Anda di halaman 1dari 23

PENDIDIKAN PANCASILA

PANCASILA
SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA

Disusun oleh:

Chadijah Chairun Nissa R


(P23131017005)

Program Studi: D-III 1A Gizi

Dosen Pembimbing: Drs. H. Zulkifli Lubis, MA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA II


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan karunia-Nya
saya dapat menyelesaikan Makalah individu Pendidikan Agama Islam dengan judul Pancasila
sebagai Ideologi Terbuka. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan dan kesalahan, hal ini dengan keterbatasan kemampuan yang saya miliki. Dalam
kesempatan ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman dan kepada pihak
yang membantu sehingga terselesainya makalah ini.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing saya Drs. H. Zulkifli
Lubis, MA. yang telah membimbing belajar banyak hal. Akhirnya kepada Allah S.W.T saya
berharap dan berdoa agar makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi saya selaku penyusun
makalah ini dan umumnya bagi para pembaca makalah ini. Aamiin.

Jakarta, 10 November 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................... 1

A. Latar Belakang ......................................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................................................................... 1

C. Tujuan Masalah........................................................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................... 2

A. Hakikat Ideologi ...................................................................................................................... 2

B. Hakikat Pancasila sebagai Ideologi Terbuka .......................................................................... 9

C. Faktor Pendorong Keterbukaan Ideologi Pancasila ............................................................... 11

D. Sikap Positif terhadap Pancasila sebagai Ideologi Terbuka .................................................. 13

E. Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila ........................................................................................... 17

BAB III PENNUTUP .................................................................................................................. 19

A. KESIMPULAN ...................................................................................................................... 19

B. SARAN .................................................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 20

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap negara memiliki dan memerlukan ideologi untuk mengantarkan bangsa dan
negaranya menuju cita-cita yang diinginkan. Demikian juga dengan bangsa Indonesia, memiliki
ideologi yang dianut untuk mengantarkan bangsa Indonesia seperti yang dicita-citakan oleh
para pendiri Republik ini. Ideologi bangsa dan negara Indonesia adalah Pancasila. Pancasila
merupakan dasar yang menjadi pedoman dan petunjuk jalan dalam menentukan rambu-rambu
tujuan bangsa dan negara Indonesia. Pancasila menjadi sumber tertib sosial seluruh kehidupan
rakyat Indonesia dan menjadi sumber tertib negara serta tertib hukum. Selain itu, Pancasila
menjadi pedoman dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Untuk itu diharapkan masyarakat dapat menguraikan nilai-nilai Pancasila sebagai ideology
terbuka, dengan menunjukkan sikap positif terhadap Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, serta dalam kehidupan bermasyarakat. Maka masyarakat harus berfikir kritis
terhadap penyelenggara negara yang menyimpang dari cita-cita dan tujuan negara.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian ideologi?
2. Apa fungsi dan jenis-jenis ideologi?
3. Apa itu ideologi terbuka?
4. Bagaimana Pancasila sebagai ideologi terbuka?
5. Bagaimana sikap positif Pancasila sebagai ideologi terbuka?

C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian ideologi.
2. Mengetahui fungsi dan jenis-jenis ideologi.
3. Memahami ideologi terbuka dari pengertian, syarat, serta nilai-nilainya.
4. Memahami Pancasila sebagai ideology terbuka.
5. Memahami sikap positif yang ada pada Pancasila sebagai ideologi terbuka.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakikat Ideologi
1. Pengertian Ideologi
Istilah ideologi berasal dari kata idea dan logos. Idea berarti gagasan, konsep, pengertian
dasar, cita-cita sedangkan logos berarti ilmu. Kata idea sendiri berasal dari bahasa Yunani eidos
yang artinya bentuk. Secara harfiah ideologi berarti ilmu pengertian-pengertian dasar, cita-cita
yang bersifat tetap yang harus dicapai sehingga cita-cita yang bersifat tetap itu sekaligus
merupakan dasar, pandangan atau paham (Kaelan, 2003).
Istilah ideologi pertama kali dipaki dan dikemukakan di Perancis. Kemudian
dikembangkan oleh Karl Marx, yang menggunakan istilah ini untuk mengembangkan
pemikirannya di bidang sosial politik ataupun ekonomi.
Pengertian ideologi secara umum dimaknai sebagai sekumpulan gagasan, ide, keyakinan,
kepercayaan, dan cita-cita yang menyeluruh serta sistematis dalam bidang politik, ekonomi,
sosial, budaya dan keagamaan.
Dengan demikian, makna dari ideologi negara adalah cita-cita negara atau cita-cita yang
menjadi basis bagi suatu teori atau sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa yang
bersangkutan.
Pada hakikatnya ideologi negara merupakan asas kerohanian. Ciri-cirinya mempunyai
derajat tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan sehingga mewujudkan suatu
asas kerohanian, pandangan dunia, pandangan hidup, pedoman hidup, pegangan hidup yang
dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan kepada generasi berikutnya, serta
diperjuangkan dan dipertahankan dengan kesediaan berkorban (Kaelan, 2003).
Ideologi merupakan seperangkat ide asasi, bukan sembarangan ide atay pengertian
melainkan ide pokok, ide yang fundamental, yang mendasar, yang menyangkut hakikat
manusia. Ideologi merupakan prinsip fundamental sebagai prinsip dinamika, sebab menjadi
pedoman dan cita-cita hidup, terutama dalam perjuangan.
2. Fungsi Ideologi
Menurut beberapa ahli, beberapa fungsi ideologi dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara antara lain sebagai berikut:

2
a. Cahyono (1986) mengemukakan bahwa fungsi ideologi adalah sebagai berikut.
1) Sebagai sarana untuk memformulasikan dan mengisi kehidupan manusia
secara individual.
2) Membantu manusia dalam upaya untuk melibatkan diri di berbagai sektor
kehidupan masyarakat.
3) Memberikan wawasan umum mengenai eksistensi manusia, masyarakat, dan
berbagai institusi yang ada dalam masyarakat.
4) Melengkapi struktur kognitif manusia.
5) Menyajikan suatu formulasi yang berisi panduan untuk mengarahkan berbagai
pertimbangan dan tindakan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai
anggota masyarakat.
6) Sebagai sarana untuk mengendalikan konflik (fungsi integratif).
7) Sebagai lensa dan cermin bagi individu untu melihat dunia dan dirinya, serta
sebagai jendela agar orang lain bisa melihat dirinya.
8) Sebagai kekuatan dinamis dalam kehidupan individu ataupun kolektif,
memberikan bekal wawasan mengenai misi dan tujuan, dan sekaligus
mampunmenghasilkan komitmen untuk bertindak.
b. Setiardja (2001) mengemukakan bahwa fungsi ideologi adalah sebagai berikut.
1) Sebagai jembatab pergeseran kendali kekuasaan dari generasi tua (founding
fathers) dengan generasi muda.
2) Menanamkan keyakinan akan kebenaran perjuangan kelompok yang
berpegang pada ideologi tersebut.
3) Sebagai suatu kode, rangkuman karya dan pendapat keyakinan para pendiri,
yang menguasai, memengaruhi seluruh kegiatan sosial.
c. Hidayat (2001) mengemukakan bahwa fungsi ideologi adalah sebagai berikut.
1) Sebagai pedoman bagi individu, masyarakat, atau bangsa untuk berpikir,
melangkah, dan bertindak.
2) Sebagai kekuatan yang mampu memberi semangat dan motivasi individu,
masyarakat, dan bangsa untuk menjalani kehidupan dalam mencapai tujuan.
3) Sebagai upaya untuk menghadapi berbagai persoalan yang sedang dan akan
dihadapi seseorang, masyarakat, dan bangsa di segala aspek kehidupan.

3
3. Jenis-Jenis Ideologi
Ideologi-ideologi yang di anut oleh negara dunia antara lain liberalisme, komunisme,
sosialisme, fasisme, zionisme, theokratisme, dan ideologi Pancasila yang dianut oleh Indonesia.

a. Liberalisme
Inti ajaran liberalisme adalah kebebasan individu. Negara yang menganut paham
liberalisme memberi kebebasan mutlak kepada setiap individu, sehingga cenderung
terjadi free fight liberalism atau persaingan bebas dalam segala bidang kehidupan, baik
di bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Jadi, ajaran liberalisme bertitik tolak
dari paham individualisme yang menitikberatkan pada kebebasan perseorangan atau
individu. Paham ini tidak sama dengan Pancasila yang memandang manusia sebagau
makhluk individu (pribadi) sekaligus sebagai makhluk sosial.
Selain itu, paham liberalisme menganut paham sekuler, yaitu paham yang
memisahkan masalah agama dari urusan negara dan pemerintahan. Hal ini juga tidak
sama dengan Pancasila, yaitu sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa.
Dalam negara liberal cenderung terbentuk masyarakat yang individualistis atau
mementingkan kepentingan sendiri. Adapun kegiatan ekonominya cenderung kapitalis.
Kapitalis artinya mengutamakan pengembangan modal dan laba sebesar-besarnya.
Dalam sistem kapitalis segala alat produksi seperti tanah, mesin-mesin, dan alat
produksi merupakan hak pribadi. Persaingan ekonomj dilakukan secara bebas guna
memacu pertumbuhan ekonomi dan industri. Contoh negara yang menganut ideologi
liberalisme, yaitu Inggris, Prancis, Amerika Serikat, dan Kanada.
b. Komunisme
Komunisme bersumber dari ajaran Marxisme Leninisme. Ajaran Marxisme yang
berasal dari gagasan Karl Marxpada mulanya bergerak dibidang perekonomian. Ideologi
komunisme merupakan kebalikan dari liberalisme. Dalam ideologi komunisme tidak ada
pengakuan atas hak-hak pribadi atau hak individu. Segala kegiatan ekonomi, alat
produksi, sosial budaya sepenuhnya dikuasai oleh negara. Ajaran komunisme bersifat
atheis (anti Tuhan dan tidak percaya adanya Tuhan). Hal ini bertentangan dengan
Pancasila, khususnya sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa.
Komunisme diterapkan dalam berbagai kegiatan politik dan kenegaraan. Setelah
dikembangkan oleh Lenin, ide-ide komunisme berkembang menjadi ajaran Leninisme.

4
Semboyan gerakan ideologi komunisme adalah proletar sedunia bersatulah! Perbedaan
antarbangsa dan negara dikesampingkan dan mengutamakan pembedaan antarkelas.
Misalnya: kelas feodal, kelas bangsawan, dan kelas buruh.
Komunisme membangun negara berdasarkan kelas (kelompok, golongan). Hal ini
bertentangan dengan Pancasila yang memandang negara bukan untuk kelompok atau
kelas tertentu, melainkan untuk seluruh rakyat. Dalam ideologi komunisme, tidak ada
jaminan kehidupan beragama. Negara komunis justru memperbolehkan paham
antiagama. Untuk itu jelas paham ini sangat bertentangan dengan ideologi bangsa
Indonesia. Penerapan sistem pemerintahan dalam ideologi komunisme cenderung
diktator. Pemerintahan didominasi partai tunggal, yaitu Partai Komunis. Ideologi
komunisme dianut oleh negara RRC, Rusia, Polandia, Hongaria, Republik Ceko, dan
Kuba.
c. Sosialisme
Paham sosialisme ini mungkin hampir sama konsepnya dengan paham ideology
komunisme karena pada prinsipnya yaitu mengutamakan kepemilikan segala sesuatu
secara bersama tidak ada yang namanya hak kepemilikan individu. Istilah sosialisme ini
muncul pada abad ke 19 di perancis dan kemudian pengaruhnya menyebar ke berbagai
kalangan di dunia. tokoh dari ideology sosialisme ini adalah karl marx atas kritiknya
terhadap kaum kapitalis yang telah menyengsarakan para buruh dan tani.
Para buruh dan tani hanya dijadikan sebagai faktor produksi dan tidak dilihat lagi
gaji yang mereka dapatkan. Tingkat kelayakan hidup mereka sangat kurang sehingga
muncullah bahwa dalam negara harus melindungi rakyatnya sedemikian rupa tanpa
adanya perbedaan dari satu orang ke orang lainnya sehingga terjadi kesejahteraan yang
utuh di dalam suatu negara.
d. Fasisme
Fasisme merupakan sebuah paham politik yang mengutamakan kekuasaan secara
menyeluruh, tanpa adanya demokrasi. Paham ini menomorsatukan bangsa sendiri dan
memandang rendah bangsa lain. Dapat pula dikatakan, fasisme merupakan suatu sikap
nasionalisme yang berlebihan.
Fasisme merupakan salah satu ideology yang sangat keras karena mereka ingin
mengatur segala aspek kehidupannya mulai dari politik, budaya, ekonomi dan hal

5
lainnya di negara tersebut. Pada paham ini mereka berusaha untuk membentuk partai
tunggal di dalam negara sehingga partai inilah yang akan mengatur berjalannya negara.
Para penganut paham fasis ini percaya bahwa pemimpin tunggal yang kuat dan otoriter
mampu menciptakan kedaulatan dan kesejahteraan bersama di dalam sistem negara.
Paham fasisme ini mulai berkembang setelah perang dunia 1 dan terus berkembang
hingga pada perang dunia ke 2. Namun karena pahamnya yang keras dan
menguntungkan satu pihak saja yaitu yang memiliki kekuasaan maka hal ini kemudian
banyak mendapatkan pertentangan dari dunia luar sehingga paham ini juga runtuh.
e. Zionisme
Zionisme adalah gerakan yang mencita-citakan Negara yang murni ras Yahudi.
Ideologi ini tidak memberikan ruang sama sekali bagi bangsa-bangsa lain untuk hidup
bersama secara damai. Dengan kata lain ideologi Zionisme ini adalah ideologi yang
penuh dengan semangat rasialisme dan penjajahan.
Ideologi Zionisme ini pada awal kemunculannya ditolak oleh sebagian besar
masyarakat Yahudi tapi dalam perkembangannya kemudian diterima atas dasar banyak
peristiwa. Pada pelaksanaannya ideologi ini begitu ringkih karena tidak berpijak pada
keyakinan Yahudi dan semata-mata karena keserakahan kekuasaan dan uang.
f. Theokratisme
Theokratisme adalah ideology dimana prinsip-prinsip Tuhan memegang peran
utama. Dan sistem pemerintahan yang menjunjung dan berpedoman pada prinsip Tuhan.
Beberapa contoh negara yang berbentuk theokratisme adalah Vatikan, Tibet, dan
Republik Islam Iran.
g. Pancasila
Ideologi yang dianut oleh bangsa Indonesia adalah ideologi Pancasila. Dengan
demikian, Pancasila digunakan sebagai landasan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih dari itu, Pancasila merupakan pola
kehidupan serta bentuk masyarakat yang dicita-citakan. Ideologi Pancasila bukan
merupakan gabungan antara liberalisme dan komunisme/sosialisme, namun merupakan
ideologi yang bersumber dan digali dari kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Prinsip
ideologi Pancasila adalah terwujudnya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara
kepentingan pribadi dengan kepentingan bangsa dan negara.

6
Hal-hal yang melatarbelakangi dipilihnya Pancasila sebagai ideologi bangsa
Indonesia, yaitu sebagai berikut.
1) Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai, sikap, perilaku, dan budaya bangsa
Indonesia. Pancasila bersumber dari bangsa Indonesia, sehingga sudah menjadi
kepribadian bangsa.
2) Pancasila mengandung nilai religius, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, serta
nilai keadilan yang merupakan suatu keharusan bagi kehidupan manusia secara
universal.
3) Pancasila mampu berperan sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia
yang memiliki keanekaragaman, baik suku, budaya, adat istiadat, maupun sistem
kemasyarakatan.
4) Pancasila menjamin terselenggaranya kehidupan umat beragama secara tenang dan
damai. Hal ini, mengingat adanya bermacam-macam agama yang tumbuh dan
berkembang di Indonesia, sehingga harus terbina kerukunan antarumat beragama
dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5) Sejak Indonesia merdeka, telah terdapat dua kubu ideologi yang saling berebut
pengaruh di dunia, yaitu ideologi liberalisme dan komunisme. Indonesia sebagai
negara baru tidak mau terjebak pada salah satu ideologi yang tidak sesuai karakter
bangsa. Untuk itu, Indonesia berpegang pada Pancasila sebagai ideologi nasional dan
tidak condong pada salah satu ideologi tersebut serta bukan memilih ideologi yang
merupakan perpaduan dari keduanya.

Ada banyak macam ideologi yang ada didunia. Namun, ideologi Pancasila memiliki
keunggulan, antara lain sebagai berikut.

a. Negara berdasar atas Ketuhanan yag Maha Esa, yang menjamin kebebasan setiap
warga negara untuk memeluk agama dan beribadah sesuai dengan keyakinannya
masing-masing.
b. Adanya jaminan pengakuan atas hak asasi manusia, termasuk jaminan atas hak-hak
pribadi sepanjang pemanfaatannya tidak bertentangan dengan kepentingan umum
pelaksanaan hak senantiasa menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dan
kepentingan umum.

7
c. Adanya semangat persatuan bangsa/nasionalisme. Mengakui identitas dan jati diri
bangsa sebagai upaya mempertahankan bangsa dan negaranya.
d. Penyelenggaraan negara berdasar kedaulatan rakyat. Sehingga terbentuk
pemerintahan demokratis yang konstitusional (negara hukum).
e. Adanya jaminan partisipasi rakyat dalam pemerintahan, termasuk pengawasan,
kebebasan pers, dan kebebasan politik.
f. Guna mewujudkan keadilan sosial penyelenggaraan perekonomian berdasarkan
prinsip kekeluargaan yang melibatkan koperasi, pemerintah, dan peran swasta.
Dengan demikian, terwujud keseimbangan perekonomian, menghindari etatisme,
dan free fight liberalism.
4. Arti Penting Ideologi bagi Sebuah Negara
Ideologi sebuah negara yang berisi rumusan atau konsep tentang berbagai bidang
kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial budaya, maupun hankam, dapat menunjang keutuhan
negara tersebut di dalam pergaulan internasional.

Ideologi juga berisi cita-cita kehidupan yang didambakan, cara menempuh tujuan serta
bagaimana negara mempertahankan kehidupannya. Rumusan tersebut diwujudkan dalam cara
berpikir dan bertindak dalam kehidupan bernegara.

Ideologi sangat penting bagi sebuah negara dalam rangka berikut ini.

a. Memberi landasan tentang cara berpikir dan bertindak bagi segenap bangsa dalam
mencapai tujuannya.
b. Membentuk identitas atau jati diri melalui nilai-nilai yang diyakini sehingga tidak mudah
terombang ambing oleh keadaan zaman.
c. Memberi arah bagi negara dalam mewujudkan cita-cita dan kehidupan yang diinginkan.
d. Memberi pegangan bagi bangsa dan negara agar tidak mudah terpengaruh dan terbawa oleh
arus negara lain.
e. Sarana mempersatukan bangsa dan negara dalam rangka menjaga kedaulatan negara.

Demikianlah, arti penting bagi sebuah bangsa dan negara dalam rangka menjaga
kelangsungan hidupnya. Tanpa ideologi yang jelas suatu bangsa akan mudah goyah dan
terombang-ambing oleh pengaruh dunia internasional. Bahkan, tanpa ideologi bangsa tersebut
tidak akan mampu bertahan dan berdiri kokoh.

8
B. Hakikat Pancasila sebagai Ideologi Terbuka
1. Pengertian Ideologi Terbuka

Ideologi terbuka adalah ideologi yang memiliki tata nilai yang mendalam dan menyeluruh.
Selain itu, memiliki relevansi/kesesuaian yang tinggi dengan perkembangan masyarakat, serta
mampu menjawab berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan zaman.

Jadi, Pancasila sebagai ideologi terbuka mengandung makna bahwa Pancasila sebagai suatu
sistem pemikiran terbuka. Hal itu dibuktikan oleh kedudukan Pancasila bagi masyarakat
Indonesia sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa yang bersumber dan digali dari
nilai-nilai dasar, moral dan budaya masyarakat Indonesia. Pancasila sebagai suatu ideologi yang
bersifat terbuka, reformatif, dan dinamis dimaksudkan bahwa ideologi Pancasila bersifat aktual,
dinamis, antisipatif, dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, ilmu
pengetahuan dan teknologi serta dinamika perkembangan aspirasi masyarakat.

2. Syarat Ideologi Terbuka


Suatu ideologi dikatakan terbuka apabila memenuhi atau memiliki dimensi-dimensi berikut.
a. Dimensi realitas, bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalam ideologi tersebut
bersumber dari nilai-nilai yang secara riil hidup dalam masyarakat.
b. Dimensi idealisme, bahwa ideologi perlu mengandung cita-cita yang ingin dicapai
dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Melalui idealisme
atau cita-cita yang terkandung dalam ideologi yang dihayati, masyarakat atau bangsa
mengetahui ke arah mana mereka harus membangun kehidupannya menuju cita-citanya.
c. Dimensi fleksibilitas, bahwa ideologi terbuka memiliki kesesuaian yang tinggi terhadap
dimamika perkembangan masyarakat. Selain itu, ideologi juga harus merangsang
masyarakat mengembangkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam ideologi untuk
menjawab tantangan zaman.

Pancasila sebagai ideologi terbuka memiliki tiga dimensi tersebut, yaitu sebagai berikut.

a. Dimensi idealistis dalam ideologi Pancasila adalah nilai-nilai dasar yang terkandung
dalam Pancasila yang bersifat sistematis, rasional, dan menyeluruh yaitu hakikat nilai-
nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila, yaitu Ketuhanan, kemanusiaan,
persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Hakikat nilai-nilai Pancasila tersebut bersumber

9
pada filsafat Pancasila. Kadar dan idealisme yang terkandung dalam Pancasila mampu
memberikan harapan, optimisme serta mampu menggugah motivasi para
pendukungnya untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan.
b. Dimensi fleksibilitas dalam ideologi Pancasila adalah nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila perlu dijabarkan dalam suatu sistem norma-norma kenegaraan yang
lebih operasional dan memiliki fleksibilitas menurut perkembangan zaman. Oleh
karena itu, Pancasila berkedudukan sebagai norma tertib hukum tertinggi dalam negara
Indonesia yang sesuai dengan perkembangan zaman.
c. Dimensi realistis, yaitu suatu ideologi harus mampu mencerminkan realitas yang hidup
dan berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu, Pancasila selain memiliki dimensi
nilai-nilai ideal serta normatif juga harus mampu dijabarkan dalam kehidupan
masyarakat secara nyata, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam
penyelenggaraan negara. Dengan demikian Pancasila sebagai ideologi terbuka tidak
bersifat utopis yang hanya berisi ide-ide yang bersifat mengawang, melainkan suatu
ideologi yang bersifat realistis artinya mampu dijabarkan dalam segala aspek
kehidupan nyata.

3. Fungsi Idelogi Terbuka

Fungsi utama ideologi dalam masyarakat menurut Ramlan Surbakti (1999) ada dua, yaitu:
sebagai tujuan atau cita-cita yang hendak dicapai secara bersama oleh suatu masyarakat, dan
sebagai pemersatu masyarakat dan karenanya sebagai prosedur penyelesaian konflik yang
terjadi dalam masyarakat.

Pancasila sebagai ideologi mengandung nilai-nilai yang berakar pada pandangan hidup
bangsa dan falsafat bangsa. Dengan demikian memenuhi syarat sebagai suatu ideologi terbuka.

Sumber semangat yang menjadikan Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah terdapat
dalam penjelasan UUD 1945: terutama bagi negara baru dan negara muda, lebih baik hukum
dasar yang tertulis itu hanya memuat aturan-aturan pokok, sedangkan aturan-aturan yang
menyelenggarakan aturan pokok itu diserahkan kepada undang-undang yang lebih mudah
caranya membuat, mengubah dan mencabutnya.

10
4. Nilai-nilai Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah sebagai
berikut.

a. Nilai dasar, yaitu hakikat kelima sila Pancasila. Nilai dasar ini merupakan esensi dari
sila-sila Pancasila yang bersifat universal, sehingga dalam nilai dasar tersebut
terkandung cita-cita, tujuan serta nilai-nilai yang baik dan benar. Nilai dasar tersebut
tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu, Pembukaan UUD 1945
merupakan suatu norma dasar yang merupakan tertib hukum tertinggi, sebagai sumber
hukum positif dan memiliki kedudukan sebagai pokok kaidah negara yang fundamental.
Nilai dasar ini bersifat tetap dan terlekat pada kelangsungan hidup negara. Nilai dasar
ini kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal UUD 1945.
b. Nilai instrumental, merupakan arahan, kebijakan, strategi, sasaran serta lembaga
pelaksanaannya. Nilai instrumental ini merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai-
nilai dasar ideologi Pancasila yang penjabarannya disesuaikan dengan perkembangan
zaman, seperti penetapan UU, PP, struktur kelembagaan, program kerja, dan
sebagainya.
c. Nilai praktis, merupakan realisasi nilai-nilai instrumental dalam suatu realisasi
pengamalan yang bersifat nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat,
berbangsa dan bernegara. Dalam realisasi praktis inilah penjabaran nilai-nilai Pancasila
senantiasa berkembang dan selalu dapat dilakukan perubahan dan perbaikan
(reformasi).

C. Faktor Pendorong Keterbukaan Ideologi Pancasila


Faktor yang mendorong pemikiran mengenai keterbukaan ideologi Pancasila adalah
sebagai berikut.
a. Kenyataan dalam proses pembangunan nasional dan dinamika masyarakat yang
berkembang secara cepat.
b. Kenyataan menunjukkan, bahwa bangkrutnya ideologi yang tertutup dan beku
dikarenakan cenderung meredupkan perkembangan dirinya.
c. Pengalaman sejarah politik kita di masa lampau.

11
d. Tekad untuk memperkokoh kesadaran akan nilai-nilai dasar Pancasila yang bersifat
abadi dan hasrat mengembangkan secara kreatif dan dinamis dalam rangka mencapai
tujuan nasional.

Keterbukaan ideologi Pancasila terutama ditujukan dalam penerapannya yang berbentuk


pola pikir yang dinamis dan konseptual dalam dunia modern. Kita mengenal ada tiga tingkat
nilai, yaitu nilai dasar yang tidak berubah, nilai instrumental sebagai sarana mewujudkan nilai
dasar yang dapat berubah sesuai keadaan dan nilai praktis berupa pelaksanaan secara nyata yang
sesungguhnya. Nilai-nilai Pancasila dijabarkan dalam norma-norma dasar Pancasila yang
terkandung dan tercermin dalam Pembukaan UUD 1945. Nilai atau norma dasar yang
terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 ini tidak boleh berubah atau diubah. Karena itu
adalah pilihan dan hasil konsensus bangsa yang disebut kaidah pokok dasar negara yang
fundamental (Staatsfundamentealnorm). Perwujudan atau pelaksanaan nilai-nilai instrumental
dan nilai-nilai praktis harus tetap mengandung jiwa dan semangat yang sama dengan nilai
dasarnya. Keeterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti mengubah nilai nilai dasar yang
terkandung di dalamnya,namun mengembangkan wawasannya secara secara lebih
konkrit,sehingga memiliki kemampuan yang reformatif untuk memecahkan masalah masalah
actual yang selalu berkembang.Dalam lima sila Pancasila itu mengandung ciri universal
sehingga mungkin saja ia ditemukan dalam gagasan berbagai masyarakat dan bangsa lain di
dunia.

Sedangkan, menurut Moerdiono menyebutkan beberapa faktor yang mendorong pemikiran


Pancasila sebagai ideologi terbuka, yaitu:

1) Dalam proses pembangunan nasional berencana, dinamika masyarakat kita berkembang


amat cepat. Dengan demikian tidak semua persoalan kehidupan dapat ditemukan
jawabannya secara ideologis dalam pemikiran ideologi-ideologi sebelumnya.
2) Kenyataan bangkrutnya ideologi tertutup seperti marxismeleninisme/komunisme. Dewasa
ini kubu komunisme dihadapkan pada pilihan yang amat berat, menjadi suatu ideologi
terbuka atau tetap mempertahankan ideologi lainnya.
3) Pengalaman sejarah politik kita sendiri dengan pengaruh komunisme sangat penting.
Karena pengaruh ideologi komunisme yang pada dasarnya bersifat tertutup, Pancasila
pernah merosot menjadi semacam dogma yang kaku. Pancasila tidak lagi tampil sebagai

12
acuan bersama, tetapi sebagai senjata konseptual untuk menyerang lawan-lawan politik.
Kebijaksanaan pemerintah di saat itu menjadi absolute. Konsekuensinya, perbedaan-
perbedaan menjadi alasan untuk secara langsung dicap sebagai anti pancasila.
4) Tekad kita untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai catatan, istilah Pancasila sebagai satu-
satunya asas telah dicabut berdasarkan ketetapan MPR tahun 1999, namun pencabutan ini
kita artikan sebagai pengembalian fungsi utama Pancasila sebagai dasar Negara. Dalam
kedudukannya sebagai dasar Negara, Pancasila harus dijadikan jiwa (volkgeits) bangsa
Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama dalam pengembangan
Pancasila sebagai Ideologi terbuka. Di samping itu, ada faktor lain, yaitu adanya tekad
bangsa Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai alternative ideologi dunia.

Prinsip hakikat Pancasila sebagai Ideologi terbuka yaitu keterbukaan ideologi Pancasila
berarti untuk memperkaya wawasan dan oreintasi dalam hidup bermasyarakat, berabangsa, dan
bernegara. Keterbukaan ideologi Pancasila maksudnya adalah warga negara sebagai makhluk
individu sekaligus sebagai makhluk sosial. Keterbukaan menjadikan pancasila mempunyai
nilai-nilai dasar pancasila dapat menyaring unsur-unsur baru yang dapat memperkaya
perkembangan dan pelaksanaan ideology pancasila ke arah kemajuan kehidupan bangsa dan
negara. Keterbukaan mendorong pancasila menjadi dinamis, untuk mengubah nilai dasar
pancasila menjadi operasional kedalam sistem kehidupan secara nasional.

D. Sikap Positif terhadap Pancasila sebagai Ideologi Terbuka


Sebagai dasar negara, Pancasila mendasari segala aktivitas, gerak, langkah, dan segala
ketentuan hidup bernegara. Sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila menuntun
segala gerak langkah dan perilaku masyarakat dalam hidup berbangsa dan bernegara. Jika nilai-
nilai yang terkandung dalam Pancasila dapat dijalankan oleh seluruh kompnen bangsa, baik
pemerintah maupun rakyatnya, maka masyarakat Indonesia akan tumbuh sebagai masyarakat
yang religius, humanis, bersatu, demokratis, sejahtera, adil dan makmur. Oleh sebab itu, seluruh
komponen bangsa harus mampu memahami, menghayati, mengamalkan, dan mempertahankan
Pancasila sebagai ideology nasional.
Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari merupakan cermin sikap
positif warga negara terhadap Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Pancasila merupakan

13
pedoman hidup bangsa Indonesia dalam setiap aspek kehidupan. Adapun nilai-nilai tersebut
yang tercermin dalam sila-sila Pancasila adalah sebagai berikut.
1. Sila Ketuhanan yang Maha Esa
Sila Ketuhanan yang Maha Esa menjadi nyawa sila-sila lain dalam Pancasila. Nilai-nilai
sila ini yang hendaknya kita hayati dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari antara lain
sebagai berikut.

a. Percaya dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa sesuai dengan agama dan
kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
b. Hormat menghormati dan bekerjasama antarpemeluk agama dan kepercayaan yang
berbeda sehingga terbina kerukunan hidup. Bangsa kita adalah masyarakat yang terdiri
dari beragam suku, bangsa, adat istiadat, juga agama dan kepercayaan yang lain
sehingga terbina kerukunan hidup.
c. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain. Memeluk suatu
agama dan kepercayaan adalah merupakan hak asasi manusia. Oleh karena itu kita tidak
boleh memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Kemanusiaan yang adil dan beradab menjiwai sila persatuan Indonesia, kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial
beagi seluruh rakyat Indonesia. Nilai-nilai sila kemanusiaan yang adil dan beradab yang harus
kita amalkan sebagai berikut.

a. Mengaku persamaan derajat, persamaan hak, dan persaman kewajiban sesama manusia.
b. Mengembangkan rasa cinta dan sikap tenggang rasa dan tepo seliro.
c. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
d. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
e. Berani membela kebenaran dan keadilan.
f. Menjalankan pemerintahan dengan jujur dan konsekuen.
3. Sila Persatuan Indonesia
Sila persatuan Indonesia menjiwai sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Nilai-nilai sila persatuan Indonesia
hendaknya dihayati dan amalkan, antara lain sebagai berikut.

14
a. Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara
di atas kepentingan pribadi dan golongan.
b. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, yaitu bersedia dengan ikhlas
memberikan segala sesuatu yang dimiliki, sekalipun menimbulkan penderitaan bagi
dirinya sendiri, demi kepentingan bangsa dan negara.
c. Cinta tanah air dan bangsa, yaitu sikap yang dilandasi ketulusan dan keikhlasan yang
diwujudkan dalam perbuatan demi kejayaan tanah air dan kebahagiaan bangsa.
d. Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia, yaitu berbesar hati,
berbahagia dan puas secara mendalam, sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air
Indonesia.
e. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka
Tunggal Ika, merupakan sikap menumbuhkembangkan pergaulan yang lebih akrab
antara warga yang berbeda golongan, suku, agama, adat istiadat, wilayah, serta ras,
demi persatuan, kesatuan dan kedaulatan bangsa. Syarat mutlak bagi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup suatu bangsa, adalah adanya persatuan dan kesatuan. Tanpanya,
suatu bangsa akan hancur bercerai-berai.
4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan ini dijiwai oleh sila Ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan
yang adil dan beradab, dan persatuan Indonesia. Sila ini menjiwai sila keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Nilai-nilai sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan yang hendaknya kita hayati dan amalkan dalam
kehidupan, antara lain sebagai berikut.
a. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat, merupakan sikap yang senantiasa
mendahulukan kepentingan negara dan masyarakat di atas berbagai kepentingan
lainnya.
b. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, merupakan sikap seseorang atau
sekelompok orang yang dalam menginginkan sesuatu dari orang atau kelompok lain,
dilaksanakan secara manusiawi. Dalam arti khusus, nilai ini merupakan cara-cara yang
manusiawi dalam melaksanakan musyawarah.

15
c. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan bersama merupakan sikap
yang mengutamakan pembahasan untuk menyatukan pendapat dalam menetapkan
keputusan untuk kepentinga bersama. Hasil yang diperoleh hendaknya dapat diterima
dan dilaksanakan dengan baik karena merupakan hasil mufakat. Mengemukakan
pendapat dalam bermusyawarah dengan bebas mesti diiringi dengan penuh tanggung
jawab dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
d. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada
Tuhan yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai
kebenaran dan keadilan.
5. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ini dijiwai oleh sila Ketuhanan yang
Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Nilai-nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang hendaknya kita hayati dan
amalkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai berikut.

a. Mengembangkan perbuatan-perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana


kekeluargaan dan kegotongroyongan.
b. Bersikap adil dan menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu berpendirian
tidak berat sebelah atau tidak memihak sesuai dengan sepatutnya. Hal ini juga terwujud
dalam sikap kita menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Sikap ini bertujuan
menciptakan kondisi yang sesuai antara apa yang kita minta dan apa yang harus kita
berikan.
c. Menghormati hak-hak orang lain, yaitu menghargai kewenangan atau kekuasaan yang
melekat pada diri pribadi orang lain.
d. Suka memberi pertolongan kepada orang lain, yaitu suatu sikap dan perilaku yang mau
dan dengan senang hati memberi pertolongan kepada orang lain.
e. Tidak bersikap boros dan bergaya hidup mewah. Kita harus dapat menghindari
penggunaan uang, barang, tenaga, pikiran, atau waktu yang melampaui batas kewajaran
dan kurang bermanfaat dalam mencapai tujuan. Kita juga hendaknya menghindari

16
sikap pamer segala sesuatu yang serba mahal dan berlebihan, agar tidak menimbulkan
keresahan, kesenjangan, dan kecemburuan sosial.
f. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
g. Suka bekerja keras, seperti gemar mendayagunakan seluruh tenaga dan pikiran untuk
mencapai hasil yang diharapkan merupakan sikap yang harus kita kembangkan sejak
kecil.
h. Menghargai hasil karya orang lain. Kita akui dan hormati dengan tulus hasil pekerjaan
atau ciptaan orang lain yang bermanfaat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan
bersama.
i. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial
seperti meningkatkan dan mengembangkan keadaan yang lebih baik dalam mencapai
tujuan bangsa secara bersama-sama. Kekayaan alam dan hasil pembangunan nasional
yang meliputi segala aspek kehidupan, hendaknya dapat dinikmati oleh seluruh rakyat
Indonesia. Menjalankan kegiatan perekonomian dengan jujur, tidak merugikan orang
lain, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Kegiatan perekonomian itu dapat berupa perdagangan atau penjualan, pembelian,
hingga skor produksi.

E. Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila


Berbagai bentuk pendidikan yang ada selama ini pada dasarnya adalah sebagai suatu
bentuk usaha aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan. Kajian tentang aktualisasi
Pancasila dalam kehidupan sekolah pada bagian ini dalam makna luas. Artinya, kajian bukan
hanya terbatas pada lingkungan sekolah, tetapi juga pada lingkungan masyarakat, bangsa, dan
negara. Praktiknya, dengan pendidikan politik yang bertujuan untuk mendukung rezim
penguasa pada saat itu, dan kering dengan pendidikan moral.
Pada sisi lain, berbagai upaya tersebut tidak didukung oleh media yang memadai dalam
bentuk tampilan nyata sikap dan perilaku tokoh masyarakat, bangsa maupun negara sehingga
menjadi teladan bagi semua pihak. Bahkan, yang lebih tragis mereka ini memberi contoh sikap
dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai moral Pancasila. Misalnya, korupsi, kolusi,
dan nepotisme (KKN), tidak adil, mau menang sendiri, atau tidak sportif. Hal itu dijadikan
panutan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

17
Nilai-nilai moral Pancasila seharusnya tercermin dan menjadi acuan utama dalam segala
peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, baik atura yang bersifat dasar maupun yang
operasional, baik dalam skala makro (negara) maupun dalam skala mikro (desa). Nilai-nilai
moral Pancasila juga harus tercermin dalam kehidupan masyarakat bidang pendidikan,
ekonomi, kedokteran, teknologi, dan hukum, tetapi dalam kenyataannya masih jauh yang
diharapkan.
Bidang pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan juga
merupakan salah satu hak yang harus dimiliki masyarakat. Tidak semua masyarakat mampu
memiliki pendidikan yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Tidak jarang pula
ditemukan masyarakat yang kesulitan untuk memperoleh pendidikan yang layak karena tidak
mampu melanjutkan sekolah.
Praktik dibidang kedokteran harus sesuai dengan nilai-nilai moral Pancasila. Akan tetapi,
dalam kenyataannya masih sering ditemukan praktik kedokteran yang jauh dari nilai-nilai moral
Pancasila, seperti kasus Pasien yang ditahan tidak boleh pulang atau tidak ditangani
sebagaimana mestinya karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit.
Negara dan masyarakat pada dasarnya sudah berusaha menempatkan kebenaran dan
keadilan hukum dengan berbagai cara, di antaranya melibatkan berbagai komponen masyarakat
untuk terlibat dalam membuat keputusan hukum. Akan tetapi, dalam kenyataanya berbagai
komponen atau lembaga tadi belum mampu mewujudkan kebenaran dan keadilan di bidang
hukum.
Jadi, aktualisasi nilai moral Pancasila pada dasarnya harus mampu mengatasi berbagai
permasalahan yang ada. Untuk itu, harus ada terobosan baru dalam konteks pendidikan moral
di Indonesia, yang untuk lembaga pendidikan tinggi lebih banyak diletakkan pada pendidikan
Pancasila.

18
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pancasila adalah ideologi bangsa. Pancasila memiliki sistem pemikiran yang terbuka. Dalam
kehidupan masyarakat Indonesia, Pancasila merupakan dasar negara dan pandangan hidup yang
bersumber dari nilai-nilai dasar, moral, dan budaya masyarakat Indonesia. Pancasila juga
merupakan sumber nilai. Artinya, norma-norma yang ada dalam kehidupan masyarakat
Indonesia merupakan penjabaran lebih konkrit dari nilai-nilai Pancasila.
Pancasila adalah paradigma pembangunan. Konsep pembangunan mengacu pada
serangkaian karakteristik dari segenap aspek kehidupan baik politik, ekonomi, ataupun sosial
dan ilmu pengetahuan (iptek). Pembangunan nasional Indonesia berdasarkan pada nilai-nilai
yang terkandung dalam Pancasila, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun
pengawasannya.
Sebagai generasi muda yang sejak usia dini telah mengenal dan memahami makna
Pancasila tentunya sadar akan nilai-nilai Pancasila yang harus diterapkan dalam berbagai sendi
kehidupan, seperti pengembangan nilai santun, jujur, kerja keras, cinta ilmu, dan tanggung
jawab serta menghargai keberagaman dan patuh pada aturan sosial. Nilai-nilai tersebut tentunya
harus bisa diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

B. SARAN
Sebagai warga negara yang baik, jika kita telah mengerti dan mengetahui nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila hendaknya dilaksanakan dengan baik agar terciptanya kondisi
masyarakat yang aman, damai, tertib dan tentram. Banyak langkah-langkah yang harus kita
ambil untuk menjalankan atau menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita sebagai
bangsa Indonesia yang menghargai ideologi negaranya.

19
DAFTAR PUSTAKA

Rochmandi, Nurwahyu. 2015. Panduan Pkn 3 SMA Kelas XII. Jakarta:Yudhistira.


https://guruppkn.com/macam-macam-ideologi-di-dunia
http://www.edukasinesia.com/2016/12/macam-macam-jenis-ideologi-yang-ada-di-dunia-
beserta-ciri-ciri-dan-penjelasannya-terlengkap.html
https://nawarcollections.blogspot.co.id/2015/09/makalah-pancasila-sebagai-ideologi.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Teokrasi

20