Anda di halaman 1dari 3

Hikayat Imam Kadzim as.

: Kerugian Ahli Kebatilan


Imam Musa bin Jakfar as

Imam Musa Kazhim as tinggal di dalam penjara Sanadi bin Syahik [pembunuh Imam Kazhim].

Suatu hari Harun Rasyid mengutus seorang petugas untuk menanyakan kondisi Imam. Sanadi
sendiri juga ikut masuk ke dalam penjara.

Ketika petugas itu masuk, Imam bertanya kepadanya, Ada urusan apa engkau?

Petugas itu berkata, Khalifah mengutus saya untuk menanyakan kondisi Anda.

Imam as berkata, Dari aku, sampikan kepadanya bahwa setiap hari dari hari-hari sulit yang
berlalu untukku adalah hari-hari bahagia yang berlalu untukmu sampai tiba saatnya aku dan
engkau bertemu dalam satu tempat dimana ahli kebatilan baru tahu akan kerugiannya.

Dalam Kondisi Bersujud

Fadhl bin Rabi menterinya Harun Rasyid sedang duduk di tempat yang tinggi. Begitu dia
melihatku, lantas berkata, Lihatlah dalamnya ruangan ini! Apa yang engkau lihat?

Aku katakan, Ada pakaian di tengah-tengah ruangan.

Dia berkata, Lihatlah baik-baik!

Aku katakan, Sepertinya ada seorang lelaki sedang bersujud.

Dia berkata, Apakah engkau mengenalnya?


Aku katakan, Tidak. Sepertinya seorang narapidana politik.

Dia berkata, Dia adalah Musa bin Jakfar. Aku mengawasinya malam dan siang dan sepanjang
waktu aku melihatnya demikian. Setelah mengerjakan salat Subuh, dia membaca wirid sampai
terbitnya matahari. Kemudian bersujud dan tetap bersujud sampai tergelincirnya matahari. Di
berpesan kepada seseorang untuk mengingatkan waktunya salat. Begitu dikabarkan kepadanya,
langsung bangkit dan mengerjakan salat tanpa berwudhu kembali.

Ini adalah kebiasaannya. Setelah salat Isya, dia berbuka puasa dan kembali berwudhu dan
bersujud kembali dan sepanjang malam dia sibuk beribadah sampai tiba waktunya Subuh.

Doa Untuk Para Pecinta

Hasan bin Jaham berkata, Aku bertanya kepada Imam Kazhim as [atau kepada Imam Ridha as],
Jangan lupakan saya dalam doa Anda.

Imam as berkata, Apakah engkau tahu aku melupakanmu dalam doa?

Hasan berkata, Aku bergumam, Beliau berdoa untuk para pengikutnya. Aku ini juga sebagai
pengikutnya, pasti aku juga termasuk orang-orang yang didoakannya. Oleh karena itu aku
berkata, Tidak. Anda tidak akan melupakan saya.

Imam as berkata, Bagimana engkau tahu aku tidak melupakanmu?

Hasan bin Jaham berkata, Saya adalah salah satu pengikut Anda, dan Anda mendoakan para
pengikut Anda. Oleh karena itu doa Anda juga meliputi saya.

Imam as berkata, Apakah engkau tahu rahasia yang lainnya selain ini?

Hasan bin Jaham berkata, Tidak. Saya tidak tahu apa-apa.

Imam as berkata, Setiap kali engkau ingin tahu bagaimana engkau di sisi kami, lihatlah
bagaimana aku di sisimu.

Perhatian Pada Al-Quran

Hafdh berkata, Saya berada bersama Imam Kazhim as. Beliau berkata kepada seorang lelaki
yang berada bersama beliau juga, Apakah engkau ingin umurmu panjang?

Dia menjawab, Iya.

Imam Kazhim as berkata, Untuk apa engkau ingin tinggal lama di dunia?

Dia menjawab, Untuk membaca surat Tauhid.


Imam Kazhim as diam sejenak kemudian berkata, Hai Hafdh! Bila salah satu pecinta dan
pengikut kami meninggal dunia, sementara dia tidak bisa membaca al-Quran dengan baik, maka
di alam kubur dia akan diajari membaca al-Quran supaya derajatnya naik karena al-Quran.
Karena derajat surga berdasarkanya ayat-ayat al-Quran dan dikatakan kepadanya, bacalah dan
naiklah ke atas! Dia membaca dan naik ke atas.

Hafdh mengatakan, Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih merasa ketakutan akan
dirinya seperti Imam Kazhim as.

Beliau membaca ayat-ayat al-Quran dengan sedih. Sedemikian tinggi perhatiannya seakan-akan
sedang berbicara dengan seorang lelaki di hadapannya. (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Musa Kazdim as