Anda di halaman 1dari 10

ABSORBSI SINAR GAMMA

Novita Indah Pratiwi, Safira Arta Paramita, Novita Suci Wulandari,Ulfatun


Khasanah
Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Matematika
Universitas Diponegoro
Jl. Prof.Soedarto Tembalang, Semarang, Indonesia
e-mail: Novita.i.pratiwi@gmail.com

Abstrak

Detektor Geiger Muller bekerja berdasarkan prinsip ionisasi, dimana partikel


radiasi yang masuk akan mengionisasi gas isian dalam detektor. Telah dilakukan
percobaan absorbsi sinar gamma yang bertujuan untuk menentukan koefisien atenuasi
dari material Al dan Pb serta untuk memahami prinsip kerja dari detektor Geiger Muller.
Sumber radiasi yang digunakan dalam percobaan adalah Co-60 dengan Cs-137.
Berdasarkan analisis data percobaan nilai koefisien atenuasi bergantung pada energi foton
sumber sinar gamma dan material penyerap yang digunakan. Dalam percobaan ini
material Pb merupakan material penyerap yang lebih baik daripada material Al. Nilai dari
koefisien atenuasi dapat diperoleh dari gradien grafik hubungan antara intensitas sumber
sinar gamma terhadap ketebalan material penyerap.

Abstract

Geiger Muller detector works on the principle of ionization, in which the


incoming radiation particles ionize the gas in the detector. A gamma ray absorption
experiment was conducted to determine the coefficient of attenuation of Al and Pb
materials and to understand the working principle of Geiger Muller detector. The
radiation source used in the experiment was Co-60 with Cs-137.
Based on the experimental data analysis the coefficient of attenuation value
depends on the energy of the gamma ray source photon and the absorbent material used.
In this experiment Pb material is a better absorbent material than Al material. The value
of the attenuation coefficient can be obtained from the graph gradient relationship
between the intensity of the gamma-ray source to the thickness of the absorbent material.
PENDAHULUAN
Radiasi nuklir memiliki dua sifat yang
Radiasi merupakan suatu cara khas :
perambatan energi dari sumber energi ke tidak dapat dirasakan secara langsung
lingkungannya tanpa membutuhkan dan
medium atau bahan penghantar tertentu. dapat menembus berbagai jenis bahan.
oleh karena itu untuk menentukan ada mendeteksi radiasi gamma, walaupun
atau tidak adanya radiasi nuklir tingkat reliabilitasnya kurang. Pencacah
diperlukan suatu alat, yaitu pengukur geiger tidak bisa digunakan untuk
radiasi, yang digunakan utuk mengukur mendeteksi neutron.
kuantitas, energi, atau dosis radiasi. Bagian bagian Detektor Geiger Muller
panca indera manusia secara langsung :
tidak dapat digunakan untuk menangkap
atau melihat ada tidaknya zarah radiasi
nuklir, karena manusia memang tidak
mempunyai sensor biologis untuk zarah
radiasi nuklir. Walaupun demikian,
dengan bantuan peralatan instrumentasi
nuklir maka manusia dapat mendeteksi
dan mengukur radiasi nuklir. Jadi
manusia sepenuhnya tergantung pada
peralatan instrumentasi nuklir untuk
mengetahui dan memanfaatkan zarah
radiasi nuklir tersebut.
Katoda yaitu dinding tabung logam
Detektor merupakan suatu bahan yang
yang merupakan elektroda negatif. Jika
peka terhadap radiasi, yang bila dikenai
tabung terbuat dari gelas maka dinding
radiasi akan menghasilkan tanggapan
tabung harus dilapisi logam tipis.
mengikuti mekanisme yang telah
Anoda yaitu kawat tipis atau wolfram
dibahas sebelumnya. Perlu diperhatikan
yang terbentang di tengah tengah
bahwa suatu bahan yang sensitif
tabung. Anoda sebagai elektroda positif.
terhadap suatu jenis radiasi belum tentu
Isi tabung yaitu gas bertekanan rendah,
sensitif terhadap jenis radiasi yang lain.
biasanya gas beratom tunggal dicampur
Sebagai contoh, detektor radiasi gamma
gas poliatom (gas yang banyak
belum tentu dapat mendeteksi radiasi
digunakan Ar dan He).
neutron.
Pencacah Geiger, atau disebut juga
Prinsip kerja Detektor Geiger Muller :
Pencacah Geiger-Mller adalah sebuah
Detektor Geiger Muller
alat pengukur radiasi ionisasi. Pencacah
meupakan salah satu detektor yang
Geiger bisa digunakan untuk
berisi gas. Selain Geiger muller masih
mendeteksiradiasi alpha dan beta.
ada detektor lain yang merupakan
Sensornya adalah sebuah tabung Geiger-
detektor isiann gas yaitu detektor
Mller, sebuah tabung yang diisi oleh
ionisasi dann detektor proporsional.
gas yang akan bersifat konduktor
Ketiga macam detektor tersebut secara
ketika partikel atau fotonradiasi
garis besar prinsip kerjanya sama, yaitu
menyebabkan gas (umumnya Argon)
sama-sama menggunakan medium gas.
menjadi konduktif. Alat tersebut akan
Perbedaannya hanya terletak pada
membesarkan sinyal dan menampilkan
tegangan yang diberikan pada masing-
pada indikatornya yang bisa berupa
masing detektor tersebut.
jarum penunjuk, lampu atau bunyi klik
Apabila ke dalam labung masuk zarah
dimana satu bunyi menandakan satu
radiasi maka radiasi akan mengionisasi
partikel. Pada kondisi tertentu, pencacah
gas isian. Banyaknya pasangan eleklron-
Geiger dapat digunakan untuk
ion yang lerjadi pada deleklor Geiger- anoda. Dalam keadaan seperti ini
Muller tidak sebanding dengan tenaga detektor tidak peka lagi terhadap
zarah radiasi yang datang. Hasil ionisasi datangnya zarah radiasi. Oleh karena itu
ini disebul elektron primer. Karena efek muata ruang harus dihindari dengan
antara anode dan katode diberikan beda menambah tegangan V. penambahan
tegangan maka akan timbul medan tegangan V dimaksudkan supaya terjadi
listrik di antara kedua eleklrode tersebut. pelepasan muatan pada anoda sehingga
Ion positif akan bergerak kearah dinding detektor dapat bekerja normal kembali.
tabung (katoda) dengan kecepatan yang Pelepasan muatan dapat terjadi karena
relative lebih lambat bila dibandingkan elektron mendapat tambahan tenaga
dengan elektron-elektron yang bergerak kinetic akibat penambahan tegangan V.
kea rah anoda (+) dengan cepat. Apabila tegangan dinaikkan terus
Kecepatan geraknya tergantung pada menerus, pelucutan alektron yang terjadi
besarnya tegangan V. sedangkan semakin banyak. Pada suatu tegangan
besarnya tenaga yang diperlukan untuk tertentu peristiwa avalanche elektron
membentukelektron dan ion tergantung sekunder tidak bergantung lagi oleh
pada macam gas yang digunakan. jenis radiasi maupun energi (tenaga)
Dengan tenaga yang relatif tinggi maka radiasi yang datang. Maka dari itu pulsa
elektron akan mampu mengionisasi yang dihasilkan mempunyai tinggi yang
atom-atom sekitarnya. sehingga sama. Sehingga detektor Geiger muller
menimbulkan pasangan elektron-ion tidak bisa digunakan untuk mengitung
sekunder. Pasangan elektron-ion energi dari zarah radiasi yang datang.
sekunder inipun masih dapat Kalau tegangan V tersebut dinaikkan
menimbulkan pasangan elektron-ion lebih tinggi lagi dari tegangan kerja
tersier dan seterusnya. sehingga akan Geiger Muller, maka detektor tersebut
terjadi lucutan yang terus-menerus akan rusak, karena sususan molekul gas
(avalence). atau campuran gas tidak pada
Kalau tegangan V dinaikkan lebih tinggi perbandingan semula atau terjadi
lagi maka peristiwa pelucutan elektron peristiwa pelucutan terus menerusbyang
sekunder atau avalanche makin besar disebut continous discharge. Hubungan
dan elektron sekunder yang terbentuk antara besar tegangan yang dipakai dan
makin banyak. Akibatnya, anoda banyaknya ion yang dapat dikumpulkan
diselubungi serta dilindungi oleh muatan dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
negative elektron, sehingga peristiwa
ionisasi akan terhenti. Karena gerak ion
positif ke dinding tabung (katoda)
lambat, maka ion-ion ini dapat
membentuk semacam lapisan pelindung
positif pada permukaan dinding tabung.
Keadaan yang demikian tersebut
dinamakan efek muatan ruang
atau space charge effect.
Tegangan yang menimbulkan efek Pembagian daerah tegangan
muatan ruang adalah tegangan kerja tersebut berdasarkan jumlah ion
maksimum yang membatasi yang terbentuk akibat kenaikan tegangan
berkumpulnya elektron-elektron pada yang diberikan kepada detektor isian
gas. Adapun pembagian tegangan Besarnya sudut datang dari
tersebut dimulai dari tegangan terendah sumber radiasi tidak mempengaruhi
adalah sebagai berikut: banyaknya cacah yang terukur karena
I. = daerah rekombinasi prinsip dari detektor Geiger Muller
II. = daerah ionisasi adalah mencacah zarah radiasi selama
III. = daerah proporsional radiasi tersebut masih bisa diukur.
IV. = daerah proporsioanl Berbeda dengan detektor lain misalnya
terbatas detektor sintilasi dimana besarnya sudut
V. = daerah Geiger Muller datang dari sumber radiasi akan
Kurva yang atas adalah ionisasi mempengaruhi banyaknya pulsa yang
Alpha, sedangkan kurva bawah adalah dihasilkan.
ionisasi oleh Beta. Kedua kurva Kelebihan Detektor Geiger
menunjukkan bahwa pada daerah Muller :
tegangan kerja tersebut, detektor ionisasi Konstruksi simple dan Sederhana
dan detektor proporsional masih dapat Biaya murah
membedakan jenis radiasi dan energi Operasional mudah
radiasi yang datang. Dengan demikian, Kekurangan Detektor Geiger
detektor ionisasi dan detektor Muller :
proporsional dapat digunaknan pada Tidak dapat digunakan untuk
analisis spectrum energi. Sedangkan spektroskopi karena semua tinggi pulsa
detektor Geiger Muller tidak dapat sama.
membedakan jenis radiasi dan energi Efisiensi detektor lebih buruk jika
radiasi. dibandingkan dengan detektor jenis lain.
Tampak dari gambar tersebut Resolusi detektor lebih rendah.
bahwa daerah kerja detektor Geiger Waktu mati besar, terbatas untuk laju
Muller terletak pada daerah V. pada cacah yang rendah.
tegangan kerja Geiger Muller elektron
primer dapat dipercepat membentuk
elektron sekunder dari ionisasi gas METODOLOGI PENELITIAN
dalam tabung Geiger Muller. Dalam hal
Alat dan Bahan
ini peristiwa ionisasi tidak tergantung a. Satu set Detektor Geiger Muller dan
pada jenis radiasi dan besarnya energi Counter
radiasi. Tabung Geiger Muller b. Pinset
memanfaatkan ionisasi sekunder c. Sumber radiasi, 60Co dan 137Cs.
sehingga zarah radiasi yang masuk ke d. Penghalang timbal (Pb) dan
detektor Geiger Muller akan Alumunium (Al) dengan variasi
menghasilkan pulsa yang tinggi ketebalan
pulsanya sama. Atas dasar hal ini, Timbal : Tebal (0,5 cm), Tipis (0,1 cm)
detektor Geiger Muller tidak dapat
Alumunium : Tebal (0,5 cm), Tipis
digunakan untuk melihat spectrum (0,1 cm)
energi, tetapi hanya dapat digunakan
untuk melihat jumlah cacah radiasi saja. Set Up Alat
Maka detektor Geiger Muller sering
disebut dengan detektor Gross Beta
gamma karena tidak bisa membedakan
jenis radiasi yang datang.
Materi penyerap radiasi : Al (ringan 0,1
cm dan berat 0,5 cm) Pb (ringan 0,1
cm dan berat 0,5 cm)
Pada pengulangan data ke III tiap
pengulangan ditambahkan satu pelat
identik

I. Intensitas Latar

Pengulangan Intensitas
1 4
2 9
Pengulangan Sumber I Sumber II 3 14
4 8
Intensitas Intensitas 5 7
Radiasi Co Radiasi Cs
1 287 559
2 286 555 II. Intensitas sumber radiasi
3 311 654
Gambar 1 Set Up Alat

III. Intensitas sumber radiasi


CARA KERJA dengan
1. Menyiapkan alat dan bahan. tambahan
2. Merangkai alat dan bahan. materi penyerap
3. Menghubungkan detektor dengan radiasi (Al dan
sumber listrik PLN. Pb)
4. Melakukan cacah latar selama 10
Pengula Sumber Sumber
detik dengan pengulangan 5 kali
n Radiasi Co Radiasi Cs
5. Melakukan pencacahan sumber g Al Pb Al Pb
radiasi dengan variasi bahan radiasi a ri B ri b rs B ri b
(137Cs dan 60Co) masing-masing n n e n e in e n e
selama 10 detik dengan pengulangan g r g r g r g r
6. meletakan materi penyerap radiasi a a a a a a a a
masing masing (Al dan Pb) diatas n t n t n t n t
1 1 2 1 1 1 6 4 5 2
sumber radiasi dengan variasi tebal
6 9 9 6 5 2 4 5
7. Melakukan pencacahan masing 0 8 1 8 6 6 2 4
masing selama 10 detik 2222 2 2 1 1 1 5 3 2 1
8. mencatat intensitas radiasi yang 1 1 6 7 0 1 9 1
tertera pada layar counter 4 5 5 8 0 9 3 7
3 3 1 8 1 1 4 2 3 5
DATA PERCOBAAN 5 3 1 4 5 3 0 0
8 3 5 6 1 7
Mengukur daya serap Detektor Geiger
Muller. PEMBAHASAN
Tanggal acuan : 16 November 2017
Sumber radiasi : Co-60 dan Cs-137
Pada Percobaan Adsorbsi Sinar Gamma 1.sumber radiasi Co- 60
yang bertujuan untuk menentukan
koefisien atenuasi dari mterial Al dan Pb
serta memahami prinsip kerja deector Pb tipis.
geiger muller
0,1 cm, = 449,63/
Hal pertama yang dilakukan
adalah mengubungkan detektorgeiger 0,2 cm, = 301,61/
muller dengan sumber tegangan ,maka
akan adanya beda potensial yang 0,3 cm, = 335,59/
mengakibatkan perpindahan elektron
Pb berat
dari potensial tinggi kepotensial rendah
sehingga timbullah arus. Disini kami 0,5 cm, = 116,85/
mengukur radiasi latar terlebih dahulu
.cacah radiasi latarsendiri adalah 1 cm, = 52,348/
cacahan yang terjadi saat tidak ada
sumber.pencacahan radiasi ini dilakukan 1,5 cm, = 49,324/
sebanyak5 kali pengulangan masing- Al tipis
masing10 s.
0,1 cm, = 129,08/
Hal kedua yang dilakukan
adalah menentukan pencacahan radiasi 0,2 cm, = 165, 5/
sumber radiasi yakni co-60 selama10 s
dilakukan 3 kali pengulangan sesuai 0,3 cm, = 216, 32/
dengan prinsip kerja detektor geiger
Al berat
muller bahwa jika ada radiasi pengion
masuk kedalam tabung maka akan 0,5 cm, = 82,40/
terbentuk sejumlah pasangan ion positif
dan ion negatif akibat proses eksitasi 1 cm, = 98,784/
atau ionisasi primer atom gas. Pulsa
1,5 cm, = 89,652/
tersebut timbul akibat elektron lebih
cepatsampai ke anodadaripada ion 2. sumber radiasi Cs-137
positif kekatoda dan juga menunjukkan
tinggi pulsa. Pb tipis.

Hal ketiga yang dilakukan 0,1 cm, = 84,99/


adalah menentukan pencacahan radiasi
sumber cs-137. hal yang sama terjadi 0,2 cm, = 356,78/
seperti co-60 0,3 cm, = 221, 84/
Hal keempat yang dilakukan Pb berat
adalah memberikan sebuah penyerap
yang berpa Al dan Pb. 0,5 cm, = 172, 19/

Dalam percobaan ini di dapat 1 cm, = 167, 7/


hasil perhitungan bahwa nilai koefisien
atenuasi sebagai berikut : 1,5 cm, = 175,77/
Al tipis 3. Semakin tebal penghalang atau
penyerap maka semakin kecil
0,1 cm, = 108,6/ cacah atau intensitasnya.
4. Prinsip kerja geiger muller
0,2 cm, = 83, 485/ adalah adanya ion positifdan ion
negatif yang datang pada pada
0,3 cm, = 86, 912/ anoda dan katoda akibat adanya
proses ionisasi maupun eksitasi
Al berat pada tabung geigermulleroleh
zat pengion.
0,5 cm, = 66,022/

1 cm, = 62, 613/


SARAN
1,5 cm, = 63, 915/
Antara praktikan harus lebih
Dalam percobaan absorbsi sinar
berkordinasi dalam menggunakan alat.
gamma ini hasil nilai koefisisen
Selain itu karena zat yang digunakan
atenuasi dari hasil perhitungan dan
cukup berbahaya maka praktikan harus
percobaan dipengaruhi oleh :
berhati hati dalam melakukan percobaan
harus seminimalisir kontak langsung
1. Kesalahan pengmatan (
dengan zat radioaktif.
peletakkan sumber radiasi
dan bahan penyerap tidak
tepat ).
2. kesalahan prosedur
3. ketebalan Al dan Pb
mempengaruhi nilai
intensitas radiasi

KESIMPULAN

Pada percobaan ini dapat ditarik


kesimpulan bahwa

1. Nilai koefisien atenuasi


berbanding lurus dengan nilai
= (ln X lnIo)
2. Nilaikoefisien atenuasi
berbanding terbalik dengan
nilaix,dimana x merupakan
ketebalan material Al atau Pb.
DAFTAR PUSTAKA Teknologi hasil pertanian, FTP,
Universitas Brawijaya Malang, Riset
Azam,M,F, Soutika Hiliyana, Evi, Aplikasi Teknologi dan Radiasi
Setyawati.2007.Penentuan Efisiensi BATAN.
Gamma pada Detector Gierger
Muller.Jurnal Sains dan Surdina,T dan Sinroku.1992.Pengetahuan
Matematika.volume 5 nomor 2 Aprl Bahan Teknik. Pramitha
2007. Jurusan FMIPA Undip
Utami, Mei, Budi dkk.2014. Penentuan
Fernando,Lidya.2012.Studi Kandungan Watak Statistik dan Pencacahan
Logam Berat Timbal (Pb), Nikel (Ni), Radiasi Nuklir dan Resolving Time
Kromium (Cr), dan Kadmium (Cd) Gieger Muller. Laboratorium
pada Kerang Hijau (peaviridus) dan Radiasi. Fakultas Sains dan
Sifat Fraksionasinya pada Sedimen Teknologi Universitas Airlangga
Laut. Depok. Fakultas Sains dan Surabaya.
Matematika departemen Kimia.
Wijono, Gatot Wurdiyanto, Pujadi. 2010.
Gabriel, J,F.1996.Fisika Penentuan Karakteristik Serapan
Kedokteran.Jakarta.Penerbit Buku Atenuasi Linier Penyangga Mylar
Kedoktern ECC. Terhadap Radiasi Beta untuk Sumber
Radiasi Sr-90. Pusat Teknologi
Putri,Febriyono Asoor Keselamatan dan Metrologi.BATAN.
Anggita,Agustine,Krisna
Wardani,Harsojo.2015.Aplikasi Wulandari.2011. Analisis Cesium-137
Teknologi Iradiasi Gamma dan dalam Sampel Cair Lingkungan
Penyimpanan Beku Sebagai Upaya dengan Spektometri Gamma.
Penurunan Bakeri Patogen Pada Perbandingan Metode Preparasi,
Seafood.Kajian Pustaka. Jurnal Pengendapan dan Penguapan..
Pangan dan ArgoIndustri. Vol 3 No 2 Fakultas MIPA program studi Kimia.
345-352, April 2015, Jurusan Depok
LAMPIRAN

1. Perhitungan

Al ringan
x Ix I0 ln Ix ln I0
0,001 25,16 28,63 3,23 3,35 129,08
0,002 20,56 28,63 3,02 3,35 165,5
0,003 14,96 28,63 2,71 3,35 216,32
Al berat
x Ix I0 ln Ix ln I0
0,005 18,96 28,63 2,94 3,35 82,401
0,01 10,66 28,63 2,37 3,35 98,784
0,015 7,46 28,63 2,01 3,35 89,652
Co
Pb ringan
x Ix I0 ln Ix ln I0
0,001 18,26 28,63 2,9 3,35 449,63
0,002 15,66 28,63 2,75 3,35 301,61
0,003 10,46 28,63 2,35 3,35 335,59
Pb berat
x Ix I0 ln Ix ln I0
0,005 15,96 28,63 2,77 3,35 116,85
0,01 16,96 28,63 2,83 3,35 52,348
0,015 13,66 28,63 2,61 3,35 49,324
Al ringan
x Ix I0 ln Ix ln I0
0,001 64,76 58,09 4,17 4,06 -108,6
0,002 49,16 58,09 3,9 4,06 83,485
0,003 44,76 58,09 3,8 4,06 86,912
Al berat
x Ix I0 ln Ix ln I0
0,005 41,76 58,09 3,73 4,06 66,022
0,01 31,06 58,09 3,44 4,06 62,613
0,015 22,26 58,09 3,1 4,06 63,951
Cs
Pb ringan
x Ix I0 ln Ix ln I0
0,001 53,36 58,09 3,98 4,06 84,99
0,002 28,46 58,09 3,35 4,06 356,78
0,003 29,86 58,09 3,4 4,06 221,84
Pb berat
x Ix I0 ln Ix ln I0
0,005 24,56 58,09 3,2 4,06 172,19
0,01 10,86 58,09 2,39 4,06 167,7
0,015 4,16 58,09 1,43 4,06 175,77