Anda di halaman 1dari 7

LAPORAS HASIL ANALISIS

MENCARI DAN MENGANALISIS KEBIJAKAN FISKAL


TAHUN 2015, APBN TAHUN 2017, APBD 2016 & 2017

Disusun oleh :
Nursyifa Aini
XI IPS 4
2017
6 Paket Kebijakan Ekonomi Jokowi Sebelumnya
Belum Efektif

JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengemukakan, enam


paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintahan Presiden Joko Widodo
(Jokowi) sebelumnya untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah dan pelemahan
ekonomi belum berjalan efektif.

Namun, pemerintah kembali mengeluarkan paket kebijakan ekonomi besar-besaran


yang dimaksudkan untuk meredam gejolak ekonomi dan rupiah.

"Kalau yang itu (enam paket kebijakan ekonomi), ada beberapa yang enggak
efektif," ujar Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani kepada Sindonews di Jakarta.

Menurutnya, dampak yang dirasakan pelaku usaha dari enam paket kebijakan
tersebut sulit diukur. Sebut saja, kewajiban penggunaan rupiah dalam transaksi di
dalam negeri.

Kebijakan tersebut diterapkan di Tanah Air, namun kenyataannya hal tersebut tidak
mampu meredam gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
Nilai tukar mata uang berlambang Garuda justru tersungkur hingga melewati level
Rp14.000 per USD.

"Yang jelas sih dari kebijakan yang lalu, dampaknya susah diukur. Kayak
penggunaan rupiah jalan, tapi harusnya dampaknya kan rupiah jadi terkendali ya.
Ternyata kan enggak. Rupiah tetap liar," bebernya.

Selain itu, kebijakan pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) atau tax allowance bagi
perusahaan yang menahan dividennya di dalam negeri dan melakukan reinvestasi,
dinilai tidak masuk akal dan tidak bisa dijalankan.
"Yang enggak masuk akal itu kalau perusahaan untung, kalau investor uangnya
enggak dibalikin ke negaranya akan dapat tax allowance. Itu enggak mungkin
dijalankan. Orang mau bagi dividen ya terserah mereka kan," tandas Hariyadi.

Sekadar mengingatkan, pemerintah pada Maret 2015 lalu merilis enam paket
kebijakan yang dikeluarkan untuk memperbaiki kondisi ekonomi nasional. Adapun
kebijakan tersebut, antara lain:

1. Pengurangan PPh atau tax allowance bagi perusahaan yang menahan dividennya
dan melakukan reinvestasi.
2. Bea masuk anti-dumping untuk impor
3. Pembebasan visa bagi wisatawan asing
4. Kewajiban pencampuran bahan bakar nabati (BBN) sebanyak 15% untuk solar
5. Kewajiban menggunakan letter of credit (L/C) untuk produk sumber daya alam
(SDA).
6. Pembentukan perusahaan reasuransi domestik.
ANALISIS :
Menurut saya, kebijakan ekonomi diatas adalah kebijakan fiskal karena yang
membuat kebijakan tersebut adalah Pemerintah (Presiden Jokowi) yang tujuannya ia
buat untuk mengatur pengeluaran sekaligus pemasukan atau pendapatan negara
sebagai sebuah langkah konkret untuk menciptakan kesempatan kerja yang luas
tanpa adanya masalah inflasi dan krisis uang.
Lalu kenapa dikatakan kebijakan ekonomi ini belum efektif karena kebijakan ini
dampaknya dinilai sulit diukur contohnya penggunaan rupiah jalan tidak terkendali.
Selain itu, kebijakan pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) atau tax allowance bagi
perusahaan yang menahan dividennya di dalam negeri dan melakukan reinvestasi,
dinilai tidak masuk akal dan tidak bisa dijalankan.
Bea masuk anti-dumping untuk impor
Anti Dumping adalah tindakan untuk mencegah, mengatur, menghilangkan praktik
dagang internasional yang bertujuan untuk mengeruk keuntungan dari suatu negara
(importer) dengan menerapkan harga yang lebih rendah dari harga produksi di
negara eksporter.
Menurut saya, saya juga tak tau
Pembebasan visa bagi wisatawan asing
Menurut saya, kebijakan ini ada sisi negatif dan positifnya untuk negara. Sisi
positifnya kebijakan ini dapat mendorong kunjungan turis ke Indonesia, dan sisi
negatifnya kebijakan tersebut juga berdampak kepada penurunan pendapatan
negara,dengan adanya kebijakan ini pendapatan negara dari devisa akan
mengalami penurunan. Selain itu yang dikhawatirkan adalah turis yang kunjung ke
Indonesia hanya beralasan menggunakan visa wisata, namun justru sebenarnya
masuk ke sektor tenaga kerja. Jika begitu, Indonesia akan mendapatkan masalah
baru dengan meningkatnya jumlah pengangguran.
kebijakan baru ini akan mempengaruhi pasar kelapa sawit di Indonesia sebagai
dampak peningkatan permintaan baru.
Ini lom kelar
APBN TAHUN 2017
Presentase

Grafik
APBD DKI JAKARTA 2017