Anda di halaman 1dari 20

1

SPAN OF IMMEDIATE MEMORY (CHUNKING)

01/EXP/2017

Nama Peneliti : Wa Ode Zahra Amalia

NIM : Q11116513

Inisial Subjek : RP

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 19 tahun

Pendidikan Terakhir : SMA

Tanggal Penelitian : 2 November 2017

Waktu Penelitian : Pukul 12.33-13.05 WITA

Tempat Penelitian : Ruangan PB 142 Program Studi Psikologi Fakultas

Kedokteran Universitas Hasanuddin.

1.1 Rumusan Masalah

Apakah ada pengaruh chunking (pengelompokan huruf) terhadap jumlah huruf

yang dapat diingat?

1.2 Kajian Pustaka dan Hipotesis

1.2.1 Kajian Pustaka

1.2.1.1 Chunking

Morgan et al., (1986) mendefisikan chunking sebagai salah satu teknik mnemonic

yang digunakan untuk membantu seseorang agar lebih mudah dalam mengingat
2

suatu hal. Miller (1956) mengungkapkan bahwa chunking adalah strategi dalam

mengingat yang kuat dan dapat meningkatkan jumlah informasi yang dapat

diandalkan dalam memori jangka pendek. Umumnya dalam mengingat, seseorang

akan mengalami kesulitan dalam memroses informasi yang berukuran besar kecuali

informasi tersebut dapat dibagi dalam berbagai bagian. Fendrich dan Arengo (2004)

mengungkapkan salah satu contoh informasi yang sulit diproses yaitu deretan angka

yang berbentuk acak dan terlalu panjang misalnya, 147239851632. Agar lebih

mudah dalam mengingatnya maka digunakan beberapa strategi, misalnya dengan

cara memisahkan angka-angka tersebut menjadi beberapa bagian kecil.

Fendrich & Arengo (2004) berpendapat bahwa pembagian ini dapat

memudahkan informasi untuk masuk dan ditangani dalam short term memory

(STM). Setelah dibagi kedalam beberapa bagian, maka deretan angka 147239851632

akan berubah menjadi 147-239-851-632 atau juga bisa dalam bentuk lain misalnya

1472-3985-1632 dan seterusnya. Proses pembagian informasi menjadi bagian-bagian

kecil atau pengelompokan inilah yang disebut dengan chunking.


3

Crannell dan Parrish (dalam Fendrich & Arengo, 2004) melaporkan bahwa

umumnya pengelompokkan terhadap deret angka yang berjumlah 6 adalah 3-3.

Walaupun demikian, chunk size atau jumlah pengelompokkan yang paling sering

digunakan adalah empat (Fendrich & Arengo, 2004). Miller (dalam Hoeksema,

Fredrickson & Loftus, 2009) juga mengatakan bahwa kapasitas dari chunk yang

dapat diproses oleh STM sekitar 7 2 (antara 5 dan 9) saja.

Miller (1956) juga mengatakan metode chunking ini akan sangat berguna ketika

kita mencoba untuk menghafal sejumlah besar informasi, seperti urutan nomor atau

daftar kata. Menghafal nomor telepon adalah salah satu contoh yang sering

digunakan dalam penggunaan chunking, biasanya kita membagi nomor-nomor

tersebut kedalam 3 atau 4 bagian, sehingga dengan demikian kita akan dapat dengan

mudah mengingat dan menghafal nomor tersebut.

1.2.1.2 Memori

Cotman & Berchtold (2007) definisi dari memori adalah kemampuan untuk

mengode, menyimpan, mempertahankan, dan mengingat informasi atau pengalaman

masa lalu pada otak manusia. Sebagian besar informasi tersebut disimpan untuk

kontrol masa yang akan datang pada aktivitas motorik dan untuk dipakai dalam

pengolahan informasi yang diterima dari lingkungan. Memori merupakan suatu

proses yang saling berkaitan satu sama lain, proses ini antara lain adalah encoding

process, storage process, dan retrieval process (Morgan et al., 1986). Encoding

merupakan proses penerimaan informasi dan mengubah informasi tersebut kedalam

sebuah kode atau bentuk lain yang kemudian dapat disimpan. Storage merupakan
4

proses penyimpanan kode tadi, sedangkan retrieval merupakan proses untuk

memperoleh kembali kode atau informasi yang sebelumnya sudah disimpan.

Memori adalah istilah dari proses penyimpanan informasi. Sebagian besar dari

proses penyimpanan ini terjadi di dalam korteks serebrum, tetapi regio basal otak

dan medula spinalis dapat juga menyimpan sebagian kecil informasi ini, dan proses

ini juga merupakan fungsi dari sinaps. Oleh karena itu, untuk setiap macam sinyal

sensorik tertentu yang melewati serentetan sinaps, di masa datang akan mampu

menjalarkan jenis sinyal yang sama, suatu proses yang disebut fasilitasi. Dalam

memori terjadi pula proses konsolidasi memori yaitu proses di mana ingatan baru

atau ingatan jangka pendek diintegrasikan ke dalam memori jangka panjang

(Diekelmann & Born, 2010).

Atkinson dan Shiffin (Morgan et al., 1986) proses memori dimulai saat kita

menerima stimulus yang berasal dari lingkungan. Beberapa detik kemudian stimulus

berupa informasi tersebut akan dikenali dan diberi pengenalan sesuai dengan jenis

informasinya misalnya berupa: audio, visual ataupun sentuhan, proses ini disebut

juga dengan sensory register. Kemudian informasi yang telah diterima tersebut akan

dilanjutkan menuju short-term memory (STM).

1.2.1.3 Jenis-jenis Memori

A. Memori Sensori (Sensory Memory)

Memori sensori (sensory memory) merupakan proses pencatatan informasi atau

stimulus yang masuk melalui salah satu atau kombinasi dari panca indera, yaitu

secara visual melalui mata, pendengaran memalui telinga, bau melalui hidung, rasa

melalui lidah, dan rabaan melalui kulit. Bila informasi tersebut atau stimulus tersebut
5

tidak diperhatikan, maka informasi tersebut akan langsung dilupakan, namun apabila

informasi tersebut diperhatikan, maka informasi akan dikodekan dan disimpan ke

memori jangka pendek (short term memory) (Bhinnety, 2015).

B. Memori Jangka Pendek (Short Term Memory)

Bhinnety (2015) mengatakan bahwa sistem memori jangka pendek (short term

memory) menyimpan informasi atau stimulus sekitar 30 detik dan hanya sekitar tujuh

bongkahan informasi (chunks) yang dapat disimpan dalam sistem memori jangka

pendek dalam suatu saat. Beberapa hal yang ada di dalam memori jangka pendek

adalah pengelompokkan aitem-aitem ke dalam beberapa bongkahan dan pemberian

kode terhadap informasi atau stimulus. Masing-masing informasi atau stimulus diberi

kode secara berlainan berdasarkan sifat-sifat khas yang dimiliki oleh stimulus itu

sendiri. Jika informasi yang didapatkan memiliki kesan atau mendapatkan perhatian

lebih, short-term memory akan menindak lanjutinya dengan cara melakukan

encoding. Tetapi jika hal ini tidak terjadi informasi tadi akan dilupakan dan tidak

mengalami encoding.

Informasi atau stimulus dapat diberi kode secara audio, visual, maupun secara

semantis. Namun pemberian kode terhadap sistem memori jangka pendek akan

sebagian besar secara auditif dan dilengkapi secara visual. Baik dalam ingatan audio

maupun visual, informasi atau stimulus akan diproses secara asimetri di otak. Hal ini

menunjukkan bahwa informasi yang diterima oleh telinga kiri akan diproses di otak

kanan, bersifat dominan terhadap stimulus akor musik, pitch nada-nada dan melodi.

Sedangkan telinga kanan, yang diproses ileh belahan otak kiri, lebih peka dalam

menangkap stimulus seperti kata-kata, angka, dan konsonan (Bhinnety, 2015).


6

Penyimpanan dalam memori jangka pendek ini memiliki kapasitas yang sangat

terbatas. Rata-rata, kebanyakan orang hanya dapat mengingat sebanyak 7 butir huruf,

angka, atau kata. Beberapa mungkin mampu mengingat sebanyak 9 butir atau hanya

5 butir. Miller (1956) juga menyatakan bahwa rentang memori memori jangka

pendek manusia hanya dapat menyimpan sekitar tujuh aitem atau bit, plus atau minus

dua (7 + 2) (Atkinson dkk.,1989).

C. Memori Jangka Panjang (Long Term Memory)

Memori jangka panjang (long term memory), memori disimpan dalam jangka

waktu yang lumayan lebih lama dan biasanya bertahan sepanjang hidup. Dalam long-

term memory ini tedapat dua jenis memori yaitu semantic memory dan episodic

memory.

Memori mencakup pengetahuan tentang fakta, konsep, definisi, kosa kata atau

kata-kata dan pengetahuan lainnya. Semantic memory merupakan ingatan atau

memori manusia yang tergolong deklaratif. Morgan et al. (1986) mengatakan bahwa

memori berkaitan dengan arti atau makna dari kata-kata, hubungan antar tiap kata

dan aturan untuk menggunakan kata-kata tersebut dalam berkomunikasi dan berpikir.

Umumnya konten dari semantic memory ini kita dapatkan ketika sedang belajar

(membaca buku atau mendengarkan materi, misalnya tentang definisi, kata-kata dan

lain sebagainya) dalam kelas pada perkuliahan ataupun ditempat lainnya.

Penyimpanan semantic memory ini sangatlah teroganisir (Morgan et al., 1986). Salah

satu contoh dari penggunan semantic memory ini juga antara lain: ketika kita sedang

berbicara, kata-kata atau kalimat yang kita sampaikan dapat diketahui maksud dan

defenisinya, atau inti dari kalimat tersebut.


7

Berbeda halnya dengan semantic memory, Tulving ( dalam Morgan et al., 1986)

mengatakan bahwa episodic memory memiliki konten yang berhubungan dengan hal

spesifik yang terjadi pada kita terkait waktu dan tempat. Lebih jelasnya episodic

memory merupakan ingatan berupa persitiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup

manusia. Episodic memory ini menguraikan peristiwa atau pengalaman tadi kedalam

bentuk waktu (hari, tanggal, bulan, tahun) atau dapat dikatakan sebagai biografi.

Dengan kata lain, episodic memory ini didapatkan dari mengingat kembali kejadian

masa lampau (Morgan et al., 1986).

D. Memori Kerja (Working Memory)

Prasetya dkk (2015) berpendapat bahwa di dalam memori kerja tidak seluruhnya

berbeda dengan memori jangka pendek. Ini adalah istilah untuk merujuk pada

memori yang digunakan untuk merencanakan dan melaksanakan suatu tindakan.

Sebagai contoh, salah satu yang bergantung pada memori kerja adalah ketika ingin

menyelesaikan masalah aritmatika misalnya tanpa menggunakan kertas, untuk

menghubungkan dan menyimpulkan suatu pendapat yang panjang, atau ketika

hendak membuat suatu masakan, tidak melakukan kesalahan seperti dua kali

memasukan bumbu masakan yang sama.

Prasetya dkk (2015) juga mengatakan bahwa di dalam memori kerja, proses ini

berhubungan dengan pemecahan masalah, pemahaman bacaan dalam bahasa asli dan

dalam bahasa asing serta dalam pemahaman matematika. Masalah dalam memori

kerja juga telah dikutip dalam banyak studi ini sebagai prediktor akurat dari masalah

belajar di daerah-daerah. Pentingnya memori kerja tidak hanya di bidang akademik

tetapi juga dalam pemecahan masalah sehari-hari. Misalnya dalam mengingat


8

kembali suatu peristiwa yang sudah terjadi, membantu dalam menghafal nomor atau

deretan angka seperti menghafal nomor telepon, atau nomor rekening dan lain

sebagainya.

1.2.1.4 Proses Memori

Berbagai model telah diciptakan dalam usaha memahami dan menerangkan

bagaimana sebenarnya memori manusia berkerja. Perjalanan informasi dari

lingkungan yang kemudian melewati rangkaian sensori memori akan menstimulasi

sistem perseptual. Sebagai proses pengolahan, informasi yang telah diterima

selanjutnya akan disimpan sebagai memori jangka pendek. Sensori memori dapat

menyimpan sejumlah informasi tersebut, namun ia hanya dapat bertahan dalam

beberapa detik atau kurang. Fokus atau perhatian diperlukan dalam proses

pembentukan memori. Selain itu, pengulangan dan latihan berulang dapat

meningkatkan kemungkinan pemindahan informasi lebih baik dari memori jangka

pendek ke memori jangka panjang (Baddeley, 2004).

Baddeley & Hitch telah melakukan eksperimen untuk membuktikan, tidak adanya

interaksi antara memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Melalui

penelitian ini, dilakukan tindakan memblokir memori jangka pendek pada subjek

normal dengan meminta subjek tersebut untuk membaca urutan digit ketika

melakukan tugas-tugas lain seperti belajar atau mencoba memahami sesuatu.

Terdapatnya penurunan informasi yang diperoleh dari proses pembelajaran, seiring

dengan peningkatan jumlah digit, yang secara langsung menerangkan tidak adanya

interaksi antara memori jangka pendek dan memori jangka panjang.


9

Memori jangka pendek sebenarnya melibatkan satu komplek sistem yang dikenali

sebagai memori kerja (Working Memory). Memori kerja ini terdiri dari kontroler

atensi/ perhatian yang juga dikenal sebagai sentral eksekutif. Sentral eksekutif ini

dihubungkan dengan dua subsistem yakni, Visuospatial sketsa (Visuospatial Skech-

pad) dan lingkaran finologi (Phonological loop). Lingkaran Finologi ini mempunyai

kapasitas dalam menyimpan memori untuk beberapa detik, selain digabung dengan

proses rehearsal subvokal. Sistem ini juga dapat berperanan dalam memanipulasi

informasi yang diperolehi dalam bentuk pidato, bicara dan huruf (Baddeley, 2004).

Visuospatial sketsa membenarkan manipulasi dan penyimpanan sementara

gambar dan informasi ruangan/spasial. Sentral eksekutif menyediakan sistem kontrol

perhatian/ attentional yang berguna untuk memori kerja dan untuk aktivitas lainnya.

Sistem ini juga mempunyai peranan yang penting dalam pemilihan strategi dan

proses stimulus dalam pembelajaran yang efektif (Baddeley, 2004).

Atikah (2013) menjelaskan bahwa memori kerja ini juga dikenal sebagai papan

tulis di otak, yang berperan dalam memperoleh dan menghubungkan berbagai jenis

informasi yang berkaitan, melibatkan informasi yang terdapat di dalam simpanan

memori. Memori kerja ini juga penting dalam menyelesaikan masalah, dalam

membuat pertimbangan, fokus dalam aktivitas harian dan merancang tindakan yang

akan kita lakukan.

Dikatakan bahwa perbedaan penyimpanan antara memori jangka pendek dan

memori jangka panjang terletak pada dua hal yakni: durasi dan kapasitas. Durasi

berarti dalam memori jangka pendek, penyimpanan ingatan dihilangkan dalam waktu

singkat. Konsep memori jangka pendek dibatasi oleh kehilangan ingatan dalam
10

durasi waktu. Kapasitas berarti ada batas tertentu dan seberapa banyak memori

jangka pendek dapat menyimpan. Jika ada batas kapasitas, sejumlah ingatan yang

lebih kecil dari jumlah kapasitas masih dapat disimpan dalam memori jangka pendek

sampai digantikan oleh sejumlah ingatan yang lain. Oleh karena itu, untuk menilai

kegunaan konsep memori jangka pendek perlu dinilai durasi dan batas kapasitasnya

(Davelaar dkk., 2005).

1.2.2 Hipotesis

1.2.2.1 Individu

1. Ada perbedaan ketepatan individu dalam mengingat huruf jika dalam bentuk kata

(chunking).

1.2.2.2 Kelompok

2. Ada perbedaan ketepatan kelompok dalam mengingat huruf jika dalam bentuk

kata (chunking).

1.3 Metode Penelitian

1.3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan menggunakan The One

Shot Case Study.

1.3.2 Sarana Penelitian

Sarana yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat computer

jinjing.
11

1.3.3 Prosedur Penelitian

Prosedur yang dijalankan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Peneliti mempersiapkan segala sesuatunya termasuk sarana yang akan

digunakan.

2. Cara mengaktifkan program:

a. Aktifkan INTPSYCH dengan menekannya dua kali (double click).

b. Masukkan nama depan anda, tekan ENTER masukkan nama belakang tekan

ENTER, tekan No, jika nama anda sudah benar, dan Yes jika anda ingin

menulis ulang nama anda, setelah itu tampilan layar berubah tekan click to

continue dua kali.

c. Setelah itu, anda akan masuk dalam menu pilihan. Tekan Span of Immediate

Memory: Chunking akan tampil tulisan Are you ready to begin this

program (apakah anda siap memulai program ini?) tekan YES.

d. Tekan tanda panah kanan ( )

3. Observer menempati tempat duduk yang telah disediakan.

4. Peneliti mempersilahkan subjek penelitian (OP) memasuki tempat penelitian.

5. Peneliti memberikan instruksi awal berupa pengantar pada OP.

6. Dudukkan OP di kursi yang telah disiapkan.

7. Beri instruksi, bahwa pada layar akan tampil beberapa huruf berturut-turut dalam

jangka waktu tertentu. Tugas anda adalah menghapalkan huruf tersebut dan

menuliskannya kembali ke komputer tanpa spasi setelah huruf terakhir tampil.

Jika anda sudah siap untuk memulai tekan OK.


12

8. Bagian pertama adalah kelompok huruf yang tidak bermakna yang terdiri atas 3,

5, 7, dan 9 huruf.

9. Pada bagian pertama ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama adalah latihan.

Anda harus melewati bagian ini dulu. Kemudian bagian kedua adalah soal

sebenarnya. Bagian kedua (soal sebenarnya) akan terdiri atas masing-masing 5

soal. Tugas anda adalah mengetikkan kembali huruf-huruf tersebut dan setelah

selesai menekan tanda panah kanan.

10. Bagian kedua adalah kelompok huruf yang bermakna yang terdiri atas 3, 5, 7,

dan 9 kata yang terdiri atas masing-masing tiga huruf.

11. Pada bagian kedua ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama adalah latihan.

Anda harus melewati bagian ini dulu. Kemudian bagian kedua adalah soal

sebenarnya yang terdiri atas masing-masing 5 soal. Tugas anda adalah

mengetikkan kembali huruf-huruf tersebut dan setelah selesai menekan tanda

panah kanan.

12. Di akhir akan diberikan tabel jumlah kata yang dapat diingat dengan benar untuk

masing-masing kelompok huruf.

13. Peneliti memberikan instruksi akhir berupa penutup pada OP.

14. Peneliti mempersilahkan dan menemani OP keluar ruangan.

15. Peneliti mencatat hasil percobaan yang telah dilakukan OP.

16. Peneliti masuk kembali ke dalam ruangan dan membenahi segala sesuatunya.
13

1.4 Hasil

1.4.1 Pencatatan Hasil

1.4.1.1 Individu

List Length A B
3 15 -
5 19 -
7 21 -
9 24 -

Keterangan: A = Huruf tak dikelompokkan (total letters corrects)


B = Huruf yang dikelompokkan (total letters corrects)

1.4.1.2 Kelompok

Subjek A B
FS 16 -
RSSA 23 -
NAAM 14,5 -
PS 15,75 -
RP 19,75 -
ST 17,5 -

Keterangan: A = Huruf tak dikelompokkan (total letters corrects)


B = Huruf yang dikelompokkan (total letters corrects)
14

1.4.2 Pengolahan Hasil

1.4.2.1 Individu
Independent Sample Test

Levenes Test t-test For Equality Of Means


For Equality
Of Variances

F Sig Sig.(2-tailed) 95%Confidence Interval


Of The Difference
Lower Upper

Hasil Equal 7.260 .036 .000 15.123 24.368


variances assumed

Equal Varience not 0.002 13.743 25.757


assumed

Tabel diatas merupakan pengolahan hasil data individu dengan menggunakan uji

t. Pada baris equel variances assumed memiliki nilai signifikansi f yaitu 0,036 dan

untuk sig.(2-tailed) memiliki nilai 0.000. Pada barisan equal variances not assumed

memiliki nilai sig.(2-tailed) 0.002.


15

1.4.2.2 Kelompok

Independent Sample T Test Kelompok


Levenes Test For Sig.(2-tailed)

Equality Of Variances

F Sig.

Equal Variances 12.331 .006 0.000


Assumed

Hasil Equal Variance 0.000


Not Assumed

Tabel diatas merupakan tabel pengolahan hasil data kelompok dengan

menggunakan uji t. Pada baris equal variances assumed memiliki nilai signifikansi f

yaitu 0,006 dan untuk sig.(2-tailed) memiliki nilai 0,000. Barisan equal variances not

assumed memiliki nilai sig.(2-tailed) dengan nilai 0,000.

1.4.3 Observasi

1.4.3.1 Kondisi Fisik

1. Dalam ruangan yang digunakan terdapat Air Conditioner (AC) dengan suhu 18

derajat celcius yang dilihat dari remot AC.

2. Kondisi ruangan yang digunakan cukup terang dikarenakan waktu pelaksanaan

praktikum dilaksanakan pada siang hari

3. Jumlah mahasiswa yang terlibat dalam eksperimen hanya terdiri atas 1 kelompok

saja, tidak ada suara kebisingan dari luar.

4. Ruangan yang digunakan tidak dipenuhi dengan barang-barang


16

5. Jarak antar praktikum satu dan praktikum lainnya berjarak sekitar 5 meter,

sehingga suara dari msing-masing praktikan tidak saling mempengaruhi yang

dapat mengganggu jalannya praktikum.

1.4.3.2 Kondisi Psikologis

1. Saat pemberian instruksi, testee terlihat mengangguk.

2. Selama praktikum berlangsung, ketika diminta untuk mengerjakan soal yang

tersedia ia memperhatikan layar dan sedikit memajukan kepalanya, dan posisi

mata fokus ke layar komputer.

3. Ketika testee mulai mengerjakan soal pada bagian kata yang bermakna,

khusunya yang terdiri dari 7 dan 9 chunk. Saat akan menjawab testee sering

melamun dan menghela napas.

4. Saat hendak menuliskan jawaban, subjek beberapa kali bergumam. Menurut

hasil wawancara hal ini dilakukan sebagai salah satu cara yang dapat

membantunya dalam mengingat kembali.

5. Ketika melihat jawabannya yang salah, testee senyum-senyum dan menggeleng-

gelengkan kepala.

1.5 Pembahasan

1.5.1 Individu

Dari pengolahan hasil individu yang menggunakan uji independent sample t test

dengan menggunakan SPSS. Dari kolom signifikansi (2-tailed) baris equal variances

not assumed nilai signifikansinya adalah 0,002. Dimana nilai signifikan tersebut
17

<0,05 maka hipotesis penelitian diterima. Hal tersebut menujukan bahwa hipotesis

yang menyatakan bahwa ada perbedaan ketepatan individu terhadap

pengelompokan huruf ke urutan atau kelompok yang berarti (chungking), diterima.

Tetapi dapat dilihat kembali dari hasil percobaan yang tidak keluar, yaitu bagian soal

kelompok yang bermakna, menunjukan bahwa subjek lebih sulit mengingat huruf

jika dalam bentuk kata.

Hasil dari eksperimen yang dilakukan tidak sesuai dengan teori yang menyatakan

bahwa chunking adalah salah satu metode yang memudahkan individu dalam

mengingat. Didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Morgan,King,Weisz dan

Schopler (1986) bahwa chunking, yaitu teknik mnemonic yang digunakan untuk

membantu lebih mudah dalam mengingat ternyata tidak sesuai dengan hasil

eksperimen yang terjadi pada subjek. Penggunaan kata dari bahasa Inggris pun

berpengaruh. Bahasa Inggris belum terlalu familiar untuk diri subjek, sehingga

subjek mengaku kewalahan. Teori mengatakan bahwa memori bekerja baik pada

informasi-informasi yang dianggap familiar untuk seseorang (Kalat, 2014)

1.5.2 Kelompok

Dari pengolahan hasil kelompok dengan menggunakan independent sample t test

menggunakan SPSS. Menunjukan bahwa data tidak bersifat homogen dengan

melihat nilai f yang lebih kecil dari nilai 0,05 yaitu 0,006. Oleh karena itu dilihat dari

tabel equel variances assumed, nilai signifikansinya sebesar 0,000 dimana nilai

tersebut lebih kecil dari nilai 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis yang

menyatakan Ada perbedaan ketepatan kelompok dalam mengingat huruf jika dalam

bentuk kata(chunking) diterima. Hal ini berarti ada perbedaan kelompok dalam
18

mengingat huruf yang tidak bermakna dan pengelompokan huruf menjadi kata-kata

yang bermakna.

1.6 Simpulan

1.6.1 Individu

Berdasarkan analisis hasil dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya,

hipotesis yang menyatakan ada perbedaan ketepatan individu dalam mengingat huruf

jika dalam bentuk kata (chunking), diterima. Chunking tidak berhasil membantu

subjek dalam mengingat informasi bagian huruf bermakna karena hasil pada bagian

tersebut tidak muncul. Pengaruh bahasa inggris yang tidak familiar terhadap subjek

juga membuat kesulitan dalam mengingat informasi.

1.6.2 Kelompok

Berdasarkan analisis hasil dan pembahasan diatas, hipotesis yang diajukan

kelompok diterima, bahwa terdapat perbedaan ketepatan kelompok dalam mengingat

huruf jika dalam bentuk kata (chunking). Subjek mudah menghapalkan huruf-huruf

pada kelompok huruf yang tidak bermakna daripada huruf-huruf yang bermakna.

Huruf yang bermakna lebih sulit diingat walaupun menggunakan teknik chunking.

1.7 Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Chunking membantu individu dalam menghafal nomor atau deretan angka,

misalnya menghafal nomor telepon atau nomor rekening (Atkinson, dkk, 1989).
19

2. Chunking dapat digunakan ketika akan menghafalkan deretan angka yang

lumayan panjang dan tidak beraturan (Fendrich & Arengo, 2004), Misalnya

081315999663 dapat dibagi menjadi 081-315-999-66.

3. Dalam bidang bahasa, chunking dapa digunakan untuk meningkat kemampuan

dalam berbahasa asing baik dalam penggunaannya ataupun pemahaman artinya

(Taft & Forster (Xu & Padilla, 2013). Misalnya dalam bahasa inggris, satu kata

dipecah kedalam bebarap grup agar lebih mudah dipahami artinya dan

dihafalakan. Contoh meaning = me-an-ing atau mean-ing.

4. Dalm membaca, chunking dapat digunakan dengan tujuan membuat bacaan

dapat dipahami lebih cepat, lebih efisien, dan mengetahui intinya (Dadi, 2015).

Caranya yaitu dengan membagi bacaan tersebut ke dalam beberapa bagian atau

dapat juga dibagi menjadi beberapa pargaraf. Paragraf awal dapat berisi inti atau

pembuka, paragraf yang ada di tengah berisi penjelasan dari paragraf awal dan

paragraf akhir berisi kesimpulan ataupun penutup.

5. Chunking dapat berfungsi untuk melatih ketepatan dalam mengingat.

Makassar, 9 November 2017

Peneliti

Wa Ode Zahra Amalia


NIM. Q11116513
Asisten Praktikum 1 Asisten Pratikum 2

Theresia Arief Afga Yudistikhar


NIM. Q11114302 NIM. Q11115019