Anda di halaman 1dari 5

PLASTIK BERBAYAR KEBIJAKAN PRAGMATIS

TAK SELESAIKAN MASALAH LINGKUNGAN

Persoalan sampah di Indonesia sudah meresahkan. Sebuah penelitian yang diterbitkan di


www.sciencemag.org Februari tahun lalu menyebutkan, Indonesia berada di peringkat kedua
di dunia penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam,
dan Sri Lanka (nationalgeographic.co.id, 19/02/2016). Berdasarkan data dari Greeneration,
rata-rata pemakaian kantong plastik per orang di Indonesia adalah 700 lembar per tahun.
Sampah kantong plastik di Indonesia mencapai 4.000 ton per hari atau 100 miliar kantong
plastik terkonsumsi per tahunnya. Produksi kantong plastik tersebut menghabiskan 12 juta
barel minyak bumi yang tak bisa diperbaharui.
Pengelolaan sampah plastik merupakan tantangan terbesar dalam pengelolaan
sampah. Plastik merupakan bahan yang sulit hancur dan setidaknya butuh 500-1000 tahun
untuk menghancurkannya. Di sisi lain, membakar sampah plastik juga menyebabkan
lepasnya zat karsinogenik (dioksin) ke udara yang kita hirup. Tidak bisa dimungkiri
penggunaan plastik saat ini sudah tak bisa dibendung lagi sehingga membutuhkan
pengelolaan yang lebih ekstra.
Menanggapi hal itu, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (KLHK) mengeluarkan kebijakan kantong plastik berbayar melalui Surat Edaran
(SE) Nomor S.71/Men LHK II/ 2015 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Kebijakan yang dikeluarkan ini diklaim bertujuan mampu menekan tingkat penggunaan
plastik di Indonesia sekaligus dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan. Ketua Umum
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mande mengungkapkan, peluncuran
penerapan kantong plastik berbayar ini diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat Car
Free Day (CFD), 21 Februari 2016, di Bundaran Hotel Indonesia, dalam rangka Hari Peduli
Sampah Nasional 2016.
Kebijakan kantong plastik berbayar mulai diterapkan di ritel modern di Indonesia
sejak 21 Februari 2016. Hal ini digunakan sebagai langkah ujicoba yang dilakukan
pemerintah agar dapat dievaluasi sebelum diterapkan pada Juni 2016 mendatang. Ujicoba
tersebut serempak dilakukan di 17 kota seluruh Indonesia dengan patokan harga kantong
plastik yang diberikan oleh pemerintah sebesar Rp 200 per kantong plastik. Kebijakan ini
segera mendapat sambutan oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Sementara
itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (Aphindo), Tjokro Gunawan
mengatakan kebijakan seperti ini bukan pertama kali diterapkan di dunia. Sejumlah negara
telah menerapkan kebijakan tersebut dan terbukti mampu menurunkan jumlah konsumsi
plastik (Liputan6.com, 6/2/2016).
Ketua Umum Aprindo Roy Mandey membeberkan bahwa produksi kantong plastik
selama ini memakan biaya cukup besar, dan hal itu menjadi beban peritel. Apabila kebijakan
ini berhasil diterapkan, dana hasil penjualan kantong plastik akan dialokasikan untuk kegiatan
CSR (Corporate Social Responsibility) bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam
bidang pengelolaan sampah, jelas Roy Mandey. Aprindo berharap, jika program ini berjalan,
pemerintah dapat memberikan insentif kepada perusahaan yang telah menjalankan program
plastik berbayar dengan baik dalam bentuk penghapusan PPN penjualan kantong plastik,
pengurangan biaya pajak reklame, PBB dan lainnya.
Salah Sasaran
Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih di Jakarta,
Rabu (10/2) mengungkapkan bahwa total sampah Indonesia di 2019 diperkirakan mencapai
68 juta ton, 14 persen di antaranya merupakan sampah plastik. Jumlah kantong plastik juga
20 persen dari total sampah plastik tersebut (republika.co.id, 10/2/2016). Berdasarkan
perkiraan jumlah sampah ini dapat diketahui bahwa sampah plastik yang mencemari
lingkungan lebih banyak berasal dari selain sampah kantong plastik. Mengingat itu, kebijakan
ini dinilai salah sasaran karena sampah dari kantong plastik yang sekarang ditetapkan
berbayar jumlahnya tidak lebih banyak dibandingkan sampah plastik lainnya, seperti sampah
plastik yang berasal dari wadah minuman, filter rokok, compact disk, kemasan sachet
berbagai produk minuman, sampo dan sebagainya.
Plastik berbayar saat ini telah diterapkan sebatas di ritel modern padahal penggunaan
kantong plastik di ritel modern hanya mencapai 30% dari total penggunaan kantong plastik
secara keseluruhan. Adapun 70% lainnya digunakan oleh pasar tradisional. Seperti yang
dilansir dari CNN Indonesia (01/03/2016), uji coba kebijakan kantong plastik berbayar dinilai
salah sasaran karena hanya dilakukan di ritel besar saja, bahkan juga dinilai tidak terlalu
berdampak pada lingkungan. Hal tersebut disebabkan karena 95 persen ritel besar sudah
menggunakan plastik ramah lingkungan yang bisa terdegradasi lebih cepat dibandingkan
kantong plastik di pasar tradisional. Selain itu, berdasarkan data dari Nielsen pada 2015
pangsa pasar industri ritel atau toko swalayan (minimarket, supermarket, hipermarket, dan
perkulakan) di Indonesia terdata hanya sebesar 26 persen, sedangkan pasar rakyat mencapai
74 persen.
Presiden Direktur PT Tirta Martha Sugianto Tandio selaku produsen plastik menyebut
kantong plastik di pasar tradisional merupakan plastik yang sulit terdegradasi karena belum
diproduksi dengan teknologi yang ramah lingkungan (CNN Indonesia, 01/03/2016).
Sehingga, jika kebijakan kantong plastik berbayar ini memang serius untuk mengurangi
penggunaan plastik, maka dari segi penerapan kantong plastik berbayar ini seharusnya juga
dilakukan pada pasar tradisional. Mengingat pasar tradisional masih menggunakan 99 persen
plastik yang tidak ramah lingkungan.
Prof. Ir. Agoes Soegianto, DEA, selaku dosen di Departemen Biologi, Fakultas Sains
dan Teknologi, Universitas Airlangga (FST UNAIR) menyatakan bahwa permasalahan
sampah merupakan tanggungjawab pemerintah yang membutuhkan komitmen dan juga
membutuhkan dukungan masyarakat (22/2/2016). Namun, pemerintah sangat jelas dalam
menerapkan kebijakan ini tanpa disertai dengan memberikan edukasi yang massif kepada
masyarakat. Hal ini tampak dari banyaknya yang tidak mengetahui kebijakan kantong plastik
berbayar ini setelah diterapkan di sejumlah ritel modern di beberapa kota.
Seperti yang terjadi di Makassar, dikutip dari tempo.co setelah diberlakukannya
kantong plastik berbayar, seorang pembeli memprotes karena tidak adanya sosialisasi dari
pemerintah, tahu-tahunya harga Rp 200 sudah dibebankan kepada masyarakat. Muhammad
Darwis, 50 tahun, melakukan protes saat akan melakukan pembayaran di kasir minimarket
Alfa Midi, yang berada di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, (21/2/2016). Darwis memprotes
karena nilai Rp 200 itu dibebankan kepada pembeli. Adapun kasir yang menangani
pembayaran Darwis hanya memberikan penjelasan bahwa itu adalah aturan dari pemerintah
tanpa memberikan penjelasan apa tujuan dari kebijakan ini dan kemana uang hasil
pembayaran itu pergi. Pada struk pembelian di toko itu pun, juga tidak ditampilkan nominal
harga kantong plastik Rp 200 tersebut, hanya bertuliskan pengeluaran plastik sedang dan
plastik kecil.
Pendapat Menteri Perdagangan, Thomas Lembong yang dikutip dari okezone.com
(25/2/2016) yang menyatakan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat terkait penghematan
kantong plastik dinilai disebabkan oleh fasilitas gratis yang diberikan oleh beberapa pusat
perbelanjaan tidak tepat. Pasalnya, penggunaan plastik oleh masyarakat itu sendiri
dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat itu sendiri bukan karena plastik tersebut difasilitasi
atau berbayar. Apalagi dihadapkan dengan masyarakat yang memiliki perilaku konsumtif dan
cenderung mencari jalan yang praktis-praktis saja. Penerapan plastik berbayar yang dilakukan
tanpa disertai edukasi yang massif terhadap masyarakat ini, jelas akan menjadikan kebijakan
ini hanya sebagai sebatas aturan yang dijalankan tanpa menyadari esensi dari kebijakan ini.
Pada akhirnya, kebijakan kantong plastik berbayar yang diberikan kepada masyarakat hanya
akan menjadikan aturan tersebut menjadi kebijakan yang mubazir atau sia-sia, bahkan
semakin menambah beban rakyat.
Pemerintah yang hanya fokus pada kebijakan plastik berbayar saja dalam mengatasi
masalah lingkungan yang diakibatkan limbah plastik mengindikasikan bahwa kebijakan ini
sarat dengan kepentingan kapitalistik untuk mendulang keuntungan. Seperti yang
dikhawatirkan Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (Prodem) Bob Randilawe
bahwa adanya kantong plastik berbayar dinilai sebagai pemasukan ganda untuk para
pengusaha ritel. Hal ini karena tidak adanya kejelasan aliran dana dari kantong plastik
berbayar tersebut. Banyak yang menilai bahwa dana tersebut akan mengalir ke kantong
pengusaha ritel, padahal menurut Bob Randilawe selama ini pengusaha ritel sudah
memperhitungkan biaya pengganti kantong plastik yang mereka berikan secara gratis.
Guru Besar bidang Ekotoksikologi FST UNAIR, Prof. Ir. Agoes Soegianto
menyatakan bahwa kebijakan plastik berbayar tak akan bisa menyelesaikan masalah sampah
plastik. Hal ini justru akan membuka peluang penyelewengan dana karena tidak adanya
kejelasan aliran uang pengganti plastik. Pernyataan Prof. Ir. Agoes Soegianto senada dengan
yang diungkapkan oleh Ketua Umum Yayasan Peduli Bumi Indonesia (YPBI), Ananda
Mustadjap Latip yang melihat hingga kini masih terjadi pro dan kontra terkait penerapan
kebijakan kantong plastik berbayar di pasar. Jika meninjau kepada UU No.18/2008 pasal 3
tertulis secara jelas dalam pengelolaan sampah itu diselenggarakan atas tanggungjawab, asas
berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan dan asas nilai
ekonomi. Terkait dengan asas keadilan, Ananda mempertanyakan apakah kebijakan tersebut
akan menjadi adil ketika memaksakan masyarakat harus membayar. ''Padahal retailer yang
menerima keuntungan,'' katanya (republika.co.id, /19/2/2016).
Kebijakan yang dikeluarkan ini menunjukkan bahwa pemerintah lepas tangan dalam
mengatasi permasalahan lingkungan yang juga perlu untuk diatasi segera. Biaya pengolahan
sampah plastik, dan untuk mengatasi permasalahan lingkungan lainnya dibebankan kepada
masyarakat yang saat ini juga sedang dililit oleh persoalan lemahnya ekonomi nasional. Dari
sisi pemberlakuan kebijakan pun, pemerintah tidak adil karena kebijakannya hanya ditujukan
kepada konsumen, padahal tingginya angka kerusakan lingkungan justru banyak
disumbangkan oleh para produsen. Lagi-lagi memang rezim penguasa saat ini lebih pro
terhadap kapitalis. Hal ini juga tampak pada kasus pembakaran hutan yang dilakukan oleh
sebuah perusahaan, PT Bumi Mekar Hijau yang tidak dikenakan sanksi hukum apapun atas
pembakaran 20.000 lahan gambut.

Menyempurnakan solusi dalam mengatasi permasalahan:


Akar persoalan masalah lingkungan saat ini bukanlah pada masalah penggunaan kantong
plastik, akan tetapi berkaitan dengan ideologi yang dianut oleh seluruh penguasa negeri ini di
daerah maupun pusat. Masalah lingkungan akan terus terjadi bila penguasa tidak memiliki
kemauan politik (political will) mengurus kepentingan publik. Buruknya riayah atau
pengelolaan urusan masyarakat oleh negara merupakan akar masalah dalam kerusakan
lingkungan. Di sisi lain tidak bisa dipungkiri, bahwa masyarakat ikut serta dalam
menyebabkan kerusakan lingkungan yaitu dalam penggunaan plastik secara berlebihan.
Namun harus diingat, itu hanya sebagian dari faktor penyebab masalah lingkungan. Ada
faktor lain, yang mungkin lebih besar, yaitu faktor kerakusan pemilik modal dan orang kaya
serta pejabat.
Dalam mengatasi permasalahan sampah dan menjaga kebersihan lingkungan memang
memerlukan dukungan masyarakat dan komitmen dari pemerintah. Pemerintah yang serius
mengurusi lingkungan hidup adalah dengan memberlakukan kebijakan secara komprehensif
dan menyeluruh. Mulai dari memberikan edukasi pada masyarakat, hingga pembuatan
peraturan bagi perusahaan untuk menjaga lingkungan seperti keharusan memproduksi plastik
yang mudah terurai, penerapan standar kerja perusahaan yang ramah lingkungan, disertai
sanksi bagi siapapun baik personal maupun kolektif (perusahaan) yang melanggar peraturan.
Seperti yang diungkapkan oleh Ananda Mustadjap Latip pada republika.co.id (19/2/2016)
bahwa ada hal yang lebih mendasar untuk dilakukan seperti membuat pemilahan atas tempat
sampah, mengangkut sampah dengan truk tertutup dan TPA yang dikelola dengan teknologi
modern seperti insenerator dan hal yang utama lagi seharusnya pemerintah mendorong
perubahan penggunaan kantong plastik di pasar tradisional karena 99 persen masih
menggunakan kantong belanja plastik yang tidak ramah lingkungan.
Kelalaian penguasa dalam menegakkan aturan dan melayani kepentingan masyarakat,
dan buruknya riayah atau pengaturan masyarakat merupakan permasalahan besar sehingga
menyebabkan terjadinya berbagai kerusakan termasuk kerusakan lingkungan yang
disebabkan oleh penumpukan sampah plastik. Kebijakan yang dilakukan tanpa disertai
kebijakan mendasar untuk mewujudkan kesadaran publik menambah bukti karakter
pemerintah demokrasi yang bersikap pragmatis. Negara lebih mengedepankan unsur bisnis
ketimbang melayani hajat rakyat.
Sudah lazim diketahui bahwa pemerintah daerah maupun pusat kerap tunduk pada
kepentingan para pengusaha kuat. Dan sudah biasa bahwa Indonesia seringkali mengeluarkan
aturan dengan berkiblat kepada negara barat yang dianggap sebagai negara maju. Mereka
mengganggap bahwa jika bisa menyamai negara mereka yang telah maju adalah suatu
kebanggaan. Kaum muslimin terlena dengan keadidayaan negara-negara barat sehingga
menjadikannya membebek pada peradaban sekuler Barat dan memprioritaskan nilai materi di
atas semua nilai lainnya. Padahal Allah SWT memerintahkan manusia sebagaimana dalam
firmanNya, QS. at-Taubah 9: 55, Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka
menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-
anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa
mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.
Kebijakan yang menyeluruh dan komprehensif agaknya tak akan mungkin dilakukan
oleh pemerintah dalam sistem sekuler-demokrasi yang oportunistik dan pro kapital. Paham
politik kapitalisme yang menguasai dunia saat ini, tak terkecuali Indonesia, menjadikan
negara tidak melayani rakyatnya yang memang merupakan tanggungjawabnya. Pelayanan
terbaik hanya mampu diberikan oleh negara Khilafah, yang menjadikan prinsip politik dalam
negerinya untuk melayani urusan masyarakat, menjamin terpenuhinya kebutuhannya serta
membela hak-haknya. Sejarah kekhilafahan Islamiyyah juga telah menunjukkan betapa
syariat Islam sanggup menciptakan pemerintah yang peduli pada masyarakat dan menjaga
lingkungan mereka.
Wallh alam bi ash-shawb.