lipoprotein
lipase dijaringan adipose berkurang, dengan demikian megarahkan kembali uptake dari
jaringan adipose ke jantung. Hal serupa terjadi selama laktasi, dimana aktivitas jaringan
adipose menurun dan aktivitas kelenjar mammae meningkat memungkinkan uptake asam
lemak rantai panjang triasilgliserol lipoprotein yang digunakan untuk sintesis lemak susu.

L.D.L (Low Density Lipoprotein)


Sebagian besar LDL dibentuk VLDL dan mungkin pula dari khilomikron, tetapi untuk
sebagian lainya diproduksi oleh hati.
Waktu paruh dari sirkulasi, apo B (B-100) pada LDL adalah kira-kira 2 hari. Terdapat
tempat pengikatan spesifik LDL pada jaringan tertentu misalnya pada limfosit, sel otot
polos , fibroblast. Banyakny tempat pengikatann LDL dipermukaan sel telur oleh kebutuhan
seluler terhadap kolesterol untuk keprluan membrane dam sintesis hormon steroid. Sekitar
50% LDL didegrdasi di jaringan ekstrahepatik dan 50% lagi intra hepatic.

High Density Lipoprotein (HDL)


HDL disintesis dan disekresi oleh usus dan hati. HDL yang disintesis oleh usus tidak
megandung apo C melainkan apoA yang berupa apo A-l dan A-ll. Dengan demikian HDL
dengan apo C hanya yang disintesiskan dihati.
HDL berperan untuk mentranspor kolestrol dari jaringan ke hati.
Catatan : triasilgliserol adalah lipid yang terbanyak didalam khilomikron dan VLDL,
sedangkan kolesterol dan fosfolipid adalah berturut-turut merupakan lipid terbanyak yang
dijumpai dalam LDL dan HDL.

Peranan hati dalam metabolism lemak


Selain hati memproduksi empedu yang memberikan kemudahaan pada pencernaan
lemak didalam intestin; namun hati masih mengandung sistem enzim yang diperlukan
untuk :
1. Sintesis dan katabolisme asam-asam lemak.
2. Sintesis triasilgliserol, fosfolipid , koolestrol dan lipoprotein plasma.
3. Sintesis benda keton (ketogenesis) yang berasal dari asam lemak.

36
Perlemakan hati dan faktor lipotropic
Dikenal dua jenis perlemakan hati yaitu :
1. Jenis yang berhubungan erat dengan adanya kenaikan kadar asam lemak bebas
dalam plasma darah, kenaika tersebut dapat disebabkan oleh peningkataan
mobilisasi lemak dari jaringan adipose, atau dapat pula dari peningkatan hidrolisisi
lipoprotein (triasilgliserol khilomikron) oleh lipoprotein lipase didalam sirkulasi
darah jaringan ekstrahepati. Akibatnya, lebih banyak asam lemak bebas dalam
plasma darah di uptake oleh hati untuk selanjutnya esterifiksi.
Karna kecepatanya pembentukan lipoprotein plasma lebih lambat dibandingkan dengan
kecpataan uptake asam lemak bebas oleh hati maka keadaan ini menyebabkan triasilgliserol
tertimbun dihati, yang dinamakan perlemakan hati.
2. Jenis yag berhubungan erat dengan adanya hambatan dalam pembentukan
lipoprotein lipase dalam sirkulasi darah yang ada kaitanya dengan defesiensi faktor
lipotropic. Defisiesi faktor lipotropic ini, mengakibatkan tertimbunya triasilgliserol
didalam hati. Mekanisme yang tepat untuk menerangkanya belum diketahui.

Ketogenesis
Terutama berhubungan erat dengan enzim yang terdapat didalam mitokondria.
Asetoasetil-SKoA yang mengawali reaksi katogenesis sedangkan Asetoasetat merupakan
benda keton yang pertama dibentuk dan dua benda keton lainya , dibentuk dari asetoasetat.
Pembentukan asetoasetat berlangsung melalui du acara :
1. Asetoasetil-SKoA secara langsung membebaska KoASH, dan terbentuklah
asetoasetat. Reksi tersebut dikatalisis oleh enzim deasilase.
2. Asetoasetil-SKoA berkondensasi dengan 1 molekul asetil-SKoA yang dikatalisis
oleh enzim HMG-SKoA sintetase dan dihasilkan senyawa intermediate HMG-SKoA

(
Selanjutnya, HMG-SKoA dipecah kembali menjadi asetoasetat dan setil-SKoA. Reaksi inii
dikatalisis oleh enzim HMG-SKoA liase.
Cara ke 2 adalah cara yang utama dari pembentukan asetoasetat.
Catatan : badan keton terdiri darii 3 senyawa yaitu aseton, -OH butirat dan asetoasetat.
Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa asetoasetat dapat meghasilkan kedua
senyawa benda keton lainya, perubahan asetoaetat menjadi badan keton lainya melalui reaksi
:
1. Spontan, dimana asetoasetat dengan melepaskan CO2 membentuk aseton.
2. Yang dikatalisis oleh enzim D(-) , (OH) butirat dehydrogenase dengan koenzim
NADH +H+, asetoasetat menghasilkan D(-) , (OH)- butirat.
Nasibnya benda-benda keton
Hati tidak mengandung enzim thiofrase maupun enzim asetoasetat thiokinase ,
sehingga asetoasetat tidak dapat diaktifkan kembali menjadi asetoasetil SKoA didalam hati.

37
Namun kedua macam enzim tersebut dijumpai dijaringan ekstra hepatik. Kedua
enzim terebut bersift mengkatalisis reaksi-reaksi sbb.
Reaksi :
Asetoasetat tiokinase
1. Asetoasetat + ATP + KoASH asetoasetil-SKoA + AMP
+ PPi

2. Asetoasetat suksinil-SKoA

KoA transferase = enzim thiofrase


Asetoasetil-SKoA suksinat

Catatan : benda keton dapat dioksidasi dijaringan ekstrahepatik.


Banyak benda keton yang dioksidasi berimbang dengan kadar benda keton dalam darah.
Bila kadar benda keton dalam darah meningkat (ketonemia) sedemikian rupa, smpai pada
tingkatnya dimana oksidasi ini tidak lagi seimbang dengan kadarnya didalam darah, dan
mengakibatkan jumlah benda keton dalam urin meningkat pula (ketonuria). Keadaan dimana
ditemukan ketonemia dan ketonuria , dinamakan : KETOSIS.
Karna senyawa badan keton bersifat asam, maka ketosis akan menggeser pH darah kea rah
kesaman. Keadaan ini dinamakan tubuh mengalami : ASIDOSIS.
Jadi : benda keton hanya disintesis dihati dan dioksidasi dijaringan ekstrahepatik, aseton
diekskresi melalui paru-paru, dan bersamaan benda keton lainya disekresi pula melalui
ginjal. (gambar).

Metabolism kolestrol
Jarigan yang mampu mensintesis kolestrol antara lain dhati, korteks adrenal , usus ,
testis, kulit , aorta. Sintesis kolestrol berlangsung dibagian sitosol dan mikrosom sel jaringan.
Kolestrol yang disintesis merupakan bagian terbesar dari kolestrol didalam tubuh,
sedangkan sebagian kecil saja kolestrol berasal dari kolestrol yang terdapat dalam makanan.
Kolestrol disekresi tubuh melalui :
1. Empedu sebagai asam empedu yang dikeluarkan ke lumen usus halus.
2. Empedu sebagai sterol netral yang dikeluarkan ke lumen usus halus.

Kolestrol hanya dapat disintesis didalam tubuh binatang, termasuk manusia,dan

38
tidak disintesiskan didalam tanaman. Sehingga sebagai sumber kolestrol yang terdapat
dalam makana adalah makanan yang berasal dari binatang , misalnya : daging , hati , otak
dan kuning telur.
Untuk memudahkan , sintesis kolestrol dibagi dalam dua tahap deretan reaksi
berturut-turut berupa tahapan reaksi untuk pembentukan :
1. Senyawa intermediat mevalonate, yang kemudian dilanjutkan ke ;
2. Senyawa intermediat lanosterol , dan lanosterol ini merupakan senyawa yang
dibentuk pertama, selanjutnya lanostrol menghasilkan kolestrol.

Pembentukan Sterol / Kolestrol


Perubahan mevalonate menjadi senyawa sterol pertama berupa lenosterol,
berlangsung melalu pembentukan dua senyawa intermediate, berturut-turut berupa senywa
unit isoprenoid dan squalen (gambar 20)
Kolestrol diturunkan dari lanosterol melalui reaksi pembentukan senyawa

7 , 24
intermediate berturut-turut berupa senyawa-14-desmetillano-sterol, zimosterol

kolestadienol, desmosterol dan pada akhirnya terbentuklah kolestrol.

3. Metabolisme protein Asam amino alfa

39
Protein merupakan nutrient ke 3 yang utama bagi manusia, dan sangat erat kaitanya
dengan asam amino alfa karna asam amino alfa adalah unit terkecil dari molekul protein.
Oleh karnanya, metabolism protein erat kaitanya dengan metabolism asam amino alfa
didalam tubuh manusia.
Bagian 1 menggambarkan keadaan yang dialami asam amino alfa produk cerna
proten makanan yang diserap diusus sampai dimetabolisme dijaringan tubuh.
Asam-asam amino alfa, baik dihati maupun jaringan ekstrahepatik dijumpai dibagian
dalam sel (intraseluler) dan juga dibagian luar sel (ekstraseluler). Asam-asam amino alfa
ekstraseluler adalah asam amino alfa jaringan yang mempunyai hubungan erat dengan
produk spesifik metabolism karbohidrat dan lemak. Turnover rate protein jaringan tubuh
manusia sebesar 1.2 gram/kg. berat badan/24jam.
Berdasarkan metabolism nitrogen asam amino alfa, maka dikenal 2 acam kelompok
hewan yaitu kelompok hewan urikotilik dan ureotilik. Pada kelompok hewan urikotilik
dijumpai asam urat sebagai produksi akhir metabolime N asam amino alfa. Manusia
termasuk kelompok hewan ureotilik, sedangkan burung termasuk kelompok hewn urikotilik.
Klasifikasi asam amino alfa harus dilihat dari beberapa aspek misalnya aspek
struktur kimianya, aspek kepentinganya dalam tubuh dan aspek jalur metabolism yang
ditempuhnya didalam tubuh.
Aspek struktur kimia
Dlihat dari aspek strukturnya kimanya , asam asam amino alfa, diklasifikasikan
kedalam :
1. Asam amino alfa yalng bersifat netral.
Yaitu asam amino alfa yang mengandung 1 gugus amino (-NH2) dan
1 gugus karboksil (-COOH) dalam molekulnya.
2. Asam amino alfa yang bersifat asam

3. Asam amino yang bersifat basa


Yaitu sam amino alfa yang mengandung 2 gugus amino (-NH2) dan
1 gugus karboksil (-COOH) dalam moekulnya.

40
Aspek kepentingannya dalam tubuh
Dilihat dari aspek kepntingnya didalam tubuh, asam amino alfa dikasifikasikan ke
dalam :
1. Asam amino alfa essensial
Yaitu asam amino alfa yang sangat diperlukan keberadaanya didalam tubuh tapi
tubuh tidak dapat mensintesiskanya asam amino alfa tersebut.
2. Asam amino alfa semi-essensial
Asam amino alfa yang walau disintesis dalam tubuh namun jumlahnya tidak dapat
memenuhi kebutuhan tubuh terhadap asam amino alfa tersebut.
3. Asam amino alfa yang non-esensial
Asam amino alfa yang dibutuhkan tubuh serta disintesis dalam tubuh dalam julah
yang cukup memenuhi kebtuhan tubuh terhadap asam amino alfa tersebut.

Aspek jalur metabolism yang ditempuh


Dilihat dari aspek jalur metabolism yang ditempuhnya asam amino alfa diklasifikasi
kedalam:
1. Asam amino alfa ketogenic
Yaitu asam amino alfa yang di oksidasi dengan menempuh jalur oksidasi lemak saja.
2. Asam amino alfa glikoketogenik
Yaitu asam amino alfa yang dioksidasi dengan menempuh jalur oksidasi karbohodrat
maupun lemak.
3. Asam amino alfa glikogenik
Asam amino alfa yang dioksidasi dengan menempuh jalur oksidasi karbohidrat saja.

Reaksi-reaksi dasar metabolism asam amino.


1. Reaksi deaminasi
Dikatalisis oleh enzim oksidase.
(dibedakan kerja L-asam amino alfa oksidase dengan D-asam amino alfa oksidase)
Reaksi :
L-asam amino alfa oksidase
RCH(NH2) COOH + FAD RC (NH)COOH + FADH 2
Asam lmino
H2O

RCOCOOH + NH3

Misalnya :
NAD+/NADPH+ NADH+H+/NADPH+H+
L-glutamat Asam lmino

H2O

41
NH3

D-asam amino oksidase


Misalnya : glisin oksidase , terutama dijumpai dihati dan diginjal.
+
H3N-CH2-COO + O2 + H2O OHCCOO + NH4+ + H2O2
Glikosilat

2. Reaksi oksidatif deaminasi


Yaitu reaksi kopel dehidrogenasi dengan transaminase glutamate menghasilkan reaksi
oksidatif deaminasi yang searah dan berlaku untuk L-asam amino pada umumnya.
Reaksi
RCOCOOH
HOOC(CH2)2CH(NH2)COOH
Asam keto asam glutamat
Alfa

RCH(NH2)COOH HOOC(CH2)2COCOOH
Asam amino asam keto alfa glutarat
3. Reaksi transaminase
Yaitu reaksi pemindahan gugus amino (-NH2) asam amino alfa sebagai donor gugus
NH2 ke asam keto alfa sebagai reseptor gugus NH2 dan dihasilkan asam amino alfa
yang baru dan asam keto alfa yang baru pula.
Reaksi
RICOCOOH

RCH(NH2)COOH RCOCOOH

RICH(NH2)COOH

Misalnya : GO-T = glutamate oksaloasetet transaminase


GP-T = glutamate piruvat transaminase

Reaksi
oksaloasetat

GO-T. glutamat alfa KG


Aspartat

piruvat
GP-T. glutamat alfa-KG
Alanin
4. Reaksi dekarboksilasi

42
Dikatalisis oleh enzim dekarboksilase , gugus karboksil (-COOH) membebaskan
CO2 dan menghasilkan senyawa aminan primer.
Reaksi
Dekarboksilase
RCH(NH2)COOH RCH2NH2 + CO2
5. Reaksi transamidinsi

6. Reaksi transmetilasi

Catatan : keduanya dijumpai pada rekasi biosintesis kreatin. Didalam tubuh sintesis
kreatin mengkaitkan dua organ yaitu ginjal dan hati.
Ginjal.
Awal sintesis kreatin yang berlangsung diginjal melalui reaksi trans amidinasi antara
arginine(senyawa donor gugus amida) dan glisin(senyawa reseptor gugus amida)
menghasilkan guanidoasetat (senyawa yang ditransfer ke hati) + ornitin.

Reaksi

Hati
Dihati terjadi reaksi transmetilasi senyawa guanidoasetat oleh sadenosil-
metionin(sebagai senyawa donor gugus metil) yang dikatalisis oleh enzim
transmetilase dan menghasilkan kreatin + S-adenosilhomosistein.

Reaksi
transmetilase
Guanidoasetat + S-adenosil metionin kreatin +
S.adenosil
Homosistein

Struktur kreatin :

NH

43
C-NH2
H3C-N

CH2-COOH

Metabolisme asam amino alfa dilihat dari aspek metabolism terhadap :


1. Komponen nitrogenya, dan
2. Atom karbon kerangkanya.

Metabolism komponen nitrogen asam amino alfa


Reaksi dasar yang terkait dalam metabolisme komponen nitrogen adalah
reaksi deaminasi. Dari hasil reaksi deaminasi asam amino alfa,komponen nitrogen
diubah menjadi ammonia (NH3).
Dihati ammonia didetoksikasi menjadi urea, selanjutnya urea diekskresi
melalui ginjal. Pembentukan urea dari ammonia ini berlangsung melalui siklus urea
(siklus krebs hensenleit).

Metabolism atom karbon krangka asam amino alfa


Berdasarkan amfibolik yang pertama kali dibentuk pada metabolism atom karbon
kerangka asam amino alfa, maka asam amino alfa diklompokan sebagai berikut :
1. Asam amino alfa termasuk kelompok pembentuk asam piruvat
Terdiri dari asam amino alfa berupa hidroksi-prolin, treonin , glisin, alanine,sistein
dan serin.

Reaksi

44
45
46
2. Asam amino alfa trmasuk kelompok pembentuk asetil-SKoA
Terdiri dari asam amino alfa berupa fenilalanin, tirosin, lisin dan triptofan.
3. Asam amino alfa termasuk kelompok pembentukan alfa-ketoglutarat
Terdiri dari asam amino alfa berupa glutamat,glutamin,prolin,arginine dan histidine.
reaksi
asam amino glutamat-glutamin
ke-5 atom karbon glutamat dan glutamin dijumpai pada alfa- ketoglutarat.

Asam amino prolin-Arginin


Ke 5 atom karbon prolin dijumpai pada alfa-ketoglutarat, sedangkan asam amino
arginine harus melepaskan 3 atom nirogenya untuk membentuk alfa-ketoglutarat.

4. Asam-asam amino alfa termasuk kelompok pembentukan suksinil SKoA


Terdiri dari asam amino alfa berupa metionin, isoleusin , dan valin.
5. Asam-asam amino alfa termasuk kelompok pembentukan oksaloasetat
terdiri dari asam amino alfa berupa aspartate dan asparagin.
Reaksi
Ke-4 atom karbon aspartat dan asparagin dijumpai pada oksaloasetat.

Inborn eror of-amino acid metabolisme


Inborn error of-amino acid metabolism yaitu kelainan tubuh yang
ditimbulkan oleh gangguan metabolism asam amino alfa tertentu.
Gangguan metabolism berupa gangguan salah satu aktivitas enzim
yang biasanya berperan aktif disepanjang jalur reaksi metabolism asam
amino yang bersangkutan, dan umumnya bersifat gangguan metabolism
yang ditemukan.
Beberapa diantaranya inborn error of-amino acid metabolism
1. Gangguan metabolisme asam amino alfa glisin.
Misalnya, berupa hiperoksaluri primer. Sekilas terfikir adanya
gangguan metabolisme oksalat, ternayata tidak demikian keadaanya;
karna tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan gangguan
metabolism oksalat dalam tubuh.
Hiperoksaluri primer adalah gangguan metabolisme glisin.
Normal,glioksilat, senyawa intermediate yang dijumpai dijalur
metabolisme glisin, diubah menjadi format melalui reaksi oksidatif
dekarboksilasi yang dikatalisis oleh enzim oksidatf dekarboksilase,
ternyata pada penderita yang mengalami gangguan aktivitas enzim
oksidatif dekarbosilase tersebut glioksilat tidak membentuk format
melainkan dioksidasi membentuk oksalat sehingga mengakibatkan
oksalat banyak dibentuk dalam tubuh sampai ditemukan banyak dalam
urin penderita.

2. Asam amino alfa fenilalanin

47
Satu-satunya gangguan metabolisme fenilalanin yang berupa gangguan
aktivitas komponen 1 enzim fenilalanin hidroksilase, akibat tidak terjadi
reaksi perubahan fenilalanin ke dalam tirosin. Akibatnya, fenilalanin
diubah menjadi asam fenilpiruvat yang dikatalisi oleh enzim
transaminase. Selanjutnya,asam fenil piruvat tersebut yang dikatalisis
oleh enzim DH-ase dengan Ko DH- ase NADH menghasilkan asam
fenilaktat. Selain menghasilkan fenilaktat, fenilpiruvat yang dikatalisis
oleh enzim oksidatif dkarboiksilase dengan Ko DH-ase NADH +
menghasilkan asam fenilasetat.
Jadi, urin penderita mengandung banyak metabolit berupa asam
fenilpiruvat, asam fenilaktat dan asam fenilasetat, selainnya fenilalanin.
Kelainan inborn error of phenylalanine metabolism serupa ini dikenal
sebagai PKU (phenylketonuria).

3. Asam amino alfa tirosin


Inborn error of tyrosin metabolism dijumpai dua macam, masing-masing
berupa :
a. Tirosinosis, dan
b. Alkaptonuria
Tirosinosis
Tidak disintesisnya enzim oksidasi, yang terdapat dijalur metabolisme
tirosin, yaitu enzim yag mengkatalisis perubahan p- OH-fenilpiruvat
kedalam homogensifat, akibatnya urin pendrita banyak mengandung p-
OH fenilpiruvat.

Alkaptouria
Tidak disintesisnya enzim homogentisat oksidasi yang terdapat dijalur
metabolism tirosin,yaitu enzim yang mengkatalisis perubahan hormone
gentisat menjadi maleyl asetoasetat. Akibatnya urin penderita banyak
mengandung homogensitisat. Adanya homogentisat memberikan ciri
khas yang berupa urin pnderita bila terkena udara memberikan warna
gelap (hitam), sehingga memberikan keluhan utama yang berupa popok
nak tadi berawarna hita pada saat bayi kencing.
Reaksi
4. Asam amino alfa yang berantai cabang (leusin, isoleusin dan valin)
Inborn error of the branched chain amino acids metabolism berupa
marple syrup urine disease yang ditandai oleh urin penderita yang
berupa syrup berbau buah maple (mirip bau caramel).

48
Ternyata pada penderita tersebut dijumpai gangguan aktivitas enzim
oksidatif dekarboksilase yang spesifik untuk asam amino alfa yang
mempunyai rantai bercabang, akibatnya dutemukan banyak derivate
asam alfa-keto dari masing-masing asam amino berantai cabang tersebut
(derivate leusin berupa alfa-ketoisokaporat, derivate vallin berupa alfa-
ketoisovalerat dan drivat isoleusin berupa alfa-keto-beta-metilvaerat)
adanya derivate asam alfa-keto asam amino

Metabolisme purin dan pirirmidin

Inti purin dan pirirmidin adalah inti dari senyawa komponen molekul nukleotida
asam nukleat RNA dan DNA.
Derivate purin berupa snyawa adenine dan guanine sedangkan derivate pirimidin
berupa senyaa sitosin , ursil dan timin.
Hasil percobaan menyatakan bahwa derivate purin (kecuali adenine) dan derivate
pirimidin yang dijumpai dalam makanan tidak dipergunakan secara langsung untuk sintesis
asam nukleat didalam jaringan tubuh.

Biosintesis purin
Hasil penelitian dengan menggunakan radioisotope, ternyata setiap komponen yang
dijumpai dalam krangka inti purin berasal bermacam-macam sumber.
1. Atom C(6) inti purin berasal dari atom karbon molekul CO2 udara pernafasaan.
2. Atom N(1) inti purin berasal dari atom nitrogen gugus amino (-NH2) molekul
aspartate.
3. Atom C(2) dan atom C(8) inti purin adalah produk reaksi transformilase yang beraal
dari senyawa donor gugus formil yang mengkaitkan koenzim FH4(tetra hidro folat)
4. Atom N(3) dan atom N(9) berasal dari nitrogen gugs amida molekul glutamin.
5. Atom C(4), atom C(5) dan atom N(7) merupakan molekul glisin seutuhnya.

Tahap sintesis purin sebagai berikut


1. Sintesis purin diawali oleh reaksi pembentukan molekul PRPP (5-phospho ribosil
pyro phosphate) yang berasal dari ribose-5p yang mengkaitkan ATP dan ion Mg 2+
sebagai activator.
2. Selanjutnya pembentukan senyawa 5-phosphoribosilamin dari hasil reaksi PRPP
dengan glutamin. Reaksi ini menghasilkan asam amino glutamate + PPi
3. Berikutnya pembentukan senyawa GAR (glysin amid ribosil-5p) dari hasil reaksi
ribosilimin-5p dengan glisin, yang mengkaitkan ATP dan Mg 2+ sebagai activator dan
yang dikatalisis oleh enzim GAR-synthetase.
4. Kemudian, GAR melakukan reaksi formilasi yang dikatalisis oleh enzim
transformilase dengan koenzim FH4 (thetrahidrofolat) dan senyawa donor gugus

49
formil, membentuk senyawa formil glisin amid rebosil-5p nya. Atom karbon gugus
formil tersebut menempati posisi atom C-8 intipurin.
5. Kemudian senyawa formil glisin amid ribosil 5P melakukan reaksi aminasi (pada
atom karbon ke 4 nya) dengan senyawa donor amino (berupa glutamin) dan
terbentuklah senyawa formil-glisinamidin-ribosil-5p atom N gugus amino yang baru
menempati posisi N-3 inti purin.
6. Selanjutnya terjadi reaksi penutupan rantai dan terbentuklah senyawa amino-
imidazole-ribosil-5p.
Selanjutnya, senyawa-senyawa amino-imidazole-ribosil-5p melakukan fikasi CO2
dengan biotin sebagai koenzim; dan atom karbon yang difiksasi tersebut menempati
atom C(6) intipurin. Dilanjutkan reaksinya dengan asparatat membentuk senyawa 5-
amino-4-imidazole-N-suksinil karboksamid ribosil-5p
7. Senyawa 5-amino-4-imidzole-N-karboksamid-ribosil-5P melakukan reaksi yang
dikatalisis oleh enzim adenilosuksinase sehingga dihasikan asam fumarate dan
senyawa 5-amino-4-imidzole-N-karboksamid-ribosil-5P.
8. Senyawa 5-amino-4-imidzole-N-karboksamid-ribosil-5P melakukan reaksi formilasi
yang dikatalisis oleh enzim transformilase dengan koenzim FH4 (thetrahidrofolat)
dan senyawa donor gugus formil, maka terbentuklah senyawa 5-formamido-4-
imidazole- karboksamide-ribosil-5p. gugus formil yang baru tersebut menempati
atom C(2) inti purin (sama dengan atom karbon (C8) inti purin).
9. Akhirnya terjadilah reaksi penutupan cincin yang ke 2 kalinya dan terbentuklah
derivate purin yang pertama berupa IMP (inosin monophosphate= inosinic acid )
yaitu derivate hiposantin atau 6-oksipurin. Sedangkan
AMP dan GMP diturunkan dari IMP.

50
Antimetabolite
Beberapa senyawa antimtabolit yang analog dengan glutamin merupakan
inhibitor yang efektif pada berbagai langkah biosintesis purin.
Azaserin (O-diazoasetil-L-serin) adalah antagonesis gultamin, khususnya
pada reaksi perubahan ribose-5P-formilglisinamida ribosil-5P menjadi ribose-5P-
formilglisinamdin-ribosil-5p.
Diazonorleusin (6-diazo-5-okso-L-neruleusin) menghambat reaksi
perubahan PPRibosa-P menjadi 5-fosforribosilamin.

51
6-merkaptopurin, menghambat reaksi perubahan adenilosuksinat (AMPS)
menjadi adenosine monofosfat (AMP) ; serta pada prubahan inosin monofosfat
(IMP) menjadi Xanthosin Monofosfat (XMP) masing-masing pada sintesis AMP dan
GMP.
Tidak semua jaringan dalam tubuh manusia mampu melakukan sintesis dan
novo nukleotida purin. Eritrosit tidak mampu mengsintesis 5-fosforibosilamin dan
oleh karna itu bergantung pada purin eksogen untuk pembentukn nukletida purin.
Leukosit PMN mempunyai sedikit atau tidak mempunyai kapasitas untuk
mensintesis fosforibosilamin tetapi limfosit perifer memiliki sedikit kemampuan
untuk mensintesis de novu purin. Otak manusia ternayata kurang mengandung enzim
PPRibosa-P amidotransferase, sehingga otak manusia terantung pada purin oksigen
untuk pembentukan nukleotida purin.
Jelas hati mamalia penting artinya bagi sintesis nuklotida purin sehingga
organ ini dapat memberikan purin dalam bentuk basa nukleosida untuk dislamatkan
dan dipakai oleh jaringa-jaringan yang tidak mampu mengsintesis de nova purin.

Purin salvage pathway (jalan penyelamatan purin)


Penyelamatan senyawa purin yang sudah terbentuk dapat terjadi melalui 2
mekanisme : (1) fosforibosilase basa purin bebas oleh enzim spesifik dengan
PPRibosa-p sebagai donor fosfat ribose; dan (2) fosforilasi nuklosida purin pada
gugus 5- hidrokilnya.
Terdapat 2 enzim dalam jaringan manusia yang dapat melakukan
fosforibosilasi basa purin : (a) adenine fosforibosil transferae, dalam sintesis AMP ;
dan (b) hipoxanthin-guanin fosforibosil transferase masing-masing pada
pembentukan IMP dan GMP.
Penyelamata ribonukleosida purin menjadi ribonukleotida purin dilakukan
pada manusia hanya oleh adenosine kinase, enzim ini tidak memperlihatkan
kemampuan untuk melakukan fosforilasi guanosin, inosin atau drivat 2deoksinya
menjadi ribonukletida masing-masing.
Deoksisitidin kinase dapat melakukan fosforilasi 2-deoksiadenosin dan 2-
deoksiguanosin masing-masing menjadi deoksi AMP dan deoksi-GMP.
Namun masih ada kelebihan dari purin salvage pathway pada manusia
terdapat silus dimana IMP dan GMP serta masing-masing deoksiribonukleotidanya
diubah menjadi nukleosidanya (inosin,deoksinosin,guanosin, deoksiguanosin) yang
dikatalisis oleh enzim purin -5nukleotidase. Oleh enzim purin nukleosida
fosforilase, kedua nukleosida tersebut masing-masing diubah menjadi hiposantin
atau guanine engan ribose-IP atau 2- deoksiribosa-IP selanjtnya hiposantin dan

52
guanine difosfiribosilasi lagi oleh PPRibosa-P menjadi IMP dan GMP untuk
mlengkapi siklus.
Pada manusia sebagai keseluruhan pemakian PPRibosa-P oleh siklus
penyelamatan besar dibandingkan dengan pemakaian PPRibosa-P untuk sintesis de
novu nukleotida purin.
Terdapat jalan samping siklus ini yang mengikut sertakan pengubahan IMP
menjadi AMP, dimana AMP diubah lebih lanjut menjadi adenosine.
Adenosine terbentuk, diselamatkan kembali secara langsung menjadi AMP
melalu reaksi yang dikatalisis oleh enzim adenosine kinase,atau diubah enjadi di
inosin melalui reaksi yang dikatlisis oleh enzim adenosine deaminase.

Biosintesis pirimidin
Umunya biosintesis pirimidin dan purin memerlukan bahan pembentuk enzim yang
sama misalnya PRPP, glutamin , CO2, asam aspartate, koenzim tetrahidrofolat(FH4).
Tetapi ada suatu perbedaan yang jelas sekali yaitu pada saat terjadinya penambahan
gugus ribose-P (yang pada biosintesis purin, penambahan gugus ribose-P sudah
beralngsung ditahap awal, sedangkan pada biosintesis pirimidin berlangsungnya
setelah berjlan beberapa tahap lebih jauh.
Tahap biosintesis pirimidin :
1. Biosintesis pirimidin diawali oleh reaksi pembentukan karbamoil-P yang
dihasilkan dari rekasi antara glutamin , ATP dan CO 2 yang dikatalisis oleh enzim
karbomil-P sintetase yang berlangsung didalam sitosol. Berbeda dengan enzim
karbamoil-p synthase yang berkerja pada reaksi pembentukan urea dimana
reaksinya berlangsung bukan di dalam sitosol melainkan didalam mitokondria.
2. Berikutnya karbomil-P berkondensasi dengn asam aspartate menghasilkan
senyawa karbamoil-aspartat.reaksi ini dikatalisis oleh enzim aspartate
transkarbamoilase.
3. Berikutnya, terjadi reaksi penutupan rantai sambal membebaskan H2O dari
molekul karbamoil-aspartat sehingga dihasilkan asam dihidrorota
(DHOA=dihidroorotic acid). Reaksi tersebut dikatalisis oeh enzim
dihydroorotase,

53
4. Berikutnya,melalu reaksi dikatalisis oleh enzim DHOA dehydrogenase dengan
koenzim NAD+,DHOA menghasilkan asam orotat (OA=orotic acid)
5. Selanjutnya terjadi reaksi penambahan gugus ribose-P pada asam ortat. Reaksi
ini dikatalisis oleh enzim orotat fosforibosil transferase. Dan dihasilkan
orotidilat (orotidin mono phosphate)= OMP
6. Akhirnya, enzim ortidilat dikarbokilase menggkatalisis reaksi dikarboksilase
ortodilat dan menghasilkan uridilat (uridin mono phosphate), yaitu produk
nukleotida pertama pada biosintesis pirimidin.

Pyrimidin salvage pathway (jalan penyelamatan pirimidin)


Walaupun inti oirimidin lebih sederhana dan jalan sintesisnya lebih singkat
dibandingkan dengan purin, keduanya memiliki prazat yang sama : PPRibosa-P ;
glutamin CO2; dan aspartate diperlukan bagi semua nukloetida pirimidin dan
purin. Sel mammalia tidak memiliki cara yang efesien untuk ATP ADP
TIMIDIN TMP TIMIDI KINASE menyelamatkan basa pirimidin bebas mnjadi
nukleotida primidinya masing-masing. Namun demekian mereka memiliki jalan
penyelamat aktif untuk mengubah nuklosia pirimidin uridin, sitidin dan timidin
mnjadi nuklotidanya masing-masing.

Reaksi-reaksi pirimidin nuklosida pirimidin nuklosida kinase yang bertanggung


jawab untuk pembentukan pirimidin nuklosida monofosfat masing-masing.
Enzim yang diperlukan untuk biosintesis de novo pirimidin yaitu orotata
fosfrbosil transferase, mampu menyelamatkan asam orotat menjadi IMP; namun
tidak tapat mengingat asam orortat tidak dianggap sebagai basa pirimidin
sempurna. Orotat fosforibosil transferase tidak dapat menggunakan basa
pirimidin (4-OH-pirazolopirimidin) menjadi nukloetida dimana ribosil fosfat
terkait N-1 cincin pirimidin obat tersebut. Obat anti kanker 5-fluorourasil juga
difoforribosilasi oleh ortat fosforibosil transferase. 2- deoksisitidin difosforilasi
oleh enzim lain dikenal sebagai deoksitidin kinase,yang juga dapat
memfosforilasi deoksiguanosin dan deoksiadonosin.

54
Pengatur biosintesis purin
Sintsi de novo IMP menggunakan ekuivalen 6 ikatan fosfodiester berenergi
tinggi bersama-sama dengan prazat lainya ; (1) glisin (2) glutain ; (3)
metinilitetrahidro folat ; dan (4) aspartate.
Oleh karnanya, konservasi energy dan zat makanan mempunyai arti sangat
penting dimana sel secara ekonomis mengatur kecepatan biosintesis de novo
purin. Pengaturan taggal yang paling penting bagi biosintesis de novo purin
adalah konsentrasi PPRibosa-P beragntung pada kecepatan sintesisnya melawan
kecepatanya penggunaan/pemecahaanya.
Kecepaatn peggunaan PPRibosa-P banyak bergntung pada pemakian oleh
jalan penyelamatan (salvage pathway) yang melakukan fosforibosilasi
hiposantin dan guanine menjadi ribonukleotidanya masing-masing.

Pengaturan biosintesis pirimidin


Jalan biosintesis nukleotid pirimidin diatur oleh 2 mekanisme umum : (1)
pengaturan secara allosteric dan (2) pengaturan secara repressi dan derepressi.

Katabolisme purin
Asam urat adalah produk akhir katabolisme purin pada manusia guanine
yang berasal dari guanosin, yang berasal dari adenosine; melalui pembentukan
santin keduanya dikonversi menjadi asam urat; reaksinya berturut2 dikatalisis
oleh enzim guanase dan santin oksidasi.

Reaksi
Hiposantin, diturunkan dari adenosine yang dideaminasi lebih dahulu untuk
membentuk inosin, kemudian inosin dengan PI membebaskan gugus ribose-
1Pnya. Reaksi pembentukan hiposantin tersebut berturut-turut dikatalisis loleh
enzim adenosine deaminase dan purin nuklotida fosforilase.
Selanjutnya, dengan dikatalisis oleh enzim xanthin oxidase, hiposantin
mula-mula dioksidasi menjadi santin untuk selanjutnya satin diubah menjadi
asam urat.
Sedangkan guanine pembentukan santin berasal dari guanosin, dimana
guanosin dengan Pi serta dikatalisi oleh enzim purin nuklosida fosforilse
melepaskan gugus ribose-1P
Catatan : santi oksidase sangat aktif dijaringan hati,ginjal, usus halus. Tanpa
keberadaanya, asam urat tidak bias terbentuk.
Penyakit gout ditandai oleh kadar asam urat dan Na-urat yang tinggi didalam
tubuh, sehingga terjadi penimbunan terutama sekali dijaringan bawah kulit yang
berbentuk tophi.

Katabolisme pirimidin

55
Katabolisme pirimidin terutama berlangsung dihati.
Pembesaran CO2 dari C(2) inti primidin merupakan jalur utama pada proses
katabolisis urasil,sitosin dan timin. Produk utamanya adalah alanine dan
aminoisobutirat.
Timin adalah precursor asam beta amino sobutirat pada manusia.

DAFTAR PUSTAKA
1. West, E.S. and Todd, W.R.:Textbook of Biochemistry; 3rd.Ed.
2. Harper, H.A.; Rodwell, V.W. and Mayes, P.A.: Review of Physiological Chemistry;
16 Ed.
3. Rafelson, M.E.; Binkley, S.B. and Hayashi, J.A.: Basic Biochemistry
4. White , A.; Handden, P.; Smith, E.L.: Principles of Biochemistry 5 th. ED
5. Orten, J.M.; Neuhaus, Q.W: Human Biochemistry 9th. Ed.
6. Stoyer, L.: Biochemistry 2nd. Ed. (1975)
7. Montgomery, R.; Dryer, R.L.; Conway, T.W.; Spector, A.A.: Biochemistry 4 th Ed.
8. Guyton, A.C. Alih Bahasa DHARMA, A: P. Lukmanto: Buku ajar fisiologi kedokteran;
Ed. 5 Bagian 1-Penerbit buku kedokteran
9. Lehninger, A.L.: Principles of Biochemistry 3rd. Ed. Printing
10. Hardjasasmita, P:Ikhtisar Biokimia Dasar B; Balai Penerbit FKUI Jakarta (1996)

BAB 4
GIZI

Capaian Pembelajaran (Learing Outcomes):

56
1. Memahami prinsip dasar dan kebutuhan gizi bagi kehidupan dan fungsi tubuh
manusia
2. Menerapkan prinsip-prinsip gizi sebagai suatu pendekatan dalam menyelesaikan
masalah keperawatan
3. Menganalisis masalah keperawatan dengan menggunakan prinsip-prinsip konsep
biokimia sebagai bagian pendekatan holistik keperawatan

I. Pendahuluan
Bab ini anda akan mempelajari tentang gizi/nutrisi yang berhubungan dengan
kebutuhan tubuh manusia. Begitu banyak penggolongan zat gizi di sekitar kita. Namun ada
beberapa zat gizi yang diperlukan tubuh secara porsi besar dan porsi kecil. Maka dari itu
beberapa zat gizi disebut makronutrien dan beberapa zat gizi lainnya disebut mikronutrien.
Kebutuhan nutrisi tiap-tiap indivisu juga berbeda tergantung dari beberapa faktor dan
kondisi yang menyertainya (sehat atau mengalami sakit tertentu).
II. Gizi
Gizi atau nutrisi adalah ikatan kimia yang diperluak oleh tubuh untuk melakukan
fungsinya yaitu energy, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-
proses kehidupan (Soenarjo, 2000). Sedangkan menurut Supariasa (2001) Nutrisi adalah
proses organism menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses
digestif, absorbs, transportasi, penyimpanan metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang
tidak dipergunakan untuk mempertahankan kehidupan. Jenis nutrisi menurut Almatsier
(2009) terbagi menjadi dua yaitu makronutrien dan mikronutrien.
1. Makronutrien / Zat Gizi Makro
Makronutrien adalah makanan utama yang membina tubuh dan membekalkan
tenaga. Makronutrien terdiri dari 3 bagian utama yaitu karbohidrat, lemak, dan
protein. Ketiga zat ini merupakan zat makronutrien yang diperlukan oleh tubuh
(Soenarjo, 2000).

1.1. Karbohidrat
Karbohidrat menurut Almatsier (2009) terbagi menjadi dua golongan yaitu
karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks.
1.1.1. Karbohidrat Sederhana
Karbohidrat sederhana terdiri atas :
a. Monosakarida
Monosakarida termasuk didalamnya adalah glukosa, fruktosa, galaktosa,
dan pentosa. Glukosa disebut juga dekstrosa dapat ditemukan di sayur,
buah, sirup jagung dan madu (didalam madu juga terdapar fruktosa).
Dalam proses metabolism glukosa merupakan bentuk karbohidrat yang

57
beredar didalam tubuh dan merupakan sumber energi. Dalam keadaan
normal sistem saraf pusat hanya menggunakan glukosa sebagai sumber
energi. Fruktosa disebut juga levulosa atau gula buah yang merupakan
gula paling manis. Fruktosa dapat ditemukan di madu (bersama glukosa),
buah, nectar bunga, dan sayur. Galaktosa tidak terdapat bebas di alam.
Galaktosa terdapat di alam tubuh sebagai hasil pencernaan glukosa.
Manosa juga jarang terdapat di makanan. Sedangkan pentose merupakan
bagian-bagian sel dari semua bahan makanan alami. Dikarenakan
jumlahnya yang sangat kecil sehingga tidak penting sebagai sumber
energy.
b. Disakarida
Disakarida terdiri dari empat jenis yaitu sukrosa/sakarosa, maltose,
laktosa, dan trehalosa. Disakarida terdiri dari 2 unit monosakarida yang
terikat melalui reaksi kondensasi. Sukrosa/sakarosa dinamakan gula
tebu/gula bit. Sukrosa terdapat di gula pasir, gula merah, buah, sayur, dan
madu. Maltosa (gula malt) tidak terdapat bebas di alam. Maltosa
terbentuk bila pati dipecah. Laktosa (gula susu) hanya terdapat di susu
dan terdiri dari 1 unit glukosa dan 1 unit galaktosa. Kadar laktosa pada
sapi adalah 6,8 gram per 100 ml, pada ASI 4,8 gram per 100 ml. Banyak
orang terutama pada yang berkulit berwarna (Indonesia) memiliki
ketidaktahanan terhadap susu sapi. Hal ini karena kekurangan enzim
laktase yang dibentuk dalam dinding usus. Enzim mini dibutuhkan dalam
pemecahan laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Laktosa yang tidak
bisa dicerna menyebabkan laktosa akan tetap tinggal di saluran
pencernaan. Kemudian mikroorganisme dapat tumbuh sehingga
menyebabkan gejala kembung, kejang perut, dan diare. Trehalosa seperti
maltose, terdirii ats dua mol glukosa dan dikenal sebagai gula jamur.
Trehalosa terdapat di jamur dan serangga.
c. Gula alkohol
Gula alkohol merupakan bentuk alkohol dari monosakarida. Gula alcohol
dapat ditemukan di alam dan dapat dibuat. terdapat 4 jenis gula alcohol
yaitu sorbitol, manitol, dulsitol, dan inositol. Sorbitol terdapat dalam
beberapa jenis buah dan secara komersil dibuat dari glukosa. Sorbitol
banyak digunakan dalam minuman dan makanan khusus pasien diabetes
seperti minuman ringan, selai dan kue. Pengatuh sorbitol ke darah lebih
kecil daripada sukrosa. Sorbitol tidak mudah dimetabolisme oleh bakteri
dalam mulut sehingga tidak mudah menimbulkan karies gigi. Oleh karena

58
itu sorbitol banyak digunakan dalam pembuatan permen karet. Manitol
atau dulsitol adalah alcohol yang dibuat dari monosakarida manosa dan
galaktosa. Dapat ditemukan pada nanas, asparagus, ubi jalar, dan wortel.
Inositol adalah alcohol siklis yag myerupai glukosa. Banyak terdapat
dalam bahan makanan terutama dalam serealia. Bentuk esternya dengan
asam fitat mengambat absorbs kalsium dan zat besi dalam usus halus.
d. Oligosakarida
Oligosakarida adalah gula rantai pendek yang dibentuk oleh galaktosa,
glukosa, dan fruktosa. Macam-macam oligosakarida adalah rafinosa,
stakiosa dan verbaskosa. Ketiga jenis oligosakarida ini terdapat di biji
tumbuh-tumbuhan dan kacang-kacangan. serta tidak dapat dipecah oleh
enzim-enzim pencernaan. Di dalam usus besar oligosakarida juga
mengalami proses fermentasi.

1.1.2. Karbohidrat Kompleks


Karbohidrat kompleks menurut Almatsier (2009) adalah zat yang terdiri dari
polisakarida yang merupakan dua atau lebih ikatan monosakarida dan serat
yang juga dinamakan polisakarida non pati.
a. Polisakarida
Jenis polisakarida yang penting adalah pati, dekstrin, glikogen, dan
polisakarida non pati. Pati terdapat pada padi-padian, biji-bijian, dan
umbi-umbian. Beras, jagung, gandum mengandung 70-80% pati; kacang
kedelai, kacang merah, kacang hijau mengandung 30-60% pati; dan ubi,
talas, kentang, singkong mengandung 20-30% pati.
Dekstrin adalah sumber utama karbohidrat dalam makanan lewat pipa
(tube feeding) . Cairan glukosa lewat tube feeding merupakan campuran
dekstrin, maltose, glukosa, air. Karena mempunyai molekul yang lebih
besar dari sukrosa dan glukosa, dekstrin memiliki osmolar lebih tinggi
sehingga tidak mudah menimbulkan diare. Pati yang dipanaskan/dibakar
dapat menghasilkan dekstrin (seperti pada roti yang dibakar). Hal ini
menyebabkan molekul sakaridanya mengecil dan meningkatkan daya
larut dan tingkat kemanisannya. Hal ini menyebabkan dekstrin mudah
dicerna. Dekstrin maltose adalah suatu produk hasil hidrolisis partial pati.
Dekstrin maltose ini digunakan sebagai makanan bayi karena tidak
mudah mengalami fermentasi dan mudah dicerna. Glikogen juga bisa
disebut sebagai pati hewan karena merupakan bentuk simpanan di tubuh
hewan dan manusia.

b. Polisakarida Non Pati

59
Terdapat 2 golongan serat yakni tidak dapat larut dalam air dan dapat larut
dalam air Serat yang tidak larut dalam air adalah selulosa, hemiselulosa,
dan lignin. Sedangkan serat yang larut dalam air adalah pectin, gum,
mukilase, glukan, dan algal.

1.2. Lipid
Lipid mencakup senyawa hydrogen termasuk didalamnya lemak, minyak,
fosfolipida, sterol, dan ikatan lain sejenis yang terdapat dalam makan dan tubuh
manusia. Lipid bersifat larut dalam pelarut nonpolar seperti etanol, eter, kloroform,
dan benzene (Astuti, 2011).
Klasifikasi lemak dapat diuraikan menurut Almatsier (2009) adalah sebagai berikut :
a. Lipid sederhana
a) Lemak netral
Monogliserida, digliserida, dan trigliserida (ester asam lemak dengan gliserol).
b) Ester asam lemak dengan alcohol berberat molekul tinggi
Malam, ester sterol, ester non sterol, ester vitamin D.
b. Lipid majemuk (compound lipid)
Fosfolipida dan lipoprotein.
c. Lipid turunan (derived lipid)
a) Asam lemak
b) Sterol : kolesterol dan ergosterol; hormone steroid; vitamin D; garam empedu
c) Lain-lain : karotenoid dan vitamin A; vitamin E; vitamin K

1.2.1. Asam lemak Esesnsial


Asam lemak yang essensial adalah asam linoleat dan asam linolenat. Dikatakan
essensial karena dibutuhkan oleh tubuh namun tubuh tidak dapar mensintesis
sendiri. Kekurangan asam lemak esensial menurut penelitian pada tikus percobaan
dapat mengakibatkan dermatitis dan eczema; pertumbuhan terhambat; reproduksi
terganggu; degenerasi dan kerusakan pada organ tubuh; kerentanan terhadap
infeksi meningkat. Percobaan pada bayi dengan oemberian formula yang
mengandung asam linoleat kurang dari 0,1% dari jumlah energy makanan total
menunjukkan gejala pada kulit seperti percobaan pada tikus sebelumnya. Gejala ini
hilang ketika ditambah asam linoleat pada makanannya. ASI mengandung asam
lemak tidak jenuh ganda terutama asam arakidonat dan dokosaheksaenoat.
Asam lemak esensial merupakan precursor kelompok senyawa eikosanoid yang
mirip hormone, yaitu prostaglandin, protasiklin, tromboksan, dan leukotrien.
Senyawa-senyawa tersebut mengatur tekanan darah, denyut jantung, fungsi
kekebalan, rangsangan sistem saraf, kontraksi otot, dan penyembuhan luka. asam
linoleat banyak terdapat pada minyak nabati (minyak jagung, minyak kedelai,
minyak biji matahari).

60
Kekurangan asam lemak esesnsial dapat menyebabkan gangguan saraf dan
penglihatan pada dewasa. Sedangkan pada bayi mdapat menghambat pertumbuhan
dan pada anak anak-anak dapat menyebabkan kegagalan reproduksi, gangguan
kulit, ginjal dan hati.
Kebutuhan asam linoleat untuk anak adalah 2% dari kebutuhan energinya.
Sedangkan pada orang dewasa 1% dari kebutuhan energy dewasa. Bayi yang
mendapat ASI tidak akan kekurangan asam linoleat karena asam linoleat dalam
ASI mencapai 6-9% . Jika kebutuhan asal linoleat terpenuhi maka kebutuhan asam
linolenat akan terpenuhi juga. Hal ini terjadi karena biasanya kedua asam in
iberada pada sumber makanan yang sama.

1.2.2. Asam lemak omega-3


Asam lemak omega 3 yang memnpunyai arti khusus dalam ilmu gizi adalah alfa-
asam linolenat serta turunannya asam eikosapentaenoat/EPA dan asam
dokosaheksaenoat/DHA. Asam linolenat ini berfungsi untuk pembentukan retina.
Asam linolena atau asam lemak omega 3 ini berasal dari minyak klacang kedelai,
minyak rami, dna minyak biji rape. EPA dan DHA juga terdapat di minyak ikan
terutama ikan yang hidup di laut dalam dan dingin. Penelitian sementara asam
lemak omega 3 berfungsi menurunkan produksi trigliserida dan apolipoprotein beta
di dalam hati. Fungsi ini dihubungkan dengan pencegahan penyakit jantung
koroner dan arthritis.

1.3. Protein
Protein adalah bagian tergesar dari semua sel makhluk hidup sesudah air. Protein terdiri
dari rantai-rantai asam amino yang terikat dalam ikatan peptida. Kebutuhan protein
orang dewasa berkisar antara 44-56 gram protein perhari (Astuti, 2011).
1.3.1. Jenis-Jenis Protein
Hingga sekarang terdapat Sembilan jenis asam amino esensial dan sebelas asam
amino non esensial. Molekul protein lebih kompleks dibanding karbohidrat.
Asam Amino
Esensial Esensial bersyarat Tidak esensial
Leusin Prolin Alanin
Isoleusin Serin Asam
glutamate
Valin Arginin Glutamin
Triptofan Tirosin Asam aspartat
Fenilalanin Sistein Asparagin
Metionin Glisin
Treonin
Lisin
Histidin
Tabel 4.1 Penggolongan Asam Amino (Astuti, 2011)

61
Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesa oleh tubuh .
Asama mino esensial bersyarat adalah asam amino yang dapat disintesis dari asam
amino lain atau metabolit mengandung nitrogen kompleks lain. Asam amino tidak
esensial adalah asam amino yang dapat disintesis oleh tubuh. Asam amino ini
disintesis melalui aminase reduktif asam keton dan melalui transminase.
Asam amino yang termasuk ke esensial bersyarat adalah asam amino yang didapat
dalam konsumsi makanan sehari-hari, kecuali jika prekursornya berada dalam
jumlah banyak dalam tubuh sehingga memungkinkan sintesisnya saat dibutuhkan.

Prekursor pembuatan asam amino bersyarat antara lain


Tabel 4.2 Penggolongan Asam Amino dan Prekursornya (Almatsier, 2009)

Asam Amino Prekursor


Sistein Metionin, serin
Tirosin Fenilalanin
Arginin Glutamine/glutamate,aspartat
Prolin Glutamat
Glisin Serin, kolin

Hampir semua asam amino memiliki fungsi khusus. Triptofan adalah prekursor
vitamin niasin dan pengantar saraf serotonin. Metionin memberikan memberikan
gugus metal guna sintesis kolin dan kreatinin. Metionin merupakan juga merupakan
precursor sistein dan ikatan mengandung sulfur lain. Fenilalain adalah prekursor
tirosin dan bersama membenruk hormon-hormon tiroksin dan epinefrin. Tirosin
merupakan prekursor bahan yang membentuk pigmen kulit dan rambut. Arginin dan
sentrulin terlibat dalam sistesis ureum dalam hati.
Glisin mengikat bahan-bahan toksik dan mengubahnya menjadi bahan tidak
berbahaya. Glisin juga digunakan dalam sintesis porfirin nukleus hemoglobin dan
merupakan bagian dari asam empedu. Histidin untuk sitesis histamin. Kreatinin yang
disintesis dati arginin, glisin, dan metionin bersama fosfat membentuk kreatinin
fosfat yang berenergi tinggi dalam gel. Glutamin yang dibentuk dari asam glutamate
dan asparagin dari asam aspartat merupakan simpanan asam amino di dalam tubuh.
Di samping itu asam glutamate juga prekursor pengantar saraf gamma-aminno
butirat.

2. Mikronutrien / Zat Gizi Mikro


2.1. Vitamin
Vitamin menurut Astuti (2011) adalah zat organic kompleks yang dibutuhkan dalam
jumlah kecil dan pada umumnya tidak dapar dibentuk tubuh. Tiap vitamin mempunyai
tugas spesifik dalam tubuh. Karena vitamin adalah zat organik maka vitamin dapat rusak
karena penyimpanan dan pengolahan.

62
2.1.1. Jenis-Jenis Vitamin (Astuti, 2011)
a. Vitamin A
Vitamin A berfungsi melindungi tubuh dari beberapa infeksi, serta membantu
menjaga kulit agar tetap sehat. Vitamin A dapat kita temukan pada makanan
seperti brokoli, bayam, wortel, labu, ubi jalar, hati, telur, susu, krim, dan keju.
b. Vitamin B1
Vitamin B1 berfungsi membantu tubuh dalam mencerna karbohidrat serta baik
dalam menjaga sistem saraf. Vitamin B1 dapat temukan pada makanan seperti
hati, kacang, sereal, roti,dan susu.
c. Vitamin B2
Vitamin B2 baik dalam menjaga kesehatan kulit . Untuk memenuhi kebutuhan akan
vitamin B2, bisa mengkonsumsi hati, telur, keju, susu, makanan hijau , kacang
polong, dan gandum.
d. Vitamin B3
Vitamin B3 berfungsi membantu tubuh dalam menggunakan protein, lemak dan
karbohidrat. Selain itu Vitamin B3 juga baik dalam menjaga sistem saraf dan
kulit. Vitamin B3 dapat kita temukan dalam makanan antara lain Hati, ragi,
kacang, daging, ikan, dan unggas.
e. Vitamin B5
Vitamin b5 membantu dalam proses penggunaan karbohidrat dan lemak dan membantu
dalam produksi sel darah merah. Vitamin ini dapat temukan dalam daging sapi,
ayam, lobster, susu, telur, kacang, kacang polong, brokoli, ragi, dan biji-bijian.
f. Vitamin B6
Vitamin B6 berfungsi membantu tubuh dalam menggunakan protein dan lemak dan
membantu dalam proses transportasi oksigen serta sangat baik untuk kesehatan
saraf. Vitamin ini terkandung dalam Hati, biji-bijian, kuning telur, kacang, pisang,
wortel, dan ragi.
g. Vitamin B 9 (asam folat)
Vitamin B9 membantu dalam produksi sel baru dan memeliharanya, serta dapat
mencegah cacat lahir. Makanan hijau, hati, ragi, kacang, kacang polong, jeruk,
sereal dan gandum mengandung vitamin jenis ini.
h. Vitamin B12
Vitamin B12 dapat membantu dalam produksi sel darah merah dan sangat baik untuk
kesehatan saraf. Vitamin B12 dapat temukan pada Susu, telur, hati, unggas,
kerang, sarden, dan telur.
i. Vitamin C
Vitamin C bermanfaat dalam menjaga kesehatan tulang, kulit dan pembuluh darah.
Makanan yang mengandung Vitamin C antara lain jeruk, tomat, kentang, pepaya,
stroberi, dan kubis.

j. Vitamin D

63
Vitamin D sangat baik dalam menjaga kesehatan tulang. Untuk memenuhi
kebutuhan vitamin D cukup dengan berjemur atau terkena sinar matahari selama
5- 30 menit minimal 2 kali dalam seminggu. Selain itu kita juga bisa
mengkonsumsi makanan antara lain seperti Hati dan Susu.
k. Vitamin E
Vitamin E dapat memelihara sel tubuh kita dari kerusakan, memperlancar aliran
darah, serta mampu memperbaiki jaringan tubuh. Makanan yang mengandung
Vitamin E antara lain kuning telur, hati sapi, ikan, susu, brokoli, dan bayam.
l. Vitamin H (Biotin)
Vitamin H dapat membantu tubuh dalam menggunakan karbohidrat ditemukan
dalam Hati, kuning telur, tepung kedelai, sereal,ragi, kacang polong, buncis,
kacang, tomat, dan susu.

m. Vitamin K
Vitamin K membantu dalam proses pembekuan darah dan pembentukan tulang.
bayam, kubis, keju, bayam, brokoli, kubis, dan tomat. Selain itu, tubuh kita juga
memproduksi vitamin K.

2.2. Mineral
Mineral menurut Supariasa (2001) diklasifikasikan menjadi dua yaitu mineral
organik dan mineral anorganik. Mineral organic adalah mineral yang dibutuhkan
serta berguna bagi tubuh yang dapat diperoleh melalui makanan setiap hari seperti
nasi, ayam, ikan, telur, sayur-sayuran serta buah-buahan, atau vitamin tambahan.
Sedangan mineral anorganik adalah mineral yang tidak dibutuhkan oelh tubuh.
Contohnya timbale hitam (Pb), iron oxide (besi teroksida), merkuri, arsenic,
magnesium, aluminium, atau bahan-bahan kimia lainnya hasil dari resapan tanah.
Mineral anorganik sendiri dibagi menjadi dua yaitu mineral makro dan mineral
mikro. Contoh mineral makro adalah kalsium, fosofor, magnesium, natrium,
klorida, dan kalium. Sedangakan mineral mikro terdiri dari besi, seng, iodium,
selenium, tembaga, mangan, kromium, dan flor.
a. Kalsium
Kalsium membantu dalam pembentukan tulang dan gigi serta membantu
menjalankan fungsi otot dan saraf. Kalsium terkandung dalam ikan salmon, sarden,
susu, keju, yoghurt, kubis Cina, kangkung, lobak, sawi, brokoli, dan jeruk.
b. Klorida
Klorida berfungsi menjaga keseimbangan kadar air di seluruh tubuh. Klorida
terkandung dalam Garam, rumput laut, gandum, tomat, selada, seledri, buah zaitun,
sarden, daging sapi, dan keju.
c. Tembaga

64
Tembaga membantu melindungi sel dari kerusakan dan juga untuk membentuk
tulang dan sel darah merah. Tembaga dapat ditemukan dalam kerang (terutama
tiram), coklat, jamur, kacang, dan gandum.
d. Fluoride
Floride berfungsi memperkuak tulang dan gigi. Kopi dan dan teh merupakan
makanan yang mengandung flouride.
e. Yodium
Yodium membantu menjalankan fungsi kelenjar tiroid. Tiroid terkandung dalam
Seafood, dan garam beryodium.
f. Zat Besi
Zat Besi membantu sel darah merah dan mengantarkan oksigen keseluruh jaringan
tubuh serta membantu menjalankan fungsi otot. Untuk memenuhi kebutuhan zat
besi dapat mengkonsumsi daging merah, unggas, ikan, hati, tepung kedelai, telur,
kacang-kacangan, kacang polong, bayam, lobak hijau, kerang, dan sereal.
g. Magnesium
Magnesium berfungsi untuk membentuk tulang dan gigi serta untuk memelihara syaraf
dan otot agar tetap normal. Magnesium terkandung dalam beberapa makanan yaitu
kacang-kacangan, seafood, susu, keju, dan yogurt
h. Fosfor
Fosfor sama halnya dengan magnesium yang berfungsi untuk membentuk tulang
dan gigi serta untuk memeliahara syaraf dan otot agar tetap normal. Fosfor dapat
ditemukan pada makan antara lain susu, yoghurt, keju, daging merah, unggas, ikan,
telur, kacangkacangan, dan kacang polong.
i. Kalium
Kalium berfungsi menjaga keseimbangan kadar air di seluruh tubuh serta berfungsi
memeliahara syaraf dan otot agar tetap normal. Kalium terkandung dalam Susu,
pisang, tomat, jeruk, melon, kentang, ubi jalar, plum, kismis, bayam, lobak,
kangkung, dan kacang polong.

j. Selenium
Selenium berfungsi mencega kerusakan pada sel serta membantu fungsi kelenjar
tiroid. Sayuran, ikan, kerang, daging merah, biji-bijian, telur, ayam, hati, bawang
putih, dan ragi bisa kita konsumsi untuk memeneuhi kebutuhan akan Selenium.
k. Sodium
Sodium sama halnya dengan kalium yang berfungsi menjaga keseimbangan kadar
air di seluruh tubuh serta berfungsi memeliahara syaraf dan otot agar tetap normal.
Makanan yang mengandung Sodium antara lain adalah Garam, susu, keju, bit,
seledri, daging sapi, daging babi, sarden, dan buah zaitun hijau.
l. Seng (Zinc)
Seng berfungsi dalam menjaga kesehatan kulit dan membantu dalam penyembuhan
luka. Selain itu Seng juga berfungsi membantu tubuh untuk melawan penyakit.

65
Seng dapat kita temukan dalam beberapa makanan antara lain Hati, telur, makanan
laut, daging merah, tiram, telur, kacang-kacangan, biji-bijian, sereal, gandum, dan
biji labu.

3. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan


Tabel 4.3 Angka Kecukupan Gizi Berdasarkan Usia

66
4. Penilaian Status Gizi Individu
Ada beberapa cara yang digunakan untuk menghitung status gizi
individu, cara tersebut antara lain menggunakan teori Teori Berat Badan
Relatif (RBW) dan Angka Metabolisme Basal (AMB). Teori RBW
biasanya digunakan untuk menghitung status gizi individu dengan DM.
4.1. Teori RBW

Kurus (underweight) : BBR < 90%


Normal (ideal) : BBR 90% - 110%
Gemuk (overweight) : BBR > 110%
Obesitas : BBR > 120%
Jumlah kalori yang dibutuhkan bagi penderita DM
Kurus : BB x 40-60 kalori
Normal : BB x 30 kalori
Gemuk : BB x 20 kalori
Obesitas : BB x 10 -15 kalori

Catatan :
Ibu hamil trimester I : + 100 kalori
Ibu hamil trimester II : + 200 kalori
Ibu hamil trimester III : + 300 kalori
Ibu menyusui : + 400 kalori

5. Dasar-Dasar Diet Klinik


Standart makanan yang biasanya disajikan di rumah sakit adalah makanan biasa,
makanan lunak, makanan saring, dan makanan cair. Makanan cair biasanya diberikan
melalui Naso Gastric Tube (Almatsier, 2009).
5.1. Makanan Biasa

67
Biasanya diberikan kepada pasien dengan penyakit yang tidak memerlukan makanan
khusus. Namun pada kasus ini pasien tidak boleh mendapat makanan yang merangsang,
terlalu berlemak, alcohol, terlalu manis, dll.
Berikut adalah contoh komposisi nilai gizi yang diberikan pada kebutuhan kalori 2230.
(Almatsier, 2009)
Tabel 4.4 Takaran Komposisi Nilai Gizi untuk Makanan Biasa
(Almatsier, 2009)
Golongan Takaran
Protein 75 g
Lemak 53 g
Karbohidrat 365 g
Kalsium 0,4 g
Zar besi 24 mg
Vitamin A 6139 SI
Thiamin 1,2 mg
Vitamin C 87 mg

5.2. Makanan Lunak


Makanan lunak adalah makanan yang mudah dicerna, dengan kondisi rendah serat, serta
tidak mengandung bumbu yang merangsang. Makanan jenis ini biasanya diberikan
kepada pasien dengan kondisi pasca operasi, mengalami infeksi, dan mengalami kenaikan
suhu tertentu yang tidak terlalu tinggi.
Berikut adalah contoh komposisi nilai gizi yang diberikan pada kebutuhan kalori 2180.
(Almatsier, 2009)
Tabel 4.5 Takaran Komposisi Nilai Gizi untuk Makanan Lunak
(Almatsier, 2009)
Golongan Takaran
Protein 81 g
Lemak 66 g
Karbohidrat 318 g
Kalsium 1g
Zar besi 29,3 mg
Vitamin A 6659 SI
Thiamin 1,4 mg
Vitamin C 97 mg

Pada jenis makanan jenis karbohidrat yang tidak boleh diberikan adalah nasi goreng,
beras ketan, jagung, ubi , singkong, dan talas. Sedangkan jenis protein yang tidak boleh
diberikan adalah protein hewani seperti daging berlemak; ikan, telur goreng; ikan berduri
banyak dan untuk protein nabati yang tidak boleh diberi adalah bentuk protein nabati
yang digoreng. Jenis lemak yang tidak diperbolehkan adalah minyak goreng dan santan.
Lalu untuk sayuran yang tidak diperbolehkan adalah sayuran mentah, sayuran yang
meninmbulkan gas seperti kol dan lobak, sayuran yang kaya serat. Begitupula pada buah-
buahan, tidak diperkenankan memberi buah-buahan yang tinggi serat. Bumbu-bumbu

68
yang merangsang seperti cabai, merica dan sejenisnya juga jelas tidak diperkenankan
(Almatsier, 2009).

5.3. Makanan Saring


Makanan ini biasanya diberikan dalam jangka waktu yang singkat. Hal ini dikarenakan
makanan jenis ini tidak mampu mencukupi kebutuhan gizi yang kompleks terutama
kalori dan thiamin. Makanan seperti ini biasanya diberikan kepada pasien dengan
keadaan pasca operasi dan gangguan saluran pencernaan.
Berikut adalah contoh komposisi nilai gizi yang diberikan pada kebutuhan kalori 2180
(Almatsier, 2009).
Tabel 4.6 Takaran Komposisi Nilai Gizi untuk Makanan Saring
(Almatsier, 2009)
Golongan Takaran
Protein 72 g
Lemak 83 g
Karbohidrat 223 g
Kalsium 1,3 g
Zar besi 25,6 mg
Vitamin A 9700 SI
Thiamin 0,8 mg
Vitamin C 176 mg

5.4. Makanan Cair


Makanan cair adalah berupa makanan dengan bentuk cairan jernih yang tidak
merangsang dan tidak meninggalkan sisa. Dikarenakan nilai gizi yang rendah, makanan
ini hanya diberikan 1-2 hari.
Makanan jenis ini diberikan kepada klien sebelum dan seudah operasi, klien
dengankondisi mual muntah, kesadaran menurun, suhu tubuh sangat tinggi , dan infeksi
akut. Makanan dapat diberikan melaui NGT.
Berikut adalah contoh komposisi nilai gizi yang diberikan pada kebutuhan kalori I 1500,
II 1700, dan III 2200 (Almatsier, 2009).
Tabel. 4.7Takaran Komposisi Nilai Gizi untuk Makanan Cair
(Almatsier, 2009)

I II III
Kalori 1475 1765 2240
Protein 64 g 78 g 95 g
Lemak 62 g 70 g 83 g
Karbohidrat 169 g 208 g 284 g
Kalsium 1,7 g 2,5 g 2,8 g
Zat Besi 5,7 mg 5,9 mg 6,3 mg
Vitamin A 3624 SI 3824 SI 4452 mg
Thiamin 0,7 mg 0,9 mg 1 mg
Vitamin C 59 mg 62 mg 66 mg
Natrium 669 mg 929 mg 1109 mg
Kalium 2468 mg 3068 mg 3848 mg

69
III. Rangkuman
IV. Contoh Soal
1. Panduan : Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat
Soal : Berikut ini merupakan asam amino esensial, kecuali
a. Leusin
b. Fenilaladin
c. Lisin
d. Glutamin
e. Triptofan
2. Panduan :
Jika pernyataan 1,2,3 benar maka jawaban adalah A
Jika pernyataan 1 dan 3 benar maka jawaban adalah B
Jika pernyataan 2 dan 4 benar maka jawaban adalah C
Jika pernyataan 4 saja benar maka jawaban adalah D
Jika pernyataan 1,2,3,4 adalah benar maka jawaban adalah E

Soal : Pernyataan berikut yang benar tentang monosakarida


1) Monosakarida termasuk didalamnya adalah glukosa, fruktosa,
galaktosa, dan laktosa
2) Monosakarida termasuk didalamnya adalah glukosa, fruktosa,
galaktosa, dan pentose
3) Monosakarida jenis laktosa dapat ditemukan di susu
4) Fruktosa yang yang merupakan monosakarida dapat ditemukan di
dalam madu

Jawaban C

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama
Astuti, Harwina WIdya. (2011). Ilmu Gizi Dalam Keperawatan. Jakarta : Trans
Info Media
Soenarjo, E. (2000). Padi, Buku 3. Bogor : Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Pangan
Supriasa, I Dewa Nyoman; Bakri, Bachyar; Fajar, Ibnu. (2001). Penilaian Status
Gizi. Jakarta : EGCk
Tim Kemenkes RI. 2013. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Bagi Bangsa
Indonesia. Diunduh dari peraturan.bkpm.go.id pada tanggal 24 September 2015

70
BAB 5
CAIRAN DAN ELEKTROLIT

Capaian Pembelajaran (Learing Outcomes):


1. Memahami mekanisme fisiologi tubuh manusia dalam mempertahankan homeostatis
tubuh
2. Menerapkan prinsip-prinsip fisika dan kimia cairan elektrolit sebagai suatu pendekatan
dalam menyelesaikan masalah keperawatan
3. Menganalisis masalah keperawatan dengan menggunakan prinsip-prinsip konsep cairan
dan elektrolit sebagai bagian pendekatan holistik keperawatan

A. Mekanisme Fisiologi Tubuh Manusia dalam Mempertahankan Homeostasis Tubuh


1. Kompartemen dan Komposisi Cairan Tubuh
Sebesar 60% berat badan orang dewasa terdiri atas cairan (air dan elektrolit).
Jumlah cairan tersebut dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, dan kandungan lemak
tubuh. Jumlah persentase cairan tubuh seseorang yang lebih muda lebih tinggi
dibanding dengan orang yang lebih tua, dan pria memiliki lebih banyak cairan tubuh
dibandingkan wanita (Smeltzer & Bare, 2002). Cairan dan elektrolit
memainkan peranan penting dalam mempertahankan homeostasis. Cairan tubuh secara
terus menerus mentransportasikan nutrisi, elektrolit dan oksigen ke dalam sel, dan
membawa sisa metabolisme dari sel (Lewis et all, 2014).

71
Kompartemen cairan tubuh terdiri atas ruang intraseluler (didalam sel) dan ruang
ekstraseluler (diluar sel). Dua pertiga cairan tubuh berada pada kompartemen
intraseluler. Cairan intraseluler terdapat dalam 40% berat badan orang dewasa. Cairan
ekstraseluler berjumlah sepertiga dari total cairan tubuh. Jumlah cairan ekstraseluler
sekitar 14 L pada seseorang dengan berat 70 kg. Kompartemen cairan ekstraseluler
dibagi menjadi ruang intravaskular (cairan dalam pembuluh darah), interstisiel (cairan
diantara sel), plasma (cairan yang merupakan bagian dari darah) dan transeluler
(cairan di dalam rongga tubuh). Sekitar 20% cairan ekstraseluler berada dalam ruang
intravaskular sebagai plasma (3 L), dan 70% berada diruang interstisiel (10 L) (Lewis
et all, 2014).
Ruang interstisiel mengandung cairan yang mengelilingi sel dan berjumlah sekitar
8 liter pada orang dewasa. Limfe merupakan suatu contoh dari cairan interstisiel.
Ruang transeluler merupakan bagian terkecil dari cairan ekstraseluler dan
mengandung kurang lebih 1 liter cairan setiap waktu. Namun, karena 3 dari 6 L cairan
disekresikan kedalam gastointestinal dan direabsorbsi dari saluran gastrointestinal
setiap hari, kehilangan cairan ini melalui muntah atau diare dapat mempengaruhi
keseimbangan cairan dan elektrolit yang serius. Contoh cairan transeluler adalah
cairan serebrospinal, perikardial, sinovial, intraokular pleural, keringat dan sekresi
pencernaan (Smeltzer & Bare, 2002).
Cairan tubuh normalnya berpindah antara kedua kompartemen yang bertujuan
untuk mempertahankan keseimbangan antara kedua ruang kompartemen tersebut.
Kehilangan cairan tubuh akan mengganggu keseimbangan kedua kompartemen
tersebut. Distribusi cairan tubuh dapat dilihat pada (tabel 1).

TABEL 6.1
DISTRIBUSI CAIRAN TUBUH

Persentase Volum (L)


Berat Badan (%)
Cairan intraseluler 40 28
Cairan Ekstraseluler 20 14
Interstisiel 15 11
Intravaskular 5 3
Total Cairan Tubuh 60 42
Sumber: McCance & Huether (2014)

2. Teori Asam Basa


Eksresi asam/basa mendukung eliminasi karbon dioksida (CO 2) dari paru-paru
untuk mengontrol status asam basa tubuh. Asam diginjal adalah hidrogen (H +),

72
amonium (NH4+), fosfat dan dapar (buffer) sulfat. Basa ginjal pada umumnya adalah
bikarbonat (HCO3-). Oleh karena tingginya beban saring HCO 3-, reabsorbsi bikarbonat
merupakan tugas utama dari segmen tubulus. Hal ini dilakukan pada tubulus
proksimal dan distal dengan sekresi H + dan pembentukan CO2 yang termediasi oleh
karbonik anhidrase. Akhirnya, sekresi asam dalam urin ditentukan oleh level CO 2 di
plasma (Black & Hawks, 2014).

3. Derajat pH
Konsentrasi ion hidrogen (H+) atau pH menunjukkan tingkat keasaman suatu
larutan. Semakin banyak ion hidrogenm maka semakin asam suatu larutan dan
semakin rendah nilai pH. Mekanisme homeostasis mempertahankan pH plasma dalam
rentang 7,35 7,45. Mekanisme ini mencakup aktivitas buffer kimia, ginjal dan paru-
paru. Rentang pH yang sesuai dengan kebutuhan hidup (6,8 7,8) menggambarkan
perbedaan sebesar sepuluh kali lipat pada konsentrasi ion hidrogen dalam plasma
(Smeltzer & Bare, 2002).

4. Cairan dan Elektrolit


Elektrolit adalah substansi yang terpisah dari ion, yang terdapat di dalam air.
Elektrolit dalam cairan tubuh merupakan kimia aktif. Ion adalah partikel bermuatan
listrik. Kation adalah ion yang bermuatan positif, sedangkan anion adalah ion yang
bermuatan negatif. Yang termasuk kation diantaranya sodium (Na +), potassium (K+),
calcium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) ion. Ion yang bermuatan negatif diantaranya
bikarbonate (HCO3-), klorida (Cl-) dan ion fosfat (PO43-). Sebagian besar protein
memiliki ion bermuatan negatif (anion) (Lewis et al, 2014).
Satuan untuk mengukur elektrolit adalah miliequivalent (mEq). Elektrolit di dalam
cairan tubuh adalah kimia aktif yang bergabung dalam kombinasi yang bervariasi,
sehingga lebih mudah untuk menghitung konsentrasinya sebagai sebuah ukuran
aktivitas kimia (miliequivalent) daripada mengukur berat elektrolit tersebut (Lewis et
al, 2014).
Komposisi elektrolit bervariasi antara cairan ekstraseluler dan cairan intraseluler.
Konsentrasi elektrolit pada kedua kompartemen sama secara keseluruhan. Distribusi
elektrolit dalam kompartemen tubuh dapat dilihat pada (tabel 2). Pada cairan
ekstraseluler kation utama adalah sodium, dengan sedikit jumlah potassium, kalsium,
dan magnesium. Anion pada cairan ekstraseluler utama adalah klorida, dengan sedikit
jumlah bikarbonat, sulfat dan fosfat. Sedangkan kation utama pada cairan intraseluler
adalah potassium, dengan sedikit jumlah magnesium dan sodium. Anion utama pada
cairan intraseluler adalah fosfat, dengan beberapa protein dan sedikit bikarbonat
(Lewis et al, 2014).

TABEL 6.2
DISTRIBUSI ELEKTROLIT
DALAM KOMPARTEMEN TUBUH

Cairan Ekstraseluler Cairan Intaseluler


(mEq/L) (mEq/L)
Cation

73
Sodium 142 10
Potassium 5 156
Calcium 5 4
Magnesium 2 26
Total 154 196
Anion
Bicarbonate 24 12
Chloride 104 4
Phosphate 2 40-95
Protein 16 54
Anion Lain 8 31-86
Total 154 196

Pada tabel 2 terlihat bahwa elektrolit utama dalam cairan intraseluler adalah
potassium (kalium) dan fosfat. Cairan ekstraseluler mempunyai konsentrasi potassium
yang rendah dan hanya dapat mentoleransi perubahan kecil dalam konsentrasi
potassium. Karenanya pelepasan simpanan potassium intraseluler dalam jumlah besar
ke dalam cairan intraseluler karena trauma pada sel dan jaringan merupakan keadaan
yang sangat berbahaya (Smeltzer & Bare, 2002).
Tubuh mengeluarkan sejumlah besar energi untuk mempertahankan konsentrasi
sodium ekstraseluler yang tinggi dan konsentrasi potassium intraseluler yang tinggi.
Tubuh melakukan hal ini dengan cara pompa membran sel, yang menukar ion-ion
sodiumdan potassium. Pergerakan cairan yang normal melalui dinding kapiler ke
dalam jaringan tergantung pada kekuatan tekanan hidrostatik (tekanan yang dihasilkan
oleh cairan pada dinding pembuluh darah) pada kedua ujung pembuluh arteri dan
vena, dan tekanan osmotik yang dihasilkan oleh protein plasma. Arah perpindahan
cairan tergantung pada perbedaan dari kedua kekuatan yang berlawanan ini (tekanan
hidrostatik vs osmotik).
Selain elektrolit, cairan ekstraseluler juga mengangkut substansi lain, seperti enzim
dan hormon. Cairan ekstraseluler juga membawa komponen darah, seperti sel darah
merah dan sel darah putih keseluruh tubuh (Smeltzer & Bare, 2002).

5. Sistem Buffer
Buffer kimia merupakan substansi yang mencegah perubahan besar dalam pH
cairan tubuh dengan membuang atau melepaskan ion-ion hidrogen, buffer ini dapat
bekerja dengan cepat untuk mencegah perubahan yang berlebihan dalam konsentrasi
ion hidrogen.
Sistem buffer utama tubuh adalah sistem buffer bikarbonat-asam karbonik.
Normalnya, ada 20 bagian bikarbonat (HCO 3-) untuk satu bagian asam karbonik
(H2CO3). Jika rasio ini berubah, maka nilai pH akan berubah. Rasio inilah yang
penting dalam mempertahankan pH, bukan nilai absolutenya. Hal yang perlu diingat
adalah karbondioksida (CO2) merupakan asam potensial, jika CO 2 dilarutkan dalam
air, maka akan berubah menjadi asam karbonik (CO 2 + H2O = H2CO3). Karena itu,
ketika karbondioksida ditingkatkan, kandungan asam karbonat juga meningkat dan
sebaliknya. Jika bikarbonat maupun asam karbonik ditingkatkan atau diturunkan

74
sehingga rasio 20:1 tidak lagi dipertahankan, maka terjadi ketidakseimbangan asam
basa (Smeltzer & Bare, 2002).
Sistem buffer lain yang kurang penting adalah cairan ekstraseluler termasuk fosfat
anorganik dan protein plasma. Buffer intraseluler termasuk protein, fosfat organik dan
anorganik, dan dalam sel darah merah dan hemoglobin.
a. Ginjal
Ginjal mengatur kadar bikarbonat dalam cairan ekstraselular. Ginjal mampu
mengeksresikan ion-ion bikarbonat dan juga mereabsorbsi ion-ion ini dari sel-sel
tubulus ginjal. Dalam keadaan asidosis respiratorik dan kebanyakan kasus asidosis
metabolik, ginjal mengeksresikan ion-ion hidrogen dan menyimpan ion-ion
bikarbonat untuk membantu mempertahankan keseimbangan. Dalam keadaan
alkalosis metabolik dan respiratorik, ginjal mempertahankan ion-ion hidrogen dan
mengeksresikan ion-ion bikarbonat untuk membantu mempertahankan
keseimbangan. Ginjal tidak dapat mengkompensasi asidosis metabolik yang
diakibatkan oleh gagal ginjal. Kompensasi ginjal untuk ketidakseimbangan secara
relatif lambat (dalam beberapa jam atau hari) (Smeltzer & Bare, 2002).
b. Paru-paru
Paru-paru berada dibawah kendali medula otak, mengendalikan karbondioksida,
dan karena itu juga mengendalikan kandungan asam karbonik dari cairan
ekstraseluler. Paru-paru melakukan hal ini dengan menyesuaikan ventilasi sebagai
respon terhadap jumlah karbondioksida dalam darah. Kenaikan dari tekanan parsial
karbondioksida dalam darah arteri (PaCO 2) merupakan stimulan yang kuat untuk
respirasi, dan tekanan parsial oksigen dalam darah arteri (PaO 2) juga
mempengaruhi respirasi. Meskipun demikian, efeknya tidak sejelas efek yang
dihasilkan oleh PaCO2 (Smeltzer & Bare, 2002).
Pada keadaan asidosis metabolik, frekuensi pernapasan meningkat, sehingga
menyebabkan eliminasi karbondioksida yang lebih besar (untuk mengurangi
kelebihan asam). Pada keadaan alkalosis metabolik, frekuensi pernapasan
diturunkan, dan menyebabkan penahanan karbondioksida (untuk meningkatkan
beban asam) (Smeltzer & Bare, 2002).

B. Contoh Soal
Panduan: Pilihlah salah satu jawaban yang pali tepat
Elektrolit utama dalam cairan intraseluler adalah...
a. Potassium dan fosfat
b. Sodium dan klorida
c. Potassium dan klorida
d. Magnesium dan fosfat
e. Bikarbonat dan klorida

Jawaban: A

DAFTAR PUSTAKA

75
Smeltzer, S., & Bare, B. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah brunner & suddarth
(8th ed. 2th vol). Jakarta: EGC.
Lewis, S.L., Dirksen, S.R., Heitkemper, M.M., & Bucher, L.B. (2014). Medical Surgical
Nursing (9th ed). Canada: Elsevier.
McCance, K.L & Huether, S.U. (2014). Pathophysiology the biologic basis for disease in
adults and children (7th ed.). Canada: Elsevier.
Black, J.M & Hawks, J.H. (2014). Keperawatan medikal bedah (Ed 8, Vol 2). Singapore:
Elsevier.

BAB 6
PENGANTAR ANATOMI DAN JARINGAN

Capaian Pembelajaran (Learning Outcomes)


1. Memahami konsep-konsep anatomi dan fisiologi manusia sebagai suatu
pendekataan dalam menyelesaikan masalah keperawatan secara inovatif,
disiplin, dan bertanggung jawab.
2. Memahami jenis-jenis jaringan dalam tubuh manusia sebagai suatu pendekatan
mengenali dan menyelesaikan masalah keperawatan secara inovatif, disiplin, dan
bertanggung jawab.
3. Mengaplikaskan konsep-konsep anatomi dan fisiologi manusia sebagai suatu
pendekataan dalam menyelesaikan masalah keperawatan secara inovatif,
disiplin, dan bertanggung jawab.

6.1 ISTILAH ANATOMI


Anatomi adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang struktur sel dan tubuh.
Seluruh arah yang menggambarkan hubungan antara satu bagian tubuh dengan
lainnya bermuara pada standar posisi anatomi yang sama. Sebelum menjelaskan
posisi dalam anatomi, terlebih dahulu dijelaskan pembagian garis potong pada
bidang anatomi tubuh, yaitu:
1. bidang mid-sagital ,adalah bidang simetris yang membagi tubuh menjadi
bagian separuh kanan dan kiri.
2. Bidang coronal membagi tubuh menjadi porsi depan dan belakang.
3. Bidang transversal membagi tubuh menjadi porsi superior dan inferior/ atas
dan bawah

Berikut ini akan dijelaskan deskripsi posisi anatomi yang umum dan baku digunakan.
Tabel 1.1
Term Definisi
Superior Mengarah atau menghadap ke atas
Inferior Mengarah atau menghadap ke bawah dan ekor
Anterior/ventral Mengarah atau menghadap ke depan

76
Posterior (dorsal) Mengarah atau menghadap ke belakang
Medial Mengarah atau menghadap pada garis tengah
tubuh
Lateral Mengarah atau menghadap pada sisi tepi tubuh
Internal menjauh dari permukaan tubuh
Eksternal Mengarah atau menghadap permukaan tubuh
Proksimal Mengarah atau menghadap massa utama tubuh
Distal Menjauh dari massa utama tubuh
Visceral Berhubungan dengan organ internal
Parietal Berhubungan dengan dinding tubuh

6.2 JARINGAN
Jaringan yang perlu diketahui dan dipahami adalah:
1. Jaringan epithelial
2. Jaringan penyambung (connective tissue)
3. Jaringan otot (epithelial tissue)
4. Jaringan saraf (nervous tissue)

Jaringan Epithelial
Jaringan epitel membungkus tubuh dan permukaan organ, melalui bagian tubuh dan
lumina, dan membentuk berbagai kelenjar (glands). Fungsi jaringan epitel adalah
sebagai pelindung, absorpsi, eksresi, dan sekresi. Jaringan epitel merupakan jaringan
avaskuler (tidak memiliki pembuluh darah) dan tersusun atas sel sel padat.
Jaringan epitel terklasifikasi atas:
Tabel 6.1 klasifikasi jaringan epitel
Tipe Struktur dan Fungsi Lokasi
Simple squamous Lapisan tunggal pada sel Membentuk dinding kapiler,
epithelium datar, difusi dan filtrasi membatasi kantong udara
(alveolus) paru, membungkus
organ visceral, dan melapisi
rongga tubuh.
Simple cuboidal Lapisan tunggal pada sel Membungkus permukaan
epithelium berbentuk kubus, eksresi atau ovarium, melapisi tubula
absorpsi ginjal, saluran saliva, dan
saluran pancreas
Simple columnar Lapisan tunggal pada sel Melapisi tarktus digestive,
epithelium berbentuk kolom non bersilia, kantong empedu, dan saluran
proteksi, sekresi dan absorpsi eksresi pada beberapa kelenjar
Simple ciliated Lapisan tunggal pada sel Melapisi jalur respirasi, dan
columnar berbentuk kolumna berisilia, pipa pendengaran
epithelium transportasi pada gerakan
silia
Pseudo-stratified Lapisan tunggal bersilia, sel Melapisi uterus, tuba fallopi,
ciliated columnar berbentuk ireguler, proteksi, dan membatasi area traktur
epithelium sekresi, gerakan silia respirasi

77
Stratified Multi lapisan, mengandung Epidermis kulit
squamous keratin, bagian lebih luar
epithelium datar dan mati, proteksi
keratinized
Stratified Multi lapisan, kurang keratin, Melapisi rongga mulut dan
aquamous lapisan lebih luar lembab dan hidun, esophagus, vagina, dank
epithelium (non- hidup, proteksi dan lentur anal anus
keratinized)
Stratified Biasanya dua lapisan sel Saluran kelenjar keringat yang
cuboidal berbentuk kubus, berfungsi lebih besar, kelenjar saliva, dan
epithelium meguatkan dinding luminal pancreas
Transitional Sejumlah lapisan sel non- Melapisi kandung kemih,
epithelium keratin berlingkar, berfungsi ureter, dan uretra
untuk distensi

Jaringan Penyambung (Connective Tissue)


Tabel 6.2 Klasifikasi dan fungsi jaringan penyambung

78
Jaringan Otot
Jaringan otot dapat bernkontraksi, bergerak, mampu menggerakan bagian tubuh
tertentu dengan respons pada bagian yang lain. Sel otot juga disebut serabut otot
(muscle fibers), berperan dalam memanjangkan arah kontraksi, dan pergerakan
diselesaikan melalui memendeknya serabut dalam berespon terhadap stimulus.

Tabel 6.3 Tipe jaringan otot

79
Jaringan Saraf (Nervous Tissue)
Jaringan saraf terdiri atas dua tipe utama yaitu neuron dan neuroglia.
Neuron adalah sel saraf berperan dalam konduksi impuls pada potensial aksi.
Neuroglia berfungsi dalam mendukung dan membantu neuron. Neuroglia berjumlah
5 kali lipat lebih banyak daripada neuron dan memiliki kemampuan mitosis
sepanjang kehidupan.

DAFTAR REFERENSI:
Graaff, K. & Rhees, R. 2001. Human Anatomy & Physiology. Based on Schaums
Outline of Theory and Problems of Human Anatomy and Physiology.
McGraw Hill Company. ISBN 0-07-140606-9.
Ignatavicius and Workman. 2010. Medical Surgical Nursing: Patient-Centered
Collaboration Care. 6th edition. Missouri: Elsevier. ISBN 978-1-4160-4903-
6

80
BAB 7
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERSARAFAN

ANATOMI STRUKTUR OTAK


Secara garis besar agar mudah dipahami, sistem saraf terbagi atas Sistem Saraf
Pusat (SSP) dan Sistem Saraf Tepi/ Perifer.

SISTEM SARAF PUSAT


(CENTRAL NERVOUS
SYSTEM)

OTAK MEDULA SPINALIS

SISTEM SARAF
TEPI

81 SISTEM SARAF
SARAF KRANIAL LINGKAR REFLEK OTONOM
SARAF SPINAL
I-XII (REFLEX ARC)
Gambar 7.1 Skema Umum Sistem Saraf Pusat dan Sistem Saraf Tepi

Secara umum dan prinsip, region otak terbagi atas:


Regio Otak Struktur
Telencephalon Cerebrum
Dienchepalon Thalamus, Hipotalamus, dan Kelenjar Pituitari
Mesencephalon superior colliculus, inferior colliculus,
dan cerebral
Peduncles
Metencephalon Cerebellum dan Pons
Myencephalon Medulla Oblongata
1. Telenchepalon Cerebrum
Terdiri atas 5 lobus dan fungsinya:
Lobus Frontal Fungsi untuk kontrol gerakan volunteer otot
skeletal
Kepribadian, proses intelektual, komunikasi
verbal.
Lobus Parietal Sensasi mucular dan kutaneus, memahami
bicara
dan berbicara.
Lobus temporal interpretasi sensasi auditori, pendengaran,
memori
visual.
Lobus oksipital integrasi gerakan yang berfokus pada mata,
korelasi
gambaran visual dengan pengalaman
sebelumnya
Insular Memori, integrasi aktivitas serebral.

2. Diencephalon
a. Thalamus
b. Hipotalamus
c. Kelenjar Pineal
d. Kelenjar Pituitari
3. Mesencephalon

JARINGAN SARAF (NEURON TISSUE)


Sepeti yang telah disampaikan pada bab sebelumnya, jaringan saraf terdiri atas
neuron dan neuroglia. Neuron adalah sel saraf yang ditemukan pada sistem saraf
pusat dan sistem saraf perifer. Secara umum neuron terdiri atas sel tubuh, dendrit dan
akson.
Dendrites
Menerima& mengkonduksi impuls saraf DARI neuron sebelumnya KE badan sel
Axon:
Membawa impuls saraf ke neuron-neuron lain.

82
Neuroglia merupakan sel yang mensuplai nutrient bagi neuron dan merupakan unit
kehidupan dalam sistem saraf.
Krn sbg cadangan nutrisi- sering pula terjadi tumor
Berbeda tipe Berbeda fungsi:
Oligodendroglia: sel pelindung pd SSP, Sel Schwann pada saraf
perifer
Astrocytes: (terutama pd area abu2)
Membentuk sawar darah otak
Membantu sbg jaringan penyembuhan (scar) jika SSP cedera
Myelin merupakan lapisan seperti lemak yang membungkus sekitar akson dan
neuron lainnya. Myelin diproduksi oleh neuroglia.

Gambar 7.1 Struktur neuron

KONDUKSI SARAF
Dalam sistem konduksi saraf ada istilah potensial istirahat dan potensial aksi.
Potensial istirahat terjadi ketika adanya ketidakseimbangan pengisian partikel ion
antara cairan ekstraseluler dengan intraseluler. Mekanisme yang bertanggung jawab
adalah:
4. Pompa natrium-kalium (Na K) megaktifkan transport natrium (sodium) ke luar
dan kalium (potassium) masuk ke dalam, dengan 3 Na dan 2 K.
5. Membrane sel lebih bersifat permeable untuk ion K daripada ion Na sehingga
ion K+ lebih banyak terkonsentrasi di dalam sel.
6. Membrane sel menjadi impermeable untuk anion besar yang muncul di dalam
neuron, sehingga secara negative mengisi partikel keluar daripada partikel
positif.

83
Sedangkan Potensial aksi terjadi ketika impuls saraf berjalan membawa informasi
dari satu titik tubuh ke bagian lainnya dan ketika progresivitas membrane neuron
oleh perubahan mendadak pada potensial istirahat.
Proses terjadinya potensial aksi adalah sebagai berikut:
1. Suatu stimulus (kimiawi-elektrik-mekanik) cukup untuk mengubah potensial
istirahat membran
2. Permeabilitas membrane untuk ion Na+ meningkat pada titik stimulus ini
3. Ion Na+ secara cepat bergerak melewati membrane, sehingga membrane tsb
terdepolarisasi lokal
4. Ion Na+ berlanjut untuk bergerak ke dalam, sisi dalam membrane menjadi positif
5. Pada kondisi terstimulasi tersebut, permeabilitas Na menurun dan permeabilitas
K+ meningkat.
6. Ion K dengan cepat bergerak keluar dan kembali membuat membrane positif
daripada di dalam (repolarisasi)
7. Pompa Na dan K membawa na keluar dan K kembali ke dalam sel. Siklus ini
berulang dengan sendirinya berjalan di sepnjang membrane neuron.

Transmisi Sinapsis dan Sinaps.


Suatu sinap adalah pertemuan/ jembatan khusus yang mana impuls melewati dari
satu neuron ke neuron lainnya melalui pesan kimiawi yaitu neurotransmitter.
Proses transisi sinap adalah:
1. Potensial aksi mencapai terminal akson
2. Influks ion kalsium (Ca2+) menyebabkan vesikel sinap yang membawa
neurotransmitter melebur dengan membrane pre sinap
3. Neurotransmitter dirilis mellaui eksositosis ke dalam klep sinaps
4. Neurotransmitter berdifusi/bercampur melewati klep tersebut menuju membrane
post sinap dan berikatan pada reseptor spesifik yang terletak disana.
5. Permeabilitas Membrane post sinap diteruskan, menginisiasi impuls saraf pada
neuron berikutnya.
6. Neurotransmitter berpindah dari sinaps.

84
Gambar 7.2 Proses Transisi Sinapsis

NEUROMUSCULAR JUNCTION
Stimulasi dari motor neuron menginisiasi kontraksi otot skeletal. Celah antara
terminal akson pada motor neuron dan membran sel pada serabut otot disebut
neuromuscular junction. Potensial aksi berjalan di sepanjang motor neuron menuju
terminal akson, dimana hal ini menyebabkan suatu influks ion kalsium (Ca 2+). Ion
kalsium menyebabkan vesikel sinap mengeluarkan asetilkolin (AcH) yang berdifusi
menyebrang celah sinapsis dan berkombinasi dengan reseptor spesifik pada
sarkolema. Potensial aksi berpendar melewati sarkolema, menginisiasi proses
pergerakan motor unit dan serabut otot skeletal.

Gambar 7.5 Proses Neuromuscular Junction

TIDUR DAN ISTIRAHAT


Pusat pengaturan tidur dan terjaga adalah pada Formasi Reticuler di sub
Reticular Activating System (RAS) otak, letaknya di medial batang otak. Tidur terjadi
secara natural sebagai siklus alami sehingga tidur alami yang normal adalah manusia

85
tidak berespons terhadap lingkungan. Tidur merupakan bagian dari ritme sirkadian
manusia yaitu siklus normal yang terjadi secara teratur dalam 24 jam. Pola tidur
makhluk hidup dapat direkam oleh gelombang otak dan dipantau melalui gelombang
Elektroensefalogram (EEG).
Siklus tidur manusia dapat dibagi menjadi Non-Rapid Eye Movement
(NREM) dan Rapid Eye Movement. NREM memegang porsi terbesar pada siklus
tidur dewasa malam hari yaitu 75-80 %. NREM dibagi lagi menjadi 3 bagian yaitu
stage N1, N2 dan N3 (Craven, Hirnle, Jensen, 2013).
a. Stage N1, merupakan fase transisi antara ngantuk dan tertidur gelombang alfa
EEG yang menurun.
b. Stage N2, berlanjut hingga 50% periode tidur malam, pada fase ini manusia
cenderung dapat dibangunkan. Pada fase ini juga terdapat gerakan mata
berputar.
c. Stage N3, merupakan tidur yang dalam (deep sleep) ditandai dengan
gelombang delta pada EEG. Pada fase ini beberapa gangguan dalam tidur
sering terjadi seperti tidur berjalan (somnabulisme) dan mengompol
(enuresis).
Tidur REM merupakan jenis tidur dengan karakteristik tidur yang dalam. Pada fase
REM terjadi mimpi, mimpi terlihat sangat jelas, ada emosi, ritme respirasi irregular,
suhu cenderung meningkat, namun pergerakan tidak terjadi pada fase ini. Individu
yang baru mulai tidur akan masuk ke stage N1 NREM lalu ke N2 dalam waktu cepat
lalu ke N3 dan kembali lagi ke N2 selanjutnya masuk ke tahap REM.
Jumlah jam tidur dewasa adalah 7-8 jam per hari sedangkan anak-anak 40% lebih
banyak dan pada bayi akan tidur hanpir masa per hari.

86
DAFTAR RUJUKAN
Anne Trafton., Richard W.Cho, Lauren K.Buhl, Dina Volfson, Adrien Tran, Feng Li,
Yulia Akbergenova, J.Troy. Phosphorylation of Compleixin by PKA
Regulates Activity-Dependent Spontaneous Neurotransmitter Release and
Structural Synaptic Plasicity. Journal Neuron. 2015.10.011. Published
online. DOI:10.1016
McCance, K., Huether, S., Brashers, V., Rote,N. (2014). Pathophysiology. The
Biologic Basis for Disease in Adults and Children. Seventh Edition.
Missouri:Elsevier. ISBN: 978-0-323-08854-1.

Graaff, K. & Rhees, R. 2001. Human Anatomy & Physiology. Based on Schaums
Outline of Theory and Problems of Human Anatomy and Physiology.
McGraw Hill Company. ISBN 0-07-140606-9.

BAB 8
SISTEM ENDOKRIN (HORMONAL)

87
Gambar 8.1 Sistem
Endokrin pada manusia

(sumber:
humananatomypics.com)

SUB BAGIAN
Sistem Endokrin berarti kumpulan kelenjar (glands) dalam tubuh manusia yang
mensekresi hormon langsung masuk ke dalam sistem sirkulasi untuk dibawa menuju
organ-organ target. Kelenjar-kelenjar pada Sistem endokrin ini tersebar dalam
seluruh tubuh. Produk kimia yang dihasilkan oleh kelenjar tersebut disebut Hormon.
Sistem hormonal memiliki 5 fungsi umum (McCance, Huether, Rote, 2014):
1. Diferensiasi reproduksi dan sistem saraf pusat dalam proses perkembangan
fetus.
2. Stimulasi pertumbuhan dan perkembangan selama masa kanak-kanak dan
dewasa.
3. Koordinasi sistem reproduksi pria dan wanita yang memungkinkan terjadi
reproduksi seksual.
4. Mempertahankan lingkungan internal tubuh optimal selama siklus hidup
5. Inisiasi koreksi dan respon adaptif saat terjadinya proses emergensi.
Kelenjar endokrin mayor adalah kelenjar pineal, kelenjar pituitari, pankreas,
ovari, testis, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, hipotalamus, traktus
gastrointestinal dan kelenjar adrenal.
Sistem endokrin berbeda dengan sistem eksokrin, yang mana mensekresi hormon-
hormon keluar tubuh melalui duktus. Contoh sistem eksokrin adalah kelenjar
saliva (air liur), kelenjar keringat, dan kelenjar di dalam gastrointestinal. Sistem

88
endokrin merupakan sistem sinyal informasi seperti sistem saraf namun efek dan
mekanisme berbeda secara klasifikasi. Efek hrmonal pada sistem endokrin
dimulai secara perlahan dan memanjang dalam responnya, berkahir dalam
hitungan jam hingga minggu. Sistem saraf mengirim informasi dengan sangat
cepat. Pusat pengauran hormonal adalah pada Hipotalamus di otak (Graafs&
Rheess, 2001).
Prinsip regulasi hormonal adalah sebagai berikut (McCance, Huethers, Rote,
2014):
1. Hormon memiliki tingkatan spesifik dan irama sekresi. Tiga pola
dasarnya adalah (1) pola sirkadian atau diurnal, (2) pola siklus dan
pulsatil, (3) pola yang bergantung pada level substrat yang bersikulasi
seperti kalium, natrium ataupun hormon itu sendiri.
2. Hormone beroperasi dalam mekanisme feedback baik positif atau
negatif untuk mempertahankan lingkungan internal yang optimal.
3. Hormon berefek hanya pada sel melalui reseptor yang sesuai dan
kemudian bekerja pada sel-sel tersebut untuk memulai fungsi sel
spesifik maupun aktivitas spesifik.
4. Hormon steorid dieksresikan langsung oleh ginjal maupun melalui
metabolisme oleh hati/ liver.

Berikut ini digambarkan alur feedback pada pengaturan kerja hormonal

Sistem Saraf
Input
Pusat
(-)
(+)
HIPOTALAMUS
89
Rilis hormone dan
Short
penghambat rilis hormon
feedback
loop
Long
(-) PITUITARI ANTERIOR (-)
feedback
loop

Hormon tropik

ORGAN TARGET Short


feed
back
loop
Hormon

Efek fisiologis

Endocrine glands in the human head and neck and their hormones
Hypothalamus[edit]

Secreted hormone Abbreviation Produced by Effect

Stimulate thyroid-
stimulating
Parvocellular hormone
Thyrotropin-releasing hormone TRH neurosecretory (TSH) release
neurons from anterior
pituitary (primaril
y)

Inhibit prolactin re
Dopamine
Dopamine leased
DA or PIH neurons of the
(Prolactin-inhibiting hormone) from anterior
arcuate nucleus
pituitary

Growth hormone-releasing hormone GHRH Neuroendocrin Stimulate Growth


e neurons of hormone
the Arcuate (GH) release

90
from anterior
nucleus
pituitary

Somatostatin SS, GHIH, or Neuroendocrin Inhibit Growth


(growth hormone-inhibiting SRIF e cells of hormone
hormone) thePeriventricul (GH) release
ar nucleus from anterior
pituitary
Inhibit thyroid-
stimulating
hormone
(TSH) release
from anterior
pituitary

Stimulate follicle-
stimulating
hormone
(FSH) release
Neuroendocrin
from anterior
e cells of
Gonadotropin-releasing hormone GnRH or LHRH pituitary
thePreoptic
Stimulate luteinizi
area
ng hormone
(LH) release
from anterior
pituitary

Corticotropin-releasing hormone CRH or CRF Parvocellular Stimulate adrenoc


neurosecretory orticotropic
neurons of hormone
the Paraventric (ACTH) release
ular Nucleus from anterior

91
pituitary

Parvocellular Increases water


neurosecretory permeability in the
neurons,Magno distal convoluted
cellular tubule and
Vasopressin ADH or AVP or neurosecretory collecting duct
(antidiuretic hormone) VP neurons of ofnephrons, thus
the Paraventric promoting water
ular reabsorption and
nucleusand Sup increasing blood
raoptic nucleus volume

Pineal body (epiphysis)[edit]

Secreted hormone From cells Effect

Antioxidant
Monitors the circadian rhythm including
Melatonin Pinealocytes
induction of drowsiness and lowering of
thecore body temperature

Pituitary gland (hypophysis)[edit]


The pituitary gland (or hypophysis) is an endocrine gland about the size of a pea and
weighing 0.5 grams (0.018 oz) in humans. It is a protrusion off the bottom of
thehypothalamus at the base of the brain, and rests in a small, bony cavity (sella
turcica) covered by a dural fold (diaphragma sellae). The pituitary is functionally
connected to thehypothalamus by the median eminence via a small tube called the
infundibular stem or pituitary stalk. The pituitary fossa, in which the pituitary gland
sits, is situated in thesphenoid bone in the middle cranial fossa at the base of the
brain. The pituitary gland secretes nine hormones that regulate homeostasis and the
secretion of other hormones.[citation needed]
Anterior pituitary lobe (adenohypophysis)[edit]

Secreted Abbreviat
From cells Effect
hormone ion

Growth
Stimulates growth and cell reproduction
hormone Somatotroph
GH Stimulates Insulin-like growth factor
(somatotropi s
1 release from liver
n)

92
Stimulates thyroxine (T4)
Thyroid-
and triiodothyronine (T3) synthesis and
stimulating
TSH Thyrotrophs release from thyroid gland
hormone
Stimulates iodine absorption by thyroid
(thyrotropin)
gland

Adrenocortic
otropic Stimulates corticosteroid (glucocorticoid and
Corticotroph
hormone ACTH mineralcorticoid) and androgensynthesis and
s
(corticotropin release from adrenocortical cells
)

Beta- Corticotroph
Inhibits perception of pain
endorphin s

In females: Stimulates maturation of ovarian


follicles in ovary
Follicle- In males: Stimulates maturation
Gonadotrop
stimulating FSH of seminiferous tubules
hs
hormone In males: Stimulates spermatogenesis
In males: Stimulates production of androgen-
binding protein from Sertoli cells of thetestes

In females: Stimulates ovulation


In females: Stimulates formation of corpus
Luteinizing Gonadotrop
LH luteum
hormone hs
In males: Stimulates testosterone synthesis
from Leydig cells (interstitial cells)

Stimulates milk synthesis and release


Prolactin PRL Lactotrophs from mammary glands
Mediates sexual gratification

Melanotrope
s in the Pars
Melanocyte-
intermedia o Stimulates melanin synthesis and release
stimulating MSH
f the from skin/hair melanocytes
hormone
Anterior
Pituitary

93
Posterior pituitary lobe (neurohypophysis)[edit]

Stored hormone Abbreviation From cells Effect

In females: uterine
Magnocellular
contraction during
Oxytocin neurosecretory
birthing, lactation (letdown
cells
reflex) when nursing

Increases water permeability in


Vasopressin Parvocellular the distal convoluted tubule and
(antidiuretic ADH or AVP neurosecretory collecting duct ofnephrons, thus
hormone) neurons promoting water reabsorption and
increasing blood volume

Oxytocin and anti-diuretic hormone are not secreted in the posterior lobe, merely
stored.

Thyroid

Secreted hormone Abbreviation From cells Effect

(More potent form of thyroid


hormone)
Stimulates body oxygen and energy
Thyroid consumption, thereby increasing
Triiodothyronine T3
epithelial cell the basal metabolic rate
Stimulates RNA polymerase I and
II, thereby promoting protein
synthesis

(Less active form of thyroid


hormone)
(Acts as
a prohormone to triiodothyronine)
Thyroxine Thyroid Stimulates body oxygen and energy
T4
(tetraiodothyronine) epithelial cells consumption, thereby increasing
the basal metabolic rate
Stimulates RNA polymerase I and
II, thereby promoting protein
synthesis

94
Stimulates osteoblasts and thus
Parafollicular bone construction
Calcitonin
cells Inhibits Ca2+ release from bone,
thereby reducing blood Ca2+

Alimentary system

Abdomen

From
Secreted hormone Abbreviation Effect
cells

Gastrin (Primarily
G cells Secretion of gastric acid by parietal cells
)

P/D1
Ghrelin Stimulate appetite.
cells

Increased food intake and decreased


Neuropeptide Y NPY physical activity. It can be associated
withobesity.

Suppress release
of gastrin, cholecystokinin (CCK), secretin
, motilin, vasoactive intestinal
peptide (VIP), gastric inhibitory
Somatostatin D cells polypeptide (GIP), enteroglucagon

Lowers rate of gastric emptying


Reduces smooth muscle contractions and
blood flow within the intestine.[2]

ECL
Histamine stimulate gastric acid secretion
cells
Endothelin X cells Smooth muscle contraction of stomach[3]

Duodenum (small intestine)

Secreted hormone From cells Effect

95
Secretion
of bicarbonate from liver, pancreas and
Secretin S cells duodenal Brunner's glands

Enhances effects of cholecystokinin, stops


production of gastric juice

Release of digestive enzymes from pancreas


Cholecystokinin I cells Release
of bile from gallbladder, hunger suppressant

Liver

Secreted hormone Abbreviation From cells Effect

insulin-like effects
Insulin-like growth factor (or
IGF Hepatocytes
somatomedin) (Primarily) regulate cell growth and
development

vasoconstriction
Angiotensinogen and angiote release
Hepatocytes
nsin of aldosterone from adrenal
cortex dipsogen.

stimulates megakaryocytes t
Thrombopoietin THPO Hepatocytes
o produce platelets[4]
inhibits
intestinal iron absorption
Hepcidin Hepatocytes
and iron release
by macrophages

Pancreas
Pancreas is a mixocrine gland and it secretes both enzymes and hormones.

Secreted hormone From cells Effect

Insulin (Primarily) Islet cells Intake


of glucose, glycogenesis and glycolysis in liver and muscle from

96
blood.

Intake of lipids and synthesis of triglycerides in adipocytes.


Other anabolic effects

Glycogenolysis and gluconeogenesis in liver.


Glucagon (Also
Islet cells
Primarily) Increases blood glucose level.

Inhibit release of insulin[5]


Somatostatin Islet cells Inhibit release of glucagon[5] Suppress the exocrine secretory
action of pancreas.

Pancreatic Self regulate the pancreas secretion activities and effect the
PP cells
polypeptide hepatic glycogen levels.
Kidney

Secreted hormone From cells Effect


Activates the renin-angiotensin system by
Renin (Primarily) Juxtaglomerular cells
producing angiotensin I of angiotensinogen
Extraglomerular
Erythropoietin (EPO) Stimulate erythrocyte production
mesangial cells
Active form of vitamin D3
Calcitriol (1,25-
Increase absorption
dihydroxyvitamin
of calcium and phosphate from gastrointestinal
D3)
tract and kidneysinhibit release of PTH
Thrombopoietin stimulates megakaryocytes to produce platelets[4]

Adrenal glands[edit]
Adrenal cortex[edit]
Secreted hormone From cells Effect
Stimulates gluconeogenesis
Stimulates fat breakdown in
adipose tissue
Inhibits protein synthesis
zona
Inhibits glucose uptake in muscle
Glucocorticoids (chiefly cortisol) fasciculata and zon
and adipose tissue
a reticularis cells
Inhibits immunological responses
(immunosuppressive)
Inhibits inflammatory responses
(anti-inflammatory)
Mineralocorticoids (chieflyaldosterone Zona Stimulates

97
active sodium reabsorption
in kidneys
Stimulates passive water
reabsorption in kidneys, thus
) glomerulosa cells increasing blood
volume andblood pressure
Stimulates potassium and H+ secr
etion into nephron of kidney and
subsequent excretion
In males: Relatively small effect
Zona
Androgens (including DHEA andtesto compared to androgens from
fasciculata and Zo
sterone) testes
na reticularis cells
In females: masculinizing effects
Adrenal medulla[edit]

Secreted hormone From cells Effect

Fight-or-flight response:

Boost the supply


of oxygen and glucose to
the brain and muscles (by
increasingheart rate and stroke
Adrenaline (epinephrine) Chromaffin volume, vasodilation,
(Primarily) cells increasing catalysis of glycogen
in liver, breakdown
of lipids in fat cells)
Dilate the pupils

Suppress non-emergency
bodily processes
(e.g., digestion)
Fight-or-flight response:

Boost the supply


of oxygen and glucose to
the brain and muscles (by
Chromaffin increasingheart rate and stroke
Noradrenaline (norepinephrine)
cells volume, vasoconstriction and
increased blood pressure,
breakdown of lipids in fat cells)

Increase skeletal
muscle readiness.
Chromaffin Increase heart rate and blood
Dopamine
cells pressure

98
Chromaffin
Enkephalin Regulate pain
cells
Reproductive[edit]

Testes[edit]

Secreted hormone From cells Effect

Anabolic: growth of muscle mass and


strength, increased bone density, growth
Androgens (chiefly testosterone and strength,
Leydig cells
)
Virilizing: maturation of sex organs,
formation of scrotum, deepening of
voice, growth ofbeard and axillary hair.

Estradiol Sertoli cells Prevent apoptosis of germ cells[6]


Inhibin Sertoli cells Inhibit production of FSH

Ovarian follicle and corpus luteum

From
Secreted hormone Effect
cells

Progesterone Granulosa Support pregnancy:[7]


cells, thec
a cells Convert endometrium to secretory stage
Make cervical mucus thick and impenetrable to
sperm.

Inhibit immune response, e.g., towards the human


embryo

99
Decrease uterine smooth muscle contractility[7]

Inhibit lactation

Inhibit onset of labor.

Other:

Raise epidermal growth factor-1 levels


Increase core temperature during ovulation[8]

Reduce spasm and relax smooth


muscle (widen bronchi and regulate mucus)

Anti-inflammatory

Reduce gall-bladder activity[9]


Normalize blood clotting and vascular
tone, zinc and copper levels, cell oxygenlevels, and
use of fat stores for energy

Assist in thyroid function and bone growth


by osteoblasts

Increase resilience in bone, teeth, gums, joint, ten


don, ligament, and skin

Promote healing by regulating collagen

Provide nerve function and healing by


regulating myelin

Prevent endometrial cancer by regulating effects


of estrogen
Theca
Androstenedione Substrate for estrogen
cells
Estrogens (mainly est Granulosa Structural:
radiol) cells
Promote formation of female secondary sex
characteristics
Accelerate height growth

Accelerate metabolism (burn fat)

Reduce muscle mass

Stimulate endometrial growth

Increase uterine growth

Maintain blood vessels and skin

100
Reduce bone resorption, increase bone formation

Protein synthesis:

Increase hepatic production of binding proteins

Coagulation:

Increase circulating level


of factors 2, 7, 9, 10, antithrombin III, plasminogen
Increase platelet adhesiveness

Increase HDL, triglyceride, height growth

Decrease LDL, fat deposition

Fluid balance:

Regulate salt (sodium) and water retention


Increase growth hormone

Increase cortisol, SHBG

Gastrointestinal tract:

Reduce bowel motility


Increase cholesterol in bile

Melanin:

Increase pheomelanin, reduce eumelanin

Cancer:

Support hormone-sensitive breast


cancers[10] (Suppression of production in the body of
estrogen is a treatment for these cancers.)

Lung function:

Promote lung function by supporting alveoli.[11]


Granulosa
Inhibin Inhibit production of FSH from anterior pituitary
cells

101
Placenta (when pregnant)
Secreted hormone Abbreviation From cells Effect
Support pregnancy:[7]
Inhibit immune response,
towards the fetus.
Decrease uterine smooth
muscle contractility[7]
Progesterone (Primaril Inhibit lactation
y) Inhibit onset of labor.
Support fetal production
of adrenal mineralo- and
glucosteroids.
Other effects on mother similar to
ovarian follicle-progesterone
Estrogens (mainly Estr Effects on mother similar to ovarian
iol) (Also Primarily) follicle estrogen
Promote maintenance of corpus
luteum during beginning
Human chorionic Syncytiotrophoblas
HCG of pregnancy
gonadotropin t
Inhibit immune response, towards
the human embryo.
Increase production
of insulin and IGF-1
Human placental Syncytiotrophoblas
HPL Increase insulin
lactogen t
resistance and carbohydrate intolera
nce
Inhibin Fetal Trophoblasts Suppress FSH

BAB 9
SISTEM REPRODUKSI

102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
BAB 10
SISTEM INTEGUMEN
Anatomi dan Fisiologi Kulit

Gambar 1.1 Anatomi Kulit (Brown & Burns, 2002).

Kulit atau sistem integumen merupakan organ terluas di permukaan tubuh.


Kulit terdiri dari beberapa lapisan, yaitu epidermis, dermis, dan lapisan jaringan
subkutaneus.
Unit epidermis adalah lapisan paling atas dari kulit serta tidak mengandung
pembuluh darah dan saraf. Epidermis memiliki lima lapisan mulai dari dasar sampai
ke atas yaitu, stratum basale atau germinativum, stratum spinosum, stratum
granulosum, stratum lucidum, dan stratum corneum. Stratum basale ini adalah asal
mula untuk diperlukan sebagai regenerasi pada lapisan epidermis. Selnya
mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif. Fungsi lapisan ini adalah untuk
melindungi dari masuknya bakteri, toksin, menjaga keseimbangan cairan dengan
menghindari pengeluaran cairan yang berlebihan. Di stratum basale juga terdapat
granula pigmen yg disebut melanosom yang mengandung melanin sebagai pelindung

141
kulit dari sinar matahari. Stratum spinosum adalah lapisan yang mengalami proses
mitosis. Stratum granulosum merupakan lapisan epidermis yg berfungsi membentuk
protein dan ikatan kimia lapisan stratum korneum. Stratum lusidum adalah lapisan
yang terdapat langsung di bawah lapisan korneum. Stratum korneum adalah lapisan
tanduk yang berda paling luar dan selnya tidak berinti. Kelenjar keringat ekrin dan
apokrin, rambut, kelenjar sebasea, dan kuku merupakan aksesori-aksesori epidermis
(Brown & Burns, 2002).
Dermis adalah lapisan jaringan ikat yang terletak di bawah epidermis, dan
merupakan bagian terbesar dari kulit. Elemen seluler utama dermis adalah fibroblas,
sel mast, dan makrofag sehingga kulit berperan pula dalam fungsi imunologis .
Fungsi utama dermis sebagai penyokong untuk epidermis. Lapisan dermis terbagi
menjadi 2 bagian: pars papilare (berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah yang
menyokong dan menutrisi epidermis) & pars retikuler (terdapat serabut-serabut
kolagen, elastin, dan retikulin). Selain itu di dalam lapisan dermis juga terdapat akar
rambut dan kelenjar keringat (ekrin dan apokrin).
Lapisan subkutaneus merupakan lapisan lemak dan jaringan ikat yang
banyak terdapat pembuluh darah dan saraf. Pada lapisan ini penting untuk
pengaturan temperatur pada kulit, karena lapisan ini dibuat dari kelompok jaringan
adiposa yang dipisahkan oleh fibrous septa.
Fungsi kulit antara lain:
1. Fungsi proteksi. Kulit melindungi tubuh dari trauma dan merupakan sistem
imunitas terhadap gangguan kimiawi, bakteri, virus, dan jamur. pH kulit berkisar 5-
6,5.
2. Fungsi absorpsi. Kulit memiliki sifat permeabel-selektif. Artinya kulit-kulit
menyerap bahan-bahan tertentu seperti gas dan zat larut dalam lemak.
3. Fungsi ekskresi. Kulit dapat mengeluarkan keringat dan sebum.
4. Fungsi persepsi. Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan
subkutis yang peka terhadap rangsangan (panas, dingin, nyeri, rabaan, tekanan).
5. Fungsi pengaturan suhu tubuh. Kulit memiliki kemampuan vasokonstriksi pada
suhu dingin sehingga suhu tubuh dapat meninggi (hangat), dan pada suhu panas kulit
vasodilatasi sehingga suhu tubuh menurun serta adanya kemampuan termoregulasi
melalui evaporasi.
6. Fungsi pembentukan pigmen. Sel pembentuk pigmen disebut melanosit. Dengan
bantuan sinar matahari, melanosit akan diubah menjadi melanin. Pembentukan

142
melanin akan meningkat pada kulit yang terpapar sinar matahari, semakin banyak
melanin yg terbentuk, maka warna kulit semakin gelap.
7. Fungsi pembentukan vitamin D. Dihidroksi kolesterol dapat terjadi dengan
pertolongan sinar matahar sehingga mengubah pro vitamin D menjadi vitamin D.

1. Klasifikasi luka bedah

Luka bedah terdiri dari empat macam klasifikasi (Suriadi, 2007), yaitu:

1. Luka bersih. Yaitu luka operasi yang tidak terinfeksi dimana tidak ditemukan
adanya inflamasi dan tidak ada infeksi saluran pernapasan, saluran pencernaan,
dan urogenital. Kondisi luka tertutup dan tidak ada drainase.
2. Luka bersih terkontaminasi. Luka operasi dimana berhubungan dengan saluran
pernapasan, pencernaan, genital, atau bagian yang mengenai saluran kemih yang
di bawah kondisi terkendali dan tanpa pencemaran. Secara khusus, dan termasuk
dalam kategori ini operasi yang melibatkan saluran billiary, apendik, vagina, dan
oropharynx. Biasanya memerlukan antibiotik sebagai profilaksis. Insisi seksio
sesarea merupakan salah satu luka bersih terkontaminasi.
3. Luka terkontaminasi, adalah operasi dengan kerusakan utama dalam teknik steril
atau tercemar dari saluran gastrointestinal, saluran perkemihan atau saluran
billiary. Kemudian dalam luka pembedahan ditemukan peradangan nonpurulen.
4. Luka kotor atau terinfkesi. Luka dengan pus, perforasi visera, luka yang
mengalami traumatik dan sudah lama atau terinfeksi dari sumber lain.
5. Luka non bedah (luka gangren, dekubitus, luka bakar).

2. Konsep Penyembuhan Luka


Suatu penyembuhan luka yang ideal adalah kembali normalnya struktur,
fungsi, dan penampakan anatomis. Batas waktu penyembuhan luka ditentukan oleh
jenis luka dan lingkungan internal maupun eksternal. Penyembuhan luka insisi
berlangsung dengan cepat. Pada akhir minggu pertama, luka tertutup seharusnya
tampak bersih, tepi luka menyatu, kerak seringkali terbentuk sepanjang tepi luka
karena eksudat. Jika terjadi infeksi, luka akan bengkak, kemerahan dan terasa panas.
Jika terjadi dehiscence, tepi luka tidak akan menyatu (Potter & Perry, 1997). Benang

143
jahitan dipertahankan 7 hingga 10 hari, dan penyembuhan luka diharapkan
berkembang dengan baik tanpa ada komplikasi (Suriadi,2007).
Menurut Kozier, et al (2004), terdapat dua tipe penyembuhan luka. Pertama,
penyembuhan dengan intensi primer (primary intention healing), yaitu penyembuhan
melalui penggabungan dua tepi luka yang saling berhadapan dan berdekatan
(Morison, 1995). Kedua, penyembuhan dengan intensi sekunder (secondary
intention healing), yaitu luka yang sulit menyatu , banyak melibatkan jaringan, dan
kecenderungan untuk menjadi infeksi lebih besar. Jenis ini terdapat pada luka
terbuka, misalnya luka dekubitus (Kozier, et al, 2004).

Fase penyembuhan luka


1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi atau peradangan adalah respons vaskuler dan seluler yang
terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Peradangan sebenarnya
adalah gejala yang menguntungkan. Tujuan yang hendak dicapai adalah
menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing, sel-sel mati,
bakteri, serta pembentukan keadaan yang dibutuhkan untuk dimulainya proses
perbaikan dan penyembuhan. Jika reaksi peradangan tidak ada atau ditekan, maka
dalam keadaan ini ada peluang besar timbulnya infeksi hebat, penyebaran cepat, atau
infeksi mematikan, yang disebabkan oleh mikroorganisme yang biasanya tidak
berbahaya (Price & Wilson, 1994). Fase inflamasi normalnya berlangsung 24-72 jam
setelah luka (1-3 hari). Pada awal fase ini kerusakan pembuluh darah akan
menyebabkan keluarnya platelet/ trombosit, yang berfungsi sebagai hemostasis.
Setelah itu akan terjadi vasodilatasi kapiler akibat stimulasi saraf sensoris dan adanya
substansi vasodilator, yaitu histamin, serotonin, dan sitokin. Histamin selain
menyebabkan vasodilatasi juga mengakibatkan peningkatan permeabilitas vena,
sehingga cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah dan masuk ke daerah luka
dan secara klinis terjadi edema jaringan. Eksudasi ini juga mengakibatkan migrasi sel
leukosit (terutama netrofil) ke ekstra vaskuler. Fungsi netrofil adalah melakukan
fagositosis benda asing dan bakteri di daerah luka selama 3 hari dan kemudian akan
digantikan oleh sel makrofag yang berperan lebih besar jika dibanding dengan
netrofil pada proses penyembuhan luka (Gitarja, dkk, 2006). Peran makrofag dalam
penyembuhan luka antara lain sekresi sitokin sebagai faktor pro inflammatory,

144
Sintesis kolagen, Membentuk fibroblas, Pembentukan jaringan granulasi bersama-
sama dengan fibroblas, dan memproduksi growth factors yang berperan pada proses
re-epitelisasi.
Secara klinis fase inflamasi ditandai dengan adanya eritema atau rubor,
hangat pada kulit, pembengkakan (edema), dan rasa sakit.
Menurut Morison (1995) fase inflamasi berlangsung sejak setelah perlukaan
dan berakhir pada hari ke-3 pasca perlukaan. Berakhirnya fase inflamasi merupakan
awal dari munculnya fase proliferasi (Torre & Sholar, 2006).

Gambar 2.4 Fase Inflamasi (Weiss, 2006)

2. Fase Proliperatif
Proses kegiatan seluler yang penting pada
fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkan
luka, ditandai dengan proliferasi sel dan munculnya jaringan granulasi. Jaringan
granulasi adalah jaringan penyambung baru dengan pembuluh darah-pembuluh darah
kecil yang terbentuk pada permukaan luka selama proses penyembuhan (Sainte-
Justine, 2006). Proses ini dimulai pada hari ke-3 dan berakhir pada hari ke-21 setelah
luka.
Ciri-ciri penampilan jaringan granulasi adalah lembab bertekstur lembut dan
berwarna merah terang karena kaya akan pembuluh darah (Angiogenesis) untuk
mengalirkan oksigen dan nutrisi ke daerah luka.

Gambar
2.5 Jaringan
Granulasi (Becker,
2005).
3. Fase Maturasi
Fas e ini
dimulai pada
minggu ke-3
setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase
maturasi adalah menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan
penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan
granulasi, warna kemerahan dari jaringan mulai berkurang dan serat fibrin dari

145
kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari jaringan
parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan. Sintesa
kolagen yang telah dimulai sejak fase proliferasi akan dilanjutkan pada fase maturasi.
Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara
kolagen yang diproduksi dengan kolagen yang dipecahkan. Kolagen yang berlebihan
akan terjadi penebalan jaringan parut atau hypertropic scar, sebaliknya produksi
yang kurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka.
Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan
jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktivitas yang
normal. Meskipun proses penyembuhan luka sama bagi setiap penderita, namun hasil
yang dicapai sangat tergantung dari kondisi biologik masing-masing individu, lokasi
serta luasnya luka.

Gambar 2.6 Fase Maturasi (Pennhealth.com, 2007)

146
Gambar 2.7 Fase-fase Penyembuhan Luka (Beanes, S.R, et all, 2003)
Infeksi
Kontaminasi pada luka dapat menimbulkan infeksi. Infeksi adalah invasi dan
multifikasi mikroorganisme dalam jaringan luka yang menghasilkan efek
patofisiologi atau cedera dalam jaringan.
Infeksi ditandai dengan perubahan pada warna luka, nyeri, ataupun adanya
drainase (eksudat/pus). Pasien yang mengalami imunosupresi cenderung akan
mengalami infeksi. Infeksi pada luka operasi dapat muncul pada hari ke-2 hingga
hari ke-11 pasca operasi (Kozier, et al, 2004).

Tabel 2.1 Karakteristik Eksudat Luka (Kozier, et al, 2004; Suriadi, 2007;
Uwo,2007)
Tipe eksudat Warna Konsistensi Keterkaitan
Serous Bening jelas Cair Normal pada masa
radang/inflamasi

Sanguin Merah terang Cair Indikasi adanya kerusakan


pembuluh darah sehingga
sel-sel darah merah keluar
dari plasma.

147
Purulent Kuning, coklat Kental Suatu tanda luka telah
atau hijau, mengalami infeksi , dapat
buram disertai abses.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka


Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka, yaitu (Suriadi, 2007):
1. Usia
2. Kurangnya masukan oksigen dan perfusi

3. Perokok
4. Malnutrisi
5. Mikroba
6. Pengobatan (obat jenis sedative, tranquilizer, steroid dan obat-obat kemoterapi).
7. Penyakit
8. Stres Psikofisiologi

3. Pemeriksaan Diagnostik Kulit


Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah;
1. Biopsi Kulit
Biopsi kulit adalah pemeriksaan dengan cara mengambil contoh jaringan kulit
yang terdapat lesi. Biopsi ini digunakan untuk menentukan apakah ada keganasan
atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan jamur. Jika biospi lebih dalam maka
digunakan anastesi lokal.
2. Uji kultur dan sensitivitas
Uji ini untuk mengetahui adanya virus, jamur, atau bakteri pada kulit yangdiduga
mengalami kelainan. Selain itu, uji ini digunakan untuk mengetahui apakah
mikroorganisme itu resisten terhadap obat-obatan tertentu sehingga dapat
menentukan terapi yang lebih tepat.
Cara pengambilan bahan untuk uji kultur adalah dengan mengambil eksudat yang
terdapat pada permukaan lesi dgn teknik steril.
3. Pemeriksaan dengan pencahayaan khusus
Artinya, dalam pemeriksaan kulit kita perlu mempersiapkan lingkungan
pemeriksaan dengan pencahayaan khusus sesuai dengan kasus yang dihadapi.
Hindari ruang pemeriksaan dgn cahaya yang berwarna warni. Pada kasus tertentu,
pencahayaan dgn menggunakan sinar matahari (UV) justru sangat membantu
dalam menentukan lesi kulit.
4. Uji tempel (Patch Test)

148
Hal ini dilakukan pada klien yang diduga menderita alergi untuk mengetahui
apakah lesi tsb ada kaitannya dengan faktor imunologis, juga untuk
mengidentifikasi respons alerginya. Uji inimenggunakan bahan kimia yang
ditemplekan pada kulit. Selanjutnya dilihat reaksi lokal yang ditimbulkan. Apabila
ada kelainan atau ada perubahan pada kulit merah (eritema) dan edema, maka
hasil uji ini positif.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

1. ANAMNESIS
Biodata,
Keluhan saat ini, misal gatal/nyeri (metode PQRST)

149
Riwayat kesehatan (riwayat alergi, kontak dgn iritan tertentu, riwayat
penggunaan obat, paparan matahari, riwayat penyakit kulit di
lingkungan sekitar, riwayat pola nutrisi)
Riwayat penyakit gangguan kulit pada keluarga
Riwayat pekerjaan atau aktivitas sehari hari
Riwayat psikososial

2. PEMERIKSAAN FISIK KULIT


Dengan Teknik Inspeksi & Palpasi
Pencahayaan harus memadai
a. Perubahan Menyeluruh Kulit
Turgor (elastisitas), Tekstur, Warna Kulit, Suhu.
- Turgor: kering, turgor menurun
- Tekstur kulit: kasar, kering, halus, kerak
- Tekstur kuku: transparan/bening, halus, cekung, dasar kuku Pink.
- Tekstur rambut : pertumbuhan rambut (Ada Alopesia atau tidak), pola
distribusi, kulit kepala, kasar, halus
- Warna Kulit: eritema, ikterus/jaundice, pucat, Albino, Sianosis, Nekrosis.

b. Perubahan Setempat
Pada area yang terdapat Lesi.
- Perhatikan/ Fokus pada area Lesi.
- Tentukan Jenis Lesi: Lesi Primer & Lesi Sekunder
- Lesi Primer:
Makula, Papula, Plak, Nodul, Vesikula, Bulla, Pustula, Urtika, Tumor.
- Lesi Sekunder:
Skuama, Krusta, Fisura, Erosio, Ekskoriasio, Ulkus,Parut.
- Pada Kulit yang Luka (Luka bedah), kaji:
Warna kulit, edema, Nyeri, Bau, Eksudat, Warna Eksudat, Jaringan
Granulasi (merah terang)
Bentuk-bentuk Lesi Primer
Gambaran Keterangan
Makula Kelainan kulit yg sama tinggi dengan permukaan kulit, warna
berubah dan berbatas jelas. Misal: Petekia

Papula Papula adalah kelainan kulit yg lebih tinggi dari permukaan


kulit, padat, berbatas jelas, ukuran kurang dari 1 cm. Contoh:
Dermatitis, kutil.

150
Plak Plak adalah kelainan kulit yg melingkar, menonjol, lebih dari
1cm. Fugoides mikosis.

Nodula Kelainan kulit yg lebih tinggi dari permukaan kulit, padat,


jelas, ukuran lebih dari 1 cm.

Vesikula Vesikula adalah gelembung berisi cairan, berukuran kurang


dari 1cm. Misal: cacar air.

Bulla Bula sama dengan vesikula, tapi ukurannya lebih dari 1 cm.
Contoh: Bulla pada luka bakar.

Pustula Pustula sam dengan vesikula, namun berisi nanah.

Urtika Kelainan kulit yg lebih tinggi dari permukaan kulit, edema,


warna pink, bentukbermacam-macam. Misal: gigitan serangga,
alergi.

Tumor Kelainan kulit yg menonjol, ukurannya lebih besar dari 0,5 cm.

Bentuk-bentuk Lesi Sekunder


Gambaran Keterangan
Skuama Skuama adalah jaringan mati dari lapisan tanduk yg terlepas,
menyerupai sisik. Misal: ketombe, psoriasis.

Krusta Kumpulan eksudat atau sekret di atas kulit. Contoh: luka


terinfeksi.

Fisura Fisura adalah epidermis yg retak, hingga dermis terlihat, nyeri.

Adalah kulit yg epidermis bagian atasnya terkelupas, contoh


Erosio abrasi.

Kulit yg epidermisnya terkelupas, lebih dalam dari erosio.


Ekskoriasio
Ulkus adalah kulit (epidermis dan dermis) terlepas karena
Ulkus destruksi penyakit. Pelepasan ini dapat sampai ke jaringan
subkitan atau lebih dalam.

Jaringan ikat yg kemudian terbentuk menggantikan jaringan


Parut dermis atau jaringan lebih dalam yg telah hilang. Contoh:
keloid

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan integritas kulit b.d kerusakan jaringan; infeksi.

151
2. Gangguan rasa nyaman: nyeri/ gatal b.d proses peradangan, proses alergi.
3. Gangguan citra tubuh b.d perubahan anatomi kulit atau bentuk tubuh.
4. Gangguan harga diri b.d penyakit yang tidak teratasi.
5. Kecemasan b.d penyakit kronis; perubahan kulit; atau potensial kegasanan.
6. Risiko infeksi b.d penurunan pertahanan kulit.
7. Defisit pengetahuan b.d faktor penyebab timbulnya lesi, cara pengobatan, dan
perawatan diri.
8. Gangguan pola tidur b.d rasa gatal; nyeri pada kulit.

152