Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH BIOLOGI

TENTANG LIMBAH DETERJEN

OLEH

ANNISA SARAH

XI.2 FARMASI

SMK FARMASI IKASARI PEKANBARU

TP. 2014/2015
A. Pengertian Detergen

Detergen adalah pembersih sintetis campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu
pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan sabun, detergen
mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh
kesadahan air. Kebersihan merupakan salah satu faktor penting bagi kesehatan masyarakat. Untuk
menjaga kebersihan badan, pakaian, tempat tinggal serta tempat umum dibutuhkan produk pembersih
atau sabun cuci yang dapat diandalkan. Ibu rumah tangga, rumah sakit, sarana umum lain hingga HOTEL
berbintang lima pasti menjadikan produk yang satu ini sebagai bagian kehidupan sehari-hari untuk
mencuci pakaian maupun peralatan rumah tangga.

Gambar 1. Beberapa Produk Deterjen

Pada awalnya deterjen dikenal sebagai pembersih pakaian, namun kini meluas dan ditambahkan dalam
berbagai bentuk produk seperti personal cleaning product (sampo, sabun cuci tangan), laundry sebagai
pencuci pakaian merupakan produk deterjen yang paling populer di masyarakat, dishwashing product
sebagai pencuci alat rumah tangga baik untuk penggunaan manual maupun mesin pencuci piring,
household cleaner sebagai pembersih rumah seperti pembersih lantai, pembersih bahan-bahan
porselen, plastik, metal, gelas (Arifin, 2008).

Detergen mengandung zat aktif permukaan yang serupa dengan sabun, misalnya natrium
benzensulfonat (Na-ABS). Garam kalsium atau magnesium yang larut dalam air sadah jika bereaksi
dengan Na-ABS tetap larut dalam air dan tidak mengendap.

Molekul sabun terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang bersifat hidrofilik dan yang bersifat hidrofobik.
Bagian hidrofilik adalah bagian yang menyukai air atau bersifat polar. Adapun bagian hidrofobik adalah
bagian yang tidak suka air atau bersifat nonpolar. Kotoran yang bersifat polar biasanya larut dalam air,
sehingga kotoran jenis ini tidak perlu dibersihkan dengan menggunakan sabun. Kotoran yang bersifat
nonpolar, seperti minyak atau lemak tidak akan hilang jika hanya dibersihkan menggunakan air. Oleh
karena itu, diperlukan detergen sebagai pembersihnya. Ujung hidrofob detergen yang bersifat nonpolar
mudah larut dalam minyak atau lemak dari bahan cucian. Ketika kamu menggosok atau memeras
pakaian membuat minyak atau lemak menjadi butiran-butiran lepas yang dikelilingi oleh lapisan molekul
detergen. Gugus polarnya berada di luar lapisan sehingga butiran itu larut di air.

B. Bahan-Bahan Detergen

Pada umumnya, bahan-bahan yang terkandung dalam detergen adalah sebagai berikut:

1. Surfaktan

Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu
hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak). Surfaktan ialah molekul organik dengan bagian lifofilik dan
bagian polar, yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran
yang menempel pada permukaan bahan. Surfaktan membentuk bagian penting dari semua detergen
komersial.

2. Builder

Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-
aktifkan mineral penyebab kesadahan air. Bahan ini ditambahkan untuk menyingkirkan ion kalsium dan
magnesium (kesadahan) dari air pencuci. Pembangun dapat melakukan hal ini lewat pengkelatan
(pembentukan kompleks) atau lewat pertukaran ion-ion ini dengan natrium. Pembangun juga
meningkatkan pH untuk membantu emulsifikasi minyak dan bufer terhadap perubahan pH. Pembangun
yang paling lazim ialah natrium tripolifosfat (5Na+ P3O105-), tetapi karena limbah fosfat dapat
mencemari lingkungan, jumlah yang digunakan dibatasi oleh peraturan; baru-baru ini, natrium sitrat,
natrium karbonat, dan natrium silikat mulai menggantikan natrium tripolifosfat sebagai pembangun.

3. Zeolit

Zeolit (natrium aluminosilikat) digunakan sebagai penukar ion, terutama untuk ion kalsium.

4. Filler

Filler (pengisi) adalah bahan tambahan Detergen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan
daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh Sodium sulfat.

5. Bahan antiredeposisi (antiedeposition agent)

Bahan antiredeposisi ialah senyawa yang ditambahkan ke detergen pakaian untuk mencegah
pengendapan kembali kotoran pada pakaian. Contoh yang paling lazim ialah selulosa eter atau ester.
6. Aditif

Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi,
pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci Detergen. Additives
ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh : Enzim, Boraks, Sodium klorida,
Carboxy Methyl Cellulose (CMC).

C. Jenis-Jenis Detergen

Kita tentu sudah akrab dengan detergen, selama ini kita mengenal detergen sebagai bubuk pembersih
pakaian. Sebenarnya Detergen adalah senyawa organik, yang memiliki dua kutub dan bersifat non-polar
karakteristik. Ada tiga jenis Detergen yaitu anionic, kationik, dan non-ionik. Anionic dan permanen
kationik memiliki muatan negatif dan positif yang melekat pada non-polar (hidrofobik) CC rantai.
Detergen non-ionik tidak mempunyai muatan ion tetap, hal ini terjadi karena mereka memiliki jumlah
atom yang lemah elektropositif dan elektronegatif yang disebabkan oleh kekuatan menarik elektron
atom oksigen.

Ada dua jenis karakteristik detergen yang berbeda yaitu fosfat Detergen dan surfaktan Detergen. Pada
umumnya Detergen yang mengandung fosfat akan terasa panas ditangan, sedangkan surfaktan adalah
jenis Detergen yang sangat beracun. Perbedaan kedua jenis detergen itu adalah Detergen surfaktan
lebih berbusa dan bersifat emulsifying Detergen. Disisi lain fosfat detergen adalah Detergen yang
membantu menghentikan kotoran dalam air. Zat yang terkandung didalam detergen juga digunakan
dalam formulasi dalam pestisida. Degradasi alkylphenol polyethoxylates (non-ion) dapat menyebabkan
pembentukan alkylphenols (terutama nonylphenols) yang bertindak sebagai endokrin pengganggu jika
limbah detergen bercampur dengan air limbah lain di saluran air.

Berdasarkan bentuk fisiknya, Detergen dibedakan atas 3 yatu sebagai berikut:

1. Detergen Cair, secara umum Detergen cair hampir sama dengan Detergen bubuk. Yang
membedakan cuma bentuk fisik. Di indonesia setahu saya Detergen cair ini belum dikomersilkan,
biasanya digunakan untuk laundry modern menggunakan mesin cuci yang kapasitasnya besar dengan
teknologi canggih.

2. Detergen krim, bentuk Detergen krim dengan sabun colek hampir sama tetapi kandungan formula
bahan baku keduanya berbeda.

3. Detergen bubuk, jenis Detergen bubuk ini yang beredar dimasyarakat atau dipakai sewaktu
mencuci pakaian. Berdasarkan keadaan butirannya, Detergen bubuk dapat dibedakan menjadi dua yaitu
Detergen bubuk berongga dan Detergen bubuk padat. Perbedaan bentuk butiran kedua kelompok
tersebut disebabkan oleh perbedaan proses pembuatannya.

Menurut kandungan gugus aktifnya detergen diklasifikasikan sebagai deterjen jenis keras dan jenis
lunak. Deterjen jenis keras sukar dirusak oleh mikroorganisme meskipun bahan deterjen tersebut
dibuang akibatnya zat tersebut masih aktif. Jenis inilah yang menyebabkan pencemaran air. Salah satu
contohnya adalah Alkil Benzena Sulfonat (ABS). Sedangkan detergen jenis lunak, bahan penurun
tegangan permukaannya mudah dirusak oleh mikroorganisme, sehingga tidak aktif lagi setelah dipakai,
misalnya Lauril Sulfat atau Lauril Alkil Sulfonat. (LAS)

D. Bahaya Detergen Terhadap Kesehatan Manusia dan Kesehatan Lingkungan

Kemampuan deterjen untuk menghilangkan berbagai kotoran yang menempel pada kain atau objek lain,
mengurangi keberadaan kuman dan bakteri yang menyebabkan infeksi dan meningkatkan umur
pemakaian kain, karpet, alat-alat rumah tangga dan peralatan rumah lainnya, sudah tidak diragukan lagi.
Oleh karena banyaknya manfaat penggunaan deterjen sehingga menjadi bagian penting yang tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern.

Tanpa mengurangi makna manfaat deterjen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, harus diakui
bahwa bahan kimia yang digunakan pada deterjen dapat menimbulkan dampak negatif baik terhadap
kesehatan maupun lingkungan. Dua bahan terpenting dari pembentuk deterjen yakni surfaktan dan
builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap manusia dan
lingkungannya.

Gambar 2. Pencemaran Deterjen

Umumnya deterjen yang digunakan sebagai pencuci pakaian/laundry merupakan deterjen anionik
karena memiliki daya bersih yang tinggi. Pada deterjen anionik sering ditambahkan zat aditif lain
(builder) seperti golongan ammonium kuartener (alkyldimetihylbenzyl-ammonium cloride,
diethanolamine/ DEA), chlorinated trisodium phospate (chlorinated TSP) dan beberapa jenis surfaktan
seperti sodium lauryl sulfate (SLS), sodium laureth sulfate (SLES) atau linear alkyl benzene sulfonate
(LAS). Golongan ammonium kuartener ini dapat membentuk senyawa nitrosamin. Senyawa nitrosamin
diketahui bersifat karsinogenik, dapat menyebabkan kanker.

Senyawa sodium lauryl sulfate (SLS) diketahui menyebabkan iritasi pada kulit, memperlambat proses
penyembuhan dan penyebab katarak pada mata orang dewasa.
Pembuangan limbah ke sungai/sumber-sumber air tanpa treatment sebelumnya, mengandung tingkat
polutan organik yang tinggi serta mempengaruhi kesesuaian air sungai untuk digunakan manusia dan
merangsang pertumbuhan alga maupun tanaman air lainnya. Selain itu deterjen dalam badan air dapat
merusak insang dan organ pernafasan ikan yang mengakibatkan toleransi ikan terhadap badan air yang
kandungan oksigennya rendah menjadi menurun. Ikan membutuhkan air yang mengandung oksigen
paling sedikit 5 mg/ liter atau 5 ppm (part per million). Apabila kadar oksigen kurang dari 5 ppm, ikan
akan mati, tetapi bakteri yang kebutuhan oksigen terlarutnya lebih rendah dari 5 ppm akan
berkembang. Apabila sungai menjadi tempat pembuangan limbah yang mengandung bahan organik,
sebagian besar oksigen terlarut digunakan bakteri aerob untuk mengoksidasi karbon dan nitrogen dalam
bahan organik menjadi karbondioksida dan air. Sehingga kadar oksigen terlarut akan berkurang dengan
cepat dan akibatnya hewan-hewan seperti ikan, udang dan kerang akan mati (Widiyani, 2010).

Keberadaan busa-busa di permukaan air juga menjadi salah satu penyebab kontak udara dan air
terbatas sehingga menurunkan oksigen terlarut. Dengan demikian akan menyebabkan organisme air
kekurangan oksigen dan dapat menyebabkan kematian.

Selain itu pencemaran akibat deterjen mengakibatkan timbulnya bau busuk. Bau busuk ini berasal dari
gas NH3 dan H2S yang merupakan hasil proses penguraian bahan organik lanjutan oleh bakteri anaerob.

Fosfat memegang peranan penting dalam produk deterjen, sebagai softener air dan Builders. Bahan ini
mampu menurunkan kesadahan air dengan cara mengikat ion kalsium dan magnesium. Berkat aksi
softenernya, efektivitas dari daya cuci deterjen meningkat. Fosfat pada umumnya berbentuk Sodium Tri
Poly Phosphate (STPP). Fosfat tidak memiliki daya racun, bahkan sebaliknya merupakan salah satu
nutrisi penting yang dibutuhkan mahluk hidup. Tetapi dalam jumlah yang terlalu banyak, fosfat dapat
menyebabkan pengkayaan unsur hara (eutrofikasi) yang berlebihan di badan air sungai/danau, yang
ditandai oleh ledakan pertumbuhan algae dan eceng gondok yang secara tidak langsung dapat
membahayakan biota air dan lingkungan. Di beberapa negara Eropa, penggunaan fosfat telah dilarang
dan diganti dengan senyawa substitusi yang relatif lebih ramah lingkungan.

Ahsan (2005) menyatakan bahwa penghilangan jumlah fosfat dapat dilakukan dengan adsorpsi
sederhana serta efisiensi penghilangan ion fosfat dengan concentrate menurun dengan peningkatan
suhu, sementara peningkatan suhu pada shell (kerang) cenderung dapat meningkatkan efisiensi ion
fosfat dari 20% menjadi 55%. Oleh karena itu, penghilangan ion fosfat dengan shell dilakukan pada suhu
yang relatif tinggi.

Deterjen sangat berbahaya bagi lingkungan karena dari beberapa kajian menyebutkan bahwa detergen
memiliki kemampuan untuk melarutkan bahan dan bersifat karsinogen, misalnya 3,4 Benzonpyrene,
selain gangguan terhadap masalah kesehatan, kandungan detergen dalam air minum akan menimbulkan
bau dan rasa tidak enak. Deterjen kationik memiliki sifat racun jika tertelan dalam tubuh, bila dibanding
deterjen jenis lain (anionik ataupun non ionik).

Terdapat dua ukuran yang digunakan untuk melihat sejauh mana produk-produk kimia (deterjen) aman
di lingkungan yaitu daya racun (toksisitas) dan daya urai (biodegradable). ABS dalam lingkungan
mempunyai tingkat biodegradable sangat rendah, sehingga deterjen ini dikategorikan sebagai non-
biodegradable

Dalam pengolahan limbah konvensional, ABS tidak dapat terurai, sekitar 50% bahan aktif ABS lolos dari
pengolahan dan masuk dalam sistem pembuangan. Hal ini dapat menimbulkan masalah keracunan pada
biota air dan penurunan kualitas air sehingga pada perkembangannnya digantikan dengan LAS
mempunyai karakteristik lebih baik, meskipun belum dapat dikatakan ramah lingkungan. LAS
mempunyai gugus alkil lurus/ tidak bercabang yang dengan mudah dapat diurai oleh mikroorganisme.

LAS relatif mudah didegradasi secara biologi dibanding ABS. LAS bisa terdegradasi sampai 90 persen.
Akan tetapi prorsesnya sangat lambat, karena dalam memecah bagian ujung rantai kimianya khususnya
ikatan o-mega harus diputus dan butuh proses beta oksidasi, karena itu perlu waktu. Penelitian
mendapatkan hasil bahwa alam membutuhkan waktu 9 hari untuk menguraikan 50% LAS.

Detergen ABS sangat tidak menguntungkan karena ternyata sangat lambat terurai oleh bakteri pengurai
disebabkan oleh adanya rantai bercabang pada spektrumya. Dengan tidak terurainya secara biologi
deterjen ABS, lambat laun perairan yang terkontaminasi oleh ABS akan dipenuhi oleh busa, menurunkan
tegangan permukaan dari air, pemecahan kembali dari gumpalan (flock) koloid, pengemulsian gemuk
dan minyak, pemusnahan bakteri yang berguna, penyumbatan pada pori pori media filtrasi.

Kerugian lain dari penggunaan deterjen adalah terjadinya proses eutrofikasi di perairan. Ini terjadi
karena penggunaan deterjen dengan kandungan fosfat tinggi. Eutrofikasi menimbulkan pertumbuhan
tak terkendali bagi eceng gondok dan menyebabkan pendangkalan sungai. Sebaliknya deterjen dengan
rendah fosfat beresiko menyebabkan iritasi pada tangan dan kaustik. Karena diketahui lebih bersifat
alkalis. Tingkat keasamannya (pH) antara 10 12.

Selain merusak lingkungan alam, efek buruk Detergen yang dirasakan tentu tak lepas dari para
konsumennya. Dampaknya juga dapat mengakibatkan gangguan pada lingkungan kesehatan manusia.
Saat seusai kita mencuci baju, kulit tangan kita terasa kering, panas, melepuh, retak-retak, gampang
mengelupas hingga mengakibatkan gatal dan kadang menjadi alergi. Surfaktan dapat menyebabkan
permukaan kulit kasar, hilangnya kelembaban alami yang ada pada permukan kulit dan meningkatkan
permeabilitas permukaan luar. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kulit manusia hanya mampu
memiliki toleransi kontak dengan bahan kimia dengan kandungan 1 % LAS dan AOS dengan akibat iritasi
sedang pada kulit. Selain itu juga deterjen dalam air buangan dapat meresap ke air tanah atau sumur-
sumur di masyarakat. Air yang tercemar limbah deterjen tidak baik bagi kesehatan karena dapat
menyebabkan kanker. Kanker ini diakibatkan oleh menumpuknya surfaktan di dalam tubuh manusia.

E. Pengolahan Limbah Deterjen

Detergen merupakan suatu derivatik zat organik sehingga akumulasinya menyebabkan meningkatnya
COD (Chemichal Oxygen Demand) dan BOD (Biological Oxigen Demand) dan angka permanganat, maka
dalam pengolahannya sangat cocok menggunakan teknik biologi.
Pada beberapa penelitian membuktikan bahwa alkyl benzena sulfonat (ABS) dapat diuraikan dengan
bakteri Staphylococcus epidermis, Enterobacter gergoviae, Staphylococcus aureus, Pseudomonas facili,
Pseudomonas fluoroscens, Pseudomonas euruginosa, Kurthia zopfii, dan sebagainya. Bakteri ini akan
merombak detergen yang juga merupakan zat organik sebagai bahan makanan menjadi energi.

Penggunaan alat Trickling Filter, yaitu teknik untuk meningkatkan kontak dari air limbah dengan
mikroorganisme pemakan bahan-bahan organik yang mengambil oksigen untuk metabolismenya dapat
dipergunakan sebagai pengolahan limbah deterjen skala rumah tangga. Diawali dengan
mengembangbiakkan bakteri pada media pecahan genteng selama 40 hari dalam limbah rumah tangga
yang ada di selokan, kemudian dilakukan treatment/sirkulasi terhadap limbah deterjen sintetik pada
Trickling Filter dan dianalisa nilai konsentrasi LAS dengan pengujian MBAS (Metylene Blue Active
Surfactan). media pertumbuhan mikroorganisme adalah pecahan genteng yang direndam dalam selokan
40 hari. Jenis mikroorganisme yang ada di selokan antara lain Crenothrix & Sphaerotilus, Chromatium &
Thiobacillus, mikroalgae hijau & biru, Salmonella typhi, Salmonella paratyphi, Shigella shigae, Eschericia
Coli. Pengamatan langsung dengan menggunakan mikroskop dan pengecatan gram menunjukkan bahwa
komunitas mikroba didominasi oleh bakteri gram negatif, menemukan komunitas bakteri dari golongan
Proteobacteria mendominasi komunitas bakteri yang mampu mendegradasi deterjen. Pertumbuhan
mikroorganisme ini berlangsung cukup lama karena dipengaruhi oleh suhu dan nutrisi yang
diperlukannya. Deterjen akan mengalami penurunan kadar LAS dengan semakin bertambahnya waktu.
Hal ini disebabkan mikroorganisme aerobik yang memakan zat yang terkandung dalam deterjen.
Kemampuan mikroba terutama bakteri dalam menggunakan deterjen sebagai sumber karbon utama
menunjukkan bahwa bakteri memegang peran penting. Deterjen dengan kadar LAS yang besar
membutuhkan waktu peruraian yang lebih lama dan deterjen dengan kadar LAS yang kecil akan lebih
cepat terurai. Dan semakin lama waktu sirkulasi limbah deterjen maka kadar LAS pada ketiga merek
deterjen yang diteliti akan semakin mengalami penurunan, karena waktu kontak antara air deterjen dan
mikroorganisme aerob semakin lama sehingga memberikan waktu yang cukup lama pula bagi bakteri
untuk menguraikan deterjen.

Penanganan dengan cara lumpur aktif juga dapat dikembangkan , dan dapat menurunkan COD, BOD 30
70 %, bergantung pada karakteristik air limbah yang, diolah dan kondisi proses lumpur aktif yang
dilakukan. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya, antara lain oxidation
ditch dan kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, oxidation ditch
mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90%
(dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi
(90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih
pendek (4-6 jam).

Dengan tangki septic-filter up flow yang berisi pecahan batu bata sebagai media hidup mikroba sanggup
mereduksi kandungan Metylene Blue Active Surfactan atau MBAS (untuk mendeteksi kandungan
detergen) hingga mencapai efesiensi 87,93 persen. Dari sampel, air limbah yang sebelum dimasukkan
tangki memiliki kandungan MBAS sekitar 2,7 mg per liter. Setelah keluar tangki, air hanya mengandung
MBAS sekitar 0,326 mg per liter, atau lebih rendah dari baku mutu yang digariskan, yakni 0,5 mg per
liter. Adapun BOD yang didapat adalah 483,75 mg per liter (sebelum proses) dan 286,25 mg per liter
(setelah proses) atau kandungan BOD berkurang 40 persen lebih.

Mendestabilkan partikel deterjen dapat dimanfaatkan sebagai pengolahan limbah karena detergen
mempunyai sifat koloid. Karakteristik dari partikel koloid dalam air sangat dipengaruhi oleh muatan
listrik dan kebanyakan partikel tersuspensi bermuatan negative. Cara mendestabilkan atau merusak
kestabilan partikel dilakukan dalam dua tahap. Pertama dengan mengurangi muatan elektrostatis
sehingga menurunkan nilai potensial zeta dari koloid, proses ini lazim disebut sebagai koagulasi. Kedua
adalah memberikan kesempatan kepada partikel untuk saling bertumbukan dan bergabung, cara ini
dapat dilakukan dengan cara pengadukan dan disebut sebagai flokulasi.

Pengurangan muatan elektris dilakukan dengan menambahkan koagulan seperti PAC. Di dalam air PAC
akan terdisposisi melepaskan kation Al3+ yang akan menurunkan zeta potensial dari partikel. Sehingga
gaya tolak-menolak antar partikel menjadi berkurang, akibatnya penambahan gaya mekanis seperti
pengadukan akan mempermudah terjadinya tumbukan yang akan dilanjutkan dengan penggabungan
partikel-partikel yang akan membentuk flok yang berukuran lebih besar. Flok akan diendapkan pada unit
sedimentasi maupun klarifikasi. Lumpur yang terbentuk akan dibuang menggunakan scraper. Cara
koagulasi umumnya berhasil menurunkan kadar bahan organik (COD, BOD) sebanyak 40-70 %.

Detergen mampu memecah minyak dan lemak membentuk emulsi sehingga dapat diendapkan dengan
menambahkan inhibitor garam alkali seperti kapur dan soda. Buih yang terbentuk akan dapat
dihilangkan dengan proses skimming (penyendokan buih) atau flotasi.

Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung juga dapat
digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur
endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation).

Adsorpsi menggunakan karbon aktif dapat digunakan untuk mengurangi kontaminasi detergen.
Detergen yang merupakan molekul organik akan ditarik oleh karbon aktif dan melekat pada
permukaannya dengan kombinasi dari daya fisik kompleks dan reaksi kimia. Karbon aktif memiliki
jaringan porous (berlubang) yang sangat luas yang berubah-ubah bentuknya untuk menerima molekul
pengotor baik besar maupun kecil. Zeolit dapat menurunkan COD 10-40%, dan karbon aktif dapat
menurunkan COD 10-60 %.

Detergen mempunyai ikatan ikatan organik. Proses khlorinasi akan memecah ikatan tersebut
membentuk garam ammonium khlorida meskipun akan menghasilkan haloform dan trihalomethans jika
zat organiknya berlebih.

Air limbah deterjen tidak dapat dibuang ke septic tank seperti pada kotoran manusia (black water)
karena memiliki kandungan detergen yang dapat membunuh bakteri pengurai yang dibutuhkan septic
tank. Karena itu, diperlukan pengolahan khusus yang dapat menetralisasi kandungan detergen dan juga
menangkap lemak.
Cara yang paling sederhana mengatasi pencemaran air limbah adalah dengan menanami selokan
dengan tanaman air yang bisa menyerap zat pencemar. Tanaman yang bisa digunakan, antara lain
jaringao, Pontederia cordata (bunga ungu), lidi air, futoy ruas, Thypa angustifolia (bunga coklat), melati
air, dan lili air. Cara ini sangat mudah, tapi hanya bisa menyerap sedikit zat pencemar dan tak bisa
menyaring lemak dan sampah hasil dapur yang ikut terbuang ke selokan.

Cara yang lebih efektif adalah membuat instalasi pengolahan yang sering disebut dengan sistem
pengolahan air limbah (SPAL) dengan cara mudah, bahan murah dan tidak sulit diterapkan di rumah
Anda. Instalasi SPAL terdiri dari dua bagian yaitu bak pengumpul dan tangki resapan. Di dalam bak
pengumpul terdapat ruang untuk menangkap sampah yang dilengkapi dengan kasa 1 cm persegi, ruang
untuk penangkap lemak, dan ruang untuk menangkap pasir. Tangki resapan dibuat lebih rendah dari bak
pengumpul agar air dapat mengalir lancar. Di dalam tangki resapan ini terdapat arang dan batu koral
yang berfungsi untuk menyaring zat-zat pencemar yang ada dalam air limbah deterjen (greywater).
Mekanisme kerja SPAL dengan cara air bekas deterjen atau bekas sabun dialirkan ke ruang penangkap
sampah yang telah dilengkapi dengan saringan di bagian dasarnya. Sampah akan tersaring dan air akan
mengalir masuk ke ruang di bawahnya. Jika air mengandung pasir, pasir akan mengendap di dasar ruang
ini, sedangkan lapisan minyak, karena berat jenisnya lebih ringan, akan mengambang di ruang
penangkap lemak. Air yang telah bebas dari pasir, sampah, dan lemak akan mengalir ke pipa yang
berada di tengah-tengah tangki resapan. Bagian bawah pipa tersebut diberi lubang sehingga air akan
keluar dari bagian bawah. Sebelum air menuju ke saluran pembuangan, air akan melewati penyaring
berupa batu koral dan batok kelapa. Limbah deterjen atau air sabun yang telah diolah dapat digunakan
lagi untuk menyiram tanaman, mengguyur kloset, dan untuk mencuci mobil. Di Singapura dan negara-
negara maju bahkan diolah lagi menjadi air minum.

Salah satu cara pengolahan limbah deterjen dan air sabun yang diterapkan di perusahaan produsen
deterjen adalah dengan pembuatan bak pengumpulan air limbah sisa deterjen. Di dalam bak
pengumpulan limbah tersebut diletakkan pompa celup yang harus terendam air untuk menghindari
terbentuknya gelembung/buih detrejen. Pompa celup ini berfungsi sebagai sirkulasi limbah. Selanjutnya
di luar bak penampungan dibuat bak kecil dan pompa dosing yang berisi larutan anti deterjen, misalnya
jika deterjen yang terbuang banyak mengandung deterjen anionik, maka untuk menetralisir diberikan
larutan deterjen kationik sebagai anti deterjennya, demikian pula sebaliknya. Kemudian larutan anti
deterjen ini dimasukkan ke dalam bak penampungan dan dilakukan proses penetralan. Pada proses
penetralan, perlu ditentukan kadar deterjen di dalam bak penampungan dengan analisis deterjen sistem
MBAS (Metilen Blue Active Surfactan) atau dengan sistem Titrasi Yamin yang secara khusus untuk
mengetahui kadar deterjen. Misalnya kadar deterjen 50 ppm dapat dilakukan uji coba dengan
pemberian larutan anti deterjen sebanyak 5 ml per menit dengan pompa dosing sampai kadar deterjen
0 ppm.

Bagi pemilik usaha binatu/laundry dapat melakukan upaya pemilihan deterjen dengan kandungan fosfat
yang rendah karena dapat menjadi pencemaran air disekitarnya. Serta dapat melakukan pengelolaan
limbah deterjen secara sederhana dengan pembuatan bak penampungan khusus, atau dengan
penambahan arang aktif.