Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN FISIOLOGI MANUSIA

MEMBEDAKAN ALIRAN DARAH ARTERIOLA, KAPILER


DAN VENULA KATAK

MARIA ANGELINA SITORUS

NPM.153112620120027

FAKULTAS BIOLOGI

PROGRAM STUDI BIOMEDIK

UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA

2015
I. ACARA LATIHAN : Rabu, 16 Desember 2015

II. TUJUAN LATIHAN


Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat :
1. Membedakan gambaran anatomi arteriola, kapiler, dan venula pada selaput renang
katak dan lidah serta sifat aliran darah dalam pembuluh-pembuluh tersebut dengan
menggunakan mikroskop.
2. Mampu menerangkan secara hemodinamika hal-hal yang dapat menimbulkan
perbedaan sifat-sifat aliran darah tersebut dan menerangkan perubahan yang terjadi
pada aliran darah kapiler akibat rangsangan mekanik, suhu dan zat kimia.

III. TINJAUAN PUSTAKA

Pembuluh nadi atau arteri adalah pembuluh darah berotot yang membawa darah dari
jantung. Fungsi ini bertolak belakang dengan fungsi pembuluh balik yang membawa darah
menuju jantung. Lapisan terluar arteri disebut tunika adventitia yang tersusun dari jaringan
penyambung. Di lapisan selanjutnya terdapat tunika media yang tersusun atas otot polos dan
jaringan elastis. Lapisan terdalam adalah tunika intima yang tersusun atas sel endothelial.
Darah mengalir di dalam pada lumen. Beberapa jenis pembuluh nadi (arteri) adalah:

Arteri pulmonaris
Pembuluh ini membawa darah yang telah dideoksigenasi yang baru saja dialirkan dari
paru-paru.
Arteri sistemik
Arteri sistemik membawa darah menuju arteriol dan kemudian ke pembuluh kapiler, di
mana zat nutrisi dan gas ditukarkan.
Aorta
orta adalah pembuluh nadi terbesar dalam tubuh yang keluar dari ventrikel jantung dan
membawa banyak oksigen.
Arteriol
Arteriol adalah pembuluh nadi terkecil yang berhubungan dengan pembuluh kapiler.
Kapiler
Di sinilah terjadinya pertukaran zat yang menjadi fungsi utama sistem sirkulasi.
Pembuluh kapiler adalah pembuluh yang menghubungkan cabang-cabang pembuluh
nadi dan cabang-cabang pembuluh balik yang terkecil dengan sel-sel tubuh
A. Arteriol
Arteriol merupakan cabang dari arteri yang bertugas menyalurkan darah ke organ.
Jadi, aliran darah dari arteriol adalah menuju organ/masuk ke dalam organ. Di dalam organ,
arteriol bercabang-cabang lagi menjadi kapiler, pembuluh terkecil, tempat semua pertukaran
antara darah dan sel-sel di sekitarnya terjadi (Sherwood, 2001).
Kecepatan aliran darah di arteriol adalah yang paling cepat diantara kapiler dan
venula. Ketika jantung berkontraksi selama sistol ventrikel, darah yang memasuki arteri lebih
cepat, jadi tekanan di arteri jauh lebih besar dibandingkan di dalam vena. Akan tetapi, ketika
darah memasuki arteriol, kecepatannya semakin berkurang. Begitu juga ketika darah
memasuki kapiler, kecepatannya pun semakin berkurang. Hal ini dikarenakan kecepatan
aliran darah dalam pembuluh-pembuluh tersebut dipengaruhi oleh total luas penampang
keseluruhan pipa yang mengalirkan darah. Meskipun satu pembuluh kapiler berukuran sangat
kecil, setiap arteri mengalirkan darah ke kapiler yang berjumlah sangat banyak, sehingga
diameter total dari pembuluh-pembuluh sebenarnya jauh lebih besar pada hamparan kapiler
dibandingkan dengan di bagian manapun dalam sistem sirkulasi. Oleh karena itu, darah akan
mengalir lebih lambat ketika memasuki arteriol dari arteri dan mengalir paling lambat dalam
hamparan kapiler. Ketika darah meninggalkan hamparan kapiler dan lewat masuk ke venula
dan vena, kecepatannya meningkat kembali, sebagai hasil pengurangan total luas penampang.
(Campbell, 2003)
Lumen arteriol diameternya lebih kecil dari venula. Hal ini dikarenakan adanya
perbedaan struktural pada dinding arteriol dan venula. Arteriol dan venula, dinding
pembuluhnya mempunyai tiga lapisan yang serupa, yaitu lapisan luarnya merupakan jaringan
ikat elastis, lapisan tengahnya merupakan otot polos dan serat yang lebih elastis, dan yang
melapisi bagian dalamnya merupakan endothelium. Namun, arteriol mempunyai lapisan
tengah dan lapisan luar yang lebih tebal dibandingkan dengan venula. Dinding arteri (arteriol)
yang lebih tebal menyediakan kekuatan dan elastisitas yang mengakomodasi aliran darah
yang dipompakan secara cepat pada tekanan tinggi melalui arteri oleh jantung. (Campbell,
2003)
Warna darah pada pembuluh arteriol merah muda. Hal ini dikarenakan darah yang
mengalir di arteriol kaya akan O2. Aorta arteri arteriol merupakan pembuluh darah yang
keluar dari jantung dan membawa darah kaya akan oksigen ke semua jaringan tubuh dalam
peredaran sistemik.
B. Kapiler

Arah aliran darah dikapiler bolak balik artinya darah keluar masuk usus (organ). Arah
aliran darah di kapiler bolak balik, hal ini mungkin disebabkan karena pada pembuluh darah
kapiler terjadi pertukaran zat zat antara darah dengan jaringan.Karena kapiler adalah
pembuluh yang ideal untuk tempat pertukaran.Pertukaran dikapiler merupakan tujuan akhir
di system sirkulasi.Pertukaran zat zat yang melintasi dinding kapiler proses utamanya
berlangsung melalui proses difusi.Pertukaran antara darah dan jaringan disekitarnya melalui
dinding kapiler berlangsung melalui difusi pasif.

Karena di dinding kapiler tidak terdapat system transportasi yang diperantarai oleh
pembawa, zat zat terlarut berpindah terutama melalui difusi menuruni gradient konsentrasi
mereka.Komposisi kimiawi darah arteri diatur secara cermat untuk mempertahanakan
konsentrasi setiap zat terlarut ditingkat yang akan mendorong pergerakan mereka menembus
dinding kapiler dengan arah yang sesuai. Proses homeostatic ini yang secata terus menerus
menambahkan nutrient dan O2 serta mengeluarkan CO2 dan zat zat sisa sewaktu darah
melewati organ organ tersebut.Sementara itu,sel sel terus menerus menggunakan pasokan
dan menghasilkan zat zat sisa metabolisme.Difusi setiap zat terlarut terus berlangsung
secara independent sampai tidak lagi terdapat perbedaan konsentrasi antara darah dan sel sel
disekitarnya. Proses ini terus menerus terjadi berulang dengan sendirinya. Hal ini mungkin
yang membuat arah alirah darah pada kapiler bolak balik, karena semua sel menggunakan O2
dan glukosa, darah secara terus menerus menyalurkan pasokan segar kedua zat vital tersebut,
sehingga gradient konsentrasi yang mendorong difusi netto zat zat tersebut dari darah ke sel
dapat dipertahankan. Secara bersamaan,terjadi difusi netto secara terus menerus CO2 dan zat
sisa metabolisme dari sel ke darah yang dipelihara oleh sel yang secara kontinu menghasilkan
zat zat tersebut dan darah secara konstan membersihkan mereka dari jaringan.
Karena dinding kapiler tidak membatasi lewatnya konstituen apapun kecuali protein
plasma, tingkat pertukaran untuk setiap zat terlarut secara independen ditentukan oleh tingkat
gradient konsentrasi antara darah dan jaringan disekitarnya. Apabila sel sel meningkatkan
aktivitas mereka, sel sel tersebut akan meningkatkan antara lain penggunaan O2 dan
pembentukkan CO2.Hal ini meniumbulkan gradient konsentrasi O2 dan CO2 yang lebih besar
antara sel dan darah, sehingga lebih banyak O2 yang berdifusi keluar dari darah untuk masuk
kedalam sel dan lebih banyak CO2 yang mengalir dalam arah sebaliknya untuk menunjang
aktivitas metabolik.
Selain itu, molekul molekul yang berdifusi hanya menempuh jarak yang pendek
antara darah dan sel disekitarnya karena dinding kapiler tipis dan garis tengahnya kecil, selain
dekatnya jarak kapiler dengan setiap sel.
Darah mengalir lebih lambat di kapiler daripada dibagian sirkulasi lainnya.
Percabangan kapiler yang luas juga merupakan penyebab lambatnya aliran darah melalui
kapiler. Kecepatan darah yang mengalir melalui berbagai segmen pembuluh vaskuler berbeda
beda karena kecepatan aliran berbanding terbalik dengan luas potongan melintang total
semua pembuluh di tingkat system sirkulasi tertentu.Walaupun luas potongan melintang
setiap kapiler sangat kecil dibandingkan dengan aorta, jumlah luas potongan melintang semua
kapiler sekitar tiga ratus kali lebih besar daripada luas melintang potongan aorta karena
jumlah kapiler yang sangat banyak. Dengan demikian,darah melambat ketika mengalir
melalui kapiler.
Melambatnya darah memberikan waktu yang cukup bagi darah dan jaringan untuk
saling bertukar nutrient dan produk sisa metabolik, yaitu tugas utama system sirkulasi
keseluruhan.Pada saat kapiler kapiler menyatu membentuk vena,luas potongan melintang
total kembali berkurang,dan darah mengalir lebih cepat untuk kembali ke jantung.Selain
itu,karena kapiler secara keseluruhan memiliki jumlah (total) luas potongan melintang yang
sangat besar,resisten yang dihasilkan oleh semua kapiler jauh lebih rendah daripada yang
dihasilkan di arteriol. (Sherwood, 2001)
Lumen kapiler diameternya paling kecil diantara ketiga pembuluh. Hal ini
dikarenakan adanya perbedaan struktural pada dinding arteriol, kapiler dan venula. Kapiler
tidak memiliki kedua lapisan luar. Kapiler hanya memiliki dinding pembuluh tipis yang
hanya terdiri atas endothelium dan membrane basal. Struktur tersebut mempermudah
pertukaran zat antara darah dan cairan interstitial yang menggenangi sel itu. (Bray, 2003)
Warna darah pada pembuluh arteriol merah. Hal ini dikarenakan darah yang mengalir
di kapiler kaya akan O2 yang berasal dari pembuluh darah arteri. Pembuluh nadi dan
pembuluh balik itu bercabang-cabang, dan ukuran cabang-cabang pembuluh itu semakin jauh
dari jantung semakin kecil. Pembuluh kapiler sangat halus dan berdinding tipis. (anonim b .
2010)
C. Venula
Aliran darah dari venula adalah menuju jantung/keluar dari dalam organ. Karena
venula membawa darah miskin oksigen menuju vena dan akan dibawa ke jantung. Darah
setelah melewati kapiler akan menuju ke venula dan nantinya akan menuju ke vena untuk
dibawa ke jantung. Kecepatan aliran darah saat di venula lebih cepat dari kapiler, tetapi lebih
lambat dari arteriol.
Kecepatan aliran darah lebih cepat dari kapiler karena saat dikapiler terjadi difusi gas
(aliran bolak-balik) sehingga pergerakan aliran di kapiler lambat. Namun, ketika memasuki
venula, darah hanya mengalir satu arah yaitu menuju vena lalu ke jantung. Hal ini karena
pada venula terdapat katup-katup satu arah yang memungkinkan darah hanya bergerak
kedepan ke arah jantung sehingga mencegah darah mengalir kembali ke jaringan.
Kecepatan aliran darah di venula lebih lambat dari arteriol, karena pada arteriol darah
langsung dipompa dari jantung lalu melewati arteri dan ke arteriol. kerja dari otot jantunglah
yang membuat tekanan darah menjadi besar dan kecepatannya menjadi besar pula. Hal ini
karena besarnya (laju) aliran melalui suatu pembuluh berbanding lurus dengan gradien
tekanan (Sheerwood, 2007) dan cairan selalu mengalir dari daerah bertekanan tinggi ke
rendah (Campbell, 2003). dari teori-teori itu kita dapat menyimpulkan bahwa kecepatan aliran
darah di venula lebih lambat daripada aliran darah di arteriol. Aliran darah di venula juga
masih mengandalkan sisa-sisa tekanan dari arteriol. Hal ini karena venula memiliki dinding
yang jauh lebih tipis dengan otot polos lebih sedikit daripada arteriol, sehingga venula kurang
memiliki elastisitas dibandingkan dengan arteri dan venula dan vena disebut sebagai
pembuluh darah pasif.
Lumen venula diameternya paling besar diantara arteriol dan kapiler. Hal ini
dikarenakan adanya perbedaan struktural pada dinding arteriol dan venula. Arteriol dan
venula, dinding pembuluhnya mempunyai tiga lapisan yang serupa, yaitu lapisan luarnya
merupakan jaringan ikat elastis, lapisan tengahnya merupakan otot polos dan serat yang lebih
elastis, dan yang melapisi bagian dalamnya merupakan endothelium. Namun, venula
mempunyai lapisan tengah dan lapisan luar yang lebih tebal dibandingkan dengan arteriol.
Vena (venula) dengan dinding yang lebih tipis mengirimkan darah kembali ke jantung dengan
kecepatan dan tekana rendah setelah darah itu melewati hamparan kapiler. (Campbell, 2003)

Warna darah pada pembuluh arteriol merah lebih pekat. Hal ini dikarenakan darah yang
mengalir di venula kaya akan CO2. Venula - vena - vena cava merupakan pembuluh darah
yang menuju ke jantung dan membawa darah kaya akan karbon dioksida ke jantung dalam
peredaran sistemik.

Sistem peredaran darah katak berupa sistem peredaran darah tertutup dan peredaran
darah ganda. Pada sistem peredaran darah ganda, darah melalui jantung dua kali dalam satu
kali peredaran. Pertama, darah dari jantung menuju ke paru-paru kemudian kembali ke
jantung. Kedua, darah dari seluruh tubuh menuju ke jantung dan diedarkan kembali ke
seluruh tubuh. Jantung katak terdiri dari tiga ruang, yaitu dua atrium (atrium kanan dan
atrium kiri) dan sebuah ventrikel. Di antara atrium dan ventrikel terdapat klep yang mencegah
agar darah di ventrikel tidak mengalir kembali ke atrium.

Darah yang miskin oksigen dari berbagai jaringan dan organ-organ tubuh mengalir ke
sinus venosus menuju atrium kanan. Darah dari atrium kanan mengalir ke ventrikel,
kemudian menuju ke arteri pulmonalis dan masuk ke paru-paru. Di paru-paru, dilepaskan
CO2 dan O2 diikat. Dari paru-paru darah mengalir ke vena pulmonalis, kemudian menuju
atrium kiri. Peredaran darah yang terjadi ini merupakan peredaran darah kecil. Selanjutnya,
dari atrium kiri darah mengalir ke ventrikel. Di dalam ventrikel terjadi pencampuran darah
yang mengandung O2 dengan darah yang mengandung CO2, meskipun dalam jumlah yang
sedikit. Dari ventrikel, darah keluar melalui traktus arteriosus (batang nadi) ke aorta yang
bercabang ke kiri dan ke kanan. Masing-masing aorta ini bercabang-cabang menjadi tiga
arteri pokok, yaitu arterior (karotis) mengalirkan darah ke kepala dan ke otak, lengkung aorta
mengalirkan darah ke jaringan internal dan alat dalam tubuh, dan arteri posterior mengalirkan
darah ke kulit dan paru-paru.

Darah katak terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah. Plasma darah mengandung
air, protein, darah, dan garam-garam mineral. Sel-sel darah terdiri dari eritrosit (sel darah
merah) dan leukosit (sel darah putih). Eritrosit pada katak memiliki inti dan mengandung
hemoglobin untuk mengikat oksigen. Leukosit pada katak juga memiliki inti. Selain memiliki
sistem peredaran darah, katak juga memilki sistem peredaran limfatik. Sistem peredaran
limfatik berperan penting dalam pengambilan cairan tubuh ke dalam peredaran darah.
(Ickeyz 2009)
Pengaruh Rangsang Mekanik, Suhu dan Kimia terhadap Kecepatan Aliran Darah
a. Perlakuan Rangsang Mekanik dengan Ijuk
Pengaruh rangsang terhadap kecepatan aliran darah dan diameter pembuluh darah
diberikan empat macam perlakuan, yaitu ditekan dengan ijuk, ditetesi air es, ditetesi air
panas, dan pemberian asam cuka. Saat pembuluh darah diberikan perlakuan dengan
ditekan menggunakan ijuk aliran darah menjadi terhenti tetapi setelah dilepaskan ijuk
tersebut maka lairan darah menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Pada saat pasokan darah
ke suatu daerah tersumbat total, arteriol di daerah itu akan mengalami dilatasi karena
relaksasi miogenik yang terjadi sebagai respon terhadap hilangnya peregangan karena
tidak ada aliram darah dan perubahan komposisi kimia lokal. Apabila pasokan darah ke
suatu jaringan tersumbat, kadar O2 menurun di jaringan itu. Jaringan terus mengkonsumsi
O2, tetapi tidak mendapatkan pasokan O2 segar (Sherwood, 2001). Selain itu juga
disebabkan oleh perbedaan tekanan yang ada pada pembuluh darah ketika ditekan oleh
ijuk. Ketika tersumbat aliran darah menjadi kecil sehingga tekanan menjadi tinggi. Dan
saat ijuk tersebut dilepaskan maka tekanan pada aliran darah yang tinggi tadi akan
mendorong aliran darah menjadi lebih cepat.
Setelah tekanan ijuk dilepaskan, aliran darah terlihat mengalir lebih cepat dari aliran
normalnya, karena saat ijuk menghambat aliran pasokan darah, maka arteriol-arteriol di
daerah itu akan mengalami dilatasi, yang disebabkan oleh :
Relaksasi miogenik(otot), yang terjadi karena respons terhadap hilangnya peregangan
karena tidak ada aliran darah
Perubahan komposisi kimia lokal. Apabila pasokan darah ke suatu jaringan tersumbat,
kadar O2 menurun di jaringan itu; jaringan terus mengkonsumsi O2, tetapi tidak
mendapat pasokan O2 segar. Sementara itu, konsentrasi CO2, asam, dan metabolit lain
meningkat. Walaupun produksi mereka tidak meningkat jika suatu jaringan lebih aktif
secara metabolis, zat-zat ini akan tertimbun di jaringan apabila tidak dibersihkan oleh
darah.
Setelah tekanan dilepaskan, aliran darah ke jaringan yang sebelumnya kekurangan
darah tersebut secara sementara akan lebih besar dari normal karena pembuluh yang
berdilatasi. Peningkatan aliran darah karena dilatasi pembuluh darah ini disebut hiperemia
reaktif. Respons ini bermanfaat untuk secara cepat memulihkan komposisi kimiawi lokal
ke normal.
Peristiwa hiperemia reaktif tersebut disebabkan oleh adanya pengaruh fisik lokal oleh
tekanan ijuk. Pengaruh fisik lokal merupakan bagian dari kontrol lokal (intrinsik), yaitu
perubahan-perubahan di dalam suatu jaringan yang mengubah jari-jari pembuluh, sehingga
aliran darah ke jaringan tersebut berubah melalui efek terhadap otot polos arteriol jaringan.
Kontrol lokal atas jari-jari arteriol penting untuk menentukan ditribusi curah jantung,
sehingga aliran darah sesuai dengan kebutuhan metabolik jaringan.
Selain peristiwa hyperemia reaktif, penyebab utama terdilatasinya pembuluh darah
setelah tersumbat oleh ijuk ialah karena naiknya gradien tekanan antara lokasi
penyumbatan dengan pembuluh darah setelahnya yang kekurangan aliran darah. Seiring
dengan bertambahnya tekanan di area penyumbatan, maka gradien tekanan antara daerah
penyumbatan dan daerah setelahnya menyebabkan laju aliran darah bertambah, hal itu
disebabkan karena laju aliran darah(F) berbanding lurus dengan gradien tekanan(P) (lihat
persamaan reaksi sebelumnya, F= P/R).

b. Perlakuan Rangsang Suhu


1) Air dingin
Kecepatan aliran darah katak melambat dari keadaan normal. Hal ini disebabkan
terjadinya vasokonstriksi. Vasokonstriksi mengacu pada peningkatan kontraksi otot
polos sirkuler di dinding arteriol dan menyebabkan diameter lingkaran pembuluh
menjadi lebih kecil, dengan demikian resistensi arteriol meningkat dan terjadilah
penurunan aliran darah. (Sherwood, 2001). Suhu dingin dapat menyebabkan otot polos
dinding pembuluh darah berkontraksi/mengerut, sehingga jari-jari pembuluh menjadi
lebih kecil. Mengecilnya pembuluh darah meyebabkan resistensi semakin tinggi dan
aliran melalui pembuluh bekurang. Perisrita ini disebut vasokonstriksi(penyempitan
pembuluh darah) akibat pengaruh fisik lokal pada pembuluh.
2) Air panas
Kecepatan aliran darah menjadi semakin cepat. Hal ini disebabkan karena terjadi
vasodilatasi. Vasodilatasi mengacu pada pembesaran diameter lingkaran pada arteriol
dan jarijari pembuluh akibat melemasnya lapisan otot polos (penurunan kontraksi otot
polos sirkuler di dinding arteriol). Vasodilatasi juga menyebabkan penurunan resistensi
arteriol, sehingga akan lebih banyak darah yang mengalir ke daerahdaerah dengan
resistensi arteriol rendah. (Sherwood, 2001). Pengaruh fisik lokal berupa suhu
tinggi/panas juga berpengaruh terhadap besar/kecilnya pembuluh darah, khususnya
arteriol. Suhu tinggi menyebabkan otot polos dinding pembuluh berelaksasi/melemas.
Hal ini menyebabkan pembesaran jari-jari pembuluh darah, resistensi pun menurun,
sehingga aliran darah melalui pembuluh yang bersangkutan pun meningkat.

c. Perlakuan Rangsang Kimiawi dengan Asam cuka


Pada penetesan Asam asetat/asam cuka di bagian mesenterium katak, didapat hasil
bahwa aliran darah pada bagian arteri, venula dan kapiler melambat, bahkan berhenti. Jika
suatu area otot polos, khususnya otot polos unit tunggal/viseral(ditemukan di dinding
organ berongga/visera, seperti saluran pencernaan, kemih, dan pembuluh darah kecil)
diteteskan dengan asam lemah, maka asam lemah tersebut akan merangsang timbulnya
potensial aksi. Ketika timbul potensial aksi di bagian manapun pada lembaran otot polos
unit-tunggal, potensial aksi tersebut merambat dengan cepat melalui gap junction yang
menghubungkannya. Kelompok sel-sel otot yang saling berhubungan itu pun kemudian
berkontraksi sebagai satu unit yang terkoordinasi. (Sherwood, 2001).
Arteriol memiliki lapisan otot polos yang tebal dan peka terhadap banyak perubahan
kimiawi. Apabila terjadi kontraksi, maka lapisan otot polos akan berjalan sirkuler
mengelilingi arteriol menyebabkan lingkaran pembuluhnya mengecil. Dengan demikian
resistensinya meningkat dan aliran melalui pembuluh berkurang (Sherwood, 2001).
Melambatnya aliran darah dikarenakan medapat merangsang potensial aksi otot polos dan
meningkatkan produksi Ca2+. Suatu kenaikan dalam konsentrasi ion kalsium menyebabkan
konstriksi. Ini disebabkan efek umum kalsium untuk merangsang kontraksi otot polos
(Guyton, 1990). Vasokonstriksi mengacu pada peningkatan kontraksi otot polos sirkuler di
dinding arteriol dan menyebabkan diameter lingkaran pembuluh menjadi lebih kecil,
dengan demikian resistensi arteriol meningkat dan terjadilah penurunan aliran darah.
(Sherwood, 2001).
Pada pengamatan aliran darah di mesenterium katak ketika ditetesi asam cuka, aliran
darahnya lama kelamaan berhenti. Hal ini dikarenakan mesenterium yang digunakan
merupakan mesenterium yang sebelumnya telah diberi perlakuan ditekan dengan ijuk,
diberi air panas dan diberi air dingin. Berhentinya aliran darah juga dapat dikarenakan
jaringan yang mengalami kematian akibat lamanya waktu penglihatan (mesenterium katak
tersebut sudah tidak segar lagi.

IV. ALAT DAN BAHAN


1. Papan fiksasi katak yang berlubang, jarum pentul dan penusuk katak
2. Larutan asam cuka encer dan adrenalin 1: 10.000
3. Seutas ijuk, air es dan air panas
4. Mikroskop dan katak

V. CARA KERJA
A. Selaput Renang Kaki Katak
1. Siapkan katak dan rusaklah otak dan sumsum tulang belakangnya, atau katak
cukup diikat erat ke papan fiksasi dengna menggunakan tali raffia. Katak tidak
boleh mati.
2. Bentangkanlah selaput renang salah satu kaki katak diatas lubang papan fiksasi
dan fiksir kaki tersebut dengan jarum
3. Pilih secara makroskopis bagian selaput renang yang terbaik untuk dapat melihat
pembuluh darah dan sifat alirannya dengan jelas
4. Pelajari bagian tersebut di bawah mikroskop, meliputi :
a. Gambaran anatomi pembuluh darah arteriola, kapiler dan venula
b. Sifat aliran darah di dalam arteriola, kapiler dan venula
c. Perubahan bentuk sel darah merah ketika melalui percabangan kapiler

B. Lidah
1. Dengan menggunakan katak yang sama, tariklah kedua lidahnya dan fiksir di atas
lubang papan fiksasi dengan jarum.
2. Pilih bagian yang tipis dan yang mengandung banyak pembuluh darah serta
pelajari secara mekroskopis seperti 1.4
3. Rangsang lidah pada bagian yang terletak di bawah mikroskop secara berturut-
turut dengan :
a. Rangsang mekanik : Goresan seutas ijuk
b. Rangsangan suhu : Beberapa tetes air es dan beberapa tetes air panas
Hangat

c. Rangsangan Kimia : 1 tetes larutan asam cuka encer


1 tetes larutan adrenalin 1 : 10.000 sebelumnya lidah
dibilas dengan larutan finger atau akuades, atau
memakai lidah lain/baru.

4. Catat perubahan apa yang terjadi pada aliran darah dan lebar pembuluh darah
lidah katak.
VI. HASIL (Terlampir)

VII. PEMBAHASAN
Pada pengamatan selaput renag katak yaitu aliran darah terdiri atas arteriola, kapiler,
venula, dan vena. Arteri yang membawa darah yang akan kaya oksigen menuju arteriola.
Arteri ini berwarna lebih muda dibandingkan dengan vena dan venula. Arteri dan arteriola
memiliki dinding berotot yang dapat menyesuaikan diameternya untuk meningkatkan atau
menurunkan aliran darah ke daerah tertentu. Oleh karena itulah kecepatan aliran darah dalam
arteri dan arteriola lebih konstan. Jumlah kapiler darah pada selaput renang katak lebih
banyak namun ukurannya kecil

Kemudian darah dari arteri ini mengalir agak lambat ke cabang-cabang arteri yang
disebut arteriol.darah dari arteriol tersebut akan terus mengalir ke kapiler dan menuju ke
bagian ekor. Dari pembuluh kapiler ini darah mengalir agak lambat menuju venula, karena di
dalam kapiler terjadi proses pertukaran zat-zat maupun gas-gas antara darah dan jaringan
tubuh. Dindingnya berperan sebagai membran permeable yang bersifat selektif yang
memungkinkan air, oksigen dan nutrient keluar dari darah dan masuk kesel-sel jaringan
masuk kedalam jaringan. Serta memungkinkan pula produk-produk buangan dari sel-sel
jaringan masuk kedalam darah. Banyak cairan yang keluar dari kapiler masuk keruang-ruang
jaringan kembali lagi melalui dinding kapiler. Sebagian cairan ada yang tetap tinggal didalam
jaringan sebagai cairan jaringan, sedang kelebihannya dalam keadaan normal akan diangkut
oleh pembuluh limfa.

1. Pada Selaput renang


Pembuluh arteriola memiliki dinding pembuluh yang tebal dan diameter yang
besar. Dengan arah aliran darah stream line (searah), berdenyut dengan
kecepatan aliran darah yang cepat dan letak sel-sel darah dalam pembuluh
adalah berjajar satu-satu. Hal ini menunjukkan bahwa praktikum yang
dilakukan sesuai dengan konsep literatur yang ada.
Kecepatan aliran darah di arteriol adalah yang paling cepat diantara kapiler dan
venula. Ketika jantung berkontraksi selama sistol ventrikel, darah yang
memasuki arteri lebih cepat, jadi tekanan di arteri jauh lebih besar dibandingkan
di dalam vena. Akan tetapi, ketika darah memasuki arteriol, kecepatannya
semakin berkurang. Begitu juga ketika darah memasuki kapiler, kecepatannya
pun semakin berkurang. Hal ini dikarenakan kecepatan aliran darah dalam
pembuluh-pembuluh tersebut dipengaruhi oleh total luas penampang
keseluruhan pipa yang mengalirkan darah.
Pembuluh kapiler memiliki dinding pembuluh yang tipis dan diameter yang
kecil. Dengan arah aliran darah stream line (searah), berdenyut dengan
kecepatan aliran darah yang lambat dan letak sel-sel darah dalam pembuluh
adalah bergerombol. Hal ini menunjukkan bahwa praktikum yang dilakukan
sesuai dengan konsep literatur yang ada.

Darah mengalir lebih lambat di kapiler daripada dibagian sirkulasi lainnya.


Percabangan kapiler yang luas juga merupakan penyebab lambatnya aliran darah
melalui kapiler. Kecepatan darah yang mengalir melalui berbagai segmen
pembuluh vaskuler berbeda beda karena kecepatan aliran berbanding terbalik
dengan luas potongan melintang total semua pembuluh di tingkat system
sirkulasi tertentu.Walaupun luas potongan melintang setiap kapiler sangat kecil
dibandingkan dengan aorta, jumlah luas potongan melintang semua kapiler
sekitar tiga ratus kali lebih besar daripada luas melintang potongan aorta karena
jumlah kapiler yang sangat banyak. Dengan demikian,darah melambat ketika
mengalir melalui kapiler.

Pembuluh venula memiliki dinding pembuluh yang tebal dan diameter yang
besar. Dengan arah aliran darah stream line (searah), berdenyut dengan
kecepatan aliran darah yang cepat dan letak sel-sel darah dalam pembuluh
adalah berjajar satu-satu. Hal ini menunjukkan bahwa praktikum yang dilakukan
sesuai dengan konsep (bertentangan) literatur yang ada.

Kecepatan aliran darah lebih cepat dari kapiler karena saat dikapiler terjadi
difusi gas (aliran bolak-balik) sehingga pergerakan aliran di kapiler lambat.
Namun, ketika memasuki venula, darah hanya mengalir satu arah yaitu menuju
vena lalu ke jantung. Hal ini karena pada venula terdapat katup-katup satu arah
yang memungkinkan darah hanya bergerak kedepan ke arah jantung sehingga
mencegah darah mengalir kembali ke jaringan.

Kecepatan aliran darah di venula lebih lambat dari arteriol, karena pada arteriol
darah langsung dipompa dari jantung lalu melewati arteri dan ke arteriol. kerja
dari otot jantunglah yang membuat tekanan darah menjadi besar dan
kecepatannya menjadi besar pula. Hal ini karena besarnya (laju) aliran melalui
suatu pembuluh berbanding lurus dengan gradien tekanan dan cairan selalu
mengalir dari daerah bertekanan tinggi ke rendah (Campbell, 2003). dari teori-
teori itu kita dapat menyimpulkan bahwa kecepatan aliran darah di venula lebih
lambat daripada aliran darah di arteriol.

2. Pada Lidah Katak


Pembuluh arteriola memiliki dinding pembuluh yang tipis dan diameter yang
kecil. Dengan arah aliran darah stream line (searah), berdenyut dengan kecepatan
aliran darah yang cepat dan letak sel-sel darah dalam pembuluh adalah berjajar
satu-satu.
Pembuluh kapiler memiliki dinding pembuluh yang sedang dan diameter yang
kecil. Dengan arah aliran darah berpusar, berdenyut dengan kecepatan aliran
darah yang cepat dan letak sel-sel darah dalam pembuluh adalah bergerombol.
Pembuluh venula memiliki dinding pembuluh yang tebal dan diameter yang
besar. Dengan arah aliran darah stream line (searah), berdenyut dengan
kecepatan aliran darah yang cepat dan letak sel-sel darah dalam pembuluh adalah
berjajar satu-satu.

Perubahan yang terjadi pada aliran darah dan lebar pembuluh darah setelah diberi
rangsangan:

1. Mekanik, berupa goresan seutas ijuk, maka aliran darah menjadi lebih lambat dan
lebar pembuluh darahnya menjadi vasoliditasi. Hal ini sesuai dengan literatur yang
ada. Yakni, saat pembuluh darah diberikan perlakuan dengan ditekan menggunakan
ijuk aliran darah menjadi terhenti tetapi setelah dilepaskan ijuk tersebut maka Aliran
darah menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Pada saat pasokan darah ke suatu daerah
tersumbat total, arteriol di daerah itu akan mengalami dilatasi karena relaksasi
miogenik yang terjadi sebagai respon terhadap hilangnya peregangan karena tidak ada
aliram darah dan perubahan komposisi kimia lokal. Apabila pasokan darah ke suatu
jaringan tersumbat, kadar O2 menurun di jaringan itu. Jaringan terus mengkonsumsi
O2, tetapi tidak mendapatkan pasokan O2 segar (Sherwood, 2001). Selain itu juga
disebabkan oleh perbedaan tekanan yang ada pada pembuluh darah ketika ditekan
oleh ijuk. Ketika tersumbat aliran darah menjadi kecil sehingga tekanan menjadi
tinggi. Dan saat ijuk tersebut dilepaskan maka tekanan pada aliran darah yang tinggi
tadi akan mendorong aliran darah menjadi lebih cepat
2. Suhu, berupa :
Air Es, maka aliran darah menjadi lebih lambat dan lebar pembuluh darahnya
menjadi vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah). Kondisi ini akan
mengurangii jumlah darah yang mengalir ke bagian tubuh). Hal ini sesuai dengan
literatur yang ada. Hal ini disebabkan terjadinya vasokonstriksi. Vasokonstriksi
mengacu pada peningkatan kontraksi otot polos sirkuler di dinding arteriol dan
menyebabkan diameter lingkaran pembuluh menjadi lebih kecil, dengan demikian
resistensi arteriol meningkat dan terjadilah penurunan aliran darah. (Sherwood,
2001). Suhu dingin dapat menyebabkan otot polos dinding pembuluh darah
berkontraksi/mengerut, sehingga jari-jari pembuluh menjadi lebih kecil.
Air Panas, maka aliran darah menjadi lebih cepat dan lebar pembuluh darahnya
menjadi vasoliditasi (pelebaran diameter pembuluh darah). Kondisi ini terjadi
ketika otot-otot di dinding pembuluh darah mengendur (rileks). Hal ini sesuai
dengan literatur yang ada. Penyebabnya adalah karena terjadi vasodilatasi.
Vasodilatasi mengacu pada pembesaran diameter lingkaran pada arteriol dan jari
jari pembuluh akibat melemasnya lapisan otot polos (penurunan kontraksi otot
polos sirkuler di dinding arteriol). Vasodilatasi juga menyebabkan penurunan
resistensi arteriol, sehingga akan lebih banyak darah yang mengalir ke daerah
daerah dengan resistensi arteriol rendah. (Sherwood, 2001). Pengaruh fisik lokal
berupa suhu tinggi/panas juga berpengaruh terhadap besar/kecilnya pembuluh
darah, khususnya arteriol. Suhu tinggi menyebabkan otot polos dinding pembuluh
berelaksasi/melemas. Hal ini menyebabkan pembesaran jari-jari pembuluh darah,
resistensi pun menurun, sehingga aliran darah melalui pembuluh yang
bersangkutan pun meningkat.

3. Rangsang kimia, berupa :


Asam Cuka, maka aliran darah menjadi lebih cepat dan lebar pembuluh darahnya
menjadi vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah). Kondisi ini akan
mengurangii jumlah darah yang mengalir ke bagian tubuh). Hal ini sesuai dengan
literatur yang ada
Jika suatu area otot polos, khususnya otot polos unit tunggal/viseral(ditemukan di
dinding organ berongga/visera, seperti saluran pencernaan, kemih, dan pembuluh
darah kecil) diteteskan dengan asam lemah, maka asam lemah tersebut akan
merangsang timbulnya potensial aksi. Ketika timbul potensial aksi di bagian
manapun pada lembaran otot polos unit-tunggal, potensial aksi tersebut merambat
dengan cepat melalui gap junction yang menghubungkannya. Kelompok sel-sel
otot yang saling berhubungan itu pun kemudian berkontraksi sebagai satu unit
yang terkoordinasi. (Sherwood, 2001).
Arteriol memiliki lapisan otot polos yang tebal dan peka terhadap banyak
perubahan kimiawi. Apabila terjadi kontraksi, maka lapisan otot polos akan
berjalan sirkuler mengelilingi arteriol menyebabkan lingkaran pembuluhnya
mengecil. Dengan demikian resistensinya meningkat dan aliran melalui pembuluh
berkurang (Sherwood, 2001). Melambatnya aliran darah dikarenakan medapat
merangsang potensial aksi otot polos dan meningkatkan produksi Ca2+. Suatu
kenaikan dalam konsentrasi ion kalsium menyebabkan konstriksi. Ini disebabkan
efek umum kalsium untuk merangsang kontraksi otot polos (Guyton, 1990).
Vasokonstriksi mengacu pada peningkatan kontraksi otot polos sirkuler di dinding
arteriol dan menyebabkan diameter lingkaran pembuluh menjadi lebih kecil,
dengan demikian resistensi arteriol meningkat dan terjadilah penurunan aliran
darah.

VIII. PENUTUP
KESIMPULAN

1. Sistem peredaran darah katak adalah peredaran darah ganda, yaitu darah melalui
jantung dua kali dalam satu kali peredaran
2. Mikrosirkulasi hanya dapat diamati melalui mikroskop, dan terdiri atas pembuluh
arteriol, kapiler, dan venula. Ketiganya dapat dibandingkan berdasarkan ukuran lumen
yang berbeda sesuai fungsi masing-masing pembuluh, warna darah yang melewatinya
karena perbedaan kandungan O2, serta kecepatan aliran darahnya yang berkaitan
dengan fungsi pembuluh dan juga pengaruh faktor luar.
3. Mikrosirkulasi terdiri atas arteriol, kapiler, dan venula. Ketiganya dapat dibedakan
berdasarkan ukuran lumen, warna, arah aliran dan kecepatan aliran darah.
Arah aliran darah dipastikan mengalir masuk ke organ melalui arteriol, mengalami
pertukaan gas dan nutrien di kapiler, dan kembali ke jantung melalui venula (sistem
vena).
4. Arteri adalah pembuluh dengan tekanan terbesar, sehingga memungkinkan untuk
menyalurkan darah sampai ke kapiler-kapiler
5. Vena adalah pembuluh yang aliran darahnya cepat
6. Pembuluh yang menghubungkan antara arteri dan vena adalah pembuluh kapiler
7. Kapiler memiliki tekanan paling kecil, dan setelah keluar ke vena tekanannya lebih
besar di banding kapiler
8. Jantung katak terdiri dari tiga ruang, yaitu dua atrium (atrium kanan dan atrium kiri)
dan sebuah ventrikel
9. Di antara atrium dan ventrikel terdapat klep yang mencegah agar darah di ventrikel
tidak mengalir kembali ke atrium
10. Pembuluh nadi atau arteri adalah pembuluh darah berotot yang membawa darah dari
jantung
11. Pembuluh balik atau vena adalah pembuluh yang membawa darah menuju jantung
12. Berbagai rangsang dapat mempengaruhi laju aliran darah, baik oleh perlakuan fisik
maupun kimiawi. Perlakuan fisik dengan ijuk dan perlakuan suhu dengan pemberian
air panas dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga meningkatkan
aliran laju aliran darah, sedangkan penurunan suhu dan pemberian asam cuka dapat
menurunkan aliran darah karena jari-jari pembuluh mengecil, atau bervasokonstriksi.

SARAN
1. Lebih hati-hati dalam menentukan kecepatan aliran darah, diameter dan denyut
pembuluh darah
2. Sebaiknya waktu dalam mengamati sampel, lebih efisien dan sebelum katak
mati
3. Semoga laporan ini bermanfaat untuk praktikan selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A; J.B Reece dan L.G Mitchell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3.
Jakarta: Erlangga.

Fried, George Hademenos. 2005. Schaums Outlines Biologi Edisi Kedua. Jakarta:
Erlangga.

Kimball W. John. 1999. Biologi Edisi Ketiga Jilid 3. Erlangga. Jakarta.

Wulangi, Kartolo. 1993. Prinsip-prinsip Fisiologi Hewan. Depdikbud. Jakarta

Bray, J.J., Cragg, P. A., Mackninght, A. D., & Mills, R. G. (2003). Human Phsiology Fourth
Edition. Tokyo: Blackwell Printing.

Campbell, Neil A. dkk. (2002). Biologi: Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Guyton. 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta: EGC

Sherwood, Lauralee. (2001). Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC

State University of New Jersey. (2009). Blood Vessels. dari


http://www.rci.rutgers.edu/~uzwiak/AnatPhys/Blood_Vessels.html
FISIOLOGI HEWAN

MIKROSIRKULASI PADA KATAK

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mikrosirkulasi merupakan tempat terjadinya kontak dan pertukaran zat antara darah
dan jaringan tubuh. Tempat terjadinya pertukaran tersebut persisnya adalah pada kapiler,
yang merupakan pembuluh darah sangat halus dan hanya dapat diamati pada jaringan yang
sangat tipis dan tembus cahaya (Susanto, 2012).

Diameter pembuluh darah halus (arteriole, kapiler dan venula) dapat dikenali dari
jumlah sel darah merah yang berbaris di dalamnya, dan juga kecepatan aliran darahnya.
Pembuluh darah yang paling kecil, yaitu kapiler hanya dapat dilewati sel darah merah
apabila sel darah merah berbaris satu per satu. Bila pembuluh darah halus hanya dapat
dilewati sel darah merah dengan berbaris-baris dua-dua, maka pembuluh darah tersebut
adalah arteriole atau venula. Pembuluh darah yang lebih besar dapat dilewati sel darah
merah dengan berbaris lebih banyak lagi. Dengan mengamati arah aliran darah di
dalamnya, dapat dibedakan antara arteriole dengan venula (Susanto, 2012).

Berdasarkan uraian singkat di atas, maka dipandang perlu mengkaji lebih dalam
dengan melakukan percobaan mikrosirkulasi.

B. Tujuan

Adapun tujuan di laksanakannya praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui mikrosirkulasi pada katak dan hewan yang memiliki sistem
sirkulasi tertutup pada umumnya.
2. Untuk mengetahui pengaruh berbagai rangsangan yang langsung di berikan secara
lokal pada arteriol, kapiler, dan venula.

C. Manfaat

Adapun manfaat dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai berikut dapat


meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang mikrosirkulasi pada katak dan hewan yang memiliki
sistem sirkulasi tertutup pada umumnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Sistem sirkulasi tertutup memiliki beberapa kelebihan apabila dibandingkan dengan
sistem sirkulasi terbuka. Pada sistem sirkulasi tertutup, darah beredar dalam sistem
pembuluh yang kontinu, di dorong oleh kekuatan yang berasal dari hasil kerja jantung.
Sebagai motor penggerak, jantung bekerja dengan melakukan gerakan memompa secara
terus-menerus sehingga tekanan dalam pembuluh dapat dipertahankan tetap tinggi.
Hasilnya, darah yang keluar dari pembuluh akan segera masuk kembali ke jantung dengan
cepat. Selain itu, pada hewan yang memiliki sistem ini, darah akan mengalir dalam
pembuluh secara langsung kesetiap sel tubuh. Hal ini menjamin adanya pasokan sari
makanan dan oksigen dalam jumlah memadai ke tiap sel agar proses metabolisme dapat
terselenggara dengan baik. Apabila ada peningkatan aktivitas metabolisme, vertebrata dapat
meningkatkan jumlah pasokan darah ke organ yang lebih aktif (misalnya otot) dan
mengurangi penyebaran darah ke daerah yang kurang/tidak aktif. Organ sirkulasi pada
hewan yang memiliki sistem tertutup terdiri atas jantung dan pembuluh darah, mulai dari
pembuluh arteri, vena, arteriol, venula, hingga jaringan kapiler (Isnaeni, 2006: h. 173).

Darah sebagai jaringan khusus yang menjalani sirkulasi, terdiri dari sel-sel yang
terendam dalam plasma darah. Berbeda dengan jaringan lain, sel-selnya tidak menempati
ruang tetap satu dengan yang lain, tetapi bergerak terus dari satu tempat ke tempat lain.
Aliran darah dalam seluruh tubuh menjamin lingkungan yang tetap, agar semua sel serta
jaringan mampu melaksanakan fungsi berbagai bentuk sel darah berasal dari sel induk
(stem cell) dalam sumsum tulang dan memasuki aliran darah untuk memenuhi kebutuhan
tertentu pada hewan (Armadi, 2012).

Volume darah yang mengalir melalui suatu organ dapat disesuaikan dengan
mengatur kaliber (garis tengah internal) arteriol organ. Di dalam organ arteriol bercabang-
cabang lagi menjadi kapiler. Pembuluh terkecil tempat semua pertukaran antara darah dan
sel-sel sekitarnya terjadi. Pertukaran di kapiler merupakan tujuan akhir dari sistem sirkulasi;
semua aktivitas lain dari sistem ini diarahkan untuk memastikan distribusi darah segar ke
kapiler untuk pertukaran semua sel. Kapiler-kapiler dari sel menyatu membentuk venula
kecil, yang terus bergabung membentuk vena kecil yang keluar dari organ. Vena-vena kecil
secara progresif bersatu untuk membentuk vena yang lebih besar yang akhirnya mengalir
kan darah ke jantung (Hala, 2007: h. 142).

Resistensi terhadap aliran darah bergantung pada tiga faktor yaitu; viskositas
(kekentalan) darah; panjang pembuluh; dan jari-jari pembuluh. Viskositas mengacu pada
fraksi yang timbul antara molekul suatu cairan sewaktu mereka bergesekan satu sama lain
selama cairan mengalir. Semakin besar vaskositas, semakin besar resistensi terhadap
aliran. Viskositas dipengaruhi dua faktor yaitu konsentrasi protein plasma dan jumlah sel
darah merah yang beredar. Darah menggesek lapisan dalam pembuluh sewaktu mengalir,
semakin besar luas permukaan yang berkontrak dalam darah, semakin besar resistensi
terhadap aliran. Luas permukaan ditentukan oleh panajang dan jari-jari pembuluh. Pada jari-
jari konstan, semakin panjang pembuluh maka semakin besar luas permukaan dan semakin
besar resistensi terhadap aliran darah (Adnan, 2008: h. 84).

Jantung amfibi sedikit lebih kompleks yakni memiliki dua atrium, salah satu menerima
darah teraksigenasi dari seluruh tubuh, dua macam darah ini tercampur dalam satu
ventrikel, sehingga sistem ini tidak begitu efisien, akan tetapi bagi hewan berdarah dingin
dapat dikatakan cukup efektif bila mengalirkan melalui ventrikel tersebut (Jasin, 1992: h. 86).

Dalam ventrikel tunggal pada jantung katak, terdapat pencampuran darah kaya
oksigen yang telah kembali dari paru-paru dengan darah yang kurang oksigen yang telah
kembali dari bagian tubuh yang lain. Akan tetapi, suatu abungan (ridge) di dalam ventrikel
akan mengalihkan sebagian besar dari darah yang kaya oksigen itu dari atrium kiri ke dalam
sirkuit sistemik dan sebagian besar darah yang miskin oksigen itu dari atrium kanan ke
dalam sirkuit pulmokutaneus (Campbell, 2004, h. 65).

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini pada hari/tanggalsenin, 14 Juni
2012. Pukul 09:00 11:00 WITA.Tempat Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Lantai II Fakultas Sains
dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Samata-Gowa.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah gelas kimia, kaki tiga, lampu
spirtus, dan mikroskop,

2. Bahan

Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah air panas, air dingin, katak
(Rana cancarivora), dan NaCl,

C. Prosedur Kerja

Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Merentangkan selaput renang salah satu kaki katak ke belakang dan mengatur
sedemikian rupa sehingga selaput terletak antara sumber cahaya dan lensa objektif.
2. Mengamati dan menggambar pembuluh darahnya. Menentukan arteriol, kapiler,
dan venulanya.
3. Menetesi selaput renang secara bergantian dengan air dingin, air hangat, dan NaCl.
Mengamati dan mencatat apa yang terjadi pada arteriol, kapiler, dan venula. Mengingat
bahwa sebelum ditetesi larutan baru, maka larutan baru harus dibersihkan dulu dari selaput
renang dengan jalan mencuci dengan air. Mengulangi setiap perlakuan minimal 3 kali.
4. Membuat kesimpulan dari setiap perlakuan.

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pembahasan

Pembuluh darah adalah saluran khusus untuk mengalirkan darah. Darah adalah cairan dalam
pembuluh darah, yang beredar ke seluruh tubuh mulai dari jantung dan segera kembali ke jantung.
Darah vertebrata mengalir dalam pembuluh yang elastis (arteri, kapiler, dan vena) dan akan kembali
lagi ke jantung tanpa meninggalkan sistem pembuluh. Darah tetap berada dalam saluran yang
tertutup. Sistem sirkulasi demikian dinamakan sistem sirkulasi tertutup. Pada vertebrata, sistem
pembuluh darah terdiri atas tiga jenis, yaitu arteri, kapiler, dan vena. Arteri dan vena tersusun atas
tiga lapisan jaringan melingkar, membentuk saluran/lumen di bagian tengahnya. Ketiga lapisan
jaringan tersebut dari arah dalam ke luar berturut-turut ialah tunikaintima (endotelium),tunika
media, dan tunika adventitia. Pembuluh kapiler hanya tersusun atas tunika intima. Lapisan jaringan
penyusun ketiga jenis pembuluh darah tersebut memperlihatkan komposisi yang bervariasi (Isnaeni,
2006: h. 182-183).

Pada pengamatan langsung menggunakan mikroskop terdapat pembuluh darah pada kaki katak yang
meliputi arteri, arteriola, kapiler, venula, dan vena. Dari kelima pembuluh darah tersebut memiliki
fungsi yang berbeda-beda. Arteri adalah pembuluh yang berfungsi untuk mengangkut darah yang
keluar dari jantung. Arteriola adalah pembuluh arteri kecil yang dindingnya mengandung sejumlah
besar otot polos, yang proses kontraksinya tidak dikendalikan oleh pusat kesadaran. Kapiler adalah
pembuluh darah yang terkecil dalam sisten sirkulasi dan menjadi tempat terjadinya pertukaran gas
serta berbagai zat lainnya antara pembuluh darah dan sel jaringan. Venula dan vena merupakan
pembuluh darah yang berfungsi untuk membawa darah dari jaringan kembali ke jantung.

Dari hasil pengamatan pertama terdapat pembuluh darah pada bagian selaput renang katak yang
meliputi arteri, arteriola, kapiler, venula, dan vena. Berdasarkan warna dan diameter ke dua
pembuluh tersebut (arteri dan vena). Arteri memiliki warna merah yang segar dibandingkan dengan
vena yang sedikit tua dan ungu. Hal ini disebabkan karena arteri mengandung darah yang memiliki
ikatan oksigen dan hemoglobin, sedangkan pada selaput darah vena warnanya sedikit lebih tua dan
ungu karena mengandung karobondioksida dan sisa-sisa hasil metabolisme. Adapun arteiola terlihat
bercabang-cabang karena pembuluh tersebut mengalirkan darah dari arteri keseluruh jaringan pada
organ yang membutuhkan suplai O2. Pada pembuluh kapiler menghubungkan antara arteriola dan
venula. Sedangkan vena mengalirkan darah kembali ke jantung.

Dari hasil pengamatan kedua setelah mencelupkan kaki katak kedalam air panas terdapat pembuluh
darah pada bagian selaput renang katak yang meliputi arteri, arteriola, kapiler, venula, dan vena.
Keadaan kaki katak setelah dicelupkan dalam air panas menjadi mengembang. Ukuran arteri lebih
besar/mengembang daripada vena. Hal ini disebabkan karena kecepatan aliran darah dari jantung
melalui arteri kedalam jaringan lebih lambat dibandingkan kecepatan aliran darah dari jaringan ke
jantung.

Dari hasil pengamatan ketiga setelah mencelupkan kaki katak kedalam air dingin terdapat pembuluh
darah pada bagian selaput renang katak yang meliputi arteri, arteriola, kapiler, venula, dan vena.
Keadaan kaki katak setelah dicelupkan dalam air dingin menjadi mengkerut. Ukuran vena lebih
besar/mengembang daripada arteri. Hal ini disebabkan karena kecepatan aliran darah dari jairngan
ke jantung lebih lambat dibanding kecepatan aliran darah dari jantung ke jaringan melalui arteri.

Dari hasil pengamatan ketiga setelah mencelupkan kaki katak kedalam NaCl terdapat pembuluh
darah pada bagian selaput renang katak yang meliputi arteri, arteriola. Pembuluh kapiler, venula,
dan vena tidak jelas terlihat. Hal ini disebabkan karena larutan NaCl bersifat hipotonis yang
mengakibatkan pembuluh darah vena dan kapiler pecah setelah selaput renang dicelupkan kedalam
larutan tersebut.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah :

1. Mikrosirkulasi pada katak berlangsung pada pembuluh darah. Darah yang


mengandung O2 pada arteri dialirkan menuju arteriola keseluruh bagian jaringan tubuh. Pada
pembuluh kapiler terjadi pertukaran darah antara arteriola dan venula. Darah dari venula
dialirkan menuju vena ke jantung.
2. Keadaan pembuluh darah dengan perlakuan normal menyebabkan kondisi arteri
yang memiliki warna merah segar dibandingkan dengan vena yang sedikit tua dan ungu.
Pengaruh air panas menyebabkan ukuran arteri lebih besar dibandingkan dengan vena.
Pengaruh air dingin menyebabkan ukuran vena lebih besar dibandingkan dengan arteri serta
pengaruh NaCl menyebabkan pembuluh kapiler, venula, vena tidak nampak saat diamati
dibawah mikroskop.

B. Saran

Adapun saran untuk praktikum ini adalah sebaiknya praktikan memperhatikan setiap
perubahan pembuluh darah pada selaput renang katak dari beberapa rangsangan yang diberikan
agar mengetahui pengaruh yang ditimbulkan.

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, Fisiologi Hewan. Makassar: Universitas Negeri Makassar Press, 2008.

Armadi. Mikrosirkulasi.Blog Armadi. http://armadibioz.wordpress.com (15 Juni 2012).

Campbell, Neil A. Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell, Biologi Edisi ke 5 Jilid 3. Jakarta:
Erlangga, 2004.

Hala, Yusminah. Biologi Umum II. Makassar: Alauddin press, 2007.

Halwatiah, Fisiologi. Makassar: Alauddin press, 2009.

Isnaeni, Wiwi. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Jasin, Maskoeri. Zoologi Invertebrata. Jakarta: Sinar Wijaya, 1992.

Susanto, Hendra. Otot Jantung. Blog Hendra,http://hendrasusantofaal.blogspot.com (15 Juni 2012)