Anda di halaman 1dari 102

BAB 25

HIPERSENSITIVITAS GIGI
Ragangan Bab

Pendahuluan
Definisi
Mekanisme Sensitivitas Dentin
Insidens dan Distribusi
Etiologi dan Faktor Predisposisi
Diagnosis Banding
Diagnosis
Perawatan

PENDAHULUAN

Hipersensitivitas dentin merupakan kondisi klinis umum yang sering dikaitkan dengan permukaan dentin yang
terbuka. Kondisi ini dapat memengaruhi pasien yang berasal dari semua kelompok usia dan paling sering
memengaruhi gigi kaninus dan premolar pada kedua rahang. Gejala umum yang dilaporkan pasien adalah nyeri
tajam tapi tidak berlangsung lama yang disebabkan oleh satu atau beberapa stimulus yang berbeda yakni termal,
kimiawi, sentuhan, penguapan, dan osmosis.
Telah diajukan berbagai teori untuk membantu menjelaskan mekanisme yang terkait dengan etiologi
hipersensitivitas dentin yaitu teori transducer, teori modulasi, dan teori hidrodinamik. Di antara teori-teori di
atas, teori hidrodinamik adalah teori yang paling diterima. Teori ini mengatakan bahwa jika cairan dalam
tubulus dentin terkena stimulus, pergerakan cairan akan menstimulasi reseptor mekanis yang menyebabkan
ditransmisikannya stimulus tersebut ke saraf pulpa dan menimbulkan respons nyeri. Perawatan dilakukan
setelah diagnosisya pasti hipersensitivitas dentin dan perawatan terbaiknya adalah melalui perawatan oleh diri
sendiri (self-care), perawatan professional, atau kombinasi keduanya.

DEFINISI
Hipersensitivitas dentin adalah suatu nyeri yang singkat, tajam yang timbul dari terpajannya dentin sebagai
respons atas stimulus yang umumnya adalah stimulus termal, kimiawi, sentuhan, atau osmosis dan tidak dapat
dianggap sebagai suatu kelainan patologis dental atau suatu defek dental (Holland et al. 1997)

Tinjauan sejarah
Leeuwenhoek (1678) menjelaskan tentang adanya saluran gigi di dentin
JD White (1855) berpendapat bahwa nyeri dentin disebabkan oleh pergerakan cairan dalam tubulus dentin
Lukomsky (1941) mendukung teori bahwa natrium fluorida sebagai desensitizing obtunden.
Brannstrom (1962) menguraikan teori hidrodinamik sebagai penyebab nyeri dentin.
Kleinberg (1986) menyimpulkan berbagai pendekatan yang digunakan ntuk merawat hipersensitivitas.

MEKANISME SENSITIVITAS DENTIN

Teori-teori Sensitivitas Dentin


Teori Neural
Teori neural mengacu pada aktivasi ujung saraf yang terletak di dalam tubulus dentin. Sinyal saraf ini dialirkan
sepanjang serabut saraf aferen primer di dalam pulpa menuju percabangan saraf dental dan kemudian diteruskan
ke dalam otak (Gbr. 25.1). Teori neural menganggap bahwa seluruh badan tubulus mengandung ujung-ujung
saraf bebas.
Teori Transduksi Odontoblas

Teori ini mengasumsikan bahwa odontoblas memanjang ke perifer. Awalnya stimulus mengeksitasi prosesus
odontoblas atau badan sel odontoblas. Membran odontoblas bisa berdekatan dengan ujung-ujung saraf dalam
pulpa atau di dalam tubulus dentin dan odontoblas akan mentransmisikan sinyal eksitasi dari ujung-ujung saraf
terkait. Namun demikian, pada penelitian terakhir, Thomas (1984) mengindikasikan bahwa prosesus odontoblas
terbatas hanya sampai sepertiga bagian dalam dari tubulus dentin. Dengan demikian, tampaknya bagian luar
dari tubulus dentin tidak mengandung elemen seluler tetapi hanya berisi cairan dentin.
Gambar 25.1. Teori-teori hipersensitif dentin. (1) Teori neural: stimulus yang diberikan ke dentin langsung
menyebabkan eksitasi serabut saraf; (2). Teori transduksi odontoblas: Stimulus ditransmisikan sepanjang
odontoblas dan menuju ujung serabut saraf sensoris melalui sinaps; (3). Teori hidrodinamik: stimulus
menyebabkan perpindahan cairan yang terdapat di dalam tubulus dentin kemudian akan merangsang serabut
saraf.
Teori Hidroninamik

Menurut teori ini, stimulus menyebabkan perpindahan cairan yang berada di dalam tubulus dentin. Perpindahan
cairan ini bisa terjadi dengan bergerak ke arah luar atau bergerak ke arah dalam dan gangguan mekanis ini akan
mengaktifkan ujung saraf yang terdapat pada pulpa atau dentin.
Brannstrom (1962) menduga bahwa pergerakan isi tubulus cukup cepat untuk merusak bentuk serabut saraf
di dalam pulpa atau predentin, atau merusak sel odontoblas. Kedua efek ini nampaknya mampu menimbulkan
nyeri..
Saat ini sebagian besar peneliti setuju bahwa sesitivitas dentin disebabkan oleh pergerakan cairan
hidrodinamis sepanjang dentin yang terpajan dengan tubulus dentin yang terbuka. Pergerakan cairan yang cepat
ini, pada gilirannya mengaktifkan saraf mekanoreseptor dari grup A di dalam pulpa (Gbr. 25.2)
Mathews et al. (1994) mencatat bahwa stimulus seperti rasa dingin menyebabkan cairan bergerak menjauhi
pulpa, menghasilkan respons-respons saraf pulpa yang lebih besar dan lebih cepat dibandingkan dengan
stimulus lain seperti panas, yang menghasilkan gerakan aliran ke dalam. Hal ini menjelaskan mengapa respons
terhadap stimulus dingin lebih cepat dan lebih parah dibandingkan dengan respons tumpul dan lambat yang
timbul terhadap stimulus panas.
Dehidrasi dentin akibat semprotan udara atau kertas penyerap menyebabkan pergerakan cairan ke arah
luar dan menstimulasi mekanoreseptor dari odontoblas, menimbulkan nyeri. Semprotan udara yang diperlama
akan menyebabkan pembentukan sumbatan protein di dalam tubulus dentin, mengurangi pergerakan cairan
dentin, sehingga akan mengurangi rasa sakit (Gbr. 25.3A).
Nyeri yang ditimbulkan ketika larutan gula atau garam berkontak dengan dentin yang terbuka juga
dapat dijelaskan melalui pergerakan cairan dentin. Cairan dentin memimiliki tingkat osmolaritas rendah,
cenderung mengalir menuju larutan dengan osmolaritas tinggi, dalam hal ini larutan garam dan gula (Gbr.
25.3B

Gambar 25.2. Teori hidrodinamik: A. Odontoblas; B. Dentin; C. Serabut saraf A-delta; D. Prosesus
odontoblas; E. Serabut saraf A-delta dari perpindahan cairan

INSIDENS DAN DISTRIBUSI

Usia penderita berkisar antara 20 s/d 40 tahun dan puncaknya berada pada usia akhir 30-an.
Secara umum, penderita hipersensitivitas dentin wanita memiliki tingkat insidens lebih tinggi dibandingkan
dengan insidens pada pria.
Lebih rendahnya tingkat insidens hipersensitivitas dentin pada individu yang lebih tua mencerminkan
perubahan yang terjadi pada dentin dan jaringan pulpa gigi. Sklerosis pada dentin, peletakan dentin
sekunder dan fibrosis pulpa akan mengganggu transmisi hidrodinamis dari stimulus melalui dentin yang
terbuka.

Distribusi Intraoral

Hipersensitivitas umumnya dijumpai pada area servikal bukal di gigi permanen. Walaupun semua tipe gigi
bisa terpengaruh, kaninus dan premolar pada kedua rahang adalah gigi yang paling sering terpengaruh.
Berkaitan dengan bagian sisi mulut, pada orang yang menyikat gigi dengan tangan kanan, hipersensitivitas
dentin terlihat lebih besar pada sisi kiri mulut dibandingkan gigi kontralateralnya.

Gambar 25.3A dan B: (A) Efek semprotan udara pada dentin; (B) Nyeri dihasilkan oleh stimulus yang
berbeda.

Semprotan udara atau dehidrasi stimulus dingin Stimulus panas larutan hiperosmotik Tunulus dentin dan
pergerakan cairan dentin

Serabut A-delta aferen

ETIOLOGI DAN FAKTOR DISPOSISI

Penyebab utama hipersensitivitas dentin adalah tubulus dentin yang terbuka. Dentin dapat terbuka terjadi
karena dua proses yaitu hilangnya struktur periodontium yang melindunginya (resesi gingiva) (Diagram
Alur 25.1), atau melalui hilangnya email.
Penyebab klinis terpajannya tubulus dentin yang paling umum adalah resesi gingiva (Gbr. 25.4).
Ketika terjadi resesi gingiva, lapisan pelindung luar dentin akar, yaitu sementum, terkikis atau tererosi (Gbr.
25.5). Hal ini menyebabkan dentin di bawahnya terbuka. Daerah ini mengandung prosesus odontoblas yang
berasal dari kamar pulpa (Gbr 25.6). Sel-sel ini berisi ujung saraf, yang bila terganggu, saraf akan
mengalami depolarisasi yang akan diterjemahkan sebagai nyeri (Gbr. 25.7).
Setelah tubulus dentin terpajan, terjadi proses oral yang membuatnya tetap terpajan. Proses Ini meliputi
kontrol plak yang buruk, keausan emaill, teknik higienis mulut yang tidak tepat, erosi servikal, dan terpajan
pada asam.
Alasan utama terjadinya resesi gingiva

Penyebab umum adalah resesi gingiva


Akar yang menonjol
Abrasi akibat penyikatan gigi
Kebiasaan mulut yang menyebabkan luka gingiva yaitu mengorek-ngorek (picking) gigi trauma, memakan
makanan keras
Pembersihan gigi berlebihan
Flossing berlebihan
Resesi gingiva yang diseababkan penyakit tertentu, yaitu NUG, periodontitis, dan gingivostomatitis
herpetika
Preparasi mahkota gigi
Penyebab hilangnya email

Atrisi yang disebabkan fungsi oklusal yang berlebihan seperti bruksisme


Abrasi dari komponen makanan atau teknik menyikat gigi yang buruk.
Erosi yang terkait dengan lingkungan atau partikel asam dalam komponen makanan

Gambar. 25.4. Resesi gingiva

Diagram Alur 25.1. Resesi gingiva

Resesi gingiva Pembuangan lapisan sementum Terpajannya dentin dan sekaligus tubulus dentin
Depoparisasi ujung saraf odontoblas nyeri

Gambar 25.5. Erosi sementum

Gambar 25.6. Tubulus dentin yang terbuka

Gambar 25.7. Depolarisasi ujung saraf menyebabkan nyeri

DIAGNOSIS BANDING

Hipersensitivas dentin mungkin lebih tepat disebut sebagai kumpulan gejala (simtom) daripada sebagai suatu
penyakit dan terjadi akibat transmisi stimulus sepanjang tubulus dari dentin yang terbuka. Terdapat sejumlah
kondisi dental disebabkan oleh terbukanya dentin, dan karena itu mungkin menghasilkan gejala yang sama.
Kondisi-kondisi tersebut di atas adalah:

Gigi gompal
Restorasi yang mengalami fraktur
Perawatan restorasi
Karies gigi
Sindrom gigi retak
Invaginasi email lainnya

DIAGNOSIS

Riwayat yang rinci disertai pemeriksaan radiografis dan klinis menyeluruh penting untuk sampai pada
diagnose definitf hipersensitivitas dentin.
Hipersensitivitas gigi berbeda dari nyeri pulpa atau nyeri dentin. Pada kasus hipersensitivitas dentin
kemampuan pasien untuk menentukan sumber nyeri sangat baik, sedangkan pada kasus nyeri pulpa, sangat
buruk.
Karakter nyeri tidak lebih lama dari hadirnya stimulus; nyeri semakin parah oleh perubahan suhu, rasa
manis, dan asam.
Intensitas nyeri biasanya antara ringan sampai sedang.
Nyeri bisa diduplikasi oleh aplikasi panas atau dingin atau dengan menggores dentin. Nyeri pulpa terasa
lebih hebat, intermitten, berdenyut dan bisa dipengaruhi oleh panas dan dingin.
PERAWATAN

Hipersensitivitas dapat diatasi tanpa perawatan atau mungkin membutuhkan aplikasi obat desensitisasi beberapa
minggu hingga terlihat ada perbaikan.. Perawatan dentin hipersensitif merupakan suatu tantangan baik bagi
pasien maupun dokter dokter giginya, terutama karena alasan berikut:
1. Sulit mengukur atau membandingkan nyeri di antara pasien yang berbeda.
2. Pasien sulit mengubah kebiasaan yang menyebabkan munculnya permasalahan.

Manajemen Hipersensitivitas Gigi

Sebagaimana telah diketahui, hipersensitivitas sering mereda tanpa perawatan. Hal ini bisa terjadi karena
permeabilitas gigi menurun secara spontan akibat terjadinya proses alamiah di rongga mulut.

Proses Alami yang Membantu Desensitisasi

1. Pembentukan dentin reparatif oleh jaringan pulpa


2. Obturasi tubulus oleh terbentuknya deposit mineral (sklerosis).
3. Terbentuknya kalkulus di permukaan dentin.
Dua pilihan perawatan utama adalah:
1. Sumbat tubulus dentin untuk menghambat pergerakan cairan.
2. Desensitisasi saraf, sehingga tidak terlalu responsif terhadap stimulasi.
Semua cara merujuk dua pilihan di atas.

Manjemen hipersensitivitas dentin

Perawatan di rumah dengan pasta gigi:


Pasta gigi strontium khlorida
Pasta gigi kalium nitrat
Pasta gigi fluor
Prosedur perawatan di klinik:
Varnis
Kortikosteroid
Perawatan dengan menutup sebagian tubulus dentin.
o Memoles gigi
o Ag- nitrat
o Zn- khlorida kalium ferosianida
o Formalin
o Seyawa kalsium
o Kalsium hidroksida
o Dibasic calsium phosphate
o Senyawa fluor
o Natrium fluorida
o Natrium silikofluorida
o Stannous fluoride
o Iontoforesis
o Strontium khlorida
o Kalium oksalat
Pelapis tubulus
- Resin restoratif
- Agen adhesif dentin (dentin bonding agent)
Lain-lain
Laser
Edukasi Pasien:
Konsultasi diet
Teknik menyikat gigi
Kontrol plak.

Perawatan di Rumah dengan Pasta Gigi

Setelah melalui diagnosis profesional, hipersentivitas dentin dapat dirawat secara sederhana dan murah dengan
perawatan di rumah menggunakan pasta gigi desensitisasi (Gbr. 25.8).
Gambar. 25.8. Produk yang biasa digunakan di rumsh untuk hipersensitif dentin

Pasta Gigi Strontium Khlorida

Pasta gigi desensitisasi dengan strontium khlorida 10 % efektif menghilangkan nyrti hipersensitivitas gigi.

Pasta Gigi Kalium Nitrat


Pasta gigi kalium nitrat 5 % dapat meringankan nyeri terkait hipersensitivitas gigi
Pasta Gigi Fluor
Pasta gigi natrium monofluorofosfat adalah cara efektif mengobati hipersensitivitas gigi.

Prosedur Perawatan di Klinik

Alasan Terapi
Berdasaran teori hidrodinamik mengenai hipersensitivitas, pergerakan cairan yang cepat di dalam tubulus dentin
mampu mengaktifkan saraf sensoris intradental. Karena itu, perawatan gigi hipersensitif harus ditujukan untuk
mengurangi diameter anatomis tubulus, menutup tubulus atau menutup dentin yang terpajan melalui
pembedahan untuk mengurangi pergerakan cairan (Gbr. 25.9A s/d C)

Kriteria Pemilihan Materi Desensitisasi

Meredakan nyeri secara cepat dan mempertahankannya


Mudah diaplikasikan
Dapat ditolerir dengan baik oleh pasien
Tidak membahayakan jaringan pulpa
Tidak mewarnai gigi
Relatif tidak mahal.
Gambar 25.9A sd C. Prosedur perawatan in-office untuk hipersensitifitas dentin. (A) Menutupi (melapisi)
permukaan gigi yang terpajan; (B) Obliterasi tubulus dentin; (C) Menutup tubulus yang terpajan dengan
pembedahan.
Pilihan Perawatan untuk Mengurangi Diameter Tubulus Dentins

Membentuk smear layer dengan memoles permukaan akar yang terpajan (smear layer terdiri dari partikel
kecil dentin amorf, mineral, dan matriks organik kolagen terdenaturasi)
Aplikasi material yang dapat membentuk endapan tidak larut dalam tubulus
Impregnasi tubulus dengan resin plastik
Aplikasi agen adhesif dentin untuk menutup tubulus
Menutup tubulus dentin yang terpajan secara pembedahan.
Perlu diketahui bahwa satu prosedur tunggal saja belum tentu efektif secara konsisten untuk kasus
hipersensitivitas; oleh karena itu, dokter harus mengetahui metode perawatan alternatifnya. Sebelum merawat
permukaan akar yang sensitif, deposit keras/lunak harus dihilangkan dari gigi. Root planning pada dentin
sensitif bisa menyebabkan ketidaknyamanan, untuk itu, gigi harus dianestesi sebelum perawatan dan diisolasi
serta dikeringkan dengan udara hangat.
Varnis. Tubulus yang terbuka dapat ditutupi dengan selapis tipis varnis, yang dapat meredakan nyeri untuk
sementara; varnis seperti Copalite bisa digunakan untuk hal ini. Untuk meredakan nyeri lebih lanjut, dapat
digunakan Duraflor, varnis yang mengandung fluor.
Kortikosteroid. Kortikosteroid terdiri atas 1% prednisolone yang dikombinasikan dengan 25% parakhorofenol,
25% metakresilasetat dan 50% gum camphor terbukti efektif dalam mencegah sensitivitas termal pasca
perawatan. Penggunaan kortikosteroid berdasarkan pada asumsi bahwa hipersensitivitas itu terkait dengan
inflamasi pulpa; dengan demikian diperluan informasi lebih lanjut mengenai hubungan di antara kedua kondisi
ini.

Obliterasi Parsial Tubulus Dentin

Pembersihan gigi. Pembersihan gigi dengan toothpick atau orange wood stick akan menyebabkan terbentuknya
smear layer yang akan menyumbat sebagian tubulus dentin sehingga menurunkan hipersensitivitas.
Pembentukan endapan tak larut untuk menyumbat tubulus. Garam larut tertentu bereaksi dengan ion di struktur
gigi dan membentuk kristal di permukaan dentin. Agar efektif, kristalisasi sebaiknya terjadi dalam 1 sampai 2
menit dan kristal harus cukup kecil untuk memasuki tubulus namun cukup besar untuk menyumbat sebagian
tubulus.

Kristal kalsium oksalat dihidrat yang terbentuk saat kalium oksalat diaplikasikan di dentin ternyata sangat
efektif mengurangi permeabilitas.
Perak nitrat (AgNO) mampu mengendapkan unsur protein pada prosesus odontoblas, sehingga
menyumbat sebagian tubulus.
Zn.-klorida kalium ferosianida. Ketika diaplikasikan akan membentuk sumbatan berbentuk kristal dan
menutupi permukaan dentin
Formalin 40% biasanys diaplikasikan secara topikal dengan menggunakan pelet kapas atau batang kayu
orange (orange wood stick) pada gigi. Cara ini diperkenalkan oleh Grossman pada tahun 1935 sebagai
material desensitisasi pilihan dalam perawatan gigi anterior karena tidak meninggalkan noda seperti pada
penggunaan AgNO.
Senyawa kalsium adalah material yang populer selama bertahun-tahun untuk perawatan hipersensitivitas.
Mekanisme tepatnya tidak diketahui namun bukti menunjukkan bahwa senyawa ini:
Dapat menyumbat tubulus dentin
Mendorong pembentukan dentin peritubular.
Dengan meningkatkan konsentrasi ion kalsium di sekitar serabut saraf, eksitabilitas saraf dapat
diturunkan. Karena itu, kalsium hidroksida mampu menekan aktivitas saraf.
o Pasta Ca(OH) yang dicampurkan dengan air suling steril diaplikasikan ke permukaan akar terbuka dan
didiamkan selama 3 s/d 5 menit dapat dengan cepat mengurangi nyeri pada 75% kasus.
o Dibasic calsium phosphate ketika dioleskan dengan tusuk gigi (toothpick) bulat akan membentuk
deposit mineral di dekat permukaan tubulus dan ternyata efektif pada 93% pasien.
Senyawa Fluor. Lukomsky (1941) adalah orang pertama yang mengajukan natrium fluorida sebagai bahan
desensitisasi, karena cairan dentin jenuh dengan ion kalsium dan ion fosfat. Aplikasi NaF menyebabkan
presipitasi kristal kalsium fluorida, dengan demikian mengurangi diameter tubulus dentin.
- Natrium fluorida yang diasamkan (acidulated). Konsentrasi fluor di dalam dentin yang diberi terapi
dengan natrium fluorida yang diasamkan secara signifikan lebih tinggi daripada yang dirawat hanya
dengan natrium fluorida.
- Natrium silikofluorida. Silicic acid membentuk gel dengan kalsium gigi dan membentuk barier yang
berfungsi sebagai insulator. Aplikasi 0.6% natrium silikofluorida lebih manjur daripada larutan natrium
fluorida 2% sebagai agen desensitisasi.
- Stannous fluoride 10% membentuk lapisan tebal dari timah dengan partikel bulat berisi fluor yang
menyumbat tubulus dentin. SnF 0.4% juga merupakan agen efektif, namun perlu penggunaan yang lebih
lama (s/d 4 minggu) untuk mencapai hasil yang memuaskan.
Iontoforesis fluor. Iontophoresis adalah istilah yang digunakan untuk penggunaan tenaga listrik guna
mentransfer ion ke dalam tubuh untuk tujuan terapi. Tujuan iontoforesis fluor adalah untuk mendorong agar
fluor masuk lebih jauh ke dalam tubulus dentin yang tidak dapat diraih hanya dengan aplikasi fluor topikal.
Strontium khlorida: Penelitian menunjukkan bahwa aplikasi topikal dari strontium khlorida pekat pada
permukaan dentin yang terabrasi menghasilkan deposit strontium yang mampu menembus dentin sampai
kedalaman kurang lebih 10 s/d 20m sehingga dapat masuk ke dalam tubulus dentin.
Oksalat. Oksalat relatif tidak mahal, mudah dipakai, dan dapat ditoleransi pasien. Larutan kalium oksalat
dan feri oksalat menghasilkam ion oksalat yang dapat bereaksi dengan ion kalsium dari cairan dentin dan
membentuk kristal kalsium oksalat yang tidak larut yang kemudian didepositkan di orifis tubulus dentin.
Resin dan adhesif dental. Tujuan penggunaan resin dan adhesif adalah untuk menutup tubulus dentin dan
mencegah stimulus yang menyebabkan nyeri mencapai pulpa.
GLUMA adalah sistem adhesif dentin yang terdiri atas glutaraldehid primer dan HEMA 35% (hidroksietil
metakrilat). Senyawa ini melekat pada dentin dengan cepat dan kuat. GLUMA sangat efektif ketika metode
perawatan lain gagal (Gbr. 25.10)
Gambar 25.10. Larutan desensitisasi GLUMA

Laser
Perawatan hipersensitivitas dentin dengan laser
Kimura Y et al (2000) meninjau perawatan dentin hipersensitif dengan laser. Laser yang digunakan untuk
perawatan terbagi dalam dua kelompok:
1. Low output power (level rendah): Laser diode Helium-Neon [He-Ne] dan gallium aluminum/arsenide
(Ga/Al/As).
2. Middle output power lasers: Laser Nd:YAG dan laser CO.
Efek laser dianggap disebabkan oleh efeknya yang menutup tubulus dentin, analgesia saraf, atau efek
plasebo. Efek menutup tubulus dentin dinilai dapat bertahan lama, sementara efek analgesia saraf dan efek
plasebo tidak.

Edukasi Pasien
Konseling Diet
Asam yang dikonsumsi mampu menyebabkan hilangnya struktur gigi karea erosi sehingga sementum akan
terlepas dan menyebabkan terbukanya tubulus dentin. Karena itu, konseling diet harus difokuskan pada
kuantitas dan frekuensi konsumsi asam dalam hubungannya dengan menggosok gigi. Perawatan akan gagal jika
faktor ini tidak dikontrol. Riwayat diet secara tertulis harus diperoleh dari pasien yang menderita dentin
hipersensitif agar bisa memberi saran terkait kebiasaan makan.
Karena risiko tergerusnya dentin meningkat ketika sikat gigi dilakukan segera setelah gigi bersentuhan
dengan makanan asam, pasien harus diperingatkan untuk tidak melakukan hal ini.
Teknik Menyikat Gigi
Karena menyikat gigi yang tidak benar sepertinya merupakan faktor etiologi pada hipersensitif dentin, instruksi
mengenai cara menggosok gigi yang tepat dapat mencegah tergerusnya dentin dan timbulnya hipersensitivitas.

Kontrol Plak
Saliva engandung kalsium dan ion fosfat dan karena itu dapat membantu pembentukan deposit mineral dalam
tubulus dentin yang terpajan. Hadirnya plak dapat mengganggu proses ini, karena plak adalah bakteri yang
menghasilkan asam dan mampu melarutkan endapan mineral yang terbentuk dan membuka tubulus.

RINGKASAN

Hipersensitivitas dentin didefinisikan sebagai nyeri yang singkat dan tajam pada dentin yang terbuka
sebagai respons terhadap rangsang termal, kimiawi, sentuhan, atau osmosis dan karena itu tidak dapat
dianggap sebagai bentuk defek atau patologi dental lainnya.
Nyeri yang tajam dan dpapat dtentukan sembernya dengn lebih baik dan dimediasi oleh serabut A delta,
sementara aktivasi serabut C biasanya dihubungkan dengan sensasi nyeri yang tumpul dan menyebar. Serabut
A-delta yang diselaputi mielin merupakan serabut araf yang berperan dalam sensitivitas dentin.
Teori neural dianggap berkaitan dengan aktivasi ujung saraf yang terdapat di dalam tubulus dentin. Sinyal-
sinyal saraf ini kemudian ditransmisikan sepanjang serabut saraf aferen primer induk yang ada di dalam
pulpa kemudian ke ke otak.
Teori hidrodinamik adalah teori yang banyak diterima. Dikatakan bahwa suatu stimulus akan menyebabkan
pergerakan cairan yang berada di dalam tubulus dentin. Pergerakan ini terjadi ke arah luar atau ke dalam dan
gangguan mekanis ini mengaktifkan ujung saraf yang berada di dalam dentin atau pulpa.
Biasanya terjadi pada rentang usia 20 40 tahun pada gigi kaninus dan premolar.
Penyebab utama hipersensitivitas dentin adalah tubulus dentin yang terbuka, yang bisa terjadi karena
hilangnya struktur periodontium yang melindunginya (resesi gingiva), atau karena hilangnya email.
Hipersensitivitas harus didiagnosis bandingkan dengan gigi gompal, restorasi fraktur, dan sindrom gigi retak.
Anamnesis yang cermat disertai pemeriksaan radiografis dan klinis yang saksama merupakan tindakan yang
diperlukan sebelum tiba pada diagnosis akhir hipersensitif dentin. Namun demikian, masalah mungkin sulit
dikenali jika terdapat dua atau lebih kondisi pada saat bersamaan.
Proses alamiah yang dapat berkontribusi pada desensitisasi gigi adalah pembentukan dentin reparatif, dentin
sklerosis, dan pembentukan kalkulus pada permukaan dentin.
Dua pilihan perawatan utama untuk desensitisasi adalah dengan menyumbat tubulus dentin, mengcegah
gerakan cairan dalam tubulus dentin, dan dengan mendesensitisasi saraf, yaitu membuatnya kurang responsif
terhadap stimulus.
Perawatan hipersensitivitas dapat dibagi menjadi perawatan di rumah (home care) dengan pasta gigi, prosedur
perawatan di klinik, dan edukasi pasien.
Hipersensitivitas dentin dapat diatasi secara sederhana dan murah dengan penggunaan pasta gigi desensitisasi
yang mengandung fluor, strontium khlorida, kalium nitrat, dll.
Perawatan di klinik untuk gigi hipersensitif harus ditujukan untuk mengurangi diameter anatomis dari tubulus,
obliterasi tubulus, atau menutup tubulus dentin secara pembedahan untuk membatasi pergerakan cairan.
Edukasi pasien meliputi konseling diet, teknik menyikat gigi, dan kontrol plak

PERTANYAAN
1. Definisikan hipersensitivitas dentin.
2. Bagaimana Anda akan mengatasi kasus hipersensitivitas dentin
3. Tulis catatan pendek mengenai:
a. Teori hidrodinamik.
b. Perawatan di klinik untuk hipersensivitas gigi
BIBLIOGRAFI

1. Addy M, Mostafa P, Newcombe RG. Dentin hypersensitivity; The distribution of recession, sensitivity
and plaque. J. Dent 1987;15:242-8.
2. Addy M. Dentin hypersensitivity; New perspective on an old proble. Int Dent J. 2002;53:367-75.
3. Dababneh R, Khouri A, Addy M . Dentin hypersensitivity: An enigma? A review of terminology,
epidemiology, mechanisms, aetiology and management. Br Dent J. 1999;187:606-11.
4. Karim, BF, Gillam DG. The efficacy of strontium and potassium toothpastes in treating dentin
hypersensitivity: a systematic review. International Journal of Denstistry. 2013.
5. Managing Dentin hypersensitivity. Retrieved 2010-11-06. J Am Dent Assoc. 200;137(7):990-8.
6. Miglani, Sanjay, Aggarwal Vivek, Ahuja Bhoomika. Dentin hypersensitivity: Recent trends in
management. Journal of Conservative Dentistry. 2010;13(4):218-24.
7. Schmidlin, Partick R, Sahrmann, Phillipp. Current management of dentin hypersensitivity. Clinical
Oral Investigations 2012;17(S1):55-9.
BAB 26
PENATALAKSANAAN GIGI BERUBAH WARNA

Ragangan Bab
. Pendahuluan - In-office bleaching
. Klasifikasi - Bleaching gigi nonvital

- Etiologi - Efek agen bleaching pada gigi dan


- Bleaching jaringan penyangga
- Agen bleaching - Efek pada material restorasi
- Teknik home bleaching

PENDAHULUAN
Gigi bersifat polikromatik sehingga warna gigi di daerah gingiva, insisal, dan servika bervariasi. Semua ini
bergantung kepada ketebalan, refleksi warna yang berbeda, dan translusensi email dan dentin (Gbr. 26.1).
Warna gigi yang sehat umumnya ditentukan oleh translusensi serta warna dentin, dan dimodifikasi oleh:

Warna email yang menutupi mahkota.


Translusensi email yang bervariasi sesuai tingkat kalsifikasinya.
Ketebalan email yang lebih tebal di tepi oklusal/insisal gigi dan lebih tipis di sepertiga servikal. Inilah
sebabnya gigi lebih gelap di sepertiga servikal dibandingkan dengan di tengah atau di sepertiga insisal.
Warna yang normal pada gigi sulung adalah putih kebiruan, sementara warna gigi permanen kuning keabu-
abuan, putih keabu-abuan, atau putih kekuning-kuningan. Seiring pertambahan usia, warna gigi berubah
menjadi lebih kuning atau kuning kelabu karena meningkatnya ketebalan dentin dan berkuranganya ketebalan
email.

KLASIFIKASI
Terdapat diskolorasi gigi yang beragam bergantung kepada etiologi, tampilan, lokasi, dan keparahan serta
perlekatan terhadap struktur giginya. Diskolorasi dapat diklasifikasikan menjadi diskolorasi ekstrinsik dan
diskolorasi intrinsik atau kombinasi keduanya. Menurut Feinman et al (1987) diskolorasi ekstrinsik terjadi
ketika suatu agen atau noda merusak permukaan email gigi. Pewarnaan ekstrinsik mudah dihilangkan dengan
pembersihan profilaktik normal. Pewarnaan intrinsik didefiniskan sebagai pewarnaan endogen yang telah
menyatu dengan matriks gigi sehingga tidak dapat dihilangkan dengan tindakan profilaksis. Kombinasi
keduanya (ekstrinsik dan intrinsik) sifatnya multifaktor misalnya pewarnaan oleh nikotin.

Diskolorasi intrinsik
Diskolorasi ekstrinsik
Kombinasi keduanya

Klasifikasi Pewarnaan Ekstrinsik (Nathoo, 1997)

Noda Dental Tipe N1 (noda dental langsung): Di sini, material berwarna terikat pada permukaan gigi,
menyebabkan diskolorasi. Gigi memiliki kromogen, suatu senyawa tak berwarna yang jika bereaksi dengan
material tertentu akan menjadi berwarna.
Noda Dental Tipe N2 (noda dental langsung): Di sini, kromogen berubah warna setelah terikat dengan gigi.
Noda Dental Tipe N3 (noda dental tidak langsung): Pada tipe ini prekromogen (tanpa warna) terikat ke
gigi dan mengalami reaksi kimia yang menyebabkan terjadinya noda
ETIOLOGI
Noda (Pewarnaan) Intrinsik

Penyebab Pra-erupsi
Penyakit
- Alkaptonuria
- Gangguan hematologis
- Penyakit pada email dan dentin
- Penyakit hati
Obat-obatan
- Noda tetrasiklin dan penggunaan antibiotik lain
- Noda fluorosis.
Penyebab Pasca Erupsi

Perubahan pada pulpa


Trauma
Hiperkalsifikasi dentin
Karies gigi
Material restorasi dan prosedur operatif
Penuaan
Perubahan fungsional dan parafungsional

Noda (Pewarnaan) Ekstrinsik


Noda Diperoleh Setiap Hari

Plak
Makanan & minuman
Tembakau
Higiene mulut yang buruk
Kalkulus Swimmer
Pendarahan gingivl.
Kimiawi

Klorheksidin
Noda metalik.

Noda (Pewarnaan) Intrinsik


Penyebab Pra erupsi
Penyebab-penyebab menyatu dengan lapisan email dan dentin yang lebih dalam selama odontogenesis dan
mengubah perkembangan dan tampilan email dan dentin.
Alkaptonuria: Pigmentasi coklat gelap pada gigi sulung umumnya terlihat pada alkaptonuria; ini merupakan
sebuah kelainan resesif autosomal yang mengakibatkan oksidasi menyeluruh dari tirosin dan fenilalanin dan
menyebabkan peningkatan level asam homogentisik.
Gangguan Hematologis

Eritroblastosis fetalis: Sebuah kelainan darah neonatus yang disebabkan oleh inkompabilitas Rh. Di sini,
noda tidak melibatkan gigi atau sebagian gigi tetetapi berkembang setelah berhentinya hemolisis tak lama
setelah kelahiran. Noda biasanya berwarna hijau, coklat atau kebiru-biruan.
Porfiria kongenital: Kekeliruan genetik dalam metabolisme porfirin, ditandai dengan produksi uroporfirin
yang berlebihan. Gigi sulung dan permanen bisa mengalami diskolorasi merah atau kecoklatan. Di bawah
sinar ultraviolet, gigi tampak berfluoresensi merah.
Anemia sel sabit: Merupakan dIskrasia darah turunan yang ditandai oleh meningkatnya hemolisis sel darah
merah. Noda gigi pada anemia sel sabit jarang sama dengan yang terjadi pada eritroblastosis fetalis, namun
diskolorasinya lebih parah, melibatkan gigi geligi dan tidak berkurang seiring waktu.

Penyakit di email dan dentin


Amelogenesis imperfekta: Kondisi yang menunjukkan perubahan perkembangan pada struktur email tanpa
adanya gangguan sistemik. Amelogenesis Imperfekta (AI) dikelompokkan menjadi tipe hipoplastik,
hpokalsifikasi, dan hipomaturasi (Gbr. 26.2A s/d D)
Fluorosis: Pada fluorosis, pewarnaan disebabkan oleh penyerapan fluor berlebihan selama perkembangan
email. Fluor yang berlebihan ini akan menyebabkan perubahan metabolik pada ameloblas dan email yang
dihasilkannya memiliki defek pada mtriks dan suatu struktur yang mengalami hipomineralisasi yang ireguler.
(Gbr. 26.3)
Noda Fluorosis Dimanifestasikan sebagai :

Daerah berwarna abu-abu atau putih opak pada gigi


Diskolorasi kuning sampai coklat pada permukaan halus email (Gbr. 26.4)
Perubahan sedang dan parah terlihat sebagai cekungan/pitting dan diskolorasi coklat pada permukaan (Gbr.
26.5)
Penampilan seperti karat yang parah dengan diskolorasi coklat gelap dan hilangnya sebagian besar email.

Gambar 26.2A s/d D. Amelogenesis imperfekta. (A) email normal; (b) email hipokalsifikasi; (C) email
hipoplastik, berbintik; (D) email hipomaturasi.
Gambar 26.3. Gambaran klinis fluorisis pada gigi dalam bentuk diskolorasi kecoklatan dengan
hipomineralisasi
Gabmar 26.4. Gigi fluorosis menunjukkan diskolorasi kuning sampai coklat
Gambar 26.5. Gigi fluorosis menunjukkan pitting dan diskolorasi kecoklatan
Gambar 26.6A s/d C. (A) Amelogenesis Imperfekta (hipoplastik, berbintik-bintik); (B) Acquired enamel
hypoplasia; (C) Amelogenesis Imperfekta (snowcapped)
Hipoplasia email dan hipokalsifikasi karena penyebab lain (Gbr. 26.6A s/d C):

Defisiensi vitamin D menimbulkan karakteristik white patch hypoplasia pada gigi


Defisiensi vitamin C dan vitamin A dalam periode pembentukan gigi mengakibatkan penampilan berbintik-
bintik pada gigi
Sakit masa kanak-kanak dalam masa odontogenesis seperti demam eksantematosa, malnutrisi, gangguan
metabolisme, dll., juga memengaruhi gigi.
Dentinogenesis Imperfekta: merupakan gangguan perkembangan autosomal dominan pada dentin yang terjadi
selama atau bersamaan dengan amelogenesis imperfekta (Gbr. 26.7A s/d C). Warna gigi pada dentinogenesis
imperfekta (DI) beragam dari mulai abu-abu ke coklat keunguan sampai coklat kekuning-kuningaan dengan
karakteristik translusen atau opalescent hue yang biasa rona opalesen.
Tetrasiklin dan minosiklin: DIskolorasi yang terlihat buruk pada gigi di kedua rahang diakibatkan oleh
penyerapan berlebihan dari tetrasiklin dan minosiklin selama masa pertumbuhan gigi. Khelasi molekul
tetrasiklin dengan kalsium dalam kristal hidroksiapatit membentuk tetrasiklin ortofosfat yang menyebabkan
diskolorasi gigi (Gbr. 26.8)
-----------------------------------------------------------------------------

Cacat dalam pembentukan dentin:

Dentinogenesis Imperfekta
Porfiria eritropoietik
Tetrasiklin dan minosiklin (asupan berlebih)
Hiperbilirubinemia
-----------------------------------------------------------------------------------------
Gambar 26.7A s/d C. (A) Gigi normal; (B) Dentinogenesis imperfekta; (C) Displasia dentin
Gambar 26.8. Foto yang memperlihatkan pewarnaan karena tetrasiklin
Gambar 26.9. Diskolorasi gigi 11 karena nekrosis pulpa
Gambar 26.10. Berkurangnya translusensi pada gigi 11 karena nekrosis pulpa
Klasisifaksi noda tetrasiklin berdasarkan tingkat perkembangan, pembentukan band (garis?) dan warna
(Jordun dan Boksman 1984)

Derajat pertama (ringan) kuning sampai abu-abu, tersebar merata pada seluruh gigi. Tidak ada banding
Derajat kedua (sedang) kuning coklat sampai abu-abu gelap, terjadi sedikit banding kalau ada.
Derajat ketiga (noda berat) abu abu atau hitam kebiru-biruan dan disertai banding sepanjang gigi.
Derajat keempat Noda yang sangat gelap hingga bleaching tidak efektif sama sekali.
Keparahan pigmentasi dengan tetrasiklin bergantung pada tiga faktor:
1. Waktu dan durasi pemberian
2. TIpe tetrasikline yang diberikan
3. Dosis.
Penyebab Pasca Erupsi

Perubahan pulpa: nekrosis pulpa biasanya disebabkan oleh bakteri, iritasi mekanis, dan iritasi kimiawi ke
pulpa. Produk disintegrasinya kemudian memasuki tubulus dentin dan menyebabkan diskolorasi (Gbr. 26.9
dan 26.10)
Trauma: Cedera tidak disengaja pada gigi dapat menyebabkan perubahan degeneratif pada pulpa dan email
yang dapat mengubah warna gigi (Gbr. 26.11). Pendarahan pulpa menyebabkan diskolorasi keabu-abuan dan
penampilan nonvital. Cedera dapat menyebabkan pendarahan yang selanjutnya menyebabkan lisis sel darah
merah dan pelepasan sulfida besi yang memasuki tubulus dentin dan menyebabkan diskolorasi pada gigi
sekitarnya.
Hiperkalsifikasi dentin: hiperkalsifikasi dentin terjadi ketika ada kelebihan elemen yang ireguler pada
rongga pulpa dan dinding saluran akar. Hal ini menyebabkan diskolorasi gigi.
Karies gigi: Umumnya, gigi mengalami diskolorasi di sekeliling area stagnasi bakteri, dan restorasi yang
bocor (Gbr. 26.12)
Material restorasi dan prosedur dental: Diskolorasi juga dapat disebabkan oleh penggunaan siler
endodonsia dan material restorasi.
Penuaan: Perubahan warna pada gigi karena proses penuaan disebabkan oleh perubahan pada permukaan
dan sub-permukaan. Diskolorasi karena penuaan disebabkan oleh:
Perubahan email: terjadi penipisan serta perubahan tekstur pada email
Deposisi dentin: deposit dentin sekunder dan tersier dan batu pulpa dapat menyebaban perubahan warna
gigi (Gbr. 26.13 dan 26.14)
Perubahan fungsional dan parafungsional: Keausan gigi dapat menyebabkan tampilan gigi yang lebih
gelap disebabkan hilangnya permukaan gigi dan terpajannya dentin yang lebih kuning dan rentan terhadap
perubahan warna akibat absorbsi cairan mulut dan deposisi dentin reparatif (Gbr. 26.14)

Gambar 26.11. Diskolorasi gigi 21 karena cedera traumatik diikuti oleh nekrosis pulpa

Gambar 26.12. Diskolorasi karena karies

Gambar 26.13. Diskolorasi kekuning-kuningan karena deposisi dentins sekunder dan dentin tersier

Gambar 26.14. Diskolorasi gigi karena gigi aus dan penuaan

Noda (Pewarnaan) Ekstrinsik


Noda Diperoleh Setiap Hari
Plak: Pelikel dan plak pada permukaan gigi memberikan tampilan warna kekuningan pada gigi.
Makanan & minuman: Konsumi teh, kopi, anggur merah, kari, dan kola berlebihan menyebabkan
diskolorasi.
Tembakau memberikan tampilan coklat sampai hitam pada gigi.
Rendahnya kebersihan gigi tampak sebagai :
Noda hijau
Noda coklat
Noda oranye
Kalkulus Swimmer: Ini adalah noda kuning sampai coklat gelap yang terlihat di permukaan fasial dan
lingual gigi anterior. Ini timbul akibat terpajan terlalu lama pada air kolam renang.
Pendarahan gingiva.
Kimiawi

Noda klorheksidin: Noda yang timbul akibat penggunaan khlorhksidin yakni tampak coklat kekuningan
sampai kecoklatan.
Noda metalik: ini disebabkan oleh logam dan garam-garam logam yang masuk ke rongga mulut lewat debu
yang mengandung logam yang dihirup oleh pekerja industri atau obat yang diberikan secara oral.

Noda akibat logam yang berbeda

Debu tembaga noda hijau


Debu besi noda coklat
Merkuri noda hitam kehijauan
Nikel noda hijau
Perak noda hitam
BLEACHING
Bleaching adalah prosedur mencerahkan warna gigi melalui aplikasi bahan kimia untuk mengoksidasi
pigmentasi organik dalam gigi.
Tujuan bleaching adalah mengembalikan warna normal gigi dengan dekolorasi warna menggunakan bahan
oksidasi kuat, dikenal sebagai agen bleaching.

Mekanisme
Mekanisme bleaching utamanya terkait dengan melakukan degradasi molekul organik kompleks dengan berat
molekul tinggi yang memantulkan panjang gelombang cahaya spesifik bertanggung jawab atas noda warna
(Gbr. 26.15). Produk hasil degradasinya adalah molekul yang lebih ringan dan tidak terlalu kompleks yang
memantulkan lebih sedikit cahaya, sehingga mengurangi atau menghilangkan diskolorasi.

Kontraindikasi
Seleksi Kasus yang Buruk
Pasien yang memiliki masalah emosional atau psikologis tidak tepat untuk di-bleaching.
Hipersensitivitas Dentin
Gigi hipersensitif harus mendapatkan perlindungan ekstra sebelum melakukan bleaching.

Gigi dengan Restorasi Luas


Gigi-gigi ini tidak tepat untuk di-bleaching karena:

Tidak memiliki cukup email untuk merespons bleaching secara semestinya.


Warna gigi yang direstorasi dengan restorasi sewarna gigi yang luas merupakan kandidat yang tidak baik
karena restorasi komposit tidak dapat menjadi lebih cerah, Warna noda malah menjadi lebih jelas setelah
bleaching.
Gambar 26.15. Gambaran skematik mekanisme bleaching.

Gigi dengan Tanda Hipoplasia dan Retakan


Aplikasi bahan bleaching meningkatkan kontras antara bintik opak putih dan struktur gigi normal. Pada kasus
ini, bleaching dapat dilakukan bersama dengan:

Mikroabrasi
Ameloplasti selektif
Composite resin bonding.
Restorasi yang Bocor dan Cacat
Restorasi yang bocor dan cacat tidak bukan kandidat yang baik untuk bleaching.

Diskolorasi dari garam logam, khususnya amalgam perak: Tubulus dentin dari gigi menjadi jenuh dengan
aloi dan tidak ada proses bleaching dengan produk yang ada sekarang yang secara signifikan akan
memperbaiki warna gigi.
Obturasi cacat: Jika saluran akar tidak diobturasi dengan baik, harus dilakukan obturasi ulang dahulu
sebelum bleaching dilakukan

AGEN BLEACHING
Berbagai bahan bleaching tersedia secara komersil. Komponen bahan bleaching ini antara lain :

Hidrogen Peroksida

Digunakan dengan konsentrasi antara 5 s/d 35%


HO memiliki berat molekul rendah sehingga dapat menembus dentin dan melepas oksigen.
Cairan bening, tidak berwarna, tidak berbau yang disimpan dalam botol tidak tembus cahaya.
Harus disimpan di tempat gelap dan dingin (kulkas). Bersifat tidak stabil dan harus dijauhkan dari panas.
Jika disimpan dengan tepat, umur simpannya antara 3 s/d 4 bulan walaupun dengan cepat membusuk jika
terkena debris organik dan udara terbuka.
Harus ditangani dengan hati-hati untuk mencegah kontak langsung dengan membran mukosa.
Dapat digunakan tunggal atau dikombinasikan dengan natrium perborat.

Natrium Perborat

Berupa bubuk putih dalam bentuk granula.


Terbagi tiga macam: natrium perborat monohidrat, trihidrat, dan tetrahidrat.
Ketiga tipe memiliki beragam konten oksigen.
Ketika dicampur dengan Superroxol, bahan ini terurai menjadi natrium metaborat, air, dan oksigen.

Karbamid peroksida

Juga dikenal dengan nama urea hidrogen peroksida.


Digunakan dalam konsentrat antara 3 s/d 45%
Terpecah menjadi urea, amonia, karbon dioksida, dan hidrogen peroksida (Diagram Alur. 26.1)
Karbopol (polimer asam poliakrilat) digunakan sebagai bahan pengental yang dapat memperlama pelepasan
peroksida aktif.
Untuk preparat gel, ditambahkan gliserin, propilen glikol, natrium stanat, asam sitrat, dan bahan penghaarum.

Teknik Bleaching

Untuk gigi vital


Teknik bleaching di rumah/night guard vital bleaching
Bleaching di tempat praktik (in-office)
Termokatalitik
Nontermokatalitik
Mirobrasion.
Untuk gigi nonvital
Bleaching di tempat praktik termokatalitik
Walking bleach/bleaching intrakorona
Bleaching luar/dalam
Bleaching ruang tertutup/bleaching extrakorona
Bleaching dengan bantuan sinar Laser
Diagram Alur 26.1. Mekanisme aksi karbamide peroksid
Karbamid peroksida uea Hidrogen peroksida (H2O2) CO2 Amonia

Oksigen+air+ radikal bebas Asam karbonat dalam saliva

TEKNIK BLEACHING DI RUMAH


Teknik bleaching di rumah juga disebut night guard bleaching.

Indikasi

Noda menyeluruh ringan


Diskolorasi terkait usia (ketuaan)
Noda tetrasiklin ringan
Fluorosis ringan
Noda suprfisial
Noda karena merokok tembakau
Perubahan warna karena trauma pulpa atau nekrosis

Kontraindikasi

Gigi dengan email tidak mencukupi untuk bleaching


Gigi dengan retakan di permukaan dan di dalam serta ada garis retak
Gigi dengan restorasi cacat atau tidak sempurna
Diskolorasi pada pasien dewasa dengan rongga pulpa besar
Fluorosis parah dan hipoplasia berbintik
Pasien yang kurang patuh
Pasien hamil & menyusui
Gigi dengan restorasi anterior besar
Noda tetrasiklin berat
Gigi patah atau malaligned
Gigi yang menampakkan sensitivitas ekstrim terhadap panas, dingin, atau manis
Gigi dengan bercak putih opak
Pasien ditengarai atau positif menderita bulimia nervosa

Larutan yang Biasa Digunakan pada Night Guard Bleaching

Karbamid peroksida 10% dengan atau tanpa carbopol


Karbamid peroksida 15%
Hidrogen peroksida (1-10%)

Faktor yang Memengaruhi Prognosis

Riwayat atau adanya gigi sensitif


Warna sangat hitam pada sepertiga gingiva gigi yang terlihat saat tersenyum.
Bercak putih yang luas
Gigi translusen
Resesi gingiva parah dan permukaan akar yang terbuka
Langkah-langkah Pembuatan Sendok Cetak Bleaching Perorangan

Ambil cetakan rahang dan buat model studi


Rapihkan model
Buat resin dan
Aplikasikan media separasi
Pilih material lembaran untuk sendok cetak
Sifat bahan yang digunakan untuk pembuatan sendok cetak bleaching perorangan adalah plastik fleksibel.
Material sendok yang paling umum digunakan adalah etil vinil asetat
Lakukan pengecoran plastik dalam mesin vakum pembuat sendok
Bentuk dan poles sendok cetak
Periksa sendok untuk kecocokan ukuran, retensi, dan over extension
Peragakan jumah bahan bleaching yang akan digunakan.

Ketebalan Sendok Cetak

Ketebalan standar sendok adalah 0.035 inci (Gbr. 26.16)


Sendok yang lebih tebal, yaitu 0.05 inci digunakan pada pasien dengan kebiasaan jelek
Sendok yang lebih tipis, yaitu 0.02 inci digunakan pada pasien yang mudah tersedak.

Regimen/Pengaturan Perawatan

Pasien diinstruksikan menggosok gigi sebelum memasang sendok


Pasien diminta menaruh bahan bleaching secukupnya pada sendok sehingga menutupi permukaan fasial gigi.
Setelah meletakkan sendok di mulut, material yang berlebih dibersihkan dengan hati-hati (Gbr.26.16A s/d C)
Menggunakan sendok pada siang hari memungkinkan penambahan gel setelah 1 sampai 2 jam untuk
mencapai konsentrasi maksimum. Penggunaan semalaman menyebabkan material tidak mudah berkurang
karena aliran saliva pada malam hari berkurang.
Sewaktu mengeluarkan sendok, pasien diminta memindahkan sendok cetak dari bagian molar kedua dengan
gerakan mengupas untuk menghindari luka pada jaringan lunak.
Pasien diminta membilas bahan bleaching dari tray sampai bersih.
Durasi perawatan bergantung pada tingkat diskolorasi awal, durasi bleaching, kepatuhan pasien, dan waktu
bleaching
Pasien diminta kembali kontrol periodik untuk menilai proses bleaching.
Gambar 26.16. Foto menunjukkan sendok cetak perorangan bleaching
Gambar 26.17A s/d C. Bleaching dengan night guard: (A) Foto sebelum tindakan; (B) Bleahing dengan night
guard; (C) Foto setelah tindakan (Courtesy: Jaidev Dhillon)

Pemeliharaan
Bleaching ulang dapat dilakukan setiap 3 sampai 4 tahun jika diperlukan dengan durasi 1 minggu.

Efek Samping

Iritasi gingiva - gusi sakit setelah beberapa hari menggunakan sendok


Iritasi jaringan lunak disebabkan pemakaian sendok terlalu lama atau menggunakan terlalu banya kagen
bleaching di sendok
Perubahan sensasi pengecapan Rasa logam segera setelah peneluaran sendok
Sensitivitas gigi efek samping paling umum.
Keuntungan
Metode sederhana untuk pasien
Mudah dimonitor oleh dokter gigi
Waktu di klinik lebih sedikit dan lebih murah
Pasien dapat menyesuaikan sendiri waktu bleaching

Kekurangan

Kepatuhan pasien hal yang mutlak


Perubahan warna bergantung seringnya penggunaan sendok cetak
Kemungkinan terjadi penyalah gunaan karena penggunaan bahan bleach yang berlebihan atau terlalu lama
per hari

BLEACHING DI KLINIK
Bleaching Termokatalitik Gigi Vital
Indikasi

Noda superfisial (Gbr. 26.18A dan B)


Noda ringan sampai moderat (Gbr. 26.18C dan D)
Kontraindikasi

Noda tetrasiklin
Restorasi yang luas
Diskolorasi berat
Karies yang luas
Pasien sensitif terhadap bahan bleaching
Peralatan yang Dibutuhkan

Bahan bleaching kuat


Pelindung jaringan
Sumber aktivasi/energi
Pakaian pelindung dan pelindung mata
Pengatur waktu mekanis

Sumber Cahaya

Lampu bleaching konvensional


Lampu halogen tungsten
Lampu arc plasma xenon
Laser CO dan Argon
Sinar laser diode
Gambar 26.18A s/d D. (A) Foto menunjukkan noda superfisial pada anterior maksila; (B) Foto pasca tindakan
setelah bleaching termokatalitik; (C) Gigi 11,21 menunjukkan diskolorasi; (D) Foto pasca tindakan setelah
bleaching termokatalitik pada gigi 11 dan 21.

Lampu bleaching konvensional

Menggunakan panas dan cahaya untuk mengaktifkan bahan bleaching


Panas ditingkatkan selama bleaching
Menyebabkan dehidrasi gigi
Kurang nyaman bagi pasien
Bereaksi lebih lambat

Lampu curing tungsten halogen

Menggunakan panas dan cahaya untuk mengaktifkan bahan bleaching.


Aplikasi cahaya 40 s/d 60 detik per aplikasi per gigi
Memakan waktu

Lampu arc plasma xenon

Cahaya berintensitas tinggi, sehingga lebih banyak panas dibebaskan saat bleaching
Aplikasi membutuhkan 3 detik per gigi
Bleaching lebih cepat
Kerjanya termal dan menstimulasi katalis dalam bahan kimia
Potensi trauma termal pada pulpa dan jaringan lunak sekitarnya lebih besar.

Laser Argon dan CO

Cahaya laser murni menstimulasi katalis dalam bahan kimia, sehingga tidak ada efek termal
Membutuhkan 10 detik per aplikasi per gigi

Lampu laser diode

Lampu laser murni yang dhasilkan dari benda padat


Sangat cepat
Membutuhkan 3 sampai 5 detik untuk mengaktifkan bahan bleaching
Tidak menghasilkan panas selama bleaching
Prosedur

Aplkasikan pumis pada gigi untuk menghilangkan kotoran di permukaan gigi.


Isolasi gigi dengan isolator karet dan lindungi jaringan gingiva dengan orabase atau vaselin. Lindungi mata
pasien dengan kacamata
Basahi kapas atau kasa dengan larutan bleaching (HO 30-35%) dan tempatkan di gigi.
Bergantung pada sumber cahaya, sinari gigi (Gbr. 26.19). Temperatur alat harus dipertahankan antara 52 sd
60C (125-140F).
Ganti larutan setiap antara 4 dan 5 menit. Waktu perawatan tidak boleh melebih 30 menit.
Bersihkan larutan dengan kasa basah
Bersihkan larutan dan irigasi gigi secara menyeluruh dengan air hangat
Poles gigi dan oleskan gel natrium fluorida netral
IInstruksikan pasien untuk kumur-kumur fluor setiap hari
Janji temu kedua dan ketiga dijadwalkan setelah 3 sampai 6 minggu untuk memberikan waktu pulpa
menyesuaikan diri.
Gambar 26.19. Bleaching teknik termokatalitik untuk gigi vital
Sumber cahaya Agen bleaching
Kelebihan

Sesuai pilihan pasien


Lebih sedikit waktu dibutuhkan daripada home bleaching
Motivasi pasien
Jaringan lunak terlindungi

Kekurangan

Waktu kerja lebih lama


Lebih mahal
Kemunduran warna lebih cepat dan tidak dapat ditebak
Janji temu Lebih sering dan lebih lama saat
Dehidrasi gigi
Pertimbangan keselamatan yang serius
Tidak terlalu banyak riset yang mendukung
Isolator karet kurang nyaman untuk pasien
Bleaching Nontermokatalitik
Pada teknik ini, sumber panas tidak digunakan

Larutan yang sering digunakan untuk bleaching

Nama Komposisi

Superoxol 5 bag HO: 1 bag ether


Larutan McInnes
5 bag HCL (36%)

Etsa email

1 bagian 0.2% ether

Bersihkan permukaan gigi

5 bagian 30% HO

Bleaching email

Modifikasi larutan McInnes


Pada larutan ini ditambahkan natrium hidroksida. Karena bersifat alkalin tinggi, kalsium di gigi lebih lambat
melarut
- HO (30%)
- NaOH (20%)
Campur dalam takaran yang sama, yaitu (1:1) dengan ether (0.2%)

Gambar 26.20 A s/d D. Langkah in-office bleaching: (A) Foto klinis sebelum tindakan; (B) aplikasi isolator
karet sebelum tindakan; (C) Aplikasi bahan bleaching; (D) Foto sesudah tindakan, setelah bleaching (Courtesy:
Jaidv Dhillon)
Langkah-langkah
Isolasi gigi menggunakan isolator karet
Aplikasikan agen bleaching pada gigi selama 5 menit
Cuci gigi dengan air hangat dan aplikasikan ulang agen bleaching hingga memperoleh warna yang diinginkan
Cuci gigi dan poles

Mikroabrasi
Mikroabrasi adalah prosedur, yang dalam prosedur ini lapisan mikroskopik email dierosi serentak dan diabrasi
dengan larutan khusus (biasanya mengandung asam hidroklorik 18%) sehingga mencapai permukaan email
yang utuh
Indikasi

Perkembangan noda intrinsik dan diskolorasi terbatas hanya pada email superfisial.
Diskolorasi email adalah sebagai hasil hipomineralisasi atau hipermineralisasi (Gbr. 26.21A dan B)
Lesi dekalsifikasi dari stasis dari plak dan band kawat ortodonsia
Area fluorosis email
Noda superfisial multiwarna dan tekstur permukaan yang ireguler.
Kontraindikasi

Noda yang muncul terkait usia


Lesi hipoplasia email dalam
Area email dalam dan noda dentin
Amelogenesis imperfekta dan dentinogenesis imperfekta
Noda tetrasiklin
Lesi karies pada regio yang mengalami dekalsifikasi
Protokol

Evaluasi gigi secara klinis


Bersihkan gigi dengan rubber cup dan pasta profilaksis
Aplikasikan vaselin pada mukosa dan isolasi dengan isolator karet
Aplikasikan senyawa mikroabrasi pada area dalam interval 60 detik dengan pembilasan yang cermat
Ulangi prosedur jika perlu. Periksa gigi ketika basah
Bilas gigi selama 30 detik dan keringkan
Aplikasikan fluor topikal pada gigi selama 4 menit
Evaluasi kembali warna gigi. Terkadang dibutuhkan lebih dari 1 kali kunjungan.

Keuntungan
Tingkat ketidaknyamanan bagi pasien rendah
Lebih cepat dan mudah dilakukan oleh operator
Sangat berguna menyingkirkan noda superfisial
Permukaan gigi yang dirawat berkilau dan mulus

Kelemahan

Tidak efektif untuk noda yang lebih dalam


Menggerus lapisan email
Pada beberapa kasus dilaporkan terjadinya diskolorasi gigi menjadi kuning setelah perawatan.
Gambar 26.21 A dan B. (A). Foto pra tindakan yang memperlihatkan diskolorasi pada 11, 21; (B) Fofoi pasca
tindakan setelah mikroabrasi.
BLEACHING GIGI NONVITAL
Teknik Thermokatalitik untuk Bleaching Gigi Nonvital

Isolasi gigi yang akan dibleach dengan isolator karet


Tempatkan bahan bleaching (Superoxol dan natrium perborat terpisah atau dikombinasikan) pada ruang
pulpai.
Panaskan larutan bleaching menggunakan stik bleachimg/sinar curing
Ulangi prosedur sampai warna yang diinginkan dicapai
Bilas gigi dengan air dan tutup ruang pulpa dengan kapas kering dan restorasi sementara.
Panggil kembali pasien setelah 1 sampai 3 minggu
Lakukan restorasi permanen dengan resin komposit yang sesuai.

Bleaching Intrakorona/ Walking Bleach untuk Gigi Nonvital


Untuk menghilangkan diskolorasi, teknik ini menggunakan bahan kimia yang diletakkan di bagian korona gigi
yang telah dirawat endodonsia.
Indikasi

Diskolorasi yang berasal dari kamar pulpa (Gbr. 26.22 dan 26.23)
Noda tetrasiklin sedang sampai berat
Diskolorasi dentin
Diskolorasi yang tidak dapat ditangani dengan bleaching ekstrakorona.
Kontraindikasi

Diskolorasi email superfisial


Pembentukan email cacat
Adanya karies
Prognosis gigi yang tidak dapat diprediksi
Langkah-langkah

Buat radiograf untuk menilai kualitas obturasi. Jika tidak memuaskan, lakukan perawatan ulang.
Evaluasi kualitas dan warna restorasi bila ada. Jika terlihat bahwa restorasi cacat, ganti.
Evaluasi warna gigi dengan shade guide.
Isolasi gigi dengan isolator karet.
Buat akses kavitas, keluarkan gutaperca di daerah korona, hingga dentin terlihat dan perbaiki kavitas (gbr.
26.24)
Buat barier mekanis setebal 2 mm, lebih disarankan memakai semen ionomer kaca, Zn. fosfat, IRM, semen
polikarboksilat atau MTA di atas bahan pengisi saluran akar (Gbr. 26.25). Tinggi koronal dari barier harus
dapat melindungi tubulus dentin dan sesuai dengan perlekatan epitel eksterna.
Sekarang, campurkan natrium perborat dengan cairan yang sesuai (anastetik lokal, salin atau air) dan
tempatkan adonan ini pada rongga pulpa (Gbr. 26.26). Untuk noda yang berat buatlah pasta dengan
menambahkan hidrogen peroksida 3%.
Setelah membuang kelebihan pasta bleaching, letakkan restorasi sementara di atasnya. Beri tekanan dengan
jari bersarung tangan karet pada gigi sampai adonan mengeras karena bahan pengisi bisa lepas akibat
pelepasan oksigen.
Panggil kembali pasien setelah 1 sampai 2 minggu, ulangi perawatan sampai warna yang diinginkan
diperoleh.
Restorasi kavitas akses setelah dua minggu dengan komposit.
Gambar 26.22A dan B. (A) Foto pra tindakan yang menunjukkan diskolorasi gigi 11; (B) Foto pasca tindakan
yang menunjukkan gigi 11 setelah walking bleach

Gambar 26.23A dan B. (A) Foto pra tindakan yang menunjukkan diskolorasi gigi 41; (B) foto pasca tindakan
setelah walking bleach pada gigi 41 ( Courtesy: Manoj Hans)

Gambar 26.24. Pembuangan gutaperca korona menggunakan instrumen putar

Gambar. 26.25 Penempatan barier pelindung di atas gutaperca.


Gutaperca barier pelindung

Komplikasi Bleaching Intrakorona

Resorpsi akar eksterna


Chemical burn jika menggunakan HO 30 s/d 25% sehingga gingiva harus diproteksi menggunakan vaselin
atau mentega kelapa.
Berkurangnya kekuatan ikatan komposit karena setelah prosedur bleaching terdapat residu oksigen.
Natrium askorbat adalah bentuk dapar dari vitamin C yang terdiri atas 90% asam askorbat terikat pada 10%
natrium. Natrium askorbat merupakan antioksidan yang digunakan untuk mengeluarkan residu oksigen setelah
bleaching

Tindakan Pencegahan agar Bleaching Nonvital Llebih Aman

Isolasi gigi secara efektif


Lindungi mukosa mulut
Periksa apakah obturasi endodonsia sudah tepat
Gunakan barier pelindung
Hindari etsa asam
Hindari oksidator kuat
Hindari panas
Panggil kembali secara berkala
Gambar 26.26. Penempatan campuran bleaching ke dalam rongga pulpa dan penutupan kavitas menggunakan
restorasi temporer.
Gutaperca Barier pelindung Agen bleaching

Teknik Bleaching Dalam/Luar


Sinonim
Bleaching interna/eksterna, modifikasi walking bleach.
Teknik ini melibatkan teknik bleaching intrakorona disertai teknik bleaching di rumah yang ditujukan
agar program bleaching lebih efektif. Kombinasi perawatan bleaching ini berguna untuk mengatasi noda yang
sulit diatasi, untuk problem spesifik seperti gigi vital/nonvital tunggal yang menghitam dan untuk
menghilangkan noda dengan penyebab berbeda pada gigi yang sama.
Prosedur

Cek obturasi dengan membuat radiograf


Isolasi gigi dan buat kavitas akses dengan mengeluarkan gutaperca hingga 2 sd 3 mm di bawah pertemuan
semento-email
Buat barier mekanis, bersihkan kavitas akses dan letakkan kapas butir di ruang pulpa guna menghindari
penumpukan makanan.
Evaluasi warna gigi
Periksa ketepatan sendok bleaching dan anjurkan pasien untuk menyingkirkan pelet kapas sebelum bleaching
dilakukan
Instruksikan pasien untuk melakukan bleaching di rumah. Semprit bleaching dapat langsung diletakkan di
atas ruang pulpa sebelum memasang sendok bleaching atau, bahan bleaching tambahan dapat dimasukkan
dalam sendok yang sesuai untuk gigi yang ruang pulpanya sudah terbuka (Gbr. 26.27)
Setelah bleaching selesai, gigi diirigasi dengan air, dibersihkan dan seperti biasa, kapas butir diletakkan pada
bagian yang kosong.
Penilaian ulang warna gigi dilakukan setelah 4 s/d 7 hari.
Ketika warna yang diinginkan tercapai, tutup kavitas akses, mula-mula dengan restorasi temporer, akhirnya
dengan restorasi komposit setelah paling cepat dua minggu.
Gambar 26.27. Teknik dalam/luar di dalam sendok cetak ini menutupi ruang pulpa dan di dalam kavitas akses
diletakkan pelet kapas.
Gutaperca Barier Kapas Gel bleaching Sendok bleachng yang pas

Keuntungan
Lebih banyak area permukaan yang dapat dipenetrasi oleh agen bleaching
Waktu perawatan hanya dalam hitungan hari, bukannya minggu
Menurunkan insidens resorpsi servikal
Menggunakan konsentrasi karbamid peroksida yang lebih rendah.

Kekurangan

Pasien tidak patuh


Overbleaching karena aplikasi yang berlebihan
Kemungkinan resorpsi cervikal berkurang namun masih ada.

Bleaching Ekstrakorona (Closed Chsmber Bleaching)


Pada teknik ini, agen bleaching diaplikasikan pada gigi menggunakan sendok bleaching, bukannya
menyingkirkan restorasi yang sudah ada.
Indikasi

Pada kasus saluran akar yang terkalsifikasi total pada gigi yang mengalami trauma.
Sebagai upaya menjaga hasil perawatan awal bleaching intrakorona beberapa tahun sebelumnya .
Perawatan untuk orang dewasa dengan maturasi gingiva belum sempurna
Gigi tunggal nonvital berwarna hitam yang gigi-gigi sekelilingnya cuku terang, atau yang gigi vital lainnya
juga harus di-bleaching.
Teknik Bleaching Dibantu dengan Laser
Teknik ini memperoleh proses power bleaching dengan bantuan sumber energi yang efisien dengan efek
samping minimum. Gel pemutih laser mengandung kristal yang diabsorbsi secara termal, uap silika, dan HO
35%. Di sini, gel diaplikasikan dan diaktifkan oleh sumber cahaya yang selanjutnya akan mengaktifkan kristal
yang terdapat dalam gel, memungkinkan terjadinya disosiasi oksigen sehingga penetrasinya ke dalam matriks
email menjadi lebih baik. LASER yang telah disetujui oleh FDA untuk bleaching gigi:

Laser argon
Laser CO
Laser diode GaA1As
Laser Argon

Memancarkan panjang gelombang 490 nm pada bagian sinar tampak (visible) dari spektrum sinar.
Mengaktifkan gel bleaching dan membuat permukaan gigi yang gelap menjadi lebih terang.
Efek termal pada pulpa lebih kecil dibandingkan dengn lampu panas lainnya.

Laser CO

Memancarkan panjang gelombang 10,600 nm.


Digunakan untuk meningkatkan efek pemutihan yang diberikan oleh laser argon.
Penetrasinya lebih dalam daripada laser agon karena itu efek pemutihannya lebih efektif.
Efek merusak pada pulpa lebih besar dibanding laser argon.
Laser Dioda GaAIAs (Gallium-Aluminium-Arsenik)
Memancarkan panjang gelombang 980 nm.

EFEK AGEN BLEACHING PADA GIGI DAN JARINGAN PENYANGGA GIGI


Hipersensitivitas Gigi
Sensitivitas gigi adalah efek samping yang sering terjadi pada bleaching gigi eksterna. Insidens sensitivitas gigi
yang lebih tinggi (67-78%) terlihat setelah bleaching di klinik dengan hidrogen peroksida yang dikombinasikan
dengan panas. Mekanisme yang mendukung untuk bleaching gigi eksterna walaupun belum sepenuhnya
terbukti, menyebutkan bahwa peroksida berpenetrasi ke email, dentin, dan pulpa. Penetrasi ini lebih hebat pada
gigi yang direstorasi dibanding gigi utuh.

Efek pada Email


Penelitian telah menunjukkan bahwa 10% karbamid peroxida secara signifikan menurunkan kekerasan email.
Namun demikian aplikasi fluor terlihat meningkatkan remineralisasi setelah bleaching.

Efek pada Dentin


Bleaching memperlihatkan perubahan warna yang seragam pada dentin.

Efek pada Pulpa


Penetrasi bahan bleaching ke dalam pulpa melalui email dan dentin menyebabkan sensitivitas gigi. Penenlitian
menunjukkan bahwa larutan HO 3% dapat menyebabkan:

Pengurangan sementara pada aliran darah pulpa


Tertutupnya pembuluh darah pulpa

Efek pada Sementum


Penelitian terahir telah menunjukkan bahwa sementum tidak dipengaruhi oleh material yang digunakan untuk
bleaching di rumah. Tetapi resorpsi servikal dan resorpsi akar eksterna terlihat pada gigi yang dilakukan
bleaching intrakorona menggunakan HO 30- 35%.

Resorpsi Servikal
Efek samping yang lebih serius seperti resorpsi akar eksterna dapat terjadi ketika menggunakan konsentrasi
hidrogen peroksida lebih tinggi dari 30% dan dikombinasikan dengan panas. Selama proses bleaching
termokatalitik, mungkin terbentuk gugus hidroksil terutama bila sebelumnya diginakan EDTA (asam
etilenediaminetetraasetat) untuk membersihkan gigi. Ion hidroksil dapat menstimulasi sel di dalam ligamen
periodontium servikal untuk berdiferensiasi ke dalam odontoklas, yang memulai resorpsi akar di area gigi di
bawah perlekatan epitel. Resorpsi servikal biasanya tidak menimbulkan nyeri sampai saat resorpsi memajankan
jaringan pulpa, sehingga memerlukan terapi endodonsia. Pemberian kalsium hidroksida intrakanal seringkali
berhasil menghentikan resorpsi gigi lebih lanjut, tetetapi resorpsi akar eksterna yang berat menyebabkan gigi
tersebut harus diekstraksi. Resorpsi akar moderat dapat diatasi dengan ekstrusi gigi secara orthodonsia
kemudian direstorasi dengan dengan mahkota pasak, walaupun prognosisnya masih meragukan. Resorpsi
servikal ringan dapat diatasi dengan akses pembedahan, kuretasi, dan penempatan restorasi.

Iritasi Mukosa
Hidrogen peroksida konsentrasi tinggi (30-35%) bersifat kaustik pada membran mukosa dan bisa menyebabkan
terbakar dan bleaching pada gingiva. Dengan demikian, sendok bleaching harus didesain untuk mencegah
terpajannya gingiva dengan menggunakan sendok yang hanya pas berkontak dengan gigi.

Genotoksisitas dan Karsinogenisitas


Hidrogen peroksida menunjukkan efek genotoksis karena radikal bebas yang dilepaskan dari hidrogen
peroksida (radikal hidroksil, ion perhidroksil dan anion superoksida) mampu menyerang DNA.

Toksisitas
Efek akut hidrogen peroksida yang tertelan bergantung pada jumlah dan konsentrasi larutan yang masuk.
Efeknya lebih parah, jika menggunakan konsentrasi yang lebih tinggi.
Tanda dan gejala biasanya terlihat sebagai ulserasi pada mukosa bukal, esofagus dan lambung, mual,
muntah, perut kembung, dan sakit tenggorokan. Karena itu, penting untuk menjauhkan semprit berisikan bahan
bleaching dari jangkauan anak-anak untuk menghindari kecelakaan yang mungkin bisa terjadi.
Bleaching adalah metode dekolorasi noda gigi yang aman, ekonomis, konservatif, dan efektif karena
berbagai alasan. Bleaching hendaknya selalu dipertimbangkan dahulu sebelum melakukan prosedur yang lebih
invasif seperti pembuatan vinir atau mahkota keramik penuh.

EFEK PADA MATERIAL RESTORASI


Aplikasi bleaching pada komposit menunjukkan perubahan ini:

Peningkatan kekerasan permukaan.


Permukaan yang kasar dan teretsa
Kekuatan tensil berkurang
Peningkatan kebocoran mikro.
Tidak terlihat perubahan warna yang signifikan pada material komposit selain penghilangan noda ekstrinsik di
sekeliling restorasi.
Efek Bahan Bleaching pada Material Lain

Tidak ada efek pada restorasi emas.


Perubahan mikrostruktur pada amalgam
Perubahan pada matriks ionomer kaca
IRM pada saat terpajan pada HO menjadi retak dan bengkak
Perubahan warna pada mahota sementara yang terbuat dari metil metakrilat dan berubah menjadi oranye.

PERTANYAAN
1.Faktor-faktor etiologi apa yang menyebabkan terjadinya diskolorasi gigi?
2.Definisikan bleaching. Jelaskan mekanisme bleaching dan klasifikasikan prosedur-prosedur bleaching yang
ada.
3.Bagaimana Anda melakukan bleaching pada gigi insisif sentral nonvital?
4.Diskusikan kelebihan dan kekurangan bleaching. Bagaimana Anda melakukan bleaching pada insisif sentral
nonvital?
5.Sebutkan penyebab diskolorasi gigi. Metode apa yang digunakan untuk memperoleh warna normal gigi?
Uraikan metode bleaching gigi vital
6.Tuliskan catatan pendek untuk:
a. Kontraindikasi bleaching
b. Night guard vital bleaching technique
c. Walking bleach
d. In-office bleach
e. Efek bleaching pada gigi.

BIBLIOGRAFI
1.Goldstein RE. Bleaching teeth: new materials, new role. JADA 1987.PP43.52/
2.Haywood VB. Historical development of witheners: clinical safety and efficacy. Dental update, 1997.
3.Haywood VB, Heymann HO. Night guard vital bleaching: How safe is it? Quintessence Int. 1991;22:515-23.
4.Laser assisted bleaching: An update. JADA.. 1998;129:1484-7.
5.Leonard Settembrim, et al. A technique for bleaching non-vital teeth. JADA. 1997.pp1284-5.
6.Nathanson D. Vial tooth bleaching: sensitivity and pulp considerations. J Am Dent Assoc. 1997;1281:41-4.
7.Watts A, Addy M. Tooth discoloration and staining: a literature review. Br Dent J. 2001;190:309-16.
Bab 27
PERAWATAN GIGI DENGAN INTERVENSI MIUMNIM

Ragangan Bab

Pendahuluan Remineralisasi Lesi Dini dan Reduksi Bakteri


Definisi Kariogenik
Konsep menurut Tyas et al Intervensi Minimal pada Lesi yang sudah Berupa
Diagnosis Dini Kavitas
Klasifikasi Karies Berdasar Perbaikan dan Bukan Mengganti Restorasi
Lokasi dan Ukuran Lesi Kontrol Penyakit
Penilaian Risiko Karies Kesimpulan
Mengurangi Risiko
Demineralisasi Lebih Lanjut dan
Lesi Aktif yang Terhenti

PENDAHULUAN
Pendekatan extension for prevention dalam manajemen penyakit gigi, dengan desain preparasi gigi GV Blak
telah merupakan basis kedokteran gigi abad ke-20.
Hingga pertengahan abad ke-19, etiologi karies dental yang pasti belum diketahui. Preparasi gigi didesain
tanpa spesifikasi. Material yang digunakan pada saat itu memiliki sedikit standardisasi yang mengakibatkan
tampilannya tidak baik. Black menyarankan penempatan marjin preparasi di daerah yang mudah bersih
sendiri (self-cleansable areas). Hal ini melahirkan istilah perluasan untuk pencegahan (extension for
prevention) yang bisa diringkas sebagai pembuangan marjin email dengan memotong dari satu titik
berpeluang lebih tinggi ke titik berpeluang lebih rendah untuk terjadinya karies sekunder. Tetapi pendekatan
restoratif tradisional ini tidak membantu dalam manajemen restorasi yang kompleks seperti erosi, abrasi,
dimeneralisasi, karies rampan, akar yang sehat dan yang rusak, karies rekuren, dll.
Kemajuan besar yang terkait dengan adhesivitas telah memiliki dampak terbesar pada konsep intervensi
minimum. Tahun 1955, Buonocore memperkenalkan pengetsaan pada permukaan email untuk membuatnya
retentif terhadap restorasi. Pada tahun 1962, Bowen memperkenalkan Bis-GMA. Dua perkembangan ini
mendorong terciptanya pengkonservasian gigi atau perawatan gigi dengan invasi bedah minimal.
DEFINISI
Perawatan gigi dengan intervensi minimum adalah merupakan suatu filosofi perawatan profesional yang
menangani deteksi paling dini yang pertama terjadi dan merawat penyakit sejak dini dalam level mikro, yang
diikuti dengan perawatan invasif yang minimum guna memperbaiki kerusakan yang ireversibel yang
disebabkan oleh penyakit tersebut.

KONSEP (diajukan oleh TYAS dkk.)

Tegakkan diagnosis karies sedini mungkin


Klasifikasi kedalaman karies dan perkembangannya
Penilaian risiko karies individual (tinggi, sedang, rendah)
Reduksi bakteri kariogenik untuk menghilangkan risiko demineralisasi lebih jauh dan kavitasi dan
menghentikan lesi aktif
Remineralisasi lesi dini
Intervensi bedah minimum pada lesi karies
Memperbaiki ketimbang mengganti restorasi yang cacat
Menilai hasil manajemen penyakit secara berkala
DIAGNOSIS DINI
Tujuan perawatan gigi dengan intervensi minimum adalah pertama, untuk menghentikan penyakit dan
kemudian memulihkan struktur dan fungsi yang hilang (Gbr. 27.1). Guna mencapai tujuan ini, diagnosis
penyakit yang akurat merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Berdasarkan teori intervensi minimum,
karies dimulai karena ada ketidak seimbangan antara remineralisasi dan demineralisasi di permukaan gigi dan
kemudian berkembang menjadi lesi awal yang reversibel (belum membentuk kavitas) dan kemudian menjadi
lesi ireversibel (terbentuk kavitas). Penting untuk dicatat bahwa aktivitas karies tidak bisa ditentukan pada satu
tingkatan saja, melainkan harus dimonitor secara berkala dengan membuat radiograf dan pemeriksaan klinis.
Perkembangan teknologi mutakhir seperti metode konduksi elektrik, fluoresensi laser kuantitatif, fluoresensi
laser, tuned aperture computed tomography, dan tomografi koherensi optikal dapat membantu mendiagnosis
lesi lebih dini. Untuk diagnosis lengkap bersama deteksi lesi karies, harus pula dinilai aktivitas karies yang
mungkin malah lebih penting.
Gambar 27.1. Tujuan intervensi minimum adalah pertama, mengidentifikasi penyakit kemudian, memulihkan
struktur dan fungsi yang hilang.
Identifikasi Pencegahan Perawatan dan Kontrol Intervensi minimum

KLASIFIKASI KARIES BERDASARKAN LOKASI DAN UKURAN LESI


Mengingat pentingnya lokasi dan ukuran lesi karies dalam perawatan, Mount dan rekan membuat klasifikasi
karies dental yang baru dengan menggabungkan faktor lokasi dan ukuran lesi (Gbr. 27.2). Landasan sistem
klasifikasi yang ditawarkan Mount dan Hume adalah bahwa klasifikasi ini hanya penting untuk membuat jalan
masuk ke dalam lesi dan membuang daerah yang terinfeksi dan rusak hingga mencapai daerah yang tidak
mungkin terjadi remineralisasi.
Pertama, lesi diklasifikasi berdasarkan lokasinya:

Lokasi (site) 1: Pit dan fisur


Lokasi (site) 2: Daerah kontak antara 2 gigi
Lokasi (site) 3: Daerah servikal yang bersentuhan dengan jaringan gingiva.
Kedua, klasifikasi mengidentifikasikan lesi karies berdasarkan ukurannya yang beragam:

Ukuran (size) 0: Lesi karies tanpa kavitasi; lesi ini dapat diremineralisasi.
Ukuran (size) 1: Kavitas kecil, dapat disembuhkan dengan remineralisasi.
Ukuran (size) 2: Kavitasi moderat tidak meluas sampai ke kuspa
Ukuran (size) 3: Kavitasi yang meluas dengan sedikitnya satu kuspa yang tidak terdukung dentin dan butuh
perlindungan dari beban oklusal.
Ukuran (size) 4: Karies yang luas dengan setidaknya satu kuspa atau tepi insisal hilang.
Gambar 27.2. Klasifikasi Mount dan Hume yang menggabungkan ukuran dan lokasi lesi karies
Minimal Moderat Meluas Luas sekali
Size/site Pit/Fisur Daerah kontak Servikal

---------------------------------------------------------------------
Perbedaan antara klasifikasi karies GV Black dan G Mount
Klasifikasi GV Black
Syarat spesifik untuk disain preparasi amalgam.
Desain preparasi tidak membatasi perluasan karies aktif sampai berbagai jaringan gigi

Klasifikasi MI dari G Mount (1997)

Rekomendasi langsung untuk perawatan tepat berdasarkan kode klasifikasi.


Mempertimbangkan lokasi dan ukuran lesi karies

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Klasifikasi ini menunjukkan perbedaan perkembangan karies di lokasi dan ukuran karies yang berbeda yang
membantu menentukan perawatan lesi karies baru utamanya untuk tujuan pemantauan dan intervensi.
Prosedur invasif minimum mengharuskan untuk membiarkan groove tetap utuh walaupun di permukaan
terlihat ada noda, kecuali jika terdapat karies di permukaan tersebut. Jika groove utuh, groove dapat
dilapisi/ditutup di akhir prosedur.. Untuk perawatan karies proksimal, dapat dibuat preparasi konservatif slot
daripada memilih desain yang ditawarkan Black.
GIgi yang kuspanya harus diganti, dapat direstorasi menggunakan restorasi komposit indirek atau restorasi
porselen. Restorasi estetik indirek yang besar ini dapat dipreparasi dengan kerusakan struktur gigi sehat yang
minim. Restorasi ini dapat dibuat baik dengan menggunakan teknik laboratorium indirek maupun dengan desain
yang dibantu oleh komputer (computer-aided design) dan pembuatannya juga dibantu oleh komputer
(computer-assisted manufacturing) (CAD/CAM).
Filosofi dari intervensi bedah minimuml juga melibatkan prosedur estetik anterior (misalnya penutupan
diastema) dan bukan dengan melakukan preparasi gigi sacara agresif untuk laminasi dengan porselen atau
mahkota penuh porselen.

PENILAIAN RISIKO KARIES

Penilaian risiko karies masing-masing individu adalah salah satu alat penting yang membantu peklinik membuat
rencana perawatan untuk masing-masing individu. Pada penilaian risiko karies ini, anak-anak/pasien dengan
risiko karies gigi tinggi diidentifikasi, yang tentu saja memerlukan perawatan gigi lebih banyak dibandingkan
dengan individu dengan risiko karies rendah atau moderat.
Sambil menilai risiko karies masing-masing individu, peklinik seyogyanya mengidentifikasi beberapa faktor
risiko yang berkontribusi pada penyakit dental.

Faktor berikut umumnya ditemukan pada pasien dengan risiko karies tinggi:

Status higiene mulut


Higiene mulut buruk
Pasta gigi nonfluor
Tidak sering membersihkan gigi
Perawatan ortodonsia
Protesa sebagian
Riwayat dental
Riwayat restorasi yang banyak
Frekuensi penggantian restorasi
Faktor medis
Pengobatan yang menyebabkan xerostomia
Gastric reflux
Obat yang mengandung gula
Sindrom Sjogren
Faktor kebiasaan
Minumsusu dari botol di malam hari
Kelainan pola makan
Frekuensi asupan makanan ringan
Lebih banyak mengkonsumsi makanan lengket
Faktor sosioekonomi
Pendidikan rendah
Kemiskinan
Tidak ada suplemen fluor

MENURUNKAN RISIKO DEMINERALISASI LEBIH LANJUT DAN MENHENTIKAN LESI AKTIF


Dalam perawatan gigi dengan invasi minimum, harus digunakan bahan kimia atau medikamen lain yang dapat
mengurangi laju perkembangan demineralisasi gigi. Bahan-bahan ini dapat juga membantu remineralisasi
dentin yang terpajan karies (affected dentin) dan tidak membuangnya, setelah dentin terinfeksi (infected dentin)
dibuang (Gbr. 27.3A s/d C). Aplikasi fluor juga ternyata mampu menghentikan lesi karies yang ada.

REMINERALISASI LESI AWAL DAN MENGURANGI BAKTERI KARIOGENIK


Karies gigi berkembang melalui serangkaian siklus demineralisasi dan remineralisasi bergantung pada
lingkungan mikronya (Gbr. 27.4). Ketika pH lebih rendah dari 5.5, terjadilah demineralisasi. Dalam lingkungan
netral hidroksiapatit dari email berada dalam keseimbangan dengan saliva yang jenuh dengan ion kalsium dan
fosfat (Diagram Alur 27.1). Pada pH 5.5 atau pH di bawahnya, ion H+ yang diproduksi oleh metabolit bakteri
akan bereaksi terutama dengan gugus fosfat dari kristal email, dan akan mengubah ion PO menjadi ion
(HPO). Jika ion ini sudah terbentuk tidak dapat lagi membentuk kisi-kisi kristal; dan pada saat yang sama ion
H+ didaparkan (buffered). Hal ini menyebabkan pelarutan email, disebut dimineralisasi, yang menandai
dimulainya karies email dini.
Remineralisasi didefinisikan rebagai redeposisi mineral yang hilang dari email, dan istilah ini telah
digunakan sebagai sinonim untuk perbaikan email atau pengerasan kembali email.

Indikasi

Terapi pencegahan tambahan untuk mengurangi karies pada pasien risiko karies tinggi
Untuk memperbaiki email pada kasus lesi bercak putih
Mengurangi erosi dental pada pasien dengan reflux gastric atau kelainan lain.
Untuk mengurangi dekalsifikasi pada pasien ortodonsia sebelum dan setelah pemutihan gigi.
Desensitisasi gigi sensitif.
Gambar 27.3A s/d C. Remineralisasi dentin yang terpajan karies (affected dentin) dan penghentian penjalaran
karies. (A) Gigi dengan karies dalam yang jaraknya dekat dengan pulpa; (B Pembuangan dentin terinfeksi dan
menyisakan dentin terpajan karies untuk remineralisasi: (C) Remineralisasi dentin terpajan karies dan restorasi
protektif gigi
Dentin terinfeksi (infected dentin) Dentin terpajan karies (affected dentin) Pulpa
Lapisan dentin terinfeksi dibuang Dentin terpajan karies
Restorasi Remineralisasi dentin terpajan karies
Diagram Alur 27.1: Faktor yang memengaruhi demineralisasi, remineralisasi, dan perencanaan perawatan gigi.

Status sosioekonomi, riwayat dental, pemeliharaan kesehatan mulut, kondisi medis, medikasi
Faktor pemodifikasi

Diet Fluor, kalsium, fosfat Saliva Ca2++PO42-HCO3-F-

Faktor primer Pelikel saliva

Biofilm sehat Biofilm kariogenik

Karakter fisikokimia dari email, dentin, sementum Karies

Perawatan dental intervensi minimum

Saliva

Agen
remineralisasi

Agen antimikroba Remineralisasi Diet sehat

Demineralisasi
Bakteri Kebiasaan
makan buruk

Disfungsi saliva Defek gigi

Gambar. 27.4 Faktor yang memengaruhi remineralisasi dan demineraisasi gigi

---------------------------------- -----------------------------------
Setiap terapi remineralisasi harus mengikuti dua prinsip dasar berikut ini:
1.Biofilm dental, faktor penting yang menentukan terbentuknya lesi karies, harus dikontrol dengan menyikat
gigi.
2.Fluor harus digunakan baik untuk menghentikan lesi yang telah ada maupun untuk menghentikan
perkembangan lesi baru
------------------------------------------------------------------------------------------------

Kebutuhan Material Remineralisasi yang Ideal

Harus dapat berdifusi ke dalam daerah sub permukaan atau melepas kalsium dan fosfat ke dalam daerah sub
permukaan
Harus mampu bekerja dalam situasi pH asam.
Harus efektif pada pasien yang menderita xerostomia
Tidak mengeluarkan kalsium berlebihan
TIdak mendukung pembentukan kalkulus
Meningkatkan sifat remineralisasi saliva

Pada lesi yang belum menjadi kavitas, selalu harus dicoba untuk meremineralisasi, yakni dengan cara -

Menurunkan frekuensi asupan karbohidrat terolah (refined carbohudrate)


Melakukan cara pengontrolan plak yang benar
Memastikan bahwa aliran saliva mencapai level optimum
Mengedukasi pasien
Mengaplikasikan klorheksidin sebagai suatu antimikroba yang bertindak sebagai faktor yang mengurangi
jumlah bakteri kariogenik
Mengaplikasikan fluor secara topikal.

Berbagai Macam Agen Remineralisasi


Fluor
Telah diketahui sejak tahun 1980-an bahwa karies yang dikontrol oleh fluor didominasi melalui efek
topikalnya, bukan efek sistemiknya. Terdapat empat mekanisme bagaimana fluor meningkatkan resistensi gigi
terhadap karies. Keempat mekanisme itu adalah peningkatan resistensi email, peningkatan kecepatan maturasi
gigi, remineralisasi karies insipien, melawan mikro organism, dan meperbaiki morfologi gigi
Email akan larut dengan menurunnya pH plak gigi karena terbentuknya asam setiap kali gula dicerna.
Namun, jika terdapat fluor dalam cairan biofilm, dan pH tidak lebih rendah dari pH kritis, hidroksiapatit (HA)
akan larut dan pada saat bersamaan terbentuk fluorapatit. Efek fluor yang tidak langsung ini akan mengurangi
demineralisasi email ketika tingkat pH menurun, dilengkapi oleh efek alamiahnya dalam remineralisasi.
Fluor menghalangi aktivitas bakteri. Dalam lingkungan asam, fluor berkombinasi dengan hidrogen untuk
membentuk HF yang akan berdifusi ke dalam sel bakteri. Di dalam sel bakteri, HF terpecah dan melepas ion
fluor yang mengganggu aktivitas enzim yang sangat penting dari bakteri. Apalagi, senyawa fluor bisa bertindak
sebagai tempat penyimpanan (reservoir) fluor setelah gigi diberi aplikasi fluor melalui pasta gigi, varnis, atau
material restorasi, yang kemudian akan dilepaskan ke dalam saliva sepanjang waktu.
Hadirnya fluor meningkatkan serapan ion kalsium dan fosfat dan membuat gigi lebih resisten tehadap
demineralisasi. Hal ini tampak dalam berbagai penelitian yang mengungkapkan bahwa lesi yang belum menjadi
kavitas masih bersifat reversibel (dapat diperbaiki). Namun, begitu kavitasi terjadi, pembuangan jaringan karies
dan kemudian melakukan restorasinya merupakan indikasi.
-------------------------------- --------------------------------------

Alasan mencari alternatif fluor

Fluor sangat efektif di karies permukaan halus; efek ini tampaknya lebih terbatas pada karies pit dan fisur
Strategi memberikan fluor yang banyak tidak bisa dilaksanakan. Hal ini dilakukan guna menghindari
kemungkinan timbulnya efek yang membahayakan, misalnya fluorosis, akibat terlalu terpajan pada fluor
Meskipun senyawa fluor tidak memberikan masalah bila digunakan dengan tepat, tetapi ada di bagian lain di
dunia yang menyarankan pembatasan penggunaan fluor
Semua keterbatasan ini mendorong peneliti untuk mencari alternatif agen remineralisasi yang tidak
mengandung fluor..
--------------------------------------------------------------------------------
Kaca Bioaktif NovaMin
Kaca bioaktif (Bioglass) diciptakan oleh Dr. Larry Hench di tahun 1960an. Bioglass mengandung fosfosilikat
natrium kalsium. NovaMin adalah nama dagang untuk kaca bioaktif. Secara teknis, NovaMin digambarkan
sebagai suatu material anorganik FSKN (fosfosilikat kalsium natrium CSPS/calcium sodium phosphosilicate)
yang amorf.
Ketika berkontak dengan air, NovaMin melepas ion kalsium dan ion fosfat aktif yang menyebabkan
remineralisasi. Natrium di dalam NovaMin meningkatkan pH rongga mulut yang selanjutnya akan
meningkatkan remineralisasi, karena pengendapan kristal biasanya terjadi pada gigi dengan pH 7 (Diagram
Alur 27.2).

Recaldent (CPP-ACP)
CPP-ACP adalah akronim untuk suatu casein phosphopeptides dan ammorphous calcium phosphate yang
kompleks. CPP adalah kelompok peptid yang berasal dari kasein. Kasein adalah bagian protein yang secara
alamiah terkandung dalam susu, dan bertanggungjawab atas ketersediaan Ca+ tinggi dalam susu. Dalam
kondisi normal, kalsium fosfat membentuk struktur kristal pada pH netral dan dengan demikian menjadi tak
larut. Namun CPP menahan kalsium dan fosfor dalam bentuk ion (keadaan amorf). Dalam kondisi ini, ion
kalsium dan ion fosfat dapat memasuki email dan dengan demikian akan mendorong remineralisasi email gigi.
Mekanisme antikariogenik yang dilakukan oleh CPP-ACP diduga adalah bahwa agen ini melokalisasikan
ACP di plak dental, yang mendaparkan aktivitas ion kalsium ion fosfat yang bebas, dan dengan demikian
membantu mempertahankan keadaan supersaturasi dengan menekan demineralisasi dan mendorong
remineralisasi.
CPP menghambat perlekatan bakteri oral ke lapisan hidroksiapatit yang diselaputi oleh saliva (S-HA). CPP
dapat bergabung ke dalam pelikel guna pertukaran albumin sehingga menghambat perlekatan Streptococcus
mutans dan Streptococcus sobrinus, yang akan menetralkan serta akan meningkatkan remineralisasi.
Teknologi CPP-ACP telah dijadikan merk dagang yang namanya RECALDENTTM. Produk ini tersedia
dalam bentuk permen karet (Gbr. 27.5). Akhir-akhir ini, krim berbahan dasar air dan bebas gula yang
mengandung RecaldentTM telah tersedia dengan nama GC tooth mousse

Diagram Alur 27.2: Mekanisme kerja NovaMin


Remineralisasi gigi

NovaMin melepaskan banyak sekali kalsium dan fosfat ke dalam lingkungan mulut, bersamaan dengan natrium
yang meningkatkan pH mulut, mengciptakan kondisi ideal untuk remineralisasi gigi yang cepat

pH tinggi bersama ion kalsium dan fosfor memulai proses remineralisasi. Pemukaan yang terdemineralisaasi
diisi ulang.

Reaksi NovaMin yang meningkatkan pH ke kisaran remineralisasi ideal akan melepaskan ion kalsium dan
fosfat

NovaMin segera bereaksi dengan saliva atau air

Kalsium+natrium+fosfat+silika

Gambar 27.5. GC tooth mousse untuk remineralisasi gigi

Tri-Calcium Phosphat (TCP) (Clinpro Tooth Crme)


TCP adalah material hibrid baru yang dibuat dengan milling technique yang mecampurkan trikalsium fosfat
beta dan natrium lauril sulfat atau asam fumarat. Campuran ini menghasilkan kalsium yang berfungsi dan
fosfat yang bebas, untuk meningkatkan efisiensi remineralisasi fluor. Bila digunakan dalam formula pasta
gigi, terbentuklah suatu barier protektif di sekeliling kalsium, yang memungkinkannya bekerja sama dengan ion
fluor. Ketika TCP berkontak dengan saliva, barier pelindung itu pecah sehingga ion kalsium, fosfat, dan fluor
bisa mencapai gigi. Fluor dan kalsium kemudian bereaksi dengan email yang telah melemah sehingga menjadi
benih bagi pertumbuhan mineralisasi yang meningkat selain dilakukan oleh fluor sendiri.
Teknologi ACP (Enamelon, Enamel Care)
Teknologi ACP membutuhkan sistem dua fase untuk menjaga agar komponen kalsium dan fosfor tidak saling
bereaksi sebelum digunakan. Sumber kalsium dan fosfor terkini adalah garam-garam kalsium sulfat dan
dikalium fosfat. Ketika kedua garam itu dircampurkan, terbentuklah ACP secara cepat yang dapat mengendap
ke permukaan gigi. Endapan ACP dapat dengan mudah larut ke dalam saliva sehingga memudahkan
remineralisasi gigi.
Substitusi Gula Xylitol
Xylitol merupakan suatu gula alkohol yang telah terbukti memiliki efek nonkariogenik serta kariostatik.
Sumbernya adalah buah-buahan, buah beri, jamur, daun selada, hardwood, dan corn on the cob. Xylitol
menyebabkan:

Penurunan pembentukan plak dental


Netralisasi asam plak dengan menurunkan produksi asam laktat
Penurunan level Streptococcus mutans
Penurunan kavitas sampai dengan 80%
Remineralisasi email gigi.
Isomalt adalah pemanis nonkariogenik yang banyak digunakan sebagai pengganti gula. Sorbitol adalah
pengganti gula lain yang digunakan sebagai pemanis buatan.
Ekstrak Biji Anggur
Ekstrak biji anggur (GSE) memiliki kandungan PA tinggi. Matriks kolagen yang diolah dengan PA bersifat
nontoksik dan menghambat aktivitas enzimatik glukosil transferase, F-ATPase, dan amylase. Penghambatan
glukosil transferas oleh PA pada akhirnya akan menghambat karies.
Calcium Carbonate Carrier SensiStat
Teknologi SensiStat dikembangkan oleh Dr. Israel Kleinberg dari New York. SensiStat dibuat dari arginin
bikarbonat, suatu kompleks asam amino, dan kalsium karbonat. Kompleks arginin berperan dalam menahan
partikel kalsium karbonat di permukaan gigi dan membiarkan kalsium karbonat larut perlahan dan melepas
kalsium yang dibutuhkan untuk remineralisasi permukaan gigi.
Ozone

Ozon adalah senyawa kimiawi yang terdiri dari tiga atom oksigen (O, oksigen triatomik). Terapi ozon juga
diduga dapat menstimulasi remineralisasi karies insipien setelah terapi selama 6-8 minggu.

INTERVENSI MINIMUM LESI YANG TELAH MEMBENTUK KAVITAS


Struktur gigi asli harus sebisa mungkin dipertahankan, baik dalam perawatan lesi karies kecil maupun besar.
Desain preparasi gigi dan pemilihan material dental bergantung pada beban oklusal dan faktor penyebab
keausan. Kini, klasifikasi desain preparasi gigi lebih mengikuti desain preparasi yang ditawarkan oleh Mount
dan Hume dibandingkan dengan yang ditawarkan oleh GV Black. Dahulu, preparasi gigi dilakukan ketika
karies didiagnosis dalam keadaan sudah lanjut dan bukan pada saat lesi awal yang umumnya saat ini terdeteksi.
Apalagi, dahulu pilihan material restorasinya adalah amalgam, yang kini telah digantikan oleh material adhesif.
Faktor lainnya adalah instrumentasi. Jika dahulu instrumen yang digunakan adalah instrumen putar kecepatan
rendah dan instrumen genggam, kini instrumen yang digunakan adalah alat putar kecepatan tinggi, desain bur
yang dimodifikasi, dan teknik lain yang pengambilan struktur giginya minimal. (Gbr. 27.6 dan 27.7)
Material Dental untuk Penanganan Invasi Minimum
Dengan diiperkenalkannya material adhesif, material ini memainkan peranan penting dalam perawatan gigi
dengan intervensi minimum. Penyebabnya adalah karena material ini tidak memerlukan bentuk retensi mekanik.
Material restorasi adhesif tersebut adalah semen ionomer kaca (SIK), komposit berbasin resin, agen adhesif
dentin, dan kobinasi komposit dan SIK.
Semen Ionomer Kaca
Semen ionomer kaca (SIK) memiliki berbagai keunggulan seperti adhesi kimiawi ke struktur gigi, estetika nya
baik, dan bersifat antikariogenik (Gbr. 27.8). Keungulan lainnya adalah bersifat rechargeable pada saat
semen sudah mengeras. Ini berarti material ini dapat menyerap fluor dari lingkungan sekitar, yang berasal dari
keterpajanan pada fluor dan dari fluor pasta gigi. Kelemahan semen ionomer kaca adalah sifatnya yang
technique sensitive. Akhir-akhir in diperkenalkan semen ionomer kaca modifikasi resin (SIKMR) yang lebih
mudah digunakan, dipolimerisasi dengan sinar dan memiliki kualitas estetik yang lebih baik (Gbr. 27.9)
Komposit Resin
Material ini menunjukkan daya ikat yang efektif dengan email dan dentin. Dalam hal ini, preparasi gigi didesain
untuk mempertahankan struktur gigi semaksimal-maksimalnya karena material ini beradhesi pada gigi melalui
retensi mikromekanik yang diperoleh melalui pengetsaan email dan dentin serta pembentukan lapisan hibrid
(Gbr. 27.10). Komposit berbasis resin flowable yang lebih baru memiliki viskositas rendah dan umumnya
digunakan untuk preparasi resin preventif yang lebih kecil, serta untuk preparasi kelas V.
Gambar 27.6. Preparasi gigi konservatif menggunakan intan abrasif runcing
Ganbar 27.7A s/d C. (A) Karies; (B) Preparasi gigi konvensional; (C) Preparasi intervensi minimum.
Gambar 27.8. Preparasi gigi konservatif dan restorasi dengan semen ionomer kaca.
Gambar 27.9. SIK light cure mudah diaplikasikan dan memiliki kualitas estetika yang lebih baik.
Gambar 27.10. Resin komposit

Pilihan Perawatan Invasi Minimum untuk Lesi yang Telah Menjadi Kavitas
Teknik Restorasi Nir-trauma
Teknik restorasi nir-trauma/TRT (atraumatic restorative treatment/ART) dimulai pada pertengahan 1980-an di
Zimbabwe dan Tanzania karena adanya kebutuhan untuk perawatan dasar bagi gigi karies di komunitas dengan
sumber daya terbatas. Di sini, ekskavasi karies dilakukan dengan menggunakan instrumen genggam kemudian
gigi direstorasi dengan material adhesif semen ionomer kaca, (Gbr. 27.11A s/d C).
Gambar 27.11 A s/d C. Teknik ART dalam restorasi gigi: (A) Lesi karies di gigi posterior; (B) Ekskavasi
karies menggunakan instrumen genggam; (C) Restorasi gigi menggunakan semen ionomer kaca.
Teknik Sandwich
Teknik ini diperkenalkan oleh McLean pada tahun 1985. Teknik ini menggunakan keunggulan sifat fisik SIK
dan resin komposit. Teknik ini sangat berguna khususnya pada kasus yang sangat mementingkan kekuatan dan
estetika. Pertama-tama gigi direstorasi dengan SIK karena sifat adhesi kimiawinya pada dentin dan pelepasan
fluornya. Di atasnya, tumpatkan resin komposit sehingga ketahanan oklusal terhadap keausan dan estetikanya
menjadi lebih baik (Gbr. 27.12 dan 27.13).
Resin komposit beradhesi secara mikromekanik dengan ionomer kaca yang telah mengeras dan secara
kimiawi dengan hidroksietilmetakrilat dari ionomer kaca modifikasi resin. Jika restorasi diletakkan di atas
ionomer kaca konvensional, maka ionomer kaca dan email dietsa dahulu sebelum meletakkan agen adhesif
(bonding agent) dan komposit resin. Tetapi, jika komposit diletakkan di atas ionomer kaca modifikasi resin,
maka tidak diharuskan mengetsa SIKMR, karena adanya ikatan kimiawi HEMA.

Gambar 27.12. Teknik sandwich


Gambar 27.13A s/d C. (A) Teknik sandwich tertutup; (B) Teknik Sandwich terbuka; (C) Teknik sandwich
sentripetal.
A Resin komposit SIK
B Resin komposit SIK
C Lapisan transparan dari resin komposit Resin komposit SIK

Pembuangan Karies secara Khemomekanis


Pembuangan karies secara kemomekanis melibatkan pembuangan karies dentin secara selektif. Reagen yang
umumnya tersedia di pasaran adalah Caridex dan Carisolv.
Caridex terdiri atas dua senyawa, yaitu senyawa I yang berisi natrium hipoklorit dan senyawa II berisi glisin,
asam aminobutirat, natrium klorida, dan natrium hidroksida.
Kedua larutan itu dicampurkan segera sebelum digunakan. Larutan tersebut diaplikasikan pada lesi karies
dengan menggunakan aplikator hingga dentin sehat terlihat. Carisolv tersedia dalam dua semprit, satu berisi
natrium hipoklorit dan yang lainnya gel kental berwarna merah muda yang mengandung lisin, leusin, asam
amino, asam glutamat, bersama karboksimetilsellulose untuk membuatnya kental dan eritrosin untuk
memudahkan dilihat.
Isi kedua semprit dicampurkan segera sebelum digunakan. Gel diaplikasikan pada lesi karies dengan
instrumen genggam dan setelah 30 detik, dentin karies bisa diangkat dengan hati-hati.

Material Penupat Pit dan Fisur serta Restorasi Resin Preventif

Untuk permukaan oklusal, preparasi dengan intervensi minmum meliputi penumpatan dengan material penmpat
pit dan fisur (pit and fissure sealant dan restorasi resin preventif. Penumpat fisur adalah material yang
dimasukkan ke dalam pit dan fisur guna mencegah atau menghentikan perkembangan karies. Akumulasi plak
dan kerentanan terhadap karies paling banyak terjadi selama erupsi gigi dan pit dan fisur yang dalam sangat
rentan terhadap serangan karies. Karena itu, penumpat fisur harus diberikan segera setelah erupsi gigi.
Material yang digunakan sebagai penumpat pit dan fisur adalah resin komposit, semen ionomer kaca,
kompomer, dan material penumpat yang melepas fluor.
Restorasi resin preventif ditumpatkan di gigi dengan pertimbangan bahwa penempatan resin akan
mengisolasi lesi karies dari biofilm permukaan. Tetapi penggunaannya harus terbatas pada fisur yang lesinya
hanya mengenai email sedangkan lesi dentin jangan direstorasi dengan teknik invasi minimum.

Preparasi Terowongan, Boks dan Slot


Untuk lesi proksimal, disain preparasi yang dimodifikasi termasuk terowongan, boks, dan preparasi slot.
Preparasi slot dan terowongan adalah preparasi konservatif; preparasi slot diindikasikan untuk lesi yang
kurang dari 2.5 mm dari marjin sedangkan bila lesi terletak 2.5 mm lebih jauh dari lingir tepi (marginal ridge)
diindikasikan untuk preparasi terowongan.
Pada preparasi terowongan, akses ke lesi karies dibuat dari permukaan oklusal, sambil mempertahankan
lingir tepi. Titik awal untuk preparasi ini tidak boleh berada di bawah beban oklusal. Untuk preparasinya,
gunakan bur tirus kecil dengan shank panjang yang diarahkan ke lesi, dan preparasi diselesaikan menggunakan
bur bulat kecil dan instrumen genggam.
Untuk preparasi terowongan, lingir tepi dan email permukaan proksimal tetap dipertahankan (Gbr. 27.14),
sedangkan pada preparasi boks dan slot, lingir tepi dihilangkan tetapi preparasinya tidak melibatkan pit dan
fisur oklusal jika di daerah ini tidak ada karies yang harus dibuang. (Gbr. 27.15).

Gambar 27.14. Skema preparasi terowongan


Dalam preparasi terowongan, lingir tepi dan permukaan proksimal tidak diganggu
Gambar 27.15. Preparasi boks dan slot
Boks Preparasi boks Preparasi slot Slot

Preparasi Gigi menggunakan Abrasi Udara


Pada teknik ini, energi kinetik digunakan untuk membuang lesi karies. Di sini, arus yang kuat dari partikel
aluminum oksida yang halus diarahkan ke permukaan gigi yang akan dibersihkan. Partikel abrasif mengenai
gigi dengan kecepatan tinggi sehingga sebagian kecil struktur gigi tergerus. Ukuran partikel yang biasa
digunakan berdiameter 27 atau 50 mikrometer. Kecepatan partikel abrasi ketika mengenai target bergantung
pada tekanan udara, ukuran partikel, aliran bubuk, diameter mulut pipa, sudut pada ujung pipa dan jarak ujung
pipa dengan gigi. Biasanya jarak dengan gigi berkisar antara 0.5 s/d 2 mm. Bila jarak bertambah, efisiensi
pemotongan berkurang. Keuntungan tambahan menggunakan abrasi udara adalah membulatnya kontur internal
jika dibandingkan dengan hasil yang dipreparasi dengan henpis dan bur lurus. Abrasi udara tidak diindikasikan
pada pasien dengan alergi debu, asma, penyakit paru obstruktif kronis, luka terbuka, penyakit periodontium
lanjut, ekstraksi yang baru dilakukan, dan pemasangan alat ortodonsia.

Preparasi Gigi Menggunakan Laser


Umumnya, laser yang digunakan untuk preparasi gigi adalah laser erbium: yttrium-aluminum-garnet dan
erbium, laser chromium: yttrium-scandium-gallium-garnet. Laser-laser ini dapat membuang karies yang lunak
serta jaringan keras (Gbr. 27.16) Laser terbukti membuang karies secara selektif dan sambil meninggalkan
email dan dentin utuh. Laser dapat digunakan tanpa aplikasi anestetik lokal. Keunggulan lainnya adalah tidak
adanya getaran, sedikit suara, tidak berbau, dan preparasi giginya hampir sama dengan gigi yang dipreparasi
degan teknik abrasi udara.

Gambar 27.16. Manajemen karies menggunakan LASER.


Laser diarahkan ke lesi karies Berkas sinar laser
Molekul air di dalam air akan terpanaskan dengan cepat sehingga tekanannya meningkat
Laser membunuh bakteri sehingga daerah gigi ini menjadi steril

PERBAIKAN DAN BUKAN PENGGANTIAN RESTORASI


Restorasi lama diganti dan bukannya diperbaiki ketika terlihat adanya karies sekunder, restorasi fraktur, atau
kegagalan restorasi sebelumnya. Tetapi ternyata bahwa jika diindikasikan, memperbaiki restorasi cacat adalah
pilihan yang lebih konservatif dibandingkan dengan menggantinya dengan restorasi baru. Pilihan untuk lebih
baik memperbaiki daripada mengganti restorasi harus didasarkan pada risiko perkembangan karies pasien,
penilaian professonal tentang keuntungan vs risiko, serta prinsip-prinsip koservatif dalam preparasi gigi.
Faktor yang Harus Dipertimbangkan saat Merawat Restorasi Lama
Dalam merawat restorasi lama, harus dipertimbangkan pilihan berikut sebelum melakukan penggantian:

Membuat kontur ulang dan/atau memoles


Menutup marjin
Memperbaiki kerusakan lokal
Mengganti restorasi

Indikasi
Restorasi diindikasikan untuk diganti jika terjadi hal-hal berikut:

Karies sekunder yang tidak dapat dihilangkan selama prosedur reparasi


Kebutuhan estetika
Adanya patologi pulpa
Restorasi fraktur.

KONTROL PENYAKIT
Sebagaimana diketahui, karies dental adalah suatu penyakit infeksi. Berbagai usaha yang harus dilakukan untuk
menurunkan insidens karies adalah identifikasi dan pemantauan bakteri. analisis dan modifikasi diet, dan
penggunaan fluor topikal serta agen antimikroba. Untuk kontrol karies, vaksin karies dan terapi penggantian
bakteri juga dapat dilakukan

Terapi Pulpa Vital


Pada perawatan dengan intervensi minimum untuk lesi karies dalam, diindikasikan terapi pulpa vital, yang
melibatkan remineralisasi bertahap (stepwise remineralization) dengan menggunakan material dental yang
biokompatibel. Sebelum memulai perawatan, peklinik harus menentukan luasnya kerusakan dan bisa tidaknya
dilakukan terapi pulpa vital. Hanya sedikit email di bagian marjin yang dihilangkan untuk memperoleh akses ke
lesi karies dan membuang dentin terinfeksi.

KESIMPULAN
Perawatan dengan intervensi minimum merupakan evolusi alamiah kedokteran gigi. Karena material dan teknik
terus berkembang, kedokteran gigi berubah ke arah penggunaan teknik yang paling konservatif. Secara umum
perawatan gigi dengan intervensi minimum harus memenuhi syarat tujuan perawatan gigi berikut ini, yang
meliputi:

Mengkategorikan pasien dalam hal risiko perkembangan karies yang bergantung pada kondisi kesehatan
mulut yang ada.
Mengaplikasikan tindakan prevenif karies yang agresif seperti implementasi terapi fluor, terapi antimikroba,
modifikasi diet, dan suplemen kalsium untuk mengurangi risiko timbulnya karies.
Prosedur intervensi dilakukan secara konservatif.

RINGKASAN
Black menggunakan istilah extension for prevention, yang berarti membuang marjin email dengan
memotongnya yang dimulai dari titik dengan liabilitas lebih besar menuju titik dengan liabilitas rendah untuk
terjadinya karies rekuren
Kemajuan utama dalam kedokteran gigi adhesif memberikan dampak paling besar pada perawatan invasif
minimum. Pada tahun 1955, Buonocore meperkenalkan pengetsaan email, dan pada tahun 1962, Bowen
memperkenalkan Bis-GMA. Dua perkembangan ini membuka jalan pada perawatan gigi dengan invasi yang
minimum.
Perawatan gigi intervensi minimum didefinisikan sebagai suatu filosofi perawatan profesional yang
menangani kemunculan lesi yang pertama, deteksi paling dini, dan pengobatan paling dini pada penyakit
dalam level mikro, diikuti dengan perawatan dengan invasi minimum untuk memperbaiki kerusakan akibat
penyakit tersebut yang tak dapat diperbaiki lagi.
Mount dan Hume mengajukan klasifikasi baru karies gigi dengan menggabungkan lokasi dan ukuran lesi.
Dasar klasifikasi ini adalah bahwa hanya diperlukan pembuatan jalan masuk ke dalam lesi dan membuang
daerah yang terinfeksi sampai sejauh yang tidak memungkinkan lagi terjadi remineralisasi.
Kaca bioaktif (bioactive glasses) NovaMin mengandung kalsium natrium fosfosilikat. Ketika berkontak
dengan air, NovaMin melepaskan ion kalsium dan ion fosfor yang aktif yang menyebabkan terjadinya
remineralisasi. Natrium meningkatkan pH rongga mulut yang selanjutnya akan meningkatkan remineralisasi.
CPP-ACP adalah akronim dari kompleks kasein fosfopeptida dan kalsium fosfat amorf. CPP mempertahankan
kalsium dan fosfor dalam bentuk ion (kondisi amorf). Pada bentuk ini, ion kalsium dan fosfat dapat memasuki
email dan dengan demikian mendorong remineralisasi gigi.
TCP adalah formula bioaktif dari tri-kalsium fosfat dan ramuan zat organik sederhana.
Material pengganti gula xylitol, sorbitol, dan isomalt membantu remineralisasi.
Material yang digunakan untuk penumpat pit dan fisur adalah resin komposit, semen ionomer kaca,
kompomer, dan material penumpat yang melepaskan fluor.
Preparasi terowongan dan slot adalah preparasi konservatif. Preparasi slot diindikasikan untuk lesi yang
kurang dari 2.5 mm dari lingir tepi sementara jika lesi lebih dari 2.5 mm merupakan indikasi preparasi
terowongan.
Laser yang umum digunakan untuk preparasi gigi adalah laser erbium:yttrium-aluminum-garnet dan laser
erbium, chromium:yttrium-scandium-gallium-garnet. Laser ini dapat membuang karies yang lunak dan juga
jaringan keras.

PERTANYAAN
1.Tuliskan secara rinci konsep perawatan gigi dengan intervensi minimum
2.Tuliskan catatan singkat tentang:
a. Konsep kedokteran gigi dengan intervensi minimum.
b.Klasifikasi karies menurut Mount dan Hume
c. Pilihan invasi minimum untuk lesi karies
d.Bebagai pilihan remineralisasi gigi

BIBLIOGRAFI
1.Azarpazhooh A, Limeback H. Clinical efficacy of casein derivatives. A systematic review of the literature. J
Am Dent Assoc. 2008;139:915-24.
2.Christensen GJ. The advantage of minimally invasive dentistry. JADA. 2005;136:1563.
3.Cury JA, Tenuta LM. Email remineralization: Controlling the caries disease or treating the early caries lesion?
Braz Oral Res 2009: 23 Suppl. 1:23-30.
4.Ericson D. What is minimally invasive dentistry? Oral Health Per. Dent. 2004;2:287.
5.Frencken JE, Pilot T. Songpaisan Y, et al. Atraumatic restorative treatment (ART): rationale, technique, and
development. J public Health Dent. 1996;56:135.
6.Kalinsey RL, Mackey AC, Walker ER, Amaechi BT, Karthikeyan R, Najibfard K, el al. Remineralization
potential of 5000 ppm fluor dentifrices evaluated in a pH cycling model. J Dent Oral Hyg. 2010;2:1-6.
7.Llena C, Fomer L, Baca P. Anticariogenicity of casein phosphopeptides-amorphous calcium phosphat: A
review of the literature. J Contemp Dent Pract. 2009;10:1-9.
8.Mellberg RJ, Ripa WL, Leske SG. Fluor in preventive dentistry-Theory and clinical application. Chicago:
Quintessence Publishing Co., Inc. 1983.
9.Mickenautsch S, Rudolph MJ, Oganbodede EO, et al. The impact of the ART approach on the treatment
profile in a mobile dental system (MDS) in South Africa. Int Dent J. 1999;49:132.
10. Murdoch-Kinch CA, Mclean ME. Minimally Invasive Dentistry. JADA. 2003;134:87.
11. Ramalingam L, Messer LB, Reynolds EC. Adding caseinphosphopeptide-amorphous calcium phosphate
to sports drinks to eliminate in vitro erosion. Pediatr Dent. 2005;27:67-7.
12. Reynolds EC. Calcium phosphate-based remineralization system: Scientific evidence? Aus Dent.
2008;53:268-73.
13. Smales RJ, Yip HK. The atraumatic restorative treatment approach for the management of dental caries.
Quint Int. 2002;2:97.
14. Smits MT, Arends J. Influence of xylitol and/or fluor containing toothpastes on the remineralization of
surface softened email defects in vivo. Caries Res. 1985;19:528-35.
15. Strand GV, Nordbu H, Leirskar J. Tunnel restoration placed to routine practice and observed for 24 to
54 months. Quint Int. 2002;2:103.
16. Ten Cate JM, feathersone JDB, Mechanistic aspects of the interaction between fluor and dental email.
Crit Rev Oral Biol. 1991;2:283-96.
17. Van Louveren C. The antimicrobial action of fluor and its role in caries inhibition, J Dent Res.
1990:69:676-81.
18. Walsh LJ. The current status of tooth crmes for email remineralization. Dental Inc. 2009;2(6):38-42.
Bab 28
LESI SERVIKAL

Ragangan Bab

Pendahuluan Lesi Nonkaries Servikal


Klasifikasi Manajemen
Lesi Karies Servikal

PENDAHULUAN
Terdapat berbagai lesi yang memengaruhi gigi selain karies.. Lesi servikal adalah salah satunya. Lesi ini terjadi
karena hilangnya jaringan keras gigi di pertemuan semento-email. Menurut GV Black, lesi ini dapat
dikelompokkan dalam lesi Kelas V karena ditemukan di sepertiga gingiva permukaan lingual dan fasial gigi
anterior dan posterior, walaupun dapat juga memengaruhi permukaan distal dan mesial. Umumnya, lesi servikal
dapat terjadi baik disebabkan oleh karies maupun lesi nonkaries seperti abrasi, erosi, dan abfraksi. Lesi servikal
nonkaries secara etiologi dan patogenesis berbeda dengan karies. Diperkirakan, 60-70% lesi servikal masuk
dalam kategori ini. Lesi ini sering terlihat sebagai perubahan fisiologis, walaupun dapat dikaitkan dengan faktor
lain seperti trauma, kebiasaan buruk, kebiasaan makan, dll.

KLASIFIKASI
Klasifikasi lesi servikal didasarkan pada etiologi lesi:

Lesi karies servikal (Gbr. 28.1)


Lesi nonkaries servikal
Lesi erosi
Lesi abrasi
Lesi abfraksi

LESI KARIES SERVIKAL


Lesi karies servikal adalah lesi permukaan halus yang umumnya ditemui pada pasien dengan kesehatan mulut
buruk atau pada pasien yang menjalani terapi radiasi untuk perawatan keganasan. Lesi karies permukaan akar
sering terlihat di permukaan akar yang terbuka. Lesi ini biasanya terjadi di PSE (pertemuan semento-email (CEJ
= cemento-enamel junction) atau di sebelah apikal terhadap PSE. Lesi ini paling sering disebabkan oleh resesi
gingiva, walaupun mungkin ada alasan lain. Lesi karies servikal dapat terjadi di mana saja atau di daerah
abrasi, erosi, dan abfraksi. Lesi ini biasanya muncul di area akumulasi plak, misalnya dekat gingiva atau di
bawah kontak proksimal.
Gambar 28.1. Foto klinis menunjukkan lesi karies servikal pada gigi maksila.

Etiologi Karies Servikal

Penyakit periodontium
Resesi gingiva
Xerostomia
Kesehatan mulut buruk
Maloklusi
Lesi abfraksi
Tipped teeth yang membuat area gigi tidak dapat dibersihkan.
Usia lanjut
Obat-obat yang menurunkan aliran saliva
Terapi radiasi.

Fitur Klinis

Umumnya terjadi ketika perlekatan periodontium hilang sehingga permukaan akar menjadi terbuka.
Lokasinya biasanya di PSE atau di sebelah apikal terhadap PSE
Lesi karies servikal dapat berbentuk piring dangkal atau takik tajam (Gbr. 28.2)
Potongan melintang lesi berbentuk V yang melebar ke arah email dan apeks V ke arah pulpa. Setelah
menembus PDE (pertemuan dentino-email (DEJ = dentino-enamel junction), karies akan meluas dengan cepat
ke lateral dan ke arah pulpa.
Lebih sering ditemukan pada pria ketimbang pada wanita.

Diagnosis
Diagnosis sebaiknya dilakukan dengan sonde (eksplorer) setelah permukaan gigi dibesihkan. Radiograf dapat
digunakan sebagai tambahan namun harus tidak menunjukkan gambaran yang bersitumpang atau adanya
burnout. (Untuk rinciannya lihat Bab 5).

LESI NONKARIES SERVIKAL


Lesi nonkaries servikal didefinisikan sebagai setiap kehilangan struktur gigi secara bertahap, yang cirinya
adalah terbentuknya permukaan halus dan mengkilap, terlepas dari apa pun etiologinya.
Lesi nonkaries servikal dapat juga didefinisikan sebagai suatu penyakit pemborosa gigi. Lesi ini meliputi
abrasi, erosi, dan abfraksi. Lesi ini dapat terjadi secara patologis walaupun terkait dengan proses penuaan. Lesi
ini terlihat pada lebih dari 50% populasi. Lesi nonkaries servikal tidak dapat disamakan dengan lesi inflamasi
atau keabnormalan pertumbuhan, namun dianggap sebagai perubahan regresif gigi. Gambaran klinis dari lesi ini
bervariasi, mulai dari groove dangkal sampai lesi cekungan yang lebar, sampai ke takik yang luas atau defek
berbentuk baji (wedge shaped). Diagnosis dan kemudian perawatannya yang tidak tepat dapat menyebabkan
kehilangan struktur gigi yang terus menerus., hipersensitif dentin, keterlibatan pulpa, atau bahkan hilangnya
gigi.
Gambar 28.2. Karies servikal pada gigi

Klasifikasi
Erosi
Definisi: Erosi didefiniskan sebagai hilangnya substansi gigi yang disebabkan proses kimiawi tanpa bakteri.
Erosi tampak seperti bentuk baji berbatas tegas atau cekungan yang tidak beraturan yang disebabkan oleh
bahan kimia di area servikal biasanya di permukaan fasial gigi (Gbr. 28.3 dan 28.4). Erosi dapat
diklasifikasikan menurut sumber asamnya yaitu intrinsik atau ekstrinsik.
Gambar 28.3. Erosi gigi yang menunjukkan depresi ireguler di area servikal permukaan fasial gigi.
Gambar 28.4. Erosi gigi yang memperlihatkan permukaan fasial yang halus dan mengkilap
Etiologi Erosi

Erosi intrinsik: terjadi karena keterlibatan asam endogen, umumnya karena regurgitasi asam lambung ke
rongga mulut. Hal ini dapat terjadi pada kondisi tertentu sbb:
- Gangguan makan
- Anorexia nervosa
- Bulimia nervosa
- Muntah
- Muntah berulang
- Sindrom muntah psikogenik
- Muntah karena obat
- Morning sickness pada kehamilan
- Kelainan gastrointestinal
- Ulkus peptikum
- Gastroenteritis
- Hiatus hernia
- Alkoholisme kronis
Erosi ekstrinsik: berhubungan dengan asam yang berasal dari :
- Lingkungan
- Makanan
- Obat-obatan
- Erosi lingkungan
- Para penyicip anggur, pekerja di pabrik baterai, dan pekerja di pabrik penyepuh kimia dengan listrik
(ectroplating chemical manufacture).
- Perenang
- Penyebab makanan: Asupan yang tinggi dari:
- Buah dan jus sitrus
- Minuman bersoda
- Permen rasa buah asam
- Asinan.
- Penyebab obat-obatan
- Aspirin
- Vitamin C
- Tonikum besi
- Obat kumur-kumur yang mengandung asam
Abrasi
Abrasi berasal dari bahasa Latin dari kata abrader yang artinya mengikis. Abrasi adalah hilangnya substansi
gigi karena proses mekanis yang abnormal, kebiasaan buruk, dan bahan abrasif (Gbr. 28.5 dan 28.6)
Etiologi abrasi: Berbagai faktor etiologi abrasi adalah:

Kesalahan dalam praktik higiene oral


- Menyikat gigi secara horisontal atau teknik menyikat gigi yang tidak tepat.
- Menyikat gigi terlalu kuat
- Penggunaan sikat gigi dengan bulu keras
- Penggunaan pasta gigi/bubuk gigi abrasif
- Menyikat gigi terlalu lama, terlalu kuat, dan terlalu sering
- Penggunaan sikat interproksimal berlebihan.
Kebiasaan buruk
- Penggunaan tusuk gigi
- Menggigit kuku
Gambar 28.5. Foto yang menunjukkan abrasi
Gambar 28.6. Abrasi pada gigi

Lesi Abfraksi
Lesi ini adalah defek berbentuk baji yang terjadi di area servikal gigi karena tekanan oklusal berlebihan atau
kebiasaan parafungsi seperti bruksisme.
Pada kasus ini, hilangnya substansi gigi terjadi karena beban (kekuatan) biomekanis yang menyebabkan
flexure dan akhirnya menyebabkan kelelahan email dan dentin di lokasi jauh dari lokasi yang menerima beban.
Kerusakan lesi abfraksi tampak berbentuk baji dengan garis sudut tajam (Gbr. 28.7 A dan B). Pada tahap
awalnya lesi ini hanya tampak seperti retakan tidak beraturan atau garis fraktur atau defek berbentuk baji di
bagian servikal gigi. Tetapi pada tahap selanjutnya terlihat seperti groove (groove) meluas ke dalam dentin
(Gbr 28.8)

Gambar 28.7A dan B. Lesi Abfraksi awalnya tampak seperti retakan kecil, namun pada tingkat berikutnya
terlihat seperti groove memanjang ke arah dentin.
Abfraksi
Gambar 28.8. Lesi abfraksi terlihat sebagai retak kecil pada tahap awal tapi pada tahap lebih lanjut terlihat
sebagai ggroove yang meluas ke dentin.
Keretakan prismata email Fraktur prismata email
Etiologi
Pada tahun 1984, Lee dan Eakle menggambarkan kekuatan lateral sebagai akibat kerusakan struktur gigi.
Grippo menunjukkan bahwa tekanan bisa saja statis seperti yang ditimbulkan saat menelan dan mengencangkan
otot wajah, atau bergantian, seperti tekanan yang diciptakan karena mengunyah. Lesi abfraksi disebabkan oleh
flexure dan kelelahan strutur gigi yang rentan pada lokasi yang terletak jauh dari titik yang menerima beban.
Kerusakan sangat bergantung kepada besarnya, durasi, frekuensi, dan lokasi tekanan (Gbr 28.9).
Jika gigi mengalami abfraksi, beban oklusal pada gigi dapat dites pada oklusi sentrik dan gerakan ekskursif
dengan kertas penanda oklusal. Gigi dengan abfraksi akan menunjukkan kesan jelas pada salah satu dari
inklinasi kuspa. Kekuatan lateral yang merusak ini menyebabkan garis tekanan pada gigi dan akhirnya
menyebabkan pecahnya gigi.
Jika selama ekskursi lateral terlihat peningkatan kuspa, kekuatan beban dari gerakan ekskursif akan
diarahkan menuju gigi kaninus. Abfraksi umumnya ditemukan pada kasus yang inklinasi gigi kaninusnya tidak
benar (malaligned caninus) sehingga ekanan lateral diberikan pada inklinasi lingual kuspa bukal dari premolar
maksila.
Gambar 28.9. Abfraksi terjadi ketika gigi tertekuk di bawah tekanan oklusi, menyebabkan mikrofraktur pada
email dan dentin.
Sementum Dentin Email

FItur Klinis pada Lesi Nonkaries Servikal


Erosi

Depresi ireguler atau berbentuk piring lebar pada area servikal biasanya di permukaan fasial gigi.
Permukaan terlihat halus, keras, dan mengkilap (Gbr. 28.10)
Biasanya tampak di sepertiga gingiva permukaan labial dari gigi anterior (Gbr. 28.11)
Lesi erosi biasanya glazed dan tidak memiliki batas dari permukaan yang bersebelahan.
Gigi sensitif terhadap rangsangan kimia, fisik, dan mekanis.

Gambar 28.10. Lesi erosi terlihat sebagai depresi berbentuk piring lebar di permukaan gigi
Gambar 28.11. Erosi umumnya terjadi di permukaan labial gigi anterior atas
Abrasi

Abrasi terlihat sebagai lekukan berbentuk piring atau berbentuk baji dengan permukaan halus dan berkilau
(Gbr. 28.12 dan 28.13).
Umumnya gigi yang terkena adalah kaninus dan premolar
Biasanya terjadi di permukaan akar yang terbuka tetapi dapat juga terjadi di tempat lain, seperti permukaan
insisal pada perokok pipa dan pada penjahit yang mengigit jarum dengan gigi anterior.
Abrasi karena sikat gigi umumnya bersifat unilateral.
Lesi memiliki marjin yang jelas dan tajam dan sudut interna.
Gambar 28.12. Abrasi karena sikat gigi yang terdapat di area servikal gigi terlihat sebagai defek berbentuk baji
dengan marjin yang jelas dan tajam
Gambar 28.13. Foto yang menampilkan abrasi gigi yang menyeluruh

Abfraksi

Biasanya hanya satu gigi yang terlibat pada lesi abfraksi.


Terlihat sebagai suatu depresi berbentuk baji yang jelas dan tajam.
Umumnya ditemukan di permukaan bukal gigi mandibula.
Pada tahap awal, lesi terlihat seperti garis fraktur atau retak kecil yang tidak beraturan di permukaan email.
Pada tahap lanjut terlihat seperti takik yang masuk ke dalam dentin (Gbr. 28.14A dan B)
Gambar 28.14A dan B. Pada abfraksi, konsentrasi tekanan meningkat di bagian tengah dibandingkan dengan
di bagian perifer. Hal ini menghasilkan tampilan bertakik tajam pada lesi

Diagnosis Lesi Nonkaries Servikal


Diagnosis lesi nonkaries servikal diawali dengan menelusuri riwayat penyakitnya. Penelusuran riwayat
penyakit yang hati-hati dan pemeriksaan klinis yang tepat merupakan hal wajib dilakukan untuk mencapai
diagnosis yang tepat.
Riwayat Pasien
Saat menelusuri riwayat pasien, hal berikut yang harus selalu diperhatikan adalah:

Pola makan pasien: konsumsi berlebihan buah sitrus, minuman soda, asinan dan sumber vitamin C dapat
menyebabkan kerusakan erosif gigi.
Pekerjaan pasien: Erosi paling sering ditemukan pada pasien yang bekerja di pabrik penyepuhan logam atau
pabrik baterai
Kesehatan umum pasien: Erosi umumnya ditemukan pada pasien dengan ulkus gastrointestinal dan hiatus
hernia.
Kebiasaan menyikat gigi: Dokter gigi harus menanyakan teknik menyikatnya, tipe sikatnya dan jenis pasta
giginya karena faktor-faktor ini bisa menyebabkan abrasi gigi.
Kebiasaan yang abnormal: Bruksisme, clenching, menggerus atau kebiasaan lain yang memiliki efek
merusak oklusi harus ditanyakan.
Pemeriksaan

Peklinik harus mencari penampilan klinis dari gigi yang mengalami erosi, abrasi, dan/atau abfraksi yang bisa
luas, defek berbentuk piring yang dangkal, atau takik berbentuk V dengan marjin yang tajam, atau defek
berbentuk baji. Tabel 28.1 meringkas perbandingan antara erosi, abrasi, dan abfraksi.
Mencari tanda-tanda abnormal oklusi traumatik seperti gigi goyang, gigi miring, gigi aus tak wajar, gigitan
silang, gigitan dalam, oklusi gigi yang tidak baik, gigi dengan susunan yang tidak baik(malalignment), dan
kontak terbuka, dll. Masalah oklusal ini dapat berakibat pada kehilangan nonkaries di servikal gigi.
Radiograf
Pada pasien dengan masalah oklusal yang abnormal dan kemudian kerusakan di servikal gigi, hal berikut akan
tampak pada radiograf:

Resorpsi akar, hipersementosis


Pelebaran ligamen periodontium
Kehilangan tulang vertikal
Penebalan lamina dura
Kalsifikasi kamar pulpa

Tabel 28.1
Perbandingan erosi, abrasi, dan abfraksi

Erosi Abrasi Abfraksi


Lokasi Lingual/fasial Fasial Fasial
Tampilan Piring dangkal Baji berbentuk V Bentuk baji
Pinggiran Halus Tajam Tajam
Permukaan Halus, seperti kaca, Halus, retak kecil Kasar, sudut tajam
email mengkilap

Tabel 28.2
Diagnoisa Banding pada Lesi Servikal

Karies insipen Karies terhenti Noda intrinsik atau


cacat email
Warna Putih kapur Coklat atau hitam Putih berkilau
Tekstur permukaan Porus Kaku dan halus Kaku dan halus
(ketika kering)
Lokasi (umumnya) Di area akumulasi Di area akumulasi plak Di mana saja
plak
MANAJEMEN
Salah satu langkah penting pada perawatan lesi nonkaries di servikal adalah perhatiaan pada etiologi dan
perkembangan lesi. Untuk mencapai diagnosis yang akurat, harus ditelusuri riwayat rinci dari pasien. Tanpa
determinasi faktor etiologi, kesuksesan hasil perawatan sulit dicapai.

Manajemen Lesi Nonkaries Servikal Dilakukan dalam Dua Tahapan


1.Manajemen preventif
2.Manajemen restoratif

Manajemen Preventif
Tujuan utama manajemen preventif adalah menghilangkan faktor etiologi. Setelah mendapatkan riwayat yang
berkenaan dengan kebiasaan makan, kebiasaan menyikat gigi, kebiasaan abnormal seperti bruksisme, tindakan
preventif berikut harus diambil untuk mencegah kerusakan gigi yang tidak biasa:

Teknik menyikat gigi yang benar menggunakan bulu sikat gigi yang lembut.
Menggunakan pasta gigi yang tidak abrasif
Mengoreksi ketidakseimbangan oklusal untuk mengurangi tekanan oklusal.
Membatasi asupan makanan asam dan makanan yang menimbulkan asam
Menggunakan obat kumur natrium bikarbonat pada pasien dengan regurgitasi gaster
Menggunakan alat ortodonsia untuk mencegah bruksisme dan clenching.
Mengoreksi klamer logam atau protesa yang tidak pas
Mengoreksi kebiasaan abnormal seperti menggigit paku atau pipa, menggigit kuku, dll.
Aplikasi fluor topikal
Konsultasi psikiatris untuk pasien dengan kondisi anoreksia nervosa.

Manajemen Restorasi
Pentingnya restorasi lesi nonkaries di servikal adalah karena alasan berikut:

Mempertahankan integritas struktur gigi


Merawat sensitivitas gigi
Mempertahankan estetika
Melindungi pulpa
Mempertahankan kesehatan periodontium
Mencegah karies.
Langkah pertama perawatan lesi servikal adalah restorasi bagian gigi yang rusak, tetapi jika ada keterlibatan
pulpa atau jika lesi sevikal berkaitan dengan resesi gingiva atau kerusakan periodontium, gigi membutuhkan
terapi endodonsia atau terapi periodontium lebih dahulu atau kombinasi keduanya untuk mencapai prognosis
yang lebih baik.
Walaupun lesi nonkaries servikal dapat direstorasi menggunakan material restorasi untuk lesi karies servikal
yaitu komposit, amalgam perak, ionomer kaca, atau tompatan emas direk, material yang terbaik adalah
komposit atau semen ionomer kaca modifikasi resin karena:
Hanya membutuhkan preparasi gigi yang minimum
Retensi diperoleh karena terbangunnya adhesi dengan jaringan gigi
Memberi hasil estetika lebih baik
Walaupun demikian, ketika estetika tidak terlalu penting seperti pada gigi posterior, bahan restorasi pilihan
adalah amalgam perak atau tumpatan emas direk karena sifat fisik dan daya tahannya yang lebih baik.
Meskipun tipe preparasi gigi untuk restorasi lesi servikal adalah Kelas V untuk semua material restorasi,
terdapat modifikasi tertentu pada desain preparasi untuk material restorasi berbeda
Restorasi Lesi Servikal Menggunakan Resin Komposit
Resin komposit merupakan material restorasi yang paling umum digunakan untuk restorasi lesi servikal.
Sebagaimana diketahui, komposit pada dasarnya terbagi atas tiga tipe berdasarkan ukuran, jumlah, dan
komposisi filer anorganik:
1.Komposit konvensional
2.Komposit mikrofil
3.Komposit hibrid.
Dari ketiga tipe komposit di atas, komposit mikrofil adalah material pilihan untuk restorasi lesi servikal.
Bahan ini secara estetika lebih baik, penyelesaian akhir bisa dilakukan dengan lebih baik, dan memiliki
modulus elastisitas rendah yang memungkinkannya lebih fleksibel pada saat terjadi tooth flexure. Kualitas ini
yang membuat komposit ini lebih disukai untuk restorasi lesi servikal yang cervical flexurenya merupakan hal
yang signifikan.

Kelebihan

Menghemat struktur gigi


Lebih diterima secara estetik
Beradhesi pada dentin dan email, sehingga retensinya baik.
Dapat dipoles segera setelah mengeras.

Kekurangan

Masalah kebocoran mikro, biasanya di permukaan akar


Lebih mahal dari amlgam
Lebih technque sensitive.
LCTE tinggi dapat berakibat perkolasi di marjin sekitar retorasi komposit.
Pada dasarnya, tiga tipe desain preparasi gigi menggunakan komposit resin dibuat sebagai:
1.Preparasi gigi Kelas V konvensional: diindikasikan untuk lesi servikal yang berada seluruhnya atau hanya
sebagian di permukaan akar gigi.
2.Preparasi gigi Kelas V konvensional dan dibevel: Dindikasikan baik untuk lesi besar atau untuk mengganti
restorasi Kelas V yang rusak yang sebelumnya dipreparasi konvensional.
3.Modifikasi preparasi gigi Kelas V: Diindikasikan untuk lesi servikal kecil sampai sedang.
Selama preparasi gigi untuk restorasi komposit lakukanlah langkah-langkah berikut:

SIngkirkan struktur gigi yang rusak dan rapuh.


Buat sudut cavosurface 90 (untuk permukaan akar) atau lebih (untuk preparasi mahkota)
Kasarkan permukaan gigi yang dipreparasi. Kadang-kadang, groove retensi ditempatkan di daerah bukan
email (Gbr. 28.15 dan 28.16). Hal ini membantu meningkatkan resistensi terhadap kebocoran tepi karena
penempatan groove membantu menahan efek pengerutan polimerisasi dan pelenturan gigi.
Bersihkan permukaan gigi dengan pumis profilaksis
Pilih warna yang tepat sesuai warna gigi.
Isolasi gigi, lebih disukai menggunakan isolator karet
Lakukan etsa permukaan gigi menggunakan material yang tepat
Aplikasikan agen adhesif sesuai instruksi pabrik.
Gunakan resin komposit (lebih disukai komposit mikrofil dan flowable) dan lakukan penyinaran.
Lakukan penghalusan dan pemolesan restorasi.
Gambar 28.15. Preparasi groove retentif untuk restorasi komposit.
Gambar 28.16. Preparasi Kelas V komposit

Restorasi Lesi Servikal Menggunakan Semen Ionomer Kaca


Dalam beberapa tahun terakhir ini, semen ionomer kaca (SIK) digunakan untuk merestorasi lesi servikal. Sifat
yang menguntungkan dari material ini adalah kemampuannya untuk melepas fluor ketika berada di dalam
rongga mulut. Kualitas antikariogenik ini membuat restorasi ionomer kaca lebih tahan terhadap karies sekunder.
Baik ionomer kaca tipe self-cured maupun light-cured kini sudah tersedia di pasaran, namun ionomer kaca
modifikasi resin (SIKMR) yang dipolimerisasi dengan sinar (light-cured) lebih disukai karena:
Waktu kerja lebih lama
Sifat fisik lebih baik
Estetika lebih baik
Langkah-langkah preparasi gigi untuk semen ionomer kaca (Gbr. 28.17A s/d D) adalah sebagai berikut:
Buang struktur gigi yang rusak dan rapuh.
Kasarkan permukaan gigi yang dipreparasi.
Bersihkan permukaan gigi menggunakan asam poliakrilat 10% selama 10 15 detik untuk menghilangkan
smear layer.
Isolasi gigi, lebih disukai dengan menggunakan isolator karet
Ambil semen ionomer kaca, campurkan dan letakkan pada gigi yang sudah dipreparasi.
Lakukan penghalusan akhir dan pemolesan pada restorasi (Gbr. 28.18)
Gambar 28.17A s/d D. Restorasi ionomer kaca pada lesi servikal: (A) Preparasi gigi telah selesai; (B)
Penumpatan SIK; (C) Penghalusan restorasi; (D) Restorasi akhir
Gambar 28.18. Foto menunjukkan restorasi abrasi servikal menggunakan semen ionomer kaca

Kelebihan

Bersifat adhesif pada struktur gigi


Biokompatibel
Melepaskam fluor yang bertindak sebagai antikariogenik
Hanya membutuhkan preparasi gigi minimal, sehingga mudah diterapkan pada anak-anak.

Kekurangan

Sensitif terhadap air pada fase pengerasan


Permukaan putih dan tidak rata
Opak
Tidak radiopak
Estetika lebih rendah dibandingkan dengan komposit
Restorasi Lesi Servikal Menggunakan Amalgam Perak
Amalgam normalnya digunakan untuk lesi servikal pada kondisi:

Di daerah yang tidak mementingkan estetika


Di daerah yang aksesnya dan visibilitasnya terbatas
Ketika sulit mengontrol kelembaban
Di daerah yang secara dalam sekali ke arah gingiva (Gbr. 28.19)
Untuk gigi perjangkaran protesa sebagian, karena amalgam lebih resisten terhadap aus
Preparasi giginya sama seperti preparasi untuk restorasi komposit konvensional Kelas V.
Kelebihan

Manipulasi mudah
Adaptasi marjin memuaskan
Tidak technique sensitive
Self-sealing
Resisten terhadap aus
Biaya rendah

Kekurangan

Kurang estetis
Preparasi harus luas untuk dapat menahan amalgam
Tumpatan amalgam lama kelamaan dapat mengalami korosi atau berbercak dan menyebabkan diskolorasi
Tidak beradhesi dengan gigi
Kekuatan tensil rendah sehingga rapuh.
Gambar 28.19. Restorasi amalgam perak untuk lesi servikal pada premolar.

Perawatan Endodonsia
Ketika lesi servikal melibatkan pulpa, harus dilakukan terapi endodonsia. Setelah perawatan saluran akar, gigi
harus direstorasi sampai fungsinya dan estetikanya normal dengan membuat mahkota penuh.
Perawatan Periodontium
Ketika lesi nonkaries di servikal terkait dengan kerusakan periodontium dan resesi gingiva, maka diperlukan
perawatan periodontium. Perawatan ini meliputi bedah periodontium untuk menutupi akar yang terbuka
menggunakan free gingival graft, flap yang meluas ke korona, atau regenerasi jaringan yang terkendali.
Karena banyak orang yang mempertahankan gigi dalam waktu yang lama, insidens lesi servikal (karies dan
nonkaries) meningkat. Kebanyakan lesi nonkaries di servikal terlihat pada populasi orang tua. Jika hilangnya
gigi menjadi signifikan, fungsi dan estetikanya menjadi hilang, sehingga dokter gigi seyogyanya mengetahui
semua pilihan perawatan yang diperlukan untuk restorasi gigi yang aus. Banyak bahan restorasi yang tersedia
untuk restorasi lesi servikal, di antara material ini komposit flowable dan mikrofil merupakan pilihan untuk
daerah estetik dan ionomer kaca serta amalgam untuk daerah nonestetik

RINGKASAN

Dari keseluruhan lesi servikal, 60 s/d 70% merupakan lesi servikal nonkaries
Lesi karies permukaan akar dijumpai di permukaan akar yang terpajan pada lingkungan mulut, biasanya di
PSE atau lebih ke apikal dari PSE
Lesi nonkaries di servikal digambarkan sebagai wasting disease of the teeth. Lesi-lesi ini termasuk abrasi,
erosi, dan abfraksi.
Lesi nonkaries di servikal tidak dapat dianggap sebagai lesi inflamasi atau keabnormalan perkembangan gigi
tetapi dianggap sebagai perubahan regresif dari gigi.
Erosi dedefinisikan sebagai hilangnya substansi gigi yang disebabkan oleh proses kimiawi yang tidak
melibatkan aksi bakteri.
Abrasi didefinisikan sebagai hilangnya substansi gigi disebabkan oleh keausan secara mekanis yang bukan
disebabkan oleh mastikasi.
Abfraksi adalah defek berbentuk baji yang biasanya terjadi di daerah servikal gigi yang disebabkan oleh
tekanan oklusal berlebihan atau kebiasaan parafungsi seperti bruksisme. Tampilannya seperti defek berbentuk
baji dengan garis sudut yang tajam
Lesi abfraksi disebabkan oleh flexure yang menyebabkan kelelahan material dari gigi yang rentan di lokasi
yang jauh dari tempat jatuhnya beban. Kerusakan sangat bergantung pada kekuatan, durasi, frekuensi, dan
lokasi tekanan.
Pada pasien dengan masalah oklusal yang abnormal dan hilangnya bagian servikal gigi, pada radiograf akan
terlihat resorpsi akar, hipersementosis, pelebaran ligamen periodontium, hilangnya tulang vertikal, dan
penebalan lamina dura.
Tujuan utama manajemen lesi nonkaries di servikal adalah menghilangkan faktor etiologinya seperti
perbaikan kebiasaan makan, kebiasaan menyikat gigi, dan mengoreksi kebiasaan yang abnormal seperti
bruksisme.
Komposit mikrofil merupakan pilihan terbaik untuk retorasi lesi servikal karena bersifat estetis, memberikan
hasil akhir lebih baik, dan memiliki modulus elastisitas rendah, yang membuatnya lentur selama tooth flexur.
Semen ionomer kaca digunakan untuk restorasi lesi servikal utamanya karena kualitas pelepasan fluor
(antikariogenesitas) dan berikatan secara kimiawi pada struktur gigi.
Amalgam digunakan pada lesi servikal yang faktor estetiknya tidak penting, kontrol kelembabannya sulit
dilakukan, dan untuk gigi perjangkaran protesa sebagian, karena amlgam lebih tahan aus.

PERTANYAAN
1. Klasifikasikan lesi servikal. Jelaskan mekanisme abfraksi secara rincil
2. Tulis catatan pendek tentang:
a. Lesi servikal
b. Diagnosis banding lesi servikal nonkaries
c. Manajemen lesi servikal

BIBLIOGRAFI
1. Gallien GS, Kaplan I, Ownes B. A review of non-carious dental cervical lesions. Compend. Cont eEduc
Dent. 1994;16:552.
2. Grimaldi JR, Hood J. Lateral deformation of the tooth crown under axial cuspal loading. JDR.
1973;52:584. (Abst. No.10)
3. Grippo JO, et al. Attrition, abrasion, corrosion and abfraction revisited: a new perspective on tooth
surface lesions. J Am Dent Assc. 2004;135:1109-18.
4. Grippo JO. Abfraction: a new classification of hard tissue lesions of teeth. J Esthet Dent. 1991;3:14-9.
5. Harrison JL, Roeder LB. Dental erosion caused by color beverages. Gen Dent. 1991;39:23.
6. High AS. An unusual pattern of dental erosion - case report. BDJ. 1977;143:403.
7. Jarvinen V. Location of dental erosion in a referred population. Caries res. 1992;26:391.
8. Konig KG, Root lesions. Int Dent J. 1990;40-283.
9. Vandewalle KS, Vigil G. Guidelines for the restoration of class V lesion. Gen Dent. 1997;45:254.
10. Xhonga FA, Wolcott RB, Sogniaes RF. Dental erosion II. Clinical easurement of dental erosion
progress, JADA. 1972;84:577.
Bab 29
SERAMIK DENTAL
Ragangan Bab

Pendahuluan Pendinginan
Definisi Pengasahan dan Penyesuaian
Riwayat Akhir
Klasifikasi Glazing
Komposisi Sistem All Ceramics
Metode Memperkuat Porselena Inlay dan Onlay Seramik
Restorasi Seramik Logam Vinir Laminasi Porselen
Kondensasi Porselen Mahkota seramik penuh
Pembakaran Porselen Pembuatan Restorasi Seramik

PENDAHULUAN
Seramik populer karena tuntutan estetika dan ketahanan restorasi. Seramik dental umumnya mengandung kaca,
porselen, atau struktur kristalin tinggi. Sifat fisik dan mekanis seramik lebih mirip email dibandingkan resin
akrilik dan logam. Seramik memiliki koefisien ekspansi termal sangat mirip dengan gigi, sangat baik dalam hal
resistensinya terhadap keausan dan dalam durasinya, membuat seramik menjadi pilihan untuk restorasi yang
mementingkan estetik dan tahan lama. Walaupun seramik kuat, resilien, dan tahan terhadap temperatur, tetapi
material ini rapuh sehingga bisa patah ketika dibengkokkan atau ketika dipanaskan dan didinginkan secara
cepat. Material seramik yang umum digunakan adalah porselen feldspathic, seramik yang dapat dicor (castable
ceramic) (Dicor), dan new machinable glass ceramic (Dicor MGC) yang digunakan dengan system CEREC.
Ketika diletakkan pada gigi yang telah dipreparasi, permukaan restorasi seramik dietsa dengan bantuan alat
untuk menghilangan semua matriks yang mengkilap.

DEFINISI
Seramik
Seramik adalah senyawa anorganik dengan sifat-sifat nonlogam (nonmetallic) yang secara khas tersusun dari
elemen logam atau semilogam dan nonlogam.

Seramik Dental
Senyawa anorganik dengan sifat-sifat nonlogam biasanya tersusun atas oksigen dan satu atau lebih elemen
logam (atau semilogam), misalnya aluminum, kalsium, magnesium, dan zirconium, dll. yang diformulasikan
untuk memproduksi protesa berbahan seramik

Feldspathic Porcelain
Seramik yang tersusun atas fase matriks kaca dan satu atau lebih fase kristalin.

Seramik Kaca
Seramik yang terdiri dari fase matriks kaca dan setidaknya satu fase kristal yang dibentuk dari kristalisasi kaca
yang terkontrol
Seramik Glaze
Suatu bubuk seramik khusus yang ketika dicampur dengan likuid yang diaplikasikan ke permukaan seramik dan
dipanaskan pada temperatur yang tepat dengan waktu cukup, membentuk lapisan halus yang mengkilap pada
permukaan seramik.

Restorasi Seramik Logam


Restorasi yang dibuat dengan substrat logam tempat porselen beradhesi guna meningkatkan estetiknya dengan
intermedia suatu lapisan oksida logam.

Aluminous Porcelain
Suatu seramik yang terdiri atas fase matriks kaca dan paling sedikit 5% vol alumina.

Body Porcelain
Suatu seramik vinir yang digunakan untuk restorasi seramik atau logam seramik.

Castable ceramic
Suatu kaca atau seramik lain yang khusus digunakan untuk pengecoran (casting) ke dalam refractory mold
untuk menghasilkan core coping atau kerangka kerja restorasi seramik

Seramik CAD-CAM
Seramik tipe ini digunakan untuk membuat keseluruhan atau sebagian dari restorasi all ceramic dengan
menggunakan proses computer-aided design /CAD dan computer-aided manufacturing / CAM).

SEJARAH
1728 Pierre Fauchard Menyarankan penggunaan seramik dalam kedokteran gigi

1789 Duchateau dan Memperkenalkan material porselen gigi untuk jembatan dan
DeChemant protesa

1808 Fonzi Porselen terrametalik (ditahan dengan lembaran platina)

1837 Ash Memperbaiki material gigi porselen

1900- Pengenalan tungku porselen elektrik pertama


05-
1903 Dr. Charles Meperkenalkan mahkota seramik pertama menggunakan
Land matriks lembaran platinum dan porselen fusi tinggi

1962 Weinstein dan Pengenalan restorasi porselen fusi ke logam


Weinstein

1963 Vita Produksi porselen komersil

1965 McLean & Meningkatkan ketahanan terhadap fraktur dengan


Hughes memperkenalkan porselen alumina

1984 Adair dan


Grossman Memperkenalkan eeramik kaca yang bisa dicor (Dicor)

KLASIFIKASI
Berdasarkan Kegunaan

Seramik logam
Gigi protesa seramik
Jembatan anterior porselen
Mahkota jaket, vinir, inlay porselen

Berdasarkan Temperatur Fusi


Seramik fusi tinggi -1300C (2373F)
Seramik fusi sedang -1101C s/d 1300C (2013F s/d 2373F)
Seramik fusi rendah - 850C s/d 1100C (1562F s/d 2013F)
Seramik fusi ultra rendah - <850C (1562F)

Berdasarkan Komposisi

Alumina murni
Zirkonia murni
Kaca silika
Seramik kaca berbasis leusit
Seramik kaca berbasis lithia

Berdasarkan Metode Pengerjaan

Sintering
Sintering sebagian dan infiltrasi kaca
CAD-CAM
Copy milling

KOMPOSISI
Porselen dental pada dasarnya merupakan material kaca. Kaca yang dileburkan mengeras dengan struktur cair
dan bukan struktur kristal dalam proses pendinginannya. Struktur yang terbentuk dikenal sebagai vitreous dan
prosesnya dikenal dengan vitrifikasi. Anion utama yang bertanggungjawab untuk membentuk ikatan dengan
kation multivalen seperti silikon dan boron adalah ion O. Ion ion ini dianggap sebagai pembentuk kaca.
Oksida lainnya seperti kalium, natrium, kalsium, atau aluminium oksida ditambahkan pada kaca untuk
mencapai sifat yang diinginkan (Gbr. 29.1)
Gambar 29.1. Matriks Porselen
Na K Ca
Oksigen
Si Al B

Porselen Fusi Tinggi


Bahan dasar porselen tipe ini adalah:
Feldspar
Kaolin (tanah liat)
Quartz.

Feldspar

Unsur pokok utama


Digunakan pada konsentrasi 75 s/d 80%
Yang paling banyak digunakan adalah bentuk natrium atau kalium, namun dalam kedokteran gigi, kalium
feldspar lebih disukai
Kalium feldspar dipilih karena dapat meningkatkan resistensi terhadap pyroplastic flow dan meningkatkan
kekentalan.
Mengalami pelelehan tidak sejenis pada 1150C sampai 1530C untuk membentuk material kristal dan cair,
yaitu kalium auminosilikat yang dikenal dengan nama leusit.
Kaolin

Digunakan pada konsentrat 4 s/d 5%


Bertindak sebagai bahan pengikat
Menurunkan translusensi porselen
Quartz

Digunakan pada konsentrasi 13-14 persen


Bertindak sebagai penguat
Meningkatkan translusensi porselen

Seramik Fusi Sedang dan Rendah


Seramik dengan fusi rendah dan sedang terbentuk melalui proses yang dikenal sebagai fritting dan produk yang
diperoleh dikenal sebagai frit.
Bahan utama untuk seramik fusi rendah dan sedang sama dengan fusi tinggi, namun sebagai tambahan, juga
ditambahkan modifikasi kaca tertentu

Modifier Kaca

Yang paling umum digunakan adalah kalium, natrium dan kalsium oksida
Bertindak sebagai fluxes dan mengurangi temperatur yang melunakkan kaca.
Menurunkan viskositas kaca

Intermediate oxides

Yang umum digunakan adalah aluminium oksida (AlO).


Menurunkan temperatur pelunak serta menurunkan viskositas kaca.

Boron Oksida (BO)

Bertindak sebagai pembentuk kaca dan modifier kaca.


Menurunkan titik leleh dan viskositas kaca
Matriks BO terbentuk oleh penyusunan tiga dimensi dari segitiga BO.
Bahan Opasitas
Yang paling umum digunakan adalah:

Zirkonium oksida
Titanium Oksida
Serium Oksida

Bahan Pewarna
Untuk memperoleh corak (hue) dan kroma yang tepat, telah digunakan berbagai bahan pewarna (Tabel 29.1).
Tujuan utamanya adalah untuk memeroleh beragam variasi warna agar bisa menyerupai gigi alami.

Digunakan untuk menciptakan penanda seperti garis cek email, titik dekalsifikasi, dll.
Digunakan untuk menciptakan efek gingiva dan untuk menonjolkan warna badan porselen.

Tabel 29.1. Ragam warna yang dihasilkan dari oksida logam pada seramik

Pigmen logamk Warna


Ferric oxide Abu-abu
Titanium oksida Kuning kecoklatan
Mangan Oksida Lavender
Kobalt Oksida Biru
Nikel Oksida Coklat
Kromium-alumina Merah muda
Tembaga oksida Hijau

METODE PENGUATAN PORSELEN


Penguatan Kimiawi/Pertukaran Ion
Ini adalah salah satu metode efektif dalam memasukkan tekanan kompresif residual ke dalam permukaan
seramik. Penguatan kimiawi biasanya dilakukan dengan menggantikan kation berukuran kecil pada lapisan
permukaan dengan kation ukuran besar sementara matriks tetap sama. Proses ini juga dikenal sebagai low
temperature ionic crowding. Ion natrium yang terdapat dalam matriks digantikan dengan ion kalium ukuran
besar dengan merendam mahkota porselen dalam kalium nitrat (Gbr. 29.2). Ion kalium ukurannya 35% lebih
besar dibandingkan dengan ion natrium, sehingga menyebabkan tekanan kompresif residual. Produk ini tersedia
dengan nama komersil GC Tuf-coat (GC).
Gambar 29,2. Penguatan kimiawi porselen; ion natrium digantikan oleh ion kalium yang berukuran lebih besar.

Penguatan Dispersi
Penguatan dispersi adalah proses penguatan yang dilakukan dengan fase terdispersi dari material berbeda
dengan kemampuan memblokir menyebarnya keretakan pada material.
Penguatan dispersi seramik bisa diperoleh dengan meningkatkan muatan kristal dari alumina, leusit, dan
zirkonia. Contohnya, jika alumina ditambahkan pada kaca, kaca menjadi lebih tangguh dan kuat karena
keretakan tidak dapat melewati partikel kristalin yang tangguh seperti alumina dengan mudah, namun dapat
melewati kaca dengan mudah.
Perubahan Termal
Ini adalah metode yang paling umum untuk memperkuat kaca. Proses ini menghasilkan tekanan kompresif
residual dalam kaca dengan cara pemanasan dan ketika kaca dalam keadaan meleleh, segera didinginkan
dengan cepat. Pendinginan cepat ini menghasilkan kaca kaku mengelilingi logam yang lunak.
Untuk penggunaan di kedokteran gigi, seramik didinginkan secara cepat (quenched) dalam minyak silikon
atau cairan khusus lainnya.

Pengurangan Jumlah Siklus Pembakaran


Fungsi utama siklus pembakaran adalah untuk mensinter partikel bubuk menjadi satu dan menghasilkan
permukaan yang relatif halus. Beberapa reaksi kimia terjadi pada saat siklus pembakaran. Jika sejumlah siklus
pembakaran ditingkatkan, kandungan leusit dari porselen juga akan meningkat yang selanjutnya akan
meningkatkan koefisien ekspansi termal dari porselen. Ekspansi yang tidak cocok antara porselen dan logam
menghasilkan tekanan pada waktu endinginan yang dapat menyebabkan terjadinya retakan pada porselen.
Karena itu, pengurangan jumlah siklus pembakaran dapat membantu menurunkan pembentukan retakan.

Membuat Tekanan Kompresi Residual


Metode ini juga penting dalam mengembangkan tekanan kompresif residual pada seramik. Pada mahkota
seramik metal, logam harus memiliki koefisien ekspansi termal lebih tinggi dibanding porselen agar pada saat
pendinginan, logam berkontraksi sedikit lebih banyak dibandingkan dengan porselen yang akan menimbulkan
tekanan dan menguatkan porselen.
Aturan ini juga berlaku pada semua sistem seramik yang lapisan dalamnya (inti) memiliki koefisien ekspansi
termal lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan luar, menimbulkan tekanan dan penguatan pada porselen.

Transformasi Penguatan
Pada proses ini, partikel kecil yang kuat disebar seragam ke dalam matriks agar retakan tidak dapat melewati
kristal-kristal ini.
Seramik dapat dikuatkan menggunakan berbagai partikel kristalin seperti:
Alumina
Leusit
Lithium di-silikat
Pada seramik berbasis zirkonia, kristal zirkonia mengalami perubahan dari kristal tetragonal menjadi fase
monoklinik saat dalam tekanan dan menyebabkan penguatan transformasi.

Glazing yang Tepat dari Porselen


Menghilangkan cacat permukaan dengan glazing dan pemolesan yang tepat meningkatkan kekuatan porselen

Ikatan Adhesif pada Restorasi Seramik


Ikatan adhesif pada restorasi seramik dengan semen luting resin dapat memperkuat restorasi seramik

Keunggulan

Eestetika tinggi
Tidak menampakkan logam
Biokompatibel
Bersifat kuat setelah terikat pada gigi
Tidak bernoda
Memiliki konduktivitas/insulasi termal rendah
Resistan terhadap abrasi karena kekerasannya
Tahan lama
Koefisien ekspansi termal yang rendah

Kelemahan

Lebih mahal dibandingkan amalgam atau komposit


Oklusi yang akurat sulit diperoleh
Membutuhkan dua kali kunjungan
Penyelesaian dan pemolesan intraoral adalah prosedur yang memakan waktu lama
Mudah pecah dan rapuh
Abrasif terhadap email antagonis
Sangat technique sensitive
Penyelesaian pada bagian tmarjin sulit pada area interproximal yang sulit terjangkau
Membutuhkan peralatan laboratorium yang khusus dan mahal

RESTORASI SERAMIK LOGAM


Walaupun semua restorasi seramik terlihat sangat alami, namun sebenarnya sangat rapuh dan mudah fraktur.
Semua restorasi logam sangat kuat namun tidak dapat digunakan pada area yang mementingka estetika. Pada
restorasi seramik logam, keuntungan estetika dari porselen dikombinasikan dengan kekuatan logam (Gbr. 29.3)
Untuk memeroleh adhesi yang tepat antara logam dan porselen, aloi dan porselen yang digunakan harus
memiliki sifat sbb:

Porselen dan aloi harus dapat membentuk adhesi yang kuat karena penyebab umuk kegagalan pada restorasi
seramik logam adalah terlepasnya adhesi porselen dari logam.
Porselen dan aloi harus memiliki koefisien ekspansi termal yang hampir sama agar porselen tidak retak atau
memisah dari aloi pada saat pendinginan (Gbr. 29.4).
Porselen harus terfusi pada temperatur yang lebih rendah daripada temperatur leleh logam. Aloi tidak boleh
berubah bentuk pada temperatur fusi porselen.
Aloy harus memiliki modulus elastisitas yang tinggi agar dapat berbagi proporsi tekanan yang lebih besar
dibandingkan porselen di dekatnya.
Tingkat kekakuan yang cukup, tahan terhadap kelenturan dan kekuatan aloi
Gambar 29.3. Gambaran diagramatis restorasi seramik logam
Porselen transparan Porselen opak Metal coping \
Porselen insisal Badan porselen Noda permukaan Porselen servikal

Gambar 29.4. Untuk ikatan logam dan seramik yang optimal, keduanya harus memiliki koefisen ekspansi
termal yang sama
CTE = .. tidak ada ikatan
Temperatur pembakaran temperatur kamar

Komposisi Aloi Seramik Logam dan Seramik


Aloi yang digunakan pada restorasi seramik logam tidak hanya harus memiliki sifat mekanis yang baik tetapi
juga harus memiliki koefisien ekspansi termal yang sama dengan porselen.
Aloi yang digunakan adalah:
Aloi logam mulia: Aloi emas tinggi
Aloi emas-platinum-palladium
Aloi emas rendah:
Aloi emas-palladium
Aloi emas-palladium-perak
Aloi perak-palladium
Aloi dengan logam dasar:
Aloi nikel-kromium
Aloi kobalt-kromium

Adhesi Porselen-Logam
Terdapat dua tipe adhesi yang terjadi antara logam dan seramik (Gbr. 29.4)
1.Adhesi mikromekanis
2.Adhesi kimiawi
Adhesi Mikromekanis
Seramik terfusi mengalir di atas logam penutup dan beradaptasi pada ketidakteraturan kecil yang ada di
permukaan logam itu dan membentuk adhesi mikromekanis. Ketidakberaturan yang terdapat di permukaan
logam itu harus teratur tanpa ada garis sudut tajam untuk menghindari konsentrasi tekanan yang dapat
menyebabkan fraktur porselen. Kemampuan porselen terfusi yang dapat beradaptasi dengan logam disebut
wetting. Ketidakberaturan pada permukaan coping bisa dibuat dengan sand blasting.
Adhesi Kimiawi
Adhesi kimiawi terjadi antara seramik dan permukaan lapisan oksida yang terdapat pada logam dasar seperti
besi, indium dan timah pada aloi emas. Porselen terfusi berdifusi ke dalam lapisan oksida logam dan sebaliknya.
Dalam Adhesi Seramik Logam:

Logam tidak boleh berinteraksi dengan seramik karena menyebabkan diskolorasi dan memengaruhi
estetikanya.
Adhesi logam-porselen harus tahan lama dan stabil untuk menahan tekanan mastikasi.
Pada restorasi seramik logam, ketebalan logam di sisi fasial berkisar antara 0.3 s/d 0.4 mm yang ditutupi
oleh porselen opak setebal 0.3 0.4 mm. Ketebalan badan porselen di didi labial kira-kira 1 mm dan ketebalan
porselen transparan di sepertiga insisal sekitar 0.3 s/d 0.5 mm. ketebalan di sepertiga tengah mahkota kira-kira
0.2 s/d 0.3 mm dan di sepertiga servikal kira-kira 0.1 mm.

Gagalnya Restorasi Seramik Logam

Kegagalan pada restorasi seramik logam biasanya terjadi karena retaknya adhesi di interface oksida metal
(Gbr. 29.5). Penyebab lain gagalnya restorasi seramik logam adalah:
- Fusi butiran porselen di dalam coping
- Marjin metal yang tipis melengkung karena kontraksi porselen
- Deformasi elastik dari struktur logam yang tidak kaku
- Kontaminasi pengecoran oleh komponen aloi fusi rendah pada die logam.
- Penyesuaian secara paksa menyebabkan deformasi elastik logam dan rusaknya ikatan porselen.
Gambar 29.5. Patahan zona interfasial
Fraktur Fraktur antara porselen dan zona interaksi Fraaktur dalam zona interaksi
Fraktur antara logam dan zona interaksi
P porselen I = Zona interaksi M = logam

KONDENSASI PORSELEN
Penyelesaian kondensasi bubuk porselen basah dan membuang kelebihan air atau cairan dengan tisu bersih atau
kertas hisap, akan membantu dalam mpenyatuan bubuk porselen dan kondensasi partikel bubuk porselen
dengan tepat..

Kelebihan

Menurunkan penyusutan karena pemanasan


Mengurangi porositas pada porselen yang dibakar
Kondensasi bubuk porselen basah dapat dilakukan dengan metode berikut:

Metode vibrasi: Vibrasi ringan membantu memadatkan bubuk basah. Metode ini paling sering digunakan
untuk menghilangkan kelebihan air dari campuran.
Metode spatulasi: Pada metode ini, spatula kecil digunakan untuk menghaluskan bubuk basah dan partikel
basah dikondensasikan bersama-sama sehingga kelebihan air akan naik ke permukaan dan dapat dihilangkan.
Teknik menyikat: Pada metode ini, bubuk porselen kering ditambahkan pada permukaan dengan bantuan sikat
yang akan menyerap air yang berlebih, sehingga menyebabkan terjadinya kondensasi partikel basah.
PEMBAKARAN PORSELEN
Bubuk porselen dalam bentuk restorasi diletakkan dalam fire clay tray (nampan/baki dari tanah liat untuk
pembakaran) dan dibakar dalam tungku pembakar. Mula-mula lakukan pemanasan awal. Pada pemanasan
awal, porselen didiamkan selama 10 menit dalam bilik temperatur rendah bagian luar dari tungku dan pintu
tungku dibiarkan terbuka agar uap air dan gas yang ditimbulkan karena pembakaran dapat keluar. Keberadaan
uap air dan/atau gas dalam tungku pembakaran, pada temperatur tinggi, dapat merusak pengecoran. Pada
temperatur sekitar 870C, (650C untuk porselen fusi rendah) pembakaran bahan organik selesai. Baki
kemudian didorong ke tengah tungku dan siklus pembakaran dimulai setelah menutup pintu tungku.. Tingkat
kondensasi porselen dan kepadatan restorasi akhir juga dipengaruhi oleh ukuran partikel bubuk porselen. Oleh
karena itu, mengingat porselen merupakan konduktor termal yang buruk, pemanasan terlalu cepat dapat
menyebabkan fusi berlebihan pada lapisan luar tetapi lapisan dalam hanya terfusi sebagian.

Tahapan Pembakaran
Porselen mengalami tahap yang berbeda selama pembakaran yang dikenal dengan tahap bisque
Tahap Bisque Rendah
Pada tahap bisque rendah, porselen menjadi kaku dan berpori dan mudah menyerap air. Partikel kurang kuat,
walaupun porselen menunjukkan sedikit penyusutan dalam tahap ini
Tahap Bisque Medium
Walaupun terjadi kohesi sempurna pada partikel bubuk, permukaannya masih berpori dan kurang translusen
serta kurang jernih. Terjadi penyusutan pada tahapan ini.
Tahapan Bisque Tinggi
Pada tahap ini massa porselen menunjukkan permukaan yang mulus dan penyusutan sudah selesai, dan
mungkin masih terlihat ada pori dalam jumlah yang tidak banyak. Kini, porselen sudah sangat kuat.
Selama pembakaran dalam fase awal, air akan mengering. Setelah tahap pengeringan, waktu dan
temperatur dikontrol hingga tahap fusi akhir, penjernihan, dan penentuan warna porselen selesai.

PENDINGINAN.
Setelah pembakaran selesai, porselen didinginkan. Disarankan untuk melakukan pendinginan secara perlahan
karena pendinginan yang teralu cepat dapat menyebabkan retaknya permukaan. Pendinginan perlahan dilakukan
denga menempatkan restorasi di bawah penutup kaca untuk melindunginya dari angin dingin dan kontaminasi
kotoran.

PENGGERINDAAN UNTUK PENYESUAIAN AKHIR


Penggerindaan permukaan porselen yang sudah dipoles yang dibutuhkan untuk penyesuaian intraoral
menyebabkan penurunan kekuatan, peningkatan diskolorasi, dan akumulasi plak. Jika penggerindaan tidak
dapat dihindari, maka lakukanlah dengan menggunakan bur intan bulat yang sangat halus pada henpis
kecepatan tinggi disertai air pendingin. Setelah penggerindaan selesai, permukaan yang kasar dipoles memakai
finishing disc yang sangat halus, laminasi porselen, laminasi pemolesan, atau polishing kit.

PENGKILAPAN (GLAZING)
Guna memeroleh tampilan yang alami dilakukn pengkilapan, serta pemberian warna dan noda (stains).
Lapisan yang mengkilap dibuat dengan ketebalan sekurang-kurangnya 50 mikron. Pengkilapkan
membantu dalam

Mengurangi cacat permukaan.


Melapisi permukaan yang porus.
Menambah kekuatan porselen dengan mecegah perambatan retak.

Tipe glazing

Self-glazing: Pada teknik ini, restorasi yang sudah selesai dipanaskan pada suhu glazing. Hal ini menghasilkan
pembentukan lapisan yang mengkilap dengan cara mengalirkan massa kental (viscous flow) pada permukaan
porselen.
Add-on glazing: Pada teknik ini, digunakan kaca tanpa warna dengan temperatur fusi lebih rendah daripada
restorasi porselen yang akan membentuk lapisan mengkilap di bagian luar.
Self-glazing lebih disukai daripada add-on glazing karena add-on glazing menghasilkan tampilan kilau yang
tidak alamiah, selain itu aplikasinya sulit dan daya tahannya kurang.

SISTEM ALL CERAMIC


Untuk mengatasi kekurangan porselen yang berfusi dengan metal, telah diperkenalkan material all ceramic
dengan teknik dan teknologi baru. Berkat perkembangan dalam teknologi, sistem all ceramic memiliki kekuatan
tinggi dan presisi yang mendekati seramometal, di samping faktor estetiknya yang baik..

Klasifikasi sistem all ceramics

Traditional Powder Slurry Ceramic


Seramik diperkuat dengan alumina (Hi-ceram)
Seramik diperkuat dengan leusit (Optec-HSP)
Infiltrated ceramik
In ceram
In ceram spinel
Castable ceramik
Dicor
Pressable ceramik
IPS empress 1 dan 2
Machineable ceramik
Cerec vitablocks mark I dan II
Dicor MGC
Celay

Traditional Powder Slurry Ceramic


Seramik ini tersedia dalam bentuk bubuk yang kemudian dicampur dengan air agar menjadi slurry (adukan
seperti semen). Bentuk slurry ini dapat disusun dalam lapisan berbeda pada suatui die guna membentuk
restorasi. Seramik jenis ini dapat diklasifikasikan dalam dua tipe:
Seramik diperkuat dengan Alumina
Seramik tipe ini didasari penguatan dispersi salah satu metode yang ditujukan untuk memperkuat seramik.
Kristal alumina didispersikan ecara merata dalam matriks kaca untuk meningkatkan kekuatan, ketangguhan, dan
elastisitas material. Pada seramik aluminus, konsentarasi kristal alumina dan bubuk kaca dicampur dan prefitted
pada suhu 1200C. Kemudian campuran kristal kaca ini dihaluskan dan digabungkan ke dalam matriks kaca,
contohnya, Hi-ceram.
Seramik diperkuat dengan Leusit
Pada tipe ini, kristal leusit (kalium aluminosilikat) ditebar dalam matriks kaca. Leusit ditambahkan dalam
feldspathic porcelain untuk menyesuaikan kontraksi termal seramik ke logam,tetapi juga bertindak sebagai filer
penguat karena daya rentang (tensile strength)-nya yang sangat tinggi. Leusit dan komponen seperti kaca
difusikan dan dibakar pada suhu 1020C untuk membentuk seramik. Seramik ini sangat kuat dan baik
translusensinya. Selain itu, dapat ditambahkan warnaa (noda) permukaan atau pigmen untuk meningkatkan
estetikanya, contohnya Optec-HSP.

Infiltrated ceramic
Guna mengatasi kekurangan porselen aluminus, telah diperkenalkan suatu sistem baru dengan nama infilterabel
ceramic yang alumina/spinelnya digunakan sebagai material inti (Gbr. 29.6)
In Ceram
Komposisi: seramik jenis in tersedia dalam dua komponen:
1.Bubuk: Aluminum oksida
2.Kaca viskositas rendah
Di sini, alumina oksida dibuat pada substrat yang porus. Pada sustrat ni kaca dengan viskositas rendah
dipanaskan pada temperatur tinggi agar dapat diinfiltrasikan dalam matriks ini.
Gambar. 29.6. Mahkota In-ceram
Poreslen dentin Porselen email Inti seramik yang diinfiltrasi oleh kaca

Prosedur

Bubuk alumina dicampur air untuk membentuk slurry yang dikenal dengan nama slip yang dilukiskan pada
die. Prosedur ini menghasilkan lapisan alumina padat di permukaan.
Sintering dilakukan pada suhu 1120C selama 10 jam untuk membentuk inti yang porus
Kaca dipilih dan diaplikasikan pada inti yang porus dan pembakaran dilakukan pada suhu 1100C selama 3
s/d 5 jam.
Kaca yang meleleh akan menyusup ke dalam inti dengan gerakan kapiler.
Dihasilkan struktur komposit yang sangat kuat, yaitu in ceram.
In Ceram Spinel
Spinel ini (aluminium dan magnesium oksida) digunakan sebagai material inti. Spinel ini memiliki tranlusensi
yang lebih baik dibandingkan in ceram (sangat opak karena tingginya konsentrasi kristal alumina).
Seramik jenis ini dapat digunakan untuk mahkota anterior maupun posterior.

Castable ceramic
Castable ceramic pertama kali diperkenalkan pada tahun 1984. Pada seramik ini, seramik kaca adalah material
yang dimodifikasi hingga bentuk dan ukurannya sesuai dengan yang diinginkan karena kaca dan pemanasan
dilakukan untuk menghasikan kristalisasi. Proses kristalisasi ini dikenal sebagai ceramming (Gbr. 29.7)
Komposisi
Setelah ceramming, material akan mengandung:

55 persen kristal tetrasiicic fluoride


45% - seramik kaca
Pada tahun 1984, castable ceramic dipasarkan dengan merek DICOR.

Kelebihan

Kesesuaian marjin memuaskan


Sangat kuat
Kekerasan permukaan lebih baik
Ketahanan terhadap keausan mirip email
Inlay Dicor lebih kuat daripada inlay porselen yang dibuat pada refractory die.
Gambar 29.7: Mahkota Dicor kaca-seramik.
Tetracilicic fluormica glass ceramic Dual cure resin luting agent Dicor enamel shading porcelain

Pressable ceramic
Seramik jenis ini tersedia dalam bentuk batangan inti yang dipanaskan pada temperatur tinggi dan ditekan ke
dalam sebuah cetakan. Proses penekanan dilakukan selama 45 menit pada temperatur tinggi untuk memeroleh
substruktur seramik yang kelak dapat diwarnai dengan stains atau melalui glazing.
Dua Tipe Pressable Ceramic yang Tersedia
1.IPS Empress 1: Mengandung 35 persen vol. kristal leusit
2.IPS Empress 2: Mengandung 70 persen vol. kristal lithia disilikat

Kelebihan

Tidak mengandung logam


Kekuatan lentur tinggi
Kecocokan baik
Estetika baik

Kekurangan

Cenderung patah pada area posterior

Machineable ceramic
Seramik jenis ini disuplai dalam bentuk balok seramik dengan beragam warna. Kelak, balok ini akan dibuat
menjadi inlay, onlay, dan mahkota dengan menggunakan CAD-CAM atau copymilling.

Restorasi Seramik dengan Bantuan Komputer


Perkembangan teknologi mutakhir menghasilkan berbagai peralatan yang terkomputerisasi yang dapat
digunakan untuk membuat inlay dan onlay seramik, coping mahkota dan jembatan, dari balok seramik
berkualitas tinggi. Retorasi seramik menggunakan komputer secara tidak langsung dapat dibuat di klinik
dengan CEREC SYSTEM-CAD (Desain menggunakan komputer/Computer Aided Design)), CAM
(Pembuatan menggunakan computer/Computer Aided Manufacturing). Sistem CEREC ini merupakan sistem
CAD/CAM yang pertamakali tersedia secara komersial, yang dikembangkan untuk pembuatan desain dan
pembuatan restorasi seramik yang mudah dan cepat di klinik. Machine ceramic adalah sesuatu yang unik dalam
dunia kedokteran gigi karena tidak membutuhkan tambahan kaca untuk mencapai morfologi yang tepat.
Malahan, morfologi dapat dibuat atau diukir pada satu balok yang murni, unifrom, dan bebas dari seramik
(inclusion-free ceramic). Dengan menggunakan kamera khusus, gambaran gigi yang akurat dipotret dan
kemudian ditransfer dan ditampilkan pada layar komputer berwarna; di sini teknologi CAD digunakan untuk
mendesain restorasi. Kemudian CAM mengambil alih dan secara otomatis membuat restorasi dalam hitungan
menit.

Kelebihan

Waktu yang dibutuhkan inlay atau onlay dari preparasi gigi sampai sementasi sekitar 1 jam
Cukup dilakukan dalam 1 kali kunjungan
Tidak membutuhkan cetakan konvensional, beberapa kali kunjungan, dan restorasi sementara.
Kualitas material restorasi seramik sangat baik. Balok seramik yang machinable dengan kualitas sangat baik
digunakan untuk milling. Material ini tersedia dalam bermacam-macam warna alami.
Tidak ada biaya laboratorium untuk inlay dan onlay
Restorasi terlihat alamiah dengan estetika yang memuaskan.
Hasil restorasi: antiabrasif, bio-kompatibel, dan resisten tehadap plak.

Kekurangan

Peralatan mahal
Membutuhkan pelatihan khusus
Diperlukan preparasi yang lebih konservatif
Komputer membuat anatomi oklusal kasar tanpa mempertimbangkan anatomi oklusal gigi antagonis.
Membutuhkan penyesuaian akhir oklusal
Contoh

VItablocks mark I dan II: Memiliki sifat yang mirip dengan porselen feldspathic dan dikembangkan oleh
Sistem Cerec-CAD. VitaBlocks Mark II memiliki kekuatan lebih tinggi dibandingkan VitaBlock Mark I.
Material ini dapat digunakan untuk inlay, onlay maupun crown.
Dicor MGC: CAD-CAM Ceramic Dicor MGC memiliki konsentrasi kristal tetrasilicicfluormika tinggi (yaitu
70%) dibandingkan castable Dicor ceramic (yaitu 55%). Cirinya sama dengan seramik Dicor kecuali kurang
translusen
Procera allceram: Mahkota jenis ini mengandung sintered aluminum oxide yang sangat padat (99.9%)
sebagai material intinya yang dikombinasikan sebagai all ceram veneering porcelain. Material ini adalah
salah satu seramik terkeras yg digunakan dalam kedokteran gigi untuk mahkota anterior dan posterior, inlay
dan onlay.

INLAY DAN ONLAY SERAMIK


Inlay seramik merupakan restorasi seramik yang paling konservatif dan memungkinkan mempertahankan
sebanyak mungkin email yang tersisa. Inlay seramik pas sekali dengan kontur gigi dan disemenkan pada
struktur gigi yang tersisa. Onlay masuk pas sekali dengan kontur gigi dan menutupi sebagian atau seluruh
permukaan oklusal yang perlu direstorasi.
Untuk pasien yang membutuhkan restorasi estetis, inlay dan onlay seramik memberikan alternatif yang lebih
tahan lama dibandingkan resin komposit posterior. Adhesi dengan porselen dicapai dengan mengetsa gigi
dengan asam hydrofluoric dan penggunaan silane coupling agent.

Indikasi

Bila estetika sangat dipentingkan


Pasien memiliki status kebersihan mulut baik
Cocok untuk preparasi besar
Bila jalan masuk dan isolasi gigi mudah dilakukan
Ketika tidak ada undercut berlebih pada preparasi gigi
Ketika marjin preparasi terlatak di email dan struktur giginya yang sehat memungkinkan terdjadinya adhesi
dengan bahan restorasi.

Kontraindikasi

Pada pasien dengan kebersihan mulut buruk


Pasien dengan banyak karies aktif
Karena sifatnya yang rapuh, dikontraindikasikan untuk pasien dengan tekanan oklusal berlebihan seperti
penderita bruksisme
Ketika estetika tidak dipentingkan
Pada kasus dengan kerusakan gigi minimal
Ketika kontrol kelembaban sulit dicapai
Pada kasus dengan atrisi gigi berlebihan
Kurangnya email untuk adhesi.
Ketika ada undercut pada preparasi gigi

Kelebihan

Estetika sangat baik


Konduktivitas termal rendah
Tahan lama
Tidak aktif secara kimiawi
Koefisien ekspansi termal rendah
Bersifat biokompatibel

Kekurangan

Lebih mahal dibandingkan dengan amalgam atau komposit


Membutuhkan peralatan laboratorium khusus yang mahal
Membutuhkan dua kali kunjungan
Penyelesaian akhir intraoral dan pemolesan memakan waktu lama
Rapuh dan mudah pecah, sehingga penyesuaian oklusal intraoral tidak mungkin dilakukan sebelum
inlay/onlay dipasangi
Bersifat abrasif terhadap email antagonis
Sangat technique sensitive i

Preparasi Gigi
Guna meningkatkan visibilitas dan mengontrol kelembaban gigi diisolasi dengan isolator karet...
Sebelum isolator dipasang, tandai dan nilai relasi kontak oklusal dengan kertas artikulasi. Guna menghindari
pecah atau ausnya luting resin, hindari penempatan marjin restorasi di kontak sentrik.

Bentuk Ragangan (Outline form)


Bentuk ragangan biasanya ditentukan oleh luas karies dan restorasi yang sudah ada. Bentuk ragangan secara
garis besar sama dengan bentuk ragangan inlay dan onlay logam konvensional, kecuali bevel dan pelebaran ke
arah oklusal (flare) di sini tidak dikerjakan. Pada awal preparasi gigi, bor yang digunakan asalah bor karbid. Bor
harus dipegang miring agar dinding tegak fasial dan lingual menjadi divergen ke oklusal agar insersi restorasi
dan mengeluarkannnya kelak menjadi mudah. Selama preparasi akhir, gunakan bur intan kasar. Buang email
yang lemah atau tidak terdukung dentin. Kurangi central groove (kira-kira 1.5-2mm) mengikuti anatomi gigi
yang belum dipreparasi. Hal ini menambah besarnya badan tambalan (seramik) sekaligus kekuatannya. Bentuk
ragangan harus menghindari kontak oklusal.
Berikan jarak sekurang-kurangnya 1.5 mm dari semua permukaan untuk menghindari fraktur seramik.
Dinding preparasi harus divergen ke oklusal sebesar 6-8 derajat per dinding. Penambahan derajat kemiringan ini
dibuat karena restorasi seramik terikat secara adhesif pada struktur gigi sehingga restorasi harus terletak secara
pasif pada preparasi gigi.
Perluas boks proksimal sehingga memiliki jarak (clearance) minimal 0.6 mm guna memudahkan
pencetakan. Lebar isthmus paling sedikit 1.5 mm untuk menghindari fraktur. Marjin preparasi harus dijaga
tetap di supragingiva. Lebar alas gingiva dari boks berkisar harus sekitar 1,0 mm.
Semua sudut interna dibulatkan dan dinding preparasi harus halus dan seimbang. Semua marjin cavosurface
harus dibuat dalam butt angled. Bevel merupakan kontraindikasi sebab ketebalan badan tambalan diperlukan
guna mencegah fraktur. Bagi marjin onlay seramik direkomendasikan suatu heavy champer
Hilangkan semua karies yang tidak termasuk bentuk ragangan menggunakan ekskavator atau bur bulat
berkecepatan rendah.
Letakkan agen pelindung pulpa berupa basis semen ionomer kaca modifikasi resin pada jaringan yang sudah
diekskavasi di dinding gingiva.
Haluskan marjin preparasi dengan finishing bur dan instrumen genggam, buang kelebihan basis ionomer
kaca karena dibutuhkan marjin yang jelas dan halus untuk ketepatan penempatan restorasi seramik (Gbr. 29.8).
Gambar 29.8. Premolar maksila dengan preparasi inlay seramik. Terlihat sudut yang membulat dan isthmus
yang melebar.
Isthmus yang melebar garis sudut aksiopulpa

VINIR LAMINASI PORSELEN


Vinir porselen dikenalkan sekitar 25 tahun lalu. Hasil estetik vinir seramik sangat baik dibandingkan dengan
vinir resin.

Indikasi
Vinir laminasi porselen dapat digunakan pada kondisi berikut:
Noda permanen ekstrinsik, tidak dapat diatasi dengan teknik bleaching.
Noda instrinsik yang disebabkan oleh:
- Penuaan fisiologis
- Erosi dan abrasi
- Trauma
- Amelogenesis imperfekta
- Fluorosis
- Hipoplasia email
- Noda tetrasiklin
Gigi nonvital
Mengoreaksi gigi malformasi seperti insisif lateral dengan bentuk peg-shape
Memperbaiki tepi insisal yang patah
Perawatan diastema

Kontraindikasi

Pasien dengan risiko karies tinggi


Gigi dengan keadaan periodontium yang buruk
GIgi dengan resesi gingiva
Pada kasus yang preparasinya harus diperluas sampai struktur servikal gigi
Pada gigi tidak teratur (rotasi dan gigi tumpang tindih)
Pada kasus gigitan dalam (karena kekuatan oklusal berlebih)
Pada gigi diskolorasi berat (mahkota adalah pilihan yang lebih baik pada gigi seperti ini).
Pada gigi dengan karies interproksimal
Pasien dengan motivasi rendah.

Keuntungan

Preparasi gigi bersifat konservatif (hanya membutuhkan sekitar 0.5mm reduksi fasial)
Karena preparasi gigi terbatas pada lapisan email, anestesia lokal biasanya tidak dibutuhkan
Kecocokan warna dan estetika bagus
Tidak bereaksi secara kimiawi, karena itu resisten terhadap absorpsi cairan.
Bersifat biokompatibel
Resistensi yang baik terhadap abrasi

Kerugian

Rapuh dan mudah pecah


Sulit diperbaiki atau dimodifikasi setelah sementasi
Lebih mahal dibandingkan dengan amalgam atau komposit
Membutuhkan peralatan laboratorium khusus yang mahal
Penyelesaian akhir intraoral dan pemolesannya membutuhkan waktu lama
Sangat technique sensitive
Membutuhkan preparasi gigi yang tepat

Preparasi Gigi

Untuk mencapai estetika yang optimal, harus dilakukan reduksi yang maksimal pada email dan penetrasi
minimal ke dalam dentin karena sepertiga gingiva dan garis sudut proksimal seringkali overkontur pada
restorasi ini.
Buat kedalaman dengan bur bulat hingga diperoleh kedalamann yang seragam (Gbr. 29.9A dan B)
Kedalaman yang dibutuhkan umumnya paling sedikit 0.5 mm, walaupun jumlah reduksi bergantung pada
perluasan diskolorasi
Preparasi gigi harus mengikuti kontur anatomi gigi
Marjin harus mengikuti puncak gingiva. Ini akan menutupi (dengan vinir) seluruh email yang terdiskolorasi
tanpa melibatkan sulkus gingiva yang tidak perlu.
Jika memungkinkan, tempatkan marjin preparasi labial terhadap daerah kontak proksimal agar tetap di email
(Gbr. 29.10)
Buat marjin long chamfer. Desain ini akan menghasilkan sudut cavosurface yang tumpul, yang akan
memajankan prismata email di daerah marjin agar hasil etsanya lebih baik.
Buat jarak (clearance) untuk memisahkan model kerja (working cast) dan mengakses marjin proksimal untuk
penyelesaian akhir dan pemolesan. Pekerjaan ini menggunakan diamond finishing strip..
Jika mungkin, hindari memotong pinggiran insisal karena ini akan menyokong porselen.
Jika perlu menambah panjang tepi insisal, perluas preparasi ke lingual tanpa undercut karena undercut akan
menghambat penempatan vinir.
Akhirnya konfirmasikan kembali bahwa semua permukaan preparasi membulat untuk menghindari
konsentrasi tekanan pada porselen (Gbr. 29.11)
Gambar 29.9A dan B. Grooves yang dalam yang telah dipreparasi pada insisivus sentral sebelum memotong
untuk vinir: (A) tampilan labial; (B) Tampilan proximal.
Penempatan groove yang dalam sebelum pemotongan untuk vinir
Gambar 29.10. Dari proksimal, vinir harus berakhir 0.2 mm di labial ke area kontak untuk mempertahankan
email secara maksimal
Daeah kontak Gigi yang telah dipreparasi

Gambar 29.11. Vinir seramik beradhesi dengan permukaan gigi.


Adhesif resin Vinir porselen

MAHKOTA SERAMIK PENUH


Indikasi

Pada area yang membutuhkan estetika tinggi yang jika dibuat restorasi yang lebih konservatif tidak akan
adekwat
Pada gigi dengan karies fasial dan/atau karies proksimal yang tidak dapat direstorasi dengan resin komposit.
Pada gigi dengan struktur korona yang cukup untuk menyokong restorasi khususnya pada area insisal.
Kontraindikasi

Bila bisa dibuat restorasi yang lebih konserfatif.


Pada gigi posterior dengan tekanan oklusal besar dan kebutuhan estetika rendah sehingga mahkota seramik
logam lebih cocok.
Jika tekanan oklusal tidak menguntungkan
Jika email tidak cukup untuk memberi dukungan.

Keuntungan

Faktor estetika sangat baik


Translusensi mirip dengan struktur gigi asli
Biokompabel
Dengan tidak adanya dukungan substruktur logam menyebabkan pengurangan permukaan fasial lebih
konservatif dibandingkan dengan mahkota metal-seramik

Kekurangan

Berkurangnya kekuatan restorasi karena tidak adanya dukungan substruktur ogam


Membutuhkan lebih banyak pemotongan gigi karena dibutuhkan preparasi bahu mengelilingi marjinal.
Pada beberapa kasus sulit mencapai marjin yang tepat
Tidak dapat dimodifiksi setelah dipreparasi
Desain preparasi yang tepat sangat penting untuk memastikan keberhasilan mekanis.
Membutuhkan sudut cavosurface butt joint untuk meminimalisir risiko keretakan.
Preparasi harus menyokong porselen sepanjang tepi insisal. Karena itu tidak dapat diaplikasikan pada gigi
dengan kerusakan parah.
Restorasi ini tidak efektif sebagai retainer protesa sebagian cekat.

Preparasi Gigi
Reduksi Oklusal

Idealnya harus tersedia jarak di insisal/oklusal sebesar 1.5 2 mm bagi porselen dalam semua gerakan
ekskursif mandibula. Hasil restorasi akan lebih memuaskan secara estetika dengan kekuatan yang cukup
Buat groove yang dalam (kira-kira 1.3 mm) pada permukaan oklusal untuk mengantisipasi bertambahnya
kehilangan struktur gigi selama penyelesaian (Gbr. 29.12)
Groove harus diarahkan tegak lurus terhadap sumbu panjang gigi antagonis guna memberikan support yang
cukup bagi mahkota porselen.
Reduksi Fasial

Buat groove dalam dan kurangi permukaan fasial. Kedalaman groove harus sekitar 0.8 mm untuk melakukan
finishing
Satu groove dalam dibuat di tengah dinding fasial dan masing-masing satu di garis sudut mesiobukal dan
distobukal.
Kurangi setengah dari permukaan fasial. Pastikan bagian servikal paralel dengan path of withdrawal dan satu
komponen insisal paralel dengan kontur asli dari gigi.
Reduksi Lingual

Buat groove dalam dan kurangi permukaan lingual. Kedalaman groove harus sekurang-kurangnya 0.8 mm
agar bisa melakukan finishing dengan baik (Gbr. 29.13)
Gunakan bur intan berbentuk bola (football-shaped) untuk reduksi lingual.
Lakukan reduksi lingual sampai ada jarak 1 mm pada setiap gerakan ekskursif mandibula.
Buat preparasi bahu (shoulder preparation), dari tengah dinding lingual menuju proksimal, sampai bahu
lingual bertemu bahu fasial.
Preparasi Chamfer

Untuk marjin subgingiva buat preparasi chamfer setelah meletakkan benang retraksi.
Hindari membuat bahu miring yang bisa memberi beban yang tidak diinginkan pada porselen dan akhirnya
kegagalan tensil.
Perhatikan bahwa tidak ada sisa email yang tidak terdukung dentin untuk menghindari fraktur.
Chamfer yang sudah selesai harus selebar 1 mm, halus, kontinyu, dan bebas dari pinggiran yang kasar (Gbr.
29.14).
Penyelesaian Akhir (Finishing)

Selesaikan dan haluskan permukaan preparasi (Gbr. 29.15)


Tidak boleh ada garis sudut yang tajam yang dapat menyebabkan fraktur karena wedging action.
Lakukan perbaikan marjin jika dibutuhkan.

Gambar 29.12. Reduksi oklusal


Gabmar 29.13. Reduksi bukal dan lingual. aksial
Gambar 29.14. Preparasi chamfer dan penyelesaian aksial
Gambar 29.15. Preparasi gigi untuk mahkota yang sudah selesai
Bevel kuspa fungsional Reduksi oklusal Reduksi aksial Chamfer

PEMBUATAN RESTORASI SERAMIK


Teknik yang digunakan untuk pembuatan restorasi seramik adalah:

Pembakaran foil platina (platinum foil)


Menggunakan teknik refraktori
Teknik lost wax
Restorasi masinal menggunakan teknik CAD-CAM

Pembakaran Foil Platina


Inlay dan onlay seramik umumnya dibuat dengan membakar porselen dental pada die refraktori. Pembakaran
merupakan metode paling tua di antara teknik pembuatan lainnya, namun kurang digemari lagi saat ini. Pada
teknik ini, foil platina disesuaikan di atas die. Porselen feldspathic diaplikasikan di atas lapisan foil platina,
kemudian bersama foil, lapisan porselen dilepaskan dari die dan dibakar di tungku. Sebelum sementasi lepaskan
foil platina.

Keuntungan

Pembuatannya mudah
Daerah proksimal preparasi mudah dijangkau
Kekurangan

Tingginya peluang untuk tidak akurat


Technique sensitive

Pembuatan Menggunakan Refractory Die


Metode ini adalah metode yang paling sering digunakan untuk pembuatan inlay, onlay, dan vinir.
Langkah-langkah

Selesaikan preparasi gigi sesuai yang dibutuhkan.


Ambil cetakan akhir, cuci dan buang kelebihan air dari permukaan cetakan menggunakan pelet kapas
Tuangi cetakan dengan gips stone tipe IV dan siapkan model kerja Master
Die diduplikasi dengan akurat pada material investmen refraktori yang dapat bertahan pada suhu pembakaran
porselen.
Campurkan bubuk porselen dengan air suling atau binder yang disediakan pabrik, tuangkan ke dalam die
refraktori sesuai bentuk yang diinginkan.
Keluarkan restorasi dari refractory die dan cocokkan pada die Master
Lakukan penyesuaian final, penyelesaian akhir, dan pemolesan.

Teknik Lost Wax

Selesaikan preparasi gigi, buat cetakan, tuangi master die dan cor dengan die stone.
Buat pola lilin dan masukkan dalam phosphate bonded investment
Hilangkan lilin dengan dibakar menggunakan tungku penghilang lilin.
Panaskan kaca tuang transparan pada 1100 C sampai kaca tuang ini berubah menjadi putih, buram, dan
semikristal. Untuk melelehkan batangan kaca digunakan mesin tuang khusus.
Kaca yang melebur dituangkan perlahan-lahan ke dalam cetakan menggunakan mesin tuang sentrifugal.
Setelah didinginkan, bersihkan restorasi dari investmen.
Letakkan restorasi pada master die dan model kerja untuk penyesuaian kontur, penyesuaian akhir, dan
finishing.
Setelah benar-benar pas, lakukan penyesuaian akhir dan prosedur finishing, aplikasikan warna porselen,
lakukan pembakaran untuk penyesuaian warna yang lebih baik, dan lakukan finishing akhir serta glazing.

Restorasi Masinal Menggunakan CAD-CAM

Setelah menyelesaikan preparasi gigi, alat pemindai mengumpulkan informasi mengenai bentuk dan ukuran
preparasi. Langkah ini disebut optical impression. Gambar video dari gigi yang dipreparasi ditampilkan
untuk memastikan posisi alat pemindai yang tepat.
Sistem ini memproyeksikan gambaran preparasi gigi dan struktur sekelilingnya pada monitor.
Setelah desain restorasi selesai, komputer mengarahkan alat micromilling (porsi CAM dari sistem) untuk
membuat restorasi dari balok seramik. Balok dari seramik masinal ini yang digunakan khusus untuk alat
CAM, dibuat pada kondisi ideal. Balok-balok ini termasuk jenis seramik yang paling kuat yang dapat
digunakan, dengan sifat fisik hampir sama dengan email.
Restorasi dikeluarkan dari alat millnig, siap untuk dicoba dan disemenkan.

Sementasi

Lakukan isolasi pada gigi yang dipreparasi untuk mncegah kontaminasi saliva dan cairan gingiva.
Kondisikan permukaan gigi selama 15 detik menggunakan asam fosfat.
Aplikasikan bahan adhesif dentin dan sinari.
Untuk inlay/onlay seramik, gunakan asam hidrofluorik untuk mengetsa permukaan preparasi selama 1 menit.
Bilas, kemudian keringkan
Lakukan etsa seramik dengan silanating agent. Agen ini berikatan secara kimiawi dengan silika dalam
komposit dan porselen.
Aplikasikan resin luting pada permukaan preparasi dan dudukkan restorasinya. Buang kelebihan semen, dan
sinari selama 1 menit
Setelah sementasi, periksa seluruh marjin. Gunakan instrument intan untuk menyelesaikan marjin restorasi.
Pemolesan restorasi seramik dilakukan dengan pasta poles intan dengan sikat bulu.

RINGKASAN

Seramik dental adalah senyawa anorganik dengan sifat nonlogam. Biasanya tersusun atas oksigen dan satu
atau lebih elemen logam (atau semilogam), yaitu aluminium, kalsium, magnesium dan zirkonium, dll. yang
diformulasikan untuk membuat prostesa berbahan dasar seramik.
Porselen dental pada dasarnya adalah material kaca. Kaca yang lebur memadat dengan sruktur cair bukannya
struktur kristal selama pendinginan. Struktur yang terbentuk dinamai vitreous dan prosesnya dinamai
vitrifikasi
Penguatan kimiawi biasanya dilakukan dengan mengganti kation ukuran kecil (natrium) pada lapisan
permukaan dengan kation ukuran besar (kalium) sementara matriks tetap sama. Proses ini juga dikenal
sebagai kumpulan ion temperatur rendah. Ion kalium 35% lebih besar daripada ion natrium hingga
memberikan residu tekanan kompresi.
Penguatan dispersi adalah proses yang penguatannya dilakukan pada fase dispersi material yang berbeda
dengan kemampuan menahan penyebaran keretakan dalam material. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan
kandungan kristal dari alumina, leusit, dan zirkonia.
Perubahan suhu menciptakan residu tekanan kompresi pada kaca oleh pemanasan dan ketika kaca dalam
kondisi meleleh, kaca didinginkan dengan cepat. Prosedur quenching ini menghasilkan kaca kaku
mengelilingi logam cair yang lunak.
Pada penguatan transformasi, partikel kecil yang kuat didispersikan secara seragam di dalam matriks agar
retakan tidak dapat melewati kristal ini.
Pada sistem porselen berfusi dengan metal, untuk ikatan yang optimal, porselen dan aloi harus memiliki
koefisien ekspansi thermal yang sama sehingga porselen tidak retak atau terpisah dari aloi pada saat
didinginkan.
Sebagian besar aloi nikel-krom untuk restorasi seramik metal mengandung 62 sampai 76 persen nikel dan 13
sampai 28 persen krom bersama kobalt, berilium, molybdenum dan ruthenium.
Aloi krom kobalt mengandung berat 52 s/d 68 persen kobalt, 24 s/d 33 persen kromium dan 2 /d 7 persen
molybdenum.
Porselen mengalami beberapa tahapan selama pembakaran yang dikenal dengan tahapan bisque
Pada tahap bisque rendah, porselen menjadi kaku dan berpori dan siap menyerap air. Partikel tidak kuat,
walaupun terlihat terjadi sedikit penyusutan dalam tahap ini.
Pada tahap bisque tinggi, massa porselen memperlihatkan permukaan halus dan penyusutan selesai dan
terlihat sedikit berpori.
Pada self-glazing, restorasi yang selesai dipanaskan pada temperatur glazing. Hasilnya adalah pembentukan
lapisan mengkilap yang disebabkan aliran kental pada permukaan porselen.
Pada add-on glazing, digunakan kaca tidak berwarna dengn temperatur fusi lebih kecil daripada restorasi
porselen yang akan membentuk lapisan eksterna yang mengkilap.
Pada seramik yang diperkuat dengan alumina, dispersi, metode penguatan digunakan untuk menguatkan
seramik. Di sini kristal alumina disebarkan merata pada matriks kaca untuk meningkatkan kekuatan,
ketangguhan dan elastisitas material.
Pada seramik yang diperkuat dengan leusit, kristal leusit (kalium aluminosilikat) disebar di matriks kaca untuk
menyamakan kontraksi thermal seramik ke logam dan meningkatkan kekuatan tensil.
Castable ceramic adalah material yang dimodifikasi menjadi bentuk dan ukuran yang diinginkan sebagai
kaca dan pemanasan dilakukan untuk menimbulkan kristalisasi. Proses ini dikenal sebagai ceramming.
Pressable ceramic tersedia dalam bentuk batangan inti yang dipanaskan pada temperatur tinggi dan ditekan
ke dalm mold. Proess ini berlangsung selama 45 menit pada temperatur tinggi untuk menciptakan substrutur
seramik yang selanjutnya dapat diwarnai dengan stain ataupun glazing.
Machinable ceramic tersedia dalam bentuk blok seramik dengan berbagai warna. Blok ini kemudian dibuat
menjadi inlay, onlay dan mahkota dengan bantuan CAD-CAM atau copy milling.
Restorasi seramik dengan komputer secara tidak langsung dapat dilakukan di kursi gigi dengan Sistem CAD
CEREC (computer aided design) - CAM (computer aided manufacturing). Di sini, gambaran akurat gigi
diambil dengan kamera khusus yang kemudian dipindahkan dan ditampilkan pada layar komputer berwarna,
yang menggunakan teknologi CAD untuk mendesain restorasi. CAM kemudian mengambil alih dan secara
otomatis membuat restorasi dalam hitungan menit.
Pada preparasi gigi untuk restorasi seramik, harus terdapat jarak sekurang kurangnya 1.5 mm pada semua
ekskursi untuk mencegah patahnya seramik. Dinding preparasi harus dibuat divergen ke oklusal dengan
kemiringan 6 s/d 8 derajat pada tiap dinding agar restorasi dapat diletakkan secara pasif dalam gigi yang di
preparasi.

PERTANYAAN PILIHAN PENGUJI


1.Apa sajakah metode penguatan seramik gigi?
2.Tulis catatan singkat tentang:
a. Restorasi logam seramik
b. Vinir
c. CAD-CAM
d.Vinir laminasi porselen
e. All ceramic system
f. Inlay dan onlay seramik

DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Hiyasat AS, el al. Three-body wear associated with three ceramics and email. J Prosthet Dent.
1999;82:476-81.
2. Anderson M, Oden A. A new all ceramic crown. A densely sintered high purity alumina copying with
porcelain. Acta Odont Scant. 1993;51:9.
3. Anderson M, Razzoog ME, Oden A, et al. Procera. A new way to achieve an all ceramic rown. Quint Int.
1998;29:285.
4. Anuasavice KJ, Zhang NZ. Chemical durability of Dicor and Lithia based glass ceramics. Dent Mater.
1997;l13:13.
5. Anusavice KJ. Recent developments in restorative dental ceramics. JADA. 1993;124:72.
6. Banks RG. Conservative posterior ceramic restoration: a literature review. J Prosthet Dent. 1990;63:619-26.
7. Barnes DM, Blank LW, Gingell JC, Latta MA. Clinical evaluation of castable ceramic vinirs. J Esthet Dent.
1992;4:21.
8. Burgoyne AR, et al. In vitro two-body wear of inlay-onlay composite resin restoratives. J Prosthet Dent.
1991;65:206-14.
9. Burke FJT, QQualtrough AJE. Aesthetic inlays. Composite or cerami? BDJ. 1994;176:53.
10. Calamia JR, SImonsen RJ. Effects of coupling agents on bond strength of etched porcelain. JDR (Spl.
Issue):1984;63:179.
11. Cattell MJ, et al. The transverse strength reliability and microstructural features of four dental eramics part
I. J Dent 1997;25:399-407.
12. Christensen GJ. Ceramic v/s porcelain fused-to-metal crowns: give your patients a choice. JADA.
1994;125:311.
13. Christensen GJ. Viniring of teeth. State of the art. DCNA. 1985;29:373.
14. Christensen GJ. Why all-ceramic crowns? JADA. 1997;128:1453.
15. David SB, LoPresti JT. Tooth-colored posterior restoration using cerec method (CAD/CAM) generated
ceramic inlays. Compend. Contin Educ Dent. 1994;7-134.
16. Eidenbenz S, Lehner Ch R, Scharer P. Copy milling ceramic inlays from resin analogs: A practicable
approach with the CELAY system. Int J Prosth. 1994;7:134
17. El-Mowafy O, Brochu JF. Longevity and clinical performance of IPS-Empress ceramic restoration - a
literature review. J Can Dent Assoc. 2002;8:233-7.
18. Estafan D, et al Scanning electron microsope evaluation of CEREC II and CEREC III inlays. Gen Dent.
2003;51:230-4.
19. Ferrari M, et al. Influence of tissue characteristics at marjins on leakage of Class II indirect porcelain
restoration. Am J Dent. 1999;12:134-42.
20. Fradeani M, et al. Longitudinal study of pressed glass-ceramic inlays for four and a half years. J Prosthet
Dent. 1997;78:346-53.
21. Hager B, Oden A, Andersson B, et al. Procera allceram laminates: A clinical report. J Prosth Dent.
2001;85:231.
22. Hayashi M, et al. Eight-year clinical evaluation of fire ceramic inlays. Oper Dent. 2000;25:473-81.
23. Haywood VB, Heymann HO, Kusy RP, et al. Polishing porcelain veners: An SEM and specular reflectance
analysis. Dent Mater/ 1998;4:116.
24. Ibsen RL, Yu XY. Establishing cuspid, guided occlusion with bonded porcelain. Esthet Dent. 1989;80.
25. Jensen ME, Redford DA, Williams BT, et al. Poterior etched porcelain restoration: An in vitro study.
Compend Educ. Dent. 1987;8:615.
Bab 30
PEMILIHAN MATERIAL RESTORASI

Ragangan Bab

Pendahuluan Pemilihan Lokasi Spesifikasi


Faktor yang Menentukan Pemilihan Keberhasilan dan Kegagalan Restorasi

PENDAHULUAN
Restorasi gigi karies menimbulkan dilemma bagi dokter gigi dalam memilih bahan restorasi yang cocok. Dokter
gigi harus memilih dengan sangat hati-hati karena pada tahun-tahun mendatang, restorasi tersebut
membutuhkan penggantian yang akan meningkatkan kerusakan struktur gigi. Hal ini akan menciptakan
lingkaran setan yakni meningkatnya ukuran kavitas akan membatasi membatasi pemilihan material yang dapat
dipakai secara efektif. Terdapat banyak faktor yang harus dipertimbangkan ketika merestorasi gigi, misalnya,
luasnya lesi, kekuatan struktur gigi yang tersisa, pilihan dokter gigi dalam menentukan material, dan biaya
prosedur serta faktor terkait gigi lainnya. Bab ini akan mengulas informasi mengenai pemilihan material
restorasi intrakorona.

FAKTOR YANG MENENTUKAN PEMILIHAN MATERIAL


Gigi yang membutuhkan intervensi restoratif biasanya karena rusaknya gigi oleh karies. Hal ini harus
diselesaikan dengan suatu restorasi dengan bentuk, fungsi, estetika, dan stabilitas oklusalnya yang tepat. Untuk
mencapai tujuan ini pemilihan material restorasi yang cocok sangat penting dan tidak akan sama antara individu
satu dengan individu yang lainnya. Pemilihan ini bergantung pada banyak faktor, karakteristik gigi sendiri,
pasien, dokter gigi, dan materialnya.

Faktor yang Berhubungan dengan Material


Material restorasi idealnya harus dapat:

Menahan tekanan oklusal.


Tahan terhadap pengausan.
Tidak rusak dalam cairan mulut
Adaptasi baik dengan dinding kavitas
Koefisien ekspansi termalnya harus sebanding dengan struktur gigi.
Memperlihatkan konduktivitas termal rendah
Biokompatibel
Dapat dibuat dengan preparasi gigi minimal
Memperkuat struktur gigi yang tersisa.
Antibakteri
Memuaskan secara estetika.
Cocok dengan kesehatan pulpa dan periodontium
Mudah dimanipuasi
Ekonomis
Hingga saat ini, tidak ada material yang memiliki semua sifat tersebut di atas, meskipun perkembangan
teknologi memungkinkan adanya yang mendekati parameter di atas.
Direct Filling Gold
Material ini dianggap sebagai salah satu material restorasi permanen, karena memiliki sifat yang paling
mendekati material ideal. Bahan ini tidak bisa rusak oleh cairan mulut, selain dapat pula beradaptasi dengan
dinding kavitas. Berat jenis foil emas rendah, tetapi meningkat selama kondensasi. Koefisien ekspansi
termalnya hampir sama dengan struktur gigi (Tabel 30.1). Material ini sangat mengkilat dan tidak rentan
terhadap korosi. Sebelum penggunaannya, higiene mulut pasien dan kondisi fisiknya harus dipertimbangkan.

Kelebihan

Resiliensi dentin dan adaptasi emas memungkinkan terjadinya kerapatan yang hampir sempurna antara
struktur gigi dan emas.
Maleabilitas emas menyebabkan marjinnya merapat sendiri secara permanen.
Sebagai logam mulia, emas tidak korosif dan bernoda.
Koefisen ekspansi termal mendekati dentin.
Tidak membutuhkan media semen untuk restorasi
Tidak menyebabkan diskolorasi gigi karena adpatasi yang baik dengan marjin dan dinding preparasi.
Tidak larut dalam cairan mulut.
Kelemahan

Technique sensitive
Karena tingginya konduktivitas termal emas, restorasi yang lebih besar dapat meningkatkan sensitivitas gigi.
Foil emas lebih mahal dibandingkan material restorasi lain.
Tidak dapat digunakan jika estetika dibutuhkan.

Tabel 30.1
Koefisien linear ekspansi termal (LCTE)

Material restorasi gigi/Jaringan Gigi LCTE (PPM/C)


Jaringan GIgi
Email 11.4
Dentin 8.3
Material restorasi dental
Amalgam 25
Ionomer Kaca 11.0
Foil emas 14-15
Seramik 14
Packable composite 28-35

Indikasi

Preparasi Kelas I, II, V, dan Kelas VI kecil yang tidak dikenai tekanan oklusal
Untuk mereparasi marjin mahkota emas, inlay, dan onlay
Untuk terapi hipoplasia atau kerusakan lain pada area fasial atau lingual.
Kontraindikasi

Pada pasien muda karena membran periodontium dan prosesus alveolaris tidak tahan menerima tekanan
tangan dan tekanan mallet yang dibutuhkan untuk memastikan massa emas terkondensasi dengan baik.
Ketika aksesibilitas terbatas
Ketika estetika merupakan faktor utama
Pada area yang terkena tekanan

Amalgam Dental
Amalgam telah digunakan selama bertahun-tahun dengan sukses, walapun penggunaannya telah berkurang di
tahun-tahun terakhir karena meningkatnya kebutuhan estetika dan kepedulian terhadap keracunan merkuri.
Amalgam mudah dimanipulasi, tidak begitu technique sensitive, dan pada saat bersamaan isolasi tidak terlalu
crucial khususnya pada restorasi amalgam non-Zn. Amalgam resisten terhadap pengausan dan dapat menahan
beban oklusal yang besar, meskipun semua kontak gigi mengenai restorasi. Amalgam memiliki kekuatan tensil
rendah karena itu memerlukan preparasi gigi spesifik yang mengorbankan struktur gigi lebih banyak. Amalgam
memiliki konduktivitas termal tinggi sehingga diperlukan perlindungan pulpa pada kavitas yang dalam. Hal ini
mungkin menjadi penyebab awal terjadinya sensitivitas pasca tindakan. Koefisien ekspansi termal amalgam
hampir dua kali lipat dibandingkan dengan ekspansi termal struktur gigi, yang menyebabkan perkolasi karena
perubahan temperatur (Gbr. 30.1). Bentuk kegagalan pada aloi tembaga tinggi adalah frakturnya badan
tambalan (bulk fracture). Penyebab lain kegagalan adalah karies sekunder. Di rongga mulut, amalgam
mengalami korosi, yang membantu self sealing pada restorasi, sehingga lama kelamaan akan mengurangi
kebocoran mikro.

Kelebihan

Mudah dimanipulasi
Karakter fisik amalgam sebanding dengan email dan dentin
Kurang technique sensitive
Self sealing
Biokompatibel
Resisten tehadap aus
Lebih murah
Restorasi bonded amalgam dapat juga beradhesi dengan struktur gigi.

Kekurangan

Kurang estetik
Dibutuhkan preparasi luas untuk menahan tumpatan amalgam
Tumpatan amalgam dapat mengalami korosi atau bernoda dalam jangka waktu lama, menyebabkan
diskolorasi
Tidak beradhesi dengan gigi
Amalgam tidak cukup kuat untuk memperkuat struktur gigi yang lemah
Material yang rapuh karena rendahnya kekuatan tensil.

Indikasi

Preparasi Kelas I, II, V dan VI yang tidak memerlukan estetika dan isolasi sulit dilakukan
Digunakan sebagai fondasi pada kasus kerusakan gigi berat ketika merencanakan restorasi tuang
Digunakan pada restorasi pasca perawatan endodonsia

Kontraindikasi

Bila estetik menjadi perhatian utama


Preparasi Kelas I dan Kelas II kecil sampai sedang

Gbr. 30.1: Perkolasi sepanjang marjin restorasi amalgam karena perbedaan dalam koefisien linier ekspansi
termal dari struktur gigi selama perubahan temperatur intraoral. Influks cairan terjadi selama pendinginan
(kontraksi). Efluks cairan terjadi selama pemanasan (ekspansi).
Influks cairan Efluks cairan

Semen Ionomer Kaca


Semen Ionomer Kaca (SIK) atau glass ionomer cement (GIC), diperkenalkan oleh Wilson dan Kent pada tahun
1972. Semen ionomer kaca adalah rmaterial estorasi sewarna gigi yang mengandung fluor dan dapat digunakan
untuk gigi sulung, sebagai pelapik (pelapik) dan basis (base), untuk sementasi, sebagai penutup pit dan fisur,
dan pada pasien dengan risiko karies tinggi. SIK bersifat adhesif, antikariogenik, dan estetik. Fluor SIK dapat
diisi kembali setelah restorasi mengeras. Untuk meningkatkan penanganan, ketahanan terhadap pengausan,
dan estetika, monomer hidrofilik air ditambahkan ke likuidnya dan partikel filer ditambahkan ke dalam
bubuknya. Bahan ini dikenal sebagai ionomer kaca modifikasi resin (SIKMR). Semen ini merupakan material
restorasi yang dapat bersifat dual-cured sewaktu terjadi reaksi asam-basa selama setting dan dapat di-light
cured setelah semen ditumpatkan. Light curing meningkatkan kekuatan awal restorasi dan mampu memberi
proteksi lebih besar pada matriks hidrogel matang. Walaupun translusensi nya meningkat, sifat mekanisnya
tidak adekuat sebagai material restorasi posterior.

Keunggulan

Adhesi ke struktur gigi secara kimiawi


Biokompatibel karena molekul asam poliakriliknya ysng berukuran besar mencegah asam ini menimbulkan
respons pulpa
Antikariogenik karena pelepasan fluor
Preparasi gigi minimal hingga mudah digunakan pada anak-anak
Lebih tidak technique sensitive dibandingkan resin komposit

Kelemahan

Rapuh dan ketahanan terhadap fraktur kurang


Kurang resisten terhadap keausan
Sensitivitas terhadap air selama fase pengerasan memengaruhi sifat fisik dan estetika
Bersifat opak sehingga kurang estetik dibandingkan dengan komposit
Tidak radiopak

Indikasi

Restorasi Kelas V, III dan Kelas I kecil


Restorasi gigi sulung
Untuk menyemenkan inlay, onlay, mahkota, vinir, pin, dan pasak
Sebagai pelapik protektif di bawah komposit dan amalgam
Membangun inti
Untuk teknik restorasi lain seperti teknik sandwich, perawatan restorasi atraumatik (ART), dan restorasi
adhesif (bonded restoration).
Kontraindikasi

Pada area yang menerima tekanan besar seperti pada preparasi Kelas I, Kelas II dan Kelas IV.
Pada kasus penggantian kuspa gigi
Pada pasien dengan xerostomia
Pada orang dengan pernafasan mulut karenalama kelamaan restorasi dapat menjadi buram, rapuh, dan
akhirnya patah.
Pada area yang membutuhkan estetik seperti pembuatan vivir gigi anterior.

Komposit
Komposit digunakan untuk merestorasi gigi anterior dan Lesi Kelas I dan II kecil sampai sedang pada gigi
posterior yang beban oklusalnya tidak berat. Material ini adalah material restorasi direk yang paling estetis
karena warna dan translusensinya serupa dengan gigi. Sifat adhesifnya tidak memerlukan banyak pengambilan
struktur gigi dan dapat menguatkan struktur gigi tersisa. Komposit restoratif kontemporer telah menggunakan
teknologi nano, dan tersedia dalam beragam warna dan opasitas. Walapun resin komposit telah mengalami
peningkatan mutu yang signifikan, penyusutan selama polimerisasi dan tekanan yang dihasilkannya masih
merupakan faktor klinis yang harus dipertimbangkan. Bagian penting dari sensitivitas pada gigi posterior yang
direstorasi menggunakan restorasi komposit langsung adalah faktor konfigurasi, makin banyak faktor C makin
banyak tekanan polimerisasi. Hal ini menyebabkan degradasi daerah marjin, kebocoran mikro, pewarnaan, retak
email, sensitivitas pasca tindakan, dan defleksi kuspa. Defleksi kuspa bergantung kepada kavitas dan beban
oklusal, pada kavitas MOD akan lebih banyak disbanding dengan kavitas MO atau DO. Untuk mengurangi
efek penyusutan polimerisasi telah dikembangkan komposit indirek, karena material ini dipolimerisasikan di
luar rongga mulut dengan menggunakan panas dan tekanan. Walaupun banyak resin komposit dikatakan dapat
melepas fluor setelah mengeras, sebetulnya tidak banyak fluor bebas yang dilepaskan. Karena material ini
bersifat hidrofobik, penumpatannya memerlukan isolasi yang baik dan tidak boleh ditumpatkan di area yang
kontrol kelembabannya sulit. Penggunaan basis yang dapat mengalir (flowable base) untuk mengurangi tekanan
internal yang terjadi selama proses polimerisasi sangat efektif dalam menghilangkan sensitivitas pasca
perawatan pada restorasi komposit posterior. Basis mudah mengalir yang paling sering digunakan di bawah
resin komposit adalah semen ionomer kaca.

Keuntungan

Konservasi maksimal struktur gigi


Estetik cukup baik
Komposit memiliki kondktivitas termal rendah sehingga untuk melindungi pulpa tidak diperlukan basis
insulasi
Dapat diperbaiki, bukannya digantikan
Restorasi komposit menunjukkan rendahnya kebocoran mikro dibandingkan dengan resin nir-filer (unfilled
resin)
Dapat beradhesi langsung dengan gigi, membuat gigi lebih kuat dibandingkan dengan menggunakan
tumpatan amalgam
Komposit indirek dan inlay dipolimerisasi dengan panas, sehingga meningkatkan kekuatannya.

Kekurangan

Akibat penyusutan polimerisasi bisa terjadi pembentukan cclah di marjin, biasanya di permukaan akar. Hal
ini bisa menyebabkan terjadinya karies sekunder dan perubahan warna
Lebih sulit dan membutuhkan waktu lama
Lebih mahal dibandingkan dengan amalgam
Lebih technique sensitive
Mudah aus

Indikasi

Untuk restorasi dengan preparasi gigi kecil dan menengah Kelas I dan II di semua gigi
Restorasi Kelas III, IV dan Kelas V pada semua gigi terutama bila faktor estetik menjadi perhatian utama
Prosedur perbaikan estetik seperti laminasi, vinir, dan penutupan diastema
Sebagai penutup pit dan fissure
Untuk membuat splin periodontium gigi yang lemah atau gigi goyang.
Untuk perbaikan mahkota seramik yang patah
Untuk adhesi piranti ortodonsia

Kontraindikasi

Ketika isolasi daerah operasi sulit


Pada area yang tekanan oklusalnya sangat tinggi
Ketika peklinik tidak memiliki kemampuan teknis yang dibutuhkan untuk restorasi
Ketika lesi meluas sampai ke permukaan akar
Pada pasien yang sangat rentan terhadap karies
Ketika preparasi meluas ke subgingiva
Pada pasien dengan higiene mulut yang rendah

Inlay Tuang Emas


Di antara semua material yang tersedia untuk restorasi gigi posterior, emas tuang adalah yang paling
menguntungkan. Hal ini karena emas tuang tahan aus dan mampu menahan beban oklusal yang tinggi sehingga
cocok untuk area yang menerima beban berat. Material ini dapat digunakan untuk merestorasi atau mengubah
kontak oklusal sehingga memperoleh kontak yang rapat. Material ini tidak akan rusak dalam rongga mulut dan
tidak akan berubah dimensi setelah ditumpatkan. Kekurangannya adalah estetik tidak bagus, tingginya
konduktivitas termal, adapatasi yang buruk dengan dinding kavitas, dan perlunya media semen. Hal ini
membutuhkan waktu lebih lama dan kunjungan kedua walaupun sebagian besar pekerjaan diselesaikan di
laboratorium. Pekerjaan ini bersifat technique sensitive dan dapat menghasilkan kekuatan yang dapat
mengungkit atau memisahkan gigi
Inlay Seramik
Seramik digunakan untuk membuat restorasi sewarna gigi. Bahan ini sangat keras dan kuat, namun menjadi
rapuh dan mungkin fraktur di bawah beban mastikasi yang berat . Kekuatan seramik sangat bergantung pada
kualitas adhesi ke struktur gigi di bawahnya dan ketebalan bahannya. Ketebalan bahan ini menyebabkan
dibutuhkannya pengambilan gigi yang lebih besar. Material ini sangat tahan terhadap pengausan namun dapat
menggerus struktur gigi antagonis jika permukaannya kasar. Seramik sangat biokompatibel

Faktor yang Berhubungan dengan Gigi


Karakter Lesi Karies
Pemilihan bahan restorasi bergantung pada tipe gigi, lokasinya di lengkung rahang, tekanan yang menimpa gigi,
permukaan yang akan direstorasi, dan kedalaman lesi. Jika gigi anterior yang akan direstorasi, maka dibutuhkan
bahan yang estetiknya baik, bila gigi posterior yang terlibat maka dibutuhkan adalah bahan yang kuat.
Status Pulpa
Jika lesi karies tidak mengancam kesehatan pulpa, maka karies dibuang sambil menghindarkan terbukanya
pulpa dan kemudian merestorasi gigi dengan restorasi permanen. Kaping pulpa dilakukan pada gigi dengan
kondisi pulpa meragukan. Jika pulpa terlibat secara ireversibel, maka dilakukan perawatan endodonsia.
Status Periodontium
Prosedur operatif hanya boleh dilakukan setelah evaluasi status kesehatan perodontium. Jika periodontium
tidak sehat maka tumpatan direk dari emas bukanlah material yang tepat karena material ini membutuhkan
tekanan kondensasi yang kuat.
Ukuran, Bentuk dan Struktur Gigi
Bila kontak proksimal yang terbuka akan direstorasi, harus ditentukan dahulu apakah melakukan pemulihan
kembali ruang proksimal itu atau melakukan perubahan kecil pada ukuran normal gigi. Mengembalikan kontur
permukaan interproksimal biasanya dilakukan dengan emas tuang atau restorasi eeramik-logam, karena
restorasi itu bisa dibuat lebih mudah dan lebih akurat, dan sebagian besar dilakukan dengan metode indirek.
Amalgam sering gagal dalam membuat kontak yang baik dan menghasilkan kontur interproksimal yang ideal
karena sifat fisiknya, teknik penumpatannya, dan kondensasinya.

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pasien

Usia pasien
Kondisi fisik pasien
Kondisi kebersihan mulut
Kekuatan dan karakter gigitan
Penampilan estetis
Kerjasama dan kemauan pasien
Biaya operasi
Bruksisme/kebiasaan
Kondisi sitemik yang dapat mengubah jumlah saliva dan susunan kimiawinya.

PEMILIHAN BERDASARKAN LOKASI SPESIFIK


Untuk Gigi Anterior
Untuk restorasi gigi anterior, penilaian oklusal sebelum tindakan sangat penting di samping pertimbangan
estetika. Restorasi proksimal pada gigi anterior akan menerima tekanan horisontal yang cenderung menggeser
restorasi ke arah labio-proksimo-linguo atau linguo-proxksmo-labio; dan tekanan vertikal yang cenderung
merotasi restorasi ke atah proksimal. Besarnya tekanan bergantung kepada lokasi, luas dan jenis kontak oklusi
antara gigi-gigi anterior selama difungsikan. Restorasi logam biasanya tidak diindikasikan untuk gigi anterior,
tetapi permukaan distal gigi kaninus, karena lokasinya menunjukkan pola tekanan yang unik, maka dibutuhkan
restorasi loam. Kavitas seperti ini lebih baik direstorasi dengan amalgam dan bukan material lain kecuali foil
emas. Bila memilih komposit untuk restorasi Kelas III dan IV lain,, idealnya restorasi tersebut tidak menerima
beban secara langsung. Kavitas Kelas III yang memerlukan tampilan lebih estetik digunakan komposit mikrofil.
Pada kavitas Kelas IV yang estetikanya sangat penting tetapi juga mendapat tekanan, penggunaan komposit
mikrofil sebagai vinir lebih disarankan daripada inti dari komposit hibrid.
Untuk Gigi Posterior
Pemilihan bahan untuk restorasi posterior bergantung pada situasi klinis pasien termasuk usia, risiko karies,
kebutuhan estetika, kemampuan mengisolasi area, dan tuntutan fungsional dari restorasi. Evaluasi menyeluruh
dari pasien, oklusi, fungsi dan kebiasaan parafungsi sangat penting. Logam tuang lebih disarankan pada situasi
yang menuntut perubahan kontak oklusal atau untuk membangun kontak terbuka. Pada pasien dengan tekanan
oklusal berat atau bruksisme, restorasi logam (amalgam, logam tuang) juga cocok. Restorasi komposit pada
situasi ini akan lebih mudah mengalami aus, sementara restorasi seramik dapat menyebabkan keausan pada
struktur gigi antagonis atau pada restorasi logam. Keausan komposit bergantung pada ukuran dan lokasi lesi.
Penggunaan komposit lebih disarankan untuk menutup pit dan fisur, restorasi resin preventif, dan restorasi
Kelas I dan II dengan ukuran sedang. Harus diingat bahwa, kontak oklusal harus diterima bersama-sama dengan
struktur gigi sehat dan perluasan ke gingiva harus diletakkan di email bukannya di sementum. Ionomer kaca
bermanfaat untuk pasien dengan risiko karies tinggi karena SIK dapat melepas fluor dan dapat diisi kembali
dengan fluor, tetapi ketahanannya yang rendah terhadap pengausan serta terhadap fraktur, membatasi
penggunaannya untuk restorasi posterior gigi permanen. Namun demikian, material ini dapat digunakan di
bawah restorasi komposit pada kasus kavitas yang dalam atau pada marjin yang terletak di subgingiva. SIK
modifikasi resin dan kompomer dengan estetiknya yang lebih baik, sifat mekanisnya yang meningkat, dan sifat
protektifnya terhadap karies, membuatnya cocok untuk merestorasi gigi sulung.

Untuk Kavitas Kelas V


Ketika memilih material retorasi untuk kavitas Kelas V, morfologinya yang kompleks, isolasi lokasi preparasi,
dan kemungkinan berakhir di email, dentin, atau sementum, harus dipertimbangkan. Selain itu, tekanan oklusal
akan menyebabkan akumulasi tekanan pada area servikal, sehingga terjadi tooth flexure, sehingga timbul
kebocoran mikro atau tidak adanya fitur retensi karena hilangnya adhesi restorasi (Gbr. 30.2A dan B). Di regio
ini, bahan restorasi yang dapat melepaskan banyak fluor adalah pilihan logis untuk restorasi Kelas V sederhana
pada pasien dengan karies aktif. Jika restorasi dilakukan di area nonestetis, ionomer kaca modifikasi resin
adalah material yang disarankan. Bila lesi terletak di daerah estetik dan semua marjin terletak di email,
komposit adalah material yang tepat. Jika komposit digunakan untuk lesi yang meluas ke permukaan akar,
penyusutan polimerisasi bisa menimbulkan celah berbentuk V karena tekanan polimerisasi lebih besar daripada
kekuatan adhesi antara komposit dengan permukaan gigi (Gbr. 30.3). Pada situasi ini, dapat digunakan teknik
sandwich, yakni dengan menumpatkan naterial restorasi ionomer kaca modifikasi resin di aspek internal
preparasi gigi, diikuti oleh penumpatan lapisan komposit berbasis resin di permukaan restorasi. Di antara
berbagi komposit, komposit mikrofil adalah yang paling tepat untuk restorasi kavitas Kelas V, karena restorasi
dapat lentur dan bukan kehilangan adhesi (lepas) ketika gigi mengalami pelenturan servikal (cervical flexure).

Gambar 30.2A dan B. (A) Daya eksentrik menimbulkan tekanan tensil pada interface marjin dengan restorasi,
menyebabkan fleksur lateral; (B) Tekanan fleksur gigi menyebabkan tekanan servikal.
Tekanan tensil Restorasi servikal Daya eksentrik Fleksur lateral
Tekanan kompresif Perkembangan lateral Daya sentrik Fleksur
Gambar 30.3. Pembentukan celah berbentuk V di permukaan akar karena penyusutan polimerisasi.
Komposit Komposit Dentin hibrid
KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN RESTORASI
Alasan utama kegagalan dan penggantian restorasi tanpa memandang jenis material yang digunakan adalah
karies sekunder. Penyebab lain adalah fraktur dan aus, cacat di daerah marjin, dan sensitivitas pasca tindakan.
Faktor-faktor ini dapat dikurangi dengan memastikan baiknya kualitas restorasi dan pemeliharaan yang
dilakukan pasien di rumahnya. Panjangnya umur restorasi bergantung pada pemilihan material, teknik klinis
yang digunakan, dan pemeliharaan yang dilakukan pasien di rumah (Gbr. 30.4)
Tabel 30.2 meringkas berbagai bahan restorasi intrakorona dengan indikasi, kontraindikasi, kelebihan, dan
kelemahannya.
Tabel 30.2. Ringkasan material restorasi intrakorona
Material Indikasi Kontraindikasi Kelunggulan Kelemahan
Tumpatan Kavitas Kelas III Gigi dengan Integrtas daerah Memakan
Emas utamanya di kesehatan marjin waktu
langsung permukaan distal periodontium Tahan lama Estetik
kaninus buruk buruk
Lesi Kelas V Aktivitas karies
pasien semua usia tinggi
Pasien berisiko
Amalgam Lesi Kelas I, II, V Cacat kecil Kemampuan self- Warna tidak
perak Lesi Kelas III di Restorasi sealing dapat
permukaan distal intrakorona Kekuatan baik diterima
kaninus sangat besar Isolasi tidak kritis Pecah di
Restorasi Mudah dimanipulasi daerah
pengendali karies, marjin
sebagai fondasi Peduli akan
keracunan
Hg
Butuh
desain
kavitas
spesifik
membuang
struktur gigi
lebih banyak
Semen Lesi Kelas I, II dan Area estetika Pelepasan fluor tinggi Opaque
ionomer kaca V pada pasien tinggi Dapat diisi ulang Penyerapan
dengan aktivitas Area kelembaban dengan fluor fluor (fluor
karies tinggi yang sulit Tidak ada sensitivitas uptake)
Perbaikan dikontrol pasca tindakan
mahkota Area yang Tidak butuh waktu
menerima lama
tekanan besar
Semen Aktivitas karies Tekanan oklusal Pelepasan fluor tinggi Agak sulit
ionomer kaca tinggi Lokasi yang Tri-cured digunakan
modifikasi Perbaikan mementingkan Mengeras tanpa Lama
resin mahkota stabilitas warna cahaya kelamaan
Pasien anak-anak warna
berubah
Kompomer Aktivitas karies Tekanan oklusal Pelepasan fluor Lebih baik
sedang sampai Lokasi yang sedang secara
tinggi mementingkan Mudah digunakan estetika
Perbaikan stabilitas warna dibanding
mahkota SIK tetapi
Pasien pediatri warna lama
kelamaan
terdegradasi
Komposit Lesi Kelas I s/d VI Jika pasien alergi Estetis Tidak tahan
resin Area yang Pasien dengan Mengkonservasi aus
membutuhkan tekanan oklusal struktur gigi Tidak ada
estetika tinggi berat, yaitu Dapat memperkuat aktivitas
Splinting gigi bruxer dan gigi kariostatik
Vinir clencher Isolator , dapat Penyusutan
Laminasi Jika isolasi tidak diperbaiki polimerisasi
Membangun inti dimungkinkan Sensitivitas
Penutupan pasca
diastema tindakan
Kebocoran
marjin
Karies
sekunder
Technique
sensitive
Inlay Lesi Kelas II yang Kebiasaan Estetika baik Mudah aus
komposit memerlukan parafungsi Marjin dapat Kurang kuat
estetika yang baik Higienis mulut diperbaiki dibandingka
Pasien yang buruk Dapat dibuat kotak n dengan
sensitif terhadap Sulit dalam dengan kontur yang seramik
logam penumpatan tepat
Gigi pendek Mampu menyerap
Marjin getaran
subgingiva Tidak merusak gigi
yang berlawanan
Mudah diperbaiki
secara intraoral
Inlay emas Restorasi besar Aktivittas karies Mengembalikani Kunjungan
tuang Untuk menambah tinggi anatomi dengan baik beberapa
kekuatan Pasien muda Tahan lama kali dan
Rehabilitasi gigi Estetik Ketahanan terhadap waktu di
Penutupan Restorasi kecil pengausan sama klinik lama
diastema dengan email Biaya
Perbaikan dataran Kuat Estetik
oklusal Biokompatibel buruk
Untuk gigi Mengontrol kontur Technique
perjangkaran dan kontak sensitive
protesa lepasan Dipertimban
gkan
sebagai
restorasi
temporer
Konduktivit
as termal
tinggi
Inlay Lokasi Kelas II Gigi yang rusak Estetika sangat baik Dapat
seramik dan V yang berat Dapat memperbaiki menimbulka
estetik nya penting Pasien dengan marjin n
Alergi logam kebiasaan Kontur kontak tepat sensitivitas
Lesi karies besar parafungsi jika agen
Aktivitas karies adhesif tidak
tinggi digunakan
Restorasi dengan baik
emas/komposit Bisa fraktur
pada gigi selama
antagonis perawatan
Marjin
subgingiva

------------------------------------------------------------------------------------

Faktor terkait pasien

Pasien

Kebersihan mulut
Tingkat pencegahan
Mudah dipanggil kembali
Lingkungan mulut
(struktur gigi, saliva dll)
Ukuran, bentuk, lokasi lesi dan gigi
Kerjasama selama perawatan
Bruksisme/kebiasaan parafungsi

Faktor terkait dokter gigi

Indikasi yang tepat


Preparasi gigi
Penanganan dan aplikasi
Cara polimerisasi
Penyelesaian akhir
Oklusi yang tepat
Pengalaman

Keberhasilan restorasi

Faktor terkait material

Material

Kekuatan (fraktur)
Kelelahan/degradasi
Ketahanan terhadap pengausan
Kekuatan adhesi
Sistem restorasi
Technique sensitive
Efek menghambat karies

------------------------------------------------------------------------------------

Gambar 30.4. Faktor yang memengaruhi suksesnya restorasi


RINGKASAN

Emas memiliki sifat yang mendekati material restorasi ideal


Amalgam memiliki kekuatan tensil rendah, karena itu membutuhkan butt joint atau sudut
cavosurface 90
Perluasan merkuroskopik pada amalgam terjadi karena perubahan fase internal dan creep.
Semen ionomer kaca dapat diisi kembali dengan fluor setelah mengeras
Penyusutan polimerisasi komposit merupakan perhatian utama
Pemilihan komposit untuk restorasi kavitas Kelas V adalah komposit mikrofil dan untuk
Kelas III dan IV adalah selapis mikrofil di atas komposit hibrid
Basis yang dapat mengalir (flowable) di bawah komposit bertindak sebagai pemecah
tekanan (stress breaker)
Emas tuang dapat digunakan untuk memulihkan kontak oklusal
Seramik yang rapuh dapat patah karena beban mastikasi berat
Seramik dapat mengauskan struktur gigi antagonis jika permukaannya kasar.

PERTANYAAN
1. Jelaskan faktor yang memengaruhi pemilihan material restorasi.
2. Diskusikan pemilihan material untuk restorasi kavitas Kelas III dan IV
3. Tuliskan faktor yang memengaruhi keberhasian restorasi
4. Material mana yang akan Anda gunakan untuk restorasi kavitas Kelas II amalgam atau
komposit?

BIBLIOGRAFI
1.Anusavice KJ. Phillips science of dental materials. 2006;11th edition.
2.Attar N, Onen A. Fluor release and uptake characteristics of aesthetic restorative materials.
J Oral Rehabil. 2002;29:791-8.
3.Craig RG, Powers JM. Restorative dental materials; 2002; 11th edition.
4.Herbert D Coy. The selection and purpose of dental restorative materials in operative
dentistry. Dent Clin North Am. 1957;65-80.
5.Macghee William HO. A textbook of operative dentistry, 4th edition.
6.Manhart J, Garcia-Godoy F, Hickel R. Direct posterior restoration: clinical results and new
developments. Dent Clin North Am 2002;46:303-39.
7.Sidhu SK. Clinical evaluations of resin-modified glass-ionomer restorations. Dent Mater.
2010;26:7-12.
8.Sturdevant CM, Heymann HO, Sturdevant JR. Art and science of operative dentistry. 2002;
4th edition.
BAB 31
PERAWATAN GIGI BERDASARKAN BUKTI
(Evidence-based Dentistry)

Ragangan Bab

Pendahuluan Aplikasi Klinis


Definisi Kesimpulan
Langkah-langkah

PENDAHULUAN
Dalam dunia masa kini, kedokteran gigi mengalami perubahan secara cepat. Setiap hari, kita
dibanjiri informasi mengenai prosedur, material, dan teknik baru. Dari semua perubahan, dari
sekian banyak perubahan, hanya beberapa prosedur, teknik, dan material yang telah melalui
riset klinis terkontrol. Agar selalu dapat mengikuti perkembangan terakhir dalam kemajuan di
bidang kedokteran gigi dan harus menangani pasien dengan kebutuhan yang komplkes, ini
semua menjadi cukup menantang bagi seorang dokter praktik.

Kedokteran gigi telah berubah melalu tiga fase, yaitu:

Masa keahlian: Pengetahuan diperoleh melalui pengalaman


Masa profesionalisme: Pengetahuan diperoleh melalui pengalaman kemudian
dipertahankan dan disebarluaskan.
Masa pembuktian: Saat ini, praktik berdasar bukti merupakan kebutuhan bagi
perkembangan praktik klinik.

DEFINISI
David Sackett (penemu praktik berdasarkan bukti) mendefiniskannya sebagai suatu keahlian
klinis individual yang terintegrasi dengan bukti klinis eksternal yang tersedia melalui riset
yang sistematis.
American Dental Association (ADA) mendefinisikannya sebagai Pendekatan perawatan
kesehatan oral yang membutuhkan kebijaksanaan terintegrasi dari penilaian sistematis dari
bukti ilmiah yang relevan secara klinis yang terkait dengan riwayat dan kondisi medis dan
oral pasien, bersama-sama dengan keahlian klinis dokter dan kebutuhuan perawatan serta
pilihan perawatan pasien (Gbr. 31.1)

Gambar 31.1. Konsep perawatan gigi berdasarkan bukti


Keahlian klinis Bukti Kebutuhan dan pilihan pasien
Mengapa Perawatan Gigi Berdasar Bukti Dibutuhkan?

Membantu menjembatani jarak antara pengetahuan klinis yang biasanya dipraktikkan dan
pengetahuan dental yang berasal dari riset dan uji klinis, dll.
Membantu dokter gigi dalam menentukan etiologi penyakit dan perawatan efektif terhadap
penyakit.
Membantu mengurangi variasi perawatan pasien
Membantu memperbaharui pengetahuan sang praktisi
Membantu untuk menggunakan perawatan yang paling baik yang ada bagi pasien

Kelebihan
Kelebihan dari pendekatan berdasar bukti dibandingkan dengan metode penilaian lain
adalah:

Sederhana dan objektif


Berdasarkan data yang terbukti secara ilmiah
Berorientasi pada pasien
Memasukkan pengalaman klinis dari banyak dokter gigi di seluruh dunia
Selalu fokus pada keputusan yang baik
Melakukan metodologi yang transparan
Lebih komprehensif
Mudah diterapkan

LANGKAH-LANGKAH

Identifikasi masalah klinis


Buat kerangka masalah/tanyakan pertanyaan klinis yang terkait dengan masalah
Cari bukti untuk menemukan literatur yang terkait
Lakukan penilaian kritis pada literatur yang ada
Manfaatkan informasi yang relevan; jika diperlukan untuk melakukan riset
Manfaatkan hasil riset/informasi yang relevan ke dalam praktik klinis
Evaluasi efek pelibatan perubahan-perubahan itu terhadap hasil perawatan.
Langkah yang terkait dengan pelaksanaan kedokteran gigi berdasar bukti dapat dilihat di
Flow chart 31.1.
Membuat Kerangka Pertanyaan Klinis
Langkah-langkah ini membantu dalam pencarian masalah klinis secara efektif dan efisien.
Seringkali pertanyaan klinis dibingkai terlalu luas. Agar dapat fokus pada kondisi klinis,
biasanya digunakan format PICO

Format PICO

P Problem (Pasien atau Masalah)


I Intervention
C Comparison (perbandingan)
O Outcome (hasil)
Tujuan penggunaan PICO dalam Membingkai Pertanyaan

Membantu memfokuskan dokter pada isu tunggal yang paling penting terkait masalah
klinis
Membantu mengarahkan pasien untuk mengevaluasi masalah apa yang sebenarnya
dihadapi. Juga, apa hasil dari aplikasi jenis perawatan tertentu yang dinerikan kepada
pasien?
Membantu menyederhanakan pencarian terkait masalah klinis
Bagaimana membingkai pertanyaan klinis?
Dengan mengumpulkan temuan klinis secara tepat.
Menyeleksi dan menginterpretasikan tes diagnosis
Memilih perawatan yang paling menguntungkan
Metode yang mencegah atau mengurangi risiko penyakit
Mengedukasi pasien mengenai efek setelah perawatan

Flowchart 31.1: Langkah-langkah terkait praktik perawatan gigi berdasar bukti

Identifikasi masalah klinis


Merencanakan pertanyaan klinis
Penelusuran bukti
Informasi tidak relevan
Informasi relevan
Penggunaan di klinik

Mencari dan Mengevaluasi Evidence (Bukti)


Mencari dan mengevaluasi bukti terbaik yang tersedia. Untuk mencapai hal ini, dapat
digunakan beragam studi dan alat bantu (Gbr. 31.2):

Beberapa metode untuk mencari bukti

Studi komparatif
- Studi prospektif
- Percobaan acak terkontrol
- Percobaan tidak acak terkontrol
- Studi kohort
-Studi retrospektif
- Studi kasus kontrol
Studi deskriptif
- Studi lintas seksional
- Laporan kasus
- Seri kasus
Ulasan (tinjauan) sistematis dan meta-analisis yang menggunakan dua atau lebih
percobaan klinis acak telah diterima sebagai level terbaik dari evidence.. Hal ini dinilai
sebagai Gold standard (baku emas).

Ulasan (tinjauan) sistematis (systematic review) umumnya menguraikan bukti yang ada
pada topik tertentu. Ulasan ini lebih fokus dibandingkan dengan ulasan literatur naratif dan
dilakukan oleh tim ahli.
Meta-analysis: Analisis ini biasanya digunakan dengan ulasan sistematis. Analisis ini
menggabungkan beberapa studi individual menjadi satu analisis.

APLIKASI KLINIS
Informasi yang dikumpulkan melalui evaluasi kritis dari bukti yang ada, diberi catatan dan
dinilai berdasarkan aplikasi pada praktik klinis dan perawatan pasien. Hal tertentu yang harus
diperhatikan ketika mengaplikasikan informasi pada pasien adalah:

Diagnosis: Tes diagnostik yang dibutuhkan harus mudah dilakukan, akurat, dan terjangkau
dari sudut pandang pasien.
Prognosis: Informasi pada artikel ini harus menggambarkan secara jelas hasil setelah
perawatan. Hasil itu dinilai apakah cukup efesien atau tidak bagi psien.
Terapi: Pengetahuan yang diperoleh dari bukti harus digunakan untuk memperbaiki terapi
kepada pasien
Pencegahan: Metode/teknik harus digunakan untuk pencegah perkembangan peyakit lebih
jauh.
Masalah dalam mengimpelemtasikan perawatan berdasar bukti (Diberikan oleh Richards
dan Lawrence 1998):
Ketersediaan bukti
Kualitas bukti
Diseminasi bukti
Praktik klinis berdasarkan otoritas bukannya praktik.

KESIMPULAN
Perawatan gigi berdasarkan bukti membantu menginterpretasikan dan mengaplikasikan
beragam hasil riset.
Dengan kata lain, perawatan berdasarkan bukti ini menggabungkan riset klinis dan
praktik nyata kedokteran gigi. Juga, sistem ini menyediakan alasan logis dari perawatan
manakala terjadi masalah hukum terkait prosedur. Untuk melaksanakan praktik perawatan
gigi berdasar bukti, peklinik harus memiliki pengetahuan terkini mengenai perkembangan
dan teknologi baru.

RINGKASAN
Perawatan gigi berdasarkan bukti membantu menjembatani jarak antara pengetahuan klinis
yang biasa dipraktikkan dengan pengetahuan dental yang berasal dari riset dan uji klinis,
dll.
Untuk membuat kerangka pertanyaan klinis, digunakan format PICO yang berarti
Problem/Pasien, Intervention (intervensi), Comparison (perbandingan), dan Outcome
(hasil).
Ulasan sistematis (systematic review) adalah garis besar dari bukti yang ditemukan pada
topik tertentu. Ulasan ini lebih fokus dibandingkan dengan ulasan literatur naratif dan
dilakukan oleh tim ahli.
Meta-analysis seringkali digunakan dengan ulasan sistematis, yang menggabungkan
beberapa studi individual menjadi satu analisis
Tinjauan sistematis
Studi acak terkontrol
Studi kohort
Studi kasus control
Laporan kasus dan serial kasus kontrol
Editorial dan pendapat
Penelitian pada hewan
Penelitian tes tabung (in vitro)

Gambar. 31.2. Untuk mencapai bukti terbaik, digunakan beragam studi dan alat bantu.

PERTANYAAN
1.Tuliskan catatan singkat mengenai perawatan gigi berdasar bukti.

DAFTAR PUSTAKA
1.Bero L, Grilli R, et al. Closing the gap between research and practice. BMJ. 1998;317:465-
8.
2.Bickley S, Harrison J. How to find the evidence. J Orhod. 2003;30:72-8.
BAB 32
DENTISTRINANO DAN APLIKASINYA

Ragangan Bab

Pendahuluan keterbatasan
Definisi Tantangan yang Dihadapi Dentistrinano
Mekanisme Kerja Tantangan Riset dalam Dentistrinano

PENDAHULUAN
Nano berasal dari bahasa Yunani yang berarti kurcaci. Awalan nano berarti sepuluh pangkat
minus sembilan 10,. Kata ini biasanya dikombinasikan dengan kata benda untuk
membentuk suatu kata seperti nanometer, nanotechnology, atau robotnano. Teknologinano
(nanotechnology) adalah suatu rekayasa struktur molekuler yang tepat; yaitu mesin molekul
khsus berkuran 0.1 mikrometer (m) atau lebih kecil lagi.
Istilah teknologinano diciptakan oleh Prof Kerie E Drexler, seorang dosen, peneliti, dan
penulis teknologinano. Tujuan teknologinano adalah untuk memanipulasi dan mengontrol
partikel-partikel guna menciptakan struktur dengan sifat yang unik dan menjanjikan
kemajuan dalam dunia pengobatan dan kedokteran gigi.

DEFINISI
Teknologinano didefinisikan sebagai bidang ilmu yang bertujuan mengontrol atom dan
molekul individual untuk menciptakan chip komputer dan peralatan lain yang ribuan kali
lebih kecil dibandingkan dengan peralatan yang sudah tercipta dengan kondisi teknologi saat
ini.
Pada dasarnya, teknologinano terkait dengan memanipulasi sebuah unsur, atom demi
atom. Contohnya, seperti robot yang merakit mobil di pabrik-pabrik mobil, mulai dari suatu
set suku cadang yang sudah dipersiapkan, robotnano akan merakit balok-balok pembangun
molekuler dan atomik. Robotnano ini akan memiliki kontrol akurat terhadap unsur. Melalui
mereka, kita dapat membangun kristal, molekul demi molekul seperti struktur atom yang
sangat sangat kecil, mengikuti suatu cetak biru yang sangat rinci. Kelihatannya, proses ini
sangat lambat dan melelahkan tetapi milyaran alat nano yang bekerja bersama-sama pada satu
obyek akan mengurangi waktu kerja. Dalam teknologinano, digunakan komputernano guna
mengaktifkan, mengontrol, dan menonaktifkan peralatan mekanisnano. Komputernano
akan menyimpan dan melaksanakan rencana misi, menerima dan memroses sinyal dan
stimulus eksterna, berkomunikasi dengan kontrol eksterna dan memonitor peralatan, serta
memiliki pengetahuan yang tepat untuk memastikan fungsi peralatan mekanis nano yang
aman. Peralatan robotnano yang dapat diprogram dimaksudkan untuk melakukan intervensi
yang tepat pada level molekular dan selular. Penggunaannya telah direncanakan untuk riset
farmasi dan diagnosis klinis, dan dalam kedokteran gigi.
Meningkatnya ketertarikan pada apalikasi medis masa depan dari teknologinano
memunculkan suatu bidang baru yang dinamai nanomedicine. Ini adalah sain dan teknologi
dalam penegakan diagnosis, perawatan, dan pencegahan penyakit dan cedera traumatik,
peredaan nyeri, dan pemeliharaan kesehatan manusia. Hal ini dilaksanakan dengan
menggunakan material berstruktur skala nano, bioteknologi dan rekayasa genetika, sistem
mekanis molekular kompleks, dan robotnano. Dengan cara yang sama, nanodentistry
(dentistrinano) juga ditujukan untuk pemeliharaan kesehatan mulut menggunakan
materialnano, bioteknologi, rekayasa jaringan, dan robotnano. robotnano digunakan untuk
menginduksi anestesia lokal, perawatan gigi sensitif, manipulasi jaringan, dan untuk
memperbaiki gigi yang tidak teratur.
Teknologinano juga diaplikasikan pada bidang lain seperti:
Riset farmasi
Diagnosis klinis
Rangkaian DNA pada sel, yang memperbaiki kerusakan otak
Penyimpanan beku (cryogenic) dari jaringan biologis
Mencapai hemostasis hampir secara instan
Menambah sistem imunitas
Menyembuhkan cedera sel yang besar.

Keuntungan

Kemampuan untuk mengeksploitasi sifat atomis atau molekular dari material


Mengembangkan material baru dengan sifat yang lebih baik.

Bagaimana Produknano Dibuat?


Terdapat dua persepsi:
1.Membangun partikel dengan menggabungkan elemen-elemen atom
2.Mengembangkan peralatan untuk membuat ohjek berskala nano mekanis

MEKANISME KERJA
Dentifrobot
Robotnano akan digunakan untuk mencegah kerusakan gigi. Subocclusal dwelling nanobiotic
dentifrice yang diaplikasikan melalui obat kumur atau pasta gigi dapat mengawasi seluruh
permukaan supra- dan subgingiva, memetabolisme bahan organik yang terperangkap menjadi
uap tidak berbau dan tidak berbahaya dan membersihkan kalkulus secara kontinyu. Karena
itu, dentifrobot yang direncanakan dengan tepat dapat mengidentifikasi dan menghancurkan
bakteri patogenik yang terdapat dalam plak, membiarkan spesies mikroflora yang tidak
berbahaya untuk bertambah dalam ekosistem sehat. Dengan menggunakan perawatan seperti
ini setiap hari, penggunaan dentifrobot dapat menghambat pembusukan gigi dan penyakit
gingiva.

Hipersensitivitas Gigi
Diketahui bahwa hiperensitivitas dentin disebabkan oleh tekanan yang ditransmisikan secara
hidrodinamik ke dalam pulpa. Gigi-gigi ini memiliki tubulus dentin yang lebar. Pada
perawatan, robotnano akan menutup tubulus tertentu secara selektif dan spesifik sehingga
memberikan penyembuhan yang cepat dan permanen.
Anastesianano
Untuk mewujudkan anestesia nano, suspensi koloid yang berisi jutaan partikel robotnano
analgesik dental aktif berukuran mikrometer diletakkan di gingiva pasien. Setelah
bersentuhan dengan permukaan mahkota atau mukosa, robotnano ini mencapai dentin dengan
bermigrasi ke dalam sulkus gingiva. Setelah mencapai dentin, robotnano memasuki tubulus
dentin dan bergerak menuju pulpa. Pergerakan robotnano ini dipandu oleh kombinasi dari
berbagai bahan kimia, perbedaan temperatur, dan posisi navigasi, dan semua dikontrol oleh
komputer nano yang diarahkan oleh dokter gigi. Dibutuhkan sekitar dua menit untuk
mencapai pulpa. Setelah mencapai pulpa, dokter gigi akan memerintahkan robotnano
analgesik dental untuk mematikan semua sensitivitas pada gigi yang membutuhkan
perawatan. Hal ini menyebaban anestesia yang cepat dari gigi itu. Setelah prosedur selesai,
dokter gigi akan memerintahkan robotnano menggunakan jaringan data yang sama untuk
mengembalikan semua sensasi.

Fotosensitizer dan Carrier


Titik kuantum dapat digunakan sebagai fotosensitizer dan pembawa (carrier), yang dapat
berikatan dengan antibodi yang terdapat di permukaan sel target dan ketika distimulasi
dengan cahaya ultra-violet dapat membangkitkan spesies oksigen reaktif yang mematikan
bagi sel target. Karena itu bahan ini dapat digunakan untuk penanganan kanker.

Perbaikan Besar pada Gigi (Mayor tooth repair)


Teknik nanodental melibatkan banyak prosedur rekayasa jaringan untuk perbaikan besar pada
gigi. Perbaikan besar gigi melibatkan beberapa tahapan seperti menggunakan rekayasa
genetik, rekayasa jaringan dan regenerasi jaringan, dan melibatkan perkembangan gigi baru
utuh secara in vitro dan instalasinya. Sebagian besar pembuatan dan instalasi gigi utuh
autolog secara biologis yang meliputi baik komponen mineral maupun seluler akan mengarah
pada terapi penggantian gigi lengkap.

Robotnano Ortodonsia
Robotnano orthodonsia dapat memanipuasi langsung jaringan periodontium, memungkinkan
pelurusanan gigi, rotasi, dan pergerakan vertikal yang cepat dan tanpa nyeri dalam beberapa
menit sampai beberapa jam.

Durabilitas Gigi dan Estetika


Dentistrinano telah memperkenalkan bahan komposit Sapphire berstruktur nano yang
meningkatkan durabiitas (durability) dan estetika gigi. Durabilitas gigi dan penampilannya
dapat ditingkatkan dengan mengganti lapisan paling atas email dengan Sapphire murni dan
intan yang dapat dibuat lebih tahan terhadap fraktur seperti komposit berstruktur nano, Hal
ini kemungkinan karena tertenamnya nanotube karbon. Sapphire memiliki tingkat kekerasan
dan kekuatan yang lebih besar 100 sampai 200 kali lipat dibandingkan dengan seramik.
Biasanya Sapphire dipakai untuk menggantikan lapisan email superfisial. Kompositnano
diproduksi oleh non aglomerated discrete nanoparticle yang didistribusikan secara homogen
di dalam resin. Filernano terdiri dari bubuk aluminosilikat dengan ukuran partikel sekitar 80
nm, yang lebih baik dibandingkan dengan komposit konvensionl dalam hal kekerasan,
modulus elastisitas, tranlusensi, estetika, lebih mengkilap, dan mengurangi penyusutan
polimerisasi sebesar 50%.

Cetakan Nano
Suatu bahan cetak yang dibuat dengan mengaplikasikan teknologinano dan filernano akan
diintegrasikan dalam vinylpolysiloxane yang akan menghasilkan bahan cetak unik dengan
tambahan siloxane. Campuran ini akan mengalir dan bersifat hidrofilik yang lebih baik
sehingga void di marjin lebih sedikit dan hasil tuangan model menjadi lebih baik.

Solusinano
Solusinano akan membentuk partikelnano yang unik yang dapat menyebar (dispersible), yang
dapat digunakan sebagai agen adhesif. Hal ini akan menghomogenkan larutan dan
memastikan bahwa proses adhesi tercampur sempurna setiap saat.

Nanoencapsulation
South West Risearch Institute (SWRI) mengembangkan sistem pelepasan terarah yang akan
meliputi kapsulnano seperti vaksin baru, antibiotik, dan obat baru dengan efek samping yang
berkurang.
Produk lain yang dikembangkan oleh South West Research Institute adalah:

Pakaian pelindung dan masker, menggunakan emulsinano dan partikelnano antipatogen.


Keelengkapan tambahan medis guna penyembuhan instan, contohnya sistem penghantaran
seratnano yang biodegradable untuk hemostatik dan penutupan luka dengan seratnano
sutra.
Bone targetting nanocarrier
Biomaterial berbasis kalsium fosfat akan dikembangkan, yang dapat menyokong
pertumbuhan tulang rawan dan sel tulang.

Material Penggantian Tulang


Berbagai partikelnano hidroksiapatit telah dikembangkan, contohnya VITOSSO (Orthovita,
Inc, USA) HA + TCP untuk merawat cacat tulang.

Jarum Nano
Jarum jahit baru telah dikembangkan dengan adanya kristal stainless steel berukuran nano.
Ini akan membantu melakukan operasi sel di masa depan.

KETERBATASAN
Dua jenis robotnano yang umum digunakan adalah robotnano nonpirogenik yang terdiri dari
teflon, bubuk karbon, dan Sapphire monokrisal, sementara robotnano pirogenik terdiri dari
alumina, silika, tembaga, dan seng.
Jika pirogenisitas permukaan peralatan nano tidak dapat dihindari, digunakan robotnano
medis untuk mengontrol jalur pirogenik. Robotnano ini akan melepaskan inhibitor atau
antagonis terhadap jalur pirogenik dalam suatu pola terarah untuk menyerap secara selektif
pirogen endogen kemudian memodifikasinya dan akhirnya mengembalikannya ke dalam
tubuh dalam bentuk yang tidak aktif.
TANTANGAN YANG DIHADAPI DENTISTRINANO

Biokompatibilitas
Koordinasi aktivitas yang simultan dengan sejumlah robot independen berskala mikron.
Masalah teknis dasar mulai dari penempatan yang tepat dan pembangunan bagian-bagian
dalam skala molekuler sampai teknik produksi missal yang ekonomis.
Faktor biaya
Isu sosial dari penerimaan publik
Etika
Keselamatan manusia

TANTANGAN RISET DALAM DENTISTRINANO

Kurangnya keterlibatan sektor swasta


Pendanaan suboptimal
Masalah sumberdaya manusia terlatih yang menetap
Keputusan strategis yang lambat
Walapun tampak seperti sains fiksi tetapi untuk merawat penyakit gigi dalam bentuk yang
paling ringan sekalipun, dokter gigi akan meminta pasien untuk berkumur dengan larutan
yang mengandung jutaan partikel mikroskopis yang dinamakan nanoassemblers. Partikel-
partikel ini, yang menerima sinyal dari komputer yang dikontrol dokter gigi, akan mencapai
area dalam mulut pasien dan menyingkirkan penyakit dan bakteri penyebab penyakit.
Dentistrinano adalah masa depan dari kedokteran gigi; setiap prosedur akan dilakukan
menggunakan peralatan dan perlengkapan yang berdasar pada teknologinano. Akan tidak
mustahil untuk mengganti gigi dalam satu prosedur dengan akurasi tinggi dengan
menggunakan kombinasi nanomedicine dan bioteknologi.
Masa depan teknologinano diramalkan mengubah perawatan kesehatan secara mendasar:
Metode baru untuk diagnosis dan pencegahan penyakit
Perawatan terapeutik berdasar profil pasien
Pemberian obat dan terapi gen

RINGKASAN

Teknologinano didefinisikan sebagai suatu bidang sains yang bertujuan mengontrol atom
dan molekul secara individual untuk menciptakan chip komputer dan peralatan lain yang
ribuan kali lebih kecil dibandingkan dengan peralatan yang sudah tercipta dengan kondisi
teknologi saat ini.
Keuntungan teknologinano adalah mengeksploitasi sifat-sifat molekul atau atom dari
material dan mengembangkan material baru dengan sifat lebih baik.
Produknano dibuat dengan membangun partikel dengan menggabungkan elemen-elemen
atom dan menggunakan peralatan untuk menciptakan obyek mekanis berksala nano.
Robotnano akan digunakan untuk mencegah pembusukan gigi, halitosis, dan penyakit
gingiva.
Robotnano akan menutup tubulus dentin tertentu secara signifikan dan akan
menyembuhkan dengan cepat dan permanen
Pada anestesianano, suspensi koloid berisi jutaan robotnano aktif diletakkan di gingiva,
mereka mencapai dentin dan kemudian pulpa dengan bermigrasi ke dalam sulkus gingiva.
Setelah mencapai pulpa, dokter gigi memerintahkan robotnano untuk mengeluarkan
analgesik dental untuk mematikan semua sensitivitas pada gigi tertentu, menghasilkan
anestesia segera pada gigi tersebut.
Robotnano ortodonsia dapat memanipulasi jaringan periodontium yang memungkinkan
pergerakan gigi yang cepat dan tidak menyakitkan.
Kompositnano dihasilkan oleh non aglomerated discrete nanoparticle yang didistribusikan
secara homogen di dalam resin, menghasilkan komposit yang sangat unggul.
Filernano yang terintegrasi dalam vinylpolysiloxane menghasilkan bahan cetak dengan
tambahan siloxan unik yang menyebabkan daya alirnya (flow) lebih baik dan bersifat
hidrofilik.
Dentistrinano merupakan masalah yang menantang karena isu seperti biokompatibilitas,
masalah rekayasa dasar yang berkisar dari penempatan secara tepat dan perakitan bagian-
bagian dalam skala molekul, sampai pada teknik produksi massal yang ekonomis, faktor
biaya, dan keselamatan manusia.
Adalah sangat menantang untuk melanjutkan riset dalam dentistrinano karena kurangnya
campur tangan sektor swasta, pendanaan sub-optimal, dan keputusan strategis yang lambat.

PERTANYAAN PILIHAN PEMERIKSA


1.Buat catatan singkat mengenai aspek dentistrinano masa depan.

DAFTAR PUSTAKA
1.Freitas RA Jr. Dentistrinano. Journal of Amerikan Dental Association. 2000;131(11):1559-
65.
2.Freitas RA Jr. Nanotechnology, nanomedicine and nanosurgery Int J Surg. 2005;3(4):243-
6.
3.Freitas RA Jr. Dentistrinano;JADA, 2000;131:1559-65.
4.Goracci G, Mori G. Micromorphlogical aspects of dentin. Minerva Stomatol. 1995;44:377-
87.
5.Mitra sb, et al. An application of nanotechnology in advance dental materials. J Am Dent
Assoc. 2003;134:1382-90.
6.Patil M, Mehta DS, Guvva S. Future impact of nanotechnology on medicine and dentistry. J
Indian Soc. Periodontol. 2008;12(2):34-40.