Anda di halaman 1dari 15

Kode Mata Kuliah : PL-515

Mata Kuliah : Tata Letak Perumahan


Tanggal Penyerahan : 18 November 2017
Dosen : Usup H. Somantri,DIPL
LING,MSC
AsistenDosen : Maryadi Pramadjaja, IR,IAI .

LAPORAN WILAYAH PERUMAHAN SARIJADI


Tugas ini disusun guna memenuhi nilai mata kuliah Studio Tata Letak Perumahan

Oleh :
MUHAMMAD IQBAL GHIFARI 153060015
ARTIKA RAHMA DIANA 153060016
LUTHFI SULTHANTIO 153060020
ANNISA FIRDAUS 153060047
SELMA NABILA ABROR 153060074
SARAH NUR SHOFINA 153060088

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2017
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Pengertian kata dasar rumah secara hukum adalah adalah bangunan yang
berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. (UU No.
4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman). Tempat berlindung dari pengaruh
luar manusia, seperti iklim, musuh, penyakit, dan sebagainya. Untuk dapat berfungsi
secara fisiologis, rumah haruslah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang dibutuhkan,
seperti listrik, air bersih, jendela, ventilasi, tempat pembuangan kotoran dan lain-lain.
(Koesputranto, 1988). Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai
lingkungan tempal tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana
dan sarana lingkungan (UU No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman)
perumahan merupakan kebutuhan utama atau primer yang harus dipenuhi oleh
manusia.
Perumahan merupakan suatu kawasan yang fungsinya sebagai lingkungan
tempat tinggal yang tidak ditunjang oleh kegiatan untuk memenuhi prikehidupan
masyarakat penghuni kawasan tersebut. Sehingga, untuk menciptakan dan
menghasilkan kawasan perumahan yang nyaman, enak, aman, dan berwawasan
lingkungan diperlukannya suatu penataan baik berupa bangunan, sistem utilitas
lingkungan juga diperlukan suatu rencana pemanfaatan dan pengendalian terhadap
suatu kawasan perumahan, sehingga kawasan perumahan tersebut menjadi layak
sebagi tempat tingga. Adapun kegiatan yang ada dalam pemilihan Tapak terkait meliputi
kegiatan : inventarisasi kondisi lingkungan, memperkirakan dampak, mempelajari faktor
ancaman pada tapak. Rumah merupakan kebutuhan dasar/pokok manusia setelah
pangan dan sandang yang tidak dapat ditunda pemenuhannya terutama di perkotaan,
baik di kota besar maupun di kota kecil.
Perumahan setiap tahunnya semakin meningkat sehingga perlu dilakukan
pengawasan dan pengaturan dari pihak pemerintah agar peruntukan lahannya bisa
bermanfaat, adil dalam artian bisa dinikmati oleh setiap golongan (atas,menengah dan
bawah), dan merata.
Jumlah penduduk perkotaan saat ini sudah mencapai dari 50% dari total penduduk
Indonesia. Pesatnya perkembangan penduduk perkotaan tersebut, yang umumnya
berasal dari urbanisasi tidak selalu dapat diimbangi oleh kemampuan pelayanan kota
sehingga telah berakibat pada semakin meluasnya lingkungan permukiman. Kondisi ini
dapat ditunjukan melalui fakta wilayah pengembangan Tegallega yang dulunya wilayah
konservasi menjadi wilayah perumahan dan permukiman yan padat sehingga perlu di
tata dan direncanakan.
Berdasarkan dasar hukum pasal 62 UU No 1/2011 tentang perumahan dan
permukiman aspek yang diatur penyelenggaraan bimbingan, bantuan dan kemudahan
mengenai peningkatan kualitas permukiman oleh pemerintah berupa kegiatan perbaikan
dan pemugaran, peremajaan, serta pengelolaan dan pemeliharaan yang berkelanjutan.
Berdasarkan pasal 62 UU No 1/2011 tentang perumahan dan Permukiman ketentuan
penetapan permukiman kumuh oleh Pemda dan upaya pelaksanaan program
peremajaan lingkungan kumuh bersama dengan masyarakat.
Jumlah perumahan yang terdapat di Kota Bandung sudah dapat dikategorikan
banyak dengan tersebar pada setiap wilayah. Salah satunya yaitu yang terdapat di WP
Sarijadi.

1.2 Tujuan dan Sasaran


1.2.1 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan kawasan perumahan yang aman,
sehat, rindang dan indah yang berwawasan lingkungan dengan memanfaatkan potensi
yang ada secara optimal adalah untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat
menengah terhadap kebutuhan perumahan.
1.2.2 Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai dalam studi ini adalah :
Identifikasi kondisi fisik Kawasan Sarijadi.
Identifikasi penggunaan lahan di lingkungan Perumahan Sarijadi.
Identifikasi sarana dan prasarana perumahan.
Penyusunan konsep tapak.
Perancangan konsep tapak.
Penyusunan site plan.

1.3 Ruang Lingkup


1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah yang dikaji dalam pengerjaan laporan ini yaitu WP Sarijadi,
Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. WP Sarijadi merupakan wilayah kajian
dalam melakukan perencanaan tata letak perumahan, karena wilayah tersebut masih
memiliki potensi untuk pengembangan perumahan.
1.3.2 Ruang Lingkup Substansi
Ruang lingkup materi yang dijadikan teori dalam pengembangan kawasan
perumahan yang yang aman, sehat, rindang dan indah berwawasan lingkungan dengan
memanfaatkan potensi yang ada secara optimal adalah perencanaan kawasan
perumahan yang terbagi menjadi :
Dasar-dasar pembentukan dan karakteristik lingkungan perumahan.
Proses perencanaan tapak kawasan perumahan.
Rencana tapak kawasan perumahan.
Komponen dan pembiayaan pembangunan perumahan.
Evaluasi rencana tapak kawasan perumahan.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Perumahan
Mulanya pengertian rumah berangkat dari pengertian yang sangat sederhana
yang berkaitan dengan kondisi fisik rumah itu sendiri. Secara sederhana, rumah
dimengerti sebagai suatu bagian dari alat yang dibutuhkan manusia dalam upaya
mempertahankan dirinya dari gangguan dan ancaman. Selanjutnya pengertian rumah
berkembang tidak hanya digunakan sebagai alat untuk mempertahankan diri saja. Lebih
dari itu rumah juga dibutuhkan untuk menunjang proses kehidupan manusia dalam
bermasyarakat dan bersosialisasi. Dalam pengertian ini rumah diartikan sebagai suatu
ruang dimana manusia dapat hidup dan melakukan aktivitasnya baik sifatnya pribadi
maupun sosial. Kemudian pengertian rumah juga berkembang hingga rumah dijadikan
sebagai lambang status sosial atau jati diri dari penghuninya.

Pengertian perumahan adalah sekelompok rumah yang berfungsi sebagai


lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana
dan sarana lingkungan. Sedangkan kawasan adalah suatu wilayah yang mempunyai
fungsi dan atau aspek fungsional tertentu.
2.2 Fungsi Rumah
Dalam tulisanya yang berjudul Housing as a Verb Turner menjelaskan bahwa
fungsi dari rumah sangat bergantung kepada tujuan yang hendak dicapai oleh keluarga/
penghuni itu sendiri, akibatnya fungsi rumah dapat berbeda antar keluarga yang satu
dengan keluarga yang lainnya. Secara umum fungsi rumah adalah sebagai berikut:
Rumah sebagai identitas keluarga. Fungsi ini diwujudkan melalui kualitas tempat
berlindung yang disediakan oleh rumah. Semakin tinggi standar kualitas bahan
pembentuk rumah, maka identitas keluarga tersebut akan semakin tinggi.
Rumah sebagai penunjang peluang kesempatan keluarga. Dalam fungsi ini rumah
berperan dalam upaya menunjang kesempatan keluarga untuk berkembang dan
mengembangkan kemampuan dirinya baik dalam kehidupan sosial maupun
ekonomi. Fungsi ini diwujudkan dalam lokasi dimana rumah tersebut didirikan.
Rumah sebagai penunjang rasa aman dalam arti terjaminnya keadaan keluarga baik
dari lingkungan sekitar maupun hal-hal lain.
2.3 Kebijakan Pengembangan Kawasan
1. Mengembangkan kawasan perumahan dan permukiman yang terpadu dan
harmonis untuk mendukung pelaksanaan GNPSR;
2. Meningkatkan penyediaan prasarana dan sarana dasar bagi kawasan rumah
sederhana sehat, dan kualitas pelayanan prasarana dan sarana lingkungan;
3. Meningkatkan penataan dan pengendalian keserasian kawasan perumahan dan
permukiman dan penerapan pola hunian berimbang.
4. Mengembangkan kawasan perumahan berskala besar;
5. Mengembangkan lembaga yang bertanggungjawab dalam pengembangan
kawasan perumahan pada semua tingkatan pemerintahan serta fasilitasi
pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman yang transparan dan
partisipatif;
6. Meningkatkan pendayagunaan tanah untuk perumahan dan permukiman serta
menciptakan kepastian hukum dalam bermukim (secure tenure/ownership).

2.4 Kasiba dan Lisiba


a) Kasiba adalah sebidang tanah yang fisiknya telah dipersiapkan untuk
pembangunan perumahan dan permukiman skala besar yang terbagi dalam satu
lingkungan siap bangun yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan
lebih dahulu dilengkapi dengan jaringan primer dan sekunder dan prasarana
lingkungan. Jumlah unit rumah yang ditampung dalam satu Kasiba 3000 10000
unit rumah. Tujuannya adalah agar tersedia satu atau lebih Lisiba yang telah
dilengkapi dengan jaringan primer dan prasarana lingkungan untuk pembangunan
perumahan sesuai dengan rencana tata ruang.
b) Lisiba adalah sebidang tanah yang merupakan bagian dari Kasiba dan
dipersiapkan serta dilengkapi dengan prasarana lingkungan. Jumlah unit rumah
yang ditampung dalam satu Lisiba 1000 3000 unit rumah. Tujuan Lisiba adalah
agar tersedianya kavling tanah matang beserta rumah dengan pola hunian yang
berimbang, terencana dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
c) Kavling tanah matang adalah sebidang tanah yang telah dipersiapkan sesuai
dengan persyaratan pembakuan dalam penggunaan, penguasaan, pemilikan
tanah dan rencana tata ruang lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian
untuk membangun bangunan.
d) Pengelolaan Kawasan Permukiman Skala Besar (Kasiba Dan Lisiba Bs)
- Pengelolaan Kasiba dan Lisiba BS bertujuan agar tersedia satu atau lebih
Lingkungan Siap Bangun (Lisiba) yang telah dilengkapi dengan jaringan
prasarana primer & sekunder yang dibangun secara bertahap yang lokasinya
sesuai RTRW;
- Pengelolaan Lisiba adalah bagian Kasiba atau yang berdiri sendiri (Lisiba BS)
bertujuan agar tersedia kaveling tanah beserta rumah dalam pola hunian
berimbang, terencana dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
e) Komponen Kasiba & Lisiba
Komponen Kasiba
1. Rencana Rinci
2. Rencana Perolehan Tanah
3. Jaringan Primer dan Sekunder Prasarana Permukiman
Komponen Lisiba
1. Pematangan Tanah
2. Pembangunan Rumah
3. Jaringan Prasarana Lingkungan Permukiman
2.5 Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan Koefisien Lantai Bangunan
(KLB)
a) Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah besaran ruang/lahan yang digunakan
untuk bangunan dari suatu petak lahan/persil tertentu.
Besaran KDB dapat berupa bilangan prosentase (%).
b) Koefisien Lantai bangunan (KLB)
Koefisien Lantai bangunan (KLB) adalah ketinggian maksimum suatu bangunan
untuk setiap blok peruntukkan yang didasarkan pada besaran KDB yang telah
direncanakan sebelumnya. Nilai KLB dinyatakan dalam satuan angka sampai
1 desimal.
2.6 Kebijakan Makro Mengenai Perumahan dan Permukiman
Metropolitan Bandung yang wilayahnya terdiri dari Kota Bandung, Kabupaten
Bandung, dan 3 kecamatan di Kabupaten Sumedang sebagaimana tercantum dalam
Perda 2 Tahun 2003 tentang RTRWP Jawa Barat, ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan
Nasional yang mempunyai peran sebagai pintu gerbang ke kawasan-kawasan
Internasional. Sebagai PKN, Metropolitan Bandung akan berfungsi sebagai pusat jasa,
pusat pengolahan dan simpul transportasi dengan skala pelayanan nasional atau
beberapa propinsi. Pada skala regional, wilayah Metropolitan Bandung juga merupakan
kawasan andalan, yaitu kawasan yang berpotensi untuk mendorong perkembangan
ekonomi ke kawasan sekitarnya. Core business yang akan dikembangkan adalah
pariwisata, agribisnis, industri, jasa dan pengembangan sumber daya manusia.

Peran yang diemban oleh Metropolitan Bandung yang cukup berat serta
perkembangan pembangunan yang cukup pesat, menuntut adanya suatu pengaturan
yang terencana agar perkembangan kawasan ini sedapat mungkin tidak berdampak
pada pengurangan daya dukung lingkungan. Untuk itu kebijakan penataan ruang
kawasan Metropolitan Bandung sangat diperlukan untuk menjembatani kebijakan
RTRWP yang bersifat makro dengan kebijakan RTRW Kab/Kota yang bersifat parsial,
ke dalam suatu rencana kawasan yang mempunyai kedalaman yang lebih rinci namun
tetap mengatur hal-hal yang bersifat regional.

Kebijakan penataan ruang Metropolitan Bandung diharapkan dapat berfungsi


sebagai pengarah dan pengendali pertumbuhan, sehingga peran Metropolitan Bandung
sebagai PKN dapat terwujud dengan tetap memperhatikan aspek daya dukung
lingkungan. Dengan demikian, penyusunan kebijakan penataan ruang Metropolitan
Bandung perlu didasarkan pada 2 hal pokok, yaitu kebijakan yang bersifat konseptual
strategis dan kebijakan praktis. Kebijakan yang bersifat konseptual strategis lebih
diarahkan pada tujuan jangka panjang, sedangkan kebijakan praktis diarahkan pada
tujuan jangka pendek, yaitu untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi saat ini
terutama yang berkaitan dengan pemenuhan pelayanan infrastruktur makro dan
antisipasi terhadap penurunan daya dukung lingkungan Arahan Pengembangan.
2.7 Arahan Pengembangan
Pengembangan struktur ruang dilakukan melalui 3 (tiga) aspek :
a. Pengembangan Sistem Pusat-Pusat
Pengembangan sistem pusat-pusat dilakukan melalui penetapan hirarki dan fungsi
kota-kota, serta strategi pengembangan pembangunan perkotaan di masing-masing
kota.
1. Hirarki Kota, dikelompokkan kedalam 2 klasifikasi, yaitu :
a. Kota Inti
b. Sub Pusat Wilayah
2. Fungsi/Aktivitas Utama, dikelompokkan kedalam 9 (sembilan) klasifikasi,yaitu:
a. Jasa
b. Perdagangan (Grosir dan Non-Grosir)
c. Industri (Non-polutan; Industri Manufaktur; Industri Pertanian)
d. Pemerintahan
e. Pendidikan Tinggi (Negeri dan Non-Negeri)
f. Pertanian
g. Pariwisata
h. Permukiman
i. Perkebunan
3. Strategi Pengembangan Kota-Kota, dikelompokkan kedalam 4 klasifikasi, yaitu:
a. Penataan dan Pengendalian Pertumbuhan
b. Pengembangan Pertumbuhan melalui Insentif Infrastruktur
c. Pembatasan Pertumbuhan
b. Pengembangan Kawasan Khusus
Pengembangan kawasan khusus dilakukan melalui pembagian/zonasi wilayah yang
diidentifikasi berdasarkan karakter fisik-geografis dan kegiatan sosial-ekonomi utama.
c. Pengembangan Sistem Infrastruktur Wilayah
Pengembangan sistem infrastruktur wilayah diarahkan kepada 2 bidang utama,
yaitu bidang permukiman dan bidang transportasi, sumber daya alam dan irigasi.

Tabel 2.1
Pengembangan Sistem Infrastruktur Wilayah
Jenis
No. Bidang Fungsi Utama Strategi Pengembangan
Infrastruktur

Optimalisasi Kapasitas

1 Permukiman TPA Persampahan Pelayanan Regional eksisting


Pembangunan
prasarana baru
Penguhubung antar Peningkatan kapasitas
Transportasi Outer Ring Road
2 SPW jalan eksisting
Inner Ring Road Jalur alternatif Peningkatan kapasitas
Jalur alternatif jalan eksisting
Jenis
No. Bidang Fungsi Utama Strategi Pengembangan
Infrastruktur

Penyiapan moda
angkutan massal di
kota Bandung
Pelayanan regional,
Pelabuhan Udara nasional dan Pintu gerbang ekonomi
Internasional Peningkatan kapasitas
pelayanan

Angkutan Massal Refungsionalisas dan


Sarana angkutan
Revitalisasi jalur KA
orang dan barang
eksisting

Simpul utama
Integrasi dan relokasi
Terminal Tipe A pelayanan angkutan
terminal eksising
umum antar propinsi

Sumber Sungai Citarum Perlindungan sumber

3 Daya Air dan anak-anak Drainase utama air

dan Irigasi sungainya Sumber airku Normalisasi sungai


Penanganan limbah
Sumber : RTRW Jawa Barat

2.8 Kebijakan Strategis Sektor Perumahan dan Permukiman


Kebijakan yang diambil dalam pengelolaan sektor perumahan yang ada di
Metropolitan Bandung adalah sebagai berikut:
Pembangunan Perumahan dan Permukiman dilaksanakan secara kemitraan antara
pemerintah dan masyarakat yang bercirikan :
a) Keterkaitan fungsional yang saling memperkuat di antara stakeholder.
b) Keseimbangan peran di antara stakeholder.
c) Komunikasi yang efektif di antara stakeholder.
Pembangunan Perumahan dan Permukiman dilaksanakan dengan bertumpu pada
keswadayaan masyarakat yang bercirikan :
a) Kesadaran dan kepedulian masyarakat ikut serta dalam pembangunan
Perumahan dan Permukiman.
b) Rasa kepemilikan Perumahan dan Permukiman dan rasa tanggung jawab
masyarakat dalam pemeliharaan Perumahan dan Permukiman.
Pembangunan Perumahan dan Permukiman dilaksanakan oleh SDM yang
profesional, bercirikan :
a) Tenaga birokrat dan jasa konstruksi yang mampu melaksanakan tugasnya dengan
tepat, bertanggung jawab dan jujur.
b) Tenaga birokrat dan jasa konstruksi yang mengutamakan kepentingan masyarakat
dan kualitas kerja.
Pembangunan Perumahan dan Permukiman dilaksanakan secara adil dan
terbuka, dengan bercirikan :
a) Transparansi dalam aturan dan proses pembangunan.
b) Kesempatan berusaha yang sama bagi seluruh masyarakat.
c) Keadilan dalam memanfaatkan hasil-hasil pembangunan Perumahan dan
Permukiman.
Pembangunan Perumahan dan Permukiman dilaksanakan secara demokratis,
yang bercirikan :
a) Kesempatan yang sama sesuai dengan kemampuannya.
b) Tujuan dan sasaran pembangunan Perumahan dan Permukiman didasarkan pada
keinginan masyarakat.
c) Kesetaraan seluruh stakeholders dalam proses pembangunan Perumahan dan
Permukiman sesuai dengan fungsinya.
Pembangunan Perumahan dan Permukiman dilaksanakan secara efisien dengan
memperhatikan kelayakan teknis, ekonomis, politik, sosial dan lingkungan yang
bercirikan :
a) Terjaminnya fungsi dan keamanan bangunan bagi masyarakat.
b) Didukung oleh kelayakan dan kemampuan ekonomi yang ada.
c) Sesuai dengan kehidupan sosial masyarakat.
d) Sejalan dengan upaya-upaya pelestarian lingkungan.
Pembiayaan pembangunan Perumahan dan Permukiman dilaksanakan dengan
landasan cost recovery yang bercirikan :
a) Secara langsung
1. Penelima manfaat membayar pembangunan Perumahan dan Permukiman.
2. Penerima manfaat yang mampu membantu yang kurang mampu secara
subsidi silang.
b) Tidak langsung
1. Penerima manfaat membayar melalui pajak.
2. Upaya penghematan devisa.
c) Pemenuhan kebutuhan dasar Perumahan dan Permukiman untuk kebutuhan
kemanusiaan (basic needs) oleh pemerintah.
BAB 3
KONSEP PENGEMBANGAN

3.1 Konsep Umum Perencanaan


Dalam projek yang akan dibuat ini, bahwa Perumahan Sarijadi, memiliki sebuah konsep
hunian yang disediakan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hunian dengan beberapa
kavling perumahan type 45/90 dan type 72/120, dengan perbandingan 3:1 dan
penunjang pintu gerbang Masjid kecil (12x12/300), RTH + 1 buah lapangan volley ball
dan pos satpam (2x2/12). Luas lahan 15Ha, BCR/KDB dengan kavlng 60% dan jalan
dengan penunjang perumahan. Nama Perumahan yang akan dibangun adalah
Annalamarius Residence.

3.2 Konsep Pengolahan Lahan


Dalam pengolahan lahan, dilakulan analisa Tapak, zonasi dan landuse untuk
menentukan pengolahan lahan di perumahan ini.
3.2.1 Analisis Tapak
Kawasan perencanaan ini, berdasarkan potensi yang dimilikinya dibagi menjadi
3 blok, yaitu :

Blok dengan kumpulan rumah type 45/90


Blok dengan kumpulan rumah type 72/150

3.2.2 Perhitungan Tapak


Diketahui :

Luas Lahan = 1,5 Ha 15.000 m2 . BCR (60%) dan penunjang (40%)


15.000 x 60
a) BCR = 100
=9.000m2 m 0,9 Ha
15.000 x 40
b) Jalan dan penunjang x 40 = = 6.000 m2 0,6 Ha
100

1. Perhitungan jalan kavling (BCR 60%) 9000m2


3:1 45/90 : 72/120
3 6750 2
9000m2 x = 6750 m2 m = 75 kavling
4 90
1 2250
9000 m2 x 4 = 2250 m2 120
= 18,75 kavling

2. Jalan dan sarana penunjang: 6000m2 = 0,6 Ha


12x12
Mesjid = 300
x 0,6 Ha = 0,288 Ha
RTH =
Lapangan volley = 28m x 15m =420 m2
22
Pos Satpam = 12
=

Jalan = berdasarkan ketetapannya memiliki lebar samping jalan

Gambar 3.1 Site Plan Annalamarius Residence