Anda di halaman 1dari 13

BAB I

LAPORAN KASUS

1.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. R.I
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 53 tahun
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Sentani
Suku : Sentani
Pekerjaan : IRT
Tanggal Pemeriksaan : 01 Maret 2017

1.2 ANAMNESIS
1.2.1 Keluhan Utama
Sesak
1.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RS dengan keluhan sesak, sesak dirasakan 2 minggu SMRS dan
memburuk 2 hari SMRS, pasien mengaku sesak nafas di rasakan saat pasien
batuk, sesak juga dirasakan memberat ketika pasien terpapar asap, kemudian sesak
napas tidak dipengaruhi perubahan posisi ataupun aktivitas. Pasien tidak pernah
terbangun pada malam hari karena sesaknya dan pasien dapat tidur dengan
menggunakan 1 bantal, batuk yang dialami pasien 2 minggu SMRS, batuk
dirasakan terus-menerus tidak dipengaruhi cuaca ataupun debu. Dahak berwarna
putih kehijauan dengan jumlah dahak 1 sendok teh, batuk darah disangkal pasien,
nyeri dada disangkal pasien, pasien juga mengeluhkan demam hilang timbul
dirasakan sudah 5 hari SMRS, keringat dan mengigil pada malam hari dirasakan
pasien meskipun ruangan tidak panas. pasien juga mengaku nafsu makan menurun
1 bulan, badan terasa lemas disertai dengan mual (+), muntah (-), BAB/BAK
(+/+).

1
1.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah meminum OAT 6 bulan pada tahun 2011 + suntik 30 x tanpa obat,
terakhir november desember 2016. Pasien mengaku tidak kontrol teratur, belum
ada pemeriksaan rontgen dada dan pemeriksaan dahak ulang. Malaria (+), penyakit
darah tinggi (-), penyakit kencing manis (-), alergi obat dan makanan (-).
1.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga
Malaria (-), penyakit darah tinggi (-), penyakit kencing manis (-), alergi obat dan
makanan (-).
1.3. PEMERIKSAAN FISIK
1.3.1 Satatus Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80 x/m
Respirasi : 26 x/m
Suhu Badan : 36,90C
SpO2 : 95%
BB : 63 kg
TB : 155 cm
BMI : 20,3
Kepala : Conjungtiva anemis (+/+), Sklera ikterik (-/-), oral candidiasis (-/-)
Leher : Pembesaran KGB (-), Peningkatan vena jugularis R - 2 CmH2O
Thorax :

Pulmo

I : simetris, ikut gerak nafas, retraksi subclavicula (-), retraksi


intercostalis (-), retraksi epigastrium (-)

P : vokal fremitus (D=S)

P : sonor

A : Suara nafas vesikuler, Rhonki


+ +
+

2
Wheezing
+ +

Cor

I : IC tidak tampak (-)

P : IC tidak teraba, thrill (-)

P : Redup

A : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

I : cembung

P : Supel, Nyeri tekan (-), Hepar/Lien (dalam batas normal)

P : timpani

A : Bising Usus (+) normal 3 4 x / 15 detik

Ekstremitas : akral hangat, edem (-), CRT<2

3.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG

3.4.1 Pemeriksaan Lab

Pemeriksaan hematologi Hasil Nilai Rujukan


HB 6,9 g/dl 13,3 16,6 g/dl
Leukosit 11,2 m/mm3 4,0 10,0 m/mm3
Trombosit 101 m/mm3 100 450 m/mm3
Hematokrit 25,4 % 41,3-52,1 %
DDR Negatif -

3.4 Resume
Pasien datang ke RS dengan keluhan sesak, sesak dirasakan 2 minggu SMRS dan
memburuk 2 hari SMRS, pasien mengaku sesak nafas di rasakan saat pasien batuk,

3
sesak juga dirasakan memberat ketika pasien terpapar asap. Batuk yang dialami pasien
2 minggu SMRS, batuk dirasakan terus-menerus. Dahak berwarna putih kehijauan
dengan jumlah dahak 1 sendok teh, pasien juga mengeluhkan demam hilang timbul
dirasakan sudah 5 hari SMRS, keringat dan mengigil pada malam hari dirasakan pasien
meskipun ruangan tidak panas. pasien juga mengaku nafsu makan menurun 1 bulan,
badan terasa lemas disertai dengan mual (+), BAB/BAK (+/+). Pada pemeriksaan
kepala/leher ditemukan konjungtiva anemis (+/+). Pada pemeriksaan thorax didapatkan
rhonki(+/+) dan wheezing(+/+). Pada pemeriksaan lab didapatkan leukosit 11,2 m/mm3,
hematokrit 25,4 %.

3.5 DIAGNOSA KERJA


TB paru kasus kambuh susp. MDR

3.6 PENATALAKSANAAN
IVFD RL 500 cc + Aminophillin 1 amp/ 8jam
O2 nasal canul 3 lmp
Inj. Dexamethasone 3 x 1 amp
Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr
Inj. Ranitidin 2 x 1 amp
Salbutamol 3 x 2mg
Ambroxol 3 x 30 mg

4
3.7. Follow Up

Hari,tanggal Follow Up Keterangan


2 Maret 2017 S : Kepala sakit (+), batuk berlendir (+), Pro cek sputum BTA
sesak (+) ulang
O: Ku : Tss, Kes : CM Cek
TTV TD
K/L : CA (+/+), SI (-/-), P>KGB (-) Hasil Lab 1/3/2017
Thorax SN Ves, Rho (+/+), Whz (+/+), BJ Hb : 6,9 g/dl
I-II reg Leukosit :
Abd: Bu (+), dalam batas normal 11.200mm3
Ext : dalam batas normal Hematokrit : 25,4 %
DDR negativ
Dx: TB paru relaps dd Susp MDR, obs.
Dispnue
P:
IVFD RL 500 cc + aminophillin 1
amp/ 8 jam
Dexametason 3 x 1 amp
Ceftriaxone 2 x 1gr
Ranitidin 2 x 1 amp
Salbutamol 3 x 2mg
Ambroxol 3 x 30 mg
Nebulizer Barotec : Bisolvon/ 8
jam
3 Maret 2017 S : Demam (-), batuk berlendir (+), sesak Hasil : NR
(+) berkurang Hasil Lab 2/3/2017
O: Ku : Tss, Kes : CM HB 6,2 gr/dl
K/L : CA (+/+), SI (-/-), P>KGB (-) Leuko 7.400
Thorax SN Ves, Rho (-/-), Whz (-/-), BJ I- PLT 85.000
II reg
Abd: Bu (+), dalam batas normal KU baik besok BPL
Ext : dalam batas normal

5
Dx: TB paru relaps dd Susp MDR
P:
IVFD RL 20 tpm
Dexametason 3 x 1 amp
Ceftriaxone 2 x 1gr
Ranitidin 2 x 1 amp
Salbutamol 3 x 2mg
Ambroxol 3 x 30 mg

4 Maret 2017 S : batuk berlendir (+) BPL


O: Ku : Tss, Kes : CM
TTV TD : 110/70mmhg, N 80 x/m Kontrol poli paru hari selasa
K/L : CA (+/+), SI (-/-), P>KGB (-) 7/3/2017
Thorax SN Ves, Rho (-/-), Whz (-/-), BJ I-
II reg
Abd: Bu (+), dalam batas normal
Ext : dalam batas normal

Dx: TB paru relaps dd Susp MDR


P:
Aff Infus
Aminophillin 3 x 1 tab
Dexametason 3 x 1 tab
Cefadroxil 2 x 1
Ranitidin 2 x 1 tab
Salbutamol 3 x 2mg
Ambroxol 3 x 30 mg

6
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Definisi1
Tuberkulosis merupakan infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan
oleh hipersensitivitas yang diperantarai-sel (cell-mediated hypersensitivity). Penyakit
biasanya terletak di paru, tetapi dapat mengenai organ lain. Dengan tidak adanya
pengobatan yang efektif untuk penyakit yang aktif, biasanya terjadi perjalanan penyakit
yang kronik, dan berakhir dengan kematian.
2.2 Gejala-gejala Klinis2
Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-macam atau malah banyak
pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali dalam pemeriksaan kesehatan.
Keluhan yang terbanyak adalah :
1. Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza . tetapi kadang-kadang panas badan
dapat mencapai 40-410C. Serangan demam pertama dapat sembuh sebentar, tetapi
kemudian dapat timbul kembali. Begitulah seterusnya hilang timbulnya demam
influenza ini, sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari serangan demam
infuenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat
ringannya infeksi tuberkulosis yang masuk.
2. Batuk/batuk darah
Gejala ini banyak ditemukan. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk
ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Karena terlibatnya
bronkus pada setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru ada setelah
penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau
berbula-bulan peradangan bermula, sifat batuk dimulai dari batuk kering (non
produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan
sputum). Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh
darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada kavitas,
tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.

7
3. Sesak napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak napas. Sesak napas
akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi
setengah bagian paru.
4. Nyeri dada
Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah
sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura
sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya.
5. Malaise
Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala Malaise sering
ditemukan berupa anoreksia tidak ada nafsu makan, badan makin kurus (berat badan
turun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam dll. Gejala malaise ini makin
lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara teratur.

2.3 Klasifikasi berdasarkan tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan


sebelumnya2,3
Ada beberapa tipe pasien yaitu:
1. Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT
atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
2. Kasus kambuh (relaps) Pasien kambuh adalah pasien yang telah menjalani
pengobatan secara teratur dan adekuat sesuai dengan rencana, tetapi dalam kontrol
ulangan ternyata sputum BTA kembali positif baik secara mikroskopik langsung
ataupun secara biakan. Frekuansi kekambuhan ini adalah antara 2-10^% tergantung
pada jenis obat apa yang dipakai.
Umumnya kekambuhan terjadi pada tahun pertama setelah oengobatan selesai, dan
sebagian besar kumannya masig=h sensitif terhadap obat-obat yang dipergunakan
semula. Penanggulangan terhadap pasien kambuh ini adalah :
Berikan pengobatan yang sama dengan pengobatan pertama,
Lakukan pemeriksaan bakteriologis optimal yakni periksa sputum BTA
mikroskopis langsung 3 kali, biakan dan resistensi,
Evaluasi secara radiologis luasnya kelainan paru,
Identifikasi adakah penyakit lain yang memberatkan tuberkulosis seperti
diabetes melitus, alkoholisme atau pemberian kortikosteroid yang lama,
Sesuaikan obat-obat dengan hasil tes kepekaasn/ resistensi.

8
Nilai kembali secara ketat hasil pengobatan secara klinis, radiologis, dan
bakteriologis tiap-tiap bulan.
3. Kasus defaulted atau drop out (lalai) Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan
> 1 bulan dan tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa
pengobatannya selesai.
4. Kasus gagal Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi
positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau akhir
pengobatan.
5. Kasus kronik Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah
selesai pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang
baik.

6. Kasus Bekas TB Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan
gambaran radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto serial
menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT adekuat akan lebih
mendukung. Pada kasus dengan gambaran radiologi meragukan dan telah mendapat
pengobatan OAT selama 2 bulan serta pada foto toraks ulang tidak ada perubahan
gambaran radiologi.

2.4 Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


Program nasional pemerantasan TB di Indonesia sudah dilaksanakan sejak tahun 1950-
an. Ada 6 macam obat esensial yang telah dipakai sbb; Isoniazid (H), Para amino salisilik
asid (PAS), Streptomisin (S), Etambutol (E), Rifampisin (R), dan Pirazinamid (P).
Dosis OAT
Rifampisin
10 mg/ kg BB, maksimal 600mg 2-3X/ minggu atau BB > 60 kg : 600 mg
BB 40-60 kg : 450 mg, BB < 40 kg : 300 mg, Dosis intermiten 600 mg / kali
INH
5 mg/kg BB, maksimal 300mg, 10 mg /kg BB 3 X seminggu, 15 mg/kg BB 2 X
semingggu atau 300 mg/hari untuk dewasa. lntermiten : 600 mg / kali
Pirazinamid
Fase intensif 25 mg/kg BB, 35 mg/kg BB 3 X semingggu,
50 mg /kg BB 2 X semingggu atau : BB > 60 kg : 1500 mg, BB 40-60 kg : 1 000 mg,
BB < 40 kg : 750 mg

9
Etambutol
Fase intensif 20mg /kg BB, fase lanjutan 15 mg/kg BB, 30mg/kg BB 3X seminggu, 45
mg/kg BB 2 X seminggu atau : BB >60kg : 1500 mg, BB 40 -60 kg : 1000 mg, BB <
40 kg : 750 mg, Dosis intermiten 40 mg/ kgBB/ kali
Streptomisin
15mg/kgBB atau BB >60kg : 1000mg, BB 40 - 60 kg : 750 mg, BB < 40 kg : sesuai BB
Kombinasi dosis tetap
Rekomendasi WHO 1999 untuk kombinasi dosis tetap, penderita hanya minum obat 3-
4 tablet sehari selama fase intensif, sedangkan fase lanjutan dapat menggunakan
kombinasi dosis 2 obat antituberkulosis seperti yang selama ini telah digunakan sesuai
dengan pedoman pengobatan.

BAB III
PEMBAHASAN

10
Pasien datang ke RS dengan keluhan sesak, sesak dirasakan 2 minggu SMRS dan
memburuk 2 hari SMRS, pasien mengaku sesak nafas di rasakan saat pasien batuk, sesak
juga dirasakan memberat ketika pasien terpapar asap. Batuk yang dialami pasien 2 minggu
SMRS, batuk dirasakan terus-menerus. Dahak berwarna putih kehijauan dengan jumlah
dahak 1 sendok teh, pasien juga mengeluhkan demam hilang timbul dirasakan sudah 5
hari SMRS, keringat dan mengigil pada malam hari dirasakan pasien meskipun ruangan tidak
panas. pasien juga mengaku nafsu makan menurun 1 bulan, badan terasa lemas disertai
dengan mual (+), BAB/BAK (+/+). Pada pemeriksaan kepala/leher ditemukan konjungtiva
anemis (+/+). Pada pemeriksaan thorax didapatkan rhonki(+/+) dan wheezing(+/+). Pada
pemeriksaan lab didapatkan leukosit 11,2 m/mm3, hematokrit 25,4 %.
Dari anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, pasien di diagnosa
dengan TB paru kasus kambuh. Diagnosa ini di ambil karena sebelumnya pasien sudah
terkonfirmasi TB paru, pasien pernah meminum OAT 6 bulan pada tahun 2011 + suntik 30 x
tanpa obat, terakhir november desember 2016. Tetapi pasien mengaku tidak kontrol teratur,
belum ada pemeriksaan rontgen dada dan pemeriksaan dahak ulang.
Diagnosis TB paru kasus kambuh dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan atau
riwayat penyakit sebelumnya, pemeriksaan fisik, pemeriksaan bakteriologi dan pemeriksaan
radiologi. Gejala klinis TB dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu gejala lokal (batuk lebih
dari 2 minggu, hemaptoe, sesak napas dan nyeri dada) dan gejala sistemik (demam, malaise,
keringat malam, napsu makan menurun dan penurunan berat badan. Pada saat anamnesa di
dapatkan gejala klinik seperti ini pada pasien. Antara lain batuk lokal, batuk yang dialami
pasien 2 minggu SMRS, batuk dirasakan terus-menerus. Dahak berwarna putih kehijauan
dengan jumlah dahak 1 sendok teh, pasien juga mengeluhkan demam hilang timbul
dirasakan sudah 5 hari SMRS, keringat dan mengigil pada malam hari dirasakan pasien
meskipun ruangan tidak panas. pasien juga mengaku nafsu makan menurun 1 bulan, badan
terasa lemas disertai dengan mual. Pada pemeriksaan fisik tidak ada tanda kkhas, tetapi
ditemukan bunyi tambahan berupa rhonki dan wheezing.
Gambaran ini dapat muncul akibat adanya infiltrat pada kavitas parenkim paru yang
disebabkan oleh M. Tuberculosis. Pada pemeriksaan penunjang terjadi leukositosis (WBC
11.000)
Rencana pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan sputum BTA 3x (sewaktu-pagi-
sewaktu) yaitu pagi : sputum pertama yang dibatukkan setelah pasien tertidur lelap di malam
hari, sewaktu : sputum yang dibatukkan pada jam berapa saja sebelum sputum dibawa, dan
sputum yang dibatukkan saat di depan petugas.

11
Pada pasien juga sudah dilakukan pemeriksaan dahak ulang, namun hasilnya
diserahkan langsung ke puskesmas, tempat dimana pernah berobat TB.
Pada terapi konservatif pasien diberikan terapi medikamentosa. Cairan infus yang
diberikan adalah Ringer Laktat (RL) dan D5%. Obat-obatan yang diberikan yaitu nebulizer
birotec/8 jam, aminofilin 1 amp/8jam, dexametazone 3x1 amp (inj), ceftriaxone 2x1 gr (inj),
ranitidine 2x1 amp (inj), salbutamol 3x2 mg (inj), ambroxol 3x30 mg (inj) dan vitamin C 2x1
tab (inj).
. Cairan infus yang diberikan yaitu Ringer Laktat (RL) dimana RL kandungan kaliumnya
bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan cairan dalam sehari, terapi ini sesuai karena
terjadinya dehidrasi akibat diare yang terjadi. Selain itu pasien diberikan antibiotik
ceftriaxone injeksi 2x1 gram. Ceftriaxone adalah golongan antibiotik chepalosporin yang
dapat digunakan untuk mengobati beberapa kondisi akibat infeksi bakteri, seperti pneumonia,
sepsis, meningitis, infeksi kulit ataupun infeksi pada pasien dengan sel darah putih rendah.
Pasien juga diberi injeksi ranitidine 2x1 ampul. Ranitidine merupakan obat golongan
antihistamin H2-antagonis berfungsi untuk mengurangi produksi asam lambung yang
berlebihan. Pasien diberikan mukolitik-ekspektoran, ambroxol tablet 3x1 dengan dosis 30 mg
yang kegunaannya sebagai sekretolitik untuk gangguan saluran nafas akut. Pasien juga
diberikan salbutamol tablet 3x1 dengan dosis 4 mg yang kegunaannya untuk mencegah
terjadinya bronkospasme saluran nafas. Dexametazone injeksi 3x1 ampul diberikan juga, obat
ini bekerja dengan cara mencegah pelepasan zat-zat di dalam tubuh yang menyebabkan
peradangan. Aminofilin juga diberikan pada pasien ini, dimana obat ini mengurangi resisten
pembuluh darah paru dan tekanan di arteri paru. Obat ini juga memiliki anti inflamasi untuk
mengontrol penyakit paru-paru.
Obat pulang yang diberikan aminofilin 3x1 tablet, dexametazone 3x1 tablet, cefadroxil 2x1
capsul, ranitidine 2x1 tablet, salbutamol 3x2 mg tablet, ambroxol 3x30 mg tablet, Vit C tablet
1x1.

DAFTAR PUSTAKA

12
1. Kurt J. Isselbacher et al., 2000. Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Edisi
13. Volume II. Jakarta : EGC
2. Setiati Siti et al., 2014. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi VI. Jilid I. Jakarta :
InternaPublishing
3. Djojodibroto, D., 2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: EGC.)
4. Hudoyo, A. Dkk. Diagnosis TB-Paru pada pasien dengan HIV/AIDS. 2008; JTI 4
(2): 1-5
5. Alsagaff H, Mukty A. Tuberkulosis paru. Dalam: Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru.

Jakarta: Airlangga, 2002. 373-108.

13