Anda di halaman 1dari 47

Perbedaan Makna Terminologi Evaluasi, Penelitian, Pengembangan,

pengukuran, Dan Asesmen Dalam Konteks Pembelajaran

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
EVALUASI PEMBELAJARAN
Yang dibina oleh Prof. Dr. A. Mukhadis

Oleh :
Andy Novi Rahmadha 150513608082
Lueis Lamia Fahruki 150513607938
Radytama Widy Stiawan 150513605294

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
September 2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada makalah ini akan dipaparkan tentang Perbedaan Terminologi
Evaluasi, Penelitian, Pengembangan, Pengukuran, Dan Asesmen Dalam
Konteks Pembelajaran. Didalamnya dijelaskan konseptual secara berurutan
terhadap dimensi-dimensi yang erat dengan program pembelajaran. Uraian ini
dimaksudkan untuk mengurangi munculnya berbagai fenomena akan ada
kecenderungan terhadap pemahaman yang kurang bermakna tentang konsep
evaluasi, penelitian, pengembangan, pengukuran, dan asesmen dalam bidang
pembelajaran.
Kesalahan konsepsi bidang pembelajaran dalam hal evaluasi, penelitian,
pengembangan, pengukuran, dan asesmen oleh pejabat atau pelaku bidang
pendidikan masih kurang jernih dalam memberikan batasan terhadap dimensi
tersebut. Yang terjadi adalah tumpang tindih (overlaping) dalam pemahaman
teori-teori tersebut. Pejabat dan para pelaku akademisi lembaga pndidikan
masih menyamaartikan terhadap evaluasi, pengukuran, peilaian, dan asesmen
untuk menunjukkan suatu makna yang sama dengan hanya pilih kata yang
berbeda. Hal inilah yang membuat makna menjadi bias hingga akhirnya
melenceng tidak sesuai tujuan pembahasan yang digapai.
Bertolak dari fenomena dilapangan diatas tersebut maka makalah ini
menyajikan batasan konseptual yang terkait dengan berbagai istilah yang sering
digunakan dalam memecahkan masalah kegiatan evaluasi, penelitian,
pengembangan, dan asesmen. Dengan didahului pencerahan terhadap beberapa
kelompok pelaku pendidikan yang selama ini melakukan kesalahan konsep dan
diharapkan menjadi landasan pemikiran konsep untuk membentuk pola pikir
pembaca yang berkegiatan sebagai pelaku evaluasi pembelajaran.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dibuat didapatkan rumusan masalah sebagai
berikut:
a. Apa makna evaluasi dalam konteks pembelajaran?
b. Apa makna penelitian dalam konteks pembelajaran?
c. Apa makna pengembangan dalam konteks pembelajaran?
d. Apa makna pengukuran dalam konteks pembelajaran?
e. Apa makna asesmen dalam konteks pembelajaran?

1.3 Tujuan Penulisan


Dari rumusan masalah yang telah dibuat didapatkan tujuan penulisan
sebagai berikut:
a. Menjelaskan makna tentang evaluasi dalam konteks pembelajaran.
b. Menjelaskan makna tentang penelitian dalam konteks pembelajaran.
c. Menjelaskan makna tentang pengembangan dalam konteks
pembelajaran.
d. Menjelaskan makna tentang pengukuran dalam koneks pembelajaran.
e. Menjelaskan makna tentang asesmen dalam konteks pembelajaran
BAB II

Pada bab ini akan dijelaskan perbedaan dan batasan tentang terminologi
evaluasi, penelitian, pengembangan, pengukuran, dan asesmen dalam konteks
pembelajaran. Arti kata teminologi menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa
Indonesia) yaitu Peristilahan (tentang kata-kata) ilmu mengenai batasan atau
definisi istilah.

2.1 Evaluasi Dalam Konteks Pembelajaran


Secara umum batasan konseptual evaluasi adalah suatu kegiatan atau tindakan
yang sistematik dalam upaya menjaring dan menganalisis informasi atau data yang
relevan dengan teknik tertentu untuk membuat keputusan yang terkait dengan
tingkat efektivitas, efisiensi, dan kemenarikan suatu program yang dikembangkan
untuk mencapai tujuan (A. Mukhadis, 2017). Tindakan sistematik ini merupakan
langkah langkah eskplit dari tahapan dalam melaksanakan suatu kegiatan evaluasi.
Indikator suatu langkah-langkah eksplit dalam konteks ini adalah adanya kejelasan
perian komponen dan kejelasan tahapan-tahapan proses yang harus dilakukan dan
dapat direplikasi oleh pihak lain dalam upaya mencapai tujuan (Hicks, 1981).
Dalam hal ini dapat berwujud menetapkan konteks dan ranah yang dijadikan objek
suatu evaluasi, menentukan dimensi, mengidentifikasi suatu data atau informasi,
mengembangkan alat ukur (instrumen), menentukan tolak ukur. Yang pada
akhirnya melakukan interprstasi atau menafsirkan informasi program yang
dikembangkan. Dalam kegiatan evaluasi baik proses maupun hasil ada beberapa
langkah yang perlu dilakukan yaitu (1) penetapan kriteria atau standar yang
digunakan. Standar yang dapat digunakan adalah standar relatif dan standar mutlak
atau standar ipasif (Marzano, Pickering, dan McTighe, 1994). Dikatakan standar
relatif apabila suatu kelompok membandingkan tolak ukur tingkat keefektifan ,
efesiensi, relevansi, kemenarikan dengan kelas atau kelompok lain yang memiliki
karakteristik dan tujuan yang relatif sama. Sedangakan standar ipasif dapat
dikatakan apabila suatu kelompok membandingkan dari faktor tolak ukur dalam
penetapan pencapaian tingkat keefektifan, efisiensi, relevansi, kemenarikan dan
produktifitas dengan hasil dari suatu kelompok lain atau program yang telah
ditetapkan suatu kelompok tersebut. Standar ini dapat diaplikasikan apabila
perbandingan dengan suatu kelompok tersebut yang ditetapkan mendapatkan hasil
yang akurat. Misal dengan tingkat acuan tingkat keberhasilan mencapai 95%
program yang terlaksana. Standar pembeda antara standar relatif dan ipasif
disajikan pada gambar 2.1 standar yang digunakan dapat dipetakan apabila tolak
ukur tingkat keefektifan, efisiensi relevansi, kemenarikan, kemajuan dan
perkembangan dalam interval tertentu.

KELOMPOK LAIN
KELOMPOK
(DATA PROGRAM LAIN) ESEKUTIF

(STANDAR
UNGGUL)

SUATU KELOMPOK INTERPRESTASI HASIL


(DATA SUATU EVALUASI
PROGRAM)

Gambar 2.1 standar relatif, dan ipasif dalam evaluasi program

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan yaitu (2) pemilihan dan penetapan
jenis instrumen (alat ukur). Beberapa hal yang harus dipahami dan dipertimbangkan
dalam pemilihan instrumen dengan unsur kesesuianya dengan (a) sifat dan
substansi dimensi program yang akan dijadikan objek evaluasi, (b) jenis dan macam
informasi yang diinginkan, hal ini tentunya disesuaikan dengan ragam dan arah
tujuan evaluasi, (c) keberadaan sumberdaya manusia yang ada yang terlibat dalam
pelaksanaan evaluasi, (d) keberadaan sumberdaya perangkat keras yang tersedia
sebelum, selama, dan setelah evaluasi, (e) ketersediaan waktu, tenaga dan biaya
yang dialokasikan untuk kegiatan evaluasi, dan (f) karateristik sasaran atau
responden yang menjadi sumber data dalam pelaksanaan evaluasi.
Berdasarkan beberapa pertimbangan atas beberapa unsur tersebut, maka
instrumen sebagai perangkat yang digunakan dalam pengumpulan data
diidentifikasi, dipilih dan pada akhirnya ditetapkan untuk dikembangkan atau
diadaptasikan sebagai alat pengumpul data. Dikembangkan suatu instrumen
sebagai alat pengumpulan data, apabila memang sebelumnya belum ada instrumen
yang sejenis dengan mengikuti alur proses dan kaidah-kaidah dalam pengembangan
instrumen yang telah ditetapkan. Diadaptasikan suatu instrumen sebagai alat
pengumpulan data, apabila memang sudah tersedia dan sesuai dengan instrumen
yang diperlukan dalam suatu kegiatan evaluasi yang akan dilakukan, tetapi dengan
memodifikasi (mungkin menambah atau mengurangi) dimensi atau indikator,
menyesuaikan latar dan usia kronologis sasaran dengan diikuti uji coba ahli atau
ujicoba empirik. Penetapan instrumen evaluasi di sini meliputi: bentuk instrumen
(tes atau nontes) dapat berupa tes objektif, tes subjektif, tes campuran (objektif dan
subjektif), angket/ kuesioner, pedoman observasi, pedoman wawancara, dan
sebagainya); jumlah pertanyaan/ aspek yang dijabarkan dalam instrumen; validasi
instrumen, dan tampilan istrumen (jenis dan besar huruf, desain sampul, dan
sebagainya). Tentang validitas instrumen berdasarkan jenisnya dapat dipilah berupa
validitas isi, validitas konstruk, validitas empirik, (Nunnally, 1978 ). Sedangkan
strategi pengembangan dalam mengukur validitas suatu instrumen dapat dilakukan
dengan tiga pendekatan yaitu: (1) pendekatan yang mengacu pada kriteria ekternal,
untuk validitas empirik, (2) pendekatan yang mengacu pada reprensetatif domain
isi, untuk validitas isi, dan (3) pendekatan yang mengacu pada representasi
konstruk, untuk validitas konstruk. Hubungan ketiga pendekatan dengan jenis
validitas instrumen yang dimaksud tersebut disajikan pada Gambar 2.2.
Koreksi dengan Prediktive Empiric statistic
kriteria tertentu validyty (pre, concurent, past)
PENDEKATAN VALIDITAS
INSTRUMEN

Isi penting dalam Content Cakupan isi, relevansi,


domain validity Butir representatif

Isi penting dalam Construct


Factorial validity
konstruks validity

Gambar 2.2. Pendekatan Validasi Instrumen

Tahapan ketiga, proses pengumpulan data. Pengumpulan data yang diperlukan


sebaiknya disesuaikan dengan domain, ranah atau aspek yang dijadikan objek
evaluasi. Instrumen dalam pelaksanaan pengumpulan data atas objek yang
dijadikan sasaran dapat berupa instrumen kelompok tes atau instrumen kelompok
nontes. Selain syarat bentuk instrumen (tes atau nontes), juga diperlukan
persyaratan validitas dan rehabilitas sebagai indikator dan jaminan atas kualitas
instrumen yang digunakan Mengapa dipersyaratkan demikian? Sebab tingkat
kualitas instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam kegiatan evaluasi akan
berkorelasi positif dengan kualitas data yang dihasilkan. Untuk itu, sebagai jaminan
bahwa data dari hasil pengumpulan data dalam aktivitas evaluasi memiliki
rgbmtmtativeness yang tinggi, apabila dari indikator kualitas instrumen jelas dan
strategi pengumpulan data memenuhi standar minimal yang ditetapkan.
Pelaksanaan pengumpulan data yang diharapkan dapat memenuhi standar minimal
dalam kegiatan evaluasi ini perlu memperhatikan beberapa hal. Hal-hal yang
dimaksudkan antara lain: (a) karakteristik subjek yang dijadikan sumber data, yaitu
meliputi antara lain latar belakang pendidikan, sosial ekonomi, wilayah dan lokasi
tempat tingal, juga budaya dan usia kronologis; (b) jenis instrumen yang digunakan,
baik instrumen bentuk tes maupun bentuk nontes, yaitu tes tulis, tes lisan atau
wawancara, pedoman observasi, angket, atau portofolio; (c) strategi pelaksanaan
pengumpulan data yang dilakukan baik secara langsung atau tidak langsung; (d)
waktu pengumpulan data, yaitu alokasi waktu yang diperlukan, dapat dalam satuan
menit, jam, hari, atau minggu; saat dilakukannya pengumpulan data, yaitu waktu
pengumpulan data pada pagi hani, pada siang hari, pada sore hari, atau pada malam
hari; dan (e) kiat atau pendekatan yang digunakan dalam berinteraksi dengan
sumber data (responden), yaitu antara lain keterampilan komunikasi, empati,
menjaga kerahasiaan, kejelasan tujuan, ramah dan kehangatan. Kelima hal tersebut
terkait dengan pelaksanaan pengumpulan data yang potensial untuk dapat
meningkatkan respresentativeness dan keakuratan data yang diperoleh, dan
diperlukan dalam kegiatan evaluasi.

Tahapan yang keempat, analisis informasi dan penetapan standar untuk acuan
dalam membuat interpretasi terhadap hasil evaluasi. Analisis informasi ini dimulai
dari pengecekan kelengkapan data berdasarkan instrumen yang terkumpul
(kelompok dan butir-butir pertanyaan), identifikasi dan pengolahan data
(pemilahan dan klasifikasi), penetapan alat analisis (dengan teknik dan rumus
statistik tertentu yang relevan) dan melakukan analisis informasi atau data serta
diakhiri dengan membandingkan hasil analisis informasi dengan standar yang telah
ditetapkan. Standar yang digunakan untuk membuat justifikasi proposisi
interpretasi dalam hal ini dapat berupa absolute, relatif, atau ipsatif yang pemilihan
dan penetapannya sangat bergantung pada sifat, tujuan, dan implikasi dari kegiatan
evaluasi yang dilakukan.
Hal yang terakhir ini dilakukan sebagai dasar untuk membuat interpretasi dalam
mengungkap tingkat keefektifan, tingkat efisiensi, tingkat relevansi, dan tingkat
produktivitas pencapaian tujuan program yang telah ditetapkan. Untuk itu, kegiatan
yang terakhir ini biasanya disebut sebagai tahapan interpretasi hasil evaluasi.
Dengan representasi interpretasi ini, maka digunakan acuan dalam membuat suatu
keputusan atas hasil program yang dijadikan; objek evaluasi. Interpretasi terhadap
tingkat efektivitas, tingkat efisiensi, tingkat relevansi, tingkat produktivitas, dan
tingkat kemenarikan suatu program yang dijadikan objek evaluasi ini dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan digunakan sebagai dasar untuk pengambilan
keputusan dalam pengembangan suatu program lebih lanjut. Keputusan ini dapat
berupa rekomendasi untuk memutuskan tindak lanjut atas suatu program yang
dijadikan objek evaluasi. Bentuk rekomendasi atas program yang dijadikan objek
evaluasi dapat berupa program dapat dilanjutkan dengan tanpa modifikasi, program
dapat dilanjutkan dengan dilakukan modifikasi pada beberapa komponen tertentu,
atau program direkomendasikan untuk diberhentikan sementara atau diberhentikan
untuk selamanya.

2.2 Batasan Konsep Penelitian

Secara umum penelitian merupakan upaya sistematik dan komprehensif untuk


menggali, memperoleh, menganalisis, menginterpretasikan, menghasilkan,
memanfaatkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
(Ipteks) yang benar dan dapat dipertanggtmgiawabkan secara metodologis.
Aktivitas penelitian di berbagai bidang Ipteks tersebut secara substansi ditandai
oleh empat hal, yaitu adanya upaya yang bersifat sistematik, adanya sesuatu hasil
temuan, adanya kebermanfaatan, dan adanya tindaklanjut yang diakhiri dengan
penyebarluasan temuan atau pengurusan dan pemberian atau pengakuan hak atas
kekayaan intelektual (Haki), baik berupa hak cipta maupun hak paten. Pertama,
wujud dari upaya sistematik dalam konteks ini ditandai dengan adanya kejelasan
langkah-langkah yang ditempuh secara eksplisit, jelas, dan lugas mulai dari
penentuan masalah sampai penarikan simpulan dan/atau generalisasi (perampatan)
dan dapat direplikasi oleh peneliti lain. Dengan adanya penanda ini dalam upaya
menemukan dan atau mengembangkan Iptkes yang benar dapat dilakukan
konfirmasi dan kontrol oleh peneliti lain. Peluang adanya konfirmasi dan
pengontrolan dari penelitian lain (yang sebidang utamanya) sebagai bentuk upaya
untuk meningkatkan aspek validitas dan reliabilitas temuan Ipteks melalui kegiatan
penelitian. Kedua, aspek temuan dari suatu penelitian dalam bidang Ipteks secara
umum dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu sebagai hasil
menemukan atau mengembangkan, Hasil suatu penelitian Ipteks
dikelompokkan ke dalam kategori menemukan apabila dari masalah, metode, dan
hasil penelitian tersebut memenuhi indikator aspek kebaruan (novalty) dan belum
pernah diteliti oleh peneliti lain sebelumnya. Sedangkan hasil suatu penelitian
Ipteks dikelompokkan ke dalam kategori mengembangkarf, apabila temuan
tersebut berupa penyempurnaan atau memodifikasi dari berbagai hasil penelitian
sebelumnya yang berorientasi menghasilkan produk, yang memiliki nilai tambah
yang signinan daripada produk temuan sebelumnya.
Ketiga, aspek kemanfaatan dari suatu hasil penelitian Ipteks dapat dilihat dari
besaran delta sumbangannya dalam konteks upaya pengembangan teoretik maupun
upaya peningkatan efektivitas, efisiensi dan kemenarikan dalam konteks
pengembangan aplikasi praktis. Wujud konkret indikator besaran delta sumbangan
dalam pengembangan Ipteks dari suatu hasil penelitian adalah tingkat signifikansi
nilai tambah (added value) yang ditimbulkan. Baik signifikansi besaran nilai
tambah dalam konteks upaya pengembangan Ipteks secara teoretik maupun secara
empirik. Keempat, aspek penyebarluasan hasil temuan untuk mendapatkan
pengakuan atas hak cipta dan hak paten dari temuan Ipteks melalui penelitian
menjadi penting, bila dilihat dari upaya desiminasi, penjaminan mutu, dan
tindaklanjut. Desiminasi suatu hasil penelitian dalam bidang Ipteks menjadi penting
dalam rangka untuk mengkomunikasikan hasil kerja ilmiah kepada halayak sasaran
yang sebidang. Strategi desiminasi ini dapat dilakukan secara langsung (dalam
bentuk seminar, simposium, dan lain sebagainya) atau secara tidak langsung
(melalui jurnal, buku referensi, media massa, baik cetak atau elektronik, dan lain
sebagainya). Dengan keempat indikator tersebut, suatu aktivitas penelitian belum
dikatakan selesai, utamanya bagi a'vitax academia di perguruan tinggi, kalau belum
sampai pada upaya penyebarluasan hasil temuan Ipteks untuk mendapat pengakuan
hak cipta atau hak paten. Pengakuan atas hak cipta dan hak paten menjadi dasar
dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa, khususnya dalam perkembangan
lpteks. Dari sisi banyaknya jumlah perguruan tinggi secara kuantitatif di Indonesia
saat menurut data hampir 4000 perguruan tinggi (Abbas, 2013), namun belum
sebanding dengan pengakuan hak atas kekayaan intelektual (Haki) yang tidak lebih
500. Hasil Haki ini, jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan hal yang sama pada
periode tahun yang dengan negara tetangga Singapura (10.000 Haki). Kita tahu saat
ini negara yang mendapatkan Haki tertinggi berturut-turut adalah Jepang (440 ribu
Haki), Amerika Serikat (390 ribu Haki), dan dikuti oleh negara China, Korea dan
Jerman (World Patent Report, 2007 dalam Abbas, 2013).
Bertolak dari keempat indikator di atas, orientasi utama dalam aktivitas
penelitian lebih mengarah pada upaya sistematik, sistemik dan komprehensif,
dalam proses penemuan dan/atau pengembangan, pemanfaatan, dan
penyebarluasan Ipteks yang benar. Tolok ukur dari Ipteks yang memenuhi
persyaratan dikatakan benar sebagai hasil kegiatan penelitian di sini adalah ditinjau
dari dua dimensi yang harus dipenuhi. Kedua dimensi tersebut yaitu adanya
persesuaian temuan penelitian dengan logika daya nalar (rasio) secara deduktif dan
juga memenuhi persyaratan kesesuaiannya dengan keberadaan data fakta empirik
secara induktif yang ada di lapangan (Khun, 1970; dan Sjamsuri, 1989). Kesesuaian
dengan logika daya nalar dalam konteks ini dapat ditandai adanya kelogisan dan
koherensi dengan teori dalam bidang yang relevan yang digunakan sebagai dasar
kerangka pikir dalam melakukan identifikasi, menetapkan dan merumuskan
masalah, sampai dengan penentuan alternatif strategi pemecahan yang mengacu
pada dinamika perkembangan teoretik. Manifestasi tuntutan atas kesesuaian logika
daya nalar (rasio) ini lebih mengacu pada kebenaran-kebenaran dari sisi teoretik,
rasional dan sebagai representasi pola pikir yang bersifat deduktif. Kesesuaian
dengan fakta empirik yang ada di lapangan sebagai tolok ukur dari representasi
kebenaran ilmiah dari suatu temuan penelitian Ipteks dalam konteks ini ditandai
adanya relevansi dengan dinamika perkembangan fakta-fakta di lapangan (secara
empirik) dari bidang yang diteliti (Campbell & Stanley, 1966). Manifestasi tuntutan
atas kesesuaian dengan fakta-fakta empirik lebih mengacu pada kebenaran dari sisi
empirik fakta real dinamika di lapangan dan sebagai representasi pola pikir yang
bersifat induktif.
Dinamika dan laju perkembangan, baik dalam pola pikir deduktif maupun pola
pikir induktif yang digunakan sebagai tolok ukur kebenaran atas temuan penelitian
bidang Ipteks ini, dalam perkembangannya tidak selalu seiring dan sejalan dalam
dinamikanya sesuai dengan konteks ruang dan interval waktu (Popp, 1981).
Artinya, dalam konteks interval ruang dan waktu tertentu dinamika dan laju antara
perkembangan rasional dan empirik dapat berlangsung selaras dan sejalan. Namun,
dalam rentang ruang dan waktu yang lain dinamika laju perkembangan pola pikir
rasional (deduktif) lebih cepat dan lebih mendahului laju dinamika bukti-bukti
empirik (induktif). Atau, mungkin terjadi sebaliknya, yaitu dalam konteks rentang
ruang dan waktu yang lain dinamika laju perkembangan bukti-bukti empirik
(induktif) lebih cepat dan lebih mendahului laju dinamika dari pola pikir rasional
(deduktif). Sifat dari irama fenomena dilaketika laju perkembangan pola pikir
deduktif dan perkembangan dinamika empirik (induktif) ini tampaknya penting
untuk dipahami oleh para peneliti dalam upaya mencari kebenaran ilmiah.
Utamanya, bilamana peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif sebagai
pendekatan pemecahan masalah yang diteliti atau yang dikaji. Karakteristik dari
representasi pendekatan ini, adalah adanya upaya awal penemuan jawaban
sementara atas masalah yang dikaji berdasarkan hasil telaah teoretik yang lazimnya
direpresentasikan dalam bentuk hipotesis. Hipotesis sebagai representasi jawaban
sementara atas masalah yang dikaji dikonstruksikan berdasarkan ranahranah
kebenaran dari hasil telaah atau kajian teori yang notabene sebagai representasi
aplikasi berpikir deduktif-rasional yang akan diverifikasi berdasarkan fakta-fakta
empirik (pola pikir induktif). Dengan kata lain, tolak ukur kebenaran Ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni yang diperoleh dari hasil kegiatan penelitian harus
dapat dipertanggungjawabkan secara. metodologi (bentuk sinergi dan integrasi pola
pikir teoretik dan empirik) sebagai representasi upaya sistematik yang langkah-
langkahnya eksplisit, bisa direplikasi oleh pihak lain, memiliki tolok ukur tertentu,
dan objektif dan kebenaran yang bernuansa keilmuan yaitu kebenaran yang
memenuhi persyaratan kebenaran rasional (dedukif) dan kebenaran empirik
(induktif).
Di samping itu, secara lebih spesifik dari sisi fungsi desiminasi suatu hasil
kegiatan penelitian dalam bidang Ipteks selain sebagai representasi
mengkomunikasikan hasil kerja ilmiah, baik secara langsung maupun secara tidak
langsung, juga dimaksudkan secara praktis untuk juga digunakan sebagai pemandu
dalam memecahkan berbagai masalah di lapangan (masyarakat, lembaga,
kelompok). Representasi pemecahan masalah di lapangan dalam konteks ini dapat
berbentuk aplikasi berbagai alternatif dalam melakukan penetapan, identifikasi,
penjabaran, dan memilih serta menetapkan alternatif pemecahan masalah secara
efektif, efisien, dan menarik dengan tetap mempertimbangkan aspek ketuntasan dan
konservasinya. Orientasi dari suatu desiminasi informasi dalam tujuan ini adalah
untuk menyebarluaskan berbagai hasil pemecahan masalah (melalui penelitian) di
lapangan yang terkait dengan kehidupan masyarakat kepada khalayak sebidang
dan/atau di luar bidang. Diseminasi hasil penelitian dalam konteks yang berafiliasi
aspek praktis ini lebih pada upaya mengemban fungsi-fungsi penting sesuai dengan
tuntutan memperkaya hasanah bidang dalam kawasan praktis. Hasanah bidang
praktis ini meliputi upaya pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan
bidang praktis; pengembangan dan pemanfaatan bidang teknologi, seni, dan
budaya; menjadikan dasar dan sebagai masukan informasi dalam mengambil
kebijakan dan perencanaan pembangunan; dan menjadikan alat pemecahan masalah
praktis yang relevan di lapangan (Ibnu, dkk., 2003).
Upaya untuk mewujudkan fungsi di atas di masyarakat diperlukan adanya
perangkat strategi yang tepat, menarik dan memadai. Perangkat strategi ini biasa
disebut dengan alternatif startegi pemecahan masalah (metode penelitian dan
pengembangan) yang dihadapi oleh masyarakat di lapangan. Metode penelitian
yang dipilih dan dijadikan sebagai wahana alternatif pemecahan masalah pada
akhir-akhir ini banyak mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan
tuntutan ,dan laju dinamika masalah yang ada di lapangan. Dalam konteks ilmu
sosial atau konteks bidang pendidikan keberadaan metode penelitian yang paling
banyak digunakan selama ini adalah metode penelitian yang menganut pendekatan
kuantitatif. Namun, pada dekade 80-an dan 90-an telah banyak dikembangkan dan
diterapkan metode penelitian yang lain yaitu yang lazim disebut dengan pendekatan
kualitatif. Orientasi penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif lebih
mengarah pada upaya untuk melakukan konfirmasi atau verifikasi antara kebenaran
teoretik dan kebenaran empirik. Konfirmasi kebenaran teoretik dan kebenaran
empirik ini esensinya merupakan upaya untuk melihat tingkat koherensi dan
kesesuaiannya antara fenomena dialektika perkembangan secara teoretik dan secara
empirik. Orientasi penelitian dengan pendekatan kuantitatif sering disebut juga
dengan upaya verifikasi teoretik. Sedangkan penelitian yang menggunakan
pendekatan kualitatif lebih mengarah pada upaya mengembangkan proposisi teori
berdasarkan hasil analisis terhadap fenomena, fakta, atau data di lapangan pada
bidang yang dikaji (Bogdan & Biklen, 1982; Glesne & Peshkin, 1992). Upaya
pengembangan proposisi teori ini lebih mengarah pada kegiatan melakukan analisis
kritis dengan berbagai metode (studi kasus, studi multi kasus, atau studi multi situs),
yang diakhiri dengan suatu interpretasi kualitatif dalam bentuk proposisi teoretik.
Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif lazim disebut dengan
grounded theory (Berg, 2004). Aplikasi pendekatan kualitatif ini dalam bidang
pendidikan lebih merupakan perluasan dan modifikasi dari pendekatan yang banyak
digunakan dalam penelitian dalam bidang Antropologi atau Sosiologi. Esensi dari
pendekatan ini dalam upaya mengungkap suatu kebenaran sebagai hasil penelitian
sangat tergantung pada validitas dan kebenaran data. Indikator kualitas
keterpereayaan data atau kebenaran data dalam pendekatan ini lebih pada tingkat
seberapa ketepatan peneliti dalam memandang subjek atau objek yang di kajian
sampai pada tingkat" dia bagai dia, dan mereka rebagai mereka" (Miles dan
Huberman, 1992). Kalau upaya validasi data sudah sampai pada tingkatan ini
dimungkinkan faktor akan 'bias' terhadap subjek atau objek kajian dapat diperkecil.
Pada perkembangan lebih lanjut, upaya mencari kebenaran Ipteks melalui
penelitian sudah lazim digunakan pendekatan kuantitatif, dan pendekatan kualitatif.
Fenomena ini, menunjukkan adanya fleksibilitas dari mindset para peneliti yang
tidak hanya terjebak pada sifat fanatisme terhadap salah satu pendekatan (apakah
kuantitatif atau kualitatif?) Mindset peneliti yang ditunjukkan oleh perkembangan
selama ini dapat dikatakan bahwa telah sampai pada tingkat keasadaran akan
keberadaan pendekatan kuantitatif atau kualitatif hanya diperankan sebagai alat
dalam memecahkan masalah. Untuk itu, ketepatan, kualitas, ketajaman, efektivitas
dan efisiensi serta kemenarikan suatu alat yang dipilih dalam suatu kegiatan
penelitian sangat tergantung pada jenis dan sifat masalah yang diteliti. Bahkan, pada
perkembangan lebih lanjut akibat adanya kompleksitas dan ragam masalah yang
dijadikan objek penelitian juga mendorong memunculkan pendekatan yang bersifat
hybrida. Pendekatan penelitian model hybrida ini merupakan suatu pendekatan
penelitian kombinasi atau sinergi antara penggunaan pendekatan kuantitatif dan
penggunaan pendekatan kualitatif. Pendekatan penelitian model hybrida ini lahir
atas tuntutan jenis dan ragam masalah yang tidak akan segera tuntas hanya
diselesaikan dengan salah satu pendekatan (apakah kuantitatif atau kualitatif).
Pendekatan model hybrida ini oleh beberapa ahli yaitu Tashakkori dan Teddlie,
(1998); Cresswell, (2009) disebut sebagai pendekatan campuran (mixed methods).
Pentingnya, variasi perkembangan pendekatan penelitian yang berbeda-beda
(kuantitatif, kualitatif, dan campuran, hybrida) akan lebih memberikan suatu
keluwesan dan fleksibilitas dalam memandang, memilih dan akhirnya menetapkan
alternatif pemecahan masalah melalui penelitian yang didasari oleh asumsi dan
karakteristik yang berbeda dalam memandang fenomena alam yang cliiadikan
sebagai obyek kaitan.
Setiap pendekatan penelitian (kuantitatif, kualitatif, atau hylmda) mempunyai
asumsi yang digunakan sebagai landasan berpijak dalam menangkap, memahami,
dan mengitcrpretasi suatu fenomena yang dijadikan objek kanan (penelitian).
Asumsi yang melandasi pola pikir pendekatan penelitian kuantitatif dalam
menangkap, memahami, dan mengiterpretasi suatu fenomena yang dijadikan objek
kajian antara lain dapat dipenkan sebagai berikut. Pertama, bahwa peristiwa atau
fenomena yang dikaji (diteliti) dipandang sebagai suatu gejala atau fenomena yang
selalu mengikuti suatu kaidah hukum atau keteraturan tertentu. Utamanya
menganut pola pikir bahwa semua fenomena dipandang sebagai sesuatu yang
memiliki faktor-faktor yang mendahuluinya (antecedent factors). Asumsi ini
dibangun berlandaskan pada pola pikir deterministik universal. Kedua, bahwa
kebenaran yang secara mutlak hanya dapat diperoleh melalui pengamatan langsung.
Asumsi ini mengantarkan kepada para ilmuwan dalam menempatkan sumber
kebenaran ilmu pengetahuan tidak bersandarkan pada otoritas, tetapi lebih
bersandar pada bukti-bukti empirik atau data di lapangan (Ary dan Razavick, 1985;
dan Issac dan Michael, 1983).
Menurut Anderson dan Biddle (dalam Sonhadji, 1999) ada beberapa
karakteristik yang dimiliki penelitian tingkah laku dengan pendekatan kuantitatif.
Pertama, penelitian kuantitatif secara umum dapat dipilah menjadi dua kelompok
yaitu kelompok penelitian eksperimen, dan kelompok penelitian non-eksperimen.
Penelitian kelompok eksperimen yaitu penelitian dalam upaya mencari
pengetahuan yang benar melalui aktivitas verifikasi teori terhadap fenomena
empirik di lapangan. Kelompok penelitian eksperimental dalam bidang pendidikan
ditandai dengan adanya (1) minimal ada kelompok yang berbeda diberikan
perlakuan yang berbeda dan dampak atau akibat diamati dan diukur dengan tolok
ukur yang sama; (2) perlakuan dapat dalam bentuk melakukan manipulasi
perlakuan sebagai alternative treatment atau memanipulasi perlakuan pengukuran
(alternative meastrument pada tahapan tertentu (awal dan akhir) pada kelompok
tertentu; (3) alternatif perlakuan dalam bentuk manipulasi variabel sebagai
alternative treatment dikenakan pada kelompok yang berbeda (biasanya pada
kelompok eksperimen); (4) alternatif perlakuan dalam bentuk manipulasi
pengukuran' sebagai alternative treatment dapat dikenakan pada kelompok yang
berbeda (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol); atau pada kelompok yang
sama pada tahapan Pengukuran yang berbeda (tahapan awal, pra tes, dan tahap
akhir, pasca tes pada kelompok yang sama); (5) upaya memperkecil terhadap
kontaminasi pengaruh variabel lain di luar variabel yang dimanipulasi, atau cara
pengukuran lain yang dimanipu-lasi'pada variabel atau fenomena yang diamati,
diukur, dibandingkan dan dilakukan uji Signifikansi perbedaanya. Kelompok
penelitian non-eksperimen, yaitu penelitian yang dilakukan dengan tanpa
memanipulasi atau memberikan perlakuan alternatif (alternative treatment)
tertentu pada kelompok atau antar kelompok dalam berupaya mengamati,
memerikan dan/atau mengukur serta menguji signinansi hubungan antar variabel
yang dijadikan sebagai fokus kajian. Dalam konteks ini kelompok penelitian non-
eksperimen dalam upaya mencari kebenaran ilmiah berbagai variabel yang dikaji,
diamati, dan diukur tanpa dimanipulasi oleh peneliti, tetapi fenomena variabel
tersebut sudah berlangsung sebagaimana adanya. Yang dilakukan oleh peneliti
dalam kelompok penelitian ini lebih pada upaya mengukur, memerikan, dan/atau
menjelaskan hubungan akibat dari fenomena variabel yang menjadi objek kajian
dengan kiat dan teknik statistik tertentu sebagai alat alternatif dalam melakukan
analisis dan interpretasi hasil dengan mengacu pada kriteria tertentu.
Kedua, penelitian kuantitatif mengilustrasikan objektivitas dalam mencari
kebenaran ilmiah. Hal ini dapat dijelaskan dari aspek metodologis yang digunakan
sebagai alternatif pemecahan masalah pada objek yang dijadikan kajian. Aspek
metodologis yang digunakan dalam penelitian kuantitatif mulai dari rancangan,
pelaksanaan, dan simpulan dinyatakan secara sistematik dan ekplisit yang
memungkinkan peneliti lain dapat melakukan replikasi dalam upaya mempertinggi
tingkat validitas internal dari suatu hasil penelitian. Dengan langkah-langkah yang
sistematik dan eksplisit ini pula memungkinkan seorang peneliti itu sendiri atau
peneliti lain dapat menguji gagasannya di luar subjek yang diteliti sebagai
representasi dari upaya melakukan verifikasi perkembangan rasional (ranah
teoretik) terhadap fenomena dan dinamika di lapangan (ranah empirik). Upaya
untuk melakukan pengujian gagasan yang dikaji di luar subjek yang dijadikan objek
kajian atau pengujian gagasan yang dikaji pada objek atau subjek kajian yang sama,
tetapi pada ranah geografis yang berbeda dalam mempertinggi validitas internal
dan/atau generaslisasi suatu simpulan dapat dilakukan, baik pada kelompok
penelitian kuantitatif eksperimental maupun kelompok non eksperimen-tal.
Apabila, pengujian gagasan yang dikaji dilakukan terhadap subjek atau objek
yang memiliki karakteristik relatif sama, tetapi pada tanah geografis yang berbeda
lebih mengarah pada memperluas jangkauan pemberlakuan generalisasi dari
simpulan hasil penelitian. Sedangkan, apabila pengujian gagasan yang dikaji
dilakukan terhadap subjek atau objek yang memiliki karakteristik relatif berbeda,
tetapi pada latar geografis dan soial-budaya yang sama lebih mengarah upaya
mempertinggi tingkat validitas internal suatu simpulan hasil penelitian.
Ketiga, penelitian kuantitatif lebih banyak merepresentasikan fenomena yang
bersifat kualitatif ke dalam bentuk kuantitatif. Upaya representasi fenomena
kualitatif ke dalam bentuk kuantitatif sebagai suatu transformasi yang dilandasi
oleh asumsi-asumsi yang dibangun dalam pendekatan kuantitatif sebagaimana
diuraikan sebelumnya dalam Bab ini. Berbagai fenomena yang dikaji diupayakan
direpresentasikan dalam bentuk kuantitatif (angka-angka), maka dalam proses
melakukan pengolahan dan analisis data penelitian lebih banyak menggunakan
bantuan dari teknik dan rumus statistik tertentu. Apakah teknik statistik deskriptif,
atau teknik statistik inferensial dengan segala ragam rumusnya yang disesuaikan
dengan jenis data, jenis skala pengukuran. tujuan penelitian dan jumlah sampel?
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam penelitian kuantitatif sangat erat
kaitannya dengan pemilihan dan penggunaan teknik dan rumus statistik tertentu
sebagai alat bantu dalam melakukan analisis fenomena dalam upaya mencari
jawaban atas pertanyaan yang direpresentasikan dalam bentuk masalah. hubungan
antar masalah, sebagai pengetahuan yang benar, baik dari tanah teoretik maupun
ranah empirik.
Pemilihan dan penetapan teknik dan rumus statistik sebagai alat bantu analisis
dan inerpretasi data ini harus memenuhi dua persyaratan utama yaitu ketepatan dan
ketajaman-nya. Unsur ketepatan dalam hal ini relatif dekat dengan terpenuhi atau
tidaknya kesesuaian antara jenis skala data (nominal, ordinak, interval, atau rasio)
yang diolah dan teknik dan rumus statisik yang digunakan. Indikator ketepatan
pemilihan teknik dan rumus statistik sangat bergantung pada jenis skala data yang
diolah dan dianalisis. Misalnya sama-sama bermaksud menguji signifikansi
hubungan antar dua variabel atau lebih dengan kriteria pengujian, jumlah sample
tertentu, tetapi apabila jenis skala datanya berbeda(nominal dengan nominal, atau
dengan ordinal, atau intervalatau ordinal dengan ordinal, atau dengan dan interval),
perlu dipilih dan digunakan rumus statistik yang berbeda. Unsur ketajamannya
analisis dalam hal ini lebih dekat dengan terpenuhi atau tidaknya kesesuaian
alternatif rumus statistik dalam melakukan analisis lanjutan (posthoc analysis)
antara jenis rumus statistik yang digunakan pada analisis sebelumnya dengan rumus
statistik yang digunakan dalam analisis lanjutan. Misalnya sama-sama peneliti
bermaksud melkukan posthoc analysis dari hasil analisis data dengan rumus
korelasi Product Moment, berbeda apabila posthoc analysis dari hasil analisis data
dengan rumus analisis satu varian dua, atau tiga jalan. Kalau pelaksanaan posthoc
analysis dari hasil analisis data dengan Product Moment, mungkin cukup dengan
uji-t, tetapi apabila untuk melakukan posthoc analysis dari hasil analisis data
dengan rumus analisis dua jalan (misalnya) tidak tajam dilakukan dengan rumus
uji-t. Akan dikatakan lebih tajam dalam penggunaan teknik dan rumus statistik
dalam hal yang terakhir ini, bila dengan uji Newmann-Keul Test, Duncan Test dan
sebagainya. Unsur ketepatan dan ketajaman dalam meilih teknik dan rumus statistik
dalam konteks penelitian kuntitatif akan berpengaruh terhadap tingkat kualitas
temuan penelitian, simpulan penelitian, atau generalisasi yang dihasilkan.
Pendekatan penelitian kualitatif, yang diinterpresentasikan dengan metode
penelitian dengan pendekatan kualitatif, sesuai kajian referensi pada bidang yang
berbeda disebut dengan metode yang berbeda. Walaupun perbedaan penyebutannya
dengan kata atau istilah yang berbeda (pada bidang kajian berbeda, Antropologi,
Sosiologi, Psikologi dan Pendidik-an), namun secara resmi memiliki esensi roh
dan nuansa yang sama sebagai sarana mencari kebenaran keilmuan. Keberadaan
pendekatan kualitatif ini sebagai suatu alternatif pemecahan masalah yang dikaji
dalam suatu komunitas tertentu yang didasarkan pada beberapa aksioma. Aksioma-
aksioma yang dijadikan landasan dalam menggunakan pendekatan kualitatif dan
ragam metodenya dalam suatu penelitian di berbagai bidang oleh Lincoln dan
Guba(1985) diperikan berikut ini.
Pertama, pendekatan kualitatif dengan variasi atau ragam alternatif metode
yang digunakan memandang bahwa relitas dialan semesta inidapat bersifat ganda
sehingga dalam upaya mengindentifikasi, menganalisis dan menjelaskan hubungan
antar realitas alam semesta (fenomena) secara representatif dan signifikan, bila
dilakukan pengkajian secara seksama dan bersifat holistik. Kedua, hubungan
kedekatan antar peneliti dan fenomena yang diteliti terjadi interaksi dan tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Ketiga, terkait dengan sifat pengetahuan (body of
knowledge), baik sbagai landasan dan sebagai hasil suatu objek kajian, hanya
berfifat ideografik atau menyangkut konteks ruang dan waktu tertentu yang dapat
dikembangkan. Keempat, fenomena yag dujadikan sebagai oje kajian bersifat saling
mempengaruhi, sehingga tidak mudah untuk segera membuat justifikasi yang
bermuara kearah membeda-bedakanantara fenomena mana yang berperan sebagai
penyebab dan fenomena mana yang berperan sebagai akibat. Kelima, penelitian
yang dilakukan tidak bebas nilai (value-bound). Dalam hal ini suatu penelitian
khususnya dengan pendekatan kualitatif dipengaruhi oleh nilai peneliti, pemilihan
paradigma, pemilihan teori substantif dan nilai-nilai yang ada dalam konteks ruang
dan waktu kapan dan dimana dilakukan suatu kajian. Oleh sebab itu, Bogdan dan
Biklen (1982) sebagai sosok ahli dalam pengembangan dan penggunaan
pendekatan kualitatif melakukan pencerahan dengan memilah dimensi atau
indikator karakteristik penelitian kualitatif.
Dimensi atau indikator karakteristik penelitian kualitatif menurutnya meliputi
beberapa hal berikut. Latar penelitian yang dituntut bersifat alami sebagai sumber
data langsung, dan peneliti dalam hal ini sekali gus berperan sebagai instrumen
kunci. Substansi proses dalam penelitian kualitatif lebih dipentingkan daripada
hanya orientasi hasil, dengan tetap mempertimbangkan kesesuaiannya dengan latar
dari objek kajian yang menuntut alami. Analisis data dilakukan sebelum, selama,
dan setelah penelitian dan dilakukan secara induktif. Hasil kajian lebih bersifat
deskriptif dan analisis kritis, yaitu direpresentasikan dengan data penelitian
disajikan dalam bentuk katakata dan gambar; dan terakhir, makna sebagai hasil
interprestasi suatu fenomena unik yang dikaji merupakan bentuk hasil penelitian
yang esensial, dengan tetap mengedepankan perspektif partisipan. Oleh karena itu,
penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan ragam metode atau
rancangannya perlu memperhatikan persyaratan atau kaidah-kaidah dalam
penerapan metode ilmiah. Persyaratan yang dimaksud dalam penelitian kualitatif
meliputi: (1) prosedur penelitiannya harus terbuka dan siap ditelaah atau dikritisi
oleh pihak lain, sehingga representasi dan uraian metode yang digunakan perlu
diuraikan secara jelas dan eksplisit; (2) batasan-batasan atas konsep yang digunakan
dan yang akan dikaji perlu dibuat operasional dan mengacu pada referensi yang
jelas; (3) pengumpulan data dilakukan dengan berlandaskan pada prinsip
objektivitas dari suatu metode ilmiah yang baku; dan (4) hasil penelitiannya akan
dapat ditemukan oleh peneliti lain, asal sasaran, masalah, pendekatan, metode,
rancangan, dan latarnya relatif sama (Suparlan, 1994).
Penerapan pendekatan hybrida atau lazim disebut pendekatan campuran (mixed
methods) merupakan representasi dari perkembangan alternatif upaya pemecahan
masalah melalui kegiatan penelitian, selain dari penerapan pendekatan kuantitatif
dan kualitatif. Alternatif pendekatan ini dalam ranah penelitian muncul,
dikarenakan dipandang adanya kekurangan dan kelebihan kedua pendekatan
(kuantitatif dan kualitatif) sebagai pendekatan pemecahan masalah yang selalu
berkem bang mengikuti ritme fenomena dialektika dan dinamika Ipteks. Pada
konteks ruang dan waktu tertentu, setiap permasalahan yang muncul tidak selalu
dapat diselesaikan secara tuntas hanya dengan landasan kerangka pikir dari salah
satu pendekatan tertentu, baik itu pendekatan kuantitatif maupun pendekatan
kualitatif. Fenomena ini yang mendorong muncul dan berkembangnya alternatif
pendekatan lain, yang sesuai dengan tuntutan dari sifat keunikan masalah yang
dihadapi dalam pengembangan Ipteks yaitu pendekatan campuran atau pendekatan
penelitian kombinasi kuantitatif dan kualitatif (mix approach). Pendekatan
penelitian campuran ini juga lazim disebut sebagai pendekatan `kuantilatif`, artinya
kombinasi dari pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Metode kuantilatif
oleh Hesse, 2010 (dalam Sarwono, 2011) mencakup metode dalam melakukan
pengumpulan, pengolahan, analisis, dan integrasi data kuantitatif dan kualitatif
dalam suatu kajian tunggal atau kajian bertahap. Berdasarkan pengertian ini dapat
dibedakan tanahnya antara penggunana metode kombinasi (mixed methods) dengan
penggunaan metode multi (multi methods) dalam suatu aktivitas penelitian. Metode
campuran sebagai representasi penggunaan alternatif sinergi dari dua pendekatan
(kuantitatif dan kualitatif) dalam satu kegiatan pemecahan masalah melalui
penelitian. Sedangkan metode multi sebagai representasi dari penggunaan alternatif
yang lebih berorientasi penggunaan beberapa metode pengumpulan data dan juga
dalam melakukan analisis dalam suatu kegiatan penelitian yang menggunakan satu
pendekatan penelitian (kuantitatif atau kualitatif saja). Untuk itu, menjadi jelas
pembeda antara penggunaan alternatif mixed methods dan multi methods yaitu pada
jumlah pendekatan yang digunakan. Penggunaan gabungan antara dua pendekatan
penelitian (kuantitatif dan kualitatif) dalam satu aktivitas penelitian disebut mixed
methods, sedangan penggunaan beberapa metode pengumpulan data (interview dan
observasi partisipan dalam kualitatif, atau surVei dan eksperimen dalam kuantitatif)
dalam satu pendekatan penelitian (kuantitatif atau kualitatif) disebut multi methods.
Kelebihan penggunaan mixed methods dalam upaya pemecahan masalah
melalui kegiatan penelitian, bila dibandingkan upaya pemecahan masalah yang
hanya dengan satu pendekatan oleh Bryrnen (dalam Sarwono, 2011) dapat
diperikan berikut. Pertama, dapat mempertinggi kualitas upaya pelaksanaan
triangulasi (khususnya triangulasi metode). Potensi hal ini tampak pada adanya
penggunaan alternatif beberapa metode dalam lebih dari satu pendekatan
(kuantitatif dan kualitatif) dalam satu aktivitas pemecahan masalah melalui
kegiatan penelitian. Alternatif variasi pilihan metode dalam ranah pendekatan
kuantitatif, diperkaya sebagai upaya mempertinggi kualitas triangulasi dengan
alternatif variasi metode dalam ranah pendekatan kualitatif. Atau, dapat terjadi
sebaliknya, Alternatif variasi pilihan metode dalam tanah pendekatan kualitatif,
diperkaya sebagai upaya mempertinggi kualitas triangulasi dengan alternatif variasi
metode dalam ranah pendekatan kuantitatif. Kedua, mengakomodasi beberapa
pertanyaan penelitian yang berbeda dalam satu kegiatan penelitian. Potensi hal ini
lebih signifkan apabila seorang peneliti memiliki beberapa pertanyaan yang
tercakup pada dua ranah pendekatan (kuantitaitif dan kualitatif). Dua variasi
pertanyaan penelitian yang dalam konteks ranah pendekatan yang berbeda akan
lebih signifikan kalau dipecahkan melalui pendekatan penelitian yang berbeda.
Misalnya, pertanyaan penelitian yang mengarah pada Berapa besar pengaruh
variabel bebas yang dimanipulasi terhadap variabel tergantung dalam konteks ruang
dan waktu tertentu?" Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dilakukan pengukuran
besaran efek dan variabel bebas yang dimanupulasi sebagai perlakuan (Treatment)
terhadap variabel tergantung yang diamati sebagau akibat dari Intervensi atau
perlakuan yang dimanipulasi. Untuk mencari dan menjelaskan atas pertanyaan ini
melalui kegiatan penelitian akan lebih tepat dengan menggunakan pendekatan
kuantitatif. Namum, apabila rumusan pertanyaannya dirubah menjadi Bagimana
proses variabel bebas yang dimanipulasi tadi mempengaruhi keberadaan variabel
tergantung?". Untuk menjawab pertanyaan ini melalui kegiatan penelitian akan
lebih tepat dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Apabila kedua pertanyaan
tersebut ingin dijawab melalui satu kegiatan penelitian, maka pendekatan mixed
methods lebih tepat digunakan dalam hal ini.
Ketiga, mempertinggi kualitas teknik sampling yang digunakan dalam
penelitian. Potensi hal ini tampak pada keragaman dan perbedaaan dari kedua
pendekatan dalam melakukan teknik sampling untuk menentukan sampel. Pada
pendekatan kuantitatif lazim digunakan dengan teknik random sampling yang
termasuk dalam kategori teknik probabilitas, sedangkan dalam pendekatan
penelitian kualitatif lebih menggunakan accidental sampling yang termasuk dalam
kategori teknik nonprobabilitas. Sinergi dari kedua teknik sampling dalam satu
penelitian dengan pendekatan mixed methods berpotensi mempertinggi tingkat
keterwakilan (representativeness) sampel, baik dari tuntutan kuantitatif maupun
tuntutan kualitatif. Keempat, mempertinggi kredibilitas temuan penelitian. Potensi
hal ini tampak pada keragaman dan keunggulan pandangan dari berbagai sudut
pendekatan dalam menempatkan masalah yang sedang diteliti. Frame of
referencess peneliti dengan menggunakan lebih dan' satu pendekatan dalam
mengkaji suatu masalah akan berbeda dengan penelitian yang hanya menggunakan
satu pendekatan penelitian. Untuk itu, tingkat ketajam dalam mengidentifikasi,
merumuskan, dan menetapkan alternatif strategi pemecahannya lebih cermat, teliti
dan komprehensif, sehingga berpotensi memiliki kredibiltas temuan yang lebih
tinggi. Kelima, mempertinggi daya penjelas atas proses dan hasil pengkajian suatu
masalah melalui kegiatan penelitian. Potensi hal ini tampak pada kelengkapan dan
komprehensifnya pandangan peneliti dalam melihat, mengidentifikasi, dan
menjelaskan berdasarkan konteks ruang dan waktu. Pandangan pendekatan
kauntitatif akan melihat fenomena terhadap masalah yang dikaji, akan berbeda
dengan pandangan pendekatan kualitatif. Sinergi dari kedua pandangan ini secara
arif dan tepat dapat mempertajam dan memperjelas akan kemampuan menjelaskan
terhadap fenomena yang dikaji. Begitu juga, kemampuan menjelaskan dari sisi
temuan, akan lebih komprehensif dengan wujud sinergi kedua pendekatan dan
metode yang digunakan.
Menurut Brannen (1992); dan Hesse (dalam Sarwono, 2011) karakteristik
penerapan pendekatan Mixed methods dalam suatu kegiatan Penelitian, secara
umum dapat dipilah menjadi tiga orientasi. Pertama, orientasi pendekatan mixed
methods lebih bernuansa kuantitatif daripada kualitatif. Dalam kegiatan penelitian
di lapangan metode campuran ini dapat berupa orientasi dengan pendekatan
kuantitatif yang dilanjutkan dengan orientasi pendekatan kualitatif yang diakhiri
dengan temuan akhir. Orientasi pendekatan penggabungan ini lazim disebut model
penggabungan berurutan fasilitasi kuantitatif. Karakteristik model metode
gabungan di sini dimulai dari kegiatan penelitian dengan pendekatan kuantitatif,
diikuti dengan penggunaan pendekatan kualitatif. Kedua, orientasi pendekatan
mixed methods lebih bernuansa kualitatif daripada kuantitatif. Dalam kegiatan
penelitian di lapangan metode campuran ini dapat berupa orientasi dengan
pendekatan kualitatif yang dilanjutkan dengan orientasi pendekatan kuantitatif
yang diakhiri dengan temuan akhir. Orientasi pendekatan penggabungan ini lazim
disebut model penggabungan berurutan fasilitasi kualitatif. Karakteristik model
metode gabungan di sini dimulai dari kegiatan penelitian dengan pendekatan
kualitatif, diikuti dengan penggunaan pendekatan kuantitatif. Ketiga, orientasi
pendekatan mixed methods lebih bernuansa paralel antara kualitatif daripada
kuantitatif. Dalam kegiatan penelitian di lapangan metode campuran ini berupa
orientasi dengan pendekatan kualitatif dan orientasi pendekatan kuantitatif
dilakukan secara paralel yang diakhiri dengan sintesis temuan akhir. Aktivitas
penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif (pengumpulan
data) dilakukan secara serentak paralel Orientasi pendekatan penggabungan ini
lazim disebut model pengga-bungan metode paralel.
Pencirian ketiga macam pendekatan penelitian kuantitatif, kualitatif, dan
kuantilatif (mixed methods) di atas didasarkan pada beberapa pertimbangan berikut.
Pertama, kepentingan relatif pada setiap pende katan dalam keseluruhan aspek dan
karakristik yang dijadikan objek kajian. Suatu kajian yang menuntut lebih dahulu
dilakukan dengan kuantitaif dan temuan dilanjutkan dengan penleitian kualitatif
sebelum sampai pada sinstesis hasil akhir sebagai suatu simpulan penelitian.
Apabila, tuntutan masalah, konteks, latar dan perangkat pendukung yang lain
menuntut demikian, maka peneliti memilih alternatif pendekatan Gabungan
Berurutan Fasilitasi Kuantitatif. Kedua, akan dapat terjadi Sebaiknya, apabila
suatu kajian yang menuntut lebih dahulu dilakukan dengan kualitatif dan temuan
dilanjutkan dengan penleitian kuantitaif sebelam sampai pada sinstesis hasil akhir
sebagai suatu simpulan penelitian, maka peneliti memilih alternatif pendekatan
Gabungan Berurutan Fasilitasi Kualitatif. Ketiga, Apabila, tuntutan masalah,
konteks, latar dan perangkat pendukung yang lain menuntut dilakukan secara
paralel antara pengunaan pendekatan kuantitatif dan kualitatif , maka peneliti
memilih alternatif pendekatan Gabungan Paralel. Dalam memilih metode yang
sesuai dengan sifat maslah yang akan dipecahkan melalui kegiatan penelitian
dengan pendekatan mixed methods perlu memperhatikan urutan waktu (kapan
metode tersebut lebih tepat digunakan secara berurutan atau secara paralel); dan
memperhatikan tahapan-tahapan dalam proses penelitiannya (kapan tahapan
tertentu akan diefektifkan dan kapan akan dihentikan) sebagai upaya mencapai hasil
akhir penelitian yang efektif, dan efisien dan berkualitas.

Ketiga pendekatan di atas secara umum dalam upaya mencari, memanfaatkan


dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (Ipteks) melalui
kegiatan penelitian juga dipersyaratkan dengan menggunakan cara-cara atau
metode yang memenuhi kaidah ilmiah. Metode ilmiah yang dimaksud dalam hal ini
memiliki beberapa langkah dalam proses mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Langkah-langkah tersebut meliputi antara lain diawali dengan adanya upaya untuk
melakukan identifikasi, pembatasan dan perumusan masalah yang akan dipecahkan
melalui penelitian secara jelas dan operasional. Langkah ini ditempuh agar menjadi
jelas lingkup dan batasan atas masalah yang menjadi kawasan kajian secara
eksplisit. Setelah itu, dilanjutkan dengan upaya untuk melakukan konfirmasi atas
lingkup dan batasan masalah yang dijadikan objek kajian penelitian terhadap teori
atau temuan (kajian pustaka) pada ranah yang relevan yang sudah ditemukan atau
dikembangkan Sebelumnya. Upaya melakukan konfirmasi ini dimaksudkan untuk
menentukan keberadaan masalah yang dikaji dalam khasanah tebaran bidang ilmu,
sehingga dapat dipertimbangkan aspek kebaruannya (aspek novalty). Di samping
itu, juga untuk membentuk landasan kerangka pikir dalam mencari alternatif
strategi pemecahan masalah yang lazim disebut metode dan sebagai dasar untuk
mengembangkan suatu jawaban sementara berdasarkan kajian teoretik yang lazim
disebut hipotesis. Pengajuan proposisi hipotesis (jawaban sementara) dari masalah
yang diajukan berdasarkan konfirmasi teori melalui penjelajahan kajian pustaka
yang relevan. Proposisi hipotesis ini yang akan diverifikasi berdasarkan data
empirik di lapangan, dan dijadikan arah dalam melakukan dan menentukan
prosedur pelaksanaan penelitian. Data lapangan sebagai bahan verilikasi perlu
dijaring memalui instrumen yang relevan. Untuk itu, langkah pengembangan alat
pengumpulan data yang relevan dengan variabel yang akan dikaji, sumber data
yang relevan, dan strategi pelaksanaan pengumpulan data yang berkualitas menjadi
penting untuk dilakukan. Pelaksanaan pengumpulan data sesuai instrumen dan
rancangan penelitian yang sesuai dengan konteks dan informasi yang dibutuhkan
dalam hal. utama penelitian menjadi langkah fokus berikutnya.

Kecermatan, dan kejelian dalam penggunaan instrumen sebagai alat pengumpul


data ini sangat menentukan kualitas data yang diperoleh sebagai bahan verifikasi.
Dalam hal ini berlaku persepsi, bila data yang dikumpulkan tidak valid atau bias,
maka akan berpotensi menghasilkan simpulan yang sesat. Untuk menghasilkan
simpulan yang sahih, selain diperlukan tingkat akurasi data (kebenaran data), juga
diperlukan pengolahan data yang tepat dan tajam. Ketepatan dalam melakukan olah
dan analisis data dengan teknik (statistik atau nonstatistik) tertentu tertentu menjadi
penting menjadi langkah berikutnya. Dalam melakukan pengolahan dan analisis
data perlu diperhatikan adanya pemilihan dan penetapan teknik statistik (parametrik
atau non-parametrik) dengan rumus statistik yang sesuai dengan jenis dan skala data
yang ada. Pengujian hipotesis atau penyusunan proposisi temuan penelitian
berdasarkan data hasil lapangan dan kriteria pengujian hipotesis sangat menentukan
kualitas interpretasi hasil penelitian. Selaian itu, interpretasi hasil penelitian secara
cermat sesuai dengan rumusan masalah yang ditetapkan pada langkah awal menjadi
penting dalam upaya meningkatkan kualitas hasil penelitian yang didiskusikan
dengan temuan atau teori sebelumnya yang relevan. Diskusi hasil penelitian ini
bertujuan untuk mendudukan temuan dalam khasanah teori atau temuan yang ada
sebelumnya.
Kedudukan temuan dalam khasanah terori dan atau temuan sebelum dapat
diperikan menjadi: memperkuat teori atau temuan sebelumnya, memodifikasi teori
atau temuan sebelumnya, menggugurkan teori atau temuan sebelumnya, atau dalam
posisi yang memang baru sama sekali dari khasanah teori atau temuan sebelumnya.
Berdasarkan penetapan posisi temuan tersebut, digunakan sebagai acuau dalam
merumuskan simpulan dan/atau generalisasi hasil penelitian. Kedelapan langkah
metode ilmiah tersebut yang secara hirarkhis sebagai representasi sinergi sistematik
dan integratif antara pendekatan cara berpikir deduktif dan induktif yang terus-
menerus sesuai dengan alur dari spiral fenomena dialektika sebagai representasi
dari dinamika pengembangan Ipteks yang berlangsung selama jagat raya ini masih
berputar.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa muara akhir dari upaya kegiatan
penelitian ilmiah (apakah menggunakan pendekatan kuantitatif, kualitatif, atau
kuantilatif, mixed method) berorientasi lebih ke arah pada untuk mengatahui (to
know), menjelaskan (to explain), mengkontruksi proposisi (to construct) sebagai
representasi jawaban atas permasalahan yang dipecahkan berdasarkan data empirik
di lapangan. Hasil akhir suatu kegiatan penelitian yang berwujud simpulan sebagai
yang biasa disebut dengan Ipteks yang benar, yaitu memiliki dua persyaratan dari
sisi pola berpikir deduktif dan pola berpikir induktif (by rational dan by empiric).
Hasil penelitian dalam wujud proposisi simpulan yang memenuhi kedua
persyaratan tersebut diharapkan dapat diberlakukan atau digeneralisasikan
(obtaining generalizable knowledge) dalam tingkatan teoretik dan empirik pada
konteks yang lebih luas yang memiliki karakteristik latar yang relatif sama. Hal ini
menjadi pembeda yang lain antara implikasi dari hasil penelitian dan hasil kegiatan
evaluasi. Muara hasil akhir dari upaya kegiatan evaluasi lebih berorientasi pada
kepentingan untuk pengambilan keputusan dalam menetapkan suatu pilihan (to
choose) (Kirpatrick, 1994) terhadap suatu program (bersifat lokal, regional,
nasional, atau internasional) yang sedang dan telah dijalankan. Keputusan yang
dimaksud yang diberlakukan pada tahapan program yang sedang berlangsung
ditujukan untuk melakukan perbaikan komponen sistem dan kiat operasional
program. Pada karakteristik evaluasi ini biasa disebut dengan kegiatan evaluasi
fomatif. Keputusan yang dimaksud diberlakukan pada tahapan program yang sudah
berakhir ditujukan untuk mengetahui tingkat efektivitas, eiisiensi, relevansi,
kemenarikan dan produktivitas suatu program yang telah dijalankan. Pada
karakteristik pelaksanaan evaluasi yang terakhir ini biasa disebut dalam ranah
evaluasi sebagai kegiatan evaluasi sumatif.

2.3. Batasan Konseptual Pengukuran


Kegiatan pengukuran (measurement) adalah suatu aktivitas untuk memperoleh
data atau infomasi dari kelompok subjek atau objek kajian yang diperlukan dalam
upaya memecahkan masalah melalui penelitian atau evaluasi. Data atau infomasi
yang diperlukan ini secara umum dapat diperolah melalui dua cara yaitu dengan
cara penghitungan dan pengukuran (Nunnally, 1978). Pembeda antara data atau
infomasi yang diperoleh dengan cara keduanya, baik dalam kegiatan penelitian atau
evaluasi akan bersifat deskrit dan berupa bilangan bulat pada hasil penghitungan,
dan bersifat data kontinum dan berupa bilangan pecahan pada hasil pengukuran.
Pengukuran menjadi sangat penting keberadaannya bila dikaitkan dengan kegiatan
penelitian atau evaluasi. Hal ini disebabkan oleh karena tingkat kualitas hasil
kegiatan dari penelitian (simpulan) atau evaluasi (keputusan) sangat tergantung
oleh batasan faktor/ fenomena yang dijadikan objek pengukuran, kualitas alat ukur,
proses dan hasil kegiatan pengukuran yang dilakukan. Indikator batasan faktor atau
fenonemna yang dijadikan objek pengukuran adalah adanya batasan substansi
fenomena yang dijadikan objek pengukuran secara operasional, sehingga jelas
rincian dari dimensi dimensi dan indikator atau deskriptornya. Kejelasan rincian
dari dimensi, indikator atau deskriptor atas suatu objek yang dijadikan evaluasi atau
penelitian sangat tergantung dari tingkat operasionalisasi dalam memberikan
definisi operasionalnya. Kejelasan dalam memberikan definisi operasional atas
objek atau subjek yang dievaluasi atau diteliti akan berpotensi sebagai acuan
pengembangan instrumen yang baik, dan berkualitas. Indikator kualitas alat
pengukuran atau biasa lebih dikenal dengan sebutan instrumen pengukuran adalah
dapat dilihat dari aspek tingkat validitas dan reliabilitas instrumen. Tingkat validitas
suatu instrumen dapat dilihat dari sisi validitas isi (content validity), dan validitas
empirik (empirical validity). Tingkat validitas isi suatu instrumen penelitian atau
evaluasi ditentukan berdasarkan hasil penilaian kelompok ahli yang relevan (expert
judgement) (Gronlund, 1990).
Sedangkan tingkatan validitas empirik suatu instrumen penelitian atau evaluasi
ditentukan berdasarkan hasil dari analisis data hasil uji coba pada responden yang
relevan dengan teknik dan rumus statistik tertentu. Indikator kualitas proses
pengukuran adalah sebagai representasi tingkat konsistensi yang perlu dijaga untuk
menghidari kesalahan dalam melakukan penetapan instrumen dan proses
pengukuran. Dalam melakukan proses pengukuran untuk mengambil data dari
suatu objek atau subjek, kalau tidak cermat dan sesuai standar baku operasional
dapat berpotensi menimbulkan kesalah kesalahan pengukuran. Potensi kesalahan
dalam melakukan pengukuran oleh Crounbach (1984) dipilah menjadi dua yaitu
kesalahan pengukuran yang bersifat 'kesalahan sampling dan kesalahan
pengukuran yang bersifat 'kesalahan sistematik'. Jenis kesalahan pengukuran yang
bersifat kesalahan sampling, akan potensi berpengaruh terhadap akurasi dan
kualitas simpulan atau produk pengambilan keputusan yang didasarkan pada hasil
analisis data dari hasil pengukuran. Sedangkan jenis kesalahan pengukuran yang
bersifat sistematik, tidak begitu berpengaruh terhadap akurasi dan kualitas simpulan
atau produk pengambilan keputusan yang didasarkan pada hasil analisis data dari
hasil pengukuran (Cronbach, 1984). Indikator utama dari kualitas dari hasil
pengukuran yang dilakukan dalam suatu penelitian atau evlauasi adalah tingkat
representativeness data atau informasi yang diperolah yang biasanya disebut
dengan derajat kebenaran atau keabsahan data.
Dalam kegiatan penelitian atau evaluasi aktivitas pengukuran merupakan suatu
proses memerikan dan/atau proses pengkuanu'fikasian atas sifat dari suatu atribut
fenomena (bisa berupa benda, peristiwa atau waktu). Dalam upaya melakukan
pengkuantifikasian suatu atribut fenomena ini dapat digunakan berbagai lambang
atau simbul-simbul. Lambang atau simbul yang paling lazim digunakan dalam
menggambarkan dari sifat atribut fenomena secara kuantitatif dapat berupa angka
atau huruf sebagai lambang atau simbul. Berdasarkan hasil berbagai kajian literatur
yang ditulis oleh para pakar dalam bidang pengukuran dapat disimpulkan bahwa
lambang atau simbul yang paling luwes (flexible) atau paling lazim digunakan
adalah dengan angka (Cronbach, 1984; dan Nunnally, 1978). Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa pengukuran adalah suatu proses penerapan atau
pemberlakuan atas aturan-amran dalam penggunaan simbul angka untuk
merepresentasikan jumlah kuantitatif atribut suatu fenomena atau sesuatu yang
dijadikan objek pengukuran. Baik jumlah Imantitatif atribut suatu fenomena atau
objek yang bersifat konkret maupun jumlah kuantitatif atribut suatu fenomena atau
objek yang bersifat abstrak. Contoh suatu jumlah kuantitatif atribut fenomena yang
bersifat konkret, misalnya: fenomena tinggi dan berat badan, panjang meja dan
kursi, lebar sungai atau danau, ketinggian suatu gtmung, bukit, dan ombak.
Sedangkan contoh jumlah kuantitatif atribut suatu fenomena yang bersifat abstak,
misalnya: fenomena taraf kemampuan umum seseorang (IQ), bakat dalam bidang
tertentu seseorang, minat seseorang terhadap suatu stimulus tertentu, tingkat
ketekunan dan kesabaran seseorang dalam melakukan aktivitas belajar, etos keja
dan persepsi seseorang, motivasi belajar seseorang, kemampuan mengendalikan
emosi seseorang, dan daya enduransi seseorang dalam melakukan aktivitas belajar.
Sebagai konsekuensi dari sifat atribut fenomena (yang bersifat konkret atau
abstrak) di atas, pada upaya penggunaan sirnbul atribut kuantitas dengan angka
dalam suatu aktivitas pengukuran perlu dibuat kesepakatan terhadap dua makna
sifat kuantitatif. Pertama, penggunaan berbagai simbul atau lambang angka dalam
aktivitas pengukuran yang memiliki makna kuantitatif dimaknai sebagai sesuatu
yang `mutlak, absolut` yang hanya berlaku pada objek yang terkandung pada angka
atau bilangan bulat yang bersifat deskrit. Contoh dari karakteristik hasil data atau
informasi dalam konteks ini dapat diberikan yaitu keberadaan jumlah penduduk
suatu Wilayah tertentu (desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, propinsi, atau
negara); keberadaan jumlah mahasiswa dalam satu angkatan pada jurusan, fakultas
atau universitas tertentu; keberadaan jumlah angkatan kerja produktif yang disusun
berdasarkan faktor jenis kelamin (laki dan perempuan) dalam suatu negara. Begitu
juga, dikatakan dalam bentuk angka atau bilangan bulat dan bersifat deskrit karena
dalam konteks ini tidak mengandung unsur bilangan pecah (0,3; 0,5; ...; dan
seterusnya). Dalam konteks jumlah penduduk suatu desa misalnya, tidak ada
bilangan yang menunjukkan 12.500,5 orang (dua belas ribu limaratus setengah
orang) walaupun secara ekstrem di wilayah tersebut terdapat seorang penduduk
perempuan (Ibu) yang sedang hamil 4,5 bulan (empat setengah bulan). Kesepakatan
yang perlu kita sepakati dalam hal ini penggunaan data yang berupa angka tersebut
yang terkait penunjukan secara kuantitatif dari suatu atribut jumlah pendduduk
tetap dikatakan jumlah penduduk desa sebanyak 12.500 orang (dua belas ribu lima
ratus orang). Di samping itu, pemaknaan simbol angka yang mutlak' pada suatu
objek tertentu juga terkandung angka pecahan yang disebut sebagai suatu yang
bersifat kontinum. Fenomena ini ini terjadi pada pengukuran panjang suatu batang
logam, tinggi dan berat badan misalnya. Panjang logam dari suatu hasil pengukuran
dapat disajikan dalam bentuk kuantitatif angka sebesar = 150, 5 meter, atau 100, 3
meter dan seremnya. Pada data tinggi badan dapat juga disajikan hasil suatu
kegiatan pengukuran dalam bentuk kuantitatif angka : 165, 7 Cm, atau 180, 3 Cm.
Pada data berat badan dapat disajikan jumlah kuantitatif atribut fenomena sebagai
hasil pengukuran, misalnya, 70,8 Kg, 55,4 Kg, dan seterusnya. Contoh hasil
pengukuran terakhir termasuk dalam kategori jumlah kuantitatif suatu atribut yang
dilambangkan dengan suatu bilangan yang bersifat bilangan pecahan dan bersifat
bilangan kontinum.
Kedua, simbul atau lambang angka dalam aktivitas pengukuran yang tidak
memiliki makna kuantitatif dan lebih bermakna sebagai sebagai penunjuk yang
bersifat kategorial. Misalnya, dalam pemerian suatu data nominal tentang jenis
kelamin, dan macam pemeluk agama di suatu Wilayah masyarakat tertentu. Dalam
konteks perian data jenis kelamin ini, penggunaan simbul angka lebih bermakna
kategorial daripada makna kuantitatif. Penggunaan simbul angka 1, 2 atau 3 dalam
konteks ini lebih bermakna kategorial. Angka 1 dalam konteks ini biasanya lebih
merepresentasikan bukan makna kuantitatif, tetapi lebih merepresentasikan pada
makna pengkategorian jenis kelamin kelompok laki-laki, angka 2 dalam konteks ini
diberikan makna pada pengkategorian jenis kelamin kelompok perempuan, dan
angka 3 dalam konteks ini dapat diberikan makna pada pengkategorian jenis
kelamin kelompok jengki. Artinya, jenis kelamin ketiga ini, bukanlah termasuk
kelompok jenis kelamin laki-laki atau bukan termasuk pada pengkategorian
kelompok jenis kelamin perempuan (tapi penggunaan lambang angka 3 yang
terakhir ini tidak lazim digunakan dalam melakukan pengkategorian suatu
kelompok jenis kelamin di masyarakat). Begitu juga, dalam pemerian jenis data dari
macam atau variasi pemeluk agama di suatu Wilayah masyarakat tertentu di
Indonesia misalnya, penggunaan lambang angka 1 biasanya lebih bermakna pada
bentuk kategorial. Misalnya angka 1 diberikan makna kelompok penduduk yang
beragama Islam, angka 2 diberikan makna kelompok penduduk yang beragama
Kristen, angka 3 diberikan makna kelompok penduduk yang beragama Hindu, dan
seterusnya. Begitu juga dalam pemerian data yang berjenjang (ordinal), misalnya
tentang representasi sikap kepuasan seseorang terhadap sesuatu objek atau
fenomena tertentu. Dalam hal ini representasi lambang angka 1 dapat bermakna
tidak puas, angka 2 dapat bermakna kurang puas, angka 3 dapat bermakna cukup
puas, angka 4 dapat bermakna lebih puas, dan angka 5 dapat bermakna sangat puas.
Penggunaan simbul angka yang bermakna relatif untuk kategorial ini biasanya
ditentukan dengan skala (perjanjian) terhadap sifat yang akan dikenai suatu ukuran
tertentu yaitu harus jelas definisi dan verifikasi objek atau fenomena apa yang akan
dan sedang dilakukan proses pengukuran. Kegiatan pengukuran suatu atribut
fenomena yang dijadikan objek penelitian atau evaluasi dibutuhkan akan
kecermatan, ketelitian, dan objektivitas yang tinggi, terutama dalam melakukan
pengukuran pada suatu fenomena atau objek yang atribut kuantitatifnya bersifat
abstrak. Untuk itu, tingkat kualitas atau akurasi suatu pengukuran atas objek atribut
yang abstrak diperlukan kecemaran dalam hal: menentukan lingkup atau kawasan
yang dijadikan objek pengukuran, memberikan batasan konseptual atau batasan
operasional atas suatu fenomena yang dijadikan objek pengujuran, penjabaran
batasan fenomena ke dalam dimensi atau indikator atau deskriptor, pengembangan
butir-butir pertanyaan atau pernyataan dari setiap indikator atau deskriptor sebagai
wahana menjaring data yang dibutuhkan. Di samping itu, masih diperlukan
kecermatan dalam merumuskan berbagai pertanyaan atau pernyataan di setiap butir
instrumen, dan upaya memenuhi persyaratan tuntutan yang lain yaitu validitas,
kualitas butir, konsistensi, dan reliabilitas dari kumpulan pertanyaan atau
pernyataan dalam wujud instrumen pengukuran. Selain itu, juga dituntut adanya
ketaatatasan pada prosedur operasional baku (POB) dalam penggunaan instrumen,
pengolahan data dan juga teknik dan rumus analisis data yang digunakan. Proses
pelaksanaan pengukuran atas suatu fenomena yang dijadikan objek pengukuran,
baik pada pengukuran atribut kuantitatif yang bersifat konkret atau atribut
kuantitatif yang bersifat abstrak.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam kegiatan
pengukuran terkandung dua aspek utama yaitu adanya penggunaan lambang atau
timbul angka, dan adanya aturan main tertentu yang perlu dibangun untuk
disepakati dalam penggunaan simbul atau lambang angka. Penggunaan lambang
atau simbul angka di sini dapat berupa simbul angka bilangan bulat (skala) yang
biasa disebut deskrit atau digunakan lambang bilangan yang berupa angka pecahan
(skala) yang biasa disebut kontinum. Contoh, dari penggunaan lambang atau simbul
angka bilangan deskrit, misalnya, jumlah orang dalam suatu kelompok tertentu (5
orang, 10 orang, 100 orang, dan lain sebagainya). Begitu juga, contoh dari lambang
atau simbul yang berupa angka pecahan (bilangan kontinum) dalam suatu kegiatan
pengukuran, misalnya panjang suatu batang logam 2,4 meter, berat badan seseorang
64,7 kg, tinggi suatu tiang pancang 20,5 meter. Dalam hal ini keberadaan fenomena
panjang batang logam dalam satuan ukuran meter, berat badan seseorang dalam
satuan ukuran kilogram, dan anggi suatu tiang pancang dalam satuan ukuran meter
direpresentasikan dalam lambang atau simbul angka yang bersifat kontinum
(mengandung unsur pecahan).
Aspek yang lain yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pengukuran adalah
faktor ketaatan dalam penggunaan uluran angka-angka yang telah disepakati.
Ketaatan penggunaan amran suatu lambang atau simbul angka yang merujuk pada
(l) penggunaan angka-angka yang dimaksudkan itu sebagai wahana untuk
merepresentasikan atribut kuantitas apa dan atribut kuantitas yang bagaimana?
(Nunnally, 1978). Kesepakatan dalam penggunaan aturan angka-angka ini menjadi
penting dan utama dalam penggunaan angka-angka sebagai Suatu lambang atau
simbul dalam kegiatan pengukuran suatu atribut fenomena. Misalnya, lambang atau
simbul angka 1 (satu) dalam pengukuran suatu atribut fenomena panjangnya.
Apakah sudah jelas dan disepakati angka 1 (satu) untuk merepresentasikan dari
makna kuantitas seperti 1 (satu) sentimeter (satu sentimeter), 1 meter (satu meter),
atau 1 kilometer (satu kilometer). Begitu juga lambang atau simbul angka 1 (satu)
dalam pengukuran suatu atribut fenomena tentang berat suatu barang tertentu
apakah disepakati merepresentasikan makna, misalnya 1 ons (satu ons), ] kilogram
(satu kilogram), 1 kuintal (satu kuintal), atau 1 ton (satu ton). Ketaatan dalam
penggunaan aturan angka-angka sebagai lambang dalam suatu proses pengukuran
atribut suatu fenomena ini menjadi sangat penting dalam rangka untuk menghindari
kesalahan hasil pengukuran (sistematis atau sampling), dan menjadi tolok ukur dan
standar baku dalam melakukan interpretasi hasil suatu pengukuran. Hal ini, akan
sangat berpengaruh terhadap tingkat kualitas data yang dihasilkan dalam suatu
penelitian atau evaluasi. Dengan kata lain, hal terakhir yang mampu mempertinggi
kemungkinan mendapat data atau informasi yang representatif dan tidak sesat
alias data atau informasi yang benar.

2.4. Batasan Konsptual Pengembangan

Sebagai upaya pemecahan masalah secara sistematik dan berlandaskan


kerangka pikir yang signifikan, selain melalui aktivitas penelitian dan evaluasi
dapat juga dilakukan dalam bentuk kegiatan pengembangan. Bila ditinjau dari
substansi masalah dan pertimbangan kemanfaatan dari suatu aktivitas
pengembangan lebih mengarah dan berorientasi pada fenomena masalah masalah
nyata pada latar tertentu (real problem). Latar masalah dalam konteks ini dapat
berupa pelaksanaan suatu program, suatu institusi, atau suatu sistem atau bahkan
suatu organisasi tertentu. Substansi masalah yang cocok untuk diangkat dan
dicarikan alternatif pemecahannya melalui kegiatan pengembangan adalah masalah
masalah nyata yang karena keberadaannya akan berpotensi kurang medukung
terhadap optimalisasi proses pelaksanaan dan pencapaian hasil suatu program dari
suatu institusi, atau suatu sistem atau suatu organisasi. Sifat dari masalah dalam
suatu aktivitas pengembangan ini merupakan representasi prioritas yang menjadi
penyakit kronis? (Seels & Richey, 1994) dalam suatu sistem, institusi, komunitas
organisasi atau komponen dari (suatu sistem, institusi, komunitas organisasi) yang
perlu menuntut segera dipecahkan dalam upaya optimalisasi proses dan hasil suatu
program yang dirancang dan dijalankan. Indikator dari prioritas masalah suatu
program di sini adalah adanya kesenjangan yang nyata antara sesuatu yang
dirancang (proses atau hasil) dalam suatu program dan keberlangsungan proses dan
hasil yang dicapai dalam ukuran interval waktu tertentu (dapat di awal, di tengah,
ataupun di akhir). Kemanfaatan dari kegiatan pengembangan dalam suatu program,
suatu institusi, atau suatu sistem atau suatu organisasi adalah merupakan bentuk
upaya terapi terhadap penyakit kronis yang ada dalam upaya optimalisasi proses
dan hasil suatu program yang sedang dan telah berlangsung. Dengan upaya
pengembangan ini diharapkan mulai dari identifikasi sumberdaya, perancangan,
pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dapat berjalan seiring dengan ritme
fenomena dialektika pengembangan optimalisasi proses dan hasil suatu program
yang dirancang.
Aktivitas pengembangan dalam konteks pemecahan masalah merupakan suatu
upaya atau suatu proses sistematik untuk menghasilkan suatu produk (bisa
berwujud sistem, model, peralatan, atau prosedur operasional) sebagai representasi
wahana dalam pemecahan masalah berdasarkan prinsip-prinsip tertentu pada ranah
masalah yang dipecahkan (Joni, 1984). Representasi tanah masalah yang
dipecahkan melalui aktivitas pengembangan dapat berupa, masalah pelatihan,
masalah pembelajaran, masalah organisai, masalah kelembagaan, dan lain
sebagainya. Ranah masalah di sini lebih berdasarkan pada pemberian klasifikasi
dalam setiap bidang kajian yang erat dengan perikehidupan manusia. Pemerian
klasifikasi itu dibagi menjadi tiga pokok yaitu pengembangan teori, pengembangan
prinsip prinsip, dan pengembangan prosedur Merril, 1983). Bila dikaitkan dengan
upaya pemecahan masalah secara profesional sesuai tuntutan profesi dalam bidang
ilmu pembelajaran upaya pengembangan yang berkaitan dengan pemecahan
masalah yang bersifat teori dan prinsip prinsip menjadi tanah dan tanggung jawab
para ilmuwan, sedangkan pemecahan masalah yang terkait dengan upaya
penjabaran prinsip-prinsip ke dalam prosedur prosedur tertentu yang lebih konkret
menjadi ranah dan tanggung jawab para teknolog. Pada akhirnya pemecahan
masalah yang terkait dengan pengkonkretan prosedur prosedur ke langkah langkah
nyata (tipe produk) dan operasionalisasi pemecahan masalah praktis sebagai
representasi penyembuhan penyakit dilakukan atau menjadi ranah dan tanggung
jawab para teknisi. Dalam konteks pengembangan ini antara peran ilmuwan,
teknolog, dan teknisi berbeda tanah dan tanggung jawabnya. Hal ini akan membawa
konsekuensi deskripsi kerja (job descriptions) antara satu kelompok profesi yang
berbeda juga akan berbeda deskripsi tugas, ranah dan tanggung jawabnya.
Bila dikaitkan dengan upaya pemecahan masalah suatu kegiatan pengembangan
erat sekali dengan kegiatan evaluasi dan penelitian. Hal ini, dikarenakan ketiga
bidang ini (evaluasi, penelitian dan pengembangan) memiliki interhubungan
fungsional, namun juga memiliki orientasi penekanan pencapaian tujuan akhir yang
berbeda. Secara umum dapat dikatakan ketiga kegiatan (evaluasi, penelitian, dan
pengembangan) ini memilild tujuan yang sama bila dilihat dari upaya pemecahan
masalah. Ketiga aktivitas yang tercakup dalam ketiga kegiatan tersebut lebih
sebagai wahana upaya memecahkan masalah yang dihadapi oleh manusia, baik oleh
individu, kelompok masyarakat, negara dan bangsa maupun masyarakat pada
tataran regional dan internasional yang lebih familiar disebut sebagai representasi
program. Orientasi kegiatan pengembangan bila dikaitkan dengan pemecahan
masalah suatu lembaga atau organisasi lebih menekankan pada meningkatkan atau
lebih memberdayakan tingkat efektivitas, efisiensi, produktivitas, dan kemenarikan
dari sumbangan setiap atau beberapa komponen (dapat dalam lingkup konteks saja,
input saja, atau input dan proses, atau input dan hasil proses dan hasil) atau
keseluruhan komponen (konteks, input, proses, dan hasil) dari suatu lembaga,
organisasi atau program dalam optimalisasi pencapain tujuan yang ditetapkan.
Hubungan representasi ketiga cara dalam upaya pemecahan masalah (evaluasi,
penelitian dan pengembangan) utamanya pada latar suatu lembaga atau suatu
organisasi, atau suatu program dalam upaya pencapaian tujuan yang optimal dari
sisi efektivitas, efisien, relevansi, produktivitas, dan kemenarikan dengan
pembedaan pada orientasi penekanannya tampak lebih jelas melalui visualisasi
yang disajikan pada Gambar 2.5. Penekanan orientasi kegiatan penelitian lebih pada
memenuhi atas kebutuhan untuk mengetahui (need to know), penekanan kegiatan
evaluasi lebih pada memenuhi atas kebutuhan untuk memilih (need to choose), dan
penekanan kegiatan pengembangan lebih pada memenuhi atas kebutuhan untuk
berbuat (need to do). Kebutuhan untuk mengetahui dalam kegiatan penelitian
adalah dapat dalam bentuk pemerian dan analisis kritis suatu fenomena, dan/atau
hubungan antar fenomena. Pemerian fenomena ini biasanya terjadi pada konteks
fenomena yang relatif baru, sehingga selaian memerikan juga memberikan
penjelasan, sedangkan hubungan antar fenomena dapat berupa penjelasan,
meramalkan, atau mengontrol suatu peristiwa atas fenomena. Kebutuhan untuk
memilih dalam kegiatan evaluasi adalah memilih alternatif dalam bentuk Suatu
keputusan atas hasil dan tindak lanjut dari suatu program yang dijadikan objek
evaluasi. Keputusan dalam konteks ini dapat penilaian atas tingkat efektivitas,
efisiensi, relevansi dan produktivitas dari suatu pencapaian hasil yang telah
ditetapkan, dan diikuti dengan keputusan atas bentuk tindak lanjut atas suatu
program yang dijadikan objek evaluasi.
Ragam keputusan tindak lanjut dapat berupa rekomendasi yang terkait dengan
keberadaan dan keberlanjutan suatu program untuk diteruskan tanpa modifikasi,
dimodifikasi sebelum dilanjutkan atau dihentikan (baik sementara maupun
selamanya) dari suatu program. Kebutuhan untuk melakukan dalam kegiatan
pengembangan adalah melaksanakan rekomendasi dari suatu produk
pengembangan pada latar dan masalah tertentu.
Pelaksanaan produk pada latar dan masalah tertentu ini merupakan representasi dari
upaya pemecahan masalah dalam meningkatkan efektivitas, efisiensi, kemenarikan,
relevansi dan produktivitas suatu program pada suatu unit tertentu. Baik pada latar
lembaga, latar sistem, dan juga organisasi yang lain yang keberadaannya memang
dirancang sebagai wahana pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Upaya pemecahan masalah melalui kegiatan pengembangan dilakukan
berdasarkan operasionalisasi teori atau prinsip-prinsip yang telah tervalidasi (oleh
kelompok ilmuwan) ke dalam langkah-langkah atau prosedur yang mengarah pada
suatu produk sebagai bentuk pemecahan masalah. Mengingat bahwa kegiatan
pengembangan merupakan upaya penjabaran teori atau prinsip ke dalam suatu
produk sebagai Wujud pemecahan masalah, maka dalam kegiatan pengembangan
ada beberapa tahapan kegiatan pokok (langkah-langkah atau prosedur) yang
keberadaannya saling menunjang dan terkait. Pertama, melakukan kajian,
identifikasi, batasan dalam bentuk konseptual dan operasional, pemilihan dan
penetapan signifikansi masalah yang akan dipecahkan. Kegiatan ini akan lebih
efektif dan efisien. apabila dilakukan berdasarkan kondisi nyata di lapangan dengan
pendekatan problem oriented (Kaufaman dan Thomas, 1980). Artinya, dalam
menentukan prioritas masalah yang akan dipecahkan, benar benar berdasarkan pada
jenis dan penyakit apa yang mendesak untuk dipecahkan, sehingga dapat secara
langsung meningkatkan proses nilai tambah (added value) suatu sistem.
Kedua, perlu melakukan konfirmasi terhadap literature atau referensi yang
relevan, yang memenuhi aspek kebaruan (up to date) dan juga memenuhi
persyaratan aspek memadai (adequsi). Kegiatan pada tahapan ini lazimnya cukup
memerlukan waktu dan juga ketelatenan serta kecermatan tersendiri oleh para
pengembang. Hal ini dilakukan agar upaya operasionalisasi prosedur pemecahan
masalah dapat betulbetul mengena pada sasaran jenis penyakit yang termasuk
dalam kategori kronis"! yang ada di dalam suatu sistem, suatu program, suatu
institusi, atau suatu organisasi tertentu. Dalam kegiatan kedua ini, termasuk juga
mengidentifikasi dan menganalisis serta mempertimbangkan keberadaan
(dukungan dan kendala) berbagai sumber daya pendukung. Faktor dukungan dalam
hal ini berupa teridentifikasikannya berbagai sumberdaya dominan yang tersedia
dalam upaya melakukan kegiatan pengembangan yang dimaksudkan. Sedang faktor
kendala lebih mengarah pada identifikasi berbagai kendala yang ada yang tidak
dapat dielakkan kaitannya dengan pelaksanaan kegiatan pengembangan.
Ketiga, berdasarkan hasil kegiatan pertama dan kedua di atas, dilakukan
identifikasi, memilih, dan pada akhirnya menetapkan prototipe sebagai alternatif
bentuk produk pemecahan masalah (prinsip, model, prosedur, atau peralatan) yang
siap divalidasi ahli dan kelompok kecil dari karakteristik yang relatif sama dengan
target sasaran. Prototipe produk yang diharapkan dari sisi macam dan bentuk,
kualitas, mobilitas, kerumitan, efektivitas, efisiensi dan kemenarikan dapat
memenuhi persyaratan tertentu dan juga sesuai dengan latar serta budaya sistem
atau organisasi yang dikembangkan. Keempat, mengacu pada hasil validasi tersebut
dicermati atas kelemahan atau kekurangannya yang ada dan dijadikan dasar untuk
melakukan revisi atau penyempurnaan padi aspek atau komponen komponen yang
dipandang perlu. Kegiatan pada tahapan ini bisa dilakukan hanya satu kali atau
mungkin dapat lebih dari satu kali, tergantung pada kondisi sumber daya
pendukung dan kendala yang ada. Akhir dari kegiatan validasi prototipe ini sampai
pada kesimpulan bahwa prototipe hasil pengembangan sudah teruji (produk
prototipe yang teruji). Kelima, dilakukan uji efektivitas, efisiensi, kemenarikan,
keparktisan dan prototipe yang sudah teruji melalui kegiatan ' eksperimen pada latar
dan sasaran yang lebih luas. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menguji efektivitas
dan efisiensi, relevansi dan atau kemenarikan hasil atau produk pengembangan
sebagai alternatif pemecahan masalah, bila dibandingkan dengan prosedur atau
produk yang ada yang sedang berlangsung pada suatu program. Semua
langkahlangkah dalam kegiatan pengembangan ini perlu dilakukan secara cermat
dengan memperhatikan beberapa masukan dari kelompok ahli yang relevan,
praktisi di bidang yang relevan, target sasaran pemakai, dan ritme fenomena
dialektika perkembangan ilmu di bidang yang dijadikan sebagai objek
pengembangan. ' Hasil dari suatu aktivitas pengembangan dapat dipilah menjadi
dua, yaitu menghasilkan prototipe produk yang teruji dan/atau uji efektivitas
prototipe hasil pengembangan. Kedua pemilahan hasil pengembangan sebagai
wujud tagihan akhir dari suatu aktivitas pengembangan dapat dilakukan pada satu
kegiatan yaitu yang disebut dengan kegiatan penelitian dan pengembangan
(research and development). Dalam konteks yang pertama aktivitas
pengembagannya dilakukan sampai menghasilkan prototipe produk yang teruji,
dan dilanjutkan dengan kegiatan penelitian untuk menguji 'signifikansi efektivitas'
keunggulan produk baru, bila dibandingkan dengan produk lama dalam
memecahkan masalah. Apabila melakukan research and development sebagaimana
yang dimaksudkan ini, maka pendekatan yang lazim dan cocok digunakan adalah
dengan mengaplikasikan pendekatan penelitian mixed methods. Selain itu, untuk
mencapai maksud penelitian dan pengembangan dapat dilakukan melalui dua
kegiatan yaitu pengembangan dan penelitian, baik dilakukan oleh orang atau
kelompok yang sama dan dapat juga oleh orang atau kelompok yang berbeda. Kalau
dilakukan oleh orang atau kelompok yang sama, biasanya pada tahapan atau
interval waktu yang berbeda yaitu berangkat dari produk prototipe yang teruji
sebagai hasil dari kegiatan pengembangan. Setelah itu, pada waktu yang berbeda
pengembang tersebut bermaksud ingin melanjutkan untuk melakukan kegiatan uji
terhadap efektivitas, efisiensi, kemenarikan dan lain sebagainya atas prototipe
tersebut yang dilakukan dalam aktivitas tersendiri dan waktu yang berbeda. Apabila
dilakukan oleh orang atau kelompok pengembang yang berbeda, dapat dilakukan
pelaksanaan kegiatan uji efektivitas, efisiensi, kemenarikan dan lain sebagainya
atas prototipe tersebut dilakukan oleh peneliti lain pada waktu yang berbeda, tetapi
masih bersifat kegaiatan penelitian lanjutan.
Kelima proses dalam melakukan pengembangan tersebut dapat lebih jelas pada
visualisasi yang disajikan pada Gambar 2.6. Sesuai dengan Gambar 2.6 kelima
langkah yang harus ditempuh dalam melakukan kegiatan pengembangan dapat
dikemas menjadi tiga ranah kegaitan besar, yaitu kegiatan studi pendahuluan,
kegiatan menentukan dan mengembangkan prototipe model, dan terakhir
melakukan kegiatan uji efektivitas dan efisiensi dari prototipe model hasil dari
pengembangan. Pada kegiatan pertama, yaitu studi pendahuluan diharapkan telah
menghasilkan karakteristik prototipe medel pengembangan. Kegiatan kedua,
adalah lebih konsentrasi penyempurnaan prototipe model dan uji prototipe model,
sehingga hasil akhirnya prototipe model yang sudah tervalidasi secara terbatas.
Sedangkan kegiatan yang ketiga melakukan uji efektivitas dan efisiensi prototipe
sampai pada simpulan terhadap uji efektivitas dan efisiensi model.

2.5. Batasan Konseptual Asesmen

Asesmen merupakan upaya bentuk lain dari evaluasi, penelitian, atau


pengembangan dalam pemecahan masalah yang terkait dengan proses pelaksanaan
dan hasil suatu program (pelatihan, pembelajaran, atau yang lain). Dapat dikatakan
dalam hal ini bahwa asesmen sebagai salah satu bentuk upaya optimalisasi
keberlangsungan proses dan hasil suatu program yang terancang. Kegiatan
Asesmen dengan kegiatan evaluasi dalam proses dan tahapannya relatif sama. Yang
membedakan secara esensi antara aktivitas asesmen dan evaluasi hanya pada
cakupan bidang garapan dan implikasi hasil akhirnya (J ohnson &]ohnson, 2002;
Rosset, 1987). Hal ini, yang di lapangan oleh beberapa praktisi dan kalangan lain
makna dan nuansa cita rasa asemen dan evaluasi dipersepsikan sama, termasuk
dalam cakupan bidang garapan, proses, hasil dan implikasinya. Untuk itu, di
lapangan (lembaga persekolahan) kadang masih sering pemaknaan asesmen dan
evaluasi banyak kita jumpai masih dipersepsi sama. Apabila kita telaah secara
cermat dari sisi konsep dan orientasinya terdapat perbedaan antara kegiatan
asesmen dan evaluasi. Asesmen dalam konteks pembelajaran atau pelatihan lingkup
bidang garapannya lebih berorientasi pada pemerian hasil belajar/ hasil pelatihan
yang dicapai oleh peserta didik (pelatihan) dalam interval waktu tertentu. Begitu
juga implikasi dari hasil asesmen adalah pemilahan atas peserta didik (pelatihan)
yang telah memenuhi standar ketuntasan dan yang belum memenuhi standar
ketuntasan untuk ditindaklanjuti. Sedangkan lingkup bidang garapan kegiatan
evaluasi (dalam konteks pembelajaran atau pelatihan) tidak hanya pemerian hasil,
tetapi juga pemerian proses. Untuk itu, bidang garapan kegiatan evaluasi dapat
dikatakan lebih luas daripada kegiatan asesmen (Kaufman & Thomas, 1980).
Begitu juga dari segi implikasi hasil evaluasi tidak hanya memerikan hasil, tetapi
juga memerikan proses dari setiap peranan komponen sistem dalam upaya
mencapai hasil yang telah ditetapkan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
pembeda orientasi asesmen dengan evaluasi, penelitian, atau pengembangan adalah
secara umum pada tanah yang dijadikan objek cakupannya atau lingkup bidang
garapanya. Orientasi asesmen dalam suatu program (misalnya program
pembelajaran) lebih berupaya memerikan sesuatu aktivitas atau pencapaian tingkat
kemajuan yang telah dicapai oleh peserta suatu program yang terancang
berdasarkan serangkaian informasi (fakta) untuk menggambarkan beberapa
karakteristik pada ranah pencapaian hasil program. Dalam konteks program
pembelajaran sebagaimana dikatakan oleh Rowntree, (1982) ...is abaut getting to
know our student and the quality of their learning".

Dalam konteks pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang


notabene berbasis kompetensi (competency based) kegiatan asesmen lebih
berorientasi pada memerikan dan memetakan profil hasil belajar pebelajar
(mahasiswa, siswa, atau peserta latihan) atau yang lazim disebut pencapaian standar
kompetensi yang telah ditetapkan dalam mengikuti program pembelajaran atau
pelatihan tertentu. Profil pencapaian kompetensi oleh pebelajar ini dapat dipilah
menjadi dua yaitu kelompok pebelajar yang sudah memenuhi syarat kompetensi
minimal yang ditetapkan dan kelompok pebelajar yang belum memenuhi syarat
kompetensi minimal yang ditetapkan. Berdasarkan hasil pemerian pencapaian
standar minimal yang telah ditetapkan oleh asesmen ini, maka perlu diambil
keputusan alternatif tindaklanjut yang diperlukan. Iviisalnya, bagi kelompok
(pebelajar/peserta pelatihan) yang sudah memenuhi syarat pencapaian kompetensi
minimal perlu diberikan kegiatan lain yang lebih bersifat pengayaan (enrichmen
activities) dan/atau kegiatan mempelajari topik atau diberikan tugas lain lebih
lanjut. Kelompok pebelajat yang belum memenuhi syarat minimal pencapaian
kompetensi diperlukan upaya dengan memfasilitasi dalam bentuk pembelajaran
remidi (remidial teaching) agar dapat mencapai standar kompetensi minimal yang
telah ditetapkan. Dengan alternatif tindak lanjut kegiatan fasilitasi ini (baik bagi
yang sudah mencapai standar kompetensi minimal atau belum) dimaksudkan agar
mampu memperkecil akan kelemahan pembelajar yang secara real mempunyai
kecepatan belajar yang berbeda, ditagih pada pencapian standar kompetensi
minimal yang pada interval waktu belajar yang sama (satuan semester, satuan
triwulan, satuan minggu, satuan penemuan tatap muka, dan lain lain). Secara
konsep semestinya, kemampuan atau

kecepatan belajar pada individu yang berbeda, ditagih dengan pencapaian standar
kompetensi minimal yang sama, akan diperlukan waktu untuk mencapainya juga
berbeda (Bellanca, dkk. 1997). Untuk itu, dalam konteks pelaksanaan pembelajaran
atau pelatihan variasi atau ragam perbedaan karakteristik individunya sebaiknya
dijembatani dengan strategi pembelajaran atau pelatihan yang mampu
memfasilitasi kondisi given tersebut, apabila ditagih pada standar pencapaian
kompetensi minimal yang sama dalam interval waktu yang sama pula.
Di sisi lain, fenomena di lapangan (latar lembaga persekolahan, lebih spesifik
lagi pada latar pembelajaran) pengertian asesmen kadang disamakan dengan
penilaian. Padahal dalam arti dan nuansa konsep dan cakupan dari dua pengertian
tersebut dapat dipilah-pilah pemaknaannya. Pengertian asesmen lebih merupakan
upaya sistematik untuk mengungkap, memerikan dan/atau memetakan atau
membuat profil hasil belajar pebelajar dalam interval waktu tertentu (triwulan atau
satu semester). Dengan profil hasil belajar ini yang akan dikonfirmasikan dengan
standar yang dijadikan acuan. Dalam nuansa tagihan pembelajaran atau pelatihan
yang berbasis kompetensi dalam konteks ini pentingnya arti standar dalam
kaitannya dengan profil hasil belajar dari hasil kegiatan asesmen. Sedangkan
penilaian merupakan upaya melakukan konfirmasi antara data atau informasi yang
diperoleh (profil hasil belajar, dalam konteks ini) dan standar atau acuan yang telah
ditetapkan untuk sebagai dasar dalam membuat suatu interpretasi suatu bentuk
justifikasi kualitatif berdasarkan perian profil hasil belajar dan standar minimal
yang telah ditetapkan. Misalnya, dalam konteks hasil belajar pebelajar, bila dilihat
dari sisi pencapaian standar kompetensi minimal yang ditetapkan dapat
dikelompokan menjadi dua, yaitu kelompok yang sudah memenuhi standar
kompetensi minimal (Go) dan kelompok yang belum memenuhi standar
kompetensi minimal yang telah ditetapkan (no Go). Dengan pengertian aktivitas
penilaian sebagai wujud konfirmasi antara data yang diperoleh dan standar yang
telah ditetapkan untuk sebagai dasar dalam membuat justifikasi kualitatif
berdasarkan tersebut, maka setiap aktivitas asesmen selalu melalui aktivitas
penilaian. Untuk itu, dalam setiap melakukan asesmen selalu ada tahapan atau
langkah-langkah penilaian sebagai komponen sistem yang perlu ada di dalam
sistem asesmen. Dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa penilaian merupakan
bagian dari tahapan atau kegiatan asesmen.
Secara umum fungsi asesmen dapat dikatakan hanya untuk mengestimasi
kemaiuan, memetakan, atau mencandra (gambaran, potret keadaan) dari hasil
sesuatu sistem pelaksa-naan program pada kurun waktu tertentu dan pada topik atau
beberapa topik atau kompetensi tertentu. Dengan kata lain, asesmen lebih
menekankan pada upaya pengungkapan dan upaya pemerian suatu karakteristik dan
kemajuan suatu program yang telah dirancang dan dijalankan untuk mencapai
tujuan (hasil program) yang telah ditetapkan pada kurun waktu tertentu. Misalnya,
kurun waktu triwulan, catur wulan, semester, atau tahunan. Bila dikaitkan dengan
upaya pencapaian standar kompetensi minimal oleh peserta didik (pelatihan),
misalnya, dapat mengungkap pemerian hasil tingkat penguasaan pada beberapa
indikator kompetensi, atau satu atau beberapa kompetensi dasar, atau standar
kompetensi yang telah diacarakan untuk dicapai dalam pembelajaran atau
pelatihan. Dengan kata lain, tingkat penguasaan standar kompetensi yang telah
didesain dalam pembalajaran atau pelatihan dapat diketahui berdasarkan pemerian
data atau informasi dari hasil kegaitan asesmen. Yang dengan pemerian hasil
pencapaian standar kompetensi minimal ini, dapat digunakan sebagai acuan dalam
menentukan alternatif tindak lanjut yang terancang dan relatif akurat.
Bertolak dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa selain dari sisi lingkup
bidang garapan, yaitu dari sisi batasan, dari sisi proses, dan dari sisi hasil kegiatan
asesmen berbeda dengan kegiatan evaluasi, penelitian, dan pengembangan.
Pembeda antara asesmen dan evaluasi, bahwa kegiatan asesmen ini tidak dirancang
untuk menentukan keefektifan suatu program atau proses tertentu, bila dikaitkan
dengan tujuan yang telah ditetapkan. Di samping itu, asesmen juga berbeda dengan
penelitian. Kegiatan asesmen tidak dimaksudkan untuk mengembangkan simpulan
atau generalisasi dari hasil analisis hubungan antar variabel (faktor) seperti yang
dilakukan dalam kegiatan penelitian Pada suatu saat asesmen memang akan sampai
pada generalisasi yang lebih luas dari perian karakteristik sistem atau program,
tetapi tidak melalui analisis hubungan antar variabel. Hal ini dapat diperjelas
dengan tidak adanya hipotesis yang akan diuji dalam suatu kegiatan asesmen.
Namun, asesmen lebih menekankan pada upaya mengungkap, memen'kan dan
mengklasifikasikan tingkat kemajuan pencapaian suatu program atau sistem
berdasarkan kriten'a tertentu. Misalnya klasifikasi berdasarkan usia program,
klasifikasi berdasarkan jumlah sumberdaya pendukung pelaksanaan program
(perangkat lunak dan perangkat keras), klasinkasi berdasarkan letak geografis
dimana program dikembangkan, klasifikasi berdasarkan lingkup atau cakupan
program, dan klasifikasi berdasarkan perian hasil suatu program.
Secara umum dan esensi keempat batasan (penelitian, evaluasi, pengembangan
dan asesmen) dapat dikristalkan sebagai berikut. Penelitian adalah upaya sistematik
dalam upaya mengaplikasikan pola berpikir ilmiah untuk menemukan dan/atau
mengembangkan (batasan dan proses) pengetahuan yang benar, bukan sekedar
pengetahuan (hasil). Evaluasi adalah upaya sistematik dalam upaya
mengaplikasikan berpikir sistematik-operasional untuk melakukan proses
pengambilan keputusan (batasan dan proses) yang terkait dengan efektivitas dan
efisiensi suatu pencapaian tujuan program (hasil). Pengembangan adalah upaya
siste matik dalam upaya mengaplikasikan teori, prinsip, dan prosedur dan aktivitas
pemecahan masalah (batasan dan proses) untuk menghasilkan produk pemecahan
masalah (hasil). Asesmen adalah upaya sistematik dalam mengaplikasikan teori,
prinsip, dan prosedur untuk mendapat data atau informasi (batasan dan proses)
untuk menghasilan perian atau profil hasil belajar seseorang (hasil).
BAB III

3.1. Kesimpulan

Secara umum dan esensi keempat batasan (penelitian, evaluasi, pengembangan


dan asesmen) dapat dikristalkan sebagai berikut. Penelitian adalah upaya sistematik
dalam upaya mengaplikasikan pola berpikir ilmiah untuk menemukan dan/atau
mengembangkan (batasan dan proses) pengetahuan yang benar, bukan sekedar
pengetahuan (hasil). Evaluasi adalah upaya sistematik dalam upaya
mengaplikasikan berpikir sistematik-operasional untuk melakukan proses
pengambilan keputusan (batasan dan proses) yang terkait dengan efektivitas dan
efisiensi suatu pencapaian tujuan program (hasil). Pengembangan adalah upaya
siste matik dalam upaya mengaplikasikan teori, prinsip, dan prosedur dan aktivitas
pemecahan masalah (batasan dan proses) untuk menghasilkan produk pemecahan
masalah (hasil). Asesmen adalah upaya sistematik dalam mengaplikasikan teori,
prinsip, dan prosedur untuk mendapat data atau informasi (batasan dan proses)
untuk menghasilan perian atau profil hasil belajar seseorang (hasil).

3.2. Saran

Agar pembaca agar mengerti esensi keempat batasan yang dimaksud (penelitian,
evaluasi, pengembangan dan asesmen) hendaknya pembaca mendalami satu persatu
materi yang dipaparkan dalam makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Mukhadis, A. 2017. Evaluasi Program Pembelajaran Bidang Teknologi. Malang:


Penerbit Media Nusa Creative.

Setiawan, Ebta 2017. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diambil dari:


https://kbbi.web.id/terminologi (Diakses pada 12 September 2017)