Anda di halaman 1dari 18

PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu ciri makhluk hidup ataupun sel hidup adalah
melakukan metabolisme. Metabolisme mrrupakan pertukaran zat
yakni seluruh perubahan reaksi kimia beserta perubahan energi yang
menyertai perubahan reaksi kimia tersebut. Semua kegiatan hidup
yang terdapat dalam sel tidak dapat dipisahkan dengan reaksi kimia.
Pertumbuhan, perkembangan, sekresi, eksresi dan kegiatan
hidup lainnya merupakan proses reaksi kimia. Namun secara garis
besarnya, perubahan reaksi kimia atau metabolisme dalam sel dapat
dibedakan menjadi dua yaitu anabolisme atau reaksi penyusun dan
katablisme atau pembongkaran. Untuk berlangsungnya proses
metabolisme atau katabolisme diperlukan beberapa molekul zat
sebagai bahan reaksi kimia, dan energi yang mendukung
berlangsungnya reaksi kimia serta molekul zat yang berfungsi sebagai
pengaktif reaksi yaitu enzim.
Enzim dapat ditemukan baik pada hewan maupun pada
tumbuhan. Salah satu enzim tersebut adalah enzim amylase. Nama
lain dari amilase ialah diastase. Enzim tersebut dapat menghidrolisis
amilum menjadi gula. Karena hal itulah maka percobaan Pengaruh
pH terhadap aktivitas enzim ini dilakukan untuk membuktikan
pengaruh pH terhadap aktivitas enzim amilase itu sendiri.

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

1.2. Maksud Percobaan


Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui
dan memahi pengaruh suhu dan pH terhadap keaktifan suatu enzim.
1.3. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan
suhu optimum dan pH optimum dari kerja suatu enzim.

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Teori Umum
Enzim adalah protein yang berfungsi sebagai katalisator
untuk reaksi-reaksi kimia didalam sistem biologi . Satu jenis enzim
mengkatalisis satu jenis substrat saja, jadi enzim adalah katalisator
yang reaksi-spesifik. Enzim bekerja dengan mengurangi energi
aktivasi dari substrat tertentu. Mekanisme kerja enzim yaitu dengan
terikat sementara ke substrat untuk membentuk sebuah kompleks
enzim-substrat yang lebih tidak stabil dibanding substrat jika berdiri
sendiri. Ini menyebabkan substrat mudah bereaksi. Dengan
demikian substrat tereksitasi ke tingkat energi lebih rendah
dengan membentuk produk reaksi yang baru. Selama
berlangsungnya reaksi, enzim dilepaskan dalam keadaan tidak
berubah. Pelepasan enzim tetap utuh sehingga bisa terus bereaksi
dan menyebabkan enzim tetap efektif meski dalam jumlah yang
sangat kecil. Kegiatan enzim dapat berlangsung dengan baik jika
kondisi lingkungannya mendukung (Ompusunggu dkk, 2012).
Kecepatan reaksi enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor,
terutama perubahan suhu dan pH yang mempunyai pengaruh
besar terhadap kerja enzim. Kecepatan reaksi enzim juga
dipengaruhi oleh konsentrasi enzim dan konsentrasi substrat.
Pengaruh aktivator, inhibitor, koenzim dan konsentrasi elektrolit
dalam beberapa keadaan juga merupakan faktor-faktor yang penting.
Hasil reaksi enzim juga dapat menghambat kecepatan reaksi
(Ompusunggu dkk, 2012).
Sifat-sifat enzim :
a. Pengaruh suhu
Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim,
namun enzim tidak dapat bekerja. Dengan kenaikan suhu
lingkungan, enzim mulai bekerja sebagian dan mencapai suhu
maksimum pada suhu tertentu. Bila suhu ditingkatkan terus, jumlah

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi.


Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada suhu
optimum. Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum
sekitar 37 C. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada
pemanasan sampai 60 C, karena terjadi denaturasi (Soewoto,
2000) .
b. Pengaruh pH
Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu. Jika dilakukan
pengukuran aktivitas enzim pada beberapa macam pH yang
berlainan, sebagian besar enzim di dalam tubuh akan menunjukkan
aktivitas maksimum antara pH 5,0 sampai 9,0. Kecepatan reaksi
enzimatik mencapai puncaknya pada pH optimum. Ada enzim yang
mempunyai pH optimum yang sangat rendah, seperti pepsin, yang
mempunyai pH optimum 2. pada pH yang jauh di luar pH optimum,
enzim akan terdenaturasi. Selain itu pada keaadan ini baik enzim
maupun substrat dapat mengalami perubahan muatan listrik yang
mengakibatkan enzim tidak dapat berikatan dengan substrat
(Soewoto, 2000) .
Enzim amilase adalah enzim yang berfungsi untuk memecah
ikatan 1,4 glikosida dari molekul pati menjadi maltosa. amilase
merupakan salah satu enzim ekstraseluler komersial yang mempunyai
nilai ekonomis yang tinggi, sehingga banyak digunakan dalam
berbagai bidang industri seperti industri pati, roti, alkohol, kertas,
tekstil, gula, dan industri detergen. Enzim amilase merupakan
enzim ekstraseluler sehingga dalam proses isolasinya tidak
memerlukan pemecahan sel (Sebayang, 2005).
pH optimum enzim amilase bekerja adalah 6,0. pH
berhubungan dengan struktur enzim yang terdiri dari asam-asam
amino. Perubahan pH dalam suatu larutan menunjukkan perubahan-
perubahan jumlah ion H+ yang ada dalam larutan. Jumlah ion yang
ada akan mempengaruhi struktur enzim yang terdiri dari asam-asam

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

amino, terutama pada ikatan hidrogennya karena aktivitas enzim


berkaitan erat dengan strukturnya maka perubahan struktur akan
menyebabkan perubahan-perubahan aktivitas enzim. Sedangkan
pada pH optimum jumlah ion H+ tidak mempengaruhi konformasi
enzim sehingga konformasi substrat sama dengan konformasi enzim.
Hal ini menyebabkan interaksi antara enzim dan substrat meningkat,
sedangkan pada pH optimum aktivitas enzim paling tinggi (Sebayang,
2005).
Suhu optimum enzim -amilase adalah 60C, kenaikan suhu
menyebabkan aktivitas enzim meningkat sampai mencapai suhu
optimum. Setelah mencapai kondisi optimum terlihat bahwa aktivitas
enzim menurun. Terjadinya penurunan aktivitas ini diperkirakan
karena pada suhu tinggi struktur tertier enzim yang terdiri dari ikatan
bukan kovalen atau elektrostatik, ikatan hidrogen, ikatan disulfida dan
ikatan hidrofobik bila menyerap energi tinggi akan terjadi pemutusan
dan mengakibatkan terjadinya pembukaan struktur tertier dan
kuartener yang menyebabkan konformasi enzim berubah dan
menyebabkan aktivitasnya menurun (Sebayang, 2005).
Pati tidak larut dalam air dan dalam analisis pati,
memberikan warna biru dengan iodium. Hasil hidrolisis pati/amilum
adalah glukosa. Hidrolisis pati akan terjadi pada pemanasan
dengan asam encer dimana berturut-turut akan dibentuk amilosa
yang memberi warna biru dengan iodium, amilopektin yang
memberi warna merah dengan iodium. Pati sagu disebut juga
poliglukosa, karena unit monomernya glukosa. Kadar pati
merupakan banyaknya pati yang terkandung dalam bahan kering
yang dinyatakan dalam persen (Manatar dkk, 2012).
Penambahan iodium akan terbentuk kompleks pati dan
iodium kompleks ini dapat mengendap yang kemudian dapat
ditentukan dengan mengukur konsentrasi warna biru yang
terbentuk dengan menggunakan spektrofotometer.Metode ini

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

digunakan untuk memisahkan amilum atau pati yang terkandung


dalam larutan tersebut. Reaksi positifnya ditandai dengan adanya
perubahan warna menjadi biru. Warna biru yang dihasilkan
diperkirakan adalah hasil dari ikatan kompleks antara amilum
dengan iodin. Sewaktu amilum yang telah ditetesi iodin kemudian
dipanaskan, warna yang dihasilkan sebagai hasil dari reaksi yang
positif akan menghilang. Sewaktu didinginkan warna biru akan
muncul kembali (Manatar dkk, 2012).
2.2 Uraian bahan
1. Air suling (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Air suling
Rumus Molekul : H2O
Berat Molekul : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna dan tidak
berasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai pelarut.
Rumus Struktur : H-O-H
2. Asam Asetat (Ditjen POM, 1979: 41)
Nama Resmi : ACIDIUM ACETICUM
Nama Lain : Asam Asetat, Asam Cuka
Rumus Molekul : C2H4O2
Berat Molekul : 60
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau
menusuk, rasa asam, tajam.
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan
etanol (95%) P dan dengan gliserol P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Penggunaan : Zat tambahan.

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

Rumus struktur : O

CH3 C H
3. Amylum (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : Amylum
Nama Lain : Pati
Pemerian : Putih, kuning, berbau, serbuk tidak berasa.
Kelarutan : Larut dalam air panas.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai sampel.
Rumus Struktur :
CH2OH CH2OH

H OH H OH
4. NaCl (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : NATRII CHLORIDUM
Nama Lain : Natrium Klorida
Rumus Molekul : NaCl
Berat Molekul : 58,44
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air,dalam 2,7
bagian air mendidih,dan dalam kurang
lebih 10 bagian gliserol P.,sukar larut
dalam etanol (95%) P.
Pemerian : Hablur heksahedral tidak berwarna atau
serbuk hablur putih, tidak berbau, dan
rasa asin .
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Zat tambahan.
Rumus Struktur : Na - Cl

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

2.3 Prosedur Kerja (Anonim, 2015)


2.3.1 Pengaruh temperatur terhadap keaktifan suatu enzim
a. 4 buah tabung reaksi yang masing-masing diisi dengan 5 ml
larutan kanji (amilum) 1 %.
b. Celupkan tabung pertama dalam air es, tabung kedua pada
temperatur kamar, tabung ketiga pada air panas 380C.
c. Masing-masing tabung tambahkan 2 tetes saliva encer,
khusus tabung keempat, saliva encer yang ditambahkan telah
dipanaskan air mendidih.
d. Pada interval 5 menit, diambil contoh dari masing-masing
tabung dan dites pada pelat tetes. Tentuka kecepatan
penguraian masing-masing contoh.
2.3.2 Pengaruh pH terhadap keaktifan suatu enzim
a. 10 ml larutan buffer masing-masing pH yang tersedia
dimasukkan ke setiap tabung.
b. Ke dalam larutan buffer ini masukkan 5 ml larutan kanji 1%, 2
ml NaCl 0,1 M dan 2 ml saliva encer.
c. Tempatkan semua tabung dalam penangas air dan tentukan
tabung mana yang yang lebih dahulu mencapai chromic point.
d. Setelah ini tercapai, tambah iodine ke tiap-tiap tabung.
e. Tabung dengan larutan buffer pH 8 dan 7,4 diasamkan
dengan asam asetat sebelum penambahan iodine.

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

BAB 3 METODE KERJA


3.1. Alat Praktikum
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung
reaksi, rak tabung, pipet tetes, pipet skala dan plat tetes.
3.2. Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
aquadest, asam asetat, larutan amilum 1%, larutan NaCl dan saliva
encer (1:9).
3.3. Cara Kerja
3.3.1. Pengaruh Temperatur terhadap Keaktifan suatu Enzim
Disiapakan 4 buah tabung reaksi. Dimasing-masing
tabung reaksi ditambahkan 5 ml larutan amilum 1 %.
Kemudian, pada tabung 1 dicelupkan ke dalam air es. Pada
tabung 2 pada temperatur kamar dan pada tabung 3 pada air
panas 380C. Setelah itu, dimasing-masing tabung reaksi
ditambahkan 2 tetes saliva encer. Khusus untuk tabung ke 4
saliva encer yang ditambahkan dipanaskan terlebih dahulu di
air panas. Pada interval 5 menit, diambil contoh dari masing-
masing tabung reaksi dan di tes di pelat tetes. Dan ditentukan
kecepatan penguraian di masing-masing contoh.
3.3.2. Pengaruh pH Terhadap Keaktifan suatu Enzim
Diambil masing-masing 10 ml larutan buffer pH
4,2;5,4;7,2 dan 8 dimasukkan kedalam setiap tabung reaksi.
Disetiap tabung reaksi ditambahkan 5 ml larutan kanji 1%, 2
ml NaCl 0,1 M dan 2 ml saliva encer. Disemua tabung reaksi
di tempatkan dalam air mendidih di dalam gelas kimia diatas
penangas air dan ditentukan yang lebih dahulu mencapai
chromic point (penguraian/homogen). Setelah ini tercapai,
untuk tabung yang berisi larutan buffer pH 8 dan 7,4 di
asamkan dengan asam asetat. Kemudian diambil masing-
masing contoh di tes di pelat tetes dan ditambahkan 2 tetes

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

iodine. Dan ditentukan kecepatan penguraian di masing-


masing contoh.

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil pengamatan
4.1.1 Pengaruh temperatur terhadap keaktifan suatu enzim
Waktu Warna
(menit) Tabung I Tabung II Tabung III Tabung IV
5 Biru tua Ungu muda Biru tua Biru tua
10 Ungu muda Biru tua Biru tua Biru tua
15 Ungu tua Jingga Biru tua Biru tua
20 Jingga muda Kuning muda Biru tua Biru tua
25 Bening Bening Biru tua Biru tua
30 Bening Bening Biru tua Biru tua
35 Bening Bening Biru tua Biru tua
40 Bening Bening Biru tua Biru tua
45 Bening Bening Biru tua Biru tua
4.1.2 Pengaruh pH terhadap keaktifan suatu enzim
Waktu Warna
(menit) Tabung I Tabung II Tabung III Tabung IV
5 Ungu tua Kuning Bening Jingga
10 Biru tua Bening Bening Bening
15 Ungu muda Bening Bening Bening
20 Ungu muda Bening Bening Bening
25 Ungu tua Bening Bening Bening
30 Ungu tua Bening Bening Bening
35 Ungu muda Bening Bening Bening
40 Ungu tua Bening Bening Bening
45 Ungu tua Bening Bening Bening

4.2 Pembahasan
Enzim atau biokatalisator adalah katalisator organik yang
dihasilkan oleh sel.enzim sangat penting dalam kehidupan, karena

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

semua reaksi metabolisme dikatalis oleh enzim. Jika tidak ada enzim,
atau aktivitas enzim terganggu maka reaksi metabolisme sel akan
terhambat hingga pertumbuhan sel juga terganggu.
Reaksi-reaksi enzimatik dibutuhkan agar bakteri dapat
memperoleh makanan atau nutrient dalam keadaan terlarut yang
dapat diserap ke dalam sel, memperoleh energi Kimia yang digunakan
untuk biosintesis, perkembangbiakan, pergerakan, dan lain-lain.
Pada Enzim amilase dapat memecah ikatan pada amilum
hingga terbentuk maltose .Ada tiga macam enzim amilase, yaitu
amilase, amilase dan amilase. Yang terdapat dalam saliva dan
pankreas adalah amilase. Enzim ini memecah ikatan 1-4 yang
terdapat dalam amilum dan disebut endo amilase sebab enzim ini
bagian dalam atau bagian tengah molekul amilum.
Penambah iodine berfungsi sebagai indikator terhadap reaksi yang
terjadi dimana akan tampak perubahan warna dari tak berwarna menjadi
biru kehitaman. Warna biru kehitaman yang tampak terjadi ikatan antara
iodine dengan amilum. Pada reaksi selanjutnya yaitu penguraian amilum
dengan enzim, ikatan semu antara iodine dengan amilum akan putus dan
warna biru yang dihasilkan tadi akan hilang. Percobaan ini juga
menggunakan kanji karena kanji adalah senyawa amilum sedangkan enzim
amilase adalah enzim yang berfungsi untuk mengkatalisis reaksi hidrolisa
amilum menjadi monomer glukosa, NaCl yang ditambahkan merupakan
garam yang bersifat netral yang tidak berpengaruh terhadap pH yang
termasuk asam dan berfungsi sebagai aktifator.
Penentuan pengaruh temperatur terhadap aktivitas kerja anzim
amilase dilakukan dengan menggunakan 4 buah tabung. Kemudian
setiap 5 menit, dari tiap-tiap tabung diambil contoh dengan
menggunakan pipet tetes, contoh tersebut diteteskan di atas plat tetes
yang sudah ditetesi larutan iodin sebelumnya. Larutan iodin pada plat
tetes ini berfungsi untuk memberikan warna biru/ungu apabila pada
contoh yang kita teteskan mengandung pati (amilum). Dalam

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

percobaan digunakan larutan kanji, dimana larutan tersebut


merupakan amilum. Dengan demikian kita dapat melihat reaksi enzim
pada suhu tertentu dapat mendigesti amilum. Pada suhu kamar
mengalami perubahan dari warna ungu muda hal ini menandakan
bahwa enzim yang terdapat dalam saliva tersebut itu aktif, pada
tabung 1 dengan perlakuan tabung dicelupkan dalam air es, tabung 3
dengan perlakuan mendidihkan isi tabung, dan tabung 4 dengan
perlakuan diteteskan saliva yang telah di didihkan, tidak mengalami
perubahan. Hal ini menunjukkan bahwa enzim yang terdapat dalam
saliva tersebut tidak aktif pada saat waktu interval 5 menit hingga 45
menit sehingga dapat mendeteksi masih adanya zat pati atau kanji.
Setelah melihat pengaruh temperature terhadap keaktifan suatu
enzim dilakukan lagi percobaan pengaruh pH terhadap keaktifan suatu
enzim. Pada percobaan ini menunjukkan bahwa pada tabung II,
tabung III, tabung IV dengan pH 5,4 , 7,2, dan 8 hal ini untuk
membandingkan aktivitas enzim pada suasana asam, basa, maupun
netral. Kemudian ditambahkan amilum 1 % karena saliva (enzim
amilase) dapat memecah amilum / pati menjadi sakarida dengan
molekul yang lebih sederhana yaitu maltosa. Dan digunakan NaCl 0,1
M karena dengan adanya NaCI 0,1 M maka akan memacu sistem
kinerja enzim. Dimana kita tahu bersama bahwa NaCI merupakan
larutan yang bersifat garam, dan garam memiliki konsentrasi yang
sangat tinggi sehingga dapat memacu sistem kinerja enzim dan
menstabilkan nilai pH pada larutan buffer. NaCl menyebabkan
suasana yang baik untuk bekerjanya ptyalin karena adanya ion Cl -
tetapi pH netral sehingga memungkinkan hilangnya warna terlihat
lebih cepat. Setelah itu semua tabung ditempatkan ke dalam
penangas air dan diamati tabung yang mana yang mengalami chromic
point lebih awal. Selain itu ph 7,4 dan 8 sebelum ditambahkan iod
terlebih dahulu diasamkan itu karena pada ph 7,4 dan 8 aktivitas
enzim menurun karena telah terlewati ph optimal dari enzim tersebut

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

sehingga perlu diasamkan dengan asam asetat yang merupakan


asam lemah agar ph tersebut dapat bekerja dengan baik atau kemnali
ke tahap normal. Pada pH 5,4 menunjukkan warna kuning, 7,2 bening,
dan 8 jingga dan selanjutnya warna menjadi bening pada interval
waktu 5 menit hingga 45 menit. Hal ini menunjukkan bahwa enzim
amilase dapat mendigesti pati pada pH 5,4, 7,2, 8 dan diperoleh pula
bahwa pH optimum enzim yaitu pada pH 7,2 dan 8. Lain halnya
dengan tabung I dengan pH 4,2 pada menit pertama mengalami
perubahan warna yaitu ungu tua dan selanjutnya tidak lagi mengalami
perubahan warna. Hal ini menujukkan bahwa pada tabung I enzim
tidak dapat mendigesti zat pati pada pH 4,2
Peristiwa chromic point merupakan peristiwa dimana enzim
berada pada titik yaitu zat yang satu tidak dapat dibedakan dengan
yang lain atau dengan kata lain homogen, hal ini dapat terjadi melalui
proses pemanasan tetapi pemanasan yang berlebihan akan
menyebabkan enzim tersebut rusak dan tidak dapat bekerja dengan
baik.
Dalam percobaan ini terkadang hasil yang diperoleh tidak
sesuai dengan teori. Hal ini dikarenakan adanya factor kesalahan-
kesalahan yang terjadi pada saat praktikum berlangsung. Adapun
factor kesalahannya yaitu:
1. Keadaan saliva yang tidak baik sehingga perubahan warna yang di
hasilkan tidak akurat.
2. Terlalu banyaknya pereaksi yang diberikan
3. Kurang telitinya praktikan saat melakukan praktikum

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah untuk pengaruh
temperatur terhadap keaktifan suatu enzim yaitu enzim amilase
bekerja atau aktif pada temperatur suhu kamar. Dan untuk pengaruh
pH terhadap keaktifan suatu enzim yaitu enzim amilase bekerja atau
aktif pada pH 7,2

5.2 Saran
Sebaiknya bahan yang akan dipakai pada saat praktikum
seharusnya sudah lengkap dan siap diatas meja masing-masing
kelompok sebelum praktikum dimulai.

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

SKEMA KERJA

1. Pengaruh Temperatur terhadap Keaktifan suatu Enzim


Disiapakan 4 buah tabung reaksi.

Dimasing-masing tabung reaksi ditambahkan 5 ml larutan amilum 1 %.

Kemudian, pada tabung 1 dicelupkan ke dalam air es. Pada tabung 2


pada temperatur kamar dan pada tabung 3 pada air panas 380C.

Dimasing-masing tabung reaksi ditambahkan 2 tetes saliva encer. Khusus


untuk tabung ke 4 saliva encer yang ditambahkan dipanaskan terlebih
dahulu di air panas.

Pada interval 5 menit, diambil contoh dari masing-masing tabung reaksi


dan di tes di pelat tetes.

Dan ditentukan kecepatan penguraian di masing-masing contoh.

2. Pengaruh pH Terhadap Keaktifan suatu Enzim


Diambil masing-masing 10 ml larutan buffer pH 4,2;5,4;7,2 dan 8
dimasukkan kedalam setiap tabung reaksi.

Disetiap tabung reaksi ditambahkan 5 ml larutan kanji 1%, 2 ml NaCl 0,1


M dan 2 ml saliva encer.

Disemua tabung reaksi di tempatkan dalam air mendidih di dalam gelas


kimia diatas penangas air dan ditentukan yang lebih dahulu mencapai
chromic point (penguraian/homogen)

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

Setelah ini tercapai, untuk tabung yang berisi larutan buffer pH 8 dan 7,4
di asamkan dengan asam asetat

Kemudian diambil masing-masing contoh di tes di pelat tetes dan


ditambahkan 2 tetes iodine.

Dan ditentukan kecepatan penguraian di masing-masing contoh.

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI
PENGARUH TEMPERATUR DAN PH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2015, Penuntun Biokimia, Universitas Muslim Indonesia,


Makassar.

Ditjen POM 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.

Manatar, J, dkk 2012, Analisis Kandungan Pati Dalam Batang Tanaman


Aren (Arenga pinnata), Jurnal Ilmiah Sains, Vol 12, No 2,
Halaman 1-4, FMIPA Universitas Sam Ratulangi, Manado.

Ompusunggu, H, dkk 2012, Kajian Biomedik Enzim Amilase dan


Pemanfaatannya Dalam Industri, Universitas Sumatera Utara,
Medan.

Sebayang, F 2005, Isolasi dan Pengujian Aktivitas Enzim -Amilase


Dari Aspergillus Niger dengan Menggunakan Media Campuran
Onggok dan Dedak, Jurnal Komunikasi Penelitian, Vol 17 (5),
Hal 1,3 dan 4, Departemen FMIPA USU, Sumatera Utara.

Soewoto, H, dkk 2000, Biokimia Eksperimen Laboratorium, Widya Medika,


Jakarta.

C5 C6 ROSTINA HARDIANTI