Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN 2

Jurusan Teknik Lingkungan FALTL Universitas Trisakti


Gasal 2017/2018

KELOMPOK 08
1. Anna Kristina Rosa Vernans B (082001500005)
2. Fathimah Hanun Syifaul J (082001500024)

Asisten : Yuan Lucky R


PERCOBAAN KADAR AMONIA (NH3) DI UDARA AMBIEN

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Udara merupakan atmosfer yang berada di sekeliling bumi yang fungsinya
sangat penting bagi kehidupan yang berlangsung di bumi. Nitrogen adalah salah
satu unsur golongan VA yang merupakan unsur non logam, dan gas yang paling
banyak di atmosfir bumi (sekitar 78%). Hidrogen merupakan unsur sangat ringan
dan di alam berada dalam bentuk gas H2, air (H2O), senyawa-senyawa organik dan
isotop-isotop.
Amonia (NH3) adalah gas yang diperoleh dari hasil pemecahan senyawa
nitrogen atau protein. Amonia dalam cairan rumen dihasilkan dari proses degradasi
protein oleh mikrobarumen, selanjutnya NH3 ini dipergunakan oleh mikroba untuk
sintesa protein. Amonia merupakan senyawa yang ada di dalam urin, yang
bersifat basa dan bila terkena sinar atau panas akan menimbulkan bau menyengat.
Bau amonia tersebut berasal dari peruraian urea sebagai komponen bahan
organik terbanyak dalam urin oleh jasad renik menjadi energi dan gas NH3.
Permasalahan tersebut banyak ditemukan di toilet-toilet rumah tangga ataupun di
toilet umum yaitu apabila toilet jarang dibersihkan, maka dalam kondisi seperti ini
dapat mengganggu kenyamanan pengguna toilet karena pengguna akan merasakan
pusing dan mual karena bau dari amonia tersebut.
Bau amonium dalam kehidupan sehari-hari sangat erat hubungannya
dengan keberadaan kamar mandi. Pada masyarakat dengan strata ekonomi yang
cukup memadai, lantai kamar mandi atau toilet sebagian besar terbuat dari lantai
ubin keramik. Pada ubin keramik biasa, konsentrasi amonia dalam ruang
mencapai 1,5 ppm (bau tidak enak) setelah kurang lebih satu minggu dan
meninggalkan warna kuning yang sulit dibersihkan.
Pada praktikum kali ini, praktikan diharapkan mampu untuk melakukan
pengujian dan perhitungan terhadap kadar NH3 dengan metoda indofenol
menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 630 nm. Pengukuran
sampel uji udara yang dilakukan praktikan berada di toilet lantai 5 gedung K,
kampus A Universitas Trisakti. Selain itu diharapkan praktikan mampu
menganalisis hasil pengukuran yang dihasilkan kemudian dihubungkan kembali
dengan penyebab maupun dampak yang akan dihasilkan serta berbagai ccara
pengendalian dan pencegahan yang optimal.

1.2. Tujuan
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan kadar NH3 pada udara ambien
di toilet lantai 5 gedung K, kampus A Universitas Trisakti yang bertujuan untuk
mengetahui kadar konsentrasi Amoniak (NH3) pada udara ambien yang berada di
toilet lantai 5 gedung K, kampus A Universitas Trisakti. Selain itu percobaan kali
ini dilakukan untuk mengetahui dan membandingkan apakah kadar konsentrasi
yang didapatkan melebihi/ tidak melebihi dari nilai standar ambang batas baku
mutu udara ambien parameter NH3.
Disamping itu tujuan percobaan kali ini adalah untuk mengetahui dan
menganalisis lokasi titik sampling yang memiliki kadar konsentrasi NH3 tertinggi
maupun yang terendah di kampus A Universitas Trisakti, sehingga praktikan
mampu mengidentifikasi penyebab utama tingginya kadar konsentrasi gas NH3
serta dampak maupun akibat yang dihasilkan dan cara pengendalian dan
pencegahan yang sesuai dan optimal.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Pustaka
Udara ambien adalah udara bebas dipermukaan bumi yang berada pada
lapisan troposfer yang dibutuhkan dan dapat mempengaruhi kesehatan manusia,
makhluk hidup serta unsur lingkungan hidup lainnya. Pengukuran kualitas udara
ambien bertujuan untuk mengetahui konsentrasi zat pencemar yang ada di udara.
Pencemaran udara diawali oleh adanya emisi.
Emisi merupakan jumlah polutan (pencemar) yang dikeluarkan ke udara
dalam satuan waktu. Emisi dapat disebabkan oleh proses alami maupun kegiatan
manusia (antropogenik). Pencemaran udara yang disebabkan oleh kegiatan manusia
(antropogenik) dapat dilihat secara nyata melalui jumlah penggunaan kendaraan
bermotor dan berbagai kegiatan industri yang menjadi salah satu penyebab
tingginya kadar konsentasi zat pencemar. (Darmono, 2001)
2.1.1. Amoniak (NH3)
Amoniak adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Amoniak adalah
gas tak berwarna, baunya menusuk, terdiri atas unsur nitrogen dan hidrogen
(NH3), serta mudah sekali larut dalam air. Biasanya senyawa ini didapati
berupa gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia). Amonia
merupakan senyawa nitrogen yang terpenting dan paling banyak
diproduksi. Amoniak NH3 berasal dari oksidasi zat organis secara
mikrobiologis yang berasal dari air buangan industri dan penduduk.
Kadar amoniak tinggi selalu menunjukkan pencemaran. Secara fisik
cairan amonia mirip dengan air dimana bergabung sangat kuat melalui
ikatan hidrogen. NH3 dibentuk dengan pemberian basa pada suatu garam
amoniak. Gas amoniak (NH3) dapat terbentuk sebagai hasil
penguraian/pembusukan protein yang terdapat dalam limbah atau sampah
organik, baik yang berasal dari limbah rumah tangga maupun industri.
Gas amoniak berbau busuk dan jika terhirup dalam pernafasan dapat
berakibat mengganggu kesehatan, molekul amoniak (NH3) biasanya
membentuk ion amonium (NH4+). Dengan demikian, kadar amoniak dalam
air atau limbah cair selalu ditentukan sebagai ion ammonium.
2.1.2. Sumber Pencemaran Amoniak
Gas amonia juga merupakan salah satu gas pencemar udara yang
dihasilkan dari penguraian senyawa organik oleh mikroorganisme seperti
dalam proses pembuatan kompos, dalam industri peternakan, dan
pengolahan sampah kota. Gas amonia itu terdiri dari hidrogen dan nitrogen
yang biasanya perbandingan molarnya 3:1 yaitu terdapat metan, argon, dan
CO2.
Amonia disintesis dengan reaksi reversibel antara hidrogen dengan
nitrogen. Seperti halnya reaksi revesibel lain, reaksi pembentukan amonia
juga menghabiskan tenaga dan pikiran untuk mengatur reaksi dengan
jumlah amonia pada kesetimbangan pada berbagai macam temperatur dan
tekanan. Amonia juga dapat berasal dari sumber antropogenik seperti
industri pupuk urea, industri asam nitrat dan dari kilang minyak. (Effendy,
2006).
2.1.3. Dampak Pencemaran Amoniak
Dampak Terhadap Lingkungan
Amoniak juga dapat menjadi korosif apabila terkena tembaga dan
timah. Selain itu amoniak dengan kadar 0,2% sampai dengan 0,3%
dari volume ruangan menyebabkan kematian. Pada air minum kadar
amonia harus 0 mg/L dan pada air sungai di bawah 0,5 mg/L.
Konsentrasi amonia yang tinggi pada permukaan air akan
menyababkan kematian ikan, udang, dan binatang air lainnya yang
terdapat pada perairan tersebut Kadar ammonia yang tinggi pada air
sungai menunjukkan adanya pencemaran, akibatnya rasa air sungai
kurang enak dan berbau.
Dampak Terhadap Kesehatan Manusia
Amoniak cair dapat menyebabkan kulit melepuh seperti luka bakar
dan juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata dan saluran
pernafasan. Bahkan bisa menyebabkan mual, muntah, dan pingsan.
Penggunaan amoniak dalam waktu yang lama dapat menyebabkan
penyakit kanker karena amoniak bersifat karsinogenik atau bahan
yang dapat menimbulkan kanker.
a) Efek Jangka Pendek (Akut)
Iritasi terhadap saluran pernapasan, hidung,
tenggorokan, mata terjadi pada 400-700 ppm. Sedang
pada 5000 ppm menimbulkan kematian. Kontak dengan
mata dapat menimbulkan iritasi hingga kebutaan total.
Kontak dengan kulit dapat menyebabkan luka bakar
(frostbite).
b) Efek Jangka Panjang (Kronis)
Menghirup uap asam pada jangka panjang
mengakibatkan iritasi pada hidung, tenggorokan dan
paru-paru serta dapat mengakibatkan terjadinya
bronkitis. (Housecoft, 2005)
2.1.4. Pengendalian Pencemaran Amoniak
Perlu diketahui bahwa bau amonia dapat berasal dari peruraian
urea/penguraian senyawa organik sebagai komponen bahan organik
terbanyak dalam urin oleh jasad renik menjadi energi dan gas NH3.Oleh
sebab itu cara pengendalian pencemaran amoniak pada toilet rumah tangga
maupun toilet umum adalah:
Ventilasi udara yang baik dan cukup sangat dibutuhkan. Apabila
ventilasi udara cukup memadai maka aliran udara yang cukup akan
membawa cukup oksigen dan juga mengangkut ke luar berbagai gas
sisa yang mengandung amoniak maupun debu. Sehingga terjadinya
resirkulasi udara yang optimal. Hal ini dikarenakan gas amoniak
yang berbau busuk dan apabila terhirup dalam kurun waktu tertentu
maka dapat berakibat mengganggu kesehatan terutama saluran
pernafasan.
Melakukan pembersihan toilet secara optimal, sehingga mencegah
terjadinya warna kuning pada keramik kamar mandi yang sulit
dibersihkan.
III. ALAT DAN BAHAN
3.1. Alat Dalam Percobaan Kadar Amoniak (NH3)

Tabel 3.1 Alat Dalam Percobaan Kadar Amoniak (NH3)

No Nama Alat Ukuran Jumlah Gambar

Botol Penjerap
1 Midget - 1
Impinger

2 Flow meter -
1

1
3 Pompa -

4 Bulp - 1

5
25 ml 1
Labu Ukur

6 Spektrofotome- - 1

ter
No Nama Alat Ukuran Jumlah Gambar

7 Pipet 10 ml 1
Volumetrik

8 Corong dan
Selang - 1

9 Stopwatch - 1

10 Barometer - 1

- 1
11 Anemometer

12 Hygrometer - 1

13 Terminal - 1
3.2. Bahan Dalam Percobaan Kadar Oksidan (O3)

Tabel 3.2 Bahan Dalam Percobaan Oksidan (O3)

No Nama Alat Konsentrasi Jumlah Gambar

Larutan
Penjerap
1
Asam sulfat
- 50 ml
(H2SO4)

5
Air Suling
- 5 ml

Aluminium
Foil
6 - -

7 Vaseline
- -

Larutan - 2 ml
8
Penyangga

Pereaksi - 2,5 ml
9
NaOCl
No Nama Alat Ukuran Jumlah Gambar

10 Fenol - 5 ml

IV. CARA KERJA


4.1. Diagram Sampling
Berikut merupakan skema diagram sampling pada percobaan NH3 dengan
metoda indofenol menggunakan spektofotometer :

Siapkan dan susun Masukkan larutan Lapisi aluminium foil


peralatan penjerap H2SO4 secara menyeluruh
pengambilan contoh sebanyak 50 ml ke pada botol penjerap
uji NH3. dalam botol penjerap. yang akan digunakan.

Lakukan pengambilan Setelah 1 jam catat Hidupkan pompa


contoh uji selama 30 sebagai laju akhir penghisap dan atur
menit. Dan catat data- (F2) dan kemudian laju alir 0,5 3
data meteorologi. matikan pompa L/menit.
penghisap.

4.2. Diagram Analisis


Berikut merupakan skema diagram analisis pada percobaan NH3 dengan
metoda indofenol menggunakan spektofotometer :

Pipet 10 ml larutan contoh Masukkan 2 ml fenol dan 2,5


uji ke dalam labu ukur 25 ml reaksi NaOCl ke dalam
ml. Kemudian masukkan labu ukur, tera dengan
larutan penyangga aquadest lalu diamkan selama
30 menit
Baca serapan contoh uji Ukur intensitas warna biru
kemudian hitung jumlah yang terbentuk pada contoh
oksidan (g/L) dengan uji menggunakan
menggunakan kurva spektrofotometer pada
kalibrasi panjang gelombang 630 nm.

V. HASIL PENGAMATAN
Berikut merupakan hasil pengamatan pada percobaan NH3 dengan metoda
indofenol menggunakan spektofotometer :
5.1 Lokasi Penelitian
Lokasi : Toilet wanita lantai 5 yang berada di gedung K,
Kampus A Universitas Trisakti.
Titik Koordinat : S 6o106.7908 E106o4723.2548
Hari/tanggal : Selasa, 17 Oktober 2017
Waktu : pkl. 09.29 s.d. 10.29 WIB

5.2 Data Meteorologi


Tabel 5.1 Hasil Pengukuran Data Meteorologi
No. Data Meteorologi Keterangan
1. Arah Angin (Kompas) Utara ke Selatan
2. Kecepatan Angin (Anemometer) 1,23 m/s
3. Hygrometer (Kelembapan) 40 %rh
4. Temperatur (Suhu) 30C
5. Barometer (Tekanan) 762 mmHg

5.3 Data Sampling


Tabel 5.2 Data Sampling
No Keterangan Waktu Sampling
1. Pengambilan sampel udara selama 60 menit 09.29 s.d. 10.29 WIB
2. Pada saat 10 menit awal di dapat laju alir 09.29 s.d. 09.39 WIB
sebesar 1 L/menit.
3. Setelah 20 menit di dapat laju alir sebesar 1 09.39 s.d. 09.59 WIB
L/menit.
No Keterangan Waktu Sampling
4. Pada saat menit terakhir pengujian di dapat 09.59 s.d. 10.29 WIB
laju alir sebesar 1L/menit.

5.2 Data Analisis


Tabel 5.3 Kurva Kalibrasi O3
Konsentrasi (g/L) Absorbansi
0 0
0,2 0,008
0,4 0,028
0,8 0,038
1,2 0,059

0.07

0.06

0.05
Absorbansi

0.04

0.03 Abs
Linear (Abs)
0.02

0.01

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4
Konsentrasi NH3 (g/L)

Grafik 5.1. Hubungan Antara Konsentrasi Dengan Absorbansi NH3


Tabel 5.4 Jumlah NH3 dari Contoh Uji Hasil Perhitungan Kurva Kalibrasi
Dari Setiap Kelompok

Kelompok Kelompok Kelompok


Praktikan Tertinggi Terendah

VI. RUMUS DAN PERHITUNGAN

6.1 RUMUS
6.1.1. Volume Contoh Uji Udara Yang Diambil

F1 + F2 + F3 Pa 298
V= xtx x
3 Ta 760

Keterangan:
V = Volume udara yang dihisap dikoreksi pada kondisi
normal (L)
F1 = Laju alir awal (L/ menit)
F2 = Laju alir tengah (L/ menit)
F3 = Laju alir akhir (L/menit)
t = Durasi pengambilan contoh uji (menit)
Pa = Tekanan barometer rata-rata selama pengambilan contoh
uji (mmHg)
Ta = Temperatur rata-rata selama pengambilan contoh uji (K)
298 = Temperatur pada kondisi normal 25 C konversi dalam
Kelvin
760 = Tekanan udara pada kondisi normal 1 atm (mmHg)

6.1.2. Konsentrasi Amoniak (NH3) di Udara Ambien Selama 1 Jam

x 25
1 = x 1000 x
V 10

Keterangan:
C = Konsentrasi O3 di udara ( g/ Nm3)
x = Jumlah NH3 dari contoh uji hasil perhitungan dari kurva
kalibrasi (g)
V = Volume udara yang dihisap dikoreksi pada kondisi
normal
1000 = Konversi liter ke m3
25 = Volume total larutan penyerap NH3
10 = Volume yang dipipet untuk dianalisis

6.1.3. Konsentrasi Amoniak (NH3) di Udara Ambien Selama 24 Jam

1
24 = 1 ( )
2

Keterangan:
C1 = Konsentrasi udara rata-rata dengan t pengambilan selama
1 jam
C2 = Konsentrasi udara rata-rata dengan t pengambilan selama
24 jam
t1 = Lama pengambilan sampel selama 60 menit
t2 = Lama pengambilan sampel selama 1440 menit
n = faktor konversi dengan nilai 0.185

6.1.6. Konversi g/ Nm3 Amoniak (NH3) ke dalam ppm


3 24,45
=
3 103

6.2 PERHITUNGAN

6.2.1. Volume Contoh Uji Udara yang Diambil Untuk NH3


Diketahui:
F1 = 1 L/menit
F2 = 1 L/menit
F3 = 1 L/menit
t = 30 menit
Pa = 762 mmHg
Ta = 30C + 273K = 303K

Ditanya:
V NH3

Jawab:
F1 +F2 +F3 Pa 298
V= xtx x
3 Ta 760
1+1+1 762 298
V= x 30 x x
3 303 760
V = 59,165 L

6.2.2. Konsentrasi NH3 di Udara Ambien


Diketahui:
y = 0,006
x = 0,1
y = 0,13

Ditanya:
X Hitungan Manual O3
X Hitungan Komputer O3

Jawab :(1)

Y Y
=
X X

0,006 0,13
=
0,1 X

0,013
X=
0,006

= ,

Jawab :(2)

= +

Diketahui:
A = 1,474 x 10-3
B = 0,0483
R = 0,984
R2 = 0,968
Y = 0,13

Y = bx + a
Ya
X=
b
0,128
X=
0,048
= , /

6.2.3. Konsentrasi NH3 di Udara Ambien Selama 1 Jam dan 24 Jam


Konsentrasi NH3 di Udara Ambien Selama 1 Jam

Ppm =
25
1 = 1000 x
10

2,660 25
1 = 1000 x
59,165 10
= 112,30 g/ Nm3
Konversi g/ Nm3 NH3 Selama 1Jam ke ppm


Ppm = 3 24,45
=
3 103

112,30 24,45
ppm =
17 103

ppm = 0,16 ppm

Konsentrasi NH3 di Udara Ambien Selama 24 Jam adalah :

Ppm =
1
24 = 1 ( )
2

60 0,185
24 = 112,30 ( )
1440
C24 jam = 62,43 g/ Nm3
Konversi g/ Nm3 NH3 Selama 24 Jam ke ppm

Ppm =
3 24,45
=
3 103

62,43 24,45
ppm =
17 103

ppm = 0,089 ppm

VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan untuk mengetahui kadar
ammonia (NH3) di udara ambien dengan metoda indofenol menggunakan
spektrofotometer dengan panjang gelombang 630 nm. Pada pecobaan kali ini, titik
sampling yang digunakan praktikan dalam yaitu udara ambien yang berada di
kamar mandi lantai 5 gedung K Universitas Trisakti. Dengan titik koordinat lokasi
titik sampling adalah . Pengambilan sampel dilakukan selama 1 jam, terhitung dari
pukul 09.2910.29 WIB. Pada percobaan kali ini dilakukan perhitungan nilai
konsentrasi gas ammonia (NH3) yang dihitung secara manual dan dihitung dengan
komputer.
Pada perhitungan manual didapatkan konsentrasi NH3 sebesar 2,166
g/Nm3 sedangkan konsentrasi NH3 yang dihitung menggunakan komputer
didapatkan konsentrasi sebesar 2,66 g/Nm3. Perbedaan hasil yang didapatkan,
menjadikan perhitungan yang dihasilkan melalui komputer tetap bersifat
represetatif. Dikarenakan tingkat ketelitian pada perhitungan yang dihasilkan oleh
komputer bersifat akurat.
Perbedaan perhitungan sebesar 0,494 g/Nm3 ini dipengaruhi oleh berbagai
faktor. Salah satunya ialah dikarenakan kurangnya tingkat ketelitian praktikan pada
saat mengambil sampling gas NH3, baik dalam mengatur kerapatan antar selang
yang digunakan (menghindari kebocoran) maupun mengatur kemiringan corong
secara benar. Ammonia adalah salah satu indikator pencemar udara pada bentuk
kebauan. Gas ammonia adalah gas yang tidak berwarna. Dengan bau menyengat.
Biasanya, ammoniak berasal dari aktifitas mikroba, industri ammonia, perngolahan
limbahdan pengolahan batu bara. Di atmosfer, NH3 bereaksi dengan nitrat
dan sulfat sehingga terbentuk garam ammonium yang sangat korosif
Kelembaban udara, arah dan nilai kecepatan angin juga ikut mempengaruhi
volume udara yang dijerap sehingga akan mempengaruhi nilai konsentrasi NH3
yang dihasilkan. Semakin besar nilai kecepatan angin yang dihasilkan maka
semakin besar volume udara yang terjerap. Data-data meteorologi yang dihasilkan
di dalam menunjang keberhasilan di dalam percobaan kali ini berupa suhu sebesar
30o C, tekanan udara sebesar 762 mmHg, sedangkan arah angin dari barat ke timur,
kecepatan angin sebesar 0,87 L/m dan kelembapan sebesar 40% rH.
Praktikan melakukan pengukuran konsentrasi sampel uji dengan sistem
pengukuran data dan didapatkan absorbansi sebesar 0,13 ABS dengan konsentrasi
sampel yang didapat dari spektrofotometer adalah sebesar 2,66 g/Nm3. Dari data
ABS dan konsentrasi yang didapat, hasil perhitungan untuk konsentrasi gas NH3 di
udara ambien di kamar mandi lantai 5 gedung K Universitas Trisakti, dengan waktu
pengukuran selama 1 jam (60 menit) didapatkan sebesar 112,39 g/Nm3 atau setara
dengan 0,16 ppm. Sedangkan hasil perhitungan dalam menentukan konsentrasi NH3
selama 24 jam (360 menit) didapatkan konsentarasi gas NH3 sebesar 62,43 g/Nm3
atau setara dengan 0,089 ppm.. Sedangkan volume udara yang dihisap selama 1 jam
adalah sebanyak 59,165 L.
Dari hasil perhitungan konsentrasi NH3 yang didapatkan oleh praktikan,
apabila dibandingkan dengan nilai konsentrasi dari paremeter NH3 yang terdapat
pada baku mutu dari Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.50 Tahun
1996 Tentang Baku Tingkat Kebauan, ditetapkan nilai baku mutu NH3 adalah 2
ppm, maka dari hasil perhitungan NH3 selama 1 jam yaitu 0,16 ppm dan selama 24
jam 0,089 ppm diketahui bahwa udara ambien di kamar mandi lantai 5 gedung K
Universitas Trisakti masih dibawah baku mutu jika ditinjau dari baku mutu tingkat
kebauan Nasional.
Pada percobaan kali ini titik sampling yang ditentukan tersebar dalam 12
titik lokasi yang berbeda di Kampus A Universitas Trisakti. Melalui hasil
perhitungan dan analisis yang di dapatkan dari setiap kelompok, lokasi titik
sampling yang memiliki kadar NH3 paling sedikit ialah berada di lokasi titik
sampling kelompok 6 yang berada di sungai Jl. Kyai Tapa yaitu sebesar 6,449x10-
4
ppm untuk 1 jamnya dan 3,581x10-5 ppm untuk 24 jam waktu pengukurannya.
Sedangkan untuk lokasi titik sampling yang memiliki kadar NH3 tertinggi
adalah lokasi titik sampling kelompok 3 yang terletak di kamar mandi belakang
gedung otorita Kampus A Universitas Trisakti yaitu sebesar 0,196 ppm untuk 1
jamnya dan 0,109 ppm untuk 24 jam waktu pengukurannya. Meskipun memiliki
kadar konsentrasi tertinggi, tetapi kadar konsentrasi NH3 di lokasi tersebut masih
berada di bawah dari nilai ambang batas baku mutu ambien Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup No.50 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Kebauan.
Beberapa faktor yang menyebabkan lokasi titik sampling kelompok 3 memiliki
nilai kadar konsetrasi kadar NH3 tertinggi diantara titik sampling lainnya ialah
dikarenakan lokasi titik sampling kelompok tersebut berada di lokasi kamar mandi
yang tidak terawat, sehingga banyak NH3 yang terjerap di udara ambien sekitar
kamar mandi tersebut.
Dari data tersebut, upaya pencegahan ammonia yang perlu dilakukan untuk
mengurangi dampak dari pencemaran ammonia di ruang kamar mandi adalah
dengan rutin membersihkan kamar mandi secara berkala, pergunakan fasilitas di
toilet sesuai dengan fungsinya dan dalam manajemen pencegahan dan teknologi
pencemaran ammonia yaitu dengan pengurangan pencemaran dari sumbernya dan
pengolahan air limbah toilet baik secara alami maupun menggunakan Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL).

VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian yang sudah diperoleh penulis,
maka dapat diambil suatu simpulan antara lain :
1. Konsentrasi kadar N3 di udara ambien di kamar mandi lantai 5 gedung
K kampus A Universitas Trisakti dengan waktu pengukuran selama 1
jam ialah sebesar 0,16 ppm.
2. Konsentrasi kadar NH3 di udara ambien di kamar mandi lantai 5 gedung
K kampus A Universitas Trisakti dengan waktu pengukuran selama 24
jam ialah sebesar 0,089 ppm.
3. Volume udara yang diambil selama 1 jam adalah sebanyak 59,165 L.
4. Praktikan melakukan pengukuran konsentrasi sampel uji dengan sistem
pengukuran data dan di dapatkan absorbansi sebesar 0,13 ABS dengan
konsentrasi sampel sebesar 2,660 g/Nm3
5. Berdasrkan hasil perhitungan, Jika dibandingkan dengan Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No.50 Tahun 1996 Tentang Baku
Tingkat Kebauan udara ambien di kamar mandi lantai 5 Gedung K
kampus A Universitas Trisakti belum tercemar NH3 karena masih
dibawah baku mutu
6. Dari 12 titik lokasi sampling, lokasi titik sampling dengan kadar
konsentrasi NH3 tetinggi berada di lokasi titik sampling kelompok 3
yang terletak di kamar mandi belakang gedung otorita kampus A
Universitas Trisakti, dan lokasi titik sampling dengan kadar konsentrasi
NH3 terkecil berada di lokasi titik sampling kelompok 6 yang terletak di
sungai Jl. Kyai Tapa.
7. Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu, dengan rutin membersihkan
kamar mandi secara berkala, pergunakan fasilitas di toilet sesuai dengan
fungsinya. Serta dengan pengurangan pencemaran dari sumbernya dan
pengolahan air limbah toilet baik secara alami maupun menggunakan
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

DAFTAR PUSTAKA

Darmono.2001.Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Jakarta : UI-Press.

SNI 19-7119.1-2005. 2005. Udara Ambien Bagian 1: Cara Uji Kadar Amoniak
(NH3) dengan Metoda Indofenol Menggunakan Spektrofotometer. Jakarta :
Badan Standarisasi Nasional.
Effendy.2006.Teori VSEPR,Kepolaran dan Gaya Antarmolekul,edisi kedua.
Malang : Bayumedia Publishing.

Housecoft.2005.Inorganik Chemistry,second edition. London : Pearson Prentice


Hall.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.50 Tahun 1996 Tentang Baku
Tingkat Kebauan.Jakarta: Menteri Lingkungan Hidup

http://www.enviropedia.org.uk/Air_Quality/Natural_Air_Pollution.php. Diakses
pada 21 Oktober pukul 11.24