Anda di halaman 1dari 12

e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha

Volume : Vol: 4 No: 2 Tahun:2016

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE GURU DALAM


PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS VII SMP
NEGERI 4 KUBUTAMBAHAN

[1], [2], [3]


Ni Luh Ayu Gayatri I Nyoman Sudiana Made Sri Indriani

Jurusan Penddikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan


Ganesha Singaraja, Indonesia

email: {gayatriananda315@gmail.com, sudiana195723@gmail.com, sriindriani@yahoo.com}


@undiksha.ac.id

Abstrak
Penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia di kelas VII SMP N 4 Kubutambahan dengan tujuan untuk 1)
mendeskripsikan jenis alih kode yang dilakukan guru dalam interaksi pembelajaran; 2)
mendeskripsikan jenis campur kode yang dilakukan guru dalam interaksi pembelajaran;
3) mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan guru melakukan alih kode; 4)
mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan guru melakukan campur kode; dan 5)
mendeskripsikan pengaruh alih kode dan campur kode terhadap pemahaman siswa.
Metode yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini
menunjukkan 1) dari dua jenis alih kode yang ada, guru hanya melakukan alih kode
intern; 2) ) dari tiga jenis campur kode yang ada, guru hanya melakukan campur kode
ke dalam dan ke luar; 3) faktor-faktor yang melatarbelakangi guru melakukan alih kode
adalah 1) pendengar atau lawan bicara yang meliputi faktor keinginan guru
mengimbangi kemampuan berbahasa siswa, faktor keinginan guru untuk memberikan
pujian kepada siswa, dan faktor keinginan guru untuk menegur atau memberikan
nasihat, 2) perubahan topik pembicaraan yang meliputi faktor keinginan guru untuk
menghidupkan suasana belajar agar tidak tegang, dan 3) pembicara yang meliputi
faktor kebiasaan guru menggunakan bahasa Bali; 4) faktor-faktor yang
melatarbelakangi guru melakukan campur kode adalah 1) siapa yang berbicara meliputi
faktor penekanan pada kata-kata tertentu dan ketidaksadaran guru, 2) pokok
pembicaraan yang meliputi faktor keterbatasan bahasa Indonesia dan kesederhanaan
struktur bahasa lain; 5) pengaruh positif alih kode dan campur kode guru terhadap
pemahaman siswa adalah lebih mudah memahami materi, sedangkan dampak negatif
campur kode adalah dapat mengurangi proses pemerolehan bahasa Indonesia siswa
dan dapat menyebabkan pemborosan waktu.

Kata kunci: alih kode, campur kode, pembelajaran Bahasa Indonesia, guru

Abstract
This deskriptive qualitative study was done inIndonesian learning at VII grade
students of SMP N 4 Kubutambahan with aims to: 1) describe the types of code
switching done by the teacher learning interaction; 2) to describe types of code mixing
done by the teacher learning interaction; 3) to describe the factors of code switching
done by the teacher; 4) to describe the factors of code mixing done by the teacher; and
5) to describe the influence of code switching and code mixing to the students
understanding learning. The method used observation and interview. The results of this
study showed 1) of two factors causing of the code switching, in this study was found
intern code switching.; 2) of three factors causing of the code mixing, in this study was

1
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Volume : Vol: 4 No: 2 Tahun:2016

found intern code mixing and ekstern code mixing; 3) the factors behind the teacher to
did code switching are 1) the listener or the speaker that includes factors teachers
'concerns offset the students' language skills, factor the desire of teachers to give praise
to the students, and factor the desire of teachers to reprimanding or give advice, 2)
change topic factors include teachers desire to liven learned not tense, and 3) the
speaker that includes factors habit of using language teachers Bali; 4) the factors behind
the teacher did code mixing are 1) speaking factors include emphasis on certain words
and unconsciousness teachers, 2) the subject of the limitation factors include
Indonesian and other languages simple structure; 5) the positive effect of code switching
and code-mixing of teachers to students' understanding is more easily understand the
material, while the negative impact of mixed code is able to reduce the process of
acquiring Indonesian students and can lead to wastage of time.

Keywords: code switching, code mixing, Indonesian learning, teacher

PENDAHULUAN dipakai dalam menggambarkan makna


Penguasaan lebih dari satu bahasa tertentu, dan bahasa manusia adalah
mengharuskan seseorang untuk memilih sejenis kode; (2) sistem bahasa dalam
bahasa yang akan digunakan. Pemilihan suatu masyarakat; (3) variasi tertentu dalam
bahasa identik dengan kedwibahasaan bahasa. Alih kode merupakan salah satu
sebagai wujud dalam peristiwa kontak aspek ketergantungan bahasa dalam
bahasa. Kedwibahasaan menurut masyarakat bilingual atau multilingual.
Blommfield (dalam Aslinda dan Leni, 2010) Artinya, dalam masyarakat bilingual atau
adalah penguasaan yang sama baiknya multilingual mungkin sekali seorang penutur
terhadap dua bahasa. Seseorang yang menggunakan berbagai kode dalam tindak
mengenal dua bahasa berarti mampu tuturnya sesuai dengan situasi dan
menggunakan dua bahasa. Pernyataan itu berbagai aspek yang melingkupinya. Appel
ditentang oleh Huagen (dalam Rokhman, (dalam Chaer dan Leonie, 2010:107)
2013) bahwa seorang dwibahasawan tidak menjelaskan bahwa alih kode adalah gejala
perlu menguasai B2 secara aktif produktif, peralihan pemakaian bahasa karena
tetapi cukup sebatas memiliki kemampuan berubahnya situasi. Jendra (dalam
reseptif B2. Adanya kecenderungan untuk Pusparini, 2015) menerangkan bahwa alih
memperluas pengetahuan dan wawasan, kode adalah situasi dimana seorang
mendorong masyarakat global untuk pembicara dengan sengaja mengganti kode
berlomba-lomba memaksimalkan potensi bahasa yang sedang ia gunakan karena
diri khususnya dalam penguasaan bahasa. suatu alasan. Dari sekian pendapat di atas,
Hal ini mengakibatkan berkembang pula dapat ditarik simpulan bahwa alih kode
fenomena kontak bahasa yang tidak lagi merupakan gejala peralihan dari satu
sebatas antara bahasa nasional dan bahasa ke bahasa lainnya, dari satu variasi
bahasa daerah, namun juga antara bahasa ke variasi lain atau dapat pula berupa
nasional dengan bahasa asing, bahasa peralihan dari satu ragam ke ragam lain.
daerah dengan bahasa asing, bahkan Rokhman (2013:37) menegaskan bahwa di
kontak antara ketiga bahasa baik bahasa masyarakat multilingual hampir tidak
nasional, daerah, dan asing dalam suatu mungkin seseorang menggunakan satu
komunikasi. Peristiwa itulah yang kemudian bahasa secara mutlak tanpa memanfaatkan
dapat memunculkan alih kode (code bahasa atau unsur bahasa lain sebab
switching) dan campur kode (code mixing). antara satu bahasa dengan bahasa lainnya
Wardhaugh (dalam Margana 2013) memiliki ketergantungan dalam masyarakat
membenarkan bahwa alih kode (AK) multilingual.
merupakan fenomena yang lazim terjadi di Pembahasan tentang alih kode
antara para dwibahasawan. selalu diikuti pembahasan tentang campur
Kridalaksana (dalam Rohmani, kode. Pasalnya kedua gejala tersebut
2013) mengartikan kode sebagai: (1) seringkali terjadi secara bersamaan dalam
lambang atau sistem ungkapan yang sebuah peristiwa sosiolinguistik. Subyakto

2
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Volume : Vol: 4 No: 2 Tahun:2016

(dalam Nugroho, 2012) mengungkapkan survey, sebanyak 74% siswa menggunakan


bahwa campur kode adalah penggunaan bahasa Bali sebagai bahasa pertama.
dua bahasa atau lebih atau ragam bahasa Keadaan ini berpengaruh terhadap
secara santai antara orang-orang yang kita kemampuan siswa menangkap informasi
kenal dengan akrab. Thelander (dalam yang disampaikan oleh guru. Untuk
Chaer, 1995) juga mengatakan bahwa mengurangi dampak buruk tersebut, guru
dalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa mencampurkan bahasa Bali dalam
dan frasa-frasa yang digunakan terdiri atas tuturannya agar informasi yang
frasa campuran dan masing-masing frasa disampaikan tidak dapat dicerna dengan
itu tidak lagi saling mendukung fungsi baik.
sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi Kegiatan belajar mengajar
adalah campur kode. Ada beberapa ciri-ciri merupakan kegiatan formal. Untuk itu,
campur kode menurut Jendra (dalam bahasa pengantar harus sesuai dengan
Pusparini, 2015), yakni:a) campur kode kaidah yang berlaku. Penggunaan bahasa
tidak dituntut oleh situasi dan konteks daerah yakni bahasa Bali menjadikan
pembicaraan seperti dalam gejala alih situasi yang seharusnya formal menjadi
kode, tetapi bergantung pada pembicaraan kurang formal. Kondisi semacam ini
(fungsi bahasa). B) campur kode terjadi menandakan bahwa bahasa Indonesia
karena kesantaian pembicara dan kurang mendapat apresiasi positif, bahkan
kebiasaannya dalam pemakaian bahasa. 3) Sumarsono dan Partana (2004)
campur kode pada umumnya terjadi dalam mengatakan bahwa peristiwa alih kode
situasi tidak resmi (informal). 4) unsur berpotensi menimbulkan pergeseran dan
bahasa sisipan yang dalam peristiwa kepunahan bahasa. Sebagaimana yang
campur kode tidak lagi mendukung fungsi telah disebutkan dalam Pasal 36 UUD
bahasa secara mandiri, tetapi sudah 1945, Bahasa Negara ialah Bahasa
menyatu dengan bahasa yang sudah Indonesia. Dalam kedudukannya sebagai
disisipi. bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi
Kachru (dalam Rokhman, 2013:38) sebagai alat pengantar dalam dunia
memberikan batasan campur kode sebagai pendidikan (Mustakim, 1994). Hal tersebut
Pemakaian dua bahasa atau lebih dengan berarti bahasa Indonesia wajib digunakan
saling memasukkan unsur bahasa yang sebagai bahasa pengantar dalam proses
satu ke unsur bahasa yang lain secara belajar mengajar terutama dalam mata
konsisten. Menurutnya, campur kode pelajaran Bahasa Indonesia. Pernyataan
merupakan penggunaan satu bahasa tersebut didukung oleh Chaer dan Leonie
dengan memasukkan unsur-unsur bahasa (2010:190) bahwa bahasa baku atau ragam
yang menyisip ke bahasa lain secara baku merupakan variasi bahasa yang telah
konsisten. disepakati untuk dijadikan patokan atau
Berdasarkan pendapat-pendapat di tolok ukur sebagai bahasa yang dikatakatan
atas, maka campur kode adalah peristiwa baik atau benar dalam situasi resmi atau
pemakaian dua bahasa atau lebih dalam formal baik secara lisan maupun tulisan.
suatu komunikasi dengan memasukkan Salah satu sekolah yang diobservasi
serpihan-serpihan atau unsur bahasa lain adalah SMP Negeri 4 Kubutambahan yang
karena adanya beberapa kata atau istilah terletak di pedesaan. Permasalahan yang
yang tidak dapat disampaikan sehingga selama ini dihadapi oleh guru mata
mengharuskan untuk menggunakan bahasa pelajaran bahasa Indonesia adalah
atau ragam bahasa daerah/asing. keterbatasan kosakata bahasa Indonesia
Fenomena alih kode dan campur siswa khususnya siswa kelas VII yang
kode dapat terjadi baik pada situasi mengakibatkan kesulitan guru dalam
kebahasaan nonformal misalnya dalam menyampaikan materi pelajaran sebab
percakapan sehari-hari maupun dalam hampir seluruh siswa hanya menguasai
situasi formal, seperti di lembaga-lembaga bahasa daerah dan sekaligus sebagai
pendidikan. Salah satunya adalah alih kode bahasa yang digunakan dalam
dan campur kode yang terjadi di SMP berkomunikasi sehari-hari. Salah satu
Negeri 4 Kubutambahan. Berdasarkan hasil strategi agar informasi dapat ditangkap oleh

3
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Volume : Vol: 4 No: 2 Tahun:2016

peserta didik, guru Bahasa Indonesia di sehingga penutur harus melakukan campur
kelas VII SMP Negeri 4 Kubutambahan kode sesuai kebutuhan saat berkomunikasi.
menggunakan lebih dari satu bahasa dalam Penelitian sejenis dilakukan oleh I
interaksi pembelajaran. Strategi yang Gusti Ayu Adhi Pusparini pada tahun 2015
digunakan adalah melakukan alih kode dan yang berjudul Campur Kode pada Guru
campur kode guna memenuhi fungsi Bahasa Indonesia Kelas VII di SMP
instrumental komunikasi yaitu untuk Internasional Doremi Excellent School
menyampaikan informasi. Denpasar. Penelitian yang dilakukan Adhi
Guru cenderung beralih kode atau Pusparini berbeda dengan penelitian yang
melakukan campur kode dari bahasa peneliti rancang. Perbedaannya terletak
Indonesia ke bahasa Bali sebagai B1 siswa. pada subjek dan objek yang diteliti. Kajian
Dari hasil pengamatan, siswa terlihat lebih penelitian Adhi Pusparini lebih sempit
responsif saat guru melakukan alih kode karena hanya meneliti tentang campur kode
dan campur kode. Strategi yang dilakukan saja. Perbedaan lainnya adalah Adhi
oleh guru tersebut oleh David (dalam Pusparini memfokuskan penelitiannya pada
Margana, 2013) ditegaskan bahwa alih bentuk alih kode ekstern, yaitu dari bahasa
kode dapat digunakan sebagai strategi Indonesia ke bahasa Inggris, sedangkan
komunikasi untuk mengatasi keterbatasan rancangan penelitian ini adalah alih kode
bahasa yang berakibat pada kemandegan dan campur kode. Selain itu, penelitian Adhi
berkomunikasi dan digunakan sebagai Pusparini tidak membahas tentang
penanda anggota masyarakat tutur dan pengaruh alih kode dan campur kode dalam
identitas penutur tertentu. Namun, alih kode pembelajaran Bahasa Indonesia.
maupun campur kode tidak dapat dilakukan Penelitian sejenis lainnya yaitu Alih
secara sembarangan. Nababan (dalam Kode dan Campur Kode dan Campur Kode
Rahman, 2013) memaparkan pencampuran dalam Pembelajaran Sains di SD Doremi
bahasa disebabkan oleh kesantaian atau Excellent School Denpasar yang dilakukan
kebiasaan yang dimiliki oleh pembicara dan oleh Yethi Suneli pada tahun 2012.
biasanya terjadi dalam situasi informal. Penelitian yang mengambil lokasi yang
Sejalan dengan pendapat Nababan, Jendra sama dengan penelitian Adhi Pusparini ini
(dalam Rahman, 2013) menyatakan bahwa menemukan bentuk alih kode yang
campur kode tidak dituntut oleh situasi dominan adalah alih kode ekstern dari
konteks pembicaraan, tetapi lebih bahasa Indonesia ke bahasa Inggris karena
ditentukan oleh pokok pembicaraan pada dinilai paling efektif dalam menyampaikan
saat itu. Hal ini menunjukkan bahwa pelajaran. Kedua penelitian di Doremi
campur kode dilakukan jika dibutuhkan atau Excellent School Denpasar itu meneliti
dengan kata lain, campur kode dapat tentang alih kode maupun campur kode
dilakukan apabila dalam konteks atau ekstern meskipun kajiannya sedikit berbeda.
situasi tuturan penutur mengalami kesulitan Berdasarkan deskripsi tersebut
karena keterbatasan bahasa, ungkapan maka rumusan masalah dalam artikel ini
atau tidak ditemukan padanan yang sesuai adalah: 1) jenis alih kode apa sajakah yang
sehingga penutur harus melakukan campur dilakukan oleh guru dalam pembelajaran
kode sesuai kebutuhan saat berkomunikasi. Bahasa Indonesia kelas VII SMP Negeri 4
Sebagaimana yang telah Kubutambahan? 2) jenis campur kode apa
disampaikan sebelumnya bahwa dominasi sajakah yang dilakukan oleh guru dalam
penguasaan bahasa Bali daripada bahasa pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VII
Indonesia siswa menyebabkan campur SMP Negeri 4 Kubutambahan? 3) faktor-
kode sesekali dilakukan oleh guru untuk faktor apa sajakah yang menyebabkan guru
menekankan suatu istilah. Tidak tahu melakukan alih kode dalam pembelajaran
gabah?Kalau jijih tahu?. Dari ilustrasi Bahasa Indonesia kelas VII SMP Negeri 4
tersebut, semakin memperjelas bahwa Kubutambahan? 4) faktor-faktor apa
campur kode dapat digunakan apabila sajakah yang menyebabkan guru
terjadi keterbatasan bahasa, ungkapan atau melakukan campur kode dalam
tidak ditemukan padanan yang sesuai pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VII

4
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Volume : Vol: 4 No: 2 Tahun:2016

SMP Negeri 4 Kubutambahan? analisis data berupa tuturan guru dan siswa
5)bagaimanakah pengaruh alih kode dan kemudian data tersebut dianalisis secara
campur kode guru terhadap pemahaman sistematis atau simultan sehingga data
siswa dalam pembelajaran Bahasa yang diperoleh dapat menjawab masalah
Indonesia kelas VII SMP Negeri 4 yang diteliti. Untuk memudahkan peneliti
Kubutambahan? dalam mengklasifikasikan data yang
Sejalan dengan rumusan masalah di terkumpul adalah dengan memberikan tabel
atas maka tujuan yang ingin dicapai dalam pada setiap peristiwa alih kode dan campur
penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan kode yang terjadi. 3) Pengambilan
jenis alih kode yang dilakukan guru dalam simpulan. Pemberian kesimpulan semen-
interaksi pembelajaran Bahasa Indonesia tara masih dapat diuji kembali dengan data
kelas VII SMP Negeri 4 Kubutambahan, di lapangan dengan cara merefleksikan
2) mendeskripsikan jenis campur kode yang kembali. Dalam penelitian ini, proses
dilakukan oleh guru dalam interaksi analisis diberlakukan untuk semua data
pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VII terkecuali data yang telah terbuang melalui
SMP Negeri 4 Kubutambahan, reduksi data dan penyajian data kemudian
3) mendeskripsikan faktor yang secara induktif peneliti dapat menarik
menyebabkan guru melakukan alih kode simpulan sementara sebagai hasil
dalam pembelajaran Bahasa Indonesia penelitian.
kelas VII SMP Negeri 4 Kubutambahan,
4) mendeskripsikan faktor yang HASIL DAN PEMBAHASAN
menyebabkan guru melakukan campur Hasil penelitian mencakup empat
kode dalam pembelajaran Bahasa hal yaitu (1) jenis alih kode yang dilakukan
Indonesia kelas VII SMP Negeri 4 oleh guru dalam pembelajaran Bahasa
Kubutambahan, 5) mendeskripsikan Indonesia kelas VII SMP Negeri 4
pengaruh alih kode dan campur kode guru Kubutambahan, (2) jenis campur kode yang
terhadap pemahaman siswa dalam dilakukan oleh guru dalam pembelajaran
pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VII Bahasa Indonesia kelas VII SMP Negeri 4
SMP Negeri 4 Kubutambahan. Kubutambahan (3) faktor penyebab guru
melakukan alih kode dan campur kode
METODE dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
Metode yang digunakan dalam kelas VII SMP Negeri 4 Kubutambahan,
penelitian ini adalah desktiptif kualitatif. dan (4) pengaruh alih kode dan campur
Data yang diperoleh dikumpulkan kode guru terhadap pemahaman siswa
menggunakan metode observasi dan dalam menangkap materi pembelajaran
wawancara dengan dengan mengguankan Bahasa Indonesia kelas VII SMP Negeri 4
instrumen pedoman wawancara dan kartu Kubutambahan.
data. Data dan sumber data berasal dari Jenis Alih Kode yang Dilakukan oleh Guru
tuturan guru dalam pembelajaran Bahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Indonesia di kelas VII SMP Negeri 4 Kelas VII SMP Negeri 4 Kubutambahan
Kubutambahan dan wawancara terhadap
guru dan siswa yang berhubungan dengan Dalam percakapan guru dengan
alih kode dan campur kode. Teknik analisis siswa ini ditemukan 43 tuturan alih kode ke
data yang digunakan berdasarkan teori dalam. Berikut merupakan salah satu
Mahsun (2005) ada tiga tahap, yaitu, 1) contoh alih kode ke dalam yang dapat
Reduksi data dilakukan untuk mengetahui dilihat dari penyajian korpus data di atas.
data yang relevan untuk diikutkan dalam S1: Siapa mau baca puisi lagi? Devi ayo
klasifikasi data. Selama proses reduksi maju! Adi sing nyak? Ujaran di atas
data, peneliti dapat melanjutkan ringkasan, dilakukan oleh guru saat mengajar di kelas
pengkodean, menemukan tema. Reduksi VII E ketika menunjuk siswa yang bernama
data berlangsung selama penelitian di Devi untuk membacakan puisi di depan
lapangan sampai pelaporan penelitian kelas, namun Devi tidak mau dengan
selesai. 2) Melaksanakan display data. alasan tidak bisa. Ujaran tersebut termasuk
Dalam tahap penyajian data, dilakukan alih kode ke dalam karena subjek

5
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Volume : Vol: 4 No: 2 Tahun:2016

mengawali ujarannya dengan tidak sadar telah mencampurkan bahasa


menggunakan bahasa Indonesia kemudian Bali dalam tuuturannya. Sementara itu,
beralih menggunakan bahasa Bali yaitu jenis campur ke luar yang dilakukan guru
Adi sing nyak? yang artinya Mengapa adalah Ketua kelas ambil softcopy soal-
tidak mau? Jika diartikan secara soal ulangan umum di ruang guru. Kata
keseluruhan, kalimatnya menjadi Siapa softcopy dipilih oleh guru dalam tuturan
mau baca puisi lagi? Devi ayo maju! karena kata softcopy dianggap mampu
Mengapa tidak mau?. mewakili benda yang dimaksudkan. Apabila
Secara teoretis, Soewito (dalam kata berbahasa Inggris tersebut dicari
Chaer dan Leonie, 2010:114) mengemuka- padanannya dalam bahasa Indonesia akan
kan jenis alih kode yang terdiri atas dua menjadi janggal. Dengan kata lain bahwa
jenis yaitu alih kode alih kode intern (inner kata softcopy tidak ditemukan
code switching) apabila peralihan bahasa padanannya dalam bahasa Indonesia.
terjadi antarbahasa-bahasa daerah dalam Berdasarkan unsur serapan, yang
satu bahasa nasional dan alih kode ekstern menimbulkan terjadinya campur kode
(outer code switching) merupakan alih kode dibagi menjadi tiga bagian, yaitu campur
yang terjadi antara bahasa asli dengan kode ke luar (outer code mixing), campur
bahasa asing. kode ke dalam (inner code mixing), dan
Penelitian semacam ini juga campur kode campuran (hybrid code
dilakukan oleh Ni Made Yethi Suneli yang mixing). Hasil analisis data dalam penelitian
hasilnya berbanding terbalik dengan ini menunjukkan bahwa peristiwa campur
penelitian Alih Kode dan Campur Kode kode yang muncul dalam tuturan guru
dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia kelas VII SMP Negeri 4
Kelas VII SMP Negeri 4 Kubutambahan. Kubutambahan adalah campur kode ke
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ni dalam dan ke luar. Namun, berdasarkan
Made Yethi Suneli yang berjudul Alih Kode hasil penelitian yang telah dilakukan,
dan Campur Kode dalam Pembelajaran campur kode yang lebih banyak digunakan
SAINS di SD Doremi Excellent School, oleh guru adalah campur kode ke dalam.
diperoleh hasil penelitian bahwa alih kode Pada konsep ini ditekankan bahwa
yang dilakukan oleh guru adalah alih kode campur kode ke dalam adalah pen-
intern, ekstern, dan alih kode metaforis. campuran unsur bahasa satu dengan
Apabila dalam penelitian Yethi, guru bahasa lain yang masih dalam satu rumpun
dominan melakukan alih kode ekstern, bahasa nasional, sedangkan campur kode
dalam penelitian Alih Kode dan Campur ke luar adalah pencampuran unsur bahasa
Kode Guru dalam Pembelajaran Bahasa satu dengan bahasa lainnya yang tidak
Indonesia Kelas VII SMP Negeri 4 serumpun. Campur kode campuran (hybrid
Kubutambahan ini, guru mutlak melakukan code mixing) merupakan campur kode yang
alih kode intern. di dalamnya (klausa atau kalimat) telah
menyerap unsur bahasa asli dan bahasa
Jenis Campur Kode yang Dilakukan oleh asing. Berdasarkan hasil penelitian yang
Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diuraikan di atas, diketahui bahwa guru
Kelas VII SMP Negeri 4 Kubutambahan menyisipkan unsur bahasa daerah (bahasa
Salah satu kalimat yang Bali) dan bahasa asing (bahasa Inggris) ke
menggunakan campur kode ke dalam dalam kalimatnya. Sesuai dengan teori
adalah Semut kalian temukan di tentang campur kode, maka jenis campur
warungnya Ria, catet geen. Kata catet kode yang digunakan oleh guru dalam
geen dalam bahasa Bali dimaksudkan oleh interaksi pembelajaran adalah campur kode
guru untuk memberikan perintah kepada ke dalam dan campur kode ke luar.
siswa agar mencatat semua hal yang Berbeda dengan penelitian Adhi
ditemukan saat melakukan pengamatan di Pusparini yang berjudul Campur Kode pada
luar kelas. Pemilihan kata tersebut Guru Bahasa Indonesia Kelas VII di SMP
dipengaruhi oleh kebiasaan guru Doremi Excellent School Denpasar pada
menggunakan bahasa Bali sehingga guru tahun 2015. pada hasil penelitiannya
dikemukakan bahwa jenis campur kode

6
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Volume : Vol: 4 No: 2 Tahun:2016

yang digunakan oleh guru didominasi oleh psikologis yang lebih menyenangkan bagi
campur kode ke luar karena kebanyakan lawan tutur. Menurut teori Skinner (dalam
siswa menguasai bahasa Inggris Gredler, 1994), unsur terpenting dalam
dibandingkan bahasa daerah. Selain faktor pembelajaran adalah adanya penguatan
terjadinya campur kode ke luar karena dan hukuman. Pemberian reward atau
siswa yang mayoritas menggunakan penguatan kepada siswa dalam bentuk
bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan hadiah dan perilaku (pujian) dapat memberi
mereka, kebiasaan guru menggunakan apresiasi atas usaha siswa sehingga
bahasa Inggris dalam kehidupan sehari- mendorong siswa agar lebih giat belajar
harinya mengakibatkan campur kode ke dan meningkatkan prestasi. Untuk menarik
luar lebih mendominasi tuturan guru. perhatian siswa, guru melakukan alih kode
menggunakan bahasa Bali dalam bentuk
Faktor-faktor yang Menyebabkan Guru teguran agar perhatian siswa tertuju
Melakukan Alih Kode dalam Pembelajaran kembali pada topik yang sedang dibahas.
Bahasa Indonesia Kelas VII SMP Negeri 4 Pendapat yang dikemukakan Crow dan
Kubutambahan Crow (dalam Willis 2013), peranan pokok
Fishman (dalam Chaer dan seorang guru adalah mengarahkan dan
Agustina, 2010:108) faktor terjadinya alih membimbing belajar murid-muridnya.
kode adalah pembicara atau penutur, Dalam hal ini, guru mengusahakan
pendengar atau lawan tutur, perubahan gangguan gangguan yang muncul di
situasi dengan hadirnya orang ketiga, dan lingkungan murid-murid dapat dihindarkan.
perubahan dari formal ke informal atau Topik yang bagus adalah topik yang
sebaliknya, dan perubahan topik menarik pembaca dan penulis atau penutur
pembicaraan. Berangkat dari teori tersebut, dengan lawan tutur. Tentunya, topik
hasil wawancara dan observasi di lapangan tersebut disesuaikan dengan konteks
menunjukkan tiga faktor yang menyebab- permasalahan yang sedang berkembang
kan guru melakukan alih kode dalam dan kemampuan para pelaku tutur (Alek
pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VII dan Achmad, 2011). Faktor terjadinya alih
SMP Negeri 4 Kubutambahan, yaitu faktor kode karena topik pembicaraan adalah
pendengar atau lawan tutur, topik keinginan guru untuk menghidupkan
pembicaraan, dan penutur itu sendiri. suasana agar tidak tegang. Gaya mengajar
Dalam kajian ini, timbulnya alih kode karena yang tegang dan cenderung datar membuat
faktor lawan tutur dibedakan menjadi tiga, siswa lebih asyik bercerita dengan teman
yaitu guru ingin mengimbangi kemampuan sebangkunya hal tersebut tentu sangat
berbahasa siswa, menegur atau menasihati mengganggu kenyamanan guru sangat
siswa, dan guru berkeinginan untuk me- mengajar dan dapat mengundang cerita-
nyanjung atau memberikan pujian kepada cerita baru dari siswa yang lain.
siswa. Faktor terakhir yang melatar-
Faktor keinginan guru untuk belakangi guru melakukan alih kode adalah
mengimbangi kemampuan berbahasa faktor penutur itu sendiri. Kebiasaan guru
siswa dilakukan agar siswa lebih mudah menggunakan bahasa Bali merupakan
memahami materi yang sedang dipelajari. salah satu faktor terjadinya alih kode yang
Guru beralih menjelaskan atau memberikan dilatarbelakangi oleh penutur itu sendiri.
penafsiran kepada siswa jika dirasa siswa Faktor kebiasaan yang dimaksudkan di sini
belum memahami maksud tertentu adalah pemakaian dua bahasa dalam
sehingga beralih menggunakan bahasa Bali kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini timbul
merupakan hal penting sebagai strategi karena subjek berasal dari latar belakang
komunikasi demi efektivitas komunikasi bahasa yang sama sehingga mampu
sehingga diharapkan antara kedua pelaku menciptakan keakraban yang dapat muncul
tutur memeroleh hubungan makna. Menurut dalam berbagai topik pembicaraan. Hal
hasil wawancara, penggunaan bahasa Bali demikian tentunya dapat menim-bulkan
untuk memberikan pujian kepada siswa peristiwa alih kode intern.
dianggap mampu menimbukkan efek Pada penelitian yang dilakukan oleh
Ade Fitriani (2013) yang berjudul Alih Kode

7
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Volume : Vol: 4 No: 2 Tahun:2016

dalam Percakapan Anak dengan Orang tua tentang suatu istilah untuk memancing
Perkawiann Campur Jepang-Indonesia skemata siswa tentang materi pelajaran
(Studi Kasus Keluarga Perkawinan Campur sehingga antara guru dan siswa
Kawasan Wisata Ubud) ditemukan tiga memperoleh kesepahaman makna. Sejalan
penyebab terjadinya alih kode, yaitu faktor dengan itu, Effendy (2005) pun
kurangnya penguasaan dari bahasa yang menjelaskan proses komunikasi yang jelas
dikuasai, faktor kebiasaan, dan berubahnya adalah penggunaan bahasa yang mampu
situasi karena hadirnya orang ke tiga. Pada menerjemahkan pikiran sesorang kepada
faktor pertama, justru kurangnya orang lain.
penguasaan bahasa yang dikuasai oleh Faktor ketidaksadaran guru
subjeklah yang menyebabkan subjek merupakan salah satu yang menyebabkan
melakukan alih kode. Faktor kebiasaan guru melakukan campur kode dalam
yang dimaksudkan oleh Ade adalah pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VII
kebiasaan subjek menggunakan bahasa SMP Negeri 4 Kubutambahan. Nababan
asing, bahasa Jepang sehingga alih kode (dalam Rahman, 2013) memaparkan
yang terjadi adalah alih kode ekstern. pencampuran bahasa disebabkan oleh
Faktor ke tiga karena berubahnya situasi kesantaian atau kebiasaan yang dimiliki
karena hadirnya orang ketiga dengan oleh pembicara dan biasanya terjadi dalam
penguasaan bahasa yang berbeda situasi informal. Ia pun menambahkan
sehingga subjek penelitian Ade harus bahwa suatu keadaan berbahasa menjadi
beralih menggunakan bahasa Indonesia lain apabila orang mencampurkan dua
saat berbicara dengan pengasuhnya. (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa
dalam situasi berbahasa yang menuntut
Faktor-faktor yang Menyebabkan Guru percapuran bahasa itu (Purparini, 2015).
Melakukan Campur Kode dalam Campur kode karena faktor topik
Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII atau pokok pembicaraan yang digunakan
SMP Negeri 4 Kubutambahan oleh guru dalam pembelajaran Bahasa
Nababan (dalam Adnyani, dkk., Indonesia di kelas VII SMP Negeri 4
2013) mengemukakan beberapa penyebab Kubutambahan dibedakan menjadi 2 yaitu
campur kode yakni 1) siapa yang berbicara faktor keterbatasan kosakata bahasa
dan pendengar, 2) pokok pembicaraan, 3) Indonesia dan faktor kesederhanaan
konteks verbal (bagaimana bahaasa yang struktur bahasa lain. Kontribusi bahasa
dihasilkan), dan 4) lokasi. Secara garis asing ke dalam suatu bahasa sebenarnya
besar, ada dua penyebab terjadinya merupakan suatu hal yang lumrah dan tdiak
peristiwa campur kode guru dalam perlu dikhawatirkan selama pengguna
pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VII bahasa nasional tetap waspada terhadap
SMP Negeri 4 Kubutambahan, yaitu faktor penyalah-gunaannya. Chair dan Agustina
peserta wicara dan faktor topik atau pokok (2010) pun berpendapat yang sama bahwa
pembicaraan. bahasa daerah adalah bahasa yang
Faktor peserta wicara disebut juga dipelajari pertama telah mendarah daging
faktor ekstralinguistik yang meliputi faktor pada penutur masyarakat Indonesia. Untuk
manusia atau penutur sebagai peserta itu, kehadiran bahasa Indonesia yang
wicara. Dalam kajian ini, timbulnya campur dipelajari mayoritas masyarakat Indonesia
kode guru dalam pembelajaran Bahasa sebagai B2 sangat mempengaruhi gaya
Indonesia kelas VII SMP Negeri 4 berbahasa atau tuturan seseorang.
Kubutambahan karena faktor peserta Dalam penelitian ini juga ditemukan
wicara dibedakan menjadi 2, yaitu penyebab terjadinya campur kode guru
penekanan kata-kata atau ujaran tertentu karena terbatasnya kosakata bahasa
dan ketidaksadaran guru. Faktor keinginan Indonesia siswa sehingga guru harus
guru untuk menekankan kata-kata atau meminjam unsur bahasa lain yang
istilah tertentu dilakukan dengan cara guru dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan
menyisipkan unsur-unsur bahasa Bali pengungkapan konsep tertentu. Faktor ini
ketika memberikan gambaran atau tafsiran juga disebabkan karena bahasa Indonesia

8
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Volume : Vol: 4 No: 2 Tahun:2016

belum mampu menjembatani konsep 2013) bahwa alih kode dapat digunakan
bahasa lain meskipun bahasa Indonesia sebagai strategi komunikasi untuk
memiliki padanan yang sama dengan mengatasi keterbatasan bahasa yang
penyisipnya, tetapi padanan dalam bahasa berakibat pada kemandegan berkomunikasi
Indonesia itu kurang tepat untuk dan digunakan sebagai penanda anggota
menggantikan kata yang menyisipi. Pada masyarakat tutur dan identitas penutur
penelitian yang dilakukan oleh I Gede Putra tertentu. Keterbatasan kosakata yang
Sastrawan dengan judul Penggunaan dimiliki siswa dapat diatasi dengan
Campur Kode oleh Para Pedagang penggunaan alih kode dan campur kode
terhadap Wisatwan Jepang di Daerah demi efektivitas komunikasi.
Pariwisata Bali (Situasi Kasus Tempat Terjadinya alih kode dan campur
Wisata Pantai Kuta) pada tahun 2011 kode dalam pembelajaran Bahasa
memiliki kesamaan penyebab terjadinya Indonesia dapat menyebabkan tersisihnya
campur kode karena lawan bicara dan topik bahasa Indonesia karena penggunaan
pembicaraan. Hanya saja, faktor terjadinya bahasa Bali dapat mengurangi proses
alih kode karena lawan tutur oleh Putra pemerolehan bahasa Indonesia siswa.
Sastrawan hanya ditemukan satu penyebab Lebih tegas disampaikan oleh seorang
yaitu kurangnya kosa kata (ungkapan) siswa bahwa penggunaan bahasa Bali
dalam bahasa yang digunakan dapat menyebabkan pemborosan waktu
berkomunikasi. karena guru harus mengulang ujaran atau
Pengaruh Penggunaan Alih Kode dan
kalimatnya menggunakan bahasa Bali.
Campur Kode Guru terhadap Pemahaman Dengan demikian, benar yang dikatakan
Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Kubutambahan oleh Sumarsono dan Partana (2004) bahwa
peristiwa alih kode berpotensi menimbulkan
Pengajaran bahasa kedua dalam pergeseran dan kepunahan bahasa.
masyarakat mutilingual bisa meliputi Hasil penelitian yang sama
bahasa nasional yang pada akhirnya antara dilakukan oleh Rulyandi dan E Tri SUlistyo
kedua bahasa tersebut (B1 dan B2) saling pada tahun 2014 mengangkat dampak
mempengaruhi satu sama lain yang dalam positif dan negatif alih kode dan campur
teori linguistik disebut dengan peristiwa alih kode dalam pembelajaran bahasa
kode dan campur kode sebagai aspek Indonesia di kelas X SMA Muhammadiyah
bahasa yang cenderung terjadi dalam 4 Yogyakarta melalui hasil observasi dan
masyarakat dwibahasa. Salah dua peristiwa wawancara. Dampak postif dan dampak
yang muncul dalam masyarakat dwibahasa negatif yang ditimbulkan dari alih kode dan
adalah alih kode dan campur kode (Chair campur kode dengan penelitian Alih Kode
dan Agustina, 2010). Secara prinsip, dan Campur Kode Guru dalam
penggunaan alih kode dan campur kode Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII
bertujuan untuk mempermudah siswa SMP Negeri 4 Kubutambahan memiliki
dalam memahami isi tuturan yang kesamaan bahwa alih kode dan campur
disampaikan oleh guru. Hal ini berdasarkan kode dalam proses belajar mengajar dapat
hasil wawancara terhadap siswa kelas VII, menjembatani siswa dalam memahami
sebanyak 49 dari 63 siswa mengatakan materi yang disampaikan oleh guru.
bahwa penggunaan dua bahasa atau lebih
dalam proses pembelajaran bahasa PENUTUP
Indonesia dapat mempermudah siswa
dalam memahami materi atau penjelasan Berdasarkan deskripsi hasil
yang disampaikan oleh guru. penelitian dan pembahasan, dapat
Secara teoretis, alih kode dan dikemukakan simpulan sebagai berikut. 1 )
campur kode guru mampu mengimbangi Jenis alih kode yang dilakukan oleh guru
kemampuan berbahasa siswa sehingga dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
materi dapat diterima dengan baik oleh kelas VII SMP Negeri 4 Kubutambahan
siswa. Hal ini membuktikan teori yang hanyalah alih kode intern, sedangkan alih
disampaikan oleh David (dalam Margana, kode ektern tidak ditemuan. 2) Jenis
campur kode yang dilakukan oleh guru

9
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Volume : Vol: 4 No: 2 Tahun:2016

dalam pembelajaran Bahasa Indonesia Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010.
kelas VII SMP Negeri 4 Kubutambahan Sosiolinguistik:Perkenalan Awal.
adalah campur kode ke dalam dan campur Jakarta: Rineka Cipta.
kode ke luar. Hasil persentase untuk Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik
campur kode ke dalam sebanyak 70%, Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka
campur kode ke luar sebanyak 30%, dan Cipta.
campur kode campuran sebanyak 0%. 3) Effendy, Uchjana Onong 2005. Ilmu
Faktor-faktor yang melatarbelakangi guru Komunikasi: Teori dan Praktek.
melakukan alih kode dalam pembelajaran Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Bahasa Indonesia kelas VII SMP Negeri 4 Fitriani, Ade. 2013. Alih Kode dalam
Kubutambahan, yaitu 1) pendengar/ lawan Percakapan Anak dengan Orang tua
tutur, 2) perubahan topik pembicaraan, dan Perkawinan Campur Jepang-Indonesia
3) pembicara/penutur. 4) Faktor-faktor yang (Studi Kasus Keluarga Perkawinan
melatarbelakangi guru melakukan campur Campur Kawasan Wisata Ubud).
kode dalam pembelajaran Bahasa Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan
Indonesia kelasVII SMP Negeri 4 Pendidikan Bahasa Jepang, FBS
Kubutambahan, yaitu 1) siapa yang Undiksha.
berbicara yang meliputi faktor penekanan Majid, Abdul. 2008. Perencanaan
pada kata-kata tertentu dan faktor Pembelajaran:
ketidaksadaran guru, 2) faktor pokok
pembicaraan yang meliputi faktor Mengembangkan
kesederhanaan struktur bahasa lain dan Standar Kompetensi Guru. Bandung:
faktor keterbatasan bahasa Indonesia. 5) PT Remaja Rosdakarya.
Dampak positif penggunaan alih kode dan Mahsun, M. S. 2005. Metode Penelitian
campur kode dalam pembelajaran Bahasa Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan
Indonesia adalah untuk mempermudah Tekniknya. Jakarta: PT RajaGrafindo
siswa dalam memahami informasi yang Persada.
disampaikan oleh guru. Penggunaan Margana. 2013. Alih Kode dalam Proses
campur kode dapat mengurangi proses Pembelajaran Bahasa Inggris di
pemerolehan bahasa Indonesia dan dapat SMA.e-journal. Universitas Negeri
menimbulkan pemborosan waktu. Yogyakarta.
Mustakim. 1994. Membina Kemampuan
Berdasarkan simpulan di atas, dapat
Berbahasa: Panduan ke Arah
dikemukakan saran sebagai berikut. 1)
Kemahiran Berbahasa. Jakarta: PT
Kepada guru, disarankan agar
Gramedia Pustaka Utama.
memerhatikan penggunaan alih kode dan
Nugroho, Pungki. 2012. Analisis
campur kode dalam pembelajaran.
Penggunaan Alih Kode dan Campur
Penggunaan dua bahasa atau lebih dapat
Kode pada Guru Bahasa Indonesia di
dilakukan selama diperlukan sebagai
SMP N 2 Mantingan. e-journal. FKIP
strategi komunikasi untuk mempermudah
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
menyampaikan informasi, sepanjang
Pusparini, Adhi I Gusti Ayu. 2015. Campur
pemakaiannya tidak merusak tatanan
Kode pada Guru Bahasa Indonesia
bahasa Indonesia. 2) Peneliti lain dapat
Kelas VII di SMP Internasional Doremi
melakukan penelitian pada sisa penelitian
Excellent School Denpasar. Skripsi
bentuk campur kode.
(tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS
DAFTAR PUSTAKA
Undiksha.
Adnyani. 2013. Campur Kode dalam Rohmani, Siti. 2013. Analisis dan Campur
Bahasa Indonesia Lisan Siswa Kelas VII Kode pada Novel Negeri 5 Menara
SMP N 8 Denpasar. e-journal. Program Karya Ahmad Fuadi. e-journal.
Pascasarjana Undiksha Alex dan H.P Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Achmad. 2011. Bahasa Indonesia untuk
Perguruan Tinggi. Jakarta: Kencana. Rokhman, Fathur. 2013. Sosiolinguistik:
Suatu Pendekatan Pembelajaran
Bahasa dalam Masyarakat Multikultural.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
10
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Volume : Vol: 4 No: 2 Tahun:2016

Rulyandi, M.R. dan E Tri Sulistyo. 2014. diterbitkan). Jurusan Pendidikan


Alih Kode dan Campur Kode dalam Bahasa Jepang, FBS Undiksha.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sumarsono dan Partana Paina. 2004.
SMA. e-journal. Universitas Sebelas Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda.
Maret. Suneli, Yethi. 2012.Alih Kode dan Campur
Sastrawan, Putra. 2011. Penggunaan Kode dalam Pembelajaran SAINS di SD
Campur Kode oleh Para Pedagang Doremi Excelent School. Tesis (tidak
terhadap Wisatawan Jepang di Daerah diterbitkan). Pasca Sarjana Universitas
Pariwisata Bali (Studi Kasus Tempat Pendidikan Ganesha.
Wisata Pantai Kuta). Skripsi (tidak Willis, Sofyan S.. 2013. Psikologi
Pendidikan.Bandung:Alfabet

11