Anda di halaman 1dari 2

Fatwa Ulama: Meninggalkan Mabit di

Mina pada Hari Tarwiyah


Di antara sunnah haji adalah melakukan mabit di Mina saat hari tarwiyah (8
Dzulhijjah), malam 9 Dzulhijjah. Namun pada prakteknya, sunnah haji ini
ditinggalkan oleh jama'ah haji Indonesia. Sedikit sekali yang
melakukannya.

By Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. 4 8537 1

11 October 2013

Di antara sunnah haji adalah melakukan mabit di Mina saat hari


tarwiyah (8 Dzulhijjah), malam 9 Dzulhijjah. Namun pada
prakteknya, sunnah haji ini ditinggalkan oleh jamaah haji Indonesia.
Sedikit sekali yang melakukannya. Berbagai alasan kenapa sampai
mabit ini ditinggalkan. Di antaranya karena pertimbangan biaya tenda
dan makan. Juga karena ingin mengejar keberadaan di Arafah.
Soalnya jika terlalu mepet dengan hari H, biasa terjebak macet.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya, Apa hukum


meninggalkan mabit di Mina pada hari kesembelian dari bulan
Dzulhijjah karena adanya kebakaran di Mina pada tahun 1417 H?
Syaikh rahimahullah menjawab, Tidak terkena hukuman apa-apa
jika meninggalkan mabit di Mina pada malam kesembilan Dzulhijjah
karena hukum mabit tersebut adalah sunnah dan bukan wajib.
Namun jika engkau tidak mabit di Muzdalifah setelah bertolak dari
Arafah pada malam kesepuluh, ketika itu barulah ada damm. Damm
tersebut berupa hewan yang disembelih untuk fakir miskin yang ada
di Makkah. Hewan tersebut sebagaimana hewan yang disembelih
dalam udhiyah(ibadah kurban). Jika engkau tidak mabit di Mina pada
malam kesebelas, maka engkau diharuskan untuk bersedekah dengan
kurban tersebut sesuai dengan apa yang Allah mudahkan. Jika engkau
menunaikan sembelihan yang nanti dibagi kepada fakir miskin, maka
itu lebih hati-hati dan menggugurkan kewajiban.
(Sumber: http://www.binbaz.org.sa/node/757)

Wallahu alam. Wallahu waliyyut taufiq.