Anda di halaman 1dari 5

KEUNGGULAN ABSOLUT & KEUNGGULAN KOMPERATIF

1. Keungulan Absolut (Absolut Advantage)

Teori keunggulan absolut dari Adam Smith sering disebut teori murni perdagangan
internasional. Dasar pemikiran teori ini adalah suatu negara akan melakukan perdagangan atau
pertukaran apabila setiapnegara memperoleh keuntungan mutlak dari perdagangan. Suatu negara dikatakan
mempunyaikeuntungan mutlak dalam memproduksi suatu jenis barang apabila negara tersebut
dapat memproduksibarang dengan biaya yang lebih murah dibandingkan jika barang itu diproduksi di negara
lain. Dengan demikian, suatu negara akan mengekspor suatu barang jika negara tersebut dapat
membuatnya secaralebih murah dibandingkan negara lain.
Keunggulan absolut adalah situasi ekonomi di mana penjual mampu menghasilkan jumlah yang
lebih tinggi dari produk yang diberikan, saat menggunakan jumlah yang sama sumber daya yang
digunakan oleh pesaing untuk menghasilkan jumlah yang lebih kecil. Hal ini dimungkinkan bagi
individu, perusahaan, dan bahkan negara memiliki keuntungan absolut di pasar. Kemampuan
untuk menghasilkan lebih banyak barang dan jasa dengan lebih efisien juga memungkinkan
untuk mendapatkan keuntungan lebih, dengan asumsi bahwa semua unit yang diproduksi dijual.
Biaya juga merupakan faktor yang terlibat dalam menentukan apakah keuntungan absolut ada.
Ketika itu adalah mungkin untuk memproduksi lebih banyak produk dengan menggunakan
sumber daya yang lebih sedikit, ini biasanya diterjemahkan ke dalam biaya produksi yang lebih
rendah per unit. Bahkan dengan asumsi bahwa produsen menjual setiap unit dengan biaya sedikit
di bawah kompetisi, hasil akhir masih harus keuntungan yang lebih tinggi pada setiap unit yang
dijual.
Ada beberapa asumsi dari keunggulan Absolut ini
Faktor produksi yang digunakan hanya tenaga kerja
Kualitas barang yang diproduksi kedua Negara sama
Pertukaran dilakukan secara barter tanpa mengeluarkan uang
Biaya ditanspor ditiadakan.

Contoh: Indonesia dan India memproduksi dua jenis komoditi yaitu pakaian dan tas dengan
asumsi (anggapan) masing-masing negara menggunakan 100 tenaga kerja untuk memproduksi
kedua komoditi tersebut. 50 tenaga kerja untuk memproduksi pakaian dan 50 tenaga kerja untuk
memproduksi tas. Hasil total produksi kedua negara tersebut yaitu:

Produk Indonesia India


Pakaian 40 unit 20 unit
Tas 20 unit 30 unit

Berdasarkan informasi di atas, Indonesia memiliki keunggulan mutlak dalam produksi


pakaian dibandingkan dengan India, karena 50 tenaga kerja di Indonesia mampu memproduksi
40 tenaga kerja dan India hanya bisa memproduksi 20 unit. Sedangkan India memiliki
keunggulan mutlak dalam memproduksi tas karena India bisa membuat 30 tas, Indonesia hanya
20 tas. Jadi Indonesia memiliki keunggulan mutlak dalam produksi pakaian dan India memiliki
keunggulan mutlak dalam produksi tas. Apabila Indonesia dan India melakukan spesialisasi
produksi, hasilnya akan sebagai berikut:
Produk Indonesia India
Pakaian 40 unit 20 unit
Tas 20 unit 30 unit

Dengan melakukan spesialisasi hasil produksi semakin meningkat. Karena Indonesia dan
India memindahkan tenaga kerja dalam produksi komoditi yang menjadi spesialisasi. Sebelum
spesialisasi, jumlah produksi sebanyak 60 unit pakain dan 40 unit tas. Tetapi setelah spesialisasi,
jumlah produksi meningkat menjadi 80 unit pakaian dan 60 unit tas. Jadi keunggulan mutlak
terjadi apabila suatu negara dapat menghasilkan komoditi-komoditi tertentu dengan lebih efisien,
dengan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan negara lain.
Contoh lain :
Secara matematis, teori absolute advantage dari adam smith dapat diilustrasikan dengan data
hipotesis sebagai berikut.
Tabel. Data Hipotesis Teori Absolute Advantage dari Adam Smith

Produk per satuan DTDN (Dasar Tukar


The Sutra
tenaga kerja/hari Dalam Negeri)
4kg = 1m
Indonesia 12 kg 3m
1kg = 1/4m
1/2kg = 1m
Cina 4 kg 8m
1kg = 2m

Berdasarkan ilustrasi di atas dapat diketahui bahwa tenaga kerja Indonesia memiliki keunggulan
absolute dalam produksi teh (12 kg), sedangkan Cina memiliki keunggulan absolute dalam
produksi sutra (8m). Berdasarkan DTDN dapat dilihat:
Harga 1 kg teh di Indonesia lebih murah (hanya sutra) dibandingkan dengan di Cina yang
lebih mahal (yaitu 2 m sutra). Sebaliknya, harga 1 m sutra di Cina lebih murah (hanya kg teh)
dibandingkan dengan di Indonesia yang lebih mahal (yaitu 4 kg teh). Berdasarkan perbandingan
DTDn pada kedua negara di atas, maka dapat disimpulkan:
Indonesia memiliki keunggulan absolute dalam produksi teh sehingga akan melakukan
spesialisasi produksi dan ekspor teh ke Cina. Sebaliknya, Indonesia akan mengimpor sutra ke
Cina. Sedangkan Cina memiliki keunggulan absolute dalam produksi sutra sehingga akan
melakukan spesialisasi produksi dan ekspor sutra ke Indonesia. Sebaliknya, Cina akan
mengekspor teh dari Indonesia.

2. Keunggulan Komperatif (comparative advantage)


Di dalam Kamus Bahasa Indonesia, dinyatakan bahwa keunggulan kompetitif bersifat
kompetisi dan bersifat persaingan. Keunggulan kompetitif adalah merujuk pada kemampuan
sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi
yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan kompetitif muncul bila
pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan
sebuah organisasi pesaingnya
Keunggulan Komperatif menurut David Ricardo merupakan perdagangan
internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat
bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu
memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara
lainnya. Dalam teori keunggulan komparatif yang dikemukan oleh David Ricardo,
suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut
melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi
tinggi. Teori keunggulan komparatif David Ricardo berdasarkan atas beberapa asumsi, antara lain
sebagaiberikut:
1. Perdagangan internasional hanya terjadi antardua negara.
2. Perdagangan dilakukan secara sukarela (bebas).
3. Barang yang dipertukarkan hanya dua macam.
4. Tenaga kerja bersifat homogen satu negara.
5. Tenaga kerja bergerak bebas di dalam negeri, tetapi tidak bebas dalam hubungan antarnegara.
6. Biaya-biaya produksi dianggap tetap.
7. Kualitas barang adalah sama.
8. Biaya transportasi tidak ada (nol).
9. Teknologi tidak berubah.

Ia menyatakan bahwa setiap negara akan memperoleh keuntungan jika ia


menspesialisasikan pada produksi dan ekspor yang dapat diproduksinya pada biaya yang relatif
lebih murah, dan mengimpor apa yang dapat diprosuksinya pada biaya yang relatif lebih mahal.
Contoh Ilustrasinya dapat dilihat pada tabel berikut :
Kebutuhan Jam Kerja untuk Produksi
Produk Amerika Eropa
Pizza 1 3
Pakaian 2 4

Agar terlihat sederhana, diasumsikan ada dua negara (Amerika dan Eropa) dan dua
output (pizza dan pakaian). Keduanya memiliki sumber daya masing-masing 120 jam tenaga
kerja (TK) untuk memproduksi pizza dan pakaian. Namun Amerika mampu memproduksi i unit
pizza dengan 1 jam TK dan 1 unit pakaian dengan 2 jam TK. Sedangkan Eropa membutuhkan 3
jam TK untuk memproduksi 1 unit pizza dan 4 jam TK untuk pakaian. Sekedar keterangan,
Amerika mampu memproduksi keduanya dengan jam TK (input) yang lebih sedikit daripada
Eropa. Menurut Teori Keuntungan Absolut (Absolute Advantage), Amerika seharusnya
memproduksi keduanya sendiri. Namun tidak demikian menurut teori keuntungan komparatif.
Kita lihat perbandingannya dibawah dengan menggunakan teori keuntungan komparatif :
Sebelum melakukan perdagangan
Produksi di kedua negara menghasilkan upah riil yang berbeda bagi TK. Upah riil bagi TK di
Amerika adalah 1 pizza atau 1/2 pakaian. Sementara di Eropa, upah riil TK hanya 1/3 pizza atau
1/4 pakaian. Artinya upah di Eropa lebih rendah dibandingkan di Amerika dan TK di Eropa
memiliki daya beli yang relatif lebih kecil. Ini tentunya juga menimbulkan perbedaan biaya
produksi, dan jika pasar adalah persaingan sempurna, harga pizza dan pakaian akan berbeda di
kedua negara.
Sementara itu, mari kita lihat berapa total output yang mampu diproduksi kedua negara
tanpa melakukan perdagangan. Jika diasumsikan dari total 120 jam TK (input) yang tersedia di
tiap negara separuhnya dialokasikan untuk produksi pizza dan separuhnya lagi dialokasikan
untuk produksi pakaian, maka total produksi kedua negara adalah sebagai berikut :
Kebutuhan jam Tenaga Kerja untuk Produksi
Produk Amerika Eropa
Pizza 60 20
Pakaian 30 15
Total 90 + 35 = 125

Dengan input 120 jam TK yang dimiliki masing-masing negara, jika dialokasikan
separuh-separuh, Amerika mampu memproduksi 60 pizza (60 jam TK / 1) dan 30 pakaian (60
jam TK / 2). Sedangkan Eropa mampu memproduksi 20 pizza (60 jam TK / 3) dan 15 pakaian
(60 jam TK / 4). Dengan demikian, total produksi yang dihasilkan kedua negara adalah 125 unit,
yang terdiri dari pizza dan pakaian.
Menurut teori keuntungan komparatif, Amerika seharusnya hanya memproduksi pizza
dan Eropa memproduksi pakaian. Ini karena produksi pakaian relatif lebih mahal bagi Amerika,
dengan rasio harga produksi 2 dibandingkan dengan 4/3 yang mampu diproduksi Eropa (lihat
gambar 1). Sedangkan pizza relatif lebih mahal bagi Eropa karena rasio harga produksinya
adalah 3/4 dibandingkan dengan 1/2 yang mampu diproduksi Amerika (lihat gambar 1). jadi,
perbandingan dalam teori ini adalah berdasarkan harga relatif di kedua negara, bukan hanya di
satu negara.
Dengan asumsi biaya transpotasi tidak ada atau relatif sangat kecil, Amerika kemudian
akan mengekspor pizza ke Eropa dan Eropa akan mengekspor pakaian ke Amerika. Karena biaya
produksi yang lebih murah, harga pizza Amerika yang diekspor juga akan lebih murah dan ini
mendorong harga pizza di Eropa turun. JIka harga pizza di eropa terlalu rendah bagi produsen
Eropa, mereka akan menutup produksinya karena tidak menguntungkan lagi. Akhirnya mereka
akan beralih ke produksi yang lebih menguntungkan, yaitu pakaian. Sedangkan kebutuhan pizza
di Eropa akan dipenuhi dengan impor. Hal yang sama juga terjadi terhadap pakaian di Amerika.
Pada akhirnya, perbedaan harga akan membuat Amerika hanya memproduksi Pizza dan Eropa
hanya memproduksi pakaian.

Setelah melakukan perdagangan


Total output kedua negara adalah sebagai berikut :
Kebutuhan jam Tenaga Kerja untuk Produksi
Produk Amerika Eropa
Pizza 120 0
Pakaian 0 30
Total 120 + 30 = 150
Pada gambar diatas, Amerika menggunakan semua inputnya (120 jam TK) untuk
memproduksi pizza saja, sehingga menghasilkan 120 pizza (120 jam TK / 1). Sedangkan Eropa
menggunakan semua inputnya untuk memproduksi pakaian saja, sehingga menghasilkan 30
pakaian (120 jam TK / 4). Ternyata total output kedua negara meningkat dengan melakukan
spesialisasi produksi ini, yaitu menjadi 150 unit.

Contoh lain :
Berdasarkan hipotesis teori comparative advantage dari David Ricardo adalah cost comparative
advantage.
Negara Produksi
1 kg gula 1 m kain
Indonesia 3 hari kerja 4 hari kerja
Cina 6 hari kerja 5 hari kerja

Perhitungan Cost Comparative


Perbandingan Cost 1 kg gula 1m kain
Indonesia/Cina 3/6 HK 4/5 HK
Cina/Indonesia 6/3 HK 5/4 HK

Berdasarkan perbandingan cost comparative advantage dapat dilihat bahwa tenaga kerja
Indonesia lebih efisien dibandingkan tenaga kerja Cina dalam produksi 1 kg gula (3/6 atau hari
kerja) daripada produksi 1 meter kain (4/5 hari kerja). Hal ini akan mendorong Indonesia
melakukan spesialisasi produksi dan ekspor gula.
Sebaliknya, tenaga kerja Cina ternyata lebih efisien dibandingkan tenaga kerja Indonesia dalam
produksi 1 meter kain (3/6 hari kerja)daripada produksi 1 kg gula (6/3 atau 2/1 hari kerja). Hal
ini mendorong Cina melakukan spesialisasi produksi dan ekspor kain.
Ilustrasi diatas menjelaskan mengapa negara-negara perlu melakukan perdagangan internasional
dan bagaimana negara yang terlibat saling memperoleh keuntungan.