Anda di halaman 1dari 13

Jakarta Tanjung Kodok

Jakarta menitikkan air mata di tepi laut batu bergunduk


lalu kau jilat dengan penuh selera di sisi jalan berkelok
menjadi desa telah lama Tanjung Kodok
terodak diujung pojok tersodok
Jakarta meneteskan air liur kini di godok
lalu kau tampung dalam ember bupati Masfuk
menjadi lumpur semilir angin pun meliuk

Jakarta berlari secepat jet pewaris kan menikmati


lalu kau kejar dengan kuda jerih letih bupati ini
kau pun jatuh terpelanting
maka jangan khianati
Jakarta rimba raya juga pesan ulama daerah ini
lalu kau telusuri pelanginya
kau pun tersesat hilang seketika
Sendang, Mei 2004
Jakarta betapa mempesona
awas jaga taqwa!

Mei 2004

33 34
Goa Maharani Hitam, Putih, Abu-abu

Maharani besi berani Hitam


terbungkus hari-hari sepi pendiam,selalu bungkam
kini ditata rapi karena tak paham
penduduk daerah ini peduli jadi sarang konglomerat hitam
amalan syariat setiap hari menteri penjual aset alam
jangan ditinggal pergi demi kemenangan segolongan
polisi yang terbeli super power setan
Maharani bukit berbatu jaksa bermasalah jadi piaraan
Di tepi laut biru dibantu ulama-ulama bayaran
Berabad-abad lalu membisu
Ikan-ikan laut di buru Putih
Kini ada buruan baru dari segala noda adalah bersih
Jangan beralih ke sabu-sabu sering kalah dan tersisih
bahkan tertindih
Maharani gua sederhana berjalan tertatih-tatih
di tepi desa merana jarang terpilih
kini ditata paripurna meski dengan segala jerih
hingga devisa tiba karena delapan puluh persen pemilih
bersuka cita adalah hitam dan abu-abu
jangan lupa fatwa ulama
Abu-abu
peragu
Sendang, Mei 2004 tak jelas; benar, salah atau hanya isu
inilah pemenang pemilu
meski hanya bertopang dagu
tak dikehendaki segala yang hitam
tapi sudah lumayan

35 36
daripada dipimpin si putih
yang kerjanya bersih-bersih Prospek pak Amien
penampilan menang 37
tak usah selidik latar belakang
atau andil dalam berjuang
yang terpenting Tak kubayangkan Pak Amien
jangan hitam atau putih priyayi pensiunan
inilah, strategi jitu pemenang nikmati gaji bulanan
bersiul diatas kursi goyang
menimang anak cucu sambil pelihara burung
Sendang, 28 September 2004
Pak Amien adalah seorang mukmin muslim muhsin
tak kan kenyang beramal kebajikan
hingga sorga taman persemayaman
tak kan lekang karena hujan pengorbanan
tak kan karena panas perjuangan

Bagai Pak Natsir sang pejuang tua


pimpin umat setia sepanjang usia
sembari merajut benang-benang Islan dunia
menapakkan kaki-kaki jasa sampai desa-desa

inilah hakekat wali Allah yang mulia

3 Oktober 2004
Jawaban kakek Ubanan
38
Kuangkat topi 39
Seorang bocah lugu pengagum Pak Amien
seharian menangis sesenggukan
tak mau makan dan enggan dolanan Kuangkat topi dan baretku
bertanya kepada kakek ubanan bertabur uban: bukan karena kemenanganmu dalam pemilu
kek, mengapa Pak Amien tak jadi presiden? tapi karena ukiran prestasimu

Kakek menjawab tersedu sedan: Kuangkat topi dan baretku


cucuku, ini artinya nyawa Pak Amien diselamatkan bukan karena kursi yang kau duduki
tuhan tapi karena jalan kejujuran yang kau lewati
ajalnya ditangguhkan, mungkin masih ada sisa persoalan
jika jadi presiden, barangkali tak sampai tahunan Kuacungkan jempol untukmu
ia kan di lopakan atau di munirkan bukan karena gelar yang kau sandang
tapi karena heroisme yang kau canang
cucuku, betapa milyaran uang hitam dan
jutaan tangan hitam bergentayangan respekku padamu tak terbendung lagi
menyerangai ke hampir seluruh penjuru kehidupan karena buruan kau pegang mic muadzin reformasi
menyelinap dalam goyang-goyang pistol dan meski kau urung jadi imam negeri
serbuk racun bercampur dalam makanan dan minuman

si bocah pun berdiam dari sedu sedan Desember 2004

10 Oktober 2004
uang rakyat ditilap untuk memenangkan segolongan
kecurangan-kecurangan pemilu tak terselesaikan
hingga tak becus memilih pemimpin nan sidiq, amanah
dan fathonah
Khutbah Jumat Akhir Duaribu Empat koalisi-koalisi tak berdasar keselamatan seluruh bangsa
40
tapi berdasar bancaan uang dan jabatan 41
krisis mencabik, angin hitam menghantam
segala puja dan transendensi sifat negeri meluncur ke jurang hutang, jutaan kuli tanpa
adalah bagi Allah sang penabur rahmat kerjaan
sang penghukum laknat yang dahsyat harga pendidikan dan kesehatan yang menggapai langit
lautan salam dan segara selawat telah kulihat laknat yang dahsyat
tercurah atas nabi dan rasul penutup Rasulullah kecelakaan darat, kecelakaan laut, kecelakaan pesawat
Muhammad setiap saat
banjir bandang tak teramal melanda banyak tempat
amma badu, wahai ummat terakhir tsunami Aceh yang bak kiamat
taqwalah, tawakallah, merindinglah seraya berderas
taubat waidza aradna an nuhlika qoryatan amarna mutrafiha
istighfarlah agar selamatlah dunia akhirat fafasaqu fiha fahaqqa alaihal qoulu fadammarnaha
fahamilah ayat-ayat, renungilah sebab akibat tadmira
betapa di akhir jumat dua ribu empat jika ingin kami hancurkan sebuah negeri, maka biarlah
jutaan kalbu luluh lantak tersayat-sayat orang-orang bejat memimpin, hingga kami lumatkan
terburai usus, darah bersimbah, daging lumat negeri itu selumat-lumatnya.

telah kulihat awan tebal menggelantung kulihat arsy bergetar dan magma bumi bergolak
diatas atap Indonesia yang payah meronta melihat bangsa Indonesia yang salah didik
sebentar lagi kan tumpah jadi bah, dan sebagian telah jutaan umat sesat, bangsa yang fanatik
menghanyutkan memporakporandakan bangsa yang isme, madzhab dan idiologi politik
salah menggemari pedukunan dan klenik
karena aset-aset negara dijual sudah menyanjung ulama karbitan, setengah ulama bersorban
koruptor-koruptor dibiarkan berkeliaran riyak
magma bumi telah dan sedang mengoyak-koyak
ya Tuhan yang Maha bijak
usap derai air mata kami

Jakarta, 31 Desember 2004


42MOHON DIBANGUN MASJID Kugamit Bintang
43

Ya Tuhan Bintang kemilau di langit ungu itu


Aku ingin segera dibangun mengapa tercenung membisu
Masjid berbeton masjid idaman tersaput mendungkah
Berbahan ikhlas hati para dermawan atau jutaan mata kita yang rabun
Untuk muara segala debar dada maka kugamit ia seraya tertahan
Telaga segala air mata lalu secara berlahan
Rabbi radliya kusematkan didada bapak reformasi yang tersedan

Sendang, 22 April 2005 Agustus 2005


mengakak

Gelar Doktor telah disandang hingga diraihlah jabatan


dan kedudukan
Ada tokoh bergelar Doktor Politik tapi bodoh berpolitik
Ada doktor menteri dan ketua lembaga nasional tapi
dipenjara karena korupsi
Gelar Doktor Ada doktor ekonomi yang seharusnya lihai ciptakan
44
lapangan kerja
45
Tapi nganggur kluyar-kluyur dan mengemis pekerjaan
Seorang bergelar Doktor katanya
Tapi berpidato dan berbicara tak ilmiyah, tak sistematis Gelar doktor adalah angin berhembus dari barat
Tanpa validitas data literer maupun lapangan dan tak Banyak doktor perguruan islam menelan filsafat barat
logis Lalu mengutak-atik aqidah, menjadi murtad dan tertelan
Kenapa tak malu kepada ayam-ayam yang berlalu arus barat
Tingkah lakunya tak layak diteladani ummat
Gelar Doktor itu produk perguruan tinggi
Sarang ilmu pengetahuan yang susah payah dirajut dan Jika aku adalah kyai atau bupati berprestasi
didaki Ya, Allah berilah aku kekuatan menolak gelar doktor itu
Kenapa telurnya menetas ke petinju, artis, pengusaha Cukuplah gelar kyai, ulama atau bupati kukibarkan oleh
dan kyai tanpa prestasi ilmiyah prestasiku
Kenapa tak malu pada burung elang yang membangun Bukan oleh gelar doktor yang hakekatnya tak
sarang digunung kumengerti

Gelar Doktor itu disematkan didada seseorang yang luar Para pemburu gelar doktor
biasa Kenapa kedudukan dan jabatan yang kau cari
Prestasi ilmiyah dan jasanya bagi ummat, nusa dan Bukan jasa dan prestasi
bangsa Ingat.jasa dan prestasi
Kenapa dijual dipasaran kepada orang biasa Burulah jasa dan prestasi
Kenapa tak malu kepada tokek didinding yang tertawa Hati-hati..
Bukan jabatan dan korupsi lalu gagal jadi imam Negara
Bukan kedudukan dan manipulasi entah berapa abad lagi
Muhammadiyah harus menanti
Momentum itu telah lepas
20 Agustus 2005 Kukira ini elegi anak Muhammadiyah
Tragedi sejarah

12 September 2005
46Elegi Anak Muhammadiyah Ingin menyimak
47

Kukira yang benar adalah gerakan Muhammadiyah Sejenak saja


karena menjalani kebenaran yang sah aku ingin menyimak secara seksama
tak mau lakukan bidah derit penamu
takhayyul khurofat dibuang jauh detak jantung arsy Mu
diganti dengan oleh pikir ilmiyah mengapa bencana tak usai
krisis tak selesai
kukira pak Amien telah menyelami itu samudera negeri semakin sengsara
sejak kanak, lingkungan keluarga padahal kita telah berdemokrasi
remaja lalu dewasa jikalah benar
digarami itu ombak gelora karena kualat
disinari matahari nan cerah tak mampu hargai prestasi
degup jantungnya dibakar tajdid dan ishlah atau menari-nari
kukira hanya orang taklid buta yang katakana diatas darah dan keringat
Muhammadiyah salah bapak reformasi
atau yang khawatir kehilangan ummat dan sebutir jatah maka deringkanlah derit pena Mu

Hampir satu abad usia Muhammadiyah


baru kali ini putranya pelopori reformasi 12 September 2005
rimba raya politik bangsa digaris terdepan
Doa Seorang Pengusaha berderma
48 49

Wahai penggenggam jibril pembisik wahyu Coba tunjukkan padaku


Mikail penabur hujan di partai apa di negeri mana
Isrofil peniup sangkakala ada seorang pengusaha tulus setia
Pencipta langit bumi mengusung sekarung uang
Yang Maha tahu puluhan miliyar, tanpa mengincar sebuah peluang
Yang gaib dan kasat mata hanya pesan sang ibu:
Engkaulah yang menghakimi nak, dukunglah Pak Amien
Segala perselisihan diantara kami karena ia pemimpin yang benar

13 September 2005 Desember 2005


Hingga Kini Negeri yang Diridloi
50 51

Hingga kini Negeri yang diridloi


setahun lebih pemerintahan demokrasi adalah bangunan megah diatas taman asri
malaikat penabur rejeki beribu masjid tegak berseri dan ramai
masih enggan menghampiri
beranda negeri ini Soko guru pertama kekar permai berupa pemimpin satria
yang konon loh jinawi pinandita nan adil bijaksana
barangkali. barangkali.
masih bergelayutan berhala dipuja-puji Soko guru kedua berakar serabut berupa saudagar-
saudagar ulet jujur dan tak memalsu
April 2006 Soko guru ketiga berakar tunggang berupa petani-petani
yang tak lelah mengolah sawah ladang

Soko guru keempat harum semerbak berupa


cendekiawan, ilmuwan dan ulama yang mengembang-
manfaatkan ilmu pengetahuan

Soko guru kelima sederhana bertuah berupa doa-doa


dari pekerja yang sabar dan khusyu beribadah.
April 2006

52
Tujuh Jam Menjelang Cak Nur Wafat

Kukira malaikatlah yang membisiki nurani Cak Nur


Tujuh jam sebelum Izrail menjemputnya dengan senyum
Ketika ia katakan pada sang isteri
Bersiaplah karena segera kan tiba
Seorang tamu pilihan, sang muhtadin
Siapa itu sang muhtadin, tanya sang isteri
Ia adalah kyai gontor, jelas Cak Nur
Kyai gontor siapa Cak?
Pak Zarkasyi, jelas Cak Nur lagi
Pak Zarkasyi begitu dalam
Menorehkan kesan keshalehan
Dalam kalbu seorang santri cendekiawan brilian
Cak Nur sang maestro kecendikiaan Islam Indonesia
Menghembuskan nafas terakhir jam dua siang hari,
Hari senin dua sembilan agustus dua ribu lima

Kukira itulah kesimpulan hidup dan pertaubatan Cak


Nur
Jika bersalah dalam idea sekulerisasi, inklusifisme, dan
pluralisme
Semoga diampuni Sang Maha Pencipta
Kukira itu ketulusan Cak Nur, dipapah sang guru yang
saleh

Semoga husnul khotimah

Sendang, 31 Agustus 2005

47
Gelar Doktor Bagi Gontor Proposal Masjid

Gelar doktor bagi gontor Proposal-proposal masjid itu sebenarnyalah telah aku
Adalah petir barat yang menyambar taburkan ke langit
Tak mampu hingarkan Pak Zar dan sepertinya terbentur pada kawah pertempuran yang
Yang tengah berlayar istirah dalam taman barzah sengit
Sebuah taman yang berpohon takbir dan mujahadah dan kudengar pintu-pintu membuka dan menutup secara
berderit
dan beberapa kali aku terlihat mengais-ngais trotoar dan
Sendang, 1 September 2005 parit
dan barangkali pula beberapa orang melihatku mondar-
mandir dibukit pualam
tapi aku tak merasa, wallahu alam

6 Mei 2006

48 49 50