Anda di halaman 1dari 3

DIBALIK TRANSPORTASI BERBASIS INTERNET

Layanan transportasi berbasis internet kian bermunculan dan berkembang di Indonesia.


Semua kategori transportasi online mulai dari kendaraan roda dua atau sering disebut ojek,
hingga kendaraan roda empat telah masuk ke dalam layanan transportasi di Indonesia.
Transportasi online kendaraan roda dua diawali oleh Gojek, kemudian menyusul GrabBike,
BlueJek, dan ojek online lainnya. Sementara itu, kendaraan roda empat belum lama ini
muncul seperti Uber, Grab Car maupun Grab Taxi, yang makin memanjakan pengguna.
Kemudahan dan fasilitas yang disediakan dalam layanan ini dinilai menentukan
pilihan pengguna transportasi publik. Mudah, praktis, dan tarifnya yang juga relatif miring
menyebabkan pengguna transportasi lebih memilih transportasi online. Dikutip dari
Kompas.com (26/3/2016), pengamat teknologi dan ekonomi digital Fami Fahruddin
memberikan beberapa penyebab layanan transportasi berbasis internet lebih disukai publik.
Di antaranya, aplikasi digital memberikan informasi yang instan secara utuh. Aplikasi yang
dapat diakses melalui ponsel dapat memantau lama pengemudi akan tiba. Selain itu, harga
yang dikenakan juga lebih pasti dan dapat diketahui sebelum memesan layanan transportasi.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran layanan transportasi berbasis internet
memberikan pengaruh yang amat besar bagi layanan transportasi publik konvensional. Hal ini
telah memicu pergesekan antara dua layanan transportasi ini di dalam negara ini. Masyarakat
yang mencari nafkah sebagai pengemudi atau sopir pada angkutan umum manual merasa
makin kesulitan untuk mendapatkan penumpang dan menilai pemerintah tidak adil dalam
menghadapi permasalahan ini sehingga mendorong mereka untuk bertindak. Pada Senin
(14/3/2016) di dekat Istana Negara, ribuan pengendara angkutan darat yang terdiri dari sopir
taksi, metromini, bajaj, dan angkot yang tergabung dalam Paguyuban Pengemudi Angkutan
Darat (PPAD) melakukan unjuk rasa yang pada akhirnya menimbulkan kerusuhan.
Munculnya aksi demonstrasi ini tentunya sudah dapat diduga mengingat dampak yang
diberikan oleh layanan transportasi online dirasakan langsung oleh masyarakat yang mata
pencahariannya sebagai pengemudi transportasi manual. Masyarakat pun tidak menampik hal
itu, seperti yang diungkapkan salah satu pengemudi transportasi berbasis online, Go-Jek,
Dadang Trisnandi (Rappler.com, 15/3/2016). "Saya memang menduga mereka berde-
monstrasi karena mengeluh mengenai pendapatannya yang banyak berkurang setelah adanya
Go-Jek dan Grab." Ia menambahkan bahwa semua ini juga bergantung pada pemerintah,
sebab yang membuat aturan dan hukum adalah pemerintah.
Ketua Organisasi Angkatan Darat (Organda) Shafruhan Sinungan di Jakarta, Minggu
(13/3/2016) menyatakan bahwa keberadaan kendaraan berbasis aplikasi ini menekan
keberadaan kendaraan-kendaraan umum yang berbasis manual. Terkait hal ini, Organda
sudah berkali-kali melayangkan protes terhadap pemerintah. Namun, pemerintah tidak
memberikan solusi yang jelas untuk mengatasi pergesekan antara kendaraan berbasis aplikasi
dan manual ini, bahkan pemerintah dinilai telah berlaku tidak adil dalam menghadapi
permasalahan ini.
Layanan transportasi online tidak mengikuti proses yang sama sebagaimana
transportasi konvensional sehingga dapat memberikan harga yang lebih murah dibandingkan
transportasi konvensional. Sementara transportasi konvensional dibebani dengan UU No 22
tahun 2009 yang menyebabkan ia harus memenuhi kewajiban biaya pajak dan kir, justru
transportasi online tidak melalui itu semua. Seperti yang diungkapkan oleh Gubernur DKI
Jakarta, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama (Rappler.com, 15/3/2016), "Transportasi online itu
pasti lebih murah, karena kan tidak harus membayar pajak, bayar asuransi dan lain-lain.
Sedangkan, angkutan umum konvensional dan taksi harus memenuhi kewajiban untuk
membayar pajak tersebut."
Gelombang transportasi berbasis internet menunjukkan dengan jelas konsep kompetisi
yang memang telah lama menjadi semangat perekonomian dalam sistem kapitalistik. Rakyat
dibiarkan bertarung di lapangan ekonomi dengan prinsip survival of the fittest. Siapa yang
kalah modal, teknologi dan kuasa politik dibiarkan tertindas dalam medan persaingan usaha.
Pada kasus kerusuhan transportasi ini banyak pihak yang menilai ini tanpa berpikir
menyeluruh. Dengan entengnya, sebagian pakar menyalahkan pemilik transportasi publik
yang kurang tanggap dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. Padahal, persoalan ini tidak
hanya bisa dilihat dari satu sisi. Pemerintah yang paling berperan dalam masalah ini, sebab
kewenangan dalam memberikan regulasi yang ada dalam negara ada di tangan pemerintah.
Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang
mengungkapkan bahwa pemerintah sangat lamban dalam merespons permasalahan ini dan
ditambah lagi dengan koordinasi di antara pemerintah yang juga sangat lemah (kompas.com,
26/3/2016). Hal ini ditunjukkan dengan sikap antara Kementerian Perhubungan dengan
Kementerian Informasi dan Komunikasi termasuk juga presiden selaku pemimpin dalam
menangani permasalahan. Ini juga diungkapkan oleh Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang
mengatakan bahwa Kemenkominfo dan Kemenhub saling menyalahkan dan tidak satu suara
dalam menyelesaikan permasalahan (cnnindonesia.com, 23/3/16). Buruknya koordinasi ini
diperparah dengan sikap Presiden Jokowi yang tidak tegas sehingga tidak menghasilkan
solusi yang bisa mengatasi permasalahan dan mencegah hal yang tidak seharusnya terjadi
seperti demonstrasi yang berujung ricuh.
Pemerintah harus berbenah meningkatkan kinerja layanan publik secara maksimal dan
membentuk benteng regulasi untuk memastikan rakyat Indonesia terlindungi dalam
kapitalisasi ekonomi yang terjadi saat ini. Untuk itu, persiapan yang matang sangat
diperlukan dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital ini. Namun, memang
permasalahan yang terjadi tidak diakibatkan oleh satu faktor saja melainkan berbagai faktor
yang saling berkaitan antar lembaga dan sistem. Maka, tidak cukup hanya dengan
membereskan satu permasalahan saja tapi harus dari tiap sektor yang ada. Dan agaknya
permasalahan yang tercipta secara sistematis tidak akan mampu diselesaikan jika hanya
berkutat di dalam sistem ini dengan memperbaiki satu per satu hukum yang tidak sesuai
dengan kebutuhan negara ini.
Negara ini memerlukan aturan yang sempurna untuk mengurus pemerintahan yang
carut marut. Dan aturan sempurna tidak akan pernah didapatkan jika diciptakan oleh manusia
yang penuh dengan hasrat suatu kepentingan. Aturan yang mampu mengatur manusia tanpa
ada kepentingan di dalamnya tentu saja aturan yang tidak berpihak kepada siapapun. Allah
SWT telah menurunkan aturan untuk digunakan dalam mengatur segala kepentingan
manusia. Jika aturan ini digunakan, maka hasilnya pasti dunia dan seisinya akan tertata
menjadi rahmatan lilalamin. Satu-satunya cara menerapkan aturan yang sempurna ini adalah
dengan Khilafah Islamiyah.
Khilafah Islamiyah adalah satu-satunya sistem politik yang menjadi pelindung umat
dari berbagai bentuk ancaman dan penjamin terpenuhinya kebutuhan dasar hingga
terwujudnya kesejahteraan. Khilafah tidak akan berkompromi dengan kepentingan materi.
Selain itu, tidak akan ada terjadi pertentangan antar menteri dalam menjalankan pemerintahan
sebagaimana yang terjadi pada sistem demokrasi. Sebab, sistem ini tidak mengenal adanya
menteri melainkan Muawin sebagai pembantu khalifah. Muawin memiliki wewenang yang
lebih luas dalam menjalankan tugas pemerintahan, dan meski jumlahnya boleh lebih dari
satu, masing-masing memiliki kewenangan dan tugas pemerintahan secara menyeluruh. Hal
ini akan mencegah terjadinya kontradiksi kebijakan antar menteri sebagaimana yang terjadi
pada Kemenhub dan Kemenkominfo dalam mengatasi permasalahan transportasi online.
Itulah bedanya sistem Negara Demokrasi dan Negara Khilafah. Negara khilafah
merupakan hukum syara yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tentu saja memiliki
sistem yang sempurna untuk mengatur kehidupan manusia. Siapa saja yang hidup di
dalamnya akan mendapat kebaikan. Kebaikan tersebut tidak hanya dirasakan orang per orang,
tetapi seluruh umat manusia bukan hanya Muslim tetapi juga non-Muslim. Bahkan, juga
dirasakan oleh yang hidup dan yang mati. Rahmat Islam akan benar-benar dirasakan oleh
seluruh alam dengan tegaknya Negara Khilafah.
Wallh alam bi ash-shawb.