Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


DENGAN KEBUTUHAN NUTRISI

A. Pengertian
1. Nutrisi
Nutrisi adalah zat-zat gizi dan zat lain yang berhubungan dengan kesehatan dan
penyakit, termasuk keseluruhan proses proses dalam tubuh manusia untuk menerima
makanan atau bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan
tersebut untuk aktivitas penting dalam tubuhnya serta mengeluarkan sisanya. ( Tarwoto dan
Wartonah, 2010 )
2. Metabolisme
Metabolisme adalah suatu proses kimiawi yang terjadi di dalam tubuh semuamakhluk
hidup, proses ini merupakan pertukaran zat ataupun suatu organism dengan lingkungannya.
3. Keseimbangan Energi
Keseimbangan energi adalah energi yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan
sama dengan energi yang dikeluarkan. Keadaan ini akan menghasilkan berat badan ideal/
normal.
B. Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan
1. Mulut / Oris
Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut
dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di
permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit.
Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang
(molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna.
Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah
protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan
berlanjut secara otomatis.
2. Faring
Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan
(osofagus), di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar
limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi.
3. Esofagus
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya 25
cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung.
Esofagus dibagi mejadi tiga bagian;
- Bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka)
- Bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus)
- Bagaian inferior (terutama terdiri dari otot halus)
4. Gaster / Lambung
Merupakan bagian dari saluran yang terdiri atas fundus uteri berhubungan dengan
esofagus melalui orifisium pilorik, terletak dibawah diapragma didepan pankreas dan limpa,
5. Pankreas
Sekumpulan kelenjar yang panjangnya kira-kira 15 cm, lebar 5 cm mulai dari
duodenum samapai ke limpa.
Fungsi pancreas :
Fungsi eksokrin, membentuk getah pankreas yang berisi enzim dan elektrolit.
Fungsi endokrin, sekelompok kecil sel epitelium yang berbentuk pulau-pulau kecil atau
pulau langerhans, yang bersama-sama membentuk organ endokrin yang mensekresikan
insulin.
Fungsi sekresi eksternal, yaitu cairan pankreas yang dialirkan ke duodenum yang
berguna untuk proses pencernaan makanan di intestinum.
6. Kantung Empedu
Sebuah kantong yang terletak pada lobus di sebelah permukaan bawah hati sampai
pinggir depannya, panjangnya 812 cm berisi 60 cm.
Fungsi kantung empedu :
- Sebagai persediaan getah empedu, membuat getah empedu menjadi kental.
- Getah empedu adalah cairan yang digunakan untuk mencerna lemak.
7. Hati
Hati juga termasuk sebagai alat sekresi yang membantu fungsi ginjal dengan cara
memecah beberapa senyawa yang bersifat racun dan menghasilkan amonia, urea, dan asam
urat dengan memanfaatkan nitrogen dari asam amino.
8. Usus Halus / Intestinum Minor
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di
antara lambung dan usus besar. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari
(duodenum), usus kosong (jejenum), usus penyerapan (illeum). Pada usus dua belas jari
terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu.
9. Usus Besar / Intestinum Mayor
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan
rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.
Usus besar terdiri dari :
- Kolon asendens
- Kolon transversum
- Kolon desendens
- Kolon sigmoid
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa
bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.
10. Usus Buntu
Apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi
immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) dimana memiliki/berisi kelenjar limfoid.
11. Umbai Cacing
Umbai cacing adalah organ tambahan pada usus buntu. Umbai cacing terbentuk dari
caecum pada tahap embrio.
12. Rektum
Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Mengembangnya
dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf
yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi.

C. Esensial Nutrisi
Nutrisi esensial adalah nutrisi yang penting namun tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh.
Kita harus mendapatkan dari makanan atau suplemen tambahan. Bila kita kekurangan nutrisi
esensial ini, kita akan menderita penyakit yang spesifik karena kekurang zat gizi tersebut. Nutrisi
esensial meliputi :
1. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama dalam diet.
2. Protein
Protein penting untuk mensintetis jaringan tubuh dalam pertumbuhan, pemeliharaan
dan perbaikan.
3. Lemak
Lemak (lipid) merupakan kumpulan zat-zat makanan yang larut dalam eter,
kholoform, etanol dan benzon, dan merupakan nutrien padat yang peling berkalori.
4. Vitamin
Vitamin merupakan subtansi organik kompleks dalam jumlah kecil pada makanan
yang esensial untuk metabolisme normal. Vitamin dibedakan menjadi dua kelompok :
a. Vitamin Yang Larut Dalam Air
1) Vitamin C (Asam Ascorbat)
2) Vitamin B1 (Tiamin)
3) Vitamin B2 (Riboflavin)
4) Vitamin B5 (Niasin)
5) Vitamin B6 (Piridoksin)
6) Vitamin B9 (Asam Folat)
7) Vitamin B12 ( Kobalamin)
8) Asam pantotenat
9) Biotin
b. Vitamin Yang Larut Dalam Lemak
Beberapa contoh vitamin yang larut dalam lemak sebagai berikut :
1) Vitamin A
2) Vitamin D
3) Vitamin E
4) Vitamin K
5. Mineral
Mineral merupakan elemen esensial nonorganic yang berperan dalam pemeliharaan fungsi
tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ maupun fungsi tubuh secara keseluruhan.
6. Air
Air merupakan komponen kritis dalam tubuh karena fungsi sel bergantung pada lingkungan
cair. Air menyusun 60-70% dari seluruh berat badan.

D. Penyerapan Nutrisi
Absorpsi adalah proses penyerapan suatu zat oleh zat lain. Dalam proses ini, zat yang diserap
masuk ke bagian dalam zat penyerap.
1. Anatomi sistem absorpsi
Absorpsi zat zat gizi terutama terjadi pada permukaan usus halus. Usus halus
berbentuk lipatan lipatan. Tiap lipatan memiliki ribuan jonjot jonjot yang
dinamakan vili. Sebuah vili terdiri atas ratusan sel yang masing masing mempunyai bulu
yang sangat halus, dinamakan mikrovili. Di dalam celah celah antar vili terdapat kripta
kripta berupa kelenjar yang mengeluarkan getah getah usus ke dalam saluran usus halus.
2. Sistem absorpsi
Vili secara terus menerus dalam keadaan bergerak. Tiap molekul zat gizi yang
ukurannya cukup kecil untuk diserap, terjadi di dalam mikrovili dan diserap ke dalam sel.
Pada tiap vili terdapat pembuluh pembuluh darah dan pembuluh pembuluh limfe yang
berasal dari sistem peredaran darah dan sistem limfe, yang merupakan sistem transportasi
zat zat gizi.
Saluran cerna bekerja secara selektif. Bahan yang dibutuhkan tubuh dipecah dalam
bentuk yang dapat diserap dan diangkut ke seluruh tubuh, dan bahan yang tidak digunakan
dikeluarkan dari tubuh.
3. Cara absorpsi
Absorpsi merupakan proses yang sangat kompleks dan menggunakan empat cara : pasif,
fasilitatif, aktif, dan fagositotis.

E. Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi


1. Faktor External
a. Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang
hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999).
b. Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan perilaku
orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang baik (Suliha, 2001).
c. Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan
keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu (Markum,
1991).
d. Budaya
Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan
(Soetjiningsih, 1998).

2. Faktor Internal
a. Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua
dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
b. Kondisi Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia, semuanya
memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk (Suhardjo, et, all,
1986).
c. Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan
kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et, all, 1986).

F. Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kebutuhan Nutrisi


1. Pengetahuan
Rendahnya pengetahuan tentang manfaat makanan bergizi dapat mengakibatkan
terjadinya kesalahan pemenuhan kebutuhan gizi.
2. Prasangka
Prasangka buruk terhadap beberapa jenis bahan makanan yang bernilai gizi tinggi,
dapat memengaruhi status gizi seseorang. Misalnya, di beberapa daerah, seseorang yang
mengalami luka di larang mengkonsumsi telur dan ikan, padahal di dalam telur dan ikan
terkandung protein untuk membantu penyembuhan luka.
3. Kebiasaan
Adanya kebiasaan yang buruk atau pantangan terhadap makanan tertentu dapat juga
memengaruhi status gizi. Misalnya, di beberapa daerah, terdapat larangan makan pisang,
pepaya, bagi para gadis remaja. Padahal, makanan itu merupakan sumber vitamin yang baik.
4. Kesukaan
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan dapat mengakibatkan
kurangnya variasi makanan, sehingga tubuh tidak memperoleh rat-zat gizi yang dibutuhkan
secara cukup.
5. Ekonomi
Status ekonomi dapat mempengaruhi perubahan status gizi. Dengan kata lain, orang
dengan status ekonomi kurang biasanya kesulitan dalam menyediakan makanan bergizi.

G. Pengkajian Status Nutrisi (ABCD)


Pengkajian keperawatan tehadap masalah kebutuhan nutrisi dapat meliputi
1. Status nutrisi seseorang dalam hal ini klien dengan gangguan status nutrisi dapat
dikaji :
A : Pengukuran antropometik (antropometik measuremant)
1) Tinggi badan. Pengukuran tinggi badan pada individu dewasa dan balita dilakukan dalam
posisi berdiri tanpa alas kaki, sedangkan pada bayi dilakukan dalam posisi berbaring.
2) Berat badan
- Alat serta skala ukur yang digunakan harus sama setiap kali menimbang.
- Pasien ditimbang tanpa alas kaki.
- Pakaian diusahakan tidak tebal dan relatif sama beratnya setiap kali menimbang.
- Waktu penimbangan relatif sama, misalnya sebelum dan sesudah makan.
3) Tebal lipatan kulit
Anjuran klien untuk membuka baju guna mencegah kesalahan pada hasil pengukuran.
- Perhatikan selalu privasi dan rasa nyaman klien.
- Dalam pengukuran TSF utamakan lengan klien yang tidak dominan.
- Pengukuran TSF dilakukan pada titik lengan atas, antara akromion dan olekranon.
- Ketika pengukuran dilakukan, anjurkan klien untuk relaks.
- Alat yang digunakan adalah kaliper
4) Lingkaran tubuh : umumnya area tubuh yang digunakan untuk pengukuran ini adalah
kepala, dada dan otot bagian tengah lengan atas.

5) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan yang dilakukan pada klien merupakan penilaian kondisi fisik yang
berhubungan dengan masalah malnutrisi. Prinsip pemeriksaan ini adalah head to toe
yaitu dari kepala sampai ke kaki.

B : Data biokimia (biokimia data)


Nilai umum yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah kadar total limfosit, albumin serum,
zat besi, transferin serum, kreatinin, hemoglobin, hemotokrit, keseimbangan nitrogen dan tes
antigen kulit (Barkaukas, 1995).
C : Tanda-tanda klinis status nutrisi (clinical sign)
Tanda dan gejala klinis defisiensi nutrisi

Bagian tubuh Tanda klinis Kemungkinan kekurangan


Tanda umum Penurunan berat badan, lemah, lesu -Kalori
Rasa haus adanya dehidrasi -Cairan
Pertumbuhan terhambat -Vitamin A
Rambut Kusut, kakuningan, kekurangan Protein
pigmen
Kulit Adanya radang pada kulit atau -Niasin, riboflavin dan
dermatitis biotinemak
Sedangkan pada bayi terjadi dermatosis -Asam asetat
adanya petechial hemorhagik
Eksema
-Pirodoksin
Mata Fotofebia atau penglihatan ganda -Roboflavin
Rabun senja -Vitamin A
Mulut Stomatis -Riboflavin
Glositis -Niasin, asam volat,
sianokobalamin (vit B12) dan zat
besi
Gigi Karies gigi Fluorida
Sistem Kejang -Vitamin D
neuramuskular Lemah otot -Kalium
Tulang Riketsia Vitamin D
Sistem Anoreksia atau nafsu makan menurun -Tiamin
gastrointestinal Mual dan muntah -Garam dapur
Sistem endrokin Gondok Iodium
Sistem Adanya pendarahan -Vitamin K
kardiovaskular Penyakit jantung -Tiamin
Anemia -Piridoksin dan zat besi
Sistem saraf Kelainan mental -Sianokobalamin
Kelainan saraf perifer

D : Diet (dietary)
1. Riwayat diet
- Gangguan pada fungsi mengunyah dan menelan
- Asupan makanan tidak adekuat
- Diet yang salah atau ketat
- Kurangnya persediaan bahan makanan selama 10 hari atau lebih
- Pemberian nutrisi melalui intravena selama 10 hari atau lebih
- Tidak adekuatnya dana untuk penyediaan bahan makanan
- Tidak adekuatnya fasilitas penyiapan bahan makanan
- Tidak adekuatnya fasilitas penyimpanan bahan makanan
- Ketidakmampuan fisik
- Lansia yang tinggal dan makan sendiri
2. Riwayat penyakit
- Adanya riwayat berat badan berlebih atau berkurang
- Penurunan berat badan dan tinggi badan
- Mengalami penyakit tertentu
- Riwayat pembedahan pada sistem gastrointestinal
- Anoreksia
- Mual dan muntah
- Diare
- Alkoholisme
- Gangguan yang mengenai organ tertentu (kanker) dan terapi radiasi
- Disabilitas mental
- Kehamilan remaja

3. Riwayat pemakaian obat-obatan : aspirin, antibiotik, antasida, anti-depresan,agens anti-


hipersentivitas, agens anti-imflamasi, agens anti-neoplastik, digitalis,laksatif, diuretik,
natrium klorida dan vitamin atau preparat nutrien lain.
H. Masalah / Diagnosa Keperawatan Yang Berhubungan Dengan Nutrisi
Diagnosa keperawatan yang dapat terjadi pada masalah kebutuhan nutrisi adalah :
Menurut NANDA, diagnosis keperawatan terkait masalah nutrisi dibagi menjadi tiga :
1. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
2. Ketidakseimbangan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh
3. Resiko Ketidakseimbangan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh.

I. Rencana Tindakan Keperawatan


No Diagnosa Keperawatan Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
1 Ketidakseimbangan nutrisi : Status nutrisi : intake Management nutrisi
Kurang dari kebutuhan tubuh makanan dan cairan Bantuan
b/d ketidakmampuan menelan Status nutrisi : intake Peningkatan Berat Badan
atau mencerna makanan atau nutrisi
mengabsorbsi nutrisi karena
faktor biologi, psikologi dan
ekonomi
2 Ketidakseimbangan nutrisi : Kontrol berat badan Management nutrisi
Lebih dari kebutuhan tubuh b/d Status nutrisi : Intake Bantuan pengurangan berat
kelebuhan asupan dalam makanan dan cairan badan
hubungannya dengan Status nutrisi : Intake
kebutuhan metabolik. nutrisi
3 Resiko ketidakseimbangan Status nutrisi : asupan Management nutrisi
nutrisi : lebih dari kebutuhan makanan dan cairan Management berat badan
tubuh. Kontrol berat badan

J. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah kebutuhan nutrisi secara umum dapat dinilai dari adanya
kemampuan dalam :
a) Meningkatkan nafsu makan ditunjukkan dengan adanya kemampuan dalam makan
serta adanya perubahan nafsu makan apabila terjadi kurang dari kebutuhan.
b) Terpenuhinya kebutuhan nutrisi ditunjukkan dengan tidak adanya tanda kekurangan
atau kelebihan berat badan.
c) Mempertahankan nutrisi melalui oral atau parenteral ditunjukkan dengan adanya
proses pencernaan makan yang adekuat.
DAFTAR PUSTAKA

Markum, A.H. (1991). Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 1. Jakarta : FKUI.


NANDA. 2005-2006. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima Medika.
Nursalam. (2001). Pendidikan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : Info
Medika.
Santoso. (1999). Kesehatan dan Gizi. Jakarta : Rineka Cipta.
Soetjiningsih.(1998). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : Universitas Airlangga.
Suhardjo, L.J. Harper, B.J. Deaton dan J,A. Driskel. (1986). Pangan, Gizi dan Pertanian.
Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.
Suliha. (2001). Pendidika Kesehatan dalam Keperawatan. Jakarta : EGC.
Tarwoto & Wartonah. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan. Edisi