Anda di halaman 1dari 3

Jawaban sejarah halaman 53

1) Pembukaan lahan yang dilakukan oleh nenek moyang kita dengan


penebangan pohon sebenarnya termasuk kearifan lokal yang perlu
dijadikan pelajaran. Bagaimana pendapat dan sikapmu tentang pernyataan
tersebut? Bagaimana pula pendapatmu tentang aktivitas pembukaan lahan
dengan membakar hutan seperti yang dilakukan sekarang ini?
2) Buatlah analisis tentang hubungan antara pola tempat tinggal dengan
bercocok tanam!
3) Coba kamu identifikasi alat-alat bercocok tanam pada
periode tersebut! Berikan nama alat, fungsi, dan gambar!
4) Mengapa manusia purba itu banyak tinggal di tepi sungai?
5) Jelaskan pola hidup nomaden manusia purba!
6) Manusia purba juga memasuki fase bertempat tinggal
sementara, misalnya di gua, mengapa demikian?
7) Apa kira-kira alasan bagi manusia purba memilih tinggal di tepi pantai?
8) Jelaskan kaitan antara manusia yang sudah bertempat tinggal tetap denga
n adanya sistem kepercayaan!
9) Adakah hubungan antara sistem kepercayaan masyarakat dengan pola ma
ta pencaharian? Jelaskan!

JAWAB
1) Dulu masih banyak pepohonan, dan pembukaan lahan tersebut digunakan
untuk bercocok tanam. Sedangkan untuk sekarang, sudah banyak
teknologi yang dapat menjadi alternatif bercocok tanam tanpa harus
membuka lahan baru. Pembukaan lahan dengan cara membakar hutan
jelas sangat salah karena dapat membunuh hewan langka atau bahkan
manusia karena kebakaran, menyebabkan polusi udara dan kabut asap
yang dapat menyebabkan kesulitan untuk melihat, terhambatnya aktivitas,
dan penyakit pernafasan.

2) Manusia mulai bercocok tanam setelah memiliki tempat tinggal meskipun


sifatnya sementara. Kegiatan bercocok tanam yang mereka lakukan
menyebabkan tanah di sekeliling tempat tinggal mereka perlahan-lahan
habis, sehingga mereka harus pindah mencari tempat tinggal lain yang
tanah sekitarnya masih dapat ditanami.

3) Peralatan pokok manusia purba untuk bercocok


tanam pada periode tersebut adalah kapak persegi dan kapak lonjong.
4) Manusia purba cenderung menghuni lingkungan pinggir sungai karena
keberadaan air memberikan beragam manfaat. Dengan adanya
ketersediaan air, maka akan mengundang para binatang dan akan
menyuburkan tumbuhan. Binatang dan tumbuhan itulah yang mereka
makan untuk bertahan hidup. Dan melalui sungai manusia dapat
melakukan mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya.

5) Bangsa Nomaden atau bangsa pengembara, adalah berbagai komunitas


masyarakat yang memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke
tempat lainnya. Berdasarkan pola kehidupan nomaden tersebut, maka
masa kehidupan masyarakat pra aksara sering disebut sebagai masa
mengumpulkan bahan makanan dan berburu. Jika bahan makanan yang
akan dikumpulkan telah habis, mereka kemudian berpindah ke tempat
lain yang banyak menyediakan bahan makanan.

6) Karena ada beberapa faktor:


a) Gua" tersebut dekat dengan sumber makanan dan sungai untuk
minum, bila sumber makanan yang dekat dengan gua yang
ditinggali sudah habis, mereka akan mencari gua lain lagi yang
dekat dengan sumber makanan dan sungai.
b) Untuk menghindari perselisihan dengan kelompok lain.
c) Cocok untuk tempat berlindung dari cuaca dingin dan binatang
buas, serta tempat untuk mengumpulkan (menampung) makanan.

7) Alasan manusia purba memilih tinggal di tepi pantai, yaitu :


a) Sumber makanan berlimpah.
b) Di pantai biasanya banya terdapar goa-goa yang dapat
dimanfaatkan sebagai tempat tinggal.
c) Manusia purba menjadi jauh dari binatang darat yang buas.
d) Karena di pantai banyak terdapat kerang gigi yang cangkangnya
dapat mereka manfaatkan sebagai senjata.

8) Setelah mereka bertempat tinggal te tap, mereka menyadari adanya


kehidupan setelah mati. Sistem kepercayaan itulah yang telah melahirkan
tradisi megalitik mereka mendirikan batu-batu besar (dolmen, punden
berundak dan sarkofagus) ditambah adanya kepercayaan bahwa kekuatan
lain yang maha kuat diluar dirinya, dan mengenal penguburan
mayat. Mereka juga mempercayai kekuatan roh nenek moyang
(animisme) juga kekuatan benda2 tertentu (dinamisme).
9) Kondisi tanah dan keberhasilan dalam bercocok tanam dikaitkan dengan
roh nenek moyang yang telah mati, secara mitologi, mereka menganggap
dengan pemberian sesembahan kepada mereka, diyakini akan
berpengaruh terhadap hasil tanaman (kepercayaan animisme). Seiring
perkembangan pelayaran, masyarakat zaman praaksara akhir juga mulai
mengenal sedekah laut. Sudah barang tentu kegiatan upacara ini lebih
banyak dikembangkan di kalangan nelayan. Bentuknya mungkin
semacam selamatan apabila berlayar jauh atau mungkin saat
pembuatan perahu.

Jawaban sejarah halam 68