Anda di halaman 1dari 37

I.

JUDUL : Titrasi Pengompleksan dan


Aplikasi Penentuan Kesadahan Pada Air PDAM
II. HARI/TANGGAL PERCOBAAN : Senin/06 November 2017 pukul
07.00 WIB
III. SELESAI PERCOBAAN : Senin/06 November 2017 pukul
09.40 WIB
IV. TUJUAN : 1. Membuat dan menentukan standarisasi larutan
Na-EDTA
2. Menentukan kesadahan total air PDAM
V. DASAR TEORI:
Titrasi kompleksometri adalah titrasi yang berdasarkan reaksi pembentukan
kompleks, misalnya penetapan kadar Ca (ion logam) dengan EDTA (garam natrium dari
asam etilendiaminatetra-asetat) (Pudjaatmaka, 2002).
Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa
kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu zat pembentuk
kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam dinatrium
etilendiamina tetraasetat (dinatrium EDTA) (Khopkar, 1990).
Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling
mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksireaksi pembentukan
kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga
banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang
kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi (Khopkar, 1990).

Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik
melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun
sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk
melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral
(Basset, 1994)
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi
pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi
dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat
kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula
kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut
penggunaan EDTA (Khopkar, 1990)
Titrasi kompleksometri atau kelatometri adalah suatu jenis titrasi dimana reaksi
antara bahan yang dianalisis dan titrat akan membentuk suatu kompleks senyawa.
Kompleks senyawa ini dsebut kelat dan terjadi akibat titran dan titrat yang saling
mengkompleks. Kelat yang terbentuk melalui titrasi terdiri dari dua komonen yang
membentuk ligan dan tergantung pada titran serta titrat yang hendak diamati. Kelat yang
terbentuk melalui titrasi terdiri dari dua komponen yang membentuk ligan dan
tergantung pada titran serta titrat yang hendak diamati.

Dalam larutan dengan pH tertentu sebagaian besar kation atau logam dapat
bereaksi dengan komplekson yang kemudian membentuk ion kompleks. Contoh :
Ag+ [Ag(CN)2]
Cu2+ [Cu(NH)]
Jika diperhatikan contoh contoh kompleks, terlihat bahwa suatu kompleks
selalu terjadi dari sebuah ion logam yang dinamakan ion negatif atau molekul.
A. EDTA (Etilen Diamine Tetra Asetat)
EDTA (Etilen Diamine Tetra Asetat) merupakan asam berbasa 4 (H4Y). Akan
tetapi yang sering digunakan digunakan adalah garam natriumnya (Na2H2Y).
Pembentukan kompleks antara ion-ion logam dengan EDTA tergantung pada pH
larutan. Indikator yang digunakan antara lain EBT (Eriochrome Black T) dan Kalmagit.
Indicator tersebut merupakan asam lemah berbasa 3 (H3In). Kesetimbangan disosiasi
indikator tersebut akan memberikan warna-warna tertentu dan membentuk kompleks
1:1 dengan sejumlah ion logam, sehingga dapat memberikan perubahan warna pada
akhir titrasi.

EDTA berpotensi sebagai ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan


sebuah ion logam melalui gugus dua nitrogen dan empat karboksilnya. Dalam kasus
lainnya, EDTA dapat bertindak sebagai ligan kuinkedendat atau kuadridentat dengan
satu atau dua gugus karboksilnya bebas dari interaksi kuat dengan logam. Untuk
mudahnya, bentuk asam bebas dari EDTA sering disingkat H4y. EDTA mengandung
enam situs basa-empat karbosilat oksigen dan dua nitrogen. Maka enam spesies asam
dapat hadir : H6y2+, H5y+, H4y, H3y-, H2y2-, dan H3y3-. Dua asam pertama adalah asam-
asam yang relatif kuat dan biasanya tidak penting dalam perhitungan kesetimbangan.
Dari sekian banyak ligan organik, asam-asam Paramino-karboksilat (komplekson)
merupakan ligan yang sangat penting dalam pemeriksaan kimia. EDTA adalah asam
tetraprotik dengan 4 macam tetapan disosiasi yaitu:
K1 = 1.10-2 K3 = 6,9. 10-7
K2 = 2,1.10-3 K4 = 7. 10-11
Dari harga tetapan disosiasi tersebut, jelas bahwa hanya 2 proton yang bersifat asam
kuat. Pada pH tersebut reaksi pembentukan kompleks dari EDTA dengan ion logam
polivalen : Mnn+, dinyatakan sebagai berikut :
Mn2+ + H2Y2 MY(n-4) + 2H+
Reaksi tersebut bolak balik (reversible) dan ke arah pembentukan kompleks logam
disetai dengan pelepasan H+. Bila keasaman larutan tinggi (pH rendah) maka
kompleks logam akan terdisosiasi dan kesetimbangan akan bergeser ke kiri. Bila
larutan alkalis (pH tinggi) maka kemungkinan akan terbentuk hidroksida dari logam
yang bersangkutan. Untuk menjaga hal ini maka dilakukan penambahan pH tertentu.
Makin rendah stabilitas kompleks metal EDTA, maka pada titrasi harus digunakan pH
yang tinggi. Bukti yang menunjukkan bahwa EDTA mempunyai rumus bangun
zwitter rangkap yaitu sebagai berikut :

Senyawa ini biasanya digunakan dalam bentuk garam natriumnya yang sering
digunakan juga disebut EDTA atau kadang-kadang Na2EDTA. Pelepasan empat
proton dari molekul EDTA menyebabkan ligan ini mempunyai enam pasang elektron
bebas. Untuk mencegah perubahan digunakan larutan buffer pada titrasi
kompleksometri ini.Salah satu penggunaan titrasi kompleksometri adalah digunakan
untuk penentuan kesadahantotal air, yaitu kalsium + magnesium, yang dapat
ditetapkan dengan titrasi langsung dengan EDTA dengan menggunakan indikator
hitam erichrom T atau calmagit.Titrasi ini langsung dengan EDTA pada pH 10 yang
menggunakan indikator Erichom Black T(H3In) titik akhir titrasi ditandai dengan
perubahan warna dari merah menjadi biru. Pada pH 10, EBT (Hin = berwarna biru)
bentuk ini bereaksi dengan Mg membentuk kompleks dengan berwarna merah.
Mg2+ + Hln2- Mgln- + H+
Kelat logam terbentuk dengan molekul EBT dengan hilangnya ion-ion
hidrogen dari fenolat-gugus OH dan pembentukan ikatan antara ion logam dan atom-
atom oksigen. Molekul EBT biasanya dihadirkan dalam bentuk singkatan sebagai
asam triprotik, H3In. Spesies asam sulfonat yang terlihat pada gambar sebagai
terionisasi, ini adalah sebuah gugus asam kuat yang terurai dalam sebuah larutan
berair yang tidak bergantung pH, sehingga struktur yang ditunjukkan adalah H2In.
Komplek terbentuk 1:1 yang stabil berwarna anggur merah, dengan sejumlah kation
seperti Mg2+, Ca2+, Zn2+, dan Ni2+. Banyak titrasi EDTA terjadi dalam penyangga pH
8 sampai 10. Suatu rentang dimana bentuk dominan dari EBT adalah bentuk Hin2-
baru.
Kompleks yang dibentuk indikator dengan ion logam lebih lemah daripada
kompleks antara ion logam dengan EDTA (kompleks Mgln lebih lemah dari MgY2-)
dengan demikian kelebihan EDTA akan mengikat Mg dari Mgln membentuk
kompleks Mg2+.
Mgl- + H2Y2- MgY2- + Hln2- + H+
Merah Tak berwarna Biru

Kompleks antara Ca2+ dan indikator terlalu lemah untuk menimbulkan perubahan
warna yang benar. Tetapi magnesium membentuk kompleks yang lebih kuat dengan
indikator, dibandingkan kalsium dan diperoleh suatu titik akhir yang benar dalam
suatu buffer ammonia dengan pH 10.Jika contoh yang dititrasi itu tidak mengandung
magnesium dapatlah suatu garam magnesium ditambahkan ke dalam EDTA sebelum
larutan ini distandarisasi. Maka titran itu (pH 10) merupakan suatu campuran MgY2-
dan Y4- yang ditambahkan titran ini ke dalam larutan yang mengandung Ca2+,
terbentuklah CaY2- yang lebih stabil, dengan membebaskan Mg2+ untuk bereaksi
dengan indikator itu dan membentuk MgIn- yang berwarna merah. Setelah kalsium
habis terpakai, titran tambahan mengubah MgIn- menjadi MgY2- dan indikator
berubah bentuk HIn2- yang berwarna biru.
B. Ligan
Sedangkan yang dinamakan Ligan (dari kata latin ligare = mengikat) . Jumlah
ligan ini berbeda-beda dari dua sampai delapan. Jumlah ikatan dengan ligan itu disebut
bilangan koordinasi yang biasanya merupakan bilangan genap terutama bernilai 4 atau
6. Ion logam univalen biasanya mempunyai bilangan koordinasi dua.
Muatan sebuah kompleks dapat positif, negatif atau nol. Muatan tersebut
merupakan jumlah muatan inti dan semua ligan yang diikatnya. Ligan yang
mempunyai satu atom donor pasangan elektron (missal I dan CN) monodentat atau
unidentat, sedang Ligan yang mempunyai atom donor lebih dari stu disebut poli- atau
muktidentat, bidentat kalau punya dua donor, terdentat bila 3, kuadridentat,
pentedentat, heksadentat dan seterusnya.
Bila misalnya ion Zn berkompleks dengan ligan etilendiamin (dua molekul
ligan perion Zn karena bilangan koordinasi Zn mencapai 4), maka terbentuk ikatan
ikatan yang mempunyai bentuk cincin atau lingkaran (ring). Lingkaran demikian
lingkaran kelat (chelat ring) dari kata yunani chele yang berarti cakar. Jenis Ligan :
1. Unident, yaitu ligan yang mempunyai 1 gugus donor pasangan electron. Contoh :
NH3, CN.
2. Bidentat, yaitu ligan yang mempunyai 2 gugus donor pasangan electron. Contoh :
etilendiamin
3. Polidentat, yaitu ligan yang mempunyai banyak gugus donor pasangan electron.
Contoh : Asam Etilendiamintetraasetat (EDTA)
Ciri-ciri khas ligan :
Di antara ciri-ciri khas ligan yang umum diakui sebagai mempengaruhi
kestabilan kompleks dalam mana ligan itu terlibat, adalah :
1. Kekuatan basa dari ligan itu
2. Sifat-sifat penyepitan (jika ada)
3. Efek-efek sterik (ruang)
C. Indikator Logam
Indikator dalam titrasi kompleksometri tidak berubah karena perubahan pH,
tidak juga karena daya oksidasi titrat berubah, akan tetapi karena perubahan pM (M
adalah khelat logam). (Roth, 1988). Syarat-syarat indikator logam, yaitu:
1. Reaksi warnanya harus sensitif, dengan kepekaan yang besar terhadap logam.
2. Perubahan warna pada titik ekivalen tajam
3. Perbedaan warna dari indikator bebas dengan indikator kompleks harus
mempunyai kestabilan yang efektif dimana pH titrasi tidak boleh tidak teroksidasi dan
tereduksi.
4. Kestabilan kompleks logam indikator harus cukup.
5. Ikatan senyawa logam EDTA harus lebih kuat dari pada logam-logam indikator.
Artinya ikatan logam logam Indikator logamnya harus dapat direbut oleh EDTA.
Indikator yang digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah :
Eriochrom Black-T (EBT)

Digunakan pada daerah pH 7 11. Suatu kelemahan dari EBT bahwa


larutannya tidak stabil, bila disimpan akan terjadi peruraian secara lambat,sehingga
setelah janka waktu tertentu indikator tidak berfungsi lagi. Suatu kesulitan yang
dialami indikator metalokromik adalah pembentukan kelat dengan logam yang tidak
reversibel atau terlalu kuat. Bila hal ini terjadi maka tidak dapat terjadi perubahan
warna dan indikator kehilangan fungsinya. Kejadian ini disebut blocking
indikator. Mengalami blocking dengan Fe. Merupakan asam lemah, tidak stabil
dalam air karena senyawa organik ini merupakan gugus sulfonat yang mudah
terdisosiasi sempurna dalam air dan mempunyai 2 gugus fenol yang terdisosiasi
lambat dalam air.
Penggunaan : Penentuan kadar Ca, Mg, Cd, Zn, Mn, Hg.
D. Pengaruh pH
pH sangatlah berpengaruh pada analisa komplexiometri. pH adalah ukuran
konsentrasi ion hidrogen dari larutan. Pengukuran pH (potensial Hidrogen) akan
mengungkapkan jika larutan bersifat asam atau alkali (atau basa). Jika larutan tersebut
memiliki jumlah molekul asam dan basa yang sama, pH dianggap netral. Berikut
keterangan tentang suasana pH dalam analisa komplexiometri :
1. Suasan terlalu asam
Proton yang dibebaskan pada reaksi yang terjadi dapat mempengaruhi pH,
dimana jika H+ yang dilepaskan terlalu tinggi, maka hal tersebut dapat terdisosiasi
sehingga kesetimbangan pembentukkan kompleks dapat bergeser ke kiri, karena
terganggu oleh suasana system titrasi yang terlalu asam. Pencegahan : sistem titrasi
perlu didapar untuk mempertahankan pH yang diinginkan.
2. Suasana terlalu basa
Bila pH system titrasi terlalu basa, maka kemungkinan akan terbentuk endapan
hidroksida dari logam yang bereaksi. Jika pH terlalu basa, maka reaksi kesetimbangan
akan bergeser ke kanan, sehingga pada suasana basa yang banyak akan terbentuk
endapan.
Berdasarkan selalu terbentuknya H+ pada pembentukan ion kompleks dan
melihat harga pK maka pembentukan kompleks akan lebih baik dan lebih stabil dalam
larutan alkalis. Pada umumnya kompleks EDTA dengan kation valensi 2 stabil dalam
larutan yang sedikit asam atau alkalis. kompleks EDTA dengan logam valensi 3 dan 4
stabil dalam larutan dengan pH =1-3. Logam logam bervalensi 2 misalnya Cu, Pb,
atau Ni dapat stabil pada pH = 3 sehingga dapat dititrasi secara selektif walaupun
tercampur dengan logam logam alkali tanah. Costabil dalam larutan HCl pekat.
Kesimpulan : pada titrasi kompleksometri diperlukan penambahan bufer pada
pH dimana kompleks itu stabil, dan perubahan warnanya jelas. Stabilitas dari kompleks
di tentukan oleh harga Ks = konstante stability.
Yang menyebabkan perubahan harga Ks :
1. Kenaikan suhu, karena menyebabkan kenaikan ionisasi kompleks.
2. Ion yang tidak memberi ion sejenis dengan kompleks.
3. Yang menyebabkan kenaikan harga Ks adalah adanya alkohol, sebab alkohol
mendesak ionisasi kompleks.
E. Kesadahan
Metode titrasi kompleksometri dapat diaplikasikan dalam penentuan kesadahan
air.Kesadahan terutama disebabkan oleh keberadaan ion-ion kalsium (Ca2+) dan
magnesium (Mg2+) di dalam air. Keberadaannya di dalam air mengakibatkan sabun akan
mengendap sebagai garam kalsium dan magnesium, sehingga tidak dapat membentuk
emulsi secara efektif. Kation-kation polivalen lainnya juga dapat mengendapkan sabun
(Harjadi, 1990).
Ada dua macam kesadahan, yaitu :
a) Kesadahan sementara (temporer hardness)
Kesadahan sementara adalah kesadahan karena adanya garam bikarbonat dari Ca
dan Mg, sedangkan kesadahan tetap adanya garam non karbonat seperti sulfat, klorida,
dan nitrat. Kesadahan sementara dan tetap disebut kesadahan jumlah (total hardness).
b) Kesadahan tetap (permanent hardness)
Kesadahan sementara dapat dihilangkan dengan memanaskannya, karena
CO2 akan keluar dan meninggalkan garam karbonat yang tidak larut (mengendap). Air
yang mempunyai kesadahan tinggi tidak baik apabila dipergunakan sebagai pengisi air
ketel (boiler feed) maupun dalam proses pencucian dengan sabun.(Syafei, 1999)
Penetapan kesadahan hanya diarahkan pada penentuan kadar Ca2+ dan Mg2+ pada
titrasi kompleksometri. Prinsip yang digunakan yaitu reaksi pembentukan kompleks,
kestabilan kompleks, dan pengaruh pH. Kesadahan total didefinisikan sebagai kesadahan
jumlah milli ekivalen ion Ca2+ dan Mg2+ tiap liter sampel air. Secara sederhana penetuan
tingkat kesadahan air untuk masing-masing ion dapat dilakukan dengan larutan baku ligan
pengkompleks Na2EDTA (Natrium Diamin Tetra Asetat) pada pH tertentu (Harvey, D.
2000).
Dalam melakukan titrasi, kedalam larutan yang mengandung ion-ion Ca2+ dan
Mg2+ ditambahkan indikator (warna 1) membentuk warna kompleks dalam larutan buffer
pada pH tertentu. Penembahan EDTA akan memecah kompleks kation-indikator tersebut
membentuk kation-EDTA (warna 2) yang lebih stabil. Dengan mengamati perubahan
warna, maka titik akhir titrasi kompleksometri dapat diamati dan ditentukan. Untuk
jelasnya perhatikan reaksi-reaksi yang terjadi pada proses titrasi kompleksometri dibawah
ini :
Ca2+ + EBT (Indikator) Ca.EBT senyawa kompleks lemah berwarna
merah anggur
Mg2+ + EBT (Indikator) Mg.EBT senyawa kompleks kuat berwarna
merah anggur
Ca.EBT + EDTA Ca. EDTA
Mg.EBT + EDTA Mg. EDTA
Larutan Dinantrium EDTA dijadikan standar baku sekunder karena sifatnya
yang tidak mendukung untuk dijadikan standar primer, antara lain (Day &
Underwood, 2002):
1. Kurang stabil
2. Mudah/dapat terurai oleh bakteri dimana EDTA adalah suatu senyawa organik
yang dapat diurai oleh bakteri.
3. Dapat terurai oleh cahaya.
Kadar maksimal kesadahan total untuk air minum yang telah ditetapkan oleh
Menteri Kesehatan RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010 adalah 500 mg/L, angka ini
sesuai dengan angka standar yang ditetapkan baik oleh WHO, maupun standar
internasional (Gabriel, 2004).
Berikut adalah kriteria selang kesadahan yang biasa dipakai, menurut aturan
PERMENKES tahun 2010 :

0 - 4 dH, 0 - 70 ppm : sangat rendah (sangat lunak)


4 - 8 dH, 70 - 140 ppm : rendah (lunak)
8 - 12 dH, 140 - 210 ppm : sedang
12 - 18 dH, 210 - 320 ppm : agak tinggi (agak keras)
18 - 30 dH, 320 - 530 ppm : tinggi (keras)

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor : 416/MENKES/PER/IX/1990 Tanggal : 3 September 1990

DAFTAR PERSYARATAN KUALITAS AIR BERSIH

Kadar Maksimum
No. PARAMETER Satuan yang Keterangan
diperbolehkan
1 2 3 4 5
A. FISIKA
1. Bau - - Tidak berbau
2. Jumlah zat padat
terlarut (TDS) mg/L 1.500 -
3. Kekeruhan Skala NTU 25 -
4. Rasa - - Tidak berasa
5. Suhu oC Suhu udara 3oC -
6. Warna Skala TCU 50
KIMI
B. A
1. Air raksa mg/L 0,001
2. Arsen mg/L 0,05
3. Besi mg/L 1,0
4. Fluorida mg/L 1,5
5. Kadnium mg/L 0,005
6. Kesadahan (CaCO3) mg/L 500
7. Klorida mg/L 600
8. Kromium, Valensi 6 mg/L 0,05
9. Mangan mg/L 0,5
10. Nitrat, sebagai N mg/L 10
11. Nitrit, sebagai N mg/L 1,0
12. pH - 6,5 9,0
Merupakan batas
minimum
dan maksimum, khusus
air
hujan pH minimum 5,5
13. Selenium mg/L 0,01
14. Seng mg/L 15
15. Sianida mg/L 0,1
16. Sulfat mg/L 400
17. Timbal mg/L 0,05
Kimia Organik
1. Aldrin dan Dieldrin mg/L 0,0007
2. Benzena mg/L 0,01
3. Benzo (a) pyrene mg/L 0,00001
4. Chlordane (total
isomer) mg/L 0,007
5. Coloroform mg/L 0,03
6. 2,4 D mg/L 0,10
7. DDT mg/L 0,03
8. Detergen mg/L 0,5
9. 1,2 Discloroethane mg/L 0,01
10. 1,1 Discloroethene mg/L 0,0003
11. Heptaclor dan
heptaclor epoxide mg/L 0,003
12. Hexachlorobenzene mg/L 0,00001
Gamma-HCH
13. (Lindane) mg/L 0,004
14. Methoxychlor mg/L 0,10
15. Pentachlorophanol mg/L 0,01
16. Pestisida Total mg/L 0,10
17. 2,4,6 urichlorophenol mg/L 0,01
Zat organik
18. (KMnO4) mg/L 10

Dampak dari Kesadahan Air yang Kurang dan yang Berlebih


Air jika tidak mengandung kapur atau tidak sadah akan terasa lunak atau
hambar karena tidak mengandung garam-garam mineral sehingga akan mengurangi
selera dalam mengkonsumsinya. Akan tetapi, jika di dalam air kandungan kapurnya
sangat tinggi atau dengan kata lain terlalu banyak mengandung garam-garam mineral
justru akan memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan. Oleh karena itu, dirasa
perlu untuk mengetahui dampak apa saja yang dapat ditimbulkan jika kandungan
kapur dalam air berlebih atau kesadahannya tinggi (Sanropie dkk, 1984 dalam Resthy,
2011).
Air lunak atau air yang tidak mengadung kapur mempunyai kecenderungan
menyebabkan korosi pada pipa. Sedangkan jika air memiliki kandungan kapur yang
banyak atau tingkat kesadahannya tinggi, maka mengakibatkan terbentuknya kerak-
kerak pada dinding pipa yang menyebabkan penyempitan pipa, sehingga memperkecil
debit aliran air. Dalam rumah tangga hal tersebut menyebabkan terbentuknya kerak
pada dinding peralatan memasak sehingga menyebabkan pemakaian bahan bakar yang
lebih banyak dan menyebabkan pemakaian sabun yang semakin tinggi (Bakti Husada,
1995 dalam Resthy, 2011).

Apabila kandungan CaCO3 atau MgCO3 dalam air itu melewati batas 10
derajat Jerman maka akan menyebabkan, antara lain (Sanropie dkk, 1984 dalam
Resthy, 2011):
1. Menyababkan lapisan kerak pada alat dapur yang terbuat dari logam
2. Kemungkinan terjadinya ledakan pada boiler
3. Pipa air menjadi terumbat
4. Sayur-sayuran menjadi keras apabila dicuci dengan air bersih

Air sadah tidak terlalu berbahaya untuk diminum, akan tetapi dapat
menyebabkan beberapa masalah jika dikonsumsi dalam jangka panjang, hal tersebut
dapat menimbulkan osteoporosis atau pengapuran pada tulang manusia. Air sadah
dapat menyebabkan pengendapan mineral, yang menyumbat pipa dan keran. Air sadah
juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah tangga, selain itu air sadah dapat
membentuk gumpalan scum yang sukar dihilangkan. Dalam industri, kesadahan air
yang digunakan diawasi ketat untuk mencegah kerugian. Untuk menghilangkan
kesadahan biasanya digunakan beberapa zat kimia ataupun dengan menggunakan resin
pertukaran ion (Kris, 2006 dalam Resthy, 2011).

Air sadah membawa dampak negatif, yaitu (Anoymous,2009 dalam Resthy,


2011):
1. Menyebabkan sabun tidak berbusa karena adanya hubungan kimiawi antara
kesadahan dengan molekul sabun sehingga sifat detergen sabun hilang dan
pemakaian sabun menjadi lebih boros;
2. Menimbulkan kerak pada ketel yang dapat menyumbat katup-katup ketel karena
terbentuknya endapan kalsium karbonat pada dinding atau katup ketel. Akibatnya
hantaran panas pada ketel air berkurang sehingga memboroskan bahan bakar.
VI. Alat dan Bahan

Alat :

1. Gelas Kimia 250 mL 1 buah


2. Gelas Kimia 100 mL 2 buah
3. Erlenmeyer 300 mL 1 buah
4. Erlenmeyer 250 mL 2 buah
5. Labu Ukur 100 mL 1 buah
6. Pipet Gondok 10 mL 1 buah
7. Pro Pipet 1 buah
8. Gelas Ukur 10 mL 1 buah
9. Spatula 1 buah
10. Buret 1 buah
11. Statif 1 buah
12. Klem 1 buah
13. Pipet Tetes 5 tetes
14. Botol Vial 1 buah

Bahan :

1. Na-EDTA secukupnya
2. CaCO3 p.a 0,0811 gram
3. Indikator EBT 6 tetes
4. Larutan Buffer pH 10 5 mL
5. Aquades secukupnya
6. Air PDAM 10 mL
VII. Alur Kerja
1. Penentuan (Standarisasi) Larutan Na-EDTA 0,01 M dengan CaCl2 sebagai
baku
0,811 gram CaCO3 p.a

- ditimbang dengan teliti


- dipindahkan kedalam labu ukur 100 mL menggunakan air 10 20 mL
- ditambahkan larutan HCL 1:1 setetes demi setetes sampai gelagak yang
terjadi / endapan larut
- diencerkan dengan air sampai tanda batas
- dikocok sampai homogen

Larutan CaCl2 0,01 M


- dipipet 10 mL larutan CaCl2
- dimasukkan ke erlenmeyer 250 mL
- ditambah 5 mL larutan buffer pH 10
- ditambah 3 tetes indikator EBT
- dititrasi dengan larutan Na-EDTA 0,01 M
- dihentikan titrasi pada saat terjadi perubahan warna dari merah anggur
ke biru (merah biru)

Larutan berwarna biru

- dicatat volume larutan Na-EDTA yang digunakan titrasi


- dihitung konsentrasi larutan Na-EDTA
- diulangi titrasi hingga 3 kali

Konsentrasi larutan Na-EDTA

2. Penentuan Kesadahan Total Air PDAM

10 mL sampel air PDAM

- dimasukkan kedalam erlenmeyer


- ditambahkan 2 mL larutan buffer pH 10
- ditambahkan 3 tetes indikator EBT
- dititrasi dengan larutan Na-EDTA standar sampai larutan mulai biru
(tepat sampai warna merah hilang)

Larutan berwarna biru

- dihitung kesadahan total dalam garam CaCO3 per liter air


- diulangi percobaaan hingga 3 kali

Kesadahan total air PDAM


VIII. Hasil Pengamatan

No. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan / Reaksi Kesimpulan


Sebelum Sesudah
1. Penetuan (Standarisasi) Larutan Na-EDTA0,01 M CaCO3 = CaCO3 + CaCO3 (s) + H2O (l) M Na-EDTA rata
serbuk putih HCL 1;1 =
dengan CaCl2sebagai baku CaCO3 (aq) rata = 0,015 M
HCL 1;1 = larutan tak
larutan tak berwarna
0,811 gram CaCO3 p.a
berwana CaCO3 +
CaCO3 (aq) +
- ditimbang dengan teliti Aquades = HCL 1;1 +
- dipindahkan kedalam labu ukur 100 mL larutan tak Buffer pH10= HCl(aq) CaCl2(aq)
menggunakan air 10 20 mL berwarna larutan tak
- ditambahkan larutan HCL 1:1 setetes demi + CO3 (aq) + H2O
setetes sampai gelagak yang terjadi / endapan
Larutan berwarna
larut buffer pH10 CaCO3 + (aq)
- diencerkan dengan air sampai tanda batas = tak HCL 1;1 +
- dikocok sampai homogen berwarna Buffer pH10
Larutan CaCl2 0,01 M
Indikator + indikator Ca2+ + HIn2 CaIn-
- dipipet 10 mL larutan CaCl2 EBT = EBT = larutan
- dimasukkan ke erlenmeyer 250 mL (merah anggur ) + H+
merah warna merah
- ditambah 5 mL larutan buffer pH 10
anggur anggur
- ditambah 3 tetes indikator EBT
Larutan Na- V1 = 5,4 mL
- dititrasi dengan larutan Na-EDTA 0,01 M CaIn-+ H2Y2-
- dihentikan titrasi pada saat terjadi perubahan EDTA = tak V2 = 5,5 mL
warna dari merah anggur ke biru (merah biru) berwarna V3 = 5,3 mL CaH2Y2- (merah
Larutan berwarna biru anggur) CaH2Y +
- dicatat volume larutan Na-EDTA yang In3-
digunakan titrasi
- dihitung konsentrasi larutan Na-EDTA
- diulangi titrasi hingga 3 kali
In3- + H2O Hin2-
Konsentrasi larutan Na-EDTA
(biru) + OH-
2. Penentuan Kesadahan Total Air PDAM Air PDAM = Air lPDAM+ Ca2+ + HIn2 CaIn- Kesadahan air PDAM
larutan tak buffer = total = 270 ppm
berwarna (merah anggur ) + H+
larutan tak
10 mL sampel air PDAM Larutan buffer berwarna
pH 10 = tak Air PDAM +
berwarna CaIn- + H2Y2-
buffer + EBT
- dimasukkan kedalam erlenmeyer Indikator EBT = larutan CaH2Y2- (merah
- ditambahkan 2 mL larutan buffer pH 10 = merah
merah anggur
- ditambahkan 3 tetes indikator EBT anggur anggur) CaH2Y +
Air PDAM +
- dititrasi dengan larutan Na-EDTA standar Larutan Na-
sampai larutan mulai biru (tepat sampai EDTA = tal
buffer + EBT In3-
warna merah hilang) berwarna + Na-EDTA=
larutan biru
V1 = 1,8 mL In3- + H2O Hin2-
Larutan berwarna biru
V2 = 1,9 mL
V3 = 1,7 mL (biru) + OH-
- dihitung kesadahan total dalam
garam CaCO3 per liter air
- diulangi percobaaan hingga 3 kali Kesadahan Ca2+ secara
teori adalah 500 mg/L
Kesadahan total air PDAM
IX. Analisis dan Pembahasan
Telah dilakukan praktikum Titrasi Pengompleksan dan Aplikasi penentuan kesadahan
pada air PDAM pada hari senin 6 November 2017, yang bertujuan untuk membuat dan
menentukan (standarisasi) larutan Na-EDTA dan menentukan Kesadahan total air PDAM.
Sampel air PDAM yang digunakan didapatkan dari salah satu rumah praktikan di daerah
Jambangan Surabaya pada tanggal 6 November 2017 pukul 05.30 WIB. Pada percobaan ini
digunakan titrasi kompleksometri didasarkan pembentukan persenyawaan kompleks antara
titran (EDTA) dan titrat (logam). Pada percobaaan pertama bertujuan untuk menstandarisasi
larutan Na-EDTA (larutan baku sekunder), untuk itu dibutuhkan larutan baku primer. Larutan
baku primer yang digunakan adalah larutan CaCl2.
1. Standarisasi larutan EDTA dengan baku CaCl2
Langkah pertama untuk membuat larutan baku primer CaCl2 adalah dengan
menimbang CaCO3(serbuk, berwarna putih) menggunakan neraca analitik. Digunakan
neraca analitik dikarenakan memiliki ketelitian yang lebih yakni empat angka
dibelakang koma sehingga cocok dengan analisa kuantitatif yang sangat
memperhitungkan jumlah. Kemudian dimasukkan ke dalam botol vial. Botol vial
ditimbang terlebih dahulu kemudian di tekan tombol TARE agar proses penimbangan
hanya didapatkan massa dari CaCO3 saja dan massa dari botol vial tidak ikut
terhitung. Massa yang kami dapatkan yaitu 0,0811 gram. Serbuk CaCO3 kemudian
dimasukkan dalam labu ukur 100 mL dengan bantuan spatula. Spatula dibilas dengan
aquadest dan dimasukkan ke dalam labu ukur. Hal tersebut bertujuan agar tidak
mengurangi konsentrasi CaCl2 yang dikehendaki dikarenakan serbuk CaCO3 yang
menempel.
Dilakukan penggoyangan labu ukur untuk melarutkan serbuk CaCO3. Namun
CaCO3 tidak larut dalam air karena garam karbonat sukar larut dalam air. Setelah itu
ditambahkan aquadest sampai batas miniskus labu ukur. Ditambahkan HCl dengan
perbandingan 1:1 tetes demi tetes ke dalam labu ukur. Dibutuhkan 17 tetes HCl 1:1
untuk melarutkan sebuk CaCO3 sehingga membentuk larutan CaCl2. Digunakan
larutan HCl karena digunakan untuk melarutkan CaCO3 yang tidak dapat dalam larut
dalam air, sehingga ion Ca2+ dapat bereaksi dengan EDTA dan titrasi dapat
berlangsung. Sebagai penanda reaksi telah berlangsung terbentuklah gelembung gas
ketika HCl ditambahkan, gelembung tersebut adalah gas CO2. Penambaan HCl
membuat larutan yang mula-mula keruh menjadi jernih tak berwarna.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
CaCO3(s) + 2 HCl(aq) CaCl2 (aq) + CO2(g) + H2O(l)
Kemudian larutan tersebut dikocok untuk menghomogenkan larutan. Larutan
yang terbentuk adalah jernih, tak berwarna. Perhitungan konsentrasi Molaritas CaCO3
dapat diketahui dengan menggunakan rumus:
,

, ,
M CaCO3 = = = 0,0081 M
, ,

Digunakan CaCO3 sebagai baku karena memiliki kemurnian yang tinggi, dan
massa ekivalen yang besar (100,009). Tidak berubah berat dalam penimbangan di
udara (tidak bersifat higroskopis dan tidak mudah dioksidasi oleh udara atau
dipengaruhi karbondioksida). Dalam baku tersebut yang digunakan hanya ion Ca2+
sebab saat titrasi dengan EDTA akan terjadi interaksi antara kedua senyawa tersebut.
Ion Ca2+ diperoleh dari larutan CaCl2 (Kalsium klorida). Kalsium klorida dapat
berfungsi sebagai sumber ion kalsium dalam larutan, tidak seperti kebanyakan
senyawa kalsium lainnya, kalsium klorida memiliki kelarutan yang tinggi. Memiliki
kestabilan yang cukup tinggi. Sifat ini berguna untuk menggantikan ion dari larutan.
Dengan mengetahui konsentrasi larutan baku primer (CaCl2) dapat digunakan
untuk mengetahui konsentrasi baku sekunder (Na-EDTA). Larutan Na-EDTA harus
distandarisasi karena Na-EDTA tersebut tidak stabil, Larutan Na-EDTA sangat mudah
berinteraksi dengan keadaan lingkungan sekitar sehingga mengandung air. Karena jika
mudah bereaksi dengan lingkungan, otomatis volumenya akan berubah sehingga juga
akan mempengaruhi Konsentrasi yang berakibat pada keakuratan saat melakukan
proses titrasi.
EDTA memiliki aksi mengompleksnya yang sangat kuat dan mudah didapat.
EDTA memiliki struktur ruang dari anionnya, yang mempunyai enam atom-
penyumbang, yang memungkinkan untuk memenuhi bilangan koordinasi enam yang
sering dijumpai diantara ion-ion logam. Fungsi EDTA dalam titrasi pengompleksan
adalah sebagai ligan dan ion Ca2+ sebagai atom pusat. Kompleks logam-EDTA
memiliki kelarutan yang tinggi dalam air yang dapat membentuk kompleks 1:1 dengan
ion logam. EDTA dalam bentuk asamnya sukar larut dalam air oleh karena itu untuk
keperluan titrasi kompleksometri digunakan garam Natrium EDTA.
Setelah konsentrasi larutan baku primer (CaCl2) telah diketahui maka
standarisasi dapat dilakukan. Dipasang statif dan klem untuk menopang buret. Buret
yang telah dipasang kemudian diisi dengan beberapa mL Na-EDTA kemudian Na-
EDTA tersebut dikeluarkan hal tersebut bertujuan untuk membilas buret agar tidak
tercampur dengan larutan sebelumnya. Isi buret dengan Na-EDTA sampai tepat batas
miniskus nol dari buret. Gunakan kertas putih pada bawah buret untuk memudahkn
pengamatan saat terjadi perubahan warna.
Pipet 10 mL larutan baku primer CaCl2 dengan menggunakan pipet gondok
dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. Digunakan pipet gondok karena
memiliki tingkat ketelitian lebih tinggi dibandingkan dengan gelas ukur. Ditambahkan
5mL buffer pH 10 (jernih, tak berwarna). Hasil dari penambahan tersebut adalah
larutan jernih, tak berwarna. Ditambahkan buffer pH 10 karena EBT bekerja maksimal
pada pH 10. Buffer yang digunakan adalah amonium hidroksida (NH4OH) dan
amonium klorida(NH4Cl). Penambahan buffer pH 10 ini dilakukan agar pH larutan
tetap pada pH sekitar 10. Serta bertujuan untuk mempertajam titik akhir titrasi.Pada
saat reaksi pembentukan kompleks, karena pada reaksi ini akan dibebaskan ion H+
yang menyebabkan penurunan pH, maka untuk mencegah penurunan pH ini
ditambahkan suatu larutan buffer yang dapat mempertahankan pH pada pH 10. Jika
pH<10, EDTA akan cenderung mengikat ion H+, setelah H+ habis terikat, EDTA akan
mengikat Ca2+ sehingga volume EDTA yang digunakan semakin banyak dan
menghasilkan hasil yang overestimate. Sementara jika pH>10, maka EDTA akan
cenderung mengikat OH- menjadi Ca(OH)2 yang membentuk endapan sehingga
hasilnya akan underestimate. Pada pH 10 indikator EBT akan selektif untuk
membentuk kompleks logam indikator dengan logam tertentu (Ca2+) pada pH dibawah
dari pH tersebut kompleks logam-indikator yang terbentuk bukan dengan logam Ca2+
melainkan dengan logam yang lain. Dan jika pH diatas 10 akan membentuk endapan
hidroksida logam. Indikator yang lebih disarankan adalah menggunakan Calmagite
dibandingkan EBT. Kelemahan EBT adalah larutannya tidak stabil, apabila disimpan
akan terjadi penguraian secara lambat, sehingga setelah jangka waktu tertentu
indikator tidak berfungsi lagi, sedangkan Calmagite lebih stabil disimpan dan dapat
mempertajam titik akhir titrasi (Harjadi, 1993)
Indikator Eriokrom Black T(berwarna merah hitam) ditambahkan sebanyak 2
tetes. Range pH indikator EBT adalah 7,5 10,5.Ditambahkan EBT untuk mengetahui
titik akhir akhir titrasi melalu perubahan warna indikator. EBT ditambahkan tepat
sebelum titrasi dilakukan karena EBT dilarutkan dengan alcohol sehingga mudah
menguap yang menyebabkan titik akhir titrasi akan sukar diamati .
Hasil dari penambahan tersebut adalah larutan menjadi jernih, berwarna merah
anggur. Perubahan warna tersebut dikarenakan oleh terbentuknya senyawa kompleks
antara indicator EBT dengan logam Ca. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
+ CaCl2 (aq)

HIn-

CaIn-
merah anggur

Dipilih indicator EBT dikarenakan indikator tersebut peka dengan ion logam
(indikator logam) yang mengandung jenis-jenis gugusan gugusan sepit dan umumnya
memiliki system resonansi yang khas pada zat warna dan membentuk kompleks
dengan ion logam khusus (tergolong indikator metallochromic). Kompleks warna ini
berbeda warnanya dengan indikator bebasnya yang membuat terjadi perubahan warna
yang mendadak pada titik ekivalen. Kompleks logam-indikator kurang stabil
dibandingkan dengan kompleks logam-EDTA untuk menjamin pada titik akhir titrasi,
EDTA dapat memindahkan ion-ion logam dari kompleks indikatorlogam itu.
Kemudian larutan dititrasi dengan larutan Na-EDTA (jernih, tak berwarna)
yang terdapat pada buret.Titrasi dilakukan tetes demi tetes dan dengan pengocokan
selama larutan standar ditambahkanagar reaksi berlangsung secara sempurna.Terjadi
perubahan warna dari merah anggur menjadi biru.
Hal tersebut dikarenakan kompleks CaIn- (kompleks Ca dengan EBT) lebih
lemah daripada kompleks CaY2- (komplek Ca dalam EDTA) sehingga kelebihan
EDTA akan merebut Ca dari CaIn untuk menjadi Ca2+ yang selanjutnya membentuk
kompleks dengan EDTA yaitu kompleks CaY2-. Sedangkan EBT (HIn) akan kembali
terbentuk seperti semula yaitu HIn2- yang berwarna biru, sehingga menyebabkan pada
titik akhir titrasi ini larutan menjadi berwarna biru. Persamaannya reaksinya adalah
sebagai berikut:

CaIn-
merah anggur EDTA

+ In3-

CaH2Y
(Ca-EDTA)

In3- + H2O HIn -+ OH-


biru

Dilakukan pengulangan titrasi sebanyak tiga kali. Pengulangan tiga kali


tersebut bertujuan untuk mendapatkan ketelitian data yang lebih akurat. Volume Na-
EDTA yang dibutuhkan berturut turut adalah 5,4mL; 5,5mL; 5,3mL. Konsentrasi
Na-EDTA dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
mol EDTA= mol CaCO3
. ( )
MNa-EDTA= ()

Didapatkan konsentrasi Na-EDTA berturut turut 0,0150M; 0,0147 M; 0,0153


M dan dengan rata-rata konsentrasi Na-EDTA 0,0150 M . Konsentrasi larutan baku
sekunder (Na-EDTA) dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi larutan baku
tersier (Air PDAM).
2. Penentuan Kesadahan total air PDAM

Pada percobaan kedua bertujuan menentukan kesadahan total dalam Air


PDAM.Sampel air PDAM yang digunakan didapatkan dari salah satu rumah praktikan
di daerah Jambangan Surabaya pada tanggal 6 November 2017 pukul 05.30 WIB.
Langkah pertama yaitu Pipet 10 mL larutan baku primer CaCl2 dengan menggunakan
pipet gondok dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. Digunakan pipet gondok
karena memiliki tingakat ketelitian lebih tinggi dibandingkan dengan gelas ukur.
Ditambahkan 2mL buffer pH 10 (jernih, tak berwarna). Hasil dari penambahan
tersebut adalah larutan jernih, tak berwarna. Ditambahkan buffer pH 10 karena EBT
bekerja maksimal pada pH 10. Penambahan buffer pH 10 ini dilakukan agar pH
larutan tetap pada pH sekitar 10. Serta bertujuan untuk mempertajam titik akhir
titrasi.Pada saat reaksi pembentukan kompleks, karena pada reaksi ini akan
dibebaskan ion H+ yang menyebabkan penurunan pH, maka untuk mencegah
penurunan pH ini ditambahkan suatu larutan buffer yang dapat mempertahankan pH
pada pH 10. Jika pH<10, EDTA akan cenderung mengikat ion H+, setelah H+ habis
terikat, EDTA akan mengikat Ca2+ sehingga volume EDTA yang digunakan semakin
banyak dan menghasilkan hasil yang overestimate. Sementara jika pH>10, maka
EDTA akan cenderung mengikat OH- menjadi Ca(OH)2 yang membentuk endapan
sehingga hasilnya akan underestimate. Pada pH 10 indikator EBT akan selektif untuk
membentuk kompleks logam indikator dengan logam tertentu (Ca2+) pada pH dibawah
dari pH tersebut kompleks logam-indikator yang terbentuk bukan dengan logam Ca2+
melainkan dengan logam yang lain. Dan jika pH diatas 10 akan membentuk endapan
hidroksida logam. Indikator yang lebih disarankan adalah menggunakan Calmagite
dibandingkan EBT. Kelemahan EBT adalah larutannya tidak stabil, apabila disimpan
akan terjadi penguraian secara lambat, sehingga setelah jangka waktu tertentu
indikator tidak berfungsi lagi, sedangkan Calmagite lebih stabil disimpan dan dapat
mempertajam titik akhir titrasi (Harjadi, 1993)
Indikator Erikrom Black T (jernih, berwarna merah) ditambahkan sebanyak 3
tetes. Ditambahkan EBT untuk mengetahui titik akhir akhir titrasi melalu perubahan
warna indikator. EBT ditambahkan tepat sebelum titrasi dilakukan karena EBT
dilarutkan dengan alcohol sehingga mudah menguap yang menyebabkan titik akhir
titrasi akan sukar diamati . Hasil dari penambahan tersebut adalah larutan menjadi
jernih, berwarna merah anggur. Perubahan warna tersebut dikarenakan oleh
terbentuknya senyawa kompleks antara indikator dengan logam Ca. Reaksi yang
terjadi adalah sebagai berikut :

+ CaCl2 (aq)
HIn-

CaIn-
merah anggur

Dipilih indicator EBT dikarenakan indikator tersebut peka dengan ion logam
(indikator logam) yang mengandung jenis-jenis gugusan gugusan sepit dan umumnya
memiliki system resonansi yang khas pada zat warna dan membentuk kompleks
dengan ion logam khusus (tergolong indikator metallochomic). Kompleks warna ini
berbeda warnanya dengan indikator bebasnya yang membuat terjadi perubahan warna
yang mendadak pada titik ekivalen. Kompleks logam-indikator kurang stabil
dibandingkan dengan kompleks logam-EDTA untuk menjamin pada titik akhir titrasi,
EDTA dapat memindahkan ion-ion logam dari kompleks indikatorlogam itu.
Kemudian larutan dititrasi dengan larutan Na-EDTA (jernih, tak berwarna)
yang terdapat pada buret. Titrasi dilakukan tetes demi tetes dan dengan pengocokan
selama larutan standar ditambahkan agar reaksi berlangsung secara sempurna. Terjadi
perubahan warna dari merah anggur menjadi biru. Hal tersebut dikarenakan kompleks
CaIn- (kompleks Ca dengan EBT) lebih lemah daripada kompleks CaY 2- (komplek
Ca dalam EDTA) sehingga kelebihan EDTA akan merebut Ca dari CaIn untuk
menjadi Ca2+ yang selanjutnya membentuk kompleks dengan EDTA yaitu kompleks
CaY2-. Sedangkan EBT (HIn-) akan kembali terbentuk seperti semula yaitu HIn2- yang
berwarna biru, sehingga menyebabkan pada titik akhir titrasi ini larutan menjadi
berwarna biru. Persamaannya reaksinya adalah sebagai berikut:
+

CaIn-
merah anggur
EDTA

+ In3-

CaH2Y
(Ca-EDTA)

In3- + H2O HIn -+ OH-


biru
Dilakukan pengulangan titrasi sebanyak tiga kali. Pengulangan tiga kali
tersebut bertujuan untuk mendapatkan ketelitian data yang lebih akurat. Volume Na-
EDTA yang dibutuhkan berturut turut adalah1,8 mL; 1,9 mL; 1,7 mL;. Kesadahan
total (CaCO3 gram / L )dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
. . .
Kesadahan total (CaCO3 gram / L ) = ()

Dan diperoleh kesadahan total dalamAir PDAM berturut turut 270gram/L;


285gram/L; 255gram/L dengan rata rata kesadahan total 270gram/L.
DalamPeraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
416/MENKES/PER/IX/1990 Tanggal : 3 September 1990 dalam daftar persyaratan
kualitas air bersih, batas maksimum kesadahan air adalah 500 mg/L sehingga air
PDAM yang digunakan masih layak digunakan dalam aktivitas sehari hari.
Menurut Winarno (1986) lembaga air berdasarkan tingkat kesadahannya ada 4
sebagai berikut
Tabel 1. Jenis kesadahan (Winarno, 1986)
Jenis air mg/L (Pam) CaCO3
Air lunak 50
Air agak sadah 50 -100
Air sadah 100 200
Air sangat sadah > 200

Berdasarkan hasil penentuan kesadahan yang kita dapatkan diperoleh jenis air
PDAM yang diteliti memiliki tingkat kesadahan jenis air sangat sadah dengan batas
bawah >200. Tetapi masih dalam batas aman yang di instruksikan Menteri Kesehatan
Republik IndonesiaNomor : 416/MENKES/PER/IX/1990 Tanggal : 3 September
1990.
X. Kesimpulan
1. Penentuan (standarisasi) larutan Na-EDTA diperoleh konsentrasi Na-EDTA
sebesar 0,01 N. Dalam penentuan standarisasi larutan Na-EDTA salah satunya
dapat digunakan larutan CaCl2 sebagai larutan baku dengan didasarkan pada
titrasi pengompleksan.
2. Kesadahan total air PDAM dari Jambangan, Surabaya didapatkan kesadahan
total rata-rata sebesar 270 ppm, dan tergolong ke dalam kesadahan total agak
tinggi (agak keras). Kesadahan total dengan kriteria agak tinggi (agak keras)
yaitu sebesar 12-18 dH, atau 210-320 ppm.
XI. Jawaban Pertanyaan
Titrasi pengomplekan
1. Carilah rumus kimia Na-EDTA, Hitam Eriokrom T!
2. Berapa konsentrasi larutan CaCl2 jika dinyatakan dengan ppm CaCO3?
3. Bagaimana cara membuat larutan buffer (penyangga) ammonia + ammonia
klorida dengan pH 10? Tunjukkan dengan perhitungan!
Jawaban :
1. a. Rumus kimia Na-EDTA:

b. Rumus kimia Hitam Eriokrom T

2. Diketahui :

m CaCO3 = 0,0803gram = 80,3 mg

m air = 100 mL = 0,1 L

Ditanya = ppm CaCO3...?

Jawab: CaCO3 CaCl2

CaCO3 mg
L

CaCO3 80,3 mg
0,1 L
CaCO3 803 ppm
3. NH3 + HCl NH4Cl
Cara pembuatan larutan buffer adalah dengan mereaksikan NH3 dengan HCl
yang nantinya akan menghasilkan NH4Cl.

Perhitungan :

pH =14-pOH

pOH = 14-pH

= 14-10

=4

basa
OH K . garam

b

10-4 = Kb.
basa
garam

basa
10 4
garam 1,8 x10 5

basa 5,5556garam
Larutan buffer dibuat dengan menggunakan perbandingan jumlah konsentrasi basa
dengan konsentrasi garam

Aplikasi Titrasi Pengompleksan


1. Mengapa pH larutan merupakan factor penting dalam pemilihan suatu indicator
untuk titrasi khelometrik?
2. Suatu contoh air 100 mL mengandung ion-ion Ca2+ dan Mg2+ dititrasi dengan
EDTA 15,28 mL 0,01016 M dalam suatu buffer amoniak pH 10. Suatu contoh
lain 100 mLdititrasi dengan NaOH untuk mengendapkan Mg(OH)2 dan
kemudian dititrasi pada pH 13 dengan 10,43 mL larutan EDTA yang sama.
Hitung berapa ppm CaCO3 dan MgCO3 dalam contoh?
Jawaban :

1. Pemilihan indikator terkait dengan penggunaaan pH, karena dibutuhkan


indikator yang dapat renponsif terhadap pMg, pCa, pCu, dan p yang lainnya,
dan karena indikator tersebut harus dapat melepaskan ion metal pada EDTA
apda sebuah nilai pM yang amat dekat dengan nilai pM pada titik ekivalen.
2. Diketahui : V air = 100mL
V EDTA = 15,28mL
M EDTA = 0,0106M
pH=10
Ditanya : ppm CaCO3 dan MgCO3 ?
Jawab :
mmol air = mmol EDTA
= 15,28x0,01016
= 0,1552 mmol
Mg CaCO3 = mmol air x Mr CaCO3
= 0,1552 x 100
= 15,5200 mg

ppm = 155,2000 mg
L
mmol air = mmol EDTA
= 10,43 x 0,01016
= 0,1059 mmol
gr
mmol MgCO3 =
Mr
gr = 0,1059 x 84 = 8,90148 mg

ppm = 89,0148 mg
L
XII. Daftar Pustaka
Basset,J.et al.1994.Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Edisi ke-4.
Jakarta:Buku Kedokteran EGC.
Day, R. A, and Underwood. A.L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi
ke-6. Jakarta : Erlangga.
Harjadi, W.1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT. Gramedia.
Khopkar, S.M.1990. KONSEP DASAR KIMIA ANALITIK. Penerbit : UI Press.
PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/1990.
Tentang Syarat-Syarat Dan Pengawasan Kualitas Air. MENTERI
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA.
Pudjaatmaka, A. Hadyana. 2002. Kamus Kimia. Jakarta : Balai Pustaka .
Poedjiastoeti, Sri, dkk.2016.Panduan Praktikum Kimia Analitik I Dasar Dasar Kimia
Analitik.Surabaya:Jurusan Kimia FMIPA UNESA.
Resthy. 2011. Laporan Akhir Kesadahan. Online :
http://perutbuncitmeletus.blogspot.com/2011/10/laporan-akhir-kesadahan.html
diakses pada tanggal 10 November 2017
RETNOWATI, RESTU AYU SELLA. 2015. Pengembangan Prototype Alat Ion
Exchanger Berbasis Karbon Aktif untuk Pengolahan Air Sanitasi DIII Teknik
Kimia (Ion Exchanger Prototype Development Tool Based Activated Carbon
for Water Treatment Sanitation DIII Chemical Engineering). Undergraduate,
Undip.
Roth,Herman J. 1988. Analisis Farmasi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Winarno,F. G. 1986. Air Untuk Industri Pangan. Jakarta: PT. Gramedia.
PERHITUNGAN

Standarisasi larutan Na-EDTA

Massa CaCO3 = 0,0811 gram


Mr CaCO3 = 100 g/mol
V CaCO3 = 10 mL
V1 = 5,4 L
V2 = 5,5 L
V3 = 5,3 L
5,4 + 5,5 + 5,3
= = 5,4
3

1000
MCaCO3 =

0,0811 1000
=
100 100

= 0,0811
Titrasi I
(CaCO3) V1.M1 = V2.M2 (Na-EDTA)

10 x 0,0811= 5,4 x M2
0,0811 10
M2 = = 0,050
5,4

M2 = 0,050 M
Titrasi II
(CaCO3) V1.M1 = V2.M2 (Na-EDTA)
10 x 0,0811= 5,5 x M2
0,0811 10
N2 = 5,5
= 0,0147

M2 = 0,0147 M
Titrasi III
(CaCO3) V1.M1 = V2.M2 (Na-EDTA)
10 x 0,0811= 5,3 x M2
0,0811 10
M2 = = 0,0153
5,3

M2 = 0,0153 M
0,0150+0,0147+0,0153
M rata rata = = 0,015
3
Menentukan kesadahanair PDAM

V1 = 1,8 L
V2 = 6,2 L
V3 = 6,2 L
Percobaan 1
(Na-EDTA) V1.M1 = V2.M2 (sampel)
0,015 M x 1,8 mL = M2 x 10 mL
0,015 1,8
M2 = 10

= 2,7 x 10-3 M
Massa = M .V. Mr
2,7 103 . 10 . 100
=
1000
= 2,7 103 = 2,7
2,7
= = 270
0,01
Percobaan 2
(Na-EDTA) V1.M1 = V2.M2 (sampel)
0,015 M x 1,9 mL = M2 x 10 mL
0,015 1,9
M2 = 10

= 2,85 x 10-3 M
Massa = M .V. Mr
2,85 103 . 10 . 100
=
1000
= 2,85 103 = 2,85
2,85
= = 285
0,01

Percobaan 3
(Na-EDTA) V1.M1 = V2.M2 (sampel)
0,015 M x 1,7 mL = M2 x 10 mL
0,015 1,7
M2 = 10

= 2,55 x 10-3 M
Massa = M .V. Mr
2,55 103 . 10 . 100
=
1000
= 2,55 103 = 2,55
2,55
= = 255
0,01
Ppm rata rata
270 + 285 + 255
=
3
= 270 ppm
DOKUMENTASI
NO GAMBAR KETERANGAN
1. Menimbang CaCO3 menggunakan neraca
analitis

2. Dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml


dan ditambah air 10-20 ml

3. Ditambah HCl 1:1 setetes demi setetes


sampai gelagak gas yang terjadi berhenti

4. Diencerkan dengan air sampai tanda batas

5. Dipipet 10 ml larutan CaCl2 menggunakan


pipet gondok
6. Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml

7. Ditambahkan 5 ml larutan buffer pH 10

8. Ditambahkan 3 tetes indikator EBT

9. Larutan CaCl2 mengalami perubahan


warna setalah ditambah indikator EBT

10. Dititrasi dengan larutan Na-EDTA 0,01 M


11. Titrasi dihentikan ketika terjadi perubahan
warna dari warna merah anggur menjadi
warna biru

12. Dicatat volume Na-EDTA yang digunakan


titrasi dan ulangi titrasi sebanyak 3 kali

13. 10 ml air PDAM dimasukkan kedalam


Erlenmeyer 250 ml

14. Ditambahkan 2 ml larutan buffer pH 10


15. Ditambahakan 3 tetes indikator EBT

16. Terjadi perubahan warna setelah ditetesi


indikator EBT

17. Dititasi dengan Na-EDTA sampai larutan


berubah menjadi warna biru

18. Titrasi dihentikan saat terjadi perubahan


warna dari warna merah anggur menjadi
warna biru

19. Dicatat volume Na-EDTA yang digunakan


titrasi dan ulangi titrasi sebanyak 3 kali