Anda di halaman 1dari 10

PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DALAM MENDUKUNG

PELAKSANAAN GOOD GOVERNANCE DI INDONESIA

A. Lukman Irwan, SIP


Staf Pengajar Ilmu Pemerintahan Fisip UNHAS

Abstraksi

Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana pelaksanaan otonomi daerah dalam kaitannya
dengan implementasi good governance di Indonesia. Pelaksanaan pemerintahan daerah yang
melibatkan partisipasi masyarakat luas memungkinkan terciptanya pemerintahan daerah yang
demokratis dalam rangka menuju pada pemerintahan yang baik (good governance). Dalam
teori dan praktek pemerintahan modern diajarkan bahwa untuk menciptakan the good
governance perlu dilakukan desentralisasi pemerintahan. Berdasarkan hasil pengamatan maka
dapat dilihat bahwa terdapat beberapa elemen penting dari otonomi daerah yang perlu
diperhatikan dalam kaitannya dengan upaya pencapaian kepemerintahan yang baik (good
governance), diantaranya adalah: 1. Otonomi berhubungan erat dengan demokratisasi
(khususnya grass roots democracy), 2. Dalam otonomi terkandung makna self-initiative untuk
mengambil keputusan dan memperbaiki nasib sendiri, 3. Karena dalam konsep otonomi
terkandung kebebasan dan kemandirian masyarakat daerah untuk mengambil keputusan dan
berprakarsa, berarti pengawasan atau kontrol dari pemerintah pusat tidak boleh dilakukan
secara langsung yang dapat mengurangi kebebasan masyarakat daerah, atau menjadikan
beban bagi daerah, 4. Daerah otonom harus memiliki power (termasuk dalam sumber-sumber
keuangan) untuk menjalankan fungsi-fungsinya, memberikan pelayanan publik serta sebagai
institusi yang mempunyai pengaruh agar ditaati warganya, 5. Dalam pelaksanaannya, otonomi
daerah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor intern, akan tetapi juga faktor ekstern.

GOOD GOVERNANCE & OTONOMI sendiri, yang berarti pengambilan


DAERAH keputusan sendiri dan pelaksanaan
Inti otonomi daerah adalah kebebasan sendiri kepentingan masyarakat
masyarakat setempat untuk mengatur setempat. Dengan demikian demokrasi,
dan mengurus kepentingan sendiri yang yaitu pemerintahan dari, oleh dan untuk
bersifat lokalitas untuk terselenggara- rakyat dapat dicapai. Rakyat tidak saja
nya kesejahtera-an. Dalam otonomi menentukan nasibnya sendiri, melainkan
terdapat nilai yang hakiki, yakni nilai juga memperbaiki nasibnya sendiri.
demokrasi dan prakarsa sendiri. Menurut Pelaksanaan pemerintahan daerah yang
Moh. Hatta, otonomisasi tidak saja melibatkan partisipasi masyarakat luas
berarti melaksanakan demokrasi, tetapi memungkinkan terciptanya pemerinta-
mendorong berkembangnya prakarsa han daerah yang demokratis dalam
90 Government: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, Vol. 1 No.1, Juli 2008

rangka menuju pada pemerintahan yang atau kontrol dari pemerintah pusat
baik (good governance). Dalam teori dan tidak boleh dilakukan secara
praktek pemerintahan modern diajarkan langsung yang dapat mengurangi
bahwa untuk menciptakan the good kebebasan masyarakat daerah, atau
governance perlu dilakukan desentra- menjadikan beban bagi daerah.
lisasi pemerintahan. Good governance 4. Daerah otonom harus memiliki power
menunjuk pada proses pengelolaan (termasuk dalam sumber-sumber
pemerintahan melalui keterlibatan keuangan) untuk menjalankan
stakeholders yang luas dalam bidang- fungsi-fungsinya, memberikan
bidang ekonomi, sosial, dan politik serta pelayanan publik serta sebagai
pendayagunaan sumber daya alam, institusi yang mempunyai pengaruh
keuangan dan manusia untuk kepenti- agar ditaati warganya.
ngan semua pihak, yakni pemerintah, 5. Dalam pelaksanaannya, otonomi
pihak swasta dan rakyat dalam cara daerah tidak hanya dipengaruhi oleh
yang sesuai dengan prinsip-prinsip faktor intern, akan tetapi juga faktor
keadilan, kejujuran, persamaan, ekstern.
efisiensi, transparansi, dan akunta- Dapat dikatakan bahwa good governance
bilitas. Good governance merupakan menunjuk pada proses pengelolaan
kecenderungan global dan tuntutan pemerintahan melalui keterlibatan
dalam sistem politik yang demokratis. stakeholders yang luas dalam bidang
Terdapat beberapa elemen penting dari ekonomi, sosial dan politik suatu negara
otonomi daerah yang perlu diperhatikan dan pendayagunaan sumber daya alam,
dalam kaitannya dengan upaya keuangan dan manusia menurut
pencapaian kepemerintahan yang baik kepentingan semua pihak dengan cara
(good governance), diantaranya adalah: yang sesuai dengan prinsip-prinsip
1. Otonomi berhubungan erat dengan keadilan, kejujuran, persamaan,
demokratisasi (khususnya grass roots efisiensi, transparansi dan akuntabilitas.
democracy). Good governance merupakan prinsip
2. Dalam otonomi terkandung makna penyelenggaraan pemerintahan yang
self-initiative untuk mengambil universal, karena itu harusnya
keputusan dan memperbaiki nasib diterapkan dalam penyelenggaraan
sendiri. pemerintahan di Indonesia, baik di
3. Karena dalam konsep otonomi tingkat pusat maupun di tingkat daerah.
terkandung kebebasan dan Upaya menjalankan prinsip-prinsip good
kemandirian masyarakat daerah governance perlu dilakukan dalam
untuk mengambil keputusan dan penyelenggaraan pemerintahan di
berprakarsa, berarti pengawasan Indonesia. Apalagi dengan telah
A. Lukman Irwan, Pelaksanaan Otonomi Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Goodvernance di Indonesia 91

diundangkannya Undang-Undang No. 32 Lembaga Administrasi Negara (LAN),


Tahun 2004 tentang Pemerintahan termasuk Sekolah Tinggi Ilmu
Daerah dan Undang-Undang No. 33 Administrasi - Lembaga Administrasi
Tahun 2004 tentang Perimbangan Negara (STIA LAN Jakarta), LSM yang
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan ada di Jakarta (CIDES, INDEF, LP3ES,
Daerah. CSIS), Perguruan Tinggi di Jakarta,
Bekasi dan Bandung menghasilkan
TEMUAN HASIL PENELITIAN beberapa temuan.
Upaya untuk menegakkan good Pertama,penelitian-penelitian mengenai
governance dapat dilakukan dengan pemerinta-han daerah selalu dilakukan
berbagai cara. Diperlukan penelitian setiap tahun kecuali tahun 1990,
mengenai sejauhmana pemerintah meskipun tidak semua institusi
daerah melaksana-kan prinsip-prinsip melakukannya. Data memperlihatkan
good governance dalam penyelengga- bahwa setiap tahun terdapat penelitian
raan pemerintahannya. Hingga saat ini mengenai salah satu atau beberapa
penelitian mengenai pemerintahan aspek pelaksanaan otonomi daerah,
daerah telah dilakukan oleh berbagai meskipun jumlah penelitian yang
instansi maupun lembaga, baik lembaga dilakukan berfluktuasi, dan instansi atau
penelitian milik pemerintah (Badan lembaga yang melakukan juga berganti-
Litbang), LSM, maupun dunia pendidikan ganti. Kondisi ini memperlihatkan bahwa
tinggi (universitas, institut, sekolah terdapat perhatian yang cukup besar
tinggi, dsb). Secara normatif penelitian- dari masyarakat mengenai
penelitian yang dilakukan berupaya permasalahan-permasalahan yang
menjawab berbagai persoalan yang dihadapi oleh pemerintah daerah dalam
dihadapi dalam penyelenggaraan pelaksanaan pemerintahan di daerah.
pemerintahan. Penelitian-penelitian Penelitian-penelitian yang dilakukan
juga dilakukan dengan berbagai dapat dianggap sebagai kontribusi dari
perspektif dan metodologi, serta masyarakat terhadap upaya pemecahan
menghasilkan berbagai temuan. masalah-masalah yang dihadapi pemda
Hasil-hasil penelitian mengenai dalam penyelenggaraan pemerintahan
pemerintahan daerah yang dikumpulkan daerah.
dari beberapa lembaga yang dipandang Kedua, penelitian-penelitian mengenai
memiliki konsern dengan permasalahan- pemerintahan daerah lebih banyak
permasalahan mengenai pemerintahan dilakukan oleh kalangan perguruan
daerah, seperti Badan Penelitian dan tinggi dibandingkan oleh institusi-
Pengembangan Departemen Dalam institusi lainnya. Kondisi ini
Negeri (Balitbang Depdagri), Lembaga memperlihatkan bahwa perhatian
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kalangan perguruan tinggi sebagai suatu
92 Government: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, Vol. 1 No.1, Juli 2008

institusi ilmiah mengenai permasalahan- urgen atau paling menarik perhatian.


permasalahan pemerintahan daerah Secara lebih khusus, perhatian terlihat
lebih besar dibanding-kan dengan lebih terpusat pada masalah-masalah
perhatian dari kalangan non perguruan yang dihadapi pemda dalam upaya
tinggi lainnya. Hasil-hasil penelitian meningkatkan pendapatan daerahnya,
mengenai pemerintahan daerah yang seperti peningkatan pendapatan dari
dilakukan oleh perguruan tinggi berbagai jenis pajak daerah dan
merupakan kontribusi yang berharga retribusi daerah, peningkatan peran
dari dunia perguruan tinggi terhadap BUMD dan sebagainya.
upaya menjawab permasalahan- Keempat, penelitian-penelitian
permasalahan yang dihadapi mengenai mengenai pemda lebih banyak dilakukan
pemerintahan daerah. Karena itu dalam upaya menghasilkan karya ilmiah
sebenarnya pemda dapat mengambil yang berupa skripsi, tesis dan disertasi,
manfaat yang cukup besar dari sebagai syarat dalam penyelesaian studi
penelitian-penelitian yang telah pada jenjang akademik tertentu.
dilakukan tersebut dalam upaya Kondisi ini memperlihat-kan bahwa
mengatasi berbagai persoalan yang permasalahan-permasalahan mengenai
dihadapinya. Namun demikian, karena pemerintahan daerah merupakan objek
hasil-hasil penelitian yang dilakukan penelitian yang dianggap menarik dan
oleh perguruan tinggi umumnya tidak dianggap penting untuk dikaji secara
dipublikasikan secara luas maka ilmiah oleh mahasiswa dan kalangan
rekomendasi yang dihasilkan tidak akademik lainnya. Pengkajian secara
sampai kepada pemerintah baik di ilmiah permasalahan-permasalahan
tingkat pusat maupun di tingkat daerah, tersebut memiliki manfaat baik pada sisi
apalagi ditindaklanjuti. teoritis maupun praktis. Pada sisi
Ketiga, isu mengenai keuangan terlihat teoritis penelitian mengenai
menjadi isu yang paling banyak menjadi pelaksanaan otonomi daerah yang
objek kajian dalam penelitian-penelitian dilakukan kalangan akademisi di
mengenai pemerintahan daerah. Hal ini samping dapat memberikan kontribusi
memperlihatkan bahwa perhatian bagi kalangan akademik sendiri pada
terhadap masalah-masalah keuangan khususnya, juga dapat memperkaya
lebih menarik perhatian dari para kepustakaan atau literatur mengenai
peneliti mengenai pemerintahan pelaksanaan otonomi daerah dalam
daerah. Lagipula, isu keuangan daerah konteks negara berkembang seperti
memiliki cakupan permasalahan yang Indonesia sehingga juga memberikan
sangat luas sehingga para peneliti dapat kontribusi bagi perkembangan teori-
memilih sub isu yang dianggap paling teori pemerintahan daerah. Sedangkan
A. Lukman Irwan, Pelaksanaan Otonomi Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Goodvernance di Indonesia 93

manfaat praktisnya adalah dapat perhatian dalam hal ini lebih terfokus
digunakannya hasil-hasil penelitian oleh pada bagaimana upaya untuk
berbagai kalangan yang terkait dengan melaksanakan pemerintahan daerah
pemerintahan daerah, khususnya dalam atas dasar peraturan perundang-
menjawab tantangan-tantangan praktis undangan yang berlaku, baik dalam
yang dihadapi di lapangan. konteks peningkatan peran pemda,
Kelima, beberapa institusi secara implementasi peraturan, pembinaan,
konsisten menjadikan permasalahan- pengelolaan, peningkatan pendapatan
permasalahan yang dihadapi oleh pemda asli daerah, dan sebagainya.
sebagai bidang kajian dalam penelitian. Pelaksanaan desentralisasi dalam hal ini
Institusi-institusi yang secara konsisten masih dipahami dari persepsi
memberikan perhatian terhadap pemerintah pusat, yang menganggap
masalah-masalah pelaksanaan otonomi bahwa desentralisasi merupakan
daerah diantaranya adalah Balitbang instrumen dalam pelaksanaan tugas-
Depdagri, Unisma, IIP dan UI. Kondisi ini tugasnya di daerah agar lebih efisien.
memperlihat-kan bahwa terdapat Lebih dari itu, desentralisasi juga
institusi-institusi tertentu, terutama digunakan sebagai instrumen untuk
lembaga penelitian dan perguruan melakukan kontrol kepada pemerintah
tinggi, yang terus menerus memberikan daerah melalui berbagai cara. Oleh
perhatian mengenai masalah-masalah karena itu, posisi daerah masih
pemerintahan daerah. Perhatian yang ditempatkan sebagai bawahan
terus menerus mengenai permasalahan- pemerintah pusat dan me-rupakan
permasa-lahan pemda dari kalangan perpanjangan tangan peme-rintah
perguruan tinggi tertentu akan sangat pusat. Kecenderungan pelaksanaan
berguna dalam upaya menelusuri jejak desentralisasi dengan penyera-han
perjalanan atau perkembang-an sebagian tugas pemerintah pusat kepada
pemerintahan daerah dari dahulu hingga pemerintah daerah tanpa dibarengi
sekarang. dengan penyerahan kewenangan untuk
Keenam, perkembangan penelitian yang mengambil keputusan mengenai tugas
dilakukan mengenai pemerintahan tersebut merupakan bukti bahwa
daerah di Indonesia sebagaimana kepentingan pemerintah pusat masih
dikemukakan sebelumnya mengindikasi- terlalu kental mewarnai penyelengga-
kan gambaran arah perhatian terhadap raan pemerintahan di daerah. Karena
masalah-masalah pemerintahan daerah itu pelaksanaan desentralisasi atau
di Indonesia lebih terfokus. Penelitian- otonomi daerah di samping menjadi hak
penelitian yang dilakukan terhadap isu- namun juga masih dipandang sebagai
isu tertentu mengenai pemerintahan kewajiban bagi daerah, yakni kewajiban
daerah memperlihatkan bahwa pusat untuk turut bertanggung jawab men-
94 Government: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, Vol. 1 No.1, Juli 2008

sukseskan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan peran pemerintah


telah diambil oleh pemerintah pusat. pusat terhadap daerah, pelaksanaan
Ketujuh, hasil-hasil penelitian mengenai peraturan perundang-undangan yang
pemerintahan daerah yang dapat dibuat oleh pemerintah pusat, dan hal-
dikumpul-kan memberikan gambaran hal yang semacam itu. Dikeluarkannya
betapa penggunaan power atau UU No. 22 tahun 1999 sebenarnya
kekuasaan lebih diutamakan dalam menunjukkan terjadinya pergeseran
pelaksanaan pemerintah-an daerah penyelenggaraan pemerintahan di
meskipun terdapat azas desentralisasi daerah dari lebih menitikberatkan
atau otonomi, daripada upaya untuk penggunaan kekuasaan pemerintah
meningkatkan pelayanan kepada pusat terhadap daerah ke arah
masyarakat maupun peningkatan peningkatan pelayanan kepada
partisipasi masyarakat secara lebih luas masyarakat dan peningkatan partisipasi
terhadap jalannya pemerintahan di masyarakat. Namun demikian, karena
daerah. Sebaliknya, perhatian terhadap UU tersebut secara efektif baru
upaya peningkatan pelayanan kepada dilaksanakan pada tahun 2001 maka ada
masyarakat maupun peningkatan tidaknya pergeseran fokus perhatian
partisipasi masyarakat cenderung dari penggunaan power menjadi
dikesampingkan dalam pelaksanaan peningkatan pelayanan dan partisipasi
desentralisasi pemerintahan. Dikaitkan masyarakat masih belum dapat dibaca
dengan tujuan pelaksanaan secara jelas melalui penelusuran
desentralisasi secara teoritis, penelitian-penelitian yang telah
tampaknya tujuan pelaksanaan dilakukan. Namun demikian, dari hasil
desentralisasi di Indonesia lebih dititik penelitian yang dapat dikumpulkan,
beratkan pada tujuan administratif, diperoleh indikasi awal bahwa
yakni dalam rangka melaksanakan tugas- pergeseran fokus perhatian ke arah itu
tugas pemerintah pusat secara lebih telah mulai terjadi.
efisien, daripada tujuan politis, yakni Kedelapan, dikaitkan dengan upaya
dalam rangka pendidikan politik bagi penegakan lokal good governance yang
seluruh rakyat dan sebagai arena bagi dicirikan oleh penyelenggaraan
politisi lokal untuk berkiprah di tingkat pemerintahan yang akuntabel,
nasional. Dalam kaitan ini hasil-hasil transparan, dan partisipatif terlihat
penelitian yang dilaksanakan mengenai bahwa perkembangan penelitian
pelaksanaan otonomi daerah selama ini mengenai pelaksanaan Otonomi Daerah
memperlihatkan pula kondisi tersebut. dari tahun ke tahun masih belum banyak
Fokus penelitian diletakkan pada upaya mengangkat isu atau permasalahan
pengkajian berbagai permasalahan yang mengenai pelaksanaan pemerintahan
A. Lukman Irwan, Pelaksanaan Otonomi Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Goodvernance di Indonesia 95

yang baik (good governance) dalam mengindikasikan bahwa isu mengenai


penyelenggaraan pemerintahan daerah. good governance telah mulai muncul
Hal ini mengindikasi-kan bahwa dan menjadi perhatian bagi para
perhatian terhadap penyelengga-raan akademisi maupun peneliti. Dari
pemerintahan yang baik (good identifikasi yang dilakukan dari seluruh
governance) masih belum cukup luas hasil penelitian yang berhasil
berkembang dan dipahami secara baik dikumpulkan terdapat beberapa
oleh lembaga-lembaga maupun kalangan penelitian yang telah mengangkat isu
akademisi di perguruan tinggi, karena good governance sebagai objek kajian,
gagasan mengenai good governance baru meskipun penelitian tersebut tidak
populer pada tahun 1995. Di samping itu mengkaji permasalahannya dalam
juga karena kondisi politik pada akhir konteks yang secara langsung berkaitan
tahun 1990-an belum cukup kondusif dengan penyelenggaraan good
untuk melakukan penelitian terhadap governance.
masalah-masalah good governance Dikaitkan dengan ciri-ciri good
tersebut. Terdapat beberapa faktor governance, hasil-hasil penelitian
yang menyebabkannya, pertama, karena mengenai pelaksanaan otonomi daerah
masih sangat kuatnya kekuasaan rejim selama sepuluh tahun terakhir di
yang sedang berkuasa saat itu sehingga samping dapat dikategorikan
isu-isu mengenai good governance masih berdasarkan bidangnya juga dapat
berada pada tataran wacana publik yang dikategorikan pada penelitian yang
terbatas gaungnya. Kedua, masih mendukung good governance dan
lemahnya posisi masyarakat sipil penelitian yang tidak mendukung good
termasuk LSM dan DPRD dalam governance. Penelitian yang
berhadapan dengan eksekutif atau rejim mengangkat isu akuntabilitas,
yang berkuasa saat itu. Ketiga, belum transparansi, partisipasi dan pelayanan
terbentuknya masyarakat madani (civil masyarakat dikategorikan sebagai
society) sebagai salah satu prasyarat penelitian yang mendukung good
bagi terselenggaranya good governance governance, sedangkan penelitian
tersebut. Karena itu kemudian lainnya dimasukkan pada kategori tidak
pengkajian terhadap isu-isu good mendukung good governance.
governance meski telah mulai muncul Pada umumnya hasil penelitian tentang
namun masih terbatas pada kalangan pelaksanaan otonomi daerah belum
akademisi dan kurang mampu sepenuhnya mendukung terciptanya
membentuk opini publik. Namun good governance. Penelitian yang ada
perhatian terhadap hal itu juga bukan hanya pada tataran wacana yang tingkat
tidak ada sama sekali. Setidaknya aplikasinya belum dilaksanakan. Hal ini
terdapat beberapa penelitian yang disebabkan oleh perangkat peraturan
96 Government: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, Vol. 1 No.1, Juli 2008

perundang-undangan (UU No 5 tahun terlihat lebih spesifik dan terfokus


1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan dibandingkan dengan permasalahan yang
di Daerah) yang didasarkan pada dirumuskan oleh penelitian yang
kepentingan pemerintah secara sepihak. dilakukan oleh lembaga. Demikian pula,
Akibatnya pihak masyarakat belum metode penelitian yang diterapkan oleh
tersentuh dalam tataran aplikasinya kalangan akademisi terlihat lebih jelas
baik dalam perencanaan, pelak-sanaan dibandingkan dengan metode penelitian
maupun evaluasi pelaksanaan yang diterapkan kalangan lembaga.
pemerintahan daerah. Penelitian yang Dilihat dari analisis yang dilakukan,
ada lebih memfokuskan pada kepenting- kalangan akademisi terlihat lebih kritis
an pemerintah. Hal ini disebabkan dalam melakukan analisis dibandingkan
karena dua hal. Pertama, keterlibatan dengan kalangan lembaga. Hal ini
peneliti baik secara langsung maupun diduga karena permasalahan penelitian
tidak dalam pelaksanaan pemerintahan, yang lebih spesifik, dukungan sumber
sehingga memudahkan data penelitian. kepustakaan yang lebih lengkap,
Kedua, sikap preventif dan represif dari maupun karena kemampuan analisis
pemerintah berkuasa, menutup diri yang lebih tinggi antara kalangan
terhadap kemungkinan terbukanya akademisi dibandingkan dengan peneliti
kekurangan-kekurangan pelaksanaan dari lembaga penelitian, khususnya
pemerintahan daerah. Gagasan good lembaga penelitian yang bernaung di
governance kelihatannya kurang bawah institusi pemerintahan.
terperhati-kan dalam penelitian yang Kurangnya perhatian terhadap masalah-
dilakukan oleh lembaga-lembaga yang masalah pelaksanaan good governance
berminat meneliti tentang masalah di daerah selama ini memberikan
otonomi daerah. Akibatnya hasil peluang bagi dilakukannya penelitian
penelitian yang ada belum menyentuh yang lebih banyak dan lebih intensif
substansi good governance. mengenai good governance dimasa yang
Kesembilan, bila dibandingkan, hasil- akan datang. Hal ini sejalan dengan
hasil penelitian-penelitian yang implementasi otonomi daerah yang
dilakukan baik oleh kelompok birokrasi, dimulai pada tanggal 1 Januari 2001,
kelompok peneliti lembaga, dengan yang meletakkan titik berat
kelompok akademisi, perbedaan yang penyelenggaraan pemerintahan daerah
menonjol terdapat pada permasalahan kepada pemerintah daerah dan
yang diangkat dalam penelitian dan masyarakat daerah. Implementasi
hasil analisis serta temuan penelitian otonomi daerah memberikan peluang
yang dihasilkan. Permasalahan yang sangat luas bagi penerapan prinsip-
penelitian dari kalangan akademisi prinsip good governance dalam
A. Lukman Irwan, Pelaksanaan Otonomi Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Goodvernance di Indonesia 97

penyelenggaraan pemerintahan daerah. 2. Pantius D Soeling 2007, Pem


Karena itu penelitian mengenai prinsip- berdayaan SDM untuk peningkatan
prinsip good governance seperti pelayanan, dalam Bisnis Birokrasi
transparansi, akuntabilitas, partisipasi No. 2/Vol III/Agustus/2007.
dan pelayanan masih sangat 3. Azhar Kasim 1999, Pengukuran
memungkinkan untuk dilakukan pada Efektifitas dalam Organisasi,
masa yang akan datang. Topik-topik Lembaga Penerbit FEUI bekerjasama
kajian yang dapat dijadikan sebagai dengan Pusat antar universitas Ilmu-
agenda pada penelitian-penelitian ilmu Sosial UI.
berikutnya dapat mengaitkan upaya 4. Harian Umum Republika edisi 22
pencapaian good governance dalam November 2005, 10 Januari 2006, 9
penyelenggaraan pemerintahan di Maret 2006 dan 20 Maret 2007.
daerah (dengan ciri transparansi, 5. UU No. 32 tahun 2004 tentang
akuntabilitas, partisipasi dan pelayanan) Pemerintahan Daerah dan UU No. 33
dengan upaya pemanfaatan sumber daya tahun2004.
daerah untuk menciptakan daya saing 6. Martani Huseini, 2004 Penyusunan
daerah yang berkelanjutan pada masa Strategi Pelayanan Prima dalam
yang akan datang. suatu perspektif Reengineering,
dalam Bisnis dan Birokrasi. No.
DAFTAR PUSTAKA 3/Vol IV/September 2004
1. Amy Y.S. Rahayu, 2006, Fenomena
Sektor Publik dan Era Service
Quality, dalam Bisnis dan Birokrasi
No. 1/Vol. III/April/2006.
98 Government: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, Vol. 1 No.1, Juli 2008