Anda di halaman 1dari 3

Dalam Pencarian Pemimpin Yang Pandai

Imam Musa bin Jakfar as

Buraihah adalah ulama Kristen yang berusia tujuh puluh tahun di masa Imam Shadiq as dan
menjadi kebanggaan umat Kristiani.

Sudah lama keyakinannya tentang agama Kristen telah melemah dan mencari agama yang benar.
Dia juga melakukan dialog dan pembahasan dengan banyak orang muslim. Dia punya istri yang
senantiasa menjadi curahan hatinya tentang masalah agama. Namun dengan semua itu dia belum
menemukan hasilnya. Sampai ketika para pengikut keluarga Rasulullah Saw mengenalkan
Hisyam bin Hakam; salah satu murid hebat dan ilmuwan Imam Shadiq as kepadanya.

Suatu hari Buraihah pergi ke toko Hisyam di Kufah bersama orang-orang Kristen. Mereka
melihat Hisyam sedang mengajar al-Quran kepada murid-muridnya. Buraihah berkata kepada
Hisyam, Saya telah melakukan dialog dan pembahasan dengan semua ilmuwan dan teolog
Islam. Tapi saya belum menemukan hasilnya. Sekarang saya datang untuk berdialog denganmu.

Hisyam sambil tertawa sambil berkata kepadanya, Bila engkau mengharapkan mukjizatku
seperti mukjizatnya Nabi Isa as, maka aku tidak punya.

Kemudian dia bertanya tentang Islam kepada Hisyam dan mendapatkan jawaban yang
memuaskan.

Lalu Hisyam bertanya kepadanya tentang agama Kristen tetapi dia tidak bisa menjawab.
Akhirnya Buraihah malu dan para jemaahnya menyampaikan rasa penyesalannya. Akhirnya
mereka meninggalkannya.

Buraihah kembali ke rumahnya dan menceritakan kejadian pertemuannya dengan Hisyam


kepada istrinya.
Sang istri berkata, Bila engkau sedang mencari agama yang benar, maka jangan sedih. Di mana
saja engkau melihat kebenaran, maka terimalah. Jangan keras kepala di jalan ini." Buraihah
menerima ucapan istrinya dan pada hari yang lain dia kembali lagi menemui Hisyam dan
berkata, Apakah engkau punya seorang guru dan pemimpin?

Hisyam berkata, Iya.

Buraihah berkata, Siapakah dia dan berada di mana dan bagaimana kondisinya?

Hisyam menceritakan sedikit tentang ras, kemaksuman, ilmu, kedermawanan dan keberanian
Imam Shadiq as. Kemudian berkata:

Hai Buraihah! Allah menetapkan setiap hujjah untuk masyarakat pada masa-masa yang lalu dan
Dia juga menetapkannya untuk masyarakat di masa pertengahan dan masa terakhir. Hujjah Allah
dan agama-Nya tidak akan pernah hilang.

Buraihah berkata, Engkau benar. Kemudian Buraihah bersama istrinya dan Hisyam pergi ke
Madinah untuk menemui Imam Shadiq as.

Hisyam bersama Buraihah dan istrinya menempuh jarak yang panjang antara Kufah dan
Madinah. Mereka datang ke rumah Imam Shadiq as untuk menemui Imam Shadiq as. Di sana
mereka bertemu Imam Kazhim as putranya Imam Shadiq as yang pada waktu itu usianya tidak
sampai dua puluh tahun.

Hisyam menceritakan kisahnya dengan Buraihah kepada Imam Kazhim as. Pada saat itu Imam
Kazhim as berkata kepada Buraihah:

Sejauh apa engkau mengenal kitab [injil]mu?

Buraihah berkata, Saya mengenalnya.

Imam Kazhim as berkata, Sebatas apa engkau mengetahui maknanya?

Buraihah berkata, Saya mengetahuinya dengan baik dan saya meyakininya.

Kemudian Imam Kazhim membaca sebagian dari isinya kitab Injil. Buraihah begitu terpengaruh
oleh bacaan injil Imam dan pada saat itu juga dia beriman dan berkata, Sudah lima puluh tahun
saya telah mencari-cari Anda atau orang yang seperti Anda.

Berbicara Dalam Ayunan

Yaqub Sarraj berkata, Saya datang menemui Imam Shadiq as. Saya melihat beliau sedang
berdiri di dekat ayunan putranya; Musa as. Musa yang berada di dalam ayunan berbicara dengan
beliau. Setelah pembicaraan keduanya selesai, saya mendekati Imam Shadiq as dan beliau
berkata kepada saya, Pergi dekatilah maulamu [yang ada di dalam ayunan] dan ucapkan salam
kepadanya.
Saya mendekati ayunan dan mengucapkan salam. Musa bin Jakfar yang pada saat itu masih kecil
dan berada di dalam ayunan, menjawab ucapan salam saya dengan fasih dan berkata kepada
saya, Pergilah dan gantilah nama yang kemarin engkau tetapkan untuk putrimu. Kemudian
datanglah kepadaku. Karena Allah menilai tidak bagus nama ini. (Yaqub mengatakan, Allah
telah menganugerahi saya seorang anak perempun dan saya namakan dia dengan nama
Humaira.)

Imam Shadiq as berkata kepada saya, Pergilah dan kerjakan perintahnya [Musa] supaya engkau
mendapatkan hidayah.

Sayapun pergi dan mengganti nama anak perempuan saya. (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Musa Kazdim as