Anda di halaman 1dari 32

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Praktikan ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penyusunan Laporan Praktikum Ilmu Gulma ini
dapat terselesaikan dengan baik tanpa kendala.

Maksud dan tujuan penyusunan Laporan Praktikum Ilmu Gulma ini adalah
untuk melengkapi persyaratan Mata Perkuliahan Ilmu Gulma pada semester ganjil ini.

Adapun penyusunan Laporan Praktikum ini berdasarkan data-data yang


Praktikan peroleh selama melakukan Praktek Lapang dan Laboratorium, serta data-
data dan keterangan dari asisten praktikum.

Dengan segala kerendahan hati, izinkan penulis mengucapkan terima kasih


kepada semua pihak yang terkait,yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
laporan ini. Semoga kebaikan yang diberikan oleh semua pihak kepada
penulis menjadi amal sholeh yang senantiasa mendapat balasan dan kebaikan yang
berlipat ganda dari Allah Subhana wa Taala. Amin

Demikian kata pengantar ini Praktikan buat, semoga dapat bermanfaat,


khususnya bagi Praktikan dan pembaca pada umumnya.

Padang, 21 November 2017

Penulis
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada umumnya dipandang dari manfaat yang didapat, tumbuhan dibagi
menjadi dua yaitu, tanaman yaitu tumbuhan yang menguntungkan dan
dibudidayakan dan tumbuhan yang merugikan. Tumbuhan yang menguntungkan
yaitu tumbuhan yang dibudidayakan oleh manusia atau sengaja untuk ditanam karena
mempunyai nilai ekonomis yang menjanjikan. Sedangkan tumbuhan yang merugikan
atau tumbuhan yang tidak dikehendaki dalam dunia pertanian disebut gulma (weed).
Perkembangan pertanian dewasa ini menunjukan kemajuan yang semakin
pesat, namun demikian, banyak segi yang secara langsung atau tidak langsung dapat
memacu pertumbuhan gulma, seperti penanaman dalam baris, jarak tanam yang
lebar, mekanisasi, pengairan, penggunaan bahan-bahan kimia berupa pupuk dan
pestisida. Berarti dengan meningkatnya intensifikasi pertanian maka masalah gulma
tidaklah semakin ringan, tetapi justru semakin berat. Keadaan suhu yang relatif tinggi,
cahaya matahari yang melimpah, dan curah hujan yang cukup untuk daerah tropik
juga mendorong gulma untuk tumbuh subur. Akibatnya gulma menjadi masalah
dalam budidaya tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, perairan dan lahan non
pertanian lainnya.
Gulma antara lain didefinisikan sebagai tumbuh-tumbuhan yang tumbuh pada
tempat yang tidak dikehendaki menusia. Hal ini berarti tumbuhan tersebut merugikan
baik secara langsung atau tidak langsung, atau bahkan kadang-kadang juga belum
diketahui kerugian atau kegunaannya. Oleh karena itu, batasan untuk gulma ini
sebetulnya sangat luas sehingga dapat mencakup semua jenis tanaman dalam dunia
tumbuh-tumbuhan. Jenis gulma yang tumbuh biasanya sesuai dengan kondisi
perkebunan. Misalnya pada perkebunan yang baru diolah, maka gulma yang dijumpai
kebanyakan adalah gulma semusim, sedang pada perkebunan yang elah lama
ditanamai, gulma yang banyak terdapat adalah dari jenis tahunan.
Kehadiran gulma pada lahan pertanian atau pada lahan perkebunan dapat
menimbulkan berbagai masalah. Secara umum masalah-masalah yang
ditimbulkan gulma pada lahan tanaman budidaya ataupun tanaman pokok adalah
sebagai berikut.
1. Terjadinya kompetisi atau persaingan dengan tanaman pokok (tanaman
budidaya) dalam hal: penyerapan zat makanan atau unsur-unsur hara di dalam
tanah, penangkapan cahaya, penyerapan air dan ruang tempat tumbuh.
2. Sebagian besar tumbuhan gulma dapat mengeluarkan zat atau cairan yang
bersifat toksin (racun), berupa senyawa kimia yang dapat mengganggu dan
menghambat pertumbuhan tanaman lain disekitarnya. Peristiwa tersebut dikenal
dengan istilah allelopati.
3. Sebagai tempat hidup atau inang, maupun tempat berlindung hewan-hewan kecil,
insekta dan hama sehingga memungkinkan hewan-hewan tersebut dapat
berkembang biak dengan baik. Akibatnya hama tersebut akan menyerang dan
memakan tanaman pokok ataupun tanaman budidaya.
4. Mempersulit pekerjaan diwaktu panen maupun pada saat pemupukan.
5. Dapat menurunkan kualitas produksi (hasil) dari tanaman budidaya, misalnya
dengan tercampurnya biji-biji dari gulma yang kecil dengan biji tanaman budidaya.
Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan
proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil
karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis,
karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Gulma merupakan salah
satu kendala utama usahatani di lahan pasang surut. Gulma, yang merupakan pesaing
tanaman dalam pemanfaatan unsur hara, air, dan ruang, ditaksir ada sekitar 120 jenis.
Sebagian gulma juga menjadi tempat hidup dan tempat bernaung hama dan penyakit
tanaman, serta menyumbat saluran air ( E.Sutisna Noor, 1997). Gulma secara
langsung maupun tidak langsung merugikan tanaman budidaya. Pengenalan suatu
jenis gulma dapat dilakukan dengan melihat keadaan morfologinya, habitatnya, dan
bentuk pertumbuhanya.
Berdasarkan keadaan morfologinya, dikenal gulma rerumputan (grasses), teki-
tekian (sedges), dan berdaun lebar (board leaf). Golongan gulma rurumputan
kebanyakan berasal dari famili gramineae (poaceae). Ukuran gulma golongan
rerumputan bervariasi, ada yang tegak, menjalar, hidup semusim, atau tahunan.
Batangnya disebut culms, terbagi menjadi ruas dengan buku-buku yang terdapat
antara ruas. Batang tumbuh bergantian pada dua buku pada setiap antara ruas daun
terdiri dari dua bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun., contoh gulma
rerumputan Panicium repens, Eleusine indica, Axonopus compressus dan masih
banyak lagi. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma
utama, seperti teki dan alang-alang. Ilmu yang mempelajari gulma, perilakunya, dan
pengendaliannya dikenal sebagai ilmu gulma.
Dalam identifikasi gulma yang perlu diperhatikan yaitu, cara penyebaran
gulma atau perkembangbiakan gulma, bentuk morfologi dan berdasarkan siklus
hidupnya. Dalam mengidentifikasi gulma dapat ditempuh satu atau kombinasi dari
sebagian atau seluruh cara-cara dibawah ini: Membandingkan gulma tersebut dengan
material yang telah diidentifikasi di herbarium, konsultasi langsung dengan para ahli
dibidang yang bersangkutan, mencari sendiri melalui kunci identifikasi,
membandingkan dengan determinasi yang ada, membandingkan dengan ilustrasi
yang tersedia.
Kehadiran gulma pada suatu pertanaman berkaitan dengan deposit biji
gulma di dalam tanah. Biji gulma dapat tersimpan dan bertahan hidup selama puluhan
tahun dalam kondisi dorman,dan akan berkecambah ketika kondisi lingkungan untuk
perkecambahan dapat terpenuhi. Untuk perkecambahan biji gulma perlu cahaya, air,
susu, oksigen dan kelembaban. Terangkatnya biji gulma ke lapisan atas peemukaan
tanah maka akan mendapatkan cahaya dan oksigen, serta tersedianya kelembaban
yang sesuai untuk perkecambahan mendorong gulma untuk tumbuh dan berkembang
( Barus, 2003).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ilmu gulma adalah untuk mengenal jenis-jenis gulma
serta dapat mengklasifikasikan guma serta mengetahui bagaimana cara pengendalian
yang harus dilakukan dengan tepat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Gulma


Gulma adalah tumbuhan yang tumbuhnya salah tempat. Sebagai tumbuhan,
gulma selalu berada di sekitar tanaman yang dibudidayakan dan berasosiasi
dengannya secara khas. Gulma adalah tumbuhan yang mudah tumbuh pada setiap
tempat yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai yang kaya
nutrisi. Sifat inilah yang membedakan gulma dengan tanaman yang dibudidayakan
(Moenandir, 1990).
Nurmata (1971) memandang gulma dari niche/relung/tempat berfungsinya.
Berdasarkan relungnya maka vegetasi dapat dibedakan menjadi tanaman (crop),
gulma (weed), tumbuhan ruderal dan tumbuhan liar. Tanaman adalah tumbuhan yang
dibudidayakan, karena itu diinginkan manusia. Gulma merupakan tumbuhan yang
tumbuh pada waktu, tempat, dan kondisi yang tidak dinginkan manusia. Tumbuhan
ruderal adalah tumbuhan yang tidak dibudidayakan, tumbuh pada habitat alami yang
terganggu (ruderal) tetapi bukan digunakan untuk tujuan produksi. Sedangkan
tumbuhan liar adalah tumbuhan yang tumbuh pada habitat alami (Sukman dan Yakup,
1991).

2.2 Jenis jenis Gulma

Berdasarkan keadaan morfologinya, dikenala gulma rerumputan (grasses),


teki tekian (sedges), dan berdaun lebar (board leaf).

Golongan gulma rurumputan kebanyakan berasal dari famili gramineae


(poaceae). Ukuran gulma golongan rerumputan bervariasi, ada yang tegak, menjalar,
hidup semusim, atau tahunan. Batangnya disebut culms, terbagi menjadi ruas dengan
buku-buku yang terdapat antara ruas. Batang tumbuh bergantian pada dua buku pada
setiap antara ruas daun terdiri dari dua bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun.,
contoh gulma rerumputan Panicium repens, Eleusine indica, Axonopus compressus
dan masih banyak lagi.

Golongan teki-tekian kebanykan berasal dari famili Cyperaceae. Golongan ini


dari penampakanya hampir mirip dengan golongan rerumputan, bedanya terletak
pada bentuk batangnya. Batang dari golongan teki-tekian berbentuk segitiga. Selain
itu golongan teki-tekian tidak memiliki umbi atau akar ramping di dalam tanah.
Contoh golongan teki-tekian: Cyprus rotundus, Cyprus compresus.

Golongan gulma berdaun lebar antara lain: Mikania spp, Ageratum


conyzoides, Euparotum odorotum. Berdasarkan habitat tumbuhnya, dikenal gulma
darat, dan gulma air. Gulma darat merupakan gulma yang hidup didarat, dapat
merupakan gulma yang hidup setahun, dua tahun, atau tahunan (tidak terbatas).
Penyebaranya dapat melalui biji atau dengan cara vegetatif. Contoh gulma darat
diantaranya Agerathum conyzoides, Digitaria spp, Imperata cylindrical, Amaranthus
spinosus. Gulma air merupakan gulama yang hidupnya berada di air. Jenis gulma air
dibedakan menjadi tiga, yaitu gulma air yang hidupnya terapung dipermukaan air
(Eichhorina crassipes, Silvinia spp), gulma air yang tenggelam di dalam air
(Ceratophylium demersum), dan gulma air yang timbul ke permukaan tumbuh dari
dasar (Nymphae sp, Sagitaria spp).

Cara klasifiikasi pada tumbuhan ada dua macam yaitu buatan (artificial) dan
alami (natural). Pada klasifikasi sistem buatan pengelompokan tumbuhan hanya
didasarkan pada salah satu sifat atau sifat-sifat yang paling umum saja, sehingga
kemungkinan bisa terjadi beberapa tumbuhan yang mempunyai hubungan erat satu
sama lain dikelompokan dalam kelompok yang terpisah dan sebaliknya beberapa
tumbuhan yang hanya mempunyai sedikit persamaan mungkin dikelompokan
bersama dalam satu kelompok. Hal demikian inilah yang merupakan kelemahan
utama dari klasifikasi sistem buatan. Pada klasifikasi sistem alami pengelompokan
didasarkan pada kombinasi dari beberapa sifat morfologis yang penting. Klasifikasi
sistem alami lebih maju daripada klasifikasi sistem buatan, sebab menurut sistem
tersebut hanya tumbuh-tumbuhan yang mempunyai hubungan filogenetis saja yang
dikelompokan ke dalam kelompok yang sama.

2.3 Jenis dan Klasifikasi Gulma

Cara klasifikasi pada gulma cenderung mengarah ke sistem buatan. Atas dasar
pengelompokan yang berbeda, maka kita dapat mengelompokan gulma menjadi
kelompok-kelompok atau golongan-golongan yang berbeda pula. Gulma dapat
dikelompokan seperti berikut ini :

1. Berdasarkan siklus hidupnya, gulma dapat dikelompokan menjadi :

1. Gulma setahun (gulma semusim, annual weeds), yaitu gulma yang


menyelesaikan siklus hidupnya dalam waktu kurang dari satu tahun atau paling lama
satu tahun (mulai dari berkecambah sampai memproduksi biji dan kemudian mati).
Karena kebanyakan umurnya hanya seumur tanaman semusim, maka gulma tersebut
sering disebut sebagai gulma semusim. Walaupun sebenarnya mudah dikendalikan,
tetapi kenyataannya kita sering mengalami kesulitan, karena gulma tersebut
mempunyai beberapa kelebihan yaitu umurnya pendek, menghasilkan biji dalam
jumlah yang banyak dan masa dormansi biji yang panjang sehingga dapat lebih
bertahan hidupnya. Di Indonesia banyak dijumpai jenis-jenis gulma setahun,
contohnya Echinochloa crusgalli, Echinochloa colonum, Monochoria vaginalis,
Limnocharis flava, Fimbristylis littoralis dan lain sebagainya.
2. Gulma dua tahun (biennial weeds), yaitu gulma yang menyelesaikan siklus
hidupnya lebih dari satu tahun, tetapi tidak lebih dari dua tahun. Pada tahun pertama
digunakan untuk pertumbuhan vegetatif menghasilkan bentuk roset dan pada tahun
kedua berbunga, menghasilkan biji dan kemudian mati. Pada periode roset gulma
tersebut sensitif terhadap herbisida. Yang termasuk gulma dua tahun yaitu Dipsacus
sylvestris, Echium vulgare, Circium vulgare, Circium altissimum dan Artemisia biennis.
3. Gulma tahunan (perennial weeds), yaitu gulma yang dapat hidup lebih dari dua
tahun atau mungkin hampir tidak terbatas (bertahun-tahun). Kebanyakan
berkembang biak dengan biji dan banyak diantaranya yang berkembang biak
secara vegetatif. Pada keadaan kekurangan air (di musim kemarau) gulma
tersebut seolah-olah mati karena bagian yang berada di atas tanah mengering,
akan tetapi begitu ada air yang cukup untuk pertumbuhannya akan bersemi
kembali.
4. Berdasarkan cara berkembangbiaknya, gulma tahunan dibedakan menjadi dua :
1. a. Simple perennial, yaitu gulma yang sebenarnya hanya berkembang biak
dengan biji, akan tetapi apabila bagian tubuhnya terpotong maka potongannya
akan dapat tumbuh menjadi individu baru. Sebagai contoh Taraxacum sp. dan
Rumex sp., apabila akarnya terpotong menjadi dua, maka masing-masing
potongannya akan tumbuh menjadi individu baru.
2. b. Creeping perennial, yaitu gulma yang dapat berkembang biak dengan akar
yang menjalar (root creeping), batang yang menjalar di atas tanah (stolon) atau
batang yang menjalar di dalam tanah (rhizoma). Yang termasuk dalam golongan
ini contohnya Cynodon dactylon, Sorgum helepense, Agropyron repens, Circium
vulgare. Beberapa diantaranya ada yang berkembang biak dengan umbi (tuber),
contohnya Cyperus rotundus dan Helianthus tuberosus. Contoh gulma tahunan
populer yang perkembangbiakan utamanya dengan rhizoma adalah alang-alang
(Imperata cylindrica). Dengan dimilikinya alat perkembangbiakan vegetatif, maka
gulma tersebut sukar sekali untuk diberantas. Adanya pengolahan tanah untuk
penanaman tanaman pangan atau tanaman setahun lainnya akan membantu
perkembangbiakan, karena dengan terpotong-potongnya rhizoma, stolon atau
tubernya maka pertumbuhan baru akan segera dimulai dan dapat tumbuh
berkembangbiak dengan pesat dalam waktu yang tidak terlalu lama apabila air
tercukupi. Adanya pengendalian dengan frekuensi yang tinggi (sering atau
berulang-ulang) baik secara mekanis ataupun secara kimiawi, maka lambat laun
pertumbuhannya akan tertekan juga. Satu cara pengendalian yang efektif, yang
juga diperlukan adalah dengan membunuh kecambah-kecambah yang baru
muncul atau tumbuh di atas permukaan tanah.
3. Berdasarkan habitatnya, gulma dikelompokkan menjadi :
1. Gulma darat (terrestial weeds), yaitu gulma yang tumbuh pada habitat
tanah atau darat. Contoh Cyperus rotundus, Imperata cylindrica,
Cynodon dactylon, Amaranthus spinosus, Mimosa sp. , dan lain
sebagainya.
2. Gulma air (aquatic weeds), yaitu gulma yang tumbuh di habitat air.
Gulma air dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

Gulma air garam (saltwater atau marine weeds), yaitu gulma yang hidup pada
kondisi air seperti air laut, di hutan-hutan bakau. Sebagai contoh Enchalus
acoroides dan Acrosticum aureum.
Gulma air tawar (fresh water weeds), yaitu gulma yang tumbuh di habitat air
tawar. Dikelompokkan lagi ke dalam:
o Gulma yang tumbuh mengapung (floating weeds), contohnya
Eichornia crassipes, Salvinia cuculata, Pistia stratiotes.
o Gulma yang hidup tenggelam (submerged weeds), dibedakan kedalam
:

Gulma yang hidup melayang (submerged not anchored weeds), contoh Ultricularia
gibba.Gulma yang akarnya masuk ke dalam tanah (submerged anchored weeds),
contoh Hydrilla verticillata, Ottelia alismoides, Najas indica, Ceratophyllum
demersum.
Gulma yang sebagian tubuhnya tenggelam dan sebagian mengapung (emerged
weeds), contoh Nymphae spp. , Nymphoides indica.

Gulma yang tumbuh di tepian (marginal weeds), contoh Panicum repens, Scleria
poaeformis, Rhychospora corymbosa, Polygonum sp., Ludwigia sp., Leersia hexandra,
Cyperus elatus.

1. Berdasarkan tempat tumbuhnya, gulma dikelompokkan menjadi :


1. Terdapat di tanah sawah, contohnya Echinochola crusgalli,
Echinochola colonum, Monochoria vaginalis, Limnocharis flava,
Marsilea crenata.
2. Terdapat di tanah kering atau tegalan, contohnya Cyperus rotundus,
Amaranthus spinosus, Eleusine indica.
3. Terdapat di tanah perkebunan besar, contohnya Imperata cylindrica,
Salvinia sp., Pistia stratiotes.
4. Berdasarkan sistematikanya, gulma dikelompokan ke dalam :
1. a. Monocotyledoneae, gulma berakar serabut, susunan tulang daun
sejajar atau melengkung, jumlah bagian-bagian bunga tiga atau
kelipatannya, dan biji berkeping satu. Contohnya Imperata cylindrica,
Cyperus rotundus, Cyperus dactylon, Echinochloa crusgalli, Panicum repens.
2. b. Dicotyledoneae, gulma berakar tunggang, susunan tulang daun
menyirip atau menjari, jumlah bagian-bagian bunga 4 atau 5 atau
kelipatannya, dan biji berkeping dua. Contohnya Amaranthus spinosus,
Mimosa sp., Euphatorium odoratum.
3. c. Pteridophyta, berkembangbiak secara generatif dengan spora. Sebagai
contoh Salvinia sp., Marsilea crenata.
4. Berdasarkan morfologinya, gulma dikelompokan ke dalam :
1. Golongan rumput (grasses), Gulma golongan rumput termasuk dalam familia
Gramineae/Poaceae. Dengan ciri, batang bulat atau agak pipih, kebanyakan
berongga. Daun-daun soliter pada buku-buku, tersusun dalam dua deret,
umumnya bertulang daun sejajar, terdiri atas dua bagian yaitu pelepah daun dan
helaian daun. Daun biasanya berbentuk garis (linier), tepi daun rata. Lidah-lidah
daun sering kelihatan jelas pada batas antara pelepah daun dan helaian daun.
Dasar karangan bunga satuannya anak bulir (spikelet) yang dapat bertangkai atau
tidak (sessilis). Masing-masing anak bulir tersusun atas satu atau lebih bunga kecil
(floret), di mana tiap-tiap bunga kecil biasanya dikelilingi oleh sepasang daun
pelindung (bractea) yang tidak sama besarnya, yang besar disebut lemna dan yang
kecil disebut palea. Buah disebut caryopsis atau grain. Contohnya Imperata
cyliindrica / alang-alang, Echinochloa crusgalli, Cynodon dactylon, Panicum
repens.
2. Golongan teki (sedges), Gulma golongan teki termasuk dalam familia Cyperaceae.
Batang umumnya berbentuk segitiga, kadang-kadang juga bulat dan biasanya
tidak berongga.Daun tersusun dalam tiga deretan, tidak memiliki lidah-lidah daun
(ligula). Ibu tangkai karangan bunga tidak berbuku-buku. Bunga sering dalam bulir
(spica) atau anak bulir, biasanya dilindungi oleh suatu daun pelindung. Buahnya
tidak membuka. Contohnya Cyperus rotundus, Fimbristylis littoralis, Scripus
juncoides.
3. Golongan berdaun lebar (broad leaves), Berbagai macam gulma dari anggota
Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada
akhir masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi
cahaya. Daun dibentuk pada meristem pucuk dan sangat sensitif terhadap
kemikalia. Terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, lebih
banyak dijumpai. Terdapat tunas tunas pada nodusa, serta titik tumbuh terletak
di cabang. Contoh gulma ini ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum
conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), dan putri malu (Mimosa
pudica).
4. Berdasarkan asalnya, gulma dikelompokan ke dalam :
1. Gulma obligat (obligate weeds) adalah gulma yang tidak pernah dijumpai hidup
secara liar dan hanya dapat tumbuh pada tempat-tempat yang dikelola oleh
manusia. Contoh Convolvulus arvensis, Monochoria vaginalis, Limnocharis flava.
2. Gulma fakultatif (facultative weeds) adalah gulma yang tumbuh secara liar dan
dapat pula tumbuh pada tempat-tempat yang dikelola oleh manusia. Contohnya
Imperata cylindrica, Cyperus rotundus Opuntia sp.
3. Berdasarkan parasit atau tidaknya, gulma dibedakan dalam :
1. Gulma non parasit, contohnya Imperata cylindrica, Cyperus rotundus.
2. Gulma parasit, dibedakan lagi menjadi :

1) Gulma parasit sejati, contoh Cuscuta australis (tali putri).

Gulma ini tidak mempunyai daun, tidak mempunyai klorofil, tidak dapat melakukan
asimilasi sendiri, kebutuhan akan makannya diambil langsung dari tanaman inangnya
dan akar pengisapnya (haustarium) memasuki sampai ke jaringan floem.

2) Gulma semi parasit, contohnya Loranthus pentandrus.

Gulma ini mempunyai daun, mempunyai klorofil, dapat melakukan asimilasi sendiri,
tetapi kebutuhan akan air dan unsur hara lainnya diambil dari tanaman inangnya dan
akar pengisapnya masuk sampai ke jaringan silem.

3) Gulma hiper parasit, contoh Viscum sp.

Gulma ini mempunyai daun, mempunyai klorofil, dapat melakukan asimilasi sendiri,
tetapi kebutuhan akan air dan hara lainnya diambil dari gulma semi parasit, dan akar
pengisapnya masuk sampai ke jaringan silem.
2.4 Peran Negativ Gulma

Kehadiran gulma pada lahan pertanian atau pada lahan perkebunan dapat
menimbulkan berbagai masalah. Secara umum masalah-masalah yang
ditimbulkan gulma pada lahan tanaman budidaya ataupun tanaman pokok adalah
sebagai berikut.
1. Terjadinya kompetisi atau persaingan dengan tanaman pokok (tanaman
budidaya) dalam hal: penyerapan zat makanan atau unsur-unsur hara di dalam
tanah, penangkapan cahaya, penyerapan air dan ruang tempat tumbuh.
2. Sebagian besar tumbuhan gulma dapat mengeluarkan zat atau cairan yang
bersifat toksin (racun), berupa senyawa kimia yang dapat mengganggu dan
menghambat pertumbuhan tanaman lain disekitarnya. Peristiwa tersebut dikenal
dengan istilah allelopati.
3. Sebagai tempat hidup atau inang, maupun tempat berlindung hewan-hewan kecil,
insekta dan hama sehingga memungkinkan hewan-hewan tersebut dapat
berkembang biak dengan baik. Akibatnya hama tersebut akan menyerang dan
memakan tanaman pokok ataupun tanaman budidaya.
4. Mempersulit pekerjaan diwaktu panen maupun pada saat pemupukan.
5. Dapat menurunkan kualitas produksi (hasil) dari tanaman budidaya, misalnya
dengan tercampurnya biji-biji dari gulma yang kecil dengan biji tanaman budidaya.
Gulma mengkibatkan kerugian-kerugian yang antara lain disebabkan oleh :
1. Persaingan antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi,
terjadi persaingan dalam pengambilan air, unsur-unsur hara dari tanah, cahaya dan
ruang lingkup.
2. Pengotoran kualitas produksi pertanian, misalnya pengotoran benih oleh biji-biji
gulma.
3. Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi
tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya.
4. Gangguan kelancaran pekerjaan para petani, misalnya adanya duri-
duri Amaranthus spinosus, Mimosa spinosa di antara tanaman yang diusahakan.
5. Perantara atau sumber penyakit atau hama pada tanaman, misalnya Lersia
hexandra dan Cynodon dactylon merupakan tumbuhan inang hama ganjur pada padi.
6. Gangguan kesehatan manusia, misalnya ada suatu gulma yang tepung sarinya
menyebabkan alergi.
7. Kenaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian, misalnya menambah tenaga dan waktu
dalam pengerjaan tanah, penyiangan, perbaikan selokan dari gulma yang menyumbat
air irigasi.
8. Gulma air mngurangi efisiensi sistem irigasi, yang paling mengganggu dan tersebar
luas ialah eceng gondok (Eichhornia crssipes). Terjadi pemborosan air karena
penguapan dan juga mengurangi aliran air. Kehilangan air oleh penguapan itu 7,8 kali
lebih banyak dibandingkan dengan air terbuka. Di Rawa Pening gulma air dapat
menimbulkan pulau terapung yang mengganggu penetrasi sinar matahari ke
permukaan air, mengurangi zat oksigen dalam air dan menurunkan produktivitas air.
Dalam kurun waktu yang panjang kerugian akibat gulma dapat lebih besar
daripada kerugian akibat hama atau penyakit. Di negara-negara sedang berkembang
(Indonesia, India, Filipina, Thailand) kerugian akibat gulma sama besarnya dengan
kerugian akibat hama.
2.5 Peran Positiv Gulma
Gulma juga mempunyai pengaruh positif dalam lingkungan yaitu bermanfaat untuk:
Melindunngi tanah dari erosi
Imperata cylindrica, paspalum, conjugatan, axonopus
Gulma gulma tersebut menjalar pada perakaran tanah sehingga dapat menahan air
sehingga tidak terjadi erosi.
Menyuburkan tanah
Gulma yang dapat menyuburkan tanah yaitu Centrocema pubescens, Rureuria
Javanica.
Sebagai Inang Pengganti
Gulma juga dapat berpperan sebagai predator serangga hama atau pathogen
Sebagai Musuh Alami
Contoh gulma sebagai musuh alami yaitu Cytrohynus lividevenis, Diadema
Ecerophaga
Sebagai Trop Crop
Gulma yang berfungsi sebagai Trop Crop yaitu Tripascum laxum pada teh,
Platylenchus Titonia Diversipolia
Sebagai Tanaman Penghalang
Contohnya Tagetes patula, Meloidgyne Hapla.
Sebagai Herbalium

2.6 Teknik Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara:

1. Preventif (pencegahan)

Cara pencegahan antara lain :

1. Dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma


2. Pencegahan pemakaian pupuk kandang yang belum matang
3. Pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumput makanan
ternak
4. Pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan
5. Pembersihan ternak yang akan diangkut
6. Pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan lain sebagainya.

2. Pengendalian gulma secara fisik

Pengendalian gulma secara fisik ini dapat dilakukan dengan jalan :


a. Pengolahan tanah

Pengolahan tanah menggunakan alat-alat seperti cangkul, garu, bajak, traktor


yang berfungsi untuk memberantas gulma. Efektifitas alat-alat pengolah tanah di
dalam memberantas gulma tergantung beberapa faktor seperti siklus hidup dari
gulma, penyebaran akar, umur dan ukuran infestasi,

b. Pembabatan (pemangkasan, mowing)

Pembabatan umumnya hanya efektif untuk mematikan gulma setahun dan relatif
kurang efektif untuk gulma tahunan. Efektivitas cara ini tergantung pada waktu
pemangkasan, interval (ulangan) Pembabatan sebaiknya dilakukan pada waktu gulma
menjelang berbunga atau pada waktu daunnya sedang tumbuh dengan hebat.

c. Penggenangan

Penggenangan efektif untuk memberantas gulma dengan menggenangi sedalam 15


25 cm selama 3 8 minggu. harus cukup terendam sehingga pertumbuhan gulma
tertekan.

d. Pembakaran

Suhu kritis yang menyebabkan kematian pada kebanyakan sel adalah 45 550 C,
kematian dari sel-sel yang hidup pada suhu di atas disebabkan oleh koagulasi pada
protoplasmianya. Pembakaran secara terbatas masih sering dilakukan untuk
membersihkan tempat-tempat dari sisa-sisa tumbuhan setelah dipangkas.
Pembakaran juga dapat mematikan insekta dan hama lain serta penyakit seperti
cendawan, bakteri kekurangan dari sistem ini dapat mengurangi kandungan humus
atau mikroorganisme tanah, dapat memperbesar erosi.

e. Mulsa (mulching, penutup seresah)


Penggunaan mulsa untuk mencegah cahaya matahari tidak sampai ke gulma, sehingga
gulma tidak dapat melakukan fotosintesis, akhirnya akan mati dan pertumbuhan yang
baru (perkecambahan) dapat dicegah. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk
mulsa antara lain jerami, pupuk hijau, sekam, serbuk gergaji, kertas dan plastik.

1. 3. Pengendalian gulma secara biologis

Pengendalian gulma secara biologis (hayati) dengan menggunakan organisme lain,


seperti insekta, fungi, bakteri sebagainya. Pengendalian biologis yang intensif dengan
insekta atau fungi dapat erpotensi mengendalikan gulma secara biologis

4. Pengendalian gulma secara kimiawi

Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan


menggunakan herbisida. Yang dimaksud dengan herbisida adalah senyawa kimia yang
dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma, baik secara
selektif maupun non selektif. Macam herbisida yang dipilih bisa kontak maupun
sistemik, dan penggunaannya bisa pada saat pratanam, pratumbuh atau pasca
tumbuh. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif,
terutama untuk areal yang luas. Beberapa segi negatifnya ialah bahaya keracunan
tanaman, mempunyai efek residu terhadap pencemaran lingkungan. Sehubungan
dengan sifatnya ini maka pengendalian gulma secara kimiawi ini harus merupakan
pilihan terakhir apabila cara-cara pengendalian gulma lainnya tidak berhasil

2.7 Herbisida
Herbisida adalah senyawa kimia peracun gulma, dapat menghambat
pertumbuhan bahkan mematikan tumbuhan tersebut. Sedangkan substansi pengatur
tumbuhan adalah gugusan organik yang bukan nutrisi, dalam jumlah sedikit dapat
menghambat atau memodifikasi proses fisiologis tumbuhan yang mungkin dapat pula
berarti pemodifikasian pertumbuhan, herbisida translokasi, dan herbisida sistemik.
Dalam klasifikasi herbisida dapat dibedakan :
1) Menurut waktu apilkasi.
2) Menurut cara kerja.
3) Menurut sifat bahan kimianya
Menurut waktu aplikasi herbisida dibedakan atas:
1. Pra pengolahan tanah.
Ciri pengendalian ini adalah pengendalian vegetasi total dengan tujuan
memudahkan dalam pembersihan lahan. Pada pengolahan dengan jalan pembalikan
diharapkan biji, umbi, maupun akar gulma yang tertimbun dapat dipindahkan ke
permukaan tanah yang lebih dangkal.
2. Pra tanam.
Aplikasi semacam ini mempunyai tujuan, supaya awal pertumbuhan pertanaman
tidak tergangguoleh gulma yang juga mulai tumbuh.
3. Pra tumbuh.
Aplikasi semacam ini bertujuan dapat menekan gulma yang akan muncul bersama
tumbuhnya pertanaman.
4. Pasca tumbuh.
Aplikasi semacam ini bertujuan bahwa gulma yang tumbuh setelah tanaman
tumbuh dapat di tekan, sehingga pertumbuhan pertanaman selanjutnya tidak
terganggu.
Menurut cara kerjanya herbisida dapat dibedakan atas:
1. Absorpsi.
Absorpsi herbisida dalam tubuh tanaman ada yang cepat atau lambat.
Herbisida masuk ke dalam tubuh tanaman terutama melalui akar dan daun, namun
kadang-kadang juga melalui batang.
2. Translokasi
Translokasi atau pergerakan hebisida dalam tubuh tanaman dpay lewat xilem,
floem atau interseluler. Translokasi interseluler, bahan yang nonpolar dengan
tegangan antarfase permukaan rendah dilakukan lewat interseluler. Pergerakan
minyak pada umumnya secara ini, meskipun mekanismenya masih belum jelas,
karena minyak dapat lalu ke segala arah. Pergerakan herbisida masuk ke dalam tubuh
tanaman ada 2 cara kerja yaitu selektif dan nonselektif.
Herbisida selektif adalah herbisida yang bila di aplikasikan pada berbagai
tumbuhan akan mematikan spesies tertentu (gulma) dan relatif tidak mengganggu
tanaman lain (tumbuhan yang dibudidayakan).
Herbisida nonselektif adalah herbisida yang diberikan lewat tanah atau daun yang
dapat mematikan hampir semua jenis tumbuhan.
Herbisida menurut sifat kimiawi
Dalam klasifikasi ini dibedakan atas herbisida golongan anorganik dan
golongan organik.

A. Herbisida anorganik.
Merupakan suatu herbisida yang tersusun secara anorganik, seperti
CuSO4(gandum), natrium arsenat(herbisida selektif), natrium arsenit (perkebunan),
natrium klorat, natrium metabolat, arsen trioksida(AS203), sebagai soil sterilant.
Ammonium sulfanat, akan memperpanjang masa dormansi sampai cadangan
karbohidrat dan gula menjadi habis dan meyebabkan kematian.

B. Hebisida organik.

Merupakan suatu herbisida yang tersusun secara organik. Pada 1932 dikenal 3,5-
dinitro-0-kresol atau DNOC. Perkembangan hebisida organik menjdi pesat setelah
ditemukannya 2,4-D. Golongan herbisida ini ialah :minyak (aromaterapi polisiklik),
alifatik (dalapon), amida (Alochor), arsenikal (MSMA), benzoat (dicamba).
2.8 Aplikasi dan Mekanisme Kerja Herbisida

Aplikasi gulma sangat berhubungan dengan masalah gulma. Masalah gulma


sekarang ini telah berkembang di mana-mana, terutama pada daerah pertanian dan
juga ada di pertanaman, tempat rekreasi, tempat permukiman dan daerah yang lain
yang bukan merupakan daerah pertanian. Masalah gulma di pertanian dapat
dihubungkan dengan tiga kondis pertanian yaitu 1) Luasnya daerah pertanian, 2)
Ketersediaan dana, dan 3) Keterampilan terbatas (Sukman dan Yakup, 2002).
Keberhasilan aplikasi herbisida ditentukan oleh beberapa hal antara lain
gulma sasaran, cuaca, jenis herbisida yang digunakan dan tata cara aplikasinya. Syarat
pengaplikasian herbisida juga harus sesuai dengan kondisi di lapangan. Sebelum
melakukan aplikasi herbisida terlebih dahulu harus mengetahui gulma sasaran dan
tanaman yang dibudidayakan serta sifat sifatnya. Jenis herbisida juga penting untuk
diketahui apakah sesuai untuk mengendalikan gulma sasaran dan tidak meracuni
tanaman serta bagaimana herbisida tersebut diaplikasikan. Selain itu, faktor lain yang
sangat menentukan keberhasilan suatu aplikasi herbisida adalah cuaca, alat yang
digunakan dan orang yang mengaplikasikan herbisida tersebut. Apabila hal hal
tersebut sudah dilaksanakan dengan baik maka aplikasi herbisida juga dilapangan
diharapkan dapat baik pula (Djojosumarto, 2000).
Alat yang digunakan dalam pengaplikasian herbisida adalah alat penyemprot
atau sprayer. Alat penyemprot herbisida yang paling banyak digunakan adalah alat
penyemprot punggung. Sebelum melakukan pengendalian gulma, terlebih dahulu
sprayer dikalibrasi. Kalibrasi dilakukan untuk menghindari pemborosan herbisida,
memperkecil terjadinya keracunan pada tanaman akibat penumpukan herbisida, dan
memperkecil pencemaran lingkungan (Yakup,dkk, 1991). Dalam melakukan kalibrasi
sprayer terdapat dua metode yang digunakan yaitu metode luas dan metode waktu.
Dalam melakukan dua metode tersebut perlu dilakukan praktik secara khusus agar
pengaplikasian herbisida dapat berhasil.
Ada dua cara kalibrasi yaitu kalibrasi brdasarkan jumlah larutan dan kalibrasi
berdasarkan luas area. Pada cara yang pertama jumlah larutan sudah ditentukan
terlebih dahulu, misalnya 600 L/ha. Cara yang kedua dilakukan dengan terlebih dahulu
menghitung waktu yang diperlukan sesuai dengan kecepatan berjalan operator
sambil menyemprot kemudian dihitung volume semprot berdasarkan lama waktu
tersebut. Cara yang kedua sesuai untuk kalibrasi pada areal yang kondisinya sulit
untuk orang berjalan. (nanik, dkk, 2013).

Bila kita menggunakan herbisida, maka diharapkan herbisida yang diberikan


harus tepat dosis, waktu dan cara aplikasi. Maka untuk mencapai hal tersebut
diperlukan a) Keterampilan yang dimiliki, b) Pengetahuan yang baik tentang herbisida
dan cara penyemprotannya, c) Pengetahuan tentang lingkungan dan kesehatan
(Sukman dan Yakup,2002).

Ada dua cara kalibrasi yaitu kalibrasi berdasarkan jumlah larutan dan kalibrasi
berdasarkan luas areal. Pada cara yang pertama jumlah larutan sudah ditentukan
yaitu berkisar 2001.000 liter/ ha, sedangkan cara yang kedua si pelaksana disuruh
berjalan untuk menyemprot dengan kecepatan yang konstan pada areal tertentu dan
cara ini cocok untukareal pertanian yang luas.

Kalibrasi merupakan kunci untuk menyeragamkan setiap perlakuan herbisida. Jika


dosis rekomendasi tidak diaplikasikan secara merata, karena cara aplikasi yang tidak
benar, maka akan terjadi dua hal yang tidak diinginkan, yaitu: gulma tidak akan
mampu dikendalikan di areal yang teralikasi herbisida dengan dosis yang lebih sedikit
dari dosis rekomendasi dan gulma dan tanaman budidaya akan mati di areal yang
teraplikasi herbisida dengan dosis lebih tinggi dari dosis rekomendasi.
Ada tiga faktor yang menentukan keberhasilan kalibrasi, yaitu ukuran lubang nozel
(nozel curah), tekanan dalam tangki alat semprot, dan kecepatan berjalan ( ke depan)
aplikator. Ketiga faktor tersebut harus diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh
suatu volume larutan herbisida tertentu yang dapat dilepaskan melalui lubang nozel
pada setiap waktu yang dikehendaki.
BAB III METIDE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ilmu gulma dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 13 oktober 2017
pukul 16.00 WIB di rumah batu,lahan percobaan dan laboratorium agronomi
fakultas pertanian universitas andalas

B. Alat dan Bahan

Adapun alat yang di gunakan saat praktikum yaitu : cangkul, tali rafia, botol isi
1 L, koran, gunting atau pisau, kertas mika, sedangkan bahan yang digunakan
tanah dari sidebank kedalaman 20 cm,dan handsprayer

C. Cara Kerja

1. Dentifikasi Gulma
Disediakan semua alat yang dibutuhkan pada saat raktikum setelah itu dicari
lokasi temat pengamatan gulma dan kemudian di ukur secara persegi sepanjang
1x1 m dan diberi pancang antar sudut dan ikat tali rafia di pancang dan lakukan
pengamatan gulma berdasarkan klasifikasinya (berdaun lebar, teki-tekian, dan
rerumputan). Gulma yang didapatkan diletakkan di koran dan tunggu beberapa
minggu sampai gulmanya kering dan kemudian di laminating.
B. Pembahasan

Seed bank didefinisikan sebagai jumlah biji viabel yang tersimpan di


permukaan tanahdan di dalam tanah, kerapatan biji yang tersimpan di tanah
menurun dengan bertambahnya altitude, latitude dan semakin bertambahnya usia
proses suksesi serta menurunnya intensitas gangguan. Secara umum terbentuknya
vegetasi dapat melalui dua cara yaitumelalui biji (secara generatif) atau pembiakan
secara vegetatif. Beberapa jenis tumbuhandapat berkembang melalui tunas-tunas
yang tumbuh dari bulbus, dan tunas rizome dan umbiseperti kebanyakan dari famili
Liliaceae, Amaryllidaceae dan Oxalidaceae.

Berbeda dengan seed bank, bud bank biasanya telah ada secara vegetatif.
Namun tumbuhan yang terbentukdari biji, propagul-propagul vegetatifnya dapat
tersebar melalui ruang dan waktu danmemerlukan faktor-faktor lingkungan tertentu
untuk memecahkan dormansinya seperti kelembaban atau temperatur (Sastrautomo,
1990). Bank biji adalah kumpulan dari biji yang belum tumbuh dan memiliki
kemampuan potensial untuk menggantikan tanamantanaman dewasa baik itu tana
man semusim ataupun tahunan yang dapat mati oleh penyakit, atau gangguan
lainnya. Bank biji dapat ditemukan pada berbagai habitat, seperti rumput musiman,
padang rumput, tanah pertanian, lahan terlantar, di dalam hutan bahkan dapat pula
ditemukan di rawa.

Seed bank merupakan biji gulma yang berada di atas pemukaan tanah ataupun di
dalam tanah. Selain itu Seed bank juga dapat diartikan sebagai propagul dorman dari
gulma yang berada di dalam tanah yaitu berupa biji, stolon dan rimpang, yang akan
berkembang menjadi individu gulma jika kondisi lingkungan mendukung (Fenner,
1995). Espinar et al. (2005) menyatakan bahwa seed bank umumnya paling banyak
berada di permukaan tanah, tetapi adanya retakan tanah dapat menyebabkan
perubahan ukuran seed bank (seed bank size) menurut kedalaman tanah.
Pada tanah tanpa gangguan, menurut Fenner (1995) seed bank berada pada
kedalaman 2-5 cm dari permukaan tanah, tetapi pada tanah pertanian, seed bank
berada 12-16 cm dari permukaan tanah. Dengan mengetahui seed bank disuatu lahan
maka akan diketahui metode pengendalian, perencanaan tenaga kerja, pemilihan
bahan dan alat secara efektif.

Kehadiran gulma pada suatu pertanaman berkaitan dengan deposit biji gulma di
dalam tanah. Biji gulma dapat tersimpan dan bertahan hidup selama puluhan tahun
dalam kondisi dorman,dan akan berkecambah ketika kondisi lingkungan untuk
perkecambahan dapat terpenuhi. Untuk perkecambahan biji gulma perlu cahaya, air,
oksigen dan kelembaban. Terangkatnya biji gulma ke lapisan atas peemukaan tanah
maka akan mendapatkan cahaya dan oksigen,serta tersedianya kelembaban yang
sesuai untuk perkecambahan mendorong gulma untuk tumbuh dan berkembang
( Barus, 2003).

Biji spesies gulma semusim (annual spesies) dapat bertahan dalam tanah selama
bertahun-tahun sebagai cadangan benih hidup atau viable seeds. Biji gulma dapat
ditemukan di makam mesir yang telah berumur ribuan tahun masih dapat
menghasilkan kecambah yang sehat. Jumlah biji gulma yang terdapat dalam tanah
mencapai tatusan biji gulma (Direktorat jenderal perkebunan). Karena benih gulma
dapat terakumulasi dalam tanah.maka kepadatamnya terus meningkat (Guntoro,
2010).

Pada praktikum ini, umumnya tidak ditemukan gulma yang tumbuh. Jumlah
gulma yang tumbuh hanya sedikit yaitu hanya satu gulma pada kedalaman tanah 20-
40 cm dan gulma yang tumbuh yaitu gulma berdaun lebar. Hal ini bisa disebabkan
karena faktor lingkungan yang tidak mendukung bagi pertumbuhan gulma. Salah
satunya adalah kurangnya penyinaran matahari pada media tumbuh, sehingga
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan gulma. Oleh sebab itu, penting untuk
memperhatikan faktor internal dan eksternal agar gulma tidak dapat tumbuh dan
berkembang biak.

Di dalam tanah terdapat benih-benih gulma dalam jumlah yang sangat banyak
dan masih dapat hidup sampai bertahun-tahun lamanya. Dari hasil-hasil penelitian
dapat diperkirakan bahwa pada lapisan atas tanah setebal 15 22,5 cm banyak sekali
terdapat benih-benih gulma. Koch (1979) telah mendapatkan di Jerman kira-kira
30.000 35.000 benih gulma per m2 tanah atau 3 3,5 milyar gulma per hektar.

Sumber utama biji gulma adalah dari tanaman gulma yang tumbuh yang
tumbuh sebelumnya dan bijinya menyerbar melalui air angin terbawa hewan atau
manusia. Biji gulma memiliki kemmampuan dorman yang cukup besar, bahkan ada
biji gulma yang bisa bertahan didalam tanah sampai berpuluh-puluh tahun dan tetap
memiliki kemampuan tumbuh yang baik. Biji gulma akan berkecambah ketika
mendapatkan sinar matahari dan air, gulma yang berada didalam tanah ketika tanah
diolah maka tanah akan terbalik dan biji gulma mendapatkan sinar matahari dan air
dengan baik, maka bisa tumbuh gulma ini.
BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan
Biji gulma banyak tersimpan di dalam tanah dalam keadan dorman. Biji gulma
yang berada didalam tanah dalam waktu tertentu atau setelah mengalami waktu
pematahan dormansi dapat berkecambah. Perkecambahan biji gulma dapat
dipengaruhi berbagai faktor seperti faktor internal dan faktor eksternal.
Perkembangan gulma sangat cepat dan mudah, baik secara generatif maupun
secara vegetatif. Secara generatif, biji-biji gulma yang halus, ringan, dan berjumlah
sangat banyak disebarkan oleh angina, air, hewan, maupun manusia.
Perkembangbiakan secara vegetatif terjadi karena bagian batang yang berada di
bagian tanah akan membentuk tunas yang nantinya akan membentuk tumbuhan
baru. Demikian juga pada bagian akar tanaman misalnya stolon, rhizome dan umbi
akan bertunas dan membentuk tumbuhan baru jika terpotong-potong (Barus, 2003)

Uji seed bank dilakukan untuk mengetahui gulma yang akan tumbuh di lahan
yang diamati. Dengan uji seed bank dapat mengetahui tindakan/metode apa yang
akan digunakan dalam mengendalikan gulma yang akan tumbuh. Berdasarkan hasil
pengamatan dapat dilihat bahwa gulma dapat tumbuh baik pada permukaan tanah
dengan kedalaman 0-5 cm dari permukaan tanah. Jenis gulma yang tumbuh pada
praktikum kali ini dengan kedalaman tanah 0-5 cm adalah jenis gulma berdaun lebar.
Sedangkan pada kedalaman 5-25 cm, biji gulma sulit untuk tumbuh atau tetap dalam
keadaan dorman. Dari kegiatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan juga bahwa
pada lapisan tanah yang berbeda kedalaman maka jenis biji gulma yang terdapat juga
berbeda-beda. Hal tersebut berhubungan dengan umur lapisan tanah serta jenis
tanaman apa saja yang pernah ditanam pada lahan tersebut.
Dalam pengujian seed bank perlu diperhatikan sinar matari, air dan kondisi
tanah sehingga mendapatkan uji seed bank yang sesuai dengan keaadaan sebenarnya.

B. Saran

Saran untuk praktikum dan praktikan selanjutnya diharapkan lebih serius


dalam menjalani atau mengerjakan praktikum. Diharapkan juga pada saat
pengambilan tanah untuk uji seed bank diambil pada kedalaman antara 20 30 cm
agar diperoleh hasil yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

Ashton, F. M. adnd T. J. Monaco. 1991. Weed Science: Principles and Pratice. 3rd Ed.
John Wiley and Sons, Inc.: New York. 466 p.

Barus, Emanuel .2003. Pengendalian Gulma Perkebunan. Kanisius: Yogyakarta.


Djojosumarto, Panut. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida dalam Bidang Pertanian.
Kanisius: Yogyakarta
Eprim, Yeheskiel Sah. 2006. Periode Kritis Tanaman Kedelai (Glycine max (L.)
Merr.) Terhadap Kompetisi Gulma Pada Beberapa Jarak Tanam di Lahan Alang-
alang (Imprata cylindrica (L.) Beauv.). Skripsi. Program Studi Agronomi Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Espinar, J.L., K. Thompson, L. V. Garca. 2005. Timing of seed dispersal

generates a bimodal seed bank depth distribution. Amer. J. Bot. 92:


1759-

1763.

Fadhly, A.F. dan Tabri, F. 2004. Pengendalian Gulma pada Pertanaman Jagung.
Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros. Goldsworthy, P. R. dan N.M. Fischer. 1992.
Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. 874
hal.
Fenner, F.J. 1995. Veterinary Virology. Terjemahan. Putra D.K.H IKIP. P : 84-90.

Guntoro, dwi, dkk. 2010. Penuntun Praktikum Pengendalian Gulma. Bogor. IPB

http://www.scribd.com/doc/55157487/Klasifikasi-Gulma.

Koch SW, Preston RL. 1979. Estimation of bovine carcass composition by the urea

dilution technique. J. Anim Sci. 48:319.

Moenandir, jody. 1988. Fisiologi Herbisida. Rajawali Pers: Jakarta.


Moenandir, jody. 1990. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Rajawali Pers:
Jakarta.

Sastroutomo, Sutikno. 1990. Ekologi Gulma. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Setyowati, N.dkk. 2013. Penuntun Praktikum Pengendalian Gulma. Fakultas Pertanian

Universitas Bengkulu, Bengkulu.


Sukma,Y. dan Yakup, 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali
Press, Jakarta.
Tyas 2010. Persaingan Gulma Teki dengan Tanaman.
Kedelai.http://breederlifeblogspot.com/2010/02/persaingan-gulma-teki-dengan
tanamanhtml/ (diakses 3 Maret 2015).
LAMPIRAN

A. Dokumentasi praktikum lapangan

1. Pembuatan persegi dengan ukuran 1x1 2. Pengambilan beberapa spesies gulma yang
meter pada lahan, dan ditancapkan didapat pada petakan yang dibuat dan diletakan
pancang pada setiap sisinya di atas koran sesuai dengan jenisnya

3. Pengambilan sampel tanah pada petakan


dengan kedalaman 20cm, kemudian dimasukan
kedalam botol ukuran 1 liter