Anda di halaman 1dari 8

1.

1 Indikasi
Indikasi untuk histeroskopi dapat dibagi menjadi dua, yaitu indikasi
diagnostic dan terapeutik. Beberapa indikasi histeroskopi antara lain adalah
pada perdarahan uterus abnormal (PUA), infertilitas, adhesi intrauterine, polip
dan fibroid, sterilisasi, dan obtruksi tuba proksimal.1 Beberapa indikasi
lainnya adalah :
Tabel 1. Indikasi Histeroskopi Diagnostik dan Operatif. 1
Diagnosis
Evaluasi perdarahan uterus abnormal
Pemeriksaan lanjutan pada kasus infertilitas (kombinasi dengan laparoskopi atau
ultrasonografi 3 dimensi).
Evaluasi lanjutan pada temuan ultrasonografi uterus yang abnormal. Evaluasi
lanjutan pada hasil biopsi endometrium yang abnormal. Biopsi endometrium

Terapi
Miomektomi (mioma intracavitary dan beberapa mioma intramural)
Polipektomi endometrium
Pembuangan lesi pada endoservik.
Pengambilan benda asing (misalnya, laminaria, malposisi alat intrauterine, hasil
konsepsi yang tertahan)
Eksisi adhesi intrauterine
Perbaikan septum uteri
Ablasi/reseksi
endometrium. Sterilisasi
histeroskopik
Tuboplasti atau kanulasi.

a. Perdarahan Uterus Abnormal (PUA)


Perdarahan uterus abnormal (PUA) merupakan indikasi utama untuk
histeroskopi, terutama pada perempuan premenopause. Histeroskopi hampir
menggantikan kuretase dalam penatalaksanaan PUA, karena dapat
memberikan visualisasi langsung dan diagnosis terhadap abnormalitas
intrauterine, dan terkadang dapat langsung dilakukan terapi. Histeroskopi juga
memungkinkan tindakan biopsy dapat segera dilakukan. Pemeriksaan biopsy
penting dilakukan untuk membedakan lesi jinak, premaligna atau maligna.1,2
Untuk mendiagnosis penyebab PUA, perlu dilakukan pendekatan
lengkap untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain, seperti faktor
endokrin atau hormonal, lesi jinak intrauterine, premaligna atau lesi maligna.
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan antara lain pemeriksaan darah
lengkap, apusan darah tepi dan profil koagulasi untuk menyingkirkan
koagulopati. 1,2
Histeroskopi diagnosis pada abnormalitas intrakavitas pada perempuan
dengan PUA memiliki sensitifitas sebesar 94% dan spesitifitas sebesar 89%.3
b. Infertilitas
Histeroskopi bukanlah bagian dari pemeriksaan rutin pada pasien
infertilitas, metode ini adalah yang terbaik untuk mengkonfirmasi hasil
histerosalfingogram yang abnormal. Metode tersebut memiliki tingkat false
positif yang signifikan akibat gangguan dari darah pada kavitas uteri, mucus,
debris dan atau gelembung udara. 1
Lesi intrakavitas sering menjadi penyebab dari infertilitas, dan
pengangkatan lesi tersebut dapat meningkatkan fertilitas. Secara keseluruhan,
kemungkinan hamil pada pasien infertile yang sebelumnya melakukan
prosedue histeroskopik polipektomi adalah sebesar 50-78%.1,4
c. Adhesi intrauterine
Skar yang terbentuk akibat trauma postpartum atau postabortal dapat
menyebabkan gangguan menstruasi seperti hipomenorhea, dan amenorrhea,
serta infertilitas, bergantung pada luasnya oklusi kavum uteri. Prevalensi
adhesi intrauterine pada populasi umum berkisar 1.5% dan biasanya terjadi
pada pasien yang sudah memiliki riwayat melakukan kuretase sebanyak 3 kali
atau lebih. Histeroskopi merupakan gold standar untuk mendiagnosis dan
menatalaksana adhesi ini.1
Apabila gejala pasien adalah perdarahan abnormal, terapi histeroskopi
memiliki kesuksesan 88-98% dalam mengembalikan siklus menstruasi
normal. Bila tidak ada penyebab lain, 79% pasien yang diterapi dapat kembali
hamil normal. 1,2
d. Polip dan Submukosa Leimyoma
Histeroskopi merupakan metode terbaik untuk mendiagnosis dan
melakukan konfirmasi polip endometrium atau leimyoma submukosa.
Diagnosis polip endometrium melalui histeroskopi memiliki sensitivitas
sebesar 94% dan spesitifitas sebesar 92%. Pada leimyoma submukosa,
diagnosis menggunakan histeroskopi memilliki sensitivitas 87% dan
spesitifitas 95%. Ada banyak manfaat reseksi histeroskopi, antara lain adalah
menghindari tindakan laparotomy, insisi uteri, dan rawat inap di rumah sakit. 3

1.2 Kontraindikasi
Kontraindikasi absolut dari histeroskopi adalah pelvic inflammatory
disease dan perdarahan uteri yang bersifat profuse. Pelvic inflammatory
disease menjadi kontraindikasi absolut karena adanya potensi penyebaran
infeksi, baik melalui aliran darah dan limfa, maupun melalui tuba falopi
menuju ke kavum peritoneal. Perdarahan uteri yang profuse dapat membuat
prosedur histeroskopi menjadi tidak praktis dengan penggunaan medium
pengembang apapun. 1
Kontraindikasi relatif dari histeroskopi antara lain adalah kehamilan,
keganasan serviks, menstruasi, stenosis servikal, adanya riwayat perforasi
uteri dalam waktu dekat dan operator yang tidak berpengalaman.1
Histeroskopi dikontraindikasikan selama kehamilan, karena adanya
kemungkinan infeksi atau interupsi dari kehamilan itu sendiri yang jauh lebih
besar dibandingkan manfaat dari histeroskopi sendiri. Namun, pada beberapa
kondisi, seperti pengangkatan alat kontrasepsi dalam rahim yang misposisi
pada awal kehamilan, visualisasi masih dapat dilakukan pada beberapa pasien,
dengan menggunakan teknik yang dimodifikasi untuk menurunkan
kemungkinan interupsi kehamilan.1
Pada keadaan malignansi servikal, manipulasi pada area tersebut harus
dihindari agar menurunkan risiko metastasis. Histeroskopi juga tidak boleh
dilakukan selama menstruasi untuk menghindari risiko infeksi dari jaringan
nekrotik, darah menstruasi dapat terdorong ke tuba falopi dan masuk ke
kavitas peritoneal melalui distensi. 1
Pada keadaan dimana kanal endoservikal tidak dapat berdilatasi secara
adekuat untuk memasukan endoskopi, histeroskopi tidak dapat dilakukan.
Apabila uterus tidak dapat terdistensi secara adekuat akibat adanya defek pada
dinding uteri, pemeriksaan histeroskopi juga tidak dapat dilakukan. Terakhir,
operator yang terlatih dan berpengalaman dapat melakukan teknik secara
benar dan diharapkan akan menurunkan angka komplikasi, sehingga dapat
menjadi salat satu pertimbangan dalam melakukan histeroskopi.1,2

1.3 Komplikasi
a. Komplikasi Terkait Prosedur
Komplikasi terkait prosedur yang dapat terjadi pada histeroskopi
kebanyakan mirip dengan komplikasi pada tindakan manipulasi intrauterine
lainnya seperti kuretase, yaitu laserasi serviks oleh tenakulum, perforasi uteri,
perdarahan, dan infeksi.1
Laserasi serviks akibat tenakulum dapat terjadi ketika sering dilakukan
traksi, namun dapat dengan mudah diperbaiki dengan melakukan penjahitan
dan mencegahnya dengan manipulasi yang lebih berhati-hati. 1
Insidensi perforasi uterus yang dilaporkan selama histeroskopi operatif
bervariasi dari 0,8% sampai 3% . Faktor risiko termasuk nulliparitas, stenosis
serviks, menopause, ablasi endometrium sebelumnya, SC berulang,
penggunaan agonists gonadotropin-releasing hormone, cone biopsy
sebelumnya, retroversi uterus, dan pemasukan alat yang terlalu kuat. Sangat
penting untuk melakukan pemeriksaan panggul sebelum melakukan
histeroskopi, karena ini akan menentukan arah kemana hysteroscope
dimasukkan. Dilatasi serviks adekuat mengurangi gaya yang dibutuhkan
untuk pemasukan. Dilatasi minimal diperlukan pada histeroskopi diagnostik,
tapi histeroskopi operatif memerlukan os internal yang dilebarkan menjadi 8
mm sampai 10 mm. Perawatan ekstra dan tindakan pencegahan harus diambil
pada wanita yang memiliki riwayat sesar sebelumnya, miomektomi, atau
perforasi uterus karena faktor-faktor ini dapat menyebabkan kelemahan
miometrium dan peningkatan risiko perforasi. Visualisasi lengkap terhadap
uterus penting selama histeroskopi operatif, dan dokter sebaiknya tidak
melanjutkan prosedur jika visualisasi tidak memadai.Perforasi ini dapat
dicegah dengan cara mencegah insersi endoskop lebih sampai penglihatan
terhadap kavum uteri adekuat akibat distensi uteri. 1,4
Ketika komplikasi terjadi, penatalaksanaan bervariasi bergantung pada
ukuran dan lokasi perforasi. Ketika terjadi perforasi, prosedur histeroskopi
harus segera dihentikan dan pasien segera dilakukan observasi untuk melihat
tanda-tanda dekompensasi. Ketika perforasi cukup besar, evaluasi lebih lanjut
diperlukan termasuk laparoskopi untuk menilai perdarahan dan mencapai
hemostasis. 1,4
Perdarahan berlebihan intra dan pasca operasi jarang terjadi.
Perdarahan intraoperatif sering dapat dikelola dengan elektrokauter langsung
jika area perdarahan diidentifikasi berasal dari dalam uterus. Injeksi
vasopressin encer intracervical juga telah terbukti mengurangi perdarahan
intraoperatif. Vasopresin menginduksi kontraksi otot polos kapiler uterus,
arteriole kecil, dan venula. Penggunaannya dianjurkan bila operasi
berlangsung lama, lesi yang besar, atau reseksi miometrium yang dalam. Jika
visualisasi tidak jelas karena darah, 30 mL kateter Foley dimasukkan ke
dalam uterus, dikembangkan, dan dibiarkan didalam dapat menghentikan
perdarahan. Dalam kasus perdarahan aktif dan visualisasi yang buruk,
prosedur harus dihentikan.4
Infeksi, meskipun jarang terjadi, biasanya berhubungan dengan
desinfeksi dan sterilisasi alat yang tidak adekuat. Pemilihan alat yang baik,
evaluasi dan sterilisasi alat yang baik dapat mencegah komplikasi ini. Untuk
mencegah kontaminasi dari kanalis servikalis dan kavitas uteri, teknik steril
harus dipertahankan dan harus selalu mengikuti protokol.1
b. Komplikasi Terkait Medium
Komplikasi terkait media dan tingkat keparahan bervariasi
berdasarkan jenis media pengembang yang digunakan. Risiko terbesar
morbiditas dan mortalitas pada histeroskopi operatif adalah penyerapan cairan
intravaskular berlebihan. Absorpsi cairan dipengaruhi oleh luas permukaan
bidang bedah, durasi operasi, saluran vena terbuka, vaskularisasi dari lesi
(misalnya, reseksi dari fibroid dengan banyak pembuluh darah), tekanan
intrauterine, dan jenis cairan yang digunakan. Pemantauan berkala terhadap
defisit cairan sangat penting. Sebuah pompa cairan otomatis atau perawat
khusus yang menghitung input dan output sangat penting bagi keselamatan
pasien. 5
Penyerapan sistemik berlebihan dari larutan elektrolit bebas (misalnya,
glisin, sorbitol, mannitol) dapat menyebabkan hiponatremia. Jika defisit
cairan tidak terdiagnosis atau tidak dikelola secara aktif, komplikasi serius
dapat berkembang. Tanda-tanda hiponatremia meliputi agitasi, nausea,
muntah, sakit kepala, penglihatan kabur, dan kejang.5
BAB III

KESIMPULAN

(Nin,kopas sub bab kamu ya). Terdapat beberapa indikasi prosedur histeroskopi,
antara lain pada perdarahan uterus abnormal (PUA), infertilitas, adhesi intrauterine,
polip dan fibroid, sterilisasi, dan obtruksi tuba proksimal. Kontraindikasi ablosut pada
prosedur histeroskopi adalah pelvic inflammatory disease dan perdarahan uteri
profuse. Kontraindikasi relatifnya meliputi kehamilan, keganasan serviks, menstruasi,
stenosis servikal, adanya riwayat perforasi uteri dalam waktu dekat dan operator
yang tidak berpengalaman. Terdapat beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada
prosedur histeroskopi, dibagi menjadi komplikasi akibat prosedur dan akibat media
pengembang. Komplikasi akibat prosedur yang dapat terjadi antara lain laserasi
serviks oleh tenakulum, perforasi uteri, perdarahan, dan infeksi. Komplikasi akibat
medium pengembang antara lain adalah kelebihan cairan, dan kelebihan cairan
dengan larutan elektrolit bebas.
Daftar Pustaka

1. Rafael, F.V. John, J. Thomas, J.W. Manual of Clinical Hysteroscopy 2nd


edition. New York: Parthenon Publishing; 2005. p. 25-39.
2. Luca, M., Luiz, C.A.N., Alfonso, A.A. Manual of Hysteroscopy: Diagnostic,
Operative and Office Hysteroscopy. Germany: Endo Press; 2013. P. 19-39.
3. Van Dongen, H., De Kroon, C. D., Jacobi, C. E., Trimbos, J. B., & Jansen, F.
W. (2007). Diagnostic hysteroscopy in abnormal uterine bleeding: a systematic
review and metaanalysis. BJOG: An International Journal of Obstetrics &
Gynaecology, 114(6), 664-675.
4. Jansen et al. Hysteroscopy Complications. Vol 96. No.2. The American College
of Obstetricians and Gynecologists. Published by Elsevier Science Inc. August
2000. 265-270
5. Worldwide, A. A. M. I. G. (2013). AAGL practice report: practice guidelines
for the management of hysteroscopic distending media:(replaces hysteroscopic
fluid monitoring guidelines. J Am Assoc Gynecol Laparosc. 2000; 7: 167
168.). Journal of minimally invasive gynecology, 20(2), 137-148.