Anda di halaman 1dari 22

ADAPTASI FISIOLOGI HEWAN GASTROPODA

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur


Mata Kuliah : Fisiologi Hewan
Dosen Pengampu : Djohar Maknun, M. Si

Disusun oleh:
Arifah Hawa (14141610)
Laeli Fauziyah (1414161025)
M Eko Daris (14141610)
Musyaadah (14141610)
BIOLOGI A / VI

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SYEKH NURJATI CIREBON

2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dalam mata kuliah Fisiologi
Hewan yang bertemakan Adaptasi Fisiologi Hewan Gastropoda.
Sholawat serta Salam senantiasa tercurahkan kepada baginda kita Nabi Besar
Muhammad SAW. yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliah menuju zaman Islamiah.
Mungkin dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh
karenanya, kami mengharapkan kritikan dan saran dari para pembaca guna memperbaiki
pembuatan makalah di hari yang akan datang. Dalam kesempatan ini, penyusun juga
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya kepada Illahi kita berharap dan berdoa, semoga makalah ini bermanfaat
khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi pembaca. Aamiin.

Cirebon, Juni 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pola Adaptasi pada Gastropoda
B. Pentingnya Pemanfaatan Jasa Sarana Teknologi dan Bioteknologi dalam Upaya
Konservasi Biodiversitas
C. Keterlibatan Secara Aktif Aktivitas Konservasi Biodiversitas Secara Terintegrasi
Sesuai Keunikan Masyarakat Lokal dalam Perspektif Nasional dan Refleksi
Global
D. Aktivitas Konservasi dan Biodiversitas pada Berbagai Skala Luasan dalam
Mendukung Realitas Kehidupan
BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Siput dan keong adalah jenis hewan kelas gastropoda. Jenis hewan ini
ada juga hidup di laut, air tawar dan juga hidup didarat. Gastropoda merupakan
kelas yang terbesar dan populer. Ada 50.000 jenis/spesies gastropoda yang masih
hidup dan 15.000 yang telah menjadi fosil. Karena banyaknya jenis gastropoda,
maka hewan ini mudah ditemukan.
Gastropoda merupakan salah satu sumber hayati yang dimamfaatkan
oleh masyarakat indonesia sebagai bahan makanan sumber protein yang bernilai
ekonomis penting. Gastropoda membentuk grup terbesar dan paling beragam
dari moluska. Gastropoda merupakan molluska yang mengalami modifikasi dari
bentuk bilateral simetris menjadi bentuk yang mengadakan rotasi (pembelitan),
didalam pembelitan terjadi perubahan sudut 180. Gastropoda merupakan salah
satu sumberdaya hayati non ikan yang mempunyai keanekaragaman yang tinggi.
Gastropoda merupakan kelompok terbesar dari filum mollusca,
walaupun banyak spesies dari filum ini yang merugikan, namun banyak juga
dari beberapa jenis gastropoda yang menguntungkan misalnya, dijadikan bahan
makanan (Campbell, 2003: 225).
Gastropoda merupakan kelas yang paling dapat dengan mudah
beradaptasi dengan kondisi lingkungan dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya
daripada filum molluska, sehingga gastropoda ini dapat ditemukan diberagam
tempat, mulai dari daratan, air tawar, daerah berpasir, laut, daerah payau, bahkan
daerah intertidal.
Penyebaran gastropoda sangat luas diberbagai macam habitat, meliputi
manggrove, pasang surut sampai kedalaman 8200 m, selain itu gastropoda juga
dapat ditemukan diekosistem padang lamun, pantai, dan terumbu karang.
Menurut Tomascik (1997 dalam Saripantung 2013:103) mengatakan bahwa
gastropoda adalah salah satu dari kelas moluska yang diketahui berasosiasi
dengan ekosistem lamun. Sehingga dapat disimpulkan bahwa gastropoda
merupakan kelas yang paling sukses diantara kelas yang lain sehingga mampu
beradaptasi.
Gastropoda merupakan organisme kunci dalam rantai makanan di
ekosistem perairan. Keberadaan gastropoda dalam ekosisem dapat memengaruhi
kehidupan biota lain. Selain menjadi mangsa bagi biota lain, dalam suatu rantai
makanan gastropoda dapat berperan sebagai herbivor, karnivor, scavenger,
detrivaor, deposit feeder, suspension feeder, dan parasit. Gastropoda yang hidup
diperairan umumnya ditemukan sebagai detrivor. Dalam rantai makanan,
detrivor berperan sebagai pengubah detritus yang memiliki tingkat energi rendah
menjadi trofik dengan tingkat energi yang lebih tinggi. Komunitas gastropoda
merupakan komponen yang paling penting dalam rantai makanan, dimana
gastropoda merupakan hewan dasar pemakan detritus (Saripantung, 2013: 103).
Peran gastropoda dalam ekosistem perairan yang tidak kalah penting adalah
sebagai indikator perubahan lingkungan.
Pencemaran lingkungan, meningkatnya volume air laut yang masuk ke darat,
menyebabkan terganggunya habitat gastropoda. Demikian juga dengan eksploitasi
gastropoda masyarakat pesisir pantai yang berlebihan dapat memberikan dampak
terhadap gastropoda menuju kepunahan. Oleh karena itu, perlu dilakukannya konservasi
biodiverasitas pada gastropoda yang didasarkan pada perkembangan teknologi saat ini.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang diajukan dalam makalah ini, diantarnya:
1. Bagaimana pola adaptasi pada gastropoda?
2. Bagaimana pentingnya pemanfaatan jasa sarana teknologi dan bioteknologi
dalam upaya konservasi biodiversitas?
3. Bagaimana keterlibatan secara aktif aktivitas konservasi biodiversitas secara
terintegrasi sesuai keunikan masyarakat lokal dalam perspektif nasional dan
refleksi global?
4. Bagaimana aktivitas konservasi dan biodiversitas pada berbagai skala luasan
dalam mendukung realitas kehidupan?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini, diantaranya:
1. Untuk mengetahui pola adaptasi pada gastropoda.
2. Untuk mengetahui pentingnya pemanfaatan jasa sarana teknologi dan
bioteknologi dalam upaya konservasi biodiversitas.
3. Untuk mengetahui keterlibatan secara aktif aktivitas konservasi
biodiversitas secara terintegrasi sesuai keunikan masyarakat local dalam
perspektif nasional dan refleksi global.
4. Untuk mengetahui aktivitas konservasi dan biodiversitas pada berbagai
skala luasan dalam mendukung realitas kehidupan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pola Adaptasi Gastropoda
Gastopoda yang dikenal siput atau keong adalah hewan berkaki perut
(gaster artinya perut dan podos artinya kaki). Hewan ini memiliki ciri khas
berkaki lebar dan pipih pada bagian ventral tubuhnya. Cangkangnya berbentuk
tabung yang melingkar-lingkar seperti spiral. Pertumbuhan cangkang yang
memilin bagai spiral itu disebabkan karena pengendapan bahan cangkang di
sebelah luar berlangsung lebih cepat dari yang sebelah dalam (Nontji,
2005:162). Menurut Star (2012:464) gastropoda memiliki kepala lancip yang
biasanya terdapat mata dan tentakel sensoris.
Gastropoda yang memiliki lebih dari 40.000 spesies yang hidup,
sebagian besar gastropoda adalah hewan laut, tetapi banyak juga sepesies air
tawar. Kelompok hewan bertubuh lunak ini dapat dijumpai mulai dari daerah
pinggiran pantai hingga laut dalam yang menempati daerah terumbu karang
sebagian membenamkan diri dalam sedimen, namun juga dapat dijumpai
menempel pada tumbuhan laut. Menurut Nontji (2005:164) menyatakan bahwa
keong laut bisa dijumpai diberbagai jenis lingkungan dan bentuknya biasanya
telah menyesuaikan diri untuk lingkungan tersebut. Bekicot dan Slug telah
beradaptasi dengan lingkungan darat. Gastropoda hidup dalam ruang bungkal
yang terdapat radula. Gastropoda juga hidup di air tawar dan darat (Campbell,
2003: 225).
Adaptasi gastropoda diperlukan untuk tetap dapat hidup di lingkungan di
mana setiap saat keadaan atau kondisi lingkungan tersebut dapat berubah-ubah.
Bentuk adaptasi adalah mencakup adaptasi struktural, adaptasi fisiologi, dan
adaptasi tingkah laku. Adaptasi structural merupakan cara hidup untuk
menyesuaikan dirinya dengan mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat
tubuh kearah yang lebih sesuai dengan keadaan lingkungan dan keperluan hidup.
Adaptasi fisiologi adalah cara makhluk hidup untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan dengan cara penyesaian proses-proses fisiologis dalam
tubuhnya. Adaptasi tingkah laku adalah respon-respon hewan terhadap kondisi
lingkungan dalam bentuk perubahan tingkah laku.
Gastropoda memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi
lingkungan yang dapat berubah secara signifikan, pola tersebut meliputi:
1. Daya tahan terhadap kehilangan air
Untuk menghindari kehilangan air, kebanyakan gastropoda biasanya
operkulumnya akan menutup rapat celah cangkang. Ketika pasang turun
mereka masuk kedalam cangkang, lalu menutup celah menggunakan
operkulum sehingga kehilangan air dapat dikurangi. Organisme intertidal
termasuk gastropoda juga mengalami keterbukaan terhadap suhu panas dan
dingin yang ekstrim dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur
tubuh untuk menjaga keseimbangan panas internal.
Mekanisme pada hewan bercangkang keras seperti gastropoda dalam
mengatasi kehilangan panas adalah dengan memperluas cangkang dan
memperbanyak ukiran pada cangkang. Ukiran-ukiran tersebut berfungsi
sebagai sirip radiator sehingga memudahkan hilangnya panas. Hilangnya
panas dapat diperbesar pula jika gastropoda tersebut mempunyai warna
cangkang yang terang karena organisme yang berwarna gelap biasanya
mendapat panas melalui absorbsi. Gastropoda yang cangkangnya berukir
dan berwarna terang, panas akan diradiasikan dari ukiran cangkangnya,
sedangkan gastropoda yang bercangkang mulus panas akan mudah diserap.
2. Pemeliharaan kesimbangan panas
Gastropoda termasuk ke dalam organisme intertidal yang mengalami
keterbukaan terhadap suhu panas dan dingin yang ekstrim dan
memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur tubuh untuk menjaga
kesimbangan panas internal. Di daerah tropis organisme cenderung hidup
pada kisaran suhu letal atas sehingga mekanisme keseimbangan panas
hampir seluruhnya berkenaan dengan suhu yang terlalu tinggi.
3. Tekanan mekanik
Gerakan ombak mempunyai pengaruh yang berbeda, pada pantai berbatu
dan pada pantai berpasir. Gerakan ombak mempunyai pengaruh yang
berbeda pada pantai berbatu dan berpasir. Untuk mempertahankan posisi
menghadapi gerakan ombak, gastropoda telah membentuk beberapa
adaptasi (Syahid, 2012:28). Kebanyakan gastropoda beradaptasi terhadap
serangan ombak dengan mempertebal cangkang, lebih tebal dibandingkan
dengan individu yang sama yang terdapat didaerah subtidal. Pada waktu
makan, gastropoda hasrus mengeluarkan bagian-bagian berdaging dari
tubuhnya. Hal ini berarti bahwa bagian-bagian yang terbuka ini harus tahan
terhadap kekeringan. Karena itu, hewan rersebut hanya aktif jika pasang
naik dan tubuhnya terendam air. Ini berlaku bagi gastropoda pemakan
tumbuhan, pemakan bahan-bahan tersaring, dan pemakan detritus
(Romimohtarto dan Juwana, 2001).

B. Pentingnya Pemanfaatan Jasa Sarana Teknologi dan Bioteknologi dalam


Upaya Konservasi Biodiversitas
Biodiversitas memiliki beragam manfaat yang berkaitan dengan faktor
hak hidup biodiversitas, faktor etika dan agama, serta faktor estetika bagi
manusia. Nilai jasa biodiversitas adalah sebagai pelindung keseimbangan siklus
hidrologi dan tata air, penjaga kesuburan tanah, lingkungan laut melalui pasokan
unsur hara dari serasah hutan, pencegah erosi, abrasi dan pengendali iklim
mikro. Manfaat biodiversitas lainnya adalah nilai warisan yang berkaitan dengan
keinginan menjaga kelestarian biodiversitas untuk generasi mendatang.
Biodiversitas merupakan nilai pilihan dan menjadi penting di masa depan.
Manfaat langsung biodiversitas adalah nilai konsumtif untuk pemenuhan
kebutuhan sandang, pangan dan papan. Nilai produktifnya berkaitan dengan
perdagangan lokal, nasional maupun internasional.
Konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan biodiversitas tidak hanya
penting untuk melindungi spesies dan habitat, menghindari kepunahan dan
melestarikan warisan global bersama dengan nilai intrinsik, juga dapat
menawarkan berbagai keuntungan lain. Biodiversitas dengan ekosistem sehat
menyediakan barang dan jasa untuk kesejahteraan manusia. Barang dan jasa
yang berasal dari konservasi biodiversitas dapat menyediakan kebutuhan dasar
berupa makanan, air bersih, tanah yang subur, dan bahan bakar. Para ahli
menyimpulkan bahwa daerah dengan biodiversitas tinggi menyediakan lebih
dari setengah jasa ekosistem dan melestarikan 25 persen kawasan tersebut
mempertahankan 50 persen barang dan jasa ekosistem.
Konservasi biodiversitas telah meningkatkan populasi satwa liar dan
pendapatan yang berasal dari pariwisata. Hal ini juga termasuk peningkatan
kemampuan untuk melakukan pengelolaan sumber daya alam dan peningkatan
ketahanan terhadap kekeringan masyarakat lokal. Investasi proaktif dalam
konservasi bisa memperbaiki tata kelola, menghindari konflik mahal, dan
membantu untuk menstabilkan wilayah pasca-konflik atau pasca bencana
Negara.
Biodiversitas yang sehat dapat berkontribusi untuk hasil pembangunan
yang lebih baik seperti keamanan pangan, kesehatan, pengurangan risiko
bencana dan tata kelola. Studi menunjukkan hubungan erat antara hilangnya
biodiversitas dan peningkatan penularan penyakit menular. Deforestasi,
misalnya, dikaitkan dengan peningkatan munculnya SARS dan virus lain yang
menginfeksi hewan ke manusia.
Biodiversitas juga penting dalam mitigasi bencana terkait iklim.
Misalnya terumbu karang, dapat mengurangi badai besar pesisir, menyelamatkan
nyawa dan mencegah kerugian ekonomi. Hutan menstabilkan tanah, mencegah
tanah longsor dan banjir dan membantu mengatur l impasan hujan, mengurangi
peluang kekeringan dan banjir.

Terumbu karang
Menginformasikan deskripsi empat spesies koleksi invertebrata yang
didapat oleh tim MB-RAI di Kepulauan Raja Ampat:
1. Nembrotha kubaryana
Nembrotha kubaryana dapat mencapai ukuran maksimum 120 mm atau
lebih. Spesies ini tersebar luas di Lautan Pasifik dan India termasuk di
Perairan Indonesia. Di Raja Ampat spesies ditemukan di terumbu karang
dengan kedalaman 20-40
kaki dengan kadar
garam perairan 32 ppt
(Bergh 1877).
Adapun
klasifikasi dari Nembrotha
kubaryana yaitu:
Kingdom : Animalia
Filum : Moluska
Kelas : Gastropoda
Ordo : Nudibranchia
Famili : Polyceridae
Genus : Nembrotha
Spesies : Nembrotha kubaryana
2. Linckia multifora
Linckia multifora ditemukan di banyak perairan dunia termasuk Lautan
India dan Pasifik termasuk pantai-pantai Indonesia, Kenya Somalia, Laut
Merah dan Tanzania. L. multifora menyukai habitat dekat terumbu karang
dengan kedalaman hingga 130 kaki. Di Raja Ampat spesies ini ditemukan
pada kedalaman 20-60 kaki dengan kadar garam 33 ppt dan kecerahan
perairan 13.3m. Spesies dapat mencapai diameter rata-rata antara dua sampai
lima inci dengan tubuh kecil dan lima lengan panjang. Warna spesies
bervariasi dari merah muda ke merah atau ke coklat atau abu-abu dengan
titik-titik merah (Lamarck, 1816).
Adapun klasifikasi dari Linckia multifora yaitu:
Kingdom : Animalia
Filum : Echinodermata
Kelas : Asteroidea
Order : Valvatida
Famili : Ophidiasteridae
Genus : Linckia
Species : Linckia multiflora
3. Hypselodoris maculosa
Hypselodoris maculosa memiliki
ukuran maksimum 30 mm, sering
ditemukan di perairan laut Indonesia
termasuk Raja Ampat. Spesies ini dikoleksi dari kedalaman 30-60 kaki
dengan salinitas perairan Raja Ampat 32ppt. Spesies memiliki pola
kompleks berwarna merah muda dan titik-titik putih serta garis longitudinal
putih. Rinofor dicirikan panjang, memiliki pita jingga meskipun pita jingga
dapat bervariasi dari 1-3.
Spesies ini juga tersebar di Lautan Pasifik bagian barat dan Lautan India.
Di Indonesia selain di Raja Ampat, spesies ditemukan di perairan-perairan
Bali, Pulau Lembeh, Manado,
Bunaken, Pulau Weh, Sumbawa, Alor
dan Kepulauan Sangeang (Pease 1871).
Adapun klasifikasi dari
Hypselodoris maculosa yaitu;
Kingdom : Animalia
Filum : Moluska
Kelas : Gastropoda
Ordo : Nudibranchia
Famili : Chromodorididae
Genus : Hypselodoris
Spesies : Hypselodoris maculosa
4. Halgerda malesso
Halgerda malesso memiliki jaring garis jingga yang kadang-kadang
dengan titik-titik putih pada dindingnya. Spesies ini tersebar luas di perairan
Indo-Pasifik. Di Raja Ampat, spesies ini dikoleksi dari kedalaman 20-60
kaki dengan kadar salinitas 33 dan kecerahan 13.3m (Carlson & Hoff 1993).
Adapun klasifikasi dari Halgerda malesso yaitu:
Kingdom : Animalia
Filum : Moluska
Kelas : Gastropoda
Ordo : Nudibranchia
Famili : Discodorididae
Genus : Halgerda
Spesies : Halgerda malesso

C. Keterlibatan Secara Aktif Aktivitas Konservasi Biodiversitas Secara


Terintegrasi Sesuai Keunikan Masyarakat Lokal dalam Perspektif Nasional
dan Refleksi Global
Negara Indonesia mempunyai kekayaan yang sangat bermacam-macam.
Salah satunya yaitu sumber daya alam, termasuk keanekaragaman hayati yang
terkandung di dalamnya. Sumber daya alam yang tersebar di berbagai wilayah
Indonesia tersebut disadari suatu saat akan mengalami kepunahan jika
pengelolaannya dilakukan secara tidak lestari dan berkelanjutan. Dalam rangka
melestarikan dan mengupayakan pemanfaatan sumber daya alam tersebut
dilakukan secara berkelanjutan di mana generasi masa yang akan datang
berkesempatan mewarisi sumber daya alam yang masih baik, maka pengelolaan
sumber daya alam ditujukan pada dua hal,
yaitu pertama yaitu pemanfaatan atau
eksploitasi sumber daya alam dan kedua
perlindungan atau konservasi.
Berbagai kebijakan dibuat oleh
pemerintah antara lain dengan menetapkan
kawasan-kawasan tertentu yang dapat
dijadikan sebagai kawasan yang dapat dieksplotasi, dan kawasan-kawasan yang
harus dilindungi. Namun bukan berarti kawasan-kawasan tertentu yang telah
ditetapkan sebagai kawasan yang d
apat dieksploitasi, baik eksploitasi sumber daya alam hutan, tambang,
minyak dan gas, ataupun sumber daya laut, dapat dieksploitasi dengan semena-
mena dan melupakan perhatian aspek daya dukung lingkungan, kerusakan lahan,
maupun upaya-upaya rehabilitasi. Sementara itu dalam rangka perlindungan,
berbagai kawasan kemudian ditetapkan sebagai kawasan lindung ataupun
kawasan konservasi seperti hutan lindung, kawasan bergambut, kawasan resapan
air, sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk, kawasan
sekitar mata air, kawasan suaka alam (termasuk, cagar alam), kawasan suaka
alam laut dan lainnya, mangrove, taman nasional, taman hutan raya, taman
wisata alam, kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, kawasan rawan
bencana alam (Departemen Kehutanan, 1996).
Seiring dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan
industrialisasi maka tekanan terhadap sumber daya alam menjadi semakin besar,
karena tingkat kebutuhan dan kepentingan terhadap sumber daya alam juga
semakin tinggi. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kenyataan banyaknya
pembukaan hutan liar, kegiatan pertambangan dan eksploitasi sumber daya alam
lainnya dari tahun ke tahun bukannya menurun, akan tetapi semakin besar.
Dengan demikian tentunya kawasan-kawasan eksploitasi tersebut akan semakin
terancam habis, sementara suksesi sumber daya alam yang dapat diperbaharui
yang telah dieksploitasi membutuhkan waktu lama untuk dapat diperbaharui
kembali.
Ancaman tidak hanya muncul terhadap kawasan-kawasan yang dianggap
sebagai kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan eksploitasi saja, akan
tetapi juga tertuju kepada kawasan-kawasan yang ditetapkan dan ditunjuk
sebagai kawasan lindung ataupun kawasan konservasi. Ancaman tersebut,
disamping disebabkan oleh pertumbuhan penduduk, juga disebabkan oleh
perusakan langsung, konversi lahan, penangkapan secara berlebihan spesies
tertentu ataupun pengenalan spesies eksotik. Untuk kawasan konservasi di
Indonesia, ancaman yang juga besar adalah kebakaran hutan yang terjadi setiap
tahunnya. Pada tahun 1997-1998 misalnya kebakaran hutan telah menyebabkan
627.280 hektar lahan terbakar musnah oleh api. Pada tahun 1983, kebakaran
tersebut bahkan pernah mencapai 3,6 juta hektar hutan yang 496.000 hektar
diantaranya adalah kawasan lindung atau kawasan konservasi (Kementrian
Kehutanan, 1997-1998).
Pemerintah kerap menyebut berbagai hambatan yang dihadapi seperti
luasnya cakupan dan sebaran kawasan konservasi dan terbatasnya sumber daya
manusia maupun dana, sehingga pengelolaan kawasan konservasi yang
dilakukan selama ini berjalan agak tersendat. Namun jika dilihat persoalan
mendasar lainnya, adalah kuatnya ego sektoral, baik di dalam (intern)
departemen yang membawahi pengelolaan kawasan konservasi sendiri
(Departemen Kehutanan dan Perkebunan) maupun dari departemen lain yang
berkepentingan untuk mengeksploitasi kawasan konservasi. Faktor yang juga
sangat berpengaruh adalah pengelolaan yang sentralistik dan tidak
diakomodirnya peran serta masyarakat sebagai kekuatan riil dan potensial di
lapangan, serta lemahnya penegakan hukum. Kebijakan terpusat telah
mematikan potensi dari pemerintah daerah, masyarakat lokal atau adat, maupun
potensi jangka panjang dari keberlanjutan dan kelestarian sumber daya alam dan
kawasan konservasi itu sendiri.
1. Keterlibatan Masyarakat Secara Aktif dalam Perspektif Nasional (Hukum)
Secara umum kebijakan dan hukum yang berkaitan dengan pengelolaan
sumber daya alam tidak dapat dipisahkan dengan pengelolaan kawasan
konservasi. Oleh karena kawasan konservasi merupakan bagian dari sumber
daya alam, maka kebijakan dan hukum konservasi pun pada dasarnya
merupakan bagian dari kebijakan dan hukum pengelolaan sumber daya alam.
Sebagaimana diketahui bahwa sebenarnya peraturan perundang-undangan
merupakan bagian dari kebijakan pemerintah. Namun dalam hal ini
kebijakan diartikan dalam arti sempit, yaitu kebijakan yang masih harus
dijabarkan terlebih dahulu di dalam berbagai peraturan perundang-undangan.
Kebijakan yang dimaksud disini diantaranya adalah UUD 1945, Ketetapan
MPR dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) ataupun pernyataan
pejabat negara.
Diakomodirnya peran serta masyarakat adalah suatu keniscayaan.
Dengan luasnya sebaran kawasan konservasi, terbatasnya institusi pengelola
dan sumber daya manusia, serta dana yang minim, adalah tidak mungkin
pengelolaan kawasan konservasi tanpa peran serta masyarakat dapat berjalan
dengan baik. Upaya meletakkan pola hubungan pemerintah dengan
masyarakat dalam bentuk kemitraan akan menguntungkan semua pihak, baik
pemerintah, masyarakat ataupun kawasan konservasi itu sendiri. Bagi
masyarakat adat atau lokal, keterlibatan dalam pengelolaan kawasan
konservasi bukan dilihat semata-mata sebagai sebuah tugas, akan tetapi
didorong oleh motivasi dan rasa memiliki, dimana mereka merasa adalah
bagian dari hutan atau kawasan konservasi itu sendiri. Beberapa faktor yang
mendukung efektifnya pengelolaan kawasan konservasi dengan
dilibatkannya masyarakat, termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM)
adalah, 1) kedekatan masyarakat dengan kawasan konservasi, 2) adanya
faktor kepentingan, baik secara historis, sosial-religi, ekologi maupun
ekonomi, dan 3). komitmen dan kepedulian (seperti yang ditunjukkan oleh
LSM maupun kelompok pecinta lingkungan hidup). Salah satu contoh peran
penting keterlibatan masyarakat adalah dalam kasus kebakaran hutan 1997-
1998 yang terakhir, dimana posko-posko didirikan yang melibatkan lembaga
swadaya masyarakat, organisasi masyarakat dan masyarakat umum.
Sebaliknya, sebagaimana yang dilaporkan di dalam buku Kebakaran Hutan
dan Lahan Indonesia, Dampak Faktor dan Evaluasi, menunjukkan betapa
pemerintah ternyata memiliki keterbatasan dalam menanggulangi bencana
skala besar. Hal ini dibuktikan dengan lumpuhnya mekanisme kerja yang
mengatur hubungan antara instansi dalam usaha penanggulangan dan
pemadaman di tingkat Pusat maupun Daerah (Kementrian Lingkungan,
1998).
2. Keterlibatan Masyarakat Secara Aktif dalam Perspektif Refleksi Global
(Hukum)
Menurut Dasmaan dalam Indrawan (2007) Masyarakat setempat yang
menerapkan cara hidup tradisional di daerah pedesaan, yang nyaris tak
tersentuh teknologi umumnya dikenal sebagai masyarakat suku, komunitas
asli atau masyarakat hukum adat, penduduk asli atau masyarakat tradisional.
Masyarakat setempat seringkali menganggap diri mereka sebagai penghuni
asli kawasan terkait, dan mereka biasanya berhimpun dalam tingkat
komunitas atau desa. Kondisi demikian dapat menyebabkan perbedaan rasa
kepemilikan antara masyarakat asli dengan penghuni baru yang berasal dari
luar, sehingga masyarakat setempat seringkali menjadi rekan yang tepat
dalam konservasi. Di sebagian besar penjuru dunia, semakin banyak
masyarakat setempat telah berinteraksi dengan kehidupan modern, sehingga
sistem nilai mereka telah terpengaruh, dan diikuti penggunaan barang dari
luar. Pergeseran nilai akan beresiko melemahnya kedekatan masyarakat asli
dengan alam sekitar, serta melunturkan etika konservasi setempat.
Masyarakat tradisional pada umumnya sangat mengenal dengan baik
lingkungan di sekitarnya. Mereka hidup dalam berbagai ekosistem alami
yang ada di Indonesia, dan telah lama hidup berdampingan dengan alam
secara harmonis, sehingga mengenal berbagai cara memanfaatkan
sumberdaya alam secara berkelanjutan. Di samping itu dalam berperilaku
orang akan berpedoman pada berbagai macam hal yang pada hakekatnya
mempunyai nilai baik dan buruk serta pada kegiatan yang didasarkan pada
benar dan salah (Brennan, 2002).
Terjadinya percepatan intregrasi dari lokal ke global yang didukung oleh
berbagai bentuk perkembangan teknologi (hardware dan software) telah
menjadi suatu sistem dunia yang dominan. Banyak media informasi dan
komunikasi dengan gencarnya menawarkan produk berikut gaya hidup, gaya
konsumsi, dan berbagai sarana hidup yang dianggap sebagai tolok ukur
kemajuan dan kebahagiaan yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Budisusilo dalam Wahono (2005:218) menjelaskan sebagai akibat
perkembangan teknologi produksi yang pesat, baik pada sektor pertanian
(bioteknologi dan mekanisasi), sektor industri (manufaktur dan eksplorasi
alam), maupun sektor jasa (transportasi, medis, laboratoris, komunikasi dan
informasi), masyarakat pun menjadi terbiasa menikmati produk barang dan
jasa yang bersifat passif dengan efisiensi teknis, kualitas dan jenis yang sama
pada semua belahan bumi.
Prespektif kearifan lokal di masa depan sangat dipengaruhi oleh berbagai
kebijakan pemerintah yang berkaitan langsung dengan pengelolaan
sumberdaya alam, dimana masyarakat setempat tinggal dan kemauan
masyarakat untuk tetap menjaga keseimbangan dengan lingkungan meskipun
menghadapi berbagai tantangan. Maka dari itu penting untuk melibatkan
masyarakat lokal dalam melakukan tindakan di lingkungan dimana mereka
tinggal guna menghindari konflik-konflik sosial seperti diungkapkan Aris
(2005:124) bahwa pengelolaan sumberdaya dalam hal ini pengelolaan hutan
wana tani yang kurang memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat
lokal akan dapat menimbulkan konflik terutama dalam pengelolaan,
alternatif pengelolaan lahan, dan pemetaan sumberdaya alam serta
kepentingan antar kelompok masyarakat lokal. Melihat pentingnya peran
masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian lingkungannya maka penting
untuk mempertahankan dan melindungi tindakan-tindakan masyarakat yang
merupakan bentuk dari kearifan ekologis.
CBNRM (Community based nature resource management) atau
Pendekatan Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Masyarakat merupakan
strategi pengelolaan Sumber daya Hayati (SDH) dimana masyarakat
berpartisipasi secara aktif dan berperan dalam menanggulangi masalah yang
mempengaruhi kondisi SDH sehingga dalam hal ini CBNRM sangat
menaruh perhatian pada partisipasi masyarakat lokal dalam memanfaatkan
dan memelihara SDH di sekitarnya. CBNRM merupakan contoh pendekatan
dalam sistem pengelolaan SDA yang mempertimbangkan aspek-aspek
keadilan, pemerataan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar SDH secara
berkelanjutan (Supriatna, 2008).

D. Aktivitas Konservasi Biodiversitas pada Berbagai Skala Luasan dalam


Mendukung Realitas Kehidupan
Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman dari semua makhluk
hidup dengan semua sumbernya, yang termasuk di antaranya adalah daratan,
lautan dan ekosistem akuatik lain, serta kompleks-kompleks ekologi yang
merupakan bagian dari keanekaragamannya, mencakup keanekaragaman di
dalam spesies, antar spesies dan ekosistem (Primack et al., 1998).
Keanekaragaman hayati berkembang dari keanekaragaman pada berbagai
tingkatan pengertian yang berbeda yaitu keanekaragaman genetik,
keanekaragaman spesies, dan keanekaragaman ekosistem.
Keanekaragaman genetik merupakan keanekaragaman yang
menimbulkan adanya variasi antara individu satu dengan individu yang lainnya
yang masih berada dalam satu spesies, yang diukur dari variasi genetik (unit-
unit kimia atau sifat-sifat warisan yang dapat diturunkan dari suatu generasi ke
generasi lainnya) yang terkandung dalam gen-gen individu organisme suatu
spesies, subspesies, varietas atau keturunan. Keanekaragaman spesies
merupakan keanekaragaman yang memperlihatkan variasi bentuk,
penampakan, frekuensi dan sifat lainnya antara spesies satu dengan spesies
yang lain. Dalam hal ini yang diukur adalah jumlah total spesies di muka bumi
atau di wilayah tertentu.
Krebs (1991) dalam Sinyo (2010) mengemukakan keanekaragaman
spesies cenderung akan rendah di dalam komunitas yang terkendali secara fisik
maupun biologis serta pada ekosistem yang mengalami gangguan. Desmukh
(1992) menyatakan bahwa keanekaragaman spesies sebagai jumlah spesies dan
jumlah individu dalam satu komunitas, sehingga keanekaragaman spesies adalah
menunjuk pada jumlah spesies dan jumlah individu setiap spesies.
Gastropoda merupakan kelompok moluska yang paling berhasil
menduduki berbagai habitat. Teredapat di darat, perairan tawar, dan terbanyak di
laut. Bentuk tubuh dan cangkang sangat beraneka ragam. Terdapat lebih dari
60.000 spesies hidup dan 15.000 spesies fosil hidup sejak peroide cambrian, dan
diduga sekarang dalam puncak perkembangan evolusinya. (Suwignyo, 2005)
Di antara kelas-kelas yang lain, kelas gastropoda memiliki anggota
terbanyak dan merupakan kelas yang paling sukses hidup diberbagai habitat
yang bervariasi. Pada umumnya, dikenal dengan sebutan siput atau keong
(Barnes, 1978). Diperkirakan lebih dari 40. 000 spesies telah ditemukan
diseluruh dunia (Mudjiono, 2010). Umumnya bentuk tubuh gastropoda asimetris
karena mengalami pilinan. Cangkang siput umumnya berbentuk kerucut atau
konde dari tabung yang melingkar. Mantel terletak di depan cangkang, isi
perutnya tergulung spiral kearah belakang, didalam tubuhnya terdapat organ-
organ diantaranya organ pencernaan, pernafasan serta organ genetalis untuk
reproduksi. Alat gerak mengeluarkan lendir, untuk memudahkan pergerakannya.
Kepala gastropoda terdapat sepasang alat peraba yang dapat dipanjang
pendekan, selain itu alat peraba ini terdapat titik mati untuk membedakan terang
dan gelap. Pada mulut terdapat lidah parut dan gigi rahang, saluran pencernaan
terdiri atas: mulut, pharynx yang berotot, kerongkongan, lambung, usus, dan
anus (Sutikno, 1995).
Konservasi biodiversitas yang biasa ada pada masyarakat hanya pada
tingkat tingkat gen, dimana masyarakat membudidayan gastropoda ini demi
mendapatkan nilai ekonomis. Pada masyarakat sering kali phylum gastropoda
dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan cangkangnya digunakan sebagai
hiasan. Salah satu contohnya adalah makan terkenal dari itali yang terbuat dari
daging bekicot (Achantina fulica) yaitu Eskargo, oleh karna itu banyak
masyarakat membudidayakan bekicot untuk diambil dagingnya. Di Indonesia
banyak dibudidayakan bekicot pada daerah Kediri. Hasil budidaya tersebut di
tujukan untuk ekport yang dikirim ke Hongkong, Belanda, Taiwan, Yunani,
Belgia, Luxemburg, Kanada, Jerman dan Amerika Serikat.. Jenis bekicot yang
sering dibudidayakan adalah bekicot Red slug atau Arion rutus berwarna
kemerahan, Jenis Black slug atau arion ater berwarna kehitaman , Jenis red
triangle slug atau Triboniophorus graffei berwarna kemerahan yang
cangkangnya berbentuk piramid ,dan Jenis Banana slug berwarna kekuningan
yang cangkangnya mirip seperti buah pisang.
Selain bekicot, di Indonesia juga mulai berkembang pembudidayaan
keong mas sebagai bahan baku pakan ternak. Keong mas ( Pomacea
canaliculata ) merupakan salah satu spesies dari kelas gastropda yang memiliki
habitat di perairan air tawar dan bisanya merupakan hama pertanian. Namun
dengan berkembangnya zaman keong mas juga mulau di ternakan dan bahkan
sudah mulai di eksport ke cina sebagai pasar terbesarnya. Pembudidayaan ini
bertujuan untuk mendapatkan daging untuk dimakan dan cangkangnya yang
dapat dijadikan pakan ternak.
BAB III
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Aris, M. M. 2005. Moralitas Lingkungan: Refleksi Kritis Atas Krisis Lingkungan
Barnes. R.S.K. 1978. Estuarine Biology. The Institute of Biologis Studies in Biology.
London: Edward Arnold (Publiser).
Berkelanjutan. Yogyakarta: Wahana Hijau dan Kreasi Wacana.
Brennan, Andrew. Lo. Yeuk-See. 2002. Environmental Ethics, The Stanford
Encyclopedia of Phylosophy. Edward N Zalta (ed.)
Campbell, N.A. 2000, 2003, 2008. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Departemen Kehutanan, Statistik Kehutanan Indonesia. 1996. Kebakaran Hutan dan
Lahan Indonesia, Dampak, Faktor, dan Evaluasi, Kantor Menteri Negara
Lingkungan Hidup Republik Indonesia-United Nations Development
Programme (UNDP). Jilid I.
Desmukh, I. 1992. Ekologi dan Biologi Tropika. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Indrawan, M. et al. 2007. Biologi Konservasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mudjiono, 2010. Modul untuk Pelatihan Pengenalan Hewan Moluska Laut (Marine
Mollusc). Jakarta: Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.
Nontji, A. 2007. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.
Pembangunan Lima Tahun Ketujuh, angka 18 Lingkungan Hidup. 1998. Garis-garis
Besar Haluan Negara 1998 beserta Susunan Kabinet Pembangunan VII.
Jakarta: Pabelan.
Primack, R. B ; J. Supriatna ; M. Indrawan & Kramadibrata. 1998. Biologi Konservasi.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Romimohtarto, K. dan Juwana, S. 2001. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang
Biologi Laut Edidi III. Jakarta: Djambatan.
Saripantung, G. L. 2013. Struktur Komunitas Gastropoda di Hamparan Lamun Daerah
Intertidal Kelurahan Tongkeina Kota Manado.jurnal Ilmiah Platax. Vol 1: (3).
Sinyo, Y. 2010. Struktur Komunitas Gastropoda pada Zona intertidal di Desa Tuada
Kecamatan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat. Tesis. Fakultas MIPA
Pascasarjana Universitas Negeri Manado.
Star, C. Dkk. 2012. Biologi Kesatuan Dan Keragaman Mahkluk Hidup. Jakarta:
Salemba Teknika.
Studi Pencegahan dan Penaggulangan Kebakaran Hutan, Kantor Menteri Negara
Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 1997/1998.
Supriatna, J. 2008. Melestarikan Alam Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Suwignyo, S. 2005. Avertebrata Air. Jakarta: Penebar Swadana.
Syahid, S. 2012. Oseonografi Tentang Keseragaman dan Adaptasi Biota Intertidal.
Makasar: Universitas Hasanuddin.
Wahono, F. 2005. Pangan, Kearifan Lokal dan Keanekaragaman Hayati. Yogyakarta:
Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas.