Anda di halaman 1dari 8

ACARA VI

PENENTUAN TEKSTUR TANAH DENGAN METODE PIPET

I. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran dan menentukan tekstur tanah
dengan metode pipet
2. Mahasiswa mampu menganalisis pengaruh dari tekstur tanah terhadap erosi

II. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Labu Erlenmeyer 250 ml f. Pipet dan pipet gondok
b. Bunsen dan plate pemanas g. Timbangan
c. Gelas ukur 25 ml dan 500 ml h. Kertas saring
d. Beaker glass 50 ml i. Oven
e. Ayakan berdiamer 0,05 mm j. Cawan

2. Bahan
a. 10 g Tanah
b. 10 ml Hidrogen peroksida (H2O2) 30%
c. 25 ml Asam Klorida (HCl)
d. 10 ml Kalgon 5%
e. Aquades

III. DASAR TEORI


Tekstur tanah menunjukan komposisi partikel penysun tanah (separat) yang
dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) realtif antara fraksi pasir, debu, dan
liat. Menurut Lal (1979) dalam Hanfiah (2014) dalam Maruf (2017) partikel
berukuran >2 mm seperti kerikil dan bebatuan kecil harus diperhitungkan dalam
evaluasi tekstur tanah.
Tekstur merupakan salah satu sifta morfologi tanah yang penting, karena variasi
tekstur dapat digunakan untuk menduga sejarah geogenesis dan pedogenesis. Fraksi
liat diketahui mempunyai luas permukaan yang besar disbanding fraksi debu dan
pasir. Tanah yang halus mengalami lebih banyak pelapukan. Beberapa sifat tanah
yang lain seperti kandungan bahan organic, unsur hara,aerasi dll, mempunyai
hubungan yang erat dengan tekstur tanah.
Tekstur tanah adalah perbandingan relative tiga golongan besar partikel tanah
dalam suatu massa tanah. Tekstur suatu horizon tanah merupakan sifat yang hamper
tidak berubah, berlainan dengan struktur dan konsistensi. Tekstur tanah yang
memilikisi sifat relative tetap dalam jangka waktu tertentu maka tekstur tanah dapat
menjadi dasar klasifikasi tanah (darmawijaya, 1992 dalam Maruf 2017).
Gambar 1. Klasifikasi tekstur tanah menurut USDA

Sumber:
http://4.bp.blogspot.com/_KFLOqPh78zc/SZDfSiDfJhI/AAAAAAAAAEg/egwqRnBGWz0/s320/segi
tigateksturmk5.jpg

Tekstur tanah dapat dibagi menjadi 12 kelas berdasarkan pada diagram segitiga
tekstur tanah oleh USDA. Suatu tanah disebut bertekstur pasir apabila mengandung
minimal 85% pasir, bertekstur debu apabila kadar debu minimal 85% dan bertekstur
liat apabila berkadar minimal 40% liat. Tanah yang berkomposisi idela yaitu 22,5-
52,5% pasir, 30-50% debu dan 10-30% liat yang disebut tekstur lempung.
Berdasarkan kelas teksturnya maka tanah digolongkan menjadi:
a. Tanah bertekstur kasar atau tanah berpasir.
b. Tanah bertekstur halus atau tanah berliat.
c. Tanah bertekstur sedang atau tanah berlempung.
Tekstur tanah dapat ditentukan dilaboratorium maupun lapangan. Penentuan
tekstur tanah dilaboratorium umumnya dilakukan melalui dua metode, yaitu metode
pipet atau metode hydrometer, kedua metode tersebut berdasarkan pada perbedaan
kecepatan jatuhnya partikel-partikel tanah di dalam air dengan asumsi bahwa
kecepatan jatuhnya partikel yang berkerapatan sama dalam suatu larutan akan
meningkat secara linear apabila radius partikel bertambah secara kuadratik.
Penentuan tekstur tanah dilaboratorium dilakukan dengan cara analisis mekanis.

IV. LANGKAH KERJA


Menghilangkan Bahan Organik
1. Timbang contoh tanah kering udara 10g lalu masukkan ke dalam labu erlenmeyer
250ml
2. Siapkanh 10 ml larutan (H2O2) menggunakan gelas ukur 10ml dan siapkan
aquades 50 ml
3. Tambahkan Aquades 50ml dan larutan (H2O2) sedikit-sedikit dengan
menggunakan pipet ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml yang berisi tanah kering
udara 10g tadi. Lalu, goyang-goyang dan akan ada reaksi seperti berbuih, berasap,
dan mengembun
4. Setelah reaksi melemah (berkurang), tambahkan lagi sedikit-sedikit dengan pipet
5. Apabila sudah melemah lagi, panaskan labu erlenmeyer yang berisi material tadi
di atas kaki tiga. Tambahkan (H2O2) lagi sedikit-sedikit menggunakanh pipet
maka reaksinya akan semakin kuat, terus lakukan penambahan (H2O2) apabila
reaksinya melemah
6. Untuk memastikan apakah reaksinya telah melemah, coba undurkan bunsen
apabila sudah tidak bereaksi, maka hentikan pemanasannya dan diamkan
beberapa menit
7. Tambahkan 25 ml (HCl) dan aquades 300 ml ke dalam labu erlenmeyer, lalu
goyang-goyang dan amati reaksinya, apabila berbuih maka ada kandungan
kapurnya dan sebaliknya
8. Setelah beberapa menit dan reaksinya berhenti, tambahkan kalgon 10 ml lalu
diamkan semalaman

Proses Pemipetan

1. Siapkan corong dan saringan di atas gelas ukur 500 ml


2. Kocok material yang ada di labu erlenmeyer lalu tuangkan ke gelas ukur 500 ml
dengan saringan dan corong sampai material di dalam erlenmeyer tidak ada yang
tertinggal, lalu tambahkan aquades hingga batas 500 ml pada gelas ukur.
3. Material yanhbg tertinhbgbgal di sarinhbganh tersebgut merupakanh fraksi pasir
4. Selanjutnya lakukan tahap pemipetan berikut:
Ukuran Volume Kedalaman Waktu Ket.
fraksi (mm) (cm) Fraksi
Jam Menit Detik
(mm)
0-50 50 0 0 0 0 Debu
0-20 10 10 0 4 6 Debu
0-10 10 10 0 16 18 Debu
0-2 10 10 6 47 0 Liat

5. Pemipetan I, lakukan dengan menggunakan pipet gondok pada kedalaman 0


cm dengan volume 50 ml. Karena pipet gondok hanya 10 ml, maka lakukan
sebanyak 5 kali. Kemudian letakkan di cup yang telah diberi kertas saring
6. Pemipetan II dilakukan setelah 4 menit 6 detik dari pemipetan I, pipet pada
kedalaman 10 cm dengan volume 10 ml
7. Pemipetan III dilakukan setelah 16 menit 18 detik dari pemipetan I, pipet
pada kedalaman 10 cm dengan volume 10 ml
8. Pemipetan IV, dilakukan setelah 6 jam 47 menit 0 detik dari pemipetan I,
pipet pada kedalaman 10 cm dengan volume 10 ml
9. Sisa material yang ada di gelas ukur kemudian di buang airnya hingga batas
100 ml, lalu aduk sampai rata dan tuangkan ke beaker glass yang atasnya telah
diberi corong dan kertas saring di atas kaki tiga dan tunggu hingga
kandungan airnya habis dan tinggal material yang tertinggal
10. Lakukan pengeringan dengan oven selama 3 jam dengan suhu
11. Setelah kering, timbang kembali berat keseluruhan (material dan kertas
saring) dan hitung berat bersihya dengan mengurangkan berat kotor tersebut
dengan berat kertas saring
12. Tentukan kelas tekstur tanah dengan menghitung presentasi tiap fraksi dan
sesuaikan dengan segitiga tekstur maka akan didapat kelas teksturnya

V. HASIL
Tabel 5.1. Hasil praktikum
Fraksi Berat kotor Berat kertas Berat bersih Presentase
Pasir I 1,2 1,1 0,1
Pasir II 9,1 0,9 8,2 83 %
Debu I 1,2 1,1 0,1
Debu II 1,5 1,1 0,4 14 %
Debu III 2,0 1,1 0,9
Liat 1,4 1,1 0,3 3%
Berdasarkan segitiga tekstur, tekstur tanah ini termasuk dalam kelas tekstur ke 11,
yaitu Loamy Sand atau Pasir berlempung.

VI. PEMBAHASAN
Tekstur tanah menunjukan komposisi partikel penysun tanah (separat) yang
dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) realtif antara fraksi pasir, debu, dan
liat. Berdasarkan praktikum diketahui bahwa presentase pasi 83 %, debu 14 % dan
liat 3 %. Berdasarkan diagram kelas tekstur tanah menurut USDA tanah tersebut
memiliki tekstur pasir berlempung. Praktikum penentuan tekstur tanah dilakukan
menggunkan metode pipet. Metode pipet berdasarkan pada perbedaan kecepatan
jatuhnya partikel yang berkerapatan sama dalam suatu larutan akan meningkat secara
linear apabila radius partikel bertambah secara kuadratik.
Fraksi pasir umumnya didominasi oleh mineral kuarsa yang sanat tanah terhadap
pelapukan, sedangkan fraksi debu biasanya berasal dari mineral fledspar dan mika
yang mudah lapuk. Pada saat pelapukannya akan membebaskan sejumlah unsur hara
sehingga tanah bertektur debu umumnya lebih subur daripada tanah yang bertekstur
pasir. Praktikum penentuan tekstur dapat diketahui bahwa tektur tanah tersebut
adalah pasir berlempung. Berdasarkan hasil tersebut dapat diprediksi bahwa tanah
pada daerah tersebut tidak begitu subur karena umumumnya tanah bertekstur debu
lebih subur daripada tanah bertekstur pasir. Berdasarkan kelas tekstur tanah dapat
digolongkan menjadi tanah bertekstur kasar atau tanah yang mengandung minimal
70% pasir atau bertekstur pasir atau pasir berlempung. Tanah yang digunakan untuk
praktikum kali ini berada pada tekstur kasar karena mengandung pasir 83%.
Tanah yang didominasi oleh pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro
sehingga disebut lebih poreus. Tanah yang memiliki tingkat poreus yang tinggi akan
menyebabkan akar mudah untuk berpenetrasi, serta semakin mudah air dan udara
untuk bersirkulasi, tetapi akan makin mudah air untuk hilang dari tanah. Tanah
tersbut akan mengalami tingkat erosi yang tinggi. Tangkat erosi yang tinggi dapat
diketahui karena tanah yang memilki tingkat poerus yang tinggi akan mudah
meloloskan air dalam pelolosan tersebut maka air akan membawa materi dari tanah
sehingga tanah tersebut akan mengalami erosi dalam hal materi tanah yang dibawa
oleh air terebut.

VII. KESIMPULAN
Tanah pada praktikum kali ini memiliki presentase pasi 83 %, debu 14 % dan liat
3 %. Berdasarkan diagram kelas tekstur tanah menurut USDA tanah tersebut
memiliki tekstur pasir berlempung. Tanah tersebut memiliki tingkat erosi yang tinggi
karena memiliki tekstur kasar. Tanah dengan tekstur kasar memiliki tingkat poerus
yang tinggi. Tanah dengan tingkat poerus yang tinggi akan menyebabkan air cepat
lolos dari tanah serta akan membawa materi dari tanag tersebut sehingga tanah
tersebut mengalami erosi.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Hanafiah, Ali Kemas. 2014. Dasar- dasar Ilmu Tanah. Jakrta: Rajawali Press.
Sartohadi, Junun. Suratman, Jamuloya. 2013. Pengantar Geografi Tanah. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Darmawijaya. M. Isa. 1992. Klasifikasi Tanah: Dasar Teori bagi Peneliti Tanah dan
Pelaksanaan Pertanian di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Maruf, Anang. 2017. Laporan Praktikum Geografi Tanah. Malang: Fakultas Ilmu
Sosial Universitas Negeri Malang.