Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENGANTAR EKONOMI PERTANIAN

Sistem Kelembagaan di Desa Selorejo Kecamatan Dau


(Untuk Memenuhi Tugas Akhir Praktikum Pengantar Ekonomi Pertanian)

Oleh:
Kelas: G (Agribisnis)
Kelompok: 4 (Empat)

1. Nia Fita Febianti (175040101111018)


2. Diki Wahyudi (175040101111021)
3. Amalia Mulyani (175040101111024)
4. Dianita Suryanti (175040101111025)
5. Fahimatus Sofi (175040101111028)
6. Ardhania Anggi F (175040101111047)
7. Rosydatun Novianti (145040201111006)
8. Alghazali (145040207111073)
9. Nanda Irana ()

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara agraris, artinya pertanian di Indonesia
memegang peranan penting dari seluruh sektor perekonomian nasional.
Pertanian menurut Suratiyah (2006), kegiatan manusia dalam membuka
lahan dan menanaminya dengan berbagai jenis tanaman yang termasuk
tanaman semusim maupun tanaman tahunan dan tanaman pangan maupun
tanaman non-pangan serta digunakan untuk memelihara ternak maupun
ikan. Pertanian memiliki 2 arti yaitu pertanian dalam arti sempit dan
pertanian dalam arti luas. Pertanian dalam arti sempit yaitu pertanian
rakyat, sedangkan pertanian dalam arti luas yaitu pertanian yang
mencakup pertanian rakyat, pertanian perkebunan, kehutanan, peternakan,
dan perikanan.
Pada umumnya pertanian dibedakan menjadi pertanian modern dan
pertanian tradisional. Pertanian modern pada umumnya berada di
perkotaan dan menggunakan alat-alat yang modern, sedangkan pertanian
tradisional berada di pedesaan dan dalam sistem pertaniannya masih
menggunakan alat-alat yang sederhana. Seiring dengan perkembangan
teknologi, pertanian di Indonesia mulai berkembang. Pada awalnya
memakai tenaga kerbau untuk membajak, sedangkan saat ini sudah
memakai tenaga mesin yaitu traktor. Perkembangan teknologi yang terjadi
tentunya tidak lepas dari peran-peran lembaga pemerintah. Kelembagaan
yang dibentuk pemerintah ini berfungsi untuk memudahkan petani desa
melakukan kegiatan bercocok tanam. Lembaga petani adalah sekumpulan
jaringan yang menunjang berbagai macam kegiatan yang berhubungan
dengan pertanian. Kelembagaan berperan sangat penting untuk kemajuan
sektor pertanian. Semakin maju kelembagaan maka semakin baik dan
maju pula pertanian di desa tersebut.
Oleh karena itu, diadakanlah fieldtrip pada Senin, 13 November
2017. Dilaksanakan di Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang.
Fieldtrip ini dilakukan untuk mengetahui kondisi pertanian dan petani
yang ada di Desa Selorejo, dan dapat mengaplikasikan secara langsung
materi Pengantar Ekonomi Pertanian tetang kelembagaan pada petani desa
tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi kelompok tani dan lembaga tani di Desa Selorejo?
2. Bagaimana peran dan fungsi setiap anggota kelompok tani di Desa
Selorejo?
3. Bagaimana hubungan kerjasama antara anggota kelompok tani dengan
lembaga petani di Desa Selorejo?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui kondisi kelompok tani dan lembaga tani di Desa Selorejo.
2. Mengetahui peran dan fungsi setiap anggota kelompok tani di Desa
Selorejo.
3. Mengetahui hubungan kerjasama antara anggota kelompok tani dengan
lembaga petani di Desa Selorejo.
1.4 Manfaat
1. Manfaat Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat secara langsung mengaplikasikan dan menerapkan
materi dari mata kuliah yang didapat, khususnya Pengantar Ekonomi
Pertanian.
2. Manfaat Bagi Pemerintah
Pemerintah dapat mengetahui kondisi pertanian dan kelembagaannya
di Desa Selorejo.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Kelembagaan
Kelembagaan adalah keseluruhan pola-pola ideal, organisasi, dan aktivitas
yang berpusat di sekeliling kebutuhan dasar seperti kehidupan keluarga, negara,
agama dan mendapatkan makanan, pakaian serta tempat perlindungan. Suatu
lembaga dibentuk selalu bertujuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia
sehingga lembaga mempunyai fungsi. Selain itu, lembaga merupakan konsep
yang berpadu dengan struktur, artinya tidak saja melibatkan pola aktivitas yang
lahir dari segi sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga pola
organisasi untuk melaksanakannya (Roucek dan Warren, 1984)
2.2 Kelembagaan Pertanian
Lembaga adalah berisi norma, nilai, regulasi, pengetahuan dan lainnya. Menjadi
pedoman dalam berperilaku aktor (individu atau organisasi). Kelembagaan adalah
hal-hal yang berkenaan atau berhubungan dengan lembaga (Syahyuti, 2011).
Mendasarkan pada orientasi pembangunan pertanian di Indonesia saat ini yang
mendasarkan pada sistem agribisnis, maka peranan kelembagaan pertanian
termasuk didalamnya kelembagaan petani, sangat menentukan keberhasilan
pembangunan pertanian. Kelembagaan petani di pedesaan berkontribusi dalam
akselerasi pengembangan sosial ekonomi petani, aksesibilitas pada informasi
pertanian, aksesibilitas pada modal, infrastruktur, pasar dan adopsi inovasi-inovasi
pertanian. Di samping itu, keberadaan kelembagaan petani akan memudahkan
bagi pemerintah dan pemangku kepentingan yang lain dalam memfasilitasi dan
memberikan penguatan pada petani. Contohnya seperti gabungan kelompok tani
(Gapoktan) merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat berbasis
penguatan kelembagaan petani. Tujuan dari pengembangan Gapoktan adalah
untuk mengembangkan kelembagaan petani yang kuat dan mandiri. Petani dididik
untuk lebih mandiri dengan mengandalkan kekuatan mereka sendiri melalui
pengiatan kelembagaan petani.Pentingnya kelembagaan petani diakui dalam
pembangunan pertanian, baik di negara industri maupun negara sedang
berkembang seperti Indonesia.
Ada beberapa kegiatan yang mendukung upaya peningkatan kemampuan
atau penguatan kelembagaan dalam pertanian :
1. Diseminasi informasi dan teknologi pertanian
Untuk memberikan keyakinan kepada petani agar tidak ragu dalam menerapkan
teknologi pertanian, diperlukan kegiatan diseminasi informasi dan teknologi, yang
bertujuan untuk :
a)Meningkatkan Adopsi Inovasi teknologi hasil penelitian pertanian dan
pengkajian melalui kegiatan komunikasi, promosi dan komersial
b) Penyebaran paket teknologi unggul yang dibutuhkan dan menghasilkan nilai
tambah bagi pengguna
c) Penyebaran materi penyuluhan baik melalui medi cetak maupun elektronik.
Pelaksanaan deseminasi sinergi dengan kegiatan pelatihan di BP3K, kunjungan
penyuluh ke kelompok tani, rembug tani, kursus tani, denfarm dan hari temu
lapang.
2. Kursus Tani
Kursus tani bertujuan meningatkan kemampuan petani dalam menerapkan
teknologi sesuai dengan rekomendasi. Kegiatan kursus tani ini disesuaikan dengan
jadwal dan materi yang telah disepakati dan disinergikan dengan kunjungan
penyuluh ke kelompok tani/P3A/GAPOKTAN/GP3A. Materi kursus tani antara
lain materi teknis (tanam dengan system Jajar Legowo, teknik peningatan
produksi dan produktivitas, pengolahan hasil dan pemasaran), pengembangan
jejaring dan kemitraan dalm agribisnis serta materi lain yang secara spesifik
dibutuhkan oleh petani
3. Demfarm
Demonstration Farming (Demfarm) merupakan salah satu metode penyuluhan
pertanian untuk memperlihatkan secara nyata, baik "cara" maupun "hasil" dari
penerapan suatu inovasi teknologi yang telah teruji dan menguntungkan bagi para
petani. Tujuan Denfarm adalah sebagai sarana pembelajaran petani antara lain
yaaitu meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani dalam
penerapan teknologi petani serta menumbuh kembangkan kelembagaan petani dan
petani swadaya.
4. Hari Temu Lapangan Petani (farm Field Day/FFD)
Hari temu lapang merupakan pertemuan petani dengan peneliti dan penyuluh.
Saling tukar menukar informasi tentang teknologi yang dihasilan oleh para
peneliti serta umpan baaliknya dari petani dan disebar luaskan oleh penyuluh.
5. Pengembangan Jejaring dan Kemitraan Usaha
pengembangan jejaring dan kemitraan usaha merupakan upaya pengembangan
usaha kelompok tani/P3A/GAPOKTAN/GP3A, sehingga memungkinkan tumbuh
dan berkembang sistem agribisnis dengan prinsip kesetaraan dan saling
menguntungkan.

2.3 Peran Kelembagaan


Kelembagaan petani dalam melaksanakan perannya memerlukan
pengorganisasian dengan ketrampilan-ketrampilan khusus untuk memberikan
dorongan dan bantuan secara sistematis. Secara ideal, pengembangan kapasitas
kelembagaan petani dilakukan melalui pendekatan self-help (membantu diri
sendiri). Kelembagaan petani dibentuk pada dasarnya mempunyai beberapa peran,
yaitu:
1. Tugas dalam organisasi (interorganizational task) untuk memediasi
masyarakat dan negara
2. Tugas sumberdaya (resource tasks) mencakup mobilisasi sumberdaya
lokal (tenaga kerja,modal, material, informasi) dan pengelolaannya
dalam pencapaian tujuan masyarakat
3. Tugas pelayanan (service tasks) mungkin mencakup permintaan
pelayanan yang menggambarkan tujuan pembangunan atau koordinasi
permintaan masyarakat lokal
4. Tugas antar organisasi (extra-organizational task) memerlukan
adanya permintaan lokal terhadap birokrasi atau organisasi luar
masyarakat terhadap campurtangan oleh agen-agen luar (Uphoff dan
Garkovich, 1989 dalam M.Faesal M., 2013)

.
BAB 3
METODOLOGI

3.1 Metode Dasar Pelaksanaan


Pelaksanaan praktikum ini dilaksanakan dengan tim melakukan pemilihan
desa yang akan di survey, dengan kriteria memilih desa yang mempunyai
kelembagaan dan atau kelompok tani. setelahmetode yang memusatkan perhatian
pada permasalahan kelembagaan ekonomi yang terjadi pada masa sekarang dan
bertitik tolak dari data yang dikumpulkan, dianalisis, dan disimpulkan
berdasarkan data yang diperoleh dari pengurus kelembagaan dan petani.
3.2 Teknik Pengumpulan Data
1. Survey Lapang
Survey lapang dilakukan oleh perwakilan dari masing-masing kelompok
dan di dampingi oleh asisten praktikum dengan mengunjungi desa yang
akan dianalisis kelembagaan ekonominya yaitu Desa Selorejo, Kecamatan
Dau, Kabupaten Malang pada hari Senin,7 November 2017.
2. Wawancara
Pada tahap wawancara, mahasiswa mendatangi para petani secara
langsung untuk memperoleh data yang objektif dan relevan mengenai
kelembagaan ekonomi Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten
Malang. Wawancara dipandu dengan kuisioner yang telah tersedia atau
yang disediakan oleh asisten praktikum meliputi kuisioner untuk petani
yang ikut serta dalam kelembagaan atau kelompok tani (pengurus
kelompok tani) dan kuisioner untuk petani biasa (yang bukan pengurus
kelembagaan atau kelompok tani). Proses wawancara dilakukan dengan
teknis satu orang perwakilan kelompok untuk mewawancarai pengurus
kelembagaan dan sisa anggota kelompok mewawancarai petani.
3. Pencatatan data
Tahap ini dilakukan dengan cara mencatat data-data hasil wawancara yang
diperlukan meliputi kegiatan-kegiatan desa terutama kelembagaan
ekonomi desa yang bersumber dari pengurus kelembagaan dan petani.
3.3 Sumber Data
Sumber data yang diperoleh adalah data primer yaitu data yang diperoleh dari
petani secara langsung dengan mewawancarai pengurus kelembagaan dan petani
melalui kuisioner yang telah disediakan. Data tersebut meliputi hal-hal yang
berkaitan dengan ekonomi pertanian Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten
Malang seperti identifikasi lokasi dan kelembagaan, gambaran umum
identitas/profil kelembagaan, peran dan fungi kelembagaan ekonomi pertanian,
akses petani/masyarakat terhadap kelembagaan ekonomi pertanian, identitas
petani, peran kelembagaan/unit usaha bagi petani dan akses petani/masyarakat
terhadap kelembagaan/unit usaha.
3.4 Metode Analisis Data

Menganalisis data yaitu dilakukan dengan menganalisis data-data berdasarkan


data yang diperoleh dari mewawancarai pengurus kelembagaan dan petani di desa
Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang . Data yang diperoleh dianalisis
sampai menemukan data yang diperlukan. Dan menggabungkan penjelasan
berdasarkan teori-teori dan hasil wawancara yang relevan.
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Wilayah


Desa Solorejo merupakan desa yang berada di Kbupaten Malang tepatnya di
Kecamatan Dau. Desa memiliki lahan pemukiman seluas 39,5 ha dan lahan
pertanian seluas 410,47 ha yang mayoritas ditanami tanaman tahunan berupa
jeruk. Secara geografis Desa Solorejo berada di ketinggian 700mdpl, udara yang
dingin dan sejuk mendukung untuk berkembangnya budidaya tanaman jeruk,
secara umum Desa Solorejo sudah menjadi desa Agrowisata namun secara
infrastruktur masih butuh pembenahan
4.2 Kondisi Kelompok Tani dan Lembaga Tani di Desa Solorejo
Dari hasil wawancara yang kami lakukan kepada salahsatu petani jeruk
bernapa pak Antok Irawan, beliau memaparkan bahwa kelambagaan di desa
Solorejo kusus nya kelompok tani yang bernama Sumber Makmur, sedang
mengalami masa pembangunan kembali karena sempat tidak aktif pada masa
sebelumnya, pak Antok sendiri sebagai pelaku yang men inisiatifkan pengaktivan
kembali kelompok tani, selama ini permodalan dalam usaha pertanian jeruk yang
dilakukan oleh pak Antok masih mengandalkan utang dari bank sbagai modal dan
juga memanfaatkan kerabat dekat untuk membantu terkait sarana pendukung
dalam usaha tani seperti, pupuk, pestisida, herbisida dan beberapa peralatan
lainnya sebagai hutang, yang kemudian akan dibayar ketika memasuki musim
panen jeruk.
Selanjutnya kami mewanwancarai salahsatu anggota kelompok tani
Sumbermakmur yaitu pak Yanto. Beliau juga memaparkan bahwa, kekurangan
dari kelompok tani Sumber Makmur ialah tidak memiliki teknologi pertanian
yang memadai. Kerena selama 4 tahun terahir kelompom tani Sumber Makmur
vacum sehingga tahun ini sedang melakukan perapihan kembali. Beliau
menuturkan tidak adanya lembaga koprasi desa sehingga para petani berkerjasama
dengan bank BRI untuk peminjaman modal usaha pertaian, modal usaha akan
dikembalikan dalam kurun waktu 2 tahun sebanyak 2 kali ansuran, masyarakat
pun menanggapinya dengan antusias, namun hasil dari kerjasama tersebut belum
bisa mencapai hasil yang diinginkan, seperti harga yang tidak stabil, tidak adanya
perusahaan atau suplyer yang mebantu kelembagaan koelompok tani di desa
Solorejo dll. Beliau mengharapkan adanya kerjasama dari pemerintah untuk
membantu kelembagaan di Desa Solorejo
4.3 Menjawab Rumusan Masalah
Kelompok tani di Desa Solorejo memuai kembali setelah vacum selama 4
tahun sehingga butuh banyak bantuan baik dari pemerintah ataupun instansi
suwasta untuk membenahi keorganisasian kelompok tani khususnya kelompok
tani Sumber Makmur. Fungsi kelmpok tani juga belum berjalan dengan baik
karena belum adanya bantuan secara ril dari kelompok tani kepada anggotanya
sehingga butuh adanya modal dan arahan untuk bisa menghidupkan koprasi desa

Beri Nilai