Anda di halaman 1dari 17

PEMASANGAN IUD

No. Dokumen : SOP/PKM.R/VIII/2017


No. Revisi : 0
SOP
Tgl. Terbit :
Halaman : 1/3

PUSKESMAS H. SEJARAH, S.Sos


RENSING NIP. 196612311986031093

1. Pengertian Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra-Uterine Device (IUD)
adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim
yang bentuknya bermacam-macam, terbuat dari plastik yang dililit
tembaga atau tembaga bercampur perak yang dapat berisi hormon. Waktu
penggunaannya bisa mencapai 10 tahun.
2. Tujuan Mencegah terjadinya kehamilan

3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas No. ..................Tentang Pelayanan Publik


Puskesmas Rensing.

4. Refrensi Manuaba, 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan KB. Jakarta,

5. Prosedur a. Alat dan bahan :

a. APD lengkap (celemek, masker, kacamata dan penutup kepala)


b. Bak instrumen
c. IUD dan Inserter
d. Tampon tang
e. Sarungtangan
f. Kainsteril (duk) lubang
g. Spekulum
h. Tenakulum (cunampeluru)
i. Pinset
j. Klem
k. Sonde uterus (rahim)
l. Gunting mayo
m. Bethadine
n. Kasasteril
o. Perlak dan alasnya
p. Benkok
q. Kom kecil
r. Baki

b. Langkah langkah pelaksanaan pemasangan IUD

1) Petugas menyapa pasien dengan sopan dan ramah


2) Petugas menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
3) Petugas merespon terhadap reaksi pasien
4) Petugas meminta ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya dan
membersihkan area genetalia
5) Petugas mempersilahkan ibu berbaring di atas bed ginekology dan
mengatur posisinya
6) Ibu memastikan kandung kemih kosong dan tidak ada pembesaran
uterus.
7) Petugas memakai APD
8) Petugas melakukan cuci tangan 7 langkah
9) Petugas menyalakan dan mengarahkan lampu sorot ke arah
genetalia.
10) Petugas memakai sarung tangan steril
11) Petugas melakukan vulva higiene atau membersihkan vulva
12) Petugas memasang spekulum dan melihat servik
13) Petugas mengusap vagina dan servik dengan larutan anti septik
14) Petugas menjepit servik dengan tenakulum secara hati-hati
15) Petugas memasukkkan sonde dengan cara no touch technique
(tidak menyentuh)
16) Petugas mengukur kedalam uterus dengan sonde uterus dan
menyesuaikan tabung inserter sesuai hasil pengukuran dengan
menggeser leher biru
17) Petugas memasukkan tabung inserter ke dalam uterus sampai leher
biru menyentuh servik atau sampai terasa ada tahanan
18) Petugas memegang serta tahan tenakulum dan pendorong dengan
satu tangan, sedangkan tangan lain melepaskan lengan IUD dengan
menggunakan Withdrawel technique, yaitu menarik keluar tabung
inserter sampai pangkal pendorong dengan tetap menahan
pendorong
19) Petugas mengeluarkan pendorong kemudian tabung inserter
didorong kembali ke servik sampai leher biru menyentuh servik atau
terasa ada tahanan
20) Petugas mengeluarkan sebagian tabung inserter sepanjang benang
yang akan dipotong kurang lebih 3-4 cm
21) Petugas mengeluarkan tenakulum dengan hati-hati
22) Petugas menekan dengan kasa betadhin pada bekas jepitan
tenakulum selama 30-60 detik
23) Petugas mengeluarkan spekulum dengan hati-hati
24) Petugas membereskan alat alat dan merendam ke larutan klorin
25) Petugas mencuci tangan dengan larutan clorin 0,5 %, melepaskan
sarung tangan dan merendamnya dalam keadaan terbalik
26) Petugas mencuci tangan dan melepas APD
27) Petugas memberitahukan kepada klien bahwa tindakan telah selesai
dilakukan
28) Setelah selesai pemasangan petugas menyatakan pada akseptor
apakah cukup nyaman dan tidak merasa pusing atau sakit perut
yang berlebihan.
29) Petugas mengawasi juga keadaan umum akseptor sesudah
pemasangan IUD.

6. Unit Terkait Ruang Kesehatan Ibu/KB


PEMASANGAN IMPLANT

No. Dokumen : SOP/PKM.R/VIII/2017


No. Revisi : 0
SOP
Tgl. Terbit :
Halaman : 1/3

PUSKESMAS H. SEJARAH, S.Sos


RENSING NIP. 196612311986031093

1. Pengertian Suatu tindakan pemasangan alat kontrasepsi yang dipasang dibawah Kulit
yang mengandung levonorgetrel yang dibungkus dalam kapsul silastic silicon
yang berisi hormone progesterone

2. Tujuan Untuk menjarangkan kehamilan selama 3-5 tahun

3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas No..............................Tentang Pelayanan


Publik Puskesmas Rensing.

4. Refrensi Manuaba, 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan KB. Jakarta.

5. Prosedur 1. Persiapanalat dan bahan:


a. Tensimeter
b. Stetoskop,
c. APD (sepatu but, matela, masker, kacamata goggle, handukpribadi)
d. Bak instrument(trokardanpendorong, duksteril, spuit 5 ccberisi
e. lidocain, kapsul implant, bisturi, kasa, pinsetanatomis, handscoon)
f. Komberisicairanbetadin,
g. Larutanclorin 0,5 %,
h. Alcohol 70 %,
i. Kapas,
j. Plaster,
k. Ban aid/ handsaplas,
l. Perlakdan alas,
m. Bengkok,
2. Pelaksanaan Pemasangan Kapsul Norplant
a. Petugas memeriksa kembali untuk meyakinkan bahwa klien telah
mencuci lengannya sebersih mungkin dengan sabun dan air dan
membilasnya sehingga tidak ada sisa sabun
b. Petugas menentukan tempat pemasangan pada bagian dalam lengan
atas
c. Petugas memberi tanda pada tempat pemasangan
3. Langkah / kegiatan
Pastikan bahwa peralatan yang steril atau DTT dan kapsul norplant sudah
tersedia.
a. Tindakan Pra Pemasangan
1) Petugas mencuci tangan dengan air dan sabun, keringkan dengan
kain bersih
2) Petugas memakai sarung tangan steril atau DTT
3) Petugas mengusap tempat pemasangan dengan larutan antiseptic
4) Petugas memasang kain penutup (doek) steril atau DTT
disekeliling lengan klien
b. Pemasangan Kapsul Norplant
1) Petugas menyuntikkan anastesi local tepat dibawah kulit sampai
kulit sedikit menggelembung
2) Petugas meneruskan penusukan jarum kurang lebih 4 cm, dan
suntikan
3) masing-masing 1 cc diantara pola pemasangan nomer 1 dan 2
4) Uji efek anastesi sebelum melakukan insisi pada kulit
5) Saat insisi dangkal selebar 2 mm dengan skapel alternative lain
6) Petugas menusukkan trokar langsung kelapisan dibawah kulit /
subdermal)
7) Sambil mengungkit kulit, masukan terus ujung trokar yang berisi
8) Implan dan pendorongnya sampai atas tanda satu (pada Pangkal
trokar) tepat berada pada luka insisi
9) Keluarkan pendorong dan tekan dan masukan kapsul kearah ujung
10) Tarik trokar dan pendorongnya secara bersama-sama sampai
batas tanda terlihat padaluka insisi (jangan mengeluarkan trokar
dari tempat insisi)
11) Tahan kapsul yang telah terpasang dengan satu jari dan masukan
kembali trokar serta pendorongnya sampai tanda satu
12) Jangan menarik ujung trokar dari tempat insisi sampai seluruh
kapsul terpasang
13) Coba kapsul untuk memastikan kapsul telah terpasang
14) Coba daerah insisi untuk memastikan seluruh kapsul berada dari
Insisi
c. Tindakan pasca pemasangan
1) Petuga mendekatkan ujung-ujung insisi dan tutup dengan band aid
2) Petugas memberi pembalut tekan untuk mencegah perdarahan
dan mengurangi memar
3) Petugas menaruh alat suntik ditempat terpisah dan letakkan
semua peralatan dalam larutan klorin untuk dekontaminasi.
4) Petugas membuang peralatan yang sudah tidak terpakai lagi
ketempatnya (kasa, kapas, sarungtangan, atau alat suntik sekali
pakai)
5) Petugas melepaskan sarung tangan dan rendam dalam larutan
clorin
6) Petugas mencuci tangan dengan sabun dan air, kemudian
keringkan dengan air bersih
d. Konseling Pasca Pemasangan
1) Petugas menggambar Letak kapsul pada rekam medic dan catat
bila ada hal khusus
2) Petugas memberi petunjuk pada klien cara merawat luka dan
kapan klien harus Datang kembali keklinik untuk control
3) Petugas meyakinkan pada klien bahwa ia dapat dating keklinik
setiap saat bila menginginkan untuk mencabut kembali implant
4) Petugas melakukan observasi selama lima menit sebelum
memperbolehkan klien pulang
e. Hal Yang Harus di Perhatikan
1) Peserta KB implant sebaiknya menjaga agar daerah sayatan tetap
kering minimal selama 3 hari untuk mempercepat penyembuhan
dan mengurangi kemungkinan infeksi
2) Bila lengan akseptor terasa membengkak dan berwarna kebiru-
biruan, hal tersebut biasanya akibat tindaka suntikan atau
pemasangan implant dan akan menghilang dalam 3-5 hari Setelah
3 tahun pemakaian, implant dapat dilepas.
6.Unit Terkait Ruang Kesehatan Ibu/KB
KB SUNTIK 3 BULANAN

No. Dokumen : SOP/PKM.R/VIII/2017


No. Revisi : 0
SOP
Tgl. Terbit :
Halaman : 1/2

PUSKESMAS H. SEJARAH, S.Sos


RENSING NIP. 196612311986031093

1. Pengertian Penggunaan alat kontrasepsi suntik merupakan tindakan invasif karena


menembus pelindung kulit, penyuntikan harus dilakukan hati-hati dengan
teknik antiseptik mencegah infeksi.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam melakukan suntikan KB

3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas No............ tentang jenis-jenis pelayanan di


puskesmas

4. Refrensi Manuaba, 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan KB. Jakarta

5. Prosedur 1. Alat dan bahan


a. Obat yang akan disuntikkan (depo provera)
b. Sepuit suntik dan jarumnya (sekali pakai)
c. Alkohol 60 90 %
2. Instruksi kerja
a. Petugas mencuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air
mengalir, keringkan dengan handuk
b. Petugas membuka dan membuang tutup kaleng pada vial yang
menutupi karet, hapus karet yang ada dibagian atas vial dengan
kapas yang telah dibasahi dengan alkohol 60 90 %, biarkan kering
c. Bila menggunakan jarum atau semprit sekali pakai, segera buka
plastiknya bila menggunakan jarum atau semprit yang telah
disterilkan dengan DTT, pakai korentang yang telah di DTT untuk
mengambilnya
d. Petugas memasang jarum pada sepuit suntik dengan memasukkan
jarum pada mulut semprit penghubung
e. Petugas membalikkan vial dengan mulut vial ke bawah. Masukkan
cairan suntik dalam sepuit, gunakan jarum yang sama untuk
menghisap kontrasepsi suntik yang menyuntikkn klien
3. Teknik suntikan
a. Petugas mengocok botol dengan baik, hindarkan terjadinya
gelembung-gelembung udara (pada depo provera / cyclofem),
keluarkan isinya
b. Petugas menyuntikkan secara intra muskular dalam di daerah pantat
(daerah gluteal). Apabila suntikan diberikan terlalu dangkal,
penyerapan kontrasepsi suntikan akan lambat dan tidak bekerja
segera dan efektif
c. Depo provera (3 ml / 150 mg atau 1 ml / 150 mg) diberikan setiap 3
bulan (12 minggu)

6. Unit Terkait Bidan Puskesmas, Bidan Desa.


PENCABUTAN IUD

No.
: SOP/PKM.R/VIII/2017
Dokumen
SOP No. Revisi : 0
Tgl. Terbit :
Halaman : 1/2

PUSKESMAS H. SEJARAH, S.Sos


RENSING NIP. 196612311986031093

1. Pengertian Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) Intra Uterina Device (IUD) adalah
alat Kotrasepsi yang di masukkan ke dalam rahim yang bentuknya
bermacam-macam, terbuat dari plastik yang di lilit tembaga atau tembaga
yang bercampur perak yang dapat berisi hormon, waktu penggunaannya
bisa mencapai 10 tahun.
2. Tujuan Untuk melepaskan atau mencabut alat kontrasepsi yang ada di dalam
rahim.

3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas No............tentang jenis-jenis pelayanan di


Puskesmas Rensing.

4. Refrensi Manuaba, 2010. IlmuKebidananPenyakitKandungan Dan KB. Jakarta,

5. Prosedur 1. Alat dan bahan :


a. APD lengkap (celemek, masker, kacamata dan penutup kepala)
b. Bak instrumen
c. Tampon tang
d. Handscoon
e. Kain steril (duk) lubang
f. Spekulum
g. Tenakulum (cunam peluru)
h. Pinset
i. Betadine
j. Kasa steril
k. Perlak dan alasnya
l. Kom kecil
m. Baki
n. Bengkok
2. Prosedur
a. Petugas menyapa pasien dengan sopan dan ramah
b. Petugas menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
c. Petugas meminta ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya dan
membersihkan area genetalia
d. Petugas mempersilahkan ibu berbaring di atas bed ginekology dan
mengatur posisinya
e. Petugas memastikan kandung kemih kosong dan tidak ada
pembesaran uterus.
f. Petugas memakai APD
g. Petugas melakukan cuci tangan 7 langkah
h. Petugas menyalakan dan mengarahkan lampu sorot ke arah
genetalia.
i. Petugas memakai sarung tangan steril
j. Petugas melakukan vulva higiene atau membersihkan vulva
k. Petugas memasang spekulum dan melihat servik
l. Petugas mengusap vagina dan servik dengan larutan anti septik
m. Petugas menjepit benang didekat servik dan menarik benang
dengan pelan-pelan
n. Petugas membereskan alat alat dan rendam ke larutan klorin 0,5%
o. Petugas mencuci tangan dalam larutan clorin 0,5%, melepaskan
sarung tangan dan merendamnya dalam keadaan terbalik
p. Petugas memberitahukan kepada pasien bahwa tindakan telah
selesai dilakukan.
q. Petugas merapikan dan mensterilkan alat-alat yang sudah dipakai

6. Unit Terkait Ruang Kesehatan Ibu/KB


Ruang bersalin
PENCABUTAN IMPLANT

No. Dokumen : SOP/PKM.R/VIII/2017


No. Revisi : 0
SOP
Tgl. Terbit :
Halaman : 1/2

PUSKESMAS H. SEJARAH, S.Sos


RENSING NIP. 196612311986031093

1. Pengertian Pencabutan implant adalah melakukan pencabutan alat kontrasepsi yang


diletakkan dibawah kulit lengan atas dengan jumlah kapsul yang berbeda
yang bekerja untuk menekan ovulasi dan mengentalkan lendir serviks
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penerapan langkah-langkah penatalaksanaan KB
implant dalam rangka peningkatan mutu dan kinerja di Puskesmas Rensing

3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas No............tentang jenis-jenis pelayanan di


Puskesmas Rensing.

4. Refrensi a. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Tahun 2010


b. Pedoman manajemen pelayanan keluarga berencana oleh
kemenkes tahun 2014

5. Prosedur 1. Alat dan bahan


a. Meja periksa untuk berbaring klien
b. Alat penyangga lengan
c. Batang implant dalam kantong
d. Kain penutup steril
e. Sepasang sarung tangan yang sudah steril
f. Sabun untuk mencuci tangan
g. Larutan antiseptik untuk disinfeksi kulit
h. Zat anastesi lokal (konsentrasi 1% tanpa epinerpin)
i. Trokar 10 dan mandrin
j. Skalpel 11 atau 1
k. Kasa pembalut atau plester
l. Kasa steril dan pembalut
m. Epinefrin (untuk tindakan emergency)
n. Klem lengkung dan lurus
o. Bak instrumen
p. Tiga mangkok steril atau DTT
2. Prosedur
a. Tindakan sebelum pencabutan
a) Petugas mempersilahkan klien untuk mencuci seluruh lengan dan
tangan dengan sabun dan air yang mengalir serta membilasnya,
pastikan tidak terdapat sabun
b) Petugas mempersilahkan klien berbaring dengan lengan yang
lebih jarang digunakan diletakkan pada lengan penyangga atau
meja samping. Lengan harus disangga dengan baik dan dapat
digerakkan lurus atau sedikit bengkok sesuai dengan posisi yang
disukai oleh klien untuk memudahkan pencabutan.
c) Petugas meraba kedua kapsul untuk menentukan lokasinya, untuk
menentukan tempat insisi, raba (tanpa sarung tangan) ujung
kapsul dekat lipatan siku, bila tidak dapat meraba kapsul, lihat
lokasi pemasangan pada rekam medik klien
d) Petugas memastikan posisi dari setiap kapsul dengan membuat
tanda pada kedua ujung setiap kapsul dengan menggunakan
plester
e) Petugas menyiapkan tempat alat-alat dan buka bungkus steril
tanpa menyentuh alat-alat di dalamnya
f) Petugas mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir,
keringkan dengan air bersih
g) Petugas memakai sarung tangan steril atau DTT (ganti sarung
tangan untuk setiap klien guna mencegah kontaminasi silang)
h) Petugas mengatur alat dan bahan-bahan sehingga mudah dicapai
i) Petugas mengusap tempat pencabutan dengan kasa berantiseptik,
gunakan klem steril atau DTT untuk memegang kasa tersebut (bila
memegang kasa berantiseptik hanya dengan tangan, hati-hati
jangan sampai mengkontaminasi sarung tangan dengan
menyentuh kulit yang tidak steril). Mulai mengusap dari tempat
yang akan dilakukan insisi ke arah luar dengan gerakan melingkar
sekitar 8 1 Cm dan biarkan kering sebelum memulai tindakan
j) Sekali lagi raba seluruh kapsul untuk menentukan lokasinya
k) Setelah memastikan klien tidak alergi terhadap obat anastesi isi
alat suntik dengan 3 ml obat anastesi (1% tanpa efineprin)
masukkan jarum tepat dibawah kulit pada tempat insisi akan
dibuat, kemudian lakukan aspirasi untuk memastikan jarum tidak
masuk ke pembuluh darah. Suntikkan sedikit obat anastesi untuk
membuat gelembung kecil bawah kulit. Masukkan jarum secara
hati-hati dibawah ujung kapsul pertama sampai lebih kurang
sepertiga panjang kapsul (1 cm) tarik jarum pelan-pelan sambil
menyuntikkan obat anastesi (kira-kira 0,5 ml) untuk mengangkat
ujung kapsul
b. Tindakan pencabutan kapsul
a) petugas mentukan lokasi insisi yang mempunyai jarak sama dari
ujung bawah semua kapsul kira-kira 5 cm dari ujung bawah kapsul
b) Pada lokasi yang sudah dipilih, buat insisi melintang yang kecil
lebih kurang 4 mm dengan menggunakan skapel, jangan
c) Petugas memulai dengan mencabut kapsul yang mudah diraba
dari luar atau yang terdekat tempat inisisi
d) Petugas mendorong ujung kapsul ke arah insisi dengan jari tangan
sampai ujung kapsul tampak pada luka insisi, saat ujung kapsul
e) Petugas membersihkan dan buka jaringan ikat yang mengelilingi
kapsul dengan cara menggosok-gosok pakasi kasa steril untuk
f) Petugas menjepit kapsul yang sudah terpapar dengan
menggunakan klem kedua, lepasakan klem pertama dan cabut
secara pelan dan
g) Petugas memilih kapsul berikutnya yang tampak paling mudah
dicabut, gunakan teknik yang sama untuk mencabut kapsul
berikutnya
c. Metode pencabutan teknik U
a) Petugas mentukan lokasi insisi pada kulit diantara 3 dan 4 5 mm
dari ujung kapsul dekat siku
b) Petugas membuat insisi kecil (4 mm) memanjang sejajar diantara
sumbu panjang kapsul dengan menggunakan skapel
c) Petugas memasukkan ujung klem pemegang implant norplant
secara hati-hati melalui luka insisi
d) Petugas memfiksasi kapsul yang letaknya paling dekat luka insisi
dengan jari telunjuk sejajar panjang kapsul
e) Petugas memasukkan klem lebih dalam sampai ujungnya
menyentuh kapsul, buka klem dan jepit kapsul dengan sudut
yang tepat
f) Petugas membersihkan kapsul dari jaringan ikat yang
mengelilinginya dengan mengosok-gosok menggunakan kasa
steril untuk
g) Petugas menggunakan klem lengkung untuk menjepit kapsul
yang sudah terpapar , lepaskan klem pemegang norplant dan
cabut kapsul
h) Pencabutan kapsul berikutnya adalah yang tampak paling mudah
dicabut, gunakan teknik yang sama untuk mencabut
d. Menutup luka insisi
a) Bila klien tidak ingin melanjutkan pemakaian implant lagi,
bersihkan tempat insisi dan sekitarnya dengan menggunakan
skapel
b) Petugas mendekatkkan kedua tepi luka insisi dengan band aid
(plester untuk luka ringan) atau kasa steril dan plester
c) Petugas merapikan alat dan obat yang sudah dipakai
d) Petugas mencatat di kohort KB

6. Unit Terkait Ruang Kesehatan IBU/KB


PELAYANAN KONTRASEPSI PIL

No. Dokumen : SOP/PKM.R/VIII/2017


No. Revisi : 0
SOP
Tgl. Terbit :
Halaman : 1/2

PUSKESMAS H. SEJARAH, S.Sos


RENSING NIP. 196612311986031093

1. Pengertian Pasien Yang Pertama kali berkunJung di poli untuk merencanakan


KB dengan metode kontrasepsi pil
2. Tujuan 1. Mencegah kehamilan
2. Mengatur jarak diantara kehamilan

3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas No............ tentang jenis-jenis pelayanan di


puskesmas

4. Refrensi Manuaba, 2010. IlmuKebidananPenyakitKandungan Dan KB. Jakarta,

5. Prosedur 1. Alat dan Bahan


a. Kartu rawat jalan
b. Kartu KB(K1)
c. Register
d. Pulpen
2. Prosedur
a. Petugas menyapa pasien dengan ramah
b. Petugas memberikan informasi umum tentang keluarga berencana
c. Petugas memberikan informasi tentang jenis kontrasepsi yang
tersedia dan keuntungan dari masing-masing jenis kontrasepsi
d. Petugas mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan
e. Petugas mempersiapkan pasien
f. Petugas mencuci tangan dengan sabun antiseptic dan bilas dengan
air mengalir dan keringkan
g. Petugas melakukan anamnesa
h. Petugas mempersiapkan Pil KB
i. Petugas memberikan Pil KB
j. Petugas menyerahkan kartu KB yang sudah diisi pasien
k. Petugas mencatat hasil pelayanan di K-4 dan register KB
6. Unit Terkait Ruang Kesehatan Ibu/KB
PELAYANAN KONTRASEPSI KONDOM

No. Dokumen : SOP/PKM.R/VIII/2017


No. Revisi : 0
SOP
Tgl. Terbit :
Halaman : 1/1

PUSKESMAS H. SEJARAH, S.Sos


RENSING NIP. 196612311986031093

1. Pengertian Cara mencegah kehamilan dengan menggunakan kondom

2. Tujuan Untuk mencegah kehamilan

3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas No............ tentang jenis-jenis pelayanan di


puskesmas Rensing

4. Refrensi Manuaba, 2010. IlmuKebidananPenyakitKandungan Dan KB. Jakarta,

5. Prosedur 1. Alat dan Bahan


a) Kondom
b) Buku register KB
2. Prosedur
a) Petugas menyapa pasien dengan sopan
b) Petugas menunjukkan alat kontrasepsi kondom
c) Petugas melakukan penyuluhan
a) Keuntungan dan kerugian
b) Efek samping
c) Cara pemakaian kondom
d) Kapan pasien harus kembali ke petugas kesehatan
d) Petugas mencatat dalam kartu akseptor dan buku register KB
e) Petugas merapikan dan mengembalikan alat dan bahan ke tempat
semula

6. Unit Terkait Ruang Kesehatan Ibu/KB