Anda di halaman 1dari 27

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Jembatan Nasional Surabaya-Madura (Suramadu) atau dikenal sebagai Jembatan Tol
Suramadu membentang sepanjang 5,438 kilometer yang menghubungkan Pulau Madura
dengan Kota Surabaya dan wilayah sekitarnya di Provinsi Jawa Timur. Berbeda dengan
jalan tol yang pada umumnya hanya diperuntukkan untuk kendaraan roda empat atau
lebih, maka Jembatan Tol Suramadu juga dapat diakses oleh kendaraan roda dua atau
sepeda motor. Saat ini Jembatan Tol Suramadu telah menjadi alternatif pilihan akses
transportasi utama dari dan ke Pulau Madura karena hanya membutuhkan waktu tempuh
kurang lebih 10 menit dari semula 2,5 jam dengan moda transportasi laut menggunakan
kapal ferry.
Pembangunan Jembatan Tol Suramadu diharapkan akan mendorong percepatan
pengembangan sosial ekonomi dan tata ruang wilayah-wilayah tertinggal yang ada di
Pulau Madura. Sebagai tindak lanjut dari upaya tersebut diatas, maka Pemerintah
menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2008 tentang Pembentukan Badan
Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS), yang secara struktural terdiri atas
Dewan Pengarah dan Badan Pelaksana. Peraturan perundang-undangan ini kemudian
disempurnakan dengan Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2009 tentang
Penyempurnaan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2008 tentang Pembentukan Badan
Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS) untuk lebih mendukung peningkatan
kinerja BPWS didalam pelaksanaan tugas dan fungsinya sebagaimana termaksud dalam
peraturan perundangan tersebut diatas.
Badan Pelaksana BPWS (BP-BPWS), sesuai dengan amanah Perpres 27 Tahun 2008 di
atas, memiliki tugas dan fungsi untuk melaksanakan pengelolaan, pembangunan dan
fasilitasi percepatan kegiatan pembangunan wilayah Suramadu. Kegiatan pengelolaan dan
pembangunan infrastruktur wilayah yang dilaksanakan BP-BPWS dilaksanakan di 3 (tiga)
kawasan, yaitu Kawasan Kaki Jembatan Sisi (KKJS) Surabaya (600 Ha), Kawasan Kaki
Jembatan Sisi (KKJS) Madura (600 Ha) dan kawasan khusus di Utara Pulau Madura (600
Ha). Kawasan Kaki Jembatan Sisi Surabaya (KKJS Surabaya) dan Kawasan Kaki
Jembatan Sisi Madura (KKJS Madura) dikembangkan untuk mendorong perkembangan
ekonomi, sedangkan kawasan khusus di Utara Pulau Madura untuk pengembangan
kawasan Pelabuhan Peti Kemas.
KKJS Madura dikembangkan sebagai kawasan untuk mendorong pengembangan industri
dan wisata Kabupaten Bangkalan. KKJS Madura diharapkan sebagai kawasan penggerak
ekonomi Madura yang dimotori oleh kawasan industri. Dalam RDTR KKJS Madura,
kawasan industri direncanakan pada bagian utara dan selatan kawasan yang terintegrasi
dengan kegiatan penunjang lainnya (permukiman, CBD dan kawasan wisata).
Pengembangan kawasan industri membutuhkan investasi pemerintah dan investasi
swasta. Investasi pemerintah adalah penyediaan infrastruktur utama sehingga menjadi
kawasan siap bangun untuk kawasan industri. Dengan menjadikan kawasan industri siap
bangun di KKJS Madura, diharapkan swasta diharapkan tertarik untuk berinvestasi di
kawasan industri KKJS Madura. Untuk mendukung pengembangan kawasan industri
sebagai kawasan siap bangun, perlu disusun suatu kajian untuk melihat kelayakan
kawasan industri di KKJS Madura. Tahun anggaran 2011, BP BPWS membutuhkan jasa

PT. CIPTA TETRAGON 1


konsultansi untuk Penyusunan Studi Kelayakan Kawasan Industri di KKJS Madura.

PENDEKATAN STUDI
Pendekatan dan Metode yang digunakan dalam kajian ini didasarkan pada tahapan
kegiatan, mulai dari tinjauan atas kebijakan yang relevan hingga rencana pentahapan
pelaksanaan pembangunan kawasan industri.
Tahapan kegiatan/analisis yang dimaksud terdiri atas 4 tahap, seperti tampak pada tabel
berikut.

Tahapan Analisis

TINJAUAN KEBIJAKAN SERTA ANALISIS POTENSI DAN PELUANG


DALAM PEMBANGUNAN KAWASAN INDUSTRI KKJS MADURA
1
PERKIRAAN JENIS, KEGIATAN dan SKALA INDUSTRI YANG AKAN
DIKEMBANGKAN DI KAWASAN INDUSTRI KKJS MADURA

2
ANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN PEMBANGUNAN
KAWASAN INDUSTRI DI KKJS MADURA
3
RENCANA TAHAPAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DAN
RUMUSAN SISTEM MANAJEMEN PENGELOLAAN KAWASAN
INDUSTRI 4
Gambar 1
Tahapan Analisis

TAHAP MEMPERKIRAKAN JENIS, KEGIATAN dan SKALA INDUSTRI


YANG AKAN DIKEMBANGKAN DI KAWASAN INDUSTRI KKJS
MADURA

Tahap ini menempati posisi yang sangat strategis dalam kajian ini. Pendekatan untuk
menentukan jenis dan kegiatan industri dapat dilihat pada bagan berikut.

PT. CIPTA TETRAGON 2


Klaster Industri Klaster Industri Klaster Industri Klaster Industri
Nasional Jawa Timur Surabaya Bangkalan

Potensi Klaster Industri di


Kawasan Industri KKJS Madura

Alternatif
Kesesuaian Calon Klaster Industri
di Kawasan Industri KKJS
Tata Guna Lahan
Lokasi - Industri
Madura

Calon Jenis Industri


Ketersediaan Air di Kawasan Industri Ketersediaan Energi
KKJS Madura

Jenis Industri
di Kawasan Industri
KKJS Madura

Kegiatan Industri Skala Industri


di Kawasan Industri Rantai Nilai Industri di Kawasan Industri
KKJS Madura KKJS Madura

Gambar 2
Mekanisme Penentuan Kegiatan Industri

Setelah jenis industri dan kegiatan industri teridentifikasi, maka diteruskan dengan
penentuan skala industri yang relevan dengan kegiatan industri tersebut.
Langkah Penentuan Jenis Industri tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
i. Identifikasi Klaster Industri Nasional yang telah dicananangkan oleh Kemenperin,
Identifikasi Klaster Industri Provinsi Jawa Timur yang telah dicananangkan oleh Dinas
Perindustrian Jawa Timur dan Identifikasi Klaster Industri Kabupaten Bangkalan yang
telah dicananangkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
Bangkala.
ii. Overlay dari keempat dokumen perencanaan pengembangan industri.
iii. Hasil overlay tersebut dicross check kan juga dengan kesesuaian antara lokasi
dengan industrinya.
iv. Hasil cross check tersebut digabungkan dengan tata guna lahan kawasan industri
seluas 305 Ha (berbatasan dengan kawasan permukiman, kawasan TNI, kawasan
industri)
v. Terakhir, hasil screening tersebut digabungkan dengan adanya issue strategis
tentang kelangkaan air bersih dan energi yang terjadi di Bangkalan (dan Madura)

PT. CIPTA TETRAGON 3


TAHAP ANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN PEMBANGUNAN
KAWASAN INDUSTRI DI KKJS MADURA

Hampir sama dengan judul dari kajian ini sendiri, tahap ketiga adalah menghitung
kelayakan pembangunan kawasan industri di KKJS-Madura. Ada 3 jenis kelayakan yang
diperhitungkan yaitu :
i. Kelayakan Teknis
ii. Kelayakan Administratif-Sosial
iii. Kelayakan Ekonomi

Gambar 3
Jenis Kelayakan dalam Studi
Kelayakan Teknis, adalah kelayakan yang mempertimbangkan dari sisi teknis internal
kawasan industri.
Kelayakan Administratif-Sosial, adalah kelayakan dari sisi kemungkinan administrasi
dan perijinan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Selain itu
kelayakan ini juga mempertimbangkan pasokan tenaga kerja yang ada di sekitar kawasan
untuk memenuhi kebutuhan aktivitas indsutri yang diperkirakan tumbuh (aspek sosial).
Kelayakan Ekonomi, adalah kelayakan yang membandingkan antara pengeluaran yang
dilakukan untuk membangun kawasan industri, dengan manfaat langsung dan tak
langsung (benefit) dari keberadaaan kawasan industri beserta aktivitasnya.

PT. CIPTA TETRAGON 4


Dalam pelaksanaan kajian, metodologi yang digunakan diperlihatkan pada Gambar 4.

E
B D 1
KEBIJAKAN
PERKEMBANGAN KEBUTUHAN KEWILAYAHAN
PEREKONOMIAN LOKASI INDUSTRI
KI KKJS
WILAYAH E2 MADURA
C
KEBIJAKAN
ANALISIS INDUSTRI
KEUNGGULAN
RENCANA KI
KKJS MADURA
Survey
Kondisi Fisik ANALISIS Instansional
dan Survey Kawasan
F
I PENGELOLAAN Lingkungan KELAYAKAN
DAN Industri
TEKNIS
IMPLEMENTASI
Permenperin
Survey
Dokumen Instansional
Studi ANALISIS Survey Kawasan
Prediksi G
Kelayakan Supply
Tenaga Kerja
KELAYAKAN
SOSIAL Layak?
Bangkitan
Tenaga Kerja

Survey
ANALISIS Instansional
Survey Kawasan
H
Rencana
Investasi KELAYAKAN
EKONOMI
Komponen BENEFIT Komponen COST

Gambar 4
Metodologi Pelaksanaan Kajian

TINJAUAN PEDOMAN DAN STANDAR PENGEMBANGAN KAWASAN


INDUSTRI

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri


Pembangunan Industri merupakan salah satu pilar pembangunan perekonomian nasional,
yang diarahkan dengan menerapkan prinsip-prinsip pembangunan Industri yang
berkelanjutan yang didasarkan pada aspek pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan
hidup. Saat ini pembangunan Industri sedang dihadapkan pada persaingan global yang
sangat berpengaruh terhadap perkembangan Industri nasional. Peningkatan daya saing
Industri merupakan salah satu pilihan yang harus dilakukan agar produk Industri nasional
mampu bersaing di dalam negeri maupun luar negeri.
Langkah-langkah dalam rangka peningkatan daya saing dan daya tarik investasi yakni
terciptanya iklim usaha yang kondusif, efisiensi, kepastian hukum, dan pemberian fasilitas
fiskal serta kemudahan-kemudahan lain dalam kegiatan usaha Industri, yang antara lain
dengan tersedianya lokasi Industri yang memadai yang berupa Kawasan Industri.
Dalam rangka pelaksanaan Pasal 20 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang
Perindustrian, maka sebagai upaya untuk mendorong pembangunan Industri perlu
dilakukan pembangunan lokasi Industri yang berupa Kawasan Industri. Pembangunan
Kawasan Industri merupakan sarana untuk mengembangkan Industri yang berwawasan

PT. CIPTA TETRAGON 5


lingkungan serta memberikan kemudahan dan daya tarik bagi investasi dengan
pendekatan konsep efisiensi, tata ruang, dan lingkungan hidup.
Aspek efisiensi merupakan suatu sasaran pokok pengembangan Kawasan Industri.
Melalui pengembangan Kawasan Industri investor pengguna kaveling Industri (user) akan
mendapatkan lokasi kegiatan Industri yang sudah tertata dengan baik, kemudahan
pelayanan administrasi, ketersediaan infrastruktur yang lengkap, keamanan dan kepastian
tempat usaha yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten/kota.
Aspek tata ruang, pembangunan Kawasan Industri dapat mensinergikan perencanaan,
prasarana dan sarana penunjang seperti penyediaan energi listrik, telekomunikasi, fasilitas
jalan, dan lain sebagainya. Aspek lingkungan hidup, dengan pengembangan Kawasan
Industri akan mendukung peningkatan kualitas lingkungan hidup di daerah secara
menyeluruh. Kegiatan Industri pada suatu lokasi pengelolaan, akan lebih mudah
menyediakan fasilitas pengolahan limbah dan juga pengendalian limbahnya.
Peraturan Pemerintah ini mengatur hal-hal meliputi kewenangan Pemerintah, pemerintah
provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota dalam pengembangan Kawasan Industri,
kewajiban Perusahaan Industri untuk berlokasi di Kawasan Industri, Izin Usaha Kawasan
Industri dan batas minimal luas Kawasan Industri, sanksi bagi Perusahaan Kawasan
Industri maupun Perusahaan Industri yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang
bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Konsepsi Pengembangan Kawasan Industri


Kawasan Industri adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi
dengan sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh
Perusahaan Kawasan Industri yang telah memiliki izin usaha kawasan industri.
Pengembangan Kawasan Industri dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan sektor
industri lebih terarah, terpadu dan memberikan hasil guna yang lebih optimal bagi daerah
dimana kawasan industri berlokasi. Beberapa aspek penting yang menjadi dasar konsep
pengembangan kawasan industri antara lain adalah efisiensi, tata ruang dan lingkungan
hidup.
Aspek efisiensi merupakan satu dasar pokok yang menjadi landasan pengembangan
kawasan industri. Melalui pembangunan kawasan industri maka bagi investor pengguna
kapling industri (user) akan mendapatkan lokasi kegiatan industri yang sudah baik dimana
terdapat beberapa keuntungan seperti bantuan proses perijinan, ketersediaan infrastruktur
yang lengkap, keamanan dan kepastian tempat usaha yang sesuai dengan Rencana Tata
Ruang Daerah. Sedangkan dari sisi pemerintah daerah, dengan konsep pengembangan
kawasan industri, berbagai jaringan infrastruktur yang disediakan ke kawasan industri akan
menjadi lebih efisien karena dalam perencanaan infrastruktur kapasitasnya sudah
disesuaikan dengan kegiatan industri yang berada di kawasan industri.
Bilamana ada jaminan permintaan penyediaan infrastruktur yang pasti, jelas akan
meyakinkan bagi penyedia infrastruktur membangun dan menyediakannya.
Dari aspek tata ruang, dengan adanya kawasan industri maka masalah-masalah konflik
penggunaan lahan akan dapat dihindari. Demikian pula, bilamana kegiatan industri telah
dapat diarahkan pada lokasi peruntukannya, maka akan lebih mudah bagi penataan ruang
daerah, khususnya pada daerah sekitar lokasi kawasan industri.
Dari aspek lingkungan hidup, konsep pengembangan kawasan industri jelas mendukung
peningkatan kualitas lingkungan daerah secara menyeluruh. Dengan dikelompokkan

PT. CIPTA TETRAGON 6


kegiatan industri pada satu lokasi pengelolaan maka akan lebih mudah menyediakan
fasilitas pengolahan limbah dan juga pengendalian limbahnya. Sudah menjadi kenyataan
bahwa pertumbuhan industri secara individual memberikan pengaruh besar terhadap
kelestarian lingkungan karena tidak mudah untuk melakukan pengendalian pencemaran
yang dilakukan oleh industri-industri yang tumbuh secara individu.

Secara ringkas kriteria pertimbangan pemilihan lokasi kawasan industri dan lokasi industri
dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1
Kriteria Pertimbangan Pemilihan Lokasi Kawasan Industri

No Kriteria Pemilihan Lokasi Faktor Pertimbangan


1 Jarak ke Pusat Kota Minimal 10 (Sepuluh) Km
2 Jarak terhadap permukiman Minimal 2 (dua) km
3 Jaringan jalan yang melayani Arteri primer
Jaringan listrik
4 Sistem jaringan yang melayani
Jaringan telekomunikasi
5 Prasarana angkutan Tersedia pelabuhan laut / outlet (export /import)
6 Topografi / kemiringan tanah Maks 15 %
Maks 5 (lima) km dan terlayani sungai tipe C dan D
7 Jarak terhadap sungai
atau kelas III dan IV
8 Daya dukung lahan Sigma tanah : 0,7 1,0 kg/cm2
9 Kesuburan tanah Relatif tidak subur (non irigasi teknis)
Non Pertanian
10 Peruntukan lahan Non Permukiman
Non Konservasi
11 Ketersediaan lahan Minimal 50 Ha
Relatif (bukan merupakan lahan dengan harga yang
12 Harga lahan
tinggi di daerah tersebut)
Aksessibilitas tinggi
13 Orientasi lokasi
Dekat dengan potensi Tenaga kerja
Bangkitan lalu lintas= 5,5 smp/ha/hari.
Kebutuhan lahan industri dan multipliernya = 2
14 Multiplier Effects x luas perencanaan KI.
Kebutuhan rumah .(1,5 TK ~ 1 KK)
Kebutuhan Fasum Fasos.

TINJAUAN PERKEMBANGAN INDUSTRI NASIONAL, JAWA TIMUR,


SURABAYA DAN BANGKALAN

Perkembangan Industri Nasional


Kebijakan pengembangan industri nasional telah disampaikan dalam Keputusan Presiden
No. 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Dalam kebijakan ini, pemerintah
menyatakan akan mendorong pertumbuhan klaster Industri Prioritas Klaster industri adalah
sekelompok industri inti yang terkonsentrasi secara regional maupun global yang saling
berhubungan atau berinteraksi sosial secara dinamis, baik dengan industri terkait, industri
pendukung maupun jasa penunjang, infrastruktur ekonomi dan lembaga terkait dalam

PT. CIPTA TETRAGON 7


meningkatkan efisiensi, menciptakan aset secara kolektif dan mendorong terciptanya
inovasi sehingga tercipta keunggulan kompetitif.
Industri Inti adalah industri yang menjadi basis dalam pengembangan klaster industri
nasional. Industri Penunjang adalah industri yang berperan sebagai pendukung serta
penunjang dalam pengembangan industri inti secara integratif dan komprehensif.
Industri Prioritas adalah klaster industri yang memiliki prospek tinggi untuk dikembangkan
berdasarkan kemampuannya bersaing di pasar internasional, dan industri yang
faktor-faktor produksi untuk bersaingnya tersedia dengan cukup di Indonesia. Dalam
jangka panjang pembangunan industri diarahkan pada penguatan, pendalaman dan
penumbuhan klaster kelompok industri prioritas sebagai berikut :
I. Kelompok Industri Basis Manufaktur yang terdiri atas kelompok-kelompok industri:

(1) Industri Material Dasar; yang terdiri dari : (a) Industri Besi dan Baja, (b) Industri
Semen, (c) Industri Petrokimia, (d) Industri Keramik;
(2) Industri Permesinan; yang meliputi : (a) Industri Peralatan Listrik dan Mesin Listrik, (b)
Industri Mesin dan Peralatan Umum;
(3) Industri Manufaktur Padat Tenaga Kerja; merupakan penghasil produk sandang,
pangan, bahan bangunan, kesehatan dan obat, dan sebagainya, yang meliputi antara
lain: (a) Industri Tekstil dan Produk Tekstil (b) Industri Alas Kaki (c) Industri Farmasi
dengan Bahan Baku dalam Negeri.

II. Kelompok Industri Agro yang meliputi cabang-cabang industri pengolahan :(a) Industri
Kelapa Sawit; (b) Industri Karet dan Barang Karet; (c) Industri Kakao dan Coklat; (d)
Industri Kelapa; (e) Industri Kopi; (f) Industri Gula; (g) Industri Tembakau; (h) Industri
Buah-buahan, (i) Industri Kayu dan Barang Kayu; (j) Industri Hasil Perikanan dan Laut; (k)
Industri Pulp dan Kertas; (l) Industri Pengolahan Susu;
III. Kelompok Industri Alat Angkut; yang meliputi industri-industri: (a) Industri Kendaraan
Bermotor, (b) Industri Perkapalan, (c) Industri Kedirgantaraan, (d) Industri Perkeretaapian;
IV. Kelompok Industri Elektronika dan Telematika; meliputi Industri Elektronika, Industri
Perangkat Keras Telekomunikasi dan Pendukungnya, Industri Perangkat Penyiaran dan
Pendukungnya, Industri Komputer dan Peralatannya, Industri Perangkat Lunak dan
Content Multimedia, Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK);
V. Kelompok Industri Penunjang Industri Kreatif dan Industri Kreatif Tertentu; yang
meliputi industri perangkat lunak dan content multimedia, fashion, dan kerajinan dan
barang seni. Industri Kreatif adalah proses peningkatan nilai tambah hasil dari eksploitasi
kekayaan intelektual berupa kreatifitas, keahlian dan bakat individu menjadi suatu produk
yang dapat dijual sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi pelaksanaan dan
orang-orang yang terlibat.
VI. Kelompok Industri Kecil dan Menengah Tertentu; yang meliputi industri-industri
pengolahan: Industri Batu Mulia dan Perhiasan, Industri Garam Rakyat, Industri Gerabah
dan Keramik Hias, Industri Minyak Atsiri dan Industri Makanan Ringan.
Untuk melakukan operasionalisasinya, Kementerian Perindustrian sebagai pembina industri
nasional, pada tahun 2009 telah mengeluarkan 35 (tiga puluh lima) Peraturan Menteri
Perindustrian tentang Peta Jalan (Roadmap) Pengembangan Klaster Industri tertentu untuk
menjabarkan Perpres No. 28 tahun 2008 tersebut. Ketiga puluh lima Peraturan Menteri

PT. CIPTA TETRAGON 8


tersebut dijabarkan dalam 6 buku yang sesuai dengan kelompok klaster prioritas dan
dituangkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 103/2009 hingga No. 137/2009.

Perkembangan Industri Provinsi Jawa Timur


Berdasarkan Rencana Kerja Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2011,
peranan sektor industri pengolahan di Provinsi Jawa Timur terus mengalamai penurunan.
Tahun 2007 peranannya sebesar 28,75 %, selanjutnya tahun 2008 menurun menjadi
sebesar 28,48 %, dan tahun 2009 diperkirakan menurun lagi menjadi sebesar 28,04 %.
Hampir seluruh kelompok industri pengolahan mengalami penurunan peranan, terutama
untuk industri makanan, minuman dan tembakau, industri tekstil, barang dari kulit dan alas
kaki, dan industri barang-barang dari kayu. Ketiga subsektor ini sejak tahun 2007
perkembangannya terus melambat, bahkan cenderung turun, terutama untuk industri
tekstil, barang dari kulit dan alas kaki, dan industri barang - barang dari kayu. Kendala
utama adalah harga bahan baku yang berasal dari impor dan pangsa pasar ekspornya.

Tabel 2
Struktur Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur berdasarkan
9 Lapangan Usaha Tahun 2009 ADHK 2000
Pertumbuhan Kontribusi
No Sektor
(%) (%)
I Pertanian 4,01 16,39
II Pertambangan dan Penggalian 7,06 2,17
III Industri Pengolahan 2,62 28,04
IV Listrik, Gas dan Air Bersih 2,58 1,82
V Konstruksi 4,25 3,4
VI Perdagangan, Hotel dan Restoran 5,7 29,44
VII Pengangkutan dan Komunikasi 12,14 5,69
VIII Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 5,68 4,76
IX Jasa-jasa 6,65 8,29
PDRB 5,01 100
Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur, 2009

Perkembangan Industri Kota Surabaya


Kota Surabaya adalah ibukota provinsi Jawa Timur, dan sekaligus penggerak
perekonomian Jawa Timur. Di kota ini, terdapat sebuah cluster industri yang besar yakni
Rungkut, serta pelabuhan utama yakni Tanjung Perak. Perekonomian Surabaya masih
ditunjang oleh sektor manufaktur, akan tetapi semenjak tahun 2002, sektor perdagangan,
hotel, dan restoran memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap PDRB Surabaya
dibandingkan dengan manufaktur. Hal ini disebabkan pertumbuhan sektor manufaktur
yang dalam kurun waktu 2000-2005 bertumbuh di kisaran 3 6 % per tahun, kalah cepat
dibandingkan sektor perdagangan, hotel dan restoran yang dalam kurun waktu yang sama
mampu bertumbuh sekitar 8% per tahunnya. Kendati demikian, 30,84% perekonomian
Surabaya pada tahun 2005 masih ditopang oleh manufaktur. Nilai tambah manufaktur
Surabaya pada tahun 2005 adalah sebesar 19.054,52 miliar rupiah atau berkontribusi
sebesar 25,90 % atas seluruh nilai manufaktur di Jawa Timur. Output terbesar adalah dari
industri makanan, minuman, dan tembakau yang berkontribusi lebih dari 50 % atas total
output manufaktur, disusul oleh industri logam dasar besi dan baja, serta industri kertas
dan barang cetakan. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Surabaya,
terdapat 633 unit usaha besar dan terdapat sekitar 11.497 industri kecil dan mikro.

PT. CIPTA TETRAGON 9


Sebagai kota besar, Surabaya telah memposisikan diri sebagai pusat konsentrasi industri.
Surabaya berpotensi, baik secara langsung, sebagai pusat pengembangan Indonesia
Bagian Timur di masa mendatang. Kehadiran berbagai industri yang meliputi industri
logam dasar, kimia dasar, tekstil, industri makanan dan minuman, serta argo based
industri lainnya, yaitu industri yang mengolah hasil-hasil pertanian dalam arti luas, seperti
halnya dari subsektor perikanan, peternakan, sayur-mayur, buah-buahan dan lainnya.
Sedangkan jenis industri yang mencakup nilai investasi megaproyek lebih tertuju pada
bisnis/kegiatan pelayanan umum/masyarakat yang meliputi jalan tol, jembatan Suramadu,
Seiring dengan perkembangan kota, Surabaya memang berusaha mengindari tumbuhnya
industri besar yang memiliki potensi polusi. Arah Surabaya difokuskan sebagai kota jasa
dan perdagangan, dan bukan kota industri. Wilayah industri untuk selanjutnya digantikan
sebagai tempat pergudangan yang tidak beresiko terhadap polusi. Sekalipun demikian,
sejumlah wilayah masih terdapat industri.
Di wilayah selatan Surabaya telah dibangun kawasan industri yang terdapat di Rungkut
atau Brebek Industri, SIER (Surabaya Industrial Estate Rungkut PT. Persero). Kawasan ini
dengan dinamis terus berdetak menjadi pusat industri terpadu. Sementara Di wilayah utara
Surabaya terdapat kawasan industri dan pergudangan Tambak Langon - Kalianak -
Margamulyo. Kawasan ini berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak dan Jalan Tol dan
Pusat Grosir (Kembang Jepun dan Pasar Turi).
Ada beberapa industri khas yang dikenal berasal dari Surabaya, diantaranya adalah Rokok
Sampoerna, UBM Biskuit, Viva Cosmetics, Industri Emas UBS, dan Bogasari. Untuk
melengkapi fasilitas industri dan pergudangan di Surabaya, juga terdapat terminal peti
kemas yang juga difungsikan untuk kegiatan ekspor impor. Peti kemas ini terletak di
wilayah Perak, dekat dengan pelabuhan bongkar muat di pantai utara Surabaya.
Selain industri besar, di kota ini juga terdapat beberapa industri kecil, sebut saja Sentra
Sepatu & Sandal Benowo. Perajin sepatu dan sandal di kawasan Tambak Osowilangun, di
kawasan Barat Surabaya ini sudah ada sejak tahun 1970 dan tetap eksis hingga sekarang.
Kini jumlah mereka mencapai 180 orang. Sepatu dan sandal itu dibuat semata berdasar
pesanan. Total produksi yang mampu mereka hasilkan bisa mencapai 200-300 kodi per
bulan. Terlebih pada bulan-bulan menjelang Puasa atau Lebaran. Daerah penyebaran
atau pemasaran produk mereka tidak hanya di Jawa Timur, tetapi sudah merambah
hingga ke Pulau Kalimantan.

Perkembangan Industri Kabupaten Bangkalan


Pasca pembangunan Jembatan Nasional Suramadu sudah dapat dipastikan akan terjadi
aliran manusia, barang, dan jasa dalam intensitas yang cukup besar di Kabupaten
Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep karena adanya sejumlah faktor
pendorong dan faktor penarik, antara lain:
1. Sebagai salah satu konsekuensi dari semakin baiknya jaringan transportasi antara
Madura dan Surabaya, sehingga dengan kehadiran Jembatan Nasional Suramadu
tersebut mengakibatkan terjadinya percepatan laju berkembangnya pembangunan di
Pulau Madura.
Berkaitan dengan pengembangan kawasan Gerbangkertosusila dan Madura paska
pembangunan Jembatan Nasional Suramadu menyebabkan tumbuh dan berkembangnya
kawasan industri, pariwisata dan pernukiman (perumahan) mendorong adanya permintaan
lahan dalam skala besar untuk pembangunan industri, priwisata dan perumahan.

PT. CIPTA TETRAGON 10


Bila mengacu kepada kontribusi PDRB khusus untuk sektor industri pengolahan kontribusi
terhadap PDRB mengalami penurunan dari semula pada tahun 2006 sebesar 4,31%,
4,27% pada tahun 2007, 4,18% pada tahun 2008 dan pada tahun 2009 sebesar 4,12%.
Industri makanan, minuman dan Tembakau masih sangat dominan sebagai salah satu
industri yang memberikan kontribusi terbesar terhadap industri pengolahan, dan sektor
industri yang cukup besar kontribusinya adalah pengolahan keras dan barang cetakan,
sedangkan sisanya kontribusi terhadap perkmbangan industri pengolahan kurang dari
10%.

ANALISIS LINGKUNGAN EKSTERNAL KAWASAN

Kawasan Industri di Jawa Timur


Berdasarkan penjelasan yang disampaikan dalam RKPD Provinsi Jawa Timur Tahun
2011, beberapa Kawasan Industri yang ada di Jawa Timur adalah sebagai berikut:
a. High Tech Industrial Park terdiri atas Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) di
Kota Surabaya yang pengembangannya ke arah perindustrian Brebek Sidoarjo;
b. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industri Perhiasan Gemopolis di Kabupaten
Sidoarjo;
c. Kawasan Industri Agribisnis pendukung Agropolitan yang terdiri atas:
1. Sistem Agropolitan Wilis; Sistem Agropolitan Bromo-Tengger-Semeru;
2. Sistem Agropolitan Ijen; dan
3. Sistem Agropolitan Kepulauan Madura.

Menurut data Badan Penanaman Modal Jawa Timur, pada tahun 2010, Jawa Timur
memiliki 12 kawasan industri estate, diantaranya Surabaya Industrial Estate Rungkut
(SIER) di Surabaya dengan luas 832 Ha, Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) di
Kabupaten Pasuruan (500 Ha), Ngoro Industrial Park (NIP) di Kabupaten Mojokerto (400
Ha, termasuk 38 Ha untuk Export Porcessing Zone (EPZ)), Maspion Industrial Estate di
Kabupaten Gresik (450 Ha), Gresik Industrial Estate (KIG) di Kabupaten Gresik (135
Ha), Kawasan Industri Jabon di Kabupaten Sidoarjo, serta Lamongan Integrated
Shorebase (LIS) di Kabupaten Lamongan. LIS terletak di Tanjung Pakis, Kabupaten
Lamongan, Jawa Timur adalah sentra logistik terpadu bertaraf international yang melayani
industri migas yang beroperasi di Jawa Timur dengan konsep One Stop Hypermarket.

PT. CIPTA TETRAGON 11


Tabel 3
Kawasan Industri di Jawa Timur
Kota/ Luas Lahan
No Kawasan Industri Pengelola
Kabupaten (Ha)
PASURUAN INDUSTRIAL PASURUAN INDUSTRIAL ESTATE
1 PASURUAN 476.00
ESTATE REMBANG REMBANG(PIER), PT
NGORO INDUSTRI
2 DHARMALA RSEA, PT MOJOKERTO 200.00
PERSADA (NIP)
KAWASAN INDUSTRI
3 KAWASAN INDUSTRI GRESIK, PT GRESIK 135.00
GRESIK
MASPION INDUSTRIAL
4 MASPION INDUSTRIAL ESTATE, PT GRESIK 425.20
ESTATE
KAWASAN INDUSTRI
5 SIER (PERSERO), PT SURABAYA 829.92
RUNGKUT
Sumber: Kementerian Perindustrian, 2010

Berdasarkan data Himpunan Kawasan Industri Indonesia(HKI), total kawasan industri di


Jawa Timur saat ini adalah 1.500 ha, dikelola oleh 7 (tujuh) perusahaan pengelola
kawasan industri. Ketujuh kawasan industri tersebut adalah Surabaya Industri Estate
Rungkut (SIER/Surabaya), Surabaya Industri Estate Brebek (SIEB/Sidoarjo), Pasuruan
Industri Estate Rembang (PIER/Pasuruan), Kawasan Industri Gresik (KIG), Kawasan
Industri Maspion (Manyar/Gresik), Kawasan Pergudangan PT. Suri Mulya (Margomulyo).
Data ini tidak belum mengikutkan kawasan industri diluar daerah industri, seperti
pergudangan dan industri industri yang tumbuh secara acak.

ASPEK FISIK DAN SPASIAL WILAYAH

Aspek Ekonomi Wilayah

Perkembangan Ekonomi Provinsi Jawa Timur

Untuk memlihat pekermbangan eknonomi Kawasan Kaki Jembatan Suramadu, tidak akan
terlepas dari meninjau perkembangan ekonomi provinsi tersebut. kondisi perekonomian
terakhir yang diperoleh berdasarkan hasil data sekunder diperoleh bahwa perekonomian
Provinsi Jawa Timur

Perekonomian Jawa Timur pada triwulan Ill dibanding triwulan II tahun 2011 (q-to-q)
menunjukkan pertumbuhan positif, hampir semua sektor mengalami peningkatan
kapasitas produksi kecuali sektor pertanian. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor
perdagangan, hotel dan restoran sebesar 3,92%, hal ini dapat dimengerti karena
pada triwulan Ill tahun 2011 bersamaan dengan hadirnya bulan Ramadhan dan hari
raya !dui Fitri yang biasanya diikuti dengan meningkatnya permintaan barang dan jasa
utama subsektor perdagangan baik pedagang besar maupun pedagang eceran. Pada
periode yang sama sektor pertanian mengalami pertumbuhan negatif sebesar -3,18%,
hal ini lebih dikarenakan pada periode tersebut bertepatan dengan kamarau panjang
atau musim kering, sehingga berpengaruh terhadap menurunnya produksi beberapa
subsektor utamanya tanaman bahan makanan diantaranya komoditi padi, jagung,

PT. CIPTA TETRAGON 12


kedele, kacang tanah, kacang hijau dan ketela rambat, hanya ketela pohon dan buah-
buahan produksinya mengalami peningkatan.

Kinerja perekonomian Jawa Timur pada triwulan Ill tahun 2011 (q-to-q) juga ditunjukkan
dengan meningkatnya pertumbuhan sektor industri pengolahan, yang mengalami
pertumbuhan 3,17% utamanya didorong oleh meningkatnya pertumbuhan subsektor
industri tekstil, barang dari kulit & alas kaki 8,46% dan subsektor industri makanan,
minuman & tembakau 1,60%.

Tabel 4
Struktur PDRB Jawa Timur Menurut Lapangan Usaha Triwulan III 2010 dan 2011, serta
Januari - September 2010 dan 2011 (persen)
Januari - Januari -
Lapangan Usaha Triw III 2010 Trw III 2011 September September
2010 2011
1. Pertanian 15,63 15,41 16,72 16,84
2. Pertambangan dan Penggalian 2,20 2,34 2,14 2,24
3. Industri Pengolahan 27,13 26,81 27,17 26,70
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 1,54 1,41 1,54 1,44
5. B a n g u n a n 4,65 4,85 4,46 4,63
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 29,68 30,29 29,22 29,65
7. Pengangkutan dan Komunikasi 5,64 5,64 5,38 5,54
8. Keuangan, Persew, dan Js Perush 4,84 4,83 4,88 4,86
9. Jasa - Jasa 8,68 8,42 8,48 8,11
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00
sumber : Provinsi Jawa Timur Dalam Angka 2011

1.000 Nilai Proyek PMA (USD million) Nilai Proyek PMDN (Rp miliar) 1200%
g Nilai Proyek PMA g Nilai Proyek PMDN
900
1000%
800

700 800%

600
600%
500
400%
400

300 200%

200
0%
100

- -200%
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2007 2008 2009 2010

Gambar 5
Perkembangan Investasi Provinsi Jawa Tmur

Pada triwulan IV-2010, kegiatan investasi di Jawa Timur relatif tumbuh stabil sebesar 7,70%
(yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 6,60%. Perbaikan
kinerja ini disebabkan oleh relatif stabilnya nilai realisasi investasi Penanaman Modal Asing
(PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

PT. CIPTA TETRAGON 13


Tercatat selama triwulan IV-2010, realisasi investasi PMA di Jawa Timur merupakan
terbesar ketiga di Indonesia senilai US$ 300 juta dengan 53 proyek, sedikit menurun
dibandingkan triwulan sebelumnya dengan nilai investasi sebesar US$ 400 juta (39 proyek).
Sementara itu, tingkat realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Jawa
Timur pada triwulan ini tidak termasuk dalam lima besar provinsi penerima investasi PMDN
tertinggi di Indonesia, dengan nilai sebesar Rp. 2,1 triliun untuk 37 proyek, meningkat jika
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya senilai Rp. 1,8 triliun dengan 30 proyek.

Terus membaiknya kinerja ekspor luar negeri Jatim setelah melampaui kondisi sebelum
krisis global, masih terjadi pada triwulan ini yang mengalami pertumbuhan sebesar 21,24%
(yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (20,17%). Hal ini disebabkan selain
karena volume yang bertambah, nilai ekspor juga meningkat signifikan yang didukung pula
oleh membaiknya harga komoditas ekspor Jawa Timur di pasar internasional. Melanjutkan
strategi ekspor pada triwulan sebelumnya, strategi diversifikasi produk ekspor juga telah
membuahkan hasil, selain mulai dikenalnya produk buah-buahan tropis, Jatim juga mulai
meningkatkan ekspor kimia organik dan komoditas lemak dan minyak hewan.

1.400 60%
Nilai Ekspor g Nilai Ekspor
50%
1.200
40%

1.000 30%

20%
800
10%
600
0%

400 -10%

-20%
200
-30%

- -40%
1
2

10
11
12

10
11
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1
2
3
4
5
6
7
8
9

1
2
3
4
5
6
7
8
9

5
6
7
8
9
10
12
1
2
3
4

11
12

2007 2008 2009 2010

Gambar 6
Perkembangan Nilai Ekspor Provinsi Jawa Tmur

Melihat perbandingan penduduk yang bekerja bulan Agustus 2011 terhadap Februari 2011
penurunan terjadi pada Sektor Pertanian (696,81 ribu orang) dan Sektor Jasa
Kemasyarakatan (151,51 ribu orang). Sedangkan peningkatan terjadi pada Sektor Industri
(141,45 ribu orang), Sektor Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi (11,63 ribu
orang), dan Sektor Lainnya yang terdiri dari Sektor Pertambangan, Listrik, Gas dan Air,
Konstruksi, Keuangan (229,56 ribu orang).
Dibandingkan dengan keadaan Februari 2011, jumlah penduduk yang bekerja pada sektor
formal pada Agustus 2011 mengalami peningkatan sebesar 405,57 ribu orang, sedangkan
penduduk yang bekerja pada sektor informal turun sebesar 871,25 ribu orang.

PT. CIPTA TETRAGON 14


Tabel 5
Penduduk Jawa Timur Menurut Jenis Kegiatan Utama
dan Indikator Ketenagakerjaan, 2009 - 2011

Jenis Kegiatan Utama 2009 2010 2011


Indikator Ketenagakerjaan
Agustus Februari Agustus Februari Agustus
1. Angkatan Kerja (AK) 20.338.568 20.623.490 19.527.051 20.251.672 19.761.886
- Bekerja 19.305.056 19.611.540 18.698.108 19.406.025 18.940.340
- Penganggur 1.033.512 1.011.950 828.943 845.647 821.546
2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 69,25 69,77 69,08 71,39 69,49
3. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 5,08 4,91 4,25 4,18 4,16
Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur, Hasil Sakernas 2009 - 2011

Kabupaten Bangkalan
Untuk pengembangan sektor industri di Kawasan Kaki Jembatan Surabaya-Madura pada
sisi Madura, maka ketersidiaan tenaga kerja menjadi salah satu faktor penting dalam
perkembangan kawasan tersebut guna untuk mendukung peran kestrategisan wialayah
yang dimiliki saat ini.
Kabupaten Bangkalan merupakan daerah yang akan memainkan peran penting dalam
perkembangan kawasan industri pada Kawasan Kaki Jembatan Surabaya-Madura pada
sisi Madura, sehingga sektor ketenagakerjaan yang di miliki oleh kabupaten Bangkalan
bisa menjadi faktor pendukung perkembangan kaasan tersebut.
Jika dilihat dari perkembangan sektor ketenagakerjaan di Provinsi Jawa Timur secara
keseluruhan memberikan kinerja positif. Hal tersebut dikarenakan semakin membaiknya
kinerja pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, sehingga bedampak positif terhadap sektor
tenaga kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai tingkat terendah dalam 4
(empat) tahun terakhir. Namun demikian, jika dilihat lebih jauh selama 2009 - 2010, tingkat
pertumbuhan penyerapan angkatan kerja lebih rendah daripada tingkat pertumbuhan
angkatan kerja, hal ini mengakibatkan pengurangan pengangguran mengalami
perlambatan.
Untuk kondisi ketenagakeraan Kabupaten Bangkalan, pada periode tahun 2007-2009
jumlah angkatan kerja sebesar 567.122 pada tahun 2007, 584.755 orang pada tahun
2008, dan pada tahun 2008 tercatat sebesar 663.193 orang.
Untuk lebih jelasnya mengenai struktur ketenagakerjaan Kabupaten Bangkalan, bisa dilihat
pada tabel berikut ini :

PT. CIPTA TETRAGON 15


Tabel 6
Struktur Penduduk dan Tenaga kerja Kabupaten Bangkalan 2007-2009

No Angka Absolut Prosentase


Uraian/Description
. 2007 2008 2009 2007 2008 2009
940.33 956.99 973.68
1 Jumlah Penduduk
1 6 1
567.12 584.75 663.19 60,3 61,1 68,1
2 Jumlah Angkatan Kerja
2 5 3 1 0 1
Jumlah Orang Yang 538.53 555.30 629.94 57,2 58,0 64,7
3
Bekerja 3 8 5 7 3 0
4 Jumlah Pencari Kerja 28.639 29.447 33.248 3,05 3,08 3,41
4.1 Tidak Tamat SD 19.200 15.744 12.298 2,04 1,65 1,26
4.2 Tamat SD 2.211 1.813 7.222 0,24 0,19 0,74
4.3 Tamat SLTP 2.315 1.911 3.459 0,25 0,20 0,36
4.4 Tamat SLTA 4.086 5.239 8.717 0,43 0,55 0,90
4.5 Diploma 447 1.756 483 0,05 0,18 0,05
4.6 Sarjana 380 2.954 1.069 0,04 0,31 0,11

sumber : Kabupaten Bangkalan dalam Angka 2010

Berdasarkan tabel diatas, bahwa jumlah angkatan kerja yang tercatat sebanyak 567.122
pada tahun 2007 atau sebesar 60,31% dari total jumlah penduduk Kabupaten Bangkalan
yang tercatat sebesar 940.331, untuk tahun 2008 jumlah angkatan kerja tercatat sebesar
584.755 atau sebesar 61.10% dari jumlah penduduk Kabupaten Bangkalan yang tercatat
sebesar 956.996, sedangkan pada tahun 2009 jumlah angkatan kerja Kabupaten
Bangkalan tercatat sebesar 663.193 atau sebesar 68.11% dari jumlah penduduk yang
tercatat sebesar 973.681.

ANALISIS KEUNGGULAN RENCANA KAWASAN INDUSTRI


INDUSTRI (KI) DI
KAWASAN KAKI JEMBATAN
JEMBATAN SURAMADU SISI MADURA
MADURA (KKJSM)
TERHADAP RENCANA KI LAINNYA DI JAWA TIMUR
TIMUR

Perbandingan Jarak dan Waktu Tempuh KI Kab. Bangkalan dan KI Kab. Mojokerto
terhadap Pelabuhan Utamanya serta dampaknya terhadap Biaya Distribusi

Dari penjelasan yang telah dilakukan, maka diperlihatkan perbandingan jarak dan waktu
tempuh diantara kedua KI yang diperbandingkan terhadap pelabuhan tujuan (lihat Tabel
7).

Tabel 7
Jarak dan Waktu Tempuh Kawasan Industri Mojokerto ke Pelabuhan Tanjung Perak
dan Kawasan Industri Bangkalan ke Pelabuhan Tanjung Bulu Pandan
Lokasi Jarak ke Waktu Tempuh ke
Kawasan Industri Pelabuhan Pelabuhan
Mojokerto 57,2 km 58 mnt

Bangkalan 22,9 km 28 mnt

Sumber: Analisis, 2011

PT. CIPTA TETRAGON 16


Dari Tabel 7 diperlihatkan bahwa dari jarak dan waktu tempuh, KI KKJSM di Kab.
Bangkalan memiliki keunggulan dibandingkan KI di Kab. Mojokerto. Kedua hal ini sangat
penting dalam pertimbangan investor dalam memilih lokasi industri di sebuah KI. Jika
dipertimbangkan lebih lanjut, minimasi jarak akan meminimasi biaya overhead distribusi
selama perjalanan darat, konsumsi bahan bakar serta perawatan kendaraan. Overhead
distribusi yang dimaksud adalah pungli di sektor transportasi darat di Indonesia sehingga
menciptakan ekonomi biaya tinggi dalam sistem logistik. Sedangkan minimasi waktu
tempuh dapat memaksimasi waktu distribusi produk.

Dari sisi waktu tempuh, dengan asumsi bahwa perjalanan truk berkecepatan 50 km/jam,
selisih waktu yang dihasilkan mencapai 30 menit atau 0,5 jam. Jika dikaitkan dengan
efisiensi transportasi darat yang dapat dilakukan masing-masing KI menuju pelabuhan,
maka dalam 24 jam KI KKJSM dapat menghemat waktu transportasi darat sebanyak 12
jam. Jika diperbandingkan secara umum, maka KI KKJSM menghasilkan waktu
transportasi darat 2 kali lebih efisien dibandingkan KI di Kab. Mojokerto. Dari sisi bisnis
bagi para investor, keunggulan pendeknya waktu tempuh ke pelabuhan terdekat dapat
dikaitkan kepada nilai keuntungan bisnis dalam berinvestasi membangun pabrik baru di
suatu KI tertentu.

Jika dikaitkan pada estimasi pasar yang akan terjadi di tahun 2015, dengan asumsi bahwa
kondisi keunggulan KI KKJSM dari sisi jarak tempuh terhadap KI Mojokerto adalah sesuai
dengan Tabel 10 dan KI SIER telah mencapai kondisi Full Capacity, maka koefisien
keunggulan KI Bangkalan adalah 2,47 dari KI Mojokerto. Dengan demikian maka:

Market KI Bangkalan = 57/80 Market KI Jatim


Market KI Mojokerto = 23/80 Market KI Jatim

PERKIRAAN JENIS INDUSTRI DAN


KEBUTUHAN PEMBANGUNAN
KAWASAN
PERKIRAAN JENIS, KEGIATAN DAN SKALA INDUSTRI YANG AKAN
DIKEMBANGKAN

Tahap selanjutnya adalah melihat kesesuaian calon list industri tersebut dengan konsep green
industry sehingga diperoleh list industri yang akan dikembangkan. Untuk memperoleh kegiatan
dan skala industri yang akan dikembangkan, maka list industri ini akan dinalisis menggunakan
pendekatan rantai nilai industri. Dengan rantai nilai industri, maka akan dapat dilihat kegiatan
yang akan berlangsung serta skala industri yang sesuai dengan kondisi kawasan industri KKJS
Madura.

PT. CIPTA TETRAGON 17


Eksekutif Summary BPWS
Tabel 11
Rekapitulasi Kegiatan Industri dan Non-Industri di Industri Inti yang akan dikembangkan
di KI KKJS Madura

Luas
No Klaster Nama Kegiatan Skala Jumlah Total
Lahan
Industri Kendaraan Roda 4 Perakitan Besar 3 5 15

Industri Kendaraan Roda 2 Perakitan Besar 3 5 15

Industri Aki Produksi Besar 3 5 15


1 Otomotif Industri Ban Roda 4 Produksi Besar 3 1 3

Industri Ban Roda 2 Produksi Besar 3 1 3

Industri Komponen Produksi Menengah 1 10 10


Industri Komponen Produksi Kecil 0,5 15 7,5

Industri Circuit Board Produksi Besar 5 1 5

Industri Peralatan Rumah Tangga Perakitan Besar 3 5 15


2 Elektonika Industri Lampu Hemat Energi Perakitan Besar 3 5 15

Industri Komponen Produksi Menengah 1 10 10

Industri Komponen Produksi Kecil 0,5 15 7,5


Industri Pengolahan Susu Produksi Besar 3 1 3

3 Agro Industri Pengolahan Tepung Terigu Produksi Menengah 1 2 2


Industri Roti Produksi Menengah 1 1 1

Industri Pupuk Produksi Besar 3 1 3

4 Petrokimia Industri Cat dan Pewarnaan Produksi Menengah 1 1 1


Industri Pupuk Organik Produksi Kecil 0,5 10 5

Industri Makanan Ringan Produksi Besar 3 3 9


5 Makanan Ringan
Industri Makanan Ringan Produksi Menengah 1 5 5

6 Farmasi Industri Shampo, Sabun dan Pasta Gigi Produksi Besar 3 1 3

Industri Sepatu Olahraga Produksi Besar 3 3 9

Industri Sepatu Casual Produksi Besar 3 1 3


7 Alas Kaki
Industri Label Produksi Menengah 1 1 1

Industri Penunjang Produksi Kecil 0,5 5 2,5

Industri Rokok Produksi Besar 3 1 3


8 Tembakau
Industri Kertas Rokok Produksi Menengah 1 1 1

Industri Batik Produksi Kecil 0,5 5 2,5

Industri Jamu Tradisional Produksi Kecil 0,5 5 2,5


Industri Mebeul Produksi Kecil 0,5 5 2,5

9 Industri Kecil Industri Pengolahan Buah Produksi Kecil 0,5 5 2,5

Industri Pengolahan Ikan Produksi Kecil 0,5 5 2,5


Industri Pembuatan VCO Produksi Kecil 0,5 5 2,5

Industri Mesin Pertanian Perakitan Kecil 0,5 5 2,5

Sumber : Hasil Analisis, 2011

PT. CIPTA TETRAGON 18


Eksekutif Summary BPWS

PERKIRAAN KEBUTUHAN SARANA PRASARANA


PRASARANA PENGEMBANGAN
SEKTOR INDUSTRI

Perkiraan Makro Biaya Pengembangan Atas Pembangunan Sarana dan Prasarana


Berdasarkan kepada identifikasi jenis industri yang akan dikembangakan di Kawasan Industri
KKJS Madura, maka untuk menunjang hal tersebut, dibutuhkan rincian biaya sebagai berikut :
Tabel 21
Besaran Investasi Infrastruktur Dasar
Lebar/
Infrastruktur Blok Panjang Harga/m2 Harga/
No Tinggi/ Kebutuhan Volume Biaya
Dasar Industri (M) (Rp.) Unit
Diameter
1. Jalan Lokal Primer A 1200 8 9600 300.000 2.880.000.000
B 1000 8 8000 300.000 2.400.000.000
C 3200 8 25600 300.000 7.680.000.000
D 2200 8 17600 300.000 5.280.000.000
Jalan Lingkungan A 3500 6 21000 200.000 4.200.000.000
B 2500 6 15000 200.000 3.000.000.000
C 6900 6 41400 200.000 8.280.000.000
D 4200 6 25200 200.000 5.040.000.000
Pedestrian/Trotoar A 1200 1,2 2 2880 200.000 576.000.000
(lokal primer) B 1000 1,2 2 2400 200.000 480.000.000
C 3200 1,2 2 7680 200.000 1.536.000.000
D 2200 1,2 2 5280 200.000 1.056.000.000
Pedestrian/Trotoar A 3500 0,5 2 3500 200.000 700.000.000
(lingkungan) B 2500 0,5 2 2500 200.000 500.000.000
C 6900 0,5 2 6900 200.000 1.380.000.000
D 4200 0,5 2 4200 200.000 840.000.000
Biaya Jalan 45.828.000.000
Installment (X 0,5) 22.914.000.000
Total 68.742.000.000
2. Jembatan/
Fly Over
Bangunan Fly over 60 9 3 1620 10.000.000 16.200.000.000
Tiang 20 5 3 300 10.000.000 2 6.000.000.000
Biaya Fly Over 22.200.000.000
Installment (X 0,5) 11.100.000.000
Total 33.300.000.000
3. Jaringan Listrik
Kabel Distribusi A 4700 0,2 2 9400 800.000 7.520.000.000
B 3500 0,2 2 7000 800.000 5.600.000.000
C 10100 0,2 2 20200 800.000 16.160.000.000
D 6400 0,2 2 12800 800.000 10.240.000.000
Gardu A 3 100.000.000 300.000.000
B 2 100.000.000 200.000.000
C 4 100.000.000 400.000.000
D 4 100.000.000 400.000.000
Tiang (lokal A 8 1.700.000 13.600.000
primer) B 7 1.700.000 11.900.000
C 21 1.700.000 35.700.000
D 15 1.700.000 25.500.000
Tiang (lingkungan) A 23 1.700.000 39.100.000
B 17 1.700.000 28.900.000
C 46 1.700.000 78.200.000
D 28 1.700.000 47.600.000
Biaya jaringan
41.100.500.000
Listrik
Installment (X 0,5) 20.550.250.000
Total 61.650.750.000
4. Telepon A 4700 0,1 2 9400 1.300.000 12.220.000.000
Kabel Distribusi B 3500 0,1 2 7000 1.300.000 9.100.000.000
C 10100 0,1 2 20200 1.300.000 26.260.000.000
D 6400 0,1 2 12800 1.300.000 16.640.000.000

PT. CIPTA TETRAGON 19


Eksekutif Summary BPWS
Lebar/
Infrastruktur Blok Panjang Harga/m2 Harga/
No Tinggi/ Kebutuhan Volume Biaya
Dasar Industri (M) (Rp.) Unit
Diameter
Box Instalasi A 3 50.000.000 150.000.000
B 2 50.000.000 100.000.000
C 4 50.000.000 200.000.000
D 4 50.000.000 200.000.000
Tiang (lokal A 8 1.700.000 13.600.000
primer) B 7 1.700.000 11.900.000
C 21 1.700.000 35.700.000
D 15 1.700.000 25.500.000
Tiang (lingkungan) A 23 1.700.000 39.100.000
B 17 1.700.000 28.900.000
C 46 1.700.000 78.200.000
D 28 1.700.000 47.600.000
Biaya Jaringan
65.150.500.000
Telepon
Installment (X 0,5) 32.575.250.000
Total 97.725.750.000
5. Air Bersih
Saluran Primer A 1200 0,4 480 150.000 72.000.000
B 1000 0,4 400 150.000 60.000.000
C 3200 0,4 1280 150.000 192.000.000
D 2200 0,4 880 150.000 132.000.000
Saluran Distribusi A 3500 0,1 350 150.000 52.500.000
B 2500 0,1 250 150.000 37.500.000
C 6900 0,1 690 150.000 103.500.000
D 4200 0,1 420 150.000 63.000.000
Biaya Saluran Air 712.500.000
Installment (X 0,5) 356.250.000
Total 1.068.750.000
6. Drainase
Saluran Primer A 1200 2 2400 150.000 360.000.000
B 1000 2 2000 150.000 300.000.000
C 3200 2 6400 150.000 960.000.000
D 2200 2 4400 150.000 660.000.000
Saluran Distribusi A 3500 0,8 2800 150.000 420.000.000
B 2500 0,8 2000 150.000 300.000.000
C 6900 0,8 5520 150.000 828.000.000
D 4200 0,8 3360 150.000 504.000.000
Biaya Drainase 4.332.000.000
Installment (X 0,5) 2.166.000.000
Total 6.498.000.000
7. Air Limbah (sistem
perpipaan)
Saluran Primer A 1200 1 1200 250.000 300.000.000
B 1000 1 1000 250.000 250.000.000
C 3200 1 3200 250.000 800.000.000
D 2200 1 2200 250.000 550.000.000
Saluran Distribusi A 3500 0,4 1400 250.000 350.000.000
B 2500 0,4 1000 250.000 250.000.000
C 6900 0,4 2760 250.000 690.000.000
D 4200 0,4 1680 250.000 420.000.000
Biaya IPAL 3.610.000.000
Installment (X 0,5) 1.805.000.000
Total 5.415.000.000
Sistem
8. Persampahan
Bangunan A 3 60.000.000 180.000.000
TPS/Trailer B 2 60.000.000 120.000.000
C 4 60.000.000 240.000.000
D 4 60.000.000 240.000.000
Biaya
780.000.000
Persampahan
Installment (X 0,5) 390.000.000
Total 1.170.000.000
Total
Infrastruktur 275.570.250.000
Dasar

PT. CIPTA TETRAGON 20


Eksekutif Summary BPWS

Tabel 32
Besaran Investasi Sarana

Harga Satuan/M2 Biaya


No. Sarana Kebutuhan Lahan Satuan
(rupiah) (Rupiah)
I. Sarana Sosial
1 Bangunan Mesjid 1.600 M2 3.000.000 4.800.000.000
Lansekap 2.000 M2 1.000.000 2.000.000.000
2 Bangunan Sport Center (indor) 2.000 M2 3.000.000 6.000.000.000
Joging Track, Lapangan bola, Lapangan Tenis 4.000 M2 1.000.000 4.000.000.000
3 Convension Hall 4.000 M2 3.000.000 12.000.000.000
Lansekap 8.000 M2 1.000.000 8.000.000.000
Biaya Sarana Sosial 36.800.000.000
Installment (X 0,5) 18.400.000.000
Total 55.200.000.000
II. Sarana Transportasi
Bis Angkutan Swasta
Terminal dalam Kawasan (feeder) 6.000 M2 3.000.000 18.000.000.000
Biaya Sarana Transportasi 18.000.000.000
Installment (X 0,5) 9.000.000.000
Total 27.000.000.000
III. Sarana Kesehatan (Poliklinik)
Bangunan Poliklinik 500 M2 3.000.000 1.500.000.000
Biaya Sarana Kesehatan 1.500.000.000
Installment (X 0,5) 750.000.000
Total 2.250.000.000
IV. IPAL dan Air Bersih
1 Bangunan IPAL 4.000 M2 3.000.000 12.000.000.000
Lansekaping 8.000 M2 1.000.000 8.000.000.000
2 Bangunan Pengolahan Air Bersih 4.000 M2 3.000.000 12.000.000.000
Lansekaping 8.000 M2 1.000.000 8.000.000.000
Biaya IPAL dan Air Bersih 40.000.000.000
Installment (X 0,5) 20.000.000.000
Total 60.000.000.000
Total Biaya Sarana 144.450.000.000

AB V ANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN PEMBANGUNAN KAWASAN INDUSTRI DI KKJS


MADURA MADURA

ANALISIS KELAYAKAN
PENGEMBANGAN PEMBANG UNAN
KAWASAN INDUSTRI DI KKJS
MADURA

ANALISIS KELAYAKAN SISI


SISI TEKNIS

1. Jarak Ke Pusat Kota


Berdasarkan kondisi eksiting jarak dari Kawasan Industri KJJS Madura ke Kabupaten
Bangkalan adalah 10 km, sedangkan jarak dari Kawasan Industri KJJS Madura ke
Surabaya berkisar antara 7- 8 km. berdasarkan faktor pertimbangan di atas jarak dari
Pusat ke Kota Minimal 10 km.

2. Jarak Terhadap Permukiman

PT. CIPTA TETRAGON 21


Eksekutif Summary BPWS
Dilihat dari ruang lingkup permukimannya, Jarak Kawasan Industri KJJS Madura
dengan permukiman yang ada di sepanjang koridor jalan adalah 2 km.

3. Jaringan jalan yang melayani


Untuk jaringan jalan yang melayani proses pembangunan Kawasan Industri KJJS
Madura adalah jalan arteri primer yang menghubungkan Surabaya Madura
Bangkalan.
4. Sistem jaringan yang melayani
Untuk kebutuhan Infrastruktur di kawasan industri KJJS Madura khususnya untuk
jaringan listrik terdapat saluran tegangan tinggi yaitu sekitar 3 km dari lokasi kawasan
industri KJJS Madura dan untuk jaringan telekomunikasi belum ada, oleh karena itu
perlu adanya penambahan.
5. Prasarana Angkutan
Prasarana angkutan yang ada di kawasan industri KJJS Madura meliputi pelabuhan
peti kemas yang ada di Tanjung Modung, pelabuhan itu melayani kegiatan Export
maupun Impor barang antar wilayah di Indonesia. Jarak dari pusat ke pelabuhan
sekitar 30 km, dapat ditempuh selama 30 menit dari jalur darat. Untuk pelabuhan peti
kemas di Kawasan Industri KJJS Madura masih dalam tahap pembangunan.
6. Topografi /kemiringan
Dilihat dari kondisi fisiknya Kawasan Industri KJJS Madura memiliki Kemiringan 15%,
sehingga berdasarkan faktor pertmbangan kawasan ini memenuhi syarat.
7. Jarak Terhadap Sungai
Untuk jarak dari pusat pembangunan terhadap Sungai adalah 2 km, yaitu melewati
sungai pocong.
8. Daya dukung lahan
Daya dukung lahan di kawasan industri KJJS Madura adalah 8,0 9,0 kg/cm2 .
9. Kesuburan Lahan
Untuk kesuburan tanah yang ada di kawasan industri KJJS Madura sangat subur
dilihat dari peruntukan lahan eksistingnya masih banyak terdapat semak belukar,
pertanian lahan kering (sawah tadah hujan), dan ladang jagung.
10. Peruntukan Lahan
Peruntukan lahan berdasarkan kondisi eksistingnya, sebagian besar lahan adalah
kawasan non terbangun sekitar 70-75 %, sedangkan kawasan terbangun sekitar 20 %
untuk permukiman, dan 5 % untuk fasilitas umum.
11. Ketersediaain lahan
Ketersediaan lahan yang digunakan untuk kawasan industri KJJS Madura sebesar
305ha, dilihat dari faktor pertimbangan ketentuan yang memenuhi syarat adalah
adanya luas sebesar 50 ha.
12. Harga lahan
Harga suatu lahan yang ada dikawasan industi KJJS Madura berdasarkan harga
relative berkisar antara Rp.400.000 sampai Rp.800.000/m2.

PT. CIPTA TETRAGON 22


Eksekutif Summary BPWS

13. Orientasi Lokasi


Berdasarkan kondisi eksistingnya kawasan industri KJJS Madura memiliki
Aksesibilitas yang sangat tinggi, dikarenakan jalur yang ada di kawasan itu merupakan
jalur penghubung antar Pulau yaitu, Surabaya Madura. Sedangkan untuk potensi
tenaga kerja dilihat dari jumlah penduduk tahun 2009 dari 4 Kecamatan yaitu,
Kecamatan Labang, Kecamatan Socah, Kecamatan Burneh, Dan Kecamatan Tragah
dengan jumlah keseluruhan sebesar 33.612 jiwa untuk laki-laki dan untuk Perempuan
sebesar 34.421 jiwa. Dari jumlah berikut dapat disimpulkan bahwa potensi tenaga
kerja yang ada sangat mendukung pembangunan kawasan Industri KJJS Madura.

ANALISIS KELAYAKAN SISI


SISI SOSIAL

Kelayakan sosial pada kelayakan pembangunan kawasan Industri KJJS Madura ini
dilakukan dengan melihat ketersediaan penduduk usia kerja yang akan menjadi tenaga
kerja di industri-industri yang ada di dalam kawasan. Karena tujuan dibangunnya suatu
kawasan industri adalah menjadi lapangan kerja bagi penduduk sekitar, maka fokus
kelayakan ini akan dilihat dari ketersediaan penduduk usia kerja yang ada di sekitar
wilayah lokasi yaitu di Kab. Bangkalan. Jika ketersediaan tenaga kerja di Kabupaten ini
telah terserap secara penuh, barulah dipertimbangkan ketersediaan di wilayah lainnya
yang ada di Pulau Madura, Kota Surabaya hingga seluruh Provinsi Jawa Timur.

TENAGA
KERJA DARI
TENAGA KERJA DARI PROVINSI
DAERAH LAINNYA JAWA TIMUR

TENAGA KERJA DARI


KOTA SURABAYA
TENAGA KERJA DARI
KAB. BANGKALAN
TENAGA KERJA DARI KAB. LAIN
DI PULAU MADURA

TENAGA
KERJA DARI
KAB.
BANGKALAN

Gambar 6.
Konsep Ketersediaan Tenaga Kerja

Untuk memperkirakan penduduk usia kerja pada tahun 2015, maka data-data aktual yang
diperoleh diestimasi menggunakan trend linier. Dari estimasi ini diketahui jumlah tenaga

PT. CIPTA TETRAGON 23


Eksekutif Summary BPWS
kerja yang ada di Kab. Bangkalan pada tahun 2015 berdasarkan kelompok tertentu. Dari
hasil analisis konsultan dibandingkan dengan estimasi kebutuhan tenaga kerja di kawasan
industri KKJSM, dapat disimpulkan bahwa ketersediaan tenaga kerja di Kab. Bangkalan
cukup.
Tabel 42
Ketersediaan Tenaga Kerja di Kab. Bangkalan

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015


Jumlah Angkatan Kerja 567.122 584.755 663.193 701.094 749.130 797.165 845.201 893.236 941.272
Jumlah Orang Yang Bekerja 538.533 555.308 629.945 666.007 711.713 757.419 803.125 848.831 894.537
Jumlah Pencari Kerja 28.639 29.447 33.248 35.054 37.358 39.663 41.967 44.272 46.576
Sarjana
Sarjana 380 2.954 1.069 2156 2.501 2.846 3190 3.535 3.879
Diploma 447 1.756 483 931 949 967 985 1.003 1021,333
Tamat SLTA 4.086 5.239 8.717 10.645 12.961 15.276 17.592 19.907 22.223
Tamat SLTP 2.315 1.911 3.459 3.706 4.278 4.850 5.422 5.994 6.566
Tamat SD 2.211 1.813 7.222 8.760 11.265 13.771 16.276 18.782 21.287
Tidak Tamat SD 19.200 15.744 12.298 8.845 5.394 1.943 1.943 1.943 1.943
Jumlah Tenaga Kerja Keseluruhan: 941.272
Jumlah Tenaga Kerja Pendidikan SMA + Diploma + Sarjana: 27.123

ANALISIS KELAYAKAN SISI EKONOMI

Perhitungan kelayakan ekonomi untuk kawasan industri dilakukan dengan menggunakan


dasar-dasar asumsi yang diambil dari berbagai sumber, sperti penentuan harga satuan,
nilai invetasi dan jumlah karyawan, mengacu Kemeperin No 35 Tahun 2010 Tentang
Pedoman Kawasan Industri Tarif Sewa Lahan Badan Otorita Batam 2011.

Dalam skenario yang dibangun untuk menghitung kelayakan, dibuat tiga skenario simulasi
untuk melihat seberapa besar perbedaan penggunaan tenaga kerja terhadap hasil
kelayakan yang dihitung dengan menggunaka metode B/C Ratio.

Biaya Manfaat
Tahun
Investasi Pemerintah Investasi Swasta Operation & Maintenance Langsung Tidak Langsung
2012 177.454.545.455 - -
2013 310.545.454.545 - -
2014 399.272.727.273 - -
2015 87.727.329.545 1.031.272.727.273 13.929.548.011 161.314.668.182 -
2016 122.818.261.364 2.578.181.818.182 15.477.275.568 241.972.002.273
2017 140.363.727.273 3.609.454.545.455 27.859.096.023 725.916.006.818
2018 2.062.545.454.545 27.859.096.023 1.129.202.677.273
2019 515.636.363.636 30.954.551.136 1.371.174.679.545
2020 515.636.363.636 30.954.551.136 1.451.832.013.636 3.107.171.818.182
2021 30.954.551.136 1.613.146.681.818
2022 30.954.551.136 1.774.461.350.000
2023 30.954.551.136 1.935.776.018.182
2024 - 30.954.551.136 2.016.433.352.273
1.238.182.045.455 10.312.727.272.727 270.852.322.443 12.421.229.450.000 3.107.171.818.182
11.821.761.640.625 15.528.401.268.182
B/C Ratio 1,313543763

PT. CIPTA TETRAGON 24


Eksekutif Summary BPWS
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai kelayakan Kawasan Industri di KKJS
Madura dengan metode B/C Ratio sebesar 1,31 dan dikategorikan layak secara ekonomi
karena B/C Ratio dari Kawasan Industri diperoleh lebih besar dari angka 1.

Tahun Benefit Cost B/C


2012 - 177.454.545.455 -
2013 - 488.000.000.000 -
2014 - 887.272.727.273 -
2015 161.314.668.182 2.020.202.332.102 0,08
2016 403.286.670.455 4.736.679.687.216 0,09
2017 1.129.202.677.273 8.514.357.055.966 0,13
2018 2.258.405.354.545 10.604.761.606.534 0,21
2019 3.629.580.034.091 11.151.352.521.307 0,33
2020 8.188.583.865.909 11.697.943.436.080 0,70
2021 9.801.730.547.727 11.728.897.987.216 0,84
2022 11.576.191.897.727 11.759.852.538.352 0,98
2023 13.511.967.915.909 11.790.807.089.489 1,15
2024 15.528.401.268.182 11.821.761.640.625 1,31

Berdasarkan kepada tabel diatas, bisa diperoleh informasi bahwa pihak pengelola
kawasan baru dinyatakan layak ketika masuk tahun 2023, dimana pada tahun tersebut
angka B/C Ratio diperoleh sebesar 1,15 dan pada tahun 2024 angka B/C Ratio diperoleh
sebesar 1,31.

Graik 1. Pengembangan Kawasan Industri KKJS Madura

PT. CIPTA TETRAGON 25


Eksekutif Summary BPWS

RENCANA TAHAPAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN

No. Program/Kegiatan Volume Satuan Sumber Dana Instansi/Dinas


Penyelenggara
2011
1 Kajian FS KI KKJSM 1 Paket APBN BPWS
2012
1 Pembebasan Lahan 100 Ha APBN BPWS
2 Pematangan Lahan 100 Ha APBN BPWS
3 Pembangunan Infrastruktur 100 Ha APBN/APBD BPWS
2013
1 Pembebasan Lahan 100 Ha APBN BPWS
2 Pematangan Lahan 100 Ha APBN BPWS
3 Pembangunan Infrastruktur 100 Ha APBN/APBD BPWS
2014
1 Pembebasan Lahan 105 Ha APBN BPWS
2 Pematangan Lahan 105 Ha APBN BPWS
3 Pembangunan Infrastruktur 105 Ha APBN/APBD BPWS
4 Marketing 1 Tim APBN BPWS
2015
1 Pembangunan Pabrik Swasta 20 Kavling Swasta Swasta
2 Maintanance & Operation 305 Ha - SIA

2016
1 Pembangunan Pabrik Swasta 20 Kavling Swasta Swasta
2 Maintanance & Operation 305 Ha - SIA
2017
1 Pembangunan Pabrik Swasta 20 Kavling Swasta Swasta
2 Maintanance & Operation 305 Ha - SIA
2018
1 Pembangunan Pabrik Swasta 20 Kavling Swasta Swasta
2 Maintanance & Operation 305 Ha - SIA
2019
1 Pembangunan Pabrik Swasta 20 Kavling Swasta Swasta
2 Maintanance & Operation 305 Ha - SIA
2020
1 Maintanance & Operation 305 Ha - SIA
2021
1 Maintanance & Operation 305 Ha - SIA
2022
1 Maintanance & Operation 305 Ha - SIA

PT. CIPTA TETRAGON 26


Eksekutif Summary BPWS

2023
1 Maintanance & Operation 305 Ha - SIA
2024
1 Maintanance & Operation 305 Ha - SIA

RUMUSAN SISTEM MANAJEMEN PENGELOLAAN KAWASAN


INDUSTRI

BPWS sebagai lembaga yang diberikan kewenangan untuk mengembangkan Pulau


Madura melalui Kepres mulai dikembangkan, pembangunan Pulau Madura dipercayakan
kepada lembaga pemerintah yang bernama Otorita Pengembangan Industri di Pulau
Madura.

Pengembangan Pulau Madura terbagi dalam beberapa periode. Periode pertama yaitu
tahun 2011-2014 dikenal dengan nama Periode Persiapan dimulai dengan pemabasan
lahan dan pematangan lahan, selain itu juga mulai dilakukan kajian-kajian untuk dijadikan
sebagai dokumen untuk perencanaan pengembangan Pulau Madura secara keseluruhan

Dalam rangka melaksanakan visi dan misinya mengembangkan Pulau Madura, maka
dibangunlah insfrastruktur modern yang berstandar internasional serta berbagai fasilitas
lainnya, sehingga saat Pariwisata yang diminati dan mampu bersaing

Lembaga yang akan menjadi pengelola kawasan industri nantinya akan berada dibawah
kendali Suramadu Industrial Authority, dimana lembaga tersebut berada dibawah BPWS,
sebagai lembaga indusk yang mengelola kawasan, baik di kaki jembatan sisi Surabaya,
maupun sisi Madura.

PT. CIPTA TETRAGON 27