Anda di halaman 1dari 8

Internalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai solusi upaya

mengantisipasi korupsi di Indonesia

Disusun oleh :
Egi Prasetyo (11/316266/FI/03575)
Restu Puji Arum (11/312341/FI/03563)
Siska Purnamasari (11/316300/FI/03585)

Mata Kuliah : Filsafat Pancasila II


Dosen Pengampu : Drs. Sudaryanto, M.Hum

Fakultas Filsafat
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2013
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang majemuk dengan keanekaragaman suku bangsa


dan budaya. Dengan berbagai perbedaan tersebut, maka perlu ada pemersatu untuk
memciptakan sebuah keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah
satu wujud dari pemersatu bangsa Indonesia adalah Pancasila. Pancasila merupakan
pandangan hidup bangsa indonesia yang menjadi cita-cita luhur bangsa Indonesia.
Pancasila merupakan suatu rumusan final yang tidak dapat diganggu gugat sebagai
ideologi pemersatu bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pengetahuan akan nilai-nilai
Pancasila sudah selayaknya diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia.

Dalam perkembangannya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak


lagi dijunjung tinggi, khususnya dikalangan elite politik dalam praktik kesehariannya.
Pancasila dipandang sebagai sebatas wacana, pancasila tidak lagi dipandang sebagai
cita-cita luhur bangsa Indonesia yang patut untuk dijaga. Praktik Korupsi Kolusi dan
Nepotisme sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Sudah menjadi hal biasa
pemberitaan tentang KKN menjadi topik hangat di media massa silih berganti. Oleh
karena itu, degradasi moral Pancasila tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia. Sehingga
perlu di cari upaya yang komprehensif untuk mengurangi praktik korupsi di segala
lapisan masayarakat Indonesia.

1.2 Rumusan masalah


Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat disusun beberapa rumusan sebagai
berikut:
1) Apa yang dimaksud dengan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia?
2) Bagaimana gambaran umum mengenai problematika KKN di Indonesia?
3) Apa solusi yang dapat mengurangi KKN di Indonesia dalam perspektif Pancasila?

BAB II

2
PEMBAHASAN

2.1 Pancasila dalam sudut pandang Filsafat

Menurut hukum positif Indonesia, secara yuridis-konstitusional Pancasila


adalah dasar filsafat negara Republik Indonesia. Disamping itu, Pancasila juga
merupakan kepribadian bangsa Indonesia dan pandangan hidup bangsa indonesia,
sehingga setiap warga negara wajib menghayati, mengamalkan dan mengamankan
nilai-nilai dalam Pancasila dikehidupannya.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia, kedudukan


pancasila yaitu :

1. Sebagai dasar kekal dan abadi dari pada Negara Indonesia merdeka yang
abadi.
2. Bersifat suatu filsafat (pandangan) dunia, wealtanchauung, filsafat
(pandangan) hidup bangsa Indonesia.
3. Pemberi pedoman hidup kenegaraan dan hidup kepribadian bangsa
indonesia
4. Pengatur, pengisi serta pengarah hubungan orang dan bangsa indonesia
terhadap pribadi (jiwa) sendiri, terhadap sesama manusia dan bangsa,
terhadap Tuhan, terhadap pemilikan material (benda), dan terhadap alam
semesta.

Penggerak realisasi diri dalam mewujudkan hidup kenegaraan dan kepribadian


bangsa Indonesia, yang mengandung penjelmaan kemanusiaan, perdamaian dan
kekeluargaan dunia, kebangsaan, musyawarah dan mufakat, keadilan sosial dan
ketuhanan. (Suhadi, 1980: 9-10)

Manfaat dan penggunaan Filsafat Pancasila bagi setiap bidang kehidupan negara, alat
perlengkapan negara dan pejabat negara adalah sebagai berikut:

1. Memperdalam, memperlengkapkan, serta menyempurnakan pengetahuan dan


pengertian tentang pancasila sebagai dasar filsafat negara, pandangan dunia,
pandangan hidup bangsa Indonesia, yang telah menjadi ideologi negara, sehingga
mempermudah, memperkuat dan mengekalkan.
a. Penjelamaan dan pelaksanaannya sebagai dasar filsafat negara, selanjutnya
sebagai tujuan hidup, pedoman hidup, pegangan hidup, sikap dan cara hidup

3
(way of life) dalam seluruh tugas dan dalam seluruh kehidupan alat
perlengkapan negara yang bersangkutan.
b. Penjelmaan dari pelaksanaannya oleh warga-warganya sebagai perseorangan,
dalam fungsinya sebgai alat perlengkapan negara yang mengabdi kepada
kepentingan rakyat sebagai golongan karya dan sebagai golongan warga negara
biasa.
2. Dengan demikian dapat terbentuk pula suatu filsafat hidup golongan alat
perlengkapan negara, suatu pandangan dunia, pandangan hidup, tujuan hidup,
pedoman hidup, pegangan hidup, sikap dan cara hidup (way of life) Pancasila yang
kuat dan kekal serta dinamis sesuai dengan perubahan keadaan dari zaman
sepanjang masa. (Suhadi, 1980: 22-23)

2.2 Permasalahan Korupsi di Indonesia.

Korupsi, Kolusi dan Nepotisme atau biasa dikenal dengan KKN merupakan sesuatu
hal yang menjadi permasalahan akut di berbagai negara tak terkecuali di Indonesia. Tindak
pidana Korupsi sesuai dengan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi pasal 2 dan 3 adalah sebagai berikut :

Pasal 2 Ayat 1

Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, dipidana penjara seumur hidup atau penjara paling singkat empat
tahun dan paling lama duapuluh tahun dan denda paling sedikit duaratus juta rupiah dan
paling banyak satu milyar rupiah.

Pasal 3

Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau
suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada
padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, dipidana dengan pidana seumur hidup atau pidana penjara paling
singkat satu tahun dan paling lama duapuluh tahun dan atau denda paling sedikit
limapuluh juta rupiah dan paling banyak satu milyar rupiah.

Sebagai contoh tindak pidana korupsi di Indonesia adalah salah satu kasus korupsi di
indonesia yang belakangan ini terkuak adalah Kasus Hambalang, yang merupakan kasus

4
dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan banyak pihak terlibat, diantaranya para elite
Partai Demokrat, Anas Urbaningrum; Istri dari Anas Urbaningrum,komisaris PT Dutasari
Citralaras; Menteri Pemuda dan Olah Raga RI, Andi Malarangeng; Mahfud Suroso,
Direktur PT Dutasari Citralaras; dan lain sebagainya. Kasus Hambalang ini pertama kali
diungkapkan oleh terdakwa suap proyek pembangunan wisma atlet, M Nazaruddin.
Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), negara dirugikan sebesar Rp 2,5 Triliun.
(Kompas.com)

Indeks tingkat korupsi di Indonesia dilaporkan naik dari peringkat 100 menjadi 118
pada 2012. Indikasinya, tindak pidana korupsi pun masih kerap terjadi.Tingkat korupsi
tersebut merupakan laporan hasil survei lembaga Transparency Internasional (TI) yang
berkedudukan di Berlin, Jerman. Dari situs resmi TI, Indonesia dilaporkan mendapat nilai
32 dari 0 yang terkorup dan 100 merupakan negara terbersih. Survei tersebut dilakukan
terhadap 176 negara di seluruh dunia.

Peringkat korupsi Indonesia 2012 tersebut lebih buruk dari negara Asia Tenggara
lainnya. Tingkat korupsi Malaysia berada di peringkat 54 dengan nilai 49. Adapun
Thailand dan Filipina menduduki peringkat negara terkorup di posisi masing-masing 88
dan 105. Singapura menjadi negara Asia dengan tingkat korupsi paling baik. Tingkat
korupsi Singapura berada di posisi 5, mengalahkan negara Asia Timur seperti Cina dan
Jepang yang masing-masing menduduki peringkat 80 dan 17. Lembaga internasional yang
mengukur tingkat korupsi tersebut percaya adanya hubungan yang kuat antara kemiskinan,
konflik, dengan tingkat korupsi.(Republika.com)

Tindak pidana korupsi di berbagai lapisan pejabat negara yang merugikan keuangan
negara mempengaruhi pencapaian tujan negara, yakni mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Hal ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila
yang telah diakui kedaulatan sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi
memang bukan masalah yang baru, pemikir negara seperti Cicero beranggapan bahwa
korupsi merupakan masalah riskan dalam sistem tubuh politik yang merupakan kodrat
alamiah manusia cenderung berperilaku meniru tokoh-tokoh yang berwenang. Sehingga,
korupsi seolah-olah dibiasakan oleh masyarakat, karena kodrat alamiah tersebut yang
menjadikan korupsi sebagai masalah yang susah untuk diberantas.

2.3 Internalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai dasar upaya pencegahan Korupsi di


Indonesia

5
Pentingnya pengetahuan Pancasila dan Filsafat Pancasila bagi seluruh rakyat
Indonesia untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Oleh karena itu intrnalisasi nilai-nilai Pancasila dapat terwujud didahului
dengan pengetahuan mendasar mengenai Pancasila. Banyak dari rakyat Indonesia yang
hanya menghapal Pancasila, tetapi tidak mengerti maksud dasar dari Pancasila itu sendiri.
Oleh karena itu Pendidikan Pancasila mutlak diperoleh oleh setiap rakyat Indonesia.
Sistem nilai-nilai budaya itu Pancasila akan dipertahankan melalui proses-proses
pendidikan, pemasyarakatan, pembudayaan, penataran, dan sebagainya.

Pentingnya Nasionalisme selalu berkait dengan upaya internalisasi nilai-nilai


Pancasila. Sikap bangga dan cinta terhadap negara Indonesia memang sangat penting
untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Nasionalisme yang rendah, dimungkinkan suatu
bangsa akan mengalami perpecahan, terlebih Indonesia sebagai negara yang beraneka
ragam suku bangsa dan kebudayaan. Dengan semangat Nasionalisme, bangsa dapat
mempertahankan goncangan dari dalam dan dari luar.

Juga agama, kesenian, adat-istiadat memainkan peranan yang penting. Jika dilihat
dari segi anggota masyarakat, internalisasi (pembatinan) nilai-nilai budaya itu merupakan
sarana untuk mengakhiri dan menyelesaikan ketegangan-ketegangan atau persoalan yang
selalu timbul dalam setiap sistem sosial. Agama merupakan pondasi mutlak yang krusial
bagi pendidikan dan keluhuran sipil, dan kesatuan serta ketertiban negara. Alasannya
karena agama memberikan kewenangan kepada negara sehingga memungkinkannya
memerintahkan loyalitas dan kepatuhan warga negara. Negara menjadi sakral, dan
pembangkangan sipil apa pun atau tindakan melawan negara merupakan masalah
pelanggaran hal-hal sakral. Selain itu, fungsi esensial agama adalah mendorong perilaku
luhur, yang pada saatnya menghasilkan suatu lingkungan kepercayaan dan kerja sama
saling menguntungkan. Melalui agama, sebuah masyarakat yang damai dan tertib dapat
diteguhkan, memiliki moral, kegigihan, dan kekuatan yang diperlukan untuk penjagaan
diri dalam dunia yang penuh tantangan. (Joseph Losco, 2005: 303)

Internalisasi atau penjiwaan nilai-nilai Pancasila memunculkan kesadarn diri akan


pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam segala aspek kehidupan, tanpa kecuali. Selama
kesadaran diri tertanam dalam setiap lapisan masyarakat dari warga negara biasa hingga
petinggi negara senantiasa memelihara standar-standar pribadi yang tinggi serta menjauhi

6
perilaku immoral dan melawan hukum maka dimungkinkan persoalan korupsi dapat
diatasi.

BAB III

KESIMPULAN

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia diyakini sebagai sumber,


cara hidup yang merupakan suatu keyakinan yang menyangkut masalah hidup yang
dirumuskan sebagai kristalisasi dari nila-nilai yang dimiliki oleh bangsa Indonesia,
yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad pada bangsa Indonesia untuk
mewujudkannya.

Problematika korupsi, kolusi dan nepotisme di Indonesia merupakan problema


yang sampai saat ini belum bisa ditangani dengan baik oleh bangsa Indonesia. Hal itu
terbukti dengan semakin maraknya tindak korupsi beberapa tahun belakangan ini.
Contoh tindak korupsi yang baru ini terjadi adalah korupsi yang dilakukan oleh para
aparatur negara, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
Dengan adanya tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan oleh
sebagian orang telah menghambat terwujudnya cita-cita luhur bangsa Indonesia. Ini
menjadi permasalahan sosial dan sekaligus moral bangsa. Indonesia yang memiliki
ideologi Pancasila seharusnya mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan.
Internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan merupakan hal yang
paling mendasar bagi terwujudnya tujuan negara Indonesia. Demi terwujudnya
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Internalisasi atau penjiwaan Pancasila
bagi seluruh lapisan rakyat, hendaknya rakyat mengetahui seluk beluk Pancasila dan
filosofi Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya melalui pendidikan
Pancasila, baik berupa pendidikan dini di lingkungan keluarga, pendidikan formal,
seminar atau sosialisasi kepada masyarakat yang sudah seharusnya dijiwai oleh setiap
warga negara. Selain itu, peran agama, kesenian dan adat istiadat juga mampu
menyampaikan nilai-nilai Pancasila serta memprovokasi lingkungan hidup yang
berasaskan Pancasila, sehingga diharapkan kesadaran kolektif masyarakat Indonesia
dapat terwujud. Itulah harapan bersama dari bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

7
Losco, Joseph dan Leonard Williams. 2005. Pholitical Theory, kajian klasik dan kontemporer.
Terjemahan Haris Munandar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Suhadi, dkk. 1980. Rangkuman Filsafat Pancasila. Solo: Tiga Serangkai

Sumber Internet:

Rebublika.com : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/12/05/mek2lb-indeks-
korupsi-indonesia-naik-indikasi-korupsi-bertambah diakses tanggal 22 Mei 2013 Pukul 22.00
WIB

Kompas.com