Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH KESUBURAN DAN KESEHATAN TANAH

TANAH ULTISOL (PODSOLIK MERAH KUNING)

Ditujukan untuk Memenuhi Tugas Kelompok


Mata Kuliah : Kesuburan dan Kesehatan Tanah
Dosen Pengampu : Dr. Ir. Miseri Ruslan A., M.P.

Disusun Oleh :

1. Tiara Putri Wardani (134160070)


2. Thoyib Hidayat (134160071)
3. Afia Nurhutami (134160072)
4. Raditya Rifqi Qintara (134160074)
5. Tiara Ariani (134160076)

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nama podsolik merah kuning yang menjadi sangat terkenal di
Indonesia diperkenalkan untuk pertama kali dalam pustaka ilmu tanah
Indonesia oleh Dudal dan Soepraptohardjo (1957). Nama ini digunakan dalam
sistem klasifikasi tanah susunan Baldwin dkk., (1938). Sebelum nama
podsolik merah kuning masuk ke Indonesia, tanah ini termasuk dalam
golongan tanah lateritik. Van der Voort (1950) lebih suka menyebutnya tanah
laterik terdegradasi, yang menunjukkan persepsinya bahwa tanah itu telah
mengalami kerusakan berat. Dames (1955) memakai nama tanah laterik
terdegradasi, yang juga mencerminkan suatu pendapat bahwa tanah tersebut
telah mengalami proses pemunduran kesuburan.
Dalam sistem klasifikasi tanah USDA terbaru (1975, 1985) yang masih
terus dikembangkan dengan kerjasama internasional untuk kesempurnaannya,
tanah podsolik merah kuning secara umum masuk dalam ordo Ultisol.
Dikatakan secara umum karena pada dasarnya nama tanah yang berasal dari
sistem klasifikasi yang berbeda tidak mungkin dipadankan secara langsung
dengan lengkap. Hal ini disebabkan karena setiap sistem klasifikasi
menggunakan seperangkat kriteria kelas yang berbeda. Andapun kriteria sama
akan tetapi hirarki penerapannya berbeda. Hasil pembentukkan kelas berbeda
pula. Dalam sistem FAO/UNESCO tanah yang disebut ultisol terpilihkan
menjadi dua satuan tanah utama, yaitu Acrisol dan Nitosol. Acrisol ialah
kelompok yang lebih buruk, sedang Nitosol ialah yang lebih baik.
Tanah ini umumnya berkembang dari bahan induk tua. Di Indonesia
banyak ditemukan di daerah dengan bahan induk batuan liat. Tanah ini
merupakan bagian terluas dari lahan kering di Indonesia yang belum
dipergunakan untuk pertanian. Terdapat tersebar di daerah Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, dan Irian jaya. Tanah berordo Ultisols kebanyakan
memiliki sifat tanah yang masam, karena material di dalam profil tanah
banyak mengandung mineral kuarsa dan seskuioksida besi (Fe) dan
aluminium (Al), sementara mineral- mineral lainnya amat sedikit. Berdasarkan
hal ini ditambah beberapa ciri lainnya. Mineral-mineral tersebut memiliki
kapasitas menahan hara (KTK) yang rendah, demikian pula potensi
kandungan hara rendah.
Pada kondisi demikian, tanaman pada umumnya mengalami
kekurungan unsur hara. Dipihak lain kandungan unsur Al sangat tinggi,
sehingga mengakibatkan terjadinya keracunan bagi tanaman yang tumbuh di
daerah ini. Terkikisnya lapisan tanah atas karena erosi akan menambah
seriusnya masalah keracunan Al, karena lapisan bawah memiliki kandungan
Al lebih tinggi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penamaan tanah ultisol?
2. Bagaimana proses terbentuknya tanah ultisol?
3. Bagaimana sifat fisika, kimia dan biologi tanah ultisol?
4. Apa kendala tanah ultisol?
5. Bagaimana cara pengelolaan tanah ultisol?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui penamaan tanah ultisol
2. Untuk mengetahui proses terbentuknya tanah ultisol
3. Untuk mengetahui sifat fisika, kimia dan biologi tanah ultisol
4. Untuk mengetahui kendala tanah ultisol
5. Untuk mengetahui cara pengelolaan tanah ultisol

BAB II
ISI
A. Penamaan Tanah
Nama podsolik merah kuning, yang menjadi sangat terkenal di
Indonesia sampai masyarakat awam ikut mengucapkannya, diperkenalkan
untuk pertama kali dalam pustaka ilmu tanah Indonesia oleh Dudal &
Soepraptohardjo (1957). Nama ini digunakan dalam sistem klasifikasi tanah
susunan Baldwin dkk., (1938). Nama tanah ini akhirnya begitu teguh melekat
dalam pikiran kebanyakan orang Indonesia, baik yang berurusan maupun yang
merasa berurusan dengan tanah, sehingga nyaris tidak tergoyahkan oleh
nomenklatur baru menurut sistem klasifikasi tanah yang lebih baik. Sebelum
nama podsolik merah-kuning masuk ke Indonesia, tanah itu masuk dalam
golongan tanah lateritik. Van der Voort (1950) lebih suka menyebutnya tanah
lateritic terdegradasi, yang menunjukkan persepsinya bahwa tanah itu telah
mengalami kerusakan berat. Dames (1955) memakai nama tanah lateritik
terpodsolisasi, yang juga mencerminkan suatu pendapat bahwa tanah tersebut
telah menjalani proses pemunduran kesuburan. Memang banyak juga orang
Indonesia, terutama yang awam, menyamakan tanah ini dengan tanah tanpa
harapan.
Dalam sistem klasifikasi tanah USDA terbaru (1975, 1985) yang masih
terus dikembangkan dengan kerjasama internasional untuk kesempurnaannya,
tanah podsolik merah-kuning secara umum masuk dalam ordo ultisol.
Dikatakan secara umum karena pada dasarnya nama tanah yang berasal dari
sistem klasifikasi yang berbeda tidak mungkin dipadankan secara langsung
dan lengkap. Hal ini disebabkan karena setiap system klasifikasi
menggunakan seperangkat kriteria kelas yang berbeda. Andaipun kriteria sama
akan tetapi hierarki penerapannya berbeda, hasil pembentukan kelas berbeda
pula. Dalam sistem FAO/UNESCO tanah yang disebut ultisol terpilihkan
menjadi dua satuan tanah utama, yaitu acrisol dan nitosol. Acrisol ialah
kelompok yang lebih buruk, sedang nitosol ialah yang lebih baik.
Penggantian nama tanah atau pemakaian nama tanah baru karena
perubahan system klasifikasi, bukan sekedar pengubahan sebutan menuruti
mode atau selera, atau suatu ulah akademik, melainkan suatu pernyataan
pembaharuan persepsi dan konsepsi tentang tanah. Perbaikan sistem
klasifikasi membawa peningkatan kecermatan pengamatan, kejelasan
pemberian, dan keterandalan penjabaran gejala tanah. Pengertian tentang
tanah sebagai faktor dalam pemanfaatan lahan menjadi lebih baik dan
ekstrapolasi pengalaman dari kawasan tanah yang satu ke yang lain menjadi
lebih sahih (valid).

B. Proses Terbentuk
Tanah ini umumnya berkembang dari bahan induk tua. Di Indonesia
banyak ditemukan di daerah dengan bahan induk batuan liat. Tanah ini
merupakan bagian terluas dari lahan kering di Indonesia yang belum
dipergunakan untuk pertanian. Terdapat tersebar di daerah Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, dan Irian jaya. Daerah-daerah ini direncanakan sebagai
daerah perluasan areal pertanian dan pembinaan transmigrasi. Sebagian besar
merupakan hutan tropika dan padang alang-alang. Proses pembentukan tanah
Ultisol meliputi beberapa proses sebagai berikut :
1. Pencucuian yang ekstensif terhadap basa-basa merupakan
prasyarat. Pencucian berjalan sangat lanjut sehingga tanah bereaksi
masam, dan kejenuhan basa rendah sampai di lapisan bawah tanah (1,8 m
dari permukaan).
2. Karena suhu yang cukup panas (lebih dari 8C) dan pencucian
yang kuat dalam waktu yang cukup lama, akibatnya adalah terjadi
pelapukan yang kuat terhadap mineral mudah lapuk, dan terjadi
pembentukan mineral liat sekunder dan oksida-oksida. Mineral liat yang
terbentuk biasanya didominasi oleh kaolinit, dan gibsit.
3. Lessivage (pencucian liat), menghasilkan horison albik dilapisan
atas (eluviasi), dan horison argilik dilapisan bawah (iluviasi). Sebagian liat
di horison argilik merupakan hasil pembentukan setempat (in situ) dari
bahan induk.Di daerah tropika horison E mempunyai tekstur lebih halus
mengandung bahan organik dan besi lebih tinggi daripada di daerah iklim
sedang.Bersamaan dengan proses lessivage tersebut terjadi pula proses
podsolisasi dimana sekuioksida (terutama besi) dipindahkan dari horison
albik ke horison argilik.
4. Biocycling, meskipun terjadi pencucian intensif tetapi jumlah basa-
basa di permukaan tanah cukup tinggi dan menurun dengan kedalaman.
Hal ini disebabkan karena proses Biocycling basa-basa tersebut oleh
vegetasi yang ada di situ.
5. Pembentukan plinthite dan fragipan.
Plinthite dan fragipan bukan sifat yang menentukan tetapi sering
ditemukan pada Ultisol. Biasanya ditemukan pada subsoil di daerah tua.
Plinthite : Terlihat sebagai karatan berwarna merah terang. Karatan ini
terbentuk karena proses reduksi dan oksidasi berganti-ganti. Kalau muncul
di permukaan menjadi keras irreversibie dan disebut laterit. Karatan merah
yang tidak mengeras kalau kering berlebihan bukanlah plithit.
Plinthite ditemukan mulai kedalaman yang dipengaruhi oleh fluktuasi air
tanah. Hanya plinthite yang dapat menghambat drainase yang dalam
Taksonomi Tanah (yaitu mengandung 10-15 persen volume atau lebih
plinthite = Plinthaquult).
Fragipan : Pada Ultisol drainase buruk, seperti halnya plinthite, fragipan
menghambat gerakan air dalam tanah. Proses pembentukan fragipan masih
belum jelas.
6. Perubahan horison umbrik menjadi mollik
Ultisol dengan epipedon umbrik (Umbraquult) dapat berubah menjadi
epidedon mollik akibat pengapuran. Walaupun demikian klasifikasi tanah
tidak berubah selama lapisan-lapisan yang lebih dalam mempunyai
kejenuhan basa rendah. Control Sectiori untuk kejenuhan basa ditetapkan
pada kedalaman 1,25 m dari permukaan horison argilik atau 1,80 m dari
permukaan tanah (kejenuhan basa kurang dari 35%). Hal ini disebabkan
untuk menunjukan adanya pencucian yang intensif dan agar klasifikasi
tanah tidak berubah akibat pengelolaan tanah.

C. Sifat Tanah
1. Sifat Fisika
Pada umumnya Ultisol berwarna kuning kecoklatan hingga merah.
Pada klasifikasi lama menurut Soepraptohardjo (1961), Ultisol
diklasifikasikan sebagai Podsolik Merah Kuning (PMK). Warna tanah
pada horizon argilik sangat bervariasi dengan hue dari 10YR hingga 10R,
nilai 36 dan kroma 48 (Subagyo et al. 1986; Suharta dan Prasetyo 1986;
Rachim et al. 1997; Suhardjo dan Prasetyo 1998; Alkusuma 2000; Isa et al.
2004; Prasetyo et al. 2005). Warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain bahan organik yang menyebabkan warna gelap atau hitam,
kandungan mineral primer fraksi ringan seperti kuarsa dan plagioklas yang
memberikan warna putih keabuan, serta oksida besi seperti goethit dan
hematit yang memberikan warna kecoklatan hingga merah. Makin coklat
warna tanah umumnya makin tinggi kandungan goethit, dan makin merah
warna tanah makin tinggi kandungan hematit (Eswaran dan Sys 1970;
Allen dan Hajek 1989; Schwertmann dan Taylor 1989). Tekstur tanah
Ultisol bervariasi dan dipengaruhi oleh bahan induk tanahnya. Tanah
Ultisol dari granit yang kaya akan mineral kuarsa umumnya mempunyai
tekstur yang kasar seperti liat berpasir (Suharta dan Prasetyo 1986),
sedangkan tanah Ultisol dari batu kapur, batuan andesit, dan tufa
cenderung mempunyai tekstur yang halus seperti liat dan liat halus
(Subardja 1986; Subagyo et al. 1987; Isa et al. 2004; Prasetyo et al. 2005).
Ultisol umumnya mempunyai struktur sedang hingga kuat, dengan bentuk
gumpal bersudut (Rachim et al. 1997; Isa et al. 2004; Prasetyo et al. 2005).
Komposisi mineral pada bahan induk tanah mempengaruhi tekstur Ultisol.
Bahan induk yang didominasi mineral tahan lapuk kuarsa, seperti pada
batuan granit dan batu pasir, cenderung mempunyai tekstur yang kasar.
Bahan induk yang kaya akan mineral mudah lapuk seperti batuan andesit,
napal, dan batu kapur cenderung menghasilkan tanah dengan tekstur yang
halus. Ciri morfologi yang penting pada Ultisol adalah adanya peningkatan
fraksi liat dalam jumlah tertentu pada horizon seperti yang disyaratkan
dalam Soil Taxonomy (Soil Survey Staff 2003). Horizon tanah dengan
peningkatan liat tersebut dikenal sebagai horizon argilik. Horizon tersebut
dapat dikenali dari fraksi liat hasil analisis di laboratorium maupun dari
penampang profil tanah. Horizon argilik umumnya kaya akan Al sehingga
peka terhadap perkembangan akar tanaman, yang menyebabkan akar
tanaman tidak dapat menembus horizon ini dan hanya berkembang di atas
horizon argilik (Soekardi et al. 1993).
Sarwono Hardjowigeno (2003) mengemukakan bahwa pada
umumnya Ultisol mempunyai bobot isi (bulk density) berkisar antara 1,1
gr/cm-1,35gr/cm dengan total ruang pori (TRP) lebih kecil dilapisan
bawah dibanding lapisan di atasnya derta memiliki daya pegang air yang
lebih rendah dan agregat yang kurang mantap, sehingga peka terhadap
erosi.
Ciri morfologi yang penting pada Ultisol adalah adanya
peningkatan fraksi liat dalam jumlah tertentu pada horizon seperti yang
disyaratkan dalam Soil Taxonomy (Soil Survey Staff 2003). Horizon tanah
dengan peningkatan liat tersebut dikenal sebagai horizon argilik. Horizon
tersebut dapat dikenali dari fraksi liat hasil analisis di laboratorium
maupun dari penampang profil tanah. Horizon argilik umumnya kaya akan
Al sehingga peka terhadap perkembangan akar tanaman, yang
menyebabkan akar tanaman tidak dapat menembus horizon ini dan hanya
berkembang di atas horizon argilik (Soekardi et al. 1993).
2. Sifat Kimia
Tanah Ultisol umumnya mempunyai nilai kejenuhan basa < 35%,
karena batas ini merupakan salah satu syarat untuk klasifikasi tanah Ultisol
menurut Soil Taxonomy. Beberapa jenis tanah Ultisol mempunyai
kapasitas tukar kation < 16 cmol/kg liat, yaitu Ultisol yang mempunyai
horizon kandik. Reaksi tanah Ultisol pada umumnya masam hingga sangat
masam (pH 53,10), kecuali tanah Ultisol dari batu gamping yang
mempunyai reaksi netral hingga agak masam (pH 6,806,50). Kapasitas
tukar kation pada tanah Ultisol dari granit, sedimen, dan tufa tergolong
rendah masing-masing berkisar antara 2,907,50 cmol/kg, 6,1113,68
cmol/kg, dan 6,106,80 cmol/kg, sedangkan yang dari bahan volkan
andesitik dan batu gamping tergolong tinggi (>17 cmol/kg). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa beberapa tanah Ultisol dari bahan volkan,
tufa berkapur, dan batu gamping mempunyai kapasitas tukar kation yang
tinggi (Prasetyo et al. 2000; Prasetyo et al. 2005; Tabel 2) Nilai kejenuhan
Al yang tinggi terdapat pada tanah Ultisol dari bahan sedimen dan granit
(> 60%), dan nilai yang rendah pada tanah Ultisol dari bahan volkan
andesitik dan gamping (0%). Ultisol dari bahan tufa mempunyai
kejenuhan Al yang rendah pada lapisan atas (58%), tetapi tinggi pada
lapisan bawah (3778%). Tampaknya kejenuhan Al pada tanah Ultisol
berhubungan erat dengan pH tanah.
Kandungan hara pada tanah Ultisol umumnya rendah karena
pencucian basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik
rendah karena proses dekomposisi berjalan cepat dan sebagian terbawa
erosi. Pada tanah Ultisol yang mempunyai horizon kandik, kesuburan
alaminya hanya bergantung pada bahan organik di lapisan atas. Dominasi
kaolinit pada tanah ini tidak memberi kontribusi pada kapasitas tukar
kation tanah, sehingga kapasitas tukar kation hanya bergantung pada
kandungan bahan organik dan fraksi liat. Oleh karena itu, peningkatan
produktivitas tanah Ultisol dapat dilakukan melalui perbaikan tanah
(ameliorasi), pemupukan, dan pemberian bahan organik. Peningkatan
fraksi liat yang membentuk horizon argilik pada tanah Ultisol cukup
merugikan karena horizon ini akan menghalangi aliran air secara vertikal,
sebaliknya aliran horizontal meningkat sehingga memperbesar daya
erosivitas. Pembentukan horizon argilik merupakan proses alami yang sulit
dicegah, namun erosi yang terjadi dapat dihindari atau dikurangi
dampaknya. Masalah Al umumnya terjadi pada tanah Ultisol dari bahan
sedimen. Bahan sedimen merupakan hasil dari proses pelapukan
(weathering) dan pencucian (leaching), baik pelapukan dari bahan volkan,
batuan beku, batuan metamorf maupun campuran dari berbagai jenis
batuan sehingga mineral penyusunnya sangat bergantung pada asal bahan
yang melapuk. Oleh karena itu, tanah Ultisol dari bahan sedimen sudah
mengalami dua kali pelapukan, yang pertama pada waktu pembentukan
batuan sedimen dan yang kedua pada wak-tu pembentukan tanah. Dengan
demikian ada kemungkinan bahwa kandungan Al pada batuan sedimen
sudah sangat tinggi. Kondisi ini akan berbeda bila tanah Ultisol terbentuk
dari bahan volkan dan batuan beku. Pada tanah tersebut Al hanya berasal
dari pelapukan batuan bahan induknya. Kondisi ini juga masih dipengaruhi
oleh pH. Pada bahan induk yang bersifat basa, pelepasan Al tidak
sebanyak pada batuan masam, karena pH tanah yang tinggi dapat
mengurangi kelarutan hidroksida Al. Ultisol dari bahan sedimen
mempunyai kesuburan alami yang lebih rendah daripada Ultisol dari
bahan volkan atau batu kapur, karena bahan sedimen sudah merupakan
hasil perombakan bahan lain sehingga kandungan unsur haranya pun
rendah. Ultisol dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur yang
berkembang dari batuan sedimen batu pasir dan batu liat mempunyai nilai
kapasitas tukar kation tanah 318 cmol(+)/kg, kejenuhan basa 3 9%,
kejenuhan Al 3395%, dan pH 3,705 (Prasetyo dan Suharta 2000; Yatno
et al. 2000; Prasetyo et al. 2001). Sementara itu tanah Ultisol dari bahan
volkan mempunyai nilai kapasitas tukar kation 13,80 25,49 cmol(+)/kg,
kejenuhan basa 3 9%, kejenuhan Al 3395%, dan pH 3,705 (Prasetyo
dan Suharta 2000; Yatno et al. 2000; Prasetyo et al. 2001). Sementara itu
tanah Ultisol dari bahan volkan mempunyai nilai kapasitas tukar kation
13,80 25,49 cmol(+)/kg tanah, kejenuhan basa 4 35%, kandungan Al
016%, dan pH tanah 4,605,70 (Subagyo et al. 1987; Prasetyo et al.
2005).
3. Sifat Biologi
Ditinjau dari segi budidaya, tanaman tanah Ultisol dikategorikan
tidak produktif,karena pada umumnya tanah ini mempunyai potensi
keracunan aluminium dan miskin kandungan bahan organik. Tanah ini
juga miskin kandungan hara terutama P dan kation-kation dapat ditukar
seperti Ca,Mg,dan K,kadar Al yang tinggi,kapasitas tukar kation rendah
dan peka terhadap erosi (Adiningsih dan Mulyadi, 1993).
Ultisol mengandung berbagai kendala berat untuk budidaya
tanaman yang saling berkaitan. Hal ini menuntut penanganan serentak.
Menyelesaikan satu kendala tanpa menghiraukan yang lain justru dapat
menimbulkan persoalan yang lebih berat. Segala persoalan yang muncul
dalam ultisol bersumber pada sejarah pembentukannya. Tanah ini dibentuk
oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena
berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu
panas dan bercurah hujan tinggi. Vegetasi klimaksnya adalah hutan rimba.
Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses
pelindian (leaching) terpacu kuat. Asidolisis berlangsung kuat karena air
infiltrasi dan perkolasi mengambil CO hasil mineralisasi bahan organik
berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan. Menurut
Hardon (cit. Volobuev, 1964) produksi tahunan bersih bahan ogranik
dalam hutan primer tropika di Jawa ialah 25 ton ha. Longman dan Jenik
(1974) menyebutkan angka rerata 20 dengan kisaran 10-50 ton/ ha/ th
bahan kering untuk hutan tropika di dunia. Produksi serasah tahunan
dalam hutan menurut Volobuev (1964) berkisar antara 1 dan 4% dari
biomassa total. Longman dan Jenik (1974) mengajukan angka biomassa
total hutan tropika sebesar rerata 450 ton/ ha bahan kering dengan kisaran
60-800 ton/ha Maka produksi serasah tahunan dapat diperkirakan
minimum 0,6 dan maksimum 32 ton/ ha dengan kisaran tengah 4,5 hingga
18 ton/ ha
Ultisol sering diidentikkan dengan tanah yang tidak subur, tetapi
sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian potensial, asalkan
dilakukan pengelolaan yang memperhatikan kendala (constrain) yang ada
pada Ultisol ternyata dapat merupakan lahan potensial apabila iklimnya
mendukung. Tanah Ultisol memiliki tingkat kemasaman sekitar 5,5
(Munir, 1996).

D. Kendala tanah Ultisol


1. Struktur Tanah yang Kurang Mantap
Ultisol merupakan tanah yang mempunyai kandungan liat tinggi
serta kandungan bahan organik yang rendah, sehingga struktur tanahnya
kurang mantap dan terdispersi oleh tumbukan butir-butir hujan menjadi
partikel tanah yang halus. Untuk itu perlu ada penambahan bahan organik
sebagai perekat dan perangsang dalam pembentukan agregat tanah, serta
sebagai bahan pemantapan agregat tanah.
2. Infiltrasi dan Permeabilitas yang Lambat
Kandungan liat yang tinggi dikaitkan dengan ruang pori, aerasi
sedikit dan permeabilitas air yang sangat rendah. Bila tanah terdapat pada
suatu kemiringan tanah liat akan mudah terpengaruh erosi akibat dari
kecepatan aliran permukaan yang besar. Secara khusus bila air masuk
dengan cara infiltrasi di tanah segera permukaan tanah dijenuhi air. Setelah
infiltrasi air bergerak ke bawah seperti aliran tidak jenuh yang tidak
tergantung dari perbedaan potensi air dan konduktivitas tanah. Tanah-tanah
dengan kadungan liat tinggi membentuk retakan-retakan yang besar
di musim kering yang memungkinkan air dari hujan lebat yang intensif
bergerak cepat seperti aliran jenuh masuk jauh ke dalam tanah kering tanpa
adanya aliran permukaan. Tetapi bila tanah ini menjadi basah pada musim
hujan, infiltrasi mendekati nol dan hampir semua curah hujan mengalir
sebagai aliran permukaan. Pengolahan tanah dan pemberian bahan organik
dapat memperbesar laju infiltrasi dan permeabilitas tanah sehingga
ketersediaan air bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman semakin
baik.

3. Aerasi Tanah Ultisol yang Buruk


Sangat erat kaitannya dengan pori-pori tanah. Pori-pori t a n a h
adalah bagian yang tidak terisI bahan padat
t a n a h (Terisi oleh udara dan air). Pori-pori tanah dapat dibedakan
menjadi pori kasar (macro pore ) dan pori halus (micro pore). Pori-pori
kasar berisi udara atau air grafitasi (air yang mudah hilang karena gaya
grafitasi), sedangkan pori halus berisi air kapiler atau udara. Tanah-tanah
pasir mempunyai pori-pori kasar sulit menahan air sehingga tanaman
mudah kekeringan. Tanah-tanah liat mempunyai pori-pori total (jumlah
pori-pori makro makro), lebih tinggi daripada tanah pasir. Porositas tanah
dipengaruhi oleh kandungan bahan organik, struktur tanah, tekstur tanah.
Porositas tanah tinggi kalau bahan or ganik tinggi. Tana h dengan struktur
granular atau remah, mempunyai porositas yang lebih tinggi daripada tanah
dengan struktur massive (pejal). Tanah dengan tekstur pasir
banyak mempunyai pori-pori makro sehingga sulit nenahan air.
4. Kandungan Bahan Organik Rendah
Rendahnya kandungan bahan organik ini disebabkan oleh tingginya
curah hujan dan suhu yang tinggi di daerah tropika menyebabkan reaksi
kimia berjalan cepat sehingga proses pelapukan dan pencucian berjalan
cepat. Pada skala iklim mikro, curah hujan merupakan faktor iklim yang
paling berkuasa yang mempengaruhi jenis tanah di alam tropika. Pengaruh
utama curah hujan pada tanah adalah pelapukan, pelindian dan
pengembangan tanah. Air yang bertindak sebagai faktor yang selanjutnya
mempercepat laju pelapukan kimia dan perubahan penampang tanah.
Dengan demikian suhu tinggi di daerah tropika dan curah hujan tinggi
membuat laju pelapukan yang cepat.
5. Agregat Kurang Stabil
Stabilitas agregat tanah merupakan salah satu sifat fisika tanah
yang sangat penting karena dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman
secara tidak langsung, karena stabilitas agregat tanah mempengaruhi aerasi
tanah. Kompos dapat meningkatkan stabilitas agregat tanah , karena
kompos merupakan sumber bahan organik yang kaya dengan hara seperti
N, P dan K dapat disumbangkan ke dalam tanah dan secara fisik juga dapat
memperbaiki sifat fisika tanah karena adanya asam-asam organik sebagai
perangsang terbentuknya ikatan-ikatan antara partikel-partikel tanah
membentuk agregat.
6. Bobot Isi Pada Lapisan Tanah Bawah Tinggi
Hal ini disebabkan oleh tekstur tanah yang berat sehingga bobot isi
dan plastisitas tanah tinggi. Disamping itu sifat agregat tanah yang kurang
stabil dan mudah terdispersi oleh tumbukan butir-butir hujan yang jatuh
menimpanya. Butir-butir tanah yang terdispersi ak an menutupi po ri-pori
tanah yang mengakibatkan laju infiltrasi dan permeabilitas lambat dan
aliran permukaan meningkat. Pemberian kompos dari tanaman leguminosa
pada Ultisol dapat menurunkan bobot isi dan meningkatkan air tersedia
tanah.
7. pH Tanah Rendah
Hal ini disebabkan oleh batuan induk yang masam akan
menghasilkan tanah-tanah masam, sedang batuan induk alkalis pada
umumnya menghasilkan tanah-tanah alkalis, tetapi bila mengalami
pencucian lanjut karena curah hujan tinggi dapat pula membentuk tanah
masam. Adanya curah hujan dan suhu tinggi di daerah tropika
menyebabkan reaksi kimia berjalan cepat sehingga proses pelapukan dan
pencucian berjalan cepat. Akibatnya banyak tanah mengalami pelapukan
lanjut, rendah kadar unsur hara dan bereaksi masam. Topografi akan
mempengaruhi berapa besarnya jumlah air hujan yang meresap atau
ditahan masa tanah, dimana di daerah datar atau cekung dimana air tidak
mudah hilang dari tanah atau menggenang di daerah bergelombang,
drainase tanah lebih baik sehingga pengaruh iklim (curah hujan dan suhu)
lebih jelas dan pelapukan serta pencucian berjalan cepat yang
mengakibatkan tanah bereaksi masam atau pH rendah. Kemasaman tanah
merupakan salah satu sifat yang penting, sebab terdapat beberapa hubungan
pH dengan ketersediaan unsur hara, juga terdapat beberapa hubungan
antara p H dan semua pembentukan serta sifat-sifat tanah. Untuk itu pH
tanah perlu ditingkatkan agar unsur-unsur hara seperti P mudah diserap
tanaman dan dapat keracunan Al.
8. Kandungan Al, Fe dan Mn Tinggi
Karena tanah ini terbentuk d i daerah beriklim basah dengan curah
hujan lebih dari 2000 mm per tahun tanpa bulan kering. Adanya curah
hujan tinggi menyebabkan reaksi kimia berjalan cepat sehingga proses
pelapukan dan pencucian berjalan cepat. Hal ini akan mengakibatkan
tanah pH rendah, miskin hara, dengan cadangan mineral serta mempunyai
kandungan Al, Fe, Mn yang tinggi dapat bersifat racun bagi tanaman.
Untuk memperbaiki kandungan seperti ini dapat dilakukan dengan cara
pengapuran.
9. Kadar Unsur Hara Rendah
Ini terjadi karena curah hujan yang tinggi di daerah t r o p i k a
me n y e b a b k a n reaksi k i mi a berjalan cepat sehingga proses
pelapukan dan pencucian berjalan cepat, sehingga kadar unsur hara rendah.

E. Pengelolaan

Ditinjau dari luasnya, tanah Ultisol mempunyai potensi yang tinggi


untuk pengembangan pertanian lahan kering. Namun demikian, pemanfaatan
tanah ini menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat
pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan
baik. Beberapa kendala yang umum pada tanah Ultisol adalah kemasaman
tanah tinggi, pH ratarata < 4,50, kejenuhan Al tinggi, miskin kandungan hara
makro terutama P, K, Ca, dan Mg, dan kandungan bahan organik rendah.
Untuk mengatasi kendala tersebut dapat diterapkan teknologi pengapuran,
pemupukan P dan K, dan pemberian bahan organik.
1. Pengapuran
Untuk mengatasi kendala kemasaman dan kejenuhan Al yang tinggi
dapat dilakukan pengapuran. Reaksi tanah masam dengan kejenuhan Al
tinggi sudah menjadi merek dari tanah ini. Kemasaman tanah berhubungan
erat dengan kejenuhan Al, seperti yang dilaporkan oleh
Abruna etal. (1975), % kejenuhan Al = 516,10163,97 kemasaman tanah
+ 12,70 (kemasaman tanah) 2 dengan r = 0,90. Kandungan Al yang tinggi
berasal dari pelapukan mineral mudah lapuk. Kemasaman dan kejenuhan
Al yang tinggi dapat dinetralisir dengan pengapuran. Pemberian kapur
bertujuan untuk meningkatkan pH tanah dari sangat masam atau masam ke
pH agak netral atau netral, serta menurunkan kadar Al. Untuk menaikkan
kadar Ca dan Mg dapat diberikan dolomit, walaupun pemberian kapur
selain meningkatkan pH tanah juga dapat meningkatkan kadar Ca dan
kejenuhan basa. Terdapat hubungan yang sangat nyata antara takaran
kapur dengan Al dan kejenuhan Al. Pengapuran efektif mereduksi
kemaaman, dan pemberian kapur setara dengan l x Aldd dapat
menurunkan kejenuhan Al dari 87% menjadi < 20%. Pemberian kapur
dapat mengatasi masalah kemasaman tanah dan juga menjamin tanaman
dapat bertahan hidup dan berproduksi bila terjadi kekeringan. Takaran
kapur didasarkan pada Aldd atau persentase kejenuhan Al, karena setiap
jenis tanaman khususnya tanaman pangan mempunyai toleransi yang
berbeda terhadap kejenuhan Al. Makin besar persentase kejenuhan Al
dalam tanah, makin banyak kapur yang harus diberikan ke dalam tanah
untuk mencapai pH agak netral sampai netral. Pengapuran tampaknya
dapat mengatasi masalah kejenuhan Al dan kemasaman pada tanah Ultisol.
Namun di beberapa daerah seperti di Kalimantan dan Sumatera,
ketersediaan kapur relative terbatas, dan bila tersedia harganya belum tentu
terjangkau oleh petani. Pengapuran sebaiknya hanya dilakukan bila pH
tanah di bawah 5 karena pada pH di atas 5,50, respons Al rendah karena
sudah mengendap menjadi Al (OH)3.
2. Pemupukan Fosfat dan Kalium
Pemupukan fosfat merupakan salah satu cara mengelola tanah
Ultisol, karena di samping kadar P rendah, juga terdapat unsur-unsur yang
dapat meretensi fosfat yang ditambahkan. Kekurangan P pada tanah
Ultisol dapat disebabkan oleh kandungan P dari bahan induk tanah yang
memang sudah rendah, atau kandungan P sebetulnya tinggi tetapi tidak
tersedia untuk tanaman karena diserap oleh unsur lain seperti Al dan Fe.
Ultisol pada umumnya memberikan respons yang baik terhadap
pemupukan fosfat. Penggunaan pupuk P dari TSP lebih efisien dibanding P
alam, namun pengaruh takaran P terhadap hasil tidak nyata. Pemberian P
200250 ppm P2O5 pada tanah Ultisol dari Lampung dan Banten dapat
menghasilkan bahan kering 34 kali lebih tinggi dari perlakuan tanpa
fosfat. Di samping itu pengaruh residu pemupukan P masih terlihat
walaupun hasil tanaman lebih rendah dari pertanaman sebelumnya.
Respons tanaman jagung terhadap pemupukan P dan N pada tanah Typic
Paleudults sangat tinggi karena status kesuburan Typic Paleudults sangat
rendah. Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa takaran pupuk P dan N
untuk pertanaman jagung kedua lebih kecil dari pertanaman pertama.
3. Bahan Organik
Tanah Ultisol umumnya peka terhadap erosi serta mempunyai pori
aerasi dan indeks stabilitas rendah sehingga tanah mudah menjadi padat.
Akibatnya pertumbuhan akar tanaman terhambat karena daya tembus akar
ke dalam tanah menjadi berkurang. Bahan organik selain dapat
meningkatkan kesuburan tanah juga mempunyai peran penting dalam
memperbaiki sifat fisik tanah. Bahan organik dapat meningkatkan agregasi
tanah, memperbaiki aerasi dan perkolasi, serta membuat struktur tanah
menjadi lebih remah dan mudah diolah. Bahan organik tanah melalui
fraksi-fraksinya mempunyai pengaruh nyata terhadap pergerakan dan
pencucian hara. Asam fulvat berkorelasi positif dan nyata dengan kadar
dan jumlah ion yang tercuci, sedangkan asam humat berkorelasi negatif
dengan kadar dan jumlah ion yang tercuci. Pengelolaan bahan organik
dengan penanaman Mucuna sp. selama 3 bulan dan pengembalian serasah
+ pupuk kandang 10 t/ha pada guludan dapat meningkatkan pori tanah,
dan pori air tersedia, serta menurunkan kepadatan tanah (Erfandi et
al. 2001). Pada Ultisol dari Sitiung, pemberian bahan organik berupa
kotoran sapi, jerami, dan Flemingia congesta dapat meningkatkan
kandungan bahan organik dan kapasitas tukar kation serta menghalangi
serapan P dan Mg dalam tanah. Pengelolaan tanah dan bahan organik
berupa sisa tanaman jagung, F. congesta, dan Mucuna sp. sebagai mulsa
sangat efektif mencegah erosi serta mengurangi konsentrasi sedimen dan
aliran permukaan. Pemberian berbagai jenis dan takaran pupuk kandang
(sapi, ayam, dan kambing) dapat memperbaiki sifat fisik tanah, yaitu
menurunkan bobot isi serta meningkatkan porositas tanah dan laju
permeabilitas. Penambahan bahan organik dari pupuk kandang maupun
sisa-sisa tanaman atau hasil penanaman seperti Mucuna sp. dan F.
congesta dapat memperbaiki sifat fisik tanah seperti pori air tersedia,
indeks stabilitas agregat, dan kepadatan tanah. Pemberian bahan organik
baik dari sisasisa tanaman maupun yang sengaja ditanam tidak
menimbulkan masalah bagi petani, tetapi pemberian pupuk kandang
dengan takaran hingga 10 t/ha akan sangat sulit diterapkan oleh petani.
Penyediaan bahan organik dapat pula diusahakan melalui pertanaman
lorong (alley cropping). Selain pangkasan tanaman dapat menjadi sumber
bahan organik tanah, cara ini juga dapat mengendalikan erosi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penanaman Flemingia sp. dapat
meningkatkan pH tanah dan kapasitas tukar kation serta menurunkan
kejenuhan Al. Penerapan pola tanam tumpang gilir di produksi dengan
pemberian mulsa setiap panen pada tanah Ultisol dapat menekan erosi
pada lereng 15% hingga di bawah nilai erosi yang dapat diabaikan. Pada
lereng sekitar 4%, penggunaan mulsa untuk mencegah erosi cukup baik
asalkan diikuti pengelolaan tanah yang baik pula.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam sistem klasifikasi tanah USDA terbaru (1975, 1985) yang masih
terus dikembangkan dengan kerjasama internasional untuk kesempurnaannya,
tanah podsolik merah-kuning secara umum masuk dalam ordo ultisol. Tanah
podsolik merah kuning atau sering disingkat PMK adalah tanah yang
terbentuk karena curah hujan yang tinggi dan suhu yang sangat rendah dan
juga merupakan jenis tanah mineral tua yang memiliki warna kekuningan atau
kemerahan. Warna dari tanah podsolik ini menandakan tingkat kesuburan
tanah yang relatif rendah karena pencucian.Warna kuning dan merah ini
disebabkan oleh longgokan besi dan aluminum yang teroksidasi. Mineral
lempung yang terdapat pada tanah ini penyusunnya didominasi oleh silikat.
Pengelolaan tanah ultisol ini dengan cara pengapuran, pemupukan fosfat dan
kalium serta penambahan bahan organik.
DAFTAR PUSTAKA

Afriansyah, 2011. Sifat Fisika & Kimia Tanah Ultisols.


http://dsafriansyah.blogspot.co.id/. Diakses pada tanggal 21 November
2017 pukul 11.09 WIB.
Buckman, H. D dan N. C Brady. 1982. The nature and properties of soil.
Terjemahan Soegiman. Ilmu tanah. Bharata Karya Aksara, Jakarta.
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademik Presindo, Jakarta.
Hery, Yanto. 2013. Kesuburan Tanah Ultisol. http://heryantos.blogspot.co.id/.
Diakses pada tanggal 21 November 2017 pukul 12.11 WIB.
Notohadiprawiro, Tejoyuwono. 2006. Ultisol, Fakta dan Implikasi Pertaniannya.
http://soil.blog.ugm.ac.id/. Diakses pada tanggal 21 November 2017 pukul
12.21 WIB.
Utomo, Budi. 2008. Perbaikan Sifat Tanah Ultisol untuk Meningkatkan
Pertumbuhan Eucalyptus urophylla pada Ketinggian 0-400 Meter.
http://repository.usu.ac.id/. Diakses pada tanggal 21 November 2017 pukul
11.49 WIB.