Anda di halaman 1dari 13

ANALISA HAMBATAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK ANTARA

PERAWAT DAN PASIEN


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari kegiatan komunikasi.
Sehingga sekarang ilmu komunikasi berkembang pesat. Salah satu kajian ilmu
komunikasi ialah komunikasi kesehatan yang merupakan hubungan timbal balik antara
tingkah laku manusia masa lalu dan masa sekarang dengan derajat kesehatan dan
penyakit, tanpa mengutamakan perhatian pada penggunaan praktis dari pengetahuan
tersebut atau partisipasi profesional dalam program program yang bertujuan memperbaiki
derajat kesehatan melaui pemahaman yang lebih besar tentang hubungan timbal balik
melalui perubahan tingkah laku sehat ke arah yang diyakini akan meningkatkan
kesehatan yang lebih baik. Kenyataaanya memang komunikasi secara mutlak merupakan
bagian integral dari kehidupan kita, tidak terkecuali perawat, yang tugas sehari-harinya
selalu berhubungan dengan orang lain. Entah itu pasien, sesama teman, dengan atasan,
dokter dan sebagainya. Maka komunikasi sangatlah penting sebagai sarana yang sangat
efektif dalam memudahkan perawat melaksanakan peran dan fungsinya dengan
baik.Selain berkomunikasi dengan pasien, perawat juga berkomunikasi dengan anggota
tim kesehatan lainnya.Sebagaimana kita ketahui tidak jarang pasien selalu menuntut
pelayanan perawatan yang paripurna. Sakit yang diderita bukan hanya sakit secara fisik
saja, namun psiko (jiwanya) juga terutama mengalami gangguan emosi. Penyebabnya
bisa dikarenakan oleh proses adaptasi dengan lingkungannya sehari-hari. Misalnya saja
lingkungan di rumah sakit yang sebagian besar serbaputih dan berbeda dengan rumah
pasien yang bisa beraneka warna. Keadaan demikian menyebabkan pasien yang baru
masuk terasa asing dan cenderung gelisah atau takut. Tidak jarang pasien membuat ulah
yang bermacam-macam, dengan maksud mencari perhatian orang disekitarnya. Bentuk
dari kompensasi ini bisa berupa teriak-teriak, gelisah, mau lari, menjatuhkan barang atau
alat-alat disekitarnya. Disinilah peranan komunikasi mempunyai andil yang sangat besar,
dengan menunjukkan perhatian yang sepenuhnya, sikap ramah bertutur kata yang lembut.
Namun, seringkali informasi yang seharusnya sampai kepada orang yang
membutuhkan, ternyata terputus di tengah jalan akibat tidak efektifnya suatu komunikasi
yang dilakukan. Pada komunikasi terapeutik antara perawat dengan klien, hal tersebut
dapat mungkin terjadi karena disebabkan oleh berbagai hal. Hal hal tersebut tidak hanya
berasal dari klien saja, tetapi juga dapat disebabkan oleh pola komunikasi yang salah

1
yang dilakukan oleh perawat. Komunikasi yang tidak efektif juga dapat disebabkan
kegagalan pada proses komunikasi itu sendiri. Kegagalan itu dapat terjadi pada saat
pengiriman pesan, penerimaan pesan, serta pada kejelasan pesan itu sendiri (Edelman,
2002).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Komunikasi Terapeutik
Komunikasi dalam bidang keperawatan merupakan proses untuk menciptakan
hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien untuk mengenal kebutuhan pasien dan
menentukan rencana tindakan serta kerjasama dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
Oleh karena itu komunikasi terapeutik memegang peranan penting memecahkan masalah
yang dihadapi pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi proposional
yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien pada komunikasi terapeutik
terdapat dua komonen penting yaitu proses komunikasinya dan efek komunikasinya.
Komunikasi terapeuitk termasuk komunikasi untuk personal dengan titik tolak saling
memberikan pengertian antar petugas kesehatan dengan pasien.
Menurut Purwanto komunikasi terapeutik merupakan bentuk keterampilan dasar
utnuk melakukan wawancara dan penyuluhan dalam artian wawancara digunakan pada
saat petugas kesehatan melakukan pengkajian memberi penyuluhan kesehatan dan
perencaan perawatan.
Tujuan komunikasi terapeutik
Menurut Purwanto tujuan dari komunikasi terapeutik :
a. membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran
mempertahakan kekuatan egonya.
b. Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk mengubah situasi yang ada
c. Mengulang keraguan membantu dalam pengambilan tindakan yang efektif dan
mempengaruhi orang lai lingkungan fisik dan dirinya.
Dalam mencapai tujuan ini sering sekali perawat memenuhi kendala komunikasi yaitu
a. Tingkah laku perawat
Dirumah sakit pemerintah maupun swasta, perawat memegang peranan penting; tingkah
laku; gerak-gerik perawat selalu dinilai oleh masyarakat. Bahkan sering juga surat kabar
memuat berita berita tentang perawat rumah sakit. Bertindak yang tidak sebenarnya.
Dipandang oleh klien perawat judes, jahat dan sebagainya.
b. Perawatan yang berorientasi Rumah sakit

2
Pelaksanaan perawatan difokuskan pada penyakit yang diderita klien semata, sedangkan
psikososial kurang mendapat perhatian. Tujuan pelaksaan perawatan yang sebenarnya
yaitu manusia seutuhnya yang meliputi bio, psiko dan sosial.
Bio : Kebutuhan dasar, makan minum, oksigen dan perkembangan keturunan. Proses
B. Proses Komunikasi terapeutik
Proses ini terdiri dari unsur komunikasi prinsip komunikasi dan tahapan
komunikasi. Unsur komunikasi terdiri dari : Sumber komunikasi yaitu pengirim pesan
atau sering disebut komunikator yaitu orang yang menyampaikan atau menyiapkan
pesan. Komunikator dalam makalah ini adalah para perawat yang tugas utamanya ialah
membantu pasien dalam mengatasi masalah sakit akut, sakit kronis, dan memberikan
pertolongan pertama pada pasien dalam keadaan gawat darurat. Komunikator memiliki
peranan penting untuk menentukan keberhasilan dalam membentuk kesamaan persepsi
dengan pihak lain dalam makalah ini ialah pasien. Kemampuan komunikator mencakup
keahliaan atau kredibilitas daya Tarik dan keterpercayaan merupakan faktor yang sangat
berpengaruh dan menentukan keberhasilan dalam melakukan komunikasi ( TAN,
1981:104). Unsur komunikasi terapeutik selain komunikator, yaitu pesan merupakan
salah satu unsur penting yang harus ada dalam proses komunikasi. Tanpa
kehadiran pesan, proses komunikasi tidak terjadi. Komunikasi akan berhasil bila pesan
yang disampaikan tepat, dapat dimengerti, dan dapat diterima komunikan. Moore dalam
Rakhmat (1993:297) mengemukakan bahwa keberhasilan komunikasi sangat ditentukan
oleh daya tarik pesan. Effendy (2000:41) mengatakan bahwa komunikasi akan berhasil
bila pesan yang disampaikan memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Pesan harus direncanakan
2. Pesan menggunakan bahasa yang dapat dimengerti kedua belah pihak
3. Pesan itu harus menarik minat dan kebutuhan pribadi penerima
4. Pesan harus berisi hal-hal yang mudah difahami
5. Pesan yang disampaikan tidak samar-samar.
Prinsip komunikasi terapeutik
Komunikasi interpersonal yang terapeutik mempunyai beberapa prinsip yang sama
dengan komunikasi interpersonal De Vito yaitu keterbukaan,empati, sifat mendukung
sikap positif dan kesetaraan.
Tahap interaksi pada komunikasi terapeutik
Wood mengatakan pada umumnya hubungan antar pribadi berkembang melalui tahap-
tahap yaitu :

3
1. Tahap awal atau tahap orientasi pada tahap ini antara petugas dan pasien terjadi
kontak dan pada tahap iini penampilan fisik begitu penting karena dimensi fisik
paling terbuka untuk diamati. Kualitas-kualitas lain seperti sifat bersahabat
kehangatan, keterbukaan dan dinamisme juga terungkap. Yang dapat dilakukan
pada terapi ini
menurut purwanto ialah pengenalan, mengidentifikasi masalah dan mengukur
tingkat kecemasan diri pasien.
2. Tahap lanjutan adalah tahap pengenalan lebih jauh, menurut purwanto (1994: 25)
dialkukan untuk meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi
kecemasan, melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada, menurut De
Vito (1997:24) komunikasi pada tahap ini mengikatkan pada diri kita untuk lebih
mengenal orang lain dan juga mengungkapkan diri kita. Pada tahap ini termasuk
pada tahap persahabatan yang menghendaki agar kedua pihak harus merasa
mempunyai kedudukan yang sama, dalam artian ada keseimbangan dan
kesejajaran kedudukan . Argyle dan Henderson dalam Liliweri (1997:55)
mengemukakan, persahabatan mempunyai beberapa fungsi, yaitu :
1. membagi pengalaman agar kedua pihak merasa sama-sama puas dan sukses
2. menunjukan hubungan emosional
3. membuat pihak lain menjadi senang
4. membantu sesama kalau dia berhalangan untuk suatu urusan
Purwanto (1994:26) mengatakan pada tahap komunikasi terapeutik ini harus :
(1) melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada
(2) meningkatkan komunikasi
(3) mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan
masalah yang ada. Secara psikologis komunikasi yang bersifat terapeutik akan membuat
pasien lebih tenang, dan tidak gelisah.
3. Tahapan terminasi menurut purwanto (1994:26) pada tahap ini terjadi pengikatan antar
pribadi yang lebih jauh, merupakan fase persiapan mental untuk membuat perencanaan
tentang kesimpulan perawatan yang didapat dan mempertahankan batas hubungan yang
ditentukan, yang diukur antaralain mengantisipasi masalah yang akan timbul karena pada
tahap ini merupakan tahap persiapan mental atas rencana pengobatan, melakukan
peningkatan komunikasi untuk mengurangi ketergantungan pasien pada petugas.
Terminasi merupakan akhir dari setiap pertemuan antara petugas dengan klien. Menurut
Uripni (1993: 61) bahwa tahap terminasi dibagi dua, yaitu terminasi sementara dan
terminasi akhir. Terminasi sementara adalah akhir dari setiap pertemuan, pada terminasi

4
ini klien akan bertemu kembali padawaktu yang telah ditentukan, sedangkan terminasi
akhir terjadi jika klien selesai menjalani pengobatan.
Psiko : Jiwa, perawat supaya turut membantu memecahkan masalah yang ada
hubungnnya dengan jiwa
Sosial : Perawat juga mengetahui kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat dari klien di dalam
masyarakat.
c. Perawat kurang tanggap terhadap kebutuhan, keluhan-keluhan, serta kurang
memperhatikan apa yang dirasakan oleh klien sehingga menghambat hubungan baik.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Hambatan Dalam Proses Komunikasi Terapeutik.


3.1 Resistens
Resistens merupakan upaya klien untuk tidak menyadari aspek dari penyebab
cemas atau kegelisahan yang dialami. Ini juga merupakan keengganan alamiah atau
penghindaran secara verbal yang dipelajari. Klien yang resisten biasanya menunjukkan
ambivalensi antara menghargai tetapi juga menghindari pengalaman yang menimbulkan
cemas padahal hal ini merupakan bagian normal dalam proses terapeutik. Resisten ini
sering akibat dari ketidaksesuaian klien untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah
telah dirasakan. Perilaku resisten biasanya diperlihatkan oleh klien pada fase kerja,
karena pada fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaiaan masalah
(Stuart danSundeen dalam Intan. 2005).
Beberapa bentuk resistensi (Stuart dan Sundeen , 1995)
a. Supresi dan represi informasi yang terkait
b. Intensifikasi gejala
c. Devaluasi diri serta pandangan dan keputusasaan tentang masa depan
d. Dorongan untuk sehat, yang terjadi secara tiba-tiba tetapi hanya kesembuhan yang
bersifat sementara
e. Hambatan intelektual yang mungkin tampak ketika klien mengatakan ia tidak
mempunyai pikiran apapun atau tidak mampu memikirkan masalahnya, saat ia tidak
memenuhi janji untuk pertemuan atau tiba terlambat untuk suatu sesi, lupa, diam, atau
mengantuk
f. Pembicaraan yang bersifat permukaan/ dangkal

5
g. Penghayatan intelektual dimana klien memverbalisasi pemahaman dirinya dengan
menggunakan istilah yang tepat namun tetap berprilaku maladaptive, atau menggunakan
mekanisme pertahanan intelektualisasi tanpa diikuti penghayatan
h. Muak terhadap normalitas yang terlihat ketika klien telah mempunyai penghayatan
tetap menolak memikul tanggung jawab untuk berubahdengan alas an bahwa normalitas
adalah hal yang tidak penting
i. Reaksi transference (respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sakit
terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dengan kehidupan yang dulu)
j. Perilaku amuk atau tidak rasional
3.2 Transference
Transference merupakan respon tak sadar berupa perasaan atau perilaku terhadap
perawat yang sebetulnya berawal dari berhubungan dengan orang-orang tertentu yang
bermakna baginya pada waktu dia masih kecil (Stuart dan Sundeen , 1995)
Reaksi transference membahayakan untuk proses terapeutik hanya bila hal ini diabaikan
dan tidak ditelaah oleh perawat. Ada dua jenis utama reaksi transference yaitu reksi
bermusuhan dan tergantung.
Contoh reaksi transference bermusuhan (Intan, 2005) :
Bungkus (15 tahun) adalah klien yanag dirawat dirumah sakit karena demam berdarah.
Tanpa sebab yang jelas klien ini marah-marah kepada perawat Gengki. Setelah dikaji,
ternyata Gengki ini mirip pacar si Bungkus yang pernah menyakiti hatinya. Hal ini
dikarenakan klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya
terkait dengan tokoh kehidupan yang lalu.

Contoh reaksi transference tergantung ( Intan, 2005) :


Seorang klien, Sinchan (18 tahun), dirawat oleh perawat bidadari. Perawat itu
mempunyai wajah dan suara mirip Ibu klien, sehingga dalam setiap tindakan keperawatan
yang harus dilakukan selalu meminta perawat bidadari yang melakukannya.

3.3 Coutertransference
Coutertrasference merupakan kebutuhan terapeutik yang di buat oleh perawat dan
bukan oleh klien. Hal ini dapat mempengaruhi hubungan perawat-klien.
Beberapa bentuk countransference ( Stuart dan Sundeen dalamIntan, 2005):
a. Ketidakmampuan berempati terhadap klien dalam masalah tertentu.
b. Menekan perasaan selama atau sesudah sesi.
c. Kecerobohan dalam mengimplementasikan kontrak dengan datang terlambat, atau
melampaui waktu yang telah ditentukan.
d. Mengantuk selama sesi.

6
e. Perasaan marah atau tidak sabar karena ketidak inginan klien untuk berubah.
f. Dorongan terhadap ketergantungan, pujian atau efeksi klien.
g. Berdebat dengan klien atau kecendrungan untuk memaksa klien sebelum ia siap.
h. Mencoba untuk menolong klien dalam segala hal tidak berhubungan dengan tujuan
keperawatan yang telah diidentifikasi.
i. Keterlibatan dengan klien dalam tingkat personal dan sosial.
j. Melamunkan atau memikirkan klien.
k. Fantasi seksual atau agresi yang diarahkan kepada klien.
l. Perasaan cemas, gelisah atau persaan bersalah terhadap kien
m. Kecendrungan untuk memusatkan secara berulang hanya pada satu aspek atau cara
memandang pada informasi yang di berikan klien.
n. Kebutuhan untuk mempertahankan intervensi keperawatan dengan klien.
Reaksi coutrtrasference biasanya dalam tiga bentuk ( Stuart danSundeen dalam Intan,
2005):
a. Reaksi sangat mencintai atau caring.
Perawat Dono melakukan perawatan pada klien dini dengan cara yang berlebih-
lebihan yaitu dengan cara ,masih berlama-lama mengobrol dengan klien tersebut padahal
masih banyak klien yang perlu di tangani.perawat Dono juga mencoba menolong klien
dengan segala hal yang tidak berhubungan dengan tujuan yang telah diidentifikasi.
b. Reaksi sangat bermusuhan.
Perawat Dora mempunyai klien yang sangat Menjenkelkan.Derry (25 tahun) Derry ini
selalu marah-marah dan menjengkelkan perawat Dora sangat dendam pada klienini dan
selalumengacuhkan Derry meskipun dia membutuhkan pertolongan
c. Reaksi sangat cemas sering kali di gunakan sebagai respon terhadap resistensi.
Lima cara mengidentifikasikan terjadi countertransference
(StuartG.Wdalam Suryani,2006):
a. Perawat harus mempunyai standaryang sama terhadap dirinya sendiriatas apa yang di
harapkan kepada kliennya.
b. Perawat harus menguji diri sendiri melalui latihan menjalin hubungan, terutama
ketika klien menentang atau mengeritik.
c. Perawat harus dapat menemukan sumber masalahnya.
d. Ketika countertrasference terjadi, perawat harus dapat melatih diri untuk
mengontrolnya.
e. Jika perawat membutuhkan pertolongan dala mengatasi
countertransference, pengawasan secara individumaupun kelompok dapat lebih
membantu.

7
3.4 Pelanggaran batas.
Perawat perlu membatasi hubungannya dengan klien. Batas hubungan perawat-
klien adalah bahwa hubungan yang di bina adalah hubungan terapeutik,dalam hubungan
ini perawat berperan sebagai penolong dan klien berperan sebagai yang di tolong. Baik
perawat maupun klien harus menyadari batas tersebut (Suryani, 2006).
Pelanggaran batas terjadi jika perawat melampaui batas hubungan yang terapeutik
dan membina hubungan sosial, ekonomi, atau personal dengan klien.
Beberapa batas hubungan perawat dank lien (stuart dansundeen, dalam Intan, 2005)
a. Batas peran
Masalah batas peran ini memerlukan wawasan dan pengetahuan yang luas dari perawat
serta penentuan secara tegas mengenai batas-batas terapeutik perawat dan klien.
b. Batas waktu
Penetapan waktu perlu dilakukan dimana perawat mengadakan hubungan terapeutiknya
dengan klien. Waktu pengobatan atau hubungan terapeutik yang tidak wajar dan tidak
mempunyai tujuan terapeutik harus dievaluasi kembali untuk mencegah terjadinya
pelanggaran batas.
c. Batas tempat dan ruang
Misalnya wawancara dimana? Kapan dan berapa lama?
Batas ini biasanya berhubungan dengan perawatan yang dilakukan . Pemanfaatan
terapeutik diluar kebiasaan misalnya dimobil atau dirumah klien, harus dengan tindakan
terapeutik yang rasional dan mempunyai tujuan yang jelas. Perawat tidak di perbolehkan
t dalam melakukan tindakan dikamar klien kadang perlu menghormati batas-batas
tertentu misanya pintu terbuka atau ada pegawai yang lain.
d. Batas uang
Batas ini berhubungan dengan penghargaan klien dengan perawat berupa uang. Disini juga
perluadanya perhatian mengenai tawar-menawar terhadap klien miskin tentang biaya
pengobatan untuk mencegah timbulnya pelanggaran batas.
e. Batas pemberian hadiah dan pelayanan
Masalah ini controversial dalam keperawatan, namun yang pasti hal ini melanggar batas.
f. Batas pakaian
Batas ini berhubungan dengan kebutuhan perawat dalam berpakaian secara tepat dalam
hubungan terapeutik perawat dank lien. Dimana perawat tidak diperbolehkan memakai
pakaian yang tidak sopan.
g. Batas bahasa ;

8
Perawat perlu memperhatikan nada bicara dan pilihan kata ketika komunikasi dengan
klien. Tidak terlalu akrab, mengarah sikap seksul dan memberikan pendapat dengan nada
menggurui merupakan pelanggaran batas.
h. Batas pengungkapan diri secara personal;
Mengungkapkan diri secara personal dari perawat yang tidak berhubungan dengan
tujuan terapeutik dapat mengarah kepada pelanggaran batas.
i. Batas kontak fisik;
Semua kontak fisik dengan klien harus dievaluasi untuk melihat apakah melanggar batas
atau tidak. Beberapa jenis kontak fisik/ seksual terhadap kien yang tidak pernah
tercangkup dalam hubungan terpeutik antara perawat dengan klien.

Untuk mencegah terjadinya pelanggaran batas dalam berhubungan dengan klien,


perawat sejak awal interkasi perlu menjelaskan atau membuat kesepakatan bersama klien
tentang hubungan yang mereka jalin. Kemudian selama berinteraksi perawat harus
berhati-hatidalam berbicara agar tidak banyak terlibat dalam komunikasi sosial. Dengan
selalu berfokus pada tujuan interaksi, perawat bisa terhindar daripelanggaran terhadap
batas-batas dalam berhubungan dengan klien.selalu mengingatkan kontrak dan tujuan
interaksi setiap kali bertemu dengan klien juga dapat menghindari pelanggaran batas ini.
(Suryani 2006).
Contoh pelagggaran batas yaitu (Intan 2005):
- Klien mengajak makan perawat siang atau maka malam di luar.
- Klien memperkenalkan perawat pada keluarganya.
- Perawat menerimah pemberian hadiah dari bisis klien.
- Perawat menghadiri acara-acara sosial.
- Klien member perawat hadiah.
- Perawat secara rutin memeluk dan memegang klien.
- Perawat menjalankan bisnis atau memesan pelayanan dari klien.
- Perawat secara teratur memberi informasi personal kepada klien.
- Hubungan professional berubah menjadi hubungan sosial.
- Perawat menghadiri undangan klien.
3.5 Pemberian hadiah
Pemberian hadiah merupakan masalah yang kontroversial dalam keperawatan.
Disatu pihak ada yang menyatakan bahwa pemberian hadiah dapat membantu dalam
mencapai tujuan terapeutik, tapi dipihak lain ada yang menyatakan bahwa pemberian
hadiah bisa merusak hubungan terapeutik.
Hadiah dapat dalam berbagai bentuk misalnya yang nyata seperti sekotak permen,
rangkaian bunga, rajutan atau lukisan. Sedangkan yang tidak nyata bisa berupa ekspresi

9
ucapan terima kasih dari klien kepada perawat sebagai orang yang akan meninggalkan
rumah sakit atau dari anggota keluarga yang lega dan berterima kasih atas bantuan
perawat dalam meringankan beban emosional klien.
Komunikasi dapat terganggu jika ada sikap agresif dan nonasertif.
a. Agresif :
- Berusaha mengontrol dan mendominasi orang lain.
- Meremehkan orang lain.
- Menonjolkan diri sendiri.
- Mempertahankan haknya dengan menyerang orang lain.
- Mempermalukan orang lain di depan umum, baik dengan perkataan maupu
perbuatan.
b. Nonasertif :
- Menarik diri bila diajak bicara.
- Merasa rendah diri.
- Merasa tidak berdaya.
- Tidak berani mengungkapkan keyakinan.
- Pasif.
- Mengikuti kehendak orang lain.
- Membiarkan orang lain membuat keputusan untuk dirinya.
- Mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk menjaga hubungan baik dengan
orang lain.
2.6 Cara mengatasi hambatan komunikasi
Untuk mengatasi hambatan teurapeutik, perawat harus siap mengungkapkan
perasaan emosional yang sangat kuat dalam konteks hubungan perawat -pasien.
Awalnya , perawat harus mempunyai pengetahuan tentang hambatan teurapeutik dan
mengenali prilaku yang menunjukkan adanya hambatan tersebut. Kemudian perawat
dapat mengklarifikasi dan mengungkapkan perasaan serta isi agar lebih berfokus secara
objektif pada apa yang sedang terjadi.
Latar belakang prilaku dikaji, baik pasien (untuk reaksi resistens dan transferensa) atau
perawat (untuk reaksi kontertransferens dan pelanggaran batasan) bertanggung jawab
terhadap hambatan teurapeutik dan dampak negatifnya pada proses teurapeutik. Terakhir,
tujuan hubungan, kebutuhan, dan masalah pasien ditinjau kembali. Hal ini dapat
membantu perawat untuk membina kembali kerja sama teurapeutik yang sesuai dengan
proses hubungan perawat-pasien.
Teknik agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik :
1. Keraskan jika perlu.
2. Depankan perhatian klien sebelum bicara

10
3. Atur lingkungan sehingga menjadi kondusif untuk komunikasi yang baik.
4. Ketika merawat orang tua dengan gangguan komunikasi, ingat kelemahannya.
5. Jangan berharap untuk berkomunikasi dengan cara yang sama dengan orang yang
tidak mengalami gangguan komunikasi.
6. Berbicara dengan pelan dan jelas saat menatap mata pasien, gunakan kalimat
pendek dan bahasa yang sederhana.
7. Bantu kata kata dengan isyarat visual.
8. Ringkaslah hal hal yang penting dari pembicaraan.
9. Biarkan klien membuat kesalahan, jangan menegur secara langsung, tahan
keinginan untuk meyelesaikan kalimat.
10. Jadilah pendengar yang baik.
11. Arahkan kesuatu topic pada suatu saat.
12. Ikutkan keluarga atau yang merawat dalam ruangan, biasanya orang terdekat yang
paling akrab dengan pola komunikasi klien dan dapat membantu proses
komunikasi.
Beberapa langkah untuk menghadapi penolakan dari klien :
1. Kenali segera reaksi penolakan.
Biarkan klien bertingkah laku pada tenggang waktu tertentu untuk beradaptasi,
kemudian lakukan, identifikasi pikiran pikiran yang paling membahayakandengan
cara mengobservasi klien bila sedang dalam puncak reaksi, ungkapkan kenyataan
yang sedang dialami klien secara perlahan, jangan menyokong penolakan klien.
2. Orientasikan klien pada pelaksanaan perawatan diri sendiri untuk mempermudah
proses penerimaan klien terhadap perawatanyang akan dilakukanserta upaya
untuk memandirikan klien.
3. Libatkan keluarga atau orang terdekat untuk membantu perawat memperoleh
sumber informasi atau data dan mengefektifkan rencana atau tindakan agar dapat
terrealisasi dengan baik.

11
BAB IV
PENUTUP

Pada kenyataanya perawat di samping kodratnya sebagai mahluk individu dan


mahluk sosial , diapun sebagai mahluk profesi memerlukan tenaga skil di
bidangnya, khususnya di bidang keperawatan. Perawat harus mampu menjalankan
segala tahapan dalam komunikasi terapeutik yang meliputi tahap awal, lanjutan
dan terminasi. Mengingat teknologi kedokteran akhir-akhir ini semakin pesat,
senantiasa pula mempengaruhi perkembangan profesi keperawatan itu sendiri.
Perawat dituntut untuk lebih mengutamakan pelayanan paripurna terhadap pasien,
terutama dalam memenuhi kebutuhan pasien . Hubungan yang baik ini akan lebih
baik lagi bila perawat dapat meningkatkan pengetahuannya dalam komunikasi
khususnya komunikasi terapeutik yang sesuai dengan tuntutan jaman.

12
DAFTAR PUSTAKA

Devito,Joseph. 1997. Komunikasi Antar manusia. Jakarta : Professional Book.


Djuarsa, sasa. 1994. Teori Komunikasi. Jakarta : Universitas Terbuka
Effendy, Onong. 2000. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung :
PT.Rosdakarya
Fisher Aubrey. 1997. Teori-teori Komunikasi. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.
Farouk.2004. Praktik Ilmu Komunikasi. Teraju
Foster & Anderson.1986. Antropologi Kesehatan.Jakarta Penerbit UI
Kariyoso.1994. Pengantar Komunikasi Bagi Siswa Perawat.Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Liliweri, Alo. 2007. Dasar-Dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar
LittleJohn. 1999. Theories of Human Communication. United States of
America : Wadsworth Publishing Company.
Mulyana, Deddy.2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung :
PT.Remaja Rosdakarya
Purwanto ,Heri. 1994. Komunikasi untuk Perawat. Jakarta : EGC

13