Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam melaksanakan audit atas laporan keuangan, auditor harus memperoleh

pengetahuan tentang bisnis yang cukup untuk memungkinkan auditor mengidentifikasi dan

memahami peristiwa, transaksi, dan praktik, yang, menurut pertimbangan auditor,

kemungkinan berdampak signifikan atas laporan keuangan atau atas laporan pemeriksaan

atau laporan audit. Sebagai contoh, pengetahuan tersebut digunakan oleh auditor dalam

menaksir risiko bawaan dan risiko pengendalian dan dalam menentukan sifat, saat, dan

luasnya prosedur audit.

Tingkat pengetahuan auditor untuk suatu perikatan mencakup pengetahuan umum

tentang ekonomi dan industri yang menjadi tempat beroperasinya entitas, dan pengetahuan

yang lebih khusus tentang bagaimana entitas beroperasi. Namun, tingkat pengetahuan yang

dituntut dari auditor biasanya lebih rendah bila dibandingkan dengan yang dimiliki oleh

manajemen. Daftar hal-hal yang perlu dipertimbangkan mengenai pengetahuan tentang

bisnis, dalam perikatan tertentu disajikan dalam lampiran.

Sebelum menerima suatu perikatan, auditor akan memperoleh pengetahuan pendahuluan

tentang industri dan hak kepemilikan, manajemen dan operasi entitas yang akan diaudit,

dan akan mempertimbangkan apakah tingkat pengetahuan tentang bisnis memadai untuk

melaksanakan audit yang akan diperoleh.


2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pemahaman Mengenai Entitas dan Lingkungannya

Pemahaman entitas adalah suatu proses interaktif. Tiap tahun, pemahaman auditor dari

kesatuan harus dibaharui. Sampai ISA dikeluarkan saat ini, auditor akan sering memperoleh

suatu pengetahuan dasar menyangkut entitas dan kemudian memusatkan pada perolehan

bukti audit yang cukup untuk mendukung isi dari laporan keuangan tersebut. Usaha audit

yang utama semata diarahkan di informasi tentang keputusan yang dibuat oleh manajemen

dan isi dari laporan keuangan tersebut.

Pemahaman sifat entitas dan lingkungannya mencakup pengawasan internal,

menyediakan auditor dengan suatu kerangka acuan untuk pembuatan pertimbangan tentang

penilaian resiko dan tanggapan sesuai dengan resiko pernyataan salah saji material di dalam

laporan keuangan.

Pemahaman ini akan membantu auditor dalam:

Pendirian penetapan materialitas

Membuat taksiran aplikasi manajemen dan pemilihan kebijakan akuntansi

Pertimbangkan ketercukupan laporan keuangan penyingkapan

Mengidentifikasi area audit untuk pertimbangan khusus ( sebagai contoh, related-party

transaksi, pengaturan susuai kontrak kompleks atau tidak biasa, transaksi tidak biasa

atau going-concern )

Mengembangkan harapan perlu untuk melakukan/menyelenggarakan prosedur analitis


3

Designing / Performing prosedur audit lebih lanjut untuk mengurangi pengambilan

resiko audit pada suatu level yang rendah

Mengevaluasi ketercukupan bukti audit memperoleh ( sebagai contoh, kepantasan

asumsi menggunakan dan perkataan manajemen dan penyajian tulisan )

1. Komunikasi dengan Auditor Pendahulu (Setelah Penunjukan)

Menurut SA 315 auditor pendahulu adalah auditor yang telah melaporkan

laporan keuangan auditan terkini atau telah mengadakan perikatan untuk

melaksanakan namun belum menyelesaikan audit laporan keuangan kemudian

dan telah mengundurkan diri, bertahan untuk menunggu penunjukan kembali,

atau telah diberitahu bahwa jasanya telah, atau mungkin akan, dihentikan.

Auditor pengganti adalah auditor yang sedang mempertimbangkan untuk

menerima perikatan untuk mengaudit laporan keuangan, namun belum

melakukan komunikasi dengan auditor pendahulu. Auditor pengganti harus

meminta keterangan yang spesifik dan masuk akal kepada auditor pendahulu

mengenai masalah- masalah yang menurut keyakinan auditor pengganti akan

membantu dalam memutuskan penerimaan atau penolakan perikatan. Hal-hal

yang dimintakan keterangan harus mencakup:

a. Informasi yang kemungkinan berkaitan dengan integritas manajemen.

b. Ketidaksepakatan dengan manajemen mengenai penerapan prinsip

akuntansi, prosedur audit, atau soal-soal signifikan yang serupa.


4

c. Komunikasi dengan komite audit atau pihak lain dengan kewenangan dan

tanggung jawab setara tentang kecurangan, unsur pelanggaran hukum oleh

klien, dan masalah-masalah yang berkaitan dengan pengendalian intern.

d. Pemahaman auditor pendahulu tentang alasan penggantian auditor.

Auditor pengganti harus memperoleh bukti kompeten yang cukup untuk

memberikan basis memadai guna menyatakan pendapat atas laporan keuangan

yang menjadi objek perikatan auditnya, termasuk penilaian konsistensi

penerapan prinsip akuntansi. Bukti audit yang digunakan untuk menganalisis

dampak saldo awal atas laporan keuangan tahun berjalan dan konsistensi

prinsip akuntansi merupakan masalah pertimbangan profesional. Bukti audit

tersebut dapat mencakup laporan keuangan auditan yang dilaporkan oleh

auditor pendahulu dalam laporannya, hasil permintaan keterangan auditor

pendahulu, hasil review yang dilakukan oleh auditor pengganti terhadap kertas

kerja auditor pendahulu, dan prosedur audit yang dilaksanakan terhadap

transaksi tahun berjalan yang dapat memberikan bukti tentang saldo awal atau

konsistensi.

2. Pelaksanaan Prosedur Analitik

Menurut PSA 22 (SA 329) prosedur analitis didefinisikan sebagai evaluasi atas

informasi keuangan yang dilakukan dengan mempelajari hubungan logis antara data

keuangan dan nonkeuangan, meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat dengan

ekspektasi auditor. Definisi ini menekankan pada ekspektasi yang dikembangkan oleh
5

auditor. Prosedur analitis dapat dilakukan dalam tiga kesempatan selama penugasan

audit berlangsung yakni saat perencanaan, pengujian dan penyelesaian audit.

Prosedur analitis pada tahap perencanaan bertujuan:

a. Memahami kegiatan entitas yang diaudit

Umumnya auditor mempertimbangkan pengetahuan dan pengalaman tentang auditan

yang diperoleh di tahun sebelumnya sebagai titik tolak perencanaan audit tahun

berjalan. Dengan melakukan prosedur analitis, perubahan yang terjadi dapat diamati

dari perbandingan informasi tahun berjalan (yang belum diaudit) dengan informasi

tahun sebelumnya yang telah diaudit. Perubahan tersebut dapat mencerminkan

kecenderungan yang penting atau kejadian spesifik. Contohnya menurunnya

persentase marjin kotor selama beberapa waktu dapat mengindikasikan inefisiensi

kinerja perusahaan.

b. Menunjukkan kemungkinan salah saji

Perbedaan yang tidak diharapkan (fluktuasi yang tidak biasa) antara data keuangan

tahun berjalan yang belum diaudit dengan data keuangan yang dijadikan pembanding

dapat mengindikasikan adanya salah saji atau ketidakberesan akuntansi. Fluktuasi

yang tidak biasa terjadi jika diperkirakan tidak ada perbedaan tetapi kenyataannya

terjadi perbedaan, atau bila diperkirakan terjadi perbedaan, yang ternyata tidak

terjadi. Aspek prosedur analitis ini sering disebut arahan perhatian karena prosedur

ini menghasilkan prosedur yang lebih rinci dalam bidang audit khusus di mana

terdapat kemungkinan ditemukannya salah saji.


6

c. Mengurangi pengujian terinci

Jika prosedur analitis tidak mengungkapkan fluktuasi yang tidak biasa, maka

implikasinya adalah adanya kemungkinan salah saji material telah diminimalisasikan.

Dengan kata lain, pos tersebut tidak memerlukan pengujian rinci, prosedur audit

tertentu dapat dihilangkan, sampel dapat dikurangi, atau pelaksanaan prosedur audit

pada pos tersebut dapat dilaksanakan sesudah tanggal neraca. Prosedur analitis lebih

sering digunakan pada audit keuangan karena data keuangan yang menjadi analisis

dalam audit keuangan memiliki hubungan dan kecenderungan antar berbagai data

dari berbagai akun-akun pencatatan. Walaupun demikian, prosedur analitis juga dapat

digunakan pada audit-audit lain terutama bila data yang digunakan adalah data-data

kuantitatif.

Auditor umumnya melakukan beberapa langkah berikut untuk mencapai tujuan tujuan

prosedur analitis awal, yaitu:

a) Membandingkan angka-angka pada tahun berjalan dengan angka-angka pada tahun

lalu, baik data keuangan maupun data kuantitatif nonkeuangan.

b) Mengidentifikasi fluktuasi-fluktuasi atau kecenderungan-kecenderungan yang tidak

biasa.

c) Mengevaluasi kemungkinan faktor-faktor penyebab terjadinya fluktuasi-fluktuasi.

Prosedur analitis merupakan prosedur yang paling murah. Perhatian harus diberikan

pada bagaimana prosedur analitis dapat membantu pencapaian risiko deteksi yang dapat

diterima sebelum memilih pengujian terinci. Pada saat hasil prosedur analitis sesuai

dengan yang diharapkan dan tingkat risiko deteksi yang dapat diterima tinggi, maka tidak

perlu dilakukan pengujian terinci.


7

3. Pemahaman Atas Bisnis Klien

Untuk membuat perencanaan audit dengan baik auditor harus memahami

bisnis klien (understanding business client), Sifat dan jenis usaha klien, Struktur

organisasi, Struktur permodalan, Metode produksi, Pemasaran, Distribusi dll.

Untuk memperoleh pengetahuan tentang bisnis klien dapat melalaui cara

a. Pengalaman sebelumnya dengan klien dan industrinya,

b. Pengajuan pertanyaan kepada pegawai perusahaan klien,

c. KKA dari tahun sebelumnya (yang berisi informasi mengenai sifat bisnis,

struktur organisasi dan karakteristik operasi serta transaksi yang memerlukan

pertimbangan khusus)

d. Publikasi yang dikeluarkan industri,

e. laporan keuangan,

f. buku teks, majalah dan perorangan yang memiliki pengetahuan industri

klien

Pengetahuan bisnis klien membantu auditor:

Mengidentifikasikan bidang yang memerlukan pertimbangan khusus,

Menilai kondisi yang didalamnya, data akuntansi yang dihasilkan, diolah,

di review dan dikumpulkan dalam organisasi,

Menilai kewajaran estimasi, seperti penilaian atas persediaan, depresi,

penyisihan piutang ragu-ragu, persentase penyelesaian kontrak jangka

panjang,

Menilai kewajaran representasi manajemen,


8

Mempertimbangkan kesesuaian prinsip akuntansi yang diterapkan dan

kecukupan pengungkapannya

4. Pertimbangan Akan Pengendalian Internal

a. Definisi Pengendalian Internal

Pengendalian internal adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris,

manajemen, dan personel lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan

memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini: (a) keandalan

pelaporan keuangan. (b) efektivitas dan efisiensi operasi. (c) kepatuhan terhadap

hukum dan peraturan yang berlaku.

b. Komponen Utama Pengendalian Internal

Pengendalian terdiri dari lima komponen yang saling terkait, antara lain:

a) Lingkungan Pengendalian (Control Environment)

Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi, mempengaruhi

kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan

dasar untuk semua komponen pengendalian intern, menyediakan disiplin dan

struktur.

b) Penilaian Risiko (Risk Assessment)

Penilaian risiko adalah identifikasi entitas dan analisis terhadap risiko yang

relevan untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan

bagaimana risiko harus dikelola.


9

c) Aktivitas Pengendalian (Control Activities)

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu menjamin

bahwa arahan manajemen dilaksanakan.

d) Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)

Informasi dan komunikasi adalah pengidentifikasikan, penangkapan, dan

pertukaran informasi dalam suatu bentuk dan waktu yang memungkinkan orang

melaksanakan tanggung jawab mereka.

e) Pemantauan (Monitoring)

Pemantauan adalah proses yang menentukan kualitas kinerja pengendalian intern

sepanjang waktu.

c. Pertimbangan Auditor Atas Pengendalian Internal

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan auditor atas pengendalian internal yaitu:

a) Pemahaman Mengenai Klien dan Pengendalian Internalnya

Standar auditing kedua mewajibkan auditor mengumpulkan informasi

tentang pengendalian intern dan menggunakan informasi tersebut sebagai dasar

perencanaan audit. Dalam memperoleh pemahaman atas pengendalian intern,

auditor menggunakan tiga macam prosedur audit berikut ini: (a). Mewawancarai

karyawan perusahaan yang berkaitan dengan unsur pengendalian. (b). Melakukan

inspeksi terhadap dokumen dan catatan. (c). Melakukan pengamatan atas kegiatan

perusahaan. Informasi yang dikumpulkan oleh auditor dalam melaksanakan

prosedur audit tersebut diatas adalah: (a). Rancangan berbagai kebijakan dan

prosedur dalam tiap-tiap unsur pengendalian. (b). Apakah kebijakan dan prosedur

tersebut benar-benar dilaksanakan.


10

b) Pemahaman atas Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi dan

mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan

pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern yang

lain, menyediakan disiplin dan struktur. Lingkungan pengendalian mencakup

berikut ini:

Integritas dan nilai etika.

Efektif pengendalian tidak dapat meningkat melampaui integritas dan nilai

etika orang yang menciptakan, mengurus dan memantaunya. Integritas dan

nilai etika merupakan unsur pokok lingkungan pengendalian, yang

mempengaruhi pendesainan pengurusan, dan pemantauan komponen yang

lain. Integritas dan perilaku etika merupakan produk dari standar etika dan

perilaku entitas, bagaimana hal itu dikomunikasikan, dan ditegakkan dalam

praktik. Standar tersebut mencakup tindakan manajemen untuk

menghilangkan atau mengurangi dorongan dan godaan yang mungkin

menyebabkan personel melakukan tindakan tidak jujur, melanggar hukum,

atau melanggar etika. Standar tersebut juga mencakup komunikasi nilai-nilai

dan standar perilaku entitas kepada personel melalui pernyataan kebijakan dan

kode etik serta dengan contoh nyata.

Komitmen terhadap kompetensi.

Kompetisi adalah pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk

menyelesikan tugas yang dibebankan kepada individu. Komitmen terhadap


11

kompetisi mencakup pertimbangan manajemen atas tingkat kompetisi untuk

pekerjaan tertentu dan bagaimana tingkat tersebut diterjemahkan ke dalam

persyaratan ketrampilan dan pengetahuan.

Partisipasi dewan komisaris atau komite audit.

Kesadaran pengendalian entitas sangat dipengaruhi oleh dewan komisaris dan

komite audit. Atribut yang berkaitan dengan dewan komisaris atau komite

audit ini mencakup independensi dewan komisaris atau komite audit dari

manajemen, pengalaman dan tingginya pengetahuan anggotanya, luasnya

keterlibatan dan kegiatan pengawasan, memadainya tindakan, tingkat sulitnya

pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh dewan atau komite tersebut kepada

manajemen, dan interaksi dewan atau komite tersebut dengan auditor intern

dan ekstern.

Filosofi dan gaya operasi manajemen.

Falsafah dan gaya operasi manajemen menjangkau rentang karakteristik yang

luas. Karakteristik ini dapat meliputi antara lain: pendekatan manajemen

dalam mengambil dan memantau risiko usaha; sikap dan tindakan manajemen

terhadap pelaporan keuangan dan upaya manajemen untuk mencapai

anggaran, laba serta tujuan bidang keuangan dan sasaran operasi lainnya.

Karakteristik ini berpengaruh sangat besar terhadap lingkungan pengendalian

terutama bila manajemen didominasi oleh satu atau beberapa orang individu,

tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan pengendalian lainnya.


12

Struktur organisasi.

Struktur organisasi suatu entitas memberikan kerangka kerja menyeluruh bagi

perencanaan, pengarahan, dan pengendalian operasi. Suatu struktur organisasi

meliputi pertimbangan bentuk dan sifat unit-unit organisasi entitas, termasuk

organiasasi pengolahan data serta hubungan fungsi manajemen yang berkaitan

dengan pelaporan. Selain itu, struktur organiasi harus menetapkan wewenang

dan tanggung jawab dan entitas dengan cara yang semestinya.

Pemberian wewenang dan tanggung jawab.

Metode ini mempengaruhi pemahaman terhadap hubungan pelaporan dan

tanggung jawab yang ditetapkan dalam entitas. Metode penetapan wewenang

dan tanggung jawab meliputi pertimbangan atas: (1). Kebijakan entitas

mengenai masalah seperti praktik usaha yang dapat diterima, konflik

kepentingan dan aturan perilaku. (2). Penetapan tanggung jawab dan delegasi

wewenang untuk menangani masalah seperti maksud dan tujuan organiasi,

fungsi operasi dan persyaratan instansi yang berwenang. (3). Uraian tugas

pegawai yang menegaskan tugas-tugas spesifik, hubungan pelaporan dan

kendala. (4). Dokumentasi sistem komputer yang menujukan prosedur untuk

persetujuan transaksi dan pengesahan perubahan sistem.

Kebijakan dan praktik sumber daya manusia.

Karyawan merupakan unsur penting dalam setiap pengendalian intern. Jika

perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan jujur, unsur pengendalian

intern yang lain dapat dikurangi sampai batas minimum, dan perusahaan tetap
13

mampu menghasilkan pertanggungjawaban keuangan yang dapat diandalkan.

Karena pentingnya perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan jujur

agar tercipta lingkungan pengendalian yang baik, maka perusahaan perlu

memiliki metode yang baik dalam menerima karyawan, mengembangkan

kompetensi mereka, menilai prestasi dan memberikan kompensasi atas

prestasi mereka.

Pengendalian.

Kesadaran pengendalian dapat tercermin dari reaksi yang ditunjukkan oleh

manajemen dari berbagai jenjang organisasi atas kelemahan pengendalian

yang ditunjuk oleh auditor intern atau auditor independen. Jika manajemen

segera melakukan tindakan koreksi atas temuan kelemahan pengendalian yang

dikemukakan oleh auditor intern atau auditor independen, hal ini merupakan

petunjuk adanya komitmen manajemen terhadap penciptaan lingkungan

pengendalian yang baik. Auditor harus memperoleh pengetahuan memadai

tentang lingkungan pengendalian untuk memahami sikap, kesadaran, dan

tindakan manajemen dan dewan komisaris terhadap lingkungan intern, dengan

mempertimbangkan baik substansi pengendalian maupun dampaknya secara

kolektif. Auditor harus memusatkan pada substansi pengendalian daripada

bentuk luarnya, karena pengendalian mungkin dibangun namun tidak

dilaksanakan. Sebagai contoh, manajemen dapat membangun aturan perilaku

formal namun bertindak yang melanggar apa yang telah ditetapkan dalam

aturan tersebut.
14

5. Kebutuhan Akan Supervisi

Kecurangan sering kali terjadi menyangkut hal berikut ini: (a) suatu tekanan

atau suatu dorongan untuk melakukan kecurangan, (b) suatu peluang yang

dirasakan ada untuk melaksanakan kecurangan. Meskipun tekanan dan peluang

khusus untuk terjadinya kecurangan dalam laporan keuangan dapat berbeda dari

kecurangan melalui perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva, dua kondisi

tersebut biasanya terjadi di kedua tipe kecurangan tersebut. Sebagai contoh,

kecurangan dalam pelaporan keuangan dapat dilakukan karena manajemen

berada di bawah tekanan untuk mencapai target laba yang tidak realistik.

Perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva dapat dilakukan karena individu yang

terlibat hidup di luar batas kemampuannya. Peluang dirasakan ada jika seorang

individu yakin bahwa ia dapat menghindari pengendalian intern (SA 316).

Kecurangan dapat disembunyikan dengan memalsukan dokumentasi,

termasuk pemalsuan tanda tangan. Sebagai contoh, manajemen yang

melakukan kecurangan dalam pelaporan keuangan dapat mencoba

menyembunyikan salah saji dengan menciptakan faktur fiktif, karyawan atau

manajemen yang memperlakukan kas secara tidak semestinya dapat mencoba

menyembunyikan tindakan pencurian mereka dengan memalsu tanda tangan

atau menciptakan pengesahan elektronik yang tidak sah di atas dokumen

otorisasi pengeluaran kas. Audit yang dilaksanakan berdasarkan standar auditing

yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia jarang berkaitan dengan keaslian


15

dokumentasi, atau auditor tidak terlatih sebagai atau diharapkan sebagai

seorang yang ahli dalam menguji keaslian seperti itu.

Kecurangan juga disembunyikan melalui kolusi di antara manajemen,

karyawan atau pihak ketiga. Sebagai contoh, melalui kolusi, bukti palsu bahwa

pengendalian aktivitas telah dilaksanakan secara efektif dapat disajikan kepada

auditor. Contoh lain, auditor dapat menerima konfirmasi palsu dari pihak ketiga

yang melakukan kolusi dengan manajemen. Kolusi dapat menyebabkan auditor

percaya bahwa suatu bukti dapat meyakinkan, meskipun kenyataannya palsu.

Karena kemungkingan terjadinya kecurangan sangat tinggi, perusahaan

menerapkan pengawasan yang lebih ketat lagi. Semakin tinggi tingkat

kecurangan yang terjadi dalam perusahaan, kebutuhan akan supervisi juga akan

semakin tinggi.

B. Penetapan Risiko Salah Saji Material dan Desain Prosedur Audit

Salah saji yang timbul dari kecurangan dalam pelaporan keuangan adalah salah saji

atau penghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan

untuk mengelabuhi pemakai laporan keuangan. Kecurangan dalam laporan keuangan

dapat menyangkut tindakan seperti yang disajikan berikut ini:

1. Manipulasi, pemalsuan, atau perubahan catatan akuntansi atau dokumen

pendukungnya yang menjadi sumber data bagi penyajian laporan keuangan.

2. Representasi yang salah dalam atau penghilangan dari laporan keuangan peristiwa,

transaksi, atau informasi signifikan.


16

3. Salah penerapan secara sengaja prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah,

klasifikasi, cara penyajian, atau pengungkapan.

Salah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva berkaitan

dengan pencurian aktiva entitas yang berakibat laporan keuangan tidak disajikan sesuai

dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Perlakuan tidak semestinya

terhadap aktiva entitas dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk penggelapan

tanda terima barang/uang, pencurian aktiva, atau tindakan yang menyebabkan entitas

membayar harga barang atau jasa yang tidak diterima oleh entitas. Perlakuan tidak

semestinya terhadap aktiva dapat disertai dengan catatan atau dokumen palsu atau yang

menyesatkan dan dapat menyangkut satu atau lebih individu di antara manajemen,

karyawan, atau pihak ketiga.

Auditor tidak dapat memperoleh keyakinan absolut bahwa salah saji material dalam

laporan keuangan akan terdeteksi. Karena aspek penyembunyian kegiatan kecurangan,

termasuk fakta bahwa kecurangan sering kali mencakup kolusi atau pemalsuan

dokumentasi, dan kebutuhan untuk menerapkan pertimbangan profesional dalam

mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor risiko kecurangan dan kondisi lain, walaupun

audit yang direncanakan dan dilaksanakan dengan baik mungkin tidak dapat mendeteksi

salah saji material yang diakibatkan oleh kecurangan.

a) Penaksiran Risiko Salah Saji Material Sebagai Akibat Dari Kecurangan

Audit harus secara khusus menaksir risiko salah saji material dalam laporan keuangan

sebagai akibat dari kecurangan dan harus mempertimbangkan taksiran risiko ini

dalam mendesain prosedur audit yang akan dilaksanakan. Dalam melakukan

penaksiran ini, auditor harus mempertimbangkan faktor risiko kecurangan yang


17

berkaitan dengan baik salah saji yang timbul sebagai akibat kecurangan dalam

pelaporan keuangan maupun salah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya

terhadap aktiva untuk setiap golongan yang bersangkutan. Sebagai bagian dari

penaksiran risiko, auditor juga harus meminta keterangan kepada manajemen untuk

memperoleh pemahaman dari manajemen tentang risiko kecurangan dalam entitas

dan untuk menentukan apakah manajemen memiliki pengetahuan tentang kecurangan

yang telah dilakukan terhadap atau terjadi dalam entitas. Informasi dari permintaan

keterangan ini dapat mengidentifikasi faktor-faktor risiko kecurangan yang mungkin

berdampak terhadap taksiran auditor dan tanggapan yang bersangkutan. Beberapa hal

yang dapat diajukan sebagai pertanyaan adalah apakah terdapat lokasi anak

perusahaan tertentu, segmen bisnis, tipe transaksi, saldo akun, atau golongan laporan

keuangan yang di dalamnya terdapat faktor risiko kecurangan atau memiliki

kemungkinan lebih besar adanya faktor risiko tersebut dan bagaimana manajemen

menangani risiko seperti itu.

b) Faktor Risiko Yang Berkaitan Dengan Salah Saji Yang Timbul Dari

Kecurangan Dalam Pelaporan Keuangan.

Faktor risiko yang berkaitan dengan salah saji yang timbul dari kecurangan dalam

pelaporan keuangan dapat dikelompokkan ke dalam tiga golongan yaitu:

Karakteristik dan pengaruh manajemen atas lingkungan pengendalian.

Faktor risiko ini berkaitan dengan kemampuan, tekanan, gaya, dan sikap

manajemen atas pengendalian intern dan proses pelaporan keuangan.


18

Kondisi industri. Faktor risiko ini mencakup lingkungan ekonomi dan peraturan

dalam industri yang menjadi tempat beroperasinya entitas.

Karakteristik operasi dan stabilitas keuangan. Faktor risiko ini berkaitan dengan

sifat dan kekompleksan entitas dan transaksinya, keadaan keuangan entitas, dan

kemampuan entitas dalam menghasilkan laba.

Berikut ini merupakan faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan salah saji

sebagai akibat kecurangan dalam pelaporan keuangan untuk setiap golongan risiko

tersebut di atas :

a. Faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan karakteristik dan pengaruh manajemen

terhadap lingkungan pengendalian. Contoh-contoh meliputi:

Suatu dorongan bagi manajemen untuk melakukan kecurangan dalam pelaporan

keuangan. Indikator khusus dapat mencakup bagian signifikan kompensasi

manajemen diwujudkan dalam bonus, stock option, atau insentif lain, yang

nilainya tergantung pada kemampuan entitas dalam mencapai target yang

terlalu agresif dalam hasil operasi, posisi keuangan, atau arus kas, Kepentingan

berlebihan manajemen dalam mempertahankan atau meningkatkan harga saham

atau trend laba entitas melalui penggunaan praktik-praktik akuntansi yang

agresif, Praktik oleh manajemen dalam memberikan komitmen kepada analis,

kreditur, dan pihak ketiga yang lain untuk mencapai prakiraan yang tampak

terlalu agresif atau secara jelas tidak realistik, Kepentingan manajemen dalam

menempuh cara yang tidak semestinya untuk meminimumkan laba yang

dilaporkan berdasarkan alasan pajak.


19

Kegagalan manajemen untuk menyajikan dan mengomunikasikan sikap yang

semestinya tentang pengendalian intern dan proses pelaporan keuangan.

Indikator khusus dapat mencakup cara yang tidak efektif untuk

mengomunikasikan dan mendukung nilai dan etika entitas, atau

pengomunikasian nilai atau etika yang tidak semestinya, dominasi manajemen

oleh seorang individu atau kelompok kecil, tanpa adanya pengendalian yang

mengompensasi kondisi tersebut seperti pengawasan oleh dewan komisaris atau

komite audit, Pemantauan yang tidak mencukupi terhadap pengendalian

signifikan, kegagalan manajemen dalam membetulkan pada waktu yang tepat

kondisi yang dilaporkan dan yang sudah diketahui, penetapan target dan

harapan keuangan yang terlalu agresif oleh manajemen terhadap personel

operasi, ketidakpedulian signifikan terhadap pihak pengatur yang diperlihatkan

oleh manajemen, pemekerjaan secara terus menerus staf akuntansi, teknologi

informasi, auditor intern yang tidak efektif.

Partisipasi dan fokus belebihan manajemen nonkeuangan terhadap pemilihan

prinsip akuntansi atau penentuan estimasi signifikan.

Tingkat perputaran yang tinggi anggota manajemen senior, penasihat, atau

dewan komisaris.

Hubungan tegang antara manajemen dengan auditor sekarang atau auditor

pendahulu. Indikator khusus dapat mencakup perbedaan pendapat yang sering

terjadi dengan auditor sekarang atau auditor pendahulu tentang akuntansi,

auditing, dan pelaporan, permintaan yang tidak masuk akal kepada auditor,
20

termasuk batasan waktu yang tidak masuk akal untuk menyelesaikan audit atau

penerbitan laporan auditor, pembatasan resmi atau tidak resmi terhadap auditor

yang membatasi secara tidak semestinya akses auditor ke orang atau informasi

atau atas kemampuan auditor untuk melakukan komunikasi secara efektif

dengan dewan komisaris atau komite audit, dominasi perilaku manajemen

dalam berhubungan dengan auditor, terutama yang menyangkut usaha untuk

mempengaruhi lingkup pekerjaan auditor.

Riwayat yang diketahui tentang pelanggaran peraturan sekuritas atau tuntutan

kepada entitas atau manajemen seniornya yang dituduh melakukan kecurangan

atau pelanggaran undang-undang sekuritas.

b. Faktor risiko yang berkaitan dengan kondisi industri. Contohnya mencakup

akuntansi baru, undang-undang, atau persyaratan peraturan yang dapat

menghancurkan stabilitas keuangan atau profitabilitas entitas, tiingginya tingkat

kompetisi atau kejenuhan pasar, yang disertai dengan menurunnya laba,

menurunnya industri dengan meningkatnya kegagalan bisnis dan menurunnya

permintaan customers, perubahan pesat dalam industri, seperti kerentanan terhadap

perubahan cepat teknologi atau keusangan produk yang cepat.

c. Faktor risiko yang berkaitan dengan karakteristik operasi dan stabilitas keuangan.

Contohnya mencakup ketidakmampuan untuk menghasilkan arus kas dari operasi,

sementara itu perusahaan dilaporkan laba dan labanya mengalami pertumbuhan,

tekanan signifikan untuk memperoleh modal yang diperlukan untuk

mempertahankan daya saing dengan mempertimbangkan posisi keuangan entitas-

termasuk kebutuhan dana untuk membelanjai pengeluaran riset dan pengembangan


21

atau pengeluaran modal, transaksi signifikan antar pihak yang memiliki hubungan

istimewa yang tidak dalam kegiatan bisnis normal atau dengan entitas yang

memiliki hubungan istimewa yang tidak diaudit atau diaudit oleh kantor akuntan

publik lain, struktur organisasi yang sangat kompleks yang terdiri dari entitas

legal, garis wewenang manajerial, atau perjanjian kontrak yang berbagai macam

dan tidak biasa, tanpa tujuan bisnis yang nyata, kesulitan dalam penentuan

organisasi atau individu yang mengendalikan entitas, pertumbuhan atau

profitabilitas yang sangat pesat, terutama dibandingkan dengan perusahaan lain

dalam industri yang sama, sangat tergantung terhadap utang atau kemampuan

rendah untuk memenuhi persyaratan pembayaran kembali utang; perjanjian

penarikan utang yang sulit untuk dipenuhi, ancaman kebangkrutan atau penyitaan

yang akan terjadi segera atau pengambilalihan perusahaan secara paksa (hostile

take over ), posisi keuangan yang buruk atau menurun bila manajemen memiliki

utang entitas dalam jumlah yang signifikan yang dijamin secara pribadi.

c) Faktor Risiko Yang Berkaitan Dengan Salah Saji Yang Disebabkan Oleh

Perlakuan Tidak Semestinya Terhadap Aktiva

Faktor risiko yang berkaitan dengan salah saji yang disebabkan oleh perlakuan tidak

semestinya terhadap aktiva dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan berikut ini:

Tingkat kecurigaan tentang terjadinya perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva.

Hal ini berkaitan dengan sifat aktiva entitas dan tingkat kerentanan aktiva dari

pencurian. Tingkat kecurigaan tentang terjadinya perlakuan tidak semestinya

terhadap aktiva.

1) Jumlah kas atau kas dalam proses yang sangat besar


22

2) Karakteristik sediaan, seperti ukuran kecil, nilai tinggi, atau permintaan tinggi.

3) Aktiva yang mudah diubah, seperti obligasi atas unjuk (bearer bond ), berlian,

atau computer chip.

4) Karakteristik aktiva tetap, seperti ukuran kecil, mudah dijual, atau tidak adanya

identifikasi kepemilikan.

Faktor risiko yang berkaitan dengan pengendalian adalah kurangnya

pengendalian oleh manajemen, kurangnya prosedur penyaringan pelamar

pekerjaan untuk karyawan yang memiliki akses ke aktiva yang dicurigai rentan

terhadap perlakuan tidak semestinya, tidak memadainya penyelenggaraan catatan

untuk aktiva yang dicurigai rentan terhadap perlakuan tidak semestinya, kurangnya

pemisahan tugas atau pengecekan secara independen, kurangnya sistem otorisasi

dan pengesahan transaksi, penjagaan fisik yang buruk terhadap kas, investasi,

sediaan, atau aktiva tetap, kurangnya pendokumentasian semestinya dan tepat

waktu terhadap transaksi, kurangnya pengambilan liburan wajib bagi karyawan

yang melaksanakan fungsi pengendalian kunci.

Pengendalian.Hal ini berkaitan dengan kurangnya pengendalian yang

dirancang untuk mencegah atau mendeteksi terjadinya perlakuan tidak

semestinya terhadap aktiva.

.
23

BAB III

PEMBAHASAN KASUS

1. Latar Belakang Kasus

Auditor BPK Beda Pendapat Soal Temuan Dana Honor Rp 550 Miliar

Kasus Suap Opini WTP Kementerian Desa

JUMAT, 15 SEPTEMBER 2017 | 11:10 WIB

RMOL. Hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap laporan


keuangan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi tahun
2016 menemukan adanya dana Rp 550 miliar untuk pendampingan desa.

Penggunaan dana setengahtriliun itu sempat dipersoalkan karena dianggap tak sesuai
ketentuan. Meski begitu, auditor BPK tetap mengusulkan agar laporan keuangan
Kementerian Desa tahun 2016 mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Ketua tim pemeriksa laporan keuangan Kementerian Desa dan PDTT untuk tahun 2016,
Andi Bonanganom, dihadirkan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk
menjelaskan temuan itu.

Andi bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta kemarin untuk perkara terdakwa Inspektur
Jenderal Kemendes PDTT Sugito dan Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan
Inspektorat Kemendes, Jarot Budi Prabowo. Keduanya didakwa menyuap auditor BPK.

Dalam persidangan, jaksa KPK Ali Fikri sempat bertanya kepada Andi seputar temuan
Rp 550 miliar tersebut. Jaksa menanyakan, apakah temuan itu berpengaruh untuk
menentukan opini Kemendes.

Menurut Andi, sesuai panduan pemeriksaan, tim harus mempertimbangkan hasil


pemeriksaan sebelumnya, termasuk pemerikssaan dengan tujuan tertentu.

"Jadi, hasil pemeriksaan dengantujuan tertentu kami analisa,dan memang ada temuan
yang cukup besar yaitu mengenaipendampingan dana desa. Secara nilai kami analisa,"
kata Andi.
24

Dari hasil analisa tim, diketahui bahwa yang dipermasalahkan adalah mekanisme
pertanggungjawaban dana pendampingandesa. Setelah dipelajari, ternyata mekanisme
pemberian dana bagi pendamping menggunakan mekanisme lumpsum.

Menurut Andi, tim pemeriksa keuangan sudah menanyakan kepada pihak Kemendes,
mengenai hal-hal apa saja yang sudah dilakukan sebagai tindaklanjut rekomendasi dari
hasil temuan sebelumnya.

"Karena mekanisme (pembayaran) lumpsum, itu jadi tidak berpengaruh. Dari hasil yang
diperoleh dari Kementerian, kami tahu bahwa Kemendes sudah tindaklanjuti sebagian
besar dari rekomendasi itu," kata Andi.

Menurut Andi, terkait temuan Rp 550 miliar, Kemendes telahmenyerahkan bukti Surat
Perintah Pencairan Dana (SP2D), bukti transfer, dan daftar penerima rekening. Dengan
demikian, temuan Rp 550 miliar itu dianggap telah selesai diklarifikasi oleh Kemendes.

"Kami uji, apakah asersi untuk belanja tersebut sudah disajikan secara wajar di laporan
keuangan," ujarnya.

"Ternyata Rp 550 miliar ini sudah dikirim kepada pendamping dana desa. Mekanisme
lumpsum juga sudah sesuai dengan Menteri Keuangan," kata Andi.

Keterangan Andi mengenai pertanggungjawaban dana Rp 550 miliar itu berbeda dengan
keterangan auditor BPK yang menjadi saksi pada persidangan sebelumnya.

Ketua Tim Pemeriksa dengan Tujuan Tertentu BPK Yudi Ayodhya dalam kesaksiannya
Rabu (13/9) mengungkapkan ada temuan tak wajar dari penggunaan anggaran oleh
Kemendes terkait pemberian honorarium pendamping desa tahun anggaran 2015-2016.

"Ada temuan biaya program pendamping dana desa tak wajar yang belum dibayarkan
sebesar Rp 425 miliar pada tahun 2015 dan Rp 550 miliar pada tahun 2016," ujar Yudi.

Temuan pengelolaan dana yang belum dibayarkan itu berasal dari total anggaran sebesar
Rp1 triliun pada tahun 2015 dan sekitar Rp1,3 triliun pada tahun 2016. "Honor untuk
pendamping dana desa itu tidak ada dasar kajiannya," katanya.

Yudi menuturkan, berdasarkan hasil kajian BPK biaya pendamping dana desa untuk
PNS golongan II A mestinya hanya Rp 1,9 juta. Namun dari hasil perhitungan
Kemendes dicantumkan sebesar Rp 2,5 juta.

"Itu yang tidak wajar dan sampai akhir Oktober tahun lalu juga tidak ada dokumen yang
bisa dipertanggungjawabkan," tuturnya.
25

Hasil temuan ini juga telah diungkapkan Direktur Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kemendes Taufik Madjid dalam persidangan sebelumnya.

Taufik menyebut honor pendamping desa yang belum dibayar pada tahun 2015 sebesar
Rp 450 miliar dan Rp 550 miliar pada tahun 2016.

Ia kemudian melaporkan temuan itu pada Sugito dan dilan-jutkan ke auditor BPK Ali
Sadli yang telah menjadi tersangka dalam perkara ini. Namun Ali mengaku tak bisa
mengklarifikasi, karena hasilnya nanti akan memengaruhi opini dari BPK tehadap
Kemendes.

Sugito dan Jarot didakwa menyuap Auditor Utama BPK Rochmadi Saptogiri untuk
memperoleh opini WTP terhadap hasil laporan keuangan Kemendes tahun anggaran
2016. Uang suap itu dikumpulkan dengan cara "patungan" dari sejumlah unit kerja
eselon I Kemendes sebesar Rp 240 juta.

Uang tersebut kemudian diberikan dengan maksud agar Rochmadi menentukan opini
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas
Laporan Keuangan Kemendes tahun ang-garan 2016.

2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian kasus diatas, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan:

a. Hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap laporan keuangan

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi tahun 2016

menemukan adanya dana Rp 550 miliar untuk pendampingan desa.

b. Penggunaan dana Rp 550 miliar itu sempat dipersoalkan karena dianggap tak sesuai

ketentuan. Meski begitu, auditor BPK tetap mengusul-kan agar laporan keuangan

Kementerian Desa tahun 2016 mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

c. Menurut Ketua tim pemeriksa laporan keuangan Kementerian Desa dan PDTT untuk

tahun 2016, Andi Bonanganom dari hasil analisa tim, diketahui bahwa yang

dipermasalahkan adalah mekanisme pertanggungjawaban dana pendampingandesa.


26

Setelah dipelajari, ternyata mekanisme pemberian dana bagi pendamping

menggunakan mekanisme lumpsum. Karena mekanisme (pembayaran) lumpsum, itu

jadi tidak berpengaruh. Dari hasil yang diperoleh dari Kementerian, mereka

mengetahui Kemendes sudah tindaklanjuti sebagian besar dari rekomendasi dan

mekanisme lumpsum juga sudah sesuai dengan Menteri Keuangan

d. Ketua Tim Pemeriksa dengan Tujuan Tertentu BPK Yudi Ayodhya dalam

kesaksiannya mengungkapkan ada temuan tak wajar dari penggunaan anggaran oleh

Kemendes terkait pemberian honorarium pendamping desa tahun anggaran 2015-

2016. Ada temuan biaya program pendamping dana desa tak wajar yang belum

dibayarkan sebesar Rp 425 miliar pada tahun 2015 dan Rp 550 miliar pada tahun

2016. Temuan pengelolaan dana yang belum dibayarkan itu berasal dari total

anggaran sebesar Rp1 triliun pada tahun 2015 dan sekitar Rp1,3 triliun pada tahun

2016. Honor untuk pendamping dana desa itu tidak ada dasar kajiannya. Berdasarkan

hasil kajian BPK biaya pendamping dana desa untuk PNS golongan II A mestinya

hanya Rp 1,9 juta. Namun dari hasil perhitungan Kemendes dicantumkan sebesar Rp

2,5 juta

e. Yudi kemudian melaporkan temuan itu pada Sugito dan dilan-jutkan ke auditor BPK

Ali Sadli yang telah menjadi tersangka dalam perkara ini. Namun Ali mengaku tak

bisa mengklarifikasi, karena hasilnya nanti akan memengaruhi opini dari BPK

tehadap Kemendes

f. Sugito dan Jarot didakwa menyuap Auditor Utama BPK Rochmadi Saptogiri untuk

memperoleh opini WTP terhadap hasil laporan keuangan Kemendes tahun anggaran
27

2016. Uang suap itu dikumpulkan dengan cara "patungan" dari sejumlah unit kerja

eselon I Kemendes sebesar Rp 240 juta

3. Analisis Kasus dan Pembahasan

BPK adalah lembaga negara yang dipercayakan memberi opini profesional atas

laporan keuangan seluruh kementerian dan lembaga yang menggunakan uang negara.

Opini BPK adalah salah satu indikator good governance. Kalau sebuah kementerian atau

lembaga untuk meraih predikat WTP dengan jalan pintas seperti menyuap petugas atau

auditor BPK, itu adalah perbuatan yang sulit untuk dimaafkan. Sepanjang ini pemerintah

dan BPK secara profesional selalu serius melakukan pembahasan laporan penggunaan

keuangan negara. Namun, kemunculan kasus pemberian opini WTP kepada

Kementerian Desa PDTT melalui jalan pintas alias suap telah menggerus kepercayaan

masyarakat terhadap pemerintah terkait penggunaan anggaran selama ini.

Bagi kementerian dan lembaga, status opini WTP dari BPK memang sangat penting

sebab menunjukkan bahwa penyusunan laporan keuangannya telah sesuai dengan

prinsip pelaporan yang wajar dan sesuai standar aturan. Namun, harus dicatat bahwa

laporan keuangan baik dari kementerian maupun lembaga yang meraih opini WTP dari

BPK bukanlah jaminan bahwa pengelolaan anggarannya terhindar dari tindakan korupsi.

Memang, opini disclaimer yang diterbitkan BPK terhadap sebuah kementerian atau

lembaga bukan berarti menandakan instansi tersebut berpotensi merugikan negara. Pihak

BPK hanya memberikan pendapat atau tidak terhadap suatu laporan keuangan untuk satu

tahun anggaran, yang meliputi penerimaan, belanja, dan utang. Intinya, BPK hanya

mengecek dan mencatat transaksinya apakah benar telah dilakukan lalu diberi opini.
28

Penjelasan formal atas pemberian opini dari BPK terhadap kementerian dan

lembaga dapat dipahami. Namun, bila pihak yang diperiksa menghalalkan segala cara

termasuk suap untuk mendapatkan opini WTP dan diamini oleh auditor BPK, menjadi

pertanyaan besar dan patut diduga ada masalah dalam pengelolaan anggaran.
29

BAB IV

KESIMPULAN

1. Pemahaman yang objektif dan komprehensif atas entitas yang akan diaudit sangat

penting untuk mempertajam tujuan audit serta mengidentifikasi isu-isu kritis dan penting

sehingga audit dapat dilaksanakan secara lebih ekonomis, efisien, dan efektif.

Pemahaman tersebut juga membantu mencegah dihasilkannya temuan yang

menyesatkan (misleading)

2. Audit harus secara khusus menaksir risiko salah saji material dalam laporan keuangan

sebagai akibat dari kecurangan dan harus mempertimbangkan taksiran risiko ini dalam

mendesain prosedur audit yang akan dilaksanakan. Dalam melakukan penaksiran ini,

auditor harus mempertimbangkan faktor risiko kecurangan yang berkaitan dengan baik

salah saji yang timbul sebagai akibat kecurangan dalam pelaporan keuangan maupun

salah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva untuk setiap

golongan yang bersangkutan.


30

DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Akuntan Publik Indonesia. 2013. Standar Audit (SA) 315. Jakarta : Salemba
Empat
Ikatan Akuntan Publik Indonesia. 2013. Standar Audit (SA) 316. Jakarta : Salemba
Empat
Ikatan Akuntan Publik Indonesia. 2013. Standar Audit (SA) 317. Jakarta : Salemba
Empat
Ikatan Akuntan Publik Indonesia. 2013. Standar Audit (SA) 318. Jakarta : Salemba
Empat
Ikatan Akuntan Publik Indonesia. 2013. Standar Audit (SA) 320. Jakarta : Salemba
Empat
Ikatan Akuntan Publik Indonesia. 2013. Standar Audit (SA) 329. Jakarta : Salemba
Empat
Rai, I Gusti Agung. 2008. Audit Kinerja pada Sektor Publik. Jilid 1. Jakarta : Salemba
Empat
http://www.rmol.co/read/2017/09/307214/Auditor-BPK-Beda-Pendapat-Soal-Temuan-
Dana-Honor-Rp-550-Miliar- (diakses 22 September 2017)
http://nasional.sindonews.com/read/1209116/16/mengejar-opini-wtp- (diakses pada 24
September 2017)

Anda mungkin juga menyukai