Anda di halaman 1dari 3

Shahifah Fathimiyah; Ilmu Yang Lalu Dan Yang Akan

Datang


Rahbar Ayatullah al-Uzhma Sayid Ali Khamenei

Beliau duduk bersama orang yang bergaul dengannya.

Menyampaikan tentang rahasia spiritual yang ada dalam shahifah Fathimah dan mereka menulis
dan dijadikan sebagai sebuah buku yang distempel dan di sisi para imam maksum as seperti
sebuah warisan yang berharga dan mengalihkannya dari tangan ke tangan dan mengatakan
bahwa ini adalah warisan Fathimah as. Salah satu dari warisan Sayidah Fathimah as adalah
shahifah Fathimah as.

Di dalamnya, sebagaimana yang saya lihat dalam sebagian riwayat dari Imam Shadiq dan
sebagian yang lainnya dari para imam maksum mencakup apa ilmu yang lalu dan yang akan
datang. Semua pengetahuan spiritual terkait manusia ada dalam kitab ini. Di dalamnya ada
tulisan Fathimah Zahra as. Ini juga kedudukan spiritual dan makrifatnya. Pengetahuannya adalah
sebuah keberadaan beberapa sisi dan setiap sisinya dalam kadar sempurna. (Dalam seminar
peran wanita di tengah-tengah masyarakat di universitas Tarbiyat Moallem, 10/12/1364)

Khutbah Dari Guru Besar

Fathimah Zahra as adalah seorang wanita muda. Yakni berdasarkan riwayat yang masyhur,
beliau meninggal dalam usia delapan belas tahun. Yakni seorang ibu wanita yang nada
kesempurnaannya memenuhi dunia, dan semua wanita harus belajar darinya, di saat semua
keinginan manusia aktif dalam dirinya. Bukan seorang wanita tua yang sudah merasakan dingin
dan panasnya dunia yang sudah tidak tertarik lagi pada dunia. Tidak. Permulaan hidup,
permulaan usia dan permulaan masa muda. Itupun bukan wanita yang tidak terkenal. Putri sosok
pribadi terbesar di zamannya dan semua zaman. Yakni Rasulullah. Lalu bila pada masa itu, kita
memandanganya dengan tolok ukur materi. Iya karena putrinya sosok pribadi yang paling besar
kekuatannya di tengah-tengah masyarakat. Siapakah yang kekuatannya sebatas kekuatan
Rasulullah? Baik kekuatan politik, kekuatan manusiawi, maupun kekuatan sosial. Iya putrinya
sosok pribadi seperti ini. Orang bila mengisyaratkan sedikit saja dengan matanya. Sedikit saja
mengisyaratkan dengan matanya, maka semua orang terhormat akan mencalonkan dirinya untuk
menikah dengannya. Bukan saja di dunia Islam. Nah, pribadi yang revolusinya, gerakannya, para
pasukannya mengajak untuk melawan semua peradaban dan budaya yang mengakar dan kuno,
dengan Romawi, dengan Iran, bila mereka tahu bahwa bisa menikah dengan sosok pribadi yang
kuat ini, wanita seperti ini, maka pasti mereka akan mencalonkan diri. Beliau adalah wanita
seperti ini, bukan wanita yang tidak terkenal yang tidak terhormat. Lalu, lihatlah dari sisi
makrifatnya, pribadi yang agung ini, wanita ini adalah seorang yang penuh makrifat. Bukan
manusia yang tidak tahu apa-apa, bukan wanita yang lugu dan awam. Beliau adalah seorang
yang ketika hadir di masjid di hadapan semua sahabat besar Rasulullah Saw dan suaranya
lantang, setelah meninggalnya Rasulullah Saw, dan rencananya mau berkhutbah, khutbah ini
seperti pelajaran seorang guru besar yang menarik telinga-telinga para murid dan hati mereka
untuk mendengarkannya. Menarik perhatian semua orang yang hadir di sana yang merupakan
sahabat derajat pertama Rasulullah Saw yang berkumpul di sana. Para guru, para ahli hadis,
orang-orang yang bertahun-tahun belajar kepada Rasulullah Saw, orang-orang yang kaum
Muslimin menganggap bahwa mereka yang harus belajar tentang urusannya sendiri dan
makrifatnya kepada mereka. Semua berada di masjid. Wanita muda berusia delapan belas tahun
ini berdiri di sana dan berkhutbah dan khutbah itu sampai saat ini masih ada. Bila kita melihat
keagungan khutbah itu, maka kita akan mendapatkannya. Seperti khutbah-khutbahnya Amirul
Mukminin, seperti khutbah-khutbah Nahjul Balaghah, seperti kata-kata Rasulullah Saw dalam
kondisi seperti ini; penuh dengan pengetahuan Islam. Dan semuanya duduk mendengarkan.
Tidak seorang pun mengatakan, Nyonya! kata-kata apa ini? Ini semua bukan masalah penting?
Tidak. Semuanya seperti murid dan mendengarkan suara Zahra Athhar as dan memanfaatkannya.
Inilah makrifatnya. (dalam pertemuan dengan para wanita, 21/12/1363)

Pidato Yang Menarik

Setelah kejadian wafatnya Rasulullah Saw, beliau datang ke masjid dan menyampaikan khutbah
yang menakjubkan. Sangat menarik.

Kita yang ahli pidato dan bicara tanpa persiapan sebelumnya, memahami betapa agungnya
pidato ini. Seorang perempuan berusia delapan belas tahun, dua puluh tahun, dan maksimal dua
puluh empat tahun, tentunya usia belum tidak jelas, karena tanggal kelahiran beliau tidak jelas
dan ada perselisihan pendapat, datang ke masjid dengan segala musibah dan kesulitan berpidato
di hadapan banyak orang dengan memakai hijab dan pidato itu kata perkatanya ada dalam
sejarah. (dalam pertemuan dengan para pemuda dalam acara pekan pemuda, 7/9/1377)

Sebuah Pidato Penuh Makna Seperti Nahjul Balaghah

Pidato yang disampaikan oleh Fathimah Zahra as di masjid Madinah pasca wafatnya Rasulullah
Saw adalah sebuah khutbah yang menurut Allamah Majlisi, para pakar bahasa dan ilmuwan
harus duduk untuk memaknai kata-kata dan kalimatnya. Sedemikian bermakna. Dari sisi
keindahan seni ucapan Fathimah Zahra as ini seperti kata-kata Nahjul Balaghah yang paling
indah dan paling panjang dan setingkat dengan ucapan Amirul Mukminin. Fathimah Zahra as
pergi ke masjid dan berdiri di hadapan masyarakat dan berbicara tanpa persiapan sebelumnya,
mungkin beliau berbicara selama satu jam dengan kata-kata yang paling bagus, paling indah dan
terpilih maknanya. (dalam pertemuan bersama para wanita, 25/9/1371)

Para Pakar Bahasa Merasa Takjub Dengan Pidato Fathimah as

Pembelaannya pada Ali dan wilayah dan pidato Gharranya sebagaimana yang dikatakan oleh
Allamah Majlisi, Para pakar bahasa merasa takjub dengan kefasihan dan ketinggian kata-kata
dan maknanya baik lahir maupun batinnya. Allamah Majlisi yang telah mengambil dan menukil
banyak riwayat semacam ini, dan memberikannya kepada kita, merasa bukan apa-apa di hadapan
pidato ini. Pidato ini adalah pidato yang ajaib. Seperti khutbah-khutbah Nahjul Balaghah yang
paling indah dan paling panjang. Pidato yang disampaikan kepada umat Islam di masjid dalam
kondisi sedih tanpa persiapan sebelumnya, tidak dibuat dan dipikirkan sebelumnya. Penjelasan
itu, hikmah itu, hubungannya dengan alam gaib, kapasitasnya yang tinggi, kecemerlangan
hatinya, kecemerlangan penjelasan dan lisannya, semuanya digunakan di jalan Allah. Lalu
apakah modal yang kita miliki ini bernilai? Bila mau kita gunakan di jalan Allah semuanya? Apa
yang bisa digunakan dari modal kita ini? Apakah modal kita ini bisa dibandingkan dengan modal
besar yang dimiliki oleh Zahra as, suaminya, ayahnya, dan anak-anaknya yang digunakan di
jalan Allah? Apa pentingnya sedikit ilmu yang saya dan kalian miliki ini, sedikit lisan yang kita
miliki, sedikit uang yang kita miliki, sedikit pengaruh yang kita miliki, sedikit bakat syair yang
kita miliki, sedikit makrifat yang kita miliki, di sisi tumpukan besar yang luar bisa yang
dikumpulkan oleh Allah dalam wujud malakuti itu. Apa yang kita miliki sehingga kita harus
bersikap kikir di jalan Allah?! (dalam pertemuan bersama para wanita, 25/9/1371) (Emi Nur
Hayati)

Sumber: Naghs wa Resalat-e Zan II, Olgou-ye Zan Bargerefteh az bayanat-e Ayatullah al-
Uzhma Khamenei, Rahbare Moazzam-e Enghelab-e Eslami.