Anda di halaman 1dari 10

Tugas PHA Kelompok 3

DBD DAN RUMAH SEHAT

Oleh:

Rezky Novia Indriani, S.Ked 04084821618180


Fachra Afifah Aliati, S.Ked 04084821618181
Novalia Arisandy, S.Ked 04084821618182
Vina Chanthyca Ayu, S.Ked 04084821618183
K.M. Syarif Azhar, S.Ked 04084821618188
Helen, S.Ked 04084821618184
Audy Andana Rosidi, S.Ked 04084821618185
Ignatius Aldo Winardi, S.Ked 04084821618189
Intan Fajrin Karimah, S.Ked 04084821618186
Dita Nurfitri Zahir, S.Ked 04084821618187
Achmar Randi Raharjo, S.Ked 04084821618191
Muthia Ramadhina, S.Ked 04084821618190

Pembimbing:

Mariana, SKM, M.Kes

DEPARTEMEN IKM-IKK
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
TUGAS KELOMPOK 3

Soal: Terdapat kesimpulan penelitian bahwa Semakin banyak rumah sehat semakin tinggi
insiden DBD:
a) Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara insidens rate dengan proporsi
rumah sehat tahun 2009 (p=0.000; r=0.376).
b) Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara insidens rate pada tahun 2010
dan proporsi rumah sehat pada tahun 2010 (p=0.000; r=0.406).
c) Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara insidens rate pada tahun 2011
dan proporsi rumah sehat pada tahun 2011 (p=0.000; r=0.395).
d) Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara insidens rate pada tahun 2012
dan proporsi rumah sehat pada tahun 2012 (p=0.002; r=0.298).

Hasil penelitian : a) Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara insidens
rate dengan proporsi rumah sehat tahun 2009 (p=0.000; r=0.376).
b) Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara insidens
rate pada tahun 2010 dan proporsi rumah sehat pada tahun 2010
(p=0.000; r=0.406).
c) Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara insidens
rate pada tahun 2011 dan proporsi rumah sehat pada tahun 2011
(p=0.000; r=0.395).
d) Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara insidens
rate pada tahun 2012 dan proporsi rumah sehat pada tahun 2012
(p=0.002; r=0.298).
Penelitian terdahulu Hasil penelitian Ismah pada tahun 2014 didapatkan kejadian DBD
paling banyak terjadi di rumah yang sehat. Hal ini terlihat dari
angka Insiden Rate DBD yang paling tingi terjadi pada tahun 2009,
dimana jumlah rumah sehat lebih banyak dibandingkan tahun
lainnya. Pada tahun 2012, Insiden Rate lebih rendah dibandingkan
tahun 2009 dan ditemukan persentase rumah tidak sehat lebih
banyak. Hasil penelitian lain juga sejalan dengan penelitian ini,
Octaviana (2007) menyatakan bahwa daerah endemis DBD adalah
daerah yang biasanya memiliki kondisi fisik rumah yang lebih baik
daripada wilayah sporadis yang dominan kondisi rumahnya buruk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara insiden DBD dan proporsi rumah sehat, diaman
pada umumnya dinding rumah dan lantai kelompok penderita DBD
20% lebih memiliki atap rumah asbes. Lebih dari 5% rumah
terdapat jentik pada kontainer di dalam rumah dan lebih dari 20%
memiliki pencahayaan di dalam rumah dan ventilasi yang cukup
atau kurang (Wahyono, 2010).
Program pada Variabel yang paling berperan dalam meningkatkan risiko kejadian
penelitian DBD di Kabupaten Aceh Besar adalah suhu udara di dalam rumah
terdahulu /pedoman yang optimal untuk perkembangan nyamuk ( 25 - 30C), keberadaan
penanggulangan breeding place di lingkungan rumah dan kebiasaan membersihkan
dari dari negara lain tempat penampungan air lebih dari 7 hari sekali. Perlu kerjasama
atau daerah lain lintas sektor untuk memperhatikan kondisi sanitasi lingkungan
sehingga tidak menjadi tempat yang baik (breeding place) untuk
berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti. Memberikan penyuluhan
pada masyarakat yang berfokus pada sumber permasalahan, dan
masyarakat agar dapat mencegah terjadinya penularan DBD dengan
memutuskan rantai penularan melalui kegiatan 3 M Plus.
(Wahyuningsih dkk, 2014)
Program lain yang dilakukan di Indonesia antara lain di Kota
Mojokerto diberikan nama gerakan pemberantasan sarang nyamuk 60
menit. Kegiatan ini diberikan nama gerakan pemberantasan sarang
nyamuk 60 menit. Kegiatan ini dipadukan dengan PHBS setiap hari
Jumat. Kegiatan program tersebut antara lain (Simanjuntak dkk,
2007):
1. Tahapan Kegiatan
- Sosialisasi tim pengendali koa dan tim kecamatan, RT/RW,
kepala sekolah dan lintas sektor
- Pelatihan kader jumantik oleh tim PKK
- Perancangan gerakan jumat bersih berseri + PSN 60 menit
2. Pelaksanaan
- Dilaksanakan berupa PSN serentak ditandai bunyi sirene
- Monitoring akan dilakukan oleh kader dengan mengunjungi
rumah
- RT yang berjumlah dibawah 30 KK maka jumlah rumah yang
dikunjungi sebanyak 10 rumah, sedangkan RT yang
berjumlah diatas 30 KK maka rumah yang dikunjungi
sebanyak 20 rumah.
- Rumah yang ditemukan jentik akan diberikan bendera merah
dan diberikan penyuluhan keluarga
- Kader memberikan laporan tertulis kepada RW pada hari itu
juga
- Walikota secara langsung mengunjungi beberapa rumah
penduduk bersama kader
3. Pendukung
- Dukungan pemerintah
- Kader dilengkapi sarana dan prasarana
- Kader diberikan penghargaan
- Evalusi kegiatan diadakan seperti Lomba PSN (evaluasi
kegiatan)
Program dari KLB DBD dapat dihindari bila Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan
pemerintah pengendalian vektor dilakukan dengan baik, terpadu, dan
Indonesia berkesinambungan. Pengendalian vektor melalui surveilans vektor
diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 581 tahun 1992
tentang DBD dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 374 tahun 2010
tentang pengendalian vektor, bahwa kegiatan pemberantasan sarang
nyamuk (PSN) dilakukan secara periodik oleh masyarakat yang
dikoordinir oleh RT/RW dalam bentuk PSN dengan pesan inti 3M
plus. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur dengan
Angka Bebas Jentik (ABJ). Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95%
diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.
Metoda yang dipakai adalah pengendalian vektor terpadu.
Pengendalian vektor terpadu merupakan kegiatan terpadu dalam
pengendalian vektor sesuai dengan langkah kegiatan menggunakan
satu atau kombinasi beberapa metode. Beberapa metode pengendalian
vektor sebagai berikut:
1. Metode pengendalian fisik dan mekanis. Contohnya modifikasi
dan manipulasi lingkungan tempat perindukan, pemasangan
kelambu, penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk, dan
pemasangan kawat kasa.
2. Metode pengedalian dengan menggunakan agen biotik, seperti
predator pemakan jentik
3. Metode pengendalian secara kimia, seperti surface spray (IRS),
kelambu berinsektisida, larvasida, space spray (pengkabutan
panas/fogging dan dingin/ULV, dan insektisida rumah tangga.
Pembahasan Dalam UU No.4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman,
sinkronisasi teori, rumah sehat adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai
penelitian terdahulu, lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi
program pemerintah dengan prasarana dan sarana lingkungan. Berdasarkan beberapa
dan kenyataan penelitian tersebut didapatkan hubungan yang signifikan secara
dilapangan statistik antara insidens rate dengan proporsi rumah sehat pada
penelitian tahun 2009, 2010, 2011 dan 2012. Rumah sehat merupakan
bangunan tempat tinggal yang memenuhi syarat kesehatan yaitu
rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat
pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi yang
baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang
tidak terbuat dari tanah. Nyamuk aedes agypti berkembang biak di
tempat penampungan air seperti bak mandi, drum, tangki, vas bunga,
dan lain-lain.
Dari penelitian Scmith (2004), Hasyim (2010), Adifian (2013), dan
Sukamto (2007) menyatakan bahwa kejadian DBD tinggi pada rumah
sehat dikarenakan vektor aedes aegypti lebih menyukai air bersih
untuk bertelur. Keberadaan air bersih tentunya banyak ditemukan di
rumah-rumah sehat dan lingkungan yang tidak kumuh.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Ismah tahun 2014,
masyarakat di daerah Seberang Ulu adalah masyarakat asli Kota
Palembang. Masyarakat di daerah Seberang Ulu masih bertahan
dengan budaya asli yaitu tinggal diperumahan adat, yaitu Rumah
Panggung. Rumah panggung tidak memiliki saluran air hujan,
sehingga air hujan turun langsung di serap ke tanah. Air hujan yang
tidak sempat tertampung di tendon air, menyebabkan air tidak menjadi
tempat potensial perindukan nyamuk. Dari zaman Sriwijaya wilayah
Seberang Ilir merupakan daerah yang lebih maju daripada Seberang
Ulu. Rata-rata masyarakat Seberang Ilir merupakan masyarakat
pendatang dari luar Kota Palembang. Masyarakat di daerah ini banyak
membangun dan menempati rumah-rumah permanen.
Menurut WHO tahun 2010, sarang telur Aedes aegypti paling banyak
ditemukan di negara-negara Asia Tenggara adalah pada tendon air
rumah tangga buatan manusia. Selain itu, wadah penampungan air
juga menjadi sarang telur Aedes aegypti. Wadah air tersebut
mencakup semua wadah yang ada di sekitar perkotaan (rumah tangga,
lokasi pembangunan, pabrik) seperti kendi air, pot bunga, vas bunga,
bak mandi semen, ban, kaleng, ember, cangkir plastik, aki bekas, pipa
pembuangan, dan perangkap semut. Rumah yang berbentuk permanen
justru kemungkinan menambah tempat bertelur nyamuk. Tipe
bangunan seperti, menurut WHO (2010) adalah bangunan yang justru
menambah tempat penampungan buatan manusia sehingga tempat
perindukan nyamuk semakin banyak. Hasil penelitian ini sejalan
dengan hasil penelitian Admiral (2010), bahwa secara spasial
bangunan yang tergolong tinggi atau banyak biasanya memiliki jentik
yang tinggi.
Oleh karena itu, pada tempat tinggal atau bangunan bertingkat,
populasi per unit area menjadi lebih tinggi, dengan demikian data
survei untuk tempat tinggal atap tunggal dan bangunan harus dibuat
terpisah. Kejadian DBD yang tinggi di Kota Palembang secara umum
terjadi di daerah yang jauh dari aliran Sungai Musi (Seberang Ilir),
sedangkan kejadian DBD yang rendah terjadi di Seberang Ulu. Warga
Seberang Ulu tinggal di sepanjang Sungai Musi, mereka jarang
menggunakan tempat penampang air. Mereka lebih banyak
menggunakan sungai musi secara langsung untuk keperluan sehari-
hari seperti mandi, memasak, dan mencuci. Akan tetapi, warga yang
berada di Seberang Ilir (khususnya dari pusat kota ke Utara Kota)
merupakan daerah yang tidak dilalui oleh sungai musi dan merupakan
wilayah terkering dibandingkan wilayah di bagian Kota Palembang
lainnya.
Diperkuat oleh BPTKL Kota Palembang yang melaksanakan survei
jentik Kota Palembang tahun 2013 didapatkan bahwa kebanyakan
jentik DBD banyak ditemukan pada tempat penampungan air buatan
manusia. Penampungan air yang banyak ditemukan jentik baik berupa
mandi, ember,tempayan.
Hasil penelitian Lasut (2009) menyatakan bahwa kejadian DBD
banyak terjadi pada masyarakat yang suka menampung air bersih.
Kemudian didukung hasil penelitian Zainudin (2003) menyatakan
bahwa Negara Mali, Volta, Ghana, Togo termasuk dalam negara yang
ditemukan kejadian DBD yang tinggi. Negara ini memiliki
penyimpanan air domestik dengan menggunakan penampungan air
yang besar. Sedangkan Negara Afrika Timur, Madagaskar ditemukan
Aedes dengan jumlah yang sedikit karena penduduknya menggunakan
wadah yang kecil untuk penampungan air.
Berdasarkan penelitian Taviv tahun 2010, Kota Palembang memiliki
program pencegahan yang berbeda dari daerah lain. Program
pencegahan yang berbeda dari daerah lain. Program kegiatan tersebut
adalah seperti pendistribusian iwak tempalo atau ikan cupang oleh
Pemerintah Kota Palembang. Kegiatan ini sepertinya sudah cukup
efektif, namun masih perlu pengawasan dan evaluasi oleh Dinas
Kesehatan Kota Palembang.
Argumentasi anda Dari beberapa ulasan mengenai insidensi DBD yang semakin
meningkat di kota Palembang, peneliti dapat menyimpulkan beberapa
saran kepada pemerintah kota Palembang melakukan penyuluhan
kepada masyarakat mengenai tindakan preventif terhadap kasus DBD.
Intervensi pada perubahan tipe perumahan sangatlah tidak
memungkinkan. Program penatalaksanaan difokuskan pada perbaikan
suplai dan penyimpanan air. Program ini dimaksudkan supaya
masyarakat mengurangi kebiasaan menyimpan air dengan cara
menampungnya dengan wadah-wadah air yang besar. Namun, bisa
juga dibuat inovasi pada penyimpanan air agar tidak menjadi habitat
larva. Contohnya, wadah penampungan air dibuat menjadi
antinyamuk. Wadah ini dibuat dengan lubang yang memungkinkan air
hujan masuk, namun mencegah nyamuk dewasa keluar.
Salah satu program yang dilakukan pemerintah Kota Palembang
adalah dengan pembagian iwak tempalo, namun berdasarkan data
yang diambil dari salah satu puskesmas di Kota Palembang, iwak
tempalo yang didistribusikan oleh Dinas Kesehatan tidak dapat
bertahan hidup lama. Hal ini dikarenakan masyarakat kurang
memahami cara memelihara ikan tersebut. Oleh karena itu, kegiatan
ini perlu dikolaborasikan dengan kegiatan PSN 60 menit karena di
dalam kegiatan ini dapat ditambahkan kegiatan monitoring terhadap
kondisi iwak tempalo yang sudah dibagikan pada saat kunjungan
kader ke rumah warga.
Cara yang paling tepat dan sederhana adalah dengan memberantas
jentik- jentik nyamuk Aedes aegypti di tempat berkembang biaknya.
Cara ini dikenal dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) DBD
secara teratur sekurang- kurangnya seminggu sekali.
PSN-DBD dapat dilakukan dengan cara :
a. Fisik
Cara ini dikenal dengan 3 M :
1. Menguras dan menyikat bak mandi, WC dan lain-lain,
2. Menutup tempat penampungan air di rumah tangga seperti
tempayan, drum dan lain-lain,
3. mengubur, menyingkirkan dan memusnakan barang-
baranag bekas seperti kaleng, ban, barang plastic dan lain-
lain.
b. Kimia
Cara memberantas jentik dengan menaburkan bubuk abate
pada tempat-tempat penampungan air yang sulit dikuras dan di
daerah yang air besihnya sulit di dapat sehingga perlu
penampung air hujan. Takaran yang dipakai adalah 1 sendok
makan per es untuk 100 liter air.
c. Biologi
Cara memberantas jentik dengan cara memelihara ikan
pemakan jentik seperti ikan kepala timah, ikan gupi, ikan
cupang/tempalo dan lain-lain. Serta untuk membantu proses
dalam mengurangi angka DBD dapat dilakukan tindakan
sebagai berikut:
1. Membangun komitmen yang kuat antara pemerintah
daerah dengan masyarakat untuk kegiatan pemberantasan
jentik nyamuk misalnya dengan penerapan sanksi atau
hukuman apabila ditemukan jentik disekitar rumah.
Disetiap pemeriksaan jentik berkala, kader dapat diminta
untuk mencatat rumah-rumah yang ditemukan jentik. Hasil
pemeriksaan tersebut segera dilaporkan kepada ketua RT.
Bentuk sanksi atau hukuman yang diberikan bisa
mencontoh dari program PSN 60 menit Kota Mojokerto,
yaitu dengan memberikan bendera merah pada rumah
tersebut. Dengan demikian pemilik rumah akan merasa
malu dan segera membersihkan rumahnya dari jentik.
2. Perlu menjalin kemitraan antara pemerintah dengan
berbagai kalangan antara dengan Lintas Program dan
Lintas sektor terkait serta organisasi profesi dan organisasi
kemasyarakatan dalam rangka penggerakan peran serta
aktif masyarakat.
Kepada Dinas Kesehatan Kota Palembang disarankan untuk
melakukan intervensi pencegahan penyakit DBD dapat berupa
menggalakkan kegiatan PSN DBD dan difokuskan pada pelestarian
iwak tempalo, perbaiki suplai dan penyimpanan air agar masyarakat
tidak menampung air pada wadah-wadah yang besar.
DAFTAR PUSTAKA

1. Adifian, U. F. 2011. Dasar-dasar Penyakit Berbasis Lingkungan. Jakarta: PT Raja


Grafindo Persada
2. Admiral. 2007. Analisis Spasial Area Makam dan Faktor Risiko Lainnya Penyakit
Demam Berdarah Dengue di Kota Administrasi Jakarta Selatan. Tesis
3. Ismah Z. 2014. Distribusi Spasiotemporal Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009-2013. Skripsi. UIN;
Jakarta
4. Hasyim, H. 2009. Analisis Spasial DBD di Provinsi Sumatera Selatan 2003-2007.
Jurnal Kesehatan Indonesia
5. Lasut D. 2009. Karakteristik dan Pergerakan Sebaran Penderita DBD Berdasarkan
Geographic Information System Sebagai Bagian Sistem Informasi Surveilans di
Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat. Loka Litbang
P2B2 Ciamis
6. Octaviana, D. 2007. Faktor Risiko Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di
Wilayah Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobongan Jawa Tengah. Tesis
7. Schmidt W. 2011. Population Density, Water Supply, and the Risk of Dengue Fever
ini Vietnam: Cohort Study and Spatial Analysus. Plos Medicine. Volume 8.
8. Simanjuntak R. Mujiwati S., dan Murtini S. 2007. Kecil Kotanya Tidak Kecil
Semangatnya. Jumat Berseri + PSN 60 Menit, Kota Mojokerto Mencegah Kejadian
DBD. Jakarta: Depkes RI
9. Sukamto. 2007. Studi Karakteristik Wilayah dengan Kejadian DBD di Kecamatan
Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap. Tesis
10. Taviv Y. 2004. Efektifitas Ikan Cupang (Ctenops Vitatus) dalam Pengendalian Larva
dan Daya Tahannya Terhadap Temephos (Uji Laboratorium dan Lapangan). Loka
Litbang P2B2 Baturaja
11. Wahyono T. Y. 2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Demam
Berdarah dan Upaya Penanggulangannya di Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa
Barat. Buletin Jendela Epidemiologi
12. Wahyuningsih N.E., Sofia S. 2014. Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah dan
Prilaku Keluarga dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Aceh
Besar. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia. Vol. 13 No.1
13. WHO. 2010. Demam Berdarah Dengue Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan, dan
Pengendalian. Jakarta: EGC
14. Zainudin. 2003. Analisis Spasial Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota
Bekasi Tahun 2003. Tesis