Anda di halaman 1dari 9

UNIVERSITAS PANCASILA

PROGRAM MAGISTER ILMU KEFARMASIAN

PROPOSAL TESIS

ANALISA BEBAN KERJA DAN KEBUTUHAN TENAGA DI INSTALASI FARMASI DI


RSUD JP PROVINSI DKI JAKARTA. TIPE D DKI JAKARTA

oleh :

Hanief Mulia Ar-rosyid


NPM : 5414221093

Di susun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar


Magister Farmasi Pada Universitas Pancasila

JAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut undang undang nomor 44 Tahun 2009, Rumah Sakit adalah institusi pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Berbagai Jenis tenaga
kesehatan dengan perangkat keilmuan yang beragam, berineraksi satu sama lain. Ilmu
pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat yang perlu diikuti oleh tenaga kesehatan
dalam rangka pemberian pelayanan yang bermutu standar, membuat semakin kompleksnya
permasalahan di rumah sakit. (Depkes RI 2007).
Pelayanan Kefarmasian di rumah sakit merupakan salah satu kegiatan dirumah sakit
yang akan menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Hal tersebut juga diperjelas dalam
permenkes no 72 tahun 2016 mengenai Standar Pelayanan Kefarmasian Rumah Sakit yang
bertujuan untuk:
a. Meningkatkan mutu Pelayanan Kefarmasian;
b. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian; dan
c. Melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan Obat yang tidak rasional dalam
rangka keselamatan pasien (patient safety).
Adanya tuntutan masayarakat ataupun pasien mengenai mutu pelayanan farmasi, dan
perubahan paradigma lama yang drug orientend menuju patient oriented atau disebut dengan
filosofi Pharmaceuitcal Care, mengharuskan tenaga profesional kefarmasian bekerja secara
efesien, baik dalam melakukan pelayanan klinis ataupun perbekalan kefarmasian. (Binfar
Kemenkes, 2016)
Standar pelayanan farmasi di Apotek secara khusus dibuat dalam Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 72 tahun 2016, tercantum bahwa farmasi dalam hal ini
Apoteker harus memberikan pelayanan obat dan pelayanan klinik. Pelayanan obat mencakup
penjaminan mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian,
dan pengelolaan obat. Sedangkan pelayanan klinik mencakup pengkajian resep, dispensing,
pelayanan informasi obat (PIO), konseling, pelayanan kefarmasian di rumah (home
pharmacy care), pemantauan terapi obat (PTO), dan monitoring efek samping obat
(Permenkes RI No.72, 2016).
Saat ini masih banyak rumah sakit di Indonesia yang belum melakukan kegiatan
pelayanan kefarmasian seperti yang diharapkan, di karenakan beberapa kendala diantaranya
kemampuan/skill tenaga farmasi, kurangnya pengetahuan terkait manajemen farmasi rumah
sakit, kebijakan tiap tiap rumah sakit, dan terbatasnya pengetahuan pihak pihak terkait
mengenai pelayanan kefarmasian di rumah sakit. Hal ini mengakibatkan farmasi rumah sakit
masih bersifat konvensional yang hanya berorientasi pada ketersediaan obat atau alat
kesehatan serta pendistribusiannya.
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah bagian yang bertanggung jawab terhadap
pengelolaan perbekalan farmasi, sedangkan Komite Farmasi dan Terapi adalah bagian yang
bertanggung jawab dalam penetapan formularium. Agar pengelolaan perbekalan farmasi dan
penyusunan formularium di rumah sakit dapat sesuai dengan aturan yang berlaku, maka
diperlukan adanya tenaga yang profesional di bidang tersebut. Untuk menyiapkan tenaga
profesional tersebut diperlukan berbagai masukan diantaranya adalah tersedianya pedoman
yang dapat digunakan dalam pengelolaan perbekalan farmasi di IFRS. Gambaran umum
pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit pemerintah di Indonesia pada umumnya
masih banyak mengalami kekurangan. Diantara kekurangan yang sangat mencolok antara
lain:
a. Keterbatasan sumber daya manusia baik dari aspek jumlah maupun mutu terutama di
sebagian besar rumah sakit di Kabupaten/Kota.
b. Keterbatasan sumber pendanaan, dimana sebagian kecil saja kebutuhan anggaran obat
yang dapat dipenuhi oleh pemerintah daerah.
c. Keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan obat, dimana hal ini berpengaruh
terhadap mutu obat yang sudah diadakan.
d. Komitmen dari Pemda untuk menyediakan anggaran, sarana, dan tenaga. (Dirjen Binfar,
2010)
Salah satu indikator keberhasilan rumah sakit yang efektif dan efisien dalam
pengelolaan farmasi di rumah sakit adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang
cukup dengan kualitas yang tinggi, professional sesuai dengan fungsi dan tugas setiap
personel. Ketersediaan SDM rumah sakit disesuaikan dengan kebutuhan rumah sakit
berdasarkan tipe rumah sakit dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Untuk itu
ketersediaan SDM di rumah sakit harus menjadi perhatian pimpinan. Salah satu upaya
penting yang harus dilakukan pimpinan rumah sakit adalah merencanakan kebutuhan SDM
secara tepat sesuai dengan fungsi pelayanan setiap unit, bagian, dan instalasi rumah sakit
(Ilyas, 2011).
Salah satu upaya penting yang dapat dilakukan oleh rumah sakit untuk menjawab
tantangan tersebut adalah dengan merencanakan kebutuhan sumber daya manusia yang
dimilikinya secara tepat sesua dengan fungsi pelayanan setiap unit, bagian dan instalasi
rumah sakit. Dapat disimpulkan bahwa SDM merupakan kunci keberhasilan dari suatu
organisasi karena SDM yang berkalitas dan memiliki kemampuan kompetitif akan dapat
melaksanakan fungsi dari orgnisasi (Indriana, 2009)
Karena begitu besarnya peranan instalasi farmasi dalam menunjang kegiatan
operasional rumah sakit maka perencanaan kebutuhan SDM nya harus sesuai dengan
kebutuhan, baik dari segi jenis dan jumlahnya. Untuk itu harus dilakukan analisis kebutuhan
tenaga, karena kelebihan tenaga akan mengakibatkan terjadinya penggunaan waktu kerja
yang tidak produktif atau sebaliknya kekurangan tenaga akan mengakibatkan beban kerja
yang berlebihan.
Instalasi Farmasi RSUD JP Provinsi DKI Jakarta. merupakan salah satu unit penunjang
medis di Provinsi Jakarta, yang merupakan rumah sakit khusus milik pemerintah bertipe D
dengan kapasitas 40 tempat tidur, memiliki pelayanan 24 Jam diantaranya, poli umum,
IGD/UGD Poli gigi, Poli Penyakit Dalam, Poli Kebidanan, Farmasi, Gizi dan Laboratorium.
Instalasi Farmasi RSUD JP Provinsi DKI Jakarta. merupakan unit fungsional yang
bertanggung jawab kepada direktur melalui kepala seksi penunjang medis, dengan tugas
pokok dan fungsinya yang menunjang kegiatan operasional rumah sakit.
Berdasarkan wawancara Apoteker penanggung jawab setempat, sumber daya manusia
di RSUD JP Provinsi DKI Jakarta. saat ini berjumlah 5 orang dengan rincian 1 orang
Apoteker Penanggung Jawab, 2 Apoteker pendamping, 2 Asisten Apoteker dengan
pembagian shift kerja antara lain: 2 Pagi, 1 Siang, dan 1 malam. Berikut uraian kerja/ job
description untuk instalasi farmasi RSUD JP Provinsi DKI Jakarta.:

Kepala Instalasi Farmasi Apoteker pendamping Tenaga Teknis Kefarmasian


Bertanggung jawab atas Perencanaan dan Pengadaan Melakukan pelayanan Resep
hasil kerja satu orang atau a. Merencanakan kebutuhan rawat jalan, rawat inap dan IGD
lebih dari suatu organisasi perbekalan farmasi secara
optimal
b. Menyiapkan perencanaan
kebutuhan rutin perbekalan
c. Mengadakan perbekalan
farmasi
Penentu kebijakan Penerimaan dan Penyimpanan Melaksanakan pengiriman
a.Melaksanakan penerimaan perbekalan farmasi ke unit-unit
perbekalan farmasi yang distribusi
diadakan di RS
b.Melaksanakan penyimpanan
perbekalan farmasi yang
dimiliki RS
c. Penerimaan pengeluaran dari
persediaan perbekalan
farmasi yang ada di
gudang perbekalan
Mengayomi farmasis guna Pelayanan Rawat Jalan dan rawat Menyusun daftar perbekalan
mendapatkan hasil kinerja inap farmasi kosong setiap hari
yang baik a.Melakukan konseling dan
informasi obat ke pasien
rawat jalan
b.Melakukan indent (pemesanan
ke gudang farmasi) untuk
stock di depo rawat jalan
c.Melakukan pemantauan
karyawan di IFRS rawat
jalan dan rawat inap
d.Menerima arahan dan
melaporkan kepada kepala
IFRS segala pelaksanaan
tugas
e. Melaporkan kepala IFRS segala
pelaksanaan tugas
Memonitor segala kegiatan Mengerjakan pembuatan
farmasi persediaan obat
Membuat plan kerja untuk Melakukan stock opname obat
mengembangkan farmasi di rawat jalan, rawat inap dan
Rumah Sakit untuk gudang obat
menjamin kualitas
pelayanan yang baik
Melakukan pelaporan resep Mencatat dan membuat laporan
narkotika dan psikotropika resep.

Membantu segala kegiatan


Apoteker terkait pekerjaan dan
pelayanan kefarmasian.

Apoteker penanggung jawab RSUD JP Provinsi DKI Jakarta. juga menjelaskan kendala
yang dihadapi saat ini adalah, pada saat shift tunggal apabila terjadi kehabisan stok di depo
farmasi (rawat jalan), yang mengakibatkan terjadi pelayanan resep yang cukup lama
dikarenakan harus melakukan mutasi barang dari Gudang ke depo farmasi dan menurut
standar pelayanan yang diterapkan di RSUD JP Provinsi DKI Jakarta., pelayanan resep obat
non racikan memakan waktu maksimal 15 menit, dan obat racikan maksimal 30 menit.
Ditemukan juga komplain secara lisan dari pasien dan perawat mengenai waktu tunggu obat
yang lama dan penggantian alat kesehatan habis pakai yang di gunakan untuk tindakan, serta
seringnya para petugas di instalasi farmasi melakukan lembur dengan tambahan waktu kerja
rata-rata 2-3 jam dari jam kerja normal, serta belum teraturnya mengenai jadwal stok
opname, pendistribusian obat ke depo farmasi, dan kontrol amprahan alat kesehatan dan obat
yang dapat mengakibatkan hilang obat.
Hasil wawancara lanjutan menurut standar pelayanan farmasi rumah sakit tentang
administrasi dan pelaporan, bahwa farmasi perlu melakukan pencatatan dan pelaporan
mengenai obat yang masuk dan keluar. Dari data administrasi laporan pengiriman pemakaian
obat psikotropik dan Narkotika yang dilakukan oleh instalasi farmasi RSUD JP Provinsi DKI
Jakarta. terlambat. Seharusnya laporan dikirim setiap bulan tapi pada kenyataannya laporan
belum dikirim selama 2 bulan terakhir.
Dari masalah yang telah diuraikan diatas, jelas bahwa instalasi farmasi RSUD JP
Provinsi DKI Jakarta. membutuhkan penghitungan beban kerja dan kebutuhan tenaga untuk
menunjang kegiatan pelayanan di instalasi farmasi, sehingga standar mutu pelayanan akan
tercapai sepenuhnya dan komplain tidak lagi didapatkan. Untuk itu penulis tertarik untuk
meneliti tentang Analisa Beban Kerja Dan Kebutuhan Tenaga Di Instalasi Farmasi Di
RSUD JP Provinsi DKI Jakarta. Tipe D di DKI Jakarta, dengan metode Workload Indicator
Staff Needs(WISN). WISN adalah suatu metode perhitungan kebutuhan SDM berdasarkan
pada beban pekerjaan yang nyata dilaksanakan oleh setiap kategori SDM pada tiap unit kerja
di fasilitas pelayanan kesehatan (Permenkes No.81/MENKES/SK/I/2004). Ada beberapa
alasan perhitungan kebutuhan tenaga farmasi dengan metode WISN, yakni:
1) Metode WISN merupakan pedoman penyusunan perencanaan sumber daya manusia
sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
81/MENKES/SK/I/2004.
2) Perhitungan kebutuhan tenaga menggunakan metode WISN dapat menjawab
permasalahan yang ditemukan di RSUD JP Provinsi DKI Jakarta., dimana keluhan
dominan dari tenaga farmasi adalah banyaknya pekerjaan administratif dan beban kerja
yang berlebih. Dengan perhitungan menggunakan WISN akan diketahui presentasi
produktifitas dan beban kerja yang disarankan.
3) Metode WISN mudah dioperasikan, mudah digunakan, secara teknis mudah diterapkan,
realistis, dan komprehensif, dan
4) Pihak manajemen RSJD Provinsi Lampung mendukung penelitian mengenai analisis
kebutuhan tenaga farmasi untuk perencanaan tenaga SDM. Sehingga dengan penelitian
ini diharapkan dapat menjadi masukan yang berharga bagi RSUD JP Provinsi DKI
Jakarta. dalam perencanaan ketenagaan sebagai dasar perencanaan tenaga untuk unit-unit
lain yang ada di RSUD JP Provinsi DKI Jakarta.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka penelitit menyusun
serangkaian rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:
1) Adanya komplain pelayanan instalasi farmasi dari pasien dan perawat mengenai waktu
tunggu obat yang lama dan penggantian alat kesehatan habis pakai yang di gunakan
untuk tindakan,
2) Seringnya para petugas di instalasi farmasi melakukan lembur dengan tambahan waktu
kerja rata-rata 2-3 jam dari waktu kerja normal.
3) Laporan pengiriman pemakaian/laporan administrasi obat psikotropik dan Narkotika
yang dilakukan oleh instalasi farmasi RSUD JP Provinsi DKI Jakarta.yang terlambat.
4) Belum teraturnya mengenai jadwal stok opname, pendistribusian obat ke depo farmasi,
dan kontrol amprahan di ruang yang ditetapkan.
C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini hanya dilakukan di RSUD JP Provinsi DKI Jakarta.dan hanya menganalisa
pada sumber daya manusia di Instalasi Farmasi.

D. Pertanyaan penelitian
1) Berapakah waktu kerja di instalasi farmasi RSUD JP Provinsi DKI Jakarta.tahun 2017?
2) Apa sajakah aktivitas pelayanan farmasi di instalasi farmasi RSUD JP Provinsi DKI
Jakarta.tahun 2017.
3) Berapakah beban kerja di instalasi farmasi RSUD JP Provinsi DKI Jakarta.tahun 2017.
4) Bera[akah jumlah kebutuhan tenaga serta spesifikasi tenaga yang dibutuhkan di instalasi
farmasi RSUD JP Provinsi DKI Jakarta.tahun 2017.
5) Faktor-faktor apa saja yang menjadi hambatan dalam pencapaian standar mutu pelayanan
di instalasi farmasi RSUD JP Provinsi DKI Jakarta.tahun 2017.

E. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya gambaran beban kerja dan kebutuhan tenaga di instalasi farmasi RSUD JP
Provinsi DKI Jakarta.
2. Tujuan Khusus
1) Diketahuinya waktu kerja di instalasi farmasi RSUD JP Provinsi DKI Jakarta.tahun
2017.
2) Diketahuinya aktivitas pelayanan farmasi di instalasi farmasi RSUD JP Provinsi DKI
Jakarta.tahun 2017.
3) Diketahuinya standar beban kerja di instalasi farmasi RSUD JP Provinsi DKI
Jakarta.tahun 2017.
4) Diketahuinya kebutuhan tenaga serta spesifikasi tenaga yang dibutuhkan di instalasi
farmasi RSUD JP Provinsi DKI Jakarta.tahun 2017.
5) Diketahuinya faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam pencapaian standar mutu
pelayanan di instalasi farmasi RSUD JP Provinsi DKI Jakarta.tahun 2017.

F. Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis
Mengembangkan suatu metode penghitungan tenaga farmasi dengan metode work
sampling dan daily log berdasarkan beban kerja disuatu rumah sakit umum daerah tipe D.
2. Secara aplikatif
a. Dapat digunakan untuk menghitung jumlah tenaga farmasi berdasarkan beban kerja
dan sesuai dengan waktu kerja.

b. Penelitian ini dapat digunakan untuk menghitung jumlah tenaga di unit lain
berdasarkan beban kerja dan sesuai dengan waktu kerja.

c. Meningkatkan kualitas pelayanan RS khususnya pelayanan farmasi di RSUD JP


Provinsi DKI Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai