Anda di halaman 1dari 4

Gambut dibentuk oleh timbunan bahan sisa tanaman yang berlapis-lapis hingga mencapai

ketebalan >30cm. Proses penimbunan bahan sisa tanaman ini merupakan proses geogenik yang
berlangsung dalam waktu yang sangat lama (Hardjowegeno, 1986). Gambut terbentuk dari
lingkungan yang khas, yaitu rawa atau suasana genangan yang terjadi hampir sepanjang tahun.
Kondisi langka udara akibat genangan, ayunan pasang surut, atau keadaan yang selalu basah
telah mencegah aktivitas mikro-organisme yang diperlukan dalam perombakan. Laju
penimbunan gambut dipengaruhi oleh peduan antara keadaan topografi dan curah hujan dengan
curahan perolehan air yang lebih besar dari pada kehilangan air serta didukung oleh sifat tanah
dengan kandungan fraksi debu (silt) yang rendah.
Ketebalan gambut pada setiap bentang lahan adalah sangat tergantung pada:
1. proses penimbunan yaitu jenis tanaman yang tumbuh, kerapatan tanaman dan lama
pertumbuhan tanaman sejak terjadinya cekungan tersebut,
2. proses kecepatan perombakan gambut,
3. proses kebakaran gambut, dan
4. Perilaku manusia terhadap lahan gambut.
Gambut dengan ketebalan 3 m atau lebih termasuk kategori kawasan lindung sebagai
kawasan yang tidak boleh diganggu. Kebijakan ini dituangkan melalui Keppres No. 32 tahun
1990 yang merupakan kebijakan umum dalam reklamasi dan pemanfaatan lahan gambut di
Indonesia.
Berdasarkan besarnya potensi sumberdaya, kendala biofisik dan peluang pengembangan,
maka rawa khususnya gambut pedalaman perlu mendapatkan perhatian serius. Gambut
dikategorikan sebagai lahan marjinal, karena kendala biofisiknya sukar diatasi. Prodiktifitas
gambut sangat beragam, ketebalan gambut juga menentukan kesuburannya (Barchia, 2006).

2. SIFAT FISIK, KIMIA, DAN MORFOLOGI TANAH GAMBUT


A. Sifat Fisika Tanah Gambut
1. Tingkat dekomposisi :
o Gambut kasar (Fibrist):gambut dengan BO kasar > 2/3 (sedikit atau belum terkomposisi atau
bahan asal masih terlihat asalnya)warna merah lembayung (2,5 YR 3/2)-coklat kemerahan (5 YR
3/2).
o Gambut sedang (HemistaktoBO kasar 1/3-2/3 coklat kemerahan (5 YR 3/2)-coklat tua (7,5 YR
3/2).
o Gambut halus (Saprist):BO kasar<1/3,>
2. Penurunan muka tanah : faktor penyebabnya:
o Drainase
o Kegiatan budidaya tanaman
o Tingkat kematangan gambut
o Umur reklainasi
o Ketebalan lapisan gambut
o Pembakaran waktu pembukaan lahan
3. Kerapatan lindak (Bulk Density=BD)
o BD tanah gambut 0,05-0,2 g/cc
o BD tanah yang rendah akibatnya daya dukung tanah rendah akibatnya tanaman tahunan tumbuh
condong atau tumbang
o Makin dalam BD tanah makin kecil
o Makin rendah kematangan gambut maka makin rendah nilai BD nya
4. Porositas dan distribusi ukuran pori
o ditentukan bahan penyusun dan tingkat dekomposisi
o makin matang gambut maka porositas makin rendah dan distribusi ukuran pori cukup merata
o gambut tidak matang sangat porous dan tidak merata
o porositas tanah dan distribusi ukuran pori pada gambut dari rerumputan dan semak jauh baik
daripada gambut kayu-kayuan
5. Retesi air (daya menahan air)
o afinitas tinggi dalam meretensi air karena air bersifat dipolar dan molekul asam-asam organik
sangat banyak, maka air dalam jumlah banyak akan berikatan dengan asam-asam organik bebas.
o Makin matang gambut maka retensi air makin tinggi
6. Daya hantar hidrolik (HC)
o Besarnya HC ditentukan oleh jenis gambut,tingkat kematangan, BD
o HC gambut serat-seratan lebih lambat dari gambut kayu-kayuan
o laju yang baik untuk pertanian <0,36>
o HC secara horisontal sangat cepat dan vertikal sangat lambat
o makin matang gambut HC makin lambat
7. Kering tak balik
o berkaitan dengan kemampuan gambut dalam menyimpan,memegang dan melepas air
o gambut yang mengalami kekeringan hebat akan berkurang kemampuannya dalam memegang air
o penyebab kering tak balik adalah akibat terbentuk selimut penahan air
o Pencegahan dengan mengatur tinggi permukaan air

B. Sifat Kimia Tanah Gambut


1. Kemasaman (pH)
pH 3-4,5
Kemasaman disebabkan oleh asam-asam organik
Kapasitas tanah sanggah tinggi yaitu kemampuan mepertahankan perubahan pH tinggi
pH ideal untuk gambut 5-5,5
2. Kapasitas tukar kation (KTK)
KTK tinggi 190-270 me/100 g
KTK tinggi karena muatan negatif tergantung pH dari gugus karboksil gambut dangkal (4-
5,1)>gambut dalam (3,1-3,9)
Nilai KTK perlu dikoreksi oleh faktor dalam BD
Nilai KB gambut rendah
KB gambut pedalaman<>
KB berhubungan dangan pH dan kesuburan tanah
Tingkat kritik KB 30%
4. Asam-asam organik
Bahan humat, asam-asam karboksil, asam fenolat
makin dalam gambut % bahan humat turun
bahan humat memberi nilai KTK tinggi(25-75 me/100g(Maas, 1997)
5. Komplek senyawa organik dengan kation
adanya sifat BO yang dapat mengkhelat kation merupakan fenomena yang harus dimanfaatkan
untuk mengendalikan sifat meracun dari asam organik meracun
BO mampu mengkhelat 98%Cu,75% Zn, 84% Mn
6. Komplek organo-Liat
BO dapat berikat dengan liat membentuk komplek organo liat melaui ikatan
elektrostatik,hidrogen, dan koordinasi
ikatan elektrostatik terjadi melalui proses pertukaran kation
ikatan hidrogen terjadi bila atom H berfungsi sebagai sambungan penghubung
ikatan koordinasi terjadi pada saat lignin organik menyumbangkan elektron pada ion logam
dengan demikian ion logam sebagai jembatan
C. MORFOLOGI TANAH GAMBUT
Tanah jenis ini mempunyai ciri dan sifat antara lain ketebalannya tidak lebih dari 0,5m,
warnanya coklat kelam sampai hitam, tekstur debu lempung, tidak berstruktur, konsistensi
tidak lekat - agak lekat, kandungan organik terlalu banyak yaitu lebih dari 30 % untuk tanah
tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir, umumnya bersifat asam (pH 4,0),
dan kandungan unsur hara rendah. Sebagai bahan koloid kuat yang mampu ikat air, mengandung
mineral sesuai dengan 2%, BJ dan 34,5% dan N 5,5%, O 58%, H kategori termuda, kadar
C BV rendah
Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah Histosol disebabkan oleh gugusan karboksil dan
phenolik, dan juga mungkin gugus fungsional yang lain. Gugusan gugusan fungsional yang
lain tersebut bertambah seiring dengan bertambahnya dekomposisi bahan organik sehingga
kapasitas tukar kation meningkat hingga 200 cmol (+) /kg atau lebih tinggi. Muatan dalam bahan
organik ini adalah muatan tergantung pH, sehingga kapasitas tukar kation tanah Histosol dapat
berubah dari 10-20 cmol (+) /kg pada pH 3,7 menjadi lebih dari 100 cmol (+)/kg pada pH 7